Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Minggu, 09 Agustus 2026

bagaimana kondisi azab dan nikmat kubur itu

 Maka, hukuman berupa neraka ini terjadi di alam barzakh. Sebagaimana Allah ta'ala berfirman  (yang  artinya)  : 

“Neraka  ditunjukkan  kepada  mereka  pagi  dan sore hari     (QS. Ghafir: 46). Ini terjadi di alam barzakh, sebelum hari akhirat. Neraka ditunjukkan kepada mereka di pagi dan sore hari sampai hari Kiamat. Ini adalah dalil tentang adanya adzab kubur. Wal 'iyyadzubillah”.Dan masih banyak lagi dalil dari Al Qur’an Al Karim yang menetapkan adzab kubur sekiranya kita mau merujuk pada penjelasan para ulama. 38 HR. Abu Daud no.4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud. 39 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 440 40 QS. Nuh: 25 41 Syarhu Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51

hal yang dialami oleh penghuni kubur

Menurut opini penulis yang fakir ini dialam kubur orang yang sudah meninggal hanya akan merasakan hawa surga atau neraka dan ditampakan kepedihan atau kenikmatan kelak di surga atau neraka tergantung perbuatan masing-masing jadi masih belum siksaan seperti yang ada di dalam neraka hanya kemungkinan siksaan atau azab itu datang dari malaikat munkar dan nakir tetapi para penghuni kubur menunggu datangnya hari kiamat hanya dengan menyaksikan kenikmatan surga bagi para kaum mukmin dan menyaksikan penderitaan neraka bagi para pendosa

Read More

Sabtu, 08 Agustus 2026

Bagaimana kondisi sakaratul kaum mukmin

Bagaimana kondisi sakaratul kaum mukmin

Surat An-Nahl ayat 32

الَّذِيۡنَ تَتَوَفّٰٮهُمُ الۡمَلٰۤٮِٕكَةُ طَيِّبِيۡنَ ۙ يَقُوۡلُوۡنَ سَلٰمٌ عَلَيۡكُمُۙ ادۡخُلُوا الۡجَـنَّةَ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ‏ ٣٢

(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik,mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), "Salāmun 'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan."

Bagaimana kondisi sakaratul kaum mukmin

Ath  Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Maksudnya, para  Malaikat  mencabut  ruh  mereka  orang-orang  yang  bertakwa  sambil mengatakan: “Salamun   'alaikum!   Masuklah   ke   surga”. Sebagai kabar gembira  dari  Allah  yang disampaikan oleh  para  Malaikat”. Mengenai al busyra atau kabar gembira di saat kematian ini, akan dijelaskan lebih detail di bab “Al busyra menjelang kematian” di buku ini.      

Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Di  antara  akidah  Ahlussunnah  wal  Jama'ah  adalah  menetapkan  adanya nikmat  kubur.  Dalilnya  firman Allah ta'ala  ...  (beliau  menyebutkan  ayat  di atas). Mereka diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan baik, maksudnya baik akidah mereka, dan baik pula amalan mereka. Maka para Malaikat pun berkata  menjelang  kematian  si  hamba  tersebut,  “masuklah  ke  dalam  surga karena apa yang telah kamu kerjakan!”. Ini dikatakan oleh para Malaikat di hari ketika si hamba wafat”37.   Jika  ada  yang  bertanya,  “Andai  kejadian  ini  terjadi  di  alam  kubur, mengapa       dikatakan  “masuklah   ke   dalam   surga...  ?   Bukankah   hal   ini menunjukkan kejadian tersebut terjadi di akhirat?”. Jawabannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Ath Thabari, rahimahullah bahwa perkataan  “masuklah ke  dalam  surga...       itu  adalah  kabar  gembira dari  para  Malaikat.

 Sehingga tidak bertentangan dengan keterangan bahwa perkataan tersebut disampaikan di alam kubur.  Demikian juga Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah 35 QS. An Nahl: 32 36 Tafsir Ath Thabari, 7/580 37 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 439   

 menjelaskan: “Dikatakan demikian karena terdapat dalam sebuah hadits yang shahih: “Ia  akan  diluaskan  kuburnya,  dan  akan  dibukakan  baginya  pintu surga.   Sehingga   ia   mendapatkan   harum   dan   nikmatnya   surga   yang menyejukkanmatanya. 

