Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 08 Mei 2026

Jihad dalam islam

 Jihad dalam islam

Dengan      membebaskan        manusia     dari   menyembah        sesama     mereka,     maka kebebasan   yang   hakiki   telah   dimulai.   Rasulullah   saw   memberitahu   bahawa kematian   adalah   perpindahan   dari   satu   rumah   ke   rumah   yang   lain.   Ia   bukan akhiran yang misteri dari kehidupan yang tidak dapat difahami, tetapi ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak akan menyelamatkan dari kematian   itu   sendiri,   dan   cinta   kepada   kehidupan   tidak   akan   memanjangkan ajal. 

Jihad dalam islam


 Pada   setiap   ajal   ada   ketentuannya.   Maka   keberanian   merupakan   unsur dari    unsur-unsur      pembentukan        keperibadian      Islam    dan    bahagian     dari bahagian-bahagian sel yang ada dalam tubuh seorang Muslim. Rasulullah   saw   juga   menyatakan   bahawa   rezeki   di   dunia   sudah   dijamin   dan ditentukan oleh Allah SWT: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah- lah yang memberi rezekinya. " (QS. Hud: 6) Jibril mewahyukan kepada Rasul saw bahawa suatu jiwa tidak akan memenuhi ajalnya sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak ada    alasan   bagi   manusia    untuk    khawatir    terhadap    rasa   lapar   dan   gelisah terhadap   hari   esok.   Semua   ini   terjadi   dalam   ruang   lingkup   mengambil   atau melalui jalan-jalan menuju sebab. Yakni berusaha untuk mencapai rezeki yang merupakan   kewajipan   bagi   orang   Muslim   dan   percaya   terhadap   kedermawan Allah   SWT   yang   juga   merupakan   suatu   kewajipan   bagi   orang   Muslim   untuk mempercayainya. Allah SWT berfirman: "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. " (QS. adz-Dzariat: 22) Allah SWT telah menjamin rezeki di dunia dan memerintahkan manusia untuk berusaha   mencapai   rezeki   di   akhirat.   Rezeki   di   dunia   adalah   sesuatu   yang sudah   dijamin,   sehingga   manusia   tidak   perlu   melakukan   usaha   yang   terlalu sengit   untuk   mencapainya.   Cukup   baginya   untuk   berusaha   secara   benar   dan seimbang.    

  Sedangkan       berkenaan      dengan      rezeki    akhirat,     Allah    SWTmemerintahkan manusia untuk berusaha mencapainya kerana ia adalah rezeki yang   Allah   SWT   tidak   menjaminnya   kecuali   jika   manusia   berhasil   melampaui dua   jihad:   jihad   yang   besar   dan   jihad   yang   kecil.   Jihad   besar   adalah   jihad melawan   hawa   nafsu   dan   jihad kecil   adalah   jihad   melawan   musuh di   medan perang. Dengan terbebasnya seorang Muslim dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa   takut, maka   Islam   memberi   seorang   Muslim  senjatanya   dan   alat-alatnya dan     ia   memerintahkannya          untuk    mulai     memerangi       kekuatan-kekuatan kelaliman di muka bumi. Allah SWT berfirman tentang umat Islam: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110) Perhatikanlah, bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf nahi mungkar sebelum      keimanan     kepada    Allah   SWT.    Ini  dimaksudkan      agar  akal   manusia tergugah   akan   pentingnya   jihad   di   jalan   Allah   SWT.   Amal   makruf   dan   nahi mungkar       tidak    terwujud     semata-mata       dengan     memegang        tongkat     dan mencambukannya kepada punggung orang-orang Islam yang tidak solat; ia juga tidak  berupa   usaha   untuk  menahan   orang-orang   Muslim  yang   tidak  berpuasa. Masalah itu lebih penting dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang     bersifat    lahiriah,   sedangkan      hal-hal    yang    bersifat   batiniah     tidak diperhatikan. Ayat    tersebut    berarti,    hendaklah     seorang    Muslim    membawa        senjata   dan berdakwah   di   jalan   Allah   SWT   serta   memerangi   orang-orang   lalim   di   muka bumi. Abu Bakar berkata: "Wahai manusia, kalian membaca ayat berikut ini:" "Hai   orang-orang   yang   beriman,   jagalah   dirimu.   Tiadalah   orang   yang   sesat itu    akan    memberi      mudarat      kepadamu       apabila    kamu     telah   mendapat petunjuk," (QS. al-Maidah: 105) Dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang lalim dan mereka tidak menghentikannya, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka semua."

