Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 30 Juni 2026

Himpitan Alam Kubur

 Himpitan Alam Kubur

Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu , padahal kematiannya membuat ‘arsy berguncang, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya.

Himpitan Alam Kubur

Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

“Inilah yang membuat ‘arsy berguncang, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), kemudian dibebaskan.” (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah ; Lihat kitab Misykatul Mashabih 1/49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695)

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

“Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan yang bila seseorang bisa selamat darinya, maka (tentu) Sa’ad bin Muadz telah selamat.”) (HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 2/236)

Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ

“Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka anak kecil ini pasti selamat.” (Mu’jam Ath-Thabrani dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu dengan sanad shahih dan riwayat ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami, 5/56)

Himpitan kubur adalah pelukan yang diberikan kubur kepada mayat, yang bisa berupa kasih sayang atau amarah Himpitan kasih sayang kubur membuat mayat aman di dalam kubur hingga hari kiamat.  Himpitan amarah kubur membuat mayat tersiksa di dalam kubur hingga hari kiamat.

Amalan penyelamat dari siksa kubur

Membaca surat Al Mulk setiap malam menjelang tidur.

Memohon perlindungan kepada Allah dari segala fitnah dan azab kubur.

Melakukan amalan-amalan baik

Read More

Senin, 29 Juni 2026

Arti syahadat

saya bersaksi bahwa ajaran nabi Muhammad satu"nya kebenaran karena mengajarkan Satu Tuhan Allah SWT karena hasil pengamatan saya tidak ada agama lain yang bisa menjelaskan bahwa Tuhan adalah satu dan dari hasil pengamatan saya tidak mungkin adanya alam semesta kecuali ada penciptanya itu arti syahadat dalam hatiku

Read More

Alam Kubur yang Gelap

 Alam Kubur yang Gelap

Hal ini ditunjukkan oleh hadits shahih :

alam kubur yang gelap


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita hitam -atau seorang pemuda – biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal dunia’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Kegelapan di alam kubur menggambarkan kondisi gelap yang dialami manusia setelah meninggal dunia. Kegelapan ini dapat diterangi dengan amalan-amalan baik, seperti shalat, sedekah, dan zikir

Ketika menafsirkan QS. Al-Hadid ayat 12 dan 13, Imam Ibnu Katsir mengutip riwayat dari Ibnu Abi Hatim tentang nasihat yang pernah disampaikan oleh sahabat Abu Umamah al-Bahili ra. sebagai berikut:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ قَدْ أَصْبَحْتُمْ وَأَمْسَيْتُمْ فِي مَنْزِلٍ تَقْتَسِمُونَ فِيهِ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، وَتُوشِكُونَ أَنْ تَظْعَنُوا مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ، وَهُوَ هَذَا-يُشِيرُ إِلَى الْقَبْرِ-بَيْتُ الْوَحْدَةِ، وَبَيْتُ الظُّلْمَةِ، وَبَيْتُ الدُّودِ، وَبَيْتُ الضِّيقِ، إِلَّا مَا وَسَّعَ اللَّهُ، تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مُوَاطِنِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، … ثُمَّ تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ فَتَغْشَى النَّاسَ ظُلْمَةٌ شَدِيدَةٌ، ثُمَّ يُقَسَّمُ النُّورُ فَيُعْطَى الْمُؤْمِنُ نُورًا وَيُتْرَكُ الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَلَا يُعْطَيَانِ شَيْئًا

Hai manusia, sesungguhnya kamu di pagi hari dan petang hari berada di suatu tempat yang di dalamnya kamu berbagi amal kebaikan dan keburukan. Dan sudah dekat masanya bagi kalian akan pergi meninggalkannya menuju ke suatu tempat lain, yaitu alam kubur ini —seraya berisyarat ke arah kubur—yaitu rumah kesendirian, rumah kegelapan, dan rumah ulat serta rumah kesempitan terkecuali apa yang diluaskan oleh Allah. Kemudian kamu akan berpindah lagi darinya menuju ke tempat-tempat hari kiamat. … Kemudian kamu berpindah lagi darinya menuju ke tempat lain, dan semua manusia diselimuti oleh kegelapan yang sangat pekat; kemudian cahaya dibagikan. Maka orang mukmin mendapat cahayanya, sedangkan orang kafir dan orang munafik tidak diberi sama sekali dari cahaya itu.” (Ibnu Katsir, 8/16)

