Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Minggu, 14 Juni 2026

Tugas Manusia di alam dunia

 

Dari beberapa pendapat ahli tafsir tersebut dapat difahami bahwa tugas hidup manusia – yang merupakan amanah dari Allah – itu pada intinya ada dua macam, yaitu : ’Abdul­lah (menyembah atau mengabdi kepada Allah), dan Khalifah Allah, yang keduanya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.Tugas manusia di bumi adalah beribadah dan menjadi khalifah atau pemimpin. Manusia juga harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta.

tugas manusia di alam dunia


Tugas Manusia

1. Tugas manusia sebagai ’Abdullah (hamba Allah):

Tugas hidup manusia sebagai ’Abdullah merupakan reali­sasi dari mengemban amanah dalam arti: memelihara beban/tugas-tugas kewajiban dari Allah yang harus dipatuhi, kalimah La ilaaha illa Allah atau kalimat tauhid, dan atau ma’rifah kepadaNya. Sedangkan Khalifah Allah merupakan realisasi dari mengemban amanah dalam arti: memelihara, memanfaatkan, atau mengoptimalkan penggunaan segala anggota badan, alat-alat potensial (termasuk indera, akal dan qalbu) atau potensi-potensi dasar manusia, guna menegakkan keadilan, kemakmuran dan kebahagiaan hidup.

Tugas hidup manusia sebagai ’abdullah bisa difahami dari firman Allah dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Mengapa manusia bertugas sebagai ‘abdullah? Untuk menjawab masalah ini bisa dikaitkan dengan proses kejadian manusia yang telah dikemukakan terdahulu. Dari uraian terdahu­lu dapat difahami bahwa pada dasarnya manusia terdiri atas dua substansi, yaitu jasad/materi dan roh/immateri. Jasad manusia berasal dari alam materi (saripati yang berasal dari tanah), sehingga eksistensinya mesti tunduk kepada aturan-aturan atau hukum Allah yang berlaku di alam materi (Sunna­tullah). Sedangkan roh-roh manusia, sejak berada di alam arwah, sudah mengambil kesaksian di hadapan Tuhannya, bahwa mereka mengakui Allah sebagai Tuhannya dan bersedia tunduk dan patuh kepadaNya (Q.S. al-A’raf: 172). Karena itulah, kalau manusia mau konsisten terhadap eksistensi dirinya atau naturnya, maka salah satu tugas hidup yang harus dilaksana­kannya adalah ’abdullah (hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan dan KehendakNya serta hanya mengabdi kepadaNya).

Hanya saja diri manusia juga telah dianugerahi kemam­puan dasar untuk memilih atau mempunyai “kebebasan” (Q.S. al-Syams: 7-10), sehingga walaupun roh Ilahi yang melekat pada tubuh material manusia telah melakukan perjanjian dengan Tuhannya (untuk bersedia tunduk dan taat kepadaNya), tetapi ketundukannya kepada Tuhan tidaklah terjadi secara otomatis dan pasti sebagaimana robot, melainkan karena pilihan dan keputusannya sendiri. Dan manusia itu dalam perkembangannya dari waktu ke waktu suka melupakan perjan­jian tersebut, sehingga pilihannya ada yang mengarah kepada pilihan baiknya (jalan ketaqwaan) dan ada pula yang mengarah kepada pilihan buruknya (jalan kefasikan). Karena itu Allah selalu mengingatkan kepada manusia, melalui para Nabi atau Rasul-rasulNya sampai dengan Nabi Muhammad SAW. sebagai nabi/rasul terakhir, agar manusia senantiasa tetap berada pada naturnya sendiri, yaitu taat, patuh dan tunduk kepada Allah SWT. (’abdullah). Setelah rasulullah SAW. wafat, maka tugas memperingatkan manusia itu diteruskan oleh para shahabat, dan para pengikut Nabi SAW. (dulu sampai sekarang) yang setia terhadap ajaran-ajaran Allah dan rasulNya, termasuk di dalamnya adalah para pendidik muslim.

