Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 10 Juni 2026

Alam Roh

 Perjalanan manusia menuju Tuhan


alam roh

Alam roh atau alam arwah adalah alam tempat manusia berada sebelum lahir ke dunia. Di alam ini, manusia berada dalam wujud ruh tanpa jasad

tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dan berapa lama manusia hidup di alam ruh atau alam arwah. Jauh sebelum hidup di alam dunia, bahkan sebelum ayah dan ibu kita menikah, kita sebagai manusia telah diciptakan oleh Allah SWT dan mengalami kehidupan di sebuah alam yang disebut alam ruh atau arwah. Ketika masih berada di alam arwah ini, Allah SWT telah mengambil kesaksian dari setiap jiwa atau ruh manusia. Pada saat itu, seluruh manusia ditanya oleh Allah SWT; “Bukankah Aku adalah Tuhan dan Raja kalian? Dan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, Dzat Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya?”. Maka seluruh manusia yang berada di alam ruh atau alam arwah pun menjawab, “Betul, Engkau adalah Tuhan dan Raja kami, dan tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau Dzat Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya”.

Jadi ketika berada di alam ruh atau alam arwah, semua manusia telah mengakui (i’tiraf) dan beriman serta meyakini tentang adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa. Tidak ada seorang pun yang mengingkari (kafir) terhadap keberadaan Allah SWT. Sebagai mana telah difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"(Q.S al-Araf 172)

“Sesungguhnya Aku akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”. Ketahuilah bahwasanya tiada Tuhan selain Aku semata, tidak ada Rabb selain diri-Ku, dan janganlah sekali-kali kalian mempersekutukan-Ku. Sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian para Rasul-Ku yang akan mengingatkan kalian tentang perjanjian ini. Selain itu, Aku juga akan menurunkan kitab-kitab-Ku”. Maka mereka pun berkata, “Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami, tidak ada Tuhan selain hanya Engkau semata”. Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut. Kemudian Adam diangkat di hadapan mereka dan Adam pun melihat kepada mereka. Di antara mereka ada orang-orang yang kaya dan ada juga orang-orang yang miskin; ada orang-orang yang baik dan ada juga orang-orang yang buruk. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana kalau Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-MU itu?”. Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk disyukuri”. Dan Adam melihat para nabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan cahaya”. (HR. Ahmad)

Inilah peristiwa yang terjadi di alam ruh atau alam arwah, di mana setiap jiwa dari manusia telah diambil kesaksian dan melakukan perjanjian kepada Allah SWT, bahwa Allah SWT Dzat Yang Maha Esa adalah Rabb mereka. Hal ini disaksikan oleh Nabi Adam dan penduduk langit. Allah SWT sengaja melakukan hal ini, agar kelak pada hari kiamat tidak ada satupun manusia yang mengingkari perjanjian tersebut dengan mengatakan bahwa ketika hidup di alam dunia mereka menyekutukan Allah atau mengikuti agama nenek moyang mereka semata-mata karena tidak pernah ada perjanjian atau petunjuk dari Allah SWT. Kebanyakan manusia memang lupa terhadap perjanjian tersebut. Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan mereka dengan cara mengutus para Rasul serta menurunkan kitab suci untuk mereka. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Hadid ayat 8:

“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.

Menurut para ahli tafsir, pertanyaan Allah SWT kepada para manusia sewaktu berada di alam arwah bukanlah dalam bentuk wahyu yang disampaikan kepada mereka, tetapi dalam bentuk kehendak dan mengadakan (al-iradah wa al-takwin). Sedangkan jawaban para manusia kepada Allah SWT, bukalah dalam bentuk jawaban dengan lisan (المقال لسان), melainkan dengan sikap (لسان الحال).

Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui, bahwa pada dasarnya setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan beriman dan meyakini kebenaraan agama Islam. Inilah fitrah manusia. Jika dalam kehidupan di alam dunia, ternyata banyak orang yang kafir, musyrik (polytheis), mulhid (ateis), atau munafik, maka hal itu adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia yang diyakini sejak berada di alam arwah. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Rum ayat 30:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah ciptaan Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka bisa terjerumus pada kesalahan tersebut hanyalah lantaran pengaruh lingkungan hidup mereka.[HR]

Imam Ibnu Kasir, Tafsir Ibn Katsir, juz 2 h. 261 – 264. Lihat juga Tafsir al-Razi, juz 15 h. 46.

