KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W
Wafatnya ayah Nabi Muhammad SAW
Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang
tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang
bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan
nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat- Nya yang
mulia untuk mengutus seorang rasul yang
membawa ajaran langit
untuk mengakhiri penderitaan
di tengah-tengah kehidupan. Dan
ketika malam mencekam,
datanglah matahari para nabi.
Kedatangan Nabi tersebut
sebagai bukti terkabulnya doa
Nabi Ibrahim as kekasih
Allah SWT, dan
sebagai bukti kebenaran
berita gembira yang disampaikan
oleh Nabi Isa as.

Allah SWT menyampaikan selawatnya kepada Nabi itu, sebagai
bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan selawat kepadanya
sebagai bentuk pujian dan
permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin berselawat kepadanya sebagai bentuk
penghormatan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya." (QS. al-Azhab: 56) Sebelumnya Allah SWT mengutus para nabi-Nya
sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka saja, namun Allah SWT mengutus
beliau saw sebagai rahmat bagi
alam semesta. Beliau
Nabi Muhammad saw
datang dengan membawa rahmat yang mutlak untuk kaum
di zamannya dan untuk seluruh zaman. Allah SWT berfirman, "Dan aku tidak
mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta." Hakikat dakwah para
nabi sebelumnya adalah menyebarkan Islam, begitu juga ajaran yang
dibawa oleh Nabi yang terakhir
adalah Islam. Beliau
saw adalah Muhammad bin Abdillah
bin Abdul Muthalib,
anak seorang wanita
Quraisy. Beliau saw adalah
pemimpin anak-anak Nabi
Adam as. Beliau
saw adalah hamba Allah
SWT dan Rasul-Nya,
serta rahmat Allah
SWT yang dihadiahkan kepada umat manusia. Beliau saw
lahir di tanah
Arab. Ketika itu
malam gelap, tiba-tiba
Abdul Muthalib membayangkan bahawa
matahari telah terbit,
lalu ia bangun
dan ternyata mendapati dirinya di pertengahan malam, keheningan yang luar
biasamenyelimuti gurun yang
terbentang. Ia menuju
pintu khemah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar
di langit, dan dunia tampak di selimuti dengan
malam. Ia kembali
menutup pintu khemah
dan tidur. Belum
lama ia dikuasai oleh
rasa kantuk yang
amat sangat, sehingga
ia kembali bermimpi untuk kedua
kalinya. Segala sesuatunya tampak
jela s kali
ini, Sesungguhnya sesuatu yang
besar memerintahnya untuk melaksanakan perintah yang sangat penting,
"Galilah zamzam!" Dalam mimpinya Abdul Muthalib bertanya:
"Apakah itu zamzam?" Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu
mengatakan bahawa ia diperintahkan untuk menggali zamzam.
Belum lama Abdul Muthalib melihat sesuatu yang
bersembunyi itu, sehingga
ia berdiri di
tempat tidurnya dan hatinya berdebar dengan keras. Abdul
Muthalib bangkit, lalu ia membuka pintu khemah kemudian pergi ke gurun yang
luas. Apakah erti zamzam? Tiba- tiba fikirannya dipenuhi
dengan cahaya yang
datang dari jauh,
bahawa pasti zamzam adalah
sebuah sumur, tetapi
apa yang diinginkan
oleh suara yang datang
dalam tidur itu
agar ia menggali
sumur, di sana
tidak ada jawapan selain satu jawapan dari pertanyaan
ini, yaitu agar orang- orang yang berhaji dan
berkeliling di sekitar
Ka'bah dapat meminumnya.
Tetapi apa nilai
dari sumur itu sendiri,
bukankah di sana
terdapat banyak sumur
yang dapat diminum oleh
orang-orang yang berhaji. Abdul Muthalib duduk di tengah-tengah pasir gurun
pada pertengahan malam, ia memikirkan bintang-bintang sembari merenungkan
cerita- cerita kuno yang mengatakan
tentang sumur yang
memancar darinya
air sebagai akibat
dari pukulan kaki Nabi Ismail as, di sana juga ada cerita yang
mengatakan bahawa sumur itu telah binasa sesuai dengan perjalanan zaman.
Matahari terbit di
atas gurun Jazirah
Arab, Abdul Muthalib
keluar menemui orang-orang, dan
menceritakan kepada mereka
bahawa ia akan
menggali sebuah sumur di tempat tertentu, ia menunjukkan ke tempat yang
di situ ia diberitahu oleh suara
yang ada dalam
mimpinya. Orang- orang
Quraisy menolaknya,
Sesungguhnya tempat yang
diisyaratkan oleh Abdul
Muthalib terletak di antara dua berhala dari berhala-berhala yang biasa
disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama Ashaf
dan Nalah. Abdul Muthalib merasa bahawa usahanya sia- sia untuk meyakinkan
kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahawa
Abdul Muthalib tidak mempunyai sesuatu selain hanya seorang anak. bahawasanya
ia tidak memiliki anak-
anak yang dapat
menolong dan memperkuatnya serta melaksanakan keinginan-keinginannya.
Pada saat itu
di kawasan negeri
Arab dipenuhi dengan
kabilah-kabilah yangterjalin suatu
ikatan fanatisme atau
kesukuan yang
kuat dan usaha
untuk melindungi
keluarga yang sangat
menonjol. Akhirnya Abdul
Muthalib pergi dalam keadaan
sedih, lalu ia
berdiri di hadapan
Ka'bah dan mengungkapkan suatu nazar kepada Allah SWT.
Ia berkata: "Jika aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan
mereka menginjak usia
dewasa, sehingga mereka
mampu melindungiku saat aku menggali sumur Zamzam, maka aku akan menyembelih
salah seorang dari mereka di sisi Ka'bah sebagai bentuk korban." Pintu
langit pun terbuka untuk doanya. Belum sampai berlangsung satu tahun, isterinya
melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak
laki-laki sampai pada
tahun yang ke
sembilan, sehingga Abdul
Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan
anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar. Abdul Muthalib
akhirnya menjadi seseorang yang
memiliki kemampuan. Kemudian Abdul
Muthalib berusaha melakukan
rencananya yang diisyaratkan dalam mimpinya
itu, yaitu ia
bersiap-siap untuk mengorbankan salah
satu anaknya sebagai bentuk
pelaksanaannya dari nazarnya.
Maka dilakukanlah undian atas
sepuluh anaknya, lalu
keluarlah nama anaknya
yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu
keluar dalam undian, maka orang-orang yang
ada disekitarnya berusaha
memberontak, mereka mengatakan
bahawa mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat
itu terkenal sebagai seseorang yang bersih di kawasan Arab, ia telah dapat
menarik simpati masyarakat di
sekitarnya. Ia tidak
pernah menyakiti seseorang pun.
Bahkan ia tidak
pernah meninggikan suaranya lebih dari
orang lain. Senyuman
khas Abdullah terkenal
sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan Jazirah
Arab. Muatan rohaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai
sebuah kebun di tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh kerana itu semua
manusia datang kepadanya dan menentang usaha
penyembelihannya.
Para pembesar
Quraisy berkata, "Lebih
baik kami menyembelih anak-anak
kami daripada ia
harus disembelih, dan
menjadikan anak-anak kami
sebagai tebusan baginya.
Kami tidak akan
menemukan seseorang pun yang
lebih baik dari
dia seandainya kami
menyembelihnya, pertimbangkanlah
kembali masalah itu,
dan biarkan kami
bertanya kepada dukun."
Abdul Muthalib tampak
tidak mampu menghadapi tekanan ini,
lalu ia mempertimbangkan kembali
apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang dukun. Si
dukun berkata: "Berapakah taruhan yang kalianmiliki?" Mereka
menjawab: "Sepuluh ekor
unta." Dukun itu
berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian
atasnya dan atas nama Abdullah, jika
undian datang padanya,
maka tambahlah sepuluh
ekor unta lagi, lalu
ulangilah terus undian
tersebut, demikian hingga
tidak keluar lagi nama Abdullah."
Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang
besar. Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul
Muthalib menambah sepuluh
ekor unta lagi,
kemudian lagi- lagi
yang keluar nama Abdullah sehingga
mereka pun menambah sepuluh ekor unta lagi sampai jumlah unta itu telah
mencapai seratus ekor unta. Setelah itu, datanglah nama unta tersebut. Maka
saat itu, masyarakat demikian gembiranya sehingga berlinangan air
mata, kegembiraan dari
mereka kerana melihat
Abdullah berhasil
diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus
ekor unta di
sisi Ka'bah, dan mereka membiarkannya di situ sehingga korban itu tidak
disentuh oleh seseorang pun dan juga disentuh oleh binatang-binatang buas.
Abdul Muthalib sangat
gembira atas keselamatan
anaknya, Abdullah. Lalu
ia menetapkan untuk menikahkannya dengan gadis
terbaik di Jazirah
Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu hari dari Ka'bah ke rumah
Wahab, dan di sana
ia meminang untuknya
Aminah binti Wahab.
Kemudian Aminah binti Wahab
menikah dengan Abdullah
bin Abdul Muthalib,
seorang pemuda yang paling mulia
dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy. Dinyalakanlah api-api
di gunung-gunung Mekah,
agar para musafir
dan para tamu mengetahui tempat
diadakannya acara tersebut, yaitu acara pernikahan antara Abdullah dan Aminah.
Lalu disembelihlah haiwan- haiwan korban, dan manusia dari
kalangan orang-orang fakir
bahkan binatang-binatang buas
dan burung makan darinya. Abdullah tinggal bersama isterinya dua bulan
di rumah pernikahan, hingga suatu hari ada khabar bahawa kafilah akan
berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti
kafilah tersebut dan
melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan Quraisy
menuju Syam, itu
adalah kesempatan terakhir
yang diperoleh Aminah
binti Wahab bersamanya. Wajah Abdullah yang
mulai tampak berseri-seri mengucapkan selamat tinggal
kepada Aminah, lalu setelah itu bayang- bayang wajahnya tersembunyi bersama
kafilah dan mereka pun hilang. Aminah tidak mengetahui bahawa itu adalah
kesempatan terakhirnya setelah dua bulan dari perkawinannya. Abdullah mengunjungi paman-
pamannya dari kabilah bani Najar di
Madinah, dan di
sana ia meletakkan jasadnya di
muka bumi, ia meninggal dunia.
Nabi Muhammad SAW menjadi yatim sejak dalam kandungan
Abdullah bin Abdul Muthalib kini telah meninggal. Saat itu
ia berusia dua puluh lima tahun. Khabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan
sangat memilukan hati orang-orang
yang mendengarnya, sehingga khabar
itu sampai ke
isterinya. Aminah tampak menangis tersedu-sedu dan
ia tampak menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada dirinya
dan tidak mengetahui jawapannya, mengapa Allah
SWT menebusnya dengan
seratus unta jika
kemudian Dia menetapkan
kematian baginya. Tidak lama kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin dengan
gerakan yang sedikit, ia tampak
mulai mengetahui bahawa
ia sedang hamil.
Aminah menangis dua kali,
pertama ia menangis
untuk dirinya sendiri dan
kali ini ia menangis untuk
anak yang ditinggal
mati ayahnya sebelum
ia sempat dilahirkan. Aminah
tidak pernah mengetahui
sebelumnya bahawa janin
yang dikandungnya akan menjadi anak yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan.
Anak yatim ini
harus menanggung beban
anak-anak yatim dan
orang- orang fakir serta
orang-orang yang sedih di muka bumi. Ia akan menjadi Nabi yang terakhir dan
rasul-Nya kepada manusia.
Ia akan menjadi
rahmat yang dihadiahkan kepada
manusia dan tidak akan mengetahui makna rahmat kecuali orang yang
merasakan penderitaan dan
kepahitan. Inilah anak
kecil yang sebelum dilahirkan
telah menelan kesedihan.
Dan berlalulah hari
demi hari, lalu hilanglah
tangisan penderitaan dan
mata Aminah pun
telah mengering, namun
kesedihannya tampak menyerupai sebuah pohon yang tumbuh bersama kehausan.
Kemudian kesedihannya hari demi hari semakin ia rasakan tetapi kesedihannya itu mulai
tidak tampak ketika
ia mendapatkan bahawa janin
yang dikandungnya
tidaklah memberatkannya, sebaliknya ia
merasakan betapa
ringannya janin yang
dikandungnya bagaikan merpati
yang berkeliling di seputar Ka'bah, dan seandainya
kesedihannya yang selalu mengitarinya, maka tidak ada wanita yang lebih bahagia
darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu adalah manusia yang mulia
di sisi Tuhan,
Pasukan gajah Abrahah
kemudian semakin dekatlah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, pasukan Abrahah mendekati Mekah. Abrahah adalah
seorang penguasa Yaman,
yaitu pada saat
Yaman tunduk kepada Habasyah
setelah penguasa Persia
diusir. Di Yaman
ia membangun suatu gereja
yang menunjukkan bangunan yang
menakjubkan. Abrahahmembangunnya
dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di Mekah.
Ia melihat betapa
orang- orang Yaman
tertarik dengan rumah tersebut. Dan ketika ia tidak melihat
gereja yang dibangunnya memiliki daya tarik
seperti itu dan
tidak mampu menarik
hati orang-orang Arab,
maka ia berkeinginan kuat
untuk menghancurkan Ka'bah,
sehingga orang-orang tidak menuju ke
Ka'bah lagi melainkan
ke gerejanya. Demikianlah akhirnya ia menyiapkan pasukan yang
besar yang dipenuhi
dengan berbagai senjata, kemudian pasukan itu menuju
Ka'bah. Pasukan Abrahah terdiri
dari kelompok gajah
yang besar yang
digunakannya untuk
menghancurkan Ka'bah. Gajah-gajah
itu bagaikan tank-tank
yang kita gunakan saat ini.
Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang Arab saat
itu terkenal sebagai
penyembah berhala, meskipun demikian mereka sangat
memberikan penghargaan dan
penghormatan terhadap Ka'bah, kerana
mereka meyakini bahawa
mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as
pemelihara Ka'bah. Perjalanan
pasukan tiba-tiba dihadang
oleh seorang lelaki
yang mulia dari penduduk Yaman
yang bernama Dunaher. Ia
mengajak kaumnya dan
dari kalangan orang-orang Arab untuk memerangi Abrahah, sehingga ada
beberapa orang yang mengikutinya. Abrahah berhadapan dengan tentera tersebut
tetapi pasukan yang sedikit
itu dapat dengan
mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar itu. Kemudian Dunaher pun kalah
dan menjadi tawanan Abrahah. Pasukan
Abrahah tersebut juga
sempat ditentang oleh
Nufail bin Hubaid al-Aslami, namun
Abrahah pun dapat
mengalahkan mereka dan
berhasil menawan Nufail. Kemudian
ketika Abrahah
melewati kota Taif,
menghadaplah kepadanya
beberapa orang tokoh setempat, dan mereka tampak gementar ketakutan dan berkata
kepadanya bahawa sesungguhnya 'rumah' yang ditujunya tidak berada di tempat
mereka, tetapi berada di Mekah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud untuk
memalingkannya dari rumah berhala
mereka, di mana mereka membangun di
dalamnya berhala yang
bernama Latha kemudian
mereka mengutus seseorang yang
akan menunjukkan kepada
Abrahah letak Ka'bah. Ketika Abrahah
berada di antara
Taif dan Mekah,
ia mengutus seorang pemimpin pasukannya sehingga ia
melihat keadaan Mekah.
Di sana ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy
dan selain mereka, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik
Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu
Abdul Muthalib adalah
salah seorang pembesar
Quraisy dan pemimpin mereka, serta pengawas sumur
Zamzam.
Kedatangan
utusan Abrahah di
Mekah telah menimbulkan gejolak
pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum
Khananah. Kemudian mereka mengetahui bahawa
mereka tidak memiliki
kemampuan untuk melawan Abrahah, sehingga mereka membiarkannya, lalu
tersebarlah di Jazirah Arab berita
tentang datangnya pasukan
yang kuat yang
sulit untuk ditandingi. Dalam
surat yang dibawa
oleh utusannya itu,
Abrahah menyampaikan bahawa ia
tidak datang untuk
memerangi mereka, namun
ia datang hanya untuk menghancurkan Ka'bah. Jika mereka tidak
menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui
Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib
berkata: "Kami tidak ingin memeranginya kerana kami tidak memiliki
kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah
kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat
suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki
kekuatan untuk mempertahankannya."
Kemudian utusan itu
pergi bersama Abdul
Muthalib menuju Abrahah. Abdul Muthalib adalah seseorang yang sangat
terpandang dan sangat mulia. Ia memiliki
kewibawaan dan kehormatan
yang mengagumkan. Ketika
Abrahah melihatnya,
Abrahah menampakkan penghormatan kepadanya. Abrahah memuliakannya dan
mendudukannya di bawahnya,
ia tidak suka
bahawa ia duduk bersamanya
di kursi kekuasaannya. Lalu
Abrahah turun dari
kerusinya dan duduk di
atas sebuah permaidani
dan mendudukkan Abdul
Muthalib di sisinya. Kemudian
ia berkata kepada
penerjemahnya:
"Katakan padanya apa kebutuhannya?" Abdul
Muthalib berkata: "Kebutuhanku adalah
agar Abrahah mengembalikan dua
ratus ekor unta
yang diambilnya dariku" Ketika
Abdul Muthalib mengatakan demikian, wajah
Abrahah berubah, lalu
ia berkata kepada penerjemahnya:
"Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku
merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara
denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau
membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan datuk-datuknya, yang
aku datang untuk
menghancurkannya dan dia
tidak menyinggungnya sama sekali"
Abdul Muthalib menjawab:
"Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu
adalah Tuhan yang melindunginya." Abrahah berkata: "Dia
tidak akan mampu
melindunginya
dariku." Abdul Muthalib menjawab: "Lihat saja
nanti!" Selesailah dialog antara
Abdul Muthalib dan
Abrahah. Abrahah pun mengembalikan unta yang telah
dirampasnya.
Abdul Muthalib pergi menemuiorang-orang Quraisy dan
menceritakan apa yang
dialaminya, dan ia memerintahkan mereka
untuk meninggalkan Mekah
dan berlindung dibalik gua-gua di gunung. Akhirnya kota
Mekah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke gunung-gunung
di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah Arab. Abdul Muthalib
berdiri dan memegangi
pintu Ka'bah dan
berdiri bersama dengan
sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta perlindungan-Nya, agar
para malaikat memerintahkan gajah-gajah tidak melangkahkan
kakinya sehingga gajah
itu pun tetap
di tempatnya dan mentaati perintah para malaikat,
kemudian gajah-gajah itu menerima pukulan yang dahsyat namun gajah-gajah itu
tetap berdiam di tempatnya, gajah-gajah itu
tampak gementar dan
berteriak tetapi lagi-lagi
gajah-gajah itu menolak untuk bergerak dan tidak bergerak
selangkah pun. Abrahah bertanya: "Mengapa pasukan tidak bergerak?"
Kemudian dikatakan kepadanya bahawa gajah-gajah menolak untuk
bergerak. Abrahah
mengangkat cemetinya. Dengan
muka emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan
gajah-gajahnya. Matahari saat itu
bersinar dan ia
duduk di khemahnya. Ketika
ia keluar, matahari bersembunyi di
balik segerombolan burung.
Abrahah mengangkat pandangannya
ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahawa ia melihat sekawanan awan
yang hitam. Kemudian
ia mengamat- amati
awan itu. Dan ternyata ia
bukan awan biasa.
Itu adalah sekelompok
burung yang menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan
yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak. Gajah-gajah semakin
berteriak dengan kencang
dan tampak ketakutan.
Dan rasa takut itu
kini menghinggapi seluruh
pasukan. Abrahah berteriak
di tengah-tengah pasukannya agar
gajah diusahakan untuk
maju secara paksa. Kemudian terbukalah salah
satu jendela dari
jendela al-Jahim, dan burung-burung itu menghujani pasukan
dengan batu dari Sijil, yaitu batu yang sama
yang pernah dihujankan
kepada kaum Nabi
Luth. Batu itu
menyerupai bom-bom atom yang digunakan saat ini. Jika Anda membaca
buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa yang menimpa
pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahawa Anda berada
di hadapan suatu
kekuatan yang menghancurkan yang
tidak diketahui asal muasalnya. Dunia mengenali sebahagian darinya
setelah empat belas abad dari peristiwa tersebut. Buku-buku itu mengatakan
bahawa pasukan itu dihancurkan dengan penghancuran yang dahsyat.
Para tentera Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana
daging- daging dari tubuh mereka
berciciran di jalan.
Abrahah pun mendapatkan
luka dan mereka keluar dari
tempat itu dalam keadaan dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah pun
terbelah dadanya dan
mati. Kemudian jasad
para pasukannya tersebar dan
berciciran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah mendekati setengah abad,
turunlah suatu surah
di Mekah yang menceritakan tentang peristiwa itu:
"Apakah kamu tidak
memperhatikan bagaimana Tuhanmu
telah bertindak terhadap tentera
gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka
'bah) itu sia-sia?
Dan Dia mengirimkan
kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka
dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka
seperti daun yang dimakan (ulat)." (QS. al-Fil: 1-5) Pasukan gajah yang
ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka dihancurkan dan
Tuhan pemilik Ka'bah
berhasil melindungi rumah suci-Nya.
Kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan bagi orang
yang tinggal di rumah
itu dan bukan
sebagai bentuk pengkabulan
doa kaum yang menyembah berhala yang memenuhi tempat
itu. Allah SWT sebagai Pelindung Ka'bah
memeliharanya kerana adanya
hikmah yang tinggi;
Allah SWT menginginkan sesuatu
bagi rumah itu;
Allah SWT ingin
melindunginya agar tempat itu
menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat
dari akidah yang
baru dan menjadi
tanah bebas yang
aman, yang tidak dikuasai oleh seseorang pun dari luar dan juga tidak
didominasi oleh pemerintahan asing yang akan membatasi dakwah. Yang demikian
itu kerana di sana terdapat rumah
dari rumah-rumah di
Mekah yang lahir
di sana seorang anak di
mana ibunya bernama
Aminah binti Wahab
dan ayahnya adalah Abdullah, salah
seorang tokoh Arab.
Anak itu
belum dilahirkan dan
belum dapat tugas kenabian
dan ia belum
memikul Islam di
atas pundaknya dan belum menjadi rahmat bagi alam semesta.
Kemudian datanglah Abrahah yang ingin menghancurkan semua ini tanpa ia mengetahui
semua rahsia ini. Tragedi yang menimpa Abrahah adalah kerana bahawa ia berusaha
menentang kehendak Ilahi sehingga kehendak Ilahi itu menghancurkannya dengan
mukjizat yang mengagumkan. Datanglah banyak burung dengan membawa batu-batuan
yang tidak didengar
suaranya. Kemudian burung-
burung melemparkan
batu-batu itu kepada
Abrahah berserta tenteranya.
Semua ini berdasarkanrencana Ilahi
terhadap rumah-Nya dan
agama-Nya serta nabi-Nya
sebelum orang mengetahui bahawa
Nabi Islam telah
bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tidurnya di perut ibunya
dan mulai memasuki kehidupan yang keras di muka bumi. Di tengah-tengah kegembiraan
Mekah kerana keselamatan
penghuninya dan selamatnya
Ka'bah, Aminah binti Wahab bermimpi: di tengah suatu malam ia menyaksikan
dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya
suatu cahaya besar yang menyinari timur dan barat dan terbentang hingga langit.
Aminah tiba-tiba terbangun dari
tidurnya namun ia
tidak mengetahui tafsir dari mimpinya. Berlalulah hari demi hari dari
tahun gajah. Dan pada waktu sahur dari malam Senin hari
kedua belas dari
bulan Rabiul Awal,
Aminah melahirkan seorang anak kecil
yang yatim yang
bernama Muhammad bin
Abdillah bin Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin
Ibrahim bin Adam.
Sebelum ia dilahirkan, dunia mati kerana kehausan padanya.
Kehausan dunia sangat besar kepada cinta, rahmat, dan keadilan. Sekarang teiah
berlalu 600 tahun dari kelahiran
al-Masih dan orang-orang
Masehi telah menjauhi
ajaran cinta, bahkan keyakinan-keyakinan berhalaisme telah
meresap kepada sebahagian kelompok
mereka dan kejernihan
ajaran tauhid telah
ternodai. Sedangkan
orang-orang Yahudi telah
meninggalkan wasiat-wasiat Musa
dan mereka kembali menyembah lembu yang terbuat dari emas. Dan setiap
orang dari mereka lebih
memilih untuk
memiliki lembu emas
yang khusus. Demikianlah, berhalaisme telah
menyerang di bumi.
Bumi dipenuhi oleh kegelapan. Akal
disingkirkan dan Tuhan
dilupakan dan mereka
menyerahkan diri mereka kepada pembohong. Ketika jantung dunia telah
terkena kekeringan, maka memancarlah dari timur suatu mata
air keimanan yang
jernih yang menjadi
puas dengannya separa dunia. Dan mukjizat besar terjadi
ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih dari
jantung gurun yang
paling besar ketandusannya di
dunia, yaitu gurun jazirah
Arab. Berkenaan dengan
penggambaran masa tersebut,
dalam hadis yang mulia dikatakan: "Sesungguhnya Allah melihat
penduduk bumi lalu Dia murka kepada mereka, baik orang-orang Arab mahupun
orang-orang Ajam kecuali sebahagian kecil dari Ahlul kitab." Di tenda
yang kasar, lahirlah
seorang anak yatim
yang
kemudianbertanggungjawab
untuk memberikan minum
kepada dunia yang
haus pada cinta, keadilan,
kebebasan, serta kebenaran.
Keadaan Umat manusia ketika Nabi Muhammad SAW lahir
Sementara itu, beberapa langkah dari tempat
Rassul Saw terdapat berhala-berhala yang
memenuhi Baitul 'Athiq dan
sekitar Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar menjadi
rumah Allah SWT dan Dia disembah di dalamnya dan manusia merasa tenteram di
dalamnya. Di rumah
yang kuno ini
- yang dibangun
sebelumnya oleh Adam - dipenuhi patung- patung tuhan yang terbuat dari
batu dan kayu. Ini menunjukkan betapa
akal orang-orang Arab
saat itu mengalami
titik terendah. Sementara
itu nun jauh
di sana, tepatnya
di Yatsrib atau
Madinah dipenuhi oleh
orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana kerana melarikan diri dari
penindasan orang-orang Romawi.
Mereka
tinggal di situ
bagaikan serigala-serigala
di atas tanah
yang tersubur di
mana mereka melakukan monopoli dalam
perdagangan. Mereka membangun
kejayaan mereka dengan memanfaatkan orang-orang Arab dan kehairanan
mereka terhadap diri mereka sendiri. Para cendekiawan Yahudi memperdagangkan
segala sesuatu, dimulai dari emas sampai
Taurat. Mereka menyembunyikan kertas-kertas darinya dan menampakkan sebahagiannya; mereka
mengubah kertas-kertas Taurat
itu untuk memperkaya diri
mereka. Pada saat
orang-orang Yahudi menyembah emas dan
sangat lihai melakukan
persekongkolan, orang- orang
Arab justru menyembah batu
dan mereka pandai
berperang. Mereka juga
lihai dalam membuat syair lalu
menggantungkannya di atas tirai-tirai Ka'bah. Orang-orang Arab hidup
di bawah naungan
sistem kesukuan di
mana kepala suku
adalah pemimpin dan
nilainya sebanding dengan
anak buahnya, dan
kemampuan mereka dalam berperang. Dan
keutamaan seseorang di
lihat dari asal muasalnya serta nilainya juga di lihat
dari kefanatikannya serta kebanggaannya kepada
nasab yang merupakan
kemuliaannya, juga kefanatikannya terhadap berhala tertentu
yang merupakan agamanya.
Jadi, segala bentuk
kemuliaan dan kewibawaan tidak
terbentuk kecuali dalam
ruang lingkup yang sempit dalam kabilah atau kesukuan.
Sedangkan di tempat
yang jauh dari
Mekah, Romawi menyerupai burung rajawali yang
lemah, namun belum
sampai kehilangan kekuatannya. Orang-orang Romawi sangat
menyanjung kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari utara negeri Arab,
orang-orang Persia menyembah api dan air. Api tetap menyala di tempat
peribadatan mereka di mana manusia rukuk untuknya. Dan di sana terdapat danau
Sawah yang dianggap suci oleh mereka.
Sementara
itu, Kisra, raja
kaum Persia duduk
di atas singgahsananya dan memberikan keputusan terhadap
manusia. Keputusan Kisra selalu didengar dan dilaksanakan. Tidak
ada seorang pun
yang berani menentangnya dan menolaknya. Orang-orang
Persia berhasil mengalahkan
Romawi dan Yunani, sehingga mereka
menjadi kekuatan yang
dahsyat di muka
bumi. Meskipun mereka memiliki
kekuatan yang sangat
luar biasa, namun
penyembahan api jelas-jelas menunjukkan betapa bodohnya mereka
dan betapa kekuatan mereka diliputi
oleh kebodohan sehingga
akal mereka tercabut
dan mereka terhalangi untuk mencapai
kebenaran. Alhasil, kegelapan
semakin meningkat di setiap
penjuru bumi dan
kehidupan berubah menjadi
hutan yang lebat
di mana di dalamnya seorang yang kuat akan menyingkirkan seorang yang
lemah dan di dalamnya yang menang adalah kebatilan. Di tengah-tengah suasana
yang demikian kelam, lahirlah seorang anak di tenda Mekah. Ketika
anak tersebut lahir,
maka padamlah api
yang disembah oleh kaum Persia dan keringlah danau Sawah
yang disucikan oleh manusia, bahkan robohlah
empat belas loteng
dari istana Kisra.
Dan syaitan merasa
bahawa penderitaan yang besar telah merobek-robek hatinya. Ini semua
sebagai simbol dimulainya
kehancuran kejahatan atau
keburukan di muka
bumi dan terbebasnya akal
manusia dari penyembahan
terhadap sesama manusia
atau terhadap hal-hal yang
bersifat khurafat. Manusia
diajak hanya untuk menyembah kepada Allah
SWT.
Mukjizat Nabi Muhammad SAW
Kelahiran Rasul
sebagai bukti hilangnya kelaliman, sebagaimana
kelahiran Nabi Musa
yang menunjukkan kebebasan Bani Israil dari kelaliman
Fir'aun. Ajaran Muhammad bin
Abdillah merupakan ajaran
revolusi yang paling meyakinkan dan yang paling penting
yang pernah dikenal di dunia; ajaran yang bertugas untuk
menyelamatkan dan membebaskan
akal dan materi.
tentera Al-Quran adalah tentera
yang paling adil
dan paling berani
untuk menghancurkan orang-orang yang lalim. Kita akan melihat dalam
sejarah Nabi bahawa
kejadian-kejadian luar biasa
telah mengelilingi Ka'bah
sebelum kelahirannya. Kemudian terjadilah peristiwa luar biasa setelah kelahirannya
di mana terjadilah peristiwa
pembelahan dada pada
saat beliau masih
kecil, begitu juga beliau dinaungi oleh awan di waktu kecil, bahkan
beliau terkenal pada saat masih
kecil dengan kecenderungan untuk meninggalkan permainan-permainan yang
biasa dimainkan oleh anak-anak kecil seusia beliau. Allah SWT
memberikan penjagaan khusus
kepadanya sehingga Jibril
as turun kepadanya dengan
membawa wahyu.
Selanjutnya,
mukjizatnya yang pertama
adalah mukjizat yang
terdapat pada keperibadiannya dan
pemikiran-pemikirannya.
Itulah yang menjadi mukjizatnya yang terbesar setelah
Al-Quran; itu adalah bangunan rohani yang tinggi di
mana beliau mampu
menahan penderitaan di
jalan Allah SWT.
Dan dalam menegakkan kebenaran,
beliau memikul berbagai macam rintangan. Beliau melaksanakan amanat
yang dikembangnya secara
sempurna dan sebaik-baik mungkin.
Hal yang indah
yang dikatakan tentang
mukjizat Nabi setelah diutusnya
beliau adalah bahawa
beliau tidak mempunyai mukjizat selain usaha
membebaskan akal: tanpa
memiliki kekuatan luar
biasa selain membebaskan
fikiran, tanpa dalil selain kalimat Allah SWT. Sedangkan Isa
bin Maryam telah
berdakwah dan mengajak
manusia untuk menciptakan kesamaan, persaudaraan, dan
cinta kasih di
antara mereka, namun Muhammad saw
diberi kurnia untuk
mewujudkan persamaan,
persaudaraan, dan cinta kasih di antara orang-orang mukmin di tengah- tengah
kehidupannya dan setelah kehidupannya. Ketika Nabi
Isa mampu menghidupkan orang-orang yang
mati dan mengeluarkan mereka
dari kuburan, Muhammad
bin Abdillah menghidupkan orang-orang hidup dari kematian
mereka yang tidak pernah mereka sedari.
Itu adalah bentuk
kematian yang paling berat. Beliau juga mengeluarkan mereka dari kegelapan dan
kebodohan menuju cahaya ilmu, dan dari belenggu syirik dan kekufuran menuju
dunia tauhid. Sulaiman sebagai seorang
Nabi dan raja
mampu memperkerjakan jin
untuk mengabdi padanya, bahkan
mereka mampu terbang
beribu-ribu mil untuk menghadirkan singgasana musuh-musuhnya agar
mereka semua tercengang terhadap kemampuannya, sehingga
mereka masuk Islam.
Namun Muhammad saw justru
mengabdi kepada Islam
hanya sebagai seorang
tentera yang sederhana. Beliau
mengetahui bahawa ketika
beliau lalai sesaat
saja dari dakwah di jalan Allah
SWT, maka kesempatannya dalam menyebarkan agama Islam akan hilang. Di saat
terjadi peristiwa besar
dalam peperangan, tiba-tiba azan
solat dikumandangkan, sehingga para
pasukan yang berperang
mengerjakan solat. Tidak ada
malaikat yang turun
untuk melindungi mereka
ketika solat atau mencegah datangnya anak-anak panah
dari punggung mereka
saat sujud. kerana itu, hendaklah
para pasukan melindungi dirinya sendiri. Para pasukan mukmin berusaha solat
secara bergantian: sebahagian mereka
solat dansebahagian mereka
bertugas untuk menjaga. Allah SWT berfirman: "Dan apabila kamu berada di
tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan solat
bersama-sama mereka, maka
hendaklah segolongan dari mereka berdiri (solat) bersertamu dan
menyandang senjata, kemudian
apabila mereka sujud
(telah menyempurnakan serakaat),
maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh)
dan hendaklah datang golongan
yang kedua yang
belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan
hendaklah mereka bersiap siaga dan
menyandang senjata. Orang-orang kafir
ingin agar kamu
lengah terhadap senjatamu dan
harta bendamu, lalu
mereka menyerbu kamu dengan sekaligus."(QS.
an-Nisa': 102) Selesailah masalah itu dan tidak ada malaikat yang turun untuk
melindunginya dan menolongnya. Ini adalah masa kematangan akal dan masa
keletihan para nabi dan orang-orang mukmin.
Dan sesuai kadar
keletihan mereka dalam menyampaikan ajaran
Islam, mereka pun
akan mendapatkan balasan
yang besar.
dakwah pada zaman Nabi Muhammad SAW
Pada masa
para nabi sebelum
Nabi Muhammad saw,
mereka menghadirkan
mukjizat-mukjizat kepada kaum mereka saat memulai dakwah, sehingga kaum
tersebut mempercayai apa
saja yang mereka
bawa, sedangkan Nabi Muhammad bin
Abdillah tidak menghadirkan kepada
kaumnya selain dirinya dan ketulusannya. Allah SWT
telah memutuskan untuk
melindungi Musa dan
memerintahkannya untuk
mengangkat gunung di
atas kaumnya hingga
mereka beriman kepada Taurat, atau
untuk menjatuhkan gunung
tersebut di atas
mereka. Ketika mengetahui hal
yang Demikian itu,
orang-orang Yahudi sujud
dengan meletakkan pipi mereka di atas tanah dan mereka mengamati bukit
batu yang berada di atas
kepala mereka yang
diangkat oleh tangan
yang tersembunyi. Sedangkan Nabi
Muhammad bin Abdillah tak pernah memaksa seseorang pun. Berimanlah beberapa
orang kepadanya dan puaslah beberapa orang kepadanya dan matilah
bersamanya orang-orang yang
mati dalam keadaan
puas. Beliau tidak membawa
pedang kecuali saat
panah yang beracun
mendekati jantung Islam dan
mengancamnya.
Dakwah para nabi
menuntut terjadinya mukjizat
demi mukjizat. Ini
kerana masa kekanak-kanakan manusia
serta kelemahan akal
dan hilangnya panca indera menuntut rahmat Allah SWT untuk
mendatangkan mukjizat yang sesuai dengan
masa turunnya mukjizat
tersebut dan budaya
masyarakat setempat. Adalah hal
yang maklum bahawa
di tengah-tengah penduduk
Mekah saat itu tidak
terdapat orang-orang yang
cerdas atau orang-orang yang
bijak yang mampu menyerap
kata-kata yang baik. Dan kesulitan yang dihadapi oleh Islam adalah bahawa ia
tidak diturunkan pada masa ini saja, tetapi Islam diturunkan untuk setiap
masa. Allah SWT
mengetahui bahawa manusia
telah memasuki masa kematangan
berfikir yang mengagumkan, maka
hikmah-Nya menuntut bahawa pernyataan
yang pertama kali
disebutkan dalam risalah-Nya
adalah "iqra'" (bacalah). Di samping itu, risalah tersebut
mengandung pemikiran yang universal,
sistem yang membangun, dan
hukum yang mempesona, serta kebebasan yang diidamkan, dan
manusia yang sempurna.
Adalah tidak mengurangi kehormatan para nabi sebelum Nabi
Muhammad saw di mana mereka tidak diutus di masa-masa kematangan pemikiran,
tetapi yang menambah
kehormatan Nabi Muhammad saw
bahawa beliau diutus
di tengah-tengah masa kematangan berfikir, dan
beliau diutus sebelum datangnya masa ini. Beliau memikul
berbagai lipat cubaan yang pernah dipikul oleh para nabi; beliau berdakwah
dengan menanggung berbagai lipat godaan dan cubaan; beliau mengalami seksaan
yang pernah dialami oleh semua para nabi; beliau mencintai Allah SWT
sebagaimana para nabi mencintai-Nya. Allah SWT memuliakannya ketika beliau
mengimami mereka di saat solat pada saat beliau melakukan Isra' dan Mi'raj.
Meskipun demikian, ketika beliau keluar pada suatu hari
menemui sahabat-sahabatnya dan mendapati mereka mengutamakan para
nabi dan mendahulukannya atas
mereka, maka beliau justru menampakkan kemarahan dan
wajahnya berubah. Beliau
berkata: "Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yunus bin
Mata." Melalui pernyataan itu, beliau
berusaha meletakkan suatu
pondasi pemikiran yang
harus dilalui oleh
kaum Muslim di
mana para nabi
memang memiliki darjat tertentu
di sisi Allah
SWT. Boleh jadi
ada nabi yang
lebih afdal atau yang lebih mulia daripada yang lain.
Siapakah yang menetapkan hal itu? Tidak ada
seorang pun selain
Allah SWT. Ada
pun kaum Muslim
hendaklah mereka berhenti pada
batas tertentu yang
seharusnya mereka berikan
berkaitan dengan sopan santun
terhadap para nabi.
Selama Allah SWT menyampaikan selawat kepada
rasul sebagai bentuk
penghormatan dan semua nabi tanpa perbezaan, meskipun pada
bentuk selawat itu sendiri.
Sementara itu, bayi yang mungil itu yang lahir di Mekah
bergerak setelah tahun gajah. Kemudian berita
tersebar di sana
sini dan Sampailah
ke telinga datuknya bahawa
cucunya telah dilahirkan. Abdul Muthalib segera menuju ke tempat itu
dan membawa cucunya
yang yatim lalu
berkeliling dengannya di Ka'bah
sambil memikirkan namanya.
Abdul Muthalib tidak
merasa terpukau dengan nama-nama yang
mulai beredar di
benaknya. Ia tampak
bingung menentukan nama yang paling tepat buat cucunya, bahkan
kebingungannya itu berlanjutan sampai
enam hari, sehingga
sang Nabi di
sunat. Ketika malam telah menyelimuti kawasan Mekah,
datanglah kepadanya suara yang sama yang dulu
pernah dilihatnya dan
didengarnya yang memerintahkannya untuk menggali zamzam.
Di tengah-tengah tidurnya, suara
itu membisikkan kepadanya bahawa
nama cucunya berasal dari al-Ham, yang berarti Muhammad atau Ahmad. Orang-orang
Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib: "Nama apa yang engkau berikan
kepada cucumu?" Abdul Muthalib menjawab sambil mengingat bisikan suara
yang didengarnya saat mimpi, "Muhammad." Nama tersebut sebenamya
tidak umum di
kalangan orang-orang Jahilliyah.
Mereka bertanya, "Mengapa Abdul Muthalib
tidak memakai nama-nama
datuk-datuknya dan nama-nama yang biasa dipakai di kalangan
mereka." Abdul Muthalib menjawab: "Aku ingin Allah SWT memujinya di
langit dan manusia memujinya di bumi." Kami tidak
mengetahui dorongan apa
yang membuat Abdul
Muthalib untuk menyatakan kalimat
tersebut. Apakah kalimat
itu bersumber dari
realiti kebanggaan orang-orang Arab
yang popular atau
berasal dari realiti kebanggaan tradisional? Atau, apakah
berangkat dari realiti kegembiraan yang dalam dengan kelahiran si cucu, ataukah
kalimat itu bersumber dari suasana rohani yang jernih dan bisikan alam ghaib?
Tentu kami tidak bisa menjawab. Yang
dapat kami ketahui
adalah bahawa seseorang tidak
akan layak menyandang predikat
manusia yang dipuji di bumi dan dipuji oleh Allah SWT di langit seperti
predikat yang disandang oleh Muhammad bin Abdillah. memerintahkan mereka untuk
menyampaikan selawat kepadanya, dan
selama Rasulullah seperti
nabi-nabi yang lain, maka hendaklah mereka juga berselawat kepada semua nabi
tanpa ada perbedaan meskipun pada bentuk shalawat itu sendiri
Kisah Nabi Muhammad SAW ketika masih bayi
Nabi Muhammad saw
muncul ke alam
wujud dalam keadaan
yatim. Beliau ditinggalkan oleh
ayahnya saat beliau masih janin di dalam perut ibunya. Allah SWT berfirman:
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungimu?" (QS. adh-Dhuha: 6) Allah SWT melindunginya. Orang-orang
sufi mengatakan bahawa sebab- sebab kemanusiaan seperti adanya
datuknya Abdul Muthalib
dan bagaimana ia mengasuhnya dan
melindunginya tidak lain
hanya bentuk lahiriah
yang tidak begitu penting,
sedangkan bentuk batiniah yang sebenarnya adalah kita berada di hadapan
manusia yang dilindungi
dan diasuh oleh
Tuhannya sejak masih kecil. Allah SWT mendidiknya saat
beliau masih kecil, dan mengujinya dengan keyatiman saat
beliau masih janin
serta mengujinya dengan
kelaparan sejak masih kecil,
dan dewasa dengan
kematian si ibu,
saat beliau masih
kecil dengan keterasingan di
tengah-tengah keramaian, dan
dengan terjaga di tengah-tengah tidur
serta dengan penderitaan
demi penderitaan. Allah
SWT telah menyiapkannya sejak usia dini untuk memikul beban risalah
terakhir. Selanjutnya, ibunya seringkali memeluknya lebih dari sebelumnya.
Ia melihat
bahawa banyak dari
wanita-wanita yang menyusui
tidak berkenan untuk mengasuhnya. Adalah
sudah menjadi tradisi
yang berkembang di
Mekah di mana keluarga-keluarga
yang mulia mengirim anaknya ke kawasan dusun agar anak tersebut menyerap dan
menghirup udara segar serta memperoleh mainan yang memadai.
Dan biasanya wanita-wanita yang
menyusui anak-anak lebih tertarik menyusui anak- anak dari
orang-orang kaya. Namun ketika pemimpin manusia seorang
yang fakir, maka
wanita-wanita yang biasa
menyusui tidak berminat
kepadanya.
Halimah binti Abi Duaib
Marilah kita telusuri bagaimana Halimah binti Abi Duaib
menceritakan kisahnya bersama anak kecil yang disusuinya: "Saat itu
terjadi musim tandus dan kami tidak memiliki sesuatu sehingga aku dan suamiku
mengalami kemiskinan yang luar
biasa. Lalu kami
menetapkan keluar ke
Mekah dan menemani wanita-wanita dari
Bani Sa'ad. Kami
semua mencari anak-anak
yang masih menyusu agar
orang tua mereka
dapat membantu kami
untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Binatang yang aku
tunggangi sangat lemah
dan sangat kurus
yang itu semua disebabkan oleh
kekurangan makanan. Bahkan
kami khawatir kalau-kalau
ia berhenti di tengah
perjalanan dan mati.
Dan kami tidak
tidur semalaman kerana melihat
kondisi anak kecil yang bersama kami. Ia menangis kerana tidak menemukan makanan
yang dapat dimakannya. Ia menangis
kerana kelaparan dan tidak
mendapat air susu, baik dari air susuku mahupun air susu unta yang dibawa oleh
suamiku, sehingga kami
tidak dapat memuaskan
dahaganya. Di tengah-tengah malam, aku
merasakan keputusasaan.
Aku bertanya-tanya
bagaimana aku dapat melakukan sesuatu dalam keadaan yang demikian.
Akhirnya, kami sampai
di Mekah. Sementara
itu, wanita-wanita yang
ingin mencari anak-anak yang
dapat mereka susui
telah mendahului kami.
Mereka mengambil
anak-anak kecil yang
mereka sukai, kecuali
satu anak, yaitu Muhammad di mana ayahnya telah
meninggal dan ia berasal dari keluarga yang miskin meskipun sebenarnya
kedudukannya sangat mulia di antara tokoh-tokoh Quraisy. Oleh
kerana itu, wanita-wanita enggan
untuk mengasuhnya. Namun aku dan suamiku tidak sefaham dengan
mereka kerana aku tidak peduli dengan keyatiman dan
kefakirannya. Kemudian aku
malu untuk kembali
dan tidak mengambil bayi yang
dapat aku susui kemudian. Di samping itu, aku malu jika mendapat cercaan
dari wanita-wanita itu.
