KISAH NABI ISA A.S
Kisah Kelahiran Nabi Isa AS
Matahari tampak akan
tenggelam, angin pun
bertiup sepoi-sepoi di
sekitar pepohonan. Harum semerbak mulai
memenuhi mihrab Maryam.
Bau itu menembus jendela mihrab
dan mengepakkan sayapnya di
sekeliling gadis perawan yang
khusyuk dalam solat
tanpa seorang pun
mendengar suaranya. Maryam
merasa bahawa udara dipenuhi dengan bau harum yang mengagumkan. Ia kembali
melakukan solatnya dengan
khusyuk dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.
Seekor burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat
paruhnya ke atas dan mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya
lalu ia terjun ke air dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di
sekitamya. Maryam ingat bahawa beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang
tumbuh secara tiba-tiba di tengah
dua batu yang
tumbuh di luar
masjid. Maryam menyelesaikan
solatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau
siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:
"Hai
Maryam, sesungguhnya Allah
telah memilih kamu,
menyucikan kamu dan melebihkan
kamu atas segala
wanita di dunia
(yang semasa
dengan kamu)." (QS. Ali 'Imran: 42)
Maryam berhenti dan
tampak wajahnya yang
pucat dan semakin
bertambah. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang
memancarkan cahaya. Maryam merasa
bahawa pada hari-hari
terakhir terdapat perubahan pada suasana
rohaninya dan fiziknya.
Di tempat itu
tidak terdapat cermin sehingga ia
tidak dapat melihat
perubahan itu. Tetapi
ia merasa bahawa darah, kekuatan
dan masa
mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan
kekuatan yang lebih banyak. Beliau menyedari bahawa ia sedang gugup. Beliau
merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang
luar biasa. Setiap
kali tubuhnya merasakan
kelemahan, maka bertambahlah kekuatan dalam
rohnya. Perasaan yang
demikian ini justru membangkitkan kerendahan hatinya.
Maryam mengetahui bahawa
ia akan memikul tanggung jawab
besar.
"Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: 'Hai
Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih
kamu, menyucikan kamu
dan melebihkan kamu
atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)." (QS. Ali
'Imran: 42)
Dengan
kalimat-kalimat yang sederhana
ini Maryam memahami
bahawa Allah SWT telah
memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya penghulu para wanita dunia.
Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali
berkata kepada Maryam:
"Hai
Maryam, taatlah kepada
Tuhanmu, sujud dan
rukuklah bersama orang-orang
yang ruku." (QS. Ali 'Imran: 43)
Perintah
tersebut ditetapkan setelah
adanya berita gembira
agar beliau meningkatkan kekhusyukannya, sujudnya, dan
rukuknya kepada Allah
SWT. Maryam lupa terhadap
pohon mawar dan
beliau kembali solat.
Maryam merasakan bahawa sesuatu yang besar akan terjadi padanya. Beliau
merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat
ini.
Matahari
meninggalkan tempat tidurnya
sementara malam telah
bangkit sedangkan bulan duduk
di atas singgahsananya di
langit dan di
sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan putih. Kemudian
datanglah pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam solatnya. Beliau
menyelesaikan solatnya dan
teringat pohon mawar
itu lalu beliau
membawa air di
suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.
Pohon mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang
tidak jauh dari masjid yang hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu
jauh dari jangkauan manusia sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu
sudah dijadikan tempat yang khusus bagi Maryam untuk melakukan solat di
dalamnya atau beribadah. Maryam
mendekati pohon mawar
itu dan menyiramnya. lalu beliau meletakkan bejana, kemudian ia
memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada dua malam
yang dilaluinya.
Tiba-tiba,
Maryam mendengar suara
derap kaki yang
menggoncang bumi.
Beliau tidak mendengar
suara kaki yang
berjalan, tetapi beliau
mendengar suara kaki yang
menetap di atas
batu serta pasir.
Maryam merasakan ketakutan. Ia
merasakan bahawa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia
tidak mendapati sesuatu
pun. Kemudian kedua
matanya mulai berputar-putar
dan memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam gementar ketakutan dan
menundukkan kepalanya. Maryam
berkata dalam dirinya, siapa
gerangan orang yang berdiri di sana. Maryam memandang kepada wajah orang
asing itu, dan
menyebabkan ia gelisah.
Wajah orang itu
sangat aneh, di mana
dahinya bercahaya lebih
daripada cahaya bulan.
Meskipunkedua matanya memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah
orang itu justru menggambarkan kerendahan hati yang mengagumkan. Pandangan pertama yang
di lihat oleh
Maryam kepada orang
itu mengisyaratkan, bahawa orang
itu memiliki kemuliaan
yang diperoleh orang yang
menyembah Allah SWT
selama jutaan tahun.
Maryam bertanya kepada dirinya, siapa
gerangan orang ini?
Kemudian seakan- akan
orang asing itu membaca fikiran
Maryam dan berkata:
"Salam kepadamu wahai
Maryam." Maryam
dibuat terkejut mendengar adanya
suara manusia di
depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:
"Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada
Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang
bertakwa." (QS. Maryam: 18)
Maryam berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia
bertanya kepadanya, "Apakah engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan
bertakwa kepadanya?" Kemudian orang itu tersenyum dan berkata:
"Sesungguhnya aku ini
hanyalah seorang utusan
Tuhanmu, untuk memberimu
seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam: 19) Orang asing itu belum
selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi cahaya
yang menakjubkan yang
tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, cahaya
lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang sangat jernih.
Kemudian terngianglah
di kepala Maryam kalimat: "Aku
adalah seorang utusan
Tuhanmu." Kalau begitu,
dia adalah penghulu para malaikat, Ruhul Amin (Jibril)
yang telah berubah wujud menjadi manusia. Maryam mengangkat kepalanya dengan
gementar menahan luapan cinta. Jibril berdiri di depannya dalam bentuk manusia.
Maryam memperhatikan kejernihan dahinya
dan kesucian wajahnya.
Benar apa yang
diduganya bahawa Jibril memiliki kemuliaan yang diperoleh
orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan
tahun. Kemudian Maryam
mengingat kembali kalimat-kalimat yang diucapkan Jibril.
Malaikat itu telah
mengatakan bahawa ia
adalah utusan Tuhannya, dan ia telah
datang untuk memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci. Maryam ingat
bahawa dirinya adalah seorang perawan yang belum tersentuh oleh
seorang pun. Ia
belum menikah dan
belum dilamar oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan
anak tanpa melalui pernikahan.
Fikiran- fikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu
ia berkata kepada Jibril: "Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku
seorang anak laki-laki, sedang tidak
pernah seorang manusia
pun menyentuhku dan
aku bukan (pula) seorang
penzina!" (QS. Maryam: 20) Jibril berkata: "Demikianlah Tuhanmu
berfirman: 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami
menjadikannya suatu tanda
bagi manusia sebagai
rahmat dari Kami; dan
hal itu adalah
suatu perkara yang
sudah diputuskan."' (QS. Maryam: 21) Maryam menerima
kalimat-kalimat Jibril.
Tidakkah Jibril
berkata kepadanya bahawa ini
adalah perintah Allah
SWT dan segala
sesuatu yang diperintahkan-Nya
pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus (ketika) melahirkan tanpa
disentuh oleh seorang
manusia pun. Bukankah
Allah SWT menciptakan Nabi
Adam tanpa seorang
ayah dan seorang
ibu? Sebelum diciptakannya Nabi
Adam tidak ada
lelaki dan wanita.
Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun diciptakan dari
laki-laki, tanpa perempuan. Biasanya
manusia diciptakan melalui
pasangan laki-laki dan
perempuan; biasanya ia memiliki
ayah dan ibu,
tetapi mukjizat terjadi
ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi. Kemudian
Jibril meneruskan pembicaraannya: "Sesungguhnya Allah
menggembirakan kamu (dengan
kelahiran seorang putera yang
diciptakan) dengan kalimat
(yang datang) dari-
Nya, namanya al-Masih Isa putera
Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
dan dia berbicara dengan
manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara
orang-orang yang soleh." (QS. Ali 'Imran: 45-46) Kehairanan Maryam
semakin bertambah. Betapa
tidak, sebelum mengandung anak itu
di perutnya ia
telah mengetahui namanya.
Bahkan ia mengetahui bahawa anaknya itu
akan berbicara dengan
manusia saat ia
masih kecil. Sebelum Maryam
menggerakkan lisannya untuk
melontarkan pertanyaan lainJibril
mengangkat tangannya dan
mengerahkan udara ke
arah Maryam. Kemudian datanglah
hembusan udara yang
bercahaya yang belum
pernah di lihat sebelumnya
oleh Maryam. Lalu
cahaya tersebut ke
jasad Maryam dan memenuhinya. Tak
sempat Maryam melontarkan
pertanyaan yang lain,
Jibril yang suci telah pergi tanpa meninggalkan suara. Udara yang dingin
telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil.
Maryam segera kembali
ke mihrabnya. Ia
menutup pintu mihrab
dan ia tenggelam dalam solat
yang khusyuk dan
ia pun menangis. Maryam
merasakan kegembiraan,
kebingungan dan kegoncangan serta kedamaian
yang dalam. Kini, Maryam tidak
lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahawa ia
tidak lagi sendirian.
Ia menggerakkan tangannya yang
dipenuhi dengan cahaya, kemudian cahaya ini berubah di dalam perutnya
menjadi anak, seorang anak yang
akan menjadi kalimat
Allah SWT dan
roh-Nya yang diletakkan pada
Maryam. Ketika anak itu besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang
ajarannya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Maryam di
malam itu tidur
dengan nyenyak dan
ia bangun di
waktu Subuh. Belum lama
ia membuka kedua
matanya sehingga ia
dibuat terkejut ketika melihat mihrab
dipenuhi dengan buah-buahan yang
sebenarnya tidak lagi musim.
Maryam heran melihat
hal itu. Ia
mulai mengingat apa
yang telah terjadi padanya
kelmarin, yaitu bagaimana
kejadian saat menyiram
pohon mawar, bagaimana pertemuannya dengan malaikat
Jibril, bagaimana Allah SWT
meniupkan kalimat-Nya padanya, bagaimana ia
kembali ke mihrab,
dan bagaimana tidurnya yang
nyenyak. Maryam berkata
kepada dirinya sambil melihat buah-buahan yang
banyak: Apakah aku
akan memakan sendirian buah-buahan ini.
Kemudian ada suara
dalam dirinya yang
berkata: "Engkau tidak lagi
sendirian wahai Maryam.
Kini, engkau bersama
Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai
makan. Lalu berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeza dengan
kandungan umumnya wanita. Ia
tidak merasakan sakit
dan tidak merasa
berat; ia tidak merasakan sesuatu
telah bertambah padanya
dan perutnya tidak
membuncit seperti umumnya wanita.
Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan
nikmat yang baik.
Datanglah bulan yang
ke sembilan. Ada
sebahagian ulama yang mengatakan bahawa
Maryam tidak
mengandung Isa selama
sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai
mukjizat. Pada suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa
bahwasesuatu akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu
itu. Kakinya membimbingnya untuk
menuju tempat yang
dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat
itu tidak biasa
dikunjungi oleh seseorang
pun kerana saking jauhnya; tempat yang tidak diketahui
oleh seseorang pun kecuali Maryam. Tak seorang pun yang mengetahui Maryam
bahawa sedang hamil dan ia akan melahirkan. Mihrab
yang menjadi tempat
ibadahnya selalu tertutup. Orang-orang mengetahui bahawa
Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun
yang mendekatinya.
Maryam duduk beristirahat
di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi. Maryam mulai merasakan sakit
pada dirinya, dan rasa sakit tersebut semakin terasa. Akhirnya, Maryam
melahirkan: "Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar)
pada pangkal pohon kurma, ia
berkata: 'Aduhai alangkah baiknya
aku mati sebelum ini, dan aku
menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." (QS. Maryam: 23) Rasa sakit
saat melahirkan anak
yang dialami wanita
suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain
yang segera menantinya. Bagaimana manusia akan menyambut anaknya ini? Apa
yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui bahawa ia adalah
wanita yang masih perawan?
Bagaimana seorang
gadis perawan bisa
melahirkan? Apakah manusia
akan membenarkan Maryam yang
melahirkan anak itu
tanpa ada seseorang pun
yang menyentuhnya?
Kemudian pandangan-pandangan keraguan mulai menyelimutinya. Maryam
berfikir bagaimana reaksi
manusia kepadanya dan bagaimana perkataan
mereka terhadapnya sehingga
hatinya dipenuhi dengan
kesedihan. Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan dan
dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:
"Janganlah kamu bersedih
hati, sesungguhnya Tuhanmu
telah menjadikan anak sungai
di bawahmu.
Perjalanan
Spiritual Siti Maryam
Dan goyanglah pangkal
pohon kurma itu
ke arahmu, nescaya pohon
itu akan mengugurkan
buah kurma yang
masak kepadamu makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu
melihat seorang manusia, maka
katakanlah:
'Sesungguhnya aku
telah bernazar berpuasa untuk
Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia
pun pada hari ini.'" (QS. Maryam: 24-26) Maryam melihat al-Masih yang
tampan wajahnya. Wajahnya
tidak kemerah-merahan dan rambutnya tidak keriting seperti anak-anak
yang lahir disaat itu, tetapi
ia berkulit lembut
dan putih. Anak
itu diselimuti dengan kesucian dan
kasih sayang; anak
itu berbicara kepada
Maryam agar ia menghilangkan kesedihannya dan
meminta padanya agar
menggoyangkan batang-batang
pohon kurma supaya
jatuh darinya sebahagian
buahnya yang lazat dan Maryam
dapat memakan dan meminum darinya sehingga hatinya pun penuh dengan kedamaian
serta kegembiraan dan tidak berfikir tentang sesuatu pun. Jika Maryam melihat
atau menemui manusia, maka hendaklah ia berkata kepada mereka
bahawa ia bernazar
kepada Allah SWT
untuk berpuasa dan tidak berbicara kepada seseorang pun.
Maryam melihat al-Masih
dengan penuh kecintaan.
Anak itu baru
dilahirkan beberapa saat tetapi
ia langsung memikul
tanggung jawab ibunya
di atas pundaknya. Selanjutnya, ia
akan memikul penderitaan orang-orang fakir. Maryam melihat bahawa wajah anak
itu menyiratkan tanda yang sangat aneh. Yaitu
tanda yang mengisyaratkan bahawa
ia datang ke
dunia bukan untuk mengambil darinya sesuatu, tetapi
untuk memberinya segala sesuatu. Maryam menghulurkan
tangannya ke
pohon kurma yang
besar. Belum lama
ia menyentuh batangnya hingga jatuhlah
darinya buah kurma yang
masih muda dan lazat. Maryam
makan dan minum
dan kemudian ia
memangku anaknya dengan penuh
kasih sayang. Saat itu, Maryam
merasakan kegoncangan yang
hebat. Silih-berganti
ketenangan dan kegelisahan
menghampirinya. Segala fikirannya
tertuju pada satu hal,
yaitu Isa.
Ia
bertanya-tanya dalam dirinya:
Bagaimana orang-orang Yahudi
akan menyambutnya, apa yang akan mereka katakan tentangnya, apa yang akan
mereka katakan terhadap Maryam, apakah para pendeta dan para pembesar Yahudi
percaya bahawa Maryam
melahirkan seorang anak
tanpa disentuh oleh seseorang pun? Bukankah mereka terbiasa hidup dengan
suasana pencurian dan penipuan? Apakah seseorang di antara mereka akan percaya
- padahal ia jauh dari langit - bahawa langit telah memberinya seseorang anak.
Akhirnya, masa pengasingan Maryam telah berakhir dan Maryam harus kembali ke
kaumnya.
Ujian Siti Maryam
Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar. Pasar besar yang
terletak di jalan yang dilalui Maryam menuju masjid dipenuhi dengan manusia.
Mereka sibuk dengan
jual-beli. Mereka duduk
berbincang-bincang sambil
minum anggur. Belum
lama Maryam melewati
pasar itu sehingga
manusia melihatnya
membawa seorang anak
kecil yang didakapnya.
Salah seorang bertanya: "Bukankah ini
Maryam yang masih
perawan? Lalu, anak
siapa yang dibawanya itu?"
Seorang yang mabuk berkata: "Itu adalah anaknya." Mari kita
dengar cerita apa
yang akan disampaikannya. Akhirnya,
orang-orang Yahudimulai
"mengepung" dengan berbagai macam pertanyaan: "Anak siapa ini
wahai Maryam, mengapa engkau
tidak mengembalikannya, apakah
itu memang anakmu, bagaimana
engkau datang dengan membawa seorang anak sedangkan engkau adalah gadis yang
masih perawan?" "Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali
bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang
penzina." (QS. Maryam: 28) Maryam
dituduh melakukan pelacuran. Mereka
menyerang Maryam tanpa terlebih dahulu mendengarkan
sanggahannya atau mengadakan penelitian atau membuktikan bahawa perkataan mereka
memang benar. Maryam
dicerca sana-sini dan ia diingatkan, bahawa bukankah ia seseorang yang
tumbuh dari rumah yang baik dan bukanlah ibunya seorang pelacur? Lalu mengapa
semua ini terjadi padanya? Menghadapi semua tuduhan itu, Maryam tampak tenang
dan tetap menunjukkan kebaikannya. Wajahnya dipenuhi dengan
cahaya keyakinan. Ketika pertanyaan semakin
menjadi-jadi dan keadaan
semakin sulit, maka Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Ia
menunjuk ke arah anaknya dengan tangannya. Maryam menunjuk Isa. Orang-orang
yang ada di situ tampak kebingungan.
Nabi Isa AS berbicara ketika masih bayi
Mereka memahami bahawa Maryam berpuasa
dari berbicara dan
meminta kepada mereka
agar bertanya kepada anak
itu. Para pembesar
Yahudi bertanya: "Bagaimana mereka
akan melontarkan pertanyaan kepada seorang anak kecil yang baru lahir
beberapa hari? Apakah anak
itu akan berbicara
di buaiannya" Mereka
berkata kepada Maryam:
"Bagaimana kami akan
berbicara dengan anak
kecil yang masih
dalam ayunan?" (QS. Maryam:
29) Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab
(injil) dan Dia menjadikan aku seorang
nabi. Dan Dia
menjadikan aku seorang
yang diberkati di mana
saja aku berada,
dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) solat dan
(menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku,
dan Dia tidak
menjadikanku seorang yang
sombong lagi celaka. Dan
kesejahteraan semoga dilimpahkan
kepadaku, pada hari
aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan
hidupkembali. " (QS. Maryam: 30-33) Belum
sampai Isa menuntaskan
pembicaraannya sehingga wajah-wajah
para pendeta dari kalangan
Yahudi dan
para uskup tampak
pucat. Mereka menyaksikan
mukjizat terjadi di depan mereka secara langsung.
Anak kecil itu
berbicara di buaiannya; anak kecil yang datang tanpa seorang ayah; anak kecil
yang mengatakan bahawa Allah
SWT telah memberinya al-Kitab dan menjadikannya seorang
Nabi. Ini berarti bahawa
kekuasaan mereka sebentar lagi akan hancur. Setiap orang dari
mereka akan menjadi tidak berarti ketika anak kecil itu dewasa. Tak seorang pun
di antara mereka yang dapat "menjual pengampunan" kepada
manusia atau menghakimi
mereka melalui penyataan bahawa ia
adalah wakil dari
langit yang turun
di bumi. Atau
pernyataan, bahawa hanya dia yang mengetahui syariat. Para pendeta
Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi keperibadian yang akan datang kepada
mereka dengan kelahiran
anak kecil ini.
Kedatangan al-Masih berarti mengembalikan manusia
kepada penyembahan semata-mata
kepada Allah SWT. Ini berarti menghapus agama Yahudi yang sekarang
mereka yakini. Perbezaan antara ajaran-
ajaran Musa dan
tindakan-tindakan orang-orang
Yahudi menyerupai perbezaan antara
bintang-bintang di langit
dan lumpur-lumpur di jalan. Para pendeta Yahudi menyembunyikan kisah
kelahiran Isa dan bagaimana
ia berbicara di
masa buaian. Mereka
justru menuduh Maryam yang masih
perawan dengan kebohongan yang besar. Mereka menuduh Maryam melakukan
perzinaan, padahal mereka
menyaksikan sendiri mukjizat pembicaraan anaknya di masa buaian.
Mula-mula cerita tentang
itu mereka sembunyikan untuk
beberapa saat. Meskipun demikian,
berita tentang kelahiran
Isa sampai ke
Hakim Romawi, yaitu Heradus.
Ia memimpin orang-orang
Palestina dan orang-
orang Yahudi dengan kekuatan
pedang.
Ia menakut-nakuti mereka
dengan menumpahkan darah serta
banyaknya mata-mata yang dimilikinya. Pada suatu hari, ia duduk di istananya
dan meminum anggur.
Lalu ia mendengar
berita yang samar tentang kelahiran seseorang anak tanpa
ayah; seorang anak yang dikatakan ia mampu
berbicara saat masih
di buaian, lalu
ia menyampaikan pembicaraan yang menjurus pada
ancaman terhadap kekuasaan Romawi. Kemudian bergetarlah kursi yang ada di
bawah tubuh Heradus. Ia memerintahkan untuk diadakan suatu pertemuan mendadak
yang dihadiri oleh para pengawalnya dan para
mata-matanya. Pertemuan itu
pun terlaksana. Heradus
duduk dengan wajahnya yang
hitam mengkilat, lalu
ia memutarkan pandangannya ke
arah mata-matanya dan bertanya: "Bagaimana berita anak kecil yang
berbicara dibuaiannya?" Salah seorang kepala mata-mata berkata:
"Tampak bahawa masalahnya tidak benar.