S e m o g a    k i t a  t e r m a s u k  o r a n g   y a n g mendapatkannya. Dan dalam firman Allah ta'ala (yang artinya) “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan”, huruf ba' di sini adalah ba'   sababiyah”39.   Sehingga   dalam   ayat   ini   para   Malaikat   seolah   ingin mengatakan: “kamu akan masuk surga karena telah melakukan sebab-sebab yang membuat seseorang masuk surga”. Bukan berarti si hamba masuk surga ketika itu.

Read More

Jumat, 07 Agustus 2026

bagaimana sakaratul maut bagi para pendosa

 Sakaratul maut adalah istilah dalam Islam yang merujuk pada kondisi menjelang kematian. Saat itu, seseorang mengalami penderitaan atau pergolakan yang berat.

sakaratul maut bagi para pendosa


Surat At-Taubah 101

وَمِمَّنۡ حَوۡلَــكُمۡ مِّنَ الۡاَعۡرَابِ مُنٰفِقُوۡنَ​​ ۛؕ وَمِنۡ اَهۡلِ الۡمَدِيۡنَةِ ۛ مَرَدُوۡا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعۡلَمُهُمۡ ؕ نَحۡنُ نَـعۡلَمُهُمۡ ؕ سَنُعَذِّبُهُمۡ مَّرَّتَيۡنِ ثُمَّ يُرَدُّوۡنَ اِلٰى عَذَابٍ عَظِيۡمٍ ۚ‏ ١٠١

Dan di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar

Yang dimaksud dengan “mereka akan Kami siksa dua kali” dalam ayat ini,  menurut  Qatadah  dan  Muhammad  bin  Ishaq  adalah  adzab  kubur  dan adzab di akhirat. Sedangkan menurut Al Hasan Al Bashri, salah satu riwayat dari  Qatadah  dan  Ibnu  Juraij rahimahumullah  adalah  adzab  ketika  masih hidup di dunia dan adzab kubur. 

 Ath  Thabari rahimahullah merajihkan dengan mengatakan: “Dua adzab tersebut terjadi sebelum mereka diadzab di neraka. Dan pendapat yang kuat, salah satu dari adzab tersebut adalah adzab kubur” 25 Tafsir At Thabari no.17130, Tafsir Al Qur'anil Azhim (7/273) 26 Tafsir At Thabari no.17131, 17132, 17133 27 Tafsir Ath Thabari, 14/445   

Surat Al-Anfal ayat 50-51

وَ لَوۡ تَرٰٓى اِذۡ يَتَوَفَّى الَّذِيۡنَ كَفَرُوا ۙ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ يَضۡرِبُوۡنَ وُجُوۡهَهُمۡ وَاَدۡبَارَهُمۡۚ وَذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِيۡقِ‏ ٥٠   

       ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَاَنَّ اللّٰهَ لَـيۡسَ بِظَلَّامٍ لِّـلۡعَبِيۡدِۙ‏  ٥١

                                                                                                                                                           

Dan andaikan kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang- orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan    berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya"

Syaikh  Khalid  Al  Mushlih hafizhahullah  menjelaskan  ayat  ini,  beliau mengatakan,     “Allah  'azza  wa  jalla  menyebutkan    berfirman  (yang  artinya),  “Rasakanlah  olehmu  siksa  neraka  yang membakar”. Setelah itu Allah menyebutkan tentang adzab yang membakar, yaitu  adzab  neraka.  Semoga  Allah  ta'ala  memberikan  keselamatan  kepada kita    dari   semua   itu” Syaikh Muhammad bin Shalih  Al Utsaimin rahimahullah  juga  menyebutkan  ayat  ini  sebagai  salah  satu  dalil  tentang adanya adzab kubur.

