Kisah penyaliban nabi Isa AS
Isa terus melangsungkan dakwahnya sehingga
kejahatan dan keburukan mengetahui bahawa
singgasana mereka terancam
hancur. Lalu pasukan keburukan bergerak
untuk menangkapnya.

Orang-orang
Yahudi menyakitinya dan menuduhnya dengan
berbagai macam tuduhan.
Isa dikatakan sebagai penyihir dan
sebagai orang yang
mengubah syariat dan
mereka menisbatkan kekuatannya
yang luar biasa kepada kekuatan syaitan. Ketika mereka tidak lagi memiliki tipu
daya yang dapat
melumpuhkan Nabi Isa
dan mereka melihat orang-orang yang lemah dan
orang-orang fakir berkumpul di sekitarnya, maka mereka mulai
membikin suatu, makar.
Mereka mempengaruhi orang-orang Romawi. Mula-mula pemerintahan Romawi
tidak turut campur
kerana menganggap bahawa perselisihan-perselisihan antara orang-orang Yahudi
adalah perselisihan yang terjadi
demi memperebutkan kepentingan
sesama mereka. Lalu diadakanlah
majlis Sanhadurim (yaitu majlis undang-undang tertinggi dari kalangan Yahudi).
Mereka berkumpul untuk
membuat
persekongkolan demi
menyingkirkan Isa. Persekongkolan itu mengambil bentuk yang baru. Ketika
orang-orang Yahudi tidak mampu memerangi Nabi Isa, mereka berfikir untuk membunuhnya.
Mulailah para
ketua pendeta Yahudi
bermusyawarah untuk membuat suatu
kesimpulan tentang cara
yang mereka lakukan
untuk menangkap Nabi Isa
yang tidak menimbulkan kegaduhan di
tengah-tengah masyarakat. Ketika
para kepala Yahudi
bermusyawarah, maka salah
seorang dari murid al-Masih yang dua belas pergi kepada
mereka, yaitu Yahuda al- Iskhriyutha. Ia berkata kepada
mereka, "Apa yang
kalian berikan jika
aku berhasil menyerahkannya
kepada kalian." "Meja
pengkhianatan telah digelar
di antara mereka
dan dimulailah
perundingan. Orang-orang Yahudi
berusaha mencari titik
temu dan mereka sepakat untuk
memberinya tiga puluh
lempeng dari perak.
Ini adalah harga yang biasa mereka lakukan untuk
membeli seorang budak sesuai dengan syariat Yahudi." (penjelasan Injil
Mata) Selesailah konspirasi yang
menetapkan untuk menangkap al-Masih dan kemudian membunuhnya. Dikatakan bahawa
kepala pendeta Yahudi merobek-robek bajunya
secara dramatis di
suatu pertemuan agama
dan ia berteriak, "sungguh
Isa telah kafir." Pero bukan baju dalam tradisi orang-orang Yahudi dilakukan ketika
mereka mendengar atau
melihat sesuatu yang mengandung penghinaan terhadap Allah.
Para pendeta Yahudi tidak memiliki kekuasaan untuk menetapkan hukum bunuh pada
saat itu. Semua itu dilakukan oleh
kekuasaan penguasa Romawi.
Tetapi
tampaknya mereka berhasil meyakinkan kekuasaan Romawi
bahawa Isa telah
membuat rencana untuk melengserkan kekuasaan
Romawi atau mereka
berhasil meyakinkan penguasa Romawi bahawa masalah yang mereka
hadapi murni berkaitan dengan tradisi mereka dan keyakinan mereka. Kemudian
mereka menyarankan agar penguasa tidak turut campur atas apa yang mereka tetapkan.
Demikianlah konspirasi itu telah
ditetapkan dan telah
diputuskan bahawa Isa
harus ditangkap dan kemudian disalib. Empat Injil
yang diakui oleh
kalangan Masehi saat
ini membicarakan tentang proses pembunuhan
Isa di mana
beliau disalib kemudian
beliau bangkit dari kematiannya dan
naik ke langit.
