Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 16 Februari 2026

apa arti azali

 Zaman azali artinya zaman sebelum diciptakannya manusia oleh Allah Swt. Terjemahnya : “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfus) sebelum Kami mewujudkannya.dengan kata lain ketetapan yang sudah ada sebelum segala sesuatu ada, termasuk manusia. Azali juga dapat diartikan sebagai wujud yang tidak pernah hilang. 

azali

kata azali sendiri berarti ketetapan yang sudah ada sebelum keberadaan atau kelahiran semua makhluk termasuk manusia Wujud Azali merupakan wujud yang tidak diawali ketiadaan dan tidak pernah diakhiri ketiadaan atau bisa disebut wujud yang tidak pernah hilang. Yang termasuk wujud azali ini ialah Allah swt. Wujud kedua ialah wujud abadi yaitu diawali ketiadaan dan tidak akan pernah diakhir ketiadaan.

  • Wujud azali

Wujud yang tidak diawali ketiadaan dan tidak pernah diakhiri ketiadaan. Allah SWT termasuk wujud azali. 

  • Takdir azali

Ketetapan Allah sebelum penciptaan langit dan bumi. Ketetapan ini berkaitan dengan kebahagiaan, kesengsaraan, ajal, dan rezeki manusia. 

  • Azali pada makhluk

Azali dapat dinisbatkan dengan zaman, misalnya ungkapan, “Kita masih belum ada, ketika zaman azali”. 

Dalam ilmu kalam, jika azali disematkan kepada Allah dan sifat-Nya, maka tidak ada kaitannya dengan zaman. Contohnya, perkataan “al-Quran sudah ada sejak zaman azali” tidak benar. Perkataan yang benar adalah “al-Quran azali

Kehidupan azali adalah kehidupan yang dipetakan oleh Sang Maha Berkehendak yaitu Allah SWT, sedang kehdupan non azali adalah kehidupan yang di petakan oleh seluruh makhluk dengan ikhtiar yang diberikan Allah SWT dengan menggunakan potensi kreatif yang dimiliki dalam dunia semesta manusia.

Read More

Minggu, 15 Februari 2026

Memohon Petunjuk

Memohon Cahaya Petunjuk Ilahi: Ayat-Ayat Al-Qur'an yang Menyejukkan Jiwa

Setiap insan pasti pernah merasakan keraguan, kebingungan, atau kesulitan dalam menjalani kehidupan. Di saat-saat seperti itulah, hati kita secara naluriah mencari pegangan, mencari sumber petunjuk yang paling hakiki. Al-Qur'an, kitab suci umat Islam, hadir sebagai pelita bagi kegelapan hati, menawarkan ayat-ayat yang begitu indah untuk memohon petunjuk dari Sang Maha Pemberi Petunjuk, Allah SWT.

Kekuatan Doa Memohon Petunjuk dalam Al-Qur'an

Terdapat banyak ayat dalam Al-Qur'an yang secara eksplisit maupun implisit mengajarkan kita cara memohon petunjuk. Salah satu yang paling sering kita panjatkan dalam shalat adalah "Ihdinash-shiraathal-mustaqiim" (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus), yang terdapat dalam Surah Al-Fatihah ayat 6. Ayat ini menjadi pengingat bahwa kita senantiasa membutuhkan bimbingan Allah dalam setiap langkah.

 


Selain itu, ayat-ayat seperti QS. Al-Baqarah: 286 yang berbunyi, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat pahala [dari kebajikan] yang dikerjakannya dan ia mendapat siksa [dari kejahatan] yang dikerjakannya. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan beban yang berat kepada kami sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami atas kaum yang kafir." juga menjadi bukti nyata betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang terhadap hamba-Nya yang memohon kemudahan dan petunjuk.

Mengapa Memohon Petunjuk Itu Penting?

Memohon petunjuk bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah kebutuhan spiritual yang mendalam. Dengan memohon petunjuk, kita mengakui keterbatasan diri dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Ini adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya, di mana kita berusaha semaksimal mungkin lalu berdoa agar diberikan hasil terbaik. Petunjuk Ilahi akan membimbing kita pada jalan kebaikan, menjauhkan dari kesesatan, serta memberikan ketenangan dan keyakinan dalam menghadapi segala ujian.

 

Bagaimana Cara Mengamalkannya?

 

Selain rutin memanjatkan doa-doa yang diajarkan Al-Qur'an, memohon petunjuk juga bisa diwujudkan dalam bentuk usaha nyata. Carilah ilmu, konsultasikan masalah kepada orang yang berilmu, dan selalu berdoa agar diberikan kemudahan dalam mencari solusi. Ingatlah, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang berusaha mengubahnya. Semoga kita senantiasa dalam limpahan petunjuk-Nya.

 

Al-Kahfi 9-10

اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡـكَهۡفِ وَالرَّقِيۡمِۙ كَانُوۡا مِنۡ اٰيٰتِنَا عَجَبًا‏ ٩

اِذۡ اَوَى الۡفِتۡيَةُ اِلَى الۡـكَهۡفِ فَقَالُوۡا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنۡ لَّدُنۡكَ رَحۡمَةً وَّهَيِّئۡ لَـنَا مِنۡ اَمۡرِنَا رَشَدًا‏ ١٠

Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqīm1 itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami."

