Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 13 Maret 2026

Doa Mengendalikan Nafsu Syahwat

Doa Mengendalikan Nafsu Syahwat

Surah saba'(34): ayat 54

وَحِيْلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُوْنَ 

"dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan"

(dibaca 101 kali.)

Doa Mengendalikan Nafsu Syahwat


 

كَذَ لِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ

عِبَا دِنَا الْمُخْلَصِينَ

Demikianlah agar kami palingkan daripadanya kejahatan dan pernuatan keji sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba kami yang terpilih

(dibaca 101 kali.)

"Ayat di atas dibacakan pada segelas air lalu diminum saat perut kosong (pagi hari) dan sebelum tidur malam"


Doa mengendalikan hawa nafsu

Read More

Rahib

Rahib adalah sebutan untuk seorang laki-laki yang tergabung dalam ordo religius dan tinggal di biara. Rahib juga dikenal sebagai biarawan Biarawan (berdasarkan kata biara dengan akhiran -wan) atau rahib adalah seorang laki-laki yang merupakan anggota suatu ordo religius dan tinggal di biara. Seorang rahib biasanya menjalani hidupnya dengan berdoa dan merenung. Konsep ini sudah ada sejak lama dan dapat dilihat dalam banyak agama dan filsafat.

Rahib


Dalam Islam, rahib adalah sebutan untuk pemimpin agama atau pendeta. Kata rahib berasal dari bahasa Arab rahab yang artinya takut. 

Ciri-ciri rahib dalam Islam adalah: 

  • Takut kepada Allah
  • Khawatir terjerumus dalam dosa atau hawa nafsu
  • Meninggalkan duniawi demi mencari Ridha Allah
  • Menjaga minda dan badannya demi memenuhi keperluan rohaninya
  • Sering bertapa sama ada sendirian atau dengan rahib-rahib lain di biara
  • Istilah rahib pada masa pra-Islam digunakan untuk para pemuka agama samawi atau ulamanya. 
  • Konsep rahib sudah ada sejak lama dan dapat dilihat dalam banyak agama dan filsafat. 

Dalam agama Katolik, istilah rahib untuk laki-laki disebut biarawan, sedangkan untuk perempuan disebut biarawati. Biarawan adalah orang yang memutuskan untuk hidup membiara dan diwajibkan untuk mengikuti seluruh aturan yang telah dibuat oleh Biara. 

Istilah rahib pada masa pra-Islam digunakan untuk para pemuka agama samawi atau ulamanya. 

Read More

Kamis, 12 Maret 2026

Puncak Gunung Katu Sang Menara Rajasa Batara Amarwabhumi

Gunung katu adalah suatu bukit / gunug yang berada kaki Gunung Kawi, tepatnya di kaki timur rabut (bukit suci) Katu pada lembah Kali Dem (sungai) – dan anak sungai (suci) Metro (toponimi ‘metro’ berasal dari ‘a-mreta’ artinya: air atau tirtha kehidupan/keabadian).

Oleh karena, topografi tanahnya membukit (geneng) dan diapit oleh dua kali kecil di sisi utara (lalu bekok ke selatan) serta kali kecil lain di sisi selatan. Keduanya bertemu, kemudian memasok air ke kali yang lebih besar bernama “Kali Dem”. Aliran Kali Dem bermuara di Sungai Metro pada Dusun Darungan, yakni salah Satu dusun di Desa Mendalan Wangi. Baik di India maupun daerah-daerah lain di Jawa, Sumatra dan Bali, pada masa Hindu-Buddha areal apitan dua sungai/kali dikonsepsikan sebagai area suci, sehingga cocok untuk mendirikan bangunan suci semisal candi.

Puncak Gunung Katu Sang Menara Rajasa Batara Amarwabhumi
Jalan menuju Puncak Katu

Dalam sejarah Singhasari dan Majapahit, raja yang mangkat biasanya didarmakan dalam bentuk arca dewa. Mereka akan terus dikenang dengan dibuatkan sebuah candi pemujaan. Berdasarkan Nagarakretagama, jumlah candi yang difungsikan sebagai pendharmaan arwah raja mencapai 27 pada tahun 1365. Dari jumlah itu tidak semua masih berdiri utuh. Di antaranya candi di Kagenengan yang disebut sebagai pendarmaan Rangga Rajasa, gelar Ken Arok.