Semua Injil ini
sepakat tentang prosespenyaliban Isa dan kematiannya,
sebagaimana mereka sepakat tentang tabiat Isa
yang mengandung ketuhanan
yang bercampur dengan
tabiatnya sebagai manusia. Kami
akan menyampaikan keyakinan
orang-orang Masehi berkaitan dengan Isa sebagaimana diyakini
oleh majoriti kaum Nasrani saat ini, kemudian kami akan
mengemukakan keyakinan Islam tentang
Isa sebagaimana diceritakan oleh
Al-Quran al- Karim
dan disampaikan oleh
para ulama dan disebutkan dalam
hadis. Setelah itu,
kita akan membicarakan hal-hal
yang perlu dibicarakan berkaitan
hubungan antara kaum
Muslim dan kaum
Masehi serta kaitannya dengan akidah mereka. Injil Mata
mengatakan, "Isa ditangkap
dan majlis Sanhadirum
memutuskan bahawa ia harus dibunuh. Kemudian para anggota majlis itu
dari kepala-kepala para pendeta dan
para tokoh mereka
menghinanya dan mengejeknya
serta berbuat aniaya terhadapnya bahkan
mereka meludahi wajahnya dan menempelengnya. Sambil
mengejek mereka berkata,
"beritahukanlah wahai
al-Masih siapa yang
memukulmu."
Setelah itu al-Masih
ditangkap
dan ia ditetapkan untuk dibunuh. Adalah sudah
menjadi tradisi di
kalangan orang-orang Romawi
untuk mencambuk orang yang ditetapkan untuk dibunuh sebelum pelaksanaan
hukum tersebut. Oleh kerana
itu, para penguasa
Romawi menetapkan agar
al-Masih dicambuk terlebih dahulu. Sedangkan syariat Musa menetapkan
agar cambukan itu tidak melebihi empat puluh kali, namun orang-orang Romawi
tidak berhenti pada batasan ini bahkan mereka terus mencambuk korban dengan
cambukan yang kejam dan terus- menerus sehingga punggung yang bersangkutan
hampir saja patah dan
nafasnya nyaris tinggal
sedikit. Setelah itu,
mereka mulai melaksanakan hukum
bunuh kepadanya.
Demikianlah
yang dilakukan oleh tentera terhadap penyelamat kita.
(Injil Mata 26) Selesailah proses pecambukan, lalu penguasa Romawi menyerahkan
Isa kepada tentera agar
mereka menyalibnya. Kemudian
para tentera membuat
sesuatu hal yang bermaksud
untuk menghibur. Mereka
mencabut pakaian Isa
yang dilumuri dengan darah yang ada luka di tubuhnya setelah proses
pencabukan, lalu mereka memakaikan pakaian merah dengan maksud untuk
mengejeknya. Para raja biasanya
memakai pakaian merah.
Mereka terus menghinanya. Mereka memakaikannya mahkota dari
duri dan meletakkannya di
atas kepalanya. (Injil Mata 26) Akhirnya, mereka
sampai pada suatu
tempat yang bernama
Jaljatsah, yaitu suatu tempat
di luar pagar
Ursyilim. Tradisi Yahudi
menetapkanmemberi satu gelas khamer yang bercampur dengan minyak wangi
bagi orang yang ditetapkan untuk
dihukum mati
sebelum
pelaksanaan hukum. Ini dimaksudkan sebagai alat pembius untuk
meringankan penderitaannya. Tetapi para
tentera menentang tradisi
ini dan mereka
memberi al-Masih satu
gelas dari cuka yang bercampur dengan sesuatu yang pahit." (Injil
Mata 26) Teks Injil mata
mengatakan (cetakan tahun
1972) pada pasal
kedua puluh tujuh:
"Sehingga mereka sampai ke suatu tempat yang bernama Jaljatsah lalu mereka
memberinya minuman keras yang bercampur dengan empedu agar ia meminumnya. Ketika ia
merasakannya, ia enggan
untuk meminumnya.
