Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Sabtu, 20 Desember 2025

lembah thuwa

 Bukit Thuwa adalah lembah suci tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Allah SWT. Lembah ini terletak di sisi kanan Gunung Sinai.Musa   melihat    api  dan   beliau   kembali    merasa    menggigil.    Beliau mendapati suatu pohon hijau dari duri dan setiap kali pohon itu terbakar dan berkobar api darinya maka pohon itu justru semakin hijau. Seharusnya pohon itu berubah warnanya menjadi hitam saat terbakar, tetapi anehnya api justru meningkatkan   warna    hijaunya.   

lembah thuwa


  Musa    tetap    menggigil    meskipun      beliau merasakan kehangatan dan tampak mulai berkeringat. Lembah yang di situ Musa berdiri adalah lembah Thua'. Musa meletakkan kedua tangannya   di   atas   kedua   matanya   kerana   saking   dahsyatnya   cahaya.   Beliau melakukan yang demikian itu sebagai usaha untuk melindungi kedua matanya. Kemudian Musa bertanya dalam dirinya: Ini cahaya atau api? Tiba-tiba beliau tersungkur ke tanah sebagai wujud rasa takut,

Surat An-Nazi’at Ayat 16

إِذْ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلْوَادِ ٱلْمُقَدَّسِ طُوًى

tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa;

Surat An-Naml ayat 7

اِذۡ قَالَ مُوۡسٰى لِاَهۡلِهٖۤ اِنِّىۡۤ اٰنَسۡتُ نَارًاؕ سَاٰتِيۡكُمۡ مِّنۡهَا بِخَبَرٍ اَوۡ اٰتِيۡكُمۡ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَّعَلَّكُمۡ تَصۡطَلُوۡنَ‏ ٧

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya, "Sungguh, aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api (obor) kepadamu agar kamu dapat berdiang (menghangatkan badan dekat api)."

Surat An-Naml ayat 8

فَلَمَّا جَآءَهَا نُوۡدِىَ اَنۡۢ بُوۡرِكَ مَنۡ فِى النَّارِ وَ مَنۡ حَوۡلَهَا ؕ وَسُبۡحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَ‏ ٨

Maka ketika dia tiba di sana (tempat api itu), dia diseru, "Telah diberkahi orang-orang yang berada di dekat api, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam."

Surat An-Naml ayat 9

 

يٰمُوۡسٰۤى اِنَّـهٗۤ اَنَا اللّٰهُ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُۙ‏ ٩

(Allah berfirman, "Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

 

Surat An-Naml ayat 10

وَاَ لۡقِ عَصَاكَ ؕ فَلَمَّا رَاٰهَا تَهۡتَزُّ كَاَنَّهَا جَآنٌّ وَّلّٰى مُدۡبِرًا وَّلَمۡ يُعَقِّبۡ ؕ يٰمُوۡسٰى لَا تَخَفۡ اِنِّىۡ لَا يَخَافُ لَدَىَّ الۡمُرۡسَلُوۡنَ ۖ‏ ١٠

dan lemparkanlah tongkatmu!" Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. "Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya dihadapan-Ku para rasul tidak perlu takut,

QS Thaha; 20: 11-14

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى (١١) إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (١٢) وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (١٣) إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (١٤

Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil, “Hai Musa, Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha; 20: 11-14)

QS. al Qashash 28 :29

 فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الأجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لأهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

Ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.” (QS. al Qashash 28 :29)

Cahaya itu berasal dari Dzat Allah SWT. Allah menamakan tempat itu dengan nama Thuwa, yaitu suatu tempat yang diberkahi. Allah berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.” (QS Thaahaa 20 : 14). Lihat pula dalam surah al Qashash 28: 30.

Karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membuka sandal sebagai bentuk penghormtan, pengangungan, dan kesopanan terhadap tempat yang dimuliakan dan diberkahi itu. “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa” QS Thaahaa 20: 12.

Lokasi Lembah Suci Thuwa

Mengenai dimana letak lembah suci thuwa ini sebenarnya, sempat mengalami perdebatan panjang dari para ulama. Ada yang mengatakan ini di daerah Sinai Mesir. Adapula yang mengatakan ini terletak di Palestina.

Bahkan, ada yang menyebut bahwa lembah thuwa ini adalah lembah yang sama dengan yang di maksud dengan bukit thurisina.

Beberapa menafsirkan bahwa yang di maksud lembah thuwa adalah bukit thursina yaitu, letaknya di gunung az-zaitun. Yang mendukung pendapat ini salah satunya adalah Muhammad bin Abdul Mun’im al-Himyari dalam kitabnya, Al-Raudh Al-Mi’thar fi Khabari Al-Aqthar.