Pada pupuh 40 naskah Nagarakretagama tertulis, seorang pendeta Budha di Bureng diminta berkisah oleh penulis naskah. Sang penulis, Mpu Prapanca, ketika itu bersama rombongan Hayam Wuruk hanya singgah dalam perjalanan menuju Singhasari. Pendeta Budha itu menceritakan bahwa pada tahun 1104 saka terdapat seorang raja Perwira Yuda Putera Girinata. Dia lahir tanpa ibu dan dihormati seluruh orang. Raja itu bernama Rangga Rajasa. Bagian itu juga menceritakan bagaimana Rangga Rajasa akhirnya mengalahkan Raja Kediri, Kertajaya. Dia diakui sebagai cikal bakal para raja agung yang akan memerintah Jawa.


Adapun naskah pupuh yang menjelaskan perjalanan hayam wuruk ke candi kagenengan :

Pupuh 36


1. Pada subakala, Baginda berangkat ke selatan menuju Kagênêngan. Akan berbakti kepada makam Bhatara bersama segala pengiringnya. Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera, disambut sorak sorai dari penonton.

2. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa‐Budha dan para bangsawan berderet-deret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa lahap Baginda bersantap sampai puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Letak asli dharma Kagênêngan belum diketahui dengan pasti, tetapi kiranya lokasinya dahulu tidak jauh di sebelah selatan Kota Malang sekarang. Salah satu nama tempat yang menarik perhatian adalah Desa Genengan di Kecamatan Pakisaji, 8 km dari pusat kota di jalan raya menuju Kepanjen. Di desa tersebut pernah ditemukan peninggalan purbakala berupa lingga dari batu andesit. Ada juga sebuah dusun bernama Kagenengan di Desa Parangargo, termasuk Kecamatan Wagir. Di bagian selatan dusun tersebut tampak sebidang tanah tinggi yang diapiti dua sungai disebut Sokan oleh penduduk setempat. Di situ ditemukan pecahan batu bata berukuran besar atau pun fragmen batu termasuk sebuah lingga kecil. Tak jauh dari situ terdapat Gunung Katu yang banyak ditemukan benda arkeologis juga.


Pupuh 37


1. Tersebutlah keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara. Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar di dalam, terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.

2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah‐tengah, terlalu indah. Seperti Gunung Meru, dengan arca Bhatara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putera disembah bagai Dewa Bhatara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.

3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya masih berdiri, berciri kasogatan. Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.

4. Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpancar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Di luar gapura pabaktan luhur, tapi longsor tanahnya. Halaman luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.

5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu. Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.

6. Sedih mata memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau masyhur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagat. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan Bhatara.

7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke Kidhal. Sesudah menyembah Bhatara, larut hari berangkat ke Jajaghu. Habis menyembah arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singhasāri, belum lelah telah sampai Burêng.


Ditambahkannya menurut dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono , pada masa lalu, Bukit Katu juga termasuk wilayah Kagenengan. Pada masa selanjutnya, wilayah Kagenengan 'menciut'. Artinya, hanya menunjuk pada wilayah Dusun Kagenengan Desa Parangargo, seperti yang ada saat ini. "Dulunya, yang disebut Kagenengan itu mencakup daerah-daerah yang ada di sekitar Bukit Katu, jadi luas, tidak seperti sekarang yang hanya 'menjadi' nama dusun," jelasnya.

Jika teori tentang Bukit Katu sebagai tempat pendharmaan Ken Angrok benar, maka akan tergambar bahwa Gunung/Bukit Katu juga dikonsepsikan sebagai gunung suci.

Namun menurut para sesepuh di daerah kec. Wagir dan para ahli spiritual bahwa di puncak Gunung Katu merupakan letak dari Candi Kagenengan yang konon merupakan candi yang sangat indah, megah dan terbesar di deretan candi-candi kerajaan Singhasari dan Majapahit serta dikabarkan sebagai pendharmaan dari sang Rajasa Ken Arok. Candi Kagenengan dapat di gambarkan candi yang bertema atau berarsitektur dewa siwa, jadi di dalam candi ada patung kerbau/sapi yang menghiasi candi tersebut dll.