2. Tugas manusia sebagai Khalifah Allah

Tugas hidup manusia juga sebagai khalifah Allah di muka bumi. Hal ini dapat difahami dari firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah: 30:

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Apa yang dimaksud dengan khalifah? Kata khalifah berasal dari kata “khalf” (menggantikan, mengganti), atau kata “khalaf” (orang yang datang kemudian) sebagai lawan dari kata “salaf” (orang yang terdahulu). Sedangkan arti khilafah adalah menggantikan yang lain, adakalanya karena tidak adanya (tidak hadirnya) orang yang diganti, atau karena kematian orang yang diganti, atau karena kelemahan/tidak berfungsinya yang diganti, misalnya Abu Bakar ditunjuk oleh umat Islam sebagai khalifah penggan­ti Nabi SAW, yakni penerus dari perjuangan beliau dan pemimpin umat yang menggantikan Nabi SAW. setelah beliau wafat, atau Umar bin Khattab sebagai pengganti dari Abu Bakar dan seterusnya; dan adakalanya karena memuliakan (memberi penghargaan) atau mengangkat kedudukan orang yang dijadikan pengganti. Pengertian terakhir inilah yang dimak­sud dengan “Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi”, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. Fathir ayat 39, Q.S. al-An’am ayat 165.

Manusia adalah makhluk yang termulia di antara makh­luk-makhluk yang lain (Q.S. al-Isra’: 70) dan ia dijadikan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk/kejadian, baik fisik maupun psikhisnya (Q.S. al-Tin: 5), serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi-potensi dasar (fitrah) yang dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Karena itulah maka sudah selayaknya manusia menyandang tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S. Hud : 61), serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (Q.S. al-Maidah : 16), dengan cara beriman dan beramal saleh (Q.S. al-Ra’d : 29), bekerja­sama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam mene­gakkan kesabaran (Q.S. al-’Ashr : 1-3). Karena itu tugas kekhalifahan merupakan tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia pada akhir zaman yang akan datang, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepadaNya (’abdullah).

Tugas-tugas kekhalifahan tersebut menyangkut: tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri; tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga; tugas kekhalifahan dalam masyarakat; dan tugas kekhalifahan terhadap alam.

Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri meliputi tugas-tugas: (1)  menuntut ilmu pengetahuan (Q.S.al-Nahl: 43), karena manusia itu adalah makhluk yang dapat dan harus dididik/diajar (Q.S. al-Baqarah: 31) dan yang mampu mendi­dik/mengajar (Q.S. Ali Imran: 187, al-An’am: 51); (2) menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya dan kesengsaraan (Q.S. al-Tahrim: 6) termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara kesehatan fisiknya, memakan makanan yang halal dan sebagainya; dan (3) menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kata akhlaq berasal dari kata khuluq atau khalq. Khuluq merupakan bentuk batin/rohani, dan khalq merupakan bentuk lahir/ jasmani. Keduanya tidak bisa dipisahkan, dan manusia terdiri atas gabungan dari keduanya itu yakni jasmani (lahir) dan rohani (batin). Jasmani tanpa rohani adalah benda mati, dan rohani tanpa jasmani adalah malaikat. Karena itu orang yang tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia sama halnya dengan jasmani tanpa rohani atau disebut mayit (bangkai), yang tidak saja membusukkan dirinya, bahkan juga membusukkan atau merusak lingkungannya.

Tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga meliputi tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah dan mawaddah wa rahmah/cinta kasih (Q.S. ar-Rum: 21) dengan jalan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami-isteri atau ayah-ibu dalam rumah tangga.

Tugas Manusia sebagai hamba Allah

Tugas manusia sebagai hamba Allah

Taat dan tunduk kepada segala aturan dan kehendak Allah

Mengabdi hanya kepada Allah

Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya

Tugas manusia sebagai khalifah

Menjaga keseimbangan alam

Menegakkan keadilan

Memanfaatkan sumber daya dengan bijak

Mewujudkan persatuan dan perdamaian di bumi

Memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan

Menjaga lingkungan atau memelihara Bumi

Tugas manusia terhadap diri sendiri

Memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani secara menyeluruh

Menjaga keutuhan pribadi

Menjaga kesehatan

Memenuhi kebutuhan makan-minum, pakaian, dan tempat tinggal

 

 

 

 

 

 

 

Read More

Sabtu, 13 Juni 2026

rangkaian doa dari bahasa kawi

Aku saṅkalpa snāna-śuddhi, ri śuddhi ātmā, vināśaya upadrava śaitāna yaḥ kāraṇa śrama tathā yātanā, saha āśā anugraha saṅ Hyang Allah Mahāśuddha.

