Perang Uhud
Di depan beliau terdapat
tawanan-tawanan perang dan ganimah. Kaum
Muslim sangat menanggung beban
berat dengan banyaknya
tawanan perang. Mula-mula Rasulullah saw bermusyawarah dengan sahabat
Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah
keturunan dari saudara-saudara dan keluarga, dan aku melihat lebih baik engkau
mengambil fidyah (tebusan) dari
mereka sehingga apa
yang engkau ambil
tersebut merupakan
kekuatan bagi kita
terhadap orang-orang kafir,
dan mudah-mudahan Allah SWT memberi petunjuk kepada mereka sehingga
mereka menjadi tulang punggung kita.

" Kemudian Rasulullah
saw menoleh kepada Umar
bin Khattab sambil
berkata, "bagaimana pendapatmu wahai Ibnul Khattab?" Lelaki
itu berkata: "Demi Allah, aku
tidak sependapat dengan
apa yang dikatakan
Abu Bakar tetapi
aku berpendapat, seandainya aku
mampu untuk bertemu
dengan salah seorang kerabatku, maka
aku akan memukul
lehernya, dan seandainya
Ali mampubertemu dengan
keluarganya, maka ia
pun akan memukul
lehernya begitu Hamzah sehingga
Allah SWT mengetahui bahawa
tidak ada di
hati kita kelembutan kepada kaum
musyrik." Pasukan Madinah dan pasukan
Mekah terdiri dari
keluarga-keluarga yang
terikat hubungan kekerabatan, namun
kehendak Allah SWT
menetapkan terjadinya peperangan sesama keluarga: antara anak dan orang
tuanya. Umar menginginkan agar keadaan
demikian terus berlanjut
sehingga orang-orang musyrik
mengetahui bahawa Islam tidak ingin berdamai.
Kemudian Selesailah urusan itu dan
terjadi peperangan di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata dan berperang
adalah suatu kewajipan yang tiada keraguan di dalamnya. Nabi saw menoleh
kepada kaum Muslim
dan mendapati sebahagian
besar mereka cenderung kepada
pendapat Abu Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat majoriti saat itu. Pendapat
majoriti salah dan hanya Umar yang benar. Ini adalah peperangan pertama yang
dilalui oleh Islam. Hendaklah kaum Muslim harus meninggalkan dorongan
kemanusiaan mereka, yakni
orang- orang kafir harus
dibunuh agar musuh-musuh
Allah SWT mengetahui
bahawa Islam telah memilih darah. Allah SWT telah
mendukung Umar bin Khattab dalam Al-Qur'an sehingga Nabi
saw dan Abu
Bakar menangis ketika
keduanya menyedari kesalahan
mereka pada hari berikutnya, lalu Umar memergoki mereka dalam keadaan menangis
dan ia bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan temannya di gua
menangis?" Kemudian Rasulullah saw membaca Al-Qur'an: "Tidak patut
bagi seorang Nabi
mempunyai tawanan sebelum
ia dapat melumpuhkan musuhnya
di muka bumi.
Kamu menghendaki harta
benda duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu). Dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah
terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana tebusan
yang kamu ambil." (QS. al-Anfal: 67-68) Kedua ayat itu mengatakan bahawa
ini bukan saatnya melindungi para tawanan dan
berusaha untuk menebus
mereka. Waktu Demikian
belum saatnya. Nabi tidak
berhak memiliki tawanan
kecuali jika ia
telah melakukan banyak peperangan dan banyak berjihad dan
telah banyak membunuh dan dakwahnya telah mapan. Kedua ayat
tersebut menyingkap tujuan
di balik penebusan
tawanan:
"Kamumenghendaki harta
benda duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu)." Demikianlah pemikiran yang mempertimbangkan keadaan-keadaan
aktual yang sulit.
Itu
adalah pemikiran yang
bersifat taktik sebagaimana yang
kita ungkapkan dalam istilah moden dan bukan pemikiran yang bersifat
strategis. Kemudian para tawanan tersebut bukan tawanan biasa tetapi menurut
istilah moden mereka adalah
penjahat-penjahat
perang. Oleh kerana
itu, nyawa mereka harus
ditumpahkan saat mereka
dapat ditangkap, meskipun
mereka memiliki kekayaan yang
banyak atau kedudukan
yang tinggi. Islam
tidak mengakui kekayaan atau
kedudukan, yang diakuinya
adalah keimanan, sedangkan pertimbangan-pertimbangan duniawi
lainnya tidak dihiraukan
oleh Islam. Nas Al-Qur'an memperingatkan orang-orang
yang menang bahawa
kesalahan mereka bisa berakibat
pada datangnya seksaan
yang bakal mereka
terima tetapi Allah SWT
mengampuni mereka dan
menurunkan rahmat-Nya: "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan
yang telah terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana
tebusan yang kamu ambil." Seksaan
tersebut memang
lebih dekat daripada
pohon yang dekat
ini, kemudian Allah SWT
mengampuni mereka dan
Allah SWT mengampuni sahabat-sahabat yang
terjun di perang
Badar, baik dosa
yang lalu mahupun dosa mereka
yang akan datang.
