Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Minggu, 04 Oktober 2026

BEBERAPA ULAMA MENILAI HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB KUBUR

 BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR

SYUBHAT 3 ADANYA ALAM  KUBUR

 Syubhat  ini  adalah  turunan  dari  syubhat  kedua.  Dalam  tulisan-tulisan mereka  yang  menolak  adanya  adzab  kubur,  mereka  mengutip  beberapa pernyataan sebagian ulama ahlussunnah yang menganggap hadits ahad hanya bernilai zhan dan tidak bernilai ilmu.

BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR


Sehingga mengesankan bahwa sebagian ulama tersebut juga tidak mengimani adanya adzab kubur. Inilah kecurangan mereka dalam berargumentasi. Memang benar terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang apakah hadits Ahad    bernilai zhan,  ataukah  bernilai  ilmu,  ataukah  bernilai  ilmu  namun dengan   syarat.   Namun   mereka   sepakat   beramal   dengan   hadits   Ahad, sebagaimana telah kami sampaikan pernyataan ijma dalam hal ini.

Memang juga   sebagian   ulama,   mengatakan   bahwa   terhadap   hadits  Ahad,   wajib beramal  dengannya  namun  tidak  diyakini.  Namun  hal  ini  pada  hakekatnya hanyalah ikhtilaf lafzhi, karena setiap dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang shahih  adalah  hujjah  yang  wajib  diyakini  kebenarannya  dan  diamalkan.

Bagaimana mungkin seseorang diperintah untuk beramal tanpa meyakini apa yang dia amalkan? Semisal  hadits  tentang  meminta  perlindungan  dari  adzab  kubur  setiap selesai shalat:      “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’”.  Bagaimana  mungkin   dengan dasar hadits ini,  dikatakan      bahwa disunnahkan  membaca  doa  tersebut  setiap  sebelum  salam  ketika  shalat namun   tidak   boleh   meyakini   isinya??   Dari   sini   terlihat   jelas   bahwa memisahkan  permasalahan  hukum  dan  aqidah  dalam  pembahasan  hadits Ahad adalah perkara yang aneh.  Di   antara    nama      ulama     yang    sering     di-’catut’    untuk     melariskan pemahaman  mereka  adalah  Al  Imam  Al  Bukhari.  Pasalnya,  dalam  kitab Shahih Bukhari beliau menulis judul bab:   “Bab dalil-dalil tentang bolehnya menggunakan khabar ahad yang shahih               dalam masalah adzan, shalat, puasa, waris dan ahkam” Padahal  Al   Bukhari   tidak   menyebutkan i’tiqad atau ‘aqaa-id  dalam kalimat  tersebut,  sehingga  diklaim  bahwa  beliau  tidak  berhujjah  dengan hadits  ahad  dalam  masalah  aqidah.  Padahal  faktanya,  Al  Bukhari  banyak meriwayatkan hadits-hadits Ahad dalam masalah aqidah di Shahih Bukhari. Adapun judul bab yang beliau buat demikian, justru untuk membantah orang- orang yang menolak kehujjahan hadits ahad secara umum. Dan yang paling penting  dan  perlu  digaris-bawahi  adalah, Imam  Al  Bukhari  mengimani  dari Aisyah radhiallahu'anha                           

adanya adzab kubur dan alam kubur. Sebagaimana telah kami singgung pada bagian dalil-dalil Al Qur’an tentang adanya alam kubur.   Selain beliau, Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani pun seringkali di-’catut’ dengan cara demikian. Padahal beliau dalam kitab Fathul Baari, menyetujui aqidah  Imam  Al  Bukhari  dalam  mengimani  adzab  kubur  dan  menyelisihi orang-orang yang menafikannya. Ketika beliau mengomentari kalimat:   Ibnu    Hajar rahimahullah  berkata:  “Seolah-olah,  maksud  Al  Bukhari mendahulukan  penyebutan  ayat-ayat  ini  karena  ingin  menjelaskan  bahwa pembahasan adzab kubur ada dalam Al Qur’an, menyelisihi sebagian orang yang  mengklaim  bahwa  pembahasan  adzab  kubur  hanya  ada  dalam  hadits ahad”116.      Selebihnya, nama-nama ulama yang mereka sebutkan untuk melariskan pemahaman menyimpang mereka, biasanya berasal dari kalangan ulama yang terpengaruh ilmu kalam atau pemikiran mu’tazilah. 116Fathul Baari, 4/443 115 HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589, 
Read More

