Konsep Ajaran Islam yang dibawa Baginda Nabi Saw
Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saw berbeza dalam bentuknya dengan
Islam yang dibawa nabi-nabi sebelumnyakerana
sebab yang penting,
yakni bahawa Islam
ini merupakan ajaran
yang universal dan berisi aspek kemanusiaan yang abadi. Islam tidak
terbatas atas orang-orang Arab tetapi
ia berlaku atas
semua golongan.

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak
terbatas untuk kabilah
tertentu atau bangsa tertentu atau
bumi tertentu atau
lingkungan tertentu atau
zaman tertentu, tetapi ia untuk
semua manusia. Atau dengan kata lain, ia merupakan ajakan untuk membangkitkan akal
manusia di mana
saja mereka berada
tanpa ada batasan tempat atau
waktu. Universalitas ajaran Islam tidak dikenal pada risalah-risalah Ilahi
sebelumnya di mana setiap risalah
itu diperuntukkan bagi
bangsa tertentu dan
zaman tertentu. Oleh kerana itu, mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang
bersifat sementara seringkali mendukung
risalah- risalah yang
dahulu. Ketika Islam datang sebagai bentuk ajakan untuk
menghidupkan akal manusia secara bebas, maka di sana tidak ada alasan untuk
membawa mukjizat yang mengagumkan. Hanya
ada satu kata
yang dapat dijadikan
pembuka untuk berdakwah
dan membuka akal manusia, yaitu kata "iqra"' (bacalah). Dan
hendaklah bacaan ini berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan.
Dia menciptakan
manusia dari segumpal darah. Cuba Anda renungkan permulaan pertumbuhan dan
puncak pencapaian. Di
sini tersembunyi mukjizat yang
hakiki jika Anda
berusaha mencari mukjizat
yang hakiki. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang memberikan
nikmat penciptaan dan rezeki serta
rahmat dan kelembutan.
Dia Maha Mulia
yang mengajarkan manusia apa
saja yang tidak diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk
membaca. Ia adalah dakwah yang menunjukkan kedudukan ilmu. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di
antara hamba-hamba-Nya hanyalah
orang-orang yang berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28) Takut kepada Allah SWT
tidak akan muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan dengan
bentuk apa pun
akan melahirkan rasa
takut. Oleh kerana itu, dalam pandangan Islam ilmu
adalah hal yang pokok. Ia bukan kemewahan dan
bukan hanya perhiasan.
Kaum Muslim telah
mengalami masa kemuliaan dan kejayaan dan mereka berhasil
menguasai bumi ketika mereka memahami Islam
secara benar, tetapi
ketika pemahaman ini
jauh dari mereka,
maka mereka kembali dalam
keadaan yang paling
buruk, bahkan lebih
burukdaripada masa jahiliah. Jadi,
ilmu dalam Islam
merupakan tujuan yang
mulia dan utama
dalam penciptaan alam wujud.
Kisah Nabi Adam dan Hawa, sebagaimana diceritakan oleh Al-Quran
adalah bukan semata-mata
kisah kesalahan memakan
pohon terlarang, tetapi ia juga kisah yang memiliki dimensi- dimensi
yang dalam dan aspek-aspek yang beraneka
ragam. Ketika Anda
menyelami kedalamannya,
maka Anda akan
dapat menemukan simbol-
simbol dari makna-makna
yang lebih penting. Dialog internal yang dialami oleh para malaikat
tentang rahsia pemilihan Nabi Adam
untuk memakmurkan bumi
dan menjadi khalifah
di dalamnya serta pengajaran yang
diperoleh Nabi Adam
tentang nama-nama semuanya dan bagaimana beliau mengemukakan nama-nama
tersebut kepada para malaikat, serta
ketidaktahuan mereka tentang
nama-nama itu, kemudian
usaha Nabi Adam untuk
memberitahu mereka tentang
apa yang diketahuinya serta pengetahuan para
malaikat tentang rahsia
pemilihan Nabi Adam
dan para keturunannya untuk
memakmurkan bumi, semua
ini menjadikan tujuan
dari penciptaan manusia adalah
pencapaian ilmu
atau ma'rifah secara
umum. Pandangan tersebut dikuatkan oleh firman Allah SWT: "Dan Aku
tidak menciptakan jin
dan manusia kecuali
untuk menyembah-(Ku)." (QS. adz-Dzariat: 56) Lalu bagaimana
kita memahaminya saat
ini dan bagaimana
generasi yang pertama dari
kaum Muslim dan
dari sahabat-sahabat Rasul
saw dan para pengikutnya dan
para tenteranya memahaminya? Saat
ini kita memahaminya dengan pemahaman yang sederhana.