Lalu aku merasakan
adanya kasih sayang yang
memenuhi hatiku terhadap anak kecil yang tampan itu yang akan diganggu oleh
udara yang kotor." Kisah
tersebut mengatakan bahawa saat
anak-anak kecil mendapatkan wanita-wanita yang menyusuinya,
maka Muhammad bin Abdillah sedang tidur dalam keadaan lapar di ranjangnya yang
kasar, tanpa disusui oleh siapa pun. Suatu
hikmah yang tinggi
berkehendak agar bayi
yang masih menyusui
itu menghadapi dunia dalam keadaan yatim dan dalam keadaan kelaparan
agar ia dapat merasakan penderitaan
anak-anak yatim dan
orang-orang yang lapar sebelum ia menyelamatkan mereka.
Halimah mengatakan bahawa
ia meyakinkan suaminya
bahawa ia merasakan keinginan yang
kuat untuk mengambil
anak yatim ini,
sehingga suaminya
menyetujuinya.
Halimah tidak
mengetahui rahsia keinginannya yang
samar agar ia kembali untuk mengambil anak yatim yang masih menyusu ini.
Ia tidak mengetahui bahawa Allah SWT telah menanamkan rasa cinta kepada anak
kecil itu dalam hatinya seperti Allah SWT menanamkan cinta kepada Musa pada
hati isteri Fir'aun. Jika Musa menolak wanita-wanita lain untuk menyusuinya
kecuali ibunya setelah Allah
SWT mencegahnya dari
susuan wanita-wanita lain
agar ibunya merasa bahagia
dan tidak bersedih,
maka Muhammad bin
Abdillah - seorang anak
kecil yang masih
menyusu dan mulia
- -justru ditolak
oleh wanita-wanita yang menyusui,
sedangkan ia sendiri
tidak pernah menolak seseorang pun. Halimah kembali kepadanya dan
ia memberitahu bahawa ia
akan mengasuhnya.
Nabi Muhammad saw
adalah seorang yang
mulia. Halimah meletakkan tangannya
di dadanya, sehingga
anak kecil itu
tertawa. Halimah mencium di
antara kedua matanya.
la meletakkannya di
kamarnya. Halimah
mengetahui bahawa kedua
air susunya telah
kering, namun tiba-tiba
air susunya memancar dengan
keras sebagai bentuk
kasih sayang dan
tanda kebesaran dari Allah
SWT. Kini Halimah
pun dapat menyusuinya. Apakah
itu merupakan hikmah yang
tinggi di mana
anak kecil tersebut
merasa cukup dengan sesuatu
yang sedikit? Ataukah
anak kecil itu
sudah dapat mendidik dirinya untuk
zuhud dan qanaah
sebelum ia mendidik
orang-orang dewasa tentang pengorbanan dan kesatriaan?
Halimah kembali ke gurun Bani Sa'ad dan ia membawa Muhammad bin Abdillah. Belum
lama ia menyaksikan tanahnya yang tandus sehingga tiba-tiba kebaikan dunia terbuka
dan mekar di
hadapannya, di mana
bumi dipenuhi dengan kehijau-hijauan setelah
mengalami masa tandus.
Pohon-pohon berbuah dan buah
kurma tampak berseri-seri setelah
sebelumnya layu, bahkan
susu-susu binatang pun mulai tampak banyak. Allah SWT memberikan
berkah-Nya kepada tempat
tersebut. Halimah mengetahui bahawa
kebaikan ini telah
datang bersama kedatangan anak kecil yang diberkahi, sehingga cintanya kepada
anak itu semakin bertambah. Bahkan suaminya pun menjadi tawanan cinta yang lain
kepada Muhammad saw.
Pada suatu hari ia berkata kepada isterinya: "Apakah
engkau mengetahui wahai Halimah bahawa engkau telah mengambil seorang anak yang
mulia?" Halimah berkata: "Anak kecil itu tidak menangis dan tidak
berteriak kecuali ketika ia telanjang." Ketika anak kecil itu gelisah di
tengah malam dan tidak tidur, maka Halimah
membawanya keluar dari
khemah dan ia
berhenti bersamanya di bawah sinar bintang. Saat itu anak itu
tampak bergembira ketika menyaksikan langit. Setelah kedua matanya
terpuaskan oleh pandangan
ke arah langit,
ia pun mulai tidur. Ketika anak itu mencapai tahun yang kedua, maka ia
telah disapih, sehingga ibunya
ingin mengambilnya, tetapi
Halimah tidak kuat
untuk menahan perpisahan ini.
Halimah menjatuhkan dirinya di hadapan kedua kaki sang ibu dan ia
mulai menciuminya dan
ia meminta agar
membiarkannya bersama
anaknya sehingga anak
itu benar-benar kuat
dan dapat kembali
menghirup udara segar gurun.
Akhirnya, Rasulullah saw
tinggal di tempat
Bani Sa'ad sampai lima
tahun. Dan pada
masa lima tahun
ini terjadi peristiwa
penting yang terkenal dengan
peristiwa pembelahan dada.
Kehendak Ilahi telah menetapkan kepada
Ruhul Amin, yaitu
Jibril untuk menemui
Muhammad bin Abdillah dan
membelah dadanya dengan perintah Ilahi serta menyuci hatinya dengan rahmat
dan mengeringkannya dengan cahaya
dan mengeluarkan bahagian dunia
darinya. Seperti biasanya Rasulullah saw
keluar pada suatu
hari bersama saudara susuannya dengan menunggangi sekawanan domba
menuju tempat penggembalaan.
Kisah Dua orang Laki-laki Membelah dada Nabi Muhammad Saw
Di tengah
hari, saudaranya berlari-lari
dalam keadaan takut dan menangis sambil berteriak bahawa
Muhammad telah terbunuh. Muhammad diambil
oleh dua orang
laki-laki yang memakai
baju yang putih
lalu kedua orang itu
menelentangkannya dan membelah dadanya. Mendengar hal itu, Halimah sangat kejut
dan terpukul. Ia segera pergi sambil berlari mencari Muhammad dan diikuti oleh
suaminya yang mengikuti petunjuk anak kecil dari saudara Muhammad. Akhirnya,
mereka menemukan Muhammad sedang
duduk di atas
tanah di mana
wajahnya tampak pucat
dan kedua matanya menyala.
Halimah dan suaminya mencium dengan lembut dan mulai menampakkan kasih
sayangnya. Kemudian mereka
bertanya, "apa yang
terjadi?" Muhammad
menjawab: "Ketika aku
memperhatikan domba-domba yang
sedang bermain aku dikejutkan
dengan kedatangan dua
orang yang memakai
pakaian yang putih. Mula-mula
aku menyangka bahawa
mereka adalah burung
yang besar, namun ternyata aku
salah. Mereka adalah dua orang yang tidak aku kenal yang memakai pakaian
warna putih. Salah
seorang dari mereka
berkata kepada temannya dengan
menunjuk ke arahku,
"Apakah ini anaknya?" Yang
lain menjawab,
"benar." Aku merasakan
ketakutan yang luar
biasa.
Lalu mereka mengambilku dan
menidurkan aku
serta membelah dadaku
dan mereka mengambil sesuatu
darinya hingga mereka
mendapatinya dan membuangnya jauh-jauh. Setelah itu, mereka
bersembunyi laksana bayangan." Hadis tersebut diriwayatkan oleh Anas dan
juga diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad.
Para mufasir berbeza
pendapat tentang simbolisme
yang dalam ini. Sebahagian besar
ulama menakwilkan peristiwa
tersebut. Pakar-pakar klasik, seperti Qurthubi berpendapat bahawa peristiwa itu
diisyaratkan oleh
firman-Nya: "Bukankah Kami
telah melapangkan untukmu
dadamu?. " (QS. Alam Nasyrah: 1) Sedangkan tokoh-tokoh
hadis, seperti Ghazali
berpendapat bahawa manusia istimewa seperti Muhammad saw tidak
mungkin terlepas dari bimbingan Ilahi dan
tidak mungkin terkena
waswas sekecil apa
pun yang biasa
menimpa manusia biasa. Jika suatu kejahatan menjadi suatu gelombang yang
memenuhi cakerawala, maka di
sana terdapat hati
yang segera memungutnya dan terpengaruh dengannya, namun hati
para nabi dengan adanya bimbingan Allah SWT tidak akan terpanggil dan tidak
terkena arus kejahatan tersebut. Dengan demikian, usaha para nabi terfokus pada
peningkatan kemajuan atau ketinggian,
bukan memerangi kerendahan.
Diriwayatkan
oleh Abdillah bin Mas'ud bahawa Rasulullah saw bersabda:
"Tidak ada seseorang di antara kalian kecuali ia
diawasi oleh temannya
dari kalangan jin
dan temannya
dan dari kalangan malaikat." Para
sahabat berkata: "Apakah hal
itu juga berlaku kepadamu wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab:
"Ya, tetapi Allah
SWT membantuku, sehingga ia
berserah diri dan
tidak memerintahkan kepadaku kecuali dalam kebaikan."
Begitulah sikap orang-orang yang dahulu dan para ahli hadis berkaitan dengan
peristiwa pembelahan dada.
Kami kira bahawa
kejadian yang luar
biasa tersebut berhubungan dengan persiapan Nabi untuk melalui Isra' dan
Mi'raj. Ia merupakan perjalanan di mana Rasulullah saw akan menebus alam
angkasa dan akan mencapai alam
langit. Kemudian beliau
akan melampaui alam
ini, sehingga sampai di Sidratul Muntaha yang di sana terdapat Janatul
Ma'wah. Pandangan tersebut kembali kepada pendapat kami yang mengatakan bahawa
peristiwa pembelahan dada berulang lebih dari sekali saat Rasul saw mencapai
usia lima puluh tahun.
Dan peristiwa
pembelahan dada terjadi kedua kalinya pada malam Isra' dan Mi'raj. Bukhari meriwayatkan dari
Malik bin Sh'asha'a
bahawa Rasulullah saw menceritakan kepada mereka peristiwa
malam Isra' di mana beliau bersabda: "Ketika aku berada di Hathim - atau
beliau berkata di Hijr - saat aku dalam keadaan antara
tidur dan bangun,
maka seorang datang
kepadaku lalu ia membelah antara ini dan ini. Yaitu antara
kerongkongan dan perutnya. Beliau melanjutkan: Lalu ia mengeluarkan hatiku dan
membawa mangkok dari emas yang penuh dengan keimanan lalu ia menyuci hatiku.
Kemudian diulanginya." Kami
kira bahawa pembelahan dada
merupakan bentuk simbolis
yang menunjukkan
kesucian Rasul saw
dan sebagai bentuk
penyiapannya untuk melalui
Isra' dan Mi'raj. Itu merupakan pemberitahuan dari Ilahi bahawa anak ini akan
mencapai suatu kedudukan yang belum pernah dicapai oleh manusia dan tidak
akan dicapai manusia
sesudahnya. Setelah peristiwa
pembelahan dada, berubahlah
kehidupan anak kecil itu di mana sebahagian besar waktunya digunakan untuk
merenung dan menyendiri. Dari
roman wajahnya tampak keseriusan yang biasanya menghiasi
wajah orang-orang dewasa. Berlalulah hari demi hari, tahun demi tahun dan
Selesailah masa menetapnya bersama
Halimah di dusun
Bani Sa'ad.
Kisah Nabi Muhammad Saw ketika masih kecil
Beliau sangat terpengaruh
dan sangat terkesan dengan
keadaan di sana.
Diriwayatkan bahawa beliau
pernah mengingat masa kecilnya
di Bani Sa'ad dan
beliau membanggakannya. Beliau menyebutkan pengorbanan mereka
dan sikap mereka
yang baik. Beliau berkata: "Aku termasuk dari Bani
Sa'ad, tanpa bermaksud menyombongkan diri. Jika mereka berhadapan atau
menyaksikan salah seorang mereka lapar, maka mereka akan membagi makanan di
antara mereka." Kemudian Muhammad bin Abdillah kembali ke Mekah saat
usianya lima tahun. Beliau hidup beberapa
hari bersama ibunya
di mana si
ibu merasakan kesedihan yang
dalam atas kepergian
ayahnya. Sesuai janji
untuk mengingat ayahnya yang
telah pergi, Aminah menetapkan untuk mengunjungi kuburannya di Yatsrib. Jarak
antara Mekah dan Yatsrib lebih dari lima ratus kilo meter di gurun yang kering
yang jauh dari tanda- tanda kehidupan. Anak itu menempuh perjalanan yang
berat. Setelah perjalanan yang
berat ini, Muhammad
bin Abdillah tinggal di tempat paman-paman dari ibunya di Madinah selama
satu bulan. Muhammad melihat rumah yang di situ ayahnya meninggal sebelum ia
dilahirkan. Ia berziarah
bersama ibunya ke
kuburan yang sederhana
yang ayahnya dikuburkan di dalamnya. Mula-mula fikirannya terfokus pada
keadaan yatim sambil ia mulai memperhatikan linangan air mata ibunya yang diam.
Selesailah masa satu bulan keberadaannya di sisi paman-pamannya. Kemudian
ibunya menemaninya untuk kembali ke Mekah. Kedua anak manusia itu sampai di pertengahan jalan.
Muhammad bin Abdillah
tidak mengetahui rahsia kepucatan wajah
ibunya. Lalu malaikat
maut turun di
suatu tempat yang bernama Abwa.
Di situlah Aminah
binti Wahab telah bertemu
dengan kekasihnya, Allah SWT. Sang
ibu meninggal dan
meninggalkan anak satu-satunya bersama
seorang pembantu. Pembantu itu menampakkan rasa kasihnya terhadap anak
kecil yang kehilangan ayahnya saat masih janin dan kehilangan ibunya saat
berusia enam tahun. Muhammad bin
Abdillah kini menjadi
sendiri dan ia
dalam keadaan menangis. Ia
mencapai kematangan setelah ia melewati kesedihan kehidupan dan kerasnya
kehidupan sebagai anak yatim.
Rasulullah
saw pernah ditanya
setelah masa diutusnya: "Bagaimana pandanganmu?" Beliau
menjawab: "Pengetahuan adalah modalku. Akal adalah dasar agamaku.
Cinta adalah pondasiku.
Zikrullah adalah kesenanganku. Dan kesedihan adalah temanku."
Allah SWT telah
menyiramkan kepadanya sungai-sungai kesedihan sehingga beliau dapat
memberikan kepada manusia
buah dari kegembiraan dan ketulusan. Anak kecil itu kembali ke
Mekah dalam keadaan sedih dan ia tampak terpaku. Lalu Abdul
Muthalib, datuknya menampakkan cinta
yang luar biasa
dan penghormatan
padanya. Setelah dua
tahun ketika Muhammad bin
Abdillah berusia delapan tahun,
maka meninggallah salah
satu benteng yang
terbaik yang menjaganya, yaitu datuknya Abdul Muthalib. Kemudian anak
kecil itu kini merenungi datuknya laksana orang dewasa. Ia tampak tegar seperti
layaknya orang dewasa.
Kita tidak mengetahui mengapa terjadi demikian. Mengapa
hikmah Allah SWT mencegah Nabi yang terakhir untuk mendapatkan kasih sayang
seorang ayah, kasih sayang seorang
ibu, dan bimbingan
seorang datuk? Apakah
Allah SWT ingin memberi
Nabi yang terakhir
suatu kasih sayang
dan cinta yang semata-mata bersumber
dari sisi-Nya? Apakah
Allah SWT ingin
mendidiknya dengan kesedihan dan
memberinya
perasaan-perasaan yang penuh
dengan penderitaan? Apakah Allah
SWT ingin membuat
hati Rasul-Nya hanya
tertuju kepadanya? Dahulu Allah SWT berkata kepada Musa: "Dan Aku
telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS. Thaha: 41) Dahulu Allah
SWT memberi khabar
gembira kepada Musa
di dalam Taurat sebagaimana Isa
memberi khabar gembira
di dalam Injil
dengan kedatangan seorang Nabi
setelahnya yang bernama Ahmad. Dan Nabi Musa meminta kepada Tuhannya agar
memberinya dan memberi
umatnya puncak keutamaan,
lalu Allah SWT menjawab bahawa Dia telah menetapkan keutamaan ini kepada
Nabi yang terakhir Ahmad dan umatnya.
Allah SWT telah
memilih Musa untuk
diri-Nya. Meskipun Demikian,
Dia tidak mencegahnya untuk
mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan mendidiknya ditengah-tengah keluarganya. Namun
Dia berkehendak untuk
menjadikan Nabi yang terakhir
tercegah dari mendapatkan
kasih sayang seorang
manusia dan cinta seorang
manusia, sehingga Nabi
tersebut hanya mendapatkan kasih sayang Ilahi dan cinta Ilahi.
Allah SWT berfirman menceritakan tentang keadaan Rasul terakhir: "Bukankah
Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai
seorang yang bingung,
lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu
sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun
terhadap anak yatim,
maka janganlah kamu berlaku
sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu
mengherdiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maha hendaklah kamu
menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). " (QS. ad-Dhuha: 6- 11) Makna ayat
tersebut secara harfiah adalah bahawa beliau dalam keadaan yatim lalu Allah SWT
melindunginya; beliau dalam keadaan
tersesat lalu Allah
SWT memberinya
petunjuk; beliau dalam
keadaan fakir lalu
Allah SWT memampukannya. Allah SWT
melindunginya dengan mengasuhnya, membimbingnya, dan
mencukupinya. Itu adalah darjat keutamaan yang tidak pernah dicapai oleh
seseorang pun di dunia. Setelah
kematian datuknya, maka
pamannya Abu Thalib
mengasuhnya. Allah SWT telah
meletakkan kecintaan pada
hati pamannya, sehingga pamannya mengutamakan Muhammad
saw daripada anak-anaknya dan
memuliakannya serta
menghormatinya, bahkan Abu
Thalib mendudukkannya di
ranjangnya yang biasa dibentangkannya di hadapan Ka'bah di mana tidak
ada seorang pun yang duduk selainnya.
Nabi Muhammad di usia muda
Muhammad bin Abdillah
hidup di jantung
gurun Mekah sebagai
seorang yang memiliki kesedaran
yang tinggi di
antara kaum yang
sedang lalai dan kaum yang
mabuk-mabukan dan para
penyembah berhala serta
para pedagang minuman keras
dan para syair
dan orang-orang yang
berperang dan tokoh-tokoh
kabilah. Muhammad bin Abdillah seorang yang banyak diam dan ketika usianya
semakin dewasa, maka ia bertambah banyak diam. Beliau tidak berbicara kecuali
jikadiajak seseorang berbicara;
beliau tidak terlibat
dalam permainan hura-hura anak-anak muda;
beliau merasakan kesedihan yang
dalam; beliau sering menyendiri dan membuka matanya di
hamparan pasir-pasir. Mulutnya terdiam dan
akalnya berfikir. Beliau
merenungkan di masa
kecilnya bagaimana kaumnya bersujud terhadap
berhala dan terpukau
dengannya; bagaimana
orang-orang berakal mau
bersujud kepada batu-batu
yang tidak memberikan mudarat dan
manfaat dan tidak
berbicara serta tidak
dapat melakukan apa-apa. Beliau
mewarisi dari datuknya Ibrahim kebencian yang fitri terhadap dunia berhala dan
patung. Di dalam dirinya
terdapat penghinaan yang
besar terhadap sembahan- sembahan dari
batu ini, suatu
penghinaan yang menjadikannya tidak
mau mendekat selama-lamanya terhadap patung
tersebut.
Namun hatinya
yang besar dipenuhi dengan
kesedihan yang lebih
hebat dari kesedihan
datuknya Ibrahim. Beliau sedih
kerana akal manusia
menyembah batu dan
emas, kesombongan serta kekuasaan penguasa; beliau mendengar apa yang
dikatakan manusia dan mengamat-amati urusan
kehidupan dan keadaan
masyarakat; beliau juga menyaksikan betapa
banyak pertentangan dan
perkelahian di antara manusia
yang justru disebabkan
oleh masalah-masalah yang
sepele, sehingga kehairanan beliau
semakin bertambah dan
sudah barang tentu kesedihannya pun
semakin dalam. Tidakkah
manusia mengetahui bahawa mereka akan
mati seperti ayahnya,
ibunya, dan datuknya?
Mengapa mereka menimbulkan pertentangan ini,
hingga mereka mendapatkan lebih
banyak kejahatan? Ketika usianya semakin bertambah, maka bertambahlah
kezuhudannya dalam hidup, dan sepak terjangnya terus bersinar memenuhi penjuru
Mekah. Beliau tidak sama dengan
seseorang pun dari
kalangan pemuda saat
itu. Meskipun kami kira
bahawa kesedihannya disebabkan
oleh hal- hal
yang umum, tetapi beliau tidak
mengungkapkan kegelisahan hatinya
pada seseorang pun.
Beliau belum bertujuan untuk
memperbaiki masyarakat atau
kemanusiaan. Benar bahawa
pertanyaan-pertanyaan kritis timbul dalam benaknya dan ingin segera menemukan
jawapan, tetapi akalnya sendiri tidak dapat menemukan jawapan atau jalan
keluar. Inilah yang dimaksud dengan makna ayat: "Dan Dia mendapatimu
sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. adh-Dhuha:
7) Yang dimaksud ad-Dhalal
(kesesatan) di sini
ialah kebingungan akal
dalam menafsirkan kejahatan dan
usaha melawannya kerana
ketiadaan senjata dankecilnya usia.
Semua itu justru
menambah sikap diam
anak kecil itu
dan menjauhkannya
dari dunia yang
akan mencemari akal,
sehingga akalnya selamat dari
segala noda dan tetap di bawah naungan kejernihannya.
Anak kecil
itu tetap jauh
dari dosa-dosa yang
dilakukan oleh kaumnya
yang berupa kecenderungan untuk
menyembah berhala dan
cinta kekuasaan dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih
mendekat kepada hakikatnya yang suci;
ia mampu mempengaruhi orang
lain dengan jiwanya
yang bersih dan rahmatnya atau
kasih sayangnya tertuju
kepada manusia, bahkan
kepada binatang dan burung.
Ketika ia duduk
akan makan lalu
ada burung merpati berkeliling di
seputar makanannya maka
ia meninggalkan makanannya
untuk burung itu. Pada
saat orang-orang memukul
anjing yang mendekat
kepada makanan mereka, maka ia justru mencabut suapan yang ada di mulutnya
dan memberikannya pada anjing,
kucing, anak-anak kecil, dan orang-orang
fakir. Bahkan seringkali di
waktu malam ia
tidur dalam keadaan
lapar kerana ia memberikan makanannya ke orang lain.
Muhammad saw adalah
seorang fakir yang
harus bekerja agar
dapat makan, maka beliau
bekerja sebagai penggembala kambing, seperti Nabi
Daud, Nabi Musa, dan
nabi-nabi yang lain
yang diutus oleh
Allah SWT. Kemudian
beliau melakukan perjalanan bersama kafilah pamannya Abu Thalib menuju
Syam saat beliau berusia tiga belas tahun. Beliau menyaksikan keadaan umat-umat
yang lain, maka kehairanannya semakin
bertambah terhadap masa
Jahilliyah ini. Ketika beliau
menyaksikan orang-orang tersesat, maka kesedihannya semakin bertambah dan
hatinya semakin tersentuh dan fikirannya semakin dalam. Pada saat
perjalanan menuju ke
Syam ini terjadi
suatu peristiwa terhadap anak kecil
itu. Kemungkinan besar
itu justru menambah kebingungannya. Seorang pendeta yang
bernama Buhaira berdiri di jendela rumah yang menjadi tempat peribadatannya di
Suria. Tiba-tiba ia memperhatikan suatu awan putih - tidak
seperti biasanya -
yang menghiasi langit
yang biru. Saat
itu udara sangat terang,
sehingga munculnya awan
tersebut sangat menghairankan. Kemudian pandangan
Buhaira yang tertuju
ke langit, kini tertuju ke
bumi di mana ia mendapati
awan itu menyerupai
burung yang putih
yang menaungi kafilah kecil yang
menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahawa awan tersebut mengikuti
kafilah. Jantung Buhaira berdebar dengan
keras kerana ia
mengetahui melalui
buku-buku peninggalan kaum
Masehi yang otentik
bahawa seorang nabi
akanmuncul ke dunia setelah Isa.
Kisah Pendeta Buhaira
Sifat dan khabar nabi tersebut diceritakan dalam
buku-buku kuno. Buhaira
segera meninggalkan tempatnya, lalu
ia segera memerintahkan untuk
menyiapkan makanan yang besar. Kemudian ia mengutus seseorang untuk
menemui kafilah tersebut
dan mengundang mereka
untuk jamuan makan. Salah seorang mereka berkata dengan nada bercanda
kepada Buhaira: "Demi Lata
dan 'Uzza, engkau
hari ini tampak
lain wahai Buhaira. Engkau tidak
pernah melakukan demikian
kepada kami, padahal
kami telah melewati dan
singgah di tempat
ini lebih dari
sekali. Ada peristiwa
apa gerangan wahai Buhaira?" Buhaira menjawab:
"Hari ini kalian
adalah tamu-tamuku." Pertanyaan
orang tersebut tidak dijawab
dengan terang-terangan. Ia
sengaja menghindarinya dan tidak
menyingkapkan rahsia kemuliaan
yang datangnya tiba-tiba ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai
memperhatikan di antara mereka adanya
seseorang yang memiliki
tanda- tanda yang
dibacanya dalam
kitab-kitabnya yang kuno tentang seorang rasul yang ditunggu. Namun ia tidak
menemukannya, hingga ia
bertanya kepada mereka:
"Wahai kaum Quraisy, apakah ada
seseorang yang tidak
hadir bersama jamuanku ini?"
Mereka menjawab:
"Benar, ada seseorang yang
tidak ikut bersama
kami. Kami meninggalkannya
kerana ia masih kecil." Buhaira berkata: "Sungguh aku telah
mengundang kamu semua.
Panggillah ia supaya
hadir bersama kami
dan memakan makanan ini." Salah seorang lelaki dari kaum Quraisy
berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sungguh tercela bagi kami untuk
meninggalkan Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib dari jamuan yang kami
diundang di dalamnya. Pamannya meminta maaf kerana Muhammad masih kecil,
kemudian sebahagian mereka berdiri
dan menghadirkannya. Belum lama
Buhaira memandangi
kejernihan dua mata
Muhammad, sehingga ia
mengetahui bahawa ia
telah mendekati tujuannya. Buhairah
terpaku ketika memandangi
Muhammad bin Abdillah sehingga
kaum selesai makan dan mereka berpisah. Muhammad bin
Abdillah duduk sendirian.
Buhaira menghampirinya dan berkata: "Wahai anak kecil,
demi kedudukan Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap
apa yang aku tanyakan kepadamu?" Buhaira ingin mengetahui
sikap anak ini
terhadap berhala kaumnya.
Anak kecil itu menjawab: "Jangan engkau bertanya
kepadaku tentang Lata dan 'Uzza. Demi Allah,
tidak ada sesuatu
yang lebih aku
benci daripada keduanya." Buhaira berkata: "Dengan izin
Allah aku ingin
bertanya kepadamu." Anak
kecil itu menjawab: "Tanyalah
apa saja yang terlintas di benakmu."
Buhaira bertanya kepada anak kecil itu tentang keluarganya,
kedudukannya di tengah-tengah
kaumnya, mimpinya dan
pendapat- pendapatnya. Dialog tersebut terjadi
jauh dari pantauan
kaum kerana mereka
tidak akan diam ketika mendengar bahawa
Muhammad membenci berhala-berhala mereka. Kemudian Muhammad menjawab
pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat Buhaira mantap
bahawa ia sekarang duduk bersama seorang Nabi
yang khabar berita
gembiranya disampaikan oleh
Nabi Isa sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi dari
kaum Israil dari kaum Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak
kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu
di sisinya. Abu Thalib menjawab: "Ia adalah anakku." Buhaira
berkata: "Tidak mungkin
ayahnya masih hidup." Abu
Thalib berkata: "Benar. Ia
anak saudaraku. Ayahnya
dan ibunya telah
meninggal." Buhaira berkata: "Engkau benar, kembalilah kamu ke
negerimu dan hati-hatilah dari kaum Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang
rahsia dari apa yang dikatakan oleh
pendeta itu. Pendeta
itu mulai mengetahui
bahawa ia telah
berbicara lebih dari yang
semestinya. Lalu ia
berkata: "Ia akan
memiliki kedudukan tertentu." Buhaira
tidak menjelaskan lebih dari itu dan
ia tidak menentukan kedudukan yang dimaksud.
Lalu berlalulah
peristiwa tersebut tanpa
terlintas dari benak
seseorang atau tanpa menggugah kesedaran
di antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa pengaruh berarti
bagi kafilah atau
kepada Nabi sendiri.
Kafilah menganggap bahawa penghormatan pendeta kepada
Muhammad bin Abdillah
dan memberitahunya akan kedudukan yang akan disandangnya adalah
semata-mata basa-basi yang biasa diucapkan di atas meja makan ketika para tamu
memuji kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya, orang yang mengundang
akan memuji akhlak
para pemuda mereka.
Alhasil, peristiwa tersebut
tidak membawa
pengaruh apa pun,
baik bagi Muhammad mahupun bagi sahabat-sahabat yang
ikut dalam kafilah,
sehingga mereka tidak
mengetahui rahsia perkataan pendeta
dan mereka tidak
menyebarkan pembicaraan yang mereka dengar darinya. Peristiwa itu
tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad. Apa gerangan
yang terjadi antara
dirinya dan orang-orang
Yahudi, sehingga pendeta perlu
mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan dikembangnya
seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan semua
ini dengan kesedihan- kesedihannya yang
dalam serta kebingungannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit berputar di benaknya.
Kemudian seperti biasanya
kafilah tersebut kembali
ke Mekah. Muhammad kembali menuju
keterasingannya. Ia memperhatikan keadaan alam di sekitarnya. Kemudian ia
melihat kembali penderitaannya; ia berusaha untukmendapatkan kehidupannya; ia
mengabdi kepada manusia dan mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka. Hari
demi hari berlalu. Muhammad saw tampil dengan pakaian ketulusan kasih
sayang, dan amanah
serat cinta, sebagaimana
pelita dipenuhi
oleh cahaya, sehingga
kejujurannya terkenal di tengah-tengah kaumnya. Bahkan kejujuran dan amanatnya tidak
bakal diragukan oleh
seseorang pun dari
penduduk Mekah. Dan ketika
beliau datang dengan membawa risalahnya dan
beliau ditentang majoriti masyarakatnya, namun
tak seorang pun
yang berani meragukan
kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahawa ia terkena sihir atau kesedarannya
telah hilang. Pada tahun ketiga
belas dari masa
kenabian, ketika semua
kabilah sepakat untuk membunuhnya
dan mengucurkan darahnya
di antara para
kabilah dan mereka mengepung rumahnya, maka
di saat situasi
yang sulit ini beliau
menetapkan untuk berhijrah.
Tetapi sebelumnya
beliau mewasiatkan kepada Ali
bin Abi Thalib,
anak pamannya untuk
tetap tinggal di
rumahnya agar ia dapat mengembalikan amanat yang
dititipkan oleh semua musuhnya dan para sahabatnya. Ini beliau maksudkan agar
Ali dapat menyerahkan amanat tersebut di
waktu pagi kepada
para pemiliknya. Anda
dapat melihat betapa
para musuhnya merasa aman terhadap harta mereka ketika dijaga oleh
Muhammad saw. Hari demi hari
berlalu dan tahun
demi tahun pun
lewat. Sementara itu, kesucian dan
kejujuran Muhammad saw
semakin meningkat. Dan
di tengah lautan keheningan yang
mencekam, ketika Muhammad bin
Abdillah menyebarkan layar perahunya
yang putih, maka
ia harus menemui
hakikat azali yang bertemu dengan-nya semua nabi dan rasul. Muhammad bin
Abdillah mengetahui bahawa alam
yang besar ini
mempunyai Tuhan
Pengatur dan Pencipta; Tuhan
yang Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya. Muhammad dijauhkan dari
suasana kenikmatan dan
foya-foya yang biasa dilakukan oleh
para pemuda seusianya. Dan
ketika pemuda
Mekah berbangga-bangga dengan banyaknya minuman keras yang mereka minum
dan banyaknya bait-bait syair
yang mereka katakan
tentang wanita, maka Muhammad bin Abdillah telah menemukan
jati dirinya di suatu gua yang tenang di
gunung yang besar.
Ia memilih untuk
menghabiskan waktunya di
dalam keheningan gua tersebut. Ia merenung dengan hatinya tentang
keadaan alam; ia memikirkan keagungan rahsia-rahsianya dan
rahmat Penciptanya serta kebesaran-Nya.
Kisah pernikahan nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah
Pada tahun yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul
Mu'minin, isterinya yang pertama, yaitu
Khadijah binti Khuwailid
yang saat itu
berusia empat puluh tahun.
Khadijah adalah wanita yang mulia dan mempunyai cukup harta. Ia berdagang dan
suaminya telah meninggal. Banyak orang yang mendekatinya dengan alasan untuk
mendapatkan kekayaannya. Khadijah mencari seseorang laki-laki yang dapat
membawa harta dagangannya menuju Syam, lalu Khadijah mendengar berita yang
cukup banyak berkenaan dengan kejujuran dan amanat serta kesucian
Muhammad bin Abdilah.
Akhirnya, Khadijah mengutus Muhammad saw
untuk membawa barang
dagangannya. Muhammad saw
pergi dalam perjalanannya yang kedua ke Syam saat beliau berusia dua
puluh lima tahun. Allah SWT
memberkati perjalanannya di mana
beliau kembali dengan membawa keuntungan yang
berlipat ganda yang
diserahkannya kepada
Khadijah. Muhammad saw tidak peduli dengan harta Khadijah dan tidak peduli
kepada kecantikannya; Muhammad saw
hanya memandang kemuliaan yang dipegangnya. Kemudian Khadijah merasakan getaran
cinta terhadap Muhammad saw.
Dan Akhirnya, ia
mengutarakan keinginan untuk
menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju. Paman Muhammad saw, Abu Thalib berdiri dan menyampaikan khutbah
pada saat perayaan perkawinannya: Muhammad saw
tidak dapat dibandingkan dengan seorang pun dari kaum
Quraisy kerana ia adalah seorang yang mulia, baik dari sisi akal mahupun
rohani. Meskipun ia seorang yang fakir namun harta adalah naungan yang akan
hilang dan benda yang bersifat sementara.
Perenungan Nabi Muhammad Saw di gua hira(Perjalanan
Spiritual Nabi Muhammad Saw)
Setelah menikah, Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan
yang lebih besar untuk merenung dan menyendiri serta beribadah. Kemudian
kehidupan yang dijalaninya justru
meningkatkan kemuliaannya, sehingga
keutamaannya tersebar di sana sini. Beliau tidak pernah terlibat dalam
pergelutan yang keras untuk
memperebutkan materi-materi dunia.
Beliau selalu menggunakan
akal sehatnya daripada terlibat
dalam kesesatan mereka
dan kegelapan berhala yang menyelimuti banyak
orang pada saat
itu.
Kemudian
usianya kini mendekati empat
puluh tahun. Setelah merasakan kesunyian di
tengah-tengah
masyarakat, beliau lebih memilih untuk
menjauh dari mereka.
Beliau mencari-cari hakikat,
sehingga Allah SWT membimbingnya untuk
menyendiri di gua
Hira. Akhirnya, beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau
berjalan beberapa mil. Kemudian beliau mulai mendaki dan
mendaki. Setiap kali
ia mendaki gunung,
maka tempat itu semakin luas.
Udara tampak lembut
dan tersingkaplah hijab, dan
pandangansemakin terbentang. Kemudian beliau memasuki gua. Keheningan
menyelimuti segala sesuatu, namun
hati tetap sadar
dan tidak ada
sesuatu yang dapat menghalang-halangi pandangan internal
yang dalam. Dalam suasana kesunyian terkadang lahirlah pemikiran-pemikiran yang
cemerlang yang kemudian menyebarkan sayap-sayapnya dan
membumbung, pertama-tama di
atas angkasa gua lalu tersebar menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak
ada sesuatu pun yang membatasinya atau mengekang kebebasannya. Kita tidak
mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan
terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa bulan.
Apa yang beliau
fikirkan dan apa
gerangan yang beliau
risaukan? Mimpi apa yang
ada di benaknya
dan perasaan-perasaan apa
yang lahir dalam
hatinya? Bagaimana keadaan batu-batu
yang ada di
sisinya? Apakah atom-atom
batu yang berputar di
sekelilingnya menyahuti tasbihnya yang
diam, seperti atom-atom batu
yang bersahut- sahutan
bersama Daud saat
ia membaca kitabnya Zabur.
Kami tidak mengetahui secara
pasti bentuk kelahiran
yang terjadi dalam dirinya. Yang
kita ketahui adalah
bahawa beliau tidak
berfikir tentang kenabian dan
beliau tidak berfikir
untuk memberikan petunjuk kepada manusia; beliau tidak melakukan
praktik-praktik sufisme kerana beliau sudah menjadi seorang
sufi sebelum diutus
di tengah-tengah manusia. Kemudian Allah SWT
memilihnya sebagai Nabi
lalu beliau meninggalkan uzlahnya
dan turun ke medan serta membawa senjata. Beliau mempertahankan
kebenaran, sehingga beliau bertemu
dengan Tuhannya.
Kisah bertemunya Nabi Muhammad Saw dengan malaikat jibril
Mula-mula lahirlah
tasawuf dan setelahnya lahirlah
jihad di jalan Allah SWT. Tasawuf bukanlah
puncak atau hasil
sebagaimana diyakini oleh
manusia sekarang, tetapi ia
adalah permulaan jalan
yang panjang di
mana pada akhirnya
yang bersangkutan
menggunakan senjata sebagai
bentuk usaha untuk
membela manusia dan kehormatannya. Pada suatu
hari beliau duduk
di gua Hira
dan tiba-tiba beliau
dikejutkan dengan
kedatangan Jibril
yang berdiri di
depan pintu gua.
Malaikat tersebut memeluknya
erat-erat lalu memerintahkannya untuk membaca sambil berkata:
"Bacalah!" Muhammad bin
Abdillah menjawab: "Aku
tidak mampu membaca." Beliau ingin
mengatakan bahawa beliau
tidak mengenal bacaan
dan tulisan. Kalau begitu,
apa yang harus
beliau baca? Malaikat
kembali memeluknya dengan kuat
sehingga Rasulullah saw
menganggap bahawa ia
meninggal. Kemudian
malaikat melepasnya dan
memerintahkannya
untuk membaca.
Beliau kembali menjawab:
"Aku tidak bisa
membaca." Malaikat yang
mulia kembali memeluknya dan
kembali memerintahkan untuk
membaca. Dan lagi-lagi Rasulullah
saw menjawab dengan
gementar: "Apa yang
aku baca?" Kemudian Jibril
membaca permulaan ayat-ayat yang turun kepada beliau: "Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu
Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah dan Tuhanmu lah Yang Paling
Pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan
kalam. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang
tidak diketahuinya." (QS.
al-'Alaq: 1-5) Setelah
peristiwa itu, Jibril
menghilang secara tiba-tiba
sebagaimana ia muncul secara
tiba-tiba. Rasulullah saw
merasakan dalam dirinya
kejadian yang luar biasa yang pernah dirasakan oleh Nabi Musa saat
beliau mendengar panggilan-panggilan
suci di lembah
Thuwa. Sebagaimana Nabi
Musa lari ketakutan, maka
Muhammad bin Abdillah
pun segera menuju
ke rumahnya dalam keadaan
ketakutan. Ia turun ke gunung dan kembali ke rumahnya dan kembali ke isterinya.
Tubuhnya yang mulia bergetar dengan keras dan beliau merasakan ketakutan dan
kegelisahan. Apakah beliau kali ini berhubungan dengan jin atau alam
perdukunan? Apakah beliau telah mengigau
sehingga beliau mendengar
suara-suara dan melihat wajah-wajah yang
belum pernah dilihatnya?
Rasulullah saw mengkhuatirkan dirinya kerana
beliau sangat benci
kepada perdukunan. Beliau
memasuki rumahnya
dengan keadaan gementar. Beliau
berkata kepada isterinya: "Selimutilah aku,
selimutilah aku!" Kemudian
isterinya segera menyelimuti dengan selimut
dari wol dan
mengusap keringat yang
berada di keningnya. Isterinya dikejutkan dengan
kepucatan wajah beliau
yang mulia dan kegementaran tubuhnya. Khadijah bertanya kepadanya: "Apa yang
sedang terjadi?" Kemudian Muhammad saw
menceritakan secara terperinci apa
yang dialaminya. Kemudian ia
berkata: "Sungguh aku
khawatir terhadap diriku." Khadijah mengetahui bahawa ia sekarang
berhadapan dengan masalah yang serius, suatu berita gembira
yang ia tidak
mengetahui hakikatnya, suatu
berita gembira yang seharusnya tidak
dihadapi Muhammad saw
dengan kekhuatiran dan kegelisahan. Khadijah berkata dengan
maksud untuk meredakan ketakutannya: "Tenanglah.
Demi Allah, Allah SWT tidak akan menghinakanmu selama-
lamanya. Sungguh engkau adalah seorang
yang baik, yang
menyambung tali silaturahmi, yang berbicara dengan jujur, dan yang
menghormati tamu." Meskipun
kalimat-kalimat tersebut penuh
dengan kedamaian dan
kesejukan, tetapi
kegelisahan Rasul saw
juga belum hilang.
Kemudian Khadijah pergi bersama beliau ke rumah Waraqah bin
Nofel, yaitu anak dari paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani dan dia
mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia cukup mengetahui kitab-kitab Taurat
dan Injil di mana matanya telah buta kerana masa tua. Khadijah berkata
kepadanya: "Wahai putera
pamanku, dengarlah dari
anak saudaramu." Waraqah berkata: "Wahai anak saudaraku, apa
yang engkau lihat?" Rasulullah saw menceritakan apa yang dialaminya secara
sempurna. Waraqah berkata sambil mengangkat
kepalanya yang tampak
kehairanan: "Itu adalah Namus (Jibril)
yang Allah SWT
turunkan kepada Musa."
Sebagai seorang yang mengerti, Waraqah bin
Nofel mengetahui bahawa
ia berada di
hadapan seorang Nabi yang berita gembiranya disampaikan oleh Taurat dan
Injil. Setelah keheningan sesaat,
Waraqah berkata: "Seandainya aku
masih hidup ketika kaummu
mengeluarkanmu dan mengusirmu." Rasulullah
saw bertanya: "Mengapa aku
harus diusir oleh mereka?'' Waraqah menjawab: "Benar, tidak ada seorang
pun yang akan datang seperti dirimu kecuali engkau akan mengalami penderitaan
dan pengusiran. Seandainya aku hadir di saat itu nescaya aku akan
menolongmu." Demikianlah,
akhirnya Islam pun
dikembangkan. Kehendak Allah
SWT terlaksana dan Allah SWT telah memilih Nabi yang terakhir di muka
bumi dan orang Muslim yang pertama. Barangkali pembaca akan bertanya: Apa
hakikat dari Islam? Apabila Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir yang diutus
oleh Allah SWT di
muka bumi dan
kita mengetahui bahawa
para nabi semuanya sebagai Muslim, maka bagaimana
beliau dapat dikatakan mendahului mereka dalam keislaman dan menjadi orang
Muslim yang pertama? Islam yang dibawa oleh Muhammad saw tidak berbeza dalam
esensinya dengan Islam yang dibawa
oleh Nabi Nuh,
Nabi Musa, Nabi
Isa atau nabi
yang lain, tetapi yang
berbeza adalah bentuknya, sedangkan esensinya tetap
seperti semula, yakni berdasarkan
tauhid.
Konsep Ajaran Islam yang dibawa Baginda Nabi Saw
Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saw berbeza dalam bentuknya dengan
Islam yang dibawa nabi-nabi sebelumnyakerana
sebab yang penting,
yakni bahawa Islam
ini merupakan ajaran
yang universal dan berisi aspek kemanusiaan yang abadi. Islam tidak
terbatas atas orang-orang Arab tetapi
ia berlaku atas
semua golongan.
Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak
terbatas untuk kabilah
tertentu atau bangsa tertentu atau
bumi tertentu atau
lingkungan tertentu atau
zaman tertentu, tetapi ia untuk
semua manusia. Atau dengan kata lain, ia merupakan ajakan untuk membangkitkan akal
manusia di mana
saja mereka berada
tanpa ada batasan tempat atau
waktu. Universalitas ajaran Islam tidak dikenal pada risalah-risalah Ilahi
sebelumnya di mana setiap risalah
itu diperuntukkan bagi
bangsa tertentu dan
zaman tertentu. Oleh kerana itu, mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang
bersifat sementara seringkali mendukung
risalah- risalah yang
dahulu. Ketika Islam datang sebagai bentuk ajakan untuk
menghidupkan akal manusia secara bebas, maka di sana tidak ada alasan untuk
membawa mukjizat yang mengagumkan. Hanya
ada satu kata
yang dapat dijadikan
pembuka untuk berdakwah
dan membuka akal manusia, yaitu kata "iqra"' (bacalah). Dan
hendaklah bacaan ini berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan.
Dia menciptakan
manusia dari segumpal darah. Cuba Anda renungkan permulaan pertumbuhan dan
puncak pencapaian. Di
sini tersembunyi mukjizat yang
hakiki jika Anda
berusaha mencari mukjizat
yang hakiki. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang memberikan nikmat
penciptaan dan rezeki serta
rahmat dan kelembutan.
Dia Maha Mulia
yang mengajarkan manusia apa
saja yang tidak diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk
membaca. Ia adalah dakwah yang menunjukkan kedudukan ilmu. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di
antara hamba-hamba-Nya hanyalah
orang-orang yang berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28) Takut kepada Allah SWT
tidak akan muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan dengan
bentuk apa pun
akan melahirkan rasa
takut. Oleh kerana itu, dalam pandangan Islam ilmu
adalah hal yang pokok. Ia bukan kemewahan dan
bukan hanya perhiasan.
Kaum Muslim telah
mengalami masa kemuliaan dan kejayaan dan mereka berhasil
menguasai bumi ketika mereka memahami Islam
secara benar, tetapi
ketika pemahaman ini
jauh dari mereka,
maka mereka kembali dalam
keadaan yang paling
buruk, bahkan lebih
burukdaripada masa jahiliah. Jadi,
ilmu dalam Islam
merupakan tujuan yang
mulia dan utama
dalam penciptaan alam wujud.