Sabtu, 03 Oktober 2026

HADITS-HADITS TENTANG ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH

 HADITS-HADITS TENTANG  ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD  BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH 

 SYUBHAT 2 ADANYA ALAM  KUBUR   

Penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin  Al  Albani rahimahullah yang sudah kami kutip sebelumnya sudah mewakili dalam menjawab syubhat ini.  Ringkasnya,  hadits-hadits tentang adanya adzab kubur itu mutawatir bukan hadits ahad.Sampai-sampai  Ibnu Qutaibah  rahimahullah mengatakan:                                    

 

HADITS-HADITS TENTANG  ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD  BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH

  “Banyak sekali hadits tentang Munkar dan Nakir serta tentang adzab kubur.    Juga banyak hadits tentang doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati, aku   berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari   dari fitnah al masih ad dajjal”. Hadits-hadits ini semua shahih, yang tidak  mungkin para perawinya bersepakat untuk berdusta. Andaikan hadits-hadits   seperti ini tidak dikatakan shahih, maka tidak ada hadits yang shahih sama  sekali dalam agama kita. Dan andaikan hadits-hadits seperti ini tidak    dikatakan shahih, maka tidak ada lagi model hadits yang derajatnya lebih shahih lagi”.      

Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyah rahimahullah juga berkata,  “Mutawatir terbagi menjadi ‘aam dan khas. Bagi para ulama yang paham hadits dan fiqih ada hadits-hadits mutawatir bagi mereka yang tidak dianggap mutawatir oleh orang   awam.   Semisal   hadits   tentang   sujud   sahwi,   kewajiban   syuf’ah, kewajiban  membayar  diyat  bagi  yang  berakal,  kewajiban  merajam  pezina yang muhshan, hadits-hadits ru’yah, adzab kubur, ….. ”. Namun  perlu  digaris-bawahi  pula,  andaikan  hadits-hadits  tentang  alam kubur  atau  tentang  masalah  lain  adalah  hadits  Ahad  pun  tetap  merupakan hujjah.  Penjelasan  rinci  mengenai  hal  ini  akan  mencakup  banyak  bab  dari ilmu  ushul  fiqh  yang  tidak  mungkin  kami  paparkan  pada  kesempatan  ini.

Semoga  beberapa  poin  di  bawah  ini  cukup  memberikan  pencerahan  bahwa hadits Ahad adalah hujjah, baik dalam masalah aqidah atau bukan: a. Wajib beramal dengan hadits ahad adalah ijma para ulama-ulama   Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku tidak mengetahui adanya fuqaha  kaum  muslimin  yang  berselisih  pendapat  dalam  menetapkan  khabar ahad, sebagaimana yang baru saja saya jelaskan bahwa hadits-hadits ahad ada pada mereka semua”.  Al  Khatib  Al  Baghdadi rahimahullah berkata:  “Beramal  dengan  hadits Ahad  adalah  pendapat  semua  ulama  tabi’in  dan  setelah  mereka,  yaitu  para ulama-ulama di semua zaman sampai zaman kita ini (zamannya Al Khatib, -pent).  Dan  saya  tidak  mengetahui  adanya  seorang  di  antara  mereka  yang mengingkarinya atau menolaknya”105. b. Dalil-dalil wajibnya beramal dengan hadits ahad Dalil Al Qur'an Allah Ta’ala berfirman,  “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke  medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara   mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya  Sisi pendalilan dari ayat ini ada dua: 

Pertama,   Allah  memerintahkan tha'ifah   untuk   memberi   peringatan kepada kaumnya. Sedangkan secara bahasa:     “Tha'ifah dari sesuatu artinya bagian dari sesuatu, atau berjumlah satu atau   lebih, atau berjumlah di antara 1 sampai 1000, atau paling sedikit satu atau  dua”. Ini menunjukkan tegaknya kebenaran walau hanya dari satu orang atau dua orang. Dan kebenaran itu wajib diterima oleh kaumnya.     

