Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Sabtu, 12 September 2026

ARWAH GENTAYANGAN

 ARWAH GENTAYANGAN      

Orang yang sudah wafat, mereka berada di alam kubur dalam keadaan mendapatkan nikmat ataumendapatkan adzab. Mereka tidak   bisa memberikan  manfaat  atau  bahaya  terhadap  orang  yang  masih  hidup. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikanorang-orang yang mati mendengar. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:   “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur  dapat mendengar. Bahkan  orang-orang  kafir  merasakan  penyesalan  dan  berharap  bisa kembali hidup di dunia. Allah ta'ala berfirman:   "Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata),  “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah   kami ke dunia.

ARWAH GENTAYANGAN


Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin".  Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang sudah mati maka ia tidak dapat  hidup  kembali  di  alam  dunia.  Tidak  dapat  lagi  beramal,  baik  amal kebaikan  maupun  amal  keburukan. Dari  Abu  Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa NabiShallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Ketika seorang insan mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat,dan anak shalih yang mendoakannya" . Dan  alam  kubur  adalah  awal  perjalanan  akhirat.

 Sehingga  orang  yang sudah mati, ia sudah ada di alam akhirat, tidak lagi hidup di alamdunia. Dari Utsman  bin  Affan radhiallahu’anhu, bahwa  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat.Maka dalam akidah Islam, tidak ada yang namanya arwah gentayangan, arwah penasaran, mayat hidup, zombi atau semisalnya yang tercakup dalam keyakinan bahwa orang yang sudah mati bisa hidup kembali di alam dunia.Ruh  orang  yang  sudah  mati,  mereka  di  alam  barzakh  dalam  keadaan menikmati        nikmat kubur  atau diadzab  di dalam kubur, tidak ada kemungkinan  ketiga.

Ibnu  Qayyim Al  Jauziyah rahimahullah  menjelaskan: “Arwah  itu  ada  dua  macam:

pertama,  arwah  yang  diadzab, 

kedua,  arwah yang mendapatkan nikmat”.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Di antara  akidah  Ahlussunnah  wal  Jamah'ah  adalah  mengimani  adanya  adzab kubur  dan  nikmat  kubur.  Keadaan  mayit  di  alam  kubur,  bisa  jadi  ia  diberi nikmat, atau diberi adzab.

Ahlussunnah wal Jama'ah mengimani hal ini. Dan Nabi  Shallallahu'alaihi Wasallam  telah  mengabarkan  bahwa  alam  kubur  itu bisa  jadi  akan  menjadi  taman  surga,  atau  bisa  jadi  akan  menjadi  halaman neraka. Wajib bagi seorang Mukmin untuk mengimani hal ini”.Dan  telah  kita  sampaikan  kelemahan  hadits  yang  menyatakan  bahwa arwah orang yang meninggal dapat mengunjungi rumahnya dan keluarganya. Hadits tersebut tidak bisa menjadi hujjah. Selain itu, keyakinan adanya arwah gentayangan atau arwah penasaran, ini bertentangan dengan akal sehat. Andaikan ruh orang yang sudah mati bisa bergentayangan  dan  bisa  penasaran,  kemudian  bisa  bebas  berjalan  kesana- kemari, membantu keluarganya, atau mengganggu orang-orang yang hidup, dan semisalnya, tentu tidak ada orang yang takut mati. Karena setelah mati pun masih bisa beramal, baik amalan shalih maupun amalan buruk. Bahkan semua  orang  mungkin  ini  mati  saja  karena  digambarkan  kehidupan  setelah mati itu begitu santainya, bisa bergentayangan dan jalan-jalan kesana-kemari.

Maka kemana perginya akal sehat?! Adapun  penampakan-penampakan  yang  dilihat  oleh  sebagian  orang, yang  disangka sebagai arwah gentayangan,mereka adalah setan dari kalangan jin.Sebagian jin   terkadang   menampakkan   diri   dalam   bentuk manusia203  yang  sudah  meninggal  sehingga  disangka  sebagai  arwah  yang hidup kembali. Tujuan akhirnya agar manusia terjerumus ke dalam berbagai bentuk kebid'ahan dan kesyirikan. Allahul musta'an .