50 – 51 29 Syarhu Lum'atil I'tiqad, 12/12 30 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah, hal. 437

Surat Al-An’am 93

وَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَـرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوۡ قَالَ اُوۡحِىَ اِلَىَّ وَلَمۡ يُوۡحَ اِلَيۡهِ شَىۡءٌ وَّمَنۡ قَالَ سَاُنۡزِلُ مِثۡلَ مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُؕ وَلَوۡ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِىۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَالۡمَلٰٓٮِٕكَةُ بَاسِطُوۡۤا اَيۡدِيۡهِمۡۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَكُمُؕ اَلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡهُوۡنِ بِمَا كُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَى اللّٰهِ غَيۡرَ الۡحَـقِّ وَكُنۡتُمۡ عَنۡ اٰيٰتِهٖ تَسۡتَكۡبِرُوۡنَ‏ ٩٣

“Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan   dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan  terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”

As Safarini rahimahullah mengatakan, “Ulama seorang muhaqqiq, Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ar Ruh, bahwa di antara dalil adanya adzab dan nikmat  kubur  dalam  Al  Qur'an  Al  Majid  adalah  ayat  “Sekiranya  engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut... ”  (QS. Al An'am:  93).  Konteks  ayat  ini  secara  jelas  bicara  tentang kejadian ketika menjelang kematian”. Syaikh Shalih bin Fauzan Al  Fauzan hafizhahullah   menjelaskan,“Konteks dari ayat ini, kejadian tersebut terjadi ketika menjelang kematian.

Dalam  ayat  ini  disebutkan  bahwa Malaikat  mengabarkan  (dan  Malaikat adalah makhluk yang jujur) bahwa ketika itu si mayit merasakan adzab yang menghinakan.  Jika  adzab  yang  menghinakan  tersebut  terjadi  ketika  dunia berakhir,  maka  tidak  tepat  perkataan  Malaikat  “pada  hari  ini  kamu  akan dibalas”.  Sehingga  ini  menunjukkan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  “adzab yang menghinakan” itu adalah adzab kubur”.Syaikh Muhammad  bin    Shalih   Al     Utsaimin rahimahullah juga menyebutkan ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya adzab kubur34. Dalil ke tujuh Allah ta'ala berfirman: 31 QS. Al An'am: 93 32 Lawaihul Anwar As Saniyyah wa Lawaqihul Afkar As Saniyyah, 2/157 33 Al Irsyad ila Shahihil I'tiqad, hal. 275 34 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah (hal. 437) dan juga Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah (hal. 443)  

Read More

Kamis, 06 Agustus 2026

Peristiwa sakaratul Maut dalam Al-Qur’an

 Peristiwa sakaratul Maut dalam Al-Qur’an

Sakaratul maut adalah istilah dalam Islam yang merujuk pada kondisi menjelang kematian. Saat itu, seseorang mengalami penderitaan atau pergolakan yang berat.

Peristiwa sakaratul Maut dalam Al-Qur’an


Surat At-Taubah 101

وَمِمَّنۡ حَوۡلَــكُمۡ مِّنَ الۡاَعۡرَابِ مُنٰفِقُوۡنَ​​ ۛؕ وَمِنۡ اَهۡلِ الۡمَدِيۡنَةِ ۛ مَرَدُوۡا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعۡلَمُهُمۡ ؕ نَحۡنُ نَـعۡلَمُهُمۡ ؕ سَنُعَذِّبُهُمۡ مَّرَّتَيۡنِ ثُمَّ يُرَدُّوۡنَ اِلٰى عَذَابٍ عَظِيۡمٍ ۚ‏ ١٠١

Dan di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar

Yang dimaksud dengan “mereka akan Kami siksa dua kali” dalam ayat ini,  menurut  Qatadah  dan  Muhammad  bin  Ishaq  adalah  adzab  kubur  dan adzab di akhirat. Sedangkan menurut Al Hasan Al Bashri, salah satu riwayat dari  Qatadah  dan  Ibnu  Juraij rahimahumullah  adalah  adzab  ketika  masih hidup di dunia dan adzab kubur. 