,Watu Dakon di Gunung Katu (dan situs serupa) umumnya bermakna sebagai sarana pemujaan arwah leluhur atau altar sesajian pada zaman prasejarah. Lubang-lubang pada batu besar ini diyakini digunakan untuk menempatkan sesaji seperti kembang-kembangan atau biji-bijian sebagai bentuk penghormatan atau ritual khusus.

Puncak Gunung Katu

Read More

Kisah Nabi Zakaria AS merawat Maryam binti Imran

 Kisah Nabi Zakaria AS merawat Maryam binti Imran

Tindakan pertama yang diambil oleh Zakaria sebagai petugas yang diwajibkan menjaga keselamatan Maryam ialah menjauhkannya dari keramaian sekeliling dan   dari   jangkauan   para   pengunjung   yang   tiada   henti-hentinya   berdatangan ingin melihat dan menjenguknya.

Kisah Nabi Zakaria AS merawat Maryam binti Imran

 Ia ditempatkan oleh Zakaria di sebuah kamar di   atas   loteng   Baitulmaqdis   yang   tinggi   yang   tidak   dapat   dicapai   melainkan dengan      menggunakan       sebuah    tangga.    Zakaria    merasa    bangga    dan   bahagia beruntung        memenangkan         undian      memperolehi        tugas    mengawasi        dan memelihara        Maryam       secara    sah    adalah     anak    saudaranya       sendiri.    Ia mencurahkan   cinta   dan   kasih   sayangnya   sepenuhnya   kepada   Maryam   untuk menggantikan         anak    kandungnya      yang    tidak    kunjung     datang.     Tiap    ada kesempatan         ia   datang     menjenguknya,        melihat     keadaannya,       mengurus keperluannya dan menyediakan segala sesuatu yang membawa ketenangan dan kegembiraan        baginya.    Tidak    satu   hari  pun    Zakaria    pernah    meninggalkan tugasnya menjenguk Maryam.

Rasa   cinta   dan   kasih   sayang   Zakaria   terhadap   Maryam   sebagai   anak   saudara isterinya     yang   ditinggalkan     ayahnya     meningkat     menjadi     rasa   hormat    dan takzim     tatkala   terjadi    suatu   peristiwa    yang   menandakan       bahawa     Maryam bukanlah      gadis   biasa   sebagaimana      gadis-gadis    yang    lain,  tetapi   ia  adalah wanita   pilihan   Allah   untuk   suatu   kedudukan   dan   peranan   besar   di   kemudian hari.

Pada     suatu   hari   tatkala    Zakaria   datang     sebagaimana      biasa,   mengunjungi Maryam,   ia   mendapatinya   lagi   berada   di   mihrabnya   tenggelam   dalam   ibadah berzikir dan bersujud kepada Allah. Ia terperanjat ketika pandangan matanya menangkap   hidangan   makanan   berupa   buah-buahan   musim   panas   terletak   di depan     Maryam      yang   lagi  bersujud.     Ia  lalu  bertanya     dalam    hatinya,    dari manakah gerangan buah-buahan itu datang, padahal mereka masih lagi berada pada   musim   dingin   dan   setahu   Zakaria   tidak   seorang   pun   selain   dari   dirinya yang   datang   mengunjungi   Maryam.   Maka   ditegurlah   Maryam   tatkala   setelah selesai   ia   bersujud   dan   mengangkat   kepala:   "Wahai   Maryam,   dari   manakah engkau memperolehi rezeki ini, padahal tidak seorang pun mengunjungimu dan tidak pula engkau pernah meninggalkan mihrabmu? Selain itu buah-buahan ini adalah     buah-buahan      musim     panas   yang   tidak   dapat    dibeli  di  pasar    dalam musim dingin ini."

Maryam menjawab: "Inilah pemberian Allah kepadaku tanpa aku berusaha atau minta. Dan mengapa engkau merasa hairan dan takjub? Bukankah Allah Yang Maha     Berkuasa     memberikan      rezekinya     kepada    sesiapa    yang   Dia  kehendaki dalam bilangan yang tidak ternilai besarnya?" Demikianlah Allah telah memberikan tanda pertamanya sebagai mukjizat bagi

Maryam, gadis suci, yang dipersiapkan oleh-Nya untuk melahirkan seorang nabi besar yang bernama Isa Almasih a.s.