Penafsiran     Abu   Bakar    terhadap    ayat   tersebut   sangat   jelas   ertinya.   Yakni bahawa pelaksanaan ayat tersebut dapat diwujudkan dengan adanya jihad di jalan     Allah    SWT    dengan      mengangkat       senjata    sebagai     usaha    untuk menghentikan       orang-orang     yang   lalim.   Setelah   itu,  seorang    Muslim   dapat mengatakan:       "Aku   telah  melaksanakan      tugasku    dan  tidak   akan   berdampak kepadaku orang yang sesat setelah aku memberikan petunjuk." Demikianlah pemahaman orang-orang Islam yang pertama. Maka bandingkanlah pemahaman   tersebut   dengan   pemahaman   kita            saat   ini  di   mana  kita   telah kehilangan keberanian, dan rasa takut telah menghinggapi tubuh orang-orang Islam.   Kaum   Muslim   lebih   mengutamakan   keselamatan   diri   mereka   daripada memerangi orang- orang yang lalim. Muhammad        bin   Abdillah   datang    dengan    membawa       risalah  Islam   yang   di dalamnya terdapat perintah Ilahi untuk memerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan kehormatan orang-orang yang tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman: "kerana itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan   Allah,   lalu   gugur   atau   memperoleh   kemenangan,   maka   kelak   akan Kami     berikan    kepadanya     pahala    yang   besar.    Mengapa     kamu    tidak   mau berperang       dijalan   Allah   dan   (membela)      orang-orang      yang   lemah     baik laki-laki,   wanita-wanita   mahupun   anak-   anak   yang   semuanya   berdoa:   'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu. " (QS. an-Nisa': 74-75) Muhammad        bin  Abdillah   membacakan       kepada    kaumnya     tentang    penafsiran Allah SWT berkenaan dengan makna kejayaan yang besar: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka   dengan   memberikan   syurga   untuk   mereka.   Mereka   berperang   di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang   benar   dari   Allah   di   dalam   Taurat,   Injil,   dan   Al-Quran.   Dan   siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. at- Taubah: 111)

Bacalah   ayat   tersebut   dua   kali   dan   renungkanlah   tentang   kedermawan   Allah SWT. Betapa tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan harta mereka, padahal   jiwa   tersebut   dan   harta   tersebut   pada   hakikatnya   adalah   milik-Nya sendiri. Lihatlah bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia membeli harta milik-Nya yang khusus dengan syurga dan bagaimana Allah SWT menganjurkan orang-orang      Islam   untuk   berperang,     dan   Dia  memberitahu   mereka         bahawa urusan memerangi orang-orang lalim dan orang-orang yang tersesat bukanlah hal   yang   baru   atas   orang-   orang   Islam.   Allah   SWT   telah   memerintahkan   hal tersebut dalam Injil dan Taurat. Sebagaimana Nabi    Isa  diutus   dengan    pedang,     seperti   yang   disebutkan     dalam    lembaran- lembaran   atau   buku-buku   orang-orang   Nasrani,   maka   Nabi   Musa   pun   diutus dengan   membawa   pedang.   Dan   ketika   Bani   Israil   berkata   kepada   Nabi   Musa, "pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami hanya di sini duduk-duduk         saja,",   maka      kehendak      Ilahi   menetapkan        agar    mereka mendapatkan         kesesatan    selama     empat     puluh   tahun    sebagai     akibat   dari perbuatan   mereka   itu,   agar   generasi   yang   lemah   dan   hina   itu   hancur   yang mereka justru tidak memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka membiarkan Nabi Musa bersama Tuhannya berperang, padahal peperangan itu merupakan tanggung jawab mereka dan tugas mereka yang harus mereka emban sebagai pengikut Nabi Musa. Demikianlah       esensi    dari    ajaran    Islam    sebagaimana       yang    dibawa     oleh Muhammad bin Abdillah. Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu serta mendapatkan         kebebasan      dan    yang     terpenting     adalah     usaha    melawan kekuatan-kekuatan lalim. Suatu ajakan yang universal yang tidak dikhususkan untuk   kalangan   tertentu   atau   untuk   warna   kulit   tertentu   atau   untuk   kaum tertentu      atau   untuk    tempat     tertentu;     suatu   ajakan     kemanusiaan      yang komprehensif yang universal yang ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad dengan tujuan yang lebih tinggi, yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya         serta  keimanan      terhadap    hari   kemudian     dan   kebangkitan manusia semuanya di hadapan Allah SWT.

