Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 04 Februari 2026

Amalan bulan syaban

 Bulan Puasa Sunnah

Bulan Sya’ban adalah bulan yang disukai untuk memperbanyak puasa sunah. Dalam bulan ini, Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah. 

amalan apa yang kita lakukan di bulan syaban


Bahkan beliau hampir berpuasa satu bulan penuh, kecuali satu atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sunah. Berikut ini dalil-dalil syar’i yang menjelaskan hal itu:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Dalam riwayat lain Aisyah berkata:

كَانَ أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَانَ، ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ

“Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649)

 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

 

Dari Ummu Salamah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi no. 726, An-Nasai 4/150, Ibnu Majah no.1648, dan Ahmad 6/293)

 

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis: “Hadits ini merupakan dalil keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)

Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, 2/239)

Maksud berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah berpuasa sunah pada sebagian besar bulan Sya’ban (sampai 27 atau 28 hari) lalu berhenti puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan, baru dilanjutkan dengan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Hal ini selaras dengan hadits Aisyah yang telah ditulis di awal artikel ini, juga selaras dengan dalil-dalil lain seperti:

Dari Aisyah RA berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah biasa berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud—pent) maka silahkan ia berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

Bulan Kelalaian

Para ulama salaf menjelaskan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya’ban dari puasa wajib Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat sunah qabliyah bagi shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya’ban akan menjadi persiapan yang tepat dan pelengkap bagi kekurangan puasa Ramadhan.

Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau SAW menjawab:

 

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

Bulan Menyirami Amalan-amalan Shalih

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, kita perlu banyak berlatih. Di sinilah bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat urgen sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan kontinu. Dengan latihan tersebut, di bulan Ramadhan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal shalih akan membuahkan takwa yang sebenarnya.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

Beliau juga berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan.”

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai. Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadhan benar-benar datang.

Bulan Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan. Untuk mengisi bulan Sya’ban dan sekaligus sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, ada beberapa hal yang selayaknya dikerjakan oleh setiap muslim.

a. Persiapan Iman, meliputi:

Segera bertaubat dari semua dosa dengan menyesali dosa-dosa yang telah lalu, meninggalkan perbuatan dosa tersebut saat ini juga, dan bertekad bulat untuk tidak akan mengulanginya kembali pada masa yang akan datang.

Memperbanyak doa agar diberi umur panjang sehingga bisa menjumpai bulan Ramadhan.

Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban agar terbiasa secara jasmani dan rohani. Ada beberapa cara puasa sunah yang dianjurkan di bulan Sya’ban, yaitu: Puasa Senin-Kamis setiap pekan ditambah puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14 dan 15 Sya’ban), atau puasa Daud, atau puasa lebih bayak dari itu dari tanggal 1-28 Sya’ban.

Mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dengan cara membaca lebih dari satu juz per hari, ditambah membaca buku-buku tafsir dan melakukan tadabbur Al-Qur’an.

Meresapi kelezatan shalat malam dengan melakukan minimal dua rakaat tahajud dan satu rekaat witir di akhir malam.

Meresapi kelezatan dzikir dengan menjaga dzikir setelah shalat, dzikir pagi dan petang, dan dzikir-dzikir rutin lainnya.

b. Persiapan Ilmu, meliputi:

Mempelajari hukum-hukum fiqih puasa Ramadhan secara lengkap, minimal dengan membaca bab puasa dalam (terjemahan) kitab Minhajul Muslim (syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi) atau Fiqih Sunnah (syaikh Sayid Sabiq) atau Shahih Fiqih Sunnah (Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim) atau pedoman puasa (Tengku Moh. Hasbi Ash-Shidiqi) atau buku lainnya.

Mempelajari rahasia-rahasia, hikmah-hikmah, dan amalan-amalan yang dianjurkan atau harus dilaksanakan di bulan Ramadhan, dengan membaca buku-buku yang membahas hal itu. Misal (terjemahan) Mukhtashar Minhjaul Qashidin (Ibnu Qudamah Al-Maqdisi) atau Mau’izhatul Mu’minin (Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi) atau buku-buku dan artikel-artikel para ulama lainnya.

