Jihad dalam islam
Dengan
membebaskan manusia dari
menyembah sesama mereka,
maka kebebasan yang hakiki
telah dimulai. Rasulullah
saw memberitahu bahawa kematian adalah
perpindahan dari satu
rumah ke rumah
yang lain. Ia
bukan akhiran yang misteri dari kehidupan yang tidak dapat difahami,
tetapi ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak akan
menyelamatkan dari kematian itu sendiri,
dan cinta kepada
kehidupan tidak akan
memanjangkan ajal.

Pada setiap
ajal ada ketentuannya. Maka
keberanian merupakan unsur dari
unsur-unsur pembentukan keperibadian Islam
dan bahagian dari bahagian-bahagian sel yang ada dalam
tubuh seorang Muslim. Rasulullah
saw juga menyatakan
bahawa rezeki di
dunia sudah dijamin
dan ditentukan oleh Allah SWT: "Dan tidak ada suatu binatang melata
pun di bumi melainkan Allah- lah yang memberi rezekinya. " (QS. Hud: 6)
Jibril mewahyukan kepada Rasul saw bahawa suatu jiwa tidak akan memenuhi
ajalnya sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak
ada alasan bagi
manusia untuk khawatir
terhadap rasa lapar
dan gelisah terhadap hari
esok. Semua ini
terjadi dalam ruang
lingkup mengambil atau melalui jalan-jalan menuju sebab. Yakni
berusaha untuk mencapai rezeki yang merupakan
kewajipan bagi orang
Muslim dan percaya
terhadap kedermawan Allah SWT
yang juga merupakan
suatu kewajipan bagi
orang Muslim untuk mempercayainya. Allah SWT berfirman:
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa
yang dijanjikan kepadamu. " (QS. adz-Dzariat: 22) Allah SWT telah menjamin
rezeki di dunia dan memerintahkan manusia untuk berusaha mencapai
rezeki di akhirat.
Rezeki di dunia
adalah sesuatu yang sudah
dijamin, sehingga manusia
tidak perlu melakukan
usaha yang terlalu sengit untuk
mencapainya. Cukup baginya
untuk berusaha
secara benar dan seimbang.
Sedangkan berkenaan dengan rezeki
akhirat, Allah SWTmemerintahkan manusia untuk berusaha
mencapainya kerana ia adalah rezeki yang
Allah SWT tidak
menjaminnya kecuali jika
manusia berhasil melampaui dua jihad:
jihad yang besar
dan jihad yang
kecil. Jihad besar
adalah jihad melawan hawa
nafsu dan jihad kecil
adalah jihad melawan
musuh di medan perang. Dengan terbebasnya
seorang Muslim dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa takut, maka
Islam memberi seorang
Muslim senjatanya dan
alat-alatnya dan ia memerintahkannya untuk mulai
memerangi kekuatan-kekuatan
kelaliman di muka bumi. Allah SWT berfirman tentang umat Islam: "Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS.
Ali 'Imran: 110) Perhatikanlah, bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf
nahi mungkar sebelum keimanan kepada
Allah SWT. Ini
dimaksudkan agar akal
manusia tergugah akan pentingnya
jihad di jalan
Allah SWT. Amal
makruf dan nahi mungkar tidak
terwujud semata-mata dengan memegang tongkat dan mencambukannya kepada punggung
orang-orang Islam yang tidak solat; ia juga tidak berupa
usaha untuk menahan
orang-orang Muslim yang
tidak berpuasa. Masalah itu lebih
penting dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang bersifat
lahiriah, sedangkan hal-hal
yang bersifat batiniah
tidak diperhatikan. Ayat
tersebut berarti, hendaklah seorang
Muslim membawa senjata dan berdakwah di
jalan Allah SWT
serta memerangi orang-orang
lalim di muka bumi. Abu Bakar berkata: "Wahai
manusia, kalian membaca ayat berikut ini:" "Hai orang-orang
yang beriman, jagalah
dirimu. Tiadalah orang
yang sesat itu akan
memberi mudarat kepadamu apabila kamu
telah mendapat petunjuk,"
(QS. al-Maidah: 105) Dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang lalim dan mereka tidak
menghentikannya, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka semua."
