Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Minggu, 11 Oktober 2026

Para Malaikat Yang berada Di alam kubur

 Para Malaikat Yang berada Di alam kubur

Malaikat Munkar dan Nakir

Malaikat Munkar dan Nakir adalah dua malaikat yang bertugas menanyai orang yang sudah meninggal di alam kubur.

·       Tugas Malaikat Munkar

Menanyai orang yang cenderung memiliki amalan buruk dan dosa

·       Tugas Malaikat Nakir

Menanyai orang yang memiliki banyak amalan baik daripada amalan buruknya

Para Malaikat Yang berada Di alam kubur


Beberapa pendapat dari sumber yang tidak bisa diandalkan adanya perbedaan antara malaikat yang mendatangi orang mukmin adalah Malaikat Mubassyar dan Mubasyir sedang orang yang meninggal dalam keadaan tidak baik adalah malaikat munkar dan nakir

Wujud Malaikat Munkar dan Nakir

·       Dalam riwayat, wajah Nakir dan Mungkar disifati demikian: Suara mereka ibarat petir menyambar, mata mereka ibarat kilat mengkilat dan keluar api darinya, gigi mereka panjang dan menyeramkan yang panjangnya sampai ke bumi, teriakan mereka membuat bulu tubuh mayit berdiri karena ketakutan dan dia menjadi bisu

·       datang memasuki kubur dua malaikat yang hitam legam dan kedua taringnya menggores bumi, dan kedua malaikat itu mempunyai rambut yang terikat sampai ke tanah, dan tiap keduanya memiliki suara keras bagaikan petir yang menggelegar, dan mata kedua malaikat itu seperti kilat yang menyambar, dan nafas mereka bagaikan angin badai. Di tangan kedua malaikat itu memegang palu besi, bila dikumpulkan seluruh makhluk tidak akan bisa mengangkatnya, dan bila dipukulkan kepada gunung yang paling besar maka gunung itu akan hancur.  Bila ahli kubur yang memandang kedua malaikat itu, maka ia gemetar dan berusaha lari… (Lihat kitab at Tadzkirah karya Imam Qurthubi penerbit Maktabah Darul Minhaj halaman 354).

·       Di dalam sebuah hadits , disebut sosok malaikat Munkar dan Nakir berwana hitam kebiru-biruan atau biru kehitam-hitaman.

 

( إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ : هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . فَيَقُولانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : نَمْ ، فَيَقُولُ : أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ ، فَيَقُولَانِ : نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لا يُوقِظُهُ إِلا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ .وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ : سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لا أَدْرِي . فَيَقُولَانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ ، فَيُقَالُ لِلأَرْضِ : الْتَئِمِي عَلَيْهِ ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ ، فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلاعُهُ ، فَلا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ ) والحديث حسنه الألباني في صحيح الترمذي .

“Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Mungkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata: Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)?, maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia: Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata: Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu. Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, da dikatakan: Tidurlah. Dia menjawab: “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku”. Keduanya berkata: “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut”.

·        Adapun hadits Umar bin Khatab –radhiyallahu ‘anhu- yang anda sebutkan tadi, telah diriwayatkan dari jalur yang lemah, di antaranya yang diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Mushannafnya (6738) dengan derajat ‘mursal’, dari Amr bin Dinar bahwa Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Umar:

 كيف بك يا عمر بفتاني القبر إذا أتياك يحفران الأرض بأنيابهما ، ويطآن في أشعارهما ، أعينهما كالبرق الخاطف ، وأصواتهما كالرعد القاصف ، معهما مزربة لو اجتمع عليها أهل منى لم يقلوها . قال عمر : وأنا على ما أنا عليه اليوم ؟ قال : وأنت على ما أنت عليه اليوم . قال : إذاً أكفيكهما إن شاء الله

 

“Bagaimana denganmu wahai Umar, dengan kedua fitnah kubur, apabila mereka berdua mendatangimu dengan menggali tanah dengan taring-taringnya, berpijak pada rambutnya, mata mereka seperti kilat yang menyambar, suara mereka seperti petir yang menggelegar,keduanya membawa gada yang jika semua penduduk Mina berkumpul mereka tidak akan mampu mengangkatnya. Umar berkata: Apakah saya seperti saat saya di dunia ?, Rasulullah menjawab: “Engkau seperti saat engkau berada di dunia sekarang”. Jadi, saya mencukupkan anda dari mereka berdua –insya Allah.

 

Malaikat Basyir dan Mubasysyir

Para malaikat yang memasuki kubur orang mukmin akan memperlakukan dia dengan wajah tampan dan setelah berlangsung tanya-jawab, mereka akan memberikan kabar gembira surga kepadanya dan meluaskan kuburnya dengan kenikmatan-kenikmatan Ilahi. Dua malaikat ini dinamai Basir dan Mubasysyir.

sumber dari kedua malaikat ini

 Syaikh Mufid berkata: Dalam sebagian riwayat, nama dua malaikat yang turun kepada orang kafir adalah Nākir dan Nakir dan nama dua malaikat yang turun kepada orang mukmin adalah Mubasysyir dan Basyir. Dikatakan bahwa penamaan dua malaikat orang kafir dengan Nakir dan Nākir dikarenakan orang kafir mengingkari kebenaran, mengingkari malaikat tersebut dan merasa tidak senang dengan kedatangan mereka, sementara penamaan dua malaikat orang mukmin dengan Mubasysyir dan Basyir dikarenakan mereka berdua mengabarkan kerelaan dan pahala Allah swt kepadanya. (Syarh Aqāid Shaduq atau Tashhih al-I'tiqād, Syaikh Mufid, hlm.220; Ilm al-Yaqin, Faidh Kasyani, jld.2, hlm.1073

Malaikat Ruman

Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam r.a.: Seorang malaikat masuk mendatangi mayat di kuburnya sebelum kedatangan Malaikat Munkar dan Nakir, malaikat itu bernama Ruman, berwajah cerah secerah matahari. Malaikat Ruman mendatangi mayat dan berkata, “Tulislah semua amalmu yang baik dan yang jelek.” Mayat berkata pada malaikat, “Dengan apa aku harus menulis? Di mana pena dan tintaku?”.

Malaikat menjawab, ”Ludahmu itu tintamu dan penamu adalah jari-jarimu”. Mayat berkata, “Di atas apakah aku harus menulis? Aku tidak ada kertas”. Malaikat Ruman menyobekkan kain kafan dan memberikannya kepada mayat lalu berkata, “Ini kertasmu dan tulislah”. Maka menulislah si mayat tersebut amal kebaikannya di dunia kemudian sampailah pada amal buruknya, maka dia berhenti enggan menulisnya, malu kepada Malaikat Ruman.

Malaikat ruman berkata padanya, “Hai orang yang berdosa, mengapa kamu tidak malu kepada Allah yang menciptakanmu, ketika kamu melakukan amal jelek sewaktu di dunia, dan sekarang kamu malu kepadaku?”. Lalu Malaikat Ruman mengangkat tiang besar dan memukulkannya kepada si mayat. Mayat berkata, “Aku akan menulis semua amal baik dan amal burukku dalam lembaran ini”.

Sesudah itu, Malaikat Ruman memerintahkan agar melipatnya, menandatanginya, dan mengalungkannya di lehernya hingga hari kiamat. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT.:

وكل انسان ألزمناه طائره في عنقه وتخرج له يوم القيامة كتابا يلقاه منشورا13

Dan setiap manusia telah kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari kiamat kami keluarakan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka”. (QS. Al-Isra’: ayat 13)

Dalam Kitab Ad-durorul Fakhiroh imam  Al-ghozzali menjelaskan

قد روى عن ابن مسعود رضي الله عنه أنه قال يا رسول الله : ما أول ما يلقى  الميت إذا دخل قبره ؟ قال : يا ابن مسعود ما سألني عنه أحد إلا أنت . فأول  ما يناديه ملك اسمه رومان يجوس خلال المقابر فيقول : يا عبد الله اكتب عملك  . فيقول : ليس معي دواة و لا قرطاس فيقول : هيهات كفنك قرطاسك ، و مدادك  ريقك ، و قلمك إصبعك . فيقطع له قطعة من كفنه . ثم يجعل العبد يكتب ، و إن  كان غير كاتب في الدنيا . فيذكر حينئذ حسناته و سيئاته كيوم واحد ، ثم يطوى  الملك القطعة و يعلقها في عنقه

ثم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : [ قوله تعالى : { و كل إنسان ألزمناه طائره في عنقه }


Ibnu mas'ud -semoga Allah meridhoinya- meriwayatkan  bahwa beliau berkata :" Wahai Rasululloh, apa hal pertama yang ditemui mayyit ketika masuk ke kuburannya ?" Rasululloh : " wahai ibnu mas'ud, tidak ada seeorangpun yang bertanya kepadaku tentang hal itu kecuali engkau yang pertama adalah seruan malaikat yang bernama RUMAN, yang mengawasi segenap kuburan, kemudian dia berkata : “wahai abdulloh, tulislah amalanmu”. Hamba menjawab : “saya tidak membawa tinta, juga tidak membawa kertas”. Malaikat ruman berkata : “gunakanlah kain kafanmu sebagai kertas, air liurmu sebagai tinta, dan jari jemarimu sebagai pena”. Kemudian  dia mengambil sedikit kafannya dan mulailah hamba itu menulis. walaupun  jika di dunia dia tidak dapat menulis, maka waktu itu dia bisa  menuliskan kebaikan dan kejelekannya seperti waktu yang sama. Lalu malaikat Ruman melipat lembaran tersebut dan mengalungkannya di lehernya.

Hal ini diriwayatkan dari Abdullah bin Salam ra, bahwa seorang malaikat masuk mendatangi mayat di kuburnya sebelum kedatangan malaikat Munkar dan Nakir.

 

Malaikat itu bernama Ruman yang memiliki wajah cerah secerah matahari.Nah, untuk mengetahui secara lebih jelas seperti apa sosok malaikat Ruman dan apa tugasnya, Malaikat Ruman adalah malaikat yang ditugaskan untuk menjaga jenazah.Yakni berjaga di alam kubur seseorang sebelum malaikat Munkar dan Nakir masuk untuk menguji keimanan seseorang yang sudah meninggal.Di mana malaikat Munkar akan bertanya tentang keburukan orang selama hidupnya. Sedangkan malaikat Nakir akan bertanya tentang kebaikan orang selama hidupnya.Malaikat Ruman dikisahkan memiliki sifat yang ramah, sabar, dan penyayang kepada manusia yang sudah meninggal dunia Tak hanya memiliki sifat yang baik, malaikat Ruman juga memiliki wajah yang menyenangkan dan meneduhkan.