Gunung Az-Zaitun berada di sekitar bukit Baitul Maqdis yang masuk wilayah Palestina.

Apakah kalian pernah mendengar lembah suci thuwa? Tentu bagi yang mempelajari sejarah nabi, nama lembah ini sangat tak asing.

Bagaimana tidak, di tempat ini merupakan lokasi yang istimewa.

Ketika nabi Musa akan kembali ke Mesir dari madyan atau saat ini lebih dikenal dengan nama Yordania, ia mendapat peristiwa besar.

Read More

Jumat, 19 Desember 2025

Sayyidul Istighfar

 Membaca Sayyidul Istighfar memiliki beberapa manfaat, antara lain:

- Mengampuni dosa-dosa, seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang membaca Sayyidul Istighfar dengan yakin dan mengamalkan isinya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, meskipun dia telah lari dari medan perang." (HR. Bukhari)

Sayyidul Istighfar

- Mendekatkan diri kepada Allah SWT

- Meningkatkan keimanan dan kesadaran akan dosa-dosa

- Mendapatkan ketenangan hati dan jiwa

- Dilindungi dari azab kubur dan azab hari kiamat

 

manfaat dari sayyidul istighfar sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

 

وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

 

“Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.”

Bacaan sayyidul istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَاإِلٰـهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.

Allahumma anta rabbī, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ 'abduka, wa anâ 'alâ 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'ûdzu bika min syarri mâ shana'tu. Abû'u laka bini'matika 'alayya. Wa abû'u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.

 

Terjemahan doa sayyidul istighfar

Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan Engkau dan aku berjanji untuk melaksanakannya sebaik mungkin. Aku berlindung dengan Engkau dari kejahatan yang telah aku lakukan.aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau."  (HR. Bukhari, no. 6306)


Bacaan Sayyidul istighfar


Read More

munajat nabi Musa AS

Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya sebuah kitab suci   untuk   menjadi   pedoman   dakwah   dan   risalahnya   kepada   kaumnya.   Lalu   Allah memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaitu   semasa   bulan   Zulkaedah

Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya sebuah kitab suci   untuk   menjadi   pedoman   dakwah   dan   risalahnya   kepada   kaumnya.   Lalu   Allah memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaitu   semasa   bulan   Zulkaedah

12 bulan dalam kalender Hijriah adalah

Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa'dah, Dzulhijjah

Read More

Kamis, 18 Desember 2025

NABI MUSA a.s. BERMUNAJAT DENGAN ALLAH

 NABI MUSA a.s. BERMUNAJAT DENGAN ALLAH


Menurut   riwayat   sementara   ahli   tafsir,   bahawasanya   tatkala   Nabi   Musa   berada   di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya akan memberi mereka sebuah kitab suci yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang akan memberi bimbingan dan sebagai tuntunan bagaimana cara mereka bergaul dan bermuamalah dengan sesama manusia dan   bagaimana   mereka   harus   melakukan   persembahan   dan   ibadah   mereka   kepada Allah.

 Di dalam kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan haram, perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah di samping perbuatan-perbuatan yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan.

Maka   setelah   perjuangan   menghadapi   Fir'aun   dan   kaumnya   yang   telah   tenggelam binasa di laut, selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya sebuah kitab suci   untuk   menjadi   pedoman   dakwah   dan   risalahnya   kepada   kaumnya.   Lalu   Allah memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaitu   semasa   bulan   Zulkaedah.   Kemudian   pergi   ke   Bukit   Thur   Sina   di   mana   ia   akan diberi   kesempatan   bermunajat   dengan   Tuhan   serta   menerima   kitab   penuntun   yang diminta. Setelah   berpuasa   selama   tiga   puluh   hari   penuh   dan   tiba   saat   ia   harus   menghadap kepada Allah di atas bukit Thur Sina Nabi Musa merasa segan akan bermunajat dengan Tuhannya   dalam   keadaan   mulutnya   berbau   kurang   sedap   akibat   puasanya.   Maka   ia menggosokkan   giginya   dan   mengunyah daun-daunan   dalam   usahanya   menghilangkan bau mulutnya.

