Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 08 Juni 2026

berapa lama penantian di alam kubur

 Dalam hati kita timbul pertanyaan apakah orang yang meninggal di jaman dulu apakah merasa sangat lama dalam penantiannya menunggu hari kebangkitan di sisi lain Alquran memperkenalkan Perbedaan waktu antara alam akhirat dan dunia . Waktu yang berlangsung di dunia berbeda dengan waktu di sisi Allah. Di antara ayat-ayat yang mengisyaratkan hal tersebut adalah Surat al-Mu'minun Ayat 112-114.

berapa lama penantian di alam kubur


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ

قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ

قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Tanyalah kepada mereka yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar jika kamu benar-benar mengetahui.” (QS Al-Mu'minun Ayat 112-114)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ەۙ مَا لَبِثُوْا غَيْرَ سَاعَةٍۗ كَذٰلِكَ كَانُوْا يُؤْفَكُوْنَ

Pada hari (ketika) terjadi kiamat, para pendurhaka (kafir) bersumpah bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat (saja). Begitulah dahulu mereka dipalingkan (dari kebenaran). (QS Ar-Rum Ayat 55)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنْ نَّهَارٍۗ بَلٰغٌۚ فَهَلْ يُهْلَكُ اِلَّا الْقَوْمُ الْفٰسِقُوْنَ


Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari ketika melihat azab yang dijanjikan, seolah-olah mereka hanya tinggal (di dunia) sesaat saja pada siang hari. (Nasihatmu itu) merupakan peringatan (dari Allah). Maka, tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasik.(QS  Al-Ahqaf Ayat 35)

اَوۡ كَالَّذِىۡ مَرَّ عَلٰى قَرۡيَةٍ وَّ هِىَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوۡشِهَا ​ۚ قَالَ اَنّٰى يُحۡىٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَا ​ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ​ؕ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَؕ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٍؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَةَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۚ وَانْظُرۡ اِلٰى حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرۡ اِلَى الۡعِظَامِ كَيۡفَ نُـنۡشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوۡهَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ‏ ٢٥٩

Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah runtuh hingga menutupi (puing-puing) atap-atapnya, dia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?" Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, "Berapa lama engkau tinggal (disini)?" Dia (orang itu) menjawab, "Aku tinggal (disini) sehari atau setengah hari." Allah berfirman, "Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, "Saya mengetahui (yakin) bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS Al Baqarah Ayat 259)

 

Opini Penulis

Menurut Penulis penghuni kubur tidak merasakan waktu yang lama dalam kuburnya jika mengamati beberapa ayat al Quran di atas walaupun sudah meninggal cukup lama perlu diingat ini hanya bersifat opini penulis jadi kebenaran hanya milik Allah SWT jika orang itu meninggal selama 1000 tahun atau 100 tahun seolah-olah orang itu hanya merasakan baru tinggal disana kurang dari sehari semisal kita tidur selama 3 hari di hari senin sore pukul 15.00 kita tidur dan baru bangun di hari kamis sore pukul 16.00 hari ke 3  dalam hati kita pasti bertanya apa aku baru tidur selama 1 jam kita pasti merasa bingung

Read More

Minggu, 07 Juni 2026

coba kawi

📜 Penerjemah Kawi - Kalimat Dasar

Ketik Indo → Keluar Kawi Jawa Kuno. Contoh: aku sudah makan nasi

📜 Penerjemah Kawi - Kalimat Dasar

Ketik Indo → Keluar Kawi Jawa Kuno. Contoh: aku sudah makan nasi

Read More

Periode Waktu di luar alam manusia

 Periode Waktu di luar alam dunia

Periode waktu adalah kurun waktu atau lingkaran waktu yang digunakan untuk membagi waktu menjadi periode-periode tertentu. Periode waktu dapat digunakan dalam berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, sejarah, dan akuntansi. Yang perlu diingat dalam artikel ini tulisan ini hanya bersifat penelitian tidak bisa dijadikan fatwa karena sesungguhnya alam kekekalan atau akhirat tidak bisa kita samakan dengan alam fana hanya Allah SWT lah yang Maha Mengetahui Untuk kesempurnaan tulisan ini maka diperlukan diskusi lebih