Sosoknya tampak indah dan berseri-seri serta mengeluarkan suara yang merdu dan membuat tenang. Itulah mengapa, jenazah manusia yang bertemu dengan malaikat Ruman merasa nyaman.Kedatangan malaikat Ruman tidaklah sendiri. Melainkan bersama malaikat Kiraman Katibin. Mereka adalah malaikat yang mencatat berbagai amal baik dan buruk manusia selama hidup di dunia.Saat mendekati jenazah manusia itu, malaikat tersebut bersikap hormat dan mencurahkan kasih sayang.Kemudian malaikat Ruman akan memegang tangan kanan orang yang sudah meninggal, lalu mengucapkan salam dan memperkenalkan diri.Dalam menerima perlakukan malaikat Ruman yang lembut dan penuh kasih sayang itu, jenazah manusia pun bisa merasakannya.Ia mendapatkan kedamaian dan kehangatan dari perlakuan malaikat Ruman.

Tak berhenti di situ, malaikat Ruman memberikan senyuman indahnya dan memuji jenazah itu atas keimanan dan ketakwaannya. Setelah itu membacakan tentang amal jenazah di buku catatan dengan suara yang jelas.Setiap amal baik dan buruk dijelaskannya dengan baik, lengkap dengan nilai dari setiap amalan dan ganjaran apa yang nantinya akan diberikan oleh Allah SWT.Jenazah mendengarkannya dengan penuh perhatian dan menunjukkan ekspresi berbeda. Saat dibacakan amalan buruk, ia tampak sedih. Namun, saat mendengar amalan baik, ia tampak senang.Setelah memberikan penjelasan tentang amalan perbuatan manusia, malaikat Ruman pun berpamitan kepada jenazah dengan mengucapkan salam.Kedatangan malaikat Ruman menghadirkan ketenangan dan rasa percaya diri pada jenazah manusia. Mereka merasa lebih siap dan berani ketika nantinya berhadapan dengan malaikat Munkar dan Nakir.

 

Seorang malaikat yang wajahnya bercahaya silau seperti matahari akan memasuki kuburan si mayit sebelum masuknya Malaikat Mungkar dan Nakir. Namanya adalah Ruman".

Kemudian malaikat tersebut duduk di sampingnya dan berkata kepadanya: “Tulislah kebaikan maupun keburukan yang telah kamu lakukan!”

Mayit tersebut menjawab: “Dengan apa aku menulisnya? di mana penaku, tempat tinta dan tintaku?”

Malaikat menjawab: “Air liurmu adalah tintamu, tanganmu adalah penamu”

Mayit bertanya kembali: “Di atas apa aku menulisnya sedangkan aku tidak memiliki kertas?”

Nabi Muhammad SAW berkata: Kemudian dipotongkan sebagian kain kafan mayat tadi lalu diberikan kepadanya.

Malaikat tadi berkata: “Ini sebagai lembaran kertasmu dan tulislah semuanya!

Maka mayit tadi menuliskan semua apa yang telah dikerjakannya di dunia semua jenis amal kebaikan. Ketika sampai pada bagian menulis keburukan, mayit tadi merasa malu terhadap malaikat.

Malaikat bertanya kepadanya: “wahai orang yang berbuat salah! Kenapa kamu tidak malu terhadap penciptamu sehingga kamu berbuat keburukan di dunia dan sekarang kamu malu terhadapku?”.

Kemudian malaikat mengangkat tiang maka dihempaskan di atasnya. Maka hamba tadi berkata: “angkatlah tiang jauh dariku sehingga aku bisa menulis keburukanku.”

Setelah itu hamba tersebut menulis semua kebaikan dan keburukannya di atas lembaran tadi. Kemudian malaikat menyuruhnya untuk melipat lembaran dan membubuhkan stempel di atasnya.

Mayit tadi bertanya: “Dengan apa aku membubuhkan stempel sedangkan aku tidak memiliki stempel?”

Malaikat menimpalinya: “Stempelkan dengan kukumu!”. Mayit tadi langsung menstempel dengan kuku jarinya dan menggantungkan lembaran tersebut di lehernya hingga hari kiamat.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka".

Kemudian setelah itu masuklah Malaikat Mungkar dan Nakir. Dan menjalankan tugasnya untuk menanyai manusia terhadap perbuatannya yang telah dilakukan di atas permukaan bumi.

 

Read More

Sabtu, 10 Oktober 2026

alam barzah bagian 1

 DALIL TENTANG ALAM KUBUR

DALIL AL QUR'AN ADANYA ALAM  KUBUR

Dalil pertama Allah ta'ala berfirman:  “dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada  mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari  terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan  kaumnya ke dalam azab yang sangat keras Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan  ayat  ini,  “Arwah Fir’aun dan pengikutnya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus- menerus hingga datang hari kiamat. Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan api neraka”. 

alam barzah


Beliau juga berkata, “Ayat-ayat ini adalah landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya adzab kubur. Hal ini juga senada dengan penjelasan jumhur ahli tafsir seperti Mujahid  , Al Alusi ,Asy  Syaukani ,  Al  Baidhawi ,  Muhammad  Amin  Asy  Syinqithi , Abdurrahman As Sa’di . 2   QS. Al Mu’min: 45-46 3   Tafsir Al Qur’an Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), 7/146 4   Lihat An Nukat wal’ Uyun, 4/39, karya Al Mawardi 5   Ruuhul Ma’ani (Tafsir Al Alusi), 18/103 6   Fathul Qadir, 6/328 7   Anwar At Tanziil (Tafsir Al Baidhawi), 5/130 8   Adhwa’ Al Bayan, 7/82 9   Taisiir Kariim Ar Rahman (Tafsir As Sa'di), halaman 738                                   

 Memang  benar  bahwa  ada  penafsiran  lain  terhadap  ayat  ini.  Qatadah menafsirkan  bahwa maksud       ayat    (yang     artinya)     “Kepada  mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang  adalah taubiikh atau penghinaan terhadap  Fir’aun  dan  pengikutnya  dalam  keadaan  mereka  masih  hidup. Penafsiran ini walaupun tidak menetapkan adanya adzab kubur namun tidak menafikannya. Ibnu   Abbas radhiallahu’anhu   menafsirkan   bahwa   arwah mereka  ada  di  sayap  burung  hitam  yang  bertengger  di  atas  neraka  yang datang   di   kala   sore   dan   pagi   hari.   Penafsiran   Ibnu   Abbas   ini   pun menetapkan adanya alam kubur. Ahli tafsir yang terpengaruh permikiran mu’tazilah memang membantah bahwa ayat ini membicarakan adzab kubur. Semisal Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf dan Fakhruddin Ar Razi dalam Mafatihul Ghaib, dengan sebatas  bantahan  logika  semata.  Maka,  -insya  Allah-  penafsiran  yang  tepat adalah yang kami sebutkan di awal karena bersesuaian dengan dalil-dalil dari Al  Qur’an  dan  hadits  serta  pemahaman  salafus  shalih,  yang  akan  kami jelaskan nanti. Karena antara dalil itu saling menafsirkan dan tidak mungkin saling bertentangan.

Dalil ke dua  Allah ta'ala berfirman: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah  nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan)   yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya . Al  Imam  Al  Bukharirahimahullah,  dalam Shahih-nya  membuat  judul b a b   (bab  dalil-dalil  tentang  adzab  kubur)  lalu  beliau menyebutkan   ayat   di   atas.   Ini   menunjukkan   bahwa   Imam  Al   Bukhari memahami bahwa ayat di atas adalah dalil tentang adanya adzab kubur dan alam kubur. Seorang   pakar   tafsir   di   zaman   ini,   Syaikh  Abdurrahman  As   Sa’di -rahimahullah- menjelaskan, “Ayat ini adalah dalil adanya adzab dan nikmat kubur.  Karena  dari  konteks  kalimat,  adzab  yang  ditujukan  kepada  orang- orang  kafir  tersebut  dirasakan  ketika  sakaratul  maut,  ketika  dicabut  nyawa dan setelahnya”.

 

Dalil ke tiga  Allah ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup,  tetapi kamu tidak menyadarinya. Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah memaparkan,“Allah ta’ala mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam barzakh dalam keadaan senantiasa diberi rezeki oleh Allah, sebagaimana dalam hadits yang terdapat pada Shahih Muslim… (lalu beliau menyebutkan haditsnya)”.Mengenai        keadaan para syuhada yang setelah wafat mendapat kenikmatan di sisi Allah di alam barzakh adalah pendapat jumhur mufassirin, di   antaranya   Mujahid,   Qatadah,   AbuJa’far,‘Ikrimah,Jalalain,Al Baghawi,Al Alusi, dll.

Mereka hanya berbeda pendapat  tentang bagaimana bentuk rezeki atau kesenangan tersebut.  Ayat  ini  sejalan  dengan  ayat  lain  dalam  surat  Ali  Imran,  Allah  ta'ala berfirman:“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat  rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya,  dan berbahagia terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum  menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak    bersedih hati. Mereka berbahagia dengan nikmat dan karunia dari Allah.       Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman       Sebagaimana  juga  penjelasan  dari  Al  Hasan  Al  Bashri rahimahullah, “Para  syuhada  itu  hidup  di  sisiAllah,  mereka  dihadapkan  kepada  surga sehingga mereka pun merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Sebagaimana arwah Fir’aun dan kaumnya yang dihadapkan ke neraka setiap pagi dan sore hari  sehingga  mereka  merasakan  kesengsaraan”. Artinya,  para  syuhada merasakan   kebahagiaan   dan   kesenangan   di   alam barzakh   sebagaimana Fir’aun merasakan kesengsaraan juga di alam barzakh. Sehingga jelas bahwa ayat-ayat di atas menunjukkan adanya adzab kubur dan nikmat kubur.

Dalil ke empat Allah ta'ala berfirman:“Dan di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu, ada   orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang- orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau   (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti  mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan   kepada azab yang besar .  Yang dimaksud dengan “mereka akan Kami siksa dua kali” dalam ayat ini,  menurut  Qatadah  dan  Muhammad  bin  Ishaq  adalah  adzab  kubur  dan adzab di akhirat. Sedangkan menurut Al Hasan Al Bashri, salah satu riwayat dari  Qatadah  dan  Ibnu  Juraij rahimahumullah  adalah  adzab  ketika  masih hidup di dunia dan adzab kubur.  Ath  Thabari rahimahullah merajihkan dengan mengatakan: “Dua adzab tersebut terjadi sebelum mereka diadzab di neraka. Dan pendapat yang kuat, salah satu dari adzab tersebut adalah adzab kubur”.

Dalil ke lima Allah ta'ala berfirman:  “Dan andaikan kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-  orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan    berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.   Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya  .Syaikh  Khalid  Al  Mushlih hafizhahullah  menjelaskan  ayat  ini,  beliau mengatakan, “Allah  'azza  wa  jalla  menyebutkan  keadaan  mereka  yang mendapatkan adzab ketika dicabut ruh mereka. Kemudian setelah itu Allah ta'ala  berfirman  (yang  artinya),  “Rasakanlah  olehmu  siksa  neraka  yang membakar”. Setelah itu Allah menyebutkan tentang adzab yang membakar, yaitu  adzab  neraka.  Semoga  Allah  ta'ala  memberikan  keselamatan  kepada kita    dari   semua      itu”29.    Syaikh      Muhammad  bin    Shalih   Al  Utsaimin rahimahullah  juga  menyebutkan  ayat  ini  sebagai  salah  satu  dalil  tentang adanya adzab kubur.