Dalam hadits riwayat Al Bukhari (2311), disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiallahu'anhu bertemu dengan jin yang menampakkan dirinya sebagai seorang remaja yang ingin mencuri harta zakat. 

 Sumber :

201 Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, halaman 17. 202 Majmu' al Fatawa wal Maqalat Syaikh Ibnu Baz, 28/66 203 196 QS. An Naml: 80 197 QS. Fathir: 198 QS. As-Sajdah: 12 199 HR. Muslim no.1631 200 HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat     Rabbaniyyah, 4/192

Read More

Jumat, 11 September 2026

APAKAH RUH DI DALAM KUBUR BISA SALING MENGUNJUNGI?

 APAKAH RUH DI DALAM KUBUR BISA SALING  MENGUNJUNGI?

Para  ulama  berbeda  pendapat  apakah  ruh  orang-orang  Mukmin  dapat saling   mengunjungi satu sama lain   di   alam   kubur?   Sebagian   ulama mengatakan bahwa ruh orang Mukmin bisa mengunjungi ruh orang Mukmin yang lain. Di antara yang berpendapat demikian adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah. Mereka berdalil dengan   hadits   dari  Abu   Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketika seorang Mukmin mendekati ajalnya, para malaikat rahmat datang   menemuinya dengan membawa kain sutra berwarna putih. Mereka berkata:    “Keluarlah engkau sebagai ruh yang diridhai dan menuju kepada rahmat Allah, dengan bau yang harum dan tidak dimurkai oleh Allah!”. Lalu ruh    orang tersebut pun keluar dengan bau misik yang paling harum. Sampai-sampai para malaikat berebut satu sama lain untuk mendapatkannya.    

APAKAH RUH DI DALAM KUBUR BISA SALING  MENGUNJUNGI?


Kemudian mereka membawanya sampai ke pintu langit. Lalu penduduk langit pun berkata: “Betapa harumnya ruh yang kalian bahwa ini dari bumi!”.  Lalu para malaikat pun mendatangi ruh-ruh kaum mukminin yang lain. Ruh-ruh kaum Mukminin bergembira dengan kedatangan ruh tersebut, dengan kegembiraan yang melebihi kegembiraan ketika bertemu orang yang lama tidak bertemu”  “Lalu mereka bertanya kepada ruh yang baru datang: “Apa yang telah  dilakukan oleh si Fulan? Apa yang telah dilakukan si Fulan?”. Sebagian ruh      tersebut berkata: “Biarkanlah ia, karena ia baru terlepas dari kelelahan    dunia”. Maka ruh yang baru datang tadi berkata: “Tidakkah si Fulan yang      (kalian tanyakan) sudah bertemu dengan kalian?”. Sebagian yang lain    menjawab: “Berarti ia telah dibawa ke tempat kembalinya yaitu neraka  Hawiyah”. Adapun seorang kafir jika telah mendekati ajalnya, para malaikat  adzab datang membawa kain kafan yang kasar. Malaikat berkata: “Keluarlah  engkau dengan kemurkaan Allah dan dalam keadaan dimurkai Allah, menuju  kepada siksa Allah 'azza wa jalla. Lalu ia keluar dalam keadaan bau bangkai yang paling busuk.

Kemudian mereka membawanya hingga pintu bumi. Lalu    para penduduk langit berkata: “Betapa busuknya bau ruh ini!”. Lalu para malaikat membawanya menemui ruh orang-orang kafir lainnya”. Hadits ini menunjukkan adanya  pertemuan antara    ruh-ruh  kaum Mukminin satu dengan lainnya. Bahkan mereka berbincang-bincang tentang keadaan orang-orang yang masih hidup.                   

radhiallahu'anhu yang lain.  Dari  Abu  Hassan Al A'raj rahimahullah, ia berkata: “Aku berkata kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu: dua anakku baru meninggal. Dapatkah anda sampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam yang dapat menghibur hati kami ketika kehilangan keluarga kami? Abu Hurairah menjawab: Baiklah, beliau      Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:  “Anak-anak kecil kaum  Mukminin yang wafat mereka akan menjadi anak-anak kecil di surga.

