Nikmat Kubur
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
memaparkan,“Allah ta’ala mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam
barzakh dalam keadaan senantiasa diberi rezeki oleh Allah,
Surat al-Baqarah
154
وَلَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ يُّقۡتَلُ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ اَمۡوَاتٌ ؕ
بَلۡ اَحۡيَآءٌ وَّلٰـكِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ١٥٤
“Dan janganlah
kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka
itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya"
sebagaimana dalam hadits yang terdapat pada Shahih Muslim…
(lalu beliau menyebutkan haditsnya)”
Mengenai keadaan para
syuhada yang setelah wafat mendapat kenikmatan di sisi Allah di alam barzakh
adalah pendapat jumhur mufassirin, di
antaranya Mujahid, Qatadah, Abu Ja’far, ‘Ikrimah, Jalalain, Al Baghawi,
Al Alusi, dll.Mereka hanya berbeda
pendapat tentang bagaimana bentuk rezeki atau kesenangan tersebut.
Sumber :
16 Alam barzakh
artinya alam kubur. Al barzakh secara bahasa artinya sesuatu yang ada di antara
dua hal (Lisaanul 'Arab). Alam kubur
disebut sebagai alam barzakh karena ia ada di antara alam dunia dan alam
akhirat.
17 Tafsir Al Qur’an Azhim, 1/446
18 Taisiir Kariim Ar
Rahman, halaman 264
Ayat ini sejalan
dengan ayat lain
dalam surat Ali
Imran, Allah ta'ala berfirman:
Surat
al-Imran 169-171
وَلَا
تَحۡسَبَنَّ الَّذِيۡنَ قُتِلُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ اَمۡوَاتًا ؕ
بَلۡ اَحۡيَآءٌ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُوۡنَۙ ١٦٩
فَرِحِيۡنَ
بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ ۙ
وَيَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِيۡنَ لَمۡ يَلۡحَقُوۡا بِهِمۡ مِّنۡ خَلۡفِهِمۡۙ اَ لَّا
خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَۘ
١٧٠
۞ يَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضۡلٍۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ
لَا يُضِيۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ
ۚ ١٧١
“Dan
jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu
mati;
sebenarnya
mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat
rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan berbahagia terhadap orang yang masih
tinggal di belakang yang belum menyusul
mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka berbahagia dengan
nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang beriman”
Sebagaimana juga
penjelasan dari Al
Hasan Al Bashri rahimahullah, “Para syuhada
itu hidup di
sisi Allah, mereka
dihadapkan kepada surga sehingga mereka pun merasakan
kesenangan dan kebahagiaan. Sebagaimana arwah Fir’aun dan kaumnya yang
dihadapkan ke neraka setiap pagi dan sore hari
sehingga mereka merasakan
kesengsaraan”23. Artinya, para syuhada
18 Lihat Tafsir Ath Thabari, 3/214
19 Tafsir Jalalain, halaman 160. Disebut
sebagai Jalalain (dua Jalal), karena kitab tafsir ini ditulis oleh Jalaluddin
Al Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli
rahimahumallah. 20 Ma’alim At Tanzil, halaman
168 21 Ruuhul Ma’ani, 2/64 22 QS. Ali Imran: 169 - 171 23 Dinukil dari Ma’alim At Tanzil, halaman 168
merasakan kebahagiaan
dan kesenangan di
alam barzakh sebagaimana Fir’aun
merasakan kesengsaraan juga di alam barzakh. Sehingga jelas bahwa ayat-ayat di
atas menunjukkan adanya adzab kubur dan nikmat kubur.