Kisah Heradus memburu nabi Isa AS
Kami telah mendengar
isu-isu sekitar anak kecil yang mereka katakan bahawa ia membuat mukjizat
dengan berbicara saat ia masih belia. Lalu saya mengutus anak
buahku untuk mencari
kebenaran berita itu,
tetapi mereka tidak menemukannya. Jelas
bagi kami, bahawa
berita itu dilebih-lebihkan." Kemudian salah satu
anggota mata-mata raja berkata: "Aku telah mendapatkan bukti yang
terpercaya bahawa tiga
orang dari orang-orang
Majusi datang di balik
suatu bintang yang
mereka lihat menyala
di suatu langit
dan bintang tersebut
mengisyaratkan kelahiran anak kecil yang membawa mukjizat, yaitu anak kecil
yang akan menyelamatkan kaumnya." Hakim berkata: "Bagaimana ia dapat
menyelamatkan kaumnya dan kaum siapa yang diselamatkannya?" Salah
seorang mata-mata berkata: "Anak buahku
tidak mengetahuinya keranaorang-orang pandai
dari Majusi itu
pergi dan tak
seorang pun menemukan mereka." Hakim berkata:
"Bagaimana
mereka dapat pergi
dan bersembunyi lalu bagaimana cerita
anak kecil ini?
Apakah di sana
ada persekongkolan untuk menentang Romawi?" Hakim
melompat dari tempat
duduknya ketika ia menyebut Romawi, dan
ia mulai berbicara
dengan keadaan emosi:
"Aku menginginkan kepala tiga
orang yang cerdik
itu dan aku
juga menginginkan kepala anak
kecil itu. Dan aku menginginkan informasi yang lengkap. Sungguh masalah ini
semakin samar hai
orang-orang yang bodoh." Lalu
kepala mata-mata berkata: "Barangkali ini hanya mimpi yang
dibayangkan orang-orang Yahudi
bahawa mereka melihatnya." Hakim
berkata: "Sungguh kepala-kepala kalian semua
akan terbang lebih
cepat dari merpati
jika kalian tidak mendatangkan cerita secara
lengkap tentang anak
ini. Kebingungan dan kekacauan apa yang aku rasakan!
Pergilah kalian dari sini." Anak
buah Heradus dan
para mata-mata pergi,
sedangkan ia masih
duduk memikirkan masalah tersebut. Tampaknya masalah itu
sangat menggelisahkannya.
Ia tidak peduli
dengan kedatangan agama
baru kepada manusia tetapi yang
difikirkannya adalah kekuasaan Romawi yang ia menjadi simbolnya. Kemudian
Heradus menetapkan untuk
memanggil pemuka orang Yahudi dan bertanya kepadanya tentang
masalah ini. Para pengawalnya yang khusus memanggil orang Yahudi itu. Tidak
beberapa lama orang Yahudi itu ada di
depan hakim. Heradus
berkata: "Aku ingin
berbicara kepadamu tentang suatu masalah
yang sangat menggelisahkanku." Pendeta
Yahudi itu berkata: "Aku ingin mengabdi
kepadamu." Heradus
berkata: "Aku mendengar berita-berita yang
saling berlawanan tentang anak
kecil yang bisa berbicara di masa buaiannya dan ia mengatakan bahawa ia
akan menyelamatkan kaumnya. Maka
bagaimana berita yang sebenarnya tentang itu?"
Pendeta itu berkata
- dan ia merasa
bahawa pertanyaan itu sepertinya
berupa jebakan yang
tidak diketahuinya secara pasti:
"Apakah tuan yang mulia peduli dengan agama
Yahudi?" Heradus berkata dalam keadaan emosi: "Aku tidak peduli
sedikit pun selain kekuasaan Romawi. Jawablah pertanyaanku wahai pendeta."
Pendeta Yahudi itu telah melihat Isa berbicara di buaiannya.
Ia memahami bahawa seandainya ia mengatakan itu, maka ia
akan mendapatkan penderitaan pada dirinya, maka ia lebih memilih sedikit
berbohong. Ia berkata kepada Heradus bahawa ia mendengar cerita itu tetapi ia
meragukannya. Heradus berkata:
"Apakah
benar agama kalian
berbicara tentang kedatangan seorang penyelamat
bagi rakyat kalian?" Pendeta
berkata: "Ini benar
wahai tuan yang mulai." Heradus
berkata: "Apakah kalian
mengetahui ini adalah persekongkolan menentang keamanan kerajaan Romawi? Apakah
kalian menyedari ini adalah
bentuk pengkhianatan?" Pendeta
berkata: "Aku harap tuan
membiarkan aku meluruskan suatu
pemikiran yang sederhana. Berita tentang hal
itu adalah berita
yang kuno. Berita
ini diyakini ketika
rakyat menjadi tawanan di Bebel sejak ratusan tahun." Heradus
berkata: "Apakah memang di sana ada yang membenarkan berita ini?
Sekarang, apakah kamu
secara peribadi membenarkannya? Apakah engkau melihat anak
kecil itu yang
mereka katakan bahawa
ia dilahirkan tanpa seorang ayah?" Pendeta itu
berkata: "Apakah ada seorang yang percaya wahai tuan yang
mulia jika dikatakan
ada seorang anak
yang lahir tanpa
seorang ayah.
Ini adalah mimpi
rakyat biasa." Heradus
berkata: "Tidak ada sesuatu yang
mengusir tidur dari
mata seorang penguasa selain
mimpi-mimpi rakyat. Pergilah wahai pendeta dan jika engkau mendengar berita-berita, maka
sampaikanlah kepadaku sebelum engkau sampaikan kepada isterimu." Belum
lama pendeta itu pergi sehingga Heradus berfikir, bagaimana seandainya pendeta
itu berbohong. Ia menangkap benang kebohongan
pada kedua matanya.
Ia mengetahui kebohongan
ini kerana ia sendiri sangat pandai berbohong. Kemudian
bagaimana cerita tiga orang cerdik yang mereka mengikuti bintang?
Apakah di sana
terdapat persekongkolan
menentang Romawi yang tidak diketahuinya?
Heradus berteriak di tengah-tengah pengawalnya dan
memerintahkan mereka untuk menangkap semua orang yang mendengar cerita ini atau
ia akan melihat akibatnya.
Mula-mula dia memerintahkan untuk
mencari gadis perawan
yang melahirkan anak itu
dan membunuh setiap
anak yang lahir
di saat itu. Sementara itu,
Maryam keluar dari
Palestina menuju ke
Mesir.
Kisah Hijrah Siti Maryam ke Mesir
Sebelumnya, pada suatu
malam, datanglah kepadanya seseorang yang
belum pernah dilihatnya dan
orang itu menyampaikan salam kepadanya serta menyerukannya dan sambil
berkata: "Bawalah anakmu
wahai Maryam dan
keluarlah menuju
Mesir." Dengan nada
ketakutan Maryam bertanya,
"Mengapa? Bagaimana aku keluar menuju ke Mesir; dan bagaimana
aku bisa mengenali jalan?" Orang asing itu menjawab, "Keluarlah engkau
nescaya Allah SWT
akan melindungimu. Sesungguhnya
Hakim Romawi mencari anakmu dan ingin membunuhmu."
Maryam
bertanya: "Kapan aku
keluar?" Orang asing
itu menjawab: "Sekarang juga. Janganlah
engkau khawatir sedikit
pun kerana engkau
keluar bersama seorang Nabi yang
mulia. Semua nabi diusir oleh kaumnya dari negeri mereka dan rumah mereka.
Demikianlah hukum kehidupan. Kejahatan selalu berusaha untuk menyingkirkan kebaikan
tetapi pada akhirnya,
kebaikan akan kembali menduduki singgahsananya. Keluarlah
wahai Maryam." Akhirnya,
Maryam pun pergi menuju
ke Mesir. Maryam
melalui gurun Saina'
bersama suatu kafilah yang menuju
Mesir.
Maryam berjalan membawa
Isa di jalan
yang sama yang pernah dilalui Nabi Musa di mana
ditampakkan kepada Nabi Musa api yang suci dan beliau dipanggil dari sisi thur
al-Aiman. Setelah melalui perjalanan yang jauh
dan melelahkan, Maryam
sampai di Mesir.
Mesir yang dipenuhi
dengan kebaikan, kemuliaan, kebudayaan klasik serta cuacanya yang stabil
mempakan tempat yang terbaik untuk pertumbuhan Isa as. Al-Masih tumbuh
dan berkembang serta
menjalani masa kecilnya
di Mesir. Kemudian datanglah
kepada Maryam orang asing yang telah memerintahkannya untuk meninggalkan
Palestina. Kali ini, ia memerintahkannya untuk kembali ke Palestina.
Kisah Nabi Isa AS beranjak dewasa
Orang asing itu berkata
kepadanya: "Raja yang
lalim telah mati, maka
kembalilah bersama anakmu
wahai Maryam. Telah
datang kesempatan emas bagi Isa
untuk menduduki singgahsananya. Isa akan menjadi penyayang orang-orang fakir
dan orang-orang yang
benar. Kembalilah wahai
Maryam." Maryam pun kembali.
Dalam perjalanan Maryam
melalui banyak mata
air di sungai Jordania. Isa pun
tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa mudanya. Isa keluar dari rumahnya dan
menuju tempat penyembahan kaum Yahudi. Saat itu bertepatandengan hari Sabtu. Di
sana tidak ada satu rumah pun dari rumah kaum Yahudi yang dapat
menyalakan api atau
memadamkannya pada hari
Sabtu, atau mengambil buah
di hari itu.
Dilarang bagi seorang
wanita untuk membikin adunan roti
atau seseorang anak
kecil mencuci anjingnya.
Nabi Musa telah memerintahkan untuk
menghormati hari Sabtu
dan hanya mengkhususkanya untuk beribadah kepada Allah
SWT. Terdapat hikmah di
balik penghormatan hari
Sabtu sehingga hari
Sabtu menjadi hari yang
sangat disucikan di
kalangan orang-orang Yahudi.
Mereka melaksanakannya
dengan berbagai macam
tradisi dan mereka
mencurahkan segala
konsentrasi mereka untuk
menjaga hari Sabtu
dan tidak meremehkannya.
Sebab, mereka meyakini bahawa hari Sabtu adalah hari yang dijaga dari
langit sebelum Allah
menciptakan manusia sebagaimana
mereka percaya bahawa Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu
jalur saja, yaitu menjaga hari Sabtu.
Mereka bangga kerana
mereka dapat menjaganya meskipun hal
itu menyebabkan mereka kalah
di kancah peperangan atau mereka tertawan di
tangan musuh. Bahkan
saking ketatnya mereka mempertahankan kehormatan hari
Sabtu sampai- sampai mereka menambah-nambahi berbagai macam
larangan di hari
Sabtu. Majlis kaum Yahudi menetapkan ratusan larangan yang
tidak boleh dilakukan di hari Sabtu, seseorang dilarang untuk memakai gigi
palsu di hari Sabtu. Seorang yang sakit dilarang untuk
memakai perban atau memakai
minyak di tempat
yang sakit pada hari
Sabtu atau memanggil
dokter.
Dilarang pula di
hari Sabtu untuk menulis dua huruf abjad; dilarang juga
untuk mempertahankan diri pada hari Sabtu; dilarang untuk panen dan belajar di
hari Sabtu. Kemudian, berpergian di hari Sabtu diharuskan untuk tidak lebih
dari dua ribu ela. Dilarang juga di hari Sabtu untuk membawa sesuatu ke luar
rumah. Jadi, banyaknya syariat,
hukum serta larangan-larangan biasanya diikuti dengan banyaknya keburukan atau
paling tidak membantu terciptanya keburukan. Setiap timbul
suatu larangan, maka timbul bersamanya cara untuk menghindar darinya.
Demikianlah, kehidupan kaum
Yahudi dipenuhi dengan kemunafikan yang
luar biasa di
mana secara lahiriah
mereka menampakkan
penghormatan terhadap hari
Sabtu, tetapi secara
batiniah mereka berusaha menodai kehormatan dengan berbagai
macam cara. Meskipun kelompok Farisiun
bertanggungjawab
terhadap tugas pelaksanaan syariat dan
mengawasinya dengan banyak
mendapatkan jaminan-jaminan,
maka kita akan
melihat bahawa mereka
siap untuk menciptakan berbagai rekayasa dan
tipu daya yang
memungkinkan mereka untuk
menghindar darihukum-hukum
syariat di saat yang tepat.
Pelanggaran Kaum Yahudi terhadap ketetapan syariat
Saat yang tepat
adalah saat di mana syariat-syariat
tersebut bertentangan dengan
kepentingan peribadi mereka atau dapat
menjadi penghalang bagi
mereka untuk mendapatkan mata pencarian yang haram yang
sudah siap masuk pada kantung mereka. Misalnya, terdapat kaedah
syariat yang menetapkan
perjalanan pada hari
Sabtu tidak boleh melebihi dua ribu
ela. Namun orang-orang Farisiun mengadakan walimah di mana
mereka mengundang orang-orang
untuk menghadiri acara
tersebut pada hari Sabtu, padahal tempat diadakannya acara itu berjarak
lebih dari dua ribu ela dari rumah mereka. Lalu, bagaimana mereka dapat
melaksanakan hal tersebut?
Sangat mudah sekali.
Mereka meletakkan pada
sore hari Sabtu sebahagian makanan yang berjarak dua
ribu ela dari rumah mereka lalu setelah itu
mereka mendirikan suatu
tempat tinggal di mana
mereka dapat berjalan setelahnya dan
menempuh dua ribu
ela yang lain.
Dari sini mereka
dapat menambah jarak yang mereka inginkan.
Begitu juga agar mereka menghindar dari larangan membawa
sesuatu ke luar rumah pada hari Sabtu, maka mereka membuat tipu daya yang lain.
Yaitu mereka mendirikan gerbang-gerbang pintu dan jendela di berbagai jalan
sehingga seluruh kota seperti rumah besar yang dimungkinkan bagi
mereka untuk membawa
segala sesuatu dan
bergerak di dalamnya. Contoh
lain yang menunjukkan bagaimana orang-orang Yahudi mempermainkan syariat
sedangkan mereka mengklaim menjaganya adalah, bahawa syariat Musa
menetapkan agar seorang
anak menginfaki kedua
orang tuanya saat
mereka menginjak usia tua
dan memerlukannya. Tetapi
kaum Farisiun memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk
lari dan menghindar dari tanggung jawab ini dengan suatu tipu daya yang sederhana.
Ketika seorang anak dituntut oleh kedua orang tuanya untuk memberi nafkah, maka
ia pergi ke para pendeta dan bersepakat
kepada mereka untuk
mewakafkan semua hartanya dan kekayaannya kepada
haikal, yaitu tempat
sembahan kaum Yahudi.
Saat itu kedua orang
tuanya tidak mampu
mengambil sesuatu pun
darinya. Ketika mereka berdua
telah putus asa
dan tidak lagi
menuntut padanya untuk memberi nafkah,
maka semua
harta kekayaannya akan
dikembalikan kepadanya
oleh para pendeta,
dengan catatan hendaklah ia
memberikan bahagian tertentu dari
hartanya kepada para
pendeta itu. Demikianlah
yang terdapat dalam Injil Mata. Di
tengah-tengah suasana kebodohan pemikiran yang
luar biasa ini,
juga terdapat sikap keras
kepala dan kejumudan
berfikir yang mengelilingi kaum Yahudi. Terdapat tujuh tingkat kesucian
dan dua puluh enam solat yang harus mereka
lakukan saat mereka
membasuh tangan sebelum
memakan makanan, namun mereka
menganggap bahawa meniadakan pembacaan solat-solat sebagai bentuk
pembunuhan terhadap jiwa
dengan cara bunuh
diri dan tercegah dari
kehidupan abadi.
Demikianlah
kekerasan sikap masyarakat Yahudi yang
menunjukkan bahawa moral
mereka telah rusak
dan dipenuhi dengan kemunafikan
yang tiada taranya. Sementara itu, Isa berjalan menuju tempat beribadah.
Orang-orang berjalan di sekelilingnya. Mereka tampak membanggakan pakaian-
pakaian yang berwarna dan
berharga sedangkan Isa
berjalan dengan memakai
baju putih dan menampakkan kezuhudannya. Rambut Isa
tampak lembut yang mencapai kedua bahunya
dan tampak ia
basah terkena air
awan yang menurunkan
gerimis. Kemudian kedua kakinya
berjalan di atas
tanah sehingga tanah
itu dipenuhi dengan bau harum
yang tidak diketahui sumbernya. Baju yang dipakai oleh Isa terbuat dari bulu
domba yang sangat sederhana dan kasar. Meskipun hari itu hari Sabtu, Isa
memetik buah di suatu kebun
dan mengambil dua
buah yang beliau berikan kepada
anak kecil yang fakir dan lapar. Tindakan semacam ini menurut kepercayaan Yahudi
dianggap sebagai tindakan
yang menentang agama Yahudi.
Isa mengetahui bahawa
menjalankan agama yang
hakiki bukan terletak
pada ketaatan luaran sementara hati jauh dari sikap rendah diri. Oleh
kerana itu, Isa mencabut buah dan memberikan makan kepada manusia pada hari
Sabtu. Beliau menyalakan api
untuk wanita-wanita tua
sehingga mereka tidak
mati kedinginan. Isa sering mengunjungi tempat
sesembahan orang Yahudi.
Isa berdiri di dalamnya dan
mengamati para pendeta
dan manusia yang
hilir mudik di sekitarnya. Sesampainya Isa di tempat
sembahan, ia berdiri di dalamnya. Isa mengamat-amati apa yang ada di dalamnya.
Dinding-dinding tempat beribadah itu terbuat dari kayu gaharu yang memiliki bau
yang harum. Di samping itu, terdapat
kelambu-kelambu yang terbuat dari
kain-kain yang mengagumkan yang dicampur
dengan emas.
Juga terdapat lampu-lampu
yang terhulur dari atap dan juga ada lilin-lilin yang
memenuhi ruangan dengan cahaya. Meskipun demikian, kegelapan menyelimuti hati
orang- orang yang ada di situ. Nabi
Isa berdiri cukup
lama di tempat
penyembahan itu. Setiap
kali ia memutarkan wajahnya,
ia mendapati para
pendeta di sana.
Terdapat dua puluh ribu pendeta.
Nama-nama mereka tercatat dalam haikal. Mereka adalah kaum Waliyun
yang memakai saku-saku
yang besar yang
di dalamnya ada kitab-kitab syariat. Sedangkan kaum
Farisiun, mereka memakai pakaian yanglebar yang sisi-sisinya tertenun dengan
emas. Mereka adalah pembantu haikal yang
resmi dengan memakai
baju-baju mereka yang putih.
Adapun kaum
Shaduqiyun adalah kelompok
para pendeta aristokrat
yang bersekutu dengan penguasa di mana mereka memperoleh
kekayaan melalui persekutuan ini. Nabi Isa memperhatikan bahawa jumlah
pengunjung haikalita lebih sedikit daripada jumlah para
pendeta dan para
tokoh agama. Tempat
penyembahan itu dipenuhi dengan
kambing dan merpati
yang dibeli oleh
para pengunjung tempat penyembahan itu.
Mereka menyerahkannya sebagai korban
kepada Allah. Yaitu korban
yang disembelih di
dalam tempat persembahan
di atas tempat penyembelihan. Alhasil
setiap langkah yang
diayunkan oleh para pejalan di tempat penyembahan itu akan
menghasilkan wang. Di tempat penyembahan Yahudi
itulah tersingkap hakikat
kehidupan kaum Yahudi. Nilai
satu-satunya yang disembah
oleh manusia di
zaman itu adalah wang. Jadi, kemewahan materi atau
kekayaan adalah nilai satu-satunya yang kerananya manusia
akan bergulat satu
sama lain.
Dalam hal
itu, tidak ada perbezaan antara tokoh-tokoh pembawa ajaran syariat dengan manusia-manusia biasa. Kaum
Shaduqiyun dan kaum Farisiun bekerja sama di antara mereka di dalam haikal itu
seakan-akan mereka di dalam suatu pasar di mana mereka
memanfaatkannya untuk diri
mereka dengan terus mencari korban-korban di
dalamnya. Sering kali
kaum Shaduqiyun dan
Farisiun berseteru dalam persoalan syariat
dan hukum. Demikian juga,
mereka berseteru dalam menentukan
korban yang harus
mereka raih di
haikal itu. Kaum Farisiun
berpendapat bahawa haiwan-haiwan korban itu harus dibeli dari harta haikal
sedangkan kaum Shaduqiyun menganggap bahawa harta dari haikal adalah hak
mereka.
Oleh kerana itu,
mereka menganggap bahawa
haiwan korban itu harus
dibeli dengan jumlah
tersendiri. Begitu juga
kaum Farisiun mewajibkan untuk
membakar haiwan yang
disembelih di atas
tempat penyembahan,
sedangkan kaum Shaduqiyun mereka
mengambil haiwan sembelihan ini untuk diri mereka
sendiri. Di dalam Talmud
disebutkan bahawa kaum
Shaduqiyun menjual merpati
di toko-toko mereka yang
mereka miliki. Mereka
sengaja memperbanyak
kesempatan-kesempatan yang diharuskan
di dalamnya untuk
mengorbankan burung-burung
merpati sehingga harga
seekor burung merpati
saja mencapai beberapa Dinar.
Melihat hal itu,
salah satu tokoh
Farisiun yaitu Sam'an
bin Amlail mengeluarkan fatwa yang intinya mengurangi
kesempatan-kesempatan yang diharuskan di dalamnya seseorang menyerahkan merpati
sebagai korban. Setelah itu, harga burung cuma mencapai seperempat Dinar.
Pergelutan antara kedua kelompok itu
mendatangkan pukulan berat
bagi pemilik toko
yang menyimpan burung merpati terutama anak-anak dari kepala pendeta.
