Sebab-Sebab Siksa Kubur
Sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan siksa
kubur ada dua bagian, mujmal (global) dan mufash-shal (rinci).
Sebabnya secara mujmal (global), yaitu kebodohan terhadap
Allah ta’ala, menyia-nyiakan perintah-Nya, dan menerjang larangan-Nya.
Sedangkan sebabnya secara mufash-shal (rinci), adalah perkara-perkara yang
dijelaskan oleh nash-nash sebagai sebab siksa kubur.
Berikut ini adalah di antara sebab mufash-shal sehingga
kita bisa menjauhinya:
1. Namimah, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada
orang lain untuk merusak hubungan mereka.
2. Tidak menutupi diri ketika buang hajat.
3. Ghulul, yaitu mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi oleh imam.
4. Dusta.
5. Memahami al-Qur’ân namun tidak mengamalkannya.
6. Zina
7. Riba
8. Mayit yang ditangisi keluarganya, jika mayit tersebut tidak melarang
sebelumnya.
Hal-Hal Yang Menyelamatkan Dari Siksa Kubur
Perkara yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab
kubur adalah orang yang mempersiapkan diri sebelum menghadapi kematian yang
datang tiba-tiba. Di antara persiapan menghadapi maut adalah segera bertaubat,
menunaikan kewajiban syariat, memperbanyak amal shalih, memperbaiki akidah,
berjihad, berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal
shalih lainnya. Dengan amalan tersebut Allah ta’ala memberinya jalan keluar
dari tiap kesulitan dan kesusahan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dengan mengutip hadits
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam
shahih-nya, “Sesungguhnya orang mati dapat mendengar suara langkah kaki
orang-orang yang pergi meninggalkannya. Jika ia seorang Mu’min, maka shalat
berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah
kirinya, perbuatan baik seperti berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik
kepada manusia berada di dekat kaki. Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari
arah kepalanya, maka shalat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak
ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata,
‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya,
maka perbuatan baik, seperti berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik
kepada manusia, berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Lalu dikatakan
kepadanya, ‘Duduklah.’ Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa
matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama
kalian? Apa pendapatmu tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, aku ingin
shalat.’ Mereka menyahut, ‘Sungguh kamu akan melakukannya, tetapi jawablah
pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa pertanyaan kalian?’ Mereka menanyakan, ‘Apa
pendapatmu tentang lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa persaksianmu
terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah, dan dia
membawa kebenaran dari Allah.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan
itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar
itu pula kau akan dibangkitkan, insya Allah.’ Kemudian dibukakan baginya pintu
surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini tempat tinggalmu di surga dan segala yang
telah Allâh siapkan untukmu.’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian
dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, ‘Itu adalah tempat tinggalmu dan segala
yang telah Allâh siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah
senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan
diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan seperti semula, dan ruhnya dijadikan di
dalam penciptaan yang baik, yaitu burung yang bertengger di pohon surga.”
Memohon Perlindungan Kepada Allah ta’ala Dari Fitnah Dan Adzab Kubur
Fitnah (ujian) dan adzab kubur adalah masalah besar,
sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari hal
itu, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Beliau pun sangat menekankan
kepada umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allah dari segala fitnah dan
azab kubur.





