Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 05 Agustus 2026

seperti apa azab kubur

 Gambaran azab kubur

Alam  kubur  adalah  awal  kehidupan  hakiki  dari  seorang  manusia.  Dari Utsman  bin  Affan radhiallahu’anhu, bahwa  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat “

azab kubur


Mempelajari  apa-apa  yang  terjadi  di  alam  kubur  banyak  memberikan faedah. Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu  akan  berusaha  sebisa  mungkin  selama  ia  masih  hidup  agar  menjadi orang   yang   layak   mendapatkan   nikmat   kubur   kelak.   Seseorang   yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan berusaha sebisa mungkin agar ia terhindar darinya kelak.Nikmat dan adzab kubur adalah perkara gaib yang tidak terindera oleh manusia. Manusia yang  merasakannya  pun  tentu  tidak  dapat  mengabarkan kepada  yang  masih  hidup  akan  kebenarannya.  Maka  satu-satunya  sumber HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat  Rabbaniyyah, 4/192   

keyakinan kita akan adanya adzab dan nikmat kubur adalah dalil al-Qur’an dan  as-Sunnah.  Dan  banyak  sekali  dalil  dari  Qur’an  dan  As  Sunnah  serta ijma’  para  ulama  yang  menetapkan  adanya  alam  kubur.  Namun  sebagian orang  dari  kalangan  ahlul  bid’ah  mengingkarinya  karena  penyimpangan mereka dalam memahami dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, dalam buku yang ringkas ini akan kami paparkan dalil- dalil al-Qur'an, as-Sunnah, serta ijma' para ulama yang menetapkan adanya alam  kubur,  adzab  kubur  dan  nikmat  kubur.  Serta  pembahasan  mengenai beberapa  syubhat  dari  orang-orang  yang  mengingkarinya  disertai  dengan bantahannya

Surat Al-Mu’minun ayat 45-46

فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُوا۟ ۖ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرْعَوْنَ سُوٓءُ ٱلْعَذَابِٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدْخِلُوٓا۟ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ ٱلْعَذَابِ

“dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras 

Al   hafidz   Ibnu   Katsir rahimahullah  menjelaskan  ayat  ini,  “Arwah Fir’aun dan pengikutnya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus- menerus hingga datang hari kiamat. Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan api neraka”. Beliau juga berkata, “Ayat- ayat ini adalah landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya adzab kubur” . Hal ini juga senada dengan penjelasan jumhur ahli tafsir seperti Mujahid  , Al Alusi ,  Asy  Syaukani ,  Al  Baidhawi ,  Muhammad  Amin  Asy  Syinqithi , Abdurrahman As Sa’di.

2   QS. Al Mu’min: 45-46

3   Tafsir Al Qur’an Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), 7/146

4   Lihat An Nukat wal’ Uyun, 4/39, karya Al Mawardi

5   Ruuhul Ma’ani (Tafsir Al Alusi), 18/103

6   Fathul Qadir, 6/328

7   Anwar At Tanziil (Tafsir Al Baidhawi), 5/130

8   Adhwa’ Al Bayan, 7/82

9   Taisiir Kariim Ar Rahman (Tafsir As Sa'di), halaman 738

Memang  benar  bahwa  ada  penafsiran  lain  terhadap  ayat  ini.  Qatadah menafsirkan  bahwa   maksud  ayat (yang artinya)  “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang  adalah taubiikh atau penghinaan terhadap  Fir’aun  dan  pengikutnyadalam  keadaan  mereka  masih  hidup. Penafsiran ini walaupun tidak menetapkan adanya adzab kubur namun tidak menafikannya.  Ibnu   Abbas radhiallahu’anhu   menafsirkan   bahwa   arwah mereka  ada  di  sayap  burung  hitam  yang  bertengger  di  atas  neraka  yang datang   di   kala   sore   dan   pagi  hari. Penafsiran   Ibnu   Abbas   ini   pun menetapkan adanya alam kubur.