Kedua,   Allah   menyebutkan   manfaat   adanya   beberapa   orang   yang mendalami agama yaitu ‘supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ‘. Andai hujjah tidak bisa diterima dari satu atau sedikit orang, tentu manfaat tersebut tidak tercapai dan konsekuensinya ayat ini tidak benar. Dalil hadits      Hadits-hadits mutawatir tentang  Rasulullah shallallahu   ‘alaihi   wa sallam  mengutus  utusan,  amil  zakat,  hakim  hanya  satu  orang  saja  kepada sekelompok  orang. Sebagaimana diutusnya Mua’dz bin Jabal radhiallahu'anhu:   “Engkau akan mendatangi kaum yang terdiri dari ahli kitab. Ajaklah mereka  untuk bersyahadat ‘Laailaaha Illallah Wa Anna Muhammadan Rasulullah’,   jika mereka mau taat, ajarkanlah mereka untuk shalat lima waktu sehari- semalam….”.    

 Imam Asy Syafi’i berkata, “Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah mengutus seseorang utusan kecuali sendirian. Ini adalah bukti berita yang dibawa oleh satu orang utusan tersebut adalah benar, Insya Allah”.Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu’anhu,   Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan  menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka  karena doa mereka meliputi dari belakang mereka Di  sini  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi  wa  sallam mendoakan imra-an yang menyampaikan hadits. Sedangkan imra-an itu artinya satu orang. Dalil ijma' Ijma para sahabat bahwa khabar ahad itu diterima. Di antara dalil ijma ini adalah hadits tentang pindahnya kiblat yang hanya dikabarkan oleh satu orang yang menyampaikan kabar dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalallam. Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu,                                  

“Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian turun ayat (yang artinya) :  “Kami melihat wajahmu(Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan  engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah    Masjidilharam  (QS. Al Baqarah: 144). Lalu lewatlah seorang lelaki dari     Bani Salamah, ketika orang-orang sedang shalat dalam posisi rukuk (di masjid). Dan mereka sudah melalui satu raka'at.

Orang tersebut pun menyeru:    “Ketahuilah... kiblat telah diubah!”. Seketika itu orang-orang yang shalat segera mengubah arah kiblatnya”112. Andaikan para sahabat tidak menerima khabar ahad, maka mereka tidak akan mengubah arah kiblat karena kabar dari satu orang saja.  Hadits ahad adalah hujjah dalam masalah hukum ataupun akidah Dalil-dalil yang ada di

poin b menunjukkan bahwa kebenaran atau hujjah itu diterima dari satu orang tanpa dirinci apakah perkaran aqidah atau bukan, berlaku secara umum dan mutlak. Bahkan hadits Muadz bin Jabal berbicara masalah  aqidah.  Ibnu  ‘Abdil  Barr rahimahullah  berkata,  “Semua  perkara aqidah  mengenai  asma  dan  sifat  Allah  Ta’ala  hanya  diketahui  dari  nash Kitabullah  dan  hadits  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih atau  dari ijma  ulama.  Sedangkan  yang  berasal  dari  hadits  ahad,  semuanya diterima dan tidak ada perdebatan tentang ini”.Adapun   membeda-bedakan   penyikapan   hadits  Ahad   dalam   masalah aqidah  dan  masalah  hukum  adalah  keyakinan  baru  dalam  Islam,  yang merupakan  bid’ah.  Pembedaan  seperti  ini  tidak  pernah  dikenal  oleh  salah seorang  sahabat  Nabi,  tidak  juga  oleh  tabi’in,  tabi’ut  tabi’in,  juga  tidak dikenal  oleh  para  Imam.  Pembedaan  seperti  ini  hanya  dikenal  dari  tokoh- tokoh ahlul bid’ah dan yang mengikuti mereka.

Keyakinan   bahwa   masalah   aqidah   harus   ditetapkan   dengan   hadits mutawatir  itu  sendiri  merupakan  sebuah  aqidah  (keyakinan)  dalam  agama. Kalau   mereka   konsisten, hendaknya mereka   mendatangkan   dalil  

Hadits mutawatir adalah hadits shahih yang diriwayatkan dari banyak jalan sehingga tidak ada kemungkinan semua perawinya bersepakat untuk berdusta.

Syarat suatu hadits dikatakan sebagai hadits mutawatir ada 4:     

1. Diriwayatkan dari banyak jalan. Walaupun ulama khilaf tentang batasan “banyak” dalam kriteria ini. Sebagian ulama  mengatakan 10 jalan, sebagian yang lain mengatakan 20 jalan, 30 jalan, 100 jalan, 200 jalan atau 300 jalan.   