Adalah      salah   jika   ada    orang     yang    menganggap       bahawa      Islam    hanya memperhatikan   aspek   akhirat   dan   melupakan   aspek   duniawi.   Menurut   Islam dunia   adalah   lembar-lembar   jawapan   yang   akan   di   koreksi   di   hari   akhir.   Ia adalah   ujian   dan   tempat   percubaan   bagi   manusia   agar   manusia   mengetahui apakah   ia   layak   untuk   mendapatkan        kemuliaan     dari  Allah   SWT   yang   telah diberikan kepada Adam. Atau apakah ia justru layak untuk jadi bahagian dari tanah neraka Jahim dan batunya, sebagaimana firman Allah SWT:

"Yang bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS. al-Baqarah: 24) Rasulullah saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan manusia, penciptaan kehidupan dan kematian ketika beliau menyampaikan firman Allah SWT dalam surah al-Mulk: "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. " (QS. al-Mulk: 2) Dunia adalah rumah pergelutan. Dan Allah SWT telah menciptakan kehidupan dan   kematian   agar   manusia   menyedari   siapa   di   antara   mereka   yang   terbaik amalnya. Tentu pengetahuan ini tidak akan menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan       itu  justru  dibutuhkan     oleh  manusia. 

Read More

Kamis, 07 Mei 2026

Konsep Ajaran Islam yang dibawa Baginda Nabi Saw

 Konsep Ajaran Islam yang dibawa Baginda Nabi Saw

Islam   yang   dibawa   oleh   Nabi   Muhammad saw berbeza dalam bentuknya dengan Islam yang dibawa nabi-nabi sebelumnyakerana   sebab   yang   penting,   yakni   bahawa   Islam   ini   merupakan   ajaran   yang universal dan berisi aspek kemanusiaan yang abadi. Islam tidak terbatas atas orang-orang   Arab   tetapi   ia   berlaku   atas   semua   golongan.  

Konsep Ajaran Islam yang dibawa Baginda Nabi Saw


Islam   yang   dibawa oleh Nabi Muhammad saw   tidak  terbatas  untuk  kabilah   tertentu   atau   bangsa tertentu   atau   bumi   tertentu   atau   lingkungan   tertentu   atau   zaman   tertentu, tetapi ia untuk semua manusia. Atau dengan kata lain, ia merupakan ajakan untuk   membangkitkan   akal   manusia   di   mana   saja   mereka   berada   tanpa   ada batasan tempat atau waktu. Universalitas ajaran Islam tidak dikenal pada risalah-risalah Ilahi sebelumnya di mana      setiap   risalah  itu   diperuntukkan     bagi   bangsa    tertentu    dan   zaman tertentu. Oleh kerana itu, mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang bersifat sementara      seringkali   mendukung   risalah-   risalah   yang   dahulu.     Ketika   Islam datang sebagai bentuk ajakan untuk menghidupkan akal manusia secara bebas, maka di sana tidak ada alasan untuk membawa mukjizat yang mengagumkan. Hanya   ada   satu   kata   yang   dapat   dijadikan   pembuka   untuk   berdakwah   dan membuka akal manusia, yaitu kata "iqra"' (bacalah). Dan hendaklah bacaan ini berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

 Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Cuba Anda renungkan       permulaan       pertumbuhan       dan    puncak     pencapaian.       Di   sini tersembunyi   mukjizat   yang   hakiki   jika   Anda   berusaha   mencari   mukjizat   yang hakiki. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang memberikan nikmat penciptaan dan   rezeki   serta   rahmat   dan   kelembutan.   Dia   Maha   Mulia   yang   mengajarkan manusia apa saja yang tidak diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk membaca. Ia adalah dakwah yang menunjukkan kedudukan ilmu. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya        yang    takut    kepada     Allah    di  antara    hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28) Takut kepada Allah SWT tidak akan muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan   dengan   bentuk   apa   pun   akan   melahirkan   rasa   takut.   Oleh   kerana itu, dalam pandangan Islam ilmu adalah hal yang pokok. Ia bukan kemewahan dan   bukan   hanya   perhiasan.   Kaum   Muslim   telah   mengalami   masa   kemuliaan dan kejayaan dan mereka berhasil menguasai bumi ketika mereka memahami Islam   secara   benar,   tetapi   ketika   pemahaman   ini   jauh   dari   mereka,   maka mereka      kembali    dalam    keadaan     yang   paling   buruk,    bahkan    lebih   burukdaripada masa jahiliah. Jadi,   ilmu   dalam   Islam  merupakan     tujuan   yang  mulia   dan   utama   dalam penciptaan alam wujud.

