Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Sabtu, 22 Agustus 2026

Beberapa pendapat ulama tentang azab kubur

 Beberapa pendapat ulama tentang azab kubur

SYUBHAT 4: DALALAH AYAT YANG DIANGGAP  MENAFIKAN ADZAB KUBUR ADALAH QATH’I,  SEDANGKAN DALALAH AYAT DAN HADITS  YANG MENETAPKAN ADZAB KUBUR ADALAH  ZHANNI      Dari surat Yasin ayat 52, mereka memahami bahwa jika orang yang mati dikatakan ‘tidur’ setelah ia mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada   adzab   kubur   atau   nikmat   kubur.

Beberapa pendapat ulama tentang azab kubur


  Lalu  mereka   mengatakan   bahwa pendalilan  ayat  ini  adalah  pendalilan  yang qath’i  (tegas  dan  jelas),  atau dalalah  qath’iyyah117.  Sedangkan  surat  Ghafir  (Al  Mu’min)  ayat  45-46 tentang  Fir’aun  dan  kaumnya  setelah  matinya  mereka  dinampakkan  neraka setiap   pagi   dan   sore,  jika   ayat   ini  digunakan    sebagai    dalil  untuk membenarkan  adanya  adzab  kubur  maka  pendalilannya  tidak qath’i,  tidak tegas, belum jelas maksudnya atau dalalah zhanniyyah. Terlebih lagi terdapat perselisihan di antara para ulama apakah yang dimaksud surat Ghafir ayat 45- 46 atau semisalnya itu dirasakan oleh ruh dan jasad atau keduanya sekaligus. Perselisihan    ini  menambah      ketidak-tegasan     pendalilan    ayat   tersebut.

Sehingga  akhirnya  mereka,  dengan  modal  akal  mereka,  mengambil  ayat dengan dalalah qath’iyyah menurut logika mereka, lalu menutup mata (baca: membuang)       terhadap    dalil  yang    menurut     mereka     memiliki dalalah zhanniyyah. Subhanallah! Orang yang berpenyakit hati gemar mempermainkan dalil!      Dari  syubhat  yang  ke  4  ini  akan  terlihat  sekali  bagaimana  mereka mendewakan  akal  dalam  memahami  dalil-dalil  syariat.  Dengan  akal  pula mereka  mementahkan  dalil  lain  yang  tidak  bersesuaian  dengan  hawa  nafsu mereka.  Padahal  dalil  syar’i  tidak  ada  yang  bertentangan  dan  semua  dalil wajib  kita  imani  dan  amalkan.  Orang-orang  yang  dipuji Allah  dengan  ilmu berkata: 117Dalalah artinya makna yang ditunjukkan oleh teks dalil.                          

 “Kami mengimani semua yang diwahyukan oleh Rabb kami”118.       Mengambil  dalil  yang  sesuai  dengan  seleranya,  lalu  membuang  dalil yang tidak sesuai dengan seleranya adalah sikap orang-orang yang terdapat penyakit di dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:   “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara   (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an  dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam   hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-   ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari   takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.  Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada  ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak    dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang   berakal     119.

 Zhanni dan Qath’i itu nisbi       Penilaian qath’i atau zhanni terhadap  sesuatu  itu nisbi atau relatif. Bagi sebagian  orang  sesuatu  itu qath’i,  namun  bagi  yang  lain zhanni. Dalam hal menilai  sebuah  dalil  itu qath'i atau zhanni,  relativitas  di  sini  bergantung kepada: 118 QS. Ali Imran: 7 119 QS. Ali Imran: 7 ? Kedalaman penelaahan dalil-dalil syar’i     ? Penguasaan kaidah-kaidah dalam berdalil     ? Perbedaan tingkat kecerdasan     ? Kecepatan memahami sesuatu masalahOleh  karena  itu,  kita  dapati  para  ulama  terkadang  berbeda  pendapat dalam menyatakan suatu dalil sebagai dalil yang qathi' atau dalil yang zhanni. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Telah jelas bahwa para ulama mujtahid itu berbicara dengan ilmu. Mereka mengikuti dalil. Dan ilmu fiqih itu adalah ilmu yang agung. Para ulama bukanlah termasuk orang- orang yang mengikuti prasangka semata. Namun, di antara mereka terkadang ada   yang   mengetahui   suatu   ilmu   yang   belum   diketahui   ulama   lain. Dikarenakan  ulama  yang  lain  belum  pernah  mendengarnya  atau  terkadang karena ulama lain belum memahaminya”121

