ARWAH GENTAYANGAN
Orang yang sudah wafat, mereka berada
di alam kubur dalam keadaan mendapatkan nikmat ataumendapatkan adzab. Mereka tidak bisa memberikan manfaat
atau bahaya terhadap
orang yang masih
hidup. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak dapat
menjadikanorang-orang yang mati mendengar. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
berfirman: “Dan kamu sekali-kali tiada
sanggup menjadikan orang yang didalam kubur
dapat mendengar. Bahkan
orang-orang kafir merasakan
penyesalan dan berharap
bisa kembali hidup di dunia. Allah ta'ala berfirman: "Dan (alangkah ngerinya), jika
sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di
hadapan Rabbnya, (mereka berkata),
“Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka
kembalikanlah kami ke dunia.
Kami akan mengerjakan amal shaleh.
Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin". Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang
sudah mati maka ia tidak dapat
hidup kembali di
alam dunia. Tidak
dapat lagi beramal,
baik amal kebaikan maupun
amal keburukan. Dari Abu
Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa NabiShallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
"Ketika seorang insan mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat,dan anak shalih yang mendoakannya" .
Dan alam
kubur adalah awal
perjalanan akhirat.
Sehingga
orang yang sudah mati, ia sudah
ada di alam akhirat, tidak lagi hidup di alamdunia. Dari Utsman bin
Affan radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat,
barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang
siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat.Maka dalam akidah Islam,
tidak ada yang namanya arwah gentayangan, arwah penasaran, mayat hidup, zombi
atau semisalnya yang tercakup dalam keyakinan bahwa orang yang sudah mati bisa
hidup kembali di alam dunia.Ruh
orang yang sudah
mati, mereka di
alam barzakh dalam
keadaan menikmati nikmat
kubur atau diadzab di dalam kubur, tidak ada kemungkinan ketiga.
Ibnu
Qayyim Al Jauziyah
rahimahullah menjelaskan: “Arwah itu
ada dua macam:
pertama, arwah
yang diadzab,
kedua, arwah yang mendapatkan nikmat”.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:
“Di antara akidah Ahlussunnah
wal Jamah'ah adalah
mengimani adanya adzab kubur
dan nikmat kubur.
Keadaan mayit di
alam kubur, bisa
jadi ia diberi nikmat, atau diberi adzab.
Ahlussunnah wal Jama'ah mengimani hal
ini. Dan Nabi Shallallahu'alaihi
Wasallam telah mengabarkan
bahwa alam kubur
itu bisa jadi akan
menjadi taman surga,
atau bisa jadi
akan menjadi halaman neraka. Wajib bagi seorang Mukmin
untuk mengimani hal ini”.Dan telah kita
sampaikan kelemahan hadits
yang menyatakan bahwa arwah orang yang meninggal dapat
mengunjungi rumahnya dan keluarganya. Hadits tersebut tidak bisa menjadi
hujjah. Selain itu, keyakinan adanya arwah gentayangan atau arwah penasaran,
ini bertentangan dengan akal sehat. Andaikan ruh orang yang sudah mati bisa
bergentayangan dan bisa penasaran, kemudian
bisa bebas berjalan
kesana- kemari, membantu keluarganya, atau mengganggu orang-orang yang
hidup, dan semisalnya, tentu tidak ada orang yang takut mati. Karena setelah
mati pun masih bisa beramal, baik amalan shalih maupun amalan buruk. Bahkan semua orang
mungkin ini mati
saja karena digambarkan
kehidupan setelah mati itu begitu
santainya, bisa bergentayangan dan jalan-jalan kesana-kemari.
Maka kemana perginya akal sehat?!
Adapun penampakan-penampakan yang
dilihat oleh sebagian
orang, yang disangka sebagai
arwah gentayangan,mereka adalah setan dari kalangan jin.Sebagian jin terkadang
menampakkan diri dalam
bentuk manusia203 yang sudah
meninggal sehingga disangka
sebagai arwah yang hidup kembali. Tujuan akhirnya agar
manusia terjerumus ke dalam berbagai bentuk kebid'ahan dan kesyirikan. Allahul
musta'an .
Dalam hadits riwayat Al Bukhari
(2311), disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiallahu'anhu bertemu dengan jin yang
menampakkan dirinya sebagai seorang remaja yang ingin mencuri harta zakat.
Sumber :
201 Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al
Jauziyah, halaman 17. 202 Majmu' al Fatawa wal Maqalat Syaikh Ibnu Baz, 28/66
203 196 QS. An Naml: 80 197 QS. Fathir: 198 QS. As-Sajdah: 12 199 HR. Muslim
no.1631 200 HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan
oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat
Rabbaniyyah, 4/192