Kisah   lahirnya   Maryam   dan   pemeliharaan   Zakaria   kepadanya   dapat   dibaca dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 35 hingga 37 dan 42 hingga 44.
Read More

Rabu, 11 Maret 2026

Sumber Biru di Singosari Kabupaten Malang

Sumber Biru ini tepatnya terletak di tepi sungai Klampok, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Keindahan alam dan latar belakang sejarah yang melekat mungkin menjadi daya tarik Sumber Biru.

Sumber Biru ini dahulu adalah sebuah mata air yang mengeluarkan gumpalan-gumpalan air yang berwarna biru seperti tinta. Ceritanya, di sumber air inilah Empu Gandring mensucikan keris buatannya. Semua senjata kerajaan harus disucikan di Sumber Biru terlebih dahulu sebelum dikirab ke seluruh kawasan Proses mensucikan senjata ini tidak sembarangan. Penyucian senjata kerajaan harus melalui dua kali proses, yang pertama senjata direndam ke dalam mata air yang disakralkan, yaitu Banyu Biru. Setelah itu, senjata kerajaan disucikan ke petirtaan Sumber Nagan.Berbeda dengan jalan menuju Sumber Boto Rubuh yang masih alami , jalan menuju Sumber Nagan sudah dibangun tangga dengan pegangan dari paralon.

Sumber Biru di Singosari Kabupaten Malang

Dipercaya warga setempat disinilah tempat pemandian Ken Dedes dan Ken Arok pada jaman Sumber Biru sedikit terpencil, namun tidak jauh dari jalan menuju Dusun Kreweh, desa Gunungrejo. Dari Candi Singosari hanya berjarak 1,5 kilometer barat laut dan dari Pasar Singosari berjarak sekitar 67 km. Untuk menuju ke tempat ini, Anda bisa menuju ke sana dengan kendaraan pribadi atau ojek. Perjalanan dengan ojek hanya kenakan biaya Rp 5.000 sekali jalan.

Konon menurut cerita, nama Dusun Biru berasal dari munculnya sebuah mata air yang mengeluarkan gumpalan-gumpalan air yang berwarna biru seperti tinta. Di sumber air inilah Empu Gandring mensucikan keris hasil tempaannya.

Semua senjata kerajaan disucikan terlebih dahulu untuk kemudian dikirab ke seluruh kawasan kerajaan. Penyucian senjata kerajaan sendiri harus melalui dua kali proses, yang pertama senjata direndam ke dalam mata air yang disakralkan di Banyu Biru, kemudian lalu disucikan ke petirtan Sumber Nagan.

Petirtan adalah sumber air yang diyakini sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sampai sekarang pun keyakinan itu masih melekat di masyarakat sekitar.


Sumber biru singosari kabupaten malang

Read More

Makna dibalik gerhana bulan menurut beberapa kepercayaan

Gerhana bulan selalu berhasil mencuri perhatian. Tak heran, di banyak tempat di dunia, momen ini melahirkan mitos, pertanda, dan cerita-cerita kosmis yang diwariskan dari generasi ke generasi.Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi satelit alaminya. Warna kemerahan yang muncul berasal dari pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi—fenomena yang sama yang membuat langit tampak merah saat matahari terbit dan terbenam. Namun bagi banyak peradaban kuno, warna merah itu bukan sekadar efek optik, melainkan isyarat dari dunia gaib.

Makna dibalik gerhana bulan menurut beberapa kepercayaan

Di peradaban Inca, misalnya, bulan yang memerah diyakini sedang diserang jaguar langit. Hewan buas itu dianggap mencoba memakan bulan, dan jika tidak diusir, ia akan turun memangsa manusia. Untuk menghalaunya, orang-orang berteriak, mengguncang senjata, dan membuat anjing melolong agar kebisingan tersebut menakuti sang jaguar.

Di Mesopotamia kuno, gerhana dipandang sebagai ancaman langsung terhadap raja. Karena para ahli astronomi kala itu mampu memprediksi waktu gerhana, sebuah ritual unik pun dilakukan: raja asli bersembunyi, sementara seorang “raja pengganti” ditunjuk untuk menerima nasib buruk yang mungkin menyertai peristiwa tersebut. Setelah gerhana usai, raja sejati kembali naik takhta.