Kisah Nabi Adam dan Hawa, sebagaimana diceritakan oleh   Al-Quran   adalah   bukan   semata-mata   kisah   kesalahan   memakan   pohon terlarang, tetapi ia juga kisah yang memiliki dimensi- dimensi yang dalam dan aspek-aspek     yang  beraneka    ragam.   Ketika  Anda   menyelami    kedalamannya, maka   Anda   akan   dapat   menemukan   simbol-   simbol   dari   makna-makna   yang lebih penting. Dialog internal yang dialami oleh para malaikat tentang rahsia pemilihan Nabi Adam     untuk  memakmurkan       bumi   dan  menjadi    khalifah  di  dalamnya   serta pengajaran     yang   diperoleh  Nabi   Adam   tentang   nama-nama      semuanya    dan bagaimana beliau mengemukakan nama-nama tersebut kepada para malaikat, serta   ketidaktahuan   mereka   tentang   nama-nama   itu,   kemudian   usaha   Nabi Adam     untuk   memberitahu     mereka  tentang    apa   yang  diketahuinya    serta pengetahuan      para  malaikat   tentang   rahsia  pemilihan   Nabi  Adam    dan  para keturunannya   untuk   memakmurkan   bumi,   semua   ini   menjadikan   tujuan   dari penciptaan     manusia   adalah   pencapaian    ilmu   atau  ma'rifah   secara  umum. Pandangan tersebut dikuatkan oleh firman Allah SWT: "Dan     Aku  tidak    menciptakan       jin   dan     manusia     kecuali    untuk menyembah-(Ku)." (QS. adz-Dzariat: 56) Lalu   bagaimana    kita  memahaminya      saat  ini  dan  bagaimana    generasi   yang pertama     dari  kaum   Muslim   dan   dari  sahabat-sahabat    Rasul  saw   dan  para pengikutnya   dan   para   tenteranya   memahaminya?   Saat   ini   kita   memahaminya dengan pemahaman yang sederhana. Kita mengetahui bahawa kalimat "untuk menyembah-Ku " bererti ritual dalam beribadah dan aspek-aspek lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat syahadat, solat, puasa, haji, zakat dan lain-lain.

Sehingga orang-orang yang solat diperbolehkan untuk menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah mereka, meskipun mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli produk-produk yang dibuat mereka serta   memanfaatkan       ilmu  dan   kecanggihan    teknologi   orang-orang    Barat. Namun     mereka    sendiri   tidak  menghasilkan    apa-apa.    Mereka   tidak   dapat memberikan   kontribusi   kepada   kehidupan;   mereka   tak   ubah-nya   seperti bulu yang   dimainkan   oleh   ombak.   Sedangkan   pemahaman   yang   dahulu   berkaitan dengan kalimat tersebut sebagai berikut:

"Dan      Aku     tidak     menciptakan         jin    dan     manusia      kecuali      untuk menyembah-(Ku). " (QS. adz-Dzariat: 56) Ibnu     Abbas    membacanya:        "Illa  liya'rifuun."   (Agar    mereka     mengetahui). Perhatikanlah bagaimana pentingnya perbezaan antara praktek-praktek ibadah dengan   bentuk-bentuknya   dan   kedalamannya   yang   jauh   dalam   ma'rifah   yang menyebabkan        rasa   takut   kepada    Allah   SWT.    Orang    Muslim    yang   pertama meyakini   bahawa   Allah   SWT   menciptakannya   agar   ia   mengetahui   Allah   SWT atau agar ia mengenal Allah SWT.