Demikianlah Al-Qur'an ingin
mendidik kaum Muslim agar
mereka tidak banyak
mempertimbangkan urusan manusiawi saat berperang. Jadi, Islam
memulai peperangannya yaitu peperangan yang hanya ditujukan kepada
Allah SWT dan
hendaklah peperangan tersebut
dihilangkan dari
pertimbangan-pertimbangan
yang sulit sehingga
sahabat-sahabat Nabi mengetahui bahawa kecenderungan kepada kesenangan duniawi akan berakibat pada kekalahan mereka.
Dalam peperangan Uhud
jumlah kaum musyrik
tiga ribu sedangkan
jumlah kaum Muslim tiga
ratus pasukan setelah
pemimpin orang-orang munafik Abdullah bin
Saba' mengundurkan diri
pasukan. Kaum Muslim
diletakkan di gunung dan
Rasulullah saw membuat
rencana yang jitu
untuk memenangkan
pertempuran di mana
beliau membagi pasukan
pemanah di puncak
gunung untuk melindungi punggung kaum Muslim dan melindungi mereka dari
serangan dari arah belakang.
Rasulullah saw memberi pengertian kepada
pasukan panah itu agar mereka tetap di tempatnya baik kaum Muslim menang
mahupun kalah. Yakni bahawa pasukan
pemanah tidak boleh
turun dari gunung
dan meskiberusaha untuk
melindungi kaum Muslim.
Rasulullah saw berkata
kepada mereka. "lindungilah punggung-punggung kami.
Jika kalian melihat
kami sedang bertempur, maka
kalian tidak usah
turun darinya dan
tidak usah menolong kami,
dan jika kalian
melihat kami memperoleh
kemenangan dan mengambil
ganimah, maka kalian tidak boleh ikut serta bersama kami." Setelah membuat
keputusan tersebut, Rasulullah saw kembali ke pasukan yang lain, lalu
beliau membikin suatu
rencana untuk menyerang.
Dan Dimulailah peperangan kemudian
pasukan Islam mendorong pasukan musyrik laksana angin yang kencang
yang memporak-porandakan ribuan
kaum musyrik. Pada
tahap pertama pasukan Islam tampak menguasai medan dan berhasil menyapu
kaum musyrik sehingga pasukan Mekah tampak berputus asa meskipun mereka unggul
secara bilangan dan
meskipun mereka memiliki
kekuatan persenjataan yang lengkap, pasukan Mekah justru
dikejutkan dengan ketangguhan pasukan Muslim yang dapat
memukul mundur mereka
hingga mereka membayangkan bahawa mereka tidak
dapat memenangkan peperangan atau
dapat bertahan di hadapan pasukan Muslim. Debu-debu peperangan mulai
berterbangan yang menyertai
tanda-tanda kekalahan
pasukan Mekah. Sementara itu,
para pemanah yang
diletakkan Rasulullah saw di
suatu tempat yang
strategis berfikir untuk
memperoleh ganimah. Pasukan Mekah
telah kalah dan
mereka telah melarikan
diri dari pasukan Muslim, maka
bagaimana seandainya para pemanah turun dari tempat mereka untuk
mengumpulkan harta rampasan
dan ganimah. Rasulullah
saw telah mengingatkan mereka
agar jangan meninggalkan tempat
mereka, apa pun yang terjadi
tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan menentang perintah Nabi
saw setelah mereka
membayangkan bahawa peperangan
telah selesai dan keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang
beriman. Pasukan pemanah mengira bahawa Allah SWT akan menutupi kesalahan
mereka dan akan melindungi mereka
sehingga mereka berhasil
mengambil harta rampasan dan
ganimah. Sungguh keikhlasan telah tercabut dari hati sebahagian pasukan.
Belum lama hal tersebut berlangsung sehingga
terjadilah perubahan yang drastik pada
peperangan. Pemimpin pasukan
berkuda musyrik dalam peperangan Uhud
yaitu Khalid bin
Walid yang kemudian
ia menjadi tokoh Muslim adalah orang yang sangat genius
dalam peperangan. Begitu ia melihat pasukan pemanah lari dari tempat mereka,
maka ia melihat celah yang terbuka di
tengah-tengah kaum Muslim,
sehingga ia segera
memutarkan kudanya dan disertai pasukan yang mengikutinya.
Kemudian ia menyerang kaum Muslim dari belakang. Serangan yang
dilakukan Khalid itu
sangat cepat dan
sangat mengejutkan. Orang-orang musyrik mengambil kesempatan emas.
Mereka yang tadinya lari, kini mereka menarik diri dan justru menyerang
kembali.
Pasukan Muslim
dikepung dari dua
arah oleh pasukan
berkuda: satu dari belakang dan
yang lain dari
depan. Kemudian berjatuhanlah korban-
korban dari pasukan Muhammad
bin Abdillah. Banyak
di antara mereka
yang mati sebagai syahid saat
mempertahankan dan melindungi Rasulullah saw, bahkan sang Nabi
pun hidungnya terluka dan giginya pun runtuh dan kepala beliau yang mulia
terluka sehingga beliau mengucurkan darah. Kemudian tersebarlah isu
bahawa Muhammad saw
telah meninggal. Ketika mendengar itu, kaum Muslim sangat
terpukul dan sangat sedih sehingga kaum Muslim pun
terpecah-pecah.