Dalam tradisi Hindu, gerhana bulan dikaitkan dengan sosok iblis Rahu yang berhasil meminum ramuan keabadian. Matahari dan bulan yang mengetahui hal itu segera memenggal kepalanya. Namun karena sudah meneguk ramuan tersebut, kepala Rahu tetap hidup dan abadi.Didorong dendam, ia terus memburu matahari dan bulan untuk menelannya. Ketika ia berhasil menangkap bulan, terjadilah gerhana; bulan seolah tertelan, lalu muncul kembali dari leher Rahu yang telah terpenggal.Di banyak wilayah India, gerhana bulan juga dipercaya sebagai pertanda kurang baik. Makanan dan air biasanya ditutup rapat, sementara berbagai ritual pembersihan dilakukan. Perempuan hamil secara khusus dianjurkan untuk tidak makan atau mengerjakan pekerjaan rumah selama gerhana, sebagai bentuk perlindungan bagi janin yang dikandungnya.

Meski demikian, tak semua kisah gerhana dipenuhi bayangan ancaman atau keburukan. Melansir The Conversation,

Suku Hupa dan Luiseño asli Amerika dari California percaya bahwa bulan terluka atau sakit.Setelah gerhana, bulan kemudian perlu disembuhkan, baik oleh istri-istri bulan atau oleh anggota suku. Suku Luiseño, misalnya, akan menyanyikan dan melantunkan lagu-lagu penyembuhan ke arah bulan yang gelap.

Batammaliba di Togo dan Benin, Afrika. gerhana bulan digambarkan sebagai sesuatu yang menggembirakan Mereka memandang gerhana bulan sebagai pertikaian antara matahari dan bulan. Konflik itu diyakini perlu “didamaikan” oleh manusia. Karena itu, momen gerhana dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk mengakhiri perselisihan dan memperbaiki hubungan—sebuah tradisi yang masih dijaga hingga kini.

Dalam budaya Islam, gerhana cenderung ditafsirkan tanpa takhayul. Dalam Islam, matahari dan bulan melambangkan rasa hormat yang mendalam kepada Allah, sehingga selama gerhana, doa-doa khusus dilantunkan termasuk Salat-al-khusuf, "doa pada gerhana bulan" . Doa ini memohon ampunan Allah dan menegaskan kembali kebesaran Allah.

Sumber : https://youtu.be/fsg18sxjvO0

Kini, ketika sains sudah mampu menjelaskan gerhana bulan hingga hitungan detik, pesonanya tetap tak memudar. Saat bulan memerah, orang-orang masih berhenti sejenak dan merasakan takjub, persis seperti leluhur dahulu. Di antara sains dan cerita-cerita lama yang diwariskan turun-temurun, gerhana bulan menunjukkan bahwa manusia selalu berusaha memahami langit dengan bahasa zamannya. Mitos-mitos itu pun menjadi cermin cara peradaban membaca alam semesta.

Makna Gerhana Bulan menurut beberapa kepercayaan

Read More

Kisah Keluarga Imran

 Kisah Keluarga Imran

Tahun   demi   tahun   berlalu,   usia   makin   hari   makin   lanjut,   namun   keinginan tetap    tinggal   keinginan    dan   idam-idaman     tetap    tidak  menjelma      menjadi kenyataan. Berbagai cara dicubanya dan berbagai nasihat dan petunjuk orang diterapkannya,   namun   belum   juga   membawa   hasil.   Dan   setelah   segala   daya upaya     yang    bersumber     dari   kepandaian      dan   kekuasaan     manusia     tidak membawa   buah   yang   diharapkan,   

Kisah Keluarga Imran

sedarlah   isteri   Imran   bahawa   hanya   Allah tempat     satu-satunya     yang   berkuasa    memenuhi      keinginannya     dan   sanggup mengurniainya   dengan   seorang   anak   yang   didambakan   walaupun   rambutnya sudah    beruban    dan   usianya   sudah    lanjut.  Maka   ia  bertekad    membulatkan harapannya      hanya    kepada   Allah   bersujud   siang   dan   malam    dengan    penuh khusyuk     dan    kerendahan     hati   bernazar    dan   berjanji   kepada     Allah   bila permohonannya dikabulkan, akan menyerahkan dan menghebahkan anaknya ke Baitul Maqdis untuk menjadi pelayan, penjaga dan memelihara rumah suci itu dan   sesekali   tidak   akan   mengambil   manfaat   dari   anaknya   untuk   kepentingan dirinya atau kepentingan keluarganya.