Kisah Dakwah Nabi Isa AS
Nabi Isa memperhatikan apa
yang terjadi di
sekelilingnya; Nabi Isa
melihat kaum fakir yang tidak mampu membeli haiwan korban sehingga
mereka tidak mampu berkorban; Nabi Isa melihat bagaimana para pendeta
memperlakukan mereka dan memangsa mereka seperti serigala yang buas. Nabi Isa
berfikir di dalam dirinya, mengapa
binatang-binatang itu mereka
bakar lalu dagingnya menjadi asap di udara, padahal di
sana terdapat ribuan kaum fakir yang mati kelaparan? Mengapa mereka mengira
bahawa Allah SWT redha ketika tempat penyembelihan dilumuri dengan
darah, lalu haiwan korban itu
dibawa ke rumah-rumah para
pendeta dan toko-toko
mereka untuk dijual?
Mengapa orang-orang fakir banyak
berhutang dan mengeluarkan banyak
wang untuk membeli binatang-binatang korban?
Mengapa binatang-binatang korban
itu harus dimiliki dan
hanya dirawat oleh
para pendeta lalu apa
yang mereka lakukan dengan
wang-wang ini? Lalu, di manakah tempat orang-orang fakir di haikal itu?
Bukankah hal yang aneh ketika seseorang memasuki rumah dengan keharusan membawa
wang? Nabi Isa pergi dari tempat penyembahan itu dan ia meninggalkan kota
menuju gunung. Dada Nabi Isa dipenuhi dengan kecemburuan yang suci terhadap
yang Maha Benar. Wajahnya tampak semakin pucat ketika melihat berbagai macam
kejahatan memenuhi dunia.
Nabi Isa berdiri
di atas sebuah
bukit dan beliau mulai melakukan
solat. Titisan-titisan air
mata mulai berlinang
dari pipinya dan jatuh ke bumi. Nabi
Isa mulai merenung dan menangis. Di sana terdapat bunga yang nyaris mati kerana
kehausan lalu ketika ia mendapatkan titisan air mata al-Masih,
maka bunga itu
mekar kembali dan
mendapatkan kehidupan.
Titisan air mata
al-Masih menyelamatkannya, sebagaimana beliau
akan menyelamatkan manusia dengan dakwahnya.
Di malam yang penuh berkah ini pula, dua
orang Nabi yang
mulia meninggalkan bumi,
yaitu Nabi Yahya
dan Nabi Zakaria. Kedua Nabi itu dibunuh oleh penguasa. Sejak kepergian
mereka berdua, bumi kehilangan banyak dari kebaikan. Pada malam itu juga,
turunlah wahyu kepada Isa bin Maryam. Allah SWT memutuskan perintah- Nya agar
ia memulai dakwahnya. Nabi Isa menutup
lembaran halus dari
kehidupannya yaitu lembaran
yang penuh dengan tafakur dan
ibadah. Beliau memulai
perjalanannya yang berat dan penuh tantangan serta penderitaan:
beliau mulai berdakwah di jalan Allah SWT;
beliau mulai membangun
kerajaan yang tegak
berdasarkan kerendahan hati dan
cinta. Kerajaan yang penguasanya bertujuan untuk membebaskan dan menyucikan
roh. Kerajaan yang memancarkan sikap rendah diri dan cinta. Nabi Isa ingin
menyelamatkan rohani. Ajaran
Nabi Isa berdasarkan keimanan terhadap hari kiamat dan
kebangkitan. Nilai-nilai dan pemikiran tersebut tidak ditemukan dalam kehidupan
orang-orang Yahudi.
Syariat Musa menetapkan pemberlakuan hukum
qisas: barang siapa
yang memukulmu di pipi sebelah kananmu, maka pukullah
pipi sebelah kanannya. Lalu bagaimanakah orang-orang Yahudi menerapkan
hukum qisas tersebut? Jika yang dipukul mampu untuk menghancurkan rumah orang
yang memukul, maka ia tidak perlu
merasa puas hanya
sekadar memukul pipi
sebelah kanannya, mamun jika
ia tidak mampu,
maka hendaklah ia
memukul pipi sebelah kanannya. Namun boleh jadi hatinya
dipenuhi dengan dendam kerana ia tidak dapat menghancurkan rumahnya. Jadi, kebencian adalah
pelabuhan tempat bersinggahnya syariat
Musa. Meskipun beliau adalah seorang Nabi yang merupakan cermin cinta
Ilahi yang besar namun syariatnya kini berada di bawah kekuasaan hati-hati yang
mati, yaitu hati-hati yang
penuh dengan dendam
dan kebencian. Lalu,
apa yang dilakukan Nabi
Isa terhadap semua
ini? Allah SWT
telah mengutusnya dan memperkuat Taurat yang
dibawa oleh Musa
sebagaimana Allah SWT menurunkannya kepada
Musa. Jadi, seorang
nabi tidak menghancurkan tugas nabi sebelumnya.
Para nabi bagaikan satu mata rantai yang tujuannya adalah
satu, yaitu menciptakan kesucian dan
mempertahankan kebenaran serta mengesakan Allah SWT. Kemudian apa
yang dilakukan Nabi
Isa terhadap syariat
qisas tersebut? Yang jelas, tindakan yang dilakukan oleh
Nabi Isa murni dari ilham yang didapatinya dari Allah SWT. Nabi Isa
mengembalikan kaum kepada tujuan asli dari syariat. Nabi Isa
mengembalikan mereka kepada
hikmah syariat yang
asli. Nabi Isa mengembalikan mereka kepada cinta. Nabi
Isa tidak mengatakan sesuatu pun kepada
orang yang memukul
pipi sebelah kanannya.
Nabi Isa tidak
berusaha untuk memukul pipi sebelah kanannya. Al-Masih justru akan
membalikkan pipi sebelah kirinya. Inilah syariat Nabi Isa yang tidak berbeza
sedikit pun dengan syariat Nabi Musa.
Ia merupakan kedalaman yang
mengagumkan dari kedalaman syariat
Nabi Musa. Nabi
Isa ingin menetapkan kepada
kaum di sekelilinginya tentang
sesuatu yang penting.
Nabi Isa ingin
memberitahu mereka bahawa syariat
bukan mengajari kalian
untuk meletakkan dendam pada diri kalian lalu kalian
memukul lawan kalian. Syariat yang hakiki adalah, hendaklah kalian menebar kasih
sayang, pemaaf, dan cinta. Terdapat
banyak binatang-binatang buas
di hutan. Binatang-binatang itumencintai diri mereka sendiri. Mereka
bermusuhan dan saling membunuh demi makanan
dan minuman. Mereka
memberikan makan kepada
anak- anaknya. Perbezaan antara
manusia dan binatang adalah perbezaan pada tingkat cinta.
Hewan tidak
akan mampu melampaui
darjat cintanya kepada
makhluk yang lain. Atau
dengan kata lain,
haiwan tidak dapat
membagi cintanya kepada jenis yang
lain. Sedangkan manusia
mampu melakukan hal
itu. Di situlah manusia mampu dapat mencapai
kemuliaannya dan kemanusiaannya. Al-Masih memberitahu kaumnya bahawa manusia
tidak akan menjadi manusia sempurna kecuali
setelah ia mencintai
orang lain sebagaimana ia
mencintai dirinya sendiri.
"Aku mendengar bahawa
dikatakan, hendaklah engkau
mencintai orang yang dekat
denganmu dan membenci
musuhmu, sedangkan aku
berkata kepada kalian, cintailah
musuh kalian dan
doakanlah orang yang
melaknati kalian. Berbuat baiklah
kepada pembenci kalian
dan solatlah untuk
orang-orang berbuat buruk kepada kalian." (Injil Mata). Dakwah Nabi
Isa datang dan
menghapus syariat Nabi
Musa dalam bentuk luaran. Jika
kita berusaha membandingkan dua syariat tersebut dalam bentuk yang sederhana, maka
pada hakikat-nya dakwah
Nabi Isa bertujuan
untuk menghapus bidaah yang dilakukan oleh kaum Farisiun dan Shaduqiun
terhadap syariat Nabi Musa dan
menunjukkan hakikat syariat
ini dan tujuan-tujuannya
yang tinggi.
Di
tengah-tengah masa materialisme yang
sangat luar biasa
dan dunia dipenuhi dengan penyembahan terhadap emas dan tersebarnya
berbagai macam kejahatan, muncullah dakwah
al-Masih sebagai reaksi
ideal yang menunjukkan ketinggian dan
kesucian. Al-Masih mengetahui bahawa ia mengajak manusia untuk
menciptakan perilaku ideal
dalam kehidupan; Al-Masih menyedari bahawa
dakwahnya penuh dengan
idealisme tetapi idealisme ini
sendiri pada saat yang sama merupakan solusi satu-satunya untuk mengubati kehidupan dari
kesengsaraan dan penyakit-penyakit menular; Al-Masih mengetahui bahawa
tidak semua manusia
tidak mampu untuk mencapai puncak yang
diisyaratkannya. Tetapi paling tidak, hendaklah setiap orang berusaha sedikit
mendaki sehingga ia selamat. Dakwah Nabi Isa
terdiri dari kesudian
yang mengagumkan; dakwah
Nabi Isa bertujuan untuk
menyelamatkan roh atau dakwah yang dapat dianggap sebagai pedoman perilaku
individu, bukan suatu
sistem perincian-perincian tersebut dan hanya
memfokuskan kepada sumber
utama, yaitu roh.
Isa ingin menghidupkan rohani
manusia dan membimbingnya untuk
mencapai cahaya Sang Pencipta.
Oleh kerana itu, Isa datang dengan didukung oleh Ruhul kudus.
Mukjizat Nabi Isa AS
Ruhul kudus adalah
Jibril. Kita tidak
mengetahui bagaimana Allah
SWT memperkuat Isa dengan
Roh Kudus: apakah
Jibril menemaninya dan menyertainya sepanjang pengutusannya? Jibril
turun kepada nabi
untuk menyampaikan risalah atau
membawa mukjizat atau
justru mendatangkan hukuman atas
kaumnya, tetapi ia tidak bersama mereka sepanjang waktu. Oleh kerana itu,
apakah memang Jibril
menemani Isa sehingga beliau
diangkat ke langit? Hampir saja
hati menjadi tenang dengan tafsiran ini kerana dalam kehidupan Nabi Isa
terdapat sisi-sisi malaikat di mana beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa
yang berupa mukjizat-mukjizat. Bahkan kemampuan beliau sampai pada batas
menghidupkan orang-orang mati
dengan izin Allah
SWT. Begitu juga, beliau
memiliki kemampuan yang luar biasa di mana beliau dengan hanya meniupkan pada
suatu tanah, maka tanah itu terbentuk menjadi burung dan ia terbang dengan izin
Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa sama sekali tidak mendekati wanita sepanjang
hidupnya sehingga beliau
diangkat oleh Allah
SWT. Beliau tidak menikah. Ini
juga sifat malaikat di mana kita saksikan bahawa sebahagian para nabi
yang diutus oleh
Allah SWT dan
memiliki beberapa wanita bahkan kitab-kitab Yahudi
menyebutkan bahawa jumlah
isteri- isteri nabi
mereka Sulaiman misalnya, mencapai seribu wanita. Isa hidup
dalam keadaan tenggelam
dalam ibadah seperti
anak dari bibinya, yaitu Yahya.
Jika Yahya khusyuk
beribadah dan tinggal
di gunung dan
gurun bahkan dia menginap
di gua, maka
hal itu adalah
hal yang alami
baginya, sedangkan Isa hidup
justru di tengah-tengah masyarakat
kota.
Persoalannya adalah,
bukan hanya Isa
tidak terkait hubungan
dengan seorang wanita
dan bukan hanya mukjizat-mukjizat yang
diperolehnya yang
luar biasa yang berhubungan dengan
roh, tetapi yang
lebih dari itu
adalah, bahawa beliau didukung oleh
Ruhul kudus sepanjang
masa dakwahnya. Tentu
itu adalah nikmat yang
tak seorang pun
dari para nabi
sebelumnya diberi. Allah
SWT berfirman: "(Ingatlah),
ketika Allah mengatakan: 'Hai
Isa putera Maryam,
ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan
kepada ibumu di
waktu Aku menguatkan
kamu dengan roh kudus.
Kamu dapat
berbicara dengan manusia
di waktu masih dalam
buaian dan sesudah
dewasa; dan (ingatlah)
di waktu Aku
mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah pula) di
waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan
izin-Ku, kemudian kamu meniup
padanya, lalu bentuk
itu menjadi burung
(yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu
menyembuhkanorang yang buta
sejak dalam kandungan
ibu dan orang
yang berpenyakit sopak dengan
seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur
(menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi
Bani Israil (dari
keinginan mereka membunuh
kamu) di kala kamu
mengemukakan kepada mereka
keterangan- keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di
antara mereka berkata: 'Ini tidak lain hanya sihir yang nyata.' Dan (ingatlah),
ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: 'Berimanlah kepada-Ku dan
kepada rasul-Ku.' Mereka menjawab: 'Kami
telah beriman dan
saksikanlah (wahai rasul)
bahawa sesungguhnya kami adalah
orang- orang yang patuh (kepada seruanmu).'" (QS. al-Maidah: 110-111)
Ayat-ayat tersebut menyebutkan
lima mukjizat Nabi
Isa. Pertama, bahawa beliau mampu berbicara dengan manusia
saat beliau masih di buaian. Kedua, beliau
diajari Taurat dan
Taurat yang diturunkan
kepada Nabi Musa
telah tersembunyi dan telah mengalami perubahan yang dilakukan oleh
orang-orang cerdik dari kaum
Yahudi. Ketiga, beliau
membentuk tanah seperti
burung kemudian
meniupkannya lalu tanah
itu menjadi burung.
Keempat, beliau mampu menghidupkan orang-orang yang
mati. Kelima, beliau
mampu menyembuhkan orang yang
buta dan orang
yang belang.
Terdapat mukjizat yang keenam yang disebutkan dalam
Al-Quran al-Karim: "(Ingatlah),
ketika pengikut-pengikut Isa
berkata: 'Hai Isa
putera Maryam, bersediakah Tuhanmu
menurunkan hidangan dari
langit kepada kami?'
Isa menjawab:
'Bertakwalah kepada Allah
jika betul- betul
kamu orang yang beriman.' Mereka berkata:
'Kami ingin memakan
hidangan itu dan
supaya tenteram hati kami
dan supaya kami
yakin bahawa kamu
telah berkata benar kepada
kami, dan kami
menjadi orang-orang yang
menyaksikan hidangan itu.'
Isa putera Maryam
berdoa: 'Ya Tuhan
kami, turunkanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya
bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang
sesudah kami, dan
menjadi tanda bagi
kekuasaan-Mu: beri
rezekilah kami dan
Engkaulah Pemberi rezeki
Yang Paling Utama.'
Allah berfirman:
'Sesungguhnya Aku akan
menurunkan hidangan itu
kepadamu, barang siapa yang kafir
di antaramu sesudah
(turun hidangan) itu,
maka sesungguhnya Aku akan
menyeksanya dengan seksaan
yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di
antara umat manusia.'" (QS. al-Maidah: 112-115)
Mukjizat yang keenam
itu adalah turunnya
makanan dari langit
keranapermintaan Hawariyin. Juga
terdapat mukjizat yang
ke tujuh yang
terdapat surah Ali 'Imran
yaitu beliau diberi
kemampuan melihat hal-hal
yang ghaib melalui panca
inderanya meskipun beliau
tidak menyaksikannya secara langsung. Oleh
kerana itu, beliau
memberitahu kepada sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya apa
yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka:
"Dan aku khabarkan
kepadamu apa yang
kamu makan dan
apa yang kamu simpan
di rumahmu. Sesungguhnya pada
yang demikian itu
adalah suatu tanda (kebenaran
kerasulanku) bagimu, jika kamu benar-benar beriman. " (QS. Ali 'Imran::
49) Inilah mukjizat Nabi
Isa yang ke
tujuh yang didahului oleh
mukjizat kelahirannya yang sangat mengagumkan.
Beliau lahir tanpa seorang ayah, lalu diikuti mukjizat
berikutnya di mana beliau diangkat dari bumi ke langit ketika penguasa
yang lalim berusaha
menyalibnya. Barangkali pembaca akan bertanya-tanya: mengapa
mukjizat-mukjizat seperti ini
diperoleh oleh Nabi Isa?
Kita mengetahui bahawa
mukjizat adalah hal
yang luar biasa
yang Allah SWT berikan
kepada nabi-Nya. Tetapi
pemberian itu menjadi
sempurna jika mukjizat itu
disesuaikan dengan keadaan
zaman diutusnya nabi
tersebut sehingga
mukjizat itu
sangat berpengaruh dalam
jiwa kaum dan
mampu menggoncangkan hati mereka dan menjadikan mereka beriman kepada
pemilik mukjizat ini. Jadi, mukjizat menjadi suatu hal yang luar biasa. Oleh
kerana itu, Allah SWT berkehendak agar mukjizat ini sesuai dengan zaman
diutusnya nabi tersebut. Jadi, setiap mukjizat yang dibawa oleh rasul selalu
berlain-lainan.
Nabi Saleh diutus
di tengah-tengah kaum
yang melihat bagaimana seekor
unta yang melahirkan dari
gunung atau mampu
membelah batu-batuan gunung. Sedangkan Nabi
Musa diutus di
tengah-tengah kaum yang
gemar memainkan sihir sehingga
sihir mendapat tempat istimewa. Oleh kerana itu, mukjizat yang dibawa oleh Nabi
Musa bentuk lahirnya seakan-akan menyerupai sihir, tetapi pada hakikatnya ia
justru menjatuhkan sihir.
Mukjizat itu berupa tongkat yang menjadi ular
dan kemudian ular
itu memakan tongkat-tongkat para
tukang sihir. Lain halnya dengan Nabi Isa, beliau diutus di
tengah-tengah kaum materialis yang mengingkari roh dan hari kebangkitan. Mereka
menduga bahawa manusia hanya
sekadar tubuh tanpa
roh. Mereka adalah
kaum yang meyakini
bahwadarah makhluk adalah rohnya atau jiwanya. Taurat yang ada di tangan
Yahudi menyebutkan bahawa tafsir
an-Nafst adalah darah.
Disebutkan di
dalamnya: "Janganlah
engkau memakan darah
dari tubuh manusia
kerana jiwa setiap tubuh adalah darahnya. " Nabi
Isa diutus di tengah-tengah
kaum yang mereka
disesatkan oleh falsafah yang dasarnya mengatakan bahawa
penciptaan alam memiliki sumber pertama, seperti sebab dari akibat. Jadi, alam
memiliki wujud yang mendahuluinya. Di tengah-tengah masa
yang materialis ini,
di mana roh
diingkari, maka secara logik mukjizat
Nabi Isa terkait
dengan usaha menunjukkan alam
rohani. Demikianlah Isa dilahirkan
tanpa seorang ayah.
Mukjizat ini cukup
untuk membungkam kaum yang mengatakan bahawa alam memiliki sumber
pertama. Jelas bahawa alam tidak memiliki wujud yang mendahuluinya. Kita berada
di hadapan Sang Pencipta
yang mengadakan sistem
bagi segala sesuatu
dan menjadikan sebab bagi segala sesuatu. Dia menjadikan proses
kelahiran anak berasal dari hubungan
laki-laki dan wanita,
tetapi Pencipta ini
sendiri menciptakan
sebab-sebab dan sebab-sebab
itu tunduk kepadanya
sedangkan Dia tidak tunduk kepada sebab-sebab itu.
Dengan kehendak- Nya yang bebas, Dia mampu memerintahkan
kelahiran anak tanpa melalui ayah sehingga anak itu lahir. Dan, kelahiran Isa
pun terjadi tanpa seorang ayah. Cukup ditiupkan roh kepadanya: "Lalu Kami
tiupkan ke dalamnya (tubuhnya) roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan
anaknya tanda (kekuasaan
Allah) yang besar
bagi semesta alam.
" (QS. al-Anbiya': 91) Kelahiran
Isa membawa mukjizat
yang luar biasa
yang menegaskan dua
hal: pertama, kebebasan kehendak
Ilahi dan ketidak
terkaitannya dengan sebab kerana Dia
adalah Pencipta sebab-sebab, kedua
pentingnya roh dan menjelaskan kedudukannya serta
nilainya di antara
kaum yang hanya mementingkan fizik
sehingga mereka mengingkari roh.
Seandainya kita mengamati
sebahagian besar mukjizat Nabi Isa, maka kita akan melihatnya dan mendukung pandangan tersebut. Misalnya,
mukjizat Nabi Isa
yang mampu membentuk tanah
seperti burung lalu beliau meniupkannya sehingga tanah itu menjadi burung.
Mukjizat ini pun menguatkan adanya roh. Semula ia berupa tanah yang
bersifat fizik yang
tidak dapat disifati
dengan kehidupan tetapi ketika Nabi
Isa meniupnya, maka
segenggam tanah itu
menjadi burung yang memiliki kehidupan,
Sungguh sesuatu yang
bukan fizik masuk
ke dalamnya. Sesuatu itu
adalah roh. Roh
itu masuk ke
dalam tanah sehingga
ia menjadi burung. Jadi, roh
adalah nilai yang hakiki, bukan jasad atau fizik.