Kisah Nabi Adam dan Hawa, sebagaimana diceritakan oleh Al-Quran
adalah bukan semata-mata
kisah kesalahan memakan
pohon terlarang, tetapi ia juga kisah yang memiliki dimensi- dimensi yang
dalam dan aspek-aspek yang beraneka
ragam. Ketika Anda
menyelami kedalamannya,
maka Anda akan
dapat menemukan simbol-
simbol dari makna-makna
yang lebih penting. Dialog internal yang dialami oleh para malaikat
tentang rahsia pemilihan Nabi Adam
untuk memakmurkan bumi
dan menjadi khalifah
di dalamnya serta pengajaran yang
diperoleh Nabi Adam
tentang nama-nama semuanya dan bagaimana beliau mengemukakan nama-nama
tersebut kepada para malaikat, serta
ketidaktahuan mereka tentang
nama-nama itu, kemudian
usaha Nabi Adam untuk
memberitahu mereka tentang
apa yang diketahuinya serta pengetahuan para
malaikat tentang rahsia
pemilihan Nabi Adam
dan para keturunannya untuk
memakmurkan bumi, semua
ini menjadikan tujuan
dari penciptaan manusia adalah
pencapaian ilmu atau
ma'rifah secara umum. Pandangan tersebut dikuatkan oleh
firman Allah SWT: "Dan Aku tidak
menciptakan jin dan
manusia kecuali untuk menyembah-(Ku)." (QS.
adz-Dzariat: 56) Lalu bagaimana kita
memahaminya saat ini
dan bagaimana generasi
yang pertama dari kaum
Muslim dan dari
sahabat-sahabat Rasul saw
dan para pengikutnya dan
para tenteranya memahaminya? Saat
ini kita memahaminya dengan pemahaman yang sederhana.
Kita mengetahui bahawa kalimat "untuk menyembah-Ku " bererti ritual
dalam beribadah dan aspek-aspek lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat
syahadat, solat, puasa, haji, zakat dan lain-lain.
Sehingga orang-orang yang solat diperbolehkan untuk
menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah mereka, meskipun
mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli produk-produk
yang dibuat mereka serta memanfaatkan ilmu
dan kecanggihan teknologi
orang-orang Barat. Namun mereka
sendiri tidak menghasilkan apa-apa.
Mereka tidak dapat memberikan kontribusi
kepada kehidupan; mereka
tak ubah-nya seperti bulu yang dimainkan
oleh ombak. Sedangkan
pemahaman yang dahulu
berkaitan dengan kalimat tersebut sebagai berikut:
"Dan
Aku tidak menciptakan jin
dan manusia kecuali untuk menyembah-(Ku). " (QS.
adz-Dzariat: 56) Ibnu Abbas membacanya: "Illa liya'rifuun." (Agar
mereka mengetahui).
Perhatikanlah bagaimana pentingnya perbezaan antara praktek-praktek ibadah
dengan bentuk-bentuknya dan
kedalamannya yang jauh
dalam ma'rifah yang menyebabkan rasa
takut kepada Allah
SWT. Orang Muslim
yang pertama meyakini bahawa
Allah SWT menciptakannya agar
ia mengetahui Allah
SWT atau agar ia mengenal Allah SWT.
Sehingga ambisi orang Muslim yang pertama sangat
mengagumkan. Mereka pergi untuk membebaskan dunia semuanya: satu tangan
berpegangan dengan Al- Quran dan tangan yang lain memegang pedang untuk menghancurkan belenggu-belenggu yang
menyeret manusia kepada kesesatan. Kemudian jatuhlah
dari Islam hakikat
ilmu, sehingga umat
Islam tidak dapat memimpin kehidupan
dan mereka justru
mendapatkan kehinaan. Allah
SWT berfirman: "Allah
menyatakan bahawasanya tidak
ada Tuhan melainkan Dia,
Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang
yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada
Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Islam Membawa kemajuan peradaban manusia
Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah
Islam." (QS. Ali 'Imran: 18) Setelah
kesaksian kepada Allah
swt dan kesaksian
kepada malaikat, maka disebutlah secara langsung kesaksian
kepada orang-orang yang berilmu. Maka, adakah penghormatan terhadap ilmu yang
lebih besar daripada penghormatan ini?
Ilmu dalam Islam
berbeza dengan ilmu
dalam peradaban Barat.
Memang benar bahawa Islam
yang bertanggungjawab terhadap
tumbuhnya pandangan ilmiah dan
metode eksperimental di
mana berdasarkan metode
ini tegaklah peradaban Barat
yang kemudian melahirkan
berbagai produksi, pembuatan, dan penemuan.
Dan metode eksperimental adalah
metode al-Istiqra, yaitu suatu metode
yang mengikuti bahagian-bahagian terkecil
(parsial) melalui jalan eksperimen
yang dapat tunduk
terhadap eksperimen dan
melalui jalan memperhatikan hal-hal
yang tidak dapat
tunduk terhadap suatu
eksperimen, atau melalui jalan
matematis murni yang
membutuhkan kepada matematis murni di
mana hal itu
bertujuan untuk menyingkap hukum-hukum yang menguasai benda. Sistem ini
bidangnya adalah alam dan alatnya adalah panca indera dan
akal. Sistem ini
dimanfaatkan oleh seorang
Eropa yang bernamaRoger Bikun. Ia mengakui bahawa ia
sangat berhutang kepada kaum Muslim dan peradaban Islam. Seorang guru
yang bernama Bruicll
dalam bukunya Abna'
al-Insaniah menceritakan tentang dasar-dasar peradaban Barat di mana ia
berkata: "Roger Bikun mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab di
sekolah Oxford kepada guru-gurunya yang berasal dari Arab di Andalus.
Dan Roger Bikun dan Fenessis Bikun tidak
dapat menisbatkan keutamaan yang
mereka peroleh dalam menciptakan sistem
eksperimental kepada diri
mereka sendiri. Roger
Bikun hanya seorang duta dari duta-duta ilmu. Oleh kerana itu, ia tidak
malu ketika menyatakan bahawa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab adalah
jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran." Demikianlah pernyataan
pakar-pakar Barat yang jujur. Yang demikian ini bisa dijadikan sanggahan
terhadap orang-orang Barat yang tidak jujur agar mereka mengetahui bahawa
mereka sebenarnya mengambil
senjata yang sebenarnya berasal dari Islam. Dan jika
dikatakan bahawa rahsia kebangkitan Barat saat ini dan keunggulannya atas
Timur kembali kepada
pengambilannya terhadap
sebab-sebab metode eksperimental, yaitu
metode Islam, maka
rahsia kehancuran Barat dan
kebingungannya serta kegelisahannya adalah
kerana mereka tidak menghubungkan metode
tersebut dengan kebesaran
Allah SWT sebagaimana semestinya. Metode
eksperimen-tal - sebagaimana diambil orang-orang Barat - dimulai dari
alam dan berakhir kepadanya sebagai sesuatu tujuan. Jadi,
ruang lingkup pembahasan mereka
adalah berkisar kepada materi, dan
alat-alat pembahasan adalah
eksperimen dan pengamatan
serta istiqra. Tiada setelah alam kecuali kematian dan kematian adalah
rahsia yang misteri dan melawannya adalah
hal yang mustahil.
Kita tidak mengetahui
apa yang terjadi setelah
kematian; kita tidak
mengetahui sesuatu pun
tentang roh. Tidak ada
hubungan antara ilmu
dan akhlak; tidak
ada jawapan dari
ilmu tentang tujuan kehidupan
ini. Kita hanya
mempelajari aspek-aspek lahiriah dan mencapai
hukum-hukumnya saja. Demikianlah
pandangan Barat tentang ilmu di
mana ia hanya
sekadar alat dan
sarana untuk mengatur
alam dan berusaha menguasainya. Sedangkan
metode ilmiah dalam
Islam menyatakan bahawa gerakan
atom dengan gerakan sistem tata suria di bawah kendali Zat Yang Maha
Tahu dan Zat
Yang Maha Pencipta.
Ilmu dalam Islam
justru membimbing manusia untuk menuju Allah SWT:
"Dan bahawasanya kepada Tuhanmu lah kesudahan (segala
sesuatu). " (QS. an-Najm: 42) Ilmu
justru menghantarkan manusia
untuk mencapai rasa
takut kepada Allah SWT sebagaimana membimbingnya beribadah
kepadanya dan mencintai-Nya: "Sesungguhnya yang
takut kepada Allah
di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang
berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28) Islam datang dan mengajak manusia untuk
membaca, mengetahui, dan takut kepada
Allah SWT serta
hanya beribadah kepadanya.
Jika ilmu merupakan sayap pertama
di dalam Islam,
maka sayap yang
kedua adalah kebebasan. Rasulullah saw memberitahu dan
menyatakan bahawa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada sembahan
selain Allah SWT.
Seruan ini
mengisyaratkan
keruntuhan tuhan-tuhan yang
mengusai bumi semuanya, baik
tuhan yang berupa
kepentingan-kepentingan
peribadi, kekayaan,
raja, penguasa,
pemikiran-pemikiran
yang mengusai manusia, warisan para
datuk dan nenek,
berhala-berhala yang terbuat
dari batu dan kayu,
mahupun berbagai macam
tuhan lain yang
bohong. Adalah salah
jika seseorang membayangkan bahawa
kalimat "tiada Tuhan
selain Allah" hanya sekadar hiasan
mulut seorang Muslim
di mana segala
sesuatu yang ada
di sekitarnya penuh dengan
kebohongan dan tidak
membenarkan apa yang dikatakannya. Kalimat tersebut
dalam Islam merupakan pergelutan besar bersama kegelapan yang ada pada diri
manusia, suatu pergelutan yang berakhir pada
penyerahan diri; pergelutan
yang akan berpindah pada
kehidupan yang lebih berat,
sehingga kehidupan akan berserah diri. Dan mustahil pergelutan itu akan terjadi
kecuali jika terpenuhi suatu kebebasan: kebebasan akal untuk meragukan dan
menolak dan kebebasan
yang berakhir kepada
pencapaian batas-batasnya
dan kemampuannya serta
kebebasan yang meninggi
untuk mencapai keimanan yang
dalam dan kukuh.
Itu adalah
tanggung jawab yang berarti bahawa
ia harus memikul
senjata untuk membebaskan orang
lain sebagaimana ia membebaskan
dirinya sendiri. Demikianlah
esensi dari Islam, yaitu ilmu
yang berdiri di
atas kebebasan dan
tanggung jawab yang
tumbuh dari kebebasan, dan buah terakhirnya adalah tauhid dalam
kedalamannya yang jauh. Jika
tauhid difahami secara
benar, maka manusia
akan terbebas dari penyembahan selain Allah SWT: manusia
akan bebas terhadap rasa takut darikematian,
kekhuatiran atas rezeki,
manusia akan terbebas
dari sikap bakhil dan ketakutan terhadap hari-hari yang
akan datang. Muhammad bin Abdillah
datang untuk menyerukan
bahawa hanya Allah
SWT yang patut disembah dan bahawa semua manusia adalah hamba-
hamba-Nya.
Jihad dalam islam
Dengan
membebaskan manusia dari
menyembah sesama mereka,
maka kebebasan yang hakiki
telah dimulai. Rasulullah
saw memberitahu bahawa kematian adalah
perpindahan dari satu
rumah ke rumah
yang lain. Ia
bukan akhiran yang misteri dari kehidupan yang tidak dapat difahami,
tetapi ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak akan
menyelamatkan dari kematian itu sendiri,
dan cinta kepada
kehidupan tidak akan
memanjangkan ajal.
Pada setiap
ajal ada ketentuannya. Maka
keberanian merupakan unsur dari
unsur-unsur pembentukan keperibadian Islam
dan bahagian dari bahagian-bahagian sel yang ada dalam
tubuh seorang Muslim. Rasulullah
saw juga menyatakan
bahawa rezeki di
dunia sudah dijamin
dan ditentukan oleh Allah SWT: "Dan tidak ada suatu binatang melata
pun di bumi melainkan Allah- lah yang memberi rezekinya. " (QS. Hud: 6)
Jibril mewahyukan kepada Rasul saw bahawa suatu jiwa tidak akan memenuhi
ajalnya sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak
ada alasan bagi
manusia untuk khawatir
terhadap rasa lapar
dan gelisah terhadap hari
esok. Semua ini
terjadi dalam ruang
lingkup mengambil atau melalui jalan-jalan menuju sebab. Yakni
berusaha untuk mencapai rezeki yang merupakan
kewajipan bagi orang
Muslim dan percaya
terhadap kedermawan Allah SWT
yang juga merupakan
suatu kewajipan bagi
orang Muslim untuk mempercayainya. Allah SWT berfirman:
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa
yang dijanjikan kepadamu. " (QS. adz-Dzariat: 22) Allah SWT telah menjamin
rezeki di dunia dan memerintahkan manusia untuk berusaha mencapai
rezeki di akhirat.
Rezeki di dunia
adalah sesuatu yang sudah
dijamin, sehingga manusia
tidak perlu melakukan
usaha yang terlalu sengit untuk
mencapainya. Cukup baginya
untuk berusaha secara
benar dan seimbang.
Sedangkan berkenaan dengan rezeki
akhirat, Allah SWTmemerintahkan manusia untuk berusaha
mencapainya kerana ia adalah rezeki yang
Allah SWT tidak
menjaminnya kecuali jika
manusia berhasil melampaui dua jihad:
jihad yang besar
dan jihad yang
kecil. Jihad besar
adalah jihad melawan hawa
nafsu dan jihad kecil
adalah jihad melawan
musuh di medan perang. Dengan
terbebasnya seorang Muslim dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa takut, maka
Islam memberi seorang
Muslim senjatanya dan
alat-alatnya dan ia memerintahkannya untuk mulai
memerangi kekuatan-kekuatan
kelaliman di muka bumi. Allah SWT berfirman tentang umat Islam: "Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS.
Ali 'Imran: 110) Perhatikanlah, bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf
nahi mungkar sebelum keimanan kepada
Allah SWT. Ini
dimaksudkan agar akal
manusia tergugah akan pentingnya
jihad di jalan
Allah SWT. Amal
makruf dan nahi mungkar tidak
terwujud semata-mata dengan memegang tongkat dan mencambukannya kepada punggung
orang-orang Islam yang tidak solat; ia juga tidak berupa
usaha untuk menahan
orang-orang Muslim yang
tidak berpuasa. Masalah itu lebih
penting dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang bersifat
lahiriah, sedangkan hal-hal
yang bersifat batiniah
tidak diperhatikan. Ayat
tersebut berarti, hendaklah seorang
Muslim membawa senjata dan berdakwah di
jalan Allah SWT
serta memerangi orang-orang
lalim di muka bumi. Abu Bakar berkata: "Wahai
manusia, kalian membaca ayat berikut ini:" "Hai orang-orang
yang beriman, jagalah
dirimu. Tiadalah orang
yang sesat itu akan
memberi mudarat kepadamu apabila kamu
telah mendapat petunjuk,"
(QS. al-Maidah: 105) Dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang lalim dan mereka tidak
menghentikannya, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka semua."
Penafsiran
Abu Bakar terhadap
ayat tersebut sangat
jelas ertinya. Yakni bahawa pelaksanaan ayat tersebut dapat
diwujudkan dengan adanya jihad di jalan
Allah SWT dengan
mengangkat senjata sebagai
usaha untuk menghentikan orang-orang yang
lalim. Setelah itu,
seorang Muslim dapat mengatakan: "Aku telah
melaksanakan tugasku dan
tidak akan berdampak kepadaku orang yang sesat setelah
aku memberikan petunjuk." Demikianlah pemahaman orang-orang Islam yang pertama.
Maka bandingkanlah pemahaman
tersebut dengan pemahaman
kita saat ini
di mana kita
telah kehilangan keberanian, dan rasa takut telah menghinggapi tubuh
orang-orang Islam. Kaum Muslim
lebih mengutamakan keselamatan
diri mereka daripada memerangi orang- orang yang lalim.
Muhammad bin Abdillah
datang dengan membawa risalah
Islam yang di dalamnya terdapat perintah Ilahi untuk
memerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan kehormatan orang-orang yang
tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman: "kerana itu, hendaklah
orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di
jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah,
lalu gugur atau
memperoleh kemenangan, maka
kelak akan Kami berikan
kepadanya pahala yang
besar. Mengapa kamu
tidak mau berperang dijalan
Allah dan (membela) orang-orang yang
lemah baik laki-laki, wanita-wanita mahupun
anak- anak yang
semuanya berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari
negeri ini yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan
berilah kami penolong dari sisi-Mu. " (QS. an-Nisa': 74-75) Muhammad bin
Abdillah membacakan kepada
kaumnya tentang penafsiran Allah SWT berkenaan dengan makna
kejayaan yang besar: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan syurga
untuk mereka. Mereka
berperang di jalan Allah, lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di
dalam Taurat, Injil,
dan Al-Quran. Dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?, maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar." (QS. at- Taubah: 111)
Bacalah ayat
tersebut dua kali
dan renungkanlah tentang
kedermawan Allah SWT. Betapa
tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan harta mereka, padahal jiwa
tersebut dan harta
tersebut pada hakikatnya
adalah milik-Nya sendiri. Lihatlah
bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia membeli harta milik-Nya yang khusus
dengan syurga dan bagaimana Allah SWT menganjurkan orang-orang Islam
untuk berperang, dan
Dia memberitahu mereka bahawa urusan memerangi orang-orang
lalim dan orang-orang yang tersesat bukanlah hal yang
baru atas orang-
orang Islam. Allah
SWT telah memerintahkan hal tersebut dalam Injil dan Taurat.
Sebagaimana Nabi Isa diutus
dengan pedang, seperti
yang disebutkan dalam
lembaran- lembaran atau buku-buku
orang-orang Nasrani, maka
Nabi Musa pun
diutus dengan membawa pedang.
Dan ketika Bani
Israil berkata kepada
Nabi Musa, "pergilah engkau
bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami hanya di sini duduk-duduk saja,", maka
kehendak Ilahi menetapkan agar
mereka mendapatkan
kesesatan selama empat
puluh tahun sebagai
akibat dari perbuatan mereka
itu, agar generasi
yang lemah dan
hina itu hancur
yang mereka justru tidak memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka
membiarkan Nabi Musa bersama Tuhannya berperang, padahal peperangan itu
merupakan tanggung jawab mereka dan tugas mereka yang harus mereka emban
sebagai pengikut Nabi Musa. Demikianlah
esensi dari ajaran
Islam sebagaimana yang
dibawa oleh Muhammad bin
Abdillah. Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu serta mendapatkan kebebasan dan
yang terpenting
adalah usaha melawan kekuatan-kekuatan lalim. Suatu
ajakan yang universal yang tidak dikhususkan untuk kalangan
tertentu atau untuk
warna kulit tertentu
atau untuk kaum tertentu atau
untuk tempat tertentu; suatu
ajakan kemanusiaan yang komprehensif yang universal yang
ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad dengan tujuan yang lebih tinggi,
yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya serta
keimanan terhadap hari
kemudian dan kebangkitan manusia semuanya di hadapan
Allah SWT.
Adalah salah jika
ada orang yang
menganggap bahawa Islam
hanya memperhatikan aspek akhirat
dan melupakan aspek
duniawi. Menurut Islam dunia
adalah lembar-lembar jawapan
yang akan di
koreksi di hari
akhir. Ia adalah ujian
dan tempat percubaan
bagi manusia agar
manusia mengetahui apakah ia
layak untuk mendapatkan kemuliaan dari
Allah SWT yang
telah diberikan kepada Adam. Atau apakah ia justru layak untuk jadi
bahagian dari tanah neraka Jahim dan batunya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Yang bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS.
al-Baqarah: 24) Rasulullah saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan
manusia, penciptaan kehidupan dan kematian ketika beliau menyampaikan firman
Allah SWT dalam surah al-Mulk: "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. " (QS. al-Mulk:
2) Dunia adalah rumah pergelutan. Dan Allah SWT telah menciptakan kehidupan
dan kematian agar
manusia menyedari siapa
di antara mereka
yang terbaik amalnya. Tentu
pengetahuan ini tidak akan menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan itu
justru dibutuhkan oleh
manusia.
Islam Mengutamakan Kedamaian
Allah SWT
menciptakan manusia agar manusia
mengetahui, dan pengetahuan yang
paling penting adalah pengetahuan
atau pengenalan terhadap diri.
Dan pada hari
kiamat manusia akan mengenal dirinya secara sempurna dan ia akan
mengenal balasan yang akan di terimanya secara sempurna. Dan barangkali
mukadimah yang kami sarikan dari hari akhir ini mengharuskan kehidupan di
atas bumi dipenuhi
dengan kesucian dan
kebersihan, yaitu diliputi
dengan kemanusiaan yang sempurna yang di dalamnya manusia layak untuk hidup.
Demikianlah Islam yang
dibawa oleh Muhammad saw.
Inilah asasnya dan
hakikatnya. Itu adalah pondasi dan hakikat yang tidak diciptakan oleh Muhammad
saw dan tak
didahului oleh rasul-rasul
sebelumnya. Hakikat risalah-risalah yang
dulu semuanya adalah
tauhid dan mempertahankan kebenaran serta
keimanan terhadap hari
akhir dan menyerahkan
jiwa dan anggota tubuh hanya
kepada Allah SWT. Yang baru dalam Islam adalah ilmu, kebebasan dan
universalitas ajaran Islam
serta warna keadilan
yang sangat kental, sehingga
sangat tepat jika dikatakan bahawa karakter dari Islam adalah keadilan.
Barangkali bahagian ini perlu diperhatikan. Meskipun agama-agama
samawi pada esensinya
satu, tetapi kehendak
Allah menuntut turunnya lebih
dari agama dan
lebih dari satu
nabi. Kehendak tersebut menuntut
agar pada setiap agama terdapat karakter yang khusus yang menggambarkan bentuk
yang paling tepat
sesuai dengan kebutuhan
utama yang di situ
agama itu diturunkan
dan sesuai dengan
waktu saat itu. Orang-orang Yahudi
misalnya, mereka hidup
di tengah-tengah suasanapenyembahan berhala di
kalangan orang-orang Mesir
kuno. Yahudisme diturunkan pada
Bani Israil yang suka membangkang dan kerana itu, karakter utamanya adalah
ketegasan (as- Sharamah)
agar mereka tidak
terpengaruh dengan fenomena berhalaisme
ala Mesir atau
mereka terkena pengaruh
dari tindakan semena-mena Fir'aun. Dengan ketegasan inilah agama Yahudi
selamat dan dapat menjadi risalah penyelamatan dan pembebasan. Namun Bani
Israil yang memperbudak manusia dan mempunyai hati yang keras pada saat
yang sama mereka
keluar dari Fir'aun
untuk masuk ke
cengkaman orang-orang Romawi di mana orang-orang Romawi justru lebih
lalim dan lebih kuat dari orang-orang Mesir.
Oleh kerana itu,
orang- orang Masehi bertanggungjawab untuk melakukan
pembebasan baru tetapi dengan cara yang berbeza sesuai dengan perubahan
keadaan.
Cara tersebut adalah
menjauhkan penggunaan
kekuatan bersenjata kerana
kekuatan orang-orang Romawi mengungguli kekuatan saat itu dan
menguasai bumi secara keseluruhan. Maka kemenangan yang
mungkin dapat diperoleh
adalah dengan cara
menghindari tindak
kekerasan dan lebih
mengutamakan pendekatan cinta.
Dan pada kali yang
lain orang- orang
Masehi memperoleh kemenangan melalui cara kedamaian dan
cinta yang disebarkannya atas
imperialisme Romawi dengan segala senjatanya dan kekuasaannya.
Adapun Islam datang sebagai agama yang terakhir dan menyeluruh yang layak untuk
diterapkan di muka bumi, sehingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja yang
ada di dalamnya kepada orang-orang yang berhak mewarisinya. Oleh kerana itu,
agama yang terakhir
ini harus mempunyai
karakter khusus dan karakter itu adalah karakter keadilan.
Ketegasan hanya cocok
untuk zaman tertentu
dan kelompok tertentu dan keadaan tertentu,
sedangkan cinta adalah
contoh yang tertinggi,
tetapi ia tidak dapat
menjadi sesuatu tolok
ukur untuk dibandingkan dengan tindakan-tindakan tertentu atau
untuk dijadikan alat
untuk melakukan sesuatu. Dan
jika ia menjadi
tolok ukur bagi
orang-orang yang memilki perasaan yang
tinggi atau budaya
yang tinggi, maka
ia tidak dijadikan
tolok ukur umum dan
universal. Adapun keadilan,
maka ia menjadi
karakter Islam yang berarti
keseimbangan dalam sifat-sifat keutamaan dan meletakkan segala sesuatu pada
tempatnya. Ini adalah tolok ukur yang menyeluruh dan barometer yang akhir.
Dan barangkali kebesaran keadilan dan
pengaruhnya dalam pengaturan
alam bersandarkan kepada firman Allah SWT:
"Allah
menyatakan bahawasanya tidak
ada Tuhan melainkan Dia.
Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang
yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)."
(QS. Ali 'Imran: 18) Apabila Allah SWT
dalam Islam merupakan
cermin yang tertinggi,
maka keadilan yang disaksikan
oleh Allah SWT
terhadap diri-Nya sendiri
harus menjadi karakter Islam dan kaum Muslim. Keadilan dalam Islam bukan
hanya keadilan ekonomi atau keadilan hukum atau keadilan dalam balasan, tetapi
ia mencakup semuanya. Sebelum semua ini dan sesudahnya, keadilan dalam Islam
merupakan suatu sistem dalam kehidupan dan metode utama dalam Islam.
Ketika Anda memalingkan pandangan Anda
dalam Islam, maka
Anda akan menemukan keadilan
menghiasi seluruh wajah Islam.
Di sana terdapat keadilan antara agama-agama yang
dulu, keadilan antara
individu dan masyarakat, keadilan antara dunia dan agama,
keadilan antara lelaki dan wanita, keadilan untuk orang-orang yang fakir dan
orang-orang yang kaya, keadilan antara para penguasa dan
rakyat, bahkan dengan
keadilan itu sendiri
bumi dan langit ditegakkan dan Allah SWT menyebut
diri-Nya sebagai al-'Adl (Yang Maha Adil). Selanjutnya, Islam
adalah agama yang
sudah lama sebagaimana lamanya kedatangan para nabi. Nabi Nuh as
berkata dalam surah Yunus: "Jika kamu
berpaling (dari
peringatanku), aku tidak
meminta upah sedikit pun darimu.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka dan aku disuruh supaya aku
termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadanya)." (QS. Yunus:
72) Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as berkata dalam surah al-Baqarah saat
keduanya membangun Ka'bah: "Ya
Tuhan kami, terimalah
dari kami (amalan
kami), sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha
Mendengar lagi Maha
Mengetahui. Ya Tuhan
Kami, jadikanlah kami berdua
orang yang tunduk
patuh kepada Engkau
dan tunjukkanlah kepada kami
cara-cara dan tempat-tempat ibadat
haji kami, dan terimalah
taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Menerima taubat lagi Maha
Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 127-128)
Wasiat Nabi Ibrahim AS
Nabi Ibrahim
tidak lupa untuk
berwasiat kepada keturunannya dan
di antara mereka adalah
Yakub agar
mereka mati dalam
keadaan Islam. Allah
SWT berfirman: "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada
anaknya, Demikian pula Yakub.
(Ibrahim berkata): 'Hai
anak-anakku, Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini
bagimu, maka janganlah
kamu mati kecuali
dalam memeluk agama Islam.'" (QS. al-Baqarah: 132) Ketika kematian
mendekati Yakub, beliau
mengumpulkan
anak-anaknya di sekelilingnya
dan bertanya kepada mereka: "Apa
yang kamu sembah
sepeninggalanku? Mereka menjawab:
'Kami akan menyembah Tuhanmu
dan Tuhan nenek
moyangmu, Ibrahim, Ismail,
dan Ishaq, (yaitu) Tuhan
Yang Maha Esa
dan kami hanya
tunduk patuh kepadanya.'" (QS.
al-Baqarah: 133) Allah SWT memberitahu kita dalam surah Yunus tentang perkataan
Nabi Musa kepada kaumnya: "Hai
kaumku, jika kamu
beriman kepada Allah,
maka bertawakallah
kepada-Nya saja, jika
kamu benar-benar orang
yang berserah diri."
(QS. Yunus: 84) Sementara
itu, Nabi Sulaiman
adalah seorang Muslim
sesuai dengan nas ayat-ayat yang menceritakan tentang
kisahnya bersama Ratu Saba' ketika Ratu tersebut berkata: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri
bersama Sulaiman kepada
Allah, Tuhan semesta
alam." (QS. an-Naml: 44) Demikian juga
Nabi Yusuf, beliau
berdoa kepada Allah
SWT dan meminta kepadanya agar mematikannya sebagai
orang Muslim dan memasukannya dalam kelompok orang-orang yang saleh. Allah SWT
berfirman dan bercerita tentang Yusuf dalam surah Yusuf:
"Ya
Tuhanku, sesungguhnya Engkau
telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan
telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya
Tuhan) Pencipta langit
dan bumi, Engkaulah Pelindungku
di dunia dan di
akhirat, wafatkanlah aku
dalam keadaan Islam
dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS.Yusuf:
101) Sementara itu dalam
surah al-Maidah, Allah
SWT mewahyukan kepada
kaum Hawariyin agar mereka beriman kepadanya dan kepada rasul-Nya lalu
mereka berkata: "Kami telah beriman
dan saksikanlah (wahai
rasul) bahawa Sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang patuh
(kepada seruanmu)." (QS.
al-Maidah: 111) Jadi, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Yakub,
Nabi Musa Harun, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Isa adalah nabi-nabi yang
Muslim sesuai dengan nas ayat-ayat
tersebut.
Maka seluruh
nabi adalah orang-orang Muslim, lalu bagaimana Nabi Muhammad saw sebagai
Nabi yang terakhir dikatakan sebagai orang Muslim yang pertama? Allah SWT
berfirman dalam surah
al-An'am yang ditujukan
kepada Nabi yang terakhir: "Katakanlah:
'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam,
tiada sekutu bagi-Nya;
dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang
yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS. al-
An'am: 162-163) Maka, bagaimana beliau
menjadi orang Muslim
yang pertama, padahal penamaan umat beliau dengan
sebutan al-Muslimin adalah
penamaan yang sebenarnya
sudah dahulu dikenal di kalangan
nabi-nabi yang terdahulu
dan kedatangannya ke
alam wujud dan penamaan
agamanya dengan sebutan
al-Islam sebenarnya berhutang
kepada datuknyayang jauh, yaitu Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman dalam
surah al-Hajj: "Dan Dia sekali-kali
tidak menjadikan untuk
kamu dalam agama
suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah
menamai kamu sekalian orang- orang Muslim dari dahulu. " (QS. al-Hajj: 78)
Tidak ada pertentangan dalam
pendahuluan para nabi
dengan sebutan al- Muslimin daripada Rasulullah saw dan
kedudukan beliau sebagai orang Muslim yang pertama. Tentu kata al-Awwal (yang
pertama) di sini tidak difahami dari sisi waktu atau masa kemunculan, tetapi
yang dimaksud dengan orang Muslim di
sini adalah akmalul
muslimin (orang yang
paling sempurna di
antara orang-orang
Muslim).
Akhlak Rasulullah Saw
Suatu kali Aisyah
pernah ditanya tentang
akhlaknya Rasulullah saw lalu
dia menjawab dengan
kalimatnya yang singkat:
"Akhlak beliau adalah Al-Quran." Kita mengetahui
bahawa Al-Quran al-Karim
menetapkan akhlak yang
mulia meskipun dalam batasannya
yang sederhana dan
rendah, dan menyebutkan keutamaan akhlak
dalam tingkatannya yang
tinggi. Oleh kerana
itu, akhlak seperti apa yang
dimiliki oleh Rasulullah saw: apakah beliau memiliki akhlak yang sifatnya
tengah-tengah, atau apakah beliau mendahului dalam kebaikan, atau apakah
beliau termasuk ashabul
yamin (orang-orang yang
berasal di sebelah kanan), atau
apakah beliau termasuk al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT)?
Rasulullah saw tidak
hanya memiliki semua
karakter tersebut dan
atribut tersebut, bahkan kedudukan
beliau lebih dari
itu semua.
Beliau berada di puncak
dari segala puncak
keutamaan akhlak, sehingga
beliau berhak untuk mendapatkan sebutan dari Allah SWT:
"Dan sungguh
pada dirimu terdapat
budi pekerti yang
agung. " (QS.
al- Qalam: 4) Para Mufasir berbeza
pendapat tentang makna
dari al-Huluqul 'adzim
(budi pekerti yang agung).
Sebahagian mereka mengatakan
bahawa yang dimaksud adalah Al-Quran. Sebahagian yang
lain mengatakan itu adalah Islam. Ada juga yang mengatakan bahawa
beliau tidak memiliki
sesuatu kecuali keinginanuntuk menuju jalan Allah SWT. Dalam
Al-Qur'an al-Karim terdapat penjelasan tentang darjat beliau yang tinggi dalam
dua ayat yang mulia. Ayat yang pertama adalah firman-Nya: "Katakanlah:
'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam,
tiada sekutu bagi-Nya;
dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang
yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS. al-
An'am: 162-163) Beliau adalah orang
yang paling utama
di antara manusia
semuanya; beliau memiliki keutamaan
yang melebihi semua
manusia; beliau memiliki
rahmat dan kemuliaan yang
tidak dapat ditandingi
oleh seseorang pun.
Meskipun beliau datang sebagai
Nabi yang terakhir
namun justru kerana
posisi beliau sebagai Nabi
yang terakhir, maka
beliau menjadi bata
yang terakhir dalam pembangunan rumah
kenabian yang tinggi,
sehingga bata yang
terakhir itu harus menjadi
puncak pembangunan manusia. Sedangkan ayat
yang kedua adalah firman-Nya:
"Dan Kami tidak
mengutusmu kecuali sebagai
rahmat bagi alam
semesta." (QS. al-Anbiya': 107)
Nabi Muhammad Saw pembawa ajaran rahmat bagi sekalian
alam
Beliau bukan hanya
menjadi rahmat bagi orang-orang Arab saja; beliau bukan hanya menjadi
rahmat bagi orang-orang
Quraisy dan beliau
bukan menjadi rahmat bagi
zamannya saja, begitu
juga beliau tidak
menjadi rahmat bagi jazirah Arab
saja, tetapi beliau
menjadi rahmat bagi
alam semesta; beliau senantiasa menjadi
rahmat bagi alam
semesta: dimulai dari
diturunkannya wahyu kepadanya dengan kalimat iqra hingga Allah SWT
mewariskan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang- orang yang
berhak mewarisinya sampai hari kiamat.
Alhasil, beliau adalah
rahmat yang dihadiahkan
kepada manusia; beliau adalah
rahmat yang tidak
menonjolkan mukjizat yang mengagumkan, tetapi
beliau adalah rahmat
yang memulai dakwah
dengan mengutamakan fungsi akal
atau pembacaan dua
kitab: pertama, pembacaan kitab alam
atau Al- Qur'an
yang diciptakan atau
kalimat-kalimat Allah SWT yang
terdiri dari jutaan
bentuk dan kedua
pembacaan Al-Qur'an yang diturunkan melalui
malaikat Jibril di
mana ia merupakan
kalamullah yang abadi.
Dan kitab alam dibaca dengan ribuan cara: dibaca melalui
penelusuran dunia:
"Katakanlah:
'Berjalanlah kamu di
muka bumi dan
amat-amatilah.'" (QS.
an-Naml: 69) Atau dibaca melalui usaha menyingkap misteri dan penggunaan akal:
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami
di segenap penjuru
dan pada diri
mereka sendiri, sehingga
jelaslah bagi mereka bahawa Al-Qur'an
itu adalah benar. " (QS. Fushilat: 53)
Atau dibaca melalui
ilmu dan pengamatan: "Atau
siapakah yang telah
menjadikan bumi sebagai
tempat berdiam, dan yang
telah menjadikan sungai-sungai di
celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengukuhkan)nya
dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut 1 Apakah di samping Allah ada
tuhan (yang lain)? Bahkan
(sebenarnya) kebanyakan dari
mereka tidak mengetahui." (QS. an-Naml: 61) Jika di sana terdapat
ribuan jalan atau cara untuk membaca kalimat- kalimat Allah SWT dan kitab alam,
maka di sana terdapat satu jalan untuk membaca kalamullah yang abadi, yaitu
hendaklah Al-Qur'an dibaca dengan mata hati dan kecemerlangan basirah, sehingga
Al-Qur'an menjadi bahagian akhlak dari yang membaca sesuai dengan kemampuannya.
Sebelum turunnya Al-Qur'an,
dunia diliputi dengan
kekurangan, baik secara materi, rohani,
undang-undang mahupun dari
dimensi kehidupan yang
biasa melekat pada manusia saat itu. Dan sebelum diutusnya Rasul saw
yang beliau adalah manusia yang
sempurna dan paling
utama, alam belum
mencapai puncak dari penyerahan
diri kepada Allah
SWT atau puncak
dari keutamaan akhlak. Ketika
Rasulullah saw diutus, maka manusia mengalami kesempurnaan dan mampu mencapai
tingkat kesempurnaannya.
Dengan Kitab yang mulia ini dan Nabi yang pengasih, Allah
SWT yang menyempurnakan agama bagi manusia dan menyempurnakan nikmat-Nya atas
mereka, sebagaimana firman-Nya: "Pada
hari ini telah
Ku-sempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telahKu-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3) Namun
semua itu tidak terwujud begitu saja, Nabi yang mulia harus berjuang
secara serius dan
sungguh-sungguh, sehingga beliau
menjadi manusia yang paling layak untuk mendapatkan pujian
penduduk bumi dan penduduk langit. Dan
Rasulullah saw telah melakukan
semua itu. Kita
tidak mengenal seorang nabi
yang perasaannya dihina
dan dicaci maki
lebih dari apa
diterima oleh Muhammad bin
Abdillah; kita tidak
mengenal seorang nabi
yang memikul berbagai penderitaan, dan
memiliki kesabaran yang
mengagumkan di jalan Allah SWT sebagaimana yang ditunjukkan
oleh Nabi kita. Kemudian,
seorang yang diutus
oleh Allah SWT
sebagai rahmat bagi
alam semesta tidak akan mengajak manusia menuju kebenaran kecuali jika
manusia tersebut dari kalangan
orang-orang yang kafir
dan membangkang.
Suka Duka Dakwah Nabi Muhammad Saw
Beliau berdakwah bagi
orang yang berhak mendapatkan dakwah; beliau siap memikul tanggung jawab
dakwah dengan berbagai
tantangan dan cubaannya;
beliau menunjukkan
kesabaran yang luar
biasa. Setelah itu,
beliau datang kepada Allah SWT dengan
hati yang puas
dan air mata
yang bercucuran dan
dengan suara berbisik berkata: "Ya Allah, jika tidak ada kemurkaan
pada diri-Mu, maka aku tidak akan peduli dengan manusia." Segala sesuatu
akan menjadi mudah jika di sana terdapat ridha Allah SWT.
Setelah
turunnya wahyu kepada
Rasul saw, beliau
memulai tahapan dakwah dan
mengajak manusia untuk
menyembah Allah SWT.
Dimulailah dakwah secara
rahsia yang berlangsung selama tiga tahun dalam persembunyian. Mula-mula Ummul
Mu'minin, Khadijah binti Khuwailid beriman kepadanya, lalu beriman juga
sahabatnya, Abu Bakar
sebagaimana beriman kepadanya
anak pamannya, Ali bin
Abi Thalib yang
saat itu masih
kecil dan hidup
di bawah asuhan Muhammad,
dan juga beriman kepadanya
Zaid bin Tsabit,
seorang pembantunya.
Kemudian Abu Bakar
juga ikut berdakwah, sehingga ia memasukkan dalam dakwah
teman- temannya, seperti
Usman bin Affan, Thalha bin Ubaidilah, dan Sa'ad bin
Abi Waqas. Juga beriman seorang Masehi, yaitu Waraqah bin Nofel dan Rasulullah
saw melihatnya setelah kematiannya tanda kesenangan yang itu menunjukkan
ketinggian darjatnya di sisi Allah SWT. Setelah itu, Abu Dzar al-Ghifari juga
masuk Islam, lalu disusul oleh Zubair bin Awam dan
Umar bin 'Anbasah
serta Sa'id bin
'Ash. Jadi, Islam
mulai mengepakkan sayapnya secara rahsia di Mekah.
Kemudian
berita tersebarnya akidah
yang baru ini
sampai kepada
pembesar-pembesar Quraisy, tetapi
mereka tidak begitu
peduli. Barangkali mereka membayangkan
bahawa Muhammad telah menjadi - kerana uzlah yang dilakukannya di
gua Hira -
salah seorang juru
bicara tentang ketuhanan sebagaimana pernah dilakukan oleh
Umayah bin Shalt dan Qas bin Sa'adah. Demikianlah dakwah secara rahsia berhasil
mengembangkan misinya dan dapat melindungi
akidah yang baru.
Dan selama perjalanan tiga
tahun yang dibutuhkan tahapan
dakwah secara rahsia keimanan telah tertanam dalam hati kaum Muslim yang
pertama. Rasulullah saw telah mendidik mereka dan telah menanamkan kepada diri
mereka sifat-sifat kemuliaan dan telah menciptakan mereka sebagai benih pertama
dari pasukan Islam. Pada suatu hari Jibril turun dengan membawa firman Allah
SWT: "Dan berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat." (QS.
asy-Syu'ara': 214) Demikianlah,
datanglah perintah Ilahi
agar Rasulullah saw
berdakwah secara
terang-terangan. Lalu berkumpullah di sekeliling Nabi sekelompok tentera yang
besar dan datanglah perintah Ilahi agar beliau menyampaikan dakwah secara
terang-terangan dan mengingatkan keluarga dekatnya. Ketika Nabi melakukan
hal tersebut, maka
dakwah memasuki tahapan
yang kedua. Dan
tahapan dakwah yang baru ini berakibat pada timbulnya penekanan terhadap
para dai di mana mereka
mengalami penindasan, bahkan
mereka didustakan oleh masyarakat serta diboikot. Orang-orang
Quraisy mengetahui bahawa Muhammad berbahaya bagi mereka. Beliau bukan
hanya berbicara tentang
ketuhanan, tetapi beliau
mengajak manusia untuk mengikuti
agama baru, yaitu
agama yang mencuba
untuk menyingkirkan
berhala-berhala dan patung-patung mereka
serta tuhan-tuhan mereka yang
mereka yakini; agama
yang mencuba menyingkirkan kedudukan sosial mereka
dan kepentingan- kepentingan
ekonomi mereka; agama
yang menyatakan bahawa tiada tuhan lain selain Allah SWT, dan tiada
hukum lain selain hukum-Nya, serta
tiada penguasa lain
selain Dia.
Kedatangan agama
tersebut menyebabkan penduduk
kota Mekah membencinya
dan orang-orang yang memegang
kekuasaan di dalamnya merasa gelisah. Setelah pengumuman dakwah secara
terang-terangan,
dimulailah danditabuhlah gendang
peperangan. Kemudian peperangan
yang dahsyat terjadi antara para pembesar Quraisy dan
para pengikut Rasulullah saw. Orang yang pertama kali menyerang Islam adalah
seorang tokoh Mekah yang bernama Abu Lahab. Bukhari meriwayatkan bahawa
Rasulullah saw menaiki bukit Shafa dan beliau mulai memanggil-manggil tokoh
Quraisy dan para
kabilah Mekah. Dan
ketika semua berkumpul, beliau
bertanya kepada mereka:
"Apakah kalian percaya jika aku
memberitahu kalian bahawa
seekor kuda akan
datang menyerang kalian?"
Mereka menjawab: "Tentu, kami belum pernah melihatmu berbohong."
Beliau berkata: "Aku seorang yang diutus sebagai pemberi peringatan
terhadap kalian. Di hadapanku terdapat seksaan yang berat jika kalian
menentang." Abu Lahab
berkata: "Sungguh celaka
engkau, apakah kerana
ini engkau mengumpulkan
kami." Dengan penghinaan inilah,
peperangan terhadap Islam
dimulai.
Ketika kaum
Muslim tidak mampu
mempertahankan diri mereka,
maka mula- mula
Allah SWT membantu mereka dan menolong mereka dengan menurunkan surah
yang pendek yang mengecam tindakan Abu Lahab: "Binasalah kedua
tangan Abu Lahab
dan sesungguhnya dia
akan binasa. Tidaklah
bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia
akan masuk ke
dalam api yang
bergejolak. Dan (begitu
pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari
sabut. " (QS. Allahab: 1-5) Dengan
ayat-ayat yang pendek
dan tepat tersebut,
Abu Lahab memasuki kancah sejarah dari pintunya yang
paling pendek. Gambaran tentang kejahatan Abu Lahab tertulis selama-lamanya.
Abu Lahab adalah seorang yang menentang dakwah kebenaran kerana ia
mengkhuatirkan kedudukannya dan kekayaannya, padahal harta yang
dipertahankannya dan dijaganya tidak memiliki erti sama sekali di sisi
Allah SWT kerana
ia sekarang berada
dan dimasukkan di tengah-tengah neraka
yang menyala- nyala,
sedangkan isterinya membawa kayu bakar, sehingga menambah nyala
api itu sendiri. Dan di lehernya terdapat suatu belenggu
sebagai simbol keterikatannya dengan
dunia binatang yang tidak berakal. Sebahagian besar
orang-orang yang menentang dakwah adalah orang- orang yang berhubungan dengan
dunia binatang yang tidak sadar. Allah SWT berfirman:
"Atau apakah kamu
mengira bahawa kebanyakan
mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak
lain, hanyalah seperti
binatang ternak, bahkan mereka
lebih sesat jalannya
(dari binatang ternak
itu). " (QS. al-Furqan: 44) Seandainya hari ini kita
merenungkan reaksi orang-orang kafir dan orang- orang musyrik, maka kita akan
terhairan-hairan. Allah SWT berfirman: "Dan mereka hairan kerana mereka
kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul)
dari kalangan mereka;
dan orang-orang kafir
berkata: 'Ini adalah seorang ahli
sihir yang banyak
berdusta. Mengapa ia
menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar
suatu hal yang sangat menghairankan'." (QS. Shad: 4- 5) Cobak perhatikan
bagaimana kebodohan kaum itu di mana mereka menganggap bahawa pada
hakikatnya terdapat multi
tuhan dan mereka
justru merasa hairan ketika
terdapat hanya satu tuhan atau tuhan yang esa. Mereka justru merasa hairan
ketika berhadapan dengan masalah yang fitri dan jelas ini. Allah SWT berfirman:
"Dan apabila mereka
melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu
sebagai ejekan (dengan
mengatakan): 'Inikah orangnya yang diutus
Allah sebagai rasul?
