Singgasana Ratu Balqis
Para perisik Sulaiman telah memberitahunya bahawa hal yang
sangat disegani dan dikagumi oleh kaum Balqis adalah kerajaan Saba', yaitu
singgahsana ratu Balqis. Singgahsana itu terbuat dari emas dan batu mulia;
singgahsana tersebut dijaga oleh para
penjaga yang sangat
disiplin di mana
mereka tidak pernah lalai sedikit
pun.
Oleh kerana
itu, sangat tepat
bila Sulaiman menghadirkan singgahsana di
sini, di kerajaannya sehingga
ketika ratu tiba,
maka ia dapat duduk di
atasnya. Sulaiman ingin
membuat kejutan kepadanya dan menunjukkan bahawa kemampuannya tersebut yang
berlandaskan pada
keislamannya. Sulaiman melakukan yang demikian itu dengan harapan agar si ratu tunduk
kepadanya. Ide ini
terlintas dalam diri
Sulaiman, lalu ia mengangkat kepalanya dan menoleh kepada
anak buahnya:
"Berkata
Sulaiman: 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di
antara kamu sekalian yang
sanggup membawa singgahsananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku
sebagai orang-orang yang
berserah diri.'" (QS.
an-Naml: 38)
Perhatikanlah
ungkapan fikiran Nabi
Sulaiman tersebut. Semua
pemikirannya berkisar
tentang keislaman, para
penyembah matahari; tentang
bagaimanabeliau dapat memberikan petunjuk kepada mereka di jalan Allah
s.w.t. Yang pertama menjawab pertanyaan Sulaiman itu adalah Ifrit dari kalangan
jin yang Allah s.w.t telah menundukkan mereka kepada Sulaiman:
"Berkata
Ifrit (yang cerdik)
dari golongan jin:
'Aku akan datang
kepadamu dengan membawa singgahsana
itu kepadamu sebelum kamu berdiri
dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya
lagi dapat dipercaya.'" (QS. an-Naml: 39)
Sulaiman berdiri dari tempat duduknya setelah satu jam atau
dua jam, namun jin itu berjanji kepadanya untuk menghadirkan singgahsana Balqis
sebelum itu. Istana Sulaiman di Palestina sedangkan istana Balqis terletak di
Yaman. Jarak antara singgahsana tersebut dan singgahsana Sulaiman lebih dari
ribuan juta. Barangkali pesawat yang cepat sekali pun yang kita kenal hari ini
tidak akan mampu membawa dan mendatangkan istana itu dalam waktu satu jam.
Tetapi masalahnya di sini berhubungan dengan kekuatan jin yang misteri.
Sulaiman tidak mengomentari sedikit
pun terhadap apa
yang dikatakan oleh Ifrit
dari kalangan jin.
Tampak ia menunggu
tanggapan lain yang
mampu menghadirkan singgahsana Balqis yang lebih cepat dari itu.
Sulaiman menoleh kepada seseorang di sana yang duduk di atas naungan:
"Berkatalah seorang
yang mempunyai ilmu
dari al-Kitab: 'Aku
akan membawa
singgahsana itu kepadamu
sebelum matamu berkedip.', maka tatkala Sulaiman
melihat singgahsana itu
terletak di hadapannya,
ia pun berkata: 'Ini
termasuk kurnia Tuhanku
untuk mencuba aku,
apakah aku bersyukur atau
mengingkari (akan nikmat-
Nya). Dan barang
siapa yang bersyukur, maka
sesungguhnya dia bersyukur
untuk (kebaikan) diriku sendiri dan
barang siapa yang
ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku
Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS. an-Naml: 40)
Belum
lama seseorang yang
mempunyai ilmu dari
al-Kitab menyatakan kalimatnya sehingga
singgahsana itu bercokol
di depan Sulaiman. Ia
mampu menghadirkan singgahsana itu lebih cepat atau lebih sedikit dari
kedipan mata ketika mata itu
tertutup dan terbuka.
Al-Quran al-Karim tidak
menyingkap keperibadian
seseorang yang menghadirkan singgahsana
itu. Al-Quran hanya menggaris bahawa
orang itu mempunyai
ilmu dari al-Kitab.
Al-Quran tidak menjelaskan
kepada kita, apakah ia seorang malaikat atau manusia atau jin.
Begitu juga Al-Quran
al-Karim sepertinya menyembunyikan kitab
yang dimaksud di mana
darinya orang tersebut
mempunyai kemampuan yang
luar biasa ini. Al-Quran sengaja tidak menyingkap hakikat kitab yang
dimaksud.
Kita sekarang berhadapan dengan
mukjizat yang besar
yang terjadi dan dilakukan seseorang
yang duduk di
tempat Sulaiman. Yang
jelas, Allah s.w.t
menunjukkan mukjizat-Nya, adapun
rahsia di balik
mukjizat ini, maka
tak seorang pun yang
mengetahuinya kecuali Allah
s.w.t. Demikianlah, konteks Al-Quran menyebutkan kisah
tersebut untuk menjelaskan kemampuan Nabi Sulaiman yang
luar biasa, yaitu
kemampuan yang menegaskan adanya seseorang alim ini di majlisnya.
Termasuk tindakan fudhul (sok mau tahu) jika orang bertanya siapa yang memiliki
ilmu dari al-Kitab ini: apakah Jibril atau Ashif bin
Barkhiya atau makhluk
yang lain. Juga
termasuk fudhul jika
kita bertanya tentang al-
Kitab ini: apakah
orang yang mengetahui isinya menggunakan ismullah al-
A 'dzham (nama
Allah s.w.t yang
agung) untuk menghadirkan
singgahsana.
Semua
pembahasan seputar masalah
ini dianggap fudhul.
Betapa tidak, Al-Quran sendiri
tidak menerangkan hal
itu sehingga rasa-rasanya kita
tidak perlu membahas terlalu
jauh. Singgahsana itu
tampak di depan
Sulaiman. Perhatikanlah tindakan Nabi Sulaiman setelah adanya mukjizat
ini. Beliau tidak merasa kagum terhadap kemampuannya yang
luar biasa; beliau
tidak tercengang dengan kekuatannya; beliau
mengembalikan keutamaan tersebut kepada Penguasa para penguasa
(Allah s.w.t) dan bersyukur kepada-Nya yang telah mengujinya dengan kekuasaan
ini agar ia dapat membuktikan apakah ia bersyukur atau mengingkari. Setelah
Sulaiman bersyukur kepada Penciptanya, ia
mulai memperhatikan singgasana
si ratu. Singgasana
tersebut merupakan simbol pembangunan
dan kemajuan tetapi
tampaknya ia hanya
sesuatu yang biasa dibandingkan
dengan kekuasaan dan kebesaran ciptaan yang dibikin oleh manusia dan
jin di kalangan
istana Sulaiman. Sulaiman
memikirkan dalam tempo yang
lama singgasana Balqis
kemudian beliau memerintahkan agar singgasana itu
diperbaiki sehingga saat
Balqis datang Sulaiman dapat mengujinya, apakah Balqis dapat
mengenali singgahsananya atau tidak:
Dia
berkata: 'Ubahlah baginya
singgahsananya;, maka kita
akan melihat apakah dia
mengenal ataukah dia
termasuk orang-orang yang
tidak mengenalnya.'" (QS. an-Naml: 41)