Rencana pembunuhan Nabi
Muhammad SAW
Orang-orang yang terpilih oleh
Allah SWT itu mengetahui bahawa sebentar lagi mereka akan
diajak untuk mengangkat senjata: mereka
diajak untuk mendapatkan kematian di
bawah naungan pedang.
Mereka menenangkan Rasulullah
saw bahawa beliau akan mendapati orang-orang yang sudah terlatih dalam
peperangan kerana mereka mewarisi dari datuk-datuk mereka. Salah seorang dari
tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah yang penting.

Abul Haitsyam
berkata: "sesungguhnya di
antara orang-orang Madinah
dan Yahudi terdapat suatu
tali ikatan, maka
mereka boleh jadi
akan memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka
lakukan hal itu dan memusuhi orang-orang Yahudi," kemudian Allah SWT
menolong Nabi dan memenangkan atas
kaumnya, lalu ia
kembali kepada mereka
dan meninggalkan mereka di bawah kasih sayang orang-orang Yahudi.
Perhatikanlah bahawa pertanyaan
tersebut berkisar pada
kecintaan kepada Nabi dan
keinginan agar Nabi
tetap bersama mereka
selama perjalanan hari dan bulan. Masalah yang dituntut oleh
Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah perlindungan mereka kepada
Nabi, di mana hal tersebut tidak lagi
diperdebatkan oleh orang-orang yang
terpilih dari penduduk
Madinah. Namun masalah yang mereka inginkan adalah masalah perlindungan
Nabi dan keberadaan Nabi bersama mereka di Madinah. Nabi tersenyum dan
beliau mengatakan kalimat-kalimat yang
justru menekankan bahawa ikatan
akidah lebih kuat
daripada ikatan darah.
Beliau berkata: "Tetapi darah adalah darah dan kehancuran adalah
kehancuran.
Akudari kalian
dan kalian dariku
aku akan memerangi
orang-orang yang kalian perangi dan
aku akan berdamai
dengan orang- orang
yang kalian berdamai dengan mereka." Akhirnya,
penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang
baiat ini sampai ke telinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu
mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslim.
Para preman Mekah
berkumpul di Darul
Nadwah. Mereka menetapkan
akan mengambil sesuatu keputusan
penting berkaitan dengan
Nabi. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau
dibelenggu dengan besi lalu dibuang di penjara
sehingga beliau mati
kelaparan. Sebahagian lagi
mengusulkan agar beliau dibuang
dari Mekah dan
diusir. Abu Jahal
mengusulkan agar mereka mengambil dari
setiap keluarga dari
keluarga- keluarga Quraisy
seorang pemuda yang kuat, kemudian setiap dari mereka diberi pedang yang
terhunus dan hendaklah mereka
memukulkan pedang itu
ke tubuh Nabi.
Jika mereka berhasil membunuhnya nescaya semua
kabilah bertanggungjawab terhadap darah sang Nabi dan Bani Hasyim
tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang
Arab semuanya dan
mereka akan menerima
diat sebagai tebusan
dari pembunuhan itu. Demikianlah persekongkolan itu digelar dan mereka
sepakat untuk melaksanakan hal
itu. Namun Al-Qur'an al-Karim
menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir itu dalam
firman-Nya: "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya
terhadapmu untuk menangkap dan
memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu
daya itu. Dan
Allah sebaik-baih Pembalas tipu
daya." (QS. al-Anfal: 30) Allah
SWT mewahyukan kepada
Nabi-Nya agar ia
berhijrah. Lalu Nabi
mulai menyiapkan
sarana-sarana untuk hijrahnya. Beliau
menyembunyikan urusan
tersebut bahkan beliau tidak memberitahu sahabat yang akan menemaninya.
Rasulullah saw menyewa
seorang penunjuk jalan
yang pengalaman yang mengenal padang gurun
seperti mengenal garis-garis tangannya. Yang menghairankan penunjuk jalan itu
adalah seorang musyrik.
Demikianlah Nabi meminta bantuan kepada orang
yang ahli tanpa memperhatikan keyakinannya. Kemudian datanglah malam
pelaksanaan kejahatan itu.
Rasulullah saw
memerintahkan Ali bin
Abi Thalib untuk
tidur di tempat
tidumya di malam tersebut. Datanglah
pertengahan malam dan
Rasulullah saw pun
keluar dari rumahnya. Para
pemuda Mekah mengepung rumah.