Sesungguhnya hampirlah ia
menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita
tidak sabar (menyembah)nya.
" (QS. al-Furqan: 41-42) Perhatikanlah betapa nekadnya kaum itu di mana
mereka mulai menghina dan mengejek
Rasulullah saw, padahal
beliau telah datang
di tengah-tengah mereka untuk
menyelamatkan mereka dari
api neraka, dan
cuba perhatikan bagaimana pandangan mereka
terhadap tuhan-tuhan mereka.
Mereka
membayangkan bahawa mereka
nyaris tersesat jika
mereka tidak bersabardalam membela tuhan-tuhan tersebut. Demikianlah kesesatan mengejek kebenaran dan
kebodohan menghina ilmu.
Mereka justru merasa
hairan terhadap
kepandaiannya yang dapat
menyelamatkannya dari meninggalkan tuhan-tuhannya yang
terbuat dari batu
dan kayu, bahkan
terkadang mereka membuat tuhan
dari adunan roti
di mana mereka
menyembahnya kemudian
memakannya. Mereka mengatakan bahawa
tuhan-tuhan kami menyelamatkan
kami dari rasa
lapar atau mereka
mengatakan bahawa kami
menyembah mereka agar mereka dapat mendekatkan kami pada Allah
sedekat-dekatnya. Meskipun
demikian, dakwah Nabi
terus berlanjutan dan
tertanam di muka bumi. Mereka
orang-orang musyrik menuduh
Nabi sebagai seorang
dukun; mereka menuduhnya juga
sebagai seorang gila,
bahkan mereka menuduhnya sebagai seorang
penyihir; mereka menuduh
bahawa beliau berbohong
atas nama kebenaran dan beliau dibantu oleh kaum yang lain; mereka
mengatakan ini adalah dongengan orang-orang yang dahulu. Mereka meminta kepada
beliau untuk mendatangkan mukjizat dengan bentuk tertentu; mereka
memberitahu bahawa mereka
tidak akan beriman kepadanya, sehingga terdapat suatu
mata air yang memancar dari bumi atau terwujud
di depan mereka
suatu taman dari
pohon kurma dan
anggur yang memancar di
tengah-tengahnya sungai,
atau langit akan
runtuh sebagaimana yang beliau
sampaikan kepada mereka sebagai bentuk azab atau beliau datang dengan Allah SWT
dan para malaikat dan mereka semua menjamin kebenaran dakwah yang diserukannya,
atau beliau memiliki rumah dari emas atau beliau mampu mendaki langit dan
mereka masih belum beriman terhadap pendakian itu meskipun
ia mendaki di
hadapan mata mereka
dan kembali dengan selamat, kecuali jika ia
menghadirkan kitab kepada mereka yang dapat mereka baca dari langit.
Nabi tidak peduli
dengan usaha mereka untuk menyakiti hati beliau; Nabi tetap memberitahu mereka
dengan penuh kelembutan bahawa apa saja yang mereka minta itu
tidak sesuai dengan
Islam. Sebab, Islam
hanya menyeru akal
dan berusaha menciptakan kebebasan. Beliau
menyampaikan kepada mereka bahawa beliau hanya sekadar manusia
yang diutus oleh Tuhan; beliau datang kepada mereka untuk mengingatkan mereka
akan suatu hari di mana seorang tua
tidak akan menyelamatkan anaknya
dan tidak bermanfaat
di dalamnya harta dan
anak-anak, dan mereka
tidak akan selamat
di dalamnya dari seksaan. Orang-orang
yang mempunyai kedudukan
atau para tokoh
mereka adalah para tiran-tiran di muka bumi di mana semua itu tidak akan
bermanfaat bagi mereka pada hari kiamat.
Seksaan yang bakal mereka terima tidak dapatmereka hindari
dan mereka pun tidak dapat meringankannya. Demikianlah Islam
- sebagaimana agama-agama
sebelumnya - mengumpulkan di sekelilingnya orang-orang
yang berakal dan
orang- orang yang
fakir serta orang-orang yang
menderita di muka
bumi.
Kisah dakwah Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah
Berimanlah
sekelompok orang-orang fakir di mana mereka menjadi kelompok sosial yang
tertindas dan tersingkirkan di Mekah. Mereka menjadi makanan empuk
kelompok-kelompok yang zalim. Islam
bukan hanya memberikan
solusi ekonomi terhadap
tragedi kehidupan atau masyarakat,
tetapi Islam memberikan
solusi Ilahi terhadap
keberadaan manusia secara umum; Islam meyakini bahawa manusia bukan
hanya sekadar perut yang harus
dikenyangkan dan naluri
seksual yang harus
dipuaskan, manusia bukan hanya
di lihat dan
dinilai dari sisi
ini, namun Islam
justru meletakkan manusia pada
tempatnya yang hakiki,
tanpa membesar-besarkan atau
mengecilkannya.
Dalam pandangan Islam, manusia terdiri dari bangunan fizik
dan rohani, terdiri dari akal dan ambisi dan terdiri dari celupan dari Allah
SWT dalam rohnya. Islam tidak mementingkan fizik
saja dan meninggalkan rohani,
begitu juga sebaliknya. Terkadang fizik
boleh jadi mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, tetapi rohani justru
mengalami penderitaan yang luar biasa. kerana itu, pemuasan salah satu dimensi
dari dimensi manusia tidak akan membawa manusia kepada
kesempurnaan atau kebahagiaan.
Maka, Islam datang
untuk membawa suatu solusi yang dapat menyelamatkan manusia dari dalam
dirinya sendiri dan
Islam membebankan tugas
ini, yakni tugas
perubahan ini kepada Al-Qur'an. Al-Qur'an menjadi
cermin dalam kehidupan
di mana ayat-ayatnya diturunkan kepada Rasul saw, lalu beliau
mengajarkannya kepada kaum Muslim. Kemudian Al-Qur'an berubah
menjadi orang-orang yang
berjalan di pasar-pasar dan mengancam singgasana kebencian yang
menguasai Mekah, sehingga orang-orang musyrik
justru meningkatkan usaha
pengejekan dan penghinaan terhadap Rasul
saw. Oleh kerana
itu, beliau semakin
sedih lalu Allah
SWT menghiburnya.
Allah SWT memberitahu beliau bahawa
mereka tidak
mendustakannya, tetapi mereka
justru melalimi diri
mereka sendiri. Mereka mulai menentang
Nabi dan ayat-
ayat Allah SWT,
padahal Nabi adalah
salah satu dari ayat Allah SWT.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami mengetahui
bahawasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu
bersedih hati), kerana
mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu,
akan tetapi orang-orang yang
lalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (QS. al- An'am: 33) Kemudian kaum
musyrik meningkatkan penindasan kepada Rasul saw dan para pengikutnya. Peperangan dimulai: dari
peperangan urat saraf
sampai peperangan fizik. Mereka
mulai menyeksa
para pengikut Rasul
saw, bahkan membunuhnya. Pada
saat itu, musuh-musuh Islam
membayangkan bahawa dengan
cara menindas kaum Muslim dan menekan mereka dakwah Islam akan berhenti dan
kaum Muslim akan enggan untuk berdakwah. Mereka menganggap bahawa kaum
Muslim justru memilih
untuk menyelamatkan diri
mereka. Namun para tokoh-
tokoh Quraisy dan
para tokoh-tokoh Mekah
dikejutkan ketika melihat penekanan
yang mereka lakukan
justru semakin membakar semangat kaum Muslim untuk
berdakwah. Saat itu kaum Muslim merasa yakin bahawa benih
yang telah ditanam
Rasulullah saw dalam
diri mereka menjadikan mereka
tetap bersemangat untuk menyebarkan risalah Allah SWT di muka
bumi, yaitu suatu
risalah yang mengembalikan bumi
menuju kematangan (kesempurnaan) yang telah hilang darinya dan kemanusiaan
yang telah disia-siakan serta
kehormatan yang telah
ditumpahkan dan kebebasan yang telah hilang. Kaum Muslim
yakin bahawa mereka bukan hanya membangun suatu negeri yang kecil di Mekah, dan
mereka bukan hanya memperbaiki masyarakat yang rosak, yaitu masyarakat
jazirah Arab, tetapi
mereka mengetahui bahawa
mereka akan membangun suatu
manusia yang baru.
Mereka akan menciptakan manusia seutuhnya; mereka
akan menghadirkan dunia
dalam bentuk yang
baru dan dalam gambar yang baru
yang merupakan cermin dari gambar kebesaran sang Pencipta. Sebelum kedatangan Islam,
orang-orang Arab tidak
dikenal. Dibandingkan
dengan peradaban yang
dahulu dan moden,
orang-orang Arab tidak
memiliki apa-apa. Mereka tidak
memberikan kontribusi kepada
dunia dalam bentuk ilmu, seni,
atau peninggalan apa
pun yang dapat
dijadikan sebagai
kebanggaan. Namun ketika
Islam turun kepada
mereka, mereka menjadi cermin kejayaan manusia di mana
mereka dapat memberikan sumbangan nyata pada
umat manusia. Bahkan
orang-orang Barat banyak
berhutang kepada mereka dalam
kemajuan yang mereka
capai saat ini.
Sebaliknya, ketikamereka
berpaling dari Islam
di mana Islam
hanya menjadi lembaran cerita-cerita dan
kertas-kertas yang tidak
berguna, maka saat
itulah orang-orang Barat dapat
menguasai kaum Muslim
kerana mereka justru mendapatkan ilmu
dari Kaum Muslim
itu sendiri. Mereka
justru mencapai kemajuan ketika
kaum Muslim meninggalkan agama mereka. Jadi, ketika kaum Muslim memahami Islam
secara benar dan
berusaha untuk menghidupkan ajaran-ajarannya nescaya mereka
akan mencapai puncak keilmuan. Pada
awal-awal masa tersebarnya Islam,
kaum Muslim menyedari
bahawa mereka menghadapi peperangan yang tidak akan berhenti. Selama
kehidupan ada, maka pertentangan pun
tetap ada. Oleh
kerana itu, ketika
mereka mendapatkan
penganiayaan dan seksaan,
maka keimanan mereka
justru semakin meningkat, dan
setiap penganiayaan yang
dilakukan oleh kaum Quraisy, maka
mereka tetap bertahan
untuk mempertahankan kebenaran.
Sebagai contoh, Amar
bin Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah
seorang budak yang
menjadi korban dari
sistem ekonomi yang berlaku saat itu, yaitu ekonomi yang
berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang yang beriman tersebut diseksa di
Mekah di mana ia tidak memperoleh kebebasannya yang
hakiki kecuali setelah
ia memeluk Islam.
Mereka mengeluarkannya ke gurun dan menyeksanya berserta ibunya. Bahkan
seksaan semakin meningkat atas
ibunya agar ia
kembali menjadi musyrik.
Ketika ia tetap mempertahankan
keimanannya dan dengan tegas menolak ajakan untuk menentang Islam, maka Abu
Jahal menikamnya dengan belati yang ada di dua tangannya. Ia
pun meninggal.
Dan Islam
mengorbankan syahidnya yang pertama. Wanita mulia itu bernama
Sumayah, ibu dari Amar bin Yasir. Banyak
kalangan orang-orang bodoh
mengatakan tentang persetujuan
Islam terhadap sistem perbudakan,
atau Islam mendiamkan sistem
perbudakan. Mereka lupa bahawa
Islam dibangun berdasarkan suatu
prinsip yang ingin membebaskan perbudakan dengan segala
bentuknya; Islam ingin mengeluarkan manusia
dari kepemilikan sesama
manusia menuju kepemilikan
kepada Allah SWT. Jika Islam
tidak turun dengan
nas-nas yang terperinci
yang mengharamkan sistem perbudakan, maka
dasar-dasarnya secara umum
dan prinsip-prinsip utamanya menghentikan -
baik dalam tindakan
mahupun ucapan - sumber-sumber sistem
ini. Allah SWT
sebagai pemilik syariat
mengetahui bahawa sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara
yang akan berubah dengan perubahan waktu, dan kerana Islam tidak turun pada
waktu yang terdapat perbudakan saja, tetapi ia turun secara umum dan
menyeluruhuntuk setiap zaman,
maka Islam sengaja
melewati bentuk-bentuk yang sementara ini dari bentuk-bentuk
eksploitasi menuju unsur yang pertama atau dasar pertama yang menimbulkan
bentuk-bentuk eksploitasi tersebut, sehingga Islam mengharamkannya. Dengan cara
demikian, Islam mengharamkan sistem perbudakan secara
bertahap, seperti proses
pengharaman khamer. Jadi, keseriusan Islam sangat menonjol
dalam usaha menghapus dan mengharamkan perbudakan. Jika dikatakan kepada kita
bahawa Islam membolehkan para tenteranya untuk memperbudak para tawanan perang,
maka kita akan mengatakan bahawa Islam menerapkan sistem
ini sebagai bentuk
pembalasan terhadap perlakuan
yang sama di mana
musuh-musuh Islam menjadikan kaum
Muslim sebagai budak-budak mereka
ketika mereka menawannya. Oleh
kerana itu, secara alami orang-orang Islam pun menawan
mereka sebagai budak-budak. Jika Islam tidak melakukan yang demikian, maka
boleh jadi Islam akan dimain-mainkan dan ada kesempatan besar bagi orang-orang
musyrik untuk memperdaya Islam. Demikianlah bahawa dakwah Islam mengalami
berbagai macam hambatan dan penindasan. Dan ketika orang-orang yang terseksa
mengadu kepada Rasulullah saw atas penindasan yang mereka terima, maka
Rasulullah saw memberitahu mereka
dengan pembicaraan yang
jelas bahawa para
dai di jalan
Allah SWT harus mengorbankan kesenangan mereka,
kedamaian mereka, dan
darah mereka sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya dakwah Islam.
Kebebasan bukan
diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah kehidupan menceritakan kepada kita bahawa
ia dipenuhi dengan
gumpalan darah yang
harus dibayar oleh masyarakat untuk memerangi
musuh-musuhnya dari luar dan dari dalam. Jika ini dialami
setiap orang yang
menuntut kebebasan pada
zaman dan tempat tertentu, maka
bagaimana dengan orang-orang yang
menuntut kebebasan manusia
secara keseluruhan. Seorang Muslim hendaklah
sadar bahawa dengan
mengumumkan dakwahnya, maka ia pasti
akan menerima pengusiran, penindasan, penjara, pengepungan dan pembunuhan.
Ini adalah harga
yang pantas yang
harus dibayar ketika berdakwah di jalan Allah SWT; inilah
harga kebebasan. Bahkan terkadang kaum yang
batil pun membayamya
dengan senang hati,
maka bagaimana mungkin orang-orang yang bersama kebenaran
ragu untuk melakukannya. Pada
hakikatnya, manusia cinta
kepada keabadian. Secara
naluri manusia merasa takut
pada azab dan
kematian. Dan barangkali
yang membezakanorang-orang Islam
yang hakiki dengan
yang lainnya adalah
bahawa mereka terbebas dari rasa
ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah tolok ukur yang pasti untuk
membezakan antara seorang
Muslim yang hakiki
dan seorang Muslim yang hanya
namanya atau Muslim warisan atau hanya klaim semata. Seorang Muslim yang hakiki
menyedari bahawa ajal di tangan Allah SWT, rezeki ada juga
di tangan-Nya, begitu
juga keamanan semua
ada di tangan-Nya. Dengan keimanan
seperti ini, ia
memulai pergelutannya untuk
menyebarkan dakwah. Ia siap
untuk menerima penyeksaan
dan penderitaan di
jalan Allah SWT; ia
pun siap menitiskan
darahnya sebagai harga
yang pantas yang diserukannya dalam
rangka memperoleh kebebasan.
Ini semua dilakukannya dengan begitu
sederhana dan tidak
ada rasa takut
kerana Islam membebaskannya
dari rasa ketakutan.
Dahulu para pembangkang menggergaji orang-orang yang menyeru
di jalan Allah SWT dengan menggergaji saat mereka dalam keadaan hidup- hidup.
Khabab bin Irit
pergi menemui Rasulullah
saw dan meminta
tolong kepada beliau dari penyeksaan
orang-orang Quraisy, sambil berkata: "Tidakkah engkau menolong kami,
wahai Rasulullah? Tidakkah
engkau berdoa kepada
kami, ya Rasulullah?" Rasulullah saw
menjawab: "Sungguh sebelum
kalian terdapat orang-orang yang
berdakwah di jalan Allah SWT lalu mereka dimasukkan dalam suatu galian
tanah lalu mereka
digergaji di mana
tubuh mereka di
pisah menjadi dua, namun
mereka tetap mempertahankan agamanya.
Demi Allah, sungguh Allah
SWT akan menolong masalah ini
tetapi kalian terlalu tergesa-gesa." Dengan
kalimat-kalimat yang penuh kesabaran dan keberanian ini, Rasulullah saw ingin
memahamkan kepada orang
tersebut bahawa termasuk
dari kesempurnaan iman
adalah membayar harga
kebebasan. Jelas sekali
bahawa Islam tidak memberikan keuntungan bagi orang yang memeluknya. Orang-orang
Islam yang pertama
tidak bertanya dan
mengatakan: "Apa yang
kita peroleh dari agama
ini?" Sebaliknya, mereka
bertanya: "Apa yang
kita bayar untuk Islam?" Jawapannya
adalah: "Segala sesuatu
dimulai dari suapan-suapan roti sampai darah
yang tertumpah."
Jadi, kaum Muslim
yang pertama
telah membayar ongkos kebebasan.
Mereka merasakan kedamaian
yang luar biasa untuk mempertahankan agama Allah SWT;
mereka mendapatkan kepercayaan yang
tinggi tentang kemenangan kebenaran yang
datang kepada mereka; mereka justru memberitahu
orang-orang musyrik bahawa mereka akan dapat mengalahkan raja-raja Kisra dan
Kaisar.
Dengan dakwah yang mereka lakukan, mereka akan menjadi
pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum musyrik justrumemanfaatkan kepercayaan
ini untuk mengejek
mereka dan mentertawakan mereka. Ketika Aswad
Ibnu Matlab dan
orang-orang yang bersamanya melihat sahabat-sahabat Nabi, maka mereka
mengejek dan mengatakan: "Telah datang kepada kalian pemimpin-pemimpin
bumi yang esok akan mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar, kemudian mereka
bersiul dan bertepuk tangan." Namun kaum mukmin tidak
peduli dengan ejekan
tersebut. Demikianlah bahawa
ejekan demi ejekan terus
menyertai dakwah kaum
Muslim. Kemudian kaum
Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah untuk menyatukan pandangan
dalam rangka menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik menuduhnya bahawa beliau
adalah seorang ahli sihir, dan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahawa
beliau adalah dukun, dan pada kali yang lain lagi mereka menuduhnya bahawa
beliau adalah penyair, bahkan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahawa
beliau adalah seorang
yang gila. Kemudian
mereka semua sepakat
untuk menuduh bahawa beliau adalah seorang penyihir.
Walid bin Mughirah yang terkenal sebagai orang yang
terpandang di kalangan mereka
menuduh Rasulullah saw
sebagai penyihir yang
dapat memisahkan antara sesama
saudara dan antara
seseorang dengan isterinya.
Kemudian mereka membikin kelompok-kelompok yang
mengingatkan para pendatang
di Mekah bahawa Muhammad adalah
seorang penyihir. Meskipun
demikian, dakwah Islam tetap berlangsung. Ia tetap tersebar dengan pelan
namun pasti dan kalimat-kalimat yang diutarakan Nabi justru mengingatkan
perjanjian yang pernah
dilakukan oleh manusia,
yaitu perjanjian saat
Allah SWT menyaksikannya ketika
mereka masih di alam atom di punggung Adam: "Bukankah aku
Tuhan kalian? Mereka
menjawab: 'Benar.'" (QS.
al- A'raf: 172) Bertambahlah
jumlah kaum Muslim hingga kaum Quraisy merasakan ketakutan. Mereka mulai
melihat bahawa penggunaan
cara-cara kekerasan tidak
selalu berhasil. Kemudian mereka
memilih untuk menggunakan cara
baru, yaitu bagaimana seandainya mereka
menggunakan perdamaian dan
perundingan. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang
lelaki yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding.
'Utbah berkata kepada
Rasul saw: "Wahai
anak saudaraku, kami
mengetahuikedudukanmu
di sisi kami
dari sisi nasab.
Engkau datang kepada
kaummu dengan suatu hal yang besar di mana engkau memisahkan
kelompok-kelompok mereka. Maka dengarkanlah aku kerana aku ingin berbicara
tentang beberapa hal. Barangkali engkau
akan menerima sebahagiannya." Rasul
saw berkata: "Silakan berbicara
wahai 'Utbah." 'Utbah
berkata: "Jika engkau
menginginkan harta nescaya kami akan mengumpulkan harta bagimu, sehingga
engkau akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami, dan jika engkau
menginginkan kehormatan, maka kami akan memberi kehormatan itu bagimu dan jika
engkau menginginkan kekuasaan, maka
kami akan menyerahkan
kekuasaan padamu dan jika engkau
terkena penyakit yang engkau tidak mampu menolaknya dari dirimu, maka
kami akan mencarikan tabib
bagimu dan kami
akan mengeluarkan harta kami sehingga engkau sembuh." Demikianlah
'Utbah mengakhiri pembicarannya. Kemudian ia menunggu reaksi Nabi. Lalu
Rasulullah saw berkata: "Dengan
nama Allah yang
Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang.
Haa miim. Diturunkan dari
Tuhan Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni
bacaan dalam bahasa
Arab, untuk kaum
yang mengetahui. Yang membawa
berita gembira dan
yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka
berpaling (darinya);, maka
mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata:
'Hati kami berada
dalam tutupan (yang menutupi) apa
yang kamu seru
kami kepadanya dan
di telinga kami
ada sumbatan dan antara
kami dan kamu
ada dinding, maka
bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami
bekerja (pula).' Katakanlah:
'bahawasanya aku hanyalah seorang manusia
seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawasanya Tuhan kamu adalah
Tuhan Yang Maha
Esa, maka tetaplah
pada jalan yang
lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan
besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya) (yaitu) orang-orang yang
tidak menunaikan zakat dan
mereka kafir akan
adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang
yang beriman dan
mengerjakan amal yang
saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.' Katakanlah:'
Sesungguhnya patutkah kamu
kafir kepada yang
menciptakan bumi dalam dua
masa dan kamu
adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang
bersifat) demikian itulah Tuhan
semesta alam. Dan
dia menciptakan di
bumi itu gunung-gunung yang
kukuh di atasnya.
Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-
makanan (penghuni)nya dalam empat masa.
(Penjelasan itu sebagai
jawapan) bagi orang-orang
yang bertanya. Kemudian dia
menuju kepada penciptaan langit
dan langit itu
masihmerupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:
'Datanglah kamu keduanya menurut
perintah-Ku dengan suka
hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab: 'Kami
datang dengan suka
hati.' Maha Dia menjadikannya tujuh
langit dalam dua
masa dan Dia
mewahyukan pada tiap-tiap langit
urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang- bintang yang
cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik- baiknya. Demikianlah ketentuan Yang
Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, maka
katakanlah: 'Aku telah
memperingatkan kamu dengan
petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud." (QS.
Fushilat: 1-13) Rasulullah saw telah menjawab tawaran 'Utbah di mana beliau
memilih untuk menghadapi tawaran dan
iming-iming tersebut dengan
membaca sebahagian dari surah
Fhusilat yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah
SWT melalui malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari tempatnya ketika Rasulullah
saw sampai pada firman-Nya: "Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku
telah memperingatkan kamu dengan
petir, seperti petir
yang menimpa kaum
"Ad dan kaum
Tsamud. " (QS. Fushilat:
13) 'Utbah berdiri dalam
keadaan takut dan
segera menuju kaum
Quraisy.
Hijrahnya umat Muslim dari kota Mekkah
Bayang-bayang
azab dunia terngiang
di telinganya. Dan
ketika ia sampai
ke orang Quraisy, ia mengusulkan agar orang-orang Quraisy membiarkan apa
saja yang dilakukan Muhammad. Gagallah perundingan dengan seorang Muslim yang
pertama, yaitu Rasulullah saw. Gagalnya perundingan tersebut sebagai bentuk
pemberitahuan tentang kembalinya tindak kekerasan dan penyeksaan terhadap
sahabat-sahabat Rasul saw.
Kemudian kaum musyrik
semakin meningkatkan penindasan terhadap
kaum Muslim. Rasulullah
saw sangat menderita
melihat hal yang dirasakan para sahabatnya. Ketika kaum Muslim membayar
harga yang paling mahal sebagai konsekuensi dari
akidah yang mereka
anut dan mereka dengan sabar
memikul penderitaan di
jalan Allah SWT,
maka Rasulullah saw mengisyaratkan mereka untuk
berhijrah. Beliau memberikan izin
untuk berhijrah bagi orang yang ingin hijrah.
Kemudian
Dimulailah gelombang hijrah.
Itu terjadi pada
lima tahun dari turunnya wahyu setelah dua tahun
diumumkannya dakwah. Maka berhijrahlah ke
Habasyah enam belas
orang Muslim. Mereka
keluar secara rahsia
dan mereka menuju ke laut. Mereka berlayar meskipun orang- orang yang
tinggal digurun sebenarnya tidak
ingin berlayar kerana
mereka takut dari
laut dan mereka yakin bahawa
manusia yang berlayar di laut akan menjadi ulat di atas kayu-kayu yang
berenang. Selanjutnya, gelombang hijrah
yang kedua pun
dimulai. Kali ini
diikuti oleh delapan puluh
tiga orang laki-laki
dan sembilan belas
perempuan. Kemudian
orang-orang Quraisy berusaha
untuk mengirim beberapa orang
dan tetap berusaha menyeksa dan
menyakiti orang-orang yang
berhijrah. Mereka mengutus ke
Najasyi, Raja Habasyah, orang-orang yang
dapat mempengaruhinya
untuk menentang orang-orang yang
berhijrah.
Mereka menuduh kaum
Muslim meninggalkan agama nenek moyang mereka di Mekah dan mereka
juga tidak menganut
agama Najasyi, yaitu
agama Kristen. Kemudian orang-orang Quraisy
tidak lupa mengirim
hadiah kepada Najasyi sebagai bentuk
suapan kepadanya. Tampaknya
Najasyi seorang yang
berakal lalu ia mengutus
seseorang kepada kaum
muhajirin dan bertanya
kepada mereka tentang agama
baru yang mereka
anut. Kemudian kaum
muhajirin menceritakan kepadanya tentang Islam. Najasyi bertanya
tentang Isa lalu
mereka menjawab: "Ia
adalah hamba Allah SWT
dan rasul-Nya dan
roh-Nya serta kalimat-Nya yang
diletakkan kepada
Maryam, wanita yang
perawan yang suci."
Kemudian Najasyi mengambil
satu kayu kecil dari
bumi dan mengatakan:
"Penjelasan tentang Isa
yang kalian katakan tidak lebih
dari kayu kecil ini. Pergilah kalian dan kalian akan aman." Najasyi mengembalikan hadiah
kaum Quraisy dan
mengatakan: "Allah tidak mengambil suap dariku sehingga aku
tidak mungkin mengambilnya dari kalian." Demikianlah kaum
muhajirin tinggal di
negeri yang damai,
yaitu Habasyah negeri yang
dipimpin oleh seorang laki-laki yang diberi kematangan berfikir di mana ia
cenderung mengimani karakter al-Masih sebagai seorang manusia. Dan salah satu
keajaiban kekuasaan Ilahi
adalah bahawa masyarakat
Islam yang berhijrah tersebut tidak
mengalami kelemahan dalam
akidahnya, namun mereka justru
merasakan kekuatan.
Kisah Mualaf dua ksatria Islam Hamzah dan Umar bin Khatab
Allah SWT memperkuat dakwah Islam dengan masuknya dua lelaki
besar dalam Islam, yaitu Hamzah,
paman Nabi dan
Umar bin Khatab.
Kedua orang itu mempunyai keperibadian yang tangguh di
Mekah di mana masing-masing dari mereka
terkenal di tengah-tengah kaumnya.
Allah SWT berkehendak
untuk memberi Islam dua
orang lelaki yang
tangguh di Mekah
dan Allah SWT
telah meletakkan rahmat yang
terpancar dalam hati mereka.
Hamzah masuk Islamkerana
dorongan emosi, fanatisme,
dan rahmat terhadap
orang-orang yang tidak
memberikan pembelaan kepada Muhammad saw. Salah seorang perempuan berkata
kepada Hamzah: "Seandainya engkau melihat apa yang diperoleh oleh anak
dari saudaramu, Muhammad dari Abil Hakam bin Hisyam (Abu
Jahal). Sungguh Abu Jahal
telah mencelanya dan
menyakitinya, sedangkan
Muhammad hanya terdiam
dan tidak mengatakan apa-apa." Mendengar pengaduan itu,
darah mendidih berkobar dalam urat-urat Hamzah. Dengan kemarahan yang
sangat, Hamzah mencari-cari Abu
Jahal lalu ia melihatnya sedang duduk-duduk di
tengah-tengah kaumnya. Hamzah mengangkat tangannya lalu
memukulkannya ke kepala
Abu Jahal sambil berteriak: "Apakah engkau akan
mengejek Muhammad, padahal aku berada di atas agamanya.
" Demikianlah permulaan keislaman Hamzah. Hamzah adalah
seorang yang mulia di mana perasaannya berkobar ketika ia melihat anak
saudaranya diseksa dan dianiayai
dan dia tidak
mendapati seorang pun
yang membelanya. Beginilah sebab-sebab pertama dari keislaman
Hamzah, namun sebab yang paling dalam dan
yang paling menentukan adalah
rahmat Allah SWT
yang telah dianugerahkan kepadanya, meskipun Hamzah
tidak mengetahuinya, yaitu rahmat yang mendorongnya untuk
tidak membiarkan seseorang pun menyakiti lelaki yang berdakwah di jalan Allah
SWT hanya kerana ia seorang yang lemah dan tidak mempunyai penolong. Jadi,
Hamzah adalah penolongnya. Sedangkan Umar bin Khatab terkenal dengan
ketangguhan sikap dan kekerasan perilaku.
Seringkali kaum Muslim
mendapat seksaan darinya
ketika ia masih menganut jahiliah. Dan
salah seorang yang
mendapatkan seksaan darinya adalah Amir
bin Rabi'ah dan
isterinya. Amir berserta
isterinya menetapkan untuk
berhijrah ke Habasyah. Umar bin Khatab menemuinya lalu ia mendapati isteri Amir
dan tidak menemukan suaminya.
Umar melihat wanita
itu sedang bersiap-siap untuk berhijrah lalu Umar berkata (saat itu sumber
rahmat telah memancar pada dirinya):
"Apakah engkau akan
pergi wahai Ummu
Abdillah?" Dengan nada jengkel, wanita itu berkata: "Benar,
demi Allah kami akan keluar dan menuju tanah Allah SWT. Engkau telah menyeksa
kami dan telah memaksa kami untuk berhijrah. Kami akan pergi sehingga Allah SWT
akan memberikan kelapangan kepada kami." Umar
berkata: "Mudah-mudahan Allah
SWT menemanimu." Wanita itu melihat tanda-tanda kelembutan dan
kesedihan pada wajah Umar. Dan ketika suaminya
kembali, ia menceritakan kepadanya
bahawa ia sangatberharap kepada keislaman Umar. Lalu
suaminya menjawab: "Ia tidak mungkin masuk Islam sampai keldai Umar masuk
Islam." Ia mengatakan demikian kerana ia
melihat betapa bengisnya
dan kejamnya Umar.
Namun perasaan lembut wanita itu lebih kuat daripada
pandangan fikiran lelaki itu dan keputusannya yang terlalu cepat kepada Umar.
Belum lama mereka
berhijrah sehingga Umar
masuk Islam. Orang-orang muhajirin mengeluarkan penutup
sumur rahmat dalam dirinya. Dan barangkali Umar merasa
kebingungan lalu ia
menetapkan untuk membunuh
Rasul saw. Dengan menghunuskan pedangnya,
ia pergi menuju
Rasul saw.
Kemudian ia bertemu
dengan orang-orang yang memergokinya dalam keadaan kebingungan, lalu mereka
bertanya kepadanya, hendak
ke mana ia
akan pergi? Umar menjawab: "Aku hendak
ke Muhammad aku
akan membunuhnya sehingga orang-orang Arab
merasa tenteram." Dengan
nada mengejek, seseorang berkata: "Tidakkah engkau
memulai dari keluargamu sebelum
engkau membunuh
Muhammad." Dengan nada
jengkel, Umar berkata:
"Apa yang terjadi pada
keluargaku?" Lelaki itu
menjawab: "Saudara perempuanmu
dan suaminya telah masuk
Islam, sedangkan engkau
tidak mengetahuinya." Umar segera mencari
saudara perempuannya dan
suaminya di mana
saat itu keduanya sedang membaca
Al-Qur'an. Ketika melihat Umar,
mereka menyembunyikan Al-Qur'an. Umar
bertanya: "Sepertinya
aku mendengar suara
bisikan dari luar."
Tetapi saudara perempuannya mengatakan: "Tidak." Kemudian
suaminya ikut campur
dan Umar pun tampak
marah kepadanya. Wanita
itu bangkit untuk
membela suaminya lalu Umar
memukulnya sehingga darah
segar mengucur darinya. Darah itu justru membangkitkan
sumber rahmat dari diri Umar. Akhirnya, Umar mengambil air
wuduk agar mereka
mengizinkan untuk membaca
Al-Qur'an. Umar pun membacanya. Belum
lama Umar membacanya
sehingga ia pergi menemui Rasul saw. Tanpa ragu, Umar
memilih untuk masuk Islam. Dan pedang yang dibawanya itu menjadi pedang yang
paling kuat yang dengannya ia mempertahankan agama Muhammad saw.
Kemudian ia mengetuk
pintu untuk menemui
Rasul saw di mana saat itu beliau bersama sahabatnya.
Dari celah-celah pintu, sahabat Nabi melihat Umar bin Khatab sedang
menghunuskan pedang. Kemudian sahabat itu kembali kepada Nabi dengan membawa
berita yang sangat mengejutkan ini. Ia menduga bahawa Umar datang dengan maksud
jahat. Rasulullah saw bangkit dan memerintahkan para sahabatnya agar
membiarkanUmar. Rasulullah saw
membukakan pintu Kemudian
ia menyambut Umar bin Khatab
dan bertanya kepadanya
apa yang diinginkannya. Umar
menjawab bahawa ia datang untuk mengucapkan dan bersaksi bahawa tiada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Orang-orang Quraisy
mulai merasa bahaya
akan mereka temui
setelah keislaman Umar dan
Hamzah. Para tokoh-tokoh
Mekah dan orang-orang
yang dihormati telah masuk
Islam. Sebelum Umar
masuk Islam, kaum
Muslim bertawaf di Ka'bah secara rahsia dan dengan malu-malu, namun
ketika Umar masuk Islam ia
menampakkan keislamannya dan
ia menantang orang
yang mencegahnya untuk bertawaf,
bahkan banyak orang-orang
memberikan jalan padanya saat
tawaf. Mekah mengetahui bahawa ia menghadapi suatu dakwah yang akan dapat
mengubah jazirah Arab.
Penentangan Bani Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad
Saw
Rasa
ketakutan mulai menghantui para
pemuka Quraisy dan
mereka menetapkan
metode baru untuk
menghadapi kaum Muslim.
Mereka yang sebelumnya menggunakan metode
penghinaan dan pengejekan kini
mulai mencuba untuk memblokade kaum Muslim secara ekonomi dan
kemanusiaan. Kaum musyrik mengadakan perkumpulan dan
pertemuan untuk memboikot kaum Muslim.
Mereka mengadakan pertemuan itu
di Ka'bah, sebagai penghormatan kepadanya.
Orang-orang musyrik
menghormati Ka'bah meskipun mereka
memenuhinya dengan berbagai
macam patung yang
mereka sembah dalam rangka
mendekatkan mereka kepada
Allah. Pasal kesepakatan itu menetapkan, hendaklah penduduk Mekah
tidak menjual barang apapun kepada kaum
Muslim dan hendaklah
mereka tidak menikah
dengan kaum Muslim. Dengan ketetapan
yang kejam tersebut,
mereka ingin menghancurkan kaum Muslim dan membunuh perekonomian
mereka. Rasulullah saw dan orang-orang yang
beriman kepadanya terpaksa
berlindung di dusun
Bani Hasyim. Mereka dilindungi oleh
keturunan Bani Muthalib,
baik mereka orang-orang kafir mahupun orang-orang beriman kecuali
musuh Allah SWT, Abu Jahal di mana ia bersama orang-orang Quraisy menentang
kaumnya.
Kemudian Dimulailah
blokade ekonomi terhadap
kaum Muslim di
mana tidak ada makanan dan
minuman yang datang kepada mereka, sehingga penderitaan yang sulit kini dialami
oleh sahabat-sahabat Nabi. Ketika kafilah perdagangan datang ke
Mekah dan salah
seorang dari sahabat
Nabi menemui mereka
di pasar untuk membeli makanan untuk keluarganya, maka Abu Lahab berdiri
dan berkata kepada para
penjual, wahai para
pedagang, mahalkanlah dagangan kalian terhadap sahabat- sahabat
Muhammad, sehingga mereka tidak mampumembelinya dan aku menjamin kerugian yang
kalian alami, bahkan aku akan membeli apa saja yang ingin mereka beli dari
kalian. Mendengar hal tersebut,
para pedagang pun
menjual barang dagangannya dengan harga
yang tidak wajar,
sehingga seorang Muslim
kembali ke rumah keluarganya tanpa
membawa sedikit pun
makanan. Kemudian pedagang
itu pergi ke Abu Lahab dan meminta kepadanya agar membeli barang yang
ingin dibeli orang Muslim. Demikianlah peperangan tersebut terus terjadi
sehingga kaum Muslim merasakan penderitaan yang sangat luar biasa di mana
mereka dalam keadaan kelaparan
dan kekurangan pakaian
yang layak. Peperangan ekonomi ini
terjadi selama tiga
tahun penuh. Saking
menderitanya para
sahabat sampai-sampai Sa'ad
bin Abi Waqas
pernah keluar pada
suatu hari untuk memenuhi
hajatnya, lalu ia mendengar suara gemerencing di bawah air kencing.
Tiba-tiba ia menemukan sepotong kulit
unta yang kering
lalu ia mengambilnya dan
membasuhnya. Kemudian ia membakarnya dan mencucinya dengan air sampai bersih
lalu ia menjadikannya makanan selama tiga hari. Selama tiga
tahun tersebut wahyu
tetap turun kepada
Rasul saw dan seakan-akan ia melupakan bencana yang
keras ini. Allah SWT ingin mendidik para pengikut agama-Nya agar mereka mampu
memikul segala penderitaan. Meskipun
kaum Muslim mendapatkan berbagai
ujian selama tiga
tahun tersebut, tetapi aktiviti
dakwah Islam tidak
pernah padam dan
tidak pernah surut. Kaum Muslim
bertemu orang-orang selain mereka pada musim haji lalu mereka berbicara kepada
orang-orang tersebut tentang keberadaan Allah SWT dan mereka meminta kepada
para penghujung itu untuk mencari rahmat Allah SWT dan ampunan-Nya. Keteguhan
kaum Muslim dan keberanian mereka telah memikat banyak
orang sehingga mereka
masuk Islam. Bahkan
orang-orang musyrik mulai
bertanya kepada diri
mereka dan mempertanyakan kebenaran apa tindakan mereka. Lalu
kecemburuan kepada kebenaran mulai menyerang hati. Kemudian Selesailah
peperangan ekonomi terhadap kaum Muslim di mana kaum musyrik melihat itu tidak
berdampak terlalu besar bagi kaum Muslim. Meskipun kaum Muslim menerima
penderitaan dan kerugian namun jumlah mereka tetap bertambah dan
keimanan mereka semakin
kuat serta kepercayaan kepada Allah SWT
pun semakin meningkat.
Tahun Kesedihan Rasulullah Saw
Lalu datanglah
tahun kesedihan kepada Nabi. Belum
lama Rasulullah saw
merasakan dan menghirup
udara segar setelah tiga tahun
masa blokade dan beliau ingin memulai kehidupan barunya dan dakwahnya, sehingga
beliau dikejutkan dengan kematian isteri tercintanyaUmmul Mukminin
Khadijah dan kematian
bapa saudaranya yang
tercinta Abu Thalib. Abu Thalib
adalah seorang yang
besar yang memiliki
kewibawaan di
tengah-tengah kaum Quraisy,
sehingga usaha kaum
Quraisy untuk menyakiti Nabi menjadi terbatas ketika
mereka berhadapan dengan "tembok perlindungan" Abu
Thalib kepada kemenakannya. Sedangkan Khadijah merupakan tempat perlindungan
dan kedamaian bagi Nabi. Ia adalah hati yang sangat penyayang yang
banyak menghibur Nabi
saat beliau berdakwah. Khadijah adalah
sebaik-baik teman dan
sebaik-baik isteri. Begitu
juga, bagi Khadijah Rasulullah saw
adalah sebaik-baik teman,
sebaik-baik suami, sebaik-baik
pembantu, dan sebaik-baik sahabat. Rasulullah saw
sangat sedih ketika
kehilangan dua orang
yang sangat berpengaruh dalam
kehidupannya itu, bahkan
para sejarawan menamakan tahun tersebut
dengan tahun kesedihan. Sebaliknya, orang-
orang musyrik justru bergembira dengan
kesedihan Rasul saw
itu. Mereka menganggap bahawa Rasul saw tidak lagi
memiliki seorang tua yang mampu melindunginya dan tidak
lagi memiliki seorang
isteri yang dapat
meringankan beban
penderitaannya.
Setelah kematian
dua orang tersebut,
penindasan dan penganiayaan kaum Quraisy kepada
Nabi semakin meningkat dan
orang-orang musyrik memilih waktu yang
tepat untuk menyembelih binatang di
Mekah lalu mereka membawa usus-usus
atau jeroan
dari unta dan
mereka melemparkannya dan meletakkannya di
atas punggung Nabi
saat beliau sujud.
Kemudian berita memilukan itu
sampai kepada puteri tercintanya, Fatimah az-Zahrah, sehingga ia segera datang
dan berusaha membela ayahnya dan membersihkan kotoran yang ada di pundak
ayahnya itu. Demikianlah kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra yang senantiasa
melindungi ayahnya. Betapa sedihnya Nabi saw ketika beliau melihat bahawa
keadaan beliau sampai pada batas di mana anak
perempuan beliau pun
turut membelanya. Namun beliau tetap
bersabar dalam berdakwah
di jalan Allah
SWT.
Dakwah Nabi Muhammad Saw di kota Thaif
Pada suatu
hari beliau berfikir untuk pergi ke Tha'if di mana di sana dihuni oleh
kaum Tha'if. Barangkali beliau berkata dalam dirinya: jika di sini aku
mendapati hati-hati yang telah membeku
dan telah berhubungan mesra
dengan kebatilan lalu mengapa aku
tidak pergi ke
Tsaqif. Barangkali Allah
SWT akan membukakan pintu dakwah di sana. Mungkin di
sana masih terdapat hati yang akan terbuka guna menerima kebenaran.
Saat itu kaum
musyrik memperlakukan blokade umum
atas dakwah yang dipimpin oleh Rasulullah
saw sehingga tekanan
kepada beliau semakin meningkat sampai
pada batas di
mana pergerakan dakwah
tidak dapat bergerak satu
langkah pun. Keadaan demikian ini sangat menggelisahkan Nabi. Beliau ingin
untuk melepaskan belenggu yang
mengikatnya. Lalu beliau memutuskan untuk
pergi ke Tha'if.
Jarak antara Mekah
dan Tha'if lebih
dari tujuh puluh kilo
meter. Nabi menempuh
perjalanan itu dengan
jalan kaki, pergi dan pulang.
Kita tidak mengetahui
pemikiran-pemikiran apa yang
terlintas dalam benak Rasulullah saw saat beliau pergi dan
menemui kabilah yang kafir kepada Allah SWT
ini. Yang kita
ketahui adalah bahawa
beliau pergi ke
sana dengan membawa rahmat
dunia dan akhirat.
Tetapi mereka justru
membalas sikap baik Rasulullah saw
itu dengan tindakan
Jahiliah. Mereka bersikap
buruk kepada beliau dan mendustakannya. Rasulullah
saw tinggal di
sana selama sepuluh hari. Beliau
mundar-mandir dari satu
rumah ke rumah
yang lain dan
dari pasar ke
pasar yang lain dan
dari satu jalan
ke jalan yang
lain.
Tak seorang
pun yang mendengar kedatangan
beliau di sana; tak seorang pun yang mahu mendengar dakwah beliau
dan tak seorang
pun yang mahu
beriman kepada ajakannya. Bahkan masyarakat di situ semakin
menjadi-jadi dalam menyerang Rasulullah saw dan mengejeknya. Pada hari yang
terakhir yang mana beliau telah menetapkan untuk kembali ke Mekah. Rasulullah
saw berdiri di Tha'if dan mengharap kepada masyarakat di sana agar merahsiakan
kunjungannya kepada mereka sehingga pencelaan yang beliau terima
di Mekah terhadap agama
yang dibawanya tidak
semakin menjadi-jadi. Tetapi penduduk Tha'if menolak permohonan yang
terakhir ini. Mereka tidak cukup
melakukan hal itu
tetapi mereka melakukan
perbuatan terburuk yang dilakukan manusia terhadap sesama manusia.
Mereka menahan keluarga orang-orang yang bodoh dan orang-orang biasa untuk
membentuk dua barisan dan memerintahkan mereka
untuk melempari Rasulullah
saw dengan batu dan
mengejeknya. Nabi keluar
dari Tha'if dan
beliau mendapatkan lemparan
bertubi-tubi dari keluarga Tha'if bahkan beliau merasakan kepedihan saat
kakinya terkena lemparan batu itu sehingga darah suci mengucur dari kaki
beliau. Kemudian Rasulullah saw
diusir sehingga beliau
sampai di suatu
kebun yang dimiliki oleh dua
orang dari orang-orang kaya Tha'if.
Di sana beliau duduk
dibawah naungan pohon
anggur. Dua orang
pemilik kebun itu
merasa kasihan melihat keadaan orang
yang terusir dan
terluka itu. Mereka
membawa kepadanya
setangkai anggur dengan
seorang pembantu. Pembantu mereka adalah seorang Nasrani yang
bernama Adas. Si pembantu meletakkan setangkai anggur itu
depan Rasul saw
lalu beliau menghulurkan tangannya
kepadanya sambil berkata: "Bismillahirahmanirrahim (Dengan nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Adas
berkata kepada Nabi, perkataan ini tidak begitu dikenal oleh penduduk negeri
ini. Nabi berkata: "Anda dari daerah
mana?" Adas menjawab:
"Aku adalah seorang
Nasrani dari Nainawa." Nabi
berkata: "Apakah engkau dari desa lelaki soleh Yunus bin Mata?"