Dalil ke enam  Allah ta'ala berfirman:  “Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,      (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan   dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan  terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu     menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya  As Safarini rahimahullah mengatakan, “Ulama seorang muhaqqiq, Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ar Ruh, bahwa di antara dalil adanya adzab dan nikmat  kubur  dalam  Al  Qur'an  Al  Majid  adalah  ayat  “Sekiranya  engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut... ”  (QS. Al An'am:  93).  Konteks  ayat  ini  secara  jelas  bicara  tentang kejadian ketika menjelang kematian”.       Syaikh     Shalih     bin   Fauzan   Al Fauzan hafizhahullah   menjelaskan, “Konteks dari ayat ini, kejadian tersebut terjadi ketika menjelang kematian. Dalam  ayat  ini  disebutkan  bahwa  Malaikat  mengabarkan  (dan  Malaikat adalah makhluk yang jujur) bahwa ketika itu si mayit merasakan adzab yang menghinakan.  Jika  adzab  yang  menghinakan  tersebut  terjadi  ketika  dunia berakhir,  maka  tidak  tepat  perkataan  Malaikat  “pada  hari  ini  kamu  akan dibalas”.  Sehingga  ini  menunjukkan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  “adzab yang menghinakan” itu adalah adzab kubur”. Syaikh   Muhammad  bin    Shalih   Al Utsaimin rahimahullah  juga menyebutkan ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya adzab kubur.

Dalil ke tujuh   Allah ta'ala berfirman:  “(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan     baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun     ‘alaikum (semoga keselamatan terlimpah kepada engkau), masuklah ke       dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan    Ath  Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Maksudnya, para  Malaikat  mencabut  ruh  mereka  orang-orang  yang  bertakwa  sambil mengatakan:   “Salamun   'alaikum!   Masuklah   ke   surga”.   Sebagai   kabar gembira  dari  Allah  yang  disampaikan  oleh  para  Malaikat”.  Mengenai al busyra atau kabar gembira di saat kematian ini, akan dijelaskan lebih detail di bab “Al busyra menjelang kematian” di buku ini. Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Di  antara  akidah  Ahlussunnah  wal  Jama'ah  adalah  menetapkan  adanya nikmat  kubur.  Dalilnya  firman Allah ta'ala  ...  (beliau  menyebutkan  ayat  di atas). Mereka diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan baik, maksudnya baik akidah mereka, dan baik pula amalan mereka. Maka para Malaikat pun berkata  menjelang  kematian  si  hamba  tersebut,  “masuklah  ke  dalam  surga karena apa yang telah kamu kerjakan!”. Ini dikatakan oleh para Malaikat di hari ketika si hamba wafat”.       Jika  ada  yang  bertanya,  “Andai  kejadian  ini  terjadi  di  alam  kubur, mengapa       dikatakan  “masuklah   ke   dalam   surga...  ?   Bukankah   hal   ini menunjukkan kejadian tersebut terjadi di akhirat?”. Jawabannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Ath Thabari, rahimahullah bahwa perkataan  “masuklah ke  dalam  surga.. itu  adalah  kabar  gembira  dari  para  Malaikat.  Sehingga tidak bertentangan dengan keterangan bahwa perkataan tersebut disampaikan di alam kubur.

Demikian juga Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah                                 menjelaskan: “Dikatakan demikian karena terdapat dalam sebuah hadits yang shahih: “Ia  akan  diluaskan  kuburnya,  dan  akan  dibukakan  baginya  pintu surga.   Sehingga   ia   mendapatkan   harum   dan   nikmatnya   surga   yang menyejukkan    matanya.  S e m o g a  k i t a t e r m a s u k  o r a n g   y a n g mendapatkannya. Dan dalam firman Allah ta'ala (yang artinya) “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan”, huruf ba' di sini adalah ba'sababiyah”.   Sehingga   dalam   ayat   ini   para   Malaikat   seolah   ingin mengatakan: “kamu akan masuk surga karena telah melakukan sebab-sebab yang membuat seseorang masuk surga”. Bukan berarti si hamba masuk surga ketika itu.

Dalil ke delapan Allah ta'ala berfirman: “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu  dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah”.  Syaikh  Shalih  bin  Fauzan  Al  Fauzan  menjelaskan  tentang  ayat  ini: “Fir'aun mendapatkan hukuman, yaitu Allah tenggelamkan ia dan kaumnya di  laut.  Kemudian  setelah  itu,  Allah  masukkan  mereka  ke  dalam  neraka. Sebagaimana  firman  Allah  ...  (beliau membawakan  ayat  di  atas).  Maka, hukuman berupa neraka ini terjadi di alam barzakh. Sebagaimana Allah ta'ala berfirman  (yang  artinya)  :  “Neraka  ditunjukkan  kepada  mereka  pagi  dan sore hari     (QS. Ghafir: 46). Ini terjadi di alam barzakh, sebelum hari akhirat. Neraka ditunjukkan kepada mereka di pagi dan sore hari sampai hari Kiamat. Ini adalah dalil tentang adanya adzab kubur. Wal 'iyyadzubillah”.  Dan masih banyak lagi dalil dari Al Qur’an Al Karim yang menetapkan adzab kubur sekiranya kita mau merujuk pada penjelasan para ulama.

Sumber :

38 HR. Abu Daud no.4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud. 39 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 440 40 QS. Nuh: 25 41 Syarhu Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51 35 QS. An Nahl: 32 36 Tafsir Ath Thabari, 7/580 37 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 439 31 QS. Al An'am: 93 32 Lawaihul Anwar As Saniyyah wa Lawaqihul Afkar As Saniyyah, 2/157 33 Al Irsyad ila Shahihil I'tiqad, hal. 275 34 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah (hal. 437) dan juga Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah (hal. 443) 28  QS. Al Anfal: 50 – 51 29 Syarhu Lum'atil I'tiqad, 12/12 30 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah, hal. 437

24 QS. At Taubah: 101 25 Tafsir At Thabari no.17130, Tafsir Al Qur'anil Azhim (7/273) 26 Tafsir At Thabari no.17131, 17132, 17133 27 Tafsir Ath Thabari, 14/445

18  Lihat Tafsir Ath Thabari, 3/214 19  Tafsir Jalalain, halaman 160. Disebut sebagai Jalalain (dua Jalal), karena kitab tafsir ini ditulis oleh Jalaluddin Al      Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli rahimahumallah. 20  Ma’alim At Tanzil, halaman 168 21  Ruuhul Ma’ani, 2/64 22  QS. Ali Imran: 169 - 171 23  Dinukil dari Ma’alim At Tanzil, halaman 168                                 

13 QS. Al An’am: 93 14 Taisiir Kariim Ar Rahman, halaman 264 15 QS. Al Baqarah: 154 16 Alam barzakh artinya alam kubur. Al barzakh secara bahasa artinya sesuatu yang ada di antara dua hal (Lisaanul 'Arab).     Alam kubur disebut sebagai alam barzakh karena ia ada di antara alam dunia dan alam akhirat. 17 Tafsir Al Qur’an Azhim, 1/446 Lihat An Nukat Wal’Uyun, 4/39 11 Al Kasyaf, 6/118 12 Mafatihul Ghaib, 13/342       

 

DALIL AS SUNNAH ADANYA ALAM  KUBUR

Dalil pertama  Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu'anhu,  bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan    berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur  yang aku dengar”. Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan:“Setelah itu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berbalik menghadap kami, dan bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab neraka! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada    Allah dari adzab neraka. Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab kubur. Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada   Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Nabi bersabda:   mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal! Para sahabat pun     berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal             D a l a m   k i t a b Silsilah   Ahadits Shahihah,  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa syawahid, yaitu dari jalan Zaid bin Tsabit dan dari jalan Jabir bin Abdillah. Setelah itu, beliau memberikan penjelasan penting. Beliau berkata: “Dari beberapa  hadits  di  atas  terdapat  banyak  faedah,  yang  paling  penting  di antaranya:

 Pertama, menetapkan adanya adzab kubur, dan hadits-hadits tentang hal i n i mutawatir.  Maka  tidak  ada  lagi  kerancuan  bila  ada  yang  mengklaim bahwa hadits-hadits tentang hal ini adalah hadits Ahad. 

 Kedua,  pun  andaikata  memang  benar  hadits-haditsnya  adalah  hadits Ahad,  tetap  wajib  mengimaninya  karena  Al  Qur’an  telah  menunjukkan kebenarannya. (Kemudian Syaikh Al Albani membawakan surat Ghafir ayat 45-46). Ketiga, pun andaikata memang benar bahwa permasalahan adzab kubur tidak ada dalam Al Qur’an, maka hadits-hadits shahih yang ada sudah cukup untuk  menetapkan  akidah  tentang  adzab  kubur  ini.  Klaim  bahwa  perkara aqidah  tidak  bisa  ditetapkan  dengan  hadits Ahad  yang  shahih  adalah  klaim yang  batil  yang  diselipkan  ke  dalam  ajaran  Islam.  Tidak  ada  imam  yang mengatakan  pendapat  demikian,  tidak  tidak  katakan  oleh  imam  madzhab yang  empat  atau  semisal  mereka.  Pendapat  ini  hanya  dikemukakan  oleh ulama ahli kalam yang sama sekali tidak didasari oleh dalil”.  Beliau  juga  mengatakan,  “Adanya  pertanyaan  dua  Malaikat  di  alam kubur adalah benar adanya. Wajib untuk mengimaninya. Hadits tentang hal ini pun mutawatir”.

Dalil ke dua Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:“Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang  kepadaku. Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak mempercayainya. Kemudian mereka berdua keluar. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku.

Maka aku pun menceritakan  apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu  bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesaishalat”.Hadits  ini  menunjukkan  dengan  tegas  tentang  adanya  adzab  kubur  dan alam  kubur.  Diperkuat  lagi  dengan  pemahaman  Aisyah radhiallahu'anha yang   menyampaikan  hadits ini,  menunjukkan bahwa Aisyah radhiallahu'anha juga meyakini adanya adzab kubur dan alam kubur.                              

Dalil ke tiga  Dari Al Barra' bin Azib radhiallahu'anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian  didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman  dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: )”.  Ini adalah dalil Al Qur’an sekaligus As Sunnah. Karena merupakan bukti bahwa surat Ibrahim ayat 27 berbicara tentang adzab kubur dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menafsirkan demikian.

Dalil ke empat  Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian    pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda,   ‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut mereka bedua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya di adzab karena tidak membersihkankan   bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)”.