Mereka menghunuskan
pedangnya. Nabi menggenggam
tanah lalu beliau
melemparkannya ke arah kaum sehingga mereka pun merasa kantuk
sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan
mereka. Beliau keluar
dari Mekah dan
berhijrah. Dengan langkah yang diberkati ini, kaum Muslim
menanggali tahun-tahun mereka. Tahun
dalam Islam adalah
tahun Hijrah, sedangkan
kaum Masihi menanggali tahun mereka
dengan kelahiran Isa
dan ini disebut
dengan tahun Masihi. Adapun tahun-tahun Islam, maka ia
ditanggali pertama kalinya saat Rasulullah saw
keluar berhijrah di
jalan Allah SWT.
Hijrah Rasul bukan
hanya lari dari penindasan tetapi
lari dari kebekuan;
hijrah tersebut bukan
keluar dari keamanan tetapi keluar
dari bahaya. Islam
di Mekah hanya
dapat mempertahankan
dirinya tetapi ketika
ia keluar ke
Madinah ia mempertahankan
dirinya ketika menyerang. Dan selama beberapa tahun masa yang dihabiskan
di Mekah, tak
seorang dari kaum
Muslim yang mengangkat senjata. Ketika
mereka keluar ke
Madinah, mereka mulai
membawa senjata dan mulai
menyalakan obor peperangan. Islam
mulai membawa senjata sebagaimana luka
akan sembuh dengan
syarat jika diubati.
Nabi saw mengetahui bahawa Islam
tidak akan menghabiskan usianya hanya
untuk melawan serangan pada
dirinya; Islam ingin tersebar; Islam ingin
mendirikan negaranya yang pertama
yaitu suatu negara
yang belum pernah
dikenal di muka bumi negara
seperti itu. Negara yang mencapai keadilan, kasih sayang, dan idealisme yang
begitu luar biasa di mana hukum Allah SWT ditegakkan dan kehormatan manusia
benar-benar dijaga. Inilah kedalaman hijrah
yang mengesankan yaitu
pendirian negara Islam setelah sebelumnya
membangun individu masyarakat
Muslim. Setelah Rasul saw
membangun masyarakat Muslim
dan membangun masjid, maka
beliau membangun suatu negara Islam. Selanjutnya, sayap-sayap dakwah
mengepak. Kami kira pembaca
tidak akan bertanya,
apa gunanya pembangunan
masjid ditingkatkan
sementara Islam masih
mengalami penindasan di muka
bumi. Kami kira pembaca lebih pintar daripada orang yang tidak
mengetahui bahawa masjid yang dibangun Rasulullah saw di Madinah bukan tempat
peristirahatan dari keletihan, tetapi masjid merupakan pusat dari kepemimpinan
pergerakan Islam dan kepemimpinan menuju peperangan Islam.
Manusia mandi di masjid dengan
cahaya Allah SWT setelah itu mereka mandi di kancah peperangan dengan darah
mereka. Pertanyaannya adalah, siapakah di antara mereka
yang akan terbunuh
di jalan Allah
SWT sebelum saudaranya? Demikianlah perlumbaan
dalam perbaikan terjadi
di antara mereka.
Dengan cara demikianlah Islam tersebar. Sementara itu,
Nabi berlindung di
suatu gua; di
gunung yang bernama
Tsur. Beliau masuk ke gua itu
bersama sahabatnya Abu
Bakar. Dan orang-
orang musyrik pergi menyusul beliau dengan membawa pedang mereka. Lalu
mereka sampai ke gunung
itu. Abu Bakar
berkata kepada Rasul
saw dengan keadaan gelisah, "seandainya salah
seorang mereka melihat di bawah kakinya nescaya mereka akan melihat kita."
Dengan tenang, Rasulullah
saw menepis kegelisahan
Abu Bakar dan
berkata: "Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira dengan dua orang yang
ada di tempat yang sepi sementara
Allah SWT menjadi
ketiga di antara
mereka?" Sebelum
Rasulullah saw mengakhiri
kalimatnya, terdapat laba-
laba yang selesai
dari menenun rumahnya di atas pintu gua. Kitab-kitab sejarah mengatakan
bahawa kaum musyrik
mengikuti jejak sang
Nabi sehingga mereka
sampai di gunung Tsur lalu di situlah mereka mengalami
kebingungan. Mereka mendaki gunung dan
mendaki gua itu.