Sehingga ambisi orang Muslim yang pertama sangat mengagumkan. Mereka pergi untuk membebaskan dunia semuanya: satu tangan berpegangan dengan Al- Quran dan tangan yang lain memegang pedang untuk     menghancurkan        belenggu-belenggu       yang   menyeret      manusia    kepada kesesatan. Kemudian   jatuhlah   dari   Islam   hakikat   ilmu,   sehingga   umat   Islam   tidak   dapat memimpin   kehidupan   dan   mereka   justru   mendapatkan   kehinaan.   Allah   SWT berfirman: "Allah    menyatakan       bahawasanya       tidak   ada   Tuhan     melainkan     Dia,   Yang menegakkan   keadilan.   Para   malaikat  dan   orang-orang   yang   berilmu   (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Islam Membawa kemajuan peradaban manusia

Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam." (QS. Ali 'Imran: 18) Setelah     kesaksian   kepada    Allah   swt   dan   kesaksian   kepada     malaikat,    maka disebutlah secara langsung kesaksian kepada orang-orang yang berilmu. Maka, adakah penghormatan terhadap ilmu yang lebih besar daripada penghormatan ini?   Ilmu   dalam   Islam   berbeza   dengan   ilmu   dalam   peradaban   Barat.   Memang benar   bahawa   Islam   yang   bertanggungjawab   terhadap   tumbuhnya   pandangan ilmiah   dan   metode   eksperimental   di   mana   berdasarkan   metode   ini   tegaklah peradaban   Barat   yang   kemudian   melahirkan   berbagai   produksi,   pembuatan, dan   penemuan.   Dan   metode   eksperimental   adalah   metode   al-Istiqra,   yaitu suatu    metode     yang   mengikuti     bahagian-bahagian       terkecil  (parsial)   melalui jalan   eksperimen   yang   dapat   tunduk   terhadap   eksperimen   dan   melalui   jalan memperhatikan   hal-hal   yang   tidak   dapat   tunduk   terhadap   suatu   eksperimen, atau   melalui   jalan   matematis   murni   yang   membutuhkan   kepada   matematis murni     di  mana     hal  itu  bertujuan     untuk    menyingkap      hukum-hukum       yang menguasai benda. Sistem ini bidangnya adalah alam dan alatnya adalah panca indera   dan   akal.   Sistem   ini   dimanfaatkan   oleh   seorang   Eropa   yang   bernamaRoger Bikun. Ia mengakui bahawa ia sangat berhutang kepada kaum Muslim dan peradaban Islam. Seorang      guru    yang    bernama     Bruicll   dalam     bukunya     Abna'    al-Insaniah menceritakan tentang dasar-dasar peradaban Barat di mana ia berkata: "Roger Bikun mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab di sekolah Oxford kepada guru-gurunya yang berasal dari Arab di Andalus.

Dan Roger Bikun dan Fenessis Bikun     tidak   dapat    menisbatkan     keutamaan      yang    mereka     peroleh    dalam menciptakan   sistem   eksperimental   kepada   diri   mereka   sendiri.   Roger   Bikun hanya seorang duta dari duta-duta ilmu. Oleh kerana itu, ia tidak malu ketika menyatakan bahawa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab adalah jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran." Demikianlah pernyataan pakar-pakar Barat yang jujur. Yang demikian ini bisa dijadikan sanggahan terhadap orang-orang Barat yang tidak jujur agar mereka mengetahui   bahawa   mereka   sebenarnya   mengambil   senjata   yang   sebenarnya berasal dari Islam. Dan jika dikatakan bahawa rahsia kebangkitan Barat saat ini dan    keunggulannya      atas   Timur    kembali    kepada    pengambilannya       terhadap sebab-sebab       metode      eksperimental,      yaitu   metode      Islam,   maka     rahsia kehancuran      Barat   dan   kebingungannya       serta  kegelisahannya      adalah   kerana mereka   tidak   menghubungkan   metode   tersebut   dengan   kebesaran   Allah   SWT sebagaimana       semestinya.      Metode     eksperimen-tal      -  sebagaimana      diambil orang-orang Barat - dimulai dari alam dan berakhir kepadanya sebagai sesuatu tujuan.     Jadi,  ruang    lingkup   pembahasan       mereka    adalah    berkisar   kepada materi,   dan   alat-alat   pembahasan   adalah   eksperimen   dan   pengamatan   serta istiqra. Tiada setelah alam kecuali kematian dan kematian adalah rahsia yang misteri dan   melawannya   adalah   hal   yang   mustahil.   Kita   tidak   mengetahui   apa   yang terjadi   setelah    kematian;    kita   tidak   mengetahui   sesuatu   pun   tentang   roh. Tidak   ada   hubungan   antara   ilmu   dan   akhlak;   tidak   ada   jawapan   dari   ilmu tentang   tujuan   kehidupan   ini.   Kita   hanya   mempelajari   aspek-aspek   lahiriah dan   mencapai   hukum-hukumnya   saja.   Demikianlah   pandangan   Barat   tentang ilmu   di   mana   ia   hanya   sekadar   alat   dan   sarana   untuk   mengatur   alam   dan berusaha   menguasainya.   Sedangkan   metode   ilmiah   dalam   Islam   menyatakan bahawa gerakan atom dengan gerakan sistem tata suria di bawah kendali Zat Yang    Maha    Tahu    dan   Zat   Yang   Maha    Pencipta.    Ilmu   dalam    Islam   justru membimbing manusia untuk menuju Allah SWT:

"Dan bahawasanya kepada Tuhanmu lah kesudahan (segala sesuatu). " (QS. an-Najm: 42) Ilmu   justru   menghantarkan   manusia   untuk  mencapai   rasa   takut   kepada   Allah SWT sebagaimana membimbingnya beribadah kepadanya dan mencintai-Nya: "Sesungguhnya         yang    takut   kepada      Allah   di   antara    hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28) Islam datang dan mengajak manusia untuk membaca, mengetahui, dan takut kepada   Allah   SWT   serta   hanya   beribadah   kepadanya.   Jika   ilmu   merupakan sayap   pertama   di   dalam   Islam,   maka   sayap   yang   kedua   adalah   kebebasan. Rasulullah saw memberitahu dan menyatakan bahawa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada sembahan selain Allah SWT.

 Seruan     ini  mengisyaratkan       keruntuhan      tuhan-tuhan     yang    mengusai     bumi semuanya,       baik    tuhan    yang    berupa     kepentingan-kepentingan          peribadi, kekayaan,      raja,   penguasa,      pemikiran-pemikiran       yang    mengusai     manusia, warisan   para   datuk   dan   nenek,   berhala-berhala   yang   terbuat   dari   batu   dan kayu,   mahupun   berbagai   macam   tuhan   lain   yang   bohong.   Adalah   salah   jika seseorang   membayangkan   bahawa   kalimat   "tiada   Tuhan   selain   Allah"   hanya sekadar   hiasan   mulut   seorang   Muslim   di   mana   segala   sesuatu   yang   ada   di sekitarnya     penuh     dengan    kebohongan      dan   tidak   membenarkan        apa   yang dikatakannya.       Kalimat    tersebut    dalam    Islam   merupakan      pergelutan    besar bersama kegelapan yang ada pada diri manusia, suatu pergelutan yang berakhir pada   penyerahan   diri;   pergelutan   yang   akan   berpindah   pada   kehidupan   yang lebih berat, sehingga kehidupan akan berserah diri. Dan mustahil pergelutan itu akan terjadi kecuali jika terpenuhi suatu kebebasan: kebebasan akal untuk meragukan       dan   menolak    dan   kebebasan     yang    berakhir   kepada    pencapaian batas-batasnya       dan   kemampuannya        serta   kebebasan     yang    meninggi    untuk mencapai   keimanan   yang   dalam   dan   kukuh.

  Itu   adalah   tanggung   jawab   yang berarti    bahawa     ia  harus   memikul     senjata   untuk    membebaskan       orang    lain sebagaimana   ia   membebaskan   dirinya   sendiri.   Demikianlah   esensi   dari   Islam, yaitu   ilmu   yang   berdiri   di   atas   kebebasan   dan   tanggung   jawab   yang   tumbuh dari kebebasan, dan buah terakhirnya adalah tauhid dalam kedalamannya yang jauh. Jika    tauhid    difahami    secara    benar,    maka     manusia     akan    terbebas    dari penyembahan selain Allah SWT: manusia akan bebas terhadap rasa takut darikematian,   kekhuatiran   atas   rezeki,   manusia   akan   terbebas   dari   sikap   bakhil dan ketakutan terhadap hari-hari yang akan datang. Muhammad   bin   Abdillah   datang   untuk   menyerukan   bahawa   hanya   Allah   SWT yang patut disembah dan bahawa semua manusia adalah hamba- hamba-Nya.

Read More