 Ath  Thabari rahimahullah merajihkan dengan mengatakan: “Dua adzab tersebut terjadi sebelum mereka diadzab di neraka. Dan pendapat yang kuat, salah satu dari adzab tersebut adalah adzab kubur” 25 Tafsir At Thabari no.17130, Tafsir Al Qur'anil Azhim (7/273) 26 Tafsir At Thabari no.17131, 17132, 17133 27 Tafsir Ath Thabari, 14/445   

Surat Al-Anfal ayat 50-51

وَ لَوۡ تَرٰٓى اِذۡ يَتَوَفَّى الَّذِيۡنَ كَفَرُوا ۙ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ يَضۡرِبُوۡنَ وُجُوۡهَهُمۡ وَاَدۡبَارَهُمۡۚ وَذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِيۡقِ‏ ٥٠   

       ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡكُمۡ وَاَنَّ اللّٰهَ لَـيۡسَ بِظَلَّامٍ لِّـلۡعَبِيۡدِۙ‏  ٥١

                                                                                                                                                           

Dan andaikan kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang- orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan    berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya"

Syaikh  Khalid  Al  Mushlih hafizhahullah  menjelaskan  ayat  ini,  beliau mengatakan,         “Allah  'azza  wa  jalla  menyebutkan  keadaan  mereka  yang mendapatkan adzab ketika dicabut ruh mereka. Kemudian setelah itu Allah ta'ala  berfirman  (yang  artinya),  “Rasakanlah  olehmu  siksa  neraka  yang membakar”. Setelah itu Allah menyebutkan tentang adzab yang membakar, yaitu  adzab  neraka.  Semoga  Allah  ta'ala  memberikan  keselamatan  kepada kita    dari   semua   itu” Syaikh Muhammad bin Shalih  Al Utsaimin rahimahullah  juga  menyebutkan  ayat  ini  sebagai  salah  satu  dalil  tentang adanya adzab kubur.

50 – 51 29 Syarhu Lum'atil I'tiqad, 12/12 30 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah, hal. 437

Surat Al-An’am 93

وَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَـرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوۡ قَالَ اُوۡحِىَ اِلَىَّ وَلَمۡ يُوۡحَ اِلَيۡهِ شَىۡءٌ وَّمَنۡ قَالَ سَاُنۡزِلُ مِثۡلَ مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُؕ وَلَوۡ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ فِىۡ غَمَرٰتِ الۡمَوۡتِ وَالۡمَلٰٓٮِٕكَةُ بَاسِطُوۡۤا اَيۡدِيۡهِمۡۚ اَخۡرِجُوۡۤا اَنۡفُسَكُمُؕ اَلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡهُوۡنِ بِمَا كُنۡتُمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَى اللّٰهِ غَيۡرَ الۡحَـقِّ وَكُنۡتُمۡ عَنۡ اٰيٰتِهٖ تَسۡتَكۡبِرُوۡنَ‏ ٩٣

“Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan   dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan  terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”

As Safarini rahimahullah mengatakan, “Ulama seorang muhaqqiq, Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ar Ruh, bahwa di antara dalil adanya adzab dan nikmat  kubur  dalam  Al  Qur'an  Al  Majid  adalah  ayat  “Sekiranya  engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut... ”  (QS. Al An'am:  93).  Konteks  ayat  ini  secara  jelas  bicara  tentang kejadian ketika menjelang kematian”. Syaikh Shalih bin Fauzan Al  Fauzan hafizhahullah   menjelaskan,“Konteks dari ayat ini, kejadian tersebut terjadi ketika menjelang kematian.

Dalam  ayat  ini  disebutkan  bahwa Malaikat  mengabarkan  (dan  Malaikat adalah makhluk yang jujur) bahwa ketika itu si mayit merasakan adzab yang menghinakan.  Jika  adzab  yang  menghinakan  tersebut  terjadi  ketika  dunia berakhir,  maka  tidak  tepat  perkataan  Malaikat  “pada  hari  ini  kamu  akan dibalas”.  Sehingga  ini  menunjukkan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  “adzab yang menghinakan” itu adalah adzab kubur”.Syaikh Muhammad  bin    Shalih   Al     Utsaimin rahimahullah juga menyebutkan ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya adzab kubur34. Dalil ke tujuh Allah ta'ala berfirman: 31 QS. Al An'am: 93 32 Lawaihul Anwar As Saniyyah wa Lawaqihul Afkar As Saniyyah, 2/157 33 Al Irsyad ila Shahihil I'tiqad, hal. 275 34 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah (hal. 437) dan juga Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah (hal. 443)  

