Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 28 September 2026

DALIL IJMA ADANYA ALAM KUBUR

 DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR

Akidah tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur,  adanya  pertanyaan  Malaikat  di  alam  kubur,  adalah akidah yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah  di  antara mereka.Yang   menyelisihi   mereka adalah ahlul bid'ah  dari kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.

DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR


Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah berkhutbah: Rasulullah  Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya  Dajjal, mendustakan adanya syafa'at, mendustakan adanya adzab kubur, dan    mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika itu  Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.                              

 ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik berkata: jangan kalian  bermajelis dengan mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya. Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236                           

disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutupkepala dari besi panas padanya”. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau mengatakan:“(Di antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya adzab kubur, dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan didatangi oleh malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah”.Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:                               

   “Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang memiliki  dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka    juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”.  Al Lalika'i rahimahullah membuat judul bab:  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam  bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu  Ja'far Ath Thahawi  rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan: “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.

Dan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”. Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”.                                

 Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan bahwasanya  manusia akan diuji di dalam kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya di sana. Allah pun akan mengokohkan    orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya  kecuali ahlul bid'ah”.  Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:  

 “Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab kubur”.Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan:    “Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat banyak riwayatnya, dan mencapai  level mutawatir dari segi makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur. Berbeda dengan sebagian ahlul bid'ah”.       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini bahwa mayit ketika meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di alam kubur). Dan itu akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap ada setelah berpisah dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat atau mendapat adzab. Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya, sehingga ketika itu ruh dan badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya, sebagaimana ditegaskan di dalam as-Sunnah dan  zahir  dari  ayat-ayat  Al  Qur'an,  serta  ijma'  ulama  kaum  Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya.

 Adapun   dalil   dari   as-Sunnah   adalah   sabda   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan   kepada Allah dari adzab kubur! Adapun   dalil  ijma',   yaitu   para   ulama   sepakat   menganjurkan   untuk membaca doa berikut ini dalam shalat: “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab Jahannam dan dariadzab kubur .Sampai-sampai  orang  awam  yang  bukan  ahlul  ijma'  juga  menyepakati halini. Adapun zahir dari ayat Al Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras  ” (QS.Ghafir: 46)”86.

 

Nukilan-nukilan  di  atas  secara  jelas  menunjukkan  bahwa  para  ulama Ahlussunnah  ijma'  (sepakat)  dalam  mengimani  adanya  alam  kubur,  nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur. Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.

Sumber :

82 Majmu' Al Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83  Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin, seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no. 3558 85  HR. Al Bukhari no.1377, Muslim no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu  Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322 80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau tokoh-tokoh penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan Parsi.

Ali Al Qari lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar di bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H.  81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368 74  Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau wafat pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358 76  Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil Malik bin Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki. Beliau juga ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau adalah salah satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum Muslimin. Beliau wafat pada tahun 449H. 77  Syarhu Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78  Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus. An Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits. Kitab Riyadhus Shalihin, Al Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al Majmu' Syarhul Muhadzab, Al Adzkar , adalah karya-karya beliau yang  berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum Muslimin di seluruh dunia. Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 70 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni, seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 65  Al Ibanah, halaman 4 66  Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan Ath Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama al-Lalika'i. Seorang ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab Syafi'i. Wafat pada tahun 418H. 67  Syarhu Ushuli Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68  Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.

Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H. 61  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani, seorang imam besar Ahlussunnah dari Iraq. Tokoh  besar dalam bidang fikih dan hadits. Kepada diri beliaulah madzhab Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah salah satu karya beliau yang fenomenal dan dipelajari kaum Muslimin seluruh dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64  Ali bin Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan kepadanya pemahaman Asy'ariyah. Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman tersebut dan rujuk kepada akidah salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.                                             

Read More

Minggu, 27 September 2026

Kisah Rasulullah SAW Mendengar azab kubur

 Dari Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu'anhu, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam keluar rumah tatkala matahari telah tenggelam. Beliau mendengar suara-suara, lalu bersabda:  “Orang-orang Yahudi sedang diadzab di kuburan mereka  ”.