Sahabat Abu Umamah al-Bahili menjelaskan bahwa akan ada dua tempat yang sangat gelap yang akan kita lalui, *pertama* : alam kubur dan *kedua* : suatu tempat yang akan dilewati sebelum _shirat_ (jembatan yang dipasang diatas neraka)).

*Untuk yang pertama, yaitu kegelapan di alam kubur* . Di alam kubur semua manusia akan diselimuti oleh kegelapan, sehigga sangat dibutuhkan cahaya. Dan tidak ada cahaya di alam kubur kecuali cahaya dari Allah swt. oleh karena itu Rasulullah saw mengajarkan kepada kita sebuah do`a memohon kepada Allah supaya diberi cahaya di alam kubur :

اجْعَلْ لِي نُورًا فِي قَبْرِي..

Jadikanlah cahaya di kuburku,.. (Musnad Al-Bazzar, 5234)

وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Berilah cahaya di dalamnya (HR. Muslim: 920, Dari Ummu Salamah ra.

Ketika seseorang diberi cahaya di alam kuburnya, maka dia berada dalam ni`mat kubur dan keselamatan dari azab kubur. Sebaliknya, ketika dia tidak diberi cahaya, itulah diantara bentuk siksaan, yaitu kegelapan dan kesempitan di alam kubur. Na`uudzu billah

Maka ikutilah cahaya Allah (Al-Qur`an dan As-Sunnah) di dunia, pasti cahaya itu akan diberikan di akhirat. Siapa yang tidak mengikuti cahaya Allah (al-Qur`an dan As-Sunnah) dalam kehidupan dunia ini, maka dia tidak akan mendapat cahaya di akhirat kelak.

 

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

Artinya: Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An`am: 122)

Alam kubur juga merupakan _baitul wahdah_ (rumah kesendirian), tidak ada yang sudi menemani kita dialam kubur padahal kita sangat membutuhkan teman. anak, istri, saudara, teman dan semua orang yang pernah membersamai kita di dunia tidak akan menemani kita di alam kubur. Hanya ada satu teman yang rela dan sudi menemani kita di alam kubur, yaitu amal shaleh kita sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

 

قَالَ: ” وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، … فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ،

…Beliau saw bersabda: Kemudian setelah itu dia akan didatangi oleh seorang laki laki yang bagus wajahnya, indah pakaiannya dan harum baunya…kemudian dia berkata : aku adalah amal shalehmu. (HR. Ahmad: 18534)

kubur itu hanya bisa terang dengan amalan shalih.”


Read More

Minggu, 28 Juni 2026

Alam kubur itu menakutkan

 Alam kubur itu menakutkan

Hani radhiyallahu ‘anhu , bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu , berkata :

Alam kubur itu menakutkan


“Kebiasaan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau radhiyallahu ‘anhu ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini melihat kuburan, mengapa demikian?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya kubur itu adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. Bila seseorang selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih berat darinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

“Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

Perbedaan suasana di alam kubur antara orang mukmin dan kafir

kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan Allah ta’ala dalam kuburnya, seorang Mu’min mengatakan :

رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي، وَمَالِي

“Ya Rabb, segerakanlah kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.”

orang-orang kafir ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allah ta’ala baginya, ia
mengatakan :

رَبّ لاَ تُقِمِ السّاعَةُ

“Ya Rabb, jangan Engkau datangkan kiamat.”

Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan
Read More

Sabtu, 27 Juni 2026

kondisi alam kubur

 Allah ta’ala memberikan pemberitaan umum kepada seluruh makhluk, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Hanya Allah ta’ala saja Yang Maha Hidup, tidak akan mati. Adapun jin, manusia, malaikat, semua akan mati.

Kondisi alam kubur

Kematian merupakan hakekat yang menakutkan. Dia akan mendatangi seluruh orang yang hidup dan tidak ada yang kuasa menolak maupun menahannya. Maut merupakan ketetapan Allah ta’ala. Ini adalah hakekat yang sudah diketahui. Maka sudah sepantasnya kita bersiap diri menghadapinya dengan iman dan amal shalih.

setelah kematian datang kepada kita maka kita akan menempuh fase Alam Kubur. Seperti apa kondisi alam kubur yang akan kita tempuh nanti

Alam kubur itu menakutkan

Hani radhiyallahu ‘anhu , bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu , berkata :

“Kebiasaan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau radhiyallahu ‘anhu ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini melihat kuburan, mengapa demikian?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya kubur itu adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. Bila seseorang selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih berat darinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

“Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

Perbedaan suasana di alam kubur antara orang mukmin dan kafir

kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan Allah ta’ala dalam kuburnya, seorang Mu’min mengatakan :

رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي، وَمَالِي

“Ya Rabb, segerakanlah kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.”

orang-orang kafir ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allah ta’ala baginya, ia
mengatakan :

رَبّ لاَ تُقِمِ السّاعَةُ

“Ya Rabb, jangan Engkau datangkan kiamat.”

Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan

Alam Kubur yang Gelap

Hal ini ditunjukkan oleh hadits shahih :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ – فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita hitam -atau seorang pemuda – biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal dunia’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menyinarinya bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Kegelapan di alam kubur menggambarkan kondisi gelap yang dialami manusia setelah meninggal dunia. Kegelapan ini dapat diterangi dengan amalan-amalan baik, seperti shalat, sedekah, dan zikir

Ketika menafsirkan QS. Al-Hadid ayat 12 dan 13, Imam Ibnu Katsir mengutip riwayat dari Ibnu Abi Hatim tentang nasihat yang pernah disampaikan oleh sahabat Abu Umamah al-Bahili ra. sebagai berikut:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ قَدْ أَصْبَحْتُمْ وَأَمْسَيْتُمْ فِي مَنْزِلٍ تَقْتَسِمُونَ فِيهِ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، وَتُوشِكُونَ أَنْ تَظْعَنُوا مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ، وَهُوَ هَذَا-يُشِيرُ إِلَى الْقَبْرِ-بَيْتُ الْوَحْدَةِ، وَبَيْتُ الظُّلْمَةِ، وَبَيْتُ الدُّودِ، وَبَيْتُ الضِّيقِ، إِلَّا مَا وَسَّعَ اللَّهُ، تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مُوَاطِنِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، … ثُمَّ تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ فَتَغْشَى النَّاسَ ظُلْمَةٌ شَدِيدَةٌ، ثُمَّ يُقَسَّمُ النُّورُ فَيُعْطَى الْمُؤْمِنُ نُورًا وَيُتْرَكُ الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَلَا يُعْطَيَانِ شَيْئًا

Hai manusia, sesungguhnya kamu di pagi hari dan petang hari berada di suatu tempat yang di dalamnya kamu berbagi amal kebaikan dan keburukan. Dan sudah dekat masanya bagi kalian akan pergi meninggalkannya menuju ke suatu tempat lain, yaitu alam kubur ini —seraya berisyarat ke arah kubur—yaitu rumah kesendirian, rumah kegelapan, dan rumah ulat serta rumah kesempitan terkecuali apa yang diluaskan oleh Allah. Kemudian kamu akan berpindah lagi darinya menuju ke tempat-tempat hari kiamat. … Kemudian kamu berpindah lagi darinya menuju ke tempat lain, dan semua manusia diselimuti oleh kegelapan yang sangat pekat; kemudian cahaya dibagikan. Maka orang mukmin mendapat cahayanya, sedangkan orang kafir dan orang munafik tidak diberi sama sekali dari cahaya itu.” (Ibnu Katsir, 8/16)

Sahabat Abu Umamah al-Bahili menjelaskan bahwa akan ada dua tempat yang sangat gelap yang akan kita lalui, *pertama* : alam kubur dan *kedua* : suatu tempat yang akan dilewati sebelum _shirat_ (jembatan yang dipasang diatas neraka)).