Lalu mereka melihat
di atas pintu
gua itu terdapat tenunan laba-laba. Mereka
mengatakan, seandainya seseorang masuk
di dalamnya nescaya tidak
akan terdapat tenunan
laba-laba di atas
pintunya. Beliau tinggal di gua itu selama tiga malam. Demikianlah keimanan tenunan laba-laba yang
lembut dimenangkan atas ketajaman pedang kaum
musyrik sehingga Nabi
bersama sahabatnya pun selamat. Kini, kedua orang itu menuju
Madinah. Dan Madinah pun menyambut mereka.
Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya memasuki
Madinah, mula-mula masyarakat tidak mengenal siapa di antara mereka yang
menjadi Rasul kerana saking baiknya sikap
Rasul terhadap sahabatnya.
Akhirnya, Nabi menerangi kota Madinah.
Beliau membangun masjid dan
mendirikan negaranya serta memerangi musuh-musuhnya dan
tersebarlah Islam dan Mekah pun ditaklukkan dan Baitul Haram disucikan. Beliau
menanamkan dalam akal dan hati suatu cahaya yang tidak akan pernah padam. Kemudian
berlangsunglah sepuluh tahun yang dilewatinya di Madinah di mana
beliau tidak menggunakannya untuk
berleha-leha. Demikian juga selama masa
tiga belas tahun
yang beliau lalui
di Mekah, beliau
pun tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Semua
kehidupan beliau hanya untuk Allah SWT
dan hanya untuk
Islam.
Pergerakan Nabi Muhammad Saw di
kota Madinah
Beban berat
yang dipikul oleh
punggung beliau yang mulia lebih
berat dari beban yang dipikul oleh gunung. Meskipun beliau seorang diri,
tetapi beliau mampu
memikul amanat yang
pernah Allah SWT tawarkan kepada
langit dan bumi
serta gunung namun
mereka pun enggan untuk memikulnya.
kerana
mereka menyedari bahawa
mereka tidak akan mampu
memikulnya. Lalu datanglah
beliau dan beliau
pun mampu memikul amanat itu
dan melaksanakannya secara sempurna. Yaitu
amanat untuk menyampaikan
agama Allah SWT; amanat untuk menyucikan akal manusia dari polusi khayalisme
dan khurafatisme: amanat yang mewarnai kehidupan dengan
hanya sujud kepada Allah SWT.
Kemudian mengalirlah dalam memori Nabi saw suatu arus dari gambar- gambar
hidup: bagaimana saat
beliau memasuki Madinah.
Lewatlah di hadapan
akal beberapa memori dan
nostalgia: bagaimana wahyu
yang turun kepadanya dengan membawa
risalah di gua
Hira, kemudian berubahlah
pandangan dan bertiuplah angin
kebencian kepadanya, bahkan angin itu membawa pasir-pasir tuduhan-tuduhan yang
dilemparkan ke wajah suci beliau. Beliau berdiri sambil tersenyum dan
hatinya dipenuhi dengan
kesedihan di hadapan
gelombang gurun dan kesendirian serta badai kesengsaraan. "Wahai
manusia, tiada Tuhan selain Allah SWT. Demikianlah kalimat yang beliau katakan.
Meskipun kalimat itu tampak sederhana namun
ia mampu membangkitkan dunia. Dan bergeraklah patung-patung yang begitu
banyak yang memenuhi kehidupan dan mereka membekali dirinya dengan kegelapan
dan kebencian yang dialamatkan kepada
sang Nabi. Para
pembesar. para penguasa,
wang, emas, serta kebencian dan
kedengkian syaitan yang
klasik dan banyaknya
orang-orang munafik,
semua ini menjadi
musuh nyata sang
Nabi pada saat
beliau mengatakan "tiada Tuhan selain Allah SWT."
Nabi mengingat kembali Waraqah
bin Nofel ketika
menceritakan kepadanya apa
yang terjadi dan
apa yang dialami beliau
di gua Hira.
Tidakkah ia mengatakan kepadanya bahawa kaumnya akan mengusirnya?
Hari-hari hijrah sangat
panjang dan berat.
Matahari sangat
dekat dengan kepala dan
rasa panas sangat
mencekik tenggorokan dan
rasa pusing- pusing pun
semakin meningkat. Setelah
hijrah, Nabi memasuki
Madinah. Beliau disambut oleh
kaum Anshar dengan
sambutan luar biasa.
Beliau datang sendirian lalu
mereka menolongnya; beliau
datang dalam keadaan
takut lalu mereka mengamankannya; beliau
datang dalam keadaan
lapar lalu mereka memberinya makanan;
beliau datang dalam
keadaan terusir lalu
mereka memberikan perlindungan.