Mempelajari tafsir ayat-ayat hukum yang berkenaan dengan puasa, misalnya dengan membaca (terjemahan) Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Ibnu Katsir), atau Tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an (Al-Qurthubi), atau Tafsir Adhwa-ul Bayan (Asy-Syinqithi).

Mempelajari buku-buku akhlak yang membantu menyiapkan jiwa untuk menyambut bulan Ramadhan.

Mendengar ceramah-ceramah para ustadz/ulama yang membahas persiapan menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan.

Mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an sebagai persiapan bacaan dalam shalat Tarawih, baik bagi calon imam maupun orang yang shalat tarawih sendirian di akhir malam (tidak berjama’ah ba’da Isya’ di masjid).

Mendengarkan bacaan murattal shalat tarawih para imam masjid yang terkenal keahliannya di bidang tajwid, hafalan, dan kelancaran bacaan.

 

 

 

 

Read More

Selasa, 03 Februari 2026

Keutamaan Bulan syaban

 banyak keutamaan dan peristiwa penting yang pernah terjadi dalam sejarah Islam.keberadaannya diapit oleh dua bulan mulia

apa keutamaan bulan syaban


ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم -- حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

Artinya: Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa (HR Abu Dawud dan Nasa’i).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah saw tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Riwayat ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antara bulan Rajab dan Ramadhan.

Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).  Keistimewaan bulan ini juga terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nisfu Sya’ban. Istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.

Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah swt, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru. 

Peristiwa di Bulan Sya'ban

  • peralihan kiblat.  Peralihan kiblat yang dimaksud adalah dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban.
  • penyerahan laporan keseluruhan amal kepada Allah swt. Pada bulan ini semua amal kita yang telah dicatat oleh malaikat diserahkan kepada Allah swt. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog

Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad saw: Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban

Kemudian Rasulullah saw menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah swt. Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.”

  • Ketiga, diturunkannya ayat tentang anjuran shalawat untuk Rasulullah saw. Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran bershalawat untuk Nabi Muhammad saw, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

Artinya: Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan.

Read More

Senin, 02 Februari 2026

Ucapan Malam Nifsu Syaban

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebelum malam Nishfu Sya'ban , seblum buku catatan amal disetorkan saya mohon maaf lahir batin ,

ucapan malam nifsu syaban

  • ·         Maaf sekiranya pernah menyakiti,
  • ·         Maaf sekiranya pernah menghina,
  • ·         Maaf sekiranya pernah kasar,
  • ·         Maaf sekiranya pernah membohongi,
  • ·         Maaf sekiranya pernah menyinggung,
  • ·         Maaf sekiranya pernah mengumpat,

Baik disengaja maupun tidak disengaja Baik yang terang-terangan maupun yang disembunyikan.

*Sesungguhnya yang buruk datang dari diri ini sendiri dan yang baik senantiasa datangnya dari Allah SWT..


-Jika Wafat Ayahmu, Hilanglah Penasehatmu.

-Jika wafat Ibumu, Hilanglah Cahayamu.

-Jika wafat Saudaramu, Hilanglah Tangan kananmu yang selalu membantumu.

-Jika Wafat Saudarimu, Hilanglah Senyumanmu.

-Jika wafat Sahabatmu, Hilanglah Pandangan Matamu.

Hidup ini Singkat sekali. Tidak ada waktu untuk

 IRI, DENGKI, BERPURA-PURA danMEMUTUS TALI PERSAUDARAAN.

Esok kelak akan menjadi cerita.

SENYUMLAH dan MAAFKANLAH siapa saja yang Menyakitimu dan mengecewakanmu.

Karena kita tidak tau kapan Hidup ini akan berakhir...  mohon maaf lahir batin menyambut nishfu sya'ban, sebelum Ramadhan tiba.