2. Banyaknya jalan tersebut terjadi di setiap thabaqah-nya    

3. Mustahil terjadinya tawathu' 'ala kadzib (perawi bersepakat untuk berdusta dalam periwayatannya)    

4. Sandaran penerimaan khabar adalah secara hissi (secara inderawi)

 

(lihat  Taisir Musthalah Hadits, Syaikh MahmudAth Thahhan, halaman 19 – 20).

Hadits ahad adalah hadits yang tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai hadits mutawatir. Dengan kata lain, hadits  yang tidak mutawatir, maka ia hadits ahad. Menilik pada definisi hadits mutawatir, misalnya jika hadits mutawatir adalah yang diriwayatkan dari 10 jalan, maka hadits yang diriwayatkan dari 9 jalan tergolong dalam hadits ahad.Dan perlu diketahui bahwa hadits ahad berbeda dengan hadits gharib. Hadits gharib adalah hadits yang diriwayatkan dari satu jalan saja. Walaupun memang, hadits gharib termasuk dalam kategori hadits ahad juga. 101 Abu Muhammad Abdullah bin Abdil Majid bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuri. Ia adalah seorang ahli lughah (bahasa Arab) yang terkenal. Beliau belajar hadits dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Ishaq Ibrahim Az Ziyadi, Abu Hatim As Sijistany. Ia banyak mengarang kitab yang bermanfaat diantaranya adalah kitab Gharibul Quran, Gharibul Hadits, Uyunul Akhbar, Musykilul Quran, Musykilul Hadits, Kitab I’rabil Qur'anal Ma’arif dan Adabul Katab. Diantara murid-muridnya adalah anaknya, Ja’far Ahmad al Faqih dan Ibnu Dusturaih Al Farisy. Wafat pada tahun 236H.    Sumber :112 HR. Muslim no.527 113Jaami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih, 2/96 114 Lihat Mukhtashar Shawa’iqil Mursalah, 503 110 HR. Ibnu Majah no. 2498, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah 111 Lihat Al Kifayah, 43-45; Raudhatun Nazhir  1/268-274; Syarh Kaukab Al Munir, 2/369-375

108 HR. Muslim no.19 109Ar Risalah, halaman 415

105Al Kifayah, halaman 48 106 QS. At Taubah: 122 107 Lihat Al Qamus Al Muhith

102 Ta'wil Mukhtalafil Hadits, 1/152 103Majmu’ Al Fatawa, 18/69 104Ar Risalah, halaman 457-458

99                                                             

Read More

Jumat, 02 Oktober 2026

BEBERAPA AYAT QUR’AN MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR

 

BEBERAPA AYAT QUR’AN  MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA ADZAB DAN  NIKMAT KUBUR 

SYUBHAT 1 ADANYA ALAM  KUBUR     

Sebelumnya, dalam membahas syubhat ini kita perlu meyakini bahwa Al Qur’an dan hadits itu adalah kebenaran, dan tidak ada kebenaran yang saling bertentangan. Allah Ta’ala berfirman: “Apakah engkau tidak men-tadabburi Al Qur’an? Andaikan Al Qur’an itu  bukan dari sisi Allah tentu akan banyak pertentangan di dalamnya”. Begitu  juga,  wajib  meyakini  bahwa  hadits  Nabi shallallahu  ‘alaihi  wa sallam adalah wahyu. Sebagaimana firman Allah ta'ala:   “Apa yang diucapkan olehnya (Muhammad) itu bukanlah dari hawa nafsu, melainkan wahyu”. Maka, Al Qur’an tidak akan bertentangan dengan Al Qur’an, Al Qur’an pun   tidak   akan bertentangan dengan  hadits dan hadits tidak akan bertentangan dengan hadits.  

BEBERAPA AYAT QUR’AN  MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA ADZAB DAN  NIKMAT KUBUR


Dengan  kata lain,ayat  Al Qur’an saling menafsirkan,  demikian  juga  ayat Al  Qur’an  dan  hadits  saling  menafsirkan. Oleh  karena  itulah  kita  hendaknya  merujuk  kepada  para  ulama,  karena merekalah yang mampu mendudukkan ayat dengan ayat, hadits dengan hadits serta  ayat  dengan  hadits  sesuai  tempatnya  sehingga  jelas  bahwa  tidak  ada pertentangan.

