Perang Badar
Akhirnya, kaum Muslim
bersiap-siap untuk memasuki kancah peperangan lalu mereka membuat khemah-khemah yang
di situ ditentukan tempat peristirahatan dan pergerakan
tentera Islam. Tempat itu ditentukan oleh Rasul saw. Allah
SWT membiarkan Rasul-Nya
melakukan kesalahan dalam
memilih tempat sehingga itu
akan dapat menjadi
pelajaran bagi kaum
Muslim dalam kaedah umum dari
kaedah-kaedah peperangan yaitu sikap pemimpin pasukan untuk mengambil suatu
kebijakan yang penting yang berdasarkan pengalaman.

Kemudian datanglah
Habab bin Mundzir
kepada Rasulullah saw
dan bertanya kepadanya, "apakah tempat
yang kita jadikan
sebagai pusat pergerakan tentera kita merupakan pilihan
dari Allah SWT dan Rasul-Nya hingga kita tidak dapat mendahuluinya dan
mengakhirinya yakni kita
tidak dapat memberikan pendapat kita
ataukah itu hanya
masalah yang bersifat
teknik yakni itu terserah pada
pendapat kita dan
sesuai kebijakan saat
perang dan ia merupakan tipu daya semata?"
Rasulullah saw berkata: "Tetapi itu adalah pendapat peribadi, peperangan,
dan tipu daya." Habab berkata: "Ya Rasulullah ini adalah tempat yang
tidak tepat." Sahabat yang sarat pengalaman ini memilih tempat di mana
pasukan Madinah dapat minum darinya
sedangkan pasukan Mekah
tidak dapat mengambil darinya. Kemudian
berpindahlah pasukan Muslim
menuju tempat yang
telah ditentukan oleh pengalaman militer. Sampailah pasukan
Mekah di mana
jumlah mereka mendekati
seribu tentera dan mereka akan
berhadapan dengan tiga ratus tujuh belas pasukan Muslim. Pasukan Quraisy berada
di tempat yang jauh dari lembah. Pasukan
kafir terdiri dalam
perang Badar dari
pemuka-pemuka Quraisy dan pahlawan-pahlawan mereka, sedangkan pasukan Muslim
terdiri dari keluarga-keluarga,
ipar-ipar dan keluarga dekat dari pasukan kafir. Allah SWT telah menentukan agar
seorang anak bertemu
dengan ayahnya, saudara bertemu dengan
sesama saudara dan
sesama ipar bertemu
di medan peperangan. Mereka semua
dipisahkan dengan suatu
prinsip di mana
mereka ditentukan oleh pedang.
Akhirnya, peperangan Badar pun terjadi dan
kaedah utama adalah kaedah persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan
Muslim berpegang teguh di atas dasar Islam, maka pasukan kafir mulai terpecah
belah namun keadaan tersebut mereka sembunyikan. Lalu 'Utbah
bin Rabi'ah berbicara
di tengah-tengah pasukan
Mekah dan mengajak mereka
untuk menarik kembali dari peperangan. 'Utbah memberikan pernyataan sesuai
dengan tuntutan akal sehat,
"wahai orang-orang Quraisy demi Allah,
jika kalian harus
memerangi Muhammad, maka
kalian akan menyesal kerana kita
berhadapan dengan saudara- saudara kita sendiri. Boleh jadi kita
akan membunuh anak
paman kita, atau
salah seorang dari
kerabat kita.
Mengapa kalian tidak membiarkannya
saja?" Kalimat yang rasional
tersebut cukup menggoncangkan pasukan Mekah. Sebahagian tentera
merasa puas dengan
pernyataan tersebut kerana
mereka melihat bahawa tidak ada gunanya peperangan itu. Namun kebodohan
justru memadamkan kalimat yang
rasional itu. Abu
Jahal menuduh bahawa
yang mengucapkan kata-kata adalah orang yang penakut. Kemudian Abu Jahal
lebih memilih pendapatnya untuk menetapkan terus memerangi kaum Muslim.
Pemimpin pasukan kafir yaitu Abu Jahal mengetahui bahawa Muhammad tidak
pernah berbohong. Kitab-kitab sejarah
menceritakan bahawa Akhnas
bin Syuraif menyendiri dalam perang Badar bersama Abu Jahal sebelum
terjadinya peperangan tersebut dan
bertanya kepadanya, "wahai
Abul Hakam, tidakkah engkau melihat bahawa Muhammad
pernah berbohong? Abul Hakam menjawab: "Bagaimana mungkin ia
berbohong atas Allah,
sedangkan kami telah menamainya al-Amin (orang
yang dapat dipercayai)." Peperangan tersebut bukan sebagai
usaha untuk mendustakan Rasul
saw tetapi itu
hanya semata-mata untuk menjaga
kepentingan-kepentingan
sesaat dan keadaan ekonomi. Demikianlah orang-orang kafir
mempertahankan nilai yang
paling rendah yang ada
di muka bumi
yang juga dipertahankan oleh
binatang, sementara kaum Muslim
justru mempertahankan nilai
yang paling tinggi
di bumi dan di langit yang ikut serta di dalamnya para malaikat.