Di sampingitu, juga
ada mukjizat menghidupkan orang-orang yang mati. Bukankah ini juga menunjukkan
adanya roh dan adanya hari akhir atau hari kebangkitan. Orang yang mati
telah ditelan oleh
bumi di mana
anggota tubuhnya telah
hancur berantakan
sehingga ia hampir
menjadi tulang-belulang yang
hancur lalu al-Masih memanggilnya dan
tiba-tiba dia hidup
kembali dan bangkit
dari kematiannya. Seandainya
orang yang mati
hanya berupa fizik
sebagaimana dikatakan
orang-orang Yahudi, maka
ia tidak akan
mampu bangkit dari
kematiannya kerana fiziknya telah hancur tetapi mayat itu mampu bangkit
dari kematian. Jayanya kembali hidup dan ia bangkit dari kuburannya serta
berbicara. Jadi, roh adalah nilai
yang hakiki. bukan
fizik atau jasad.
Kalau begitu, di
sana terdapat hari kebangkitan dan
hari kiamat.
Hal ini
bukanlah mustahil
sebagaimana yang dikatakan
orang-orang Yahudi, kerana
setelah kematian jasad menjadi
tanah yang berterbangan di
udara. Itu bukan
mustahil tetapi mungkin-mungkin
saja. Dalil dari hal itu adalah, kebangkitan orang-orang yang telah mati
di hadapan mata
kepala mereka sendiri. Nabi
Isa telah menghidupkan mereka
agar kaumnya yakin
bahawa kiamat fizik
akan terjadi dari kematian dan
itu adalah benar dan bahawa hari akhir adalah benar. Juga terdapat mukjizat
yang lain, yaitu beliau mampu memberi tahu kaumnya tentang apa
yang mereka simpan
di rumah-rumah mereka, tanpa
terlebih dahulu beliau masuk
ke rumah mereka
atau dapat bocoran
dari seseorang. Mukjizat ini
menetapkan bahawa panca indera bukanlah nilai yang hakiki. Nabi Isa tidak
melihat apa yang ada di rumah mereka tetapi rohnya mampu untuk melihat dan
berbicara atau memberitahu
mereka. Jadi, rohani
adalah nilai yang hakiki,
bukan fizik. Demikianlah mukjizat-mukjizat Isa
datang untuk
memberitahukan pentingnya roh
dan kebebasan kehendak Ilahi.
Mukjizat-mukjizat Nabi Isa - sebagaimana dikatakan oleh guru
kami Muhammad Abu Zahra' -
termasuk dari jenis
propagandanya dan sesuai
dengan tujuan risalahnya, yaitu
dakwah untuk mendidik
rohani dan keimanan
kepada hari kebangkitan dan
hari kemudian, dan
di sana ada
kehidupan lain di
mana seseorang yang berbuat baik akan dibalas kebaikannya dan orang yang
berbuat buruk akan dibalas keburukannya.
Lalu, apakah
mukjizat menghidupkan orang-orang yang
mati masih memberikan celah kepada
para pengingkaran akhirat untuk
terus mengingkarinya atau memberikan ruangan kepada penentang hari
kebangkitan untuk meneruskan penentangannya? Kami telah
mengatakan bahawa
orang-orang Yahudi telah
diracuni dengan fikiran
ketidakpercayaan ataupenentangan pada
hari akhirat serta
tidak beriman kepada
hari akhir, maka menghidupkan orang-orang yang
mati yang dibawa
atau dikuasai oleh
Isa menjadi suatu pukulan
telak bagi mereka
yang membuat mereka
beriman, tetapi mereka masih menentang tanda-tanda kebesaran Allah. Nabi
Isa menutup lembaran kehidupannya yang lembut dan ia mulai berdakwah di jalan
Allah. Beliau didukung oleh Ruhul kudus dan mukjizat-mukjizat yang luar biasa.
Risalah Nabi Isa AS
Al-Quran al-Karim menceritakan kepada kita bahawa esensi
dakwah al-Masih tidak banyak berubah dari esensi dakwah para nabi sebelumnya,
yaitu menyuarakan Islam yang
intinya adalah menebarkan
tauhid yang sempurna hanya serta
menyerahkan diri kepada
Allah: "Sembahlah Allah,
Tuhanku dan Tuhan kalian."
Al-Quran memberitahu kita bahawa yang mengatakan kalimat tersebut adalah
Isa. Kalimat tersebut
adalah kalimat yang
sama yang pernah
disampaikan seluruh nabi, meskipun
nama mereka, sifat
mereka, mukjizat mereka,
baju mereka, bahasa mereka, usia mereka, bentuk mereka, dan warna kulit
mereka tidak sama. Mereka
semua bersepakat untuk
menyuarakan Islam dan
hanya menyerahkan diri kepada Allah SWT serta beriman bahawa Allah SWT
adalah Tuhan mereka dan Tuhan alam semesta.
Tiada sekutu bagi-Nya dan tiada yang setara dengan-Nya. Dia
Maha Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada sesuatu pun yang
menyerupai-Nya. Isa tidak mengatakan persoalan tauhid lebih banyak atau lebih
sedikit dari apa yang pernah
disampaikan oleh para
nabi. Al-Quran datang
kira- kira setelah lima ratus tahun dari pengangkatan
Nabi Isa. Allah SWT, melalui ilmu-Nya yang azali mengetahui
apa yang terjadi
di tengah- tengah
kaum Masehi di
mana mereka berselisih tentang
hakikat Isa. Oleh
kerana itu, Al-Quran
al-Karim berusaha menyingkap dialog mereka yang belum terjadi. Allah SWT
berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam,
adakah kamu mengatakan kepada manusia:
'Jadikanlah aku dan
ibuku dua orang
tuhan selain Allah?' Isa
menjawab: 'Maha Suci
Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya). Jika
aku pernah mengatakannya, maka tentulah
Engkau telah mengetahuinya.
Engkau mengetahui
apa yang ada pada
diriku dan aku
tidak mengetahui apa yang ada
pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku
tidak pernah mengatakan kepada
mereka kecuali apa
yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu:
'Sembahlah Allah,
Tuhanku, dan Tuhanmu,'
dan aku menjadi
saksi terhadap
mereka selama aku berada di
antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi
mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.'" (QS.
al-Maidah: 116-117) Al-Quran secara tegas
mengatakan bahawa dakwah
al-Masih adalah dakwah tauhid. Al-Quran
ingin mengatakan bahawa
al-Masih terlepas dari
segala tuduhan yang dialamatkan
kepadanya, yaitu tuduhan
bahawa ia anak
Tuhan atau ia justru tuhan itu sendiri.
"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa
yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu." Nabi Isa pergi berdakwah di jalan Allah SMT. Inti dakwahnya
adalah, bahawa tidak ada perantara antara Pencipta dan makhluk; tidak ada
perantara antara seorang penyembah dan
yang disembah. Allah
SWT menurunkan kitab
Injil kepada Nabi Isa. Ia adalah kitab suci yang datang untuk
membenarkan Taurat dan berusaha menghidupkan syariatnya
yang pertama. Injil
adalah cahaya, petunjuk, dan
peringatan bagi orang-orang yang
bertakwa. Nabi Isa
ingin meluruskan
tafsiran orang-orang Yahudi
terhadap syariat di
mana mereka menyampaikan tafsir
dari syariat itu
secara harfiah dan
sesuai dengan kepentingan mereka. Nabi Isa menenangkan orang-orang yang
menjaga syariat bahawa ia tidak datang untuk menghilangkan syariat, tetapi ia
datang untuk menyempurnakannya
dan menyelesaikan tugas
para nabi. Namun
Isa lebih menekankan pada
penafsiran esensinya, bukan kepada bentuk lahiriahnya. Nabi Isa
memberi pengertian kepada
orang-orang Yahudi bahawa
sepuluh wasiat yang dibawa oleh Isa mengandung makna-makna yang lebih
dalam dari apa yang mereka
bayangkan. Wasiat yang
keenam bukan hanya
melarang pembunuhan
materi, sebagaimana yang
mereka fahami tetapi
juga menyangkut penindasan dan usaha mencelakakan orang lain.
Sedangkan wasiat yang
ke tujuh bukan
hanya melarang zina
(dalam pengertian terjadinya hubungan antara
laki-laki dengan perempuan melalui
cara-cara yang tidak sah), tetapi zina berarti segala
bentuk perbuatan yang menjurus kepada dosa. Misalnya, ketika
mata diarahkan kepada
lawan jenis disertai
syahwat dan hasrat seksual,
maka itu pun
berarti zina. Nabi
Isa berkata: "Sesungguhnya lebih baik bagi manusia
untuk menghindarkan matanya dari sesuatu yang dapat menghancurkannya daripada
ia harus hancur dengan mata itu sendiri. Syariat yang dibawa
oleh Isa melarang
untuk melanggar sumpah
dan janji Nabi
Isa memberi pengertian kepada
kaumnya bahawa hendaklah mereka
tidak melakukan sumpah palsu kerana merupakan "kesalahan besar
jika nama Allah
dibuat main-main di
atas mulut-mulut manusia."
(Injil Mata 21 sampai 48).
Kisah dakwah Nabi Isa AS
Dakwah Nabi Isa
juga berbenturan dengan
arus materialisme yang
sangat mendominasi masyarakat saat
itu. Oleh kerana
itu, beliau mengingatkan manusia dari perbuatan munafik,
pamrih, tamak, dan gila pujian.
Begitu juga beliau mengingatkan mereka dari sifat rakus
terhadap kekayaan dunia; beliau mengingatkan
agar jangan sampai
mereka menimbun harta
di dunia. Yakni, hendak lah mereka tidak memfokuskan
perhatian mereka pada urusan-urusan duniawi
semata yang sifatnya
tidak abadi. Tetapi
hendaklah mereka
memfokuskan perhatian mereka
pada hal-hal yang
bersifat samawi (ukhrawi) kerana
itu bersifat abadi. Nabi Isa memberitahu kepada masyarakatnya agar
mereka menjadi orang-orang
yang teliti saat memilih gaya hidup mereka kerana pada gilirannya akal mereka
akan menjadi cermin darinya. Kecenderungan manusia itu terkait kuat dengan
hatinya. Jika hati tertuju kepada cahaya langit, maka kehidupan manusia akan
tampak bersinar tetapi jika hati tertuju pada kegelapan dunia, maka
kehidupannya pun tampak
gelap. Nabi Isa
mengingatkan kaumnya dari sikap
pamrih dan cinta
dunia. Beliau mengajak
mereka untuk teliti
dalam memilih majikan yang
mereka mengabdi kepadanya kerana
manusia tidak dapat mengabdi
kepada dua majikan
dalam satu waktu.
Boleh jadi ia
akan menjadikan harta sebagai
majikannya, atau boleh
jadi ia akan
menjadikan Allah SWT sebagai
tuannya.
Jika ia menyembah
harta, maka berarti
ia jauh dari penyembahan
terhadap Tuhannya. Oleh
kerana itu, hendaklah
manusia menjauhi dunia, seperti makanan dan pakaian di mana mereka akan
dikuasai oleh kegelisahan dan ketidaktenangan serta keraguan tentang penjagaan
Allah SWT kepada mereka.
Allah SWT telah
berjanji untuk memenuhi
kebutuhan hamba-hamba-Nya dalam kehidupan. Ketika timbul kegelisahan dan
keraguan pada diri mereka, maka itu dikeranakan keraguan mereka terhadap
penjagaan Allah SWT dan ketidakpercayaan mereka kepada janji-janjinya dan
rahmat-Nya serta bimbingan-Nya. Allah
SWT lah yang
menciptakan mereka dan
Dia pula yang menjamin
kehidupan mereka dan
melindungi mereka. Bahkan
Dia juga melindungi makhluk yang
paling kecil urusannya seperti burung di langit dan kumbang-kumbang di kebun.
Nabi Isa memberitahu kaumnya bahawa hanya memperhatikan dunia adalah hal yang
salah, yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Itu
adalah sikap para
penyembah berhala kerana
penyembah berhala tidak mengetahui apa
yang lebih baik
darinya, sedangkan orang-
orang yang beragama mengetahui
bahawa di sana terdapat bimbingan Ilahi yang mengajakmereka untuk percaya
kepada Allah SWT dan tidak begitu peduli dengan dunia. Allah SWT mengetahui
kebutuhan-kebutuhan mereka lebih daripada apa yang mereka ketahui;
Allah SWT akan
melindungi mereka dan
akan menjamin kehidupan mereka.
kerana itu, yang
layak bagi mereka
adalah, hendaklah mereka memohon
agar diberi kekuasaan
Allah SWT dan
kebaikan dari-Nya. Yakni
kehidupan rohani dan apa yang dikandungnya dari kebahagiaan abadi. Di samping
itu, Nabi Isa menasihati mereka agar jangan terlalu pusing dengan kejadian-kejadian
yang akan datang dan persoalan-persoalan esok hari kerana esok hari
sudah berjalan sebagaimana mestinya. Jika
kebutuhan dan penderitaan datang
silih berganti, maka
bantuan dan perlindungan Ilahi
pun terus datang silih berganti. Dakwah Nabi Isa juga berbenturan dengan
dualisme yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.
Kita saksikan sebagaimana mereka suka mendapatkan kebaikan
yang ditujukan kepada diri mereka, maka mereka pun biasa untuk melakukan
kejahatan kepada orang-orang lain. Demikianlah, kehidupan orang-orang Yahudi
dicemari sikap dualisme
ini.
Nabi Isa
mewasiatkan kepada manusia
agar mereka memperlakukan sesama
mereka sesuai dengan akidah yang mengatakan: "Perlakukanlah orang
lain sebagaimana engkau memperlakukan dirimu sendiri" Nabi Isa
terus melangsungkan dakwahnya dan
mengajak manusia untuk menyembah Allah
SWT serta tidak
menyekutukan-Nya,
sebagaimana beliau juga mengajak
manusia untuk membersihkan rohani
serta hati dan
berusaha memasuki kerajaan langit. Dakwah Nabi Isa itu sangat memukul
kalangan para pendeta Yahudi. Kalimat-kalimat yang
dilontarkan Nabi Isa
bagaikan senjata yang siap
menerpa wajah mereka
dan menyatakan peperangan terhadap mereka serta
menyingkap kedok kemunafikan mereka. Mula-mula pemerintahan Romawi tidak
turut campur dalam
masalah tersebut kerana mereka melihat
bahawa itu hanya
sekadar perselisihan dalaman
antara kelompok-kelompok
Yahudi. Bagi mereka,
selama orang-orang Yahudi
sibuk dengan masalah mereka
sendiri dan tidak
peduli dengan kekuasaan,
mereka pun tidak turut campur.
Fitnah pendeta yahudi kepada seorang wanita
Mula-mula pemerintahan
Romawi tidak turut
campur dalam masalah
tersebut kerana mereka melihat
bahawa itu hanya
sekadar perselisihan dalaman
antara kelompok-kelompok
Yahudi. Bagi mereka,
selama orang-orang Yahudi
sibuk dengan masalah mereka
sendiri dan tidak
peduli dengan kekuasaan,
mereka pun tidak turut campur. Kemudian para pendeta Yahudi mulai
merancang suatu persekongkolan untuk menyingkirkan Isa.
Mereka ingin mengusir
Isa dan membuktikan
bahawa Isa datang untuk
menghancurkan syariat Musa.
Syariat Musa memutuskan
untuk merejam wanita yang berzina. Para pendeta Yahudi menghadirkan
wanita yang salah yang berhak
direjam.
Mereka
berkumpul di sekeliling
Isa dan bertanya kepadanya: "Tidakkah syariat
menetapkan untuk merejam
wanita yang
bersalah?" Isa menjawab:
"Benar," Mereka berkata:
"Ini adalah wanita
yangbersalah." Isa memandang wanita itu dan ia pun melihat para
pendeta Yahudi. Isa mengetahui bahawa
para pendeta Yahudi
lebih banyak kesalahannya daripada wanita
tersebut. Para pendeta
itu menunggu jawapan
Isa. Jika ia mengatakan bahawa wanita
itu tidak berhak
dibunuh, maka berarti
ia menentang syariat Musa, dan jika ia mengatakan bahawa ia berhak
dibunuh, maka ia justru menghancurkan dirinya sendiri yang membawa syariat cinta
dan toleransi. Nabi Isa
memahami bahawa ini
adalah persekongkolan.
Beliau tersenyum dan
wajahnya tampak bercahaya.
Kemudian beliau melihat
para pendeta Yahudi dan wanita itu sambil berkata: "Barang siapa di
antara kalian yang tidak memiliki kesalahan, maka hendaklah ia merejam wanita
itu." Suara beliau yang
keras itu memecahkan
keheningan tempat penyembahan. Beliau menetapkan peraturan baru
yang berhubungan dengan
hukum yang dijatuhkan kepada
orang yang berbuat
salah. Hendaklah orang
yang tidak berbuat salah
menghukum orang yang
salah dan tidak
berhak seseorang pun dari
kalangan manusia untuk
menghukum orang yang bersalah
jika ia sendiri bersalah, tetapi
yang menghukumnya adalah
Allah SWT yang
Maha Suci dan Maha Tinggi dan Allah SWT adalah Maha
Pengasih di antara yang mengasihi. Nabi Isa keluar dari tempat penyembahan itu.
Tiba-tiba, wanita itu mengejar dari
belakangnya. Lalu wanita
itu mengeluarkan dari
pakaiannya satu botol dari minyak yang berharga. Ia berdiri
di depan Isa dan menjatuhkan dirinya di atas kedua kaki Isa lalu menciumnya dan
membasuhnya dengan minyak wangi dan air mata. Setelah itu, ia mengeringkan
kedua kakinya dengan rambutnya.
Bagi wanita itu,
al- Masih mempakan harapan terakhir
yang dapat
menyelamatkannya. Lalu keluarlah
dari belakang Isa
seorang tokoh pendeta Yahudi. Ia
berdiri menyaksikan pemandangan
tersebut dan ia
merasa kagum terhadap kasih
sayang Isa. Isa
melihat kepadanya dan
bertanya; "Seorang
kreditor yang memiliki dua orang debitor, salah satunya berhutang lima ratus
dinar dan yang lain lima puluh dinar." Pendeta itu berkata:
"Ya." Isa berkata: "Tak
seorang pun dari
mereka berdua yang
memiliki wang yang
cukup untuk melunasi wangnya. Lalu
si kreditor memaafkan mereka
dan membebaskan mereka dari
hutang." Pendeta berkata: "Ya." Kemudian Isa bertanya:
"Siapa di antara mereka yang
paling senang kepada
kreditor itu?" Pendeta
menjawab: "Tentu yang berhutang
lebih besar.'' Isa
berkata: "Benar apa
yang engkau ucapkan. Lihatlah
wanita ini. Aku telah masuk ke rumahmu tetapi engkau tidak memberikan kepadaku
air agar aku dapat membasuh wajahku, tetapi wanita itu membasuh
kedua kakiku dengan
air mata lalu
ia mengusapnya dengan rambut kepalanya.
Begitu juga engkau
tidak memberikan ciuman
kepadaku tetapi wanita ini tidak merasa puas dengan hanya mencium kedua
kakiku. Jadi, hatimu sungguh sangat keras tetapi hati wanita itu dipenuhi
dengan rasa cinta. Maka barang siapa
yang banyak mencintai nescaya
kesalahan-kesalahannya akan
diampuni." Kemudian Isa
menoleh ke wanita
itu dan memerintahkannya untuk bangkit dari tanah
sambil berkata: "Ya Allah, ampunilah wanita ini dan hilangkanlah
kesalahan-kesalahannya." Nabi
Isa berusaha menyedarkan
para pendeta Yahudi
bahawa para dai
yang menyeru di jalan
Allah SWT bukanlah
algojo yang bengis
yang menerapkan hukum syariat
tanpa melihat keadaan masyarakat yang bersalah, tetapi mereka datang dan
membawa ajaran Allah
SWT yang merupakan
ajaran yang penuh dengan rahmat
kepada manusia. Jadi,
rahmat adalah tujuan
semua dakwah Ilahi ini.
Mukjizat yang luar biasa Nabi Isa AS
Bahkan diutusnya para nabi itu sendiri mengandung rahmat
Allah SWT terhadap kaum mereka. Isa terus berdoa kepada Allah SWT agar
merahmati kaumnya. Beliau menyuruh kaumnya agar menyayangi diri mereka sendiri
dan beriman kepada Allah SWT.
Kehidupan Nabi Isa
menggambarkan kezuhudan dan
ketaatan dalam ibadah. Mu'tamar bin Sulaiman berkata,
sebagaimana diriwayatkan Ibnu 'Asakir: "Nabi Isa menemui kaumnya dengan
memakai pakaian dari wol. Beliau keluar dalam keadaan tidak
beralas kaki sambil
menangis serta wajahnya
tampak pucat kerana kelaparan dan
bibimya tampak kering
kerana kehausan. Nabi
Isa berkata, "salam kepada
kalian wahai Bani
Israil. Aku adalah
seseorang yang meletakkan dunia
di tempatnya sesuai
dengan izin Allah
SWT, tanpa bermaksud
membanggakan diri. Apakah kalian mengetahui di mana rumahku?" Mereka
menjawab: "Di mana rumahmu wahai Ruhullah?" Nabi Isa menjawab: "Rumahku adalah
masjid, wewangianku adalah air makananku adalah
rasa lapar, pelitaku
adalah bulan di
waktu malam dan solatku
di waktu musim
dingin di saat
matahari terletak di
timur, bungaku adalah tanaman-tanaman bumi,
pakaianku terbuat dari
wol, syiarku adalah takut kepada Tuhan Yang Maha Mulia,
teman-temanku adalah orang-orang yang fakir,
orang-orang yang sakit,
dan orang-orang yang
miskin. Aku memasuki waktu pagi dan aku tidak mendapati
sesuatu pun di rumahku begitu juga aku memasuki waktu sore dan aku tidak
menemukan sesuatu pun di rumahku. Aku adalah seseorang yang jiwanya bersih dan
tidak tercemar. Maka siapakah yang lebih kaya daripada aku?" Isa terus
melakukan dakwahnya.