Surat An-Nahl ayat 32

الَّذِيۡنَ تَتَوَفّٰٮهُمُ الۡمَلٰۤٮِٕكَةُ طَيِّبِيۡنَ ۙ يَقُوۡلُوۡنَ سَلٰمٌ عَلَيۡكُمُۙ ادۡخُلُوا الۡجَـنَّةَ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ‏ ٣٢

(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik,mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), "Salāmun 'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan."

Ath  Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Maksudnya, para  Malaikat  mencabut  ruh  mereka  orang-orang  yang  bertakwa  sambil mengatakan: “Salamun   'alaikum!   Masuklah   ke   surga”. Sebagai kabar gembira  dari  Allah  yang disampaikan oleh  para  Malaikat”. Mengenai al busyra atau kabar gembira di saat kematian ini, akan dijelaskan lebih detail di bab “Al busyra menjelang kematian” di buku ini.      

Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Di  antara  akidah  Ahlussunnah  wal  Jama'ah  adalah  menetapkan  adanya nikmat  kubur.  Dalilnya  firman Allah ta'ala  ...  (beliau  menyebutkan  ayat  di atas). Mereka diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan baik, maksudnya baik akidah mereka, dan baik pula amalan mereka. Maka para Malaikat pun berkata  menjelang  kematian  si  hamba  tersebut,  “masuklah  ke  dalam  surga karena apa yang telah kamu kerjakan!”. Ini dikatakan oleh para Malaikat di hari ketika si hamba wafat”37.   Jika  ada  yang  bertanya,  “Andai  kejadian  ini  terjadi  di  alam  kubur, mengapa       dikatakan  “masuklah   ke   dalam   surga...  ?   Bukankah   hal   ini menunjukkan kejadian tersebut terjadi di akhirat?”. Jawabannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Ath Thabari, rahimahullah bahwa perkataan  “masuklah ke  dalam  surga...       itu  adalah  kabar  gembira dari  para  Malaikat.

 Sehingga tidak bertentangan dengan keterangan bahwa perkataan tersebut disampaikan di alam kubur.  Demikian juga Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah 35 QS. An Nahl: 32 36 Tafsir Ath Thabari, 7/580 37 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 439   

 menjelaskan: “Dikatakan demikian karena terdapat dalam sebuah hadits yang shahih: “Ia  akan  diluaskan  kuburnya,  dan  akan  dibukakan  baginya  pintu surga.   Sehingga   ia   mendapatkan   harum   dan   nikmatnya   surga   yang menyejukkanmatanya. 

S e m o g a    k i t a  t e r m a s u k  o r a n g   y a n g mendapatkannya. Dan dalam firman Allah ta'ala (yang artinya) “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan”, huruf ba' di sini adalah ba'   sababiyah”39.   Sehingga   dalam   ayat   ini   para   Malaikat   seolah   ingin mengatakan: “kamu akan masuk surga karena telah melakukan sebab-sebab yang membuat seseorang masuk surga”. Bukan berarti si hamba masuk surga ketika itu.

 Maka, hukuman berupa neraka ini terjadi di alam barzakh. Sebagaimana Allah ta'ala berfirman  (yang  artinya)  : 

“Neraka  ditunjukkan  kepada  mereka  pagi  dan sore hari     (QS. Ghafir: 46). Ini terjadi di alam barzakh, sebelum hari akhirat. Neraka ditunjukkan kepada mereka di pagi dan sore hari sampai hari Kiamat. Ini adalah dalil tentang adanya adzab kubur. Wal 'iyyadzubillah”.Dan masih banyak lagi dalil dari Al Qur’an Al Karim yang menetapkan adzab kubur sekiranya kita mau merujuk pada penjelasan para ulama. 38 HR. Abu Daud no.4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud. 39 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 440 40 QS. Nuh: 25 41 Syarhu Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51