Periode Waktu di luar alam manusia


 

 

Surat al-Hajj 47

وَيَسۡتَعۡجِلُوۡنَكَ بِالۡعَذَابِ وَلَنۡ يُّخۡلِفَ اللّٰهُ وَعۡدَهٗ ؕ وَاِنَّ يَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّكَ كَاَ لۡفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ‏ ٤٧

Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

Surat al-Maarij ayat 4

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Surat Yasin ayat 52

قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَاۜ هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ

Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” (Lalu, dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul(-Nya).”

Tadabbur

Tulisan ini berdasarkan pendapat penulis sendiri bukan dari ijma ulama hanya sekedar buat masukan atau referensi 

Menurut surat al Hajj ayat 47

1 hari diakhirat = 1000 hari di akhirat jika ukuran hidup manusia adalah usia Rasulullah yaitu sekitar 63 tahun berarti hidup kita hanya 1,5 jam yang bisa di ibaratkan ketika kita masa sekolah dulu seperti waktu mengerjakan soal ujian yang bisa kita misalkan jika kita mengerjakan 50 soal 1 soal ini ibarat 1,26 tahun jika usia kita 30 tahun bisa kita artikan sudah 24 soal dalam hidup ini yang sudah kita kerjakan jika kita analisa hidup ini sangat singkat tetapi jika dilewati tetapi jika dilewati dengan sia-sia maka sangat rugi ada baiknya kita mengingat surat al-Ashr

Menurut firman Allah QS. Al-An'am ayat 32, yang menyatakan bahwa kehidupan dunia hanya main-main dan senda gurau, dan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa

Berbeda dengan  firman Allah pada QS. Al-Mu'minun ayat 115 yang berbunyi, "Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu hanya main-main (tanpa ada maksud), kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Bisa kita simpulkan pada Qs Al-An’am ayat 32 Hikmah ayat tersebut  jika kita merasa lelah dalam menghadapi ujian di dunia maka ingatlah waktu hidup didunia  sangatlah sebentar seperti halnya mengerjakan soal saja  sesungguhnya kehidupan akhirat itu akan lebih kekal maka kejarlah akhirat untuk kehidupan yang lebih kekal karena ujian itu hanya sebentar saja

Sedang pada QS Al-Mu’minun agar kita hidup bahagia maka jangan lupa tujuan kita hidup didunia ini menyelesaikan soal dengan benar yaitu sesuai petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rassul

Pada surat Surat al-Hajj 47 dan al-Maarij ayat 4

Ada perbedaan waktu yaitu 1 hari disisi Tuhan = 1000 tahun di alam manusia

Sedang  tempat atau alam malaikat menghadap Tuhan 1 hari memiliki kadar 50.000 tahun

Kemungkinan alam Malaikat berbeda dengan Alam disisi Tuhan

Kadar juga bisa diartikan takaran atau  ukuran bisa saja alam ini berjalan lebih cepat atau lambat dari alam dunia karena 1 hari itu bernilai 50.000 tahun jika satu hari kita berdzikir

 سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ  33 kali

Maka di alam tersebut senilai dengan 33 X 50.000tahun yang jika alam tersebut berjalan lebih cepat berarti 1 hari menurut perhitungan kita senilai dengan 50.000 tahun di alam tersebut

Jadi dalam sehari di perhitungan kita para malaikat sudah berdzikir sebanyak 33 X 365 X 50.000 bisa saja di alam malaikat tersebut 1 hari di alam kita = 50.000 tahun di tempat malaikat menghadap Tuhan