Kemudian mereka menyalibnya. Kemudian mereka duduk di sana
menjaganya dan meletakkan di
atas kepalanya suatu
tuduhan yang tertulis:
Ini adalah Yasu', penguasa
Yahudi. Mereka benar-benar menyalibnya bersama Yasim. Salah seorang
dari keduanya di
sebelah kanannya dan
yang lain di
sebelah kirinya. Lalu orang-orang yang lewat di tempat itu mencelanya
dan berkata, "wahai yang menghancurkan tempat sembahan dan yang
membangunnya pada tiga hari, selamatkanlah dirimu
dan jika engkau
adalah anak Allah,
maka turunlah dari tempat penyaliban itu." Demikianlah sebahagian
riwayat kaum Masehi tentang proses penyaliban serta penafsiran mereka
berkaitan dengannya. Kami
telah menukilnya tanpa memperhatikan tentang catatan yang
terdapat dalam Injil Mata yang terbaru, yaitu ia merupakan catatan yang paling
baik dalam bentuknya yang terkumpul dari
ulama-ulama mereka dan
tokoh-tokoh agama Masehi
sehingga ia lebih mudah untuk
difahami dan lebih
sederhana.
Kami telah
mengemukakan sebahagiannya kepada Anda dalam halaman-halaman ini.
Sementara itu, dalam
akidah Islam disebutkan
suatu riwayat yang
berbeza dengan riwayat yang
ada dalam Injil-Injil
yang terdapat sekarang,
baik yang berhubungan dengan
kehidupan akhir yang dialami oleh Isa mahupun tabiat Isa yang merupakan sumber
perselisihan setelah pengangkatannya. Al-Quran al-Karim menceritakan bahawa
Allah SWT tidak menghendaki Bani Israil untuk membunuh Isa
atau menyalibnya tetapi
Allah SWT menyelamatkannya dari kekufuran mereka
lalu mengangkatnya di
sisi-Nya. Mereka tidak
berhasil membunuhnya dan tidak
berhasil menyalibnya tetapi
ia diserupakan seperti orang-orang di antara mereka. Allah
SWT berfirman: "Dan kerana ucapan
mereka: 'Sesungguhnya kami telah membunuh al- Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah,'
padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi
yang mereka bunuh
ialah orang yang
diserupakandengan Isa bagi
mereka. Sesungguhnya orang-orang yang
berselisih faham tentang
(pembunuhan) Isa, benar- benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka
tidak mempunyai keyakinan tentang
siapa yang dibunuh
itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin
bahawa yang mereka bunuh itu
adalah Isa. Tetapi
(yang sebenarnya), Allah
telah mengangkat Isa kepadanya." (QS. an-Nisa': 157-158) Dan Allah
SWT juga berfirman: "(Ingatlah),
ketika Allah berfirman: 'Hai
Isa, sesungguhnya Aku
akan menyampaikan kamu pada
akhir ajalmu dan
mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang
yang kafir. " (QS. Ali 'Imran: 55) Para ulama-ulama Islam sepakat atas hal
itu dan mereka berselisih pendapat tentang
cara beragumentasi terhadap apa
yang mereka yakini
sebagai kebenaran. Sebahagian mereka meyakini nas-nas Al-Quran saja yang
menyebut tentang Isa al-Masih
dan mereka tidak
mendukungnya atau memperkuatnya dengan kitab-kitab lain selain
Al-Quran. Kedua metode tersebut memiliki titik kekuatan tersendiri. Orang yang
berpegangan dengan pendapat yang pertama mengatakan bahawa Nabi
melarang untuk membahas kitab-kitab pegangan kaum Yahudi
dan kaum Nasrani.
Bagi kaum itu
agama mereka dan
bagi kita agama kita dan hanya
Allah SWT yang akan memutuskan segala perselisihan di antara kita pada hari
kiamat.