Al Qasas 22-24

وَلَـمَّا تَوَجَّهَ تِلۡقَآءَ مَدۡيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّىۡۤ اَنۡ يَّهۡدِيَنِىۡ سَوَآءَ السَّبِيۡلِ‏ ٢٢

وَلَـمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسۡقُوۡنَ وَوَجَدَ مِنۡ دُوۡنِهِمُ امۡرَاَتَيۡنِ تَذُوۡدٰنِ ۚ قَالَ مَا خَطۡبُكُمَا ؕ قَالَـتَا لَا نَسۡقِىۡ حَتّٰى يُصۡدِرَ الرِّعَآءُ وَاَبُوۡنَا شَيۡخٌ كَبِيۡرٌ‏  ٢٣

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰٓى اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّىۡ لِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ اِلَىَّ مِنۡ خَيۡرٍ فَقِيۡرٌ‏ ٢٤

Dan ketika dia menuju ke arah negeri madyan, dia berdoa lagi, "Mudah-mudahan Tuhanku menunjuki aku ke jalan yang benar."

Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua (perempuan) itu menjawab, "Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya."

Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku."

Doa Memohon Petunjuk

Read More

NABI SULAIMAN a.s. DENGAN JIN IFRIT

 NABI SULAIMAN a.s. DENGAN JIN IFRIT

Pada masa pemerintahan Nabi Allah Sulaiman, semua binatang, syaitan dan jin

adalah   dibawah   kekuasaan   pemerintahan   kerajaan   Nabi   Sulaiman.   Kisah   ini adalah     diantara   kisah-kisah    yang   terjadi   semasa    pemerintahan       Nabi   Allah Sulaiman.

NABI SULAIMAN a.s. DENGAN JIN IFRIT

Oleh kerana baginda amat dihormati, ramailah manusia, binatang dan jin ingin berbakti kepada baginda. Pada suatu hari Jin Ifrit telah keluar daripada bandar Baitulmaqdis   kerana   ingin   mencari   sebiji   mutiara   yang   sangat   cantik   untuk dihadiahkan kepada Nabi Sulaiman supaya dia mendapat pujian daripada Nabi Sulaiman   dan   sekaligus   ingin   membuktikan   kepada   jin   dan   syaitan   yang   lain bahawa       dialah   jin   yang    paling   disayangi     oleh   Nabi    Sulaiman.     Secara senyap-senyap Jin Ifrit keluar supaya tidak diketahui oleh makhluk yang lain. Setelah sampai di Laut Merah Jin Ifrit menyelam di dasar lautan untuk mencari mutiara      tersebut.    Setelah    puas   menyelam,      mutiara     tersebut    tidak   juga dijumpai      oleh   Jin  Ifrit  sehingga    sampai     ke   suatu   tempat     yang   berbatu, ternampak olehnya kilauan dari celah-celah batu tersebut. Setelah diamatinya ternyata     kilauan    tersebut    adalah   mutiara     yang   sangat   cantik    yang   dicari- carinya.   Jin   Ifrit   terus   mangambil   mutiara   tersebut   dan   berenang   sehingga sampai ke tepi pantai.

Semasa perjalanan pulang, Jin Ifrit tidak mengetahui bahawa dia telah diekori oleh jin lain yang bernama Bota. Bota terus mengejar Jin Ifrit dan memintas lalu merampas mutira tersebut. Jin Ifrit sangat marah lalu mengejar Bota. Oleh kerana   Bota   lari   dengan   pantas   ke   arah   selatan   menyebabkan   Jin   Ifrit   tidak dapat mengejarnya lagi. Jin Ifrit sangat takut kalau-kalau diketahui oleh Raja Jin   bahawa     mutiara     tersebut   telah   hilang.   Tidak    lama   kemudian      Jin  Ifrit mendengan suara memanggilnya. Ifrit mengenali suara tersebut adalah suara Raja   Jin.   Dengan   segera   Ifrit   pergi   mengadap   Raja   Jin.   Raja   Jin   bertanya kepada Ifrit "Mana mutiara tersebut ?" Ifrit menjawab "Mutiara tersebut telah dirampas oleh Bota".

Raja Jin mengambil keputusan untuk mempersempahkan kes tersebut kepada Nabi     Sulaiman.    Satelah    tiba   dihadapan     Nabi    Sulaiman,     baginda    bertanya kepada      Raja   Jin  "Apakah    kesalahan     Ifrit?".  Raja  jin  menjawab      "Ifrit  telah menghilangkan        sebiji  mutiara     yang   sangat    cantik".   Nabi   Sulaiman     berkata kepada      Ifrit  "Adakah   kamu     telah  menyembunyikan         mutiara    tersebut?"    Ifrit menafikannya dan menceritakan apa yang sebenarnya berlaku. Nabi Sulaiman berkata "Aku akan panggil semua jin dan syaitan untuk diperiksa". "Sementera itu   kamu   akan   dipenjarakan   terlebih   dahulu   sehingga   kamu   dibuktikan   tidak bersalah" kata Nabi Sulaiman.

Salah seorang yang mendengar perbicaraan tersebut ialah Perdana Menterinya yang   bernama   Asif.   Beliau   adalah   seorang   yang   bijak   dan   tahu   bahawa   Bota adalah   salahseorang   hamba   kepada   orang   lain.   Beliau   berkata   kepada   Nabi Sulaiman   "   Allah   menjadikan   peristiwa   sebagai   pembuka   jalan   kepada   Nabi Sulaiman   supaya   pergi   ke   selatan   untuk   berjuang   pada   jalan   Allah   seperti baginda janjikan dahulu". "Mungkin Raja tersebut masih menyembah berhala" sambung   Perdana   Menteri.   Nabi   Sulaiman   menerima   kata-kata   tersebut   lalu baginda   berangkat   ke   Baitulmaqdis   untuk   beribadah   dan   bersyukur   kepada Allah keatas nikmatNya.

Read More