2Prof. Dr. Wahbab al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munier, Daar al-Fikr al-Mu’ashir, Beirut, Cet. I, tahun 1991, juz 9 h. 157.


Read More

Selasa, 09 Juni 2026

tentang alam penantian

 

Hani budak Utsman ibn Affan meriwayatkan hadis, ketika Utsman berhenti di sebuah kuburan lalu menangis tersedu-sedu sampai basah janggutnya. Lalu ditanyakan kepadanya, “wahai Utsman ketika disebutkan surga dan neraka engkau tidak menangis. Namun engkau malah menangis ketika berdiri di depan kubur. Mengapa?” Maka Utsman menjawab, “sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Aku tidak pernah melihat pemandangan yang paling mengerikan dibandingkan alam kubur.” (H.R Tirmidzi)

alam barzakh


Ustadz Amir As-Soronji mengatakan alam kubur merupakan tempat pertama dari beberapa tempat yang akan dilalui manusia setelah meninggal. Sesuai dengan sabda Rasulullah apabila selamat di kubur maka tempat setelahnya akan menjadi lebih mudah. Sebaliknya jika di alam kubur tidak selamat maka di setelahnya akan lebih sulit.

Ketika diperlihatkan surga oleh Allah, akan berkata: “Ya Allah, segerakanlah terjadinya kiamat.” Sebaliknya dengan orang kafir, ketika diperlihatkan azab pedih yang sudah dipersiapkan Allah, ia akan berkata: “Ya Allah, jangan kau datangkan kiamat.”

“Di alam kubur ada kenikmatan kubur bagi orang mukmin. Tapi ia meminta untuk disegerakan hari kiamat karena nikmatnya lebih besar. Sedang orang fajir atau durhaka karena siksaan di hari kiamat jauh lebih pedih dan menakutkan daripada yang sedang dirasakannya di alam kubur, maka ia minta tidak disegerakan. Oleh karena itu, jangan lupa kita untuk berdoa memohon agar dijauhkan dari siksa kubur. Sebab azab kubur benar adanya,” pesan Ustadz Amir As-Soronji.

Kegelapan Alam Kubur

Di alam kubur juga penuh dengan kegelapan. Ustadz Amir As-Soronji menceritakan sebuah kisah di masa Rasulullah, dulu terdapat seorang wanita yang sering membersihkan masjid Nabawi. Rasulullah merasa kehilangan karena tidak nampak. Lalu para sahabat menyampaikan jika wanita tersebut telah meninggal dunia tadi malam dan telah dikubur di malam itu juga. Para sahabat mengatakan jika ia tidak sampai hati jika harus membangunkan Rasulullah yang sedang istirahat.

Rasululah meminta kepada para sahabat untuk menunjukan letak kuburannya, lalu beliau menyalatinya dan bersanda: “Kuburan itu sungguh sangat gelap bagi setiap penghuninya. Dan sesungguhnya Allah meneranginya bagi mereka dengan salatku tadi.” (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibn Majah, Baihaqi, dan Ahmad).

Dalam hadis tersebut, dapat dipetik faedah di dalamnya yakni keutamaan membersihkan masjid. Dimana Rasulullah datang ke kuburannya dan menyalatinya. Kemudian di alam kubur penuh dengan kegelapan namun Allah Swt. akan meneranginya jika terdapat orang yang bersedia menyalatinya.

Himpitan Alam Kubur

Ketika mayit diletakan di kuburan, maka kubur akan menghimpitnya. Tidak ada seorang pun yang akan dapat menghindarinya baik orang dewasa maupun anak kecil, baik orang saleh maupun kafir. Semua akan mengalami himpitan kubur.

Disebutkan dalam beberapa hadis bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz. Ustadz Amir As-Soronji menjelaskan bahwa Beliau merupakan sahabat Rasulullah yang kematiannya Arsy Allah bergetar, pintu-pintu langit terbuka, dan terdapat 70 ribu malaikat menyaksikannya.

Dalam Sunan An-Nasa’I diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Inilah yang membuat Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit oleh kubur, tetapi kemudian dibebaskan.”