Sedangkan orang-orang yang berpegangan dengan cara yang
kedua mengatakan bahawa larangan Nabi
tersebut terjadi pada
permulaan masa Islam
di mana kaum Muslim sangat dekat
dengan masa jahiliah. Nabi memerintahkan mereka agar tidak
disibukkan dengan kitab-kitab lain
selain kitab mereka,
yakni Al-Quran. Yang demikian
ini dimaksudkan agar
mereka memiliki akidah
yang kuat dan keyakinan mereka benar- benar tertanam dalam diri mereka,
Tetapi ilmu dan pandangan ilmiah
menetapkan bahawa seorang
yang alim harus banyak
menggali kitab- kitab
kuno dalam rangka
mengetahui kebenaran dan jika
ia mendapati sesuatu
yang sesuai dengan
apa yang didapatinya
dengan kebenaran, maka hatinya
akan lebih merasa
tenang dan damai.
Berkaitan dengan kelompok yang
pertama yang merasa
cukup dengan Al-Quran,
kita tidak menemukan perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan
usaha penangkapan Isa, bagaimana
proses pengangkatannya ke
langit, di mana
Isa diserupakan dengan salah seorang di
antara mereka, bagaimana dia diserupakan dengan
salah seorang di
antara mereka. Allah
SWT telahmenyerupakannya dengan
salah seorang di antara mereka sedangkan Nabi Isa diangkat ke
langit.
Demikianlah penjelasan singkat
mereka, tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok
yang kedua, mereka melontarkan kisah secara
lengkap. Mereka mengatakan bahawa
Allah SWT menyerupakan Isa dengan Yahuda. Yahuda ini adalah
Yahuda al- Askhariyutha yang menurut Injil ia
menjualnya kepada musuh-musuhnya dan
menunjukkan kepada mereka tentang keberadaannya. Ia adalah
seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini sesuai dengan
Injil Barnabas di
mana disebutkan di
dalamnya: "Ketika para tentera mendekat bersama Yahuda di
tempat yang di situ terdapat Yasu', maka Yasu'
mendengar kedatangan segerombolan orang
yang menuju tempatnya. Oleh kerana
itu, ia segera
pergi ke rumah
dalam keadaan takut.
Di dalam rumah itu terdapat
sebelas orang yang tidur. Ketika Allah melihat bahaya akan mengancam hamba-Nya,
maka Dia memerintahkan Jibril,
Mikail, dan Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang
mereka semua adalah para utusan- Nya untuk mengambil Yasu'
dari dunia. Lalu
datanglah malaikat-malaikat yang
suci di mana mereka
mengambil Yasu' dari
pintu yang dekat
dengan arah selatan. Mereka membawanya dan meletakkannya
di langit yang ketiga dengan disertai para
malaikat yang selalu
bertasbih kepada Allah
selama-lamanya. Yahuda masuk
secara paksa ke kamar yang di situlah Yasu' diangkat ke langit.
Saat itu murid-murid sedang tidur semuanya, lalu Allah
mendatangkan keajaiban yang luar biasa di mana Yahuda berubah cara berbicaranya
dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali
dengan Yasu' sehingga
kami mengiranya Yasu'.
Adapun ia (Yahuda) setelah
membangunkan kami, ia mencari-cari di mana si guru berada. Oleh kerana
itu, kami merasa
heran dan kami
menjawab, "bukankah engkau wahai tuanku
guru kami, apakah
sekarang engkau telah
melupakan kami?"
Demikianlah kisah yang terdapat dalam Injil Barnabas. Allah SWT berfirman:
"Al-Masih putera Maryam
itu hanyalah seorang
rasul yang Sesungguhnya telah berlalu
sebelumnya beberapa rasul,
dan ibunya seorang
yang sangat benar, kedua-duanya
biasa memakan makanan." (QS. al-Maidah: 75) Para ulama
berkata, "Al-Masih dinamakan
al-Masih kerana ia
mengusap bumi dan
membersihkannya serta usahanya untuk menyelamatkan agama dari fitnah di zaman
itu kerana saking
hebatnya kebohongan orang-orang Yahudi kepadanya dan bagaimana usaha
mereka untuk menciptakan
dusta padanya dan kepada
ibunya as." Banyak
ulama yang meriwayatkan tentang
kesucian spirituil dari Nabi
Isa. Abu Hurairah
meriwayatkan dari Nabi
bahawa beliau menceritakan tentang
al-Masih sebagai
berikut: "Isa melihat
seorang lelaki yang mencuri lalu
ia berkata: "Wahai si fulan apakah engkau mencuri?" Orang itu
berkata: "Tidak, demi Allah aku tidak mencuri," Isa berkata:
"Aku beriman kepada Allah SWT
dan penglihatanku telah
berbohong."