Read More

Minggu, 01 Februari 2026

Kisah Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis

 Kisah Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis

"Berkata      ia   (Balqis):    'Hai    pembesar-pembesar,          sesungguhnya        telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman   dan   sesungguhnya   (isi)nya:   'Dengan   menyebut   nama   Allah   Yang Maha     Pengasih    lagi   Maha    Penyayang.     bahawa     janganlah     kalian   berlaku sombong      terhadapku      dan   datanglah    kepadaku      sebagai   orang-orang     yang berserah diri.'" (QS. an-Naml: 29- 31)

siapakah nama ratu nabi sulaiman


Dalam surat Sulaiman itu disebutkan, hendaklah mereka menyerahkan diri dan tunduk      kepada      perintahnya.      Sulaiman      memerintahkan        agar    mereka meninggalkan          penyembahan         terhadap       matahari.       Sulaiman       tidak mempersoalkan akidah mereka dan tidak memuaskan mereka dengan apa pun. Sulaiman hanya memerintahkan bahawa ia berada di atas kebenaran. Bukankah ia didukung kekuatan yang berlandaskan keyakinan yang dimilikinya Sulaiman hanya   memerintahkan   mereka   agar   tunduk   dan   patuh   kepadanya.   Ratu   Saba' menyampaikan surat tersebut di tengah- tengah kaumnya:

"Berkata dia (Balqis): 'Hai putera para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam     urusanku     (ini)  aku   tidak   pernah    memutuskan       sesuatu    persoalan sebelum kamu berada dalam majlis(ku).'" (QS. an- Naml: 32)

Sementara itu, reaksi para pembesar istana adalah menentang surat tersebut.Isi surat itu membangkitkan kecongkakan kaum Saba' di mana mereka merasa lebih   kuat.   Mereka   mengetahui     bahawa    di  sana   ada  orang   yang   mencuba menentang   mereka   dan   mengisyaratkan   peperangan   kepada   mereka,   lalu   ia meminta       kepada    mereka     untuk    memenuhi      syarat-   syaratnya     sebelum terjadinya peperangan dan kekalahan:

"Mereka   menjawab:   'Kita   adalah   orang-orang   yang   memiliki   kekuatan   dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada     di   tanganmu;,     maka     pertimbangkanlah       apa   yang    akan    kamu perintahkan." (QS. an-Naml: 33)

Para    pembesar      kaumnya     ingin  berkata,    kita   siap   untuk   melaksanakan peperangan. Tampaknya ratu itu memiliki kebijakan yang lebih baik daripada pembesar kaumnya. Surat Sulaiman itu membuatnya berfikir lebih jernih dan lebih hati-hati. Ia berusaha seboleh mungkin menghindari peperangan. Ratu itu berfikir dalam tempo yang lama. Nama Sulaiman tidak diketahuinya dan ia pun belum     pernah    mendengarnya.   Oleh   kerana    itu,  ratu   tidak   mengetahui kekuatannya. Boleh jadi Sulaiman memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga ia mampu       memerangi      kekuasaannya     dan    mengalahkannya.       Kemudian     ratu memperhatikan        apa    yang   ada    di  sekelilinginya.    Ia  melihat    kemajuan masyarakatnya   dan   kekayaannya.   Barangkali   ia   mengira   bahawa   Sulaiman   iri terhadap kemajuan dan kekayaan ini sehingga Sulaiman ingin menyerangnya. Setelah    mempertimbangkan        isi  surat  Sulaiman   dengan    cermat,    ratu  Saba' memilih   untuk   tidak   bersikap   ceroboh.   Ratu   lebih   suka   untuk   menggunakan bahasa   kelembutan.   Ia   mengirim   kepada   Sulaiman   suatu   hadiah   yang   besar. Ratu mengira bahawa Sulaiman seorang yang ambisius yang boleh jadi ia telah mendengar tentang kekayaan kerajaannya.

Para utusan pergi dengan membawa hadiah dari ratu Saba'. Ratu berharap agar mereka     dapat   memasuki     kerajaan    Sulaiman   dan   akan   mengetahui  kondisi kerajaannya. Saat mereka pulang, ratu ingin mendengar secara langsung dari mereka      tentang     keadaan      kaum     Sulaiman     dan    pasukannya.      Setelah mendapatkan       informasi   yang   cukup,   maka   si  ratu  dapat  membuat     sesuatu keputusan yang tepat. Ratu menyembunyikan apa yang terlintas dalam dirinya lalu ia berbicara kepada pembesar istananya bahawa ia dapat menyingkap niat jahat    raja  Sulaiman   melalui   cara   mengirim    hadiah   kepadanya.    Ratu   lebih memilih      cara   tersebut    dan   menunggu      reaksi   Sulaiman.     Ratu   berhasil memuaskan para pembesar istananya, dan untuk sementara ia menghilangkan ide berperang, kerana para raja jika menyerang suatu desa, maka pemimpin desa   tersebut   adalah   orang   yang   paling   banyak   mendapatkan   kehinaan   dancercaan.   Akhirnya,   para   pembesar   kaumnya   merasa   puasa   dengan   fikirannya itu.