Ia didukung
oleh mukjizat dari
Allah SWT. Nabi Isa mampu
membuat bentuk burung dari tanah kemudian ia meniupnya, maka tanah
itu menjadi burung
dengan izin Allah
SWT. Selain itu,
ujungbajunya yang sederhana jika tersentuh orang yang sakit, maka orang
itu akan sembuh. Bahkan jika Isa meletakkan tangannya di atas mata orang yang
buta atau orang yang terkena sakit belang nescaya ia akan sembuh. Jadi, Nabi
Isa didukung oleh mukjizatyang luar biasa.
Mukjizat Nabi Isa AS menghidupkan orang yang sudah mati
Bahkan beliau mampu menghidupkan orang-orang yang
mati dari kuburan
mereka sehingga mereka
keluar dalam keadaan hidup dengan
izin Allah SWT. Para ahli tafsir
mengatakan bahawa Nabi
Isa menghidupkan empat
orang. Pertama, al-Azir yaitu
temannya. Kemudian dua
orang anak laki-laki
dari seorang tua, dan
seorang anak perempuan satu-satunya dari
seorang ibu. Mereka adalah
tiga orang yang
mati di zaman
Nabi Isa. Ketika
orang- orang Yahudi melihat
hal tersebut, mereka
berkata:
"Engkau
menghidupkan orang-orang
yang mati dan
kematian mereka tidak
lama .Barangkali mereka tidak
mati tapi mereka
sekadar mengalami keadaan
tidak sedarkan diri atau mati suri. Lalu mereka meminta
kepada Nabi Isa untuk membangkitkan Sam bin Nuh dari kematiannya. Para ahli
tafsir mengatakan bahawa
Nabi Isa bertanya
kepada mereka, "Di manakah kaum
kuburan Sam bin
Nuh?" Mereka keluar
bersama Isa sehingga mereka mencapai kuburan. Lalu
Nabi Isa berdoa
kepada Allah SWT
agar menghidupkan orang yang mati di situ.
Sam bin Nuh keluar dari kuburannya, dan rambut
dikepala-nya tampak beruban. Isa berkata kepadanya: "Bagaimana rambut di
kepalamu bisa beruban, sementara
di zamanmu kau
tidak. ada uban," Sam
berkata: "Ya Ruhullah, aku mendengar engkau berdoa untukku lalu aku mendengar suara
yang mengatakan, aku
akan mengabulkan wahai Ruhullah. Aku mengira bahawa
kiamat telah tiba. kerana takutnya kepada hal itu sehingga rambut di kepalaku
beruban." Apa pun yang dikatakan berkaitan dengan cerita itu yang
menyebutkan tentang bagaimana Nabi Isa
menghidupkan orang-orang yang
mati, namun kita
tidak mengetahui konteks Al-Qu'ran serta perincian-perincian yang
menjelaskan hal tersebut. Allah SWT
hanya menyebutkan bahawa Isa
menghidupkan orang-orang yang mati dengan izin-Nya. Kita percaya bahawa
Nabi Isa mampu menghidupkan
mereka tetapi kita
tidak mengetahui apakah
mereka mati kembali setelah
dihidupkan atau mereka sempat menjalani kehidupan selama beberapa saat. Nabi
Isa terus berjalan di jalan Allah SWT.
Ajaran Tauhid Nabi Isa AS
Beliau membuat bagi mereka apa yang disebut dengan hukum
roh. Beliau menaiki gunung dan para sahabat- sahabatnya berdiri di sekitarnya. Nabi
Isa melihat orang-orang yang beriman kepadanya yang terdiri dari orang-orang
yang fakir, orang-orang yang menderita, dan orang- orang yang sedih. Jumlah
mereka sedikit sebagaimanalazimnya jumlah para pengikut nabi. Gunung diliputi
dengan awan tipis
dan turunlah hujan
gerimis. Isa mulai berbicara: "Sungguh beruntung bagi
orang-orang miskin kerana
mereka memiliki kerajaan langit. Beruntunglah orang-orang yang sedih
kerana mereka akan menjadi orang-orang yang
mulia. Beruntunglah yang
diserahi amanat kerana mereka
akan mewarisi bumi. Beruntunglah orang- orang yang lapar dan haus kerana
mereka akan dikenyangkan. Beruntunglah orang-orang yang menyayangi kerana
mereka akan disayangi.
Beruntunglah
orang-orang yang bersih hatinya
kerana mereka akan
melihat Allah SWT.
Beruntunglah orang-orang
yang tertindas demi
mempertahankan kebenaran kerana
mereka akan mendapatkan kerajaan langit. Kalian adalah garam bumi jika
garam telah rosak, maka siapa
gerangan yang dapat
mengembalikannya menjadi garam kembali." Renungkanlah kedalaman ungkapan dari
Nabi Isa, "kalian
adalah garam bumi."
Garam adalah sesuatu
yang memberikan rasa
yang khusus dan
tanpa garam makanan akan menjadi
hambar. Yakni, tanpa orang-orang mukmin, maka cita rasa kehidupan
terasa tidak bermakna;
tanpa kehadiran orang-orang
Muslim dan perbuatan mereka yang ikhlas terhadap Allah SWT akan tampak
kehidupan sangat berat dan
tidak berarti. Di
samping itu, kehadiran
manusia sebagai khalifah Allah
SWT di muka bumi pun sia-sia, dan keagungan manusia sebagai hamba Allah
SWT pun tidak
bermakna, dan pada
gilirannya kehidupan akan dipenuhi dengan kejahatan dan
keburukan. Allah SWT teiah
mewahyukan kepada "garam bumi"
agar mereka beriman kepada Nabi Isa.
Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah),
ketika Aku ilhamkan
kepada pengikut-pengikut Isa
yang setia:
'Berimanlah kamu
kepada-Ku dan kepada
rasul-Ku.' Mereka
menjawab: 'Kami telah
beriman dan saksikanlah (wahai
rasul) bahawa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang
patuh (kepada seruanmu).'" (QS. al-Maidah: 111)
Al-Hawariyin mengakui kebenaran
ajaran Nabi Isa
dan mereka menyatakan keislaman kepadanya, sebagaimana
ratu Saba' mengakui kebenaran ajaran Nabi Sulaiman dan
menyatakan keislaman padanya, dan sebagaimana
semua para nabi menyatakan keislaman. Hakikat
ajaran para nabi
terbatas kepada pernyataan
keislaman dan semua nabi menyeru kepada jalan tauhid dan jalan Islam. Islam
dalam pandangan kami memiliki makna yang lebih dalam daripada tauhid. Pengakuan seseorang terhadap
Allah SWT dan
keimanan akan keesaan-Nya dalam
menciptakan makhluk tidak
mencegah orang itu
untuk berbuat dosa, sedangkan keislaman atau penyerahan hati dan anggota
badan serta pemikiran kepada
Allah SWT merupakan
suatu tingkatan sedikit
lebih tinggi. Ini adalah
tingkat kepatuhan orang-orang yang
patuh dan puncak ketauhidan orang-orang yang
bertauhid. Itu adalah keserasian antara tindakan dengan fikiran,
yaitu usaha manusia
untuk menghindari kesalahan dan memurnikan amal
hanya untuk Allah
SWT. Al-Quran al-
Karim memberitahu kita bahawa
Allah SWT menyampaikan wahyu kepada al-Hawariyin agar mereka beriman kepadanya
dan kepada Rasul-Nya Isa. Marilah
kita renungkanlah sejenak
tentang wahyu Allah
SWT terhadap Hawariyin. Kita
mengetahui bahawa Allah
SWT mewahyukan kepada
manusia dan kepada makhluk-makhluk lainnya.
Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
mewahyukan kepada lebah..." (QS. an-Nahl: 68) Yang dimaksud dengan wahyu
di sini adalah memberikan ilham kepada makhluk agar mereka
menuju ke jalan
fitrahnya yang telah
Allah SWT gariskan
di atasnya sehingga mereka mencapai jalan kesempurnaan. Tidakkah Anda
ingat tentang jawapan Nabi Musa terhadap pertanyaan Fira'un: "Fir'aun
berkata: 'Siapakah Tuhan kamu berdua wahai Musa. " (QS. Thaha: 49)
"Musa berkata: 'Tuhan
kami ialah (Tuhan)
yang telah memberikan
kepada tiap-tiap sesuatu bentuk
kejadiannya kemudian memberinya
petunjuk. " (QS. Thaha: 50)
Makna di sana dan di sini sama. Makna yang sama tersebut diterapkan kepada kaum
Hawariyin di mana wahyu Allah SWT terhadap mereka berupa pemberian ilham kepada
mereka demi kebaikan
mereka dan kebahagiaan
mereka, dan wahyu ini tidak
bertentangan dengan ikhtiar mereka dan usaha mereka serta keinginan mereka,
bahkan tidak bertentangan dengan kebebasan mereka. Allah SWT telah
melihat hati mereka
yang dipenuhi dengan
kebaikan. Dia melihat mereka sebagai
garam bumi, maka
Allah SWT mewahyukan
kepada merekaagar beriman
kepadanya dan rasul-Nya
sehingga mereka pun
beriman dan mereka pun
bersaksi bahawa mereka
orang-orang yang berserah
diri atau Muslim. Tampaknya kaum
Hawariyin menyembunyikan keimanan
mereka sehingga Isa merasakan kekufuran kaumnya
semakin menjadi-jadi lalu
Isa memanggil mereka: "Siapakah di
antara kalian yang
menolong aku menuju
jalan Allah SWT?" Allah SWT
berfirman: "Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani
Israil) berkatalah dia: 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk
menegakkan (agama) Allah?' Para Hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab:
'Kamilah penolong-penolong
(agama) Allah. Kami
beriman kepada Allah;
dan saksikanlah bahawa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang menyerahkan diri.
Ya Tuhan kami,
kami telah beriman
kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami
ikuti rasul, kerana itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang- orang yang
menjadi saksi.'" (QS. Ali 'Imran: 52-53) Nas Al-Quran menunjukkan bahawa
Nabi Isa mengajak mereka untuk mengikuti Islam
sehingga mereka pun berserah
diri;
Nabi Isa menyampaikan khabar tentang kedatangan Nabi
Muhammad
nas Al-Quran menegaskan
bahawa Nabi Isa menyampaikan khabar gembira dengan kedatangan seorang
rasul yang datang setelahnya yang bernama Ahmad. Dikatakan dalam Al-Quran:
"Dan (ingatlah) ketika
Isa putera Maryam
berkata:
'Hai Bani
Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab
yang turun sebelumku, yaitu
Taurat dan memberi
khabar gembira dengan (datangnya) seorang
rasul yang akan
datang sesudahku, yang
namanya Ahmad (Muhammad).' Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka
dengan membawa bukti-bukti yang
nyata, mereka berkata:
'Ini adalah sihir
yang nyata.'" (QS. Shaff: 6) Kita tidak mengetahui secara pasti
kapan Nabi Isa menyampaikan khabar berita tentang kedatangan seorang
rasul ini yang
datang setelah masanya,
yaitu Ahmad saw. Apakah
khabar berita itu
beliau sampaikan dipermulaan pengutusannya kepada manusia,
atau apakah beliau menyampaikan khabar itu pada akhir
masa dakwahnya dan
sebelum beliau diangkat
ke langit? Tetapi melihat konteks Al-Quran tampaknya
khabar berita tersebut itu disampaikan di permulaan dakwahnya, sebagaimana
firman-Nya: "Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: 'lni adalah sihir yang nyata.'"
Kata ganti (dhamir)
dalam ayat
tersebut kembali kepada
Nabi Isa.
Ayat tersebut menunjukkan bahawa Nabi Isa menyampaikan khabar gembira
dengan datangnya Muhammad atau
Ahmad ketika Allah
SWT mengutus kepada kaumnya.
Kemudian terjadilah di hadapan Nabi Isa berbagai macam
mukjizat yang luar biasa
seperti penghidupan orang
yang mati, peniupan
tanah, dan sebagainya. Ketika
Nabi Isa datang membawa bukti- bukti yang jelas ini, maka mereka menuduhnya
bahawa ia membawa sihir. Nabi Isa mengetahui bahawa tuduhan semacam
ini telah dialamatkan
kepada sebahagian besar
para nabi sebelumnya. Beliau
juga mengetahui bahawa
nabi yang terakhir
pun akan mendapatkan tuduhan
yang sama. Oleh kerana itu, nabi yang mulia itu tetap berdakwah di jalan Allah
SWT dan tidak peduli dengan tuduhan kaumnya yang mengatakan bahawa beliau
membawa sihir. Kemudian
pertentangan antara Nabi
Isa dan Bani
Israil semakin meningkat. Mereka adalah
orang-orang yang hatinya
keras, yang membeku
di hadapan kebenaran. Isa
datang kepada mereka
dan menghancurkan segala
pemikiran mereka dan kehidupan
mereka serta sistem
mereka. Sesungguhnya dakwah Nabi
Isa terfokus kepada
kebenaran, kedamaian dan
keadilan dan pada
saat yang sama mengumumkan
peperangan terhadap kehidupan
orang-orang yang lalim yang
telah menjauhi kebenaran.
keadilan, dan kedamaian.
Ajaran Nabi dan Rasul
Injil Mata menyebutkan melalui lisan
Isa: "Janganlah kalian
mengira bahawa aku membawa kedamaian ke
muka bumi. Aku
tidak datang hanya
membawa kedamaian tetapi aku datang membawa pedang." Kalimat
tersebut menyiratkan hakikat yang penting dari hakikat dakwah para nabi. Para
nabi adalah pejuang sejati di mana senjata yang mereka gunakan di medan peperangan
beraneka ragam. tetapi
mereka pada hakikatnya
adalah pejuang.
Mereka memulai
peperangan mereka dengan
satu pemikiran
yaitu suatu tekad mengatakan bahawa tiada Tuhan selain Allah SWT.
Pemikiran itu tentu berbenturan dengan
kepercayaan akan tuhan-tuhan
yang diyakini oleh manusia, baik
tuhan-tuhan yang terbuat
dari emas atau
batu. Pemikiran itu sangat
mengganggu ketenangan orang-orang
yang lalim atau
penguasa yang bengis serta
sangat melawan kepentingan mereka, sehingga para raja dan para penguasa seperti
biasanya bergerak menentang nabi
kecuali orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
Para pembesar dari kalangan kaum nabi menentang nabi.
Al-Mala' adalah para
pembesar sebagaimana telah kamijelaskan dalam
kisah Nabi Nuh
dan sesudahnya.
Kemudian
Nabi terus melangsungkan peperangan mewujudkan tekadnya: Nabi
meletakkan dasar
peperangannya dengan menyampaikan ketuhanan Allah SWT. Setelah meneguhkan dasar
yang kuat ini,
Nabi menetapkan keadilan.
Tak seorang pun berhak untuk menghinakan seseorang atau menjadikannya
sebagai budak kerana penghambaan hanya pantas ditujukan kepada Allah SWT.
Manusia adalah sama di
antara mereka sehingga
tidak berhak seseorang untuk memanfaatkan kekuatan manusia
untuk membangun kejayaan peribadinya atau untuk
memperkaya dirinya dengan
merugikan orang lain,
atau menghancurkan hak-hak mereka
atau berbuat buruk
terhadap mereka dalam berbagai bentuknya. Jadi,
inti dakwah para
nabi berarti mengganti dan mengubah sistem
yang rosak yang
didirikan oleh para
pembesar kaumnya. Kalau begitu,
ia adalah dakwah yang menyatakan peperangan dan kerana itu seseorang nabi
harus membawa senjata. Setelah
meneguhkan pemikiran
tersebut, dimulailah peperangan. Seorang
nabi menggunakan pedang. Ia berlindung di
balik senjata dan senjata yang
dimiliki oleh setiap
nabi berbeza-beza. Mula-mula
seorang nabi tidak
menggunakan senjata apa
pun dalam peperangannya selain
berusaha untuk membangkitkan akal.
Lalu peperangan semakin meningkat
sehingga nabi terpaksa untuk menggunakan senjata. Para musuh memaksanya untuk
menggunakan senjata sehingga
para nabi pun menggunakan senjata. Di
sini setiap nabi
mempunyai senjata yang berbeza-beza.
Terkadang
senjata seorang nabi
berupa mukjizat yang
dapat menghentikan langkah dan menghancurkan mereka seperti taufan
(kisah Nabi Nuh) atau angin
(kisah Nabi Hud),
dan terkadang senjata
para nabi adalah mukjizat yang membantunya untuk
mengalahkan musuh-musuhnya secara pasti seperti ditundukkannya jin
dan burung baginya
(kisah Nabi Sulaiman)
dan senjata nabi berupa
mukjizat yang menyelamatkannya dari
tipu daya musuh seperti berubahnya api
menjadi sesuatu yang
dingin dan membawa keselamatan (kisah Nabi Ibrahim)
dan terkadang senjata nabi yang luar biasa yang memperkuat
dakwahnya seperti menghidupkan orang-orang
yang mati (kisah Nabi Isa) dan
terkadang senjata nabi berupa pedang yang dipegang di tangannya saat
ia melangsungkan peperangan dan
mempertahankan dakwahnya (kisah Nabi Muhammad saw). Jadi, senjata
para nabi berbeza-beza, baik
dalam bentuk kualiti
mahupun kapasitinya. Allah SWT
mengetahui kondisi mereka
lebih dari apa
yang kita ketahui sehingga
Allah SWT sangat
tepat ketika memilihkan
senjata untuk setiap nabi.
Dan tak seorang nabi pun yang tinggal di suatu tempat
sementara ia tidak berjuang
dan tidak bergerak
dan tidak mengalami
penderitaan dari kaumnya. Oleh
kerana itu, sesuai
dengan kadar kesabaran
para nabi dan perjuangan mereka dalam menyampaikan
dakwah di jalan Allah SWT, mereka layak untuk mendapatkan tempat yang istimewa
di sisi Allah SWT. Isa bin Maryam
telah menyampaikan bahawa
beliau adalah seorang
pejuang yang membawa senjata. Kata-katanya sendiri
berusaha menghancurkan
masyarakat yang keras, masyarakat yang bodoh. Masyarakat di zaman Nabi Isa
berdiri di atas kesalahan, kesyirikan, kebohongan, kemunafikan, meterialisme,
pamrih, kelaliman dan tidak ada kebebasan. Maka melalui kalimat-kalimatnya,
Nabi Isa menghancurkan semua
ini. Nabi Isa
memberitahu kaumnya bahawa dakwahnya di jalan Allah SWT bukan
terfokus pada dakwah kedamaian tetapi dalam
hal-hal tertentu dakwahnya pun
berisi pernyataan perang.
Sesuatu menjadi tidak bernilai
ketika tidak berusaha
dipertahankan oleh yang bersangkutan sampai titis darah
penghabisan. Timbulnya pemikiran- pemikiran, nilai-nilai dan
prinsip-prinsip tidak hanya
bersandar kepada idealismenya tetapi nilainya justru
bersandar kepada usaha keras yang dikerahkan oleh para pembawanya dalam rangka
mempertahankannya.
Tanpa
peperangan dan mengangkat
senjata dakwah para nabi akan menjadi pemikiran-pemikiran yang sekadar
idealisme yang tidak akan menghentikan seseorang pun dan tidak akan
membangkitkan seseorang pun. Kita mengetahui bahawa sebahagian besar nabi
berhadapan dengan kelompok besar dari masyarakat yang
menentangnya dan berusaha
memeranginya. Mula-mula
mereka mengejeknya dan
pada akhirnya mereka
berusaha untuk membunuhnya. Kita
mengetahui bahawa para
nabi berusaha mati-matian untuk memperjuangkan kebenaran
yang dibawanya. Melalui
kisah para
nabi, kita mengetahui bahawa bagaimana serangan masyarakat, para
pembesar, dan para penguasa terhadap para nabi tetapi pada saat yang sama kita
seakan-akan tidak melihat bagaimana serangan para nabi terhadap mereka.
Penjelasan dari hal itu sangat mudah. Peperangan yang
dibangkitkan oleh kebatilan atas para nabi
didukung oleh alat-alat
yang canggih dan
sangat kuat di
mana mereka memiliki berbagai
macam sarana untuk
menjatuhkan para nabi,
sedangkan para nabi
hanya menyandarkan kekuatan
dari yang Maha
Benar, yaitu Allah SWT; kekuatan yang tidak berdasarkan
pada sebab- sebab tertentu atau tidak peduli dengan tuduhan-tuduhan atau
kegaduhan. Para nabi hanya
terus melangsungkan dakwahnya
yang berdasarkan kepada usaha membangkitkan akal
dan hati serta
menyucikan roh. Keteguhan
sikappara nabi ini
bagi musuh-musuh mereka
merupakan masalah yang
besar.
Dakwah nabi juga
menjamah suatu keluarga
di mana seorang
ayah dapat beriman sementara
seorang anak dapat
menentang atau seorang
anak dapat beriman sementara si
ayah dapat menentang atau seorang isteri beriman atau seorang suami
kafir atau seorang
suami beriman sementara
si isteri kafir. Perbezaan anak laki-laki dengan
ayahnya dan seorang isteri dengan suaminya menimbulkan permusuhan di dalam
rumah-rumah. Dengan terjadinya hal ini, masyarakat bergerak untuk
menentang nabi
dan semakin meningkatkan tekanan-tekanan mereka kepadanya sehingga
permusuhan dan kebencian mereka kepada nabi semakin
meruncing. Mereka pun berusaha untuk melawan nabi itu yang bagi mereka telah
memisahkan antara ayah dan anaknya atau ia datang untuk memisahkan seorang anak
perempuan dari ibunya.