Penafsiran
Abu Bakar terhadap
ayat tersebut sangat
jelas ertinya. Yakni bahawa pelaksanaan ayat tersebut dapat
diwujudkan dengan adanya jihad di jalan
Allah SWT dengan
mengangkat senjata sebagai
usaha untuk menghentikan orang-orang yang
lalim. Setelah itu,
seorang Muslim dapat mengatakan: "Aku telah
melaksanakan tugasku dan
tidak akan berdampak kepadaku orang yang sesat setelah
aku memberikan petunjuk." Demikianlah pemahaman orang-orang Islam yang
pertama. Maka bandingkanlah pemahaman
tersebut dengan pemahaman
kita saat ini
di mana kita
telah kehilangan keberanian, dan rasa takut telah menghinggapi tubuh
orang-orang Islam. Kaum Muslim
lebih mengutamakan keselamatan
diri mereka daripada memerangi orang- orang yang lalim.
Muhammad bin Abdillah
datang dengan membawa risalah
Islam yang di dalamnya terdapat perintah Ilahi untuk
memerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan kehormatan orang-orang yang
tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman: "kerana itu, hendaklah
orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di
jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah,
lalu gugur atau
memperoleh kemenangan, maka
kelak akan Kami berikan
kepadanya pahala yang
besar. Mengapa kamu
tidak mau berperang dijalan
Allah dan (membela) orang-orang yang
lemah baik laki-laki, wanita-wanita mahupun
anak- anak yang
semuanya berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari
negeri ini yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan
berilah kami penolong dari sisi-Mu. " (QS. an-Nisa': 74-75) Muhammad bin
Abdillah membacakan kepada
kaumnya tentang penafsiran Allah SWT berkenaan dengan makna
kejayaan yang besar: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan syurga
untuk mereka. Mereka
berperang di jalan Allah, lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di
dalam Taurat, Injil,
dan Al-Quran. Dan
siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?, maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar." (QS. at- Taubah: 111)
Bacalah ayat tersebut
dua kali dan
renungkanlah tentang kedermawan
Allah SWT. Betapa tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan harta
mereka, padahal jiwa tersebut
dan harta tersebut
pada hakikatnya adalah
milik-Nya sendiri. Lihatlah bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia
membeli harta milik-Nya yang khusus dengan syurga dan bagaimana Allah SWT
menganjurkan orang-orang Islam untuk
berperang, dan Dia
memberitahu mereka bahawa urusan memerangi orang-orang
lalim dan orang-orang yang tersesat bukanlah hal yang
baru atas orang-
orang Islam. Allah
SWT telah memerintahkan hal tersebut dalam Injil dan Taurat.
Sebagaimana Nabi Isa diutus
dengan pedang, seperti
yang disebutkan dalam
lembaran- lembaran atau buku-buku
orang-orang Nasrani, maka
Nabi Musa pun
diutus dengan membawa pedang.
Dan ketika Bani
Israil berkata kepada
Nabi Musa, "pergilah engkau
bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami hanya di sini duduk-duduk saja,", maka
kehendak Ilahi menetapkan agar
mereka mendapatkan
kesesatan selama empat
puluh tahun sebagai
akibat dari perbuatan mereka
itu, agar generasi
yang lemah dan hina itu
hancur yang mereka justru tidak
memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka membiarkan Nabi Musa bersama Tuhannya
berperang, padahal peperangan itu merupakan tanggung jawab mereka dan tugas
mereka yang harus mereka emban sebagai pengikut Nabi Musa. Demikianlah esensi
dari ajaran Islam
sebagaimana yang dibawa
oleh Muhammad bin Abdillah. Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu
serta mendapatkan kebebasan dan
yang terpenting adalah
usaha melawan kekuatan-kekuatan
lalim. Suatu ajakan yang universal yang tidak dikhususkan untuk kalangan
tertentu atau untuk
warna kulit tertentu
atau untuk kaum tertentu atau
untuk tempat tertentu; suatu
ajakan kemanusiaan yang komprehensif yang universal yang
ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad dengan tujuan yang lebih tinggi,
yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya serta
keimanan terhadap hari
kemudian dan kebangkitan manusia semuanya di hadapan
Allah SWT.
Adalah salah jika
ada orang yang
menganggap bahawa Islam
hanya memperhatikan aspek akhirat
dan melupakan aspek
duniawi. Menurut Islam dunia
adalah lembar-lembar jawapan
yang akan di
koreksi di hari
akhir. Ia adalah ujian
dan tempat percubaan
bagi manusia agar
manusia mengetahui apakah ia
layak untuk mendapatkan kemuliaan dari
Allah SWT yang
telah diberikan kepada Adam. Atau apakah ia justru layak untuk jadi
bahagian dari tanah neraka Jahim dan batunya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Yang