"Bagaimana engkau tahu tentang Yunus?, sambung lelaki itu. Nabi berkata:
"Itu adalah saudaraku. Ia adalah seorang Nabi aku pun seorang Nabi."
Mendengar jawapan Rasul
saw, Adas segera
merobohkan tubuhnya di
depan kedua kaki Rasul
saw lalu ia
menciuminya sambil menangis.
Akhirnya,
pembantu Nasrani itu
masuk Islam sehingga
ia menambah barisan kaum Muslim. Ia adalah seorang yang menjadi
Muslim ketika Rasulullah saw berhijrah ke Tha'if. Inilah harga yang harus
dibayar Rasulullah saw selama
dua minggu saat beliau
berada di Tha'if,
dan kemudian beliau
terkena cubaan dengan mengucurnya darah dari kaki beliau
akibat lemparan batu penghuni Tha'if. Kemudian
Rasulullah saw kembali
ke Mekah beliau
kembali dalam keadaan ditolak oleh penduduk Tha'if dan
kini beliau kembali menerima penolakan itu di
Mekah. Meskipun demikian,
beliau merasakan kesedihan
yang mendalam melihat sikap
kaumnya. Namun ketika
kebencian semakin deras
mengalir kepada beliau, hati beliau justru semakin bersemangat dan
semakin dipenuhi dengan rahmat
Kisah Isra' Miraj
kemudian datanglah
kepada Nabi masa
di mana tampak
di dalamnya Islam asing,
dan tampak di
dalamnya Nabi seorang
diri, tanpa penolong. Pada saat
demikian ini ketika manusia mulai meninggalkan Rasulullah saw lalu langit turut
campur dan terjadilah peristiwa besar dan mukjizat terbesar pada diri Nabi,
yaitu Isra' dan
Mi'raj. Ia adalah
mukjizat yang tidak
berhubungan dengan dakwah Islam;
ia tidak datang
untuk memperkuat dakwah
ini atau menetapkannya tetapi ia
datang semata- mata untuk memperkuat keteguhan Nabi dan
sebagai penghormatan kepadanya. Seakan-akan Allah
SWT ingin berkata kepada
Nabi, jika saja
penduduk bumi tidak
memujimu, maka penduduk langit
mengenal kedudukanmu dan
memberikan pujian yang
layak kepadamu dan jika manusia menolak dakwahmu dan menolak
keberadaanmu,
maka sesungguhnya Allah SWT memilihmu dan memuliakanmu.
Untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, munculnya mukjizat Isra' dan Mi'raj
dalam sejarah para
nabi sebagai mukjizat satu-satunya yang
tiada tandingannya
dibandingkan dengan kisah
nabi yang lain.
Kita mengetahui bahawa di
deretan para nabi
ada nabi-nabi yang
dinamakan oleh Allah
SWT sebagai para kekasih-Nya dan
sebagai para pendamping-Nya, seperti Nabi Ibrahim. Kita
juga melihat bahawa
di antara para
nabi ada seseorang
yang diajak bicara oleh
Allah SWT tanpa
perantara, seperti Nabi
Musa. Kita juga melihat di antara para nabi ada yang
didukung oleh Allah SWT dengan Ruhul kudus, seperti Nabi Isa. Tetapi untuk
pertama kalinya kita berada di hadapan seorang nabi
yang diajak dan
dipanggil oleh Allah
SWT untuk menuju
ke sisi-Nya. Beliau naik bersama
Jibril dengan jasadnya
dan rohaninya sehingga
Jibril berdiri di suatu
tempat dan Nabi
maju sendirian.
Itu adalah
tingkat dari tingkat kehormatan
di mana pena terasa keluh untuk mengungkapkannya dan sejarawan tidak
dapat menulis apa
yang terjadi saat
itu. Kita telah
melihat dalam kisah para
nabi seorang nabi
yang meminta kepada
Tuhannya agar
memperlihatkan kepadanya bagaimana
Dia menghidupkan orang-orang
yang mati. Allah SWT bertanya kepadanya, apakah ia belum beriman akan
hal itu? Ibrahim menjawab: bahawa ia beriman tetapi ia ingin menenangkan
hatinya. Kita juga melihat
dalam kisah para
nabi seorang nabi
yang cintanya kepada Allah SWT
memancar dalam kalbunya
sehingga ia meminta:
"Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri
Engkau) kepadaku agar
aku dapat melihat
kepada Engkau". (QS. al-A'raf: 143) Namun Allah SWT menjawab kepada
Musa tentang kemustahilan melihat Allah SWT atas manusia. Nabi Musa memahami
bahawa makhluk manapun tidak akan mampu menahan beban penampakan dari Zat sang
Pencipta. Adapun Muhammad bin
Abdillah ia tidak
bertanya kepada Tuhannya dan meminta kepadanya
untuk diberi mukjizat
atau kejadian yang
luar biasa; ia tidak
meminta kepada Tuhannya
agar dapat melihat
Zat-Nya dan ia
tidak berusaha mencari ketenangan dalam
hatinya. Cintanya kepada
Allah SWT termasuk bentuk cinta
yang sulit untuk difahami atau diselami kedalamannya oleh para tokoh pencinta
dan cintanya tersebut bukan termasuk bentuk yangmenimbulkan berbagai pertanyaan. Cinta
beliau melampaui tingkat permintaan menuju
ke tingkat penyerahan
dan kepuasan atau
ridha. Segala sesuatu yang
menggelisahkan Nabi adalah ridha Allah SWT. Rasulullah saw
berkata saat beliau
dalam keadaan ditolak
dan diusir dan terluka
akibat perbuatan kaum
Tha'if: "Jika Engkau
tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli dengan
mereka." Lihatlah tingkat cinta
yang tinggi itu:
bagaimana tingkat tersebut menyebabkan beliau merasa rendah
diri sehingga beliau berkata, "jika Engkau tidak murka kepadaku ..."
Seakan-akan beliau tidak menginginkan selain ridha Allah SWT dan yang beliau
khuatirkan adalah kemarahan Allah SWT. Sungguh
adab yang diterapkan
Rasulullah saw kepada
Tuhannya adalah adab yang
paling layak dan
paling tinggi yang
sesuai dengan kedudukan beliau sebagai orang Muslim yang paling
sempurna. Demikianlah mukjizat Isra'
dan Mi'raj. Mukjizat
yang tujuannya adalah menghormati keperibadian Rasulullah saw;
mukjizat yang membangkitkan peranan akal
dan hati secara
bersama. Para nabi
tanpa terkecuali didukung oleh berbagai
macam mukjizat yang
terjadi di muka
bumi bahkan para
nabi yang diangkat ke
langit seperti Nabi
Idris dan Nabi
Isa, maka pengangkatan mereka sebagai bentuk
menyelamatkan mereka dari usaha pembunuhan atau penyaliban. Mukjizat
mereka saat mereka
diangkat ke langit
adalah bentuk akhir dari
aktiviti mereka di muka bumi. Ini
adalah kali pertama
ketika kita mendapati
suatu mukjizat yang
tempat utamanya di langit; suatu mukjizat yang terwujud bersama seorang
Nabi yang diangkat ke langit dengan jasadnya dan rohaninya saat beliau masih
hidup. Di sana Allah SWT
memperlihatkan
kepadanya tanda- tanda
kekuasaan-Nya. Kemudian beliau kembali ke bumi di mana beliau akan
mendapatkan berbagai macam
tantangan dan cubaan
yang biasa diterima
oleh penduduk bumi. Muhammad bin Abdillah adalah
manusia yang pertama melewati planet bumi dan beliau
menembus bulan dan
matahari dan bintang-bintang.
Kita menyaksikan
di zaman kita
manusia pertama atau
astronaut pertama yang mampu
menembus ruang angkasa.
Ruang angkasa itu
baru dapat ditembusi oleh manusia setelah empat belas
abad dari turunnya risalah Muhammad saw, namun
sejak empat belas
abad yang lalu
Nabi Islam telah
dapat menembus ruang angkasa
itu, bahkan beliau
mencapai Sidratul Muntaha
dan puncakal-Muntaha.
Beliau sampai pada
batas yang di
situlah alam makhluk
diakhiri dan beliau menembus alam
ghaib. Bukankah syurga
bahagian dari alam
ghaib? Beliau sampai di syurga.
Allah SWT menamakannya
dengan Jannatul Ma'wah. Beliau sampai pada
batas terputusnya ilmu
manusia dan tiada
yang mengetahui hakikat ilmu
tersebut kecuali Allah
SWT.
Mukjizat Isra'
bukanlah mukjizat Mi'raj, meskipun
kedua-duanya terjadi di satu malam. Peristiwa Isra' dan Mi'raj dikutip oleh
dua surah yang
berbeza dalam Al-
Qur'an al-Karim. Allah
SWT berfirman tentang mukjizat Isra': "Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
yang telah Kami berkali sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya
sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah
Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui." (QS.
al-Isra': 1) Sedangkan berkaitan dengan mukjizat Mi'raj, Allah SWT berfirman:
"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang
asli) pada waktu
yang lain, (yaitu)
di Sidratul Muntaha.
Di dekatnya ada syurga tempat tinggal. (Muhammad melihat
Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi
oleh sesuatu yang
meliputinya. Penglihatannya (Muhammad)
tidak berpaling dari yang
dilihatnya itu dan
tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia
telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling
besar." (QS. an-Najm: 13-18) Pada malam Isra' dan Mi'raj, Nabi Muhammad
berkeliling di sekitar Ka'bah dan berdoa kepada Allah SWT. Beliau dalam keadaan
pucat wajahnya dan kedua air matanya
mengucur; beliau tidak
bertawaf bersama seseorang pun;
beliau tawaf sendirian lalu
orang-orang kafir dan
orang-orang musyrik memandang beliau dengan
pandangan kebencian saat
beliau bertawaf dan
berdoa. Allah SWT melihat
hamba-Nya yang khusyuk
itu lalu Allah
SWT menurunkan
perintah-Nya kepada Ruhul
Amin yaitu malaikat
Jibril agar menemani hamba-Nya dari Masjidil Haram menuju
Masjidil Aqsha Kemudian membawanya naik ke langit agar dia dapat melihat
tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Di suatu
rumah yang mulia
dan sederhana dari
rumah-rumah yang ada
diMekah, Nabi saw sedang tidur dan datanglah waktu pertengahan malam.
Jibril turun dan memasuki rumah sang Rasul saw. Jibril as berdiri di sisi
kepala sang Nabi dan ia melihat kepadanya dengan pandangan cinta. Pandangan
Jibril itu membangunkan Rasul saw
kemudian beliau membuka
kedua matanya dan bangkit dari tempat tidurnya. Jibril
berkata kepada Nabi saw, salam kepadamu wahai Nabi yang mulia. Allah SWT ingin
agar engkau melihat
sebahagian tanda-tanda kebesaran-
Nya di alam. Kemudian Jibril
berjalan bersama Nabi saw. Mereka keluar dari rumah dan beliau
menyaksikan Buraq yaitu
makhluk yang menyerupai
burung dan mempunyai sayap
seperti burung garuda;
makhluk yang terbuat
dari kilat. kerana itu, ia
dinamakan dengan Buraq. Kilat adalah listrik dan listrik adalah cahaya. Cahaya
adalah makhluk yang tercepat yang kita kenal di bumi. Kilauan cahaya pada satu
detik saja mencapai 186
ribu mil. Kita
tidak akan terlibat
terlalu jauh tentang kenderaan luar angkasa yang
digunakan dalam perjalanan itu; kita tidak akan bertanya bagaimana Nabi
saw menembus alam
ruang angkasa tanpa
ada latihan sebelumnya dan berapa lama waktu yang beliau gunakan untuk
pulang pergi; kami juga
tidak akan bertanya
tentang kecepatan Buraq;
kami tidak hairan dengan
usaha penembusan luar
angkasa ini; kita
tidak akan bertanya tentang semua itu kerana kita
mempunyai satu jawapan dari semuanya: Allah SWT berkehendak agar hal itu terjadi
dan untuk itu Allah SWT mengatakan kun jadilah, maka jadilah. Para ulama
berselisih pendapat tentang apakah Isra' dan Mi'raj terjadi dengan roh saja
atau dengan rohani
dan jasad sekaligus.
Ahli hakikat mengatakan bahawa itu terjadi dengan roh dan
jasad. Tentu perselisihan itu berakibat pada perselisihan akal
dan terjerumus dalam
perangkap kaifa (bagaimana) dan bertanya tentang kekuasaan Allah SWT
dan usaha untuk menundukkan masalah ini terhadap sebab-sebab yang biasa atau
hukum-hukum kita yang alami atau logik
kemanusiaan. Allah Maha
Suci dan Maha
Tinggi dari semua
itu. Apakah seseorang akan
bertanya, bagaimana Rasulullah
saw naik berserta
roh dan fiziknya ke puncak segala
puncak di langit kemudian beliau kembali sebelum tempat tidurnya
dingin? Mukjizat apa
yang terjadi di
sini yang melebihi mukjizat berubahnya air mani
menjadi manusia dan berubahnya benih menjadi pohon atau mukjizat air yang menghidupkan
tanah, atau ia mampu memuaskan kehausan
si dahaga atau
mukjizat cinta yang
mengikat dua hati
yang belum pernah mengenal?
Sementara itu, Buraq menundukkan badannya kepada Nabi saw kemudian Nabisaw
menungganginya bersama Jibril dan Buraq pergi bagaikan anak panah dari
cahaya di atas
gunung Mekah dan
pasir-pasir menuju ke
utara. Jibril mengisyaratkan
agar menuju arah gunung Saina' lalu Buraq itu berhenti. Jibril berkata di
tempat yang diberkati
ini, Allah SWT
berdialog dengan Musa
as. Kemudian Buraq kembali pergi ke Baitul Maqdis, Nabi saw turun dari
pesawat ini yang berjalan lebih cepat dari cahaya dan jutaan kali lebih cepat
darinya dan ia tidak berubah dari cahaya. Nabi
berjalan bersama Jibril
dan memasuki Baitul
Maqdis. Beliau memasuki masjid dan beliau mendapati semua
nabi sedang menunggunya di sana. Allah SWT membangkitkan gambar para nabi-Nya
dari kematian dan mengumpulkan mereka
di Masjid Aqsha.
Para malaikat
memberinya suatu bejana
yang di dalamnya terdapat susu
dan bejana yang
lain yang di
dalamnya terdapat khamer. Lalu
beliau memilih susu
dan meminumnya.
Dikatakan pada beliau, sesungguhnya engkau telah memilih
fitrah dan umatmu akan memilih fitrah. Para nabi mengitari Rasul saw dan
datanglah waktu solat. Para nabi bertanya di
antara sesama mereka, siapa di antara
mereka yang menjadi imam solat, apakah itu
Adam, Nuh, Ibrahim,
Musa atau Isa?
Jibril berkata kepada Muhammad saw,
sesungguhnya Allah SWT
memerintahkanmu untuk solat bersama para nabi. Rasulullah saw
berdiri dan solat bersama para nabi. Mereka semua adalah orang-orang Muslim dan
beliau adalah orang-orang Muslim yang pertama. Secara
logik bahawa beliau
layak menjadi imam
dari para nabi sebagaimana kitabnya dijadikan kitab
yang terbaik daripada kitab-kitab yang mendahuluinya. Beliau
membacakan Al-Qur'an kepada
mereka dan beliau menangis saat membacanya. Kekhusyukan
beliau saat membacanya membuat para nabi pun menangis. Dan ketika para nabi
sujud di belakang imam mereka, pohon-pohon dan bintang-bintang pun turut bersujud.
Selesailah waktu solat dan para nabi membubarkan diri. Setiap nabi kembali ke
langit yang mereka tinggal di dalamnya. Nabi keluar dari masjid bersama Jibril
dan mereka kembali
menunggang Buraq seperti
panah dari cahaya.
Buraq semakin meninggi dan ia melewati langit pertama lalu beliau
menyaksikan Nabi Adam. Kemudian ada panggilan dari Allah SWT: "Hendaklah
hamba-Ku semakin meninggi dan menjauh." Kemudian hamba Allah SWT Muhammad
bin Abdillah semakin terbang menjauh ia melampaui langit demi langit. Beliau
melampaui tempat materi dan mulai menjangkau tempat rohani dan melewatinya.
Beliau bersiap berdiri di haribaan Ilahi; beliau semakin tinggi dan jauh di
tingkat dan di puncak rohani dalam kecepatan yang tidak kurang dari kecepatan
kilat.
Beliau
melampaui kedudukan Nabi
Adam di langit
pertama dan melampaui kedudukan Nabi
Yahya dan Nabi
Isa di langit
kedua. Lalu Tuhan
pemilik kemuliaan
memanggil,
"hendaklah hamba-Ku lebih
tinggi lagi." Kemudian hamba Allah SWT dan Nabi-Nya yang
mulia mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi. Beliau melampaui langit yang
ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ke tujuh. Beliau melampaui alam materi
semuanya dan melampaui alam rohani. Akhirnya,
beliau sampai ke
Sidratul Muntaha. Beliau
sampai di tempat
yang suci yang Allah SWT menamakannya dengan sebutan Sidratul Muntaha
dan di sana Nabi melihat dan menyaksikan Jannatul Ma'wa. Beliau menyaksikan
yang kita tidak mampu mengetahuinya dan memahaminya bahkan membayangkannya: "(Muhammad melihat
Jibril) ketika Sidratul
Muntaha diliputi oleh
sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad)
tidak berpaling dari
yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm:
16-17) Sungguh terjadilah pada
tempat itu apa
yang terjadi dengannya. Dengan kebesaran yang misteri ini, Allah
SWT memberitahu kita bahawa terjadilah hal penting di sana meskipun hakikat hal
tersebut tersembunyi dari kita. Sesuatu yang Allah SWT sembunyikan dari kita
tersebut disaksikan oleh Rasul saw. Itu adalah mukjizat
yang khusus baginya;
itu adalah tingkat
cinta yang tidak tersingkap tabirnya
kerana ketinggiannya yang
tidak mampu ditangkap
oleh pengetahuan manusia biasa. Kemudian Tuhan pemilik syurga dan neraka
memanggil, "hendaklah hamba-Ku lebih tinggi lagi." Hamba Allah SWT
Muhammad bin Abdillah menaik ke tempat yang
tinggi. Kali
ini beliau melihat
Jibril yang berada
di belakangnya lalu beliau mendapatinya dalam keadaan
bertasbih kepada Allah SWT. Jibril tidak berada dalam
wujud manusia seperti yang
Nabi saksikan ketika
berada di dunia. Jibril as
kembali ke dalam wujud malaikatnya. Nabi melihat Jibril dan ia merupakan tanda
kebesaran Allah SWT yang Allah SWT janjikan untuk di perlihatkan kepadanya:
Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS.
an-Najm: 17) Pemandangan itu terjadi
dengan hati dan
mata serta panca
indera yang dikenal dan
yang tidak dikenal.
Pemandangan itu benar-benar
jelas.
Di sanabukan mimpi, bukan khayalan, dan bukan
gambaran. Rasul saw melihat semua itu dengan jasadnya dan rohaninya:
"Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS.
an-Najm: 17) Kemudian Rasulullah saw menuju ke tempat yang tinggi dan lebih
tinggi lagi. Beliau semakin naik
ke tingkat yang
makin tinggi sampai
beliau berdiri di hadapan
Tuhan Pencipta langit
dan bumi dan
Penebar kasih sayang
di dunia dan di akhirat. Orang
Muslim yang paling
sempurna itu bersujud
di hadapan Tuhan Sang Pencipta
sambil berkata: "Sungguh penghormatan dan keberkatan serta selawat
yang baik tertuju
hanya kepada Allah
SWT." Allah SWT membalasnya: "Salam kepadamu wahai
Nabi dan rahmat
Allah SWT serta berkat-Nya juga
tercurah kepadamu." Para
malaikat pun ketika
mendengar ucapan itu bertasbih
dan mengatakan: "Salam kepada
kita dan kepada hamba-hamba Allah SWT yang
soleh." Ungkapan-ungkapan
tersebut merupakan permulaan
tahiyat (penghormatan) yang diucapkan orang-orang Muslim
saat mereka melaksanakan solat
pada setiap hari. Solat
telah diwajibkan atas
kaum Muslim pada
kesempatan yang besar ini. Hal
popular di kalangan umumnya kaum Muslim adalah, bahawa Allah SWT mewajibkan
atas Nabi mula-mula lima puluh solat sehari. Kemudian Nabi turun dari
langit lalu beliau menemui
Nabi Musa. Selanjutnya Nabi
Musa bertanya kepadanya tentang jumlah solat yang diwajibkan Allah SWT
kepada umatnya.
Nabi menceritakan bahawa Allah SWT telah menentukan lima
puluh kali solat. Nabi
Musa berkata sungguh umatmu
tidak akan kuat
untuk melakukan solat itu,
maka kembalilah kepada
Tuhanmu dan mohonlah kepadanya agar
Dia meringankan bagi
umatmu. Lalu Nabi
kembali kepada Tuhan-Nya
sehingga Allah SWT meringankan solat hingga sepuluh kali. Setelah itu, Nabi
kembali bertemu dengan Nabi
Musa. Lagi-lagi Nabi
Musa memperingatkannya. Kemudian Nabi kembali lagi kepada Allah SWT
sehingga sampai diturunkan solat dari lima puluh kali menjadi lima kali sehari.
Namun solat yang lima kali itu pahalanya sama dengan solat yang lima puluh
kali. Menurut hemat kami, kisah tersebut tidak memiliki sandaran dalam
kitab-kitab ulama yang benar-benar teliti.
Kami kira, kisah
itu tersebut merupakan rekayasa orang-orang Yahudi
di mana mereka
masuk Islam dan
mereka memenuhi
kitab-kitab dengan dongeng-dongeng khurafat dan
mereka menisbatkannya kepada Rasul. Prasangka
tersebut didukung oleh
pemilihan Musa sebagai seorang Nabi yang mengusulkan kepada Rasul saw
agar memintakeringanan atas umatnya sehingga terkesan Nabi Musa menjadi
seseorang yang lebih mengetahui sesuatu
yang tidak diketahui oleh
Nabi Muhammad. Kami sendiri cenderung
untuk menolak kisah
tersebut dengan keyakinan
bahawa pertemuan Nabi dengan
Allah SWT menimbulkan rasa
kebesaran dan kewibawaan yang
luar biasa sehingga
ketika Nabi telah
pergi, maka sangat berat baginya untuk kembali lagi.
Nabi menyaksikan dan melihat hal-hal yang tidak mampu diungkap oleh lisan
dan tidak mampu
ditulis dengan pena.
Beliau berada di
suatu keadaan yang tidak
dapat difahami oleh
manusia biasa. Al-Qur'an
al- Karim sengaja
tidak menyebutkan apa saja
yang di lihat
oleh Nabi kerana
itu merupakan rahsia antara Nabi
dan Tuhannya dan
mukjizat yang khusus
yang diperuntukkan baginya
sebagai bentuk penghormatan kepadanya.
Jadi Al-Qur'an sengaja tidak menyebutkan itu semua untuk
menegaskan bahawa beliau melihat tanda dari tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Kami tidak mengetahui
apa yang di
lihat oleh Nabi.
Hal yang dapat
kami bayangkan adalah, bahawa
Nabi bersujud dengan
khusyuk di hadapan Tuhannya dan beliau menangis kerana
gembira. Kesedihan hatinya telah hilang selamanya. Setelah Nabi melihat rahsia dan
setelah penghormatan yang besar ini, beliau kembali menemani Buraq dan pergi
bersama Jibril untuk kembali ke bumi. Beliau kembali dan mendapati tempat
tidurnya masih dingin. Bagaimana beliau
pergi dan kembali
sementara tempat tidurnya
belum dingin? Berapa lama
waktu yang diperlukannya saat
melakukan perjalanan tersebut?
Hanya Allah SWT semata
yang mengetahui. Yang
kita ketahui adalah,
bahawa Rasulullah saw kembali ke tempat tidurnya setelah Isra' dan
Mi'raj dan hatinya dipenuhi dengan kegembiraan serta dadanya dipenuhi dengan
ketenangan dan kepuasan serta kefanaan dalam cinta kepada Allah SWT.
Kemudian datanglah waktu
pagi. Nabi menceritakan perjalanan dan pengalaman tersebut kepada
sahabat-sahabatnya dan orang-orang Musyrik sehingga berimanlah orang-orang yang
beriman padanya dan
mendustakan kepadanya orang-orang yang
mendustakannya. Namun beliau
tidak peduli dengan semua
itu. Nabi terus
melangsungkan perjuangannya dengan
penuh kesabaran. Akhirnya, datanglah suatu masa di mana Nabi saw
mengetahui bahawa dakwah Islam di Mekah telah mengalami penekanan yang luar
biasa sehingga keadaan sangat
tidak mendukung bagi
kaum Muslim.
Kisah Rasulullah Saw berhijrah
dari kota Mekkah ke madinah
Rasulullah
saw bergerak dengan dakwahnya. Lalu
Allah SWT mewahyukan kepadanya agar
ia berhijrah. Kemudian mulalah
Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah tiga belas tahun beliau di Mekah.
Islam ingin membangun negaranya dan ingin menghilangkan pengepungan dan
serangan kaum musyrik.
Mula-mula terjadilah perubahan sedikit dalam keadaan kaum
Muslim. Rasulullah saw keluar
dalam musim haji
untuk menunjukkan dirinya
pada kabilah-kabilah Arab sebagaimana
yang beliau lakukan
pada setiap musim. Beliau berada
di tempat yang
bernama 'Aqabah, lalu
beliau bertemu dengan jemaah dari
Khazraj. Rasulullah saw
berkata kepada mereka,
"siapa kalian?"
Mereka menjawab: "Kami berasal
dari kelompok Khazraj." Beliau
berkata. "apakah kalian termasuk pembantu kaum Yahudi?" Mereka
menjawab, "benar." Beliau
berkata, "maukah kalian
duduk bersama aku
kerana aku ingin
sedikit berbicara dengan kalian." Mereka menjawab:
"Boleh." Kemudian mereka duduk bersama Nabi lalu beliau mengajak
mereka untuk mengikuti agama Allah SWT. Rasulullah saw
sedikit menceritakan Islam
kepada mereka dan
membacakan Al-Qur'an. Enam orang
mendengarkan apa yang
disampaikan oleh Nabi
saw. Setelah beliau selesai
dari pembicaraannya, mereka
membenarkannya dan beriman
kepadanya. Kemudian mereka menceritakan kepada Nabi saw bahawa mereka
meninggalkan kaumnya kerana kaum mereka terlibat peperangan dan kebencian. Mudah-
mudahan Allah SWT
mengumpulkan mereka dengan kedatangan Nabi
saw yang mulia
ini. Mereka memberitahu
Nabi saw bahawa mereka akan menceritakan kepada
kaumnya apa yang mereka dengar dari Nabi saw dan akan mengajak mereka untuk
memenuhi dakwah Nabi. Keenam lelaki itu
kembali ke kota
Madinah yang berubah
namanya menjadi Madinah Munawarah
yang sebelumnya ia
bernama Yatsrib di
zaman jahiliah. Allah SWT
berkehendak untuk meneranginya dengan
Islam. Para lelaki
itu kembali ke Madinah
dan mereka membawa
Islam di hati
mereka sehingga banyak orang
yang masuk Islam. Kemudian
datanglah musim haji
dan keluarlah dari
Madinah dua belas
orang lelaki dari orang-orang yang
beriman yang di
antara mereka terdapat
enam orang yang Rasulullah saw telah berdakwah kepada mereka pada musim
yang dulu dan Nabi
saw menemui mereka
di 'Aqabah. Kemudian
Nabi melakukan solat pada
mereka agar mereka
mempertahankan
keimanan dan membela dakwah kebenaran serta kemanusiaan.
Kaum lelaki itu kembali ke Madinah
disertai salah seorang yang terpercaya dari tokoh Islam yaitu Mus'ab bin Umair
di mana ia menjadi utusan Rasulullah saw di Madinah dan
ia mengajari manusia
tentang agama mereka
dan membacakan kepada mereka
Al-Qur'an dan menyerukan kebenaran kepada manusia sehingga tersebarlah Islam
di Madinah. Penduduk Madinah
mulai bertanya-tanya, mengapa saudara-
saudara kita kaum
Muslim Mekah ditindas?
Mengapa Rasul saw keluar
untuk berdakwah dan
menebarkan rahmat tetapi
beliau justru mendapatkan angin
kebencian? Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan
terusir di Mekah? Demikianlah,
pergilah tujuh puluh
orang ke Mekah,
tujuh puluh orang
dari penduduk Madinah Munawarah. Mereka
pergi ke 'Aqabah
dalam keadaan sendirian dan
berkelompok-kelompok.
Islam telah menghasilkan buah pertamanya dalam
hati mereka sehingga
hati mereka dipenuhi
cinta kepada Allah SWT dan
Rasul-Nya serta kaum Muslim. Penderitaan yang dialami kaum Muslim mempengaruhi
jiwa mereka dan mencegah mereka dari mendapatkan kenikmatan tidur
dan nikmatnya memakan dan
nikmatnya kehidupan.
Orang-orang yang baik
itu datang dan
berniat kepada Rasul
saw untuk membela beliau
menolongnya dan melindunginya serta
siap untuk mati
di jalannya. Mereka datang setelah hati mereka diliputi oleh Islam dan
mereka memberikan segala sesuatu untuk dakwah yang baru; mereka datang
sebagai pencinta-pencinta kebenaran. Kitab-kitab hadis yang suci meriwayatkan
apa yang terjadi pada baiat 'Aqabah al-Kubra.
Dalam kitab tersebut dikatakan
bahawa Abbas Ibnu Abdul Muthalib datang bersama Nabi dan saat itu ia masih
berada dalam agama kaumnya. Ia ingin menyelesaikan urusan anak pamannya. Ketika
ia duduk dan berbicara, ia mengatakan
suatu pernyataan yang
mengisyaratkan bahawa Muhammad
saw mendapatkan kemuliaan dari
kaumnya dan kekuatan
di negerinya tetapi
ia enggan dan memilih
untuk bergabung bersama
kalian wahai penduduk Madinah. Jika kalian memenuhi
janjinya dan melindunginya, maka ambillah ia, namun jika kalian khawatir jika
suatu saat nanti akan mengkhianatinya, maka mulai dari sekarang biarkanlah ia
di negerinya. Kata-kata Abbas tersebut
berasal dari fanatisme
kesukuan dan ikatan
darah keluarga namun penduduk Madinah tidak begitu peduli dengan kalimat
Abbas itu kerana ia
bukan termasuk dari
agama mereka dan
ia tidak mengetahui tingkat cinta kepada Rasul saw
yang mereka capai. Abbas bin Abdul Muthalib menunggu jawapan dari penduduk
Madinah. Lalu mereka berkata kepadanya, "Kami telah
mendengar apa yang
engkau katakan, maka
berbicaralah yaRasulullah,
ambillah untuk dirimu dan Tuhanmu apa saja yang engkau sukai." Kita ingin
mengamati jawapan sekelompok orang yang mukmin dari penduduk Madinah ini
sehingga Rasulullah saw berbicara. Jawapan yang dicari oleh Abbas bin Abu
Muthalib tersembunyi dalam
pernyataan Nabi. Demikianlah
setelah Rasulullah saw mengucapkan
kalimatnya, maka tidak
keluar penyataan apa pun. Cukup hanya Nabi yang berbicara dan
mereka hanya menaatinya. Mereka meminta kepada beliau agar mengambil pada
dirinya dan Tuhannya apa saja yang beliau sukai; mereka merasa tidak memiliki
apa-apa dan tidak memiliki keputusan.
Nabi berbicara lalu
beliau membaca Al-Qur'an
dan mengajak ke jalan
Allah SWT. Kemudian beliau
berbicara tentang Islam
dan beliau membaiat mereka
agar membantu beliau
sehingga mereka pun
membaiat kepadanya. Demikianlah terjadinya baiat 'Aqabah al-Kubra.
Rencana pembunuhan Nabi
Muhammad SAW
Orang-orang yang terpilih oleh
Allah SWT itu mengetahui bahawa sebentar lagi mereka akan
diajak untuk mengangkat senjata: mereka
diajak untuk mendapatkan kematian di
bawah naungan pedang.
Mereka menenangkan Rasulullah
saw bahawa beliau akan mendapati orang-orang yang sudah terlatih dalam
peperangan kerana mereka mewarisi dari datuk-datuk mereka. Salah seorang dari
tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah yang penting. Abul Haitsyam
berkata: "sesungguhnya di
antara orang-orang Madinah
dan Yahudi terdapat suatu
tali ikatan, maka
mereka boleh jadi
akan memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka
lakukan hal itu dan memusuhi orang-orang Yahudi," kemudian Allah SWT
menolong Nabi dan memenangkan atas
kaumnya, lalu ia
kembali kepada mereka
dan meninggalkan mereka di bawah kasih sayang orang-orang Yahudi.
Perhatikanlah bahawa pertanyaan
tersebut berkisar pada
kecintaan kepada Nabi dan
keinginan agar Nabi
tetap bersama mereka
selama perjalanan hari dan bulan. Masalah yang dituntut oleh
Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah perlindungan mereka kepada
Nabi, di mana hal tersebut tidak lagi
diperdebatkan oleh orang-orang yang
terpilih dari penduduk
Madinah. Namun masalah yang mereka inginkan adalah masalah perlindungan
Nabi dan keberadaan Nabi bersama mereka di Madinah. Nabi tersenyum dan
beliau mengatakan kalimat-kalimat yang
justru menekankan bahawa ikatan
akidah lebih kuat
daripada ikatan darah.
Beliau berkata: "Tetapi darah adalah darah dan kehancuran adalah kehancuran.
Akudari kalian
dan kalian dariku
aku akan memerangi
orang-orang yang kalian perangi dan
aku akan berdamai
dengan orang- orang
yang kalian berdamai dengan mereka." Akhirnya,
penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang
baiat ini sampai ke telinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu
mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslim.
Para preman Mekah
berkumpul di Darul
Nadwah. Mereka menetapkan
akan mengambil sesuatu keputusan
penting berkaitan dengan
Nabi. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau
dibelenggu dengan besi lalu dibuang di penjara
sehingga beliau mati
kelaparan. Sebahagian lagi
mengusulkan agar beliau dibuang
dari Mekah dan
diusir. Abu Jahal
mengusulkan agar mereka mengambil dari
setiap keluarga dari
keluarga- keluarga Quraisy
seorang pemuda yang kuat, kemudian setiap dari mereka diberi pedang yang
terhunus dan hendaklah mereka
memukulkan pedang itu
ke tubuh Nabi.
Jika mereka berhasil membunuhnya nescaya semua
kabilah bertanggungjawab terhadap darah sang Nabi dan Bani Hasyim
tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang
Arab semuanya dan
mereka akan menerima
diat sebagai tebusan
dari pembunuhan itu. Demikianlah persekongkolan itu digelar dan mereka
sepakat untuk melaksanakan hal
itu. Namun Al-Qur'an al-Karim
menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir itu dalam
firman-Nya: "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya
terhadapmu untuk menangkap dan
memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu
daya itu. Dan
Allah sebaik-baih Pembalas tipu
daya." (QS. al-Anfal: 30) Allah
SWT mewahyukan kepada
Nabi-Nya agar ia
berhijrah. Lalu Nabi
mulai menyiapkan
sarana-sarana untuk hijrahnya. Beliau
menyembunyikan urusan
tersebut bahkan beliau tidak memberitahu sahabat yang akan menemaninya.
Rasulullah saw menyewa
seorang penunjuk jalan
yang pengalaman yang mengenal padang gurun
seperti mengenal garis-garis tangannya. Yang menghairankan penunjuk jalan itu
adalah seorang musyrik.
Demikianlah Nabi meminta bantuan kepada orang
yang ahli tanpa memperhatikan keyakinannya. Kemudian datanglah malam
pelaksanaan kejahatan itu.
Rasulullah saw
memerintahkan Ali bin
Abi Thalib untuk
tidur di tempat
tidumya di malam tersebut. Datanglah
pertengahan malam dan
Rasulullah saw pun
keluar dari rumahnya. Para
pemuda Mekah mengepung rumah.
Mereka menghunuskan
pedangnya. Nabi menggenggam
tanah lalu beliau
melemparkannya ke arah kaum sehingga mereka pun merasa kantuk
sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan
mereka. Beliau keluar
dari Mekah dan
berhijrah. Dengan langkah yang diberkati ini, kaum Muslim
menanggali tahun-tahun mereka. Tahun
dalam Islam adalah
tahun Hijrah, sedangkan
kaum Masihi menanggali tahun mereka
dengan kelahiran Isa
dan ini disebut
dengan tahun Masihi. Adapun tahun-tahun Islam, maka ia
ditanggali pertama kalinya saat Rasulullah saw
keluar berhijrah di
jalan Allah SWT.
Hijrah Rasul bukan
hanya lari dari penindasan tetapi
lari dari kebekuan;
hijrah tersebut bukan
keluar dari keamanan tetapi keluar
dari bahaya. Islam
di Mekah hanya
dapat mempertahankan
dirinya tetapi ketika
ia keluar ke
Madinah ia mempertahankan
dirinya ketika menyerang. Dan selama beberapa tahun masa yang dihabiskan
di Mekah, tak
seorang dari kaum
Muslim yang mengangkat senjata. Ketika
mereka keluar ke
Madinah, mereka
mulai membawa senjata dan mulai
menyalakan obor peperangan. Islam
mulai membawa senjata sebagaimana luka
akan sembuh dengan
syarat jika diubati.
Nabi saw mengetahui bahawa
Islam tidak
akan menghabiskan usianya hanya
untuk melawan serangan pada
dirinya; Islam ingin tersebar; Islam ingin
mendirikan negaranya yang pertama
yaitu suatu negara
yang belum pernah
dikenal di muka bumi negara
seperti itu. Negara yang mencapai keadilan, kasih sayang, dan idealisme yang
begitu luar biasa di mana hukum Allah SWT ditegakkan dan kehormatan manusia
benar-benar dijaga. Inilah kedalaman hijrah
yang mengesankan yaitu
pendirian negara Islam setelah sebelumnya
membangun individu masyarakat
Muslim. Setelah Rasul saw
membangun masyarakat Muslim
dan membangun masjid, maka
beliau membangun suatu negara Islam. Selanjutnya, sayap-sayap dakwah
mengepak. Kami kira pembaca
tidak akan bertanya,
apa gunanya pembangunan
masjid ditingkatkan
sementara Islam masih
mengalami penindasan di
muka bumi. Kami kira pembaca
lebih pintar daripada orang yang tidak mengetahui bahawa masjid yang dibangun
Rasulullah saw di Madinah bukan tempat peristirahatan dari keletihan, tetapi
masjid merupakan pusat dari kepemimpinan pergerakan Islam dan kepemimpinan
menuju peperangan Islam.
Manusia mandi di masjid dengan cahaya
Allah SWT setelah itu mereka mandi di kancah peperangan dengan darah mereka.
Pertanyaannya adalah, siapakah di antara
mereka yang akan
terbunuh di jalan
Allah SWT sebelum
saudaranya? Demikianlah
perlumbaan dalam perbaikan
terjadi di
antara mereka. Dengan cara demikianlah Islam tersebar.
Sementara itu, Nabi
berlindung di suatu
gua; di gunung
yang bernama Tsur. Beliau masuk
ke gua itu
bersama sahabatnya Abu
Bakar. Dan orang- orang musyrik pergi menyusul beliau dengan
membawa pedang mereka. Lalu mereka sampai
ke gunung itu.
Abu Bakar berkata
kepada Rasul saw
dengan keadaan gelisah,
"seandainya salah seorang mereka melihat di bawah kakinya nescaya mereka akan
melihat kita." Dengan tenang, Rasulullah
saw menepis kegelisahan
Abu Bakar dan
berkata: "Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira dengan dua orang yang
ada di tempat yang sepi sementara
Allah SWT menjadi
ketiga di antara
mereka?" Sebelum
Rasulullah saw mengakhiri
kalimatnya, terdapat laba-
laba yang selesai
dari menenun rumahnya di atas pintu gua. Kitab-kitab sejarah mengatakan
bahawa kaum musyrik mengikuti
jejak sang Nabi
sehingga mereka sampai
di gunung Tsur lalu di situlah
mereka mengalami kebingungan. Mereka mendaki gunung dan mendaki
gua itu. Lalu
mereka melihat di
atas pintu gua
itu terdapat tenunan laba-laba. Mereka
mengatakan, seandainya seseorang masuk
di dalamnya nescaya tidak
akan terdapat tenunan
laba-laba di atas
pintunya. Beliau tinggal di gua itu selama tiga malam. Demikianlah keimanan tenunan laba-laba yang
lembut dimenangkan atas ketajaman pedang kaum
musyrik sehingga Nabi
bersama sahabatnya pun selamat. Kini, kedua orang itu menuju
Madinah. Dan Madinah pun menyambut mereka.
Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya memasuki
Madinah, mula-mula masyarakat tidak mengenal siapa di antara mereka yang
menjadi Rasul kerana saking
baiknya sikap Rasul
terhadap sahabatnya. Akhirnya,
Nabi menerangi kota Madinah.
Beliau membangun masjid dan
mendirikan negaranya serta memerangi musuh-musuhnya dan
tersebarlah Islam dan Mekah pun ditaklukkan dan Baitul Haram disucikan. Beliau
menanamkan dalam akal dan hati suatu cahaya yang tidak akan pernah padam.
Kemudian berlangsunglah sepuluh tahun yang dilewatinya di Madinah di mana
beliau tidak menggunakannya untuk
berleha-leha. Demikian juga selama masa
tiga belas tahun
yang beliau lalui
di Mekah, beliau
pun tidak mendapatkan istirahat
yang cukup. Semua kehidupan beliau hanya untuk Allah SWT dan
hanya untuk Islam.
Pergerakan Nabi Muhammad Saw di
kota Madinah
Beban berat
yang dipikul oleh
punggung beliau yang mulia lebih
berat dari beban yang dipikul oleh gunung. Meskipun beliau seorang diri,
tetapi beliau mampu
memikul amanat yang
pernah Allah SWT tawarkan kepada
langit dan bumi
serta gunung namun
mereka pun enggan untuk memikulnya.
kerana
mereka menyedari bahawa
mereka tidak akan mampu
memikulnya. Lalu datanglah
beliau dan beliau
pun mampu memikul amanat itu
dan melaksanakannya secara sempurna. Yaitu
amanat untuk menyampaikan
agama Allah SWT; amanat untuk menyucikan akal manusia dari polusi khayalisme
dan khurafatisme: amanat yang mewarnai kehidupan dengan
hanya sujud kepada Allah SWT.
Kemudian mengalirlah dalam memori Nabi saw suatu arus dari gambar- gambar
hidup: bagaimana saat
beliau memasuki Madinah.
Lewatlah di hadapan
akal beberapa memori dan
nostalgia: bagaimana wahyu
yang turun kepadanya dengan membawa
risalah di gua
Hira, kemudian berubahlah
pandangan dan bertiuplah angin
kebencian kepadanya, bahkan angin itu membawa pasir-pasir tuduhan-tuduhan yang
dilemparkan ke wajah suci beliau. Beliau berdiri sambil tersenyum dan
hatinya dipenuhi dengan
kesedihan di hadapan
gelombang gurun dan kesendirian serta badai kesengsaraan. "Wahai
manusia, tiada Tuhan selain Allah SWT. Demikianlah kalimat yang beliau katakan.
Meskipun kalimat itu tampak sederhana namun
ia mampu membangkitkan dunia. Dan bergeraklah patung-patung yang begitu
banyak yang memenuhi kehidupan dan mereka membekali dirinya dengan kegelapan
dan kebencian yang dialamatkan kepada
sang Nabi. Para
pembesar. para penguasa,
wang, emas, serta kebencian dan
kedengkian syaitan yang
klasik dan banyaknya
orang-orang munafik,
semua ini menjadi
musuh nyata sang
Nabi pada saat
beliau mengatakan "tiada Tuhan selain Allah SWT."
Nabi mengingat kembali Waraqah
bin Nofel ketika
menceritakan kepadanya apa
yang terjadi dan
apa yang dialami beliau
di gua Hira.
Tidakkah ia mengatakan kepadanya bahawa kaumnya akan mengusirnya?
Hari-hari hijrah sangat
panjang dan berat.
Matahari sangat dekat
dengan kepala dan rasa
panas sangat
mencekik tenggorokan dan
rasa pusing- pusing pun
semakin meningkat. Setelah
hijrah, Nabi memasuki
Madinah. Beliau disambut oleh
kaum Anshar dengan
sambutan luar biasa.
Beliau datang sendirian lalu
mereka menolongnya; beliau
datang dalam keadaan
takut lalu mereka mengamankannya; beliau
datang dalam keadaan
lapar lalu mereka memberinya makanan; beliau
datang dalam keadaan
terusir lalu
mereka memberikan perlindungan.
Bangunan Islam
mulai ditancapkan di
Madinah. Beliau mulai
membangun negaranya
setelah beliau membangun sumber
daya manusia Islam
yang tangguh. Yang pertama kali dibangunnya adalah sumber daya Islam,
setelah itu beliau baru membangun negara. Tidak ada nilai yang bererti dari
satu sistem yang hanya berdasarkan
prinsip-prinsip besar yang
tidak lebih dari
sekadar tinta di atas kertas. Penerapan prinsip-prinsip adalah tolok
ukur final dari nilai apa pun yang diperlakukan di dunia. Dan Islam telah
berhasil menerapkan pada masa-masa
pertamanya suatu sistem
yang belum pernah
dikenal dalam kehidupan manusia
suatu sistem seperti itu.