Kita mengetahui bahawa kalimat "untuk menyembah-Ku " bererti ritual
dalam beribadah dan aspek-aspek lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat
syahadat, solat, puasa, haji, zakat dan lain-lain.
Sehingga orang-orang yang solat diperbolehkan untuk
menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah mereka, meskipun
mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli produk-produk
yang dibuat mereka serta memanfaatkan ilmu
dan kecanggihan teknologi
orang-orang Barat. Namun mereka
sendiri tidak menghasilkan apa-apa.
Mereka tidak dapat memberikan kontribusi
kepada kehidupan; mereka
tak ubah-nya seperti bulu yang dimainkan
oleh ombak. Sedangkan
pemahaman yang dahulu
berkaitan dengan kalimat tersebut sebagai berikut:
"Dan
Aku tidak menciptakan jin
dan manusia kecuali untuk menyembah-(Ku). " (QS.
adz-Dzariat: 56) Ibnu Abbas membacanya: "Illa liya'rifuun." (Agar
mereka mengetahui).
Perhatikanlah bagaimana pentingnya perbezaan antara praktek-praktek ibadah
dengan bentuk-bentuknya dan
kedalamannya yang jauh
dalam ma'rifah yang menyebabkan rasa
takut kepada Allah
SWT. Orang Muslim
yang pertama meyakini bahawa
Allah SWT menciptakannya agar
ia mengetahui Allah
SWT atau agar ia mengenal Allah SWT.
Sehingga ambisi orang Muslim yang pertama sangat
mengagumkan. Mereka pergi untuk membebaskan dunia semuanya: satu tangan
berpegangan dengan Al- Quran dan tangan yang lain memegang pedang untuk menghancurkan belenggu-belenggu yang
menyeret manusia kepada kesesatan. Kemudian jatuhlah
dari Islam hakikat
ilmu, sehingga umat
Islam tidak dapat memimpin kehidupan
dan mereka justru
mendapatkan kehinaan. Allah
SWT berfirman: "Allah
menyatakan bahawasanya tidak
ada Tuhan melainkan Dia,
Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang
yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada
Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Islam Membawa kemajuan peradaban manusia
Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah
Islam." (QS. Ali 'Imran: 18) Setelah
kesaksian kepada Allah
swt dan kesaksian
kepada malaikat, maka disebutlah secara langsung kesaksian
kepada orang-orang yang berilmu. Maka, adakah penghormatan terhadap ilmu yang
lebih besar daripada penghormatan ini? Ilmu dalam
Islam berbeza dengan
ilmu dalam peradaban
Barat. Memang benar bahawa
Islam yang bertanggungjawab terhadap
tumbuhnya pandangan ilmiah dan
metode eksperimental di
mana berdasarkan metode
ini tegaklah peradaban Barat
yang kemudian melahirkan
berbagai produksi, pembuatan, dan penemuan.
Dan metode eksperimental adalah
metode al-Istiqra, yaitu suatu metode
yang mengikuti bahagian-bahagian terkecil
(parsial) melalui jalan eksperimen
yang dapat tunduk
terhadap eksperimen dan
melalui jalan memperhatikan hal-hal
yang tidak dapat
tunduk terhadap suatu
eksperimen, atau melalui jalan
matematis murni yang
membutuhkan kepada matematis murni di
mana hal itu
bertujuan untuk menyingkap hukum-hukum yang menguasai benda. Sistem ini
bidangnya adalah alam dan alatnya adalah panca indera dan
akal. Sistem ini
dimanfaatkan oleh seorang
Eropa yang bernamaRoger Bikun. Ia mengakui bahawa ia
sangat berhutang kepada kaum Muslim dan peradaban Islam. Seorang guru
yang bernama Bruicll
dalam bukunya Abna'
al-Insaniah menceritakan tentang dasar-dasar peradaban Barat di mana ia
berkata: "Roger Bikun mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab di
sekolah Oxford kepada guru-gurunya yang berasal dari Arab di Andalus.
Dan Roger Bikun dan Fenessis Bikun tidak
dapat menisbatkan keutamaan yang
mereka peroleh dalam menciptakan sistem
eksperimental kepada diri
mereka sendiri. Roger
Bikun hanya seorang duta dari duta-duta ilmu. Oleh kerana itu, ia tidak
malu ketika menyatakan bahawa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab adalah
jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran." Demikianlah pernyataan
pakar-pakar Barat yang jujur. Yang demikian ini bisa dijadikan sanggahan
terhadap orang-orang Barat yang tidak jujur agar mereka mengetahui bahawa
mereka sebenarnya mengambil
senjata yang sebenarnya berasal dari Islam. Dan jika
dikatakan bahawa rahsia kebangkitan Barat saat ini dan keunggulannya atas
Timur kembali kepada
pengambilannya terhadap
sebab-sebab metode eksperimental, yaitu
metode Islam, maka
rahsia kehancuran Barat dan
kebingungannya serta kegelisahannya adalah
kerana mereka tidak menghubungkan metode
tersebut dengan kebesaran
Allah SWT sebagaimana semestinya. Metode
eksperimen-tal - sebagaimana diambil orang-orang Barat - dimulai dari
alam dan berakhir kepadanya sebagai sesuatu tujuan. Jadi,
ruang lingkup pembahasan mereka
adalah berkisar kepada materi, dan
alat-alat pembahasan adalah
eksperimen dan pengamatan
serta istiqra. Tiada setelah alam kecuali kematian dan kematian adalah
rahsia yang misteri dan melawannya adalah
hal yang mustahil.