“Saad pernah terhimpit lalu dibebaskan darinya. Sepantasnya kita takut himpitan ini, udah gelap, apa kita tidak takut? Maka kita takut dan bertaubat pada Allah. Anak-anak pun yang meninggal tidak akan selamat darinya. Anak-anak kecil yang mungkin dia tidak punya dosa tetap akan merasakan himpitan ini,” jelas Ustadz Amir As-Soronji.

Fitnah Alam Kubur

Apabila ada seorang hamba diletakan di kuburnya maka datang malaikat dengan penampilan yang menakutkan atau mengerikan. Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah bersabda, “Apabila mayat dari kalian diletakan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan kebiru-biruan, salah satunya bernama Munkar dan kedua Nakir.

Keduanya akan bertanya, Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)? Makai ia akan menjawab sebagaimana di dunia, “Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kedua malaikat berkata ‘Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu.’ Kemudian kuburannya diperluas 70×70 hasta dan diberi penerangan dan dikatakan tidurlah!

Apabila yang meninggal adalah orang kafir, sebagaimana dalam HR. Tirmidzi, ketika ditanya ia akan menjawab, Aku mendengar orang mengatakan aku pun mengikutinya dan saya tidak tahu. Kedua malaikat berkata, Kami berdua sudah mengetahui bahwa kamu dahulu mengatakan itu. Dikatakan kepada bumi himpitlah dia, maka dihimpitlah jenazah tersebut sampai tulang rusuknya berserakan, dan ia akan selalu merasakan azab sampai Allah bangkitkan dari tempat tidurnya.”

 

Read More

Senin, 08 Juni 2026

berapa lama penantian di alam kubur

 Dalam hati kita timbul pertanyaan apakah orang yang meninggal di jaman dulu apakah merasa sangat lama dalam penantiannya menunggu hari kebangkitan di sisi lain Alquran memperkenalkan Perbedaan waktu antara alam akhirat dan dunia . Waktu yang berlangsung di dunia berbeda dengan waktu di sisi Allah. Di antara ayat-ayat yang mengisyaratkan hal tersebut adalah Surat al-Mu'minun Ayat 112-114.

berapa lama penantian di alam kubur


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ

قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ

قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Tanyalah kepada mereka yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar jika kamu benar-benar mengetahui.” (QS Al-Mu'minun Ayat 112-114)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ەۙ مَا لَبِثُوْا غَيْرَ سَاعَةٍۗ كَذٰلِكَ كَانُوْا يُؤْفَكُوْنَ

Pada hari (ketika) terjadi kiamat, para pendurhaka (kafir) bersumpah bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat (saja). Begitulah dahulu mereka dipalingkan (dari kebenaran). (QS Ar-Rum Ayat 55)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنْ نَّهَارٍۗ بَلٰغٌۚ فَهَلْ يُهْلَكُ اِلَّا الْقَوْمُ الْفٰسِقُوْنَ


Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari ketika melihat azab yang dijanjikan, seolah-olah mereka hanya tinggal (di dunia) sesaat saja pada siang hari. (Nasihatmu itu) merupakan peringatan (dari Allah). Maka, tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasik.(QS  Al-Ahqaf Ayat 35)

اَوۡ كَالَّذِىۡ مَرَّ عَلٰى قَرۡيَةٍ وَّ هِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا ​ۚ قَالَ اَنّٰى يُحۡىٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَا ​ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ​ؕ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَؕ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٍؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَةَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۚ وَانْظُرۡ اِلٰى حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرۡ اِلَى الۡعِظَامِ كَيۡفَ نُـنۡشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوۡهَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ‏ ٢٥٩

Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah runtuh hingga menutupi (puing-puing) atap-atapnya, dia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?" Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, "Berapa lama engkau tinggal (disini)?" Dia (orang itu) menjawab, "Aku tinggal (disini) sehari atau setengah hari." Allah berfirman, "Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, "Saya mengetahui (yakin) bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS Al Baqarah Ayat 259)

 

Opini Penulis

Menurut Penulis penghuni kubur tidak merasakan waktu yang lama dalam kuburnya jika mengamati beberapa ayat al Quran di atas walaupun sudah meninggal cukup lama perlu diingat ini hanya bersifat opini penulis jadi kebenaran hanya milik Allah SWT jika orang itu meninggal selama 1000 tahun atau 100 tahun seolah-olah orang itu hanya merasakan baru tinggal disana kurang dari sehari semisal kita tidur selama 3 hari di hari senin sore pukul 15.00 kita tidur dan baru bangun di hari kamis sore pukul 16.00 hari ke 3  dalam hati kita pasti bertanya apa aku baru tidur selama 1 jam kita pasti merasa bingung