Salah seorang dari mereka akan bertemu dengan ayahnya atau dengan keduaorang tuanya, kemudian ia memegang baju atau tangan orang tuanya  sebagaimana aku (Rasulullah) memegang pinggiran bajumu ini (wahai Abu  Hurairah). Tidak akan terlepas hingga Allah memasukkannya beserta orang  tuanya ke dalam surga.Hadits ini menunjukkan bahwa ruh anak-anak kecil dari kaum Mukminin akan bertemu dengan ruh orang tuanya sebelum mereka masuk ke surga.  Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyah rahimahullah  mengatakan:  “Mengenai pertanyaan “apakah ruh seorang Mukmin akan bertemu dengan ruh-ruh dari kelurganya dan kerabatnya?”. Jawabannya, dalam hadits dari Abu Ayyub Al Anshari dan selainnya dari para salaf, juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu  Hatim  dalam Ash  Shahih,  dari  Nabi Shallallahu'alaihi  Wasallam beliau bersabda:

  “Seorang mayit ketika ruhnya dibawa ke atas, ia akan bertemu dengan ruh-ruh yang lain. Ruh-ruh tersebut pun bertanya tentang keadaan orang-orang yang masih hidup. Sebagian ruh tadi berkata: “biarkan dia istirahat terlebih  dahulu!”. Yang lain lalu bertanya lagi: “apa yang dilakukan si Fulan”. Ruh  yang baru datang menjawab: “Oh, si Fulan mengamalkan amalan shalih”.  Yang lain lalu bertanya lagi: “apa yang dilakukan si Fulan”. Ruh yang baru  datang menjawab: “Bukankah si Fulan telah datang kepada kalian?”. Para   ruh menjawab: “Tidak pernah”. Yang lain lagi berkata: “Berarti ia telah   dibawa ke neraka Hawiyah.Demikian juga, Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menjelaskan hal yang  senada. 

Beliau  mengatakan:  “Arwah  itu  ada  dua  macam:  pertama, arwah yang diadzab, kedua, arwah yang mendapatkan nikmat. Adapun arwah yang  diadzab  maka  adzab  yang  mereka  dapatkan  membuat  mereka  tidak mungkin untuk saling mengunjungi dan saling bertemu. Adapun arwah yang mendapatkan  nikmat,  mereka  dibebaskan  dan  tidak  dikekang  sama  sekali. Sehingga mereka saling dapat bertemu dan berkunjung satu sama lain. Dan mereka saling bertukar cerita tentang apa yang mereka dapati di dunia dan tentang keadaan orang-orang di dunia. Sehingga  setiap  ruh  ketika  itu  akan  bersama  dengan  para rafiq-nya (temannya)  yang  dahulu  mereka  mengamalkan  amalan  yang  sama. Adapun ruh Nabi kita Shallallahu'alaihi Wasallam ada di ar-Rafiqul A'la. Allah ta'ala berfirman:  “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu  akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan  orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. 

Kebersamaan orang-orang serupa amalannya ini terjadi di dunia, di alam barzakh dan di akhirat. Seseorang akan bersama yang ia cintai di tiga alam ini. ... dan Allah ta'ala juga berfirman: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,      dan masuklah ke dalam surga-Ku.Maksudnya,  masuklah  ke  dalam  golonganmereka  (orang-orang  yang diridhai) dan jadilah bersama mereka. Dan ini dikatakan kepada ruh ketika ia mati.  Dan  Allah Subhanahu  wa  Ta'ala telah  mengabarkan  tentang  keadaan para syuhada,“Mereka hidup di sisi Rabb mereka, dan mereka diberi rezeki (olehAllah). Allah ta'ala juga berfirman tentang mereka:      

“Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan   bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum    menyusul mereka. Allah ta'ala juga berfirman tentang mereka: “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah.    

Ayat-ayat ini adalah dalil bahwa mereka saling bertemu satu sama lain, dari tiga sisi pandang: Pertama, mereka berada di sisi Rabb mereka, dalam keadaan diberi rezeki. Jika  mereka  dalam  keadaan  demikian  dan  hidup,  artinya  mereka  saling bertemu satu sama lain.