 Allah s.w.t berfirman:

"Dia    berkata:    'Sesungguhnya      raja-raja    apabila    memasuki      suatu   negeri, nescaya     mereka     membinasakannya,         dan   menjadikan      penduduknya       yang mulia    jadi   hina;  dan   demikian     pulalah   yang   akan    mereka    perbuat.    Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah,     dan   (aku   akan)   menunggu      apa   yang   akan   dibawa     kembali    oleh utusan-utusan itu.'" (QS. an-Naml: 34- 35)

Kemudian       sampailah    hadiah    ratu   Balqis   ke   Nabi   Sulaiman.     Para   badan perisikannya      memberitahunya       bahawa     para   utusan    Balqis   datang    dengan membawa   hadiah.   Sulaiman         langsung   mengetahui      bahawa   ratu   itu  sengaja mengirim      orang-orangnya      untuk  mengetahui     atau   mendapatkan       informasi tentang kekuatannya, lalu setelah itu, ia mengambil keputusan atau sikapnya kepada      Sulaiman.    Sulaiman     segera    memanggil     semua     pasukannya     untuk berkumpul.

Utusan Balqis segera memasuki istana Sulaiman yang dipenuhi dengan pasukan besar    yang   bersenjata.    Tiba-tiba,   utusan    Balqis  tampak    tercengang     ketika melihat      kekayaan     mereka      dan    harta    mereka     tidak    ada    apa-apanya dibandingkan dengan kerajaan Sulaiman. Hadiah mereka tampak tidak bererti. Emas   yang   mereka   bawa   tampak   tidak   bererti   saat   mereka   memasuki   istana Sulaiman   yang   terbuat   dari   kayu-kayu   pohon   gaharu   yang   mengeluarkan   bau yang   harum   serta   dihiasi   dengan   emas.   Para   utusan   Balqis   berdiri   bersama Sulaiman   dan   menyaksikan   bagaimana   Sulaiman   mengendalikan   pasukannya. Kemudian       mereka     mulai   berfikir   tentang    kekuatan     dan   kualiti   pasukan Sulaiman. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat di tengah-tengah pasukan itu   terdapat   singa,   burung   dan   tentera   dari   kalangan   manusia   yang   mampu terbang.   Mereka   pun   sadar   bahawa   mereka   di   hadapan   pasukan   yang   tiada taranya.

Selesailah     demonstrasi      pasukan    Sulaiman.     Kemudian      para    utusan    ratu dipersilakan maju ke tempat hidangan, makan. Para utusan itu sangat terkejut ketika melihat berbagai macam, makanan dari penjuru bumi ada di depannya, dan di antara, makanan itu pun terdapat, makanan yang biasa di temukan di negeri   mereka,   tetapi   mereka   melihat   bahawa,   makanan   itu   memiliki   rasa yang    istimewa.     Selain  itu,  piring-piring    yang   ada   di  depan    mereka     dan dijadikan     tempat,    makanan     terbuat   dari   emas    dan   mereka    dilayani   oleh laki-laki yang berhias dengan emas, ratu mereka pun tidak mengenakan hiasanitu. Di meja, makan itu terdapat burung, ikan laut dan berbagai macam daging yang    mereka     tidak   mampu      lagi  membezakannya.         Sulaiman     tidak,   makan bersama      mereka     tetapi   beliau,    makan     dengan    menggunakan        piring  yang terbuat   dari   kayu.   Beliau   memakan   roti   yang   kering   yang   dicampur   dengan minyak. Inilah, makanan yang dipilihnya.