Read More

Minggu, 07 Juni 2026

coba kawi

📜 Penerjemah Kawi - Kalimat Dasar

Ketik Indo → Keluar Kawi Jawa Kuno. Contoh: aku sudah makan nasi

📜 Penerjemah Kawi - Kalimat Dasar

Ketik Indo → Keluar Kawi Jawa Kuno. Contoh: aku sudah makan nasi

Read More

Periode Waktu di luar alam manusia

 Periode Waktu di luar alam dunia

Periode waktu adalah kurun waktu atau lingkaran waktu yang digunakan untuk membagi waktu menjadi periode-periode tertentu. Periode waktu dapat digunakan dalam berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, sejarah, dan akuntansi. Yang perlu diingat dalam artikel ini tulisan ini hanya bersifat penelitian tidak bisa dijadikan fatwa karena sesungguhnya alam kekekalan atau akhirat tidak bisa kita samakan dengan alam fana hanya Allah SWT lah yang Maha Mengetahui Untuk kesempurnaan tulisan ini maka diperlukan diskusi lebih

Periode Waktu di luar alam manusia


 

 

Surat al-Hajj 47

وَيَسۡتَعۡجِلُوۡنَكَ بِالۡعَذَابِ وَلَنۡ يُّخۡلِفَ اللّٰهُ وَعۡدَهٗ ؕ وَاِنَّ يَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّكَ كَاَ لۡفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ‏ ٤٧

Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

Surat al-Maarij ayat 4

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Surat Yasin ayat 52

قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَاۜ هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ

Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” (Lalu, dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul(-Nya).”

Tadabbur

Tulisan ini berdasarkan pendapat penulis sendiri bukan dari ijma ulama hanya sekedar buat masukan atau referensi 

Menurut surat al Hajj ayat 47

1 hari diakhirat = 1000 hari di akhirat jika ukuran hidup manusia adalah usia Rasulullah yaitu sekitar 63 tahun berarti hidup kita hanya 1,5 jam yang bisa di ibaratkan ketika kita masa sekolah dulu seperti waktu mengerjakan soal ujian yang bisa kita misalkan jika kita mengerjakan 50 soal 1 soal ini ibarat 1,26 tahun jika usia kita 30 tahun bisa kita artikan sudah 24 soal dalam hidup ini yang sudah kita kerjakan jika kita analisa hidup ini sangat singkat tetapi jika dilewati tetapi jika dilewati dengan sia-sia maka sangat rugi ada baiknya kita mengingat surat al-Ashr

Menurut firman Allah QS. Al-An'am ayat 32, yang menyatakan bahwa kehidupan dunia hanya main-main dan senda gurau, dan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa

Berbeda dengan  firman Allah pada QS. Al-Mu'minun ayat 115 yang berbunyi, "Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu hanya main-main (tanpa ada maksud), kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Bisa kita simpulkan pada Qs Al-An’am ayat 32 Hikmah ayat tersebut  jika kita merasa lelah dalam menghadapi ujian di dunia maka ingatlah waktu hidup didunia  sangatlah sebentar seperti halnya mengerjakan soal saja  sesungguhnya kehidupan akhirat itu akan lebih kekal maka kejarlah akhirat untuk kehidupan yang lebih kekal karena ujian itu hanya sebentar saja

Sedang pada QS Al-Mu’minun agar kita hidup bahagia maka jangan lupa tujuan kita hidup didunia ini menyelesaikan soal dengan benar yaitu sesuai petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rassul

Pada surat Surat al-Hajj 47 dan al-Maarij ayat 4

Ada perbedaan waktu yaitu 1 hari disisi Tuhan = 1000 tahun di alam manusia

Sedang  tempat atau alam malaikat menghadap Tuhan 1 hari memiliki kadar 50.000 tahun

Kemungkinan alam Malaikat berbeda dengan Alam disisi Tuhan

Kadar juga bisa diartikan takaran atau  ukuran bisa saja alam ini berjalan lebih cepat atau lambat dari alam dunia karena 1 hari itu bernilai 50.000 tahun jika satu hari kita berdzikir

 سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ  33 kali

Maka di alam tersebut senilai dengan 33 X 50.000tahun yang jika alam tersebut berjalan lebih cepat berarti 1 hari menurut perhitungan kita senilai dengan 50.000 tahun di alam tersebut

Jadi dalam sehari di perhitungan kita para malaikat sudah berdzikir sebanyak 33 X 365 X 50.000 bisa saja di alam malaikat tersebut 1 hari di alam kita = 50.000 tahun di tempat malaikat menghadap Tuhan

Atau bisa saja 50.000 tahun 1 hari di alam akhirat jadi jika di konversikan

1 tahun Akhirat = 50.000 tahun alam Malaikat menghadap Tuhan

1000 Dunia = 50.000

Dunia = 50.000 : 1000 = 50

Jadi 1 hari dunia = 50 tahun alam Malaikat menghadap Tuhan

Kesimpulannya

  • jika alam ini berjalan lebih cepat berarti 50 atau 50.000 tahun di  alam Malaikat menghadap Tuhan dalam sehari didunia kita
  • Jika berjalan lebih lambat 50.000 tahun alam dunia sama dengan sehari di alam Malaikat menghadap Tuhan

Ingat tulisan ini tidak pasti kebenarannya hanya bisa dijadikan referensi karena bersifat pendapat penulis semata sebagai penambah pengetahuan penulis dan pemahaman maka alangkah baiknya di perlukan untuk berdiskusi secara khusus atau di gali lebih dalam

 

 

 

Read More

Sabtu, 06 Juni 2026

Bani Quraisy

Bani Quraisy adalah salah satu suku bangsa Arab yang berasal dari keturunan Fihr bin Malik. Suku ini merupakan salah satu suku utama di kota Mekkah dan daerah sekitarnya. Nabi Muhammad SAW juga termasuk keturunan Bani Quraisy. Suku Quraisy (bahasa Arab: قريش الأمة) adalah suku bangsa Arab keturunan Ibrahim, yang menetap di kota Mekkah dan daerah sekitarnya.

silsilah bani quraisy

Salah satu suku di Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS bin Nabi Ibrahim AS adalah suku Quraisy. Bahkan, suku ini dikenal sebagai suku dengan keistimewaannya

Siapa nama asli Quraisy?
Fihr bin Malik (bahasa Arab: فهر بن مالك), atau julukannya Quraisy, adalah salah seorang nenek moyang Suku Quraisy dan Nabi Islam Muhammad lainnya. Nama lengkapnya adalah Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah, salah seorang kepala suku dari Bani Kinanah.
Read More

Jumat, 05 Juni 2026

Ukasyah bin Mihsan

Ukasyah bin Mihsan

Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi (bahasa Arabعكاشة بن محصن الأسدي, juga ditulis dengan Ukasyah, 

kisah doa akasyah


wafat di Buzakhah, Najd, 12 H (633, usia 45)) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad.[2] Ukkasyah adalah satu sahabat yang khusus didoakan Nabi dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ". وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ الأَسَدِيُّ يَرْفَعُ نَمِرَةً عَلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ " اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ". ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ " سَبَقَكَ عُكَّاشَةُ ".

Aku mendengar Rasululah bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga (tanpa hisab). Wajah mereka bersinar seperti bulan purnama.” Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi kemudian berdiri, membuka kain penutup kepalanya, dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.” Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia di antara mereka!” Kemudian seorang laki-laki dari kaum Ansar berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.” Maka Rasulullah menjawab, “Ukkasyah sudah mendahuluimu.”


اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰهِ وَالۡفَتۡحُۙ‏ ١

وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَدۡخُلُوۡنَ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا ۙ‏ ٢

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَاسۡتَغۡفِرۡهُ ؕ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا‏ ٣

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.

Tentang Surah An-Nashr ini, Jabir bin Abdillah dan Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa setelah surat ini turun, Rasulullah SAW berkata, “Wahai Jibril. Jiwaku sudah terasa lelah.”

Jibril AS mengatakan, “Akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia. Dan, pasti Tuhanmu akan memberikan (sesuatu) kepadamu dan kamu merasa ridha.”

Wahai Sahabat. Nabi seperti  apa aku ini bagi kalian?