Kemudian datanglah waktu malam
menyelimuti dua kubu. Tiga ratus tentera yang
mukmin sudah
bersiap-siap dan mendekati seribu
tentera musyrik.
Orang-orang musyrik datang
dengan menunggangi tunggangan mereka
dan tampak mereka memiliki
persenjataan yang lengkap, sedangkan setiap orangMuslim datang
di atas satu
kenderaan. Pakaian yang
dipakai orang-orang musyrik
tampak masih baru dan pedang-pedang mereka tampak mengilat serta baju besi
yang mereka gunakan
sangat unggul dan
kuat. Alhasil, mereka memiliki persiapan yang sangat
mengagumkan sedangkan pakaian yang dipakai orang-orang Muslim tampak sudah
usang dan pedang-pedang kuno pun mereka gunakan dan baju besi yang mereka
gunakan tampak tidak sempurna. Nabi
melihat keadaan pasukannya lalu
hati beliau tampak
sedih melihat pasukan tersebut.
Beliau berdoa kepada
Tuhannya: "Ya Allah,
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah
mereka. Ya Allah, sesungguhnya
mereka adalah orang-
orang yang tanpa
alas kaki, maka tolonglah mereka.
Ya Allah, Sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang tidak berpakaian, maka berilah mereka
pakaian." Kemudian rasa kantuk
menghinggapi mata kedua
pasukan lalu mereka beristirahat di
tengah-tengah malam. Jatuhlah
hujan kecil yang
membuat tempat itu basah sehingga kelembapan mengitari kaum Muslim.
Hujan tersebut membasuh tanah perjalanan dan menghilangkan debu- debu kepayahan
serta menyucikan hati dan membangkitkan kepercayaan atas kemenangan dari Allah
SWT. Allah SWT berfirman: "(Ingatlah),
ketika Allah menjadikan kamu
mengantuk sebagai suatu penenteram dari-Nya, dan
Allah menurunkan hujan
dari langit untuk menyucikan kamu
dengan hujan itu
dan menghilangkan dari
kamu gangguan-gangguan
syaitan dan untuk
menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak
kaki(mu)." (QS. al-Anfal: 11) Datanglah waktu pagi di Badar lalu kaum
Quraisy mulai menyerang, lalu Nabi memerintahkan pasukan Muslim untuk bertahan.
Rasulullah saw bersabda: "Jika musuh mengepung kalian,
maka usirlah mereka dengan
panah dan janganlah kalian menyerang mereka sehingga
kalian diperintahkan."
Demikianlah ketetapan militer yang
sangat jitu yang bererti hendaklah kaum Muslim membentengi mereka
di tempat-tempat mereka
agar orang-orang musyrik mendapatkan kerugian dari
serangan yang mereka
lakukan. Kita mengetahui dari
ilmu militer saat
ini bahawa seorang
yang menyerangmemerlukan tiga
atau tiga kali lipat dari jumlah yang biasa dilakukan sehingga serangannya betul-betul efektif;
kita mengetahui bahawa
jumlah pasukan musyrik tiga
kali lipat dibandingkan dengan tentera Muslim. Kaum musyrik di lihat dari segi
jumlah sangat memadai untuk memenangkan peperangan, dan persenjataan mereka
lebih lengkap dari
persenjataan kaum Muslim.
Jumlah haiwan yang mereka miliki pun sama dengan jumlah mereka,
sedangkan tiap tiga orang Muslim berperang di atas satu tunggangan.
Keadaan saat itu
sangat menguntungkan kaum musyrik.
Tanda-tanda kemenangan tampak
menyertai bendera kaum
musyrik, tetapi kemenangan peperangan bukan
kerana kebesaran jumlah
pasukan dan persenjataan yang lengkap. Terkadang
peperangan justru dimenangkan
oleh unsur spirituil
yang tidak kelihatan. Spirituil
tentera dan keimanannya
tentang persoalan yang dipertahankannya serta
keinginannya untuk mendapatkan dua
kebaikan: kemenangan atau kematian
dan hasratnya yang
tinggi untuk meneguk
madu syahadah, semua itu dapat mengubah seorang tentera menjadi makhluk
yang tidak terkalahkan. Boleh
jadi ia akan
merasakan kematian tetapi
jauh dari kekalahan. Demikianlah
keadaan pasukan Muslim. Sementara itu debu-debu berterbangan di atas kepala
pasukan yang bertempur dan kaum Muslim
mencurahkan tenaga yang
keras dalam peperangan itu. Ketika dua pasukan saling bertemu
dan bertempur, Nabi saw melihat mereka, lalu
Nabi saw menyaksikan pasukannya terjepit.