*Untuk yang pertama, yaitu kegelapan di alam kubur* . Di alam kubur semua manusia akan diselimuti oleh kegelapan, sehigga sangat dibutuhkan cahaya. Dan tidak ada cahaya di alam kubur kecuali cahaya dari Allah swt. oleh karena itu Rasulullah saw mengajarkan kepada kita sebuah do`a memohon kepada Allah supaya diberi cahaya di alam kubur :

اجْعَلْ لِي نُورًا فِي قَبْرِي..

Jadikanlah cahaya di kuburku,.. (Musnad Al-Bazzar, 5234)

وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Berilah cahaya di dalamnya (HR. Muslim: 920, Dari Ummu Salamah ra.

Ketika seseorang diberi cahaya di alam kuburnya, maka dia berada dalam ni`mat kubur dan keselamatan dari azab kubur. Sebaliknya, ketika dia tidak diberi cahaya, itulah diantara bentuk siksaan, yaitu kegelapan dan kesempitan di alam kubur. Na`uudzu billah

Maka ikutilah cahaya Allah (Al-Qur`an dan As-Sunnah) di dunia, pasti cahaya itu akan diberikan di akhirat. Siapa yang tidak mengikuti cahaya Allah (al-Qur`an dan As-Sunnah) dalam kehidupan dunia ini, maka dia tidak akan mendapat cahaya di akhirat kelak.

 

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

Artinya: Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An`am: 122)

Alam kubur juga merupakan _baitul wahdah_ (rumah kesendirian), tidak ada yang sudi menemani kita dialam kubur padahal kita sangat membutuhkan teman. anak, istri, saudara, teman dan semua orang yang pernah membersamai kita di dunia tidak akan menemani kita di alam kubur. Hanya ada satu teman yang rela dan sudi menemani kita di alam kubur, yaitu amal shaleh kita sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

 

قَالَ: ” وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، … فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ،

…Beliau saw bersabda: Kemudian setelah itu dia akan didatangi oleh seorang laki laki yang bagus wajahnya, indah pakaiannya dan harum baunya…kemudian dia berkata : aku adalah amal shalehmu. (HR. Ahmad: 18534)

Sumber : https://hibar.pgrikabupatenbandung.id/dua-kegelapan/

kubur itu hanya bisa terang dengan amalan shalih.”


Himpitan Alam Kubur

Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu , padahal kematiannya membuat ‘arsy berguncang, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya.

Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

“Inilah yang membuat ‘arsy berguncang, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), kemudian dibebaskan.” (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah ; Lihat kitab Misykatul Mashabih 1/49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695)

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ

“Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan yang bila seseorang bisa selamat darinya, maka (tentu) Sa’ad bin Muadz telah selamat.”) (HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ 2/236)

Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ

“Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka anak kecil ini pasti selamat.” (Mu’jam Ath-Thabrani dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu dengan sanad shahih dan riwayat ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami, 5/56)

Himpitan kubur adalah pelukan yang diberikan kubur kepada mayat, yang bisa berupa kasih sayang atau amarah Himpitan kasih sayang kubur membuat mayat aman di dalam kubur hingga hari kiamat.  Himpitan amarah kubur membuat mayat tersiksa di dalam kubur hingga hari kiamat.

Amalan penyelamat dari siksa kubur

Membaca surat Al Mulk setiap malam menjelang tidur.

Memohon perlindungan kepada Allah dari segala fitnah dan azab kubur.