Para sahabat menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan sebab kenabianmu. Engkau bagi kami bagaikan ayah yang penyayang, saudara yang bijak dan baik hati. Engkau telah menyampaikan risalah Allah dan engkau telah mengajak ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan dengan tutur kata yang santun. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang lebih besar dari balasan yang diterima oleh nabi lainnya.”

Nabi berkata, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu.” Tidak seorang pun berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapannya itu, dan tidak seorang pun yang berdiri. Rasulullah mengulangi kata-kata itu untuk ketiga kalinya, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu, sebelum aku dibalas pada hari kiamat nanti.”

 

Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek itu bernama Ukasyah bin Mihshan.

 

Ukasyah lantas berkata, “Demi ayah dan ibuku. Andai engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu. Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.”

 

Rasulullah langsung berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah engkau ke rumah Fathimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.”

 

Bilal langsung berangkat menuju rumah Fathimah. Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris, “Luar biasa. Ini Utusan Allah meminta dirinya untuk diqisas (dibalas)!” Sampai di rumah Fathimah, Bilal mengetuk pintu dan berkata, “Wahai Putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang tergantung itu. Serahkan kepadaku.”

 

Fathimah bertanya, “Wahai Bilal. Apa yang akan dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bukan hari ini adalah hari haji, bukan hari perang.”

 

Bilal menjawab, “Wahai Fathimah. Kamu pasti tahu akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia ini. Dan, beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas (qisas) kesalahannya.”

 

Fathimah lantas berkata, “Wahai Bilal. Siapa orang yang tega menuntut balas (qisas) dari Rasulullah?! Katakanlah kepada Hasan dan Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti Rasulullah. Minta orang itu membalas (melakukan qisas) kepada Hasan dan Husein, dan jangan membalas Rasulullah.”

 

Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah.

 

Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Balaslah kepada kami berdua. Kami ada di hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.”

 

Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar, “Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat kalian berdua.”

 

Ali pun berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali. Jangan kau balas Rasulullah.”

 

Rasulullah berkata, “Wahai Ali. Duduklah. Allah tahu derajatmu dan niat baikmu.”

 

Selanjutnya Hasan dan Husein juga berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas Rasulullah?”

 

Rasulullah menjawab, “Duduklah, buah hatiku. Allah tidak akan melupakan kemuliaan kalian.”

 

Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Silakan. Pecutlah aku.”

 

“Wahai Rasulullah. Ketika engkau memecut perutku, perutku dalam keadaan terbuka,” kata Ukasyah. Rasulullah SAW langsung menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka.

 

Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu. Mereka menangis menjadi-jadi.

 

Mereka menegur Ukasyah, “Apakah engkau betul-betul akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?!..”

 

Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak kuasa menahan diri, langsung merangsek tubuh Rasulullah SAW dan menciumi perutnya. “Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan kepadamu, wahai Rasulullah,” ujar Ukasyah.

Rasulullah berkata, “Lastas katakanlah, kau ingin membalas atau memaafkan aku?”

 

Ukasyah, “Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari Kiamat.”

 

Rasulullah berkata, “Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini.”

 

Kaum Muslim langsung berdiri mengerubungi Ukasyah dan menciumi keningnya. Mereka berkata kepada Ukasyah, “Alangkah beruntungnya kamu. Alangkah beruntungnya kamu. Kamu akan mendapatkan derajat yang sangat tinggi, berdampingan dengan Rasulullah di surga.“

 

Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah jatuh sakit selama delapan belas hari. Tepat pada hari Senin, Rasulullah wafat, meninggalkan dunia yang fana ini. Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rasul. Ia dijamin masuk surga, bahkan pasti berada di tempat paling tinggi dan paling mulia di sisi Allah. Namun, beliau begitu hati-hatinya terhadap manusia. Ia tidak ingin meninggalkan dunia ini, sementara masih ada orang yang “sakit hati” kepadanya. Beliau minta dibalas (diqisas) agar dirinya tidak dibalas di akhirat. Fitnah, dusta, caci-maki dan kezaliman lainnya yang disebarkan akan menjadi tanggung jawab penyebarnya di akhirat nanti. Herannya, para penyebar fitnah dan para pencaci tenang-tenang saja. Padahal, Nabi begitu gelisah hanya karena satu kesalahan yang tak disengaja terhadap Sahabat Ukasyah. Fasyhad. Qad ballaghtul qishah…

 

 

 

 

 




 

 

 

 

 

 

 

 

Read More