 Ia ditegur oleh malaikat yang datang kepadanya atas perintah Allah. Berkatalah       malaikat     itu   kepadanya:     "Hai     Musa,    mengapakah         engkau     harus menggosokkan          gigimu     untuk     menghilangkan         bau     mulutmu       yang    menurut anggapanmu   kurang   sedap,   padahal   bau   mulutmu   dan   mulut   orang-orang   yang berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya kasturi. Maka akibat     tindakanmu      itu,   Allah   memerintahkan        kepadamu       berpuasa     lagi  selama sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masa puasamu sepanjang empat puluh hari." Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih di antara pengikutnya untuk menyertainya       ke   bukit   Thur   Sina   dan   mengangkat       Nabi   Harun    sebagai   wakilnya mengurus   serta   memimpin   kaum   yang   ditinggalkan   selama   kepergiannya   ke   tempat bermunajat itu. Pada   saat  

yang   telah   ditentukan   tibalah   Nabi   Musa   seorang   diri   di   bukit   Thur   Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah:  "Mengapa   engkau   datang   seorang   diri   mendahului   kaummu,   hai   Musa?"  Ia menjawab:      "Mereka      sedang     menyusul     di   belakangku,      wahai    Tuhanku.    

Aku cepat-cepat datang lebih dahulu untuk mencapai redha-Mu." Berkatalah   Musa   dalam   munajatnya   dengan   Allah: "Wahai   Tuhanku,   nampakkanlah zat-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu" Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cubalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala, maka nescaya engkau      akan    dapat    melihat-Ku."     Lalu   menolehlah      Nabi    Musa    mengarahkan pandangannya        kejurusan     bukit   yang   dimaksudkan      itu   yang   seketika    itu  juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pengsan. Setelah   ia   sedar   kembali   dari   pengsannya,   bertasbih   dan   bertahmidlah   ia   seraya memohon        ampun     kepada    Allah   atas   kelancangannya       itu  dan   berkata:    "Maha Besarlah Engkau wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku dan aku akan menjadi orang yang pertama beriman kepada-Mu." Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan kepada Nabi Musa kitab suci "Taurat" berupa kepingan-kepingan batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara ahli   tafsir  yang   di  dalamnya    tertulis  segala   sesuatu   secara   terperinci    dan  jelas mengenai pedoman hidup dan penuntun kepada jalan yang diredhai oleh Allah. Allah mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan firman-Nya:  "Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari manusia-manusia yang lain di masamu, untuk membawa risalah-Ku dan menyampaikan kepada hamba-hamba-Ku.

Aku    telah   memberikan      kepadamu      keistimewaan      dengan     dapat   bercakap-cakap langsung   dengan   Aku,   maka   bersyukurlah   atas   segala   kurnia-Ku   kepadamu   dan berpegang teguhlah pada apa yang Aku tuturkan kepadamu. Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan membawa Bani Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat     bagi    mereka.      Anjurkanlah      kaummu        Bani    Isra'il  agar    mematuhi perintah-perintah Ku   jika   mereka     tidak   ingin    Aku   tempatkan      mereka      di tempat-tempat orang- orang yang fasiq."

Bacalah tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah "Thaha" ayat 83 dan 84 dan surah "Al-a'raaf" ayat 142 sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~ "83~ Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" 84~ Berkata Musa:    "Itulah   mereka  sedang    menyusuli     aku   dan   aku   bersegera    kepadamu      ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~ 84 } "142~ Dan Kami telah janjikan kepada Musa {memberikan Taurat} sesudah berlalu waktu tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh {malam   lagi},   maka   sempurnalah   waktu   yang   telah   ditentukan  Tuhannya   empat puluh   malam.   Dan   berkata   Musa   kepada   saudaranya,   iaitu   Harun:   "Gantilah   aku dalam   {memimpin}   kaumku   dan   perbaikilah   dan   janganlah   kamu   mengikuti   jalan orang-orang      yang   membuat      kerosakan".     143~   Dan    tatkala   Musa   datang    untuk {munajat} dengan {Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman   {langsung}   kepadanya,   berkatalah   Musa:   "Ya   Tuhanku   nampakkanlah {Zat Engkau} kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sesekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya {sebagai sediakala} nescaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya   nampak   bagi   gunung   itu,   kejadian   itu   menjadikan   gunung   itu   hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: "Maha     Suci   Engkau,    aku   bertaubat     kepada-Mu      dan   aku   orang   yang    pertama beriman." 144~ Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu lebih dari    manusia    yang    lain  {di  masamu}    untuk    membawa       risalah-Ku   dan    untuk berbicara langsung dengan-Ku sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan   kepadamu   dan   hendaklah   kamu   termasuk   orang-orang   yang   bersyukur." 145~   Dan   Kami   telah   tuliskan   untuk   Musa   luluh   {Taurat}   segala   sesuatu   sebagai pengajaran bagi sesuatu. Maka Kami berfirman:

"Berpeganglah kepadanya dengan teguh     dan   suruhlah    kaummu       berpegang     kepada    {perintah-perintahnya}    yang sebaik-baiknya,   nanti   Aku   akan   memperlihatkan   kepadamu   negeri   orang-   orang yang fasiq." { Al-A'raaf: 142 ~ 145 } JANGGUT NABI HARUN a.s. BERWARNA DUA Nabi    Musa   Alaihisalam    telah   diperintahkan    oleh   Allah Subhanahu   Wataala supaya   pergi   ke   bukit   Sina   untuk   menerima   wahyu.   Semasa   pemergian   Nabi Musa,    segala   urusan   telah   diserahkan    kepada    saudaranya    Nabi   Harun    a.s. Pemergian Nabi Musa mengambil masa selama 40 hari dan 40 malam. Ketiadaan Nabi Musa a.s telah mengembirakan seorang musuh dalam selimut bernama Samiri.

 Dia telah memanfaatkan masa ini untuk menyesatkan kaum Nabi Musa yang selama ini telah bersusah payah membentuk dan memberi keimanan kepada mereka. Sewaktu Nabi Musa menyeberangi Laut Merah setelah pulang dari Mesir, kaki kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah tenggelam dalam pasir   di   tengah   lautan yang   kering   itu. 

 Dengan   segala   usaha   yang   dilakukan oleh    Nabi   Musa,   kuda   yang    ditungganginya  tetap   tidak   mahu    meneruskan perjalanan untuk menyeberangi Laut Merah. Kerana itu Allah telah mengutuskan malaikat Jibril dengan menunggang kuda betina. Melihat lawan sejenisnya kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah mengejar kuda yang ditunggangi oleh Malaikat Jibrail. Samiri yang ikut serta dalam rombongan tersebut telah mengambil segenggam pasir bekas tapak kaki kuda yang ditunggangi oleh Jibrail dan disimpannya untuk dijadikan azimat. Apabila tiba masa yang sesuai iaitu semasa Nabi Musa bersunyi di Bukit Sina, Samiri    membuat   patung   seekor   lembu   daripada   emas   murni.

Setelah     siap, patung   itu   diisinya   dengan   pasir   yang   di   ambil   dari   bekas   tapak   kaki   kuda Jibril.   Dalam   waktu    yang   singkat   sahaja    patung    lembu    tersebut    dapat mengeluarkan        suara.   Melihat   keadaan     tersebut,    umat    Nabi   Musa    datang berduyun-duyun kepada Samiri. Samiri memimpin mereka menyembah patung lembu yang menakjubkan itu. Nabi Harun sangat marah setelah melihat umatnya menyembah berhala, lalu berusaha      mencegah      umatnya  daripada    terus   syirik  kepada     Allah   bahkan umatnya   mengancam   Nabi   Harun   untuk   membunuhnya   jika   Nabi   Harun   terus melarang mereka menyembah patung lembu tersebut. Nabi Harun tidak dapat berbuat   apa-apa   untuk   melarang   mereka   daripada   terus   menyembah   patung tersebut. Setelah kembali daripada Bukit Sina, Nabi Musa sangat marah kerana melihat umatnya telah murtad. Nabi   Harun   telah   di   persalahkan   dalam   hal   ini.   Dalam   keadaan   marah   yang tidak dapat dikawal Nabi Musa telah menarik janggut Nabi Harun menyebabkan janggut yang dipegang oleh Nabi Musa telah bertukar menjadi putih manakala janggut yang tidak terkena tangan Nabi Musa kekal berwarna hitam. Sejak itu janggut Nabi Harun mempunyai dua warna iaitu putih dan hitam.

Read More

Rabu, 17 Desember 2025

NABI MUSA a.s. DENGAN raksasa

 NABI MUSA a.s. DENGAN 'AUJ BIN UNUQ

'Auj   bin   Unuq    adalah   manusia    yang   berumur    sehingga    4,500   tahun.  Tinggi   tubuh badannya   di   waktu   berdiri   adalah   seperti   ketinggian   air   yang   dapat   menenggelamkan negeri pada zaman Nabi Nuh a.s. Ketinggian air tersebut tidak dapat melebihi lututnya. Ada yang mengatakan bahawa dia tinggal di gunung. 