Kemudian
seorang nabi meletakkan suatu
undang-undang bagi orang
yang mengikutinya, yaitu undang-undang pokok yang membatalkan undang-
undang yang tidak sesuai dengannya. Undang-undang ini tampak dalam kalimat
nabi:
"pertama-tama cinta kepada Allah dan kemudian cinta
kepada nabi dan setelah itu cinta kepada sesama manusia." Makna-makna yang
demikian ini tercermin secara
jelas dari kalimat-kalimat Isa
yang disampaikan oleh
Injil Mata pada pasal ke-10. Al-Masih berkata:
"Janganlah engkau mengira
bahawa aku datang
membawa kedamaian di bumi,
aku datang bukan
hanya membawa kedamaian tetapi pedang. Aku datang untuk menjadikan
seorang anak berbeza dengan ayahnya dan
seorang anak perempuan berbeza dengan
ibunya sehingga musuh seseorang justru terdapat pada
keluarganya. Maka barang siapa yang mencintai ibunya dan ayahnya lebih dari
kecintaannya kepadaku, maka ia tidak berhak mencintaiku, dan
barang siapa yang
mencintai anak laki-lakinya dan perempuannya lebih
dariku, maka ia
tidak berhak mengikutiku. Meskipun kehidupannya tampak
beruntung sebenarnya ia
telah rugi, dan
barang siapa yang kehidupannya
merugi kerana aku, maka sebenarnya ia telah beruntung." Penjelas Injil
mengatakan: "Pemikiran orang-orang
Yahudi tentang al-
Masih adalah, ketika al-Masih
datang, maka semua
pengikutnya akan merampas kekayaan dan kejayaan di dunia ini
lalu ia hanya memberi mereka ketenangan dan kedamaian.
Ajaran Nabi Isa AS
ketika al-Masih datang,
maka semua pengikutnya akan
merampas kekayaan dan kejayaan di dunia ini lalu ia hanya memberi mereka
ketenangan dan kedamaian. Ketika al-Masih datang, ia menjelaskan kepada para
muridnya bahawa hal tersebut
tidak benar, kerana
jika ia datang
untuk memberikan kedamaian
kepada para pengikutnya, maka mereka akan terancam kelaliman dan mereka akan
mati kerana tajamnya pedang. Maka hendaklah mereka tidak mengharapkan kedamaian tetapi
peperangan; hendaklah mereka
tidakmengharapkan keserasian tetapi perpecahan." Demikianlah
masyarakat Yahudi terbagi menjadi dua kelompok: kelompok orang-orang yang
fakir, orang-orang yang lemah dan
orang-orang yang bersih
hatinya bersama Isa,
sedangkan kelompok majoriti menentang
Isa. Bahkan kelompok
majoriti kafir itu
sering menyakiti Isa. Injil
Mata menceritakan penderitaan al-Masih pada
pasal ke-11. Ia menceritakan bagaimana kemarahan
al-Masih terhadap orang-orang yang tidak mengabdi kepada
Yuhana (Yahya) dengan
baik atau mengabdi
kepadanya secara peribadi dengan
baik. Injil Mata
mengutip pernyataan Isa
sebagai berikut:
"Dengan apa aku
menyerupakan
generasi ini, Sesungguhnya mereka menyerupai anak-anak kecil
yang duduk di
pasar yang berteriak-teriak memanggil teman-teman
mereka sambil berkata: "Kami telah meniup seruling tetapi kalian
tidak menari. Kami
mengasihi kalian tetapi
kalian tidak
menangis." Yuhana telah
datang dan tidak
makan dan minum
tetapi mereka mengatakan, sesungguhnya ia
terkena syaitan. lalu
datanglah seorang anak manusia yang makan dan minum lalu
mereka mengatakan, ia adalah seorang yang ahli makan dan ahli minum
khamer." Dokumen itu menunjukkan penderitaan al-Masih dan menyingkap
peperangan yang akan dihadapinya. Penderitaan yang
dialami oleh hati
suci al-Masih adalah sebagai
tindakan generasi tersebut di mana beliau diutus di dalamnya sebagai orang
yang memberi petunjuk dan
menyampaikan berita gembira tentang kerajaan
langit.
Beliau
menyerupakan generasi Yahudi
itu dengan anak-anak kecil yang
duduk- duduk di pasar sambil berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka sambil
berkata: "kami telah
meniup seruling tetapi kalian tidak
menari.
Kami berbelas
kasih kepada kalian
tetapi kalian tidak menangis." Al-Masih
mengisyaratkan dengan pernyataan itu tentang apa yang diperbuat anak-
anak kecil saat
mereka bermain-main, di
mana biasanya mereka meniru
orang-orang yang besar
saat mereka bergembira dengan menari-nari dan
saat mereka sedih
mereka menangis. Demikianlah
mereka sangat cepat berubah
antara bergembira dan
sedih tanpa melalui pertimbangan dan
kesedaran. Demikianlah keadaan
orang-orang Yahudi saat mereka mengabdi kepada Yahya, kemudian
saat mereka mengabdi kepada al- Masih.
Yahya telah datang
kepada mereka dalam
keadaan menangis, tidak makan dan tidak minum dari apa yang
mereka makan dan yang mereka minum. Ia
tidak bergaul dengan
sembarangan manusia. Telah
datang kepada mereka seorang nabi
yang ahli ibadah
tetapi kebanyakan mereka
menolaknya dan mereka mengatakan bahawa
ia terkena syaitan.
Kemudian datang kepada mereka al-Masih
di mana ia makan
dan minum bersama
pada acara walimahdan
hari raya lalu
mereka pun menolaknya
dan mengatakan bahawa
ia suka makan dan
minum khamer padahal
beliau adalah cermin terbesar
dalam menghilangkan syahwat dan kesucian yang sempurna. Alhasil,
generasi itu adalah generasi yang main-main Iayaknya anak kecil. Tidak ada sesuatu
pun yang dapat
mempengaruhi mereka dan
mereka tidak mau bertaubat. Meskipun demikian, di sana
terdapat kelompok kecil dari manusia yang
terpengaruh dan bertaubat.
Dokumen tersebut menunjukkan betapa beratnya penderitaan Isa di
tengah-tengah generasi yang sezaman dengannya. Isa mengalami banyak
penderitaan dalam menyampaikan dakwahnya.
Isa banyak menderita
di tengah-tengah kaum yang fikiran mereka belum matang. Mereka tak ubahnya
seperti anak- anak kecil yang suka bermain-main. Kaum yang tak tergugah oleh
kalimat-kalimat yang baik dan mereka tidak bergerak atau tersentuh ketika
menyaksikan mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Allah SWT
kembali memperkuat Isa
dengan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan. Mukjizat di
sini adalah senjata
yang diberikan Allah
SWT kepada nabi-Nya agar
nabi tersebut menjadi
tenteram dan agar
menambah keyakinan
orang-orang yang beriman
kepadanya, sedangkan bagi orang-orang kafir mukjizat
tersebut justru menambah
kekufuran mereka sehingga
Allah SWT memberikan pembalasan yang setimpal kepada kedua kelompok
tersebut. Mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Isa bin Maryam yang lain
adalah, Allah SWT mengabulkan doa
Hawariyin dengan menurunkan
makanan dari langit. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa
berkata: 'Hai Isa
putera Maryam, bersediakah Tuhanmu
menurunkan hidangan dari
langit kepada kami?'
Isa menjawab: 'Bertakwalah kepada
Allah jika betul-
betul kamu orang
yang beriman.' Mereka berkata:
'Kami ingin memakan
hidangan itu dan
supaya tenteram hati kami
dan supaya kami
yakin bahawa kamu
telah berkata benar kepada
kami, dan kami
menjadi orang-orang yang
menyaksikan hidangan itu.' Isa
putera Maryam berdoa:
'Ya Tuhan kami,
turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari
turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama
kami dan yang datang sesudah
kami, dan menjadi
tanda bagi kekuasaan-Mu:
beri rezekilah
kami dan Engkaulah
Pemberi rezeki Yang
Paling Utama.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan
menurunkan hidangan itu
kepadamu, barang siapa yang
kafir di antaramu
sesudah (turun hidangan)
itu, maka sesungguhnya Aku
akan menyeksanya dengan
seksaan yang tidak
pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.'"
(QS. al-Maidah: 112-115)
Barangkali kita terhairan-hairan ketika
memperhatikan perkataan Hawariyin, "wahai Isa bin Maryam,
apakah Tuhanmu mampu?" Mungkin pertama-tama yang terlintas dalam
fikiran kita berkenaan
dalam ayat tersebut
adalah, keraguan Hawariyin
terhadap kekuatan atau
kekuasaan Allah SWT.
Bagaimana hal itu mampu mereka laku-kan
sedangkan mereka adalah
murid-murid Isa yang beriman
dan berserah diri
kepada Allah SWT?
Berkaitan dengan tafsir
ayat tersebut, para ulama
berbeza pendapat. Sebahagian ulama
mengatakan, bahawa
pertanyaan mereka 'apakah Tuhanmu mampu?' Yakni, berarti apakah Tuhanmu bisa?
Kemudian mereka mencarikan alasan
yang membenarkan perkataan Hawariyin itu
dengan mengatakan bahawa pertanyaan itu dilontarkan saat
mereka baru saja
mengikuti Isa, sebelum
mereka banyak mengetahui Allah
SWT. Oleh kerana
itu, Isa berkata
dalam jawapannya terhadap pertanyaan mereka,
bertakwalah kepada Allah
SWT jika kamu benar-benar orang mukmin. Yakni,
janganlah kalian meragukan kekuasaan atau kekuatan Allah SWT. Qurthubi menampik
tafsir ini. Hawariyin
adalah para penolong
Allah SWT, sesuai dengan
nas Al-Quran dan
tentu tidak boleh
bagi penolong Allah
SWT untuk tidak mengetahui kekuatan-Nya, apalagi
meragukan kekuasaan-Nya.
Sebahagian ulama mengatakan bahawa perkataan tersebut dikeluarkan orang-orang yang
bersama Hawariyin yang
berasal dari Bani
Israil dan tidak seorang pun dari Hawariyin yang
mengatakan demikian kecuali mereka hanya sekadar menukil perkataan tersebut.
Ada pendapat lain lagi yang mengatakan bahawa ayat
tersebut tidak dibaca
'hal yastathi' rabbuka'
tetapi dibaca 'hal tastathi' rabbaka'
sebagaimana bacaan Aisyah
dan sebagaimana dibaca
oleh Nabi. Maknanya, "apakah engkau
mampu menghadirkan kekuatan Tuhanmu terhadap apa
yang engkau minta." Ada
pendapat yang lain
mengatakan ia dibaca 'hal
tastathi' rabbaka', yakni
"apakah engkau mampu
untuk berdoa kepada Tuhanmu atau
meminta-Nya." Sebahagian
kaum sufi berpendapat bahawa kaum
Hawariyin bukan tidak mengetahui kekuasaan Allah SWT
tetapi pertanyaan itu justru bersumber dari cinta kepada Allah SWT dan
keinginan menyaksikan kekuasaan Allah SWT. Sikap mereka ini
menyerupai dengan perbezaan
tingkatan sikap Nabi
Ibrahim as ketika beliau
mengatakan: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau
menghidupkan orang-orang mati?' Allah berfirman: 'Apakah kamu belum
percaya?' Ibrahimmenjawab: 'Saya telah percaya, tetapi agar bertambah mantap
hatiku.'" (QS. al-Baqarah: 260) Oleh
kerana itu, kaum
Hawariyin berkata: "Dan
hati kami menjadi
mantap," sebagaimana
Nabi Ibrahim berkata:
"Agar bertambah mantap
hatiku." Inilah tafsir yang
membuat kita puas
dan membuat hati
kita tenang. Nabi
Isa menjawab pertanyaan mereka:
'Bertakwalah kepada Allah
jika betul-betul kamu orang yang
beriman.' Yakni, hati-hatilah kalian dengan banyak bertanya dan menguji Allah
SWT kerana kalian tidak mengetahui apa yang boleh kalian minta untuk
didatangkan bukti- bukti
kekuasaan Allah SWT.
Perkataan Nabi Isa, jika kalian
benar-benar beriman terfokus kepada apa yang dibawanya yang berupa mukjizat-
mukjizat atau tanda-tanda
kebesaran Allah SWT.
Nabi Isa bermaksud untuk
mengatakan, sesungguhnya apa
yang telah aku
bawa dari mukjizat- mukjizat
bagi kalian seharusnya
sudah cukup membuat
hati kalian mantap. "Mereka berkata:
'Kami ingin memakan
hidangan itu dan
supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahawa kamu telah
berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan
hidangan itu.'" Kaum
Hawariyin menjelaskan kepada
Isa sebab pertanyaan mereka ketika beliau melarangnya. Jika Nabi Isa
keluar, maka beliau diikuti lima ribu orang atau lebih. Sebahagian mereka dari
kalangan Hawariyin dan sebahagian yang lain campuran di antara pengikutnya dan
musuhnya.
Dikatakan bahawa
mereka berpuasa dan mereka tidak mempunyai makanan, lalu para pengikut berkata
kepada kaum Hawariyin, "Tanyalah kepada
Isa apakah ia
mampu berdoa kepada Tuhannya sehingga
diturunkan kepada kita
makanan dari langit." Kemudian kaum Hawariyin pergi dengan
membawa surat kaum itu kepada Isa. Ketika
Isa meminta mereka
untuk merasa cukup
dengan mukjizat-mukjizat
sebelumnya, mereka kembali
melontarkan kebenaran permintaan mereka: 'Kami ingin
memakan hidangan itu.
Mereka adalah orang-orang
yang lapar sementara mereka
tidak mempunyai makanan. Dan supaya tenteram hati kami. Hati kaum Hawariyin
menjadi tenang seperti tenangnya hati Ibrahim. Dan para pengikut pun
merasa hatinya tenang
dan mengakui bahawa
Isa adalah Nabi yang diutus untuk mereka.
Dan hati musuh juga menjadi tenang kerana mereka menyaksikan
kebatilan mereka sehingga pilihan mereka untuk tidak mengikuti Isa berakibat
pada suatu saat mereka akan diminta pertanggungjawaban. "Dan supaya kami
yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami. Yakni kami mengetahui bahawa
engkau utusan Allah. Dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan
hidangan itu. Yakni,
kami menyaksikan keesaan
Allah danrisalah dan kenabianmu.
Dan bagi orang lain yang tidak menyaksikannya, maka kami akan menceritakan
kepada mereka peristiwa yang terjadi." Isa putera Maryam berdoa: 'Ya Tuhan
kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu
hidangan dari langit
(yang hari turunnya)
akan menjadi hari
raya bagi kami yaitu bagi
orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi
tanda bagi kekuasaan-Mu: beri
rezekilah kami dan
Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.' Ketika kaum
Hawariyin bertanya kepada
Isa bin M
aram agar diturunkan makanan dari langit, maka Nabi
Isa berdiri dan meletakkan pakaian dari kulit wol kemudian beliau melangkahkan
kakinya dan meletakkan tangan kanannya di
atas tangan kirinya,
lalu beliau menundukkan
kepalanya dalam keadaan khusyuk dan tunduk kepada Ala SWT.
Kemudian beliau membuka matanya dan menangis sehingga air
matanya membasahi janggutnya bahkan
mencapai dadanya dan berkata: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit...
Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku
akan menurunkan hidangan itu
kepadamu. Lalu turunlah makanan besar dari celah dua awan: satu awan di atasnya
satu awan di bawahnya. Saat itu manusia melihatnya. Nabi Isa berkata, "Ya
Allah jadikanlah makanan ini
sebagai rahmat dan
jangan menjadi fitnah." Lalu turunlah di depan Nabi Isa sapu tangan
yang menutupinya kemudian Nabi Isa tersungkur
dalam keadaan sujud
yang diikuti oleh
kaum Hawariyin.
Mereka mendapati
suatu bau yang
harum yang belum
pernah mereka temukan sebelumnya. Nabi Isa
berkata, "Siapakah di
antara kalian yang
paling ikhlas dan
paling percaya kepada Allah
SWT agar ia
membuka makanan itu
sehingga kita bisa makan darinya
serta berzikir kepada
Allah SWT atasnya
serta bersyukur
kepadanya." Kaum Hawariyin
berkata: "Wahai Ruhullah
sesungguhnya engkau lebih berhak
daripada kami dalam hal itu.", maka Nabi Isa berdiri lalu beliau mengambil
wuduk dan solat. Kemudian beliau banyak berdoa sambil duduk di sisi makanan
itu dan membukanya.
Tiba- tiba di
atas makanan itu
terdapat ikan yang lezat
yang tidak ada
durinya. Nabi Isa
ditanya: "Wahai Ruhullah, apakah ini
makanan dari dunia
atau dari syurga?" Nabi
Isa menjawab: "Bukankah
Tuhan kalian melarang kalian untuk bertanya pertanyaan semacam ini. Ia
turun dari langit
dan tidak ada
makanan sepertinya di
dunia dan ia bukan
berasal dari syurga
tetapi ia adalah
sesuatu yang Allah
SWT ciptakandengan kekuasaan
yang luar biasa
di mana Dia
cukup mengatakan "jadilah, maka jadilah." Para mufasir
berbeza pendapat sekitar
bentuk makanan yang
diturunkan kepada Isa, apakah itu ikan atau daging? Apakah roti atau
buah-buahan? Kami memandang
bahawa
pembahasan-pembahasan
ini kurang penting.
Sesuatu yang paling penting yang perlu kita perhatikan adalah apa yang
dikatakan oleh Nabi Isa, Sesungguhnya
ia diciptakan oleh
Allah SWT dengan
kekuasaan yang mengagumkan di
mana Dia cukup mengatakan "Jadilah, maka jadilah ia." Inilah hakikat
makanan tersebut. Ia
merupakan tanda-tanda kebesaran
Allah SWT yaitu suatu
tanda yang Allah
SWT mengancam bagi
siapa yang menentangnya Dia
akan menyeksanya dengan
azab yang belum
pernah diterima oleh seseorang
pun di dunia.
Para ulama berbeza
pendapat apakah makanan tersebut
memang diturunkan atau
tidak, tetapi menurut
pendapat majoriti dan ini
yang benar makanan
tersebut memang diturunkan,
sesuai dengan firman Allah SWT: "Aku akan menurunkan hidangan itu
bagimu. " Dikatakan bahawa ribuan
pengikut Nabi Isa
memakannya dan makanan tersebut tidak habis. Setiap orang
yang buta ia sembuh dari butanya dan setiap orang yang
belang ia sembuh
dari belangnya akibat
memakan hidangan itu.
Alhasil,
setelah menyantap makanan itu,
orang yang sakit
sembuh dari penyakitnya. Maka
hari turunnya makan
itu dijadikan hari
raya dari hari raya-hari raya
kaum Hawariyin dan
para pengikut Nabi
Isa. Kemudian berita dan peristiwa turunnya makanan itu
mulai hilang dan mulai dilupakan sehingga kita
tidak menemukan beritanya hari
ini di Injil-
Injil yang mereka
akui. Setelah peristiwa makanan yang Allah SWT ceritakan dalam surah
al-Maidah, Allah SWT menunjukkan kepada kita sikap lain dari Nabi Isa bin
Maryam. Allah SWT berkata setelah
menceritakan kepada kita
tentang turunnya mukjizat makanan dari langit: "Dan
(ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia:
'Jadikanlah aku dan
ibuku dua orang Tuhan selain Allah!'
Isa menjawab: 'Maha
Suci Engkau, tidaklah
patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku
pernah mengatakannya,
maka tentulah Engkau
telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang
ada pada diriku dan
aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya
Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib.
Aku tidak pernah
mengatakan kepada mereka
kecuali apa yang Engkau beri padaku (mengatakan)nya
yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku
berada di antara mereka. Maka
setelah Engkau wafatkan
aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan
Engkau adalah Maha
Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyeksa mereka,
maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika
Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.' Allah berfirman: 'lni
adalah suatu hari
yang bermanfaat bagi
orang-orang yang benar kebenaran
mereka. Bagi mereka
syurga yang di
bawahnya mengalir sungai- sungai;
mereka kekal di
dalamnya selama-selamanya; Allah
redha terhadap mereka dan
mereka pun redha
terhadap-Nya.
Itulah keberuntungan
yang paling besar.' Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan
apa yang ada
di dalamnya; dan
Dia Maha Kuasa
atas segala sesuatu. " (QS.
al-Maidah: 116-120) Dengan ayat-ayat tersebut,
Al-Quran menutup surah
al-Maidah. Demikianlah
konteks Al-Quran berpindah secara
mengejutkan dari turunnya
makanan kepada sikap atau
dialog antara Allah
SWT dan Isa
bin Maryam pada
hari kiamat. Allah SWT bertanya pada hari kiamat: 'Hai Isa putera Maryam,
adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang
tuhan selain Allah?' Para ahli ilmu sepakat bahawa pertanyaan tersebut bukan
bersifat pertanyaan murni meskipun tampak
dalam bentuk pertanyaan kerana
Allah SWT mengetahui apa
yang dikatakan oleh
Isa. Tentu yang
dimaksud dengan pertanyaan itu
adalah sesuatu yang lain. Ada yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud
memberitahu Isa bahawa kaumnya telah mengubah ajarannya sepeninggalannya. Dan
mereka telah mendapatkan fitnah.
Ada lagi yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud
dari pertanyaan itu untuk mencela orang-orang yang mengubah akidah Nabi Isa
setelah beliau tidak ada. Kami kira pertanyaan tersebut memuat dua makna dan
mencakup makna yang lain.