Atau bisa saja 50.000 tahun 1 hari di alam akhirat jadi jika di konversikan

1 tahun Akhirat = 50.000 tahun alam Malaikat menghadap Tuhan

1000 Dunia = 50.000

Dunia = 50.000 : 1000 = 50

Jadi 1 hari dunia = 50 tahun alam Malaikat menghadap Tuhan

Kesimpulannya

  • jika alam ini berjalan lebih cepat berarti 50 atau 50.000 tahun di  alam Malaikat menghadap Tuhan dalam sehari didunia kita
  • Jika berjalan lebih lambat 50.000 tahun alam dunia sama dengan sehari di alam Malaikat menghadap Tuhan

Ingat tulisan ini tidak pasti kebenarannya hanya bisa dijadikan referensi karena bersifat pendapat penulis semata sebagai penambah pengetahuan penulis dan pemahaman maka alangkah baiknya di perlukan untuk berdiskusi secara khusus atau di gali lebih dalam

 

 

 

Read More

Sabtu, 06 Juni 2026

Bani Quraisy

Bani Quraisy adalah salah satu suku bangsa Arab yang berasal dari keturunan Fihr bin Malik. Suku ini merupakan salah satu suku utama di kota Mekkah dan daerah sekitarnya. Nabi Muhammad SAW juga termasuk keturunan Bani Quraisy. Suku Quraisy (bahasa Arab: قريش الأمة) adalah suku bangsa Arab keturunan Ibrahim, yang menetap di kota Mekkah dan daerah sekitarnya.

silsilah bani quraisy

Salah satu suku di Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS bin Nabi Ibrahim AS adalah suku Quraisy. Bahkan, suku ini dikenal sebagai suku dengan keistimewaannya

Siapa nama asli Quraisy?
Fihr bin Malik (bahasa Arab: فهر بن مالك), atau julukannya Quraisy, adalah salah seorang nenek moyang Suku Quraisy dan Nabi Islam Muhammad lainnya. Nama lengkapnya adalah Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah, salah seorang kepala suku dari Bani Kinanah.
Read More

Jumat, 05 Juni 2026

Ukasyah bin Mihsan

Ukasyah bin Mihsan

Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi (bahasa Arabعكاشة بن محصن الأسدي, juga ditulis dengan Ukasyah, 

kisah doa akasyah


wafat di Buzakhah, Najd, 12 H (633, usia 45)) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad.[2] Ukkasyah adalah satu sahabat yang khusus didoakan Nabi dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ". وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ الأَسَدِيُّ يَرْفَعُ نَمِرَةً عَلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ " اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ". ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ " سَبَقَكَ عُكَّاشَةُ ".

Aku mendengar Rasululah bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga (tanpa hisab). Wajah mereka bersinar seperti bulan purnama.” Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi kemudian berdiri, membuka kain penutup kepalanya, dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.” Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia di antara mereka!” Kemudian seorang laki-laki dari kaum Ansar berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara mereka.” Maka Rasulullah menjawab, “Ukkasyah sudah mendahuluimu.”


اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰهِ وَالۡفَتۡحُۙ‏ ١

وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَدۡخُلُوۡنَ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا ۙ‏ ٢

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَاسۡتَغۡفِرۡهُ ؕ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا‏ ٣

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.

Tentang Surah An-Nashr ini, Jabir bin Abdillah dan Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa setelah surat ini turun, Rasulullah SAW berkata, “Wahai Jibril. Jiwaku sudah terasa lelah.”

Jibril AS mengatakan, “Akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia. Dan, pasti Tuhanmu akan memberikan (sesuatu) kepadamu dan kamu merasa ridha.”

Wahai Sahabat. Nabi seperti  apa aku ini bagi kalian?

Para sahabat menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan sebab kenabianmu. Engkau bagi kami bagaikan ayah yang penyayang, saudara yang bijak dan baik hati. Engkau telah menyampaikan risalah Allah dan engkau telah mengajak ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan dengan tutur kata yang santun. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang lebih besar dari balasan yang diterima oleh nabi lainnya.”

