Perjalanan manusia menuju Tuhan
Alam roh
atau alam arwah adalah alam tempat manusia berada sebelum lahir ke dunia. Di
alam ini, manusia berada dalam wujud ruh tanpa jasad
tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dan
berapa lama manusia hidup di alam ruh atau alam arwah. Jauh sebelum hidup di
alam dunia, bahkan sebelum ayah dan ibu kita menikah, kita sebagai manusia
telah diciptakan oleh Allah SWT dan mengalami kehidupan di sebuah alam yang
disebut alam ruh atau arwah. Ketika masih berada di alam arwah ini, Allah SWT
telah mengambil kesaksian dari setiap jiwa atau ruh manusia. Pada saat itu,
seluruh manusia ditanya oleh Allah SWT; “Bukankah Aku adalah Tuhan dan Raja
kalian? Dan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, Dzat Yang
Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya?”. Maka seluruh manusia yang berada di alam
ruh atau alam arwah pun menjawab, “Betul, Engkau adalah Tuhan dan Raja kami,
dan tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau Dzat Yang Maha Esa, yang
tiada sekutu bagi-Nya”.
Jadi ketika berada di alam ruh atau alam arwah,
semua manusia telah mengakui (i’tiraf) dan beriman serta meyakini tentang adanya Allah SWT, Dzat
Yang Maha Esa. Tidak ada seorang pun yang mengingkari (kafir) terhadap
keberadaan Allah SWT. Sebagai mana telah difirmankan dalam surat al-A’raf ayat
172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟
بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا
غَٰفِلِينَ
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"(Q.S al-Araf 172)
“Sesungguhnya Aku akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”. Ketahuilah bahwasanya tiada Tuhan selain Aku semata, tidak ada Rabb selain diri-Ku, dan janganlah sekali-kali kalian mempersekutukan-Ku. Sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian para Rasul-Ku yang akan mengingatkan kalian tentang perjanjian ini. Selain itu, Aku juga akan menurunkan kitab-kitab-Ku”. Maka mereka pun berkata, “Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami, tidak ada Tuhan selain hanya Engkau semata”. Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut. Kemudian Adam diangkat di hadapan mereka dan Adam pun melihat kepada mereka. Di antara mereka ada orang-orang yang kaya dan ada juga orang-orang yang miskin; ada orang-orang yang baik dan ada juga orang-orang yang buruk. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana kalau Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-MU itu?”. Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk disyukuri”. Dan Adam melihat para nabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan cahaya”. (HR. Ahmad)
Inilah peristiwa yang terjadi di alam ruh atau alam arwah, di
mana setiap jiwa dari manusia telah diambil kesaksian dan melakukan perjanjian
kepada Allah SWT, bahwa Allah SWT Dzat Yang Maha Esa adalah Rabb mereka. Hal
ini disaksikan oleh Nabi Adam dan penduduk langit. Allah SWT sengaja melakukan
hal ini, agar kelak pada hari kiamat tidak ada satupun manusia yang mengingkari
perjanjian tersebut dengan mengatakan bahwa ketika hidup di alam dunia mereka
menyekutukan Allah atau mengikuti agama nenek moyang mereka semata-mata karena
tidak pernah ada perjanjian atau petunjuk dari Allah SWT. Kebanyakan manusia
memang lupa terhadap perjanjian tersebut. Oleh karena itu, Allah SWT
mengingatkan mereka dengan cara mengutus para Rasul serta menurunkan kitab suci
untuk mereka. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Hadid ayat 8:
“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru
kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil
perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.
Menurut para ahli tafsir, pertanyaan Allah SWT kepada para
manusia sewaktu berada di alam arwah bukanlah dalam bentuk wahyu yang
disampaikan kepada mereka, tetapi dalam bentuk kehendak dan mengadakan
(al-iradah wa al-takwin). Sedangkan jawaban para manusia kepada Allah SWT,
bukalah dalam bentuk jawaban dengan lisan (المقال لسان), melainkan dengan sikap (لسان الحال).
Berdasarkan
ayat di atas dapat diketahui, bahwa pada dasarnya setiap manusia diciptakan
oleh Allah SWT dalam keadaan beriman dan meyakini kebenaraan agama Islam.
Inilah fitrah manusia. Jika dalam kehidupan di alam dunia, ternyata banyak
orang yang kafir, musyrik (polytheis), mulhid (ateis), atau munafik, maka hal
itu adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia yang diyakini sejak berada
di alam arwah. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Rum ayat 30:
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”.
Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah
ciptaan Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki
naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT.
Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka
bisa terjerumus pada kesalahan tersebut hanyalah lantaran pengaruh lingkungan
hidup mereka.[HR]
Imam Ibnu Kasir, Tafsir Ibn Katsir, juz 2 h. 261 – 264. Lihat
juga Tafsir al-Razi, juz 15 h. 46.
2Prof. Dr. Wahbab
al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munier, Daar al-Fikr al-Mu’ashir, Beirut, Cet. I,
tahun 1991, juz 9 h. 157.