Kisah Rasulullah SAW Mendengar azab kubur

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu'anhu, ia berkata:“Suatu hari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pergi ke kebun kurma milik Bani Najjar. Beliau mendengar suara-suara dari orang-orang Bani Najjar yang telah meninggal di zaman Jahiliyah. Mereka sedang diadzab di dalam  kuburnya. Kemudian beliau pun keluar dalam keadaan ketakutan dan  memerintahkan para sahabatnya untuk berlindung dari adzab kubur”.

Beliau lalu  bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesaishalat”.Hadits  ini  menunjukkan  dengan  tegas  tentang  adanya  adzab  kubur  dan alam  kubur.  Diperkuat  lagi  dengan  pemahaman  Aisyah radhiallahu'anha yang   menyampaikan  hadits ini,  menunjukkan bahwa Aisyah radhiallahu'anha juga meyakini adanya adzab kubur dan alam kubur

Read More

Sabtu, 26 September 2026

KISAH AZAB KUBUR KEPADA ORANG YANG SUKA ADU DOMBA DAN TIDAK BISA MENJAGA KESUCIAN TUBUH

 Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian    pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda,   ‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut mereka bedua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya di adzab karena tidak membersihkankan   bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)”.

KISAH AZAB KUBUR KEPADA ORANG YANG SUKA ADU DOMBA DAN TIDAK BISA MENJAGA KESUCIAN TUBUH

Dari Umar bin Khathab radhiallahu'anhu,  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya   menangisinya". Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya  melakukan niyahah terhadapnya

Read More

Jumat, 25 September 2026

Nafsu dan ilmu dalam tasawuf

 Dalam tasawuf, nafsu itu bukan cuma hawa nafsu pengen maksiat. Nafsu itu *tingkatan jiwa*. 



Qur'an menyebut 3, ulama tasawuf merinci jadi *7 tingkatan* — dari yang paling gelap sampai paling terang.


7 Tingkatan Nafsu:


*1. Nafs al-Ammarah - النفس الأمارة*

Jiwa yang menyuruh berbuat jahat.

> _"Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan"_ (QS. Yusuf:53)

Ini level paling bawah. Ciri: malas ibadah, senang maksiat, iri dengki, dendam. Kalau tidak dilawan, dia yang jadi Tuhanmu.


*2. Nafs al-Lawwamah - النفس اللوامة*

Jiwa yang mencela diri sendiri.

> _"Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri"_ (QS. Al-Qiyamah:2)

Sudah mulai sadar. Habis maksiat nyesel, habis ghibah kepikiran, tapi besok diulangi lagi. Tarik-tarikan antara dosa dan tobat. Kebanyakan kita di sini.


*3. Nafs al-Mulhimah - النفس الملهمة*

Jiwa yang diberi ilham.

Allah sudah mulai bisikkan mana baik dan buruk tanpa diajar orang.

> _"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan"_ (QS. Asy-Syams:8)

Mulai peka, firasat tajam, tapi masih belum stabil. Kadang ikhlas, kadang riya'.


*Inilah batas hijrah. 3 di atas masih di dunia. 4 di bawah ini sudah masuk alam akhirat selagi di dunia.*


*4. Nafs al-Muthmainnah - النفس المطمئنة*

Jiwa yang tenang.

> _"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha"_ (QS. Al-Fajr:27-28)

Ini target pertama para sufi. Ciri: tenang saat dapat nikmat maupun musibah, tidak panik, tidak sombong. Dzikir sudah jadi nafas.


*5. Nafs ar-Radhiyah - النفس الراضية*

Jiwa yang ridha kepada Allah.

Apapun keputusan Allah, dia bilang "ini yang terbaik". Sakit ridha, sehat ridha, miskin ridha, kaya ridha. Tidak komplain ke Allah.