Maka, apa yang mereka (ahlul bid’ah) klaim zhanni, ternyata bagi para ulama adalah perkara yang qath’i. Disebabkan kedangkalan akal mereka dan hawa nafsu yang terlanjur membutakan akal mereka. Merujuk kepada ahli ilmu dalam memahami dalil       Dalam  kasus  di  atas,  ahlul  bid’ah  mempertentangkan  dalil-dalil  karena dalam  memahami  dalil  mereka  hanya  mengandalkan  logika  semata,  sama sekali  enggan  merujuk  kepada  penjelasan  ulama.  Padahal  dalam  surat  Al Imran  ayat  7  di  atas, Allah  telah  mengisyaratkan  bahwa  untuk  memahami dalil   secara    sempurna     tanpa    menolak      sebagian     dalil   adalah     dengan mengembalikannya  kepada  ahli  ilmu  yang raasikh (mendalam  ilmunya). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, Ma’alim Ushulil Fiqhi 'inda Ahlissunnah wal Jama'ah, halaman 80, karya Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani 121Majmu’ Fatawa, 13/124-125                               

 “Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan itu tidak saling mendustakan, bahkan       saling membenarkan satu sama lain.

 Ayat-ayat yang kalian pahami,    amalkanlah. Ayat-ayat yang kalian tidak pahami, kembalikanlah kepada    orang  alim yang memahaminya” Karena  para  ulama  memahami  dalil  dengan  dalil,  menafsirkan  dalil dengan atsar sahabat Nabi, tabi’in serta orang yang mengikuti mereka, yang merupakan generasi terbaik dan paling paham terhadap Qur’an dan Sunnah.       Dan   faktanya,   ketika   kita   mengembalikannya   kepada   ulama,   tidak ditemukan adanya pertentangan di antara dalil-dalil di atas. Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Surat Ghafir (Al Mu’min) ayat 45-46 menetapkan adanya adzab  kubur  berdasarkan  tafsir  dari  Mujahid rahimahullah,  seorang  tabi’in yang   dijuluki imamul   mufassir, juga  riwayat  dari  ulama mufassir (pakar tafsir) yang lain. Juga karena bersesuaian dengan hadits-hadits shahih yang mencapai derajat mutawatir. Pendalilan yang berdasarkan hadits shahih serta atsar  salaf  ini  tentu  lebih  utama  dan  lebih  agung  dibanding  pendalilan berdasarkan ra’yu   (logika).   Dan   pendalilan   yang   demikian   ini   adalah pendalilan yang qath’i.      

Sedangkan surat Yasin ayat 52, berdasarkan riwayat dari seorang sahabat Nabi,   Ubay   bin   Ka’ab radhiallahu’anhu  ,  juga  dari  para  tabi’in  yaitu Khaitsamah, Mujahid dan Qatadah radhiallahu’anhum tafsiran ‘tidur‘ dalam ayat ini adalah: “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Sehingga ayat ini tidak menafikan adanya adzab kubur. Sekali lagi, pendalilan dengan atsar  salaf  ini  tentu  merupakan  pendalilan  yang qath’i.  Walhasil,  tidak  ada pertentangan       di  antara    ayat    dengan     ayat,    atau   ayat    dengan     hadits, walillahilhamdu. 122 HR. Ahmad 2/161, dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu'anhu. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Syarhu Al     Aqidah At Thahawiyah, hal. 585                               

0 comments:

Posting Komentar