BENTUK-BENTUK ADZAB KUBUR
Telah
dijelaskan juga bahwa
orang-orang kuffar, orang-orang
munafik dan sebagian kaum Mukminin akan mendapatkan adzab di alam kubur
karena kekufuran atau maksiat yang mereka lakukan. Perkara adzab di alam kubur
juga termasuk perkara
gaib yang seseorang
tidak boleh berbicara
kecuali berlandaskan pada dalil Al Qur'an dan As Sunnah yang shahih.
Berikut ini beberapa bentuk
adzab kubur yang
disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits-hadits yang shahih:
1. Dibukakan
pintu neraka ketika di
alam kubur, sehingga
bisa merasakan panas dan gejolaknya api neraka
2. Disempitkan kuburnya
3. Tersiksa dengan kabar buruk yang disampaikan
Malaikat kepadanya .
4.Ditemani oleh
amal buruknya yang berupa sosok yang menyeramkan, berpakaian lusuh dan berbau
busuk Empat hal tersebut berdasarkan hadits
dari Al Barra' bin'Azib radhiallahu'anhu
yang panjang.
Bahwa
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam
bersabda: “Ruh hamba yang kafir ketika berpisah dari dunia (meninggal) dan menghadapi akhirat, akan turun kepadanya
malaikat langit yang wajahnya garang. Malaikat tersebut membawa kafan yang
berwarna hitam. Kemudian malaikat tersebut duduk di sisinya dan mereka memenuhi
pandangan si hamba. Lantas malaikat
maut duduk di sisi kepalanya sambil membentak "Wahai ruh yang busuk,
keluarlah menuju murka Allah dan kemarahan-
Nya!”. Nabi melanjutkan: lalu jasadnya tercabik-cabik (ketika proses ruh
dikeluarkan), dan malaikat tersebut mencabut ruhnya seperti garpu tanah banyak
yang mencabik-cabik kain wol basah. Ketika sang malaikat mencabut ruh, ia tidak melepaskan sedikit pun
ruh tersebut dari tangannya walau
sekejap mata pun, hingga ia selesai mencabutnya. Lalu ruhnya dimasukkan ke
dalam kain hitam kelam tersebut dan pergi dengan bau busuk yang paling menyengat
di muka bumi “Malaikat tersebut pun membawa naik ruh itu ke langit. Dan
tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat lain kecuali mereka
bertanya-tanya: "Siapa ruh yang
busuk ini?”. Para malaikat yang membawanya menjawab: "Ini adalah ruh si Fulan bin Fulan,
mereka sebut dengan nama terbaik yang
digunakan oleh orang-orang untuk menyebutnya ketika di dunia. Begitulah
terus hingga mereka sampai ke penghujung langit dunia dan mereka meminta untuk dibukakan. Namun tidak
dibukakan. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam membaca ayat (yang
artinya) "Tidak akan dibukakan bagi
mereka pintu langit, dan tidaklah mereka masuk surga hingga unta masuk lubang jarum" (QS.
Al-A'raf: 40). Lantas Allah 'azza wa
jalla lalu berfirman “Catatlah catatannya dalam sijjin di bumi yang
paling rendah!”. Seketika itu ruhnya dilempar sejauh-jauhnya ke bawah.
Kemudian Nabi membaca ayat (yang
artinya), "Siapa yang menyekutukan Allah, maka seolah-olah dia jatuh dari atas langit
lantas burung menyambarnya atau sebagaimana diterbangkan angin di tempat jauh
(QS. Al Hajj: 31). Hingga ruhnya kembali ke dalam jasadnya “Kedua malaikat lalu
mendatanginya dan mendudukkannya. Mereka berdua bertanya: "Siapa
Rabb-mu?”. Si mayit menjawab, "Hah.. hah.. saya tidak tahu!”. Kedua malaikat
bertanya lagi, "Apa agamamu?”. Si mayit
menjawab, "Hah.. hah.. saya tidak tahu!!”. Kedua malaikat bertanya
lagi, "Bagaimana tentang mengenai
laki-laki ini yang diutus untuk kalian?”. Si
mayit menjawab: "Hah.. hah.. saya tidak tahu!”. Lalu terdengar
seruan dari langit yang berkata: "Ia telah dusta! Perlihatkan neraka
kepadanya!”. Maka malaikat pun membuka
pintu neraka untuknya, dan ia merasakan pun panas dan gejolaknya api neraka. Kemudian kuburnya
pun menghimpitnya hingga remuk tulang-tulangnya. Ia pun didatangi oleh
laki-laki yang wajahnya garang,
pakaiannya lusuh, baunya busuk. Lelaki ini berkata: "Rasakanlah semua yang
menyusahkanmu ini. Inilah perkara yang telah dijanjikan kepadamu!”. Lalu si mayit
bertanya, "Siapa engkau? Wajahmu sangat menyeramkan dan membawa keburukan”. Sosok
laki-laki tadi menjawab: "Aku adalah amalanmu yang buruk!”. Lalu si mayit
berkata "Ya Rabb, jangan tegakkan
hari Kiamat! Adanya adzab kubur
berupa api yang
panas yang berasal
dari neraka juga berdasarkan
firman Allah ta'ala: “Disebabkan
kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka tidak
mendapat penolong selain Allah . Syaikh
Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan tentang ayat ini: “Fir'aun mendapatkan
hukuman, yaitu Allah tenggelamkan
ia dan kaumnya di laut.
Kemudian setelah itu, Allah
masukkan mereka ke
dalam neraka. Sebagaimana firman
Allah ... (beliau
membawakan ayat di
atas). Maka, hukuman berupa neraka ini terjadi di alam barzakh”
5. Disiksa dengan
palu dari besi yang bisa menghancurkan gunung Sebagaimana
dalam riwayat dari
Jarir bin Abdillah radhiallahu'anhu, Nabi
Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “... dijadikan baginya sesosok yang buta
dan bisu. Di tangannya ia memegang
alat pemukul dari besi yang jika digunakan untuk memukul gunung maka gunung
tersebut akan menjadi debu. Maka alat tadi pun digunakan untuk memukul sang mayit dengan
pukulan yang keras, ketika dipukulkan
terdengar suara jeritannya dari timur hingga barat, kecuali oleh jin dan manusia. Lalu ia pun menjadi debu.
Kemudian setelah itu
dikembalikan lagi ruh tersebut seperti bentuknya semula.
6. Dipukul wajah
dan punggungnya oleh para Malaikat
Sebagaimana dalam firman Allah ta'ala:“Dan andaikan kamu melihat ketika para
malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan
punggung mereka (danberkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.
Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian
sendiri.Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari
hamba-hamba-Nya .Ayat ini bicara tentang
adzab kubur. Syaikh Khalid
Al Mushlih hafizhahullah
menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan, “Allah
'azza wa jalla menyebutkan
keadaan mereka yang
mendapatkan adzab ketika
dicabut ruh mereka. Kemudian
setelah itu Allah ta'ala berfirman
(yang artinya), “Rasakanlah
olehmu siksa neraka yang membakar”.
Setelah itu
Allah menyebutkan tentang adzab
yang membakar, yaitu
adzab neraka. Semoga Allah ta'ala memberikan keselamatan
kepada kita dari semua itu”
171. 170 QS. Al Anfal: 50 – 51
171Syarhu Lum'atil I'tiqad, 12/12