Sulaiman,      makan     bersama     mereka     dalam    keadaan     diam.    Mereka    merasa bahawa   kehadiran   Sulaiman   menciptakan   suatu   kewibawaan   yang   luar   biasa. Selesailah jamuan, makan itu, lalu dengan sangat malu, mereka menyerahkan hadiah   ratu   Balqis   kepada   Sulaiman.   Hadiah   itu   berupa   emas.   Bagi   mereka, hadiah   itu   sangat   bernilai   tetapi   di   sini   hadiah   ini   tampak   kecil   di   hadapan kekayaan yang sangat mengagumkan. Sulaiman memperhatikan hadiah ratu itu dan berkata:

"Maka     tatkala    utusan     itu  sampai     kepada     Sulaiman,     Sulaiman     berkata: 'Apakah      (patut)    kamu     menolong      aku    dengan     harta?,    maka     apa   yang diberikan      Allah   kepadaku      lebih   baik    daripada    apa    yang   diberikan-Nya kepadamu;   tetapi   kamu   merasa   bangga   dengan   hadiahmu.   (QS.   an-   Naml: 36)

Raja     Sulaiman     menyingkap       -  dengan     kata-katanya      yang    singkat    itu  - penolakannya terhadap hadiah mereka. Ia memberitahu utusan itu bahawa ia tidak menerima hadiah tersebut. Ia tidak merasa puas dengan hadiah itu. Yang membuatnya puas hanya: "Janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. "

Lalu Sulaiman kembali berkata dengan pelan:

"Kembalilah kepada mereka. Sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala   tentera   yang   mereka   tidak   kuasa   melawannya,   dan   pasti   kami   akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba') dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina." (QS. an- Naml: 37)

Sulaiman      meninggalkan       para    utusan     ratu   itu   setelah     terlebih    dahulu mengancam mereka. Para utusan itu mengharap agar Sulaiman mau menunggu kunjungan ratu Balqis sendiri yang akan membawa misi perdamaian. Akhirnya, sampailah   para   utusan   Balqis   ke   Saba'   mereka   segera   menuju   istana   ratu. Mereka   memberitahu   bahawa   negeri   mereka   ada   di   hujung   tanduk.   Merekamenceritakan kepada ratu kekuatan Sulaiman, dan tidak mungkin bagi mereka

mampu        melawannya.         Mereka      meyakinkan        Balqis    bahawa       ia   harus mengunjunginya dan melihat sendiri. Kemudian ratu menyiapkan dirinya untuk pergi    menuju      kerajaan    Sulaiman.     Sulaiman     duduk    di   kerusi   kerajaan     di tengah-tengah   para   pembesarnya   dan   para   menterinya   serta   para   komandan pasukan.   Beliau   berfikir   tentang   Balqis.   Sulaiman   mengetahui   bahawa   Balqis menuju      tempatnya.      Balqis  dikelilingi   rasa  takut.    Sulaiman    berfikir   sejenak tentang   bagaimana   matahari   disembah.   Ia   memikirkan   bagaimana   informasi yang   diterima   badan   perisikannya   tentang   kemajuan   kerajaan   Balqis   dalam bidang     kesenian    dan   ilmu   pengetahuan.      Sulaiman     bertanya    kepada     dirinya sendiri, apakah kemajuan   menjadi   penghalang   untuk   mengetahui kebenaran, apakah      ratu    itu   gembira      dengan     kekuatan      yang     dicapainya     dan     ia membayangkan bahawa kekuatan adalah?

Dengan kemajuan yang dimilikinya, Sulaiman ingin membuat kejutan agar ratu mengetahui   bahawa   Islam   yang   diyakini   oleh   Sulaiman   adalah   satu-satunya yang mampu mendatangkan kemajuan dan kekuatan yang hakiki, sehingga ia dapat     membandingkan   antara  keyakinannya    dalam  menyembah        matahari berserta     kemajuan      yang   dicapainya    dan    keyakinan    Sulaiman     juga   berserta kemajuan yang diraihnya.