Nabi berkata, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu.” Tidak seorang pun berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapannya itu, dan tidak seorang pun yang berdiri. Rasulullah mengulangi kata-kata itu untuk ketiga kalinya, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu, sebelum aku dibalas pada hari kiamat nanti.”

 

Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek itu bernama Ukasyah bin Mihshan.

 

Ukasyah lantas berkata, “Demi ayah dan ibuku. Andai engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu. Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.”

 

Rasulullah langsung berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah engkau ke rumah Fathimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.”

 

Bilal langsung berangkat menuju rumah Fathimah. Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris, “Luar biasa. Ini Utusan Allah meminta dirinya untuk diqisas (dibalas)!” Sampai di rumah Fathimah, Bilal mengetuk pintu dan berkata, “Wahai Putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang tergantung itu. Serahkan kepadaku.”

 

Fathimah bertanya, “Wahai Bilal. Apa yang akan dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bukan hari ini adalah hari haji, bukan hari perang.”

 

Bilal menjawab, “Wahai Fathimah. Kamu pasti tahu akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia ini. Dan, beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas (qisas) kesalahannya.”

 

Fathimah lantas berkata, “Wahai Bilal. Siapa orang yang tega menuntut balas (qisas) dari Rasulullah?! Katakanlah kepada Hasan dan Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti Rasulullah. Minta orang itu membalas (melakukan qisas) kepada Hasan dan Husein, dan jangan membalas Rasulullah.”

 

Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah.

 

Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Balaslah kepada kami berdua. Kami ada di hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.”

 

Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar, “Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat kalian berdua.”

 

Ali pun berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali. Jangan kau balas Rasulullah.”

 

Rasulullah berkata, “Wahai Ali. Duduklah. Allah tahu derajatmu dan niat baikmu.”

 

Selanjutnya Hasan dan Husein juga berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas Rasulullah?”

 

Rasulullah menjawab, “Duduklah, buah hatiku. Allah tidak akan melupakan kemuliaan kalian.”

 

Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Silakan. Pecutlah aku.”

 

“Wahai Rasulullah. Ketika engkau memecut perutku, perutku dalam keadaan terbuka,” kata Ukasyah. Rasulullah SAW langsung menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka.

 

Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu. Mereka menangis menjadi-jadi.

 

Mereka menegur Ukasyah, “Apakah engkau betul-betul akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?!..”

 

Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak kuasa menahan diri, langsung merangsek tubuh Rasulullah SAW dan menciumi perutnya. “Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan kepadamu, wahai Rasulullah,” ujar Ukasyah.

Rasulullah berkata, “Lastas katakanlah, kau ingin membalas atau memaafkan aku?”

 

Ukasyah, “Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari Kiamat.”

 

Rasulullah berkata, “Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini.”

 

Kaum Muslim langsung berdiri mengerubungi Ukasyah dan menciumi keningnya. Mereka berkata kepada Ukasyah, “Alangkah beruntungnya kamu. Alangkah beruntungnya kamu. Kamu akan mendapatkan derajat yang sangat tinggi, berdampingan dengan Rasulullah di surga.“

 

Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah jatuh sakit selama delapan belas hari. Tepat pada hari Senin, Rasulullah wafat, meninggalkan dunia yang fana ini. Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rasul. Ia dijamin masuk surga, bahkan pasti berada di tempat paling tinggi dan paling mulia di sisi Allah. Namun, beliau begitu hati-hatinya terhadap manusia. Ia tidak ingin meninggalkan dunia ini, sementara masih ada orang yang “sakit hati” kepadanya. Beliau minta dibalas (diqisas) agar dirinya tidak dibalas di akhirat. Fitnah, dusta, caci-maki dan kezaliman lainnya yang disebarkan akan menjadi tanggung jawab penyebarnya di akhirat nanti. Herannya, para penyebar fitnah dan para pencaci tenang-tenang saja. Padahal, Nabi begitu gelisah hanya karena satu kesalahan yang tak disengaja terhadap Sahabat Ukasyah. Fasyhad. Qad ballaghtul qishah…