Aku (saya)

saṅkalpa (berniat)

snāna-śuddhi (mandi suci)

ri (untuk/demi)

śuddhi (membersihkan/penyucian)

ātmā (diri/jiwa)

vināśaya (melenyapkan)

upadrava (gangguan)

śaitāna (setan)

yaḥ (yang)

kāraṇa (menyebabkan/sebab)

śrama (kepayahan/kelelahan)

tathā (dan/juga)

yātanā (siksaan/penderitaan)

saha (dengan)

āśā (harapan)

anugraha (ridha, karunia, anugerah)

saṅ Hyang Allah (Allah Yang Maha Agung)

Mahāśuddha (Maha Suci)

"Saya berniat mandi suci untuk membersihkan diri, melenyapkan gangguan setan yang menyebabkan kepayahan dan siksaan, dengan mengharap ridha dan anugerah Allah Yang Maha Suci."

Read More

Tujuan manusia hidup didunia

 Tujuan manusia hidup didunia

tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan ketenangan dunia dan kesenangan akhirat. Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai ketenangan di dunia dan kesenangan di akhirat.Manusia juga harus memanfaatkan kehidupan di dunia sebaik mungkin untuk kemaslahatan umat manusia dan alam semesta.

Tujuan manusia tinggal di alam dunia


pada intinya Perintah Allah SWT terdapat dalam rukun islam

1 membaca 2 kalimat syahadat

2 mengerjakan shalat

3 puasa di bulan ramdhan

4 membayar zakat

5 mengerjakan haji bagi yang mampu

Hadits yang menjelaskan rukun Islam diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan hadits Arbain. Rukun Islam

Rukun Islam adalah lima hal dasar yang diajarkan dalam agama Islam, yaitu: Mengucap dua kalimat syahadat, Mendirikan sholat, Menunaikan zakat, Berpuasa di bulan Ramadhan, Pergi haji bagi yang mampu.

Tujuan  hidup didunia adalah menjalankan Perintah Allah SWT dan menjahui larangannya

Perintah Allah SWT berkaitan dengan ibadah

  1. Mendirikan shalat
  2. Membayar zakat
  3. Menunaikan puasa di bulan suci Ramadhan
  4. Menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika mampu
  5. Berbuat baik kepada orang lain
  6. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
  7. Bertakwa kepada Allah
  8. Menjauhi larangan Allah
  9. Berusaha dan berserah diri kepada Allah
  10. Membela Al-Qur'an

beberapa perintah Allah yang berkaitan dengan akhlak, seperti:

  1. Jangan berkata kasar
  2. Tahanlah marah
  3. Jangan sombong dan congkak
  4. Maafkanlah kesalahan orang lain
  5. Berbicaralah dengan nada halus dan bersopan
  6. Rendahkanlah suaramu
  7. Jangan mengejek orang lain
  8. Berbaktilah pada orang tua
  9. Jangan memasuki kamar pribadi ibu bapak tanpa izin

Larangan Allah dalam perspektif lain

  1. Jangan menyembah berhala
  2. Berbaktilah kepada Allah
  3. Cintailah Allah lebih dari segala sesuatu
  4. Jangan menyebut nama Allah dengan tidak hormat
  5. Kuduskanlah hari Tuhan
  6. Hormatilah ibu-bapak
  7. Jangan membunuh
  8. Jangan berzina
  9. Jangan mencuri
  10. Jangan bersaksi dusta

Larangan dalam Al-Qur'an

  • Melakukan syirik, baik syirik kecil maupun syirik akbar
  • Melakukan kekafiran, kedurhakaan, dan kefasikan
  • Melakukan bid'ah, yaitu mengadakan ajaran atau ibadah baru dalam agama
  • Membunuh
  • Mencela dan membicarakan orang lain
  • Memfitnah, merendahkan, dan mengolok-olok
  • Melampaui batas
  • Tidak patuh pada Al-Qur'an
  • Takabur (sombong)
  • Menentang Ayat Allah SWT