Kedua: mereka bergembira dengan saudara-saudara mereka yang menyusul mereka dan bertemu dengan mereka. Ketiga: lafadz “yastabsyirun ” secara bahasa Arab memberikan makna bahwa mereka  saling  memberi  kabar  gembira  satu  sama  lain.  Maknanya  sama dengan fi'il “yatabasyarun

Sumber

”195. 193 QS. Ali Imran: 170 194 QS. Ali Imran: 171 195Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, halaman 17 - 18 Para ulama juga berdalil  dengan  hadits  dari Abu  Hurairah 187 HR. An Nasa'i no.1832, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa'i. 188 HR. Muslim no.2635 189Majmu Al Fatawa,190 QS. An Nisa: 69 191 QS. Al Fajr: 27 - 30 192 QS. Ali Imran: 16924/368 

Read More

Kamis, 10 September 2026

DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT

 DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI  KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT    

Terdapat  sebuah  hadits  yang  menyebutkan  bahwa  arwah  orang  yang meninggalkan akan mengunjungi rumahnya dan keluarganya di setiap malam Jum'at.Hadits tersebut dikeluarkan oleh Abul Husain Ali bin Ahmad Al Hakkari dalam kitab Hadiyyatul Ahya ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim (6) dengan sanad dan matan sebagai berikut,  Abu Abdirrahman Muhammad bin Al Husain bin Musa As Sulami secara   kitabah, ia berkata, Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi    menuturkan kepadaku, dari Ali bin Musa Al Bashri, dari Ibnu Juraij, dari  Musa bin Wirdan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,  “Kirimlah hadiah untuk orang-orang  yang meninggal di antara kalian.” Para sahabat bertanya, “Apa yang kami   kirimkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sedekah dan  doa.

DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI  KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT


”Kemudian  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,  “Sesungguhnya arwah-arwah kaum mukminin itu datang setiap hari Jum’at    ke langit dunia, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka atau di rumah mereka. Lalu setiap mereka memanggil-manggil dengan suara    yang sedih, “wahai keluargaku, wahai anakku, wahai ahli baitku, wahai     kerabatku, kasihilah dengan sesuatu, semoga Allah merahmati kalian. Ingatlah kami dan janganlah kalian lupa kepada kami. Kasihilah kesendirian  kami dan ketidak-mampuan kami untuk melakukan apa-apa, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Karena sekarang kami tinggal di alam yang jauh dan  mengikat, yang suram dan lama, dan dalam kelemahan yang sangat lemah,  maka kasihilah kami semoga Allah merahmati kalian. Dan janganlah kalian    pelit dalam memberikan doa, sedekah atau tasbih kepada kami. Semoga  Allah mengasihi kami sebelum kalian menjadi semisal kami. Jangan sampai   menyesal wahai hamba Allah. Dengarlah perkataan kami, jangan lupakan   kami. Kalian tahu benar bahwa karunia yang kalian miliki sekarang dulu   ada di tangan kami. Kami dahulu tidak menginfakkannya dalam ketaatan   kepada Allah, kami tidak membelanjakannya dalam kebenaran. Sehingga semua itu menjadi bencana bagi kami sekarang dan manfaat harta-harta itu     malah didapatkan oleh orang lain. Sedangkan adzab dan hukumannya  ditimpakan atas kami”. Riwayat ini disebutkan juga dalam I’anatut   Thalibin181   karya  Ad- Dimyathi tanpa sanad dengan lafadz sebagai berikut, “Sesungguhnya arwah-arwah kaum mu’minin itu datang ke langit dunia setiap malam, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka. Lalu   mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih sebanyak 1000 kali:‘wahai keluargaku…’, ‘wahai kerabatku…’, ”wahai anakku…’. ‘Wahai    orang-orang yang tinggal di rumah-rumah kami…’, ‘wahai orang-orang yang memakai baju-baju kami…’, ‘wahai orang-orang yang membagi harta- harta kami…’”.Disebutkan juga dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib atau dikenal dengan  Hasyiyah  Al  Bujairimi  ‘ala  Khathib182  karya  Al  Bujairimi  tanpa sanad.  Al  Bujairimi  menyandarkan  riwayat  ini  kepada  Al  Jami’  Al  Kabir namun –wallahu a’lam– tidak kami temukan riwayat tersebut dalam Al Jami’ Al Kabir karya As Suyuthi. Walhasil, tidak ada sanad lain selain sanad di atas yang  kami  temukan. 