Dalil ke lima Dari Utsman bin Affan radhiallahu’anhu, ia berkata:  “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alam  kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam    kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat”. Utsman radhiallahu’anhu berkata, “Aku tidak     pernah memandang sesuatu yang lebih mengerikan dari kuburan.

Dalil ke enam Dari Umar bin Khathab radhiallahu'anhu,  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya   menangisinya". Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya  melakukan niyahah terhadapnya".

Dalil ke tujuh Dari Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu'anhu, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam keluar rumah tatkala matahari telah tenggelam. Beliau mendengar suara-suara, lalu bersabda:  “Orang-orang Yahudi sedang diadzab di kuburan mereka  ”.

Dalil ke delapan  Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu'anhu, ia berkata:“Suatu hari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pergi ke kebun kurma milik Bani Najjar. Beliau mendengar suara-suara dari orang-orang Bani Najjar yang telah meninggal di zaman Jahiliyah. Mereka sedang diadzab di dalam  kuburnya. Kemudian beliau pun keluar dalam keadaan ketakutan dan  memerintahkan para sahabatnya untuk berlindung dari adzab kubur”.

Dalil ke sembilan Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’.                                

Dalil ke sepuluh  Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i radhiallahu'anhu, ia mengatakan:“Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah shalat jenazah, dan aku   menghafalkan doa yang beliau ucapkan, yaitu: Ya Allah, berilah ampunan  baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah  kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan  air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau   bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang  lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya  semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam  surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka  Dan  sebenarnya  masih  banyak  lagi  dalil  dari  hadits-hadits  yang  shahih mengenai adzab kubur. Karena para ulama mengatakan hadits-hadits tentang adzab   dan   nikmat   kubur   itu   mencapai   level mutawatir karena   sangat banyaknya. Yang sebagian hadits-hadits tersebut akan kami sebutkan dalam bab  “Beberapa Keyakinan Ahlussunnah Terkait Alam Kubur       

 

Sumber :                .

58 HR. Muslim no. 963 42 HR. Muslim no.7393, Ahmad no.12026 56  HR. Ahmad no.14152. Syu'aib Al Arnauth dalam takhrij-nya mengatakan: “Sanad hadits ini shahih sesuai syarat      Muslim”. Demikian juga yang dikatakan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (no. 3954). 57  HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589 53 HR. Bukhari no. 1304, Muslim no. 929 54 HR. Bukhari no. 1292, Muslim no. 927 55 HR. Al Bukhari no. 1375, Muslim no. 2869 51 HR. Bukhari no.6055, Muslim no.703 48 idem 49 HR. Bukhari no.600543 HR. Muslim no. 2867, dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu'anhu 44 Lihat kitab Silsilah Ahadits Shahihah penjelasan hadits nomor 158-159 45 HR. Muslim no. 2867, 7392 46 HR. Ahmad no. 14185, Al Albani berkata: “Shahih muttashil (bersambung) sesuai persyaratan Imam Muslim”. 47 As-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 1/244 52 HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat     Rabbaniyyah, 4/192 50 HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398  

  

 DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR

Akidah tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur,  adanya  pertanyaan  Malaikat  di  alam  kubur,  adalah akidah yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah  di  antara mereka.Yang   menyelisihi   mereka adalah ahlul bid'ah  dari kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah berkhutbah: Rasulullah  Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya  Dajjal, mendustakan adanya syafa'at, mendustakan adanya adzab kubur, dan    mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika itu  Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.                              

 ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik berkata: jangan kalian  bermajelis dengan mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya.

 Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutup kepala dari besi panas padanya”.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau mengatakan:“(Di antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya adzab kubur, dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan didatangi oleh malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah”.Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:                               

   “Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang memiliki  dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka    juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”.  Al Lalika'i rahimahullah membuat judul bab:  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam  bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu  Ja'far Ath Thahawi  rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan: “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.

Dan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”. Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”.                               

 Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan bahwasanya  manusia akan diuji di dalam kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya di sana. Allah pun akan mengokohkan    orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya  kecuali ahlul bid'ah”.  Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:  

 “Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab kubur”.Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan:    “Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat banyak riwayatnya, dan mencapai  level mutawatir dari segi makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur. Berbeda dengan sebagian ahlul bid'ah”.       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini bahwa mayit ketika meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di alam kubur). Dan itu akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap ada setelah berpisah dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat atau mendapat adzab. Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya, sehingga ketika itu ruh dan badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya, sebagaimana ditegaskan di dalam as-Sunnah dan  zahir  dari  ayat-ayat  Al  Qur'an,  serta  ijma'  ulama  kaum  Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya.

 Adapun   dalil   dari   as-Sunnah   adalah   sabda   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan   kepada Allah dari adzab kubur! Adapun   dalil  ijma',   yaitu   para   ulama   sepakat   menganjurkan   untuk membaca doa berikut ini dalam shalat: “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab Jahannam dan dariadzab kubur .Sampai-sampai  orang  awam  yang  bukan  ahlul  ijma'  juga  menyepakati halini. Adapun zahir dari ayat Al Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras  ” (QS.Ghafir: 46)”86.

 

Nukilan-nukilan  di  atas  secara  jelas  menunjukkan  bahwa  para  ulama Ahlussunnah  ijma'  (sepakat)  dalam  mengimani  adanya  alam  kubur,  nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur. Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.

Sumber :

82 Majmu' Al Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83  Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin, seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no. 3558 85  HR. Al Bukhari no.1377, Muslim no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu  Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322 80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau tokoh-tokoh penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan Parsi.

Ali Al Qari lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar di bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H.  81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368 74  Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau wafat pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358 76  Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil Malik bin Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki. Beliau juga ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau adalah salah satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum Muslimin. Beliau wafat pada tahun 449H. 77  Syarhu Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78  Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus. An Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits. Kitab Riyadhus Shalihin, Al Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al Majmu' Syarhul Muhadzab, Al Adzkar , adalah karya-karya beliau yang  berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum Muslimin di seluruh dunia. Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 70 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni, seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 65  Al Ibanah, halaman 4 66  Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan Ath Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama al-Lalika'i. Seorang ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab Syafi'i. Wafat pada tahun 418H. 67  Syarhu Ushuli Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68  Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.

Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H. 61  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani, seorang imam besar Ahlussunnah dari Iraq. Tokoh  besar dalam bidang fikih dan hadits. Kepada diri beliaulah madzhab Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah salah satu karya beliau yang fenomenal dan dipelajari kaum Muslimin seluruh dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64  Ali bin Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan kepadanya pemahaman Asy'ariyah. Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman tersebut dan rujuk kepada akidah salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.              

DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR

Akidah tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur,  adanya  pertanyaan  Malaikat  di  alam  kubur,  adalah akidah yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah  di  antara mereka.

Yang   menyelisihi   mereka adalah ahlul bid'ah  dari kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah berkhutbah: Rasulullah  Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya  Dajjal, mendustakan adanya syafa'at, mendustakan adanya adzab kubur, dan    mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika itu  Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.                              

 ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik berkata: jangan kalian  bermajelis dengan mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya. Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236                           

disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutupkepala dari besi panas padanya”. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau mengatakan:“(Di antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya adzab kubur, dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan didatangi oleh malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah”.Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:                               

   “Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang memiliki  dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka    juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”.  Al Lalika'i rahimahullah membuat judul bab:  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam  bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu  Ja'far Ath Thahawi  rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan:  “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.

Dan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”. Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”.                                

      Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan bahwasanya  manusia akan diuji di dalam kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya di sana. Allah pun akan mengokohkan    orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya  kecuali ahlul bid'ah”.  Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:  

 “Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab kubur”.Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan:    “Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat banyak riwayatnya, dan mencapai  level mutawatir dari segi makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur. Berbeda dengan sebagian ahlul bid'ah”.       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini bahwa mayit ketika meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di alam kubur). Dan itu akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap ada setelah berpisah dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat atau mendapat adzab. Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya, sehingga ketika itu ruh dan badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya, sebagaimana ditegaskan di dalam as-Sunnah dan  zahir  dari  ayat-ayat  Al  Qur'an,  serta  ijma'  ulama  kaum  Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya. Adapun   dalil   dari   as-Sunnah   adalah   sabda   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan   kepada Allah dari adzab kubur! Adapun   dalil  ijma',   yaitu   para   ulama   sepakat   menganjurkan   untuk membaca doa berikut ini dalam shalat: “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab Jahannam dan dariadzab kubur .Sampai-sampai  orang  awam  yang  bukan  ahlul  ijma'  juga  menyepakati halini. Adapun zahir dari ayat Al Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras  ” (QS.Ghafir: 46)”86.

Nukilan-nukilan  di  atas  secara  jelas  menunjukkan  bahwa  para  ulama Ahlussunnah  ijma'  (sepakat)  dalam  mengimani  adanya  alam  kubur,  nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur. Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.

Sumber :

82 Majmu' Al Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83  Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin, seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no. 3558 85  HR. Al Bukhari no.1377, Muslim no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu  Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322 80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau tokoh-tokoh penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan Parsi. Ali Al Qari lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar di bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H.  81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368 74  Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau wafat pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358 76  Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil Malik bin Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki. Beliau juga ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau adalah salah satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum Muslimin. Beliau wafat pada tahun 449H. 77  Syarhu Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78  Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus. An Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits. Kitab Riyadhus Shalihin, Al Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al Majmu' Syarhul Muhadzab, Al Adzkar , adalah karya-karya beliau yang  berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum Muslimin di seluruh dunia. Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 70 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni, seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 65  Al Ibanah, halaman 4 66  Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan Ath Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama al-Lalika'i. Seorang ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab Syafi'i. Wafat pada tahun 418H. 67  Syarhu Ushuli Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68  Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H. 61  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani, seorang imam besar Ahlussunnah dari Iraq. Tokoh  besar dalam bidang fikih dan hadits. Kepada diri beliaulah madzhab Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah salah satu karya beliau yang fenomenal dan dipelajari kaum Muslimin seluruh dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64  Ali bin Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan kepadanya pemahaman Asy'ariyah. Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman tersebut dan rujuk kepada akidah salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.                   

 

BEBERAPA AYAT QUR’AN  MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA ADZAB DAN  NIKMAT KUBUR 

SYUBHAT 1 ADANYA ALAM  KUBUR    

Sebelumnya, dalam membahas syubhat ini kita perlu meyakini bahwa Al Qur’an dan hadits itu adalah kebenaran, dan tidak ada kebenaran yang saling bertentangan. Allah Ta’ala berfirman: “Apakah engkau tidak men-tadabburi Al Qur’an? Andaikan Al Qur’an itu  bukan dari sisi Allah tentu akan banyak pertentangan di dalamnya”. Begitu  juga,  wajib  meyakini  bahwa  hadits  Nabi shallallahu  ‘alaihi  wa sallam adalah wahyu. Sebagaimana firman Allah ta'ala:   “Apa yang diucapkan olehnya (Muhammad) itu bukanlah dari hawa nafsu, melainkan wahyu”. Maka, Al Qur’an tidak akan bertentangan dengan Al Qur’an, Al Qur’an pun   tidak   akan bertentangan dengan  hadits dan hadits tidak akan bertentangan dengan hadits.  