Ini menunjukkankesucian rohani Isa di mana ia
lebih memilih sumpah orang itu atas apa yang disaksikannya. Ia membayangkan
bahawa orang tersebut tidak akan bersumpah dan membawa nama Allah SWT yang Maha
Besar lalu ia berdusta sehingga ia menerima penyataannya dan ia kembali kepada
dirinya sendiri sambil berkata: "Aku beriman kepada Allah SWT, yakni aku
mempercayaimu dan mataku telah berbohong kerana engkau telah bersumpah."
Ada riwayat lagi yang mengatakan bahawa suatu hari Nabi Isa berjalan bersama
sahabatnya dan mereka melewati bangkai
anjing yang busuk
baunya, lalu sahabat-sahabat Isa
sangat terpukul dan sangat
menderita dengan bau
anjing itu. Melihat
sikap mereka, Isa berkata: "Lihatlah betapa putih
giginya." Isa ingin mengajari manusia bagaimana mereka menghadapi
keburukan di mana Nabi Isa menekankan agar
mereka lebih melihat
kepada keindahan dan kebaikan. Dakwah
Nabi Isa merupakan
puncak dari ketinggian
rohani dan idealisme yang
mengagumkan di mana
Beliau lebih menekankan kebaikan daripada keburukan.
Rasulullah berkata: "Semua
para nabi adalah
saudara, agama mereka satu sedangkan mereka dilahirkan dari berbagai
macam ibu dan aku adalah manusia yang utama begitu juga Isa bin Maryam di mana
tidak ada nabi setelahku dan sesudahnya." Dalam
berbagai riwayat disebutkan
bahawa Nabi Isa akan turun pada akhir zaman. Islam sangat memberikan
penghormatan kepada Isa yang sesuai dengan kedudukannya sebagai salah satu nabi
ulul azmi yang besar. Islam
menamakannya
Rasulullah dan Kalimatullah yang
telah diberikan kepada Maryam. Allah SWT berfirman:
"Wahai
ahli Kitab,
janganlah kamu melampaui
batas dalam agamamu,
dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah
kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih Isa putera
Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang
disampaikan-Nya kepada Maryam,
dan (dengan tiupan) roh
dari-Nya.
Maka berimanlah kepada
Allah dan rasul-rasul-Nya dan
janganlah kamu mengatakan: '(Tuhan itu)
tiga.' Berhentilah dari ucapan
itu. (Itu) lebih
baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha
Suci dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di
bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah
untuk menjadi Pemelihara.
Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula
enggan) malaikat malaikat yang terdekat (kepada Alah). Barang siapa yang
enggan dari menyembah-Nya dan
menyombongkan diri, nanti Allah
akan mengumpulkan mereka
semua kepadanya. Adapun
orang-orang yang beriman dan
berbuat amal soleh,
maka Allah akan
menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebahagian dari
kurnia- Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah
akan menyeksa mereka dengan
seksaan yang pedih,
dan mereka tidak
akanmemperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari
Allah. " (QS. an-Nisa': 171- 173) Ibnu
Katsir berkata dalam
Qhisasul Anbiya': Para pengikut
Nabi Isa berselisih pendapat
setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Sebahagian mereka mengatakan, di
tengah-tengah kita ada hamba Allah SWT dan rasul-Nya (Ariyus). Sebahagian lagi
mengatakan, dia adalah Allah. Yang lain lagi mengatakan, dia adalah anak
Allah. Mereka berselisih
pendapat tentang Injil
yang menyebutkan berbagai kebohongan di
mana terdapat di
dalamnya penambahan, pengurangan, dan pergantian.