Yaitu sistem yang
menunjukkan keadilan,
persaudaraan, dan kasih
sayang yang mengagumkan. Hal
yang pertama kali dilakukan Rasulullah saw adalah membangun masjid di
mana di situlah unta yang
ditungganginya berhenti. Masjid
itu tampak sederhana. Tikarnya terdiri
dari pasir-pasir dan
batu-batu. Tiangnya terbuat
dari batang-batang kurma. Barangkali ketika turun hujan, maka tanahnya
akan menjadi lumpur kerana mendapat siraman air hujan. Mungkin ketika angin
bertiup dengan kencang, maka ia akan mencabut sebahagian dari atapnya. Di
bangunan yang sederhana ini, Rasulullah saw mendidik generasi Islam yang
tangguh yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalim dan para penguasa yang bejat
dan mereka mampu mengembalikan kebenaran ke singgahsananya yang terusir dan
terampas. Mereka mampu menyebarkan Islam di muka bumi. Masjid itu
tampak kecil dan
sederhana sekali tetapi
ia dipenuhi dengan kebesaran; masjid itu tidak menunjukkan
kemewahan sama sekali. Di dalamnya Al-Qur'an
dibaca lalu orang-orang
yang mendengarnya menganggap
bahawa mereka benar dan
mendapatkan perintah harian
untuk menerapkan dan melaksanakan apa- apa yang mereka
dengar. Al-Qur'an dibaca di
masjid bukan seperti
nyanyian yang orang-orang
duduk akan merasa terpengaruh dengan keindahan nyanyian dan suara pembaca.
Dan masjid di
dalam Islam bukanlah
tempat satu-satunya untuk
ibadah. Menurut kaum Muslim
semua bumi adalah
masjid namun masjid
adalah simbol peradaban yang
beriman kepada Allah
SWT dan hari
akhir, sebagaimana ia menyuarakan ilmu, kebebasan dan
persaudaraan. Semua Nabi berbicara tentang persaudaraan dan mengajak kepadanya
dengan ribuan kata-kata. Sedangkan
Rasulullah saw telah
mewujudkan persaudaraan itu secara
praktis, yakni ketika
karakter masyarakat saat
itu mencerminkan Al-Qur'an. Nabi
mulai mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar di manasahabat Anshar
Sa'ad bin Rabi',
seorang kaya dari
Madinah dipersaudarakan dengan Abdul
Rahman bin 'Auf,
seorang yang berhijrah
dari Mekah. Sa'ad berkata kepada Abdul Rahman:
"Sesungguhnya, tanpa bermaksud sombong, aku memang memiliki harta
yang banyak daripada
kamu. Aku telah
membagi hartaku menjadi dua bahagian dan sebahagiannya aku peruntukan
bagimu. Lalu aku mempunyai dua orang wanita, maka lihatlah siapa di antara
mereka yang mampu memikatmu sehingga aku
menceraikannya lalu engkau
dapat menikahinya." Abdul Rahman bin 'Auf menjawab:
"Mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu, keluargamu, dan
hartamu.
Di manakah pasar
yang engkau berdagang di
dalamnya?" Abdul Rahman bin 'Auf keluar menuju ke pasar untuk bekerja. Ia
kembali dan membawa sesuatu yang
dapat dimakannya. Ia
menolak dengan lembut
sikap baik Sa'ad dan
kedermawanannya. Ia bersandar
pada keimanan kepada
Allah SWT dan lebih memilih untuk bekerja dan membanting tulang. Tidak
berlalu hari demi hari kecuali ia tetap bekerja sehingga ia mampu untuk
membekali dirinya dan melaksanakan pernikahan. Demikianlah masyarakat
Islam terbentuk dan
menampakkan identitinya
berdasarkan cinta, kebebasan,
musyawarah, dan jihad.
Pekerjaan menurut Islam bukan
suatu penderitaan untuk mendapatkan roti atau potongan daging sebagaimana dikatakan peradaban kita
masa kini, tetapi
pekerjaan dalam Islam melebihi
ruang lingkup materi ini dan menuju puncak yang lebih tinggi: "Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu,
maka Allah dan
Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. " (QS. at-Taubah: 105) Kesedaran bahawa
apa yang kita
kerjakan akan di
lihat oleh Allah
SWT menjadikan pekerjaan itu mendapat cita rasa yang lain. Yaitu suatu
rasa yang melampaui nikmatnya memakan
roti dan daging.
Setelah bekerja, datanglah cinta. Cinta dalam Islam bukan
hanya perasaan yang menetap dalam hati dan tidak diwujudkan oleh suatu
perbuatan; cinta dalam Islam merupakan langkah harian yang akan mengubah bentuk
kehidupan di sekitar manusia menuju yang lebih tinggi dan mulia.
Seorang Muslim
mencintai Tuhannya Pencipta
alam semesta dan
mencintai Rasulullah saw dan
mencintai kaum Muslim
dan orang-orang yang
berdamai dengan orang-orang Muslim, meskipun keyakinan mereka berbeza
dengannya. Bahkan seorang Muslim
mencintai makhluk secara
keseluruhan: ia mencintaianak-anak, haiwan,
bunga, pasir dan
gunung bahkan benda-benda
mati pun mendapat cinta
dari seorang Muslim.
Seorang Muslim jika
dia benar-benar seorang Muslim
akan merasakan cinta
yang dialami oleh Nabi Daud terhadap alam dan
lingkungan di sekitarnya.
Ini adalah perasaan
sufi yang tinggi. Seorang Muslim akan mewarisi cinta
yang sebenarnya seperti yang diwarisi Nabi Isa terhadap lingkungan yang baik
yang ada di sekitarnya di mana ketika Nabi Isa
melihat tubuh anjing
yang mati, maka
Nabi Isa tidak
melihat selain keputihan
giginya. Demikianlah cinta yang tersebar dalam kehidupan kaum Muslim di mana
cinta itu pun tertuju
kepada binatang dan
benda-benda mati. Cinta
demikian ini tidak akan
terwujud dengan suatu
keputusan dan tidak
ditetapkan dengan suatu undang-undang,
tetapi cinta itu datang biasanya akibat dari kepuasaan akal dan
hati dengan adanya
kepemimpinan besar yang
hati cenderung kepadanya dan
akal mengambil darinya. Dan
yang dimaksud dengan kepemimpinan besar
tersebut adalah keberadaan
sang Nabi. Beliau
adalah cermin terbesar dari tingkat cinta yang tertinggi.
Beliau adalah seorang yang paling banyak
berbuat demi Islam
dan paling banyak
sedikit mengharapkan balasan darinya.
Meskipun beliau seorang pemimpin namun beliau hidup dalam kesederhanaan. Beliau
adalah seorang tentera yang paling sederhana. Tempat tidurnya bersih
tetapi kasar, dan
rumahnya tidak menampakkan
kesibukan yang di dalamnya
memasak berbagai macam
hidangan. Beliau justru menyiapkan hidangan
yang sangat sederhana.
Makanan utama beliau
adalah roti kering yang
dicampur dengan minyak.
Keinginan besar beliau
adalah tersebarnya dakwah Islam. Kaum
Muslim menyedari bahawa
kesempurnaan Islam tidak
akan terwujud kecuali ketika
cinta Allah SWT dan Rasul- Nya lebih didahulukan daripada cinta diri sendiri,
cinta kepada wanita, cinta kepada anak, kepentingan, kekuasaan, kehidupan, dan
apa saja yang tidak ada hubungannya dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Demikianlah
kaum Muslim sangat mencintai pemimpin mereka lebih dari kehidupan
peribadi mereka. Di
samping pekerjaan dan
cinta tersebut, didirikanlah
pemerintahan Islam yang berdasarkan kaedah-kaedah kebebasan, musyawarah dan
jihad. Kebebasan dalam Islam bukan sekadar perhiasan yang dilekatkan kepada
tubuh Islam tetapi ia merupakan tenunan dari sel-sel yang hidup itu. Allah SWT
telah membebaskan kaum
Muslim dari penyembahan selain
dari-Nya. demikian,
runtuhlah semua belenggu
yang hinggap di
atas akal, hati,
dan masyarakat.
Kesetiaan Kaum Anshar dan
Muhajirin
Seorang
Muslim memiliki -
dalam Islam -
suatu kebebasan yang diberikan kepadanya
agar ia melihat
sesuatu dengan akalnya
dan mendebat segala sesuatu
dengan akalnya. Dan hendaklah ia merasa puas dengan sesuatu yang dapat
menenteramkan hatinya. Kebebasan dalam Islam bukan kebebasan mutlak yang
menjurus kepada anarkisme
dan diskriminasi tetapi
kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Dalam ruang
lingkup nas-nas yang
pasti yang terdapat
dalam Al-Qur'an atau sunah
tidak ada kebebasan
di hadapan orang
Muslim selain kebebasan
untuk berlumba-lumba
untuk menerapkan apa
yang mereka fahami.
Selain itu, seorang bebas sampai
tidak terbatas, dan pintu ijtihad tetap terbuka sampai tidak ada batasnya,
kerana pintu ijtihad adalah akal dan menutup pintu ijtihad yakni menutup
akal dan itu
bererti akan membawa
kematian baginya.
Islam tidak menerima orang-orang yang mati
akalnya atau mengalami kemunduran; Islam pada hakikatnya memperlakukan manusia
dari sisi akal dan hati. "Adalah
untukmu, sedang kamu
menginginkan bahawa yang
tidak mempunyai
kekuatan senjatalah yang
untukmu, dan Allah
menghendaki untuk membenarkan yang
benar dengan ayat-ayat-Nya dan
memusnahkan orang-orang kafir." (QS. al-Anfal: 7) Orang-orang Islam
kerana kekafiran mereka
dan kebutuhan mereka
serta situasi ekonomi yang memburuk, mereka ingin bertemu dengan pasukan
yang tidak bersenjata; mereka
ingin bertemu dengan
kafilah yang kaya,
bukan pasukan yang bersenjata; mereka
membutuhkan harta untuk
menyebarkan dakwah. Namun Allah SWT menginginkan mereka dengan keadaan
seperti itu agar mereka berhadapan dengan
pasukan kafir dan
agar mereka mampu memutus tali kekuatan orang-orang
kafir sehingga kebenaran akan menang. Keluarlah orang-orang Muslim dalam
peperangan Badar dengan membayangkan bahawa mereka akan mendapatkan keuntungan
dan kesenangan dengan banyak mengambil
ganimah. Namun Allah
SWT menginginkan terjadinya
peperangan yang berat, di mana itu berakibat pada jatuhnya tokoh-tokoh
kaum kafir Mekah sebagai korban darinya
dan agar Madinah
dapat menahan penderitaan
dan kefakiran yang dialaminya.
Seharusnya pengikut Islam
tidak membayangkan untuk
mengambil keuntungan tetapi ia justru harus memberi kepadanya. Nabi mengetahui
sebagai pemimpin pasukan ia harus mengingatkan pasukannyabahawa mereka akan
menemui kesulitan dan penderitaan, dan bukan masalah sepele seperti
yang mereka bayangkan. Nabi
bermusyawarah dengan
sahabat-sahabat. Beliau berbincang-bincang dengan
Abu Bakar Shidiq,
Umar bin Khattab, dan
Miqdad bin Amr.
Lalu mereka semua
sepakat untuk terus melakukan peperangan apa pun hasilnya
dan apa pun pengorbanan yang harus dilakukan. Kemudian Rasulullah saw
berkata: "Wahai para
sahabat, tunjukkanlah diri kalian." Rasulullah
saw mengisyaratkan kepada
kaum Anshar.
Rasulullah
saw khawatir jika mereka memahami bahawa baiat yang terjadi di antara
mereka yang berisi agar mereka melindungi beliau jika beliau diserang di
Madinah saja, dan memang pasal-pasal
dari baiat itu
mendukung hal itu.
Tidakkah mereka mengatakan
kepada beliau: "Ya Rasulullah, kami tidak akan bertanggungjawab
kepadamu sehingga engkau
sampai di negeri
kami. Jika engkau
sampai di negeri kami, maka kami
akan bertanggungjawab untuk melindungimu." Majoriti pasukan
terdiri dari orang-orang
Anshar, maka Rasulullah
saw ingin mengetahui keputusan
majoriti tentera sebelum dimulainya peperangan. Kaum Anshar mengetahui bahawa
Rasul saw ingin
mengetahui pendapat kaum Anshar. Oleh
kerana itu, Sa'ad
bin 'Auf berkata:
"Demi Allah, seakan-akan engkau menginginkan kami ya
Rasulullah." Nabi menjawab, "benar." Kemudian kaum Anshar
menyatakan apa yang mereka rasakan. Mendengar
pernyataan kaum Anshar
itu hilanglah kekhuatiran
dan ketakutan Nabi, bahkan
beliau bergembira dan
wajahnya berseri-seri. Rasulullah saw telah mendidik mereka berdasarkan
Islam dan Islam tidak mengenal pasal-pasal perjanjian namun ia justru tenggelam
dalam esensinya dan kedalamannya yang jauh.
Kaum Anshar meyakinkan
Nabi bahawa mereka
benar-benar beriman
kepadanya, mencintainya dan
akan mendengarkan apa
saja yang beliau katakan serta akan benar-benar
mentaati beliau. Sa'ad bin Mu'ad berkata: "Ya Rasulullah, lakukanlah apa
yang engkau inginkan dan kami akan
bersamamu. Demi Zat
yang mengutusmu dengan
kebenaran, seandainya
engkau membelah lautan
lalu engkau menyelam di
dalamnya nescaya kami akan
menyelam bersamamu dan
tidak ada seseorang
pun di antara kami yang akan
meninggalkanmu." Demikianlah keteguhan kaum Anshar. Kalimat tersebut
menetapkan peperangan paling penting dan paling berbahaya dalam sejarah Islam.
Perasaan kaum Anshar dan Muhajirin
dalam pasukan Rasul saw sangat berbeza dengan
perasaan Nabi Musa
ketika mereka mengatakan
kepadanya, "pergilah engkau
wahai Musa bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami di sini hanya
duduk-duduk saja." Namun
kaum Muslim menyatakan bahawa seandainya Rasul
saw memerintahkan mereka
untuk melalui lautan
dengan berjalan kaki di
atas ombaknya nescaya
mereka akan melakukan hal
itu walaupun berakibat pada tenggelamnya mereka dan kematian mereka dan
tak seorang pun yang akan menentang perintah Rasul saw tersebut.
Perang Badar
Akhirnya, kaum Muslim
bersiap-siap untuk memasuki kancah peperangan lalu mereka membuat khemah-khemah yang
di situ ditentukan tempat peristirahatan dan pergerakan
tentera Islam. Tempat itu ditentukan oleh Rasul saw. Allah
SWT membiarkan Rasul-Nya
melakukan kesalahan dalam
memilih tempat sehingga itu
akan dapat menjadi
pelajaran bagi kaum
Muslim dalam kaedah umum dari
kaedah-kaedah peperangan yaitu sikap pemimpin pasukan untuk mengambil suatu
kebijakan yang penting yang berdasarkan pengalaman.
Kemudian datanglah
Habab bin Mundzir
kepada Rasulullah saw
dan bertanya kepadanya, "apakah tempat
yang kita jadikan
sebagai pusat pergerakan tentera kita merupakan pilihan
dari Allah SWT dan Rasul-Nya hingga kita tidak dapat mendahuluinya dan
mengakhirinya yakni kita
tidak dapat memberikan pendapat kita
ataukah itu hanya
masalah yang bersifat
teknik yakni itu terserah pada
pendapat kita dan
sesuai kebijakan saat
perang dan ia merupakan tipu daya semata?"
Rasulullah saw berkata: "Tetapi itu adalah pendapat peribadi, peperangan,
dan tipu daya." Habab berkata: "Ya Rasulullah ini adalah tempat yang
tidak tepat." Sahabat yang sarat pengalaman ini memilih tempat di mana
pasukan Madinah dapat minum darinya
sedangkan pasukan Mekah
tidak dapat mengambil darinya. Kemudian
berpindahlah pasukan Muslim
menuju tempat yang
telah ditentukan oleh pengalaman militer. Sampailah pasukan
Mekah di mana
jumlah mereka mendekati
seribu tentera dan mereka akan
berhadapan dengan tiga ratus tujuh belas pasukan Muslim. Pasukan Quraisy berada
di tempat yang jauh dari lembah. Pasukan
kafir terdiri dalam
perang Badar dari
pemuka-pemuka Quraisy dan pahlawan-pahlawan mereka, sedangkan pasukan Muslim
terdiri dari keluarga-keluarga,
ipar-ipar dan keluarga dekat dari pasukan kafir. Allah SWT telah menentukan agar
seorang anak bertemu
dengan ayahnya, saudara bertemu dengan
sesama saudara dan
sesama ipar bertemu
di medan peperangan. Mereka semua
dipisahkan dengan suatu
prinsip di mana mereka ditentukan oleh pedang.
Akhirnya, peperangan Badar pun terjadi dan
kaedah utama adalah kaedah persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan
Muslim berpegang teguh di atas dasar Islam, maka pasukan kafir mulai terpecah belah
namun keadaan tersebut mereka sembunyikan. Lalu 'Utbah
bin Rabi'ah berbicara
di tengah-tengah pasukan
Mekah dan mengajak mereka
untuk menarik kembali dari peperangan. 'Utbah memberikan pernyataan sesuai
dengan tuntutan akal
sehat, "wahai orang-orang
Quraisy demi Allah, jika
kalian harus memerangi Muhammad, maka
kalian akan menyesal kerana kita
berhadapan dengan saudara- saudara kita sendiri. Boleh jadi kita
akan membunuh anak
paman kita, atau
salah seorang dari
kerabat kita.
Mengapa kalian tidak membiarkannya
saja?" Kalimat yang rasional
tersebut cukup menggoncangkan pasukan Mekah. Sebahagian tentera
merasa puas dengan
pernyataan tersebut kerana
mereka melihat bahawa tidak ada gunanya peperangan itu. Namun kebodohan
justru memadamkan kalimat yang
rasional itu. Abu
Jahal menuduh bahawa
yang mengucapkan kata-kata adalah orang yang penakut. Kemudian Abu Jahal
lebih memilih pendapatnya untuk menetapkan terus memerangi kaum Muslim.
Pemimpin pasukan kafir yaitu Abu Jahal mengetahui bahawa Muhammad tidak
pernah berbohong. Kitab-kitab sejarah
menceritakan bahawa Akhnas
bin Syuraif menyendiri dalam perang Badar bersama Abu Jahal sebelum
terjadinya peperangan tersebut dan
bertanya kepadanya, "wahai
Abul Hakam, tidakkah engkau melihat bahawa Muhammad
pernah berbohong? Abul Hakam menjawab: "Bagaimana mungkin ia
berbohong atas Allah,
sedangkan kami telah menamainya al-Amin (orang
yang dapat dipercayai)." Peperangan tersebut bukan sebagai
usaha untuk mendustakan Rasul
saw tetapi itu
hanya semata-mata untuk menjaga
kepentingan-kepentingan
sesaat dan keadaan ekonomi. Demikianlah orang-orang kafir
mempertahankan nilai yang
paling rendah yang ada
di muka bumi
yang juga dipertahankan oleh
binatang, sementara kaum Muslim
justru mempertahankan nilai
yang paling tinggi
di bumi dan di langit yang ikut serta di dalamnya para malaikat.
Kemudian datanglah waktu malam
menyelimuti dua kubu. Tiga ratus tentera yang
mukmin sudah bersiap-siap dan
mendekati seribu tentera
musyrik. Orang-orang
musyrik datang dengan
menunggangi tunggangan mereka
dan tampak mereka memiliki
persenjataan yang lengkap, sedangkan setiap orangMuslim datang
di atas satu
kenderaan. Pakaian yang
dipakai orang-orang musyrik
tampak masih baru dan pedang-pedang mereka tampak mengilat serta baju besi
yang mereka gunakan
sangat unggul dan
kuat. Alhasil, mereka memiliki persiapan yang sangat
mengagumkan sedangkan pakaian yang dipakai orang-orang Muslim tampak sudah
usang dan pedang-pedang kuno pun mereka gunakan dan baju besi yang mereka
gunakan tampak tidak sempurna. Nabi
melihat keadaan pasukannya lalu
hati beliau tampak
sedih melihat pasukan tersebut.
Beliau berdoa kepada
Tuhannya: "Ya Allah,
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah
mereka. Ya Allah, sesungguhnya
mereka adalah orang-
orang yang tanpa
alas kaki, maka tolonglah mereka.
Ya Allah, Sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang tidak berpakaian, maka berilah mereka
pakaian." Kemudian rasa kantuk
menghinggapi mata kedua
pasukan lalu mereka beristirahat di
tengah-tengah malam. Jatuhlah
hujan kecil yang
membuat tempat itu basah sehingga kelembapan mengitari kaum Muslim.
Hujan tersebut membasuh tanah perjalanan dan menghilangkan debu- debu kepayahan
serta menyucikan hati dan membangkitkan kepercayaan atas kemenangan dari Allah
SWT. Allah SWT berfirman: "(Ingatlah),
ketika Allah menjadikan kamu
mengantuk sebagai suatu penenteram dari-Nya, dan
Allah menurunkan hujan
dari langit untuk menyucikan kamu
dengan hujan itu
dan menghilangkan dari
kamu gangguan-gangguan
syaitan dan untuk
menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak
kaki(mu)." (QS. al-Anfal: 11) Datanglah waktu pagi di Badar lalu kaum
Quraisy mulai menyerang, lalu Nabi memerintahkan pasukan Muslim untuk bertahan.
Rasulullah saw bersabda: "Jika musuh mengepung kalian,
maka usirlah mereka dengan
panah dan janganlah kalian menyerang mereka sehingga
kalian diperintahkan."
Demikianlah ketetapan militer yang
sangat jitu yang bererti hendaklah kaum Muslim membentengi mereka
di tempat-tempat mereka
agar orang-orang musyrik mendapatkan kerugian dari
serangan yang mereka
lakukan. Kita mengetahui dari
ilmu militer saat
ini bahawa seorang
yang menyerangmemerlukan tiga
atau tiga kali lipat dari jumlah yang biasa dilakukan sehingga serangannya betul-betul efektif;
kita mengetahui bahawa
jumlah pasukan musyrik tiga
kali lipat dibandingkan dengan tentera Muslim. Kaum musyrik di lihat dari segi
jumlah sangat memadai untuk memenangkan peperangan, dan persenjataan mereka
lebih lengkap dari
persenjataan kaum Muslim.
Jumlah haiwan yang mereka miliki pun sama dengan jumlah mereka,
sedangkan tiap tiga orang Muslim berperang di atas satu tunggangan.
Keadaan saat itu
sangat menguntungkan kaum musyrik.
Tanda-tanda kemenangan tampak
menyertai bendera kaum
musyrik, tetapi kemenangan peperangan bukan
kerana kebesaran jumlah
pasukan dan persenjataan yang lengkap. Terkadang
peperangan justru dimenangkan
oleh unsur spirituil
yang tidak kelihatan. Spirituil
tentera dan keimanannya
tentang persoalan yang dipertahankannya serta
keinginannya untuk mendapatkan dua
kebaikan: kemenangan atau kematian
dan hasratnya yang
tinggi untuk meneguk
madu syahadah, semua itu dapat mengubah seorang tentera menjadi makhluk
yang tidak terkalahkan. Boleh
jadi ia akan
merasakan kematian tetapi
jauh dari kekalahan. Demikianlah
keadaan pasukan Muslim. Sementara itu debu-debu berterbangan di atas kepala pasukan
yang bertempur dan kaum Muslim
mencurahkan tenaga yang
keras dalam peperangan itu. Ketika dua pasukan saling bertemu
dan bertempur, Nabi saw melihat mereka, lalu
Nabi saw menyaksikan pasukannya terjepit.
Pasukan yang berjumlah sedikit dengan
persenjataan yang tidak
lengkap itu kini
ditekan oleh orang kafir. Dalam
keadaan demikian, Nabi
saw meminta pertolongan kepada Tuhannya: 'Ya
Allah, kirimkanlah bantuan
dan pertolongan-Mu. Ya
Allah, wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini
dihancurkan, maka Engkau tidak akan
disembah setelahnya di
muka bumi." Renungkanlah, bagaimana kesedihan Nabi saat
terjadi peperangan itu. Oleh kerana itu, kita dapat memahami mengapa Nabi saw
meminta agar pasukannya dimenangkan.
Pemimpin pasukan tertinggi
Muhammad bin Abdillah keluar berperang di jalan Allah SWT dan saat ini kematian
sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang difikirkan oleh Nabi saw pada
keadaan yang sulit tersebut? Pemikiran Nabi saw melebihi hal yang sekarang dan
menuju pada hal yang akan datang, dan yang menjadi fokus Nabi adalah
penyembahan Allah SWT di muka bumi: "Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan,
maka Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumi." Nabi tidak
terlalu mengkhuatirkan kehancuran kaum Muslim kerana Nabi
justrumengkhuatirkan sesuatu yang
lebih besar dari
itu. Yang beliau
khuatirkan adalah penyembahan kepada
Allah SWT akan
berhenti di muka
bumi. Oleh kerana itu, Nabi
meminta tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan kembali kepada Tuhannya
dan Allah SWT
lebih tahu dari
hal itu. Kemudian
turunlah bala tentera malaikat yang dipimpin oleh Jibril. Allah SWT
berfirman: "(Ingatlah),
ketika kamu memohon pertolongan kepada
Tuhanmu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu: 'Sesungguhnya Aku
akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut.
' Dan Allah tidak menjadikannya
(mengirim bantuan itu), melainkan sebagai khabar gembira dan
agar hatimu menjadi
tenteram kerananya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Anfal: 9-10)
Setelah itu Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar dan berkata: "Sampaikan
berita gembira wahai
Abu Bakar, sesungguhnya telah
datang kepadamu bantuan dari
Allah SWT." Turunnya para malaikat merupakan cara untuk meneguhkan kaum
Muslim dan berita gembira kepada mereka. Mukjizat itu bukan terletak pada
penyertaan para malaikat dalam
peperangan, namun melalui
nas-nas ditegaskan bahawa peranan malaikat
tidak lebih dari
sekadar membawa berita
gembira dan memberikan dukungan
moril serta memenuhi
hati dengan ketenangan.
Kami kira bahawa Allah SWT ingin agar para malaikat menyaksikan
manusia-manusia malaikat yang mempertahankan akidah tauhid. Demikianlah Allah
SWT mewahyukan kepada
malaikat bahawa Dia
bersama mereka. Oleh kerana itu, hendaklah orang-orang yang beriman
merasa tenang dan kebenaran akan tertancap pada hati mereka sedangkan orang-orang
kafir pasti akan merasakan ketakutan. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para
malaikat: 'Sesungguhnya
Aku bersama kamu,
maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah
beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam
hati orang-orang kafir,
maka penggallah kepala
mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung
jari mereka. (Ketentuan) yang
demikian itu adalah kerana
sesungguhnya mereka menentang
Allah dan Rasul-Nya;
dan barang siapa menentang
Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya Allah amat keras
seksaan-Nya. Itulah (hukum
dunia yang ditimpakan
atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang
kafir itu ada (lagi) azab neraka." (QS. al-Anfal: 12-14) Lalu orang-orang kafir
pun mengalami kekalahan. Setelah
peperangan itu,
terbunuhlah tujuh puluh
kafir dan tujuh
puluh tawanan dari
mereka dan sebahagian pasukan
melarikan diri. Runtuhlah
tokoh-tokoh kebencian dan kelaliman di peperangan tersebut.
Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin pasukan, dan pahlawan-pahlawan Mekah kini
terkapar. Rasulullah saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-orang kafir dan
berkata: "Wahai Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, wahai Umayah
bin Khalf, wahai Abu Jahal
bin Hisam, apakah
kalian menemukan apa
yang dijanjikan oleh tuhan
kalian kepada kalian.
Sungguh aku telah
menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku." Orang-orang Muslim
berkata: "Ya Rasulullah,
apakah engkau memanggil kaum
yang sudah mati?"
Rasulullah berkata: "Kalian tidak mengetahui apa yang aku katakan kepada
mereka, tetapi mereka tidak mampu menjawab perkataanku." Rasulullah saw
tinggal tiga malam di Badar kemudian beliau kembali ke Madinah.
Perang Uhud
Di depan beliau terdapat
tawanan-tawanan perang dan ganimah. Kaum
Muslim sangat menanggung beban
berat dengan banyaknya
tawanan perang. Mula-mula Rasulullah saw bermusyawarah dengan sahabat
Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah
keturunan dari saudara-saudara dan keluarga, dan aku melihat lebih baik engkau
mengambil fidyah (tebusan) dari
mereka sehingga apa
yang engkau ambil
tersebut merupakan
kekuatan bagi kita
terhadap orang-orang kafir,
dan mudah-mudahan Allah SWT memberi petunjuk kepada mereka sehingga
mereka menjadi tulang punggung kita.
" Kemudian Rasulullah
saw menoleh kepada Umar
bin Khattab sambil
berkata, "bagaimana pendapatmu wahai Ibnul Khattab?" Lelaki
itu berkata: "Demi Allah, aku
tidak sependapat dengan
apa yang dikatakan
Abu Bakar tetapi
aku berpendapat, seandainya aku
mampu untuk bertemu
dengan salah seorang kerabatku, maka
aku akan memukul
lehernya, dan seandainya
Ali mampubertemu dengan
keluarganya, maka ia
pun akan memukul
lehernya begitu Hamzah sehingga
Allah SWT mengetahui bahawa
tidak ada di
hati kita kelembutan kepada kaum
musyrik." Pasukan Madinah dan
pasukan Mekah terdiri
dari keluarga-keluarga yang terikat hubungan
kekerabatan, namun kehendak Allah
SWT menetapkan terjadinya
peperangan sesama keluarga: antara anak dan orang tuanya. Umar menginginkan agar
keadaan demikian terus
berlanjut sehingga orang-orang musyrik mengetahui bahawa Islam
tidak ingin berdamai.
Kemudian Selesailah urusan itu dan
terjadi peperangan di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata dan berperang
adalah suatu kewajipan yang tiada keraguan di dalamnya. Nabi saw menoleh
kepada kaum Muslim
dan mendapati sebahagian
besar mereka cenderung kepada
pendapat Abu Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat majoriti saat itu. Pendapat
majoriti salah dan hanya Umar yang benar. Ini adalah peperangan pertama yang
dilalui oleh Islam. Hendaklah kaum Muslim harus meninggalkan dorongan
kemanusiaan mereka, yakni
orang- orang kafir harus
dibunuh agar musuh-musuh
Allah SWT mengetahui
bahawa Islam telah memilih darah. Allah SWT telah
mendukung Umar bin Khattab dalam Al-Qur'an sehingga Nabi
saw dan Abu
Bakar menangis ketika
keduanya menyedari kesalahan
mereka pada hari berikutnya, lalu Umar memergoki mereka dalam keadaan menangis
dan ia bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan temannya di gua
menangis?" Kemudian Rasulullah saw membaca Al-Qur'an: "Tidak patut
bagi seorang Nabi
mempunyai tawanan sebelum
ia dapat melumpuhkan musuhnya
di muka bumi.
Kamu menghendaki harta
benda duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu). Dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah
terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana tebusan
yang kamu ambil." (QS. al-Anfal: 67-68) Kedua ayat itu mengatakan bahawa
ini bukan saatnya melindungi para tawanan dan
berusaha untuk menebus
mereka. Waktu Demikian
belum saatnya. Nabi tidak
berhak memiliki tawanan
kecuali jika ia
telah melakukan banyak peperangan dan banyak berjihad dan
telah banyak membunuh dan dakwahnya telah mapan. Kedua ayat
tersebut menyingkap tujuan
di balik penebusan
tawanan: "Kamumenghendaki harta
benda duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu)." Demikianlah pemikiran yang mempertimbangkan keadaan-keadaan
aktual yang sulit.
Itu
adalah pemikiran yang
bersifat taktik sebagaimana yang
kita ungkapkan dalam istilah moden dan bukan pemikiran yang bersifat
strategis. Kemudian para tawanan tersebut bukan tawanan biasa tetapi menurut
istilah moden mereka adalah
penjahat-penjahat
perang. Oleh kerana
itu, nyawa mereka harus
ditumpahkan saat mereka
dapat ditangkap, meskipun
mereka memiliki kekayaan yang
banyak atau kedudukan
yang tinggi. Islam
tidak mengakui kekayaan atau
kedudukan, yang diakuinya
adalah keimanan, sedangkan pertimbangan-pertimbangan duniawi
lainnya tidak dihiraukan
oleh Islam. Nas Al-Qur'an memperingatkan orang-orang
yang menang bahawa
kesalahan mereka bisa berakibat
pada datangnya seksaan
yang bakal mereka
terima tetapi Allah SWT
mengampuni mereka dan
menurunkan rahmat-Nya: "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan
yang telah terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana
tebusan yang kamu ambil." Seksaan tersebut
memang lebih dekat
daripada pohon yang
dekat ini, kemudian Allah
SWT mengampuni mereka dan
Allah SWT mengampuni sahabat-sahabat yang
terjun di perang
Badar, baik dosa
yang lalu mahupun dosa mereka
yang akan datang.
Demikianlah Al-Qur'an ingin
mendidik kaum Muslim agar
mereka tidak banyak
mempertimbangkan urusan manusiawi saat berperang. Jadi, Islam
memulai peperangannya yaitu peperangan yang hanya ditujukan kepada
Allah SWT dan
hendaklah peperangan tersebut
dihilangkan dari
pertimbangan-pertimbangan
yang sulit sehingga
sahabat-sahabat Nabi mengetahui bahawa kecenderungan kepada kesenangan duniawi akan berakibat pada kekalahan mereka.
Dalam peperangan Uhud
jumlah kaum musyrik
tiga ribu sedangkan
jumlah kaum Muslim tiga
ratus pasukan setelah
pemimpin orang-orang munafik Abdullah bin Saba' mengundurkan diri
pasukan. Kaum Muslim
diletakkan di gunung dan
Rasulullah saw membuat
rencana yang jitu
untuk memenangkan
pertempuran di mana
beliau membagi pasukan
pemanah di puncak
gunung untuk melindungi punggung kaum Muslim dan melindungi mereka dari
serangan dari arah belakang.
Rasulullah saw memberi pengertian kepada
pasukan panah itu agar mereka tetap di tempatnya baik kaum Muslim menang
mahupun kalah. Yakni bahawa pasukan
pemanah tidak boleh
turun dari gunung
dan meskiberusaha untuk
melindungi kaum Muslim.
Rasulullah saw berkata
kepada mereka. "lindungilah punggung-punggung kami.
Jika kalian melihat
kami sedang bertempur, maka
kalian tidak usah
turun darinya dan
tidak usah menolong kami,
dan jika kalian
melihat kami memperoleh
kemenangan dan mengambil
ganimah, maka kalian tidak boleh ikut serta bersama kami." Setelah membuat
keputusan tersebut, Rasulullah saw kembali ke pasukan yang lain, lalu
beliau membikin suatu
rencana untuk menyerang.
Dan Dimulailah peperangan kemudian
pasukan Islam mendorong pasukan musyrik laksana angin yang kencang
yang memporak-porandakan ribuan
kaum musyrik. Pada
tahap pertama pasukan Islam tampak menguasai medan dan berhasil menyapu
kaum musyrik sehingga pasukan Mekah tampak berputus asa meskipun mereka unggul
secara bilangan dan
meskipun mereka memiliki
kekuatan persenjataan yang lengkap, pasukan Mekah justru
dikejutkan dengan ketangguhan pasukan Muslim yang dapat
memukul mundur mereka
hingga mereka membayangkan bahawa mereka tidak
dapat memenangkan peperangan atau
dapat bertahan di hadapan pasukan Muslim. Debu-debu peperangan mulai
berterbangan yang menyertai
tanda-tanda kekalahan
pasukan Mekah. Sementara itu,
para pemanah yang
diletakkan Rasulullah saw di
suatu tempat yang
strategis berfikir untuk
memperoleh ganimah. Pasukan Mekah
telah kalah dan
mereka telah melarikan
diri dari pasukan Muslim, maka
bagaimana seandainya para pemanah turun dari tempat mereka untuk
mengumpulkan harta rampasan
dan ganimah. Rasulullah
saw telah mengingatkan mereka
agar jangan meninggalkan tempat
mereka, apa pun yang terjadi
tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan menentang perintah Nabi
saw setelah mereka
membayangkan bahawa peperangan
telah selesai dan keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang
beriman. Pasukan pemanah mengira bahawa Allah SWT akan menutupi kesalahan
mereka dan akan melindungi mereka
sehingga mereka berhasil
mengambil harta rampasan dan
ganimah. Sungguh keikhlasan telah tercabut dari hati sebahagian pasukan.
Belum lama hal tersebut berlangsung sehingga
terjadilah perubahan yang drastik pada
peperangan. Pemimpin pasukan
berkuda musyrik dalam peperangan Uhud
yaitu Khalid bin
Walid yang kemudian
ia menjadi tokoh Muslim adalah orang yang sangat genius
dalam peperangan. Begitu ia melihat pasukan pemanah lari dari tempat mereka,
maka ia melihat celah yang terbuka di
tengah-tengah kaum Muslim,
sehingga ia segera
memutarkan kudanya dan disertai pasukan yang mengikutinya.
Kemudian ia menyerang kaum Muslim dari belakang. Serangan yang
dilakukan Khalid itu
sangat cepat dan
sangat mengejutkan. Orang-orang musyrik mengambil kesempatan emas.
Mereka yang tadinya lari, kini mereka menarik diri dan justru menyerang
kembali.
Pasukan Muslim
dikepung dari dua
arah oleh pasukan
berkuda: satu dari belakang dan
yang lain dari
depan. Kemudian berjatuhanlah korban-
korban dari pasukan Muhammad
bin Abdillah. Banyak
di antara mereka
yang mati sebagai syahid saat
mempertahankan dan melindungi Rasulullah saw, bahkan sang Nabi
pun hidungnya terluka dan giginya pun runtuh dan kepala beliau yang mulia
terluka sehingga beliau mengucurkan darah. Kemudian tersebarlah isu
bahawa Muhammad saw
telah meninggal. Ketika mendengar itu, kaum Muslim sangat
terpukul dan sangat sedih sehingga kaum Muslim pun
terpecah-pecah.
Sebahagian mereka kembali
ke Mekah dan sekelompok yang lain ke atas gunung dan
mereka tetap menjaga Nabi saw yang mulia.
Ketika mendengar kematian
Nabi, Anas bin
Nadhir berkata kepada kaumnya: "Bangkitlah kalian dan
matilah seperti kematiannya. Apa yang kalian lakukan setelah kalian hidup
sesudahnya." Pasukan Muslim tetap bertahan dan melakukan peperangan, lalu
tekanan kaum musyrik semakin berat
kepada Nabi saw dan
para sahabatnya. Kemudian terjadilah kejadian
yang paling sulit
dalam sejarah umat
Islam. Nabi saw berteriak saat
melihat kaum musyrik menekannya dan
berusaha membunuhnya:
"Barang siapa yang
dapat mengusir mereka
dariku, maka baginya
syurga." Mendengar
perkataan itu, kaum
Muslim segera mengitari
Nabi saw dan melindungi beliau
sehingga banyak dari
mereka berguguran sebagai
syahid. Bahkan
sahabat-sahabat Abu Juanah
melindungi Nabi saw
sampai- sampai punggungnya dipenuhi
dengan anak-anak panah.
Ia bagaikan baju
besi yang dipakai kepada Nabi
saw dan ia tetap kukuh melindungi Nabi saw. Kemudian berubahlah keadaan kerana
keteguhan dan keberanian yang diperlihatkan oleh kaum Muslim. Pasukan Mekah
merasa puas dan mereka memilih untuk menarik diri. Saat itu orang-orang Quraisy
tidak lebih sedikit penderitaannya daripada orang-orang Muslim. Setelah peperangan yang
dahsyat itu, kaum
musyrik menarik diri
setelah mereka berhasil membunuh
beberapa orang Muslim,
bahkan mereka berhasil melukai pemimpin pasukan yaitu sang
Nabi saw. Semua itu terjadi kerana satu kesalahan yaitu
kesalahan terletak pada
penentangan dan pembangkangan para pemanah
terhadap perintah sang
Rasul saw dan
usaha mereka untuk meninggalkan tempat mereka.
Ketika sebahagian kelompok dari
sahabat kehilangan pengorbanan dan kehilangan sikap
ikhlas dalam hati
mereka, maka kesalahan
tersebut harus dibayar oleh
tentera yang paling berani dan mulia di antara mereka yaitu sang Nabi saw.
Langit tidak ikut campur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu. Kesalahan kaum
Muslim itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah beliau pun terluka
bahkan keluar darah yang
cukup deras dari luka beliau
sehingga setiap kali dituangkan
air di atas
luka itu, maka
darah pun semakin
deras mengucur. Darah itu
tidak berhenti kecuali
setelah dibakarkan potongan tembikar lalu dilekatkan di
atasnya. Luka beliau bukan hanya bersifat materi tetapi luka spirituil beliau
dan rohani beliau pun semakin bertambah. Ini beliau rasakan ketika mendengar
bahawa pamannya Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak cukup dengan itu, bahkan
isteri Abu Sofyan
yaitu Hindun membelah perutnya dan
mengeluarkan jantungnya
serta mengunyahnya dengan mulutnya. Semua
itu semakin menambah kesedihan
sang Nabi. Kaum Quraisy menguasi
pasukan Muslim dan
mereka memperlakukan dan menekan kaum Muslim secara aniaya.
Seandainya bukan kerana rahmat Allah SWT
nescaya kaum Muslim
akan mengalami kekalahan
yang teruk. Kemudian turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim
ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim agar mereka benar-benar ikhlas
dan memahamkan mereka bahawa
kekalahan mereka sebagai akibat
dari adanya pasukan
di antara mereka
yang menginginkan
dunia meskipun di
antara mereka ada
sebahagian yang
menginginkan akhirat. Jika
terjadi demikian, maka
tidak ada jalan
untuk memperoleh
kemenangan. Ini bukanlah
hal yang diinginkan oleh
pasukan Muslim, yang diharapkan adalah
hendaklah semua pasukan
tertuju untuk mencapai ridha Allah
SWT dan hanya
mengharapkan akhirat.
Jika demikian halnya, maka Allah SWT akan memberi
mereka dunia dan akhirat. Allah
SWT berfirman dan
menceritakan peperangan Uhud
dalam surah Ali 'Imran: "Di antaramu ada
orang yang menghendaki
dunia dan di
antara kamu ada orang
yang menghendaki akhirat.
Kemudian Allah memalingkan
kamu dari mereka untuk
menguji kamu; dan
sesungguhnya Allah telah
memaafkan kamu. Dan Allah
mempunyai kurnia (yang
dilimpahkan) atas orang-orangyang beriman." (QS. Ali
'Imran:: 152) Allah SWT memaafkan
hal itu.
Peristiwa setelah perang Uhud
Orang-orang
Muslim kini menghitung
jumlah korban mereka dan
mengubati orang-orang yang
terluka. Rasulullah saw bertanya tentang
pamannya Hamzah, dan
ketika beliau mendapatinya di tengah-tengah sahabat
yang gugur, dan
orang-orang kafir telah
merosak jasadnya, maka beliau
berkata dalam keadaan
menangis: "Tidak akan
ada orang yang akan tertimpa sepertimu selama- lamanya." Kemudian
Nabi saw berdiri dan memuji Allah SWT lalu beliau memerintahkan untuk
mengembalikan orang-orang yang terbunuh dari kaum Muslim ke tempat asal mereka
di mana mereka
terbunuh. Saat itu
keluarga mereka telah membawanya ke
kuburan kemudian Nabi
saw mengumpulkan kedua
orang laki-laki dari pahlawan-pahlawan Uhud dalam satu pakaian dan
beliau bertanya siapa di antara
keduanya yang paling
banyak mengambil manfaat
dari Al-Qur'an. Jika diisyaratkan kepada
salah satunya, maka
beliau akan mendahulukannya
untuk dimasukkan dalam liang lahad. Rasulullah
saw juga memerintahkan agar
mereka dikebumikan dengan
darah mereka dan beliau
pun tidak mensolati
mereka, serta tidak
memandikan mereka.
Allah SWT
ingin memperlihatkan bagaimana
mereka dibangkitkan pada hari
kiamat lalu beliau bersabda: "Tiada seorang pun yang terluka di jalan
Allah SWT kecuali Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan
di mana Iukanya
akan mengucur darah.
Warna itu adalah
warna darah dan baunya seperti minyak misik."
Bukanlah penderitaan yang
dalam yang merupakan pelajaran yang
harus dimengerti kaum Muslim
dari peperangan Uhud
sebagai akibat dari pembangkangan mereka
dari perintah Rasul
saw dan ketidaktaatan mereka kepadanya, tetapi wahyu juga
menurunkan berbagai pelajaran yang lain yang dapat dimanfaatkan. Pelajaran
yang terpenting setelah
pelajaran kesetiaan adalah
penjelasan tentang sentral utama yang di situ kaum Muslim berkumpul. Peribadi
Rasulullah saw bukanlah markas yang di situ kaum Muslim berkumpul yang ketika
peribadi Rasulullah saw yang mulia pergi kerana satu dan lain hal, maka orang-orang Muslim
akan pergi dan
meninggalkan beliau. Tidak seharusnya peribadi
Rasul saw menjadi
markas atau sentral
tetapi yang menjadi sentral
dari semuanya adalah
pemikiran beliau. Itulah
yang paling penting.
Demikianlah bahawa Al-Qur'an
al-Karim mencela orang-orang yang meletakkan senjatanya ketika
tersebar isu terbunuhnya Nabi
saw. Islam tidak
akan mencapai puncaknya ketika kaum Muslim berkumpul di sisi Rasulullah
saw saat beliau masih hidup
namun ketika beliau
terbunuh atau mati,
maka mereka murtad di
mana mereka membuang senjatanya dan
pergi mengurusi diri mereka sendiri. Orang-orang Islam
adalah orang- orang yang mengikuti prinsip bukan mengikuti peribadi. Muhammad
bin Abdillah memang seorang pemimpin manusia
dan Imam para
rasul dan penutup
para nabi, dan
sebagai makhluk Allah SWT
yang paling mulia,
namun ini semua
tidak membenarkan bahawa seorang Muslim diperbolehkan untuk
meletakkan senjatanya ketika Rasul saw wafat
atau terbunuh. Hendaklah
seorang Muslim memanggul
senjatanya dan tidak membuang
dari tangannya kecuali dalam dua keadaan: pertama ketika ia telah memperoleh
kemenangan dan kedua ketika ia telah mati. Nas
Al-Qur'an menjelaskan secara
gamblang hubungan kaum
Muslim dengan akidah Islam,
bukan dengan peribadi sang Rasul saw.