Ayat pertama   Allah ta'ala berfirman: “Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan  kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang  Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya) .Jika  orang  yang  mati  dikatakan  ‘tidur’  setelah ia  mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada adzab kubur atau nikmat kubur. Demikian logika ahlul bid’ah yang menolak   adanya adzab   kubur,   dan   memang demikianlah mereka memahami ayat-ayat Allah dengan logika tanpa merujuk kepada ahlinya. Jawaban:  Kalau kita merujuk para ahli tafsir dari kalangan sahabat sampai ulama mu’ashiriin,Ubay  bin  Ka’ab radhiallahu’anhu,  Khaitsamah,  Mujahid  dan Qatadah  menafsirkan  maksud  dari  ‘tidur’  dalam  ayat  ini  adalah:  “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Qatadah juga menambahkan: “Itu terjadi    di   antara dua tiupan sangkakala”.Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah  juga  menjelaskan:  “Ayat  ini  tidak  menafikan  adanya  adzab kubur,  karena  jika  dibandingkan  dengan  apa  yang  terjadi  setelahnya,  yang terjadi di alam kubur seperti tidur”.

Ayat ke dua  Allah ta'ala berfirman:“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai  dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata  (mereka) terbelalak.Dalam ayat ini dikatakan Allah memberi tangguh, artinya   tidak mengadzab  mereka,  sampai  hari  ketika  mata  manusia  terbelalak,  yaitu  hari kiamat. Demikian logika mereka.Padahal  jika  kita  menilik  penjelasan  para  ulama  tafsir, Al  Hafidz  Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan  makna“Allah  memberi  tangguh  kepada mereka: “dikatakan demikian karena begitu ‘ngerinya’ keadaan mereka di hari kiamat”. Al Baghawi rahimahullah menafsirkan: “Tidak akan menimpa mereka  kengerian  semisal  yang  akan  mereka  dapatkan  di  hari  kiamat”.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil,maka setelahnya lebih berat  jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya perbandingan antara siksa kubur dengan  siksa  mereka kelak di hari kiamat,  hingga ketika  mereka  masih disiksa di alam kubur dianggap masih dalam masa penangguhan. Sebagian  ulama  memang  menafsirkan  secara  mutlak  bahwa  maknanya adalah “mereka tidak akan mendapat adzab hingga hari kiamat”, namun yang dimaksud adalah sebagaimana   yang diungkapkan   Ibnu   Katsir dan Al Baghawi  di  atas.  Karena  faktanya,  sebagian  orang  kafir  bahkan  diadzab ketika mereka masih hidup. Dan perlu   dicatat,   para   ahli   tafsir   yang menafsirkan secara mutlak demikian tidak ada yang memahami bahwa ayat ini menafikan adzab kubur. Jadi memahami ayat ini dengan pemahaman para penolak adanya adzab   kubur, adalah   pemahaman   baru   yang   tidak   ada pendahulunya, serta bertentangan dengan ratusan dalil.

Ayat ke tiga  Allah ta'ala berfirman:“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang   berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran)”. Menurut logika para penolak adanya adzab kubur, berdasarkan ayat ini, antara  matinya  seorang  manusia  dengan  hari  kebangkitan  itu  hanya  terasa sesaat saja, hingga seorang manusia merasakan seolah setelah mati tiba-tiba sudah dibangkitkan.

Maka tidak ada alam kubur yang dia merasakan adzab atau nikmat.Para  ahli  tafsir  menjelaskan  mengenai  makna  ‘sesaat’,Al  Baidhawi rahimahullah  berkata,  “Maksudnya  adalah masa  di  alam  kubur  dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan dengan lamanya siksaan mereka di akhirat kelak. Atau penafsiran yang lain, mereka lupa akan lamanya berada di alam kubur”.  Sebagian  ahli  tafsir  memaknai  bahwa  maksudnya  adalah  masa ketika  hidup  di  dunia, Al  Baghawi rahimahullah  mengatakan,  “Maksudnya adalah masa di dunia dianggap   terlalu   sebentar dibandingkan   dengan akhirat”. Seluruh tafsiran di atas tidak ada yang bertentangan dengan dalil- dalil adanya adzab kubur.

Dan  sekali  lagi  perlu  di  catat,  tidak  ada  ahli  tafsir  yang  memahami bahwa ayat ini menafikan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa ayat ini dengan dalil-dalil shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah bertentangan.Demikianlah  beberapa  ayat  yang  menjadi  ‘syubhat’  karena  dipahami secara  salah  oleh  para  pengikut  hawa  nafsu.Tidak  menutup  kemungkinan adanya   ayat   lain   yang   mereka   gunakan   untuk   melariskan pemahaman menyimpang  mereka,  namun  cukuplah  kita  meyakini  bahwa  di  antara  dalil tidak ada yang saling bertentangan.