Al-Quran al- Karim
telah membahas persoalan ketuhanan. Ia menjelaskan bahawa
Allah SWT Maha
Suci dari segala
sekutu dan anak
dan segala hal yang
menyerupai-Nya serta segala
bentuk ingkarnasi, kejauhan, kedekatan dan pencapaian pandangan
mata. Allah SWT berfirman: "Katakanlah: "Dia-lah Allah,
Yang Maha Esa.'Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepadanya
segala sesuatu. Dia
tidak beranak dan
tiada pula diperanakkan, dan
tidak ada seorang
pun yang setara
dengan Dia. "
(QS. al-Ikhlash: 1-4) Dan tentang Isa as Allah berfirman:
"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti
(penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian
Allah berfirman kepadanya:
'Jadilah' (seorang manusia), maka jadilah ia." (QS. Ali
'Imran: 59) "Mereka
(orang-orang kafir) berkata: Allah
mempunyai anak.' Maha
Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan
Allah; semua tunduk kepadanya. Allah
Pencipta langit dan
bumi, dan bila
Dia berkehendak
(untuk menciptakan) sesuatu, maka
(cukuplah)
Dia mengatakan kepadanya: 'Jadilah', lalu jadilah ia."
(QS. al-Baqarah: 116-117) "Orang-orang Yahudi
berkata:
'Uzair itu putera
Allah' dan orang-orang Nasrani berkata: Al-Masih itu
putera Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru
perkataan orang-orang kafir terdahulu. Mereka di
laknat oleh Allah;
bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. Al-Aubah: 30)
Nas tersebut mengisyaratkan akidah orang-orang Mesir dan orang-orang seperti
mereka dari umat-umat yang terdahulu di mana akidah mereka terfokus padakeyakinan penyaliban Isa,
tentang tebusan dan
kebangkitan Tuhan yang disembelih serta
penentangannya
terhadap para pengikutnya setelah kematiannya. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya telah kafilah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah
itu ialah al-Masih
putera Maryam.' Katakanlah:
'Maka siapakah (gerangan) yang dapat
menghalang-halangi
kehendak Allah, jika
Dia hendak membinasakan al-Masih putera
Maryam itu berserta
ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi
semuanya?' Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dihehendaki-Nya. Dan
Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu." (QS. al-Maidah: 17) "Sesungguhnya kafirlah
orang-orang yang mengatakan:
Allah salah seorang dari yang
tiga,' padahal sekali-kali
tidak ada selain
dari Tuhan Yang
Esa." (QS. al-Maidah: 73)
Demikianlah Al-Quran al-Karim menyebutkan sikap berbagai
aliran yang saling berlawanan
yang tumbuh setelah pengangkatan al-Masih. Al-Quran menjelaskan bahawa al-Masih
adalah hamba Allah SWT dan seorang rasul yang diutus kepada Bani Israil. Kata
hamba dan rasul adalah kata yang sangat jelas ertinya, adapun
yang dimaksud dengan
al-Kalimah dan ar-
Roh, maka kedua kata
tersebut perlu dijelaskan.
Kaum Muslim memahami
bahawa al-Kalimah adalah petunjuk
Allah SWT yang
diberikan-Nya kepada Maryam
sedangkan ar-Roh adalah menunjukkan atau
mengisyaratkan kepada Roh
Kudus, yaitu Jibril as. Allah
SWT telah menguatkannya atau menguatkan Nabi Isa dengan roh yakni Jibril:
"Dan (ingatlah) ketika
Aku dukung kamu
dengan Ruhul Kudus." (QS. al-Maidah: 110) Setelah mengemukakan
keyakinan kaum Masehi tentang karakter Nabi Isa dan akhir dari kehidupannya
dan setelah menjelaskan
kebenaran yang Allah
SWT ceritakan kepada kita tentang karakter tersebut dan akhir dari
kehidupan yang dialami oleh Nabi
Isa, kita ingin
mengetahui apa yang
harus dilakukan olehkaum Muslim
dalam hubungan mereka
dengan orang-orang Masehi
serta keyakinan mereka.