Dengan  kata lain,ayat  Al Qur’an saling menafsirkan,  demikian  juga  ayat Al  Qur’an  dan  hadits  saling  menafsirkan. Oleh  karena  itulah  kita  hendaknya  merujuk  kepada  para  ulama,  karena merekalah yang mampu mendudukkan ayat dengan ayat, hadits dengan hadits serta  ayat  dengan  hadits  sesuai  tempatnya  sehingga  jelas  bahwa  tidak  ada pertentangan.

Ayat pertama   Allah ta'ala berfirman: “Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan  kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang  Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya) .Jika  orang  yang  mati  dikatakan  ‘tidur’  setelah ia  mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada adzab kubur atau nikmat kubur. Demikian logika ahlul bid’ah yang menolak   adanya adzab   kubur,   dan   memang demikianlah mereka memahami ayat-ayat Allah dengan logika tanpa merujuk kepada ahlinya. Jawaban:  Kalau kita merujuk para ahli tafsir dari kalangan sahabat sampai ulama mu’ashiriin,Ubay  bin  Ka’ab radhiallahu’anhu,  Khaitsamah,  Mujahid  dan Qatadah  menafsirkan  maksud  dari  ‘tidur’  dalam  ayat  ini  adalah:  “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Qatadah juga menambahkan: “Itu terjadi    di   antara dua tiupan sangkakala”.Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah  juga  menjelaskan:  “Ayat  ini  tidak  menafikan  adanya  adzab kubur,  karena  jika  dibandingkan  dengan  apa  yang  terjadi  setelahnya,  yang terjadi di alam kubur seperti tidur”.

Ayat ke dua  Allah ta'ala berfirman:“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai  dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata  (mereka) terbelalak.Dalam ayat ini dikatakan Allah memberi tangguh, artinya   tidak mengadzab  mereka,  sampai  hari  ketika  mata  manusia  terbelalak,  yaitu  hari kiamat. Demikian logika mereka.Padahal  jika  kita  menilik  penjelasan  para  ulama  tafsir, Al  Hafidz  Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan  makna“Allah  memberi  tangguh  kepada mereka: “dikatakan demikian karena begitu ‘ngerinya’ keadaan mereka di hari kiamat”. Al Baghawi rahimahullah menafsirkan: “Tidak akan menimpa mereka  kengerian  semisal  yang  akan  mereka  dapatkan  di  hari  kiamat”.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil,maka setelahnya lebih berat  jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya perbandingan antara siksa kubur dengan  siksa  mereka kelak di hari kiamat,  hingga ketika  mereka  masih disiksa di alam kubur dianggap masih dalam masa penangguhan. Sebagian  ulama  memang  menafsirkan  secara  mutlak  bahwa  maknanya adalah “mereka tidak akan mendapat adzab hingga hari kiamat”, namun yang dimaksud adalah sebagaimana   yang diungkapkan   Ibnu   Katsir dan Al Baghawi  di  atas.  Karena  faktanya,  sebagian  orang  kafir  bahkan  diadzab ketika mereka masih hidup. Dan perlu   dicatat,   para   ahli   tafsir   yang menafsirkan secara mutlak demikian tidak ada yang memahami bahwa ayat ini menafikan adzab kubur. Jadi memahami ayat ini dengan pemahaman para penolak adanya adzab   kubur, adalah   pemahaman   baru   yang   tidak   ada pendahulunya, serta bertentangan dengan ratusan dalil.

Ayat ke tiga  Allah ta'ala berfirman:“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang   berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran)”. Menurut logika para penolak adanya adzab kubur, berdasarkan ayat ini, antara  matinya  seorang  manusia  dengan  hari  kebangkitan  itu  hanya  terasa sesaat saja, hingga seorang manusia merasakan seolah setelah mati tiba-tiba sudah dibangkitkan.

Maka tidak ada alam kubur yang dia merasakan adzab atau nikmat.Para  ahli  tafsir  menjelaskan  mengenai  makna  ‘sesaat’,Al  Baidhawi rahimahullah  berkata,  “Maksudnya  adalah masa  di  alam  kubur  dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan dengan lamanya siksaan mereka di akhirat kelak. Atau penafsiran yang lain, mereka lupa akan lamanya berada di alam kubur”.  Sebagian  ahli  tafsir  memaknai  bahwa  maksudnya  adalah  masa ketika  hidup  di  dunia, Al  Baghawi rahimahullah  mengatakan,  “Maksudnya adalah masa di dunia dianggap   terlalu   sebentar dibandingkan   dengan akhirat”. Seluruh tafsiran di atas tidak ada yang bertentangan dengan dalil- dalil adanya adzab kubur.

Dan  sekali  lagi  perlu  di  catat,  tidak  ada  ahli  tafsir  yang  memahami bahwa ayat ini menafikan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa ayat ini dengan dalil-dalil shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah bertentangan.Demikianlah  beberapa  ayat  yang  menjadi  ‘syubhat’  karena  dipahami secara  salah  oleh  para  pengikut  hawa  nafsu.Tidak  menutup  kemungkinan adanya   ayat   lain   yang   mereka   gunakan   untuk   melariskan pemahaman menyimpang  mereka,  namun  cukuplah  kita  meyakini  bahwa  di  antara  dalil tidak ada yang saling bertentangan.

Sumber :

97 Anwar At Tanziil, 4/488 98 Ma’alim At Tanzil, 6/278 96 QS. Ar Rum: 55

92 QS. Ibrahim: 42 93  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 4/515 94 Ma’alim At Tanzil, 4/359 95 Telah berlalu takhrij hadits ini

89 QS. Yaasin: 52 90 Lihat Tafsir Ath Thabari, 20/532 91  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 6/581

87 QS. An Nisa: 82 88 QS. An Najm: 3-4    

 

 

HADITS-HADITS TENTANG  ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD  BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH 

 SYUBHAT 2 ADANYA ALAM  KUBUR   

Penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin  Al  Albani rahimahullah yang sudah kami kutip sebelumnya sudah mewakili dalam menjawab syubhat ini.  Ringkasnya,  hadits-hadits tentang adanya adzab kubur itu mutawatir bukan hadits ahad.Sampai-sampai  Ibnu Qutaibah  rahimahullah mengatakan:                                    

 

  “Banyak sekali hadits tentang Munkar dan Nakir serta tentang adzab kubur.    Juga banyak hadits tentang doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati, aku   berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari   dari fitnah al masih ad dajjal”. Hadits-hadits ini semua shahih, yang tidak  mungkin para perawinya bersepakat untuk berdusta. Andaikan hadits-hadits   seperti ini tidak dikatakan shahih, maka tidak ada hadits yang shahih sama  sekali dalam agama kita. Dan andaikan hadits-hadits seperti ini tidak    dikatakan shahih, maka tidak ada lagi model hadits yang derajatnya lebih shahih lagi”.      

Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyah rahimahullah juga berkata,  “Mutawatir terbagi menjadi ‘aam dan khas. Bagi para ulama yang paham hadits dan fiqih ada hadits-hadits mutawatir bagi mereka yang tidak dianggap mutawatir oleh orang   awam.   Semisal   hadits   tentang   sujud   sahwi,   kewajiban   syuf’ah, kewajiban  membayar  diyat  bagi  yang  berakal,  kewajiban  merajam  pezina yang muhshan, hadits-hadits ru’yah, adzab kubur, ….. ”. Namun  perlu  digaris-bawahi  pula,  andaikan  hadits-hadits  tentang  alam kubur  atau  tentang  masalah  lain  adalah  hadits  Ahad  pun  tetap  merupakan hujjah.  Penjelasan  rinci  mengenai  hal  ini  akan  mencakup  banyak  bab  dari ilmu  ushul  fiqh  yang  tidak  mungkin  kami  paparkan  pada  kesempatan  ini.

Semoga  beberapa  poin  di  bawah  ini  cukup  memberikan  pencerahan  bahwa hadits Ahad adalah hujjah, baik dalam masalah aqidah atau bukan: a. Wajib beramal dengan hadits ahad adalah ijma para ulama-ulama   Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku tidak mengetahui adanya fuqaha  kaum  muslimin  yang  berselisih  pendapat  dalam  menetapkan  khabar ahad, sebagaimana yang baru saja saya jelaskan bahwa hadits-hadits ahad ada pada mereka semua”.  Al  Khatib  Al  Baghdadi rahimahullah berkata:  “Beramal  dengan  hadits Ahad  adalah  pendapat  semua  ulama  tabi’in  dan  setelah  mereka,  yaitu  para ulama-ulama di semua zaman sampai zaman kita ini (zamannya Al Khatib, -pent).  Dan  saya  tidak  mengetahui  adanya  seorang  di  antara  mereka  yang mengingkarinya atau menolaknya”105. b. Dalil-dalil wajibnya beramal dengan hadits ahad Dalil Al Qur'an Allah Ta’ala berfirman,  “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke  medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara   mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya  Sisi pendalilan dari ayat ini ada dua: 

Pertama,   Allah  memerintahkan tha'ifah   untuk   memberi   peringatan kepada kaumnya. Sedangkan secara bahasa:     “Tha'ifah dari sesuatu artinya bagian dari sesuatu, atau berjumlah satu atau   lebih, atau berjumlah di antara 1 sampai 1000, atau paling sedikit satu atau  dua”. Ini menunjukkan tegaknya kebenaran walau hanya dari satu orang atau dua orang. Dan kebenaran itu wajib diterima oleh kaumnya.     

Kedua,   Allah   menyebutkan   manfaat   adanya   beberapa   orang   yang mendalami agama yaitu ‘supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ‘. Andai hujjah tidak bisa diterima dari satu atau sedikit orang, tentu manfaat tersebut tidak tercapai dan konsekuensinya ayat ini tidak benar. Dalil hadits      Hadits-hadits mutawatir tentang  Rasulullah shallallahu   ‘alaihi   wa sallam  mengutus  utusan,  amil  zakat,  hakim  hanya  satu  orang  saja  kepada sekelompok  orang. Sebagaimana diutusnya Mua’dz bin Jabal radhiallahu'anhu:   “Engkau akan mendatangi kaum yang terdiri dari ahli kitab. Ajaklah mereka  untuk bersyahadat ‘Laailaaha Illallah Wa Anna Muhammadan Rasulullah’,   jika mereka mau taat, ajarkanlah mereka untuk shalat lima waktu sehari- semalam….”.    