 

Read More

Rabu, 05 Agustus 2026

seperti apa azab kubur

 Gambaran azab kubur

Alam  kubur  adalah  awal  kehidupan  hakiki  dari  seorang  manusia.  Dari Utsman  bin  Affan radhiallahu’anhu, bahwa  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat “

azab kubur


Mempelajari  apa-apa  yang  terjadi  di  alam  kubur  banyak  memberikan faedah. Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu  akan  berusaha  sebisa  mungkin  selama  ia  masih  hidup  agar  menjadi orang   yang   layak   mendapatkan   nikmat   kubur   kelak.   Seseorang   yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan berusaha sebisa mungkin agar ia terhindar darinya kelak.Nikmat dan adzab kubur adalah perkara gaib yang tidak terindera oleh manusia. Manusia yang  merasakannya  pun  tentu  tidak  dapat  mengabarkan kepada  yang  masih  hidup  akan  kebenarannya.  Maka  satu-satunya  sumber HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat  Rabbaniyyah, 4/192   

keyakinan kita akan adanya adzab dan nikmat kubur adalah dalil al-Qur’an dan  as-Sunnah.  Dan  banyak  sekali  dalil  dari  Qur’an  dan  As  Sunnah  serta ijma’  para  ulama  yang  menetapkan  adanya  alam  kubur.  Namun  sebagian orang  dari  kalangan  ahlul  bid’ah  mengingkarinya  karena  penyimpangan mereka dalam memahami dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, dalam buku yang ringkas ini akan kami paparkan dalil- dalil al-Qur'an, as-Sunnah, serta ijma' para ulama yang menetapkan adanya alam  kubur,  adzab  kubur  dan  nikmat  kubur.  Serta  pembahasan  mengenai beberapa  syubhat  dari  orang-orang  yang  mengingkarinya  disertai  dengan bantahannya

Surat Al-Mu’minun ayat 45-46

فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُوا۟ ۖ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرْعَوْنَ سُوٓءُ ٱلْعَذَابِٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدْخِلُوٓا۟ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ ٱلْعَذَابِ

“dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras 

Al   hafidz   Ibnu   Katsir rahimahullah  menjelaskan  ayat  ini,  “Arwah Fir’aun dan pengikutnya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus- menerus hingga datang hari kiamat. Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan api neraka”. Beliau juga berkata, “Ayat- ayat ini adalah landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya adzab kubur” . Hal ini juga senada dengan penjelasan jumhur ahli tafsir seperti Mujahid  , Al Alusi ,  Asy  Syaukani ,  Al  Baidhawi ,  Muhammad  Amin  Asy  Syinqithi , Abdurrahman As Sa’di.

2   QS. Al Mu’min: 45-46

3   Tafsir Al Qur’an Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), 7/146

4   Lihat An Nukat wal’ Uyun, 4/39, karya Al Mawardi

5   Ruuhul Ma’ani (Tafsir Al Alusi), 18/103

6   Fathul Qadir, 6/328

7   Anwar At Tanziil (Tafsir Al Baidhawi), 5/130

8   Adhwa’ Al Bayan, 7/82

9   Taisiir Kariim Ar Rahman (Tafsir As Sa'di), halaman 738

Memang  benar  bahwa  ada  penafsiran  lain  terhadap  ayat  ini.  Qatadah menafsirkan  bahwa   maksud  ayat (yang artinya)  “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang  adalah taubiikh atau penghinaan terhadap  Fir’aun  dan  pengikutnyadalam  keadaan  mereka  masih  hidup. Penafsiran ini walaupun tidak menetapkan adanya adzab kubur namun tidak menafikannya.  Ibnu   Abbas radhiallahu’anhu   menafsirkan   bahwa   arwah mereka  ada  di  sayap  burung  hitam  yang  bertengger  di  atas  neraka  yang datang   di   kala   sore   dan   pagi  hari. Penafsiran   Ibnu   Abbas   ini   pun menetapkan adanya alam kubur.