*6. Nafs al-Mardhiyyah - النفس المرضية*

Kebalikannya. Kalau tadi kita yang ridha ke Allah, di level ini *Allah yang ridha kepada kita.*

Sudah tidak ada hijab. Doanya mustajab, ucapannya berkah. Para wali di level ini.


*7. Nafs al-Kamilah - النفس الكاملة*

Jiwa yang sempurna.

Ini hanya milik Nabi Muhammad ﷺ dan sebagian kecil pewarisnya. Sudah tidak ada kepentingan diri sendiri sama sekali. Hidupnya hanya untuk Allah. Inilah yang disebut _Insan Kamil_.


Cara Menaikkannya?


Imam Ghazali bilang rumusnya 3:

- *Takhalli:* kosongkan yang kotor (dari Ammarah) - dengan taubat & puasa

- *Tahalli:* hiasi yang bersih (menuju Muthmainnah) - dengan dzikir & tadabbur

- *Tajalli:* Allah tampakkan cahaya-Nya (Radhiyah ke atas) - ini bukan usaha kita lagi, tapi hadiah dari Allah.




Ilmu dalam tasawuf

Dalam tasawuf, yang teman kamu sebut itu biasanya dibagi 3 jenis ilmu. Biar nggak bingung, ini urutannya:


*1. Ilmu Kasbi*

Ilmu yang dicari pakai usaha. Belajar, baca kitab, ikut kajian, mondok. Contoh: fiqih, nahwu, tafsir. Kamu usaha -> dapat.


*2. Ilmu Wahbi*

Nah ini yang kamu tanya. Wahbi itu dari kata _wahb_ = pemberian / hadiah.


Artinya ilmu yang *diberikan langsung oleh Allah ke hati seorang hamba, tanpa proses belajar biasa.* Bukan dia pinter, tapi Allah yang kasih.


Di Al-Quran disebut:

> "...dan Kami telah ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi : 65) — kisah Nabi Khidir.


Jadi ilmu Wahbi ini bukan hasil hafalan, tapi hasil kebersihan hati. Hadiah karena istiqomah dalam ibadah, zuhud, dan jujur ke Allah.


*3. Ilmu Laduni*

Ini masih saudara dekatnya Wahbi, malah sering dianggap sama. Laduni dari kata _ladun_ = dari sisi Kami. Ilmu yang langsung dari Allah tanpa perantara. Bedanya, Laduni biasanya tingkatannya lebih tinggi dan lebih rahasia lagi. Ilmu Wahbi itu payung besarnya, Laduni salah satu bentuk paling khususnya.


---


Gimana cara dapat Ilmu Wahbi menurut ulama tasawuf?


Bukan dengan minta "ya Allah kasih ilmu wahbi". Tapi syaratnya:


1.  *Beresi Ilmu Kasbi dulu:* Syariatnya harus benar dulu. Sholat, fiqih, akidah beres.

2.  *Tazkiyatun Nafs (Bersihin hati):* Kurangin maksiat, banyak dzikir, ikhlas.

3.  *Takwa:* Sesuai ayat "Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqon (pembeda) kepadamu" (QS. Al-Anfal: 29) dan "Bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu" (QS. Al-Baqarah: 282)


Jadi rumusnya ulama dulu: *Istiqomah dalam syariat melahirkan ilmu hakikat.*


Teman kamu belajar tasawuf di mana di Malang? Biasanya istilah Wahbi, Kasbi, Laduni ini banyak dibahas di kajian Ihya Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali.

Read More

Hadits Doa meminta perlindungan azab kubur

Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu'anhu,  bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan    berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur  yang aku dengar”. 

Doa meminta perlindungan azab kubur

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan:“Setelah itu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berbalik menghadap kami, dan bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab neraka! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada  Allah dari adzab neraka.

Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.

 Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada   Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. 

Nabi bersabda:   mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal   D a l a m   k i t a b Silsilah   Ahadits Shahihah,  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa syawahid, yaitu dari jalan Zaid bin Tsabit dan dari jalan Jabir bin Abdillah.


Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’. 

Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i radhiallahu'anhu, ia mengatakan: Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah shalat jenazah, dan aku   menghafalkan doa yang beliau ucapkan, yaitu: Ya Allah, berilah ampunan  baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah  kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan  air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau   bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang  lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya  semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam  surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka  Dan  sebenarnya  masih  banyak  lagi  dalil  dari  hadits-hadits  yang  shahih mengenai adzab kubur.            

Read More

Kamis, 24 September 2026

ORANG YAHUDI MENDENGARKAN TENTANG AZAB KUBUR

 Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:“Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang  kepadaku. Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak mempercayainya. Kemudian mereka berdua keluar.

ORANG YAHUDI MENDENGARKAN TENTANG AZAB KUBUR

 Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku.Maka aku pun menceritakan  apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu  bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesai shalat”.Hadits  ini  menunjukkan  dengan  tegas  tentang  adanya  adzab  kubur  dan alam  kubur.  Diperkuat  lagi  dengan  pemahaman  Aisyah radhiallahu'anha yang   menyampaikan  hadits ini,  menunjukkan bahwa Aisyah radhiallahu'anha juga meyakini adanya adzab kubur dan alam kubur
Read More

Rabu, 23 September 2026

DALIL HADITS ADANYA ALAM KUBUR

DALIL AS SUNNAH ADANYA ALAM  KUBUR

Dalil pertama  Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu'anhu,  bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur  yang aku dengar”. 

DALIL HADITS  ADANYA ALAM  KUBUR

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan:“Setelah itu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berbalik menghadap  kami, dan bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab neraka! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab neraka. Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab kubur. Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada   Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Nabi bersabda:   mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal  Dalam   k i t a b Silsilah   Ahadits Shahihah,  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa syawahid, yaitu dari jalan Zaid bin Tsabit dan dari jalan Jabir bin Abdillah.Setelah itu, beliau memberikan penjelasan penting. Beliau berkata: “Dari beberapa  hadits  di  atas  terdapat  banyak  faedah,  yang  paling  penting  di antaranya:  

Pertama, menetapkan adanya adzab kubur, dan hadits-hadits tentang hal i n i mutawatir.  Maka  tidak  ada  lagi  kerancuan  bila  ada  yang  mengklaim bahwa hadits-hadits tentang hal ini adalah hadits Ahad. 

Kedua,  pun  andaikata  memang  benar  hadits-haditsnya  adalah  hadits Ahad,  tetap  wajib  mengimaninya  karena  Al  Qur’an  telah  menunjukkan kebenarannya. (Kemudian Syaikh Al Albani membawakan surat Ghafir ayat 45-46). Ketiga, pun andaikata memang benar bahwa permasalahan adzab kubur tidak ada dalam Al Qur’an, maka hadits-hadits shahih yang ada sudah cukup untuk  menetapkan  akidah  tentang  adzab  kubur  ini.  Klaim  bahwa  perkara aqidah  tidak  bisa  ditetapkan  dengan  hadits Ahad  yang  shahih  adalah  klaim yang  batil  yang  diselipkan  ke  dalam  ajaran  Islam.  Tidak  ada  imam  yang mengatakan  pendapat  demikian,  tidak  tidak  katakan  oleh  imam  madzhab yang  empat  atau  semisal  mereka.  Pendapat  ini  hanya  dikemukakan  oleh ulama ahli kalam yang sama sekali tidak didasari oleh dalil”.  Beliau  juga  mengatakan,  “Adanya  pertanyaan  dua  Malaikat  di  alam kubur adalah benar adanya. Wajib untuk mengimaninya. Hadits tentang hal ini pun mutawatir”.