Pasukan yang berjumlah sedikit dengan
persenjataan yang tidak
lengkap itu kini
ditekan oleh orang kafir. Dalam
keadaan demikian, Nabi
saw meminta pertolongan kepada Tuhannya: 'Ya
Allah, kirimkanlah bantuan
dan pertolongan-Mu. Ya
Allah, wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini
dihancurkan, maka Engkau tidak akan
disembah setelahnya di
muka bumi." Renungkanlah, bagaimana kesedihan Nabi saat
terjadi peperangan itu. Oleh kerana itu, kita dapat memahami mengapa Nabi saw
meminta agar pasukannya dimenangkan.
Pemimpin pasukan tertinggi
Muhammad bin Abdillah keluar berperang di jalan Allah SWT dan saat ini kematian
sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang difikirkan oleh Nabi saw pada
keadaan yang sulit tersebut? Pemikiran Nabi saw melebihi hal yang sekarang dan
menuju pada hal yang akan datang, dan yang menjadi fokus Nabi adalah
penyembahan Allah SWT di muka bumi: "Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan,
maka Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumi." Nabi tidak
terlalu mengkhuatirkan kehancuran kaum Muslim kerana Nabi
justrumengkhuatirkan sesuatu yang
lebih besar dari
itu. Yang beliau
khuatirkan adalah
penyembahan kepada Allah
SWT akan berhenti
di muka bumi.
Oleh kerana itu, Nabi meminta tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan
kembali kepada Tuhannya dan
Allah SWT lebih
tahu dari hal
itu. Kemudian turunlah bala tentera malaikat yang dipimpin
oleh Jibril. Allah SWT berfirman: "(Ingatlah), ketika
kamu memohon pertolongan kepada
Tuhanmu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu: 'Sesungguhnya Aku
akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut.
' Dan Allah tidak menjadikannya
(mengirim bantuan itu), melainkan sebagai khabar gembira dan
agar hatimu menjadi
tenteram kerananya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Anfal: 9-10)
Setelah itu Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar dan berkata: "Sampaikan
berita gembira wahai
Abu Bakar, sesungguhnya telah
datang kepadamu bantuan dari Allah
SWT." Turunnya para malaikat merupakan cara untuk meneguhkan kaum Muslim
dan berita gembira kepada mereka. Mukjizat itu bukan terletak pada penyertaan
para malaikat dalam
peperangan, namun melalui
nas-nas ditegaskan bahawa peranan malaikat
tidak lebih dari
sekadar membawa berita
gembira dan memberikan dukungan
moril serta memenuhi
hati dengan ketenangan.
Kami kira bahawa Allah SWT ingin agar para malaikat menyaksikan
manusia-manusia malaikat yang mempertahankan akidah tauhid. Demikianlah Allah
SWT mewahyukan kepada
malaikat bahawa Dia
bersama mereka. Oleh kerana itu, hendaklah orang-orang yang beriman
merasa tenang dan kebenaran akan tertancap pada hati mereka sedangkan
orang-orang kafir pasti akan merasakan ketakutan. Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para
malaikat: 'Sesungguhnya
Aku bersama kamu,
maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah
beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam
hati orang-orang kafir,
maka penggallah kepala
mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung
jari mereka. (Ketentuan) yang
demikian itu adalah kerana
sesungguhnya mereka menentang
Allah dan Rasul-Nya;
dan barang siapa menentang
Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya Allah amat keras
seksaan-Nya. Itulah (hukum
dunia yang ditimpakan
atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang
kafir itu ada (lagi) azab neraka." (QS. al-Anfal: 12-14) Lalu orang-orang kafir
pun mengalami kekalahan. Setelah
peperangan itu,
terbunuhlah tujuh puluh
kafir dan tujuh
puluh tawanan dari
mereka dan sebahagian pasukan
melarikan diri. Runtuhlah
tokoh-tokoh kebencian dan kelaliman di peperangan tersebut.
Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin pasukan, dan pahlawan-pahlawan Mekah kini terkapar.
Rasulullah saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-orang kafir dan berkata:
"Wahai Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, wahai Umayah bin
Khalf, wahai Abu Jahal
bin Hisam, apakah
kalian menemukan apa
yang dijanjikan oleh tuhan
kalian kepada kalian.
Sungguh aku telah
menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku." Orang-orang Muslim
berkata: "Ya Rasulullah,
apakah engkau memanggil kaum
yang sudah mati?"
Rasulullah berkata: "Kalian
tidak mengetahui apa yang aku katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak
mampu menjawab perkataanku." Rasulullah saw tinggal tiga malam di Badar
kemudian beliau kembali ke Madinah.