   Ahli tafsir yang terpengaruh permikiran mu’tazilah memang membantah bahwa ayat ini membicarakan adzab kubur. Semisal Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf dan Fakhruddin Ar Razi dalam Mafatihul Ghaib, dengan sebatas  bantahan  logika  semata.  Maka,  -insya  Allah-  penafsiran  yang  tepat adalah yang kami sebutkan di awal karena bersesuaian dengan dalil-dalil dari

Al  Qur’an  dan  hadits  serta  pemahaman  salafus  shalih,  yang  akan  kami jelaskan nanti. Karena antara dalil itu saling menafsirkan dan tidak mungkin saling bertentangan.  

Bagaimana Kondisi ketika sakaratul maut

Surat Al-An’am Ayat 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

10  Lihat An Nukat Wal’Uyun, 4/39

11 Al Kasyaf, 6/118

12 Mafatihul Ghaib, 13/342

Al  Imam  Al  Bukhari rahimahullah,  dalam Shahih-nya  membuat  judul  (bab  dalil-dalil  tentang  adzab  kubur)  lalu  beliau menyebutkan   ayat   di   atas.   Ini   menunjukkan   bahwa   Imam  Al   Bukhari memahami bahwa ayat di atas adalah dalil tentang adanya adzab kubur dan alam kubur.

Seorang   pakar   tafsir   di   zaman   ini,   Syaikh  Abdurrahman  As   Sa’di -rahimahullah- menjelaskan, “Ayat ini adalah dalil adanya adzab dan nikmat kubur.  Karena  dari  konteks  kalimat,  adzab  yang  ditujukan  kepada  orang- orang  kafir  tersebut  dirasakan  ketika  sakaratul  maut,  ketika  dicabut  nyawa dansetelahnya”

Read More

Selasa, 04 Agustus 2026

Contoh bahasa Kawi dalam doa

Menurut tradisi dan pandangan masyarakat Jawa, bahasa Kawi (Jawa Kuno) sangat baik dan sakral digunakan untuk doa, mantra, maupun pujian spiritual.
Berikut adalah alasan utama penggunaan bahasa Kawi dalam doa:


Nilai Sakral dan Spiritual
  • Bahasa Para Leluhur: Dianggap mempunyai kekuatan batin yang tinggi karena sering dipakai dalam naskah kuno dan kidung suci.
  • Makna Mendalam: Punya arti yang berlapis dan puitis, sehingga dianggap lebih khusyuk saat diucapkan kepada Tuhan atau leluhur.
  • Sarana Meditasi: Diyakini bisa membantu pikiran lebih tenang dan fokus saat berdoa atau memohon keselamatan.
Tradisi Penggunaan
  • Lakon Wayang: Dalang sering memakai bahasa Kawi dalam janturan atau doa pembuka untuk memanggil suasana magis dan sakral.
  • Primbon dan Mantra: Banyak ajian atau doa penolak bala zaman dulu ditulis memakai bahasa Kawi agar doanya lekas terkabul.Jika Anda mau, saya bisa membantu membuatkan contoh doa atau ucapan syukur menggunakan bahasa Jawa halus (Krama) atau Kawi untuk acara tertentu. Beritahu saya apa keperluannya!