NABI MUSA a.s. DENGAN 'AUJ BIN UNUQ


Apabila dia merasa lapar, dia akan menghulurkan tangannya ke dasar laut untuk menangkap ikan kemudian memanggangnya dengan     panas   matahari.    Apabila   dia   marah    atas  sesebuah    negeri,  maka    dia   akan mengencingi      negeri   tersebut  hinggalah    penduduk    negeri   itu  tenggelam    di  dalam   air kencingnya. Apabila Nabi Musa bersama kaumnya tersesat di kebun teh, maka 'Auj bermaksud untuk membinasakan   Nabi Musa bersama   kaumnya   itu.

Kemudian      'Auj   datang   untuk memeriksa tempat kediaman askar Nabi Musa a.s., maka dia mendapati beberapa tempat kediaman      askar  Nabi   Musa    itu  tidak  jauh  dari  tempatnya.    Kemudian     dia  mencabut gunung-gunung yang ada di sekitarnya dan diletakkan di atas kepalanya supaya mudah untuk dicampakkan kepada askar-askar Nabi Musa a.s. Sebelum sempat 'Auj mencampakkan gunung-gunung yang dijunjung di atas kepalanya kepada   askar-askar   Nabi   Musa   a.s,   Allah   telah   mengutuskan   burung   hud-hud   dengan membawa   batu   berlian   dan   meletakkannya   di   atas   gunung   yang   dijunjung   oleh   'Auj. Dengan kekuasaan Allah, berlian tersebut menembusi gunung yang dijunjung oleh 'Auj sehinggalah     sampai    ke  tengkuknya.     'Auj  tidak   sanggup    menghilangkan      berlian  itu, akhirnya 'Auj binasa disebabkan batu berlian itu.

Dikatakan   bahawa   ketinggian   Nabi   Musa   a.s   adalah   empat   puluh   hasta   dan   panjang tongkatnya    juga  empat   puluh   hasta  dan  memukulkan      tongkatnya   kepada   'Auj  tepat mengenai mata dan kakinya. Ketika itu jatuhlah 'Auj dengan kehendak Allah S.W.T dan akhirnya   tidak   dapat   lari   daripada   kematian   sekalipun   badannya   tinggi   serta   memiliki kekuatan yang hebat.

Read More

Selasa, 16 Desember 2025

Doa Mengusir musuh

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ * أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ * فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ" (سورة المؤمنون، الآيات 114-116).

معنى الآية:

Doa Mengusir musuh


فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍمِنَ اللهِ (فانقلبوا بنعمة من الله): أي رجعوا إلى أهلهم سالمين غانمين بنعمة وفضل من الله لم يصبهم فيها سوء.

اَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا (أفحسبتم أنما خلقناكم عبثاً): استفهام إنكاري، أي هل تظنّون أن الله خلقكم بلا فائدة أو غاية، وأنتم مجرد لهو وعبث؟.

وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ (وأنكم إلينا لا ترجعون): وهل تظنون أنكم لن تُبعثوا ولن تُحاسبوا بعد الموت، وأن لا  إلينا؟

Doa Mengusir musuh

فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍمِنَ اللهِ اَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا

fanqalabu biniematinmin allah aafahasibtum 'annama khalaqnakum 'abathan dibaca 25 kali


Musitka batu kelapa



Read More

Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS

 Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS

Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia menjadikan saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun diangkatnya sebagai wakilnya yang bertanggungjawab    untuk   mengurus    kaumnya.  Musa   berjalan   menuju   ke   Harun,   lalu   ia   meletakkan   papan   Taurat   dengan tangannya di atas tanah. 

Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS


Tampaknya api kemarahan telah membakamya. Musa memegang   Harun   dari   rambut   kepalanya   sampai   rambut   janggutnya   sambil berkata: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat,    (sehingga)    kamu    tidak   mengikuti     aku?   Maka    apakah    kamu     telah (sengaja) menderhakai perintahku?" (QS. Thaha: 92-93) Musa    bertanya,    "Apakah    Harun    tidak   mentaati    perintahnya,    bagaimana      ia mendiamkan        fitnah   ini;  bagaimana     ia  tetap   bersama     mereka     dan   tidak meninggalkan mereka serta berlepas diri dari perbuatan mereka; bagaimana ia tetap diam   dan   tidak  berusaha   melawan   mereka,   bukankah orang   yang   diam atau   membiarkan   suatu   kesalahan   itu   bertanda   bahawa   ia   merestuinya   atau bahagian dari kesalahan itu?" Keheningan semakin meningkat ketika gelora api kemarahan       Musa    semakin    membara.      Harun    berbicara     kepada    Musa    dan meminta      kepadanya      untuk   melepaskan      kepalanya    dan   janggutnya     kerana mereka   berdua   berasal   dari   ibu   yang   satu.   Harun   mengingatkan   Musa   akan kedekatan   hubungannya   melalui   ibu,   bukan   melalui   ayah   agar   hal   itu  

lebih dapat membuat Musa merasa kasihan kepadanya:

"Harun menjawab: 'Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.'" (QS. Thaha: 94)

Harun   memberi pengertian  kepada      Musa    bahawa    ia   sama     sekali   tidak bermaksud        menentang       perintahnya,      dan    ia  pun    tidak   menunjukkan        sikap merestui      penyembahan         anak    sapi,   tetapi   ia   khuatir    jika  ia  meninggalkan mereka      dan    pergi   lalu  Musa    bertanya     kepadanya,       mengapa      ia  tidak   tetap tinggal     bersama     mereka?     Mengapa      seorang     yang   bertanggungjawab          kepada mereka   justru   meninggalkan   mereka?   Di   samping   itu,   ia   juga   khuatir   jika   ia memerangi        mereka      dengan kekerasan     maka     terjadi    peperangan      di   antara mereka.       Lalu    Musa     akan     bertanya    kepadanya,       mengapa       ia   membikin perpecahan   di   antara   mereka   dan   mengapa   ia   tidak   menunggu   kembalinya Musa 

Read More

Senin, 15 Desember 2025

Kisah fitnah Musa samiri

 Kisah fitnah Musa samiri

Rasa-rasanya   hatinya mendidih      dan   jengkel.   Kita   dapat    membayangkan  bagaimana      emosi    yang membakar       Nabi   Musa    saat  ia  mengayunkan       langkahnya     menuju     kaumnya. Betapa   tidak,   belum   lama   Nabi   Musa   meninggalkan   kaumnya   dan   menemui Tuhannya,    mereka  mendapatkan    fitnah   melalui    Samiri.   Fitnah    ini  adalah, bahawa   Bani   Israil   -   ketika   keluar   dari   Mesir   -   membawa   banyak   dari   harta perhiasan   orang-orang   Mesir   dan   emas-emas   mereka.   

Kisah fitnah Musa samiri

Mereka   mengambilnya untuk mereka memanfaatkan dalam pesta perayaan mereka. Kemudian mereka selamat kerana mukjizat pembelahan lautan di mana lautan menenggelamkan Fir'aun dan tenteranya sehingga harta mereka yang berupa emas dimiliki oleh Bani Israil. Harun     mengetahui  bahawa      emas    tersebut    bukan    milik  mereka     lalu   Harun memintanya        dari   mereka      dan   menimbunnya         di  tanah.    Bani    Israil  tidak memerlukannya   kerana   saat   ini   mereka   sedang   tersesat.   Mereka   berjalan   di tengah-tengah gurun sehingga tidak bermanfaat bagi mereka emas- emas itu. Harun, saudara kandung Musa, menggali tanah dan meletakkan emas-emas itu lalu   menimbunkan   di   atasnya   tanah.   Samiri   melihat   apa   yang   dilakukan   oleh Harun. 

 Setelah   itu,   dia   mengeluarkannya   dan   membuat   sebuah   patung   sapi yang     menyerupai  sapi   Ibis  sesembahan       orang-orang      Mesir.   Samiri    adalah seorang pemahat yang mahir. Dia mampu membuat anak sapi yang menarik di mana ketika dia meletakkannya di arah angin maka akan masuk darinya udara dari celah bahagian belakangnya lalu keluar dari hidungnya. Samiri membuat suara yang menyerupai suara sapi yang sebenamya. Konon,  rahsia   kehebatan      sapi  ini  adalah     kerana    Samiri   telah    mengambil segenggam   tanah   yang   dilalui   Jibril   ketika   ia   turun   ke   bumi   dalam   peristiwa mukjizat pembelahan laut. Yakni Samiri melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kaum Nabi Musa. Kemudian dia mengambil segenggam tanah dari bekas yang dilalui    seorang    utusan    (Jibril)   dan   meletakkannya        bersama     emas.    Samiri membuat   darinya   anak   sapi. 