   Ahli tafsir yang terpengaruh permikiran mu’tazilah memang membantah bahwa ayat ini membicarakan adzab kubur. Semisal Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf dan Fakhruddin Ar Razi dalam Mafatihul Ghaib, dengan sebatas  bantahan  logika  semata.  Maka,  -insya  Allah-  penafsiran  yang  tepat adalah yang kami sebutkan di awal karena bersesuaian dengan dalil-dalil dari

Al  Qur’an  dan  hadits  serta  pemahaman  salafus  shalih,  yang  akan  kami jelaskan nanti. Karena antara dalil itu saling menafsirkan dan tidak mungkin saling bertentangan.  

Bagaimana Kondisi ketika sakaratul maut

Surat Al-An’am Ayat 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

10  Lihat An Nukat Wal’Uyun, 4/39

11 Al Kasyaf, 6/118

12 Mafatihul Ghaib, 13/342

Al  Imam  Al  Bukhari rahimahullah,  dalam Shahih-nya  membuat  judul  (bab  dalil-dalil  tentang  adzab  kubur)  lalu  beliau menyebutkan   ayat   di   atas.   Ini   menunjukkan   bahwa   Imam  Al   Bukhari memahami bahwa ayat di atas adalah dalil tentang adanya adzab kubur dan alam kubur.

Seorang   pakar   tafsir   di   zaman   ini,   Syaikh  Abdurrahman  As   Sa’di -rahimahullah- menjelaskan, “Ayat ini adalah dalil adanya adzab dan nikmat kubur.  Karena  dari  konteks  kalimat,  adzab  yang  ditujukan  kepada  orang- orang  kafir  tersebut  dirasakan  ketika  sakaratul  maut,  ketika  dicabut  nyawa dansetelahnya”

Read More

Selasa, 04 Agustus 2026

Contoh bahasa Kawi dalam doa

Menurut tradisi dan pandangan masyarakat Jawa, bahasa Kawi (Jawa Kuno) sangat baik dan sakral digunakan untuk doa, mantra, maupun pujian spiritual.
Berikut adalah alasan utama penggunaan bahasa Kawi dalam doa:


Nilai Sakral dan Spiritual
  • Bahasa Para Leluhur: Dianggap mempunyai kekuatan batin yang tinggi karena sering dipakai dalam naskah kuno dan kidung suci.
  • Makna Mendalam: Punya arti yang berlapis dan puitis, sehingga dianggap lebih khusyuk saat diucapkan kepada Tuhan atau leluhur.
  • Sarana Meditasi: Diyakini bisa membantu pikiran lebih tenang dan fokus saat berdoa atau memohon keselamatan.
Tradisi Penggunaan
  • Lakon Wayang: Dalang sering memakai bahasa Kawi dalam janturan atau doa pembuka untuk memanggil suasana magis dan sakral.
  • Primbon dan Mantra: Banyak ajian atau doa penolak bala zaman dulu ditulis memakai bahasa Kawi agar doanya lekas terkabul.Jika Anda mau, saya bisa membantu membuatkan contoh doa atau ucapan syukur menggunakan bahasa Jawa halus (Krama) atau Kawi untuk acara tertentu. Beritahu saya apa keperluannya!