Kita tidak mengetahui
apa yang terjadi setelah
kematian; kita tidak
mengetahui sesuatu pun
tentang roh. Tidak ada
hubungan antara ilmu
dan akhlak; tidak
ada jawapan dari
ilmu tentang tujuan kehidupan
ini. Kita hanya
mempelajari aspek-aspek lahiriah dan mencapai
hukum-hukumnya saja. Demikianlah
pandangan Barat tentang ilmu di
mana ia hanya
sekadar alat dan
sarana untuk mengatur
alam dan berusaha menguasainya. Sedangkan
metode ilmiah dalam
Islam menyatakan bahawa gerakan
atom dengan gerakan sistem tata suria di bawah kendali Zat Yang Maha
Tahu dan Zat
Yang Maha Pencipta.
Ilmu dalam Islam
justru membimbing manusia untuk menuju Allah SWT:
"Dan bahawasanya kepada Tuhanmu lah kesudahan (segala
sesuatu). " (QS. an-Najm: 42) Ilmu
justru menghantarkan manusia
untuk mencapai rasa
takut kepada Allah SWT sebagaimana membimbingnya
beribadah kepadanya dan mencintai-Nya: "Sesungguhnya yang
takut kepada Allah
di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang
berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28) Islam datang dan mengajak manusia untuk
membaca, mengetahui, dan takut kepada
Allah SWT serta
hanya beribadah kepadanya.
Jika ilmu merupakan sayap pertama
di dalam Islam,
maka sayap yang
kedua adalah kebebasan. Rasulullah saw memberitahu dan
menyatakan bahawa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada sembahan
selain Allah SWT.
Seruan ini
mengisyaratkan keruntuhan tuhan-tuhan yang
mengusai bumi semuanya, baik
tuhan yang berupa
kepentingan-kepentingan
peribadi, kekayaan,
raja, penguasa, pemikiran-pemikiran yang
mengusai manusia, warisan para
datuk dan nenek,
berhala-berhala yang terbuat
dari batu dan kayu,
mahupun berbagai macam
tuhan lain yang
bohong. Adalah salah
jika seseorang membayangkan bahawa
kalimat "tiada Tuhan
selain Allah" hanya sekadar hiasan
mulut seorang Muslim
di mana segala
sesuatu yang ada
di sekitarnya penuh dengan
kebohongan dan tidak
membenarkan apa yang dikatakannya. Kalimat tersebut
dalam Islam merupakan pergelutan besar bersama kegelapan yang ada pada diri
manusia, suatu pergelutan yang berakhir pada
penyerahan diri; pergelutan
yang akan berpindah
pada kehidupan yang lebih berat, sehingga kehidupan akan
berserah diri. Dan mustahil pergelutan itu akan terjadi kecuali jika terpenuhi
suatu kebebasan: kebebasan akal untuk meragukan dan
menolak dan kebebasan
yang berakhir kepada
pencapaian batas-batasnya
dan kemampuannya serta
kebebasan yang meninggi
untuk mencapai keimanan yang
dalam dan kukuh.
Itu adalah
tanggung jawab yang berarti bahawa
ia harus memikul
senjata untuk membebaskan orang
lain sebagaimana ia membebaskan
dirinya sendiri. Demikianlah
esensi dari Islam, yaitu ilmu
yang berdiri di
atas kebebasan dan
tanggung jawab yang
tumbuh dari kebebasan, dan buah terakhirnya adalah tauhid dalam
kedalamannya yang jauh. Jika
tauhid difahami secara
benar, maka manusia
akan terbebas dari penyembahan selain Allah SWT: manusia
akan bebas terhadap rasa takut darikematian,
kekhuatiran atas rezeki,
manusia akan terbebas
dari sikap bakhil dan ketakutan terhadap hari-hari yang
akan datang. Muhammad bin Abdillah
datang untuk menyerukan
bahawa hanya Allah
SWT yang patut disembah dan bahawa semua manusia adalah hamba-
hamba-Nya.