Melakukan amalan-amalan baik

Fitnah (Ujiang Kubur)

Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan memberikan beberapa pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat Al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ , قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

“Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allah”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?” Dia menjawab: “Agamaku adalah al-Islam”. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau adalah utusan Allah”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah berkata benar, berilah dia hamparan dari surga, dan berilah dia pakaian dari surga, bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.

Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mu’min itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada keluarga dan hartaku”.

Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

“Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aduh aku tidak tahu. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah,aduh aku tidak tahu”.Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab: “Hah, hah, aduh aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. (Lihat Shahihul Jami’ no: 1672)

 

Read More

Jumat, 26 Juni 2026

Kitab Qothr al-Ghoits

 

Kitab Qothr al-Ghoits

berisi tentang : Dari Imannya Anak Kecil, Orang yang Sakaratul Maut, hingga Ahli Makrifat

Karya :  Imam Abu Laits

ada enam rukun iman yang terkait dengan hakikat iman. Keenam rukun itu ialah beriman pada Allah Swt., malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasal-Nya, hari kiamat, dan percaya bahwa baik-buruknya takdir merupakan kehendak dari-Nya.

Kitab Qothr al-Ghoits


Rukun iman ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Sayidina Umar a.s. atau hadis riwayat Imam Bukhori dari Abu Hurairah ra. Hadis tersebut berisi tentang kedatangan Jibril a.s. yang menyamar jadi manusia dan menanyai Nabi Muhammad Saw. mengenai hakikat Islam, iman, dan ihsan. Hadis ini termaktub dalam kitab Arbain an-Nawawiyah yang biasa dikaji dan dihafalkan di pesantren.

Syekh Nawawi menjelaskan, beriman pada Allah Swt. ialah membenarkan adanya Allah Swt. dengan sifat-sifat wajib yang melekat pada-Nya dan percaya bahwa mukmin bisa melihat-Nya di hari kiamat kelak. Beriman pada malaikat-Nya berarti percaya akan wujud mereka dan percaya bahwa mereka merupakan hamba-hamba Allah Swt. yang dimuliakan.

Sedangkan beriman pada rasul-rasul-Nya, berarti percaya ke-ber-ada-an mereka di masa lalu dan merupakan sosok-sosok jujur dalam menyampaikan wahyu Allah Swt. Beriman juga berarti percaya akan adanya kebangkitan dari kubur kelak.

Imannya Anak Kecil dan Orang yang Sakaratul Maut

Bagaimana dengan imannya anak kecil atau anak yang belum baligh? Jamak diketahui, anak-anak yang belajar agama biasanya sudah diajarkan dan disuruh untuk menghafal rukun-rukun iman. Tapi, biasanya hal itu hanya sebatas hafalan belaka.

Namanya anak kecil, mereka belum bisa memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan rukun-rukun iman yang dihafalkan. Apakah keimanan mereka saat belum benar-benar bisa memahami itu sudah dianggap sah?

Syekh Nawawi menjelaskan, konsekuensi dari iman adalah mengerti penjelasan-penjelasan turunan dari rukun iman dan membenarkannya. Jadi, iman yang hanya berdasarkan hafalan sebenarnya belum bisa dihukumi iman yang sesungguhnya. Anak-anak kecil itu nantinya ketika baligh, mesti memahami dan merenungi sendiri rukun-rukun iman yang sudah dihafalnya, dan harus sampai pada kesimpulan untuk benar-benar mengimaninya.

Tentu, tidak ada salahnya mengajari anak-anak mengenai rukun iman. Apa yang dilakukan oleh kiai-kiai langgar atau ustazah-ustazah di TPA sebagaimana umumnya sudah benar. Sejak dini, anak-anak kecil mesti dikenalkan pada rukun iman. Namun yang menjadi PR bersama adalah mengawal anak-anak itu untuk sampai pada keyakinan yang sebenarnya dalam memercayai rukun-rukun iman ketika dewasa.

