Risalah Nabi Isa AS
Al-Quran al-Karim menceritakan kepada kita bahawa esensi
dakwah al-Masih tidak banyak berubah dari esensi dakwah para nabi sebelumnya,
yaitu menyuarakan Islam yang
intinya adalah menebarkan
tauhid yang sempurna hanya serta
menyerahkan diri kepada
Allah:
"Sembahlah Allah,
Tuhanku dan Tuhan kalian."
Al-Quran memberitahu kita bahawa yang mengatakan kalimat tersebut adalah
Isa. Kalimat tersebut
adalah kalimat yang
sama yang pernah
disampaikan seluruh nabi, meskipun
nama mereka, sifat
mereka, mukjizat mereka,
baju mereka, bahasa mereka, usia mereka, bentuk mereka, dan warna kulit
mereka tidak sama. Mereka
semua bersepakat untuk
menyuarakan Islam dan
hanya menyerahkan diri kepada Allah SWT serta beriman bahawa Allah SWT
adalah Tuhan mereka dan Tuhan alam semesta.
Tiada sekutu bagi-Nya dan tiada yang setara dengan-Nya. Dia
Maha Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada sesuatu pun yang
menyerupai-Nya. Isa tidak mengatakan persoalan tauhid lebih banyak atau lebih
sedikit dari apa yang pernah
disampaikan oleh para
nabi. Al-Quran datang
kira- kira setelah lima ratus tahun dari pengangkatan
Nabi Isa. Allah SWT, melalui ilmu-Nya yang azali mengetahui
apa yang terjadi
di tengah- tengah
kaum Masehi di
mana mereka berselisih tentang
hakikat Isa. Oleh
kerana itu, Al-Quran
al-Karim berusaha menyingkap dialog mereka yang belum terjadi. Allah SWT
berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam,
adakah kamu mengatakan kepada manusia:
'Jadikanlah aku dan
ibuku dua orang
tuhan selain Allah?' Isa
menjawab: 'Maha Suci
Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya). Jika
aku pernah mengatakannya, maka tentulah
Engkau telah mengetahuinya.
Engkau mengetahui
apa yang ada pada
diriku dan aku
tidak mengetahui apa yang ada
pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku
tidak pernah mengatakan kepada
mereka kecuali apa
yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu:
'Sembahlah Allah,
Tuhanku, dan Tuhanmu,'
dan aku menjadi
saksi terhadap
mereka selama aku berada di
antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi
mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.'" (QS.
al-Maidah: 116-117) Al-Quran secara tegas
mengatakan bahawa dakwah
al-Masih adalah dakwah tauhid. Al-Quran
ingin mengatakan bahawa
al-Masih terlepas dari
segala tuduhan yang dialamatkan
kepadanya, yaitu tuduhan
bahawa ia anak
Tuhan atau ia justru tuhan itu sendiri.
"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa
yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu." Nabi Isa pergi berdakwah di jalan Allah SMT. Inti dakwahnya
adalah, bahawa tidak ada perantara antara Pencipta dan makhluk; tidak ada
perantara antara seorang penyembah dan
yang disembah. Allah
SWT menurunkan kitab
Injil kepada Nabi Isa. Ia adalah kitab suci yang datang untuk
membenarkan Taurat dan berusaha menghidupkan syariatnya
yang pertama. Injil
adalah cahaya, petunjuk, dan
peringatan bagi orang-orang yang
bertakwa. Nabi Isa
ingin meluruskan
tafsiran orang-orang Yahudi
terhadap syariat di
mana mereka menyampaikan tafsir
dari syariat itu
secara harfiah dan
sesuai dengan kepentingan mereka. Nabi Isa menenangkan orang-orang yang
menjaga syariat bahawa ia tidak datang untuk menghilangkan syariat, tetapi ia
datang untuk menyempurnakannya
dan menyelesaikan tugas
para nabi. Namun
Isa lebih menekankan pada
penafsiran esensinya, bukan kepada bentuk lahiriahnya. Nabi Isa
memberi pengertian kepada
orang-orang Yahudi bahawa
sepuluh wasiat yang dibawa oleh Isa mengandung makna-makna yang lebih
dalam dari apa yang mereka
bayangkan. Wasiat yang
keenam bukan hanya
melarang pembunuhan
materi, sebagaimana yang
mereka fahami tetapi
juga menyangkut penindasan dan usaha mencelakakan orang lain.
Sedangkan wasiat yang
ke tujuh bukan
hanya melarang zina
(dalam pengertian terjadinya hubungan antara
laki-laki dengan perempuan melalui
cara-cara yang tidak sah), tetapi zina berarti segala
bentuk perbuatan yang menjurus kepada dosa. Misalnya, ketika
mata diarahkan kepada
lawan jenis disertai
syahwat dan hasrat seksual,
maka itu pun
berarti zina. Nabi
Isa berkata: "Sesungguhnya lebih baik bagi manusia
untuk menghindarkan matanya dari sesuatu yang dapat menghancurkannya daripada
ia harus hancur dengan mata itu sendiri. Syariat yang dibawa
oleh Isa melarang
untuk melanggar sumpah
dan janji Nabi
Isa memberi pengertian kepada
kaumnya bahawa hendaklah mereka
tidak melakukan sumpah palsu kerana merupakan "kesalahan besar
jika nama Allah
dibuat main-main di
atas mulut-mulut manusia."
(Injil Mata 21 sampai 48).