Sebahagian mereka kembali
ke Mekah dan sekelompok yang lain ke atas gunung dan
mereka tetap menjaga Nabi saw yang mulia.
Ketika mendengar kematian
Nabi, Anas bin
Nadhir berkata kepada kaumnya: "Bangkitlah kalian dan
matilah seperti kematiannya. Apa yang kalian lakukan setelah kalian hidup
sesudahnya." Pasukan Muslim tetap bertahan dan melakukan peperangan, lalu
tekanan kaum musyrik semakin berat
kepada Nabi saw dan
para sahabatnya. Kemudian terjadilah kejadian
yang paling sulit
dalam sejarah umat
Islam. Nabi saw berteriak saat
melihat kaum musyrik menekannya dan
berusaha membunuhnya:
"Barang siapa yang
dapat mengusir mereka
dariku, maka baginya
syurga." Mendengar
perkataan itu, kaum
Muslim segera mengitari
Nabi saw dan melindungi beliau
sehingga banyak dari
mereka berguguran sebagai
syahid. Bahkan
sahabat-sahabat Abu Juanah
melindungi Nabi saw
sampai- sampai punggungnya dipenuhi
dengan anak-anak panah.
Ia bagaikan baju
besi yang dipakai kepada Nabi
saw dan ia tetap kukuh melindungi Nabi saw. Kemudian berubahlah keadaan kerana
keteguhan dan keberanian yang diperlihatkan oleh kaum Muslim. Pasukan Mekah
merasa puas dan mereka memilih untuk menarik diri. Saat itu orang-orang Quraisy
tidak lebih sedikit penderitaannya daripada orang-orang Muslim. Setelah peperangan yang
dahsyat itu, kaum
musyrik menarik diri
setelah mereka berhasil membunuh
beberapa orang Muslim,
bahkan mereka berhasil melukai pemimpin pasukan yaitu sang
Nabi saw. Semua itu terjadi kerana satu kesalahan yaitu
kesalahan terletak pada
penentangan dan pembangkangan para pemanah
terhadap perintah sang
Rasul saw dan
usaha mereka untuk meninggalkan tempat mereka.
Ketika sebahagian kelompok dari
sahabat kehilangan pengorbanan dan kehilangan sikap
ikhlas dalam hati
mereka, maka kesalahan
tersebut harus dibayar oleh
tentera yang paling berani dan mulia di antara mereka yaitu sang Nabi saw.
Langit tidak ikut campur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu. Kesalahan kaum
Muslim itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah beliau pun terluka
bahkan keluar darah yang
cukup deras dari luka beliau
sehingga setiap kali dituangkan
air di atas
luka itu, maka
darah pun semakin
deras mengucur. Darah itu
tidak berhenti kecuali
setelah dibakarkan potongan tembikar lalu dilekatkan di
atasnya. Luka beliau bukan hanya bersifat materi tetapi luka spirituil beliau
dan rohani beliau pun semakin bertambah. Ini beliau rasakan ketika mendengar
bahawa pamannya Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak cukup dengan itu, bahkan
isteri Abu Sofyan
yaitu Hindun membelah perutnya dan
mengeluarkan jantungnya
serta mengunyahnya dengan mulutnya. Semua
itu semakin menambah kesedihan
sang Nabi. Kaum Quraisy menguasi
pasukan Muslim dan
mereka memperlakukan dan menekan kaum Muslim secara aniaya.
Seandainya bukan kerana rahmat Allah SWT
nescaya kaum Muslim
akan mengalami kekalahan
yang teruk. Kemudian turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim
ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim agar mereka benar-benar ikhlas
dan memahamkan mereka bahawa
kekalahan mereka sebagai akibat
dari adanya pasukan
di antara mereka
yang menginginkan
dunia meskipun di
antara mereka ada
sebahagian yang
menginginkan akhirat. Jika
terjadi demikian, maka
tidak ada jalan
untuk memperoleh
kemenangan. Ini bukanlah
hal yang diinginkan oleh
pasukan Muslim, yang diharapkan adalah
hendaklah semua pasukan
tertuju untuk mencapai ridha
Allah SWT dan
hanya mengharapkan akhirat.
Jika demikian halnya, maka Allah SWT akan memberi
mereka dunia dan akhirat. Allah
SWT berfirman dan
menceritakan peperangan Uhud
dalam surah Ali 'Imran: "Di antaramu
ada orang yang
menghendaki dunia dan
di antara kamu
ada orang yang menghendaki
akhirat. Kemudian Allah
memalingkan kamu dari mereka
untuk menguji kamu;
dan sesungguhnya Allah
telah memaafkan kamu. Dan
Allah mempunyai kurnia
(yang dilimpahkan) atas
orang-orangyang beriman." (QS. Ali 'Imran:: 152) Allah SWT
memaafkan hal itu.