Allah SWT berfirman:
"Muhammad itu tidak
lain hanyalah seorang
Rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang
rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (murtad)? Barang
siapa yang berbalik
ke belakang, maha ia tidak dapat
mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali 'Imran: 144) Demikianlah
bahawa peperangan Uhud telah membawa dampak yang luar biasa terhadap kaum
Muslim, utamanya terhadap Nabi
saw. Orang-orang yang terbunuh di perang Uhud adalah
sahabat-sahabat yang paling mulia dan paling banyak imannya. Mereka adalah
pilihan dari orang-orang Muslim yang pertama; mereka memikul
beban dakwah di
saat-saat yang sulit
bahkan mereka harus berhadapan dan memusuhi kerabat mereka
dan teman-teman mereka; mereka menjadi
terasing saat menyatakan keislaman mereka
sebelum hijrah dan sesudahnya; mereka telah menginfakkan
harta; mereka berjuang di jalan Allah SWT; mereka telah bersabar dalam
menanggung berbagai macam penderitaan, dan
ketika datang saat
yang paling berbahaya
dan pasukan Islam
telah terkepung di mana jiwa Rasul saw telah terancam, mereka justru
mencurahkan darah mereka bagaikan
lautan yang menenggelamkan orang-orang
kafir dan mereka mampu
melindungi sang Rasul
saw dan mengubah
jalan peperangan serta
menyelamatkan akidah tauhid. Peperangan
Uhud bukanlah pengorbanan
pertama yang dilakukan
oleh kaumMuslim dan
bukanlah merupakan peperangan
yang terakhir. Ia
adalah satu peperangan di antara
cukup banyak peperangan yang dilalui oleh Islam untuk menyebarkan kalimat Allah
SWT di muka
bumi dan membimbing hamba-hamba-Nya. Begitu juga
pengorbanan Rasul saw, dan peperangan Uhud bukanlah pengorbanan yang
pertama terhadap Islam
dan bukan juga
yang terakhir.
Perjuangan Para Sahabat dalam
menyebarkan agama islam
Rasulullah saw telah hidup setelah
diutusnya kepada manusia di mana beliau telah memberikan semuanya untuk
kehidupan dan untuk dakwah; beliau tidak
memiliki dirinya sendiri;
beliau tidak memboroskan
waktunya dengan sia-sia bahkan
beliau beristirahat sedikit
saja. Semua kehidupan
beliau diberikan kepada dakwah dan untuk Islam. Beliau menjalani
berbagai macam peperangan dan beliau memikul berbagai macam penderitaan dan
belum lama beliau lari dari suatu masalah kecuali beliau berhadapan dengan
masalah yang baru dan lain;
belum lama beliau
menyelesaikan suatu krisis
kecuali beliau menghadapi krisis
yang lain. Demikianlah
kehidupan sang Nabi
saw di mana beliau selalu
memberikan kontribusi dan
sumbangannya demi kepentingan agama Allah SWT. Silakan Anda
mengamati kehidupan sang Rasul saw dari sudut manapun yang Anda inginkan
nescaya Anda tidak
akan menemukan sudut
dari sudut-sudut kehidupan
beliau kecuali dimulai dan dipenuhi dengan pergelutan yang hebat.
Rasulullah saw telah
melalui pergelutan militer
dalam berbagai macam pertempuran yang
silih berganti yang
beliau lakukan. Beliau
memulai pergelutan
politiknya yang terwujud
dalam perundingan-perundingan dan surat-surat yang
beliau kirimkan kepada
penguasa dan para
raja di berbagai negara agar mereka memeluk Islam,
bahkan beliau melakukan pergelutannya dalam
masalah peribadi di
rumah tangga.
Rumah
tangga beliau pun
tidak kosong dari pergelutan.
Beliau adalah pejuang
sejati dalam setiap
waktu. Kalau kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai seorang musafir di jalan
Allah SWT, maka Muhammad bin
Abdillah adalah seorang
pejuang di jalan
Allah SWT. Belum lama peperangan
Uhud berakhir sehingga pengaruh-pengaruh buruknya berbekas pada
kaum Muslim. Orang-orang
Arab Badwi mulai
berani bersikap kurang ajar
kepada mereka, demikian juga
orang-orang Yahudi, apalagi orang-orang munafik
dan tidak ketinggalan orang-orang Quraisy
pun mulai menyudutkan kaum
Muslim. Kemudian datanglah utusan
dari kabilah Arab
kepada Rasul saw
dan mereka mengatakan kepada beliau
bahawa mereka mendengar tentang
Islam dan mereka ingin
memeluknya, maka hendaklah
beliau mengutus kepada
mereka beberapa dai dan
mubaligh untuk mengajari mereka
tentang dasar-dasaragama. Nabi
saw mengutus bersama
mereka sekelompok para
dai yang dipimpin oleh 'Ashim
bin Tsabit. Ternyata orang-orang itu berkhianat atas para sahabat-sahabat yang
berdakwah itu dan mereka pun dibunuh. Bahkan tiga di antara mereka ditawan dan
dijual di Mekah. Dijualnya mereka di Mekah bererti mereka diserahkan pada
kelompok orang-orang Quraisy
yang telah lama menunggu untuk
menangkap kaum Muslim.
Kaum Quraisy Mekah
membunuh tiga tawanan kaum
Muslim itu. Orang-orang
Muslim sangat sedih
mendengar dai-dai Allah SWT itu terbunuh dengan cara yang begitu tragis.
Ketika datang kepada
Nabi saw orang-orang yang
minta pada beliau
agar dikirim utusan dari
kalangan mubaligh untuk
menyebarkan Islam untuk
para kabilah kaum Najd, maka Nabi kali ini betul-betul mempertimbangkan
antara kepentingan menyebarkan Islam
dan perlindungan terhadap kehormatan manusia. Lalu
beliau memilih untuk
kepentingan dakwah Islam.
Beliau menyedari bahawa beliau
mengutus para sahabatnya
dalam bahaya; beliau memberitahu mereka
bahawa mereka akan
menghadapi suatu keadaan
yang misteri yang tiada mengetahuinya kecuali Allah SWT. Namun bahaya
tersebut sudah menjadi bahagian dari cita rasa kehidupan yang selalu meliputi
dakwah Islam. Ketika Nabi saw mengutarakan kekhuatirannya terhadap para
sahabatnya yang bakal diutusnya di tengah kabilah itu, orang-orang yang meminta
beliau untuk mengutus para sahabatnya menyakinkan beliau
bahawa mereka akan melindungi sahabat
beliau.
Kemudian Nabi
saw memerintahkan tujuh
puluh orang pilihan dari sahabatnya untuk pergi dan berjihad di jalan
Allah SWT serta mengajak manusia untuk
mengikuti Islam. Lalu
pergilah para sahabat
yang kemudian dikenal dengan
sebutan al-Qurra' (yaitu
orang-orang yang pandai membaca Al-Qur'an dan menghafalnya).
Mereka adalah para dai yang terbaik yang diutus Nabi di mana pada siang hari
mereka memikul kayu bakar dan pada malam
hari mereka sibuk
dalam keadaan solat.
Ketika datang perintah Rasulullah saw kepada mereka untuk
pergi dan berdakwah mereka pun pergi dalam
keadaan gembira kerana
mereka diajak untuk
berjihad di jalan
Allah SWT. Mereka melangkahkan kaki dengan mantap di tanah orang-orang
munafik dan para pengkhianat sehingga mereka sampai di suatu sumur yang bernama
sumur Ma'unah. Kemudian
mereka mengutus salah
seorang di antara
mereka untuk menemui pemimpin orang-orang kafir
di negeri itu.
Mubaligh dari sahabat
Rasulullah saw itu menyampaikan surat Nabi yang dibawanya di mana beliau
mengharapkan agar masyarakat di situ masuk Islam, tetapi ia dikejutkan dengan
adanya pisau yang menembus punggungnya. Mubaligh itu berteriak saat ia
tersungkur: "sungguh aku beruntung demi Tuhan pemelihara Ka'bah."
Kemudian pemimpin orang-orang kafir
itu mengangkat senjata dan mengumpulkan para
kabilah untuk memerangi
para mubaligh di
jalan Allah SWT itu sehingga
sahabat-sahabat terbaik yang berdakwah di jalan Allah SWT itu pun
gugur di sumur
Ma'unah. Jasad-jasad mereka
menjadi makanan dari burung nasar dan burung-burung yang
lain. Dari tujuh puluh orang yang dikirim itu
hanya seorang yang
selamat yang kembali
kepada Nabi saw.
Ia menceritakan apa yang dialami oleh fuqaha-fuqaha Muslimin di mana
mereka dikhianati. Ketika mendengar berita tentang tragedi itu, Nabi sangat
terpukul dan sedih. Kemudian
beliau mengangkat kepalanya dan
berkata kepada
sahabat-sahabatnya:
"Sungguh
sahabat-sahabat kalian telah
terbunuh dan mereka telah
meminta kepada Tuhan
mereka. Mereka mengatakan, Tuhan kami, berikanlah
kami ujian sesuai
dengan kehendak-Mu dan
ridha-Mu. Apa saja yang menjadi
kepuasan-Mu kami pun akan merasakan kepuasan." Sungguh penderitaan
yang dialami oleh
Islam sangat berat,
terutama yang menimpa para
sahabat yang gugur sebagai syahid di sumur Ma'unah. Nabi saw sangat sedih
mendengar sikap orang-orang Arab
dan orang- orang
kafir terhadap Islam. Mereka
telah mengejek dan
merendahkan kaum mukmin sampai pada batas ini. Kemudian
beliau menetapkan akan kembali mengangkat kewibawaan Islam dengan tindak
kekerasan.
Perang Kaum muslimin melawan
Kaum Yahudi
Dalam keadaan seperti ini,
bergeraklah orang-orang Yahudi untuk membunuh Rasulullah saw.
Pada suatu hari
beliau pergi ke
Bani Nadhir untuk menyelesaikan suatu
urusan. Kemudian mula-mula mereka
menampakkan persetujuan
atas apa yang
diucapkan beliau. Mereka
mendudukkan Nabi di bawah
naungan benteng-benteng mereka, lalu
mereka bersekongkol untuk melenyapkan beliau; mereka
menetapkan untuk melemparkan batu yang berat dari atas
benteng itu saat
beliau duduk dan
tidak membayangkan akan terjadinya kejahatan yang
direncanakan padanya. Namun
Allah SWT mengilhami Rasul-Nya akan
datangnya bahaya kepada
beliau, lalu beliau bangun sebelum
pelaksanaan tipu daya
itu. Lalu beliau
segera pergi menuju rumahnya. Beliau berfikir saat beliau
kembali ke rumahnya dengan membawa penderitaan yang
baru. Pembangkangan dan
pengkhianatan tersebut tidak akan dapat berhenti kecuali setelah
Islam menunjukkan taringnya.
Islam ingin mengembalikan
kewibawaannya dengan cara mengangkat senjata. Rasul saw mengutus utusan ke Bani
Nadhir dan memerintahkan mereka untuk keluar dari Madinah, bahkan Rasul saw
memberi waktu kepada mereka hanya sepuluh
hari. Kemudian orang-orang
munafik yang ada
di Madinah bersatubersama orang-orang Yahudi
dan mereka sepakat
untuk memerangi Islam. Namun ketika
berhadapan dengan Islam,
orang-orang Yahudi menelan kekalahan. Kemudian
turunlah surah al-Hasyr
yang menyebutkan pengusiran orang-orang Yahudi
dan menyingkap kedok
orang-orang munafik. Setelah kemenangan yang meyakinkan ini,
Rasul saw keluar bersama sahabatnya untuk membalas kejadian
yang menimpa sahabat-sahabatnya yang
dikenal dengan al-Qurra' itu.
Rasul saw ingin
mengembalikan kewibawaan Islam.
Kemudian pasukan Rasul saw
itu mampu membuat
para pengkhianat dari
orang-orang Arab
ketakutan. Hanya sekadar
mendengar nama pasukan
Muslim, maka serigala-serigala
gurun yang dulu bengis itu pun ketakutan laksana tikus-tikus yang panik
yang bersembunyi di
bawah lubang-lubang gunung.
Orang-orang Quraisy mendengar kegiatan pasukan Islam.
Fitnah Kaum Kafir terhadap Nabi
Muhammad SAW
Pasukan Quraisy menarik diri saat
mereka mendekati Dahran, sementara pasukan Muslim berada di Badar. Mereka
menunggu pertemuan yang
disepakati di Uhud.
Orang-orang Muslim
menyala-kan api selama delapan hari sebagai bentuk tantangan dan menunggu
kedatangan kaum kafir sehingga ketika mereka (kaum kafir) telah pergi, maka
citra kaum Muslim pun terangkat setelah mereka menerima kepahitan dalam
peperangan Uhud. Kaum Muslim menoleh
ke arah utara
jazirah Arab setelah
menetapkan kewibawaan
mereka di selatan.
Kabilah di sekitar
Daumatul Jandal dekat dengan Syam merampok di tengah jalan
dan merampas kafilah yang berlalu di situ,
bahkan kenekatan mereka
sampai pada batas
di mana mereka
berfikir untuk menyerbu Madinah.
Oleh kerana itu,
Rasulullah saw keluar
bersama seribu orang Muslim yang mereka bersembunyi di waktu siang dan
berjalan di waktu malam, sehingga
setelah lima belas
malam beliau sampai
ke tempat yang dekat
dengan tempat tinggal
musuh-musuh mereka lalu
mereka menggerebek tempat itu.
Pasukan
kafir itu dikejutkan
dengan kedatangan kaum Muslim
yang begitu cepat. Kita akan mengetahui
bahawa alat komunikasi
yang dimiliki oleh
Rasulullah saw sangat unggul
sebagaimana alat pertahanan
beliau pun sangat
unggul. Serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah saw
menunjukkan bahawa mereka memiliki pertahanan yang luar biasa. Sistem
pertahanan yang luar biasa sebagaimana kedatangan pasukan
yang secara tiba-tiba
itu menunjukkan kemampuan pasukan Islam untuk menyusup. Demikianlah, terjadilah
hari-hari pertempuran militer.
Belum lama
Nabi saw meletakkan baju
besinya, dan beliau
kembali membangun peribadi kaum Muslim
sehingga beliau terpaksa
kembali memakai baju
besinya dan kembaliberperang. Ketika
musuh-musuh Islam yang
berada di sekelilingnya melihat bahawa kemampuan militer mereka
tidak dapat menandingi kemampuan kaum Muslim,
maka mereka sengaja
melakukan cara-cara baru
untuk memerangi Islam. Yaitu
peperangan psikologi atau
peperangan urat saraf
dengan cara menyebarkan berbagai
macam isu atau apa yang dinamakan Al-Qur'an al-Karim dengan peristiwa al-Ifik
(kebohongan). Setelah peperangan Bani
Musthaliq yaitu peperangan yang membawa kemenangan yang cepat bagi kaum
Muslim, terjadilah kesalahfahaman dan
pertengkaran di antara
sahabat-sahabat yang biasa mengambil
air di mana
salah seorang mereka
berteriak: "wahai kaum Muhajirin," dan yang lain
berteriak: "Wahai kaum Anshar." Peristiwa yang
sangat sepele itu
dimanfaatkan oleh pemimpin
kaum munafik yaitu Abdullah bin
Ubai. Abdullah bin Ubai memprovokasi orang- orang Anshar untuk menyerang
kaum Muhajirin. Ia
ingin membangkitkan luka-luka
jahiliah yang lama yang
telah dibuang dan
telah dikubur oleh
Islam, Salah satu yang dikatakan oleh
Ibnu Ubai adalah,
"sungguh mereka telah
menyaingi kita dan mengambil kebaikan dari
dan seandainya kita
telah kembali ke
Madinah nescaya orang-orang yang mulai akan dapat mengusir orang-orang
yang hina di dalamnya." Zaid
bin Arqam menyampaikan kalimat
si munafik itu
kepada Nabi saw,
di mana kalimat itu
berisi provokasi terhadap orang-orang Anshar
untuk menyerang kaum Muhajirin.
Ubai menginginkan agar
mereka berpecah belah dan agar kesatuan mereka runtuh. Si
Munafik itu segera datang kepada Rasul saw dan menafikan apa yang dikatakannya.
Orang-orang Muslim secara lahiriah membenarkan perkataan si munafik itu dan
mereka justru menuduh Zaid bin Arqam
salah mendengar. Tetapi
hakikat peristiwa itu
tidak tersembunyi dari Nabi
saw sehingga peristiwa
itu sangat menyedihkan beliau. Lalu
beliau mengeluarkan
perintah agar para
sahabat pergi ke
suatu tempat yang
tidak biasanya mereka lalui.
Kemudian beliau pergi
bersama sahabat di
hari itu sampai waktu malam
menyelimuti mereka. Dan kini, mereka memasuki waktu pagi. Kepergian
yang singkat dan
tiba-tiba itu mampu
menepis kebohongan yang dirancang
oleh si Munafik,
Abdullah bin Ubai.
Yaitu kebohongan yang bertujuan untuk
membakar persatuan kaum
Muslim ketika ia
berusaha untuk menyalakan api di
tengah-tengah rumah sang Nabi saw. Ketika
Nabi masih memiliki
kekuatan yang menakutkan
bagi yang mencuba melawannya, maka mereka pun
melakukan berbagai penipuan dan, makar. Dan salah satu yang menjadi objek tipu
daya itu adalah isteri beliau, yaitu Aisyah. Alkisah, Aisyah pada suatu hari
pergi untuk memenuhi hajatnya lalu dilehernya
terdapat anting-anting. Setelah
ia memenuhi hajatnya, anting-anting itu terjatuh dari
lehernya dan ia
tidak mengetahui. Ketika
Aisyah kembali dari kafilah yang telah siap-siap untuk
pergi, ia kembali mencari kalungnya sampai ia menemukannya. Sementara itu
orang-orang yang membawanya dalam tandu (haudaj) mengira Aisyah sudah berada di
dalamnya. Mereka tidak ragu dalam hal itu kerana memang berat badan Aisyah
sangat ringan. Pasukan Nabi berjalan
dan membawa tandu,
sedangkan Aisyah tidak
ada di dalamnya. Aisyah kembali
dan tidak mendapati pasukan di mana mereka telah pergi. Aisyah merasa hairan
atas kepergian pasukan yang begitu cepat. Aisyah merasa takut
saat ia berdiri
sendirian di padang
gurun. Aisyah berusaha bersikap baik, ia duduk di
tempatnya di mana di situlah untanya duduk juga. Aisyah melipat-lipat pakaiannya
sambil berkata dalam
dirinya: Mereka akan mengetahui bahawa aku
tidak ada dan
kerana itu mereka
akan kembali mencariku dan akan
menemukan aku. Sementara itu,
Sofwan bin Mu'athal
juga tertinggal kerana
ia melakukan keperluannya. Ia
berjalan dari arah yang jauh lalu ia melihat bayangan orang yang tidak begitu
jelas. Sofwan mendekat dan tiba-tiba ia mengetahui bahawa ia sedang berdiri di
hadapan Aisyah. Ia melihat Aisyah sebelum diwajibkannya perintah memakai
hijab (jilbab) atas
isteri-isteri Nabi. Ketika
melihatnya, Sofwan berkata: "Sesungguhnya kita milik Allah SWT dan
kepadanya kita akan kembali,... isteri Rasulullah Aisyah tidak menjawab. Sofwan
mundur dan mendekatkan untanya kepadanya sambil berkata: "Silakan
Anda menaikinya." Aisyah
pun menaikinya.
Kemudian Sofwan
membawanya pergi dan mencari
pasukan yang telah
meninggalkannya. Sementara itu, pasukan Nabi sedang beristirahat.
Para sahabat mengira bahawa Aisyah masih berada dalam tandu. Tiba-tiba mereka
terkejut ketika Aisyah datang kepada mereka bersama Sofwan yang menuntun
untanya. Tokoh munafik Abdullah bin Ubai segera memanfaatkan kesempatan emas
ini. Ia membuat kisah
bohong yang terkesan
menuduh isteri Nabi
melakukan pengkhianatan.
Abdullah bin Ubai
pandai memilih beberapa
sahabat yang dikenalinya sebagai orang-orang yang
mudah percaya dan
cenderung membenarkan
hal-hal yang bersifat
lahiriah, atau ia
mengetahui bahawa di antara
mereka dan Aisyah
terdapat kedengkian sehingga
mereka suka jika tersebar kebohongan yang berkenaan
dengan Aisyah.
Demikianlah pemimpin munafik itu
berhasil menjerat beberapa sahabat dalam tali
kebohongannya, di antaranya
Hasan bin Sabit.
Musthah, dan seorang wanita yang dipanggil Hamnah binti
Jahasv. yaitu saudara perempuan Zainab binti Jahasy isteri Rasulullah saw.
Ketiga orang itu tertipu dengan kebohongan tersebut lalu
mereka menyebarkannya sehingga orang-orang yang
terjerat dalam kebohongan itu mengatakan apa saja yang mereka inginkan.
Akhirnya. pasukan pun bergoncang dengan
isu itu. Sementara
itu, Aisyah tidak mengetahui sedikit
pun tentang hal
tersebut. Isu tersebut
bertujuan untuk menjatuhkan Islam
dan melukai perasaan
Rasullullah saw dan itu termasuk peperangan menentang Rasulullah saw
dan ajaran yang dibawanya. Begitu juga ia
bertujuan menunjukkan bahawa
kaum Muslim tidak
konsekuen dengan akidah yang
mereka yakini dan
secara tidak langsung
ia juga menyerang kesucian rumah tangga Aisyah.
Pasukan kembali ke Mekah dan Aisyah jatuh
sakit, namun ia tidak mengetahui isu-isu
yang dikatakan tentang
dirinya. Kemudian Rasulullah
saw mendengar hal itu
sebagaimana ayahnya Abu Bakar dan ibunya pun mendengarnya, namun tak seorang
pun di antara. mereka yang memberitahu Aisyah. Begitu juga Rasul saw tidak
menceritakan peristiwa itu di hadapan Aisyah. Namun sikap beliau berubah di
mana beliau tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti biasanya saat Aisyah
sakit. Ketika beliau menemui Aisyah dan saat itu ibunya ada di situ, beliau
berkata: "Bagaimana keadaanmu?" Beliau tidak lebih dari mengucapkan
kata-kata itu. Ketika
Aisyah melihat perubahan
sikap Rasul saw,
ia mulai marah. Pada suatu hari
ia berkata pada Nabi: "Seandainya engkau mengizinkan aku, nescaya aku akan
pindah ke tempat ibuku." Beliau menjawab: "Itu tidak ada
masalah." Aisyah pun pindah ke tempat ibunya dan ia tidak mengetahui sama
sekali apa yang sebenarnya terjadi padanya. Setelah melalui lebih dari dua
puluh malam, Aisyah sembuh dari
sakitnya dan ia
pun belum mengetahui hal-hal
yang dikatakan tentang dirinya. Umul mu'minin Aisyah menceritakan
bagaimana ia mengetahui isu bohong
tersebut dan bagaimana
Allah SWT membebaskannya dari isu itu, ia berkata:
"Kami adalah kaum
Arab di mana
kami tidak mengambil
di rumah kami tanggung jawab
ini yang biasa
di ambil oleh
orang-orang Ajam. Kami membencinya. Kami
keluar untuk menikmati
keluasan kota. Sementara
itu para wanita keluar
pada setiap malam
untuk memenuhi hajat
mereka. Pada suatu malam, aku
keluar bersama Ummu Musthah untuk memenuhi sebahagiankeperluanku. Lalu
ia berkata: "Tidakkah kau
sudah mendengar suatu
berita wahai puteri Abu
Bakar?" Aku bertanya, "berita apa
itu?" Lalu ia memberitahukan padaku apa-apa yang
dikatakan oleh
para penyebar kebohongan. Aku
berkata: "Apa ini memang benar?" Ia menjawab: "Demi Allah, ini benar-benar terjadi." Aisyah
berkata: "Demi Allah,
aku tidak mampu memenuhi hajatku." lalu
aku pulang. Demi
Allah, aku tetap
menangis sampai-sampai aku mengira
bahawa tangisanku akan
merosak jantungku dan aku berkata kepada ibuku, mudah-mudahan
Allah SWT mengampunimu, banyak orang
berbicara tentangku namun
engkau tidak
menceritakan sedikit pun kepadaku. Ia berkata: "Wahai
anakku, sabarlah demi Allah jarang sekali wanita yang baik
yang dicintai oleh
seorang lelaki yang
jika ia memiliki
isteri-isteri yang lain (madunya) kecuali wanita itu akan diterpa oleh
berbagai isu." Aisyah
berkata: "Rasulullah saw
berdiri dan menyampaikan pembicaraannya pada mereka
dan aku tidak
mengetahui hal itu."
Beliau memuji Allah
SWT kemudian berkata: "Wahai manusia,
bagaimana keadaan kaum
lelaki yang menyakiti aku melalui
keluar gaku dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar.
Demi Allah, aku tidak mengenal
mereka kecuali dalam kebaikan. Lalu mereka
mengatakan hal itu
pada seorang lelaki
yang aku tidak
mengenalnya kecuali dalam kebaikan di
mana ia tidak
memasuki suatu rumah
dari rumah-rumahku kecuali ia bersamaku." Kemudian Rasulullah
saw memanggil Ali
bin Abi Thalib
dan Usamah bin
Zaid dan bermusyawarah dengan keduanya. Usamah hanya melontarkan pujian
dan berkata: "Ya Rasulullah
aku tidak mengenal
isterimu kecuali dalam
kebaikan dan berita ini
hanya kebohongan dan
kebatilan," sedangkan Ali
berkata: 'Ya Rasulullah masih
banyak wanita yang lain yang dapat kau percaya." Kemudian Rasulullah saw
memanggil Burairah dan
bertanya kepadanya, lalu
Ali berdiri kepadanya dan
memukulnya dengan keras
sambil berkata: "Jujurlah kepada Rasulullah saw,"
lalu wanita itu
berkata: "Demi Allah,
aku tidak mengetahui kecuali kebaikan. Aku tidak
pernah mencela Aisyah kecuali pada suatu waktu aku sedang
membikin adunan roti
lalu aku memerintahkannya untuk menjaganya namun
Aisyah tertidur dan
datanglah kambing lalu
adunan itu dimakan
olehnya." Aisyah berkata: "Kemudian datanglah kepadaku Rasulullah saw
dan saat tu aku bersama kedua orang
tuaku dan seorang
wanita dari kaum
Anshar. Aku menangis dan
wanita itu pun
turut menangis. Rasulullah saw
duduk lalu memuji Allah SWT dan
berkata: "Wahai Aisyah, sungguh kamu telah mendengar sendiri apa
yang dikatakan orang-orang
tentang dirimu, maka
bertakwalahkepada Allah SWT
dan jika engkau
telah melakukan keburukan
seperti yang diucapkan orang-orang itu,
maka bertaubatlah kepada
Allah SWT kerana sesungguhnya Allah
SWT menerima taubat
dari hamba-hamba-Nya." Aisyah berkata, "demi Allah,
itu tidak lain
hanya kebohongan yang
dialamatkan kepadaku sehingga membuat air mataku kering. Aku sama sekali
tidak seperti yang mereka katakan," lalu
aku menunggu kedua
orang tuaku untuk mengatakan tentang
diriku namun mereka
justru terdiam. Aisyah
berkata, "demi Allah aku merasa sebagai seorang yang hina yang
tidak layak diturunkan Al-Qur'an dari Allah SWT berkenaan denganku, tetapi aku
hanya berharap agar Nabi saw melihat
kebohongan yang dialamatkan kepadaku itu
sehingga ia memastikan
terbebasnya aku darinya." Aisyah
berkata: "Ketika aku
tidak melihat kedua
orang tuaku berbicara
aku berkata kepada mereka
tidakkah kalian menjawab apa
yang dikatakan Rasulullah saw?"
Mereka berkata: "Demi Allah kami tidak mengetahui apa yang harus kami
jawab." Aku mengetahui bahawa
aku bebas dari
tuduhan itu. Tiba-tiba Rasulullah
saw mengusap keringat
dari wajahnya sambil
berkata: "Bergembiralah
wahai Aisyah kerana
sesungguhnya Allah SWT
telah menurunkan ayat yang membebaskan kamu dari tuduhan itu," lalu
aku berkata: "Segala puji bagi
Allah SWT."
Kemudian beliau
keluar menemui para sahabat dan membacakan kepada mereka ayat
berikut ini: "Sesungguhnya
orang-orang yang membawa
berita bohong itu
adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahawa berita bohong itu buruk bagi kamu.
Tiap-tiap seseorang dari
mereka mendapat balasan
dari dosa yang dikerjakannya.
Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam
penyiaran berita bohong itu, maka baginya azab yang besar. " (QS. an-Nur:
11) Jibril turun kepada
Nabi saw untuk
menyampaikan terbebasnya Aisyah
dari segala tuduhan yang ditujukan kepadanya. Dan gagallah peperangan
psikologi menentang kaum Muslim
dan rumah tangga
Rasulullah saw, dan kelompok-kelompok kafir
meyakini bahawa mereka
harus menggunakan cara baru lagi untuk menentang Islam.
Kemudian Rasulullah saw kembali memasuki pergelutan menentang peperangan fizik.
Peperangan Khandaq termasuk contoh peperangan fizik
yang dilakukan oleh
Rasulullah saw. Orang-orang Yahudi menyerahkan urusan mereka kepada
kaum musyrik, dan Dimulailah rangkaian persekongkolan dan
sumpah di antara
tokoh- tokoh Yahudi
dan pemimpin-pemimpin kaum musyrik, bahkan pendeta- pendeta Yahudi
berfatwa bahawa agama Quraisy
yang disimbolkan dengan
penyembahan berhala lebihbaik
daripada agama Muhammad
yang penyembahan hanya
layak ditujukan kepada Tuhan
Yang Esa sebagaimana tradisi jahiliah lebih baik daripada ajaran Al-Qur'an.
Perang Khandaq
Politik kaum Yahudi berhasil
menyatukan kelompok-kelompok orang kafir dan mengerahkannya untuk
menentang kaum Muslim.
Kemudian mereka akan menyerang Madinah dengan jumlah
kekuatan sepuluh ribu tentera. Akhirnya, berita itu
sampai ke Nabi
saw. Beliau tidak
hairan ketika mendengar orang-orang Yahudi
bersatu - padahal
mereka mempunyai asas
agama yang menyeru kepada
tauhid - bersama
kaum musyrik menentang
agama tauhid. Nabi saw
mengetahui bahawa perjanjian telah lama membelenggu orang-orang Yahudi sehingga
hati mereka menjadi keras dan hari telah menjauhkan antara mereka dan sumber
yang jernih yang dipancarkan oleh Musa. Akhirnya, mereka menjadi buah
yang rosak yang
kulitnya bergambar tauhid
namun isinya bergambar kepahitan
syirik. Dan yang lebih penting dari itu adalah kesamaan kepentingan kaum Yahudi
dan kaum musyrik. Nabi saw menyedari bahawa
beliau sekarang menghadapi ancaman dan pasukan yang
besar.
Pertempuran
secara terbuka tidak
memberi keuntungan bagi
Muslimin. Beliau mulai berfikir bagaimana cara mempertahankan Madinah tanpa
harus keluar darinya. Kali ini taktik militernya berubah di mana sebelum
itu beliau keluar
dari Madinah dan
menjauhinya serta
menyerang kelompok-kelompok
yang berencana menyerbu Madinah. Kali
ini bentuk ancaman berbeza
dan tentu fikiran
Nabi pun berubah
kerana mengikuti perbezaan
ancaman itu. Kemudian beliau mengadakan
pertemuan militer bersama
para tenteranya. Beliau ingin
mendengar berbagai usulan
tentang bagaimana cara mempertahankan Madinah. Lalu
Salman al-Farisi mengusulkan agar
Nabi menggali suatu parit yang dalam di sekeliling Madinah yaitu parit
yang seperti bendungan alami yang dapat menahan laju banjir yang ingin maju,
suatu parit yang pasukan berkuda tidak akan mampu melewatinya dan kaum Muslim
dapat mempertahankan diri dari
belakangnya.
Mula-
mula usulan itu
terkesan agak mustahil
diwujudkan namun pada akhirnya Nabi menyetujui usulan Salman itu. Melalui sensifitas
militernya yang mengagumkan, beliau
mengetahui bahawa situasi cukup
genting dan kerananya
ia menuntut usaha
keras untuk dapat melaluinya. Nabi
saw memerintahkan para
sahabat untuk menggali
parit di sekitar Madinah. Pekerjaan
itu sangat berat dan saat itu musim dingin di mana udara sangat
dingin. Di samping
itu, kaum Muslim
sedang mengalami krisisekonomi yang mengancam Madinah,
meskipun demikian, penggalian parti tetap dilaksanakan, bahkan
Rasulullah saw terjun
langsung untuk membuat
galian dan memikul tanah. Kaum
Muslim dengan
semangat yang luar
biasa dapat menyelesaikan penggalian parit itu meskipun
kehidupan sangat keras dan mereka merasakan kelaparan kerana
kekurangan harta. Namun
semangat pasukan Islam
tetap meninggi. Mereka percaya akan datangnya kemenangan dan pertolongan
dari Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Dan tatkala orang-orang mukmin
melihat golongan-golongan yang bersekutu itu,
mereka berkata: 'lnilah
yang dijanjikan Allah
dan Rasul-Nya kepada kita.'
Dan
benarlah Allah dan
Rasul-Nya. Dan yang
demikian itu tidaklah menambah kepada
mereka kecuali iman
dan ketundukan." (QS.
al-Ahzab: 22) Pasukan
Quraisy mulai mendekati
Madinah dan tiba-tiba
Madinah berubah menjadi jazirah
cinta di tengah-tengah lautan
kebencian, lautan itu
mulai menghentam jazirah dan berusaha menenggelamkannya dari dalam. Kemudian
berteburanlah panah-panah kaum Muslim untuk menghalau pasukan kafir yang
cukup banyak. Pasukan
kafir mulai berputar-putar di
sekeliling parit dalam keadaan bingung: apa gerangan yang
telah dilakukan pasukan Islam, bagaimana mereka dapat menggali parit ini? Kuda-kuda musuh
berusaha melalui parit
itu namun pasukan
Muslim segera menyerangnya. Demikianlah peperangan Ahzab
terus berlangsung. Pada hakikatnya ia
adalah peperangan urat
saraf. Pasukan musuh
mengepung Madinah selama tiga minggu di mana serangan demi serangan
terus dilakukan sepanjang siang dan
mata mereka tetap
terjaga sepanjang malam.
Bahkan saking dahsyatnya pertempuran
itu sehingga kaum
Muslim tidak mengetahui apakah pasukan
musuh berhasil menduduki
Madinah atau tidak,
dan apakah para musuh
berhasil menembus lubang
yang mereka bangun?
Allah SWT menggambarkan keadaan
peperangan Ahzab dalam firman-Nya: "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu
dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak
tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu
naik menyesak sampaike
tenggorokan dan kamu
menyangka terhadap Allah
dengan bermacam-macam
persangkaan. Di situlah
diuji orang- orang
mukmin dan digoncangkan hatinya dengan
goncangan yang dahsyat." (QS.
al-Ahzab: 10-11) Keadaan semakin buruk di mana orang-orang Yahudi
membatalkan perjanjian mereka dengan kaum
Muslim dan mereka
bergabung dengan al-Ahzab. Demikianlah Bani
Quraizhah membatalkan perjanjiannya dan
mereka lupa terhadap pengkhianatan bani
Nadhir dan pembalasan Nabi
saw terhadap mereka. Setiap hari
keadaan semakin buruk. Kaum Muslim benar-benar mengalami ujian yang berat di
mana fikiran mereka benar-benar
kacau. Ketika keadaan
mencapai puncaknya kaum
Muslim bertanya kepada Rasul saw, "apa yang harus mereka
katakan?" Rasulullah saw memberitahu
agar mereka mengatakan:
"Ya Allah, kalahkanlah
mereka dan tolonglah kami untuk
mengatasi mereka."
Doa
tersebut keluar dari
mulut-mulut kaum yang
telah melaksanakan
kewajipan mereka dan
telah membuat mukjizat
mereka dalam menghalau serangan. Jadi, mereka tidak
memiliki apa-apa selain doa dan Allah SWT lah Yang Maha Mendengar permintaan
hamba-Nya dan Dia yang mengabulkannya. Dia mengetahui orang yang melaksanakan
kewajipannya dan akan mengabulkan orang yang berdoa. Akhirnya, kaum
Muslim benar-benar mendapatkan rahmat Allah
SWT. Kemudian perjalanan pertempuran bergerak dengan
cara yang tidak
bisa difahami. Para penyerang menyedari bahawa mereka sebenarnya telah
kalah di mana mereka telah
menyerang selama tiga
pekan namun serangan
tersebut tidak memberikan hasil
apa pun. Mereka
telah mencurahkan berbagai
upaya namun tanpa memberikan hasil yang diharapkan dan boleh jadi mereka
akan tetap begini selama tiga tahun. Kemudian datanglah suatu malam di mana
kaum Muslim belum pernah melihat malam
segelap itu dan
angin sekencang itu,
bahkan saking kerasnya
angin sampai-sampai suaranya laksana halilintar. Bahkan saking gelapnya
malam itu sehingga tak seorang pun di antara umat Islam yang mampu melihat
jari-jari tangannya atau berdiri
dari tempatnya kerana
saking dinginnya cuaca. Kemudian Nabi saw datang menemui
Hudaifah bin Yaman. Beliau tidak mampu melihatnya meskipun beliau berdiri di
sebelahnya. Nabi saw bertanya: "Siapaini?" Hudaifah menjawab:
"Aku adalah Hudaifah." Nabi saw berkata: "Oh, kamu
Hudaifah." Hudaifah tetap
tinggal di tempatnya
kerana ia khawatir
jika ia berdiri ia akan tidak
mampu kerana saking dinginnya dan akan menabrak Rasul saw. Rasul
saw berkata kepada
Hudaifah, "Aku kehilangan
berita penting tentang keadaan
kaum yang menyerang kita." Hudaifah sebagai mata-mata dari pasukan Islam
merasakan ketakutan di mana ia tidak mampu menahan cuaca yang begitu dingin,
lalu bagaimana ia dapat berdiri
dan keluar dari
Madinah menuju ke
tempat pasukan musuh
dan menyusup di tengah
barisan mereka lalu
kembali kepada Nabi
saw dengan membawa berita
tentang mereka. Hudaifah
bangkit dari tempatnya
ketika Nabi saw selesai
dari pembicaraannya.
Nabi
saw memberikan doa
kebaikan kepadanya.
Hudaifah pun pergi
dan kehangatan keimanannya
mengalahkan kegelapan malam dan kedinginan cuaca. Ia keluar dari Madinah
dan menyusup di tengah-tengah pasukan
musuh. Nabi saw
memerintahkannya untuk tidak melakukan tindakan
apa pun selain
mendapatkan berita dan
kembali. Inilah tugas utamanya.
Hudaifah sampai di
tengah-tengah musuh. Mereka
berusaha menyalakan api namun
angin segera mematikannya sebelum
menyala dan di dekat
api itu terdapat
seorang lelaki yang
berdiri sambil menghulurkan tangannya ke
arah api dengan
maksud untuk menghangatkannya. Lelaki
itu adalah pemimpin kaum musyrik yaitu Abu Sofyan. Melihat itu, Hudaifah
segera memasang anak panah pada busur yang dibawanya dan ia ingin memanahnya.
Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka kaum Muslim dapat merasa tenang
dengannya, namun ia ingat pesan Rasulullah saw kepadanya agar
ia tidak melakukan
tindakan apa pun.
Kemudian ia kembali meletakkan anak panahnya dan
menyembunyikannya. Abu Sofyan berkata:
"Wahai orang-orang Quraisy
situasi saat ini
tidak menguntungkan bagi kalian, maka pergilah kalian kerana aku pun
akan pergi." Abu Sofyan melompat
ke atas untanya
lalu mendudukinya dan memukulnya
sehingga unta itu bangkit. Hudaifah kembali menemui Rasulullah saw dengan
membawa berita mundurnya pasukan
Ahzab dan gagalnya
serangan mereka. Ketika
mendengar peristiwa penarikan
mundur pasukan musuh, Rasulullah saw berkata: "Sekarang kita akan
menyerang mereka dan
mereka tidak akan
menyerang kita." Belum
lama pasukan Ahzab kembali
ke negerinya dengan
tangan hampa sehingga
beliau keluar dari Madinah
bersama pasukannya menuju
ke kaum Yahudi
Bani Quraizhah.
Perjanjian Hudaibiyah
Orang-orang Yahudi
itu telah mengkhianati perjanjian merekabersama Nabi saw. Mereka menipu Islam
di saat-saat genting. Oleh kerana itu, mereka harus membayar biaya pengkhianatan
mereka sekarang. Nabi saw memerintahkan agar
para sahabat tidak
melaksanakan solat Ashar kecuali di Bani Quraizhah. Kaum Muslim
memahami bahawa perintah tersebut bererti
mereka akan menerobos benteng
kaum Yahudi sebelum
matahari tenggelam. Orang-orang Yahudi menelan kekalahan pahit lalu
mereka datang kepada Sa'ad bin Mu'ad agar ia memutuskan perkara mereka. Sa'ad
adalah pemimpin kaum Aus dan kaum
Aus adalah sekutu
orang-orang Yahudi Quraizhah
di masa jahiliah. Kaum
Yahudi mengharap bahawa
mereka dapat memanfaatkan hubungan yang
terjalin selama ini
sebagaimana kaum Aus
membayangkan bahawa tokoh mereka
akan memberikan keringanan
terhadap sekutu-sekutu mereka.
Sa'ad ketika itu terluka dan ia sedang dirawat
di khemahnya kerana terkena
panah kauni Ahzab.
Sebahagian kaumnya membujuknya agar
ia bersikap baik terhadap
orang- orang Yahudi,
sekutu-sekutu mereka, dan orang-orang Yahudi membujuknya
agar ia bersikap
lembut terhadap mereka.
Kemudian Sa'ad mengatakan penyataannya yang terkenal: "Telah tiba
waktunya bagi Sa'ad untuk memutuskan hukum sesuai dengan kehendak Allah tanpa
peduli dengan celaan para pencela." Sa'ad
memutuskan agar kaum
lelaki dibunuh dan keturunannya ditawan serta
harta-harta mereka dibagi-bagikan. Nabi
pun menyetujui keputusan tegas
Sa'ad itu. Beliau
berkata kepadanya: "Sungguh engkau telah
memutuskan kepada mereka
dengan keputusan Allah
SWT dari tujuh langit."
Sa'ad mengetahui bahawa
perantaraan, permohonan, harapan,
dan menjaga berbagai
pertimbangan lazim selayaknya berada di suatu genggaman, dan masa depan Islam
berada di genggaman
yang lain. Yahudi
Bani Quraizhah adalah penyebab berkecamuknya peperangan
Ahzab dan sumpah mereka dan berbagai tipu daya mereka berusaha untuk memblokade
Islam dan menghancurkannya. Oleh kerana itu, kini telah tiba saatnya untuk
mencabut pohon-pohon beracun dari akarnya tanpa memperdulikan kasih sayang.
Demikianlah kaum Yahudi
dibersihkan dari Madinah.
Nabi saw kembali melanjutkan pergelutannya. Puncak
dari perjuangan politiknya adalah perjanjian yang
beliau lakukan bersama
orang-orang Quraisy. Nabi
sawberjalan untuk melaksanakan umrah
dan mengunjungi Baitul
Haram. Beliau keluar bersama
seribu empat ratus kaum lelaki yang bertujuan untuk berziarah ke Baitul
Haram guna melaksanakan umrah.
Ketika mereka sampai
di Hudaibiyah pinggiran kota Mekah, tiba-tiba unta yang ditunggangi Nabi
duduk dan ia tidak mahu melangkah menuju Mekah. Melihat itu para sahabat
berkata: "Oh unta itu malas." Nabi saw berkata: "Tidak Demikian
namun ia ditahan oleh Zat yang menahan
laju gajah menuju
Mekah. Sungguh jika
hari ini orang Quraisy membuat suatu rencana dan
mereka meminta agar aku menyambung tali silaturahmi nescaya aku akan
menyetujuinya." Nabi saw memerintahkan para sahabat agar tetap tinggal di
Hudaibiyah. Kaum Muslim beristirahat di sana dengan harapan mereka dapat
memasuki Mekah di waktu pagi. Peristiwa
itu bertepatan dengan
bulan Haram. Mekah
telah menetapkan agar tak
seorang pun dari
kaum Muslim dapat
memasukinya. Semua kaum Quraisy
telah keluar untuk
memerangi kaum Muslim.
Mereka mengutus utusan-utusan kepada
Nabi saw lalu
beliau memberitahu mereka bahawa beliau
tidak datang untuk
berperang namun beliau
ingin melakukan umrah sebagai
bentuk pujian dan syukur kepada Allah SWT dan mengagumkan kemuliaan rumah-Nya yang
suci.
Mekah
menetapkan untuk melakukan perjanjian bersama
kaum Muslim di
mana mereka menginginkan agar
jangan sampai kaum Muslim
memasuki Baitul Haram
pada tahun ini
kecuali setelah mereka kembali
pada tahun depan. Datanglah juru runding
kaum Quraisy lalu
Rasul saw menyambutnya dan mendengarkan ia
menyampaikan
syarat-syarat perjanjian yang
intinya pelaksanaan perdamaian dan
penarikan mundur pasukan
Muslim. Nabi saw menyetujui semua
syarat-syarat perjanjian meskipun tampak
bahawa perjanjian tersebut tidak menguntungkan kaum Muslim di mana itu
dianggap sebagai titik kemunduran politik dan militer kaum Muslim, dan yang
menambah kebingungan kaum Muslim
adalah bahawa Rasul
saw tidak melibatkan seseorang pun dari kalangan
sahabatnya untuk bermusyawarah dalam hal ini. Tidak biasanya
beliau bersikap demikian.
Para sahabat menyaksikan
beliau pergi menemui kaum musyrik dan bersikap sangat lembut kepada
mereka, dan beliau tidak kembali kecuali membawa berita persetujuan dengan
perjanjian yang ditandatangani orang-orang musyrik, dan beliau pun membubuhkan
tanda tangan di atasnya. Para
sahabat bergerak untuk
menentang Rasulullah saw.
Mereka bertanya kepada beliau,
"bukankah engkau utusan
Allah SWT? Bukankah
kita kaumMuslim?
Bukankah musuh-musuh kita
kaum musyrik?" Nabi
saw hanya mengiyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Umar
bin Khatab kembali bertanya: "Mengapa kita harus
menerima penghinaan dalam agama kita?" Umar ingin mengungkapkan sesuai
dengan bahasa kita saat ini, "mengapa kita harus mundur kalau
kita berada di
atas kebenaran? Mengapa kita
menerima syarat-syarat
perjanjian yang justru
menguntungkan kaum musyrik?