Dan  dari  sini  juga  kita  ketahui  bahwa  hadits  ini  tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. Jika kita teliti sanad di atas, sangat bermasalah: 181 I'anatut Thalibin, 2/161 182Hasyiyah Al Bujairimi ‘ala Khathib, 2/301                               

Masalah 1: Ibnu Juraij (Abdul Malik bin Abdil Aziz Al Qurasyi) tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan. Ibnu Adi mengatakan:  “Jika Ibnu Juraij meriwayatkan dari Musa, maka haditsnya ini terkadang merupakan tadlis Ibnu Juraij”183.      Al Albani ketika menjelaskan maudhu’-nya hadits: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan sakit, ia mati syahid Beliau mengatakan:“Al Hasan bin Ziyad Al Lu’lui menyelisihi riwayat ini, ia berkata: Ibnu Juraij menuturkan kepada kami, dari Musa bin Wirdan dan seterusnya. Al Hasan menggugurkan Ibrahim bin Muhammad (antara Ibnu Juraij dan Musa bin Wirdan) dalam sanad ini”184.  Maka jelas bahwa Ibnu Juraij tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan, sehingga ada inqitha‘ dalam riwayat ini.  

Masalah 2: Ali bin Musa Al Bashri dan Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi,  keduanya majhul  haal.  Tidak  ditemukan  adanyajarh  atau ta’dil tentang mereka.Juga tidak diketahui bahwa Ali bin Musa Al Bashri adalah di antara yang meriwayatkan       hadits    dari  Ibnu    Juraij.   Pula, tidak diketahui bahwa Muhammad  bin  Al  Husain  bin  Musa  Al  Sulmi  meriwayatkan  dari  Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi.

Masalah 3: Muhammad  bin Al  Husain  bin  Musa Al  Sulmi,  seorang  syaikh  sufi,  ia perawi yang lemah. Adz Dzahabi berkata, “Beliau seorang Syaikh sufi. Ulama tarikh, biografi dan tafsir di kalangan    sufi. Para ulama hadits mengkritisi riwayatnya, dan ia tidak bisa dijadikan                sandaran”.  Hadits  ini  juga  sebagaimana  sudah  dijelaskan,  tidak  terdapat  dalam kitab-kitab  hadits   yang mu’tamad  (yang  menjadi  pegangan)  dan  dikenal. Seperti kitab-kitab shahih, kitab-kitab sunan, kitab-kitab musnad, kitab-kitab jami’ ,   dan   lainnya.   Dan   ini   merupakan   indikator   kelemahan   bahkan kepalsuan  hadits. Syaikhul     Islam   Ibnu   Taimiyah      ketika   menjelaskan kelemahan hadits seputar ziarah kubur Nabi beliau berkata,  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik kitab     Shahih, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti   Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang menjadi  pegangan, seperti Musnad Ahmad atau semacamnya, tidak juga kitab    Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya. adits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam  berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya disebut lafadz ziarah kubur Nabi”. Dengan  demikian,  kesimpulannya  hadits  ini  adalah  hadits  yang dhaif jiddan  (sangat  lemah).  Dan  tidak  boleh  meyakini  suatu  hal  yang  terkait dengan perkara gaib semisal dengan apa yang ada dalam riwayat ini kecuali dengan dalil yang shahih. Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber :

186Majmu’ Al Fatawa, 216/27   83Al Ilal Al Waridah fil Ahadits An Nabawiyyah, 8/318 184Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah, 10/191   
Read More

Rabu, 09 September 2026

MENJELANG KEMATIAN

 MENJELANG KEMATIAN   

 Ahlussunnah  meyakini  adanya al  busyra  (kabar  gembira)  bagi  orang- orang  beriman  ketika  nyawa  mereka  dicabut.  Al  busyra  atau  al  bisyarah adalah kabar gembira yang disampaikan Malaikat kepada ruh orang beriman ketika ia dicabut nyawanya. Allah ta’ala berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”  kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun   kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah  merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam  kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu  inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