Contoh larangan dalam kehidupan sehari-hari

  • Mengumpat, yaitu membicarakan keburukan seseorang dengan cara yang tidak baik
  • Berbohong
  • Mengolok-olok
  • Menolak nasihat
  • Bersikap boros, kikir
  • Membunuh anak karena takut miskin
  • Mendekati zina
  • Membunuh orang lain atau dirinya sendiri
  • Memakan harta anak yatim

Tujuan ibadah adalah untuk mengabdikan diri kepada Allah, mencapai ketakwaan, dan mendapatkan rida-Nya. Ibadah juga dapat menjadi sarana untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tujuan ibadah dalam Islam

  1. Mencapai ketakwaan
  2. Menyucikan jiwa
  3. Mendapatkan rida Allah
  4. Mendekatkan diri kepada Allah
  5. Menjauhi larangan Allah
  6. Melaksanakan perintah Allah
  7. Mencapai kebahagiaan abadi di akhirat
  8. Membebaskan diri dari belenggu penghambaan kepada makhluk
  9. Membebaskan diri dari ketergantungan, harap, dan rasa cemas kepada makhluk

ibadah dalam Islam Takwa (ketaatan) kepada Allah, Menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah, Mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, Melaksanakan apa yang diizinkan oleh syariat.

 

 

Read More

Jumat, 12 Juni 2026

Alam dunia

 Alam dunia

Allah menciptakan alam semesta ini dengan susunan yang teratur dalam aspek biologi, fisika, kimia, dan geologi beserta semua kaidah sains.Alam dunia adalah tempat tinggal manusia saat masih hidup. Alam dunia merupakan salah satu dari tiga alam yang dilewati manusia, yaitu dunia, barzakh, dan akhirat.

Alam dunia


  • Alam dunia adalah refleksi dari jasad, sedangkan ruh adalah bagiannya.
  • Alam dunia merupakan dunia fisik dan kehidupan secara umum.
  • Skala alam terbentang dari sub-atomik sampai kosmik.
  • Studi tentang alam merupakan bagian besar dari ilmu pengetahuan.

Penciptaan alam semesta menurut Islam

Alam semesta diciptakan dalam dua tahap, yaitu dalam bentuk asap (dukhan) dan kemudian membentuk benda-benda langit.

Alam semesta diciptakan dengan susunan yang teratur dalam aspek biologi, fisika, kimia, dan geologi.

Alam semesta diciptakan secara haq, bukan main-main, dan bukan bathil.

Manusia sebagai khalifah di bumi

  • Manusia diciptakan sebagai khalifah yang bertanggung jawab sebagai pemimpin dan pengelola alam.
  • Manusia harus menjaga alam semesta agar tetap terpelihara, lestari, dan bermanfaat.
  • Manusia harus menghormati ajaran agama dan nilai-nilai lingkungan.
  • Manusia harus membentuk masyarakat yang berkelanjutan, menjaga alam semesta, dan mewariskan dunia yang lebih baik kepada generasi mendatang.

Arti hidup dalam Islam

Arti hidup dalam Islam ialah ibadah.

Ibadah yang dimaksud adalah ibadah dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya shalat, puasa, zakat, dan haji saja.

Alam Dunia

apa yang dimaksud dengan alam? Dalam kajian ilmu tauhid alam ialah segala sesuatu selain Allah. Demikian pendapat al-Ghazali (lahir 450/451H  wafat 505/511 M) Berarti defenisi ini bertahan sudah hampir 1000 tahun, kendatipun kata Campell  di abad-abad pertengahan sudah dipisahkan manusia dan alam. Adanya alam semesta bukti adanya al-Khaliq (Sang Pencipta). Semesta yang bisa kita lihat adalah alam sekitar (a1am yang dekat) dan kita belajarnya  dalam matkul biologi. Ilmunya sangat luas: sintologi, parasitologi, patologi, embriologi, hymatologi, anatomi, hezeana, zoologi, botani, taksonomi, bakteriologi, dan lain-lain. Masa Allah Banjarmasin hanya punya satu doktor patologi (dr. SP) baru saja meninggal) dan Masa Allah di Banjarmasin hanya ada satu orang doktor atom sementara Israil ada lebih  dari 600 orang. Maha Benar Allah. sesuatu yang tidak kita lihat adalah lebih besar dan lebih luas ari alam sekitar kita yang  dapat kita lihat dan rasakan.

 Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Mu’min: 37 ”Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Definisi alam ini (ma siwa Allah) tentu sangat luas, mencakup segala fenomena alam fisik dan juga kehidupan secara umum, baik dunia nyata atau dunia ghaib. Istilah kawniyyah secara bahasa berasal dari kata كون sama dengan عالم artinya alam, dunia, kosmos. Dr. Abd al-Hadi Na¡r  mengatakan الكون هو كتاب الله المنظور .. هو كتاب الله المادى  (al-kawn adalah kitab Allah yang bisa diamati; alam materi). Istilah ayat-ayat kawniyyah diduga pertama kali dipakai oleh Ibn Katsir (wafat 774 H) ketika beliau menjelaskan tentang ayat-ayat Alquran yang berkaitan fenomena langit, bumi, malam dan siang dengan sebutan آيات الله الكونبة     Kata  الكونية muncul 4 kali dalam tafsir Ibn Katsir, 2 kali dipakai untuk menunjuk ayat-ayat Alquran tentang fenomena alam  dan 2 kali menunjuk kepada hukum alam dengan term  أحكام الكونية  dan  مشيئته الكونية , termasuk al-ahkam al-Jazibiyyah (hukum gravitasi). Contoh firman Allah yang maksudnya: ”dan Kami menciptakan langit tanpa tiang menurut penglihatanmu”.

Sebenarnya langit itu bertiang. Tiang langit adalah hukum-hukum gravitasi yang membuat keseimbangan sehingga benda-benda langit tidak jatuh (kisfam minas sama) ke bumi atau tidak ada sesuatu yang retak (ma tara fi khalqi al-rahman min tafawut) (min li al-bayan)Ayat-ayat tentang alam semesta cukup banyak di dalam Alquran bila frase alam semesta tersebut kita samakan  al-sam± wa al-samaw±t. Ayatnya lebih 305 ayat dan ada 42 ayat yang berbicara alam fisis selebihnya metafisika eskatologis (ma wara al-maddah). Ini belum termasuk fernomena angin, air, tumbuh-tumbuhan, besi, batu, api, dlsb. Dari 42 ayat tsb kata langit berkonotasi  segala apa yang ada di atas kita. Bumi dan  langit serta yang ada di antara keduanya  juga disebut langit. Jadi arti langit nencakup bintang-bintang, matahari, bulan,   astroide, planet, garis edar bintang-bintang, hukum gravitasi, atmosfer,  scattering effect dll.  Frase ini juga menunjuk kepada alkawn al-kubr± (jagat raya)  dan al-kawn al-shugr±  (alam kecil/alam sekitar). Kata lain al-²y±t al-Kawniyyah (alam materi, sebagai lawan al-‘±lam al-ruh³: alam ruh/immateri/ghaib). Jumlah ayatnya menurut Thanthawi Jauhari, Ahmad Baiquni, dan Al-Ghazali  mengatakan 750ayat, Agus Purwanto mengklasifikasi    ada 800 ayat, dan bahkan Zaglul mengatakan lebih dari 1000 ayat. Jaglul berpendapat al-‘ilm yukasyfsyif al-ayah(ilmu menyingkap ayat).

 

Agar lebih jelas berikut ini sebagian hasil telaah al-sama wa al-samawat dalam Alquran:

Ayat-ayat tentang proses penciptaan dan ekspansi alam semesta QS 41:11, QS 21:30, QS 7: 54, QS 10:3, QS 57:4, QS 32:4, QS 11: 7, dan QS 51: 17.

Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah menciptakan tujuh langit (tujuh yang bersusun, tujuh yang dahsyat dan tujuh jalan) QS 2:29, QS 67;3, QS 71:15, QS 65:12, QS 17:44, QS 41:12, QS 78:12, dan QS 23:17.