Kesaksian Nabi Isa dan ketundukannya kepada Allah SWT
Allah SWT ingin menyingkap dan memberitahu manusia dalam
Kitab-Nya yang terakhir bahawa Nabi Isa terlepas dari berbagai macam tuduhan,
dan apa saja yang dilakukan kaumnya
sepeninggalannya. Konteks Al-
Quran menunjukkan tentang peristiwa
ghaib yang belum
terjadi meskipun akan terjadi
pada hari kiamat. Oleh kerana
itu, Al-Quran menyampaikannya dalam bentuk fi'il madhi (kata kerja bentuk
lampau). Al-Quran menyampaikan berita ghaib ini kepada penduduk dunia agar
mereka mengetahui hakikat Isa bin Maryam. Allah SWT
bertanya kepadanya dan
Isa bin Maryam
menjawab. Sebagai nabibesar, Isa tidak menjawab kecuali
setelah ia mengatakan: 'Maha Suci Engkau ya Allah.' Sebelum menjawab, Isa
memulai dengan tasbih dan menyucikan Allah SWT. Nabi
Isa menampakkan kepatuhan
dan ketundukan kepada
kemuliaan Allah SWT dan rasa takut terhadap azab- Nya. Qurthubi menyampaikan
dalam tafsirnya: "Ketika Allah SWT berkata kepada Isa, apakah engkau
berkata kepada manusia jadikanlah
aku dan ibuku
tuhan selain Allah,
maka Isa tampak
gementar terhadap perkataan itu sehingga ia mendengar rintihan dari
tulang-tulangnya di dalam jasadnya
lalu ia berkata:
'Maha Suci Engkau,
tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku
(mengatakannya). Tidak mungkin
aku memutuskan
sesuatu yang tidak
aku miliki, yang
diriku tidak dapat melakukannya. Aku hanya seorang
hamba, bukan seorang yang disembah: Jika aku pernah mengatakannya maha tentulah
Engkau telah mengetahuinya.
Demikianlah
Nabi Isa menyampaikan jawapannya
kepada Allah SWT
dan ia mengembalikan sesuatu
kepada Allah SWT.
Dan Allah SWT
Maha Mengetahui terhadap apa
yang dikatakannya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku
tidak mengetahui apa
yang ada pada
diri Engkau. Yakni,
Engkau mengetahui apa yang aku
sembunyikan sedangkan aku
tidak mengetahui apa yang engkau
sembunyikan. Engkau mengetahui rahsiaku dan apa yang terlintas dalam hatiku
dan aku tidak
mengetahui apa yang
Engkau sembunyikan dari ilmu
ghaib-Mu. Sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui perkara
yang ghaib. Hanya Engkau yang
tahu terhadap hal-hal yang ghaib. Hanya Engkau yang tahu terhadap apa yang
terjadi di tengah-tengah mereka setelah Engkau angkat aku dari bumi:
'Aku tidak pernah
mengatakan kepada mereka
kecuali apa yang Engkau kepadaku (mengatakan)nya yaitu:
'Sembahlah Allah, Tuhanku,
dan Tuhanmu.' Demikianlah kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Isa bin
Maryam.
Dia hanya
mengajak manusia untuk
hanya menyembah Allah
SWT dan tidak menyekutukan-Nya: Dan
aku menjadi saksi
terhadap mereka, selama
aku berada di antara mereka. Sesungguhnya Engkau
mengawasi mereka saat
aku tinggal di
tengah- tengah mereka dan
mengajak mereka ke
jalan yang benar.
Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang
mengawasi mereka. Al-Wafat dalam Kitab Allah mempunyai tiga bentuk:
Pertama, wafat dalam
pengertian kematian,
sebagaimana firman Allah SWT:
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya." (QS.
az-Zumar: 42) Yakni ketika tercabutnya ajal.
Kedua, bahawa wafat
adalah tidur, sebagaimana
firman Allah SWT: "Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari. "
(QS. al-An'am: 60) Yakni yang menidurkan kalian.
Ketiga, wafat berarti
pengangkatan, sebagaimana firman Allah SWT: "Hai Isa, sesungguhnya
Aku yang menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.
" (QS. Ali 'Imran: 55) Demikianlah Isa terbebas dari apa yang mereka
katakan dan apa yang mereka nisbatkan
kepadanya. Isa mengumumkan
bahawa dakwahnya tidak
lebih dari sekadar ajakan
untuk bertauhid dan
tidak keluar dari
kerangka Islam yang diakui oleh pengikutnya. Kemudian Isa
kembali menyampaikan pembicaraannya dan meminta belas kasihan kepada Allah SWT:
Jika Engkau menyeksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.
Tidak seorang pun dari makhluk yang mempunyai kekuasaan di
atas-Mu dan tidak
ada Pencipta selain-Mu. Maha
Suci Engkau dan
tiada sekutu bagi-Mu
dalam kerajaan dan kekuasaan. Pada akhirnya, mereka adalah
hamba-Mu dan seorang hamba tidak memiliki
apa-apa di hadapan
tuannya kecuali kepatuhan: Dan
jika Engkau mengampuni mereka,
maka sesungguhnya Engkaulah
Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.' Isa tidak mengatakan
jika Engkau mengampuni
mereka, maka Engkau
Maha Pengampun dan Maha
Pengasih. Jadi, jawapan Isa terfokus
pada penyerahan diri dan
kepatuhan serta tunduk
kepada kemuliaan Allah
SWT dan kebesaran-Nya.
Para pengikut Nabi
Isa adalah hamba-hamba
Allah SWT yang patuh. Jika Allah SWT berkehendak, maka
Dia akan menyeksa mereka sesuai dengan seksaan yang layak mereka terima, dan jika
Dia berkehendak, maka Dia akan mengampuni mereka
kerana Dia mengetahui kerana mereka
memang layak untuk mendapatkan
ampunan. Dengan penyerahan yang
mutlak ini, Isa menyampaikan jawaban
atas pertanyaan Allah
SWT dan beliau
berlepas diri dari apa yang
dikatakan oleh kaumnya sepeninggalannya. Isa menyampaikan - pada awal
pembicaraannya - bahawa hanya Allah SWT yang patut disembah, dan pada akhir
pembicaraannya Isa menyampaikan penyerahan dirinya kepada Allah SWT.
Allah berfirman: 'Ini
adalah suatu hari
yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran
mereka. Allah SWT memuji ketulusan Isa, dan kerana dialog tersebut terjadi pada
hari kiamat, Allah SWT berfirman: "Hari ini adalah hari kiamat di mana
orang-orang yang benar akan dapat mengambil manfaat dari kebenaran mereka di
dunia. Kebenaran mereka di
sana akan mereka
temukan balasannya yang
berupa rahmat di sini. "Bagi mereka syurga yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai; mereka
kekal di dalamnya
selama- selamanya; Allah
redha terhadap mereka dan mereka pun redha terhadap-Nya.
" Demikianlah balasan orang-orang
yang benar, syurga.
Dan ada balasan
yang lebih baik dari syurga, yaitu kepuasan (redha) seorang hamba
terhadap Allah SWT dan keredhaan Allah SWT terhadap hamba. Pengertian kepuasan
seorang hamba adalah kegembiraannya terhadap penyembahan kepada
Allah SWT sedangkan pengertian keredhaan Allah
SWT terhadap hamba-Nya adalah rahmat yang diberikan-Nya kepada
mereka: Itulah keberuntungan yang paling besar.' Setelah
itu Allah SWT,
memberitahukan hakikat Isa
dan seluruh nabi-Nya:
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
dalamnya; dan Dia
Maha Kuasa atas
segala sesuatu." Allah
SWT adalah Penguasa satu-satunya dan
Dia Pencipta satu-satunya. Selain-Nya adalah hamba.
Kisah penyaliban nabi Isa AS
Isa terus melangsungkan dakwahnya sehingga
kejahatan dan keburukan mengetahui bahawa
singgasana mereka terancam
hancur. Lalu pasukan keburukan bergerak
untuk menangkapnya. Orang-orang
Yahudi menyakitinya dan menuduhnya dengan
berbagai macam tuduhan.
Isa dikatakan sebagai penyihir dan
sebagai orang yang
mengubah syariat dan
mereka menisbatkan kekuatannya
yang luar biasa kepada kekuatan syaitan. Ketika mereka tidak lagi memiliki tipu
daya yang dapat
melumpuhkan Nabi Isa
dan mereka melihat orang-orang yang lemah dan
orang-orang fakir berkumpul di sekitarnya, maka mereka mulai
membikin suatu, makar.
Mereka mempengaruhi orang-orang Romawi. Mula-mula pemerintahan Romawi
tidak turut campur
kerana menganggap bahawa perselisihan-perselisihan antara orang-orang Yahudi
adalah perselisihan yang terjadi
demi memperebutkan kepentingan
sesama mereka. Lalu diadakanlah
majlis Sanhadurim (yaitu majlis undang-undang tertinggi dari kalangan Yahudi).
Mereka berkumpul untuk
membuat
persekongkolan demi
menyingkirkan Isa. Persekongkolan itu mengambil bentuk yang baru. Ketika
orang-orang Yahudi tidak mampu memerangi Nabi Isa, mereka berfikir untuk membunuhnya.
Mulailah para
ketua pendeta Yahudi
bermusyawarah untuk membuat suatu
kesimpulan tentang cara
yang mereka lakukan
untuk menangkap Nabi Isa
yang tidak menimbulkan kegaduhan di
tengah-tengah masyarakat. Ketika
para kepala Yahudi
bermusyawarah, maka salah
seorang dari murid al-Masih yang dua belas pergi kepada
mereka, yaitu Yahuda al- Iskhriyutha. Ia berkata kepada
mereka, "Apa yang
kalian berikan jika
aku berhasil menyerahkannya
kepada kalian." "Meja
pengkhianatan telah digelar
di antara mereka
dan dimulailah
perundingan. Orang-orang Yahudi
berusaha mencari titik
temu dan mereka sepakat untuk
memberinya tiga puluh
lempeng dari perak.
Ini adalah harga yang biasa mereka lakukan untuk
membeli seorang budak sesuai dengan syariat Yahudi." (penjelasan Injil
Mata) Selesailah konspirasi yang
menetapkan untuk menangkap al-Masih dan kemudian membunuhnya. Dikatakan bahawa
kepala pendeta Yahudi merobek-robek bajunya
secara dramatis di
suatu pertemuan agama
dan ia berteriak, "sungguh
Isa telah kafir." Pero bukan baju dalam tradisi orang-orang Yahudi dilakukan ketika
mereka mendengar atau
melihat sesuatu yang mengandung penghinaan terhadap Allah.
Para pendeta Yahudi tidak memiliki kekuasaan untuk menetapkan hukum bunuh pada
saat itu. Semua itu dilakukan oleh
kekuasaan penguasa Romawi.
Tetapi
tampaknya mereka berhasil meyakinkan kekuasaan Romawi
bahawa Isa telah
membuat rencana untuk melengserkan kekuasaan
Romawi atau mereka
berhasil meyakinkan penguasa Romawi bahawa masalah yang mereka
hadapi murni berkaitan dengan tradisi mereka dan keyakinan mereka. Kemudian
mereka menyarankan agar penguasa tidak turut campur atas apa yang mereka tetapkan.
Demikianlah konspirasi itu telah
ditetapkan dan telah
diputuskan bahawa Isa
harus ditangkap dan kemudian disalib. Empat Injil
yang diakui oleh
kalangan Masehi saat
ini membicarakan tentang proses pembunuhan
Isa di mana
beliau disalib kemudian
beliau bangkit dari kematiannya dan
naik ke langit.
Semua Injil ini
sepakat tentang prosespenyaliban Isa dan kematiannya,
sebagaimana mereka sepakat tentang tabiat Isa
yang mengandung ketuhanan
yang bercampur dengan
tabiatnya sebagai manusia. Kami
akan menyampaikan keyakinan
orang-orang Masehi berkaitan dengan Isa sebagaimana diyakini
oleh majoriti kaum Nasrani saat ini, kemudian kami akan
mengemukakan keyakinan Islam tentang
Isa sebagaimana diceritakan oleh
Al-Quran al- Karim
dan disampaikan oleh
para ulama dan disebutkan dalam
hadis. Setelah itu,
kita akan membicarakan hal-hal
yang perlu dibicarakan berkaitan
hubungan antara kaum
Muslim dan kaum
Masehi serta kaitannya dengan akidah mereka. Injil Mata
mengatakan, "Isa ditangkap
dan majlis Sanhadirum
memutuskan bahawa ia harus dibunuh. Kemudian para anggota majlis itu
dari kepala-kepala para pendeta dan
para tokoh mereka
menghinanya dan mengejeknya
serta berbuat aniaya terhadapnya bahkan
mereka meludahi wajahnya dan menempelengnya. Sambil
mengejek mereka berkata,
"beritahukanlah wahai
al-Masih siapa yang
memukulmu."
Setelah itu al-Masih
ditangkap
dan ia ditetapkan untuk dibunuh. Adalah sudah
menjadi tradisi di
kalangan orang-orang Romawi
untuk mencambuk orang yang ditetapkan untuk dibunuh sebelum pelaksanaan
hukum tersebut. Oleh kerana
itu, para penguasa
Romawi menetapkan agar
al-Masih dicambuk terlebih dahulu. Sedangkan syariat Musa menetapkan
agar cambukan itu tidak melebihi empat puluh kali, namun orang-orang Romawi
tidak berhenti pada batasan ini bahkan mereka terus mencambuk korban dengan
cambukan yang kejam dan terus- menerus sehingga punggung yang bersangkutan
hampir saja patah dan
nafasnya nyaris tinggal
sedikit. Setelah itu,
mereka mulai melaksanakan hukum
bunuh kepadanya.
Demikianlah
yang dilakukan oleh tentera terhadap penyelamat kita.
(Injil Mata 26) Selesailah proses pecambukan, lalu penguasa Romawi menyerahkan
Isa kepada tentera agar
mereka menyalibnya. Kemudian
para tentera membuat
sesuatu hal yang bermaksud
untuk menghibur. Mereka
mencabut pakaian Isa
yang dilumuri dengan darah yang ada luka di tubuhnya setelah proses
pencabukan, lalu mereka memakaikan pakaian merah dengan maksud untuk
mengejeknya. Para raja biasanya
memakai pakaian merah.
Mereka terus menghinanya. Mereka memakaikannya mahkota dari
duri dan meletakkannya di
atas kepalanya. (Injil Mata 26) Akhirnya, mereka
sampai pada suatu
tempat yang bernama
Jaljatsah, yaitu suatu tempat
di luar pagar
Ursyilim. Tradisi Yahudi
menetapkanmemberi satu gelas khamer yang bercampur dengan minyak wangi
bagi orang yang ditetapkan untuk
dihukum mati
sebelum
pelaksanaan hukum. Ini dimaksudkan sebagai alat pembius untuk
meringankan penderitaannya. Tetapi para
tentera menentang tradisi
ini dan mereka
memberi al-Masih satu
gelas dari cuka yang bercampur dengan sesuatu yang pahit." (Injil
Mata 26) Teks Injil mata
mengatakan (cetakan tahun
1972) pada pasal
kedua puluh tujuh:
"Sehingga mereka sampai ke suatu tempat yang bernama Jaljatsah lalu mereka
memberinya minuman keras yang bercampur dengan empedu agar ia meminumnya. Ketika ia
merasakannya, ia enggan
untuk meminumnya.
Kemudian mereka menyalibnya. Kemudian mereka duduk di sana
menjaganya dan meletakkan di
atas kepalanya suatu
tuduhan yang tertulis:
Ini adalah Yasu', penguasa
Yahudi. Mereka benar-benar menyalibnya bersama Yasim. Salah seorang
dari keduanya di
sebelah kanannya dan
yang lain di
sebelah kirinya. Lalu orang-orang yang lewat di tempat itu mencelanya
dan berkata, "wahai yang menghancurkan tempat sembahan dan yang
membangunnya pada tiga hari, selamatkanlah dirimu
dan jika engkau
adalah anak Allah,
maka turunlah dari tempat penyaliban itu." Demikianlah sebahagian
riwayat kaum Masehi tentang proses penyaliban serta penafsiran mereka
berkaitan dengannya. Kami
telah menukilnya tanpa memperhatikan tentang catatan yang
terdapat dalam Injil Mata yang terbaru, yaitu ia merupakan catatan yang paling
baik dalam bentuknya yang terkumpul dari
ulama-ulama mereka dan
tokoh-tokoh agama Masehi
sehingga ia lebih mudah untuk
difahami dan lebih
sederhana.
Kami telah
mengemukakan sebahagiannya kepada Anda dalam halaman-halaman ini.
Sementara itu, dalam
akidah Islam disebutkan
suatu riwayat yang
berbeza dengan riwayat yang
ada dalam Injil-Injil
yang terdapat sekarang,
baik yang berhubungan dengan
kehidupan akhir yang dialami oleh Isa mahupun tabiat Isa yang merupakan sumber
perselisihan setelah pengangkatannya. Al-Quran al-Karim menceritakan bahawa
Allah SWT tidak menghendaki Bani Israil untuk membunuh Isa
atau menyalibnya tetapi
Allah SWT menyelamatkannya dari kekufuran mereka
lalu mengangkatnya di
sisi-Nya. Mereka tidak
berhasil membunuhnya dan tidak
berhasil menyalibnya tetapi
ia diserupakan seperti orang-orang di antara mereka. Allah
SWT berfirman: "Dan kerana ucapan
mereka: 'Sesungguhnya kami telah membunuh al- Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah,'
padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi
yang mereka bunuh
ialah orang yang
diserupakandengan Isa bagi
mereka. Sesungguhnya orang-orang yang
berselisih faham tentang
(pembunuhan) Isa, benar- benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka
tidak mempunyai keyakinan tentang
siapa yang dibunuh
itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin
bahawa yang mereka bunuh itu
adalah Isa. Tetapi
(yang sebenarnya), Allah
telah mengangkat Isa kepadanya." (QS. an-Nisa': 157-158) Dan Allah
SWT juga berfirman: "(Ingatlah),
ketika Allah berfirman: 'Hai
Isa, sesungguhnya Aku
akan menyampaikan kamu pada
akhir ajalmu dan
mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang
yang kafir. " (QS. Ali 'Imran: 55) Para ulama-ulama Islam sepakat atas hal
itu dan mereka berselisih pendapat tentang
cara beragumentasi terhadap apa
yang mereka yakini
sebagai kebenaran. Sebahagian mereka meyakini nas-nas Al-Quran saja yang
menyebut tentang Isa al-Masih
dan mereka tidak
mendukungnya atau memperkuatnya dengan kitab-kitab lain selain
Al-Quran. Kedua metode tersebut memiliki titik kekuatan tersendiri. Orang yang
berpegangan dengan pendapat yang pertama mengatakan bahawa Nabi
melarang untuk membahas kitab-kitab pegangan kaum Yahudi
dan kaum Nasrani.
Bagi kaum itu
agama mereka dan
bagi kita agama kita dan hanya
Allah SWT yang akan memutuskan segala perselisihan di antara kita pada hari
kiamat.
Sedangkan orang-orang yang berpegangan dengan cara yang
kedua mengatakan bahawa larangan Nabi
tersebut terjadi pada
permulaan masa Islam
di mana kaum Muslim sangat dekat
dengan masa jahiliah. Nabi memerintahkan mereka agar tidak
disibukkan dengan kitab-kitab lain
selain kitab mereka,
yakni Al-Quran. Yang demikian
ini dimaksudkan agar
mereka memiliki akidah
yang kuat dan keyakinan mereka benar- benar tertanam dalam diri mereka,
Tetapi ilmu dan pandangan ilmiah
menetapkan bahawa seorang
yang alim harus banyak
menggali kitab- kitab
kuno dalam rangka
mengetahui kebenaran dan jika
ia mendapati sesuatu
yang sesuai dengan
apa yang didapatinya
dengan kebenaran, maka hatinya
akan lebih merasa
tenang dan damai.
Berkaitan dengan kelompok yang
pertama yang merasa
cukup dengan Al-Quran,
kita tidak menemukan perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan
usaha penangkapan Isa, bagaimana
proses pengangkatannya ke
langit, di mana
Isa diserupakan dengan salah seorang di
antara mereka, bagaimana dia diserupakan dengan
salah seorang di
antara mereka. Allah
SWT telahmenyerupakannya dengan
salah seorang di antara mereka sedangkan Nabi Isa diangkat ke
langit.
Demikianlah penjelasan singkat
mereka, tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok
yang kedua, mereka melontarkan kisah secara
lengkap. Mereka mengatakan bahawa
Allah SWT menyerupakan Isa dengan Yahuda. Yahuda ini adalah
Yahuda al- Askhariyutha yang menurut Injil ia
menjualnya kepada musuh-musuhnya dan
menunjukkan kepada mereka tentang keberadaannya. Ia adalah
seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini sesuai dengan
Injil Barnabas di
mana disebutkan di
dalamnya: "Ketika para tentera mendekat bersama Yahuda di
tempat yang di situ terdapat Yasu', maka Yasu'
mendengar kedatangan segerombolan orang
yang menuju tempatnya. Oleh kerana
itu, ia segera
pergi ke rumah
dalam keadaan takut.
Di dalam rumah itu terdapat
sebelas orang yang tidur. Ketika Allah melihat bahaya akan mengancam hamba-Nya,
maka Dia memerintahkan Jibril,
Mikail, dan Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang
mereka semua adalah para utusan- Nya untuk mengambil Yasu'
dari dunia. Lalu
datanglah malaikat-malaikat yang
suci di mana mereka
mengambil Yasu' dari
pintu yang dekat
dengan arah selatan. Mereka membawanya dan meletakkannya
di langit yang ketiga dengan disertai para
malaikat yang selalu
bertasbih kepada Allah
selama-lamanya. Yahuda masuk
secara paksa ke kamar yang di situlah Yasu' diangkat ke langit.
Saat itu murid-murid sedang tidur semuanya, lalu Allah
mendatangkan keajaiban yang luar biasa di mana Yahuda berubah cara berbicaranya
dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali
dengan Yasu' sehingga
kami mengiranya Yasu'.
Adapun ia (Yahuda) setelah
membangunkan kami, ia mencari-cari di mana si guru berada. Oleh kerana
itu, kami merasa
heran dan kami
menjawab, "bukankah engkau wahai tuanku
guru kami, apakah
sekarang engkau telah
melupakan kami?"