MENJELANG KEMATIAN


Al  busyra juga  disampaikan  kepada  orangkafir.  Namun  berupa  kabar tentang hukuman Allah yang akan dia dapatkan. Sebagaimana dalam hadits dari  Ummul  Mu’minin,  Aisyah radhiallahu’anha,   Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:   “Barangsiapa yang senang berjumpa dengan Allah, Allah pun senang   berjumpa dengannya. Barangsiapa yang tidak suka bertemu dengan Allah,   maka Allah pun tidak suka bertemu dengannya”. Aisyah bertanya: “wahai  Rasulullah, tentang orang yang tidak suka bertemu dengan Allah artinya dia   tidak suka kematian? bukankah semua kita tidak suka kematian?”.  Rasulullah menjawab: “Yang aku maksud adalah keadaan seseorang ketika  ia sakaratul maut. Karena ketika itu, seorang Mukmin diberi kabar gembira   tentang rahmat Allah dan ampunan Allah untuknya, sehingga ia pasti suka   untuk segera bertemu Allah, dan Allah pun ingin bertemu dengannya. Dan   seorang kafir diberi kabar tentang azab Allah, sehingga ia pasti tidak suka untuk segera bertemu Allah, dan Allah pun tidak suka bertemu  dengannya .Al Barbahari rahimahullah mengatakan:  “Ketahuilah bahwa bisyarah (kabar gembira) ketika orang meninggal itu ada   tiga:

[1] Akan dikatakan kepadanya: bergembiralah dengan ridha Allah dan surga-Nya, wahai kekasih Allah

[2] Akan dikatakan kepadanya: Bergembiralah dengan surga Allah kelak, setelah keburukanmu dibalas,wahai hamba Allah

[3] Akan dikatakan kepadanya: Bergembiralah terhadap  hukuman Allah dan neraka-Nya, wahai musuh Allah!”. Ini adalah perkataanIbnu Abbas”.

Ada  khilaf  ulama,tentang  kapanpenyampaian al  busyra oleh Malaikat menjadi 3 pendapat:? Itu terjadi ketika sakaratul maut? Itu terjadi di alam kubur? Itu terjadi ketika hari kebangkitan dari kubur Namun yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,  al busyra terjadi  ketika  sakaratul  maut  sebagai  zahir  hadits Aisyah. Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Para ulama mengatakan, turunnya Malaikat ini (untuk memberikan al busyra) terjadi ketika sakaratul maut”. Sungguh beruntung orang-orang beriman, ketika sakaratul maut ia sudah mendapat  kabar  dari  Malaikat,  bahwa  kelak  ia  akan  masuk ke  surga Allah ta’ala.Semoga kita termasuk golongan mereka yang mendapat kabar gembira. Amiin ya mujiibas saa’iliin.

179Syarhus Sunnah, matan ke 59 180Majmu’ Al Fatawa, 4/268 QS. Fushilat: 30-32 178 HR. An Nasa’i no. 1837, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i. Ashl hadits ini terdapat dalam Shahihain.

Read More

Selasa, 08 September 2026

Para pengikut Dajjal

 Para pengikut Dajjal

Siapa yang akan menjadi prajurit atau pasukan dajjal yang akan berperang melawan pasukan Imam Mahdi

Para pengikut Dajjal


1.    Yahudi

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِن يَهُودِ أصْبَهانَ، سَبْعُونَ ألْفًا عليهمُ الطَّيالِسَة

“Yang mengikuti Dajjal adalah orang Yahudi dari Ashbahan (Iran) dan jumlahnya sebanyak 70.000 orang dan mereka memakai thilsah.” (HR. Muslim no. 2994)


2.    Wanita

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam,

ينزِلُ الدجالُ في هذِهِ السَّبِخَةِ بِمَرِّ قَنَاةٍ فيَكُونُ أكثَرُ مَنْ يَخْرُجُ إليه النساءُ حتَّى إِنَّ الرجلَ لَيَرْجِعُ إلى حَمِيمِهِ وإِلَى أُمِّهِ وابنَتِهِ وأُخْتِهِ فيوثِقُهَا رباطًا مخافَةَ أنْ تَخْرُجَ إليْهِ ثمَّ يُسَلِّطُ اللهُ المسلمينَ علَيْهِ فيقتُلُونَهُ ويقتُلُونَ شِيعَتَهُ حتَّى إِنَّ اليهودِيَّ لَيَخْتَبِئُ تَحْتَ الشجرةِ والحجرِ فيقولُ الحجرُ أو الشجرَةُ للْمُسْلِمِ هَذَا يَهُودِيٌّ تحْتِي فَاقْتُلْهُ