 Imam Asy Syafi’i berkata, “Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah mengutus seseorang utusan kecuali sendirian. Ini adalah bukti berita yang dibawa oleh satu orang utusan tersebut adalah benar, Insya Allah”.Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu’anhu,   Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan  menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka  karena doa mereka meliputi dari belakang mereka Di  sini  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi  wa  sallam mendoakan imra-an yang menyampaikan hadits. Sedangkan imra-an itu artinya satu orang. Dalil ijma' Ijma para sahabat bahwa khabar ahad itu diterima. Di antara dalil ijma ini adalah hadits tentang pindahnya kiblat yang hanya dikabarkan oleh satu orang yang menyampaikan kabar dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalallam. Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu,                                  

“Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian turun ayat (yang artinya) :  “Kami melihat wajahmu(Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan  engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah    Masjidilharam  (QS. Al Baqarah: 144). Lalu lewatlah seorang lelaki dari     Bani Salamah, ketika orang-orang sedang shalat dalam posisi rukuk (di masjid). Dan mereka sudah melalui satu raka'at.

Orang tersebut pun menyeru:    “Ketahuilah... kiblat telah diubah!”. Seketika itu orang-orang yang shalat segera mengubah arah kiblatnya”112. Andaikan para sahabat tidak menerima khabar ahad, maka mereka tidak akan mengubah arah kiblat karena kabar dari satu orang saja.  Hadits ahad adalah hujjah dalam masalah hukum ataupun akidah Dalil-dalil yang ada di

poin b menunjukkan bahwa kebenaran atau hujjah itu diterima dari satu orang tanpa dirinci apakah perkaran aqidah atau bukan, berlaku secara umum dan mutlak. Bahkan hadits Muadz bin Jabal berbicara masalah  aqidah.  Ibnu  ‘Abdil  Barr rahimahullah  berkata,  “Semua  perkara aqidah  mengenai  asma  dan  sifat  Allah  Ta’ala  hanya  diketahui  dari  nash Kitabullah  dan  hadits  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih atau  dari ijma  ulama.  Sedangkan  yang  berasal  dari  hadits  ahad,  semuanya diterima dan tidak ada perdebatan tentang ini”.Adapun   membeda-bedakan   penyikapan   hadits  Ahad   dalam   masalah aqidah  dan  masalah  hukum  adalah  keyakinan  baru  dalam  Islam,  yang merupakan  bid’ah.  Pembedaan  seperti  ini  tidak  pernah  dikenal  oleh  salah seorang  sahabat  Nabi,  tidak  juga  oleh  tabi’in,  tabi’ut  tabi’in,  juga  tidak dikenal  oleh  para  Imam.  Pembedaan  seperti  ini  hanya  dikenal  dari  tokoh- tokoh ahlul bid’ah dan yang mengikuti mereka.

Keyakinan   bahwa   masalah   aqidah   harus   ditetapkan   dengan   hadits mutawatir  itu  sendiri  merupakan  sebuah  aqidah  (keyakinan)  dalam  agama. Kalau   mereka   konsisten, hendaknya mereka   mendatangkan   dalil  

Hadits mutawatir adalah hadits shahih yang diriwayatkan dari banyak jalan sehingga tidak ada kemungkinan semua perawinya bersepakat untuk berdusta.

Syarat suatu hadits dikatakan sebagai hadits mutawatir ada 4:     

1. Diriwayatkan dari banyak jalan. Walaupun ulama khilaf tentang batasan “banyak” dalam kriteria ini. Sebagian ulama  mengatakan 10 jalan, sebagian yang lain mengatakan 20 jalan, 30 jalan, 100 jalan, 200 jalan atau 300 jalan.   

2. Banyaknya jalan tersebut terjadi di setiap thabaqah-nya    

3. Mustahil terjadinya tawathu' 'ala kadzib (perawi bersepakat untuk berdusta dalam periwayatannya)    

4. Sandaran penerimaan khabar adalah secara hissi (secara inderawi)

 

(lihat  Taisir Musthalah Hadits, Syaikh MahmudAth Thahhan, halaman 19 – 20).

Hadits ahad adalah hadits yang tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai hadits mutawatir. Dengan kata lain, hadits  yang tidak mutawatir, maka ia hadits ahad. Menilik pada definisi hadits mutawatir, misalnya jika hadits mutawatir adalah yang diriwayatkan dari 10 jalan, maka hadits yang diriwayatkan dari 9 jalan tergolong dalam hadits ahad.Dan perlu diketahui bahwa hadits ahad berbeda dengan hadits gharib. Hadits gharib adalah hadits yang diriwayatkan dari satu jalan saja. Walaupun memang, hadits gharib termasuk dalam kategori hadits ahad juga. 101 Abu Muhammad Abdullah bin Abdil Majid bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuri. Ia adalah seorang ahli lughah (bahasa Arab) yang terkenal. Beliau belajar hadits dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Ishaq Ibrahim Az Ziyadi, Abu Hatim As Sijistany. Ia banyak mengarang kitab yang bermanfaat diantaranya adalah kitab Gharibul Quran, Gharibul Hadits, Uyunul Akhbar, Musykilul Quran, Musykilul Hadits, Kitab I’rabil Qur'anal Ma’arif dan Adabul Katab. Diantara murid-muridnya adalah anaknya, Ja’far Ahmad al Faqih dan Ibnu Dusturaih Al Farisy. Wafat pada tahun 236H.    Sumber :112 HR. Muslim no.527 113Jaami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih, 2/96 114 Lihat Mukhtashar Shawa’iqil Mursalah, 503 110 HR. Ibnu Majah no. 2498, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah 111 Lihat Al Kifayah, 43-45; Raudhatun Nazhir  1/268-274; Syarh Kaukab Al Munir, 2/369-375

108 HR. Muslim no.19 109Ar Risalah, halaman 415

105Al Kifayah, halaman 48 106 QS. At Taubah: 122 107 Lihat Al Qamus Al Muhith

102 Ta'wil Mukhtalafil Hadits, 1/152 103Majmu’ Al Fatawa, 18/69 104Ar Risalah, halaman 457-458

99     

 

BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR

SYUBHAT 3 ADANYA ALAM  KUBUR

 Syubhat  ini  adalah  turunan  dari  syubhat  kedua.  Dalam  tulisan-tulisan mereka  yang  menolak  adanya  adzab  kubur,  mereka  mengutip  beberapa pernyataan sebagian ulama ahlussunnah yang menganggap hadits ahad hanya bernilai zhan dan tidak bernilai ilmu.

Sehingga mengesankan bahwa sebagian ulama tersebut juga tidak mengimani adanya adzab kubur. Inilah kecurangan mereka dalam berargumentasi. Memang benar terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang apakah hadits Ahad    bernilai zhan,  ataukah  bernilai  ilmu,  ataukah  bernilai  ilmu  namun dengan   syarat.   Namun   mereka   sepakat   beramal   dengan   hadits   Ahad, sebagaimana telah kami sampaikan pernyataan ijma dalam hal ini.

Memang juga   sebagian   ulama,   mengatakan   bahwa   terhadap   hadits  Ahad,   wajib beramal  dengannya  namun  tidak  diyakini.  Namun  hal  ini  pada  hakekatnya hanyalah ikhtilaf lafzhi, karena setiap dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang shahih  adalah  hujjah  yang  wajib  diyakini  kebenarannya  dan  diamalkan.

Bagaimana mungkin seseorang diperintah untuk beramal tanpa meyakini apa yang dia amalkan? Semisal  hadits  tentang  meminta  perlindungan  dari  adzab  kubur  setiap selesai shalat:      “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’”.  Bagaimana  mungkin   dengan dasar hadits ini,  dikatakan      bahwa disunnahkan  membaca  doa  tersebut  setiap  sebelum  salam  ketika  shalat namun   tidak   boleh   meyakini   isinya??   Dari   sini   terlihat   jelas   bahwa memisahkan  permasalahan  hukum  dan  aqidah  dalam  pembahasan  hadits Ahad adalah perkara yang aneh.  Di   antara    nama      ulama     yang    sering     di-’catut’    untuk     melariskan pemahaman  mereka  adalah  Al  Imam  Al  Bukhari.  Pasalnya,  dalam  kitab Shahih Bukhari beliau menulis judul bab:   “Bab dalil-dalil tentang bolehnya menggunakan khabar ahad yang shahih               dalam masalah adzan, shalat, puasa, waris dan ahkam” Padahal  Al   Bukhari   tidak   menyebutkan i’tiqad atau ‘aqaa-id  dalam kalimat  tersebut,  sehingga  diklaim  bahwa  beliau  tidak  berhujjah  dengan hadits  ahad  dalam  masalah  aqidah.  Padahal  faktanya,  Al  Bukhari  banyak meriwayatkan hadits-hadits Ahad dalam masalah aqidah di Shahih Bukhari. Adapun judul bab yang beliau buat demikian, justru untuk membantah orang- orang yang menolak kehujjahan hadits ahad secara umum. Dan yang paling penting  dan  perlu  digaris-bawahi  adalah, Imam  Al  Bukhari  mengimani  dari Aisyah radhiallahu'anha                           

adanya adzab kubur dan alam kubur. Sebagaimana telah kami singgung pada bagian dalil-dalil Al Qur’an tentang adanya alam kubur.   Selain beliau, Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani pun seringkali di-’catut’ dengan cara demikian. Padahal beliau dalam kitab Fathul Baari, menyetujui aqidah  Imam  Al  Bukhari  dalam  mengimani  adzab  kubur  dan  menyelisihi orang-orang yang menafikannya. Ketika beliau mengomentari kalimat:   Ibnu    Hajar rahimahullah  berkata:  “Seolah-olah,  maksud  Al  Bukhari mendahulukan  penyebutan  ayat-ayat  ini  karena  ingin  menjelaskan  bahwa pembahasan adzab kubur ada dalam Al Qur’an, menyelisihi sebagian orang yang  mengklaim  bahwa  pembahasan  adzab  kubur  hanya  ada  dalam  hadits ahad”116.      Selebihnya, nama-nama ulama yang mereka sebutkan untuk melariskan pemahaman menyimpang mereka, biasanya berasal dari kalangan ulama yang terpengaruh ilmu kalam atau pemikiran mu’tazilah. 116Fathul Baari, 4/443 115 HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589,   

 

  

DALALAH AYAT YANG DIANGGAP  MENAFIKAN ADZAB KUBUR ADALAH QATH’I, 

SYUBHAT 4 ADANYA ALAM  KUBUR

 

 

SEDANGKAN DALALAH AYAT DAN HADITS  YANG MENETAPKAN ADZAB KUBUR ADALAH  ZHANNI      Dari surat Yasin ayat 52, mereka memahami bahwa jika orang yang mati dikatakan ‘tidur’ setelah ia mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada   adzab   kubur   atau   nikmat   kubur.   Lalu   mereka   mengatakan   bahwa pendalilan  ayat  ini  adalah  pendalilan  yang qath’i  (tegas  dan  jelas),  atau dalalah  qath’iyyah117.  Sedangkan  surat  Ghafir  (Al  Mu’min)  ayat  45-46 tentang  Fir’aun  dan  kaumnya  setelah  matinya  mereka  dinampakkan  neraka setiap   pagi   dan   sore,  jika   ayat   ini  digunakan    sebagai    dalil  untuk membenarkan  adanya  adzab  kubur  maka  pendalilannya  tidak qath’i,  tidak tegas, belum jelas maksudnya atau dalalah zhanniyyah. Terlebih lagi terdapat perselisihan di antara para ulama apakah yang dimaksud surat Ghafir ayat 45- 46 atau semisalnya itu dirasakan oleh ruh dan jasad atau keduanya sekaligus. Perselisihan    ini  menambah      ketidak-tegasan     pendalilan    ayat   tersebut. Sehingga  akhirnya  mereka,  dengan  modal  akal  mereka,  mengambil  ayat dengan dalalah qath’iyyah menurut logika mereka, lalu menutup mata (baca: membuang) terhadap    dalil  yang    menurut     mereka     memiliki dalalah zhanniyyah. Subhanallah! Orang yang berpenyakit hati gemar mempermainkan dalil! Dari  syubhat  yang  ke  4  ini  akan  terlihat  sekali  bagaimana  mereka mendewakan  akal  dalam  memahami  dalil-dalil  syariat. 