Demikianlah kisah yang terdapat dalam Injil Barnabas. Allah SWT berfirman:
"Al-Masih putera Maryam
itu hanyalah seorang
rasul yang Sesungguhnya telah berlalu
sebelumnya beberapa rasul,
dan ibunya seorang
yang sangat benar, kedua-duanya
biasa memakan makanan." (QS. al-Maidah: 75) Para ulama
berkata, "Al-Masih dinamakan
al-Masih kerana ia
mengusap bumi dan
membersihkannya serta usahanya untuk menyelamatkan agama dari fitnah di zaman
itu kerana saking
hebatnya kebohongan orang-orang Yahudi kepadanya dan bagaimana usaha
mereka untuk menciptakan
dusta padanya dan kepada
ibunya as." Banyak
ulama yang meriwayatkan tentang
kesucian spirituil dari Nabi
Isa. Abu Hurairah
meriwayatkan dari Nabi
bahawa beliau menceritakan tentang
al-Masih sebagai
berikut: "Isa melihat
seorang lelaki yang mencuri lalu
ia berkata: "Wahai si fulan apakah engkau mencuri?" Orang itu
berkata: "Tidak, demi Allah aku tidak mencuri," Isa berkata:
"Aku beriman kepada Allah SWT
dan penglihatanku telah
berbohong."
Ini menunjukkankesucian rohani Isa di mana ia
lebih memilih sumpah orang itu atas apa yang disaksikannya. Ia membayangkan
bahawa orang tersebut tidak akan bersumpah dan membawa nama Allah SWT yang Maha
Besar lalu ia berdusta sehingga ia menerima penyataannya dan ia kembali kepada
dirinya sendiri sambil berkata: "Aku beriman kepada Allah SWT, yakni aku
mempercayaimu dan mataku telah berbohong kerana engkau telah bersumpah."
Ada riwayat lagi yang mengatakan bahawa suatu hari Nabi Isa berjalan bersama
sahabatnya dan mereka melewati bangkai
anjing yang busuk
baunya, lalu sahabat-sahabat Isa
sangat terpukul dan sangat
menderita dengan bau
anjing itu. Melihat
sikap mereka, Isa berkata: "Lihatlah betapa putih
giginya." Isa ingin mengajari manusia bagaimana mereka menghadapi
keburukan di mana Nabi Isa menekankan agar
mereka lebih melihat
kepada keindahan dan kebaikan. Dakwah
Nabi Isa merupakan
puncak dari ketinggian
rohani dan idealisme yang
mengagumkan di mana
Beliau lebih menekankan kebaikan daripada keburukan.
Rasulullah berkata: "Semua
para nabi adalah
saudara, agama mereka satu sedangkan mereka dilahirkan dari berbagai
macam ibu dan aku adalah manusia yang utama begitu juga Isa bin Maryam di mana
tidak ada nabi setelahku dan sesudahnya." Dalam
berbagai riwayat disebutkan
bahawa Nabi Isa akan turun pada akhir zaman. Islam sangat memberikan
penghormatan kepada Isa yang sesuai dengan kedudukannya sebagai salah satu nabi
ulul azmi yang besar. Islam
menamakannya
Rasulullah dan Kalimatullah yang
telah diberikan kepada Maryam. Allah SWT berfirman:
"Wahai
ahli Kitab,
janganlah kamu melampaui
batas dalam agamamu,
dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah
kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih Isa putera
Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang
disampaikan-Nya kepada Maryam,
dan (dengan tiupan) roh
dari-Nya.
Maka berimanlah kepada
Allah dan rasul-rasul-Nya dan
janganlah kamu mengatakan: '(Tuhan itu)
tiga.' Berhentilah dari ucapan
itu. (Itu) lebih
baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha
Suci dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di
bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah
untuk menjadi Pemelihara.
Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula
enggan) malaikat malaikat yang terdekat (kepada Alah). Barang siapa yang
enggan dari menyembah-Nya dan
menyombongkan diri, nanti Allah
akan mengumpulkan mereka
semua kepadanya. Adapun
orang-orang yang beriman dan
berbuat amal soleh,
maka Allah akan
menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebahagian dari
kurnia- Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah
akan menyeksa mereka dengan
seksaan yang pedih,
dan mereka tidak
akanmemperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari
Allah. " (QS. an-Nisa': 171- 173) Ibnu
Katsir berkata dalam
Qhisasul Anbiya': Para pengikut
Nabi Isa berselisih pendapat
setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Sebahagian mereka mengatakan, di
tengah-tengah kita ada hamba Allah SWT dan rasul-Nya (Ariyus). Sebahagian lagi
mengatakan, dia adalah Allah. Yang lain lagi mengatakan, dia adalah anak
Allah. Mereka berselisih
pendapat tentang Injil
yang menyebutkan berbagai kebohongan di
mana terdapat di
dalamnya penambahan, pengurangan, dan pergantian.
Al-Quran al- Karim
telah membahas persoalan ketuhanan. Ia menjelaskan bahawa
Allah SWT Maha
Suci dari segala
sekutu dan anak
dan segala hal yang
menyerupai-Nya serta segala
bentuk ingkarnasi, kejauhan, kedekatan dan pencapaian pandangan
mata. Allah SWT berfirman: "Katakanlah: "Dia-lah Allah,
Yang Maha Esa.'Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepadanya
segala sesuatu. Dia
tidak beranak dan
tiada pula diperanakkan, dan
tidak ada seorang
pun yang setara
dengan Dia. "
(QS. al-Ikhlash: 1-4) Dan tentang Isa as Allah berfirman:
"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti
(penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian
Allah berfirman kepadanya:
'Jadilah' (seorang manusia), maka jadilah ia." (QS. Ali
'Imran: 59) "Mereka
(orang-orang kafir) berkata: Allah
mempunyai anak.' Maha
Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan
Allah; semua tunduk kepadanya. Allah
Pencipta langit dan
bumi, dan bila
Dia berkehendak
(untuk menciptakan) sesuatu, maka
(cukuplah)
Dia mengatakan kepadanya: 'Jadilah', lalu jadilah ia."
(QS. al-Baqarah: 116-117) "Orang-orang Yahudi
berkata:
'Uzair itu putera
Allah' dan orang-orang Nasrani berkata: Al-Masih itu
putera Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru
perkataan orang-orang kafir terdahulu. Mereka di
laknat oleh Allah;
bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. Al-Aubah: 30)
Nas tersebut mengisyaratkan akidah orang-orang Mesir dan orang-orang seperti
mereka dari umat-umat yang terdahulu di mana akidah mereka terfokus padakeyakinan penyaliban Isa,
tentang tebusan dan
kebangkitan Tuhan yang disembelih serta
penentangannya
terhadap para pengikutnya setelah kematiannya. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya telah kafilah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah
itu ialah al-Masih
putera Maryam.' Katakanlah:
'Maka siapakah (gerangan) yang dapat
menghalang-halangi
kehendak Allah, jika
Dia hendak membinasakan al-Masih putera
Maryam itu berserta
ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi
semuanya?' Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dihehendaki-Nya. Dan
Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu." (QS. al-Maidah: 17) "Sesungguhnya kafirlah
orang-orang yang mengatakan:
Allah salah seorang dari yang
tiga,' padahal sekali-kali
tidak ada selain
dari Tuhan Yang
Esa." (QS. al-Maidah: 73)
Demikianlah Al-Quran al-Karim menyebutkan sikap berbagai
aliran yang saling berlawanan
yang tumbuh setelah pengangkatan al-Masih. Al-Quran menjelaskan bahawa al-Masih
adalah hamba Allah SWT dan seorang rasul yang diutus kepada Bani Israil. Kata
hamba dan rasul adalah kata yang sangat jelas ertinya, adapun
yang dimaksud dengan
al-Kalimah dan ar-
Roh, maka kedua kata
tersebut perlu dijelaskan.
Kaum Muslim memahami
bahawa al-Kalimah adalah petunjuk
Allah SWT yang
diberikan-Nya kepada Maryam
sedangkan ar-Roh adalah menunjukkan atau
mengisyaratkan kepada Roh
Kudus, yaitu Jibril as. Allah
SWT telah menguatkannya atau menguatkan Nabi Isa dengan roh yakni Jibril:
"Dan (ingatlah) ketika
Aku dukung kamu
dengan Ruhul Kudus." (QS. al-Maidah: 110) Setelah mengemukakan
keyakinan kaum Masehi tentang karakter Nabi Isa dan akhir dari kehidupannya
dan setelah menjelaskan
kebenaran yang Allah
SWT ceritakan kepada kita tentang karakter tersebut dan akhir dari
kehidupan yang dialami oleh Nabi
Isa, kita ingin
mengetahui apa yang
harus dilakukan olehkaum Muslim
dalam hubungan mereka
dengan orang-orang Masehi
serta keyakinan mereka.
Ajaran ketauhidan Nabi Isa AS
Islam menetapkan atau menyampaikan nas-nas yang jelas
yang mengkhususkan agama
Masehi - di
antara agama-agama yang
lain - dengan kecintaan. Al-Qu'ran mengingkari ketuhanan al-Masih; ia
juga mengingkari penyaliban dan tebusan dosa yang dilakukannya. Namun
Al-Quran menegaskan dalam nasnya bahawa agama Nasrani merupakan agama yang
lebih dekat kecintaannya kepada Islam. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya
kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang
beriman ialah orang-
orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan
sesungguhnya kamu dapati
yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang
yang beriman ialah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya kami
ini orang Nasrani.'
Yang demikian itu disebabkan kerana di
antara mereka itu
(orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib,
(juga) kerana sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (QS.
al-Maidah: 82) Allah SWT memuji para pengikut al-Masih yang berjalan di atas
petunjuknya.
Allah SWT berfirman: "Dan Kami
jadikan dalam hati
orang-orang yang mengikutinya rasa
santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (keadaan
tidak menikah dan mengurung
diri di biara)
padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka
tetapi mereka sendirilah
yang mengada-adakannya untuk mencari keredhaan Allah." (QS.
al-Hadid: 27) Tidak terdapat kontradiksi
dari dua sikap
tersebut. Pengingkaran Al-
Quran terhadap ketuhanan al-Masih
dan pengakuannya terhadap kecintaan kaum Nasrani serta
pujiannya terhadap orang-orang yang
mengikuti Nabi Isa mengandung makna lebih dari satu:
Pertama, bahawa Masehi berdasarkan pada agama
Tauhid dan sangat
sulit bagi para
pengikutnya untuk meninggalkan tauhid, dan
hanya Allah SWT
yang mengakui hakikat
apa yang terpendam dalam hati; kedua, dalam kalangan
orang-orang Nasrani terdapat para pendeta dan
para rahib yang
tidak bersikap congkak
di hadapan Allah
SWT tetapi mereka sangat patuh
dan tunduk kepadanya; ketiga, sebahagian pengikut Nabi Isa memiliki hati yang
dipenuhi dengan kasih sayang dan rahmat. Tentu rahmat dan kasih sayang tersebut
tidak tumbuh kecuali dari keimanan terhadap hari akhir. Allah
SWT telah menetapkan
perintah-Nya kepada kaum
Muslim agar mereka memperlakukan ahlul
kitab dengan perlakuan
yang mulia dan
baik, sebagaimana Islam menjamin
kebebasan untuk menentukan
keyakinan padasetiap manusia.
Allah SWT berfirman: "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman
semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka
apakah kamu (hendak)
memaksa manusia supaya mereka
menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" (QS. Yunus: 99)
"Tidak ada paksaan
untuk (memasuki) agama
(Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan
yang salah." (QS. al- Baqarah: 256) "Katakanlah: 'Hai
ahli kitab, marilah
(berpegang) kepada suatu
kalimat (ketetapan) yang tidak
ada perselisihan antara
kami dan kamu,
bahawa tidak kita sembah
kecuali Allah dan
tidak kita persekutukan Dia
dengan sesuatu pun dan
tidak (pula) sebahagian
kita menjadikan sebahagian
yang lain sebagai tuhan
selain Allah. Jika
mereka berpaling, maka
katakanlah kepada
mereka: 'Saksikanlah, bahawa
kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada
Allah).'" (QS. Ali 'Imran: 64) Kita
perhatikan bahawa ayat-ayat tersebut berbicara tentang
cara memperlakukan kaum Masehi
sebagai individu sebagaimana ia
berbicara tentang bagaimana kita
memperlakukan keyakinan mereka.
Sehubungan dengan kaum Masehi
sebagai individu, kita
menyaksikan ayat-ayat tersebut memerintahkan untuk membalas
kecintaan yang mereka perlihatkan di mana nas
tersebut dengan tegas
mengatakan bahawa mereka
lebih dekat kecintaannya kepada
orang-orang yang beriman.
Jika Allah SWT
yang menegaskan hal tersebut, maka orang-orang Muslim harus membalas
kebaikan dan kecintaan yang
ditunjukkan oleh kaum
Nasrani. Adapun sehubungan dengan keyakinan mereka,
di dalam Al-Quran
terdapat banyak ayat
yang melarang untuk memaksa
manusia dalam bentuk
apa pun. Allah
SWT berfirman: "Dan
katakanlah: 'Kebenaran itu
datang dari Tuhanmu.
Maka barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia
beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir." (QS.
al-Kahfi: 29) Yang demikian itu,
kerana keimanan yang
didahului dengan paksaan
adalah bukan keimanan kerana ia berarti mencabut ikhtiar atau kebebasan
manusia, padahal itu adalah
syarat dari keimanan.
Dan barangkali inilah
yangmenunjukkan kesempurnaan Islam di lihat dari sikapnya yang demikian
indah. Kami kira tanpa kita harus memaksakan tafsiran kita kepada ayat-ayat
tersebut dan memohon kepada Allah SWT dari kesalahan dan kebodohan bahawa Islam
dengan sikapnya itu ingin
menjauhkan para pengikutnya
dari kalangan awam
dari perdebatan yang panjang
dan melelahkan seputar
keyakinan orang lain. Tentu
perdebatan tersebut tidak
akan berhujung dan
akan menjadi seperti debat kusir saja.
Namun tugas tersebut hanya di emban oleh para ulama, di
mana mereka membahas sebagaimana mereka
kehendaki berbagai
keyakinan-keyakinan keberagamaan, sedangkan orang-orang awam tidak diberi
tanggung jawab dalam
hal itu. Lagi
pula, perselisihan antara
keyakinan dan aliran- aliran di
kalangan Masehi dan kalangan Yahudi jika melibatkan orang- orang awam, maka itu
hanya memboroskan waktu dan hanya membuat lelah saja. Islam akan
kembali menjadi asing
dan akan kembali
menjadi asing seperti pertama kali terbit. Dalam suasana
keasingan Islam yang pertama, orang-orang Muslim berhasil
membangun suatu individu
Muslim yang kukuh.
Dan ketika bangunan tersebut telah
selesai, maka sempurnalah pembangunan pemerintahan Islam.
Kita tidak mendengar
bahawa salah seorang
di antara mereka terlibat
dalam perdebatan yang
sengit yang tidak
berhujung sekitar keyakinan orang
lain. Sesungguhnya memberi petunjuk kepada
orang lain sehingga orang
tersebut mengetahui jalan menuju Allah SWT adalah perbuatan yang indah, tetapi hidayah tersebut didahului
dengan tekad seseorang
untuk memberikan petunjuk kepada
dirinya sendiri. Seandainya
orang-orang Islam
membimbing mereka menuju
jalan Allah SWT
nescaya Allah SWT
memberi petunjuk melalui mereka siapa saja yang dikehendaki dari
hamba-hamba-Nya. Al-Quran
menetapkan dua mukjizat
kepada Nabi Isa
yang tidak disebutkan dalam kitab Injil: pertama
mukjizat yang berupa pembicaraannya saat ia masih menyusui di buaian.
Dan yang kedua mukjizat makanan yang turun dari langit
kepada kaum Hawariyin.
Sebagaimana Al-Quran menetapkan
kemuliaan yang diperoleh oleh
Nabi Isa saat
ia diselamatkan dari
tangan-tangan jahat
orang-orang Yahudi yang ingin menyeksanya atau membunuhnya sehingga Nabi Isa terselamatkan dan
dia diangkat ke
langit. Rasulullah saw
mewasiatkan kepada sahabatnya
agar mereka memperlakukan orang-orang
Masehi dengan penuh kebaikan, bahkan
beliau menikahi Maria
al-Qibthiya. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahawa
seseorang lelaki dari Bani Salim bin Auf yang bernama al-Hasin mempunyai dua
orang anak yang masih Kristen, lalu ia masuk
Islam dan bertanya
kepada Rasulullah saw
bagaimana seandainya ia harus memaksa kedua anaknya untuk memeluk
Islam sedangkan mereka berdua menolak
agama lain selain
agama Masehi? Kemudian
Allah SWT menurunkanayat yang berbunyi: "Tidak
ada paksaan dalam memeluk agama (Islam)." (QS. al-Baqarah: 256) Ketika
para utusan Najran dari kalangan kaum Masehi datang ke Madinah untuk berunding
dengan Nabi, maka beliau memberi mereka setengah dari masjidnya agar mereka
dapat melaksanakan solat dengan cara mereka di dalamnya. Pada suatu hari
Rasulullah saw berdiri
untuk melakukan solat
kepada seseorang jenazah lalu
dikatakan kepadanya bahawa ia adalah jenazah Yahudi. Kemudian Rasulullah menjawab:
"Bukankah ia adalah
manusia." Dalam kesempatan
lain Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa yang
mengganggu secara aniaya seorang Yahudi atau seorang Nasrani,
maka aku akan jadi musuhnya pada hari kiamat." Terkadang kekuasaan akan
langgeng meskipun disertai
dengan kekufuran tetapi ia tidak akan abadi ketika disertai dengan
kelaliman. Para ulama Islam
berselisih pendapat berkaitan dengan
keadaan Nabi Isa setelah
pengangkatannya.
Mereka sepakat
bahawa beliau tidak
disalib tetapi Allah SWT
mengangkatnya di sisi-Nya.
Tetapi ketika ia
tidak disalib, maka bagaimana keadaannya
setelah itu:
apakah ia masih
hidup, ataukah ia
mati seperti matinya nabi
yang lain? Majoriti
mengatakan bahawa Allah
SWT mengangkat Isa dengan
fiziknya dan rohnya
di sisi- Nya.
Mereka mengambil zahir dari
firman-Nya: "Tetapi Allah mengangkatnya di sisi-Nya." (QS. an-Nisa':
158) Juga sebahagian hadis yang mendukung hal tersebut. Sementara itu, kelompok
yang lain dari
kalangan mufasirin, dan
ini adalah kelompok
yang minoriti, mereka mengatakan
bahawa Nabi Isa hidup sehingga Allah SWT mematikannya sebagaimana Dia
mematikan nabi-nabi-Nya lalu
Dia mengangkat rohnya
di sisi-Nya sebagaimana roh
para nabi diangkat,
begitu juga roh
para shidiqin (orang-orang yang
benar) dan syuhada. Mereka mengambil zahir firman-Nya: "(Ingatlah) ketika
Allah berfirman: 'Hai
ha, sesungguhnya Aku
akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku
serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." (QS. Ali 'Imran: 55)
Kami sendiri lebih memilih pendapat yang pertama kerana ia sangat
sesuaisebagai mukjizat yang
luar biasa -
dengan kelahiran Isa
di mana kelahiran tersebut dipenuhi dengan
mukjizat yang luar
biasa, juga sesuai
dengan kehidupannya dan kesuciannya. Jadi, kedua-duanya merupakan
mukjizat yang luar biasa.
NABI ISA a.s. DENGAN ORANG MABUK CINTA
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali
bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang
sedang menyiram air dikebun. Bila
pemuda yang sedang
menyiram air itu
melihat Nabi Isa
a.s berada di hadapannya maka
dia pun berkata,
"Wahai Nabi Isa
a.s, kamu mintalah dari
Tuhanmu agar
Dia memberi kepadaku seberat
semut Jarrah cintaku
kepada-Nya." Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan
terdaya untuk seberat Jarrah itu." Berkata pemuda
itu lagi, "Wahai
Isa a.s, kalau
aku tidak terdaya
untuk satu Jarrah, maka
kamu mintalah untukku
setengah berat Jarrah." Oleh
kerana keinginan pemuda itu
untuk mendapatkan kecintaannya kepada
Allah, maka Nabi Isa
a.s pun berdoa,
"Ya Tuhanku, berikanlah
dia setengah berat
Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau
pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama
Nabi Isa a.s datang
lagi ke tempat
pemuda yang memintanya berdoa,
tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s
pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan
berkata kepada salah
seorang yang berada
di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada
di atas gunung. Setelah Nabi Isa
a.s mendengat penjelasan
orang-orang itu maka
beliau pun berdoa kepada Allah
S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu."
Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu
yang berada di antara gunung- ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu
besar, matanya memandang ke langit. Nabi
Isa a.s pun
menghampiri pemuda itu
dengan memberi salam,
tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa
berkata, "Aku ini Isa a.s."Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang
berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia,
sebab dalam hatinya itu terdapat kadar
setengah berat Jarrah
cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan
Keluhuran-Ku, kalau engkau
memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak
mengetahuinya."
Pengajaran Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi
tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang
tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi
dia mencintai dunia.
2. Orang
yang mengaku cinta
ikhlas di dalam
beramal, tetapi dia
ingin mendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku
cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan
dirinya.
Rasulullah
S.A.W telah bersabda,
"Akan datang waktunya
umatku akan mencintai lima dan
lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta
kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta
kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta
kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al- Khaliq.
4. Mereka cinta
kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka
lupa kepada kubur."