Read More

Sabtu, 31 Januari 2026

Kisah Nabi Sulaiman AS dan burung hud-hud

 Kisah Nabi Sulaiman AS dan burung hud-hud

Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengeluarkan perintahnya kepada pasukannya untuk   bersiap-siap.   Sulaiman   keluar   memeriksa   pasukannya.   Satu   demi   satu pasukannya   ditelitinya.   Kelompok   yang   pertama   adalah   kelompok   manusia. Sulaiman      memperhatikan        kesiapan     mereka,     lalu   Sulaiman     mengeluarkan perintah-perintahnya.  

burung apa yang menyampaikan surat kepada ratu balqis

 Kemudian      Sulaiman      memeriksa      kelompok      jin   dan menyampaikan perintah-perintahnya kepada mereka. Beliau memenjarakan jin yang   tampak   bermalas-malas   saat   bekerja.   Lalu   ia   memeriksa   binatang   dan berkata kepada mereka, apakah mereka sudah, makan dengan baik dan tidur dengan      nyenyak,    apakah     ada   yang   mengadu      kepadanya,     misalnya     kerana penyediaan,       makanan      tidak   layak,   apakah    di   sana   ada   yang    sakit,   dan sebagainya.    Ketika    Sulaiman     merasa     puas    dengan     semuanya,      Sulaiman memasuki        tenda    tempat     berkumpulnya        burung.     Belum     lama    Sulaiman memasuki tenda tersebut dan mengamat-amati keadaan di sekitarnya sehingga ia mengetahui burung yang tidak hadir yaitu Hud-hud:

"Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: 'Mengapa aku tidak melihat hud-hud." (QS. an-Naml: 20)

Burung-burung       yang    lain  tampak    terdiam     sebagai   penghormatan   dan   akanmendengarkan   apa   yang   akan   dikatakan   pemimpin   mereka   Sulaiman.   Beliau mengarahkan        pandangannya        pada    semua     burung    dan    tidak   menemukan Hud-hud       di  antara    mereka.      Tak   seekor     burung    pun    yang    mengetahui keberadaannya. Sulaiman mulai menampakkan kemarahannya:

"Apakah dia termasuk yang tidak hadir?" (QS. an-Naml: 20)                      

Tiba-tiba     seekor    burung    kecil   memberanikan        diri  untuk    berkata    kepada Sulaiman:      "Wahai    Nabi    yang   mulia,    seharusnya      hud-hud     ada   bersamaku kelmarin untuk melaksanakan tugas penyelidikan. Ia adalah pemimpin misi itu namun hud-hud belum datang. Oleh kerana itu, aku tidak pergi bersamanya." Burung itu tampak gementar ketakutan. Sulaiman mengetahui bahawa hud-hudtidak   hadir,   dan   tak   seorang   pun   mengetahui   kepergiannya.   Hud-hud   pergi tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada Sulaiman dan tidak memberitahu di mana keberadaannya. Dalam keadaan marah, Sulaiman berkata:

"Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang jelas." (QS. an-Naml: 21)

Kawanan      burung    mengetahui      bahawa     Sulaiman    sedang    marah    dan   telah menetapkan       untuk    menyeksa     hud-hud     atau   menyembelihnya       atau   justru memaafkannya dengan syarat, ia datang dengan membawa alasan yang dapat menyelamatkannya. Atau dengan kata lain, hud-hud dapat memastikan bahawa ia melaksanakan tugas yang penting. Sulaiman menunjukkan kemarahan yang besar    sehingga    siapa   pun   akan   merasa     takut.  Ketika    Sulaiman    marah   - meskipun beliau terkenal dengan kasih sayangnya - maka kemarahannya kerana membela       kebenaran,     kemudian     beliau    dapat   melaksanakan       ancamannya dengan cara yang mudah. Seekor burung tampak gementar ketakutan melihat kemarahan   Sulaiman, lalu   beliau   menghulurkan   tangannya   ke   burung   itu   dan memegang-megang kepalanya sehingga burung itu pun merasa tenang dan rasa takutnya hilang.

Sulaiman   pergi   dari   tenda   burung   itu   dan   menuju   istananya.   Sulaiman   masih memikirkan keadaan hud-hud. Seharusnya hud-hud menjadi bahagian penting dari badan perisikan. Apakah ia pergi untuk menyingkap sesuatu, atau apakah ia   pergi   hanya   untuk    bermain-main?      Sulaiman    telah   memperhatikan  dan mengetahui bahawa hud-hud adalah seekor burung yang cerdik dan juga fasih berbicara. Terkadang Sulaiman mendapati hud-hud sedang bermain-main dan menunda pekerjaannya. Sulaiman melihatnya dan hud-hud memakami bahawa ini tidak benar. Sebab, ia tidak boleh mencampur adukkan antara waktu serius dan waktu bermain.