Ayat-ayat yang menyatakan bahwa langit berpintu-pintu QS 7:40, QS 54:11, QS 78:19, dan QS 15: 14-15.

Ayat-ayat tentang adanya makhluk hidup di langit yang patuh dan bersujud kepadaNya QS 13:15, QS 16:49, QS 17:44, QS 19:93, QS 21:19, dan QS 55:29.

Ayat-ayat yang matahari, bulan, dan bintang beredar di langit pada garis edarnya QS 25:61, QS 37:6, QS 51:7, dan QS 41:12,

Ayat-ayat yang menyatakan bahwa di langit ada lapisan-lapisan atmosfir dan atom  QS 6:125 dan 34:3.

Ayat-ayat yang menyatakan langit dibangun tanpa tiang (isyarat bagi hukum gravitasi) QS 13:2  dan 31:10.

Ayat-ayat yang menyatakan fungsi langit dan hujan turun dari langit QS 2:27, QS 7:96, QS 11:52, dan QS 21:32.

Ayat-ayat yang menyatakan benda langit ditahan agar tidak jatuh dan sebagian ada yang jatuh ke bumi QS 22:65 dan QS 52:44.

Ayat-ayat yang menyatakan bahwa pada hari kiamat langit akan diciutkan dan mengeluarkan kabut putih QS 21:104 dan 25:25.

Contohnya alam semesta ini berdasarkan surat al-Anbiya: 30 tadinya langit dan bumi bersatu padu. kemudian Kami ciptakan satu ledakan hebat dan masing-masing benda terdorong keluar menjauh dari pusat gravitasinya    كانتا رتقا ففتقناهما   saya cenderung menerjemahkan  terjadinya suatu ledekan hebat karena kata fafataqnahuma menurut mufassir Ibn Abbas fashalna bainahuma bil hawa: memisah antara keduanya dengan proses pemuaian benda-benda  langit. Dari sini terjadi ekspansi (perluasan)  dan pendinginan dalam waktu ribuan tahun sehingga ada benda seperti korek api tapi berat massanya berjuta-juta ton. Jadi  kalau penciptaan ini dikatakan 6 periode/ ayyam.lebih bisa. Lalu bagaimana  hubungannya dengan kiamat…? Hari kiamat menurut Alquran sudah jelas. Di dalam surat al-Anbiya: 104  git benda-benda di alam semesta digambarkan kathayyis sijjil  lil kutub seperti golongan kertas dan di dalam hadis  qabadha bi yaminihi  langit digenggam Tuhan dengan tangan kanannya. Maksud kedua ayat ini alam semesta diciutkan karena dia kehabisan daya dorong. Semua benda langit (galaksi) menurut surah yang lain  berjatuhan. Kalau adik-adikku  mahasiswa paham fisika /IPA  mengerti hukum energy potensial dan energy kinetic; bahkan hukum yang menyatakan: “benda yang bergerak akan tetap bergerak”. Misalnya ada benda sejenis komet Helley  yang panjang 10 km jatuh di laut Jawa atau peraian menuju Trisakti Banjarmasin , maka wilayah Banjarmasin akan terjadi Tsunami dan  kecepatan angin 2500 km perjam. Semua bangunan bertingkat akan roboh. Bayangkan kalau jatuh ke bumi itu adalah bintang-bintang yang diameternya 86 tahun perjalanan pesawat dengan kecepatan 1000 km/t. Yang punya bintang Antares di rasi scorpionya maka ketahuilah besarnya 12.000 kali lebih besar dari matahari.