Berikut adalah beberapa contoh bait doa, pujian spiritual (kidung), dan mantra keselamatan dalam bahasa Kawi beserta artinya:
1. Kidung Pujian Pengayoman (Mohon Perlindungan Tuhan)
Bait ini sering digunakan dalam tradisi spiritual Jawa (Kejawen) untuk memuji Sang Pencipta dan memohon perlindungan dari segala mara bahaya.
  • Bahasa Kawi:
    "Ong awignam astu nama siddham. Sang Hyang Jagadnata, parama kawi, moga paringa rahayu, rineksa saking pringgabaya, winantu ing karaharjan."
  • Artinya:
    "Ya Tuhan, semoga tidak ada halangan dan semuanya berhasil dengan baik. Wahai Penguasa Jagat Raya, Sang Pencipta Yang Agung, semoga memberikan keselamatan, dijauhkan dari segala bahaya, dan diliputi dengan kesejahteraan."
2. Mantra Tulak Bala (Menolak Energi Negatif)
Kalimat pendek ini berfokus pada kekuatan kata (sabda) untuk membersihkan diri dan lingkungan dari niat buruk atau energi negatif.
  • Bahasa Kawi:
    "Singlar sadaya dusta durjana, sirna dening kuwasa Hyang Widhi, teka rahayu, teka slamet."
  • Artinya:
    "Menyingkihlah semua niat jahat dan keburukan, musnah oleh kuasa Tuhan Yang Maha Esa, datanglah ketenteraman, datanglah keselamatan."
3. Doa Memulai Kegiatan (Angayubagya)
Digunakan saat membuka suatu acara sakral, hajatan, atau ketika hendak memulai lembaran hidup yang baru agar berjalan lancar.
  • Bahasa Kawi:
    "Mugi hyang suksma amartani, ambyani sekaring budi, dhumateng sadaya titah, hayu... hayu... rahayu, nirmala waluya jati."
  • Artinya:
    "Semoga Tuhan Yang Maha Gaib memberkati, menumbuhkan keluhuran budi kepada semua makhluk, selamat... selamat... sejahteralah, suci bersih dan kembali ke fitrah yang sejati."

Karakteristik Doa Bahasa Kawi
Saat diucapkan, doa bahasa Kawi biasanya dilantunkan dengan nada lambat (tembang). Masyarakat Jawa percaya bahwa getaran suara dari bahasa Kawi yang berirama dapat menyelaraskan energi manusia dengan alam semesta (manunggaling rasa).
Menurut tradisi dan pandangan masyarakat Jawa, bahasa Kawi (Jawa Kuno) sangat baik dan sakral digunakan untuk doa, mantra, maupun pujian spiritual.
Berikut adalah alasan utama penggunaan bahasa Kawi dalam doa:
Nilai Sakral dan Spiritual
  • Bahasa Para Leluhur: Dianggap mempunyai kekuatan batin yang tinggi karena sering dipakai dalam naskah kuno dan kidung suci.
  • Makna Mendalam: Punya arti yang berlapis dan puitis, sehingga dianggap lebih khusyuk saat diucapkan kepada Tuhan atau leluhur.
  • Sarana Meditasi: Diyakini bisa membantu pikiran lebih tenang dan fokus saat berdoa atau memohon keselamatan.
Tradisi Penggunaan
  • Lakon Wayang: Dalang sering memakai bahasa Kawi dalam janturan atau doa pembuka untuk memanggil suasana magis dan sakral.
  • Primbon dan Mantra: Banyak ajian atau doa penolak bala zaman dulu ditulis memakai bahasa Kawi agar doanya lekas terkabul.

  • Menurut tradisi dan pandangan masyarakat Jawa, bahasa Kawi (Jawa Kuno) sangat baik dan sakral digunakan untuk doa, mantra, maupun pujian spiritual.
  • Berikut adalah alasan utama penggunaan bahasa Kawi dalam doa:
    Nilai Sakral dan Spiritual
    • Bahasa Para Leluhur: Dianggap mempunyai kekuatan batin yang tinggi karena sering dipakai dalam naskah kuno dan kidung suci.
    • Makna Mendalam: Punya arti yang berlapis dan puitis, sehingga dianggap lebih khusyuk saat diucapkan kepada Tuhan atau leluhur.
    • Sarana Meditasi: Diyakini bisa membantu pikiran lebih tenang dan fokus saat berdoa atau memohon keselamatan.
    Tradisi Penggunaan
    • Lakon Wayang: Dalang sering memakai bahasa Kawi dalam janturan atau doa pembuka untuk memanggil suasana magis dan sakral.
    • Primbon dan Mantra: Banyak ajian atau doa penolak bala zaman dulu ditulis memakai bahasa Kawi agar doanya lekas terkabul.
    Jika Anda mau, saya bisa membantu membuatkan contoh doa atau ucapan syukur menggunakan bahasa Jawa halus (Krama) atau Kawi untuk acara tertentu. Beritahu saya apa keperluannya!

Read More