Berikut adalah beberapa contoh bait doa, pujian spiritual (kidung), dan mantra keselamatan dalam bahasa Kawi beserta artinya:
1. Kidung Pujian Pengayoman (Mohon Perlindungan Tuhan)
Bait ini sering digunakan dalam tradisi spiritual Jawa (Kejawen) untuk memuji Sang Pencipta dan memohon perlindungan dari segala mara bahaya.
  • Bahasa Kawi:
    "Ong awignam astu nama siddham. Sang Hyang Jagadnata, parama kawi, moga paringa rahayu, rineksa saking pringgabaya, winantu ing karaharjan."
  • Artinya:
    "Ya Tuhan, semoga tidak ada halangan dan semuanya berhasil dengan baik. Wahai Penguasa Jagat Raya, Sang Pencipta Yang Agung, semoga memberikan keselamatan, dijauhkan dari segala bahaya, dan diliputi dengan kesejahteraan."
2. Mantra Tulak Bala (Menolak Energi Negatif)
Kalimat pendek ini berfokus pada kekuatan kata (sabda) untuk membersihkan diri dan lingkungan dari niat buruk atau energi negatif.
  • Bahasa Kawi:
    "Singlar sadaya dusta durjana, sirna dening kuwasa Hyang Widhi, teka rahayu, teka slamet."
  • Artinya:
    "Menyingkihlah semua niat jahat dan keburukan, musnah oleh kuasa Tuhan Yang Maha Esa, datanglah ketenteraman, datanglah keselamatan."
3. Doa Memulai Kegiatan (Angayubagya)
Digunakan saat membuka suatu acara sakral, hajatan, atau ketika hendak memulai lembaran hidup yang baru agar berjalan lancar.
  • Bahasa Kawi:
    "Mugi hyang suksma amartani, ambyani sekaring budi, dhumateng sadaya titah, hayu... hayu... rahayu, nirmala waluya jati."
  • Artinya:
    "Semoga Tuhan Yang Maha Gaib memberkati, menumbuhkan keluhuran budi kepada semua makhluk, selamat... selamat... sejahteralah, suci bersih dan kembali ke fitrah yang sejati."

Karakteristik Doa Bahasa Kawi
Saat diucapkan, doa bahasa Kawi biasanya dilantunkan dengan nada lambat (tembang). Masyarakat Jawa percaya bahwa getaran suara dari bahasa Kawi yang berirama dapat menyelaraskan energi manusia dengan alam semesta (manunggaling rasa).
Menurut tradisi dan pandangan masyarakat Jawa, bahasa Kawi (Jawa Kuno) sangat baik dan sakral digunakan untuk doa, mantra, maupun pujian spiritual.
Berikut adalah alasan utama penggunaan bahasa Kawi dalam doa:
Nilai Sakral dan Spiritual
  • Bahasa Para Leluhur: Dianggap mempunyai kekuatan batin yang tinggi karena sering dipakai dalam naskah kuno dan kidung suci.
  • Makna Mendalam: Punya arti yang berlapis dan puitis, sehingga dianggap lebih khusyuk saat diucapkan kepada Tuhan atau leluhur.
  • Sarana Meditasi: Diyakini bisa membantu pikiran lebih tenang dan fokus saat berdoa atau memohon keselamatan.
Tradisi Penggunaan
  • Lakon Wayang: Dalang sering memakai bahasa Kawi dalam janturan atau doa pembuka untuk memanggil suasana magis dan sakral.
  • Primbon dan Mantra: Banyak ajian atau doa penolak bala zaman dulu ditulis memakai bahasa Kawi agar doanya lekas terkabul.

  • Menurut tradisi dan pandangan masyarakat Jawa, bahasa Kawi (Jawa Kuno) sangat baik dan sakral digunakan untuk doa, mantra, maupun pujian spiritual.
  • Berikut adalah alasan utama penggunaan bahasa Kawi dalam doa:
    Nilai Sakral dan Spiritual
    • Bahasa Para Leluhur: Dianggap mempunyai kekuatan batin yang tinggi karena sering dipakai dalam naskah kuno dan kidung suci.
    • Makna Mendalam: Punya arti yang berlapis dan puitis, sehingga dianggap lebih khusyuk saat diucapkan kepada Tuhan atau leluhur.
    • Sarana Meditasi: Diyakini bisa membantu pikiran lebih tenang dan fokus saat berdoa atau memohon keselamatan.
    Tradisi Penggunaan
    • Lakon Wayang: Dalang sering memakai bahasa Kawi dalam janturan atau doa pembuka untuk memanggil suasana magis dan sakral.
    • Primbon dan Mantra: Banyak ajian atau doa penolak bala zaman dulu ditulis memakai bahasa Kawi agar doanya lekas terkabul.
    Jika Anda mau, saya bisa membantu membuatkan contoh doa atau ucapan syukur menggunakan bahasa Jawa halus (Krama) atau Kawi untuk acara tertentu. Beritahu saya apa keperluannya!

Read More