Dengan  akal  pula mereka  mementahkan  dalil  lain  yang  tidak  bersesuaian  dengan  hawa  nafsu mereka.  Padahal  dalil  syar’i  tidak  ada  yang  bertentangan  dan  semua  dalil wajib  kita  imani  dan  amalkan.  Orang-orang  yang  dipuji Allah  dengan  ilmu berkata: Dalalah artinya makna yang ditunjukkan oleh teks dalil.“Kami mengimani semua yang diwahyukan oleh Rabb kami”.       Mengambil  dalil  yang  sesuai  dengan  seleranya,  lalu  membuang  dalil yang tidak sesuai dengan seleranya adalah sikap orang-orang yang terdapat penyakit di dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:    “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara   (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an  dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam   hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-   ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari   takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.  Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada  ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak    dapat mengambil pelajaran (daripadanya)melainkan orang-orang yang berakal. Zhanni dan Qath’i itu nisbi Penilaian qath’i atau zhanni terhadap  sesuatu  itu nisbi atau relatif. Bagi sebagian  orang  sesuatu  itu qath’i,  namun  bagi  yang  lain zhanni. Dalam hal menilai  sebuah  dalil  itu qath'i atau zhanni,  relativitas  di  sini  bergantung kepada:                               

? Kedalaman penelaahan dalil-dalil syar’i    

? Penguasaan kaidah-kaidah dalam berdalil    

? Perbedaan tingkat kecerdasan    

? Kecepatan memahami sesuatu masalah

Oleh  karena  itu,  kita  dapati  para  ulama  terkadang berbeda  pendapat dalam menyatakan suatu dalil sebagai dalil yang qathi' atau dalil yang zhanni. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Telah jelas bahwa para ulama mujtahid itu berbicara dengan ilmu. Mereka mengikuti dalil. Dan ilmu fiqih itu adalah ilmu yang agung. Para ulama bukanlah termasuk orang- orang yang mengikuti prasangka semata. Namun, di antara mereka terkadang ada   yang   mengetahui   suatu   ilmu   yang belum diketahui  ulama  lain. Dikarenakan  ulama  yang  lain  belum  pernah  mendengarnya  atau  terkadang karena ulama lain belum memahaminya”. Maka, apa yang mereka (ahlul bid’ah) klaim zhanni, ternyata bagi para ulama adalah perkara yang qath’i.

Disebabkan kedangkalan akal mereka dan hawa nafsu yang terlanjur membutakan akal mereka. Merujuk kepada ahli ilmu dalam memahami dalil Dalam  kasus  di  atas,  ahlul  bid’ah  mempertentangkan  dalil-dalil  karena dalam  memahami  dalil  mereka  hanya  mengandalkan  logika  semata,  sama sekali  enggan  merujuk  kepada  penjelasan  ulama.  Padahal  dalam  surat  Al Imran  ayat  7  di  atas, Allah  telah  mengisyaratkan  bahwa  untuk  memahami dalil   secara    sempurna       tanpa    menolak sebagian dalil adalah dengan mengembalikannya kepada ahli ilmu yang raasikh (mendalam  ilmunya).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,“Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan itu tidak saling mendustakan, bahkan saling membenarkan satu sama lain. Ayat-ayat yang kalian pahami,amalkanlah. Ayat-ayat yang kalian tidak pahami, kembalikanlah kepada orang alim yang memahaminya”. Karena  para  ulama  memahami  dalil  dengan  dalil,  menafsirkan  dalil dengan atsar sahabat Nabi, tabi’in serta orang yang mengikuti mereka, yang merupakan generasi terbaik dan paling paham terhadap Qur’an dan Sunnah.

Dan   faktanya,ketika   kita   mengembalikannya   kepada   ulama,   tidak ditemukan adanya pertentangan di antara dalil-dalil di atas. Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Surat Ghafir (Al Mu’min) ayat 45-46 menetapkan adanya adzab  kubur  berdasarkan  tafsir  dari  Mujahid rahimahullah,  seorang  tabi’in yang   dijuluki imamul   mufassir, juga  riwayat  dari  ulama mufassir (pakar tafsir) yang lain. Juga karena bersesuaian dengan hadits-hadits shahih yang mencapai derajat mutawatir. Pendalilan yang berdasarkan hadits shahih serta atsar  salaf  ini  tentu  lebih  utama  dan  lebih  agung  dibanding  pendalilan berdasarkan ra’yu   (logika).  

Dan   pendalilan   yang   demikian ini adalah pendalilan yang qath’i.       Sedangkan surat Yasin ayat 52, berdasarkan riwayat dari seorang sahabat Nabi,   Ubay   bin   Ka’ab radhiallahu’anhu  ,  juga  dari  para  tabi’in  yaitu Khaitsamah, Mujahid dan Qatadah radhiallahu’anhum tafsiran ‘tidur‘ dalam ayat ini adalah: “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Sehingga ayat ini tidak menafikan adanya adzab kubur. Sekali lagi, pendalilan dengan atsar  salaf  ini  tentu  merupakan  pendalilan  yang qath’i.  Walhasil,  tidak  ada pertentangan di  antara    ayat dengan   ayat, atau  ayat dengan hadits, walillahilhamdu.

Sumber :

122 HR. Ahmad 2/161, dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu'anhu. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Syarhu Al     Aqidah At Thahawiyah, hal. 585 120Ma’alim Ushulil Fiqhi 'inda Ahlissunnah wal Jama'ah, halaman 80-81, karya Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani 121Majmu’ Fatawa, 13/124-125118 QS. Ali Imran: 7 119 QS. Ali Imran: 7                                                      

 

 

BEBERAPA AKIDAH AHLUSSUNNAH TERKAIT  ALAM KUBUR KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR    

Para hamba di alam kubur ada lima golongan :    

Pertama, para Nabi dan Rasul  'alaihimussalam. Mereka dalam keadaan yang paling baik di alam kubur. Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:     “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad padaNabi.     

Kedua,  ara syuhada   (orang   yang   wafat   ketika   jihad fi  sabilillah). Mereka  mendapat  nikmat  kubur,  selamat  dari  fitnah  kubur  (pertanyaan kubur) dan adzab kubur. Ada sahabat yang bertanya:  “Wahai Rasulullah, apakah benar bahwa setiap Mukmin mengalami ujian di dalam kubur mereka kecuali para syuhada? Nabi Shallallahu'alaihi   Wasallam bersabda: 'Cukuplah sabetan pedang di kepala mereka menjadi ujian bagi mereka'.      

Ketiga,  orang-orang  mendapat  nikmat  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur.  Mereka  mendapat  berbagai  kenikmatan  surga:  ditemani  oleh  amalan shalih,  diluaskan  kuburnya,  diperlihatkan  surga  kepada  mereka.  Mereka berbahagia   sampai-sampai   mereka   ingin   Kiamat   disegerakan   agar  bisa berjumpa dengan keluarganya. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu: “... ketika mereka (penghuni kubur) diperlihatkan isi dari surga, mereka  mengatakan: Ya Rabb kami, percepatlah datangnya kiamat sehingga kamibisa berkumpul kembali dengan keluarga kami dan harta kami

Keempat,  orang-orang  mendapat  siksa  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur, namun tidak selamanya. Mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa namun masih memiliki iman dalam hati mereka. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata:    “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian    pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua  orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda,‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar(menurut mereka berdua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkan bekas kencingnya,dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba).     

Kelima,  orang-orang  mendapat  siksa  kubur  terus-menerus  hingga  hari kiamat,  merekalah  orang-orang  kafir  dan  orang-orang  munafik.  Mereka disiksa  dengan  siksaan  yang  mengerikan  dan  terus-menerus  hingga  hari kiamat. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu:“... dijadikan baginya sesosok yang buta dan bisu. Di tangannya ia  memegang alat pemukul dari besi yang jika digunakan untuk memukul gunung maka gunung tersebut akan menjadi debu. Maka alat tadi digunakan   untuk memukul sang mayit dengan pukulan yang keras, ketika dipukulkan   terdengar suaranyajeritannya antara timur dan barat kecuali oleh jin dan manusia lalu ia pun menjadi debu. Kemudian setelah itu dikembalikan lagi ruh tersebut seperti bentuknya semula.

Sumber :

127 HR. Bukhari no.6055, Muslim no.703 128 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud 125 HR. An Nasa-i no. 2052, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i 126 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Sunan Abu Daud

123 Diringkas dari Al Hayah Al Barzakhiyyah, karya Syaikh Abdurrahman As Suhaim rahimahullah 124 HR. Al Hakim 5/776, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami' no. 2212        

 

PERTANYAAN DI ALAM KUBUR     

Dari penjelasan   di   atas   dapat   dipahami   bahwa   semua   orang   akan mengalami fitnah (ujian) kubur, kecuali para Nabi dan syuhada. Fitnah kubur adalah  pertanyaan  yang  ditanyakan  dua  Malaikat  di  alam  kubur.Barang siapa  yang  bisa  menjawabnya  maka  ia  selamat. 