Apakah kita takut terhadap mereka?" Mendengar berbagai protes
yang disampaikan para
sahabatnya, Rasul saw justru menyampaikan jawapan yang unik
bagi mereka di mana beliau berkata: "Aku adalah hamba Allah SWT dan
Rasul-Nya dan aku tidak mungkin menentang perintah-Nya dan
Dia tidak mungkin
akan menyia- nyiakan
aku." Makna dari kalimat beliau
adalah, "taatilah apa
yang telah aku
lakukan tanpa perlu memperdebatkannya dan hendaklah
kalian sedikit bersabar." Perjalanan hari
menetapkan bahawa perjanjian
yang menimbulkan pro
dan kontra di tengah-tengah sahabat
itu justru membawa
kemenangan politik
paling gemilang yang
pernah dicapai oleh
umat Islam.
Kemenangan
tersebut diperoleh sebagai hasil
dari kebijaksanaan sang
Nabi saw yang
mengalahkan kelihaian politik kaum
Quraisy. Kaum Quraisy
telah memfokuskan semua kelihaian-nya agar
kaum Muslim kembali
ke tempat mereka
tanpa memasuki Masjidil Haram
pada tahun ini,
namun hikmah Nabi
saw justru mampu mencapai pengelihatan yang
tidak dapat dijangkau oleh
kaum itu yang berkenaan dengan
masa depan.
Jika saat
ini perjanjian tersebut
tampak membawa kekalahan bagi
kaum Muslim, maka
setelah berlangsung beberapa bulan ia justru mendatangkan
kemenangan yang spektakuler. Suhail bin Amr adalah wakil dari delegasi kaum
Quraisy dan Ali bin Abi Thalib adalah
juru tulis dalam
perjanjian itu dari
pihak Nabi saw.
Rasulullah saw berkata kepada
Ali: "Tulislah dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang." Utusan Quraisy
berkata, aku tidak
mengenal ini.
Tapi tulislah dengan nama-Mu, ya
Allah. Rasulullah saw
berkata kepada Ali:
"Dengan nama-Mu, ya Allah."
Sikap keras kepala utusan Quraisy itu tidak
bererti sama sekali kerana tidak ada perbezaan yang mencolok antara dengan
namamu Allah dan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
selain niat si pembicara. Nabi saw berkata kepada Ali: "Ini adalah
perundingan antara Muhammad saw utusan
Allah dan Suhail
bin Amr." Mendengar
itu dengan nada
menentang Suhail bin Amr berkata: "Seandainya aku bersaksi bahawa
engkau adalah utusanAllah nescaya aku tidak akan memerangimu, tetapi tulislah
namamu dan nama ayahmu."
Nabi berkata kepada
Ali tulislah: "Inilah
kesepakatan antara Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin
Amr." Tampaknya itu adalah
kemunduran yang kedua
dan dengan pandangan
yang sekilas tampak menjatuhkan kaum Muslim tetapi Nabi saw ingin
mewujudkan suatu tujuan yang penting yaitu tujuan yang belum terungkap saat
itu.
Alhasil, semuanya terjadi
dengan ilham dari
Allah SWT. Ali
kembali menulis bahawa Muhammad bin
Abdillah dan Suhail
bin Amr sama-sama sepakat
untuk menghentikan
peperangan selama
sepuluh tahun di
mana hendaklah
masing-masing mereka memberikan keamanan terhadap sesama
mereka. Namun jika terdapat di antara orang-orang Quraisy seseorang yang
masuk Islam lalu ia datang
kepada Muhammad saw
tanpa izin walinya
hendaklah kaum Muslim mengembalikannya kepada
kaum Quraisy. Sebaliknya,
jika ada orang yang
murtad dari sahabat
Muhammad saw, maka
tidak ada keharusan
bagi orang Quraisy untuk mengembalikannya kepada Nabi. Syarat tersebut
sangat menyakitkan kaum Muslim. Tampak bahawa orang-orang Quraisy memaksakan
kehendaknya dalam syarat-syarat perjanjian
yang tidak adil itu.
Ali melanjutkan tulisannya,
hendaklah Nabi
saw pulang dari
Mekah pada tahun ini dan tidak memasukinya dan jika pada tahun depan
orang-orang Quraisy keluar darinya, maka beliau dapat memasukinya untuk
melaksanakan umrah selama tiga
hari dan setelah
itu beliau harus meninggalkannya. Pensyaratan tersebut sangat
merugikan kaum Muslim
dan terkesan membingungkan.
Di tengah-tengah perjanjian
tersebut terjadi suatu peristiwa yang menambah penderitaan dan kebingungan
Muslimin di mana anak dari juru runding Quraisy meminta perlindungan kepada
kaum Muslim. Ia
masuk Islam dan
ingin bergabung dengan kelompok Islam
namun ayahnya, Suhail
segera bangkit menyusulnya bahkan
memukulnya dan mengembalikannya kepada
kaumnya. Orang Mukalaf itu
segera berteriak dan
meminta pertolongan kepada
kaum Muslim agar mereka menyelamatkannya dari kejahatan kaum Quraisy
sehingga mereka tidak mengubah agamanya. Rasulullah saw berbicara kepadanya dan
meminta kepadanya untuk bersabar
dan tegar dalam
menanggung penderitaan kerana
Allah SWT akan menjadikannya dan
orang-orang yang sepertinya suatu
jalan keluar dan kelapangan. Nabi memahamkannya bahawa beliau
telah mengadakan suatu
perjanjiandengan kaum Quraisy
dan bahawa kaum
Muslim tidak mungkin
melanggar perjanjian mereka. Akhirnya,
anak Muslim itu
dikembalikan ke Mekah
dalam keadaan terseksa.
Kemudian Selesailah
penandatanganan perjanjian antara
pihak kaum Muslim dan pihak kaum musyrik. Setelah
penandatanganan perjanjian itu, Rasulullah saw
memerintahkan para sahabatnya
agar mereka memotong
haiwan korban dan mencukur
rambut mereka (tahalul)
dari umrah mereka
dan kembali ke Madinah. Namun tak seorang pun bangkit
menyambut perintah tersebut, lalu beliau mengulangi perintahnya ketiga kali. Di
tengah-tengah kaum Muslim yang tampak membisu kerana ketegangan dan kesedihan,
beliau menyembelih unta dan memanggil tukang cukurnya untuk mencukur rambutnya
dan beliau tidak berbicara dengan seorang pun. Ketika para sahabat mengetahui
bahawa Nabi saw tampak marah
dan telah mendahului
mereka dengan tahalul
dari umrahnya, maka mereka
bangkit untuk menyembelih
korban dan memotong rambut mereka. Perjalanan hari
menunjukkan bahawa perundingan tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh
kaum Muslim.
Ia
justru membawa kemenangan
dan bukan kekalahan. Persatuan
kaum kafir di
jazirah Arab mulai
runtuh sejak mereka menandatangani perjanjian itu.
Kaum Quraisy di
anggap sebagai pimpinan kaum kafir
dan pembawa bendera
penentangan terhadap Islam,
maka ketika tersebar berita
perjanjian mereka bersama
kaum Muslim, maka
padamlah fitnah-fitnah kaum munafik yang bekerja untuk mereka dan
bercerai-berailah kabilah-kabilah penyembah patung di penjuru jazirah. Saat
aktiviti kaum Quraisy terhenti, maka kaum Muslim mengalami peningkatan
aktiviti di mana
mereka berhasil menarik
orang-orang yang masih
memiliki kemampuan
untuk melihat kebenaran.
Sejak dua tahun
dari masa penandatanganan perjanjian
itu jumlah penganut
Islam semakin bertambah lebih dari
jumlah sebelumnya. Bukti
dari itu adalah,
bahawa saat Rasul
saw keluar ke Hudaibiyah beliau ditemani dengan seribu empat ratus
Muslim namun ketika beliau keluar pada tahun penaklukan kota Mekah beliau
disertai dengan sepuluh ribu Muslim. Penaklukan kota Mekah terjadi setelah dua
tahun dari perundingan tersebut. Penambahan jumlah kaum
Muslim yang luar
biasa ini adalah
dikeranakan hikmah sang Nabi
saw dan kejauhan pandangannya. Nabi
saw keluar sebagai pemenang dalam pergelutan politiknya, dan
syarat-syarat yang tadinya merugikan kaum
Muslim kini telah
berubah menjadi syarat-
syarat yangmerugikan kaum
Quraisy. Barang siapa murtad dari kaum Muslim dan pergi ke kaum Quraisy, maka
hendaklah mereka melindunginya kerana Allah SWT telah memampukan Islam
darinya, dan barang
siapa yang masuk
Islam dari kaum kafir dan pergi ke kaum Muslim, maka
hendaklah mereka mengembalikannya ke kaum Quraisy di mana ia tinggal di
dalamnya sebagai mata-mata dari pihak Islam atau ia dapat lari dari kaum
Quraisy untuk menyatukan kelompok yang bertikai dan ia dapat hidup laksana duri
di tengah-tengah kaum Quraisy. Belum lama waktu berjalan sehingga kaum Quraisy
mengutus utusannya kepada Nabi saw dan
mengharap kepada beliau
agar melindungi orang
Quraisy yang masuk Islam
daripada membiarkan mereka sebagai panah yang terbang menuju kaum Quraisy.
Demikianlah kaum Quraisy
justru membatalkan syarat
yang telah mereka diktekan
dan Nabi saw
pun menerimanya dengan puas. Perundingan itu justru menguatkan
barisan Nabi saw. Demikianlah
Nabi saw terus
menjalani mata rantai
pergelutan yang tiada henti-hentinya di mana kehidupan
beliau yang peribadi sekali pun tidak sunyi dari penderitaan.
Kisah Isteri Nabi Muhammad Saw
Nabi saw menikahi sembilan orang
isteri. Perkahwinan beliau dengan sembilan isteri tersebut merupakan
keistimewaan peribadi yang hanya beliau
miliki kerana berhubungan
dengan sebab-sebab dakwah
Islam. Yaitu suatu dakwah
yang membolehkan para
pengikutnya untuk menikahi
empat orang isteri dengan
syarat jika yang
bersangkutan mampu menciptakan keadilan di antara mereka,
dan ia menganjurkan untuk hanya puas dengan satu isteri jika seorang Muslim
khawatir tidak dapat berbuat adil. Kaum
orientalis dan musuh-musuh
Islam mencuba untuk
menghina Nabi dan memujukkannya, dan
salah satu cela
yang mereka manfaatkan adalah perkahwinan beliau
dengan sembilan wanita.
Kita mengetahui bahawa pernikahan-pernikahan beliau terlaksana
dengan sebab-sebab politik
atau kemanusiaan yang berhubungan dengan dakwah Islam. Dan yang terkenal
dari sejarah Nabi saw adalah bahawa beliau menikah dengan Sayidah Khadijah saat
beliau berusia dua puluh lima tahun dan Khadijah berusia empat puluh tahun.
Semasa hidup Khadijah beliau tidak menikahi
isteri yang lain sampai Khadijah mencapai usia enam puluh lima tahun. Saat
Khadijah meninggal, Nabi berusia di
atas lima puluh
tahun. Beliau menikahi
Khadijah sebelum beliau
diutus untuk menyebarkan Islam.
Beliau tetap setia
bersama Khadijah sampai
ia meninggal dan beliau
diangkat menjadi Nabi.
Namun beban kenabian
dan beratnya jihad, kasih
sayangnya kepada manusia,
pengorbanannya terhadap Islam
dan perintah Allah SWT semua itu memaksanya untuk menikah lebih darisatu orang
isteri sampai mencapai sembilan orang isteri. Perkahwinan beliau dengan Aisyah
yang saat itu
masih belia merupakan
usaha untuk menjalin ikatan dengan
Abu Bakar, ayah
dari Aisyah dan
perkahwinan beliau dengan Hafshah meskipun ia
sedikit kurang cantik
merupakan usaha beliau
untuk menjalin ikatan dengan
Umar, ayahnya. Beliau
juga menikah dengan
Ummu Salamah, janda dari pemimpin pasukannya yang mati syahid di jalan
Allah SWT dan wanita itu merasakan penderitaan bersama beliau saat hijrah di
Habasyah dan hijrah ke
Madinah. Ketika suaminya
meninggal dan ia
sendirian menghadapi
berbagai persoalan kehidupan, maka
Nabi saw segera merangkulnya di rumah kenabian.
Perkahwinan beliau dengan Sawadah
sebagai bentuk penghormatan terhadap
keislaman wanita itu
dan kemuliaannya dari kaum lelaki serta kesendiriannya dalam
menjalani kehidupan. Sementara itu, pernikahan beliau dengan Zainab bin Jahasy
merupakan ujian berat bagi beliau di mana perintah pernikahan itu datang dari
Allah SWT untuk mengharamkan suatu tradisi
yang terkenal di
kalangan jahiliah yaitu
tradisi adopsi. Zainab termasuk
kerabat Rasul. Jadi
ia termasuk dari
kalangan bani Hasyim. Ia
merasa bangga dengan
nasab yang dimilikinya
yang kerananya ia menolak ketika
ditawari untuk menikah
dengan Zaid bin
Harisah, seorang budak Nabi
yang telah beliau
bebaskan, bahkan nasabnya
telah beliau nisbatkan kepada
dirinya dan beliau telah mengadopsinya sehingga ia dipanggil dengan sebutan
Zaid bin Muhammad. Namun
Zainab akhirnya menyetujui pendapat Nabi dan perintah Allah
SWT sehingga ia menikah dengan Zaid: "Dan tidaklah
patut bagi laki-laki
yang mukmin dan
tidak pula bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah
dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan
ada bagi mereka
pilihan yang lain
tentang urusan mereka. Dan
barang siapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat
dengan kesesatan yang nyata. " (QS. al-Ahzab: 36) Sejak semula tampak
jelas bahawa pernikahan tersebut akan segera berakhir. Zainab tidak
menyukai Zaid dan
Zaid pun bukan
jenis lelaki yang
mampu menahan kehidupan bersama seorang wanita yang hatinya jauh
darinya. Zaid datang kepada Nabi saw guna mengadu kepada beliau dan meminta
izin untuk menceraikan
isterinya. Allah SWT
mewahyukan kepada Rasul-Nya agar membiarkan Zaid
menceraikan isterinya, lalu
hendaklah beliau menikahinya. Nabi saw merasakan kesulitan
yang luar biasa dan beliau berbicara kepada Zaid agar ia
terus melangsungkan kehidupannya dan
bersabar.
Nabi saw membayangkan apa
yang dikatakan manusia
kepadanya bahawa ia
menikahi isteri dari anaknya
tetapi apa yang
dikhuatirkan oleh Nabi
saw justrumerupakan sesuatu
yang ingin dihapus oleh Allah SWT. Zaid bukanlah anaknya dan dalam Islam tidak
ada sistem adopsi. Oleh kerana itu, Zaid dapat mencerai isterinya lalu
Nabi dapat menikahi
Zainab untuk menetapkan apa
yang diinginkan oleh Islam. Rasulullah saw mampu bersabar dan menahan
diri saat mendengar berbagai ocehan yang akan dikatakan oleh manusia kepadanya.
Ini bukanlah pengorbanan pertama dan terakhir
yang beliau persembahkan untuk Islam. Berkenaan dengan itu, Allah SWT
berfirman: "Dan (ingatlah), ketika
kamu berkata kepada
orang yang Allah
telah melimpahkan nikmat kepadanya
dan kamu (juga)
telah memberi nikmat kepadanya: 'Tahanlah terus isterimu dan
bertakwalah kepada Allah,' sedang kamu
menyembunyikan di dalam
hatimu apa yang
Allah akan menyatakannya, dan
kamu takut kepada
manusia, sedang Allah-
lah yang lebih berhak
kamu takuti. Maka
tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan
terhadap isterinya (menceraikannya), Kami
nikahkan kamu dengan
dia supaya tidak ada
keberatan bagi orang-
orang mukmin untuk
(menikahi) isteri-isteri
anak-anak angkat mereka,
apabila anak-anak angkat
itu telah menyelesaikan
keperluannya dari isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.
" (QS. al-Ahzab: 37) Pernikahan beliau dipenuhi dengan unsur politik dan
usaha untuk menyebarkan kebaikan dan
rahmat serta penghormatan nilai-nilai yang
tinggi dan menggabungkannya di
rumah kenabian. Sementara
itu, Ummu Habibah
binti Abu Sofyan bin
Harb, pemimpin Quraisy
dalam memerangi Islam,
berhijrah bersama suaminya ke Habasyah. Ia berhadapan
dengan keterasingan dan
kekhuatiran dalam membela
agama Allah SWT. Kemudian
suaminya mati meninggalkannya sendirian dalam menjalani kehidupan. Sikapnya yang
mulia demi menegakkan ajaran Islam dan hanya menentang ayahnya merupakan nilai
lebih yang menyebabkan Rasulullah saw tertarik untuk menggabungkannya di rumah
kenabian. Pada suatu hari,
Abu Sofyan menemuinya saat
ia telah menjadi
isteri Rasulullah saw. Abu Sofyan ingin duduk di atas tempat tidur Nabi
lalu Ummu Habibah berusaha menjauhkan
tempat tidur itu
dari ayahnya. Melihat
sikap anaknya itu, ayahnya
bertanya kepadanya: "Apakah engkau
mulai membenciku?" Dengan penuh keberanian ia menjawab: "Ini
adalah tempat tidur Rasulullah saw dan engkau adalah seorang musyrik, maka
engkau tidak bolehmenyentuhnya." Adapun
Shofiyah binti Huyay
adalah anak seorang
raja Yahudi. Sedangkan Juwairiyah binti Haris, ayahnya
seorang pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Bani Musthaliq menelan kekalahan saat
berhadapan dengan kaum muslim lalu kedua anak
perempuan raja dan
pemimpin kabilah itu
jatuh menjadi tawanan.
Pernikahan Nabi
dengan kedua wanita
itu terkesan dipaksa
oleh orang-orang yang kalah itu
dan sebagai ajakan agar kaum Muslim memperlakukan mereka dengan baik. Mula-mula
kaum Muslim menolak untuk bersikap lembut terhadap ipar-ipar Nabi,
namun Nabi dengan
kelembutan sikapnya ingin
menyingkap aspek kemanusiaan dalam
peperangannya dan beliau
mengisyaratkan kepada kaum Muslim
agar mereka menunjukkan persaudaraan sesama
manusia. Peperangan itu sendiri bukan
sebagai tujuan namun
ia sebagai usaha mempertahankan Islam dan aspek
tertinggi dari Islam adalah rahmat dan cinta. Jadi Nabi saw menikahi
wanita-wanita dari orang-orang yang kalah itu dengan maksud agar kebebasan dan
kemuliaan kembali kepada keluarga mereka dan mereka dapat masuk Islam secara
puas dan sukarela. Kemudian beliau menikah dengan Maryam
al-Qibtiyah. Muqauqis telah
memberikannya kepada Nabi sebagai budak di mana itu merupakan simbol
tali kasih yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an antara Islam dan Masihi dan sebagai
bentuk hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya pernikahan dengan
wanita-wanita ahlul kitab. Maryam memberikan anak kepada Nabi saw yang bernama
Ibrahim, nama dari datuknya, bapak para nabi.
Namun Ibrahim tidak hidup lama. Ia meninggal
saat masih menyusu. Kematiannya merupakan ujian bagi Nabi dan sebagai isyarat
dari Ilahi bahawa pewaris-pewaris Rasul dari kaum lelaki adalah para pengikut
Al-Qur'an dan para pembawa Islam, bukan anak-anak dari sulbinya. Salah jika
ada orang yang
membayangkan bahawa Rasul
saw mempunyai banyak waktu
untuk mencari kesenangan meskipun halal.
Kesenangan diperbolehkan
bagi orang lain
namun beliau lebih
memilih untuk merasakan penderitaan berjihad, menegakkan hukum,
dan kesabaran. Salah
jika ada orang yang
membayangkan bahawa Rasul
saw hidup di
rumahnya dengan keadaan
ekonomi yang lebih baik daripada orang yang termiskin dari kalangan Muslim di
zamannya. Kehidupan beliau di
rumahnya penuh dengan
kezuhudan yang luar
biasasehingga sebahagian isterinya
mengeluhkan keadaan tersebut. Di
antara mereka ada yang berasal dari keluarga yang kaya seperti keluarga
Abu Bakar atau keluarga Umar
bahkan sebahagian isterinya
bersatu untuk meminta kepada beliau
agar beliau menambah nafkah mereka
sehingga Nabi meninggalkan isteri-isterinya, lalu
tersebarlah isu yang
menyatakan bahawa beliau telah
menceraikan semua isterinya.
Kemudian turunlah ayat
Takhyir (yaitu ayat yang
memberikan pilihan kepada
isteri-isteri Nabi untuk
tetap menjadi isteri beliau
atau diceraikannya).
Turunlah
Al- Qur'an al-Karim memberikan pilihan
pada isteri-isteri Nabi
antara menjalani kehidupan di rumah kenabian dengan
penuh kesederhanaan atau
menerima perceraian. Allah SWT
berfirman: "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: 'Jika kamu
sekalian mengingini kehidupan
dunia dan perhiasannya, maka
marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan
kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu
sekalian menghendaki (keridhaan) Allah
dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di
negeri akhirat, maka
Sesungguhnya Allah menyediakan siapa yang
berbuat baik di
antaramu pahala yang
besar. " (QS.
al-Ahzab: 28-29) Selesailah
fitnah. Demikianlah pergelutan di
rumah Rasul saw.
Akhirnya, isteri-isteri
beliau memilih kehidupan zuhud
dan bersabar serta
akhirat daripada kehidupan dunia.
Permintaan isteri-isteri nabi
tidak melebihi hal-hal yang bersifat mubah, namun Rasul saw merupakan teladan
bagi seluruh umat, kerana itu beliau
harus menjadi teladan
bagi umat sehingga
beliau dapat menjadi cermin
tertinggi yang layak
di emban oleh
seorang yang memegang tampuk kepemimpinan Muslimin. Allah
SWT telah membalas
pengorbanan isteri-isteri
Nabi saw dalam
bentuk mengangkat kedudukan mereka
dan menjadikan mereka sebagai ibu dari kaum mukmin. Allah SWT berfirman:
"Nabi itu (hendaknya) lebih
utama bagi orang-orang mukmin
dari diri mereka sendiri dan
isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka." (QS. al- Ahzab: 6) Dan, sebagai
penegasan terhadap keibuan spirituil ini, Islam mewajibkan hijab yang teliti
kepada mereka, yaitu suatu hijab yang tidak diperlakukan seperti itu kepada
Muslimah-Muslimah lain. Nabi saw melanjutkan dakwahnya.
Wafatnya Nabi Muhammad Saw
Beliau mengirim surat
ke raja-raja dan
para penguasa di
mana beliau ingin menunjukkan universalitas ajaran
Islam. Nabi saw
mengajak Kaisar Romawiuntuk mengikuti Islam,
lalu beliau mengirim
utusan ke Amir
Damaskus mengajaknya
untuk memeluk Islam,
dan beliau mengutus
utusan ke Amir Basrah bahagian dari wilayah Romawi dan
mengajaknya untuk mengikuti Islam, dan
beliau juga mengirim
surat ke penguasa
Qibti dan mengajaknya
untuk masuk Islam, dan
beliau juga menulis
surat ke Kisra,
Raja Persia dan mengajaknya untuk
mengikuti Islam. Beliau
juga mengirim utusan
ke Amir Bahrain dan mengajaknya
untuk mengikuti Islam. Lalu
berbagai reaksi disampaikan
berkenaan dengan surat-surat
Nabi itu. Di antara
mereka ada yang
berusaha menyampaikan kepada
pembawa surat bahawa ia masuk
Islam dan mengembalikannya dengan hadiah, dan di antara mereka ada
yang merobek-robek surat
itu dan di
antara mereka ada
yang membalas surat itu dengan jawapan yang baik, dan di antara mereka
ada yang menerima kebenaran.
Demikianlah
hari berlalu dalam
pergelutan yang tidak pernah padam,
suatu pergelutan yang
dipimpin oleh Nabi
sehingga beliau
menaklukkan Mekah dan
menyucikan jazirah Arab.
Akhirnya, manusia masuk dalam agama Allah SWT dalam keadaan
berbondong-bondong, dan Allah SWT menyempurnakan agama
bagi kaum Muslim
dan Nabi saw
melaksanakan haji wada' (haji
yang terakhir) dan
turunlah kepada beliau
wahyu di Arafah sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari ini
telah Ku-sempurnakan untuk
kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3) Ayat
tersebut dibacakan kepada
Abu Bakar sehingga
ia menangis. Allah
SWT merasa bahawa telah tiba waktunya untuk mengakhiri misi Rasul- Nya.
Aisyah berkata kepada anak-anak
yang berteriak dan
bermain-main di luar
rumah: "Diamlah
kalian kerana Rasulullah
saw sedang sakit."
Anak- anak itu
pun terdiam dan mereka
merasakan ketakutan yang
luar biasa. Pada
hari-hari terakhir, Rasulullah saw tidak lagi bercanda dengan mereka
sebagaimana yang biasa beliau lakukan. Mereka
memperhatikan bahawa kepucatan
yang aneh menyelimuti
Nabi saw yang biasanya
wajah beliau dipenuhi
dengan senyuman hingga
wajahnya laksana lempengan emas. Nabi saw yang terakhir masuk dalam
rumahnya dan hampir saja beliau
tidak kuat menahan
langkah kedua kakinya.
Beliau memasuki rumahnya dan
bersandar kepada tangan Fadl bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib.
Beliau merasakan keletihan dan
kesakitan. Kemudian Aisyah menidurkan beliau
di atas ranjangnya yang
kasar dan Aisyah
meletakkantangannya di atas
kening beliau. Kepala
beliau tampak panas
kerana saking hebatnya demam.
Aisyah berkata dalam keadaan kedua matanya mengucurkan air mata, "demi
ayah dan ibuku, ya Rasulullah apakah engkau merasakan sakit?" Nabi saw
tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu beliau tertidur. Kemudian
mengalirlah dalam memori
Nabi saw berbagai
gambar hidup: Jibril
turun kepada beliau dengan
membawa wahyu di
gua Hira.
Beliau telah
melewati waktu yang diberkati
selama dua puluh
tiga tahun, yang
sekarang tampak seperti mimpi.
Bahkan empat puluh tahun yang mendahuluinya tampak seperti gambar yang hanya
dilukis sesaat. Segala sesuatu menjadi
mudah bagi Allah
SWT dan Rasulullah
saw telah berhasil melalui
berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran, bahkan beliau tidak pernah
mengeluh sekali pun.
Beliau mengajarkan akidah
kepada para pengikutnya dengan
penuh kemantapan. Akhirnya,
Islam menjadi mulia
dan benderanya semakin berkibar. Kemudian beliau
bangun kerana melihat tangisan yang
tersembunyi dari Aisyah.
Beliau membuka kedua
matanya dan melihat wajah
Aisyah sambil beliau
sendiri berusaha melawan
rasa pusing, demam, dan
sakit yang dirasakannya. Beliau
kembali tersenyum untuk menenangkan Aisyah
dan beliau kembali
memejamkan matanya dan
tidak sedarkan diri. Apa
gerangan yang menyebabkan
Aisyah menangis? Tidakkah Allah SWT memahkotai jihad Nabi saw yang
berat dengan penaklukan
Mekah dan penyucian Baitul Haram? Berbagai gambar hidup dan aktual
melayang-layang dalam memori Nabi saw. Beliau
mengingat bagaimana tindakan
orang Quraisy ketika
membantalkan perjanjian Hudaibiyah dan mereka memerangi Khaza'ah yang
saat itu bersekutu dengan kaum Muslim
dan akhirnya mereka
membunuh semua sekutu
kaum Muslim di Baitul
Haram. Kemudian beliau
berjalan bersama pasukan
yang berjumlah sepuluh ribu di mana semua pasukan telah siap, dan
tentera Muslim turun dari gunung Mekah laksana air bah yang tidak berhenti
sedikit pun. Telah lewatlah masa para
pembawa tombak, panah,
dan pedang; telah
lewatlah masa di mana
Rasulullah saw memimpin
pasukan yang di
dalamnya terdapat kaum Muhajirin
dan Anshar. Di
tengah-tengah pasukan besar
tersebut yang berhasil menaklukkan Mekah,
Nabi saw menunggangi untanya dan
beliau menundukkan
kepalanya dengan penuh
rendah diri di
hadapan Allah SWT sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh
punggung unta yang dinaiki. Pintu Mekah terbuka untuk pasukan ini. Para pemimpin Mekah
dan pengikut-pengikut mereka
menyerahkan diri. Kalimat
Allah SWT semakin meninggi di dalamnya.
Nabi saw memasuki BaitulHaram lalu beliau
berkeliling di sekitar Ka'bah. Beliau menghancurkan berbagai patung yang
berbaris di sekitarnya, lalu beliau memukulnya dengan kapaknya. Kemudian patung-patung itu
berjatuhan dan hancur.
Setelah beliau membersihkan masjid dari
berbagai patung dan
mengembalikannya sebagaimana
yang diciptakan oleh
Allah SWT sebagai
rumah tauhid yang mutlak, beliau
menoleh kepada orang
Quraisy dan memaafkan
mereka dan mengajak mereka untuk
kembali ke jalan Allah SWT. Kemudian tibalah waktu solat, lalu
Bilal naik di
atas punggung Ka'bah
dan mengumandangkan Azan. Penduduk Mekah
mendengarkan panggilan baru
ini di mana
gemanya berputar-putar di antara gunung: "Allah Maha Besar. Aku
bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahawa Muhammad utusan
Allah. Marilah melaksanakan solat. Marilah menuju keberuntungan. Allah Maha
Besar. Tiada Tuhan selain Allah." Akhirnya, rumah
itu dikembalikan kehormatannya dan
kemuliaannya. Kemudian
lagi-lagi arus berbagai
gambar terlintas dalam
memorinya: itulah
peperangan Hunain dengan
kekalahannya,
kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah Nabi
saw yang memberikan
ganimah terhadap
orang- orang yang bergabung dengan Islam hanya dua hari
dari penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ganimah Hunaian kepada kaum
Anshar yang telah memberikan segalanya untuk Islam. Salah seorang di antara
mereka berkata: "Demi Allah, Rasulullah saw telah
menemui kaumnya." Sa'ad
bin 'Ubadah berjalan
ke arah Rasulullah saw dan
memberitahunya bahawa kaum Anshar sedang marah. Rasul saw bertanya:
"Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes saat engkau
membagikan ganimah ini
pada kaummu dan
pada seluruh orang
Arab namun mereka tidak
mendapatkan apa-apa." Rasulullah saw bertanya kepada Sa'ad bin
Ubadah: "Kamu sendiri
bagaimana pendapatmu wahai
Sa'ad?" Sa'ad berkata: "Aku tidak
lain kecuali seseorang
dari kaumku." Rasulullah saw
berkata: "Kumpulkanlah
kepadaku kaummu untuk
masalah yang penting
ini dan jika kalian telah berkumpul, maka
beritahulah aku." Sa'ad
mengumpulkan seluruh kaum
Anshar lalu ia
memberitahu Rasul saw bahawa ia
telah mengumpulkan mereka.
Rasulullah
saw keluar menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka
sambil memuji Allah SWT dan kemudian berkata: "Wahai orang-orang Anshar,
tidakkah aku datang kepada kalian saat kalian
dalam keadaan sesat
lalu Allah SWT
memberikan petunjuk kepada kalian, dan kalian menjadi
orang-orang yang fakir lalu Allah SWT memampukan kalian, dan kalian dalam
keadaan bermusuhan lalu Allah SWT menyatukan hati kalian?" Mereka
menjawab:
"Benar." Rasulullah saw
berkata: "Mengapa kaliantidak
menjawab wahai kaum
Anshar?" Mereka berkata:
"Apa yang kita
akan katakan wahai Rasulullah
dan dengan apa
kita akan menjawabnya. Sungguh segala kurnia hanya milik Allah SWT
dan Rasul-Nya." Rasulullah
saw berkata: "Demi
Allah, seandainya kalian
mahu nescaya kalian akan mengatakan dan benar apa yang
kalian katakan: Engkau datang kepada kami
sebagai seorang yang
terusir, maka kami
melingdungimu dan engkau datang dalam
keadaan miskin lalu
kami menghiburmu dan
engkau datang dalam keadaan
ketakutan lalu kami
mengamankanmu dan
engkau datang dalam keadaan
teraniaya lalu kami menolongmu." Mereka berkata: "Segala puji dan kurnia
bagi Allah SWT
dan Rasul-Nya." Rasulullah
saw berkata: "Wahai kaum Anshar, apakah kalian akan
marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada suatu kaum dengan harapan
agar keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian justru melupakan kurnia yang
telah Allah SWT berikan kepada kalian dalam bentuk nikmat Islam. Tidakkah
kalian wahai kaum Anshar merasa puas ketika manusia pergi untuk melakukan
perjalanan di musim dingin sedangkan kalian pergi dengan Rasulullah saw. Maka
demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya
manusia melalui suatu
jalan dan kaum
Anshar melalui jalan yang lain nescaya aku akan melalui jalan
kaum Anshar.
Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar
dan anak-anak kaum Anshar dan cucu kaum Anshar." Mendengar doa
itu, kaum tersebut
menangis sehingga janggut
mereka terbasahi dengan air mata dan mereka berkata: "Kami rela
dengan Allah SWT sebagai Tuhan dan
sangat puas dengan
pembahagian Rasulullah saw." Kemudian Nabi
saw pun meninggalkan mereka
dan mereka pergi
dalam keadaan puas. Orang-orang
Anshar memahami bahawa
Muslim yang
hakiki di dunia adalah
seorang yang datang
di dunia untuk
memberi, bukan untuk mengambil. Nabi
saw terbangun dan
beliau mendapati dirinya
sendirian di kamar. Suhu
tubuh beliau meningkat
kerana demam,
lalu beliau memanggil Aisyah dan meminta kepadanya untuk
membawa air yang dapat digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah mulai
menuangkan air kepada Rasulullah saw sampai demam beliau beransur- ansur
sedikit menurun. Tampak bahawa waktu
berlalu cukup lambat
dan berat. Sakit
Rasulullah saw semakin meningkat. Beliau mulai
merasa bahawa tidak
mampu lagi untuk
solat bersama para sahabat, lalu
beliau memerintahkan Abu
Bakar untuk solat
bersama mereka. Pada saat
Nabi mengalami antara
keadaan terjaga dan
tidur, beliau selalu berfikir apa
gerangan yang belum
disampaikannya kepada manusia.
Beliautelah menyampaikan segala sesuatu
dan telah mengajari
mereka segala sesuatu serta
telah meninggalkan sebuah
Kitab yang siapa
pun berpegangan dengannya ia
tidak akan sesat. Rasul saw mulai
mengantuk dan berbagai nostalgia terlintas
di kepalanya. Beliau melihat
dirinya di haji
Wada'. Selesailah perjanjian yang
diberikan kepada kaum musyrik
dan mereka telah
dilarang untuk memasuki
Masjidil Haram dan sekarang
Nabi saw keluar
sebagai pemimpin haji
dan mengajari kaum Muslim
cara manasiknya. Rasulullah saw
memperhatikan ribuan
orang-orang yang bertauhid saat mereka menuju Baitul Haram dalam keadaan
memenuhi panggilan Tuhan
dan tunduk kepadanya. Mereka
menghidupkan memori datuk mereka, Ibrahim Khalilullah. Nabi saw berdiri
dan berpidato di tengah-tengah keramaian itu. Nabi saw mulai merasakan bahawa
kehidupannya di dunia sebentar
lagi akan berakhir.
Beliau
mengetahui bahawa kafilah
ini akan pergi sendirian dalam menjalani kehidupan. Beliau kembali
menanamkan nilai- nilai Islam
dan wasiat dakwah
di jalan Allah
SWT. Setelah berjuang selama dua
puluh tiga tahun menegakkan
agama Allah SWT,
beliau bertanya kepada mereka: "Apakah aku
telah menyampaikan amanat Tuhan?" Lalu manusia yang
hadir saat itu
menyatakan bahawa beliau
benar-benar telah
menyampaikan dakwah. Beliau
memanggil Mu'ad bin
Jabal dan mengajarinya bagaimana berdakwah kepada
manusia di jalan
Allah SWT dan
bagaimana mengenalkan agama kepada mereka. Kemudian beliau
berwasiat kepada Mu'ad
saat ia menunggangi
kenderaannya sedangkan
Rasulullah saw berjalan
di sebelah untanya:
"Sesungguhnya orang yang paling
utama di sisiku
adalah orang-orang yang
bertakwa, siapa pun mereka dan di mana pun mereka." Nabi
saw adalah rahmat bagi semua manusia dan
sebagai cermin yang
tertinggi dari cermin
persaudaraan dan kepatuhan. Beliau menegakkan Al-Qur'an di
tengah-tengah umat Islam
namun beliau menolak segala
bentuk penampilan yang biasa melekat pada seorang penguasa atau raja
atau pemimpin apa
pun. Beliau berkata
kepada para sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba
Allah SWT dan Rasul-Nya." Beliau
keluar menemui sekelompok sahabatnya lalu
sebagai bentuk penghormatan
kepada beliau mereka berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka
agar tidak berdiri.
Ketika beliau keluar
untuk menemui
sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya, maka beliau duduk bersama mereka di tempat
terakhir yang ditemukannya.
Beliau
sangat bersahabat dan
ramah dengan para sahabatnya,
bahkan beliau bercanda
dengan anak-anak mereka dan
mendudukkan mereka di
ruangannya. Beliau memenuhi
panggilan orangdewasa mahupun anak-
anak. Beliau membesuk orang-orang yang
sakit meskipun berada di
tempat yang jauh.
Beliau menerima alasan
orang yang mempunyai uzur.
Beliau mendahului orang
yang ditemuinya dengan
salam bahkan beliau mendahului berjabat tangan dengan para sahabatnya.
Ketika seseorang datang
untuk menemuinya saat
beliau solat, maka
beliau mempersingkat
solatnya dan menanyakan keperluan orang
itu. Setelah menyelesaikan keperluan manusia,
beliau kembali menyelesaikan solatnya. Beliau selalu
menebar senyum kepada
kawan dan lawan
dan memiliki keperibadian yang
paling baik. Ketika
beliau berada di
rumahnya, beliau melayani keluarganya.
Beliau mencuci bajunya. Beliau memperbaiki sandalnya dan memberi minum unta.
Beliau makan bersama pembantu. Beliau memenuhi kebutuhan orang yang lemah,
orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan kebaikan beliau
dan kasih sayangnya
sampai pada tingkat
di mana beliau membiarkan cucunya menaiki
punggungnya saat beliau sedang solat. Kasih sayang beliau tidak hanya terbatas
kepada manusia bahkan juga tertuju pada binatang dan pohon. Beliau memberi
makan binatang dengan tangannya sendiri
bahkan beliau pernah
merawat anjing yang
sakit. Beliau memerintahkan
pasukan Islam saat berperang demi menegakkan keadilan Islam agar mereka
tidak membunuh anak
kecil, orang tua,
kaum wanita dan hendaklah mereka tidak mencabut pohon
dan tidak pula merobohkan rumah.
Apa yang
dibawa oleh Nabi
saw bukan hanya
suatu undang-undang yang mengatur hubungan
antara manusia dan
manusia yang lain,
dan apa yang dibawa
oleh Nabi saw
bukan hanya berisi
suatu sistem untuk
meningkatkan kualiti kehidupan dan kemajuannya, ini semua adalah hal
relatif namun beliau datang dengan
membawa peradaban yang
abadi yang mengatur
hubungan antara manusia dan
alam, dan mengembalikan keserasian di
alam wujud sehingga semua
berjalan secara seimbang dan mencapai kesempurnaan menuju Allah SWT. Meskipun
pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau masih sibuk mengurus masa depan
dakwah dan beliau sangat cemas terhadap masa depan agama dan sangat peduli
dengan masalah kaum Muslim. Beliau khawatir suatu saat Islam
hanya tinggal namanya namun
hakikatnya telah lenyap.
Namun sebelum beliau meninggal,
Allah SWT telah
memperlihatkan kepada beliau sesuatu yang
membuat hati beliau
menjadi tenang. Dan
di hari Senin
dari bulan Rabiul Awal yang mulia, beliau kembali kepada Tuhannya dalam
keadaan ridha dan diridhai. Salam kepadamu ya Rasulullah dan kepada keluarga
serta sahabat yang
setia bersamamu.
NABI MUHAMMAD s.a.w DENGAN
PENGEMIS BUTA
Di sudut
pasar Madinah Al-Munawarah seorang
pengemis Yahudi buta,
hari demi hari apabila
ada orang yang
mendekatinya ia selalu
berkata "Wahai saudaraku
jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang
sihir, apabila kalian
mendekatinya kalian akan
dipengaruhinya". Setiap
pagi Rasulullah SAW
mendatanginya dengan membawa
makanan, dan tanpa berkata
sepatah kata pun
Rasulullah SAW menyuapi
makanan yang dibawanya kepada pengemis
itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang
yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya setiap
hari hingga menjelang Beliau
SAW wafat.
Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan
makanan setiap pagi kepada pengemis
Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu
Bakar r.a berkunjung
ke rumah anaknya Aisyah r.ha.
Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang
belum aku kerjakan", Aisyah
r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda
engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah
pun yang belum
ayahanda lakukan kecuali
satu sunnah saja". "Apakah Itu?",
tanya Abu Bakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar
dengan membawakan makanan
untuk seorang pengemis
Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha. Keesokan harinya
Abu Bakar r.a.
pergi ke pasar
dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis
itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu
dan memberikan makanan
itu kepada nya.
Ketika Abu Bakar
r.a. mulai menyuapinya, si
pengemis marah sambil
berteriak, "siapakah kamu
?". Abu Bakar r.a
menjawab, "aku orang
yang biasa". "Bukan
!, engkau bukan
orang yang biasa mendatangiku", jawab
si pengemis buta
itu. Apabila ia
datang kepadaku tidak susah
tangan ini memegang
dan tidak susah
mulut ini mengunyah. Orang
yang biasa mendatangiku itu
selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya
makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada
ku dengan mulutnya
sendiri", pengemis itu
melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air
matanya, ia menangis sambil
berkata kepada pengemis
itu, aku memang
bukan orang yang
biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang
yang mulia itu telah tiada lagi.
Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah
pengemis itu mendengar cerita Abu
Bakar r.a. ia
pun menangis dan
kemudian berkata, benarkah demikian?,
selama ini aku
selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak
pernah memarahiku sedikitpun, ia
mendatangiku dengan membawamakanan setiap
pagi, ia begitu
mulia.... Pengemis Yahudi
buta tersebut akhirnya bersyahadat
dihadapan Abu Bakar r.a. NABI-NABI YANG DIUTUS KEPADA KAUM YASIN Allah SWT
berfirman: "Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk
suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami
mengutus kepada mereka dua
orang utusan, lalu
mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami
kuatkan dengan (utusan)
yang ketiga, maka
ketiga utusan itu berkata:
'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab:
'Kamu tidak lain
hanyalah manusia seperti
kami dan Allah Yang Maha Pemurah
tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.'
Mereka berkata: 'Tuhan
kami mengetahui bahawa sesungguhnya kami
adalah orang yang
diutus kepada kamu.
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah)
dengan jelas.' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami
bernasib malang kerana kamu, sesungguhnya kamu jika tidak
berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan
merejam kamu dan
kamu pasti akan
mendapat siksa yangpedih
dari kami.' Utusan-utusan itu
berkata: 'Kemalangan kamu
itu adalah kerana kamu sendiri.
Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu
mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. " (QS.
Yasin: 13-19) Allah SWT menceritakan kepada
kita tentang tiga
nabi tanpa menyebut nama-nama mereka. Hanya saja,
Al-Qur'an menyebutkan bahawa kaum yang didatangi tiga nabi tersebut mendustakan
mereka. Mereka mengingkari bahawa tiga nabi itu sebagai utusan
Allah. Ketika para
rasul itu menunjukan bukti
kebenaran mereka,
kaumnya berkata bahawa
kedatangan mereka justru
membawa kesialan. Mereka
mengancam para nabi
itu dengan rajam, pembunuhan, dan siksaan yang pedih. Para nabi itu
menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat tindakan yang
melampui batas. Mereka
justru menganiaya diri mereka sendiri. Al-Qur'an al-Karim
dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan bagaimana urusan para
nabi itu. Yang
ditonjolkan oleh Al-Qur'an
adalah urusan seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu.
Hanya dia satu- satunya yang beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini
berhadapan dengan kelompok yang besaryang
menentang para nabi.
Laki-laki itu datang
dari negeri yang
jauh. Dan dalam keadaan berlari,
ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk menerima kebenaran. Belum
lama ia menyatakan keimanannya sehingga kemudian ia dibunuh oleh
orang-orang kafir.
Allah SWT berfirman: "Dan datanglah dari
ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia
berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan- utusan itu, ikutilah orang yang tiada
minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa
aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah
menciptakanku dan yang
hanya kepada-Nya-lah kamu
(semua) ahan dikembalikan?
Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang
Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak
memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidah
(pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku
kalau begitu pasti berada
dalam kesesatan yang
nyata. Sesungguhnya aku
telah beriman kepada Tuhanmu;
maha dengarkanlah (pengakuan
keimanan)ku.'" (QS. Yasin: 20-25) Konteks Al-Qur'an hanya
menyebutkan atau membatasi tentang proses pembunuhan itu.
Belum lama orang
mukmin itu atau
belum sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya sehingga Allah
SWT mengeluarkan perintah-Nya
dan mengatakan: "Dikatakan (kepadanya): 'Masuklah ke syurga.' Ia berkata:
'Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,
apa yang menyebabkan
Tuhanku memberi ampun kepadaku dan
menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.'" (QS. Yasin:
26-27) Jadi, Al-Qur'an al-Karim
tidak menyebutkan nama-nama para
nabi itu dan kisah-kisah mereka,
tetapi yang ditonjolkan
adalah kisah lelaki
mukmin di mana dalam
konteks ayat tersebut
nama laki-laki mukmin
pun tidak disebutkan. Tentu
penyebutan namanya tidak
penting, tetapi yang
lebih penting adalah apa yang terjadi padanya. Beliau adalah seorang
mukmin yang mengikuti para nabi AllahSWT.
Dikatakan kepadanya:
masuklah ke dalam
syurga. Tentu proses
penyiksaan yang diterimanya dan pembunuhannya bukan membawa suatu nilai
yang besar tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahawa ia beriman dan tetap
berjuang membela para nabi.
Meski-pun ia mendapatkan
ancaman pembunuhan, ia tetap menunjukkan keimanannya dan
keimanannya tetap membara. "Sesungguhnya aku
telah beriman kepada
Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku."'?