Sumber :

97 Anwar At Tanziil, 4/488 98 Ma’alim At Tanzil, 6/278 96 QS. Ar Rum: 55

92 QS. Ibrahim: 42 93  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 4/515 94 Ma’alim At Tanzil, 4/359 95 Telah berlalu takhrij hadits ini

89 QS. Yaasin: 52 90 Lihat Tafsir Ath Thabari, 20/532 91  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 6/581

87 QS. An Nisa: 82 88 QS. An Najm: 3-4                                         

Read More

Kamis, 01 Oktober 2026

golongan yang menolak adanya azab kubur

 “Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang memiliki  dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka  juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. 

golongan yang menolak adanya azab kubur

Padahal para sahabat dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”.  Al Lalika'i rahimahullah membuat judul bab:  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam  bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu  Ja'far Ath Thahawi  rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan:  “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.Dan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”. 

Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Read More

Rabu, 30 September 2026

DALIL IJMA ADANYA ALAM KUBUR

 DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR

Akidah tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur,  adanya  pertanyaan  Malaikat  di  alam  kubur,  adalah akidah yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah  di  antara mereka.

DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR

Yang   menyelisihi   mereka adalah ahlul bid'ah  dari kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah berkhutbah: Rasulullah  Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya  Dajjal, mendustakan adanya syafa'at, mendustakan adanya adzab kubur, dan    mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika itu  Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.                              

 ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik berkata: jangan kalian  bermajelis dengan mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya. Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236                           

disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutupkepala dari besi panas padanya”. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau mengatakan:“(Di antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya adzab kubur, dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan didatangi oleh malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah”.Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:                               

   “Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang memiliki  dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka    juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”.  Al Lalika'i rahimahullah membuat judul bab:  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam  bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu  Ja'far Ath Thahawi  rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan:  “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.

Dan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”. Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”.                               

      Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan bahwasanya  manusia akan diuji di dalam kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya di sana. Allah pun akan mengokohkan    orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya  kecuali ahlul bid'ah”.  Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:  

 “Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab kubur”.Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan:  “Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat banyak riwayatnya, dan mencapai  level mutawatir dari segi makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur. Berbeda dengan sebagian ahlul bid'ah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini bahwa mayit ketika meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di alam kubur). Dan itu akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap ada setelah berpisah dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat atau mendapat adzab. Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya, sehingga ketika itu ruh dan badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya, sebagaimana ditegaskan di dalam as-Sunnah dan  zahir  dari  ayat-ayat  Al  Qur'an,  serta  ijma'  ulama  kaum  Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya. Adapun   dalil   dari   as-Sunnah   adalah   sabda   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan   kepada Allah dari adzab kubur! Adapun   dalil  ijma',   yaitu   para   ulama   sepakat   menganjurkan   untuk membaca doa berikut ini dalam shalat: “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab Jahannam dan dariadzab kubur .Sampai-sampai  orang  awam  yang  bukan  ahlul  ijma'  juga  menyepakati halini. Adapun zahir dari ayat Al Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras  ” (QS.Ghafir: 46)”86.

Nukilan-nukilan  di  atas  secara  jelas  menunjukkan  bahwa  para  ulama Ahlussunnah  ijma'  (sepakat)  dalam  mengimani  adanya  alam  kubur,  nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur. Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.

Sumber :

82 Majmu' Al Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83  Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin, seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no. 3558 85  HR. Al Bukhari no.1377, Muslim no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu  Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322 80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau tokoh-tokoh penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan Parsi. Ali Al Qari lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar di bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H.  81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368 74  Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau wafat pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358 76  Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil Malik bin Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki. Beliau juga ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau adalah salah satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum Muslimin. Beliau wafat pada tahun 449H. 77  Syarhu Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78  Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus. An Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits. Kitab Riyadhus Shalihin, Al Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al Majmu' Syarhul Muhadzab, Al Adzkar , adalah karya-karya beliau yang  berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum Muslimin di seluruh dunia. Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 70 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni, seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 65  Al Ibanah, halaman 4 66  Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan Ath Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama al-Lalika'i. Seorang ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab Syafi'i. Wafat pada tahun 418H. 67  Syarhu Ushuli Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68  Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H. 61  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani, seorang imam besar Ahlussunnah dari Iraq. Tokoh  besar dalam bidang fikih dan hadits. Kepada diri beliaulah madzhab Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah salah satu karya beliau yang fenomenal dan dipelajari kaum Muslimin seluruh dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64  Ali bin Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan kepadanya pemahaman Asy'ariyah. Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman tersebut dan rujuk kepada akidah salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.
Read More

Selasa, 29 September 2026

Bagaimana gambaran azab dan nikmat kubur

 ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik berkata: jangan kalian  bermajelis dengan mereka!”.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya.