Namun  yang  tidak  bisa menjawabnya ia akan binasa. Dalam hadits riwayat Abu Daud yang panjang disebutkan mengenai pertanyaan  dua   Malaikat di alam kubur dan konsekuensinya setelah melewati pertanyaan tersebut bagi orang mukmin dan orang yang kafir. Hadits-hadits tentang pertanyaan di alam kubur      Dari   Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Ruh orang (mukmin) yang meninggal akan mendengar hentakan kaki orang-   orang yang menguburkannya ketika mereka mulai berpulangan. Kemudian Fitnah kubur bukanlah siksa kubur sebagaimana sangkaan sebagian orang. Fitnah kubur berbeda dengan adzab kubur.

  setelah itu datanglah dua Malaikat yang garang dan membentaknya. Kedua  malaikat tersebut mendudukan sang mayit dan bertanya: siapa Rabb-mu? Ia menjawab: Rabb-ku adalah Allah. Kedua Malaikat bertanya: apa agamamu?  Ia menjawab: Agamaku Islam. Kedua Malaikat bertanya: siapa orang yang   diutus untuk kalian? Ia menjawab: ia adalah Rasulullah Shallallahu'alaihi  Wasallam. Kedua Malaikat bertanya: Kemudian apa ilmumu? Ia menjawab:   aku membaca Al Qur'an, aku beriman kepadanya, dan membenarkannya. Maka seorang akan ditanya siapa Rabb-nya, apa agamanya dan siapa     Nabinya? Dan itu adalah ujian terakhir yang diujikan kepada seorang Mukmin.

 Adapun  orang-orang  kafir  dan  munafik,  mereka  tidak  bisa  menjawab pertanyaan di alam kubur. Disebutkan dalam lanjutan hadits:    “Ruh orang (kafir) yang meninggal akan mendengar hentakan kaki orang-   orang yang menguburkannya ketika mereka mulai berpulangan. Kemudian  setelah itu datanglah dua Malaikat yang garang dan membentaknya. Kedua  malaikat tersebut mendudukan sang mayit dan bertanya: siapa Rabb-mu? Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Kedua Malaikat bertanya: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Kedua Malaikat  bertanya: siapa orang yang diutus untuk kalian? Apakah engkau tidak tahu   namanya? Bukankah dia Muhammad.

 Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak   tahu. Aku pernah mendengar orang-orang menyebutnya. Maka dikatakan kepadanya: Engkau tidak belajar Al Qur'an, engkau tidak membaca Al Qur'an. Kemudian diserukan dari langit: Engkau telah mendustakan Al Qur'an. Lalu ia pun diperlihatkan bagian dari neraka . Dari Al Barra' bin Azib radhiallahu'anhu,  Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda mengenai pertanyaan di alam kubur:“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian     didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan    rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah  Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27).Juga terdapat riwayat  yang mauquf  dari Abdullah  bin  Mas'ud radhiallahu'anhu, bahwa beliau berkata:“Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian.

Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup     atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan   Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah  pakaian dari surga yang akan dipakainya.    

Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu  disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya,  yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan   dipakaikan penutup kepala dari besi panas padanya”. Nama malaikat yang bertanya di alam kubur Nama  dua  malaikat  yang  memberi  pertanyaan  di  alam  kubur  adalah Munkar dan Nakir. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar .  “Ketika salah seorang dari kalian dikuburkan, maka akan datang kepadanya  dua Malaikat yang hitam dan bermata biru. Yang satu bernama Munkar dan      yang lainnya bernama Nakir. Keduanya bertanya: “Apa pendapatmu   mengenai lelaki ini (yaitu Rasulullah)?”. Si mayit menjawab sebagaimana yang pernah dikatakan dahulu (ketika hidup): “Dia adalah hamba Allah dan  Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain  Allah dan Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam adalah hamba Allah dan Rasul-Nya”. Keduanya berkata: “Kami sudah mengetahui bahwa kamu akan  mengucapkan demikian.... Hakekat fitnah kubur dan cara agar bisa menjawabnya Hadits-hadits diatas menunjukkan dengan tegas tentang adanya pertanyaan dari dua malaikat di alam kubur.

Dan bahwa pertanyaan di alam kubur terdiri dari tiga pertanyaan:    

1. Siapa Rabb-mu?   

2. Siapa Nabimu?     3. Apa agamamu?

Imam Abu Ja'far Ath Thahawi rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan: “(Kami mengimani) adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam    kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”.

Dan pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dihafal jawabannya dan tidak bisa dicurangi. Yang mampu menjawabnya adalah orang yang benar imannya dan  akidahnya  terhadap  Allah  dan  Rasul-Nya.

Sebagaimana  firman  Allah ta'ala: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit .  Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan  merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”. Maka  cara  agar  kita  dapat  menjawab  pertanyaan  di  alam  kubur  adalah dengan  mengokohkan  akidah  kita,  dengan  mempelajari  dan  mengamalkan ilmu-ilmu   akidah  dan   tauhid,   terutama   ilmu   yang   membahas   tentang mengenal  Allah ta'ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya,hak-hak-Nya,juga ilmu tentang mengenal Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, namanya, nasabnya, perjalanan  hidupnya,  hak-haknya,sunnah-sunnahnya,dan  juga ilmu tentang agama Islam secara umum. Dan inilah landasan-landasan utama dalam agama Islam. Oleh  karena itu  Syaikh  Muhammad  bin  Abdil  Wahhab rahimahullah, beliau membuat kitab Al Ushul Ats Tsalatsah yang berisi tentang penjelasan ringkas   tentang   mengenal   Allah,   mengenal   Islam   dan   mengenal   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam.

Adapun orang kafir, orang munafik dan orang yang ada keraguan dalam imannya,  mereka  tidak  bisa  menjawab  pertanyaan  di  alam  kubur  dengan benar. Mereka akan mengatakan,  “hah.. hah.. saya tidak tahu. Dahulu ketika di  dunia  saya  mendengar  orang-orang  mengucapkan  sesuatu,  maka  saya ikuti saja.Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Renungkanlah ucapan ““hah.. hah.. saya tidak tahu” ini! Ini menunjukkan bahwa  ia  seakan-akan  teringat  sesuatu  dan  berusaha  mengingatnya,  namun tidak  bisa.  Ketika  seseorang  teringat  sesuatu  dan  tidak  bisa  menghadirkan ingatan  itu,  ia  akan  merasakan  kegalauan  yang  amat  sangat,  dibandingkan jika ia tidak tahu sama sekali“.

Sumber :

136 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 137 QS. Ibrahim: 27 138 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul     Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H

131 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud 132 HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398

134 HR. At Tirmidzi no. 1071, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam as Silsilah al Ahadits ash Shahihah no. 1391 135 Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.   Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip  akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H. 130 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud

Apakah anak kecil yang belum baligh juga ditanya?     

 Ada  khilaf  ulama  dalam  masalah  ini.  Sebagian ulama  berpandangan bahwa  anak  kecil  yang  wafat  dalam  keadaan  belum  baligh,  mereka  tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya Al Qadhi Abu Ya'la dan Ibnu Aqil rahimahumallah.  Argumen  mereka,  karena  anak  kecil  itu  belum  terkena beban  syari'at  dan  diangkat  pena  catatan  amalan  dari  mereka. 

Sehingga mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan ditanya di alam kubur. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah kubur.  Yang dikecualikan hanya para Nabi dan para syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa anak kecil pun akan  mengalami dhaghthah  (penghimpitan)  di  alam  kubur.  Pendapat  ini dipilih oleh para murid imam Asy Syafi'i, demikian juga merupakan pendapat imam  Ahmad  bin  Hambal,  imam  Malik  dan  diklaim  oleh  Abul  Hasan  Al Asy'ari sebagai madzhab Ahlussunnah142.  139Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 140Syarhu Haditsi Jibril 'alaihissalam, halaman 38

Pertanyaan malaikat kepada orang yang mati tenggelam dan semisalnya      

Pada dasarnya, semua orang yang mati dalam keadaan apapun pasti akan mengalami alam kubur, tanpa terkecuali. Dan alam kubur itu berbeda dengan alam  dunia.  Sehingga  tidak  ada  bedanya  seseorang  yang  di  alam  dunia  ia dikubur  mayatnya  dengan  baik  ataukah  hilang  mayatnya,  hancur  lebur menjadi   debu,   tenggelam, dimakan binatang sampai tak   bersisa   atau semisalnya. Allah ta'ala Maha Kuasa menghidupkan mereka semua di alam kubur. Allah ta'ala berfirman: “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada      kejadiannya. Ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang  belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui  tentang segala makhluk. Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.

Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Peristiwa  pertama  yang  dialami  setelah  kematian  adalah  fitnah  kubur. Manusia akan diuji di dalam kubur mereka. Semua manusia yang meninggal, baik  yang  dikuburkan  di  dalam  kubur,  ataupun  jasadnya  tergeletak  di  atas tanah  (tidak  dikubur),  atau  jasadnya  dimakan  oleh  binatang  buas,  atau jasadnya  hancur  terhempas  angin,  semua  akan  mengalami  ujian  di  alam kubur”.      

Syaikh  Muhammad Ali Farkus hafizhahullah  menjelaskan:  “Sudah kita  ketahui  bersama  bahwa  pertanyaan  dua  Malaikat  kepada  jenazah  yang dikubur  adalah  setelah  ia  diletakkan  di  dalam  kubur.  Sebagaimana  sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:      

 “Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya, lalu kerabatnya mulai berpulangan, ia mendengar suara sandal mereka. Kemudian datanglah dua Malaikat, lalu kedua Malaikat itu menjadikan mayit duduk….Adapun  mayat  yang  tidak  dikuburkan,  semisal  dimakan  hewan  buas, atau dimakan ikan besar, atau tenggelam, sampai ia menjadi debu. Atau juga orang yang hancur lebur terkena bom. Mereka ini tidak diragukan lagi pasti akan  ditanya  juga  oleh  dua  Malaikat,  namun  tidak  diketahui  bagaimana kaifiyah(cara)-nya.  Karena  perkara  ini  adalah  perkara  gaib  yang tauqifiy (diketahui dengan dalil), dan tidak boleh meng-qiyas-kan dunia gaib dengan dunia  nyata.Adapun  adzab  kubur  itu  dirasakan  oleh  jiwa  dan  raganya,berdasarkan  kesepakatan  ulama  ahlus  sunnahwaljama’ah.Jiwanya  yang mendapat   nikmat   dan   adzabnya   pada   raganya   namun   keduanya   saling berhubungan.  Barangsiapa  yang  mati  dan  ia  layak  mendapat  adzab  kubur, maka ia akan mendapatkannya, baik ia dikubur ataupun tidak (lebih jelasnya lihat kitab Ar Ruh karya Ibnul Qayyim, hal 81-88)147.

Sumber :

147 Sumber: http://www.ferkous.com/site/rep/Ba18.php  https://dorar.net/aqadia/2152

143 QS. Yasin: 78-80 144Syarhu Haditsi Jibril 'alaihissalam, halaman 37 145 Seorang ulama Ahlussunnah dari Aljazair 146 HR. Bukhari no.1374, Muslim no.7395 

141 Akan disebutkan haditsnya di bab “Penghimpitan di alam kubur” 142 Diringkas dari Mausu'ah Aqdiyah Durarus Saniyyah, bab “Fitnatul Qabri”,        

     

Read More