 Jibril   as   tidak   berjalan   di   atas   sesuatu   kecuali sesuatu itu menjadi hidup. Ketika Samiri menambahkan tanah itu ke emas lalu membuat   darinya   anak  sapi   maka   anak   sapi   itu   dapat   bersuara   seperti   anak sapi   yang   sebenarnya.   Demikianlah   kisah   Samiri.   Kita   mengetahui   sekarang bahawa   jika   tanah   ditambahkan   ke   emas   dan   melebur   maka   tanah   itu   akan terpisah     dari    emas    dan    akan    meninggalkan       bekas     (lubang)    di   tempat terpisahnya   itu.   Diduga   kuat   bahawa   Samiri   menggunakan   tanah   itu   seperti tanah   yang   lain   dalam   usaha   untuk   mengeringkan   bahagian   dalam   dari   anak sapi di mana patung itu berubah menjadi patung yang mempunyai suara. Setelah   itu,   Samiri   keluar   menemui   Bani   Israil   dengan   membawa   apa   yang dibuatnya. Mereka bertanya kepadanya: "Apa ini, hai Samiri?" Ia menjawab: "Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa." Mereka berkata: "Bukankah Musa sedang menemui  Tuhannya?"     Samiri   menjawab:       "Musa   telah   lupa   ia  pergi   untuk menemui       tuhannya     di  sana,    padahal    sebenarnya      tuhannya    ada    di  sini. Lembu itu bukan tuhan kalian dan bukan juga tuhan Musa:" Akhirnya, Bani Israil menyembah anak sapi ini. Barangkali pembaca akan merasa heran terhadap fitnah ini. Bagaimana akal kaum   itu   dapat   tunduk   sampai   pada   keadaan   seperti   ini?   Bukankah   mereka telah   menyaksikan   mukjizat   yang   besar?   Bagaimana   mereka   dengan   mudah menyembah berhala?    Kebingungan     tersebut    segera   hilang   ketika   kita  lihat keadaan kejiwaan kaum yang menyembah anak sapi itu. Mereka telah terdidik di Mesir pada saat mereka menyembah berhala dan sangat mengkultuskan anak sapi   Ibis.   Mereka   terdidik   di   bawah   kehinaan   dan   perbudakan   sehingga   jiwa mereka      menjadi     ternoda    dan    fitrah   mereka     menjadi    tercemar.

 Mereka menyaksikan        mukjizat-mukjizat        dari   Allah    s.w.t    tetapi    mukjizat   itu berbenturan       dengan    jiwa-jiwa    yang   putus   asa.   Mukjizat    ini  tidak  mampu memuaskan   mereka     untuk    mempercayai        kebenaran.     Mereka     masih    saja dihinggapi      keinginan     untuk    menyembah        berhala.     Mereka     adalah     para penyembah   berhala   seperti   tokoh-tokoh   Mesir   yang   dahulu.   Oleh   kerana   itu, mereka   menyembah   anak   sapi.   Sikap   mereka   ini   tidak   terlalu   mengagetkan kita. Sebab, setelah mereka menyaksikan mukjizat pembelahan lautan, mereka melihat suatu kaum yang menyembah berhala, lalu mereka minta kepada Nabi Musa    agar   menjadikan      tuhan   bagi   mereka    seperti   kaum    yang   menyembah berhala itu. Jadi,    masalahnya      adalah    masalah    klasik.   Pada    hakikatnya,     hasrat   untuk menyembah         berhala   bererti   menyembah        berhala    itu   sendiri.   Apa   yang dilakukan Samiri adalah, ia memanfaatkan kerinduan kaum untuk menyembah berhala.     Kemudian      Samiri    memilih     agar    anak    sapi   yang   diciptakannya berbentuk   emas   kerana   ia   mengetahui   bahawa   umumnya   Bani   Israil   lemah (mudah terpedaya) pada emas.

Akhirnya, fitnah yang ditimbulkan oleh Samiri tersebar   di   sana   sini.   Harun   sangat   terpukul   ketika   mengetahui   Bani   Israil menyembah        anak   sapi   dari  emas.    Mereka    terbagi   menjadi     dua   kelompok: minoriti dari mereka beriman dan mengetahui bahawa ini adalah tipu daya dan kebohongan semata, sedangkan majoriti mereka mengingkari Harun dan tetap melampiaskan kerinduan mereka untuk menyembah berhala. Harun berdiri di tengah-   tengah   kaumnya   dan   mulai   menasihati   mereka.   Ia   berkata   kepada mereka: "Sesungguhnya kalian tertipu dengannya. Ini adalah fitnah (godaan). Samiri   telah   memanfaatkan   kebodohan   kalian   dengan   menciptakan   anak  sapi itu.