Akhirnya,   tidak   lama   setelah   kepergiannya,   hud-hud   tiba   di   tenda   burung. Burung-burung yang lain berkata kepadanya: "Pergilah engkau ke tempat tuan kita Sulaiman. Jika ia mengetahui bahawa engkau telah sampai, maka jiwamu benar-benar terancam." Hud-hud terbang dan menemui Sulaiman. Pada waktu itu beliau sedang duduk sambil, makan. Hud-hud berdiri dan telah menetapkan untuk     memulai     pembicaraan      dengan    Sulaiman     sebelum     beliau   bertanya kepadanya ke mana dia pergi. Ini sebagai bukti bahawa ia melaksanakan tugas penting. Hud-hud berkata:

"Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: Aku telah mengetahui       sesuatu    yang    kamu    belum     mengetahuinya;       dan   kubawa kepadamu       dari  negeri   Saba'   suatu   berita   penting   yang   diyakini."   (QS. an-Naml: 22)

Aku adalah hud-hud yang miskin, tetapi aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui, dan aku telah datang kepadamu dari kerajaan Saba' dengan membawa berita yang sangat penting. Sulaiman tampak terdiam dan menunggu hud-hud menyelesaikan pembicaraannya:

"Sesungguhnya   aku   menjumpai   seorang   wanita   yang   memerintah   mereka, dan    dia  dianugerahi    segala   sesuatu    serta  mempunyai      singgahsana     yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan       syaitan      telah     menjadikan         mereka       memandang         indah perbuatan-perbuatan   mereka   lalu   menghalangi   mereka   dari   jalan   (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk." (QS. an-Naml: 23-24)

Hud-hud   diam   sejenak   dan   Sulaiman   merasa   bahawa   hud-hud   menunjukkan kefasihan      lisannya   dan    berbicara     dengan     baik   kepadanya.      Hud-hud mengemukakan perkataan yang sering disampaikan Sulaiman kepada manusia dan burung:

"Agar    mereka     tidak   menyembah       Allah   Yang    mengeluarkan      apa    yang terpendam      di  langit  dan   di  bumi   dan  yang   mengetahui     apa   yang   kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah)      kecuali  Dia,  Tuhan    yang   mempunyai      Arasy   yang  besar."   (QS. an-Naml: 25-26)

Jelas   sekali   bahawa   hud-hud   mengulangi   perkataan   pemimpin   kita   Sulaiman, sebagai   usaha   terakhir   untuk   memperoleh   kasih   sayang   Sulaiman   dan   agar beliau puas dengan penjelasannya itu. Sulaiman berkata sambil menunjukkan senyuman manis di wajahnya:

"Akan   kami   lihat,   apa   kamu   benar,   ataukah   kamu   termasuk   orang-   orang yang berdusta." (QS. an-Naml: 27)

Hud-hud   ingin   mengatakan,   aku   tidak   bohong   wahai   Nabi   yang   mulia   namun diamnya      Sulaiman    membuatnya      takut,   sehingga    ia  pun   terdiam.   Sulaiman terdiam     kerana    berfikir,  lalu  ia  memutuskan      sesuatu.    Setelah   itu,  beliau mengangkat kepalanya dan meminta secarik kertas dan pena. Sulaiman segera menulis      surat    singkat    dan    menyerahkannya        kepada     hud-    hud    serta memerintahkannya:

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian   berpalinglah   dari   mereka,   lalu   perhatikanlah   apa   yang   mereka bicarakan." (QS. an-Naml: 28)

Al-Quran     al-Karim    hanya    menceritakan      dalam    surah    an-Naml    bagaimana perginya   hud-hud   dan   bagaimana   ia   menyerahkan   surat   itu.   Lalu,   Al-   Quran langsung menyebut keadaan kerajaan Balqis yang saat itu ia sedang membaca surat tersebut di depan para pembesar kerajaannya dan para menterinya:

Read More