Selain imannya anak kecil, Syekh Nawawi juga menyinggung mengenai imannya orang dalam keadaan sakaratul maut atau beliau menyebutnya “imannya seseorang yang dalam keadaan putus asa”. Sakaratul maut, kata beliau, memungkin seseorang untuk melihat tempatnya kelak: apakah di surga atau neraka.

Iman dalam keadaan seperti ini, yakni saat sudah tahu tempatnya di surga atau neraka kelak, tidak bisa diterima. Hal ini karena tidak adanya usaha untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah Swt

Keterangan bahwa seseorang akan melihat tempatnya di surga atau neraka saat sakaratul maut, bersumber dari hadis Nabi saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya hamba tidak akan mati, sampai ia melihat tempatnya di surga atau neraka.”

Adapun orang yang baru iman di masa-masa akhir hidupnya, selagi nyawanya masih ada, iman dan taubatnya bisa diterima. Hal ini juga berdasar hadis Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda, “Taubat diterima bagi hamba mukmin selagi nyawanya belum keluar darinya.”

Jenis-Jenis Iman

Iman menurut Syekh Nawawi dibagi menjadi tiga bagian: iman taqlidy, iman tahqiqy, dan iman istidlaly. Iman taqlidy ialah meyakini keesaan Allah Swt. berdasarkan ucapan ulama tanpa adanya argumentasi jelas. Iman yang seperti ini rawan dihinggapi keguncangan dan keragu-raguan. Iman jenis ini biasanya dimiliki oleh orang awam. Namun, iman taqlidy tetap sah sejauh seseorang tergolong mampu untuk mencari dalil sendiri. Dan, jika tidak mau melakukan pencarian dalil, maka ia terbilang bermaksiat.

Iman tahqiqy adalah melipat atau melenturkan hati atas keesaan Allah Swt. Contoh dari iman jenis ini adalah ketika ada ahlul ilmi yang berbeda pendapat dengan apa yang diyakini hatinya, tidak ada kegamangan dalam dirinya. Iman tahqiqy biasanya dimiliki oleh para ahli makrifat dan hakikat. Mereka beriman berdasar pembuktian melalui bashirah atau mata hatinya, maka mustahil mereka terperosok dalam kesalahan.

Sedangkan iman istidlaly adalah mencari dalil atau bukti dari makhluk, mengenai wujudnya Khalik, dan dari jejak-jejak yang diperlihatkan-Nya. Mustahil (muhal) segala ciptaan dalam alam raya ini terwujud begitu saja tanpa ada Dzat yang menciptakan, yaitu Allah Swt. Iman jenis ini biasanya dimiliki oleh orang-orang ahli kalam.

 

 

 

Read More

Kamis, 25 Juni 2026

bagaimana rasanya sakaratul maut bagi orang yang mati syahid

 Orang mati syahid

orang yang mati syahid tidak merasakan sakitnya sakaratul maut. Sakaratul maut bagi para syuhada terasa ringan, seperti digigit semut atau dicubit. Sakaratul maut terasa ringan bagi orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid diberikan empat keistimewaan, yakni tidak merasakan sakitnya sakaratul maut, tidak merasakan azab kubur, tidak merasakan hisab, dan langsung masuk surga. Mati syahid adalah salah satu kemuliaan di dalam Islam. Orang yang mati syahid insya Allah meninggal dalam kondisi husnul khotimah dan masuk surga.

sakaratul mut bagi orang yang mati syahid

Mereka juga langsung masuk surga tanpa hisab dan azab kubur. Orang yang mati syahid akan mendapatkan keutamaan seperti tempat tinggalnya di surga akan diperlihatkan, diberi mahkota kemuliaan, dan dinikahkan dengan 72 bidadari. Orang yang mati syahid akan dijaga dan dihindarkan dari siksa neraka. Orang yang mati syahid akan diberi hak untuk memberi syafaat yang bisa mengeluarkan dari neraka dan memasukkan ke surga terhadap 70 orang anggota keluarganya.

Read More