Bagaimana gambaran azab dan nikmat kubur


 Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutup kepala dari besi panas padanya”.

Read More

Senin, 28 September 2026

DALIL IJMA ADANYA ALAM KUBUR

 DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR

Akidah tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur,  adanya  pertanyaan  Malaikat  di  alam  kubur,  adalah akidah yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah  di  antara mereka.Yang   menyelisihi   mereka adalah ahlul bid'ah  dari kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.

DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR


Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah berkhutbah: Rasulullah  Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya  Dajjal, mendustakan adanya syafa'at, mendustakan adanya adzab kubur, dan    mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika itu  Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.                              

 ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik berkata: jangan kalian  bermajelis dengan mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya. Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236                           

disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutupkepala dari besi panas padanya”. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau mengatakan:“(Di antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya adzab kubur, dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan didatangi oleh malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah”.Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:                               

   “Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang memiliki  dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka    juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”.  Al Lalika'i rahimahullah membuat judul bab:  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam  bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu  Ja'far Ath Thahawi  rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan: “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.

Dan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”. Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”.                                

 Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan bahwasanya  manusia akan diuji di dalam kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya di sana. Allah pun akan mengokohkan    orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya  kecuali ahlul bid'ah”.  Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:  

 “Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab kubur”.Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan:    “Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat banyak riwayatnya, dan mencapai  level mutawatir dari segi makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur. Berbeda dengan sebagian ahlul bid'ah”.       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini bahwa mayit ketika meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di alam kubur). Dan itu akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap ada setelah berpisah dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat atau mendapat adzab. Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya, sehingga ketika itu ruh dan badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya, sebagaimana ditegaskan di dalam as-Sunnah dan  zahir  dari  ayat-ayat  Al  Qur'an,  serta  ijma'  ulama  kaum  Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya.

 Adapun   dalil   dari   as-Sunnah   adalah   sabda   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan   kepada Allah dari adzab kubur! Adapun   dalil  ijma',   yaitu   para   ulama   sepakat   menganjurkan   untuk membaca doa berikut ini dalam shalat: “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab Jahannam dan dariadzab kubur .Sampai-sampai  orang  awam  yang  bukan  ahlul  ijma'  juga  menyepakati halini. Adapun zahir dari ayat Al Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras  ” (QS.Ghafir: 46)”86.

 

Nukilan-nukilan  di  atas  secara  jelas  menunjukkan  bahwa  para  ulama Ahlussunnah  ijma'  (sepakat)  dalam  mengimani  adanya  alam  kubur,  nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur. Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.

Sumber :

82 Majmu' Al Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83  Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin, seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no. 3558 85  HR. Al Bukhari no.1377, Muslim no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu  Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322 80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau tokoh-tokoh penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan Parsi.

Ali Al Qari lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar di bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H.  81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368 74  Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau wafat pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358 76  Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil Malik bin Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki. Beliau juga ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau adalah salah satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum Muslimin. Beliau wafat pada tahun 449H. 77  Syarhu Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78  Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus. An Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits. Kitab Riyadhus Shalihin, Al Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al Majmu' Syarhul Muhadzab, Al Adzkar , adalah karya-karya beliau yang  berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum Muslimin di seluruh dunia. Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 70 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni, seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 65  Al Ibanah, halaman 4 66  Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan Ath Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama al-Lalika'i. Seorang ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab Syafi'i. Wafat pada tahun 418H. 67  Syarhu Ushuli Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68  Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.

Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H. 61  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani, seorang imam besar Ahlussunnah dari Iraq. Tokoh  besar dalam bidang fikih dan hadits. Kepada diri beliaulah madzhab Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah salah satu karya beliau yang fenomenal dan dipelajari kaum Muslimin seluruh dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64  Ali bin Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan kepadanya pemahaman Asy'ariyah. Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman tersebut dan rujuk kepada akidah salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.                                             

Read More