Bangunan Islam
mulai ditancapkan di
Madinah. Beliau mulai
membangun negaranya
setelah beliau membangun sumber
daya manusia Islam
yang tangguh. Yang pertama kali dibangunnya adalah sumber daya Islam,
setelah itu beliau baru membangun negara. Tidak ada nilai yang bererti dari
satu sistem yang hanya berdasarkan
prinsip-prinsip besar yang
tidak lebih dari
sekadar tinta di atas kertas. Penerapan prinsip-prinsip adalah tolok
ukur final dari nilai apa pun yang diperlakukan di dunia. Dan Islam telah
berhasil menerapkan pada masa-masa
pertamanya suatu sistem
yang belum pernah dikenal
dalam kehidupan manusia suatu
sistem seperti itu.
Yaitu sistem yang
menunjukkan keadilan,
persaudaraan, dan kasih
sayang yang mengagumkan. Hal
yang pertama kali dilakukan Rasulullah saw adalah membangun masjid di
mana di situlah unta yang
ditungganginya berhenti. Masjid
itu tampak sederhana. Tikarnya terdiri
dari pasir-pasir dan
batu-batu. Tiangnya terbuat
dari batang-batang kurma. Barangkali ketika turun hujan, maka tanahnya
akan menjadi lumpur kerana mendapat siraman air hujan. Mungkin ketika angin
bertiup dengan kencang, maka ia akan mencabut sebahagian dari atapnya. Di
bangunan yang sederhana ini, Rasulullah saw mendidik generasi Islam yang
tangguh yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalim dan para penguasa yang
bejat dan mereka mampu mengembalikan kebenaran ke singgahsananya yang terusir
dan terampas. Mereka mampu menyebarkan Islam di muka bumi. Masjid itu
tampak kecil dan
sederhana sekali tetapi
ia dipenuhi dengan kebesaran; masjid itu tidak
menunjukkan kemewahan sama sekali. Di dalamnya Al-Qur'an dibaca
lalu orang-orang yang
mendengarnya menganggap bahawa mereka benar
dan mendapatkan perintah harian
untuk menerapkan dan melaksanakan apa- apa yang mereka
dengar. Al-Qur'an dibaca di
masjid bukan seperti
nyanyian yang orang-orang
duduk akan merasa terpengaruh dengan keindahan nyanyian dan suara
pembaca.
Dan masjid di dalam Islam
bukanlah tempat satu-satunya untuk
ibadah. Menurut kaum Muslim
semua bumi adalah
masjid namun masjid
adalah simbol peradaban yang
beriman kepada Allah
SWT dan hari
akhir, sebagaimana ia menyuarakan ilmu, kebebasan dan
persaudaraan. Semua Nabi berbicara tentang persaudaraan dan mengajak kepadanya
dengan ribuan kata-kata. Sedangkan
Rasulullah saw telah
mewujudkan persaudaraan itu secara
praktis, yakni ketika
karakter masyarakat saat
itu mencerminkan Al-Qur'an. Nabi
mulai mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar di manasahabat Anshar
Sa'ad bin Rabi',
seorang kaya dari
Madinah dipersaudarakan
dengan Abdul Rahman
bin 'Auf, seorang
yang berhijrah dari
Mekah. Sa'ad berkata kepada Abdul
Rahman: "Sesungguhnya, tanpa bermaksud sombong, aku memang memiliki harta
yang banyak daripada
kamu. Aku telah
membagi hartaku menjadi dua bahagian dan sebahagiannya aku peruntukan
bagimu. Lalu aku mempunyai dua orang wanita, maka lihatlah siapa di antara
mereka yang mampu memikatmu sehingga aku
menceraikannya lalu engkau
dapat menikahinya." Abdul Rahman bin 'Auf menjawab:
"Mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu, keluargamu, dan
hartamu.
Di manakah pasar
yang engkau berdagang di
dalamnya?" Abdul Rahman bin 'Auf keluar menuju ke pasar untuk bekerja. Ia
kembali dan membawa sesuatu yang
dapat dimakannya. Ia menolak
dengan lembut sikap baik
Sa'ad dan kedermawanannya. Ia
bersandar pada keimanan
kepada Allah SWT dan lebih
memilih untuk bekerja dan membanting tulang. Tidak berlalu hari demi hari
kecuali ia tetap bekerja sehingga ia mampu untuk membekali dirinya dan
melaksanakan pernikahan. Demikianlah
masyarakat Islam terbentuk
dan menampakkan identitinya berdasarkan cinta,
kebebasan, musyawarah, dan
jihad. Pekerjaan menurut Islam bukan suatu penderitaan untuk
mendapatkan roti atau potongan daging sebagaimana dikatakan peradaban kita
masa kini, tetapi
pekerjaan dalam Islam melebihi
ruang lingkup materi ini dan menuju puncak yang lebih tinggi: "Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu,
maka Allah dan
Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. " (QS. at-Taubah: 105) Kesedaran bahawa
apa yang kita
kerjakan akan di
lihat oleh Allah
SWT menjadikan pekerjaan itu mendapat cita rasa yang lain. Yaitu suatu
rasa yang melampaui nikmatnya memakan
roti dan daging.