 

Text Box: “Kebodohan adalah penyebab yang menjadikan calon-calon pengikut Dajjal”
-Ustadz Badru Salam, Lc.-
“Dajjal akan turun ke Mirqonah, dan mayoritas pengikutnya adalah kaum wanita, sampai-sampai ada seorang laki-laki yang pergi ke istirinya, ibunya, putrinya, saudarinya, dan bibinya kemudian mengikatnya karena khawatir keluar menuju Dajjal.” (HR. Ahmad)

3.    Arab Badui, hal ini pernah disabdakan Rasulullah di dalam Riwayat Ibnu Majah.

4.    Khawarij

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“akan muncul suatu kelompok yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak tidak sampai kerongkongan mereka. Setiap kali mereka muncul, maka akan dibasmi habis sampai keluar pasukan besar mereka yaitu Dajjal.” (HR. Ibnu Majah no. 174)

Read More

APAKAH MAYIT BISA MERASAKAN ORANG YANG BERZIARAH?

 APAKAH MAYIT BISA MERASAKAN ORANG  YANG BERZIARAH?

Pertanyaan: Apakah  mayit  bisa  merasakan  orang  yang  berziarah  ke  kuburannya? Lalu  apakah  wajib  berdiri  di  depan  kuburan  orang  tersebut  jika  berziarah ataukah  cukup  dengan  masuk  ke  areal  pemakaman?  Mohon  beri  kami penjelasan, semoga Allah menambah ilmu anda.

APAKAH MAYIT BISA MERASAKAN ORANG  YANG BERZIARAH?


Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab: Mengenai  apakah  mayit  bisa  merasakan  orang  yang  berziarah,  Allah yang  lebih  mengetahui.  Memang  sebagian  ulama  salaf  memiliki  pendapat demikian,  namun  menurut  pengamatan  saya  tidak  ada  dalil  yang  tegas menunjukkan hal tersebut. Namun kita ketahui bersama bahwa ketika ziarah kubur kita dianjurkan mengucapkan salam: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, (wahai penghuni) tanah kaum muslimin.Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi diri kami dan juga kalian. Semoga Allah   merahmati orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yangkelak akan mati”.Amalan  ini  semua  disyari’atkan.  Adapun  mengenai  apakah  si  mayit merasakan atau tidak itu membutuhkan dalil yang tegas, Wallahu’alam.

Namun,  baik  si  mayit  merasakan  atau  tidak,  itu  tidak  merugikan  kita. Yang  dituntut  dari  kita  adalah  menjalankan  sunnah.  Dianjurkan  bagi  kita untuk berziarah kubur, mendoakan orang yang telah mati, walaupun mereka tidak merasakannya. Karena yang kita lakukan itu membuahkan pahala bagi kita dan bermanfaat bagi si mayit. Doa kita untuk mereka akan bermanfaat bagi mereka, sedangkan ziarah kubur yang kita lakukan akan bermanfaat bagi kita sendiri. Karena dalam ziarah kubur ada pahala, dapat mengingatkan kita terhadap kematian, mengingatkan kita terhadap akhirat, sehingga bermanfaat bagi kita. Si mayit pun mendapat manfaat dari hal itu, yaitu dengan doa kita, dengan permohonan ampunan baginya, sehingga ia pun mendapat manfaat. Adapun soal berdiri di depan kuburan, ini perkaranya luas. Boleh berdiri di  depan  kuburan,  atau  berdiri  di  tepi  areal  pemakaman  lalu  mengucapkan salam,   itu   pun   cukup.  Atau   jika   ia   berada   di   satu   bagian   dari   areal pemakaman, lalu mengucapkan: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, wahai penghuni tanah kubur  dari kalangan kaum muslimin dan mukminin.

Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi diri kami dan   juga kalian. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului  kami dan orang-orang yang kelak akan mati” Ini cukup. Jika ia mendatangi kuburan ayahnya atau kuburan saudaranya, maka  ini  lebih  utama  dan  lebih  sempurna.  Jadi  ia  mendatangi  kuburan ayahnya,  saudaranya  atau  kerabatnya  lalu  mengatakan  “Assalamu’alaikum wahai fulan, semoga Allah merahmati dan melimpahkan berkah kepadamu, semoga   Allah   mengampuni   dosamu   dan   merahmatimu   serta   melipat- gandakan pahala kebaikanmu“, atau semacam itu, maka ini lebih utama dan lebih sempurna

Sumber :

176. 176 Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4821175 HR. Muslim no.249, 974, 975                

Read More

Senin, 07 September 2026

APAKAH NIKMAT DAN AZAB KUBUR DIRASAKAN OLEH JASAD ATAU RUH?

 APAKAH NIKMAT DAN AZAB KUBUR DIRASAKAN OLEH JASAD ATAU RUH?

Para  ulama  berselisih  pendapat mengenai apakah nikmat dan adzab kubur dirasakan manusia oleh ruhnya atau jasadnya,  ataukah  keduanya sekaligus?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:“Adzab dan nikmat kubur bisa terjadi pada ruh dan badan sekaligus. 

APAKAH NIKMAT DAN AZAB KUBUR DIRASAKAN OLEH JASAD ATAU RUH?


Ini   adalah kesepakatan ulama Ahlussunnah wal Jama'ah. Terkadang ruh diberi   nikmat dan diadzab dalam keadaan terpisah dari badan. Namun terkadang   dalam keadaan tersambung dengan badannya, sehingga nikmat dan adzab dirasakan keduanya. Dalam keadaan ini ruh dan badan merasakan yang sama seperti dirasakan ruh ketika bersendirian dari badan. Lalu apakah mungkin adzab dan nikmat kubur terjadi pada badan saja tanpa dirasakan ruh? Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur dari para ulama   hadits dan sunnah. Dan ada juga pendapat-pendapat yang syadz (nyeleneh)  yang tidak dikatakan oleh para ulama Ahlussunnah dan ulama hadits.Pendapat yang mengatakan bahwa hanya ruh saja yang merasakan nikmat   dan adzab sedangkan badan tidak akan merasakannya, ini adalah perkataan orang-orang falasifah (ahli filsafat) yang mereka mengingkari adanya  ma'adul abdan (dipulihkannya kondisi jasad manusia setelah mati). Mereka  adalah orang-orang yang kufur berdasarkan kesepakatan ulama kaum  Muslimin”172.  Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Asalnya  yang  merasakan  adalah  ruh.  Karena  hukum-hukum  yang  terjadi setelah kematian itu untuk ruh. Sedangkan jasad ketika itu sudah mati. Maka kita ketahui jasad mayat tidak memerlukan life support setelah ia meninggal, ia  tidak  perlu  makan  dan  tidak  perlu  minum.  Bahkan  jasad  tersebut  akan dimakan belatung. Sehingga asalnya yang merasakan ini adalah ruh. Namun Syaikhul   Islam   Ibnu   Taimiyah   mengatakan   bahwa  terkadang ruh itu tersambungkan   dengan   badannya.   Sehingga   adzab   dan   nikmat   kubur dirasakan oleh keduanya ... Dengan demikian para ulama mengatakan bahwa terkadang   ruh   tersambungkan   dengan   jasadnya.   Sehingga   adzab   kubur dirasakan  oleh  ruh  dan  badannya  juga.  Dan  nampaknya  ini  juga  dikuatkan oleh hadits yang Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda di dalamnya: “Sesungguhnya kuburan bagi orang kafir akan disempitkan sehingga  meremukkan tulang-tulangnya . Ini  menunjukkan  bahwa  terkadang  adzab  itu  terjadi  pada  jasad  karena tulang-tulang itu ada pada jasad”

Sumber :

174. 172Majmu' Al Fatawa, 4/282 173 HR. Abu Daud no.4753, An Nasa'i no.2001, Ibnu Majah no.1549. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud . 174Majmu' Al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 1/25  168. 166 HR. Abu Daud no. 4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud. 167 QS. Nuh: 25 168Syarhu Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51 

Read More