 

 

 

 

 




 

 

 

 

 

 

 

 

Read More

Kamis, 04 Juni 2026

NABI MUHAMMAD s.a.w DENGAN PENGEMIS BUTA

 NABI MUHAMMAD s.a.w DENGAN PENGEMIS BUTA

Di   sudut   pasar   Madinah   Al-Munawarah   seorang   pengemis   Yahudi   buta,   hari demi     hari  apabila   ada   orang   yang   mendekatinya       ia  selalu  berkata    "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu   tukang   sihir,   apabila   kalian   mendekatinya   kalian   akan   dipengaruhinya". Setiap   pagi   Rasulullah   SAW   mendatanginya   dengan   membawa   makanan,   dan tanpa     berkata   sepatah    kata   pun   Rasulullah    SAW    menyuapi     makanan     yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak     mendekati       orang     yang    bernama       Muhammad.         Rasulullah     SAW melakukannya        setiap   hari   hingga    menjelang      Beliau   SAW    wafat. 

NABI MUHAMMAD s.a.w DENGAN PENGEMIS BUTA


  Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis   Yahudi   buta   itu.   Suatu   hari   Abu   Bakar   r.a   berkunjung   ke   rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku      yang   belum     aku   kerjakan",    Aisyah   r.ha   menjawab       pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu   sunnah    pun   yang   belum   ayahanda   lakukan   kecuali   satu   sunnah       saja". "Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung   pasar   dengan   membawakan   makanan   untuk   seorang   pengemis   Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha. Keesokan   harinya   Abu   Bakar   r.a.   pergi   ke   pasar   dengan   membawa   makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu   dan   memberikan   makanan   itu   kepada   nya.   Ketika   Abu   Bakar   r.a.   mulai menyuapinya,   si   pengemis   marah   sambil   berteriak,   "siapakah   kamu   ?".   Abu Bakar   r.a   menjawab,   "aku   orang   yang   biasa".   "Bukan   !,   engkau   bukan   orang yang   biasa    mendatangiku",   jawab   si     pengemis   buta   itu.    Apabila   ia   datang kepadaku      tidak    susah   tangan    ini  memegang       dan   tidak   susah    mulut    ini mengunyah.       Orang    yang    biasa   mendatangiku      itu  selalu   menyuapiku,      tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia   berikan    pada   ku   dengan    mulutnya     sendiri",   pengemis     itu  melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil   berkata   kepada   pengemis   itu,   aku   memang   bukan   orang   yang   biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi.

 Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar   cerita   Abu   Bakar   r.a.   ia   pun   menangis   dan   kemudian   berkata, benarkah   demikian?,   selama   ini   aku   selalu   menghinanya,   memfitnahnya,   ia tidak    pernah    memarahiku       sedikitpun,    ia  mendatangiku      dengan     membawamakanan      setiap   pagi,  ia  begitu   mulia....   Pengemis     Yahudi   buta   tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a. NABI-NABI YANG DIUTUS KEPADA KAUM YASIN Allah SWT berfirman: "Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada     mereka     dua   orang   utusan,    lalu  mereka    mendustakan       keduanya; kemudian   Kami   kuatkan   dengan   (utusan)   yang   ketiga,   maka   ketiga   utusan itu berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka   menjawab:   'Kamu   tidak   lain   hanyalah   manusia   seperti   kami   dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah      pendusta     belaka.'   Mereka     berkata:    'Tuhan    kami    mengetahui bahawa   sesungguhnya   kami   adalah   orang   yang   diutus   kepada   kamu.   Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.'   Mereka     menjawab:      'Sesungguhnya      kami   bernasib    malang     kerana kamu, sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan   merejam   kamu   dan   kamu   pasti   akan   mendapat   siksa   yangpedih   dari kami.'    Utusan-utusan      itu  berkata:    'Kemalangan     kamu    itu  adalah    kerana kamu sendiri.

 Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. " (QS. Yasin: 13-19) Allah    SWT   menceritakan      kepada    kita  tentang    tiga  nabi   tanpa   menyebut nama-nama mereka. Hanya saja, Al-Qur'an menyebutkan bahawa kaum yang didatangi tiga nabi tersebut mendustakan mereka. Mereka mengingkari bahawa tiga nabi itu sebagai    utusan    Allah.  Ketika   para   rasul  itu  menunjukan      bukti   kebenaran mereka,      kaumnya     berkata    bahawa     kedatangan     mereka    justru   membawa kesialan. Mereka   mengancam   para   nabi   itu   dengan   rajam, pembunuhan,   dan siksaan yang pedih. Para nabi itu menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat       tindakan    yang   melampui     batas.   Mereka    justru   menganiaya     diri mereka sendiri. Al-Qur'an al-Karim dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan bagaimana urusan   para   nabi   itu.   Yang   ditonjolkan   oleh   Al-Qur'an   adalah   urusan   seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu. Hanya dia satu- satunya yang beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini berhadapan dengan kelompok yang besaryang   menentang   para   nabi.   Laki-laki   itu   datang   dari   negeri   yang   jauh.   Dan dalam keadaan berlari, ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk menerima       kebenaran.     Belum    lama    ia  menyatakan      keimanannya      sehingga kemudian ia dibunuh oleh orang-orang kafir.

 Allah SWT berfirman: "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan- utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang    mendapat      petunjuk.    Mengapa     aku   tidak   menyembah       (Tuhan)    yang telah   menciptakanku   dan   yang   hanya   kepada-Nya-lah   kamu   (semua)   ahan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah)    Yang     Maha    Pemurah      menghendaki       kemudharatan        terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka      tidah   (pula)   dapat    menyelamatkanku?         Sesungguhnya      aku   kalau begitu   pasti   berada   dalam   kesesatan   yang   nyata.   Sesungguhnya   aku   telah beriman   kepada   Tuhanmu;   maha   dengarkanlah   (pengakuan   keimanan)ku.'" (QS. Yasin: 20-25) Konteks      Al-Qur'an    hanya    menyebutkan       atau   membatasi      tentang     proses pembunuhan        itu.  Belum    lama    orang   mukmin     itu   atau   belum    sampai    ia menghembuskan          nafas    terakhirnya     sehingga     Allah    SWT     mengeluarkan perintah-Nya dan mengatakan: "Dikatakan (kepadanya): 'Masuklah ke syurga.' Ia berkata: 'Alangkah baiknya sekiranya   kaumku   mengetahui,   apa   yang   menyebabkan   Tuhanku   memberi ampun       kepadaku      dan    menjadikan       aku    termasuk      orang-orang      yang dimuliakan.'" (QS. Yasin: 26-27) Jadi,   Al-Qur'an    al-Karim   tidak   menyebutkan      nama-nama      para  nabi   itu  dan kisah-kisah   mereka,   tetapi   yang   ditonjolkan   adalah   kisah   lelaki   mukmin   di mana      dalam    konteks    ayat    tersebut    nama    laki-laki   mukmin     pun    tidak disebutkan.      Tentu   penyebutan      namanya     tidak  penting,    tetapi   yang   lebih penting adalah apa yang terjadi padanya. Beliau adalah seorang mukmin yang mengikuti para nabi AllahSWT.

Dikatakan   kepadanya:   masuklah   ke   dalam   syurga.   Tentu   proses   penyiksaan yang diterimanya dan pembunuhannya bukan membawa suatu nilai yang besar tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahawa ia beriman dan tetap berjuang membela      para  nabi.  Meski-pun    ia  mendapatkan    ancaman     pembunuhan,     ia tetap     menunjukkan      keimanannya      dan    keimanannya      tetap    membara. "Sesungguhnya      aku   telah  beriman    kepada    Tuhanmu;     maka   dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku."'?

Read More