Sebagai lawan dari al-’alam al-m±di (alam materi) adalah al-’±lam al-r­hiy  (alam `ruh atau alam immateri). Di akhir zaman ini banyak bentuk-bentuk kemusyrikan bertebaran: sim salabim orang sehat jadi lumpuh. Lantas apa hubungannya  dengan alam ruh?  Begini saudaraku. Alam ruh ini sedang dijelajah  oleh penghuni bumi ini. Alam ruhi  melakukan tadakhul. dan memperkenalkan diri bahwa mereka hidup dan tidak mati lagi selamanya. Kehidupannya berbeda dengan kehidupan di bumi ini. Ada barzakh (tirai) yang menghalangi kita utk eksodus  ke alam ruh/ghaib, tapi sebaliknya  mereka bisa tadakhul  menjadi irisan dan bercakap-cakap dengan manusia yang mereka pilih. Pengetahuan dan terknologi mereka statis, sesekali mereka membeli mobil/sepeda motor untuk koleksi saja. Masalahnya mereka bisa bergerak dengan cepat dari Banjarmasin ke Amuntai atau Kandangan dalam wakatu sekejap mata (tharfata  ’ainin) karena itu mungkin saja lebih cepat mengidentifikasi suatu masalah dan  menghadap kembali ke manusia yang memanggil mereka. Segera permintaan akan dipenuhi. Ingat mereka bisa saja ERROW dan berdasarkan isyarat hadis shahih mereka berkelompok-kelompok, mereka  tidak  beranakpinak, hidup terus dan tidak mati sampai   Tuhan bertanya kepada Nabi  Idris: ”Siapakah raja hari  ini? Idris menjawab ”bagi Allah (kekuasaan) Yang Satu lagi Maha Memaksa”.

 

   لمن الملك اليوم ؟   للــــه الواحد الكها ر    (الأية)

 Wallahu a’lam bi shawwab

 

Read More

Kamis, 11 Juni 2026

Alam Rahim

Alam Rahim

Janji setia di alam rahim adalah janji yang diucapkan manusia kepada Allah SWT sebelum lahir ke dunia. Janji ini berupa pengakuan keesaan Allah SWT dan Istiqomah untuk menyembah-Nya.

alam rahim

 berproses dari nuthfah (sperma dan ovum) selama 40 hari. Kemudian berkembang dan berubah menjadi‘alaqoh (yang menempel di dinding rahim) selama 40 hari. Kemudian berkembang dan berubah menjadi mudlghoh (segumpal daging). Sesudah berproses selama 40 hari, manusia yang semula masih dalam bentuk mudlghoh (segumpal daging), telah menjadi sempurna sebagai janin. Ketika usia kehamilan telah mencapai 120 hari (4 bulan), maka Allah SWT menyempurnakan penciptaan manusia dengan meniupkan ruh ke dalam tubuh janin.

Pada saat itu, Allah SWT juga mengutus malaikat untuk menuliskan kembali 4 (empat) ketentuan (takdir atau nasib) yang akan dialami oleh setiap manusia. Yaitu; (1). Rizkinya (2). Ajal atau masa kematiannya (3). Amal perbuatannya, baik atau buruk (4). Berbahagia dan beruntung atau celaka. Sebagaimana difirmankan dalam

surat al-A’raf ayat 189:

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah digaulinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (dalam beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah Kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Demikian juga dalam surat al-Mukminun (23) ayat 12–14:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia, makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik”.

Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14 di atas dapat disimpulkan bahwa terbentuknya janin dalam rahim ibu adalah melalui 6 (enam) tahap (fase) sbb:

Tahap pertama; penciptaan janin dalam bentuk saripati air mani (nuthfah) yang disebut sulalah. Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan “dari saripati air mani yang hina”. Manusia bukan diciptakan dari seluruh mani yang keluar dari suami–istri, tetapi hanya dari bagian yang sangat halus. Itulah yang dimaksud dengan “sulalah”. Menurut riset yang telah dilakukan oleh para ahli anatomi dan embriologi, bahwa manusia itu tercipta hanya dari satu sel sperma saja. Sungguh hal itu sangat sedikit sekali bila dibanding dengan jutaan sel sperma yang keluar dari seorang pria. Sulalah adalah kata yang paling tepat dan cocok untuk menggambarkan proses terbentuknya janin, karena satu dari jutaan sperma seorang pria bergerak menuju ke dalam rahim untuk membuahi ovum seorang wanita.

Tahap kedua disebut ‘alaqoh. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqoh).” ‘Alaqoh juga berarti nama dari binatang kecil yang hidup di air dan di tanah (sebangsa lintah) yang terkadang menempel di mulut binatang pada waktu minum air di rawa–rawa. Bentuk janin pada fase ini sangat mirip sekali dengan binatang lintah tersebut. Bahkan kalau keduanya difoto bersamaan, niscaya manusia tidak akan mampu membedakkan bentuk dan gambar keduanya.

Tahap ketiga, disebut mudghah (segumpal daging). Dalam kelanjutan surat al-Mukminun di atas dijelaskan, ”Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.”

Tahap keempat ditandai dengan muncul dan tumbuhnya tulang. “Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.” Para ahli dan spesialis dalam bidang medis telah menyimpulkan bahwa tulang itu muncul sebelum daging sebagai penutupnya. Setelah itu barulah muncul daging. Hal ini baru diketahui oleh para ahli pada zaman sekarang, itu pun dengan bantuan alat–alat fotografi.

Tahap kelima, pembungkusan tulang dengan daging. “Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…” Didahulukannya penciptaan tulang sebelum daging, karena daging membutuhkan tulang untuk menempel padanya. Maka tulang mesti sudah ada sebelum daging.

Tahap keenam adalah perubahan janin ke bentuk yang lain. “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain…” Menurut Dr Ahmad Hamid Ahmad, bersamaan dengan berakhirnya pekan ketujuh, panjang Mudghah sudah mencapai 8–16 milimeter” Termasuk yang membedakan pada periode ini adalah; bahwa tulang yang semula berbentuk bengkok menyerupai bulan sabit, kini mulai berubah lurus dan tegap. Di tambah lagi ada sesuatu yang membedakan janin dengan makhluk hidup yang lain, yaitu sempurnanya bentuk tubuh pada pekan ke delapan. Begitulah, proses penciptaan janin di dalam rahim seorang ibu, hingga akhirnya dilahirkan pada usia kehamilan sembilan bulan. Sungguh Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Proses penciptaan manusia pada ayat di atas, dijelaskan lebih rinci lagi oleh sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA.

Dari Abdullah ibn Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda kepada kami, dan beliau adalah orang yang jujur lagi dipercaya: “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nuthfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah yang menempel di dinding rahim) selama itu juga (40 hari), lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat hal (kalimat) yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, nasibnya apakah celaka atau bahagia. Demi Dzat Allah yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kalian ada yang telah melaksanakan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah didahului oleh al-kitab (ketetapan/takdir), maka dia mengerjakan perbuatan ahli neraka, lalu akhirnya dia masuk ke dalamnya (menjadi penghuni neraka). Di antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan ahli al-naar (penduduk neraka), sehingga jarak antara dirinya dan neraka hanya sehasta. Akan tetapi dia telah didahului oleh takdirnya, maka dia mengerjakan perbuatan ahli surga, sehingga akhirnya dia memasukinya (menjadi penghuni surga).”

Di samping tercipta dari unsur tanah yang rendah, secara ruhaniah manusia tercipta dari ruh Allah Yang Maha Agung. Sebagaimana difirmankan dalam surat as-Sajdah (32) ayat 9:

“Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

Para ulama telah sepakat, bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia 120 hari, terhitung sejak pertemuan sel sperma dengan ovum. Artinya, peniupan ruh tersebut terjadi ketika janin telah berusia empat bulan penuh, masuk bulan kelima. Ruh adalah suatu unsur rohani yang menjadikan manusia hidup. Adapun substansi atau hakikat ruh tidak ada manusia yang mampu mengetahui. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Sebagaimana telah di firmankan dalam surat al-Isra’ ayat 85:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Read More

Kamus indonesia kawi

Kamus Indonesia - Kawi design by Afif

📚 Kamus Indonesia - Kawi

🔱Design by Afif🔱

Terjemahkan kata atau kalimat lengkap dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Kawi (Bahasa Jawa Kuno)

Hasil Terjemahan (Kawi):

📌 Keterangan penggunaan kamus

Kamus ini berfungsi sebagai alat penerjemah sederhana yang bisa digunakan untuk menerjemahkan satu kalimat dari bahasa indonesia ke bahasa Kawi cocok digunakan untuk mempermudah menghafal kosakata by Afif

Read More