"Sesungguhnya Tuhanmu  ialah  (Tuhan) Yang   Maha  Pemurah, maka ikutilah ahu dan taatilah perintahku." (QS. Thaha: 90) Para   penyembah   anak   sapi   menolak   nasihat   Harun.   Kelompok   orang-   orang yang     bodoh     itu   tidak    mahu     lagi   menerima      nasihat.     Harun    kembali memperingatkan mereka dan menceritakan kembali kepada mereka bagaimana mukjizat-mukjizat   Allah   s.w.t   dapat   menyelamatkan   mereka,   dan   bagaimana Allah s.w.t memuliakan dan menjaga mereka. Tetapi mereka menutup telinga dan   menolak   segala   nasihatnya. Mereka   justru   melemahkan   posisi Harun   dan nyaris   saja   membunuhnya.   Adalah   jelas   bahawa   Harun   lebih   lemah   daripada Musa, sehingga para kaum tidak takut lagi. Harun khuatir jika ia menggunakan kekuatan      dan   menghancurkan       berhala-berhala     yang    mereka  sembah,     maka akan terjadi fitnah di tengah-tengah kaum dan akan tercipta perang saudara. Akhirnya,   Harun   memilih   untuk   menunda   hal   itu   sampai   kedatangan   Musa. Harun   mengetahui   bahawa   Musa   seorang   yang   kuat   yang   mampu   mengatasi fitnah   ini   tanpa   harus   menumpahkan   darah.   Sementara   itu,   Bani   Israil   terus menari di sekitar anak sapi.

Samiri - mudah-mudahan Allah s.w.t melaknatnya - adalah     penyebab     fitnah    ini,  dan   ia  menari-nari     serta   berputar-putar      di sekeliling berhala. Al-Qurthubi      dalam   tafsirnya    pada   juz   kesebelas    menyebutkan      fitnah   yang timbulkan      oleh   Samiri.   Qurthubi     berkata:    "Imam    Abu    Bakar   at-Thurthusi ditanya:   "Apa   yang   dikatakan   oleh   pemimpin   kita   al-Faqih   tentang   kelompok lelaki    yang  memperbanyak         zikrullah    dan    menyebut      Muhammad         saw. Sebahagian       mereka     menari-nari     sehingga    pengsan.  Mereka    menghadirkan sesuatu   dan   memakannya.   Apakah   hadir   bersama   mereka   boleh   atau   tidak? Berilah     kami    fatwa,     mudah-mudahan         engkau     diberi   pahala."    Qurthubi menjawab   pertanyaan   ini   dengan   menukil   penjelasan   gurunya:   "Mazhab   sufi (yang      beliau    maksudkan       adalah     orang-orang    yang     menari-nari      yang dipraktikkan      oleh    sebahagian      aliran   sufi   untuk    mengekspresikan        zikir) berdasarkan kebodohan dan kesesatan serta sesuatu yang sia-sia.

Islam hanya berdasarkan Kitab Allah s.w.t dan sunah Rasul-Nya. Praktik tari-tarian seperti itu adalah sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh pengikut-pengikut Samiri ketika     mereka     menjadikan       anak    sapi   sebagai     tuhan    mereka.  

Mereka menari-nari di sekitarnya dan berkumpul di situ. Itu adalah agama kekufuran dan penyembahan terhadap anak sapi." Nabi saw duduk bersama sahabatnya dan seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung, kerana saking hormatnya mereka terhadap beliau. Hendaklah penguasa   dan   wakilnya   mencegah   orang-orang   itu   untuk   hadir   di   masjid selainnya.   Dan   tidak   diperkenankan   bagi   seorang   pun   yang   beriman   kepada Allah   s.w.t   dan   hari kemudian     untuk   hadir   bersama    orang-orang     itu  atau membantu kebatilan mereka. Ini adalah pendapat mazhab Malik, Abu Hanifah, Syafi'i, Ahmad bin Hambal, dan lain-lain dari para imam kaum Muslim. Demikianlah pernyataan al-Qurthubi berkaitan dengan masalah tersebut. Anda dapat membayangkan sejauh mana kecemerlangan fikirannya dan sejauh mana ketakwaannya. Selanjutnya, kita kembali kepada kisah Nabi Musa. Nabi Musa turun dari gunung untuk kembali menemui kaumnya. Kemudian ia mendengar teriakan kaum saat mereka menari-nari di sekitar anak sapi. Kaum itu berhenti ketika melihat Nabi Musa muncul di depan mereka. Dan tiba-tiba keheningan menyelimuti mereka. Nabi Musa berteriak dan berkata: "Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati,   berkatalah   dia:   'Alangkah   buruknya   perbuatan   yang   kamu   kerjakan sesudah kepergianku!'" (QS. al-A'raf: 150)

Read More