Dalil ke dua Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:“Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang  kepadaku. Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak   mempercayainya. Kemudian mereka berdua keluar. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku. Maka aku pun menceritakan  apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu  bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan    semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku   pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesai shalat”.Hadits  ini  menunjukkan  dengan  tegas  tentang  adanya  adzab  kubur  dan alam  kubur.  Diperkuat  lagi  dengan  pemahaman  Aisyah radhiallahu'anha yang   menyampaikan  hadits ini,  menunjukkan bahwa Aisyah radhiallahu'anha juga meyakini adanya adzab kubur dan alam kubur.                              

Dalil ke tiga  Dari Al Barra' bin Azib radhiallahu'anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian  didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman  dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: )”.  Ini adalah dalil Al Qur’an sekaligus As Sunnah. Karena merupakan bukti bahwa surat Ibrahim ayat 27 berbicara tentang adzab kubur dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menafsirkan demikian.

Dalil ke empat  Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian    pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda,   ‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut mereka bedua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkankan   bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)”.

Dalil ke lima Dari Utsman bin Affan radhiallahu’anhu, ia berkata:  “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alam  kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam    kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat”. Utsman radhiallahu’anhu berkata, “Aku tidak     pernah memandang sesuatu yang lebih mengerikan dari kuburan.

Dalil ke enam Dari Umar bin Khathab radhiallahu'anhu,  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya   menangisinya". Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya  melakukan niyahah terhadapnya".

Dalil ke tujuh Dari Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu'anhu, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam keluar rumah tatkala matahari telah tenggelam. Beliau mendengar suara-suara, lalu bersabda:  “Orang-orang Yahudi sedang diadzab di kuburan mereka  ”.

Dalil ke delapan  Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu'anhu, ia berkata:“Suatu hari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pergi ke kebun kurma milik Bani Najjar. Beliau mendengar suara-suara dari orang-orang Bani Najjar yang telah meninggal di zaman Jahiliyah. Mereka sedang diadzab di dalam  kuburnya. Kemudian beliau pun keluar dalam keadaan ketakutan dan  memerintahkan para sahabatnya untuk berlindung dari adzab kubur”.

Dalil ke sembilan Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’.                               

Dalil ke sepuluh  Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i radhiallahu'anhu, ia mengatakan:“Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah shalat jenazah, dan aku   menghafalkan doa yang beliau ucapkan, yaitu: Ya Allah, berilah ampunan  baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah  kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan  air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau   bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang  lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya  semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam  surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka  Dan  sebenarnya  masih  banyak  lagi  dalil  dari  hadits-hadits  yang  shahih mengenai adzab kubur. Karena para ulama mengatakan hadits-hadits tentang adzab   dan   nikmat   kubur   itu   mencapai   level mutawatir karena   sangat banyaknya. Yang sebagian hadits-hadits tersebut akan kami sebutkan dalam bab  “Beberapa Keyakinan Ahlussunnah Terkait Alam Kubur       

 

Sumber :                .

58 HR. Muslim no. 963 42 HR. Muslim no.7393, Ahmad no.12026 56  HR. Ahmad no.14152. Syu'aib Al Arnauth dalam takhrij-nya mengatakan: “Sanad hadits ini shahih sesuai syarat      Muslim”. Demikian juga yang dikatakan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (no. 3954). 57  HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589 53 HR. Bukhari no. 1304, Muslim no. 929 54 HR. Bukhari no. 1292, Muslim no. 927 55 HR. Al Bukhari no. 1375, Muslim no. 2869 51 HR. Bukhari no.6055, Muslim no.703 48 idem 49 HR. Bukhari no.600543 HR. Muslim no. 2867, dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu'anhu 44 Lihat kitab

Silsilah Ahadits Shahihah penjelasan hadits nomor 158-159 45 HR. Muslim no. 2867, 7392 46 HR. Ahmad no. 14185, Al Albani berkata: “Shahih muttashil (bersambung) sesuai persyaratan Imam Muslim”. 47 As-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 1/244 52 HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat     Rabbaniyyah, 4/192 50 HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398                                                        
Read More