Setelah bekerja, datanglah cinta. Cinta dalam Islam bukan
hanya perasaan yang menetap dalam hati dan tidak diwujudkan oleh suatu
perbuatan; cinta dalam Islam merupakan langkah harian yang akan mengubah bentuk
kehidupan di sekitar manusia menuju yang lebih tinggi dan mulia.
Seorang Muslim
mencintai Tuhannya Pencipta
alam semesta dan
mencintai Rasulullah saw dan
mencintai kaum Muslim dan
orang-orang yang berdamai dengan orang-orang Muslim, meskipun
keyakinan mereka berbeza dengannya. Bahkan
seorang Muslim mencintai
makhluk secara keseluruhan: ia
mencintaianak-anak, haiwan, bunga,
pasir dan gunung
bahkan benda-benda mati
pun mendapat cinta dari
seorang Muslim. Seorang
Muslim jika dia
benar-benar seorang Muslim akan
merasakan cinta yang
dialami oleh Nabi Daud terhadap
alam dan lingkungan di
sekitarnya. Ini adalah
perasaan sufi yang
tinggi. Seorang Muslim akan mewarisi cinta yang sebenarnya seperti yang
diwarisi Nabi Isa terhadap lingkungan yang baik yang ada di sekitarnya di mana
ketika Nabi Isa melihat tubuh
anjing yang mati,
maka Nabi
Isa tidak melihat
selain keputihan giginya. Demikianlah cinta yang tersebar dalam
kehidupan kaum Muslim di mana cinta itu
pun tertuju kepada
binatang dan benda-benda
mati. Cinta demikian
ini tidak akan terwujud
dengan suatu keputusan
dan tidak ditetapkan
dengan suatu undang-undang, tetapi cinta itu datang biasanya akibat dari
kepuasaan akal dan hati
dengan adanya kepemimpinan besar
yang hati cenderung kepadanya dan
akal mengambil darinya. Dan
yang dimaksud dengan kepemimpinan besar
tersebut adalah keberadaan
sang Nabi. Beliau
adalah cermin terbesar dari tingkat cinta yang tertinggi.
Beliau adalah seorang yang paling banyak
berbuat demi Islam
dan paling banyak
sedikit mengharapkan balasan darinya.
Meskipun beliau seorang pemimpin namun beliau hidup dalam kesederhanaan. Beliau
adalah seorang tentera yang paling sederhana. Tempat tidurnya bersih
tetapi kasar, dan
rumahnya tidak menampakkan
kesibukan yang di dalamnya
memasak berbagai macam
hidangan. Beliau justru menyiapkan hidangan
yang sangat sederhana.
Makanan utama beliau
adalah roti kering yang
dicampur dengan minyak.
Keinginan besar beliau
adalah tersebarnya dakwah Islam. Kaum
Muslim menyedari bahawa
kesempurnaan Islam tidak
akan terwujud kecuali ketika
cinta Allah SWT dan Rasul- Nya lebih didahulukan daripada cinta diri sendiri,
cinta kepada wanita, cinta kepada anak, kepentingan, kekuasaan, kehidupan, dan
apa saja yang tidak ada hubungannya dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Demikianlah
kaum Muslim sangat mencintai pemimpin mereka lebih dari kehidupan
peribadi mereka. Di
samping pekerjaan dan
cinta tersebut, didirikanlah
pemerintahan Islam yang berdasarkan kaedah-kaedah kebebasan, musyawarah dan
jihad. Kebebasan dalam Islam bukan sekadar perhiasan yang dilekatkan kepada
tubuh Islam tetapi ia merupakan tenunan dari sel-sel yang hidup itu. Allah SWT
telah membebaskan kaum Muslim
dari penyembahan selain
dari-Nya. demikian,
runtuhlah semua belenggu
yang hinggap di
atas akal, hati,
dan masyarakat.