Harapan isteri Imran yang dibulatkan kepada Allah tidak tersia-sia. Allah telah menerima permohonannya dan mempersembahkan doanya sesuai dengan apa yang   telah disuratkan   dalam   takdir-Nya   bahawa   dari suami   isteri   Imran   akan diturunkan   seorang   nabi besar.   Maka   tanda-tanda   permulaan   kehamilan   yang dirasakan oleh setiap perempuan yang mengandung tampak pada isteri Imran yang   lama    kelamaan   merasa   gerakan   janin   di   dalam   perutnya   yang   makin membesar.        Alangkah     bahagia     si  isteri   yang   sedang     hamil    itu,   bahawa idam-idamannya itu akan menjadi kenyataan dan kesunyian rumah tangganya akan   terpecahlah   bila   bayi   yang   dikandungkan   itu   lahir.   Ia   bersama   suami mulai merancang apa yang akan diberikan kepada bayi yang akan datang itu. Jika mereka sedang duduk berduaan tidak ada yang diperbincangkan selain soal bayi   yang   akan   dilahirkan.   Suasana   suram   sedih   yang   selalu   meliputi   rumah tangga   Imran   berbalik   menjadi   riang   gembira,   wajah   sepasang   suami   isteri Imaran   menjadi   berseri-seri   tanda   suka   cita   dan   bahagia   dan   rasa   putus   asa yang mencekam hati mereka berdua berbalik menjadi rasa penuh harapan akan hari kemudian yang baik dan cemerlang.

Akan tetapi sangat benarlah kata mutiara yang berbunyi: "Manusia merancang, Tuhan menentukan. Imran yang sangat dicintai dan sayangi oleh isterinya dan diharapkan akan menerima putera pertamanya serta mendampinginya dikala ia melahirkan       ,  tiba-tiba   direnggut     nyawanya      oleh   Izra'il  dan   meninggallah isterinya seorang diri dalam keadaan hamil tua, pada saat mana biasanya rasa cinta kasih sayang antara suami isteri menjadi makin mesra. Rasa sedih yang ditinggalkan oleh suami yang disayangi bercampur dengan rasa sakit dan letih yang didahului kelahiran si bayi, menimpa isteri Imran di saat-saat dekatnya masa melahirkan.

Maka     setelah    segala    persiapan    untuk    menyambut       kedatangan      bayi   telah dilakukan   dengan   sempurna   lahirlah   ia   dari   kandungan   ibunya   yang   malang menghirup        udara    bebas.    Agak     kecewalah      si  ibu   janda     Imran    setelah mengetahui   bahawa   bayi   yang   lahir   itu   adalah   seorang   puteri   sedangkan   ia menanti seorang putera yang telah dijanjikan dan bernazar untuk dihebahkan kepada      Baitulmaqdis.     Dengan    nada    kecewa    dan    suara   sedih   berucaplah     ia seraya     menghadapkan         wajahnya      ke    atas:   "Wahai     Tuhanku,      aku    telah melahirkan seorang puteri, sedangkan aku bernazar akan menyerahkan seorang putera   yang   lebih   layak   menjadi   pelayan   dan   pengurus   Baitulmaqdis.   Allah akan mendidik puterinya itu dengan pendidikan yang baik dan akan menjadikan Zakaria,      iparnya     dan    bapa     saudara     Maryam       sebagai     pengawas      dan pemeliharanya.

Demikianlah   maka   tatkala   Maryam   diserahkan   oleh   ibunya   kepada   pengurus Baitulmaqdis, para rahib berebutan masing-masing ingin ditunjuk sebagai wali yang    bertanggungjawab         atas   pengawasan      dan   pemeliharaan       Maryam.     Dan  kerana   tidak   ada   yang   mahu   mengalah,   maka   terpaksalah   diundi   di   antara mereka   yang   akhirnya   undian   jatuh   kepada   Zakaria   sebagaimana   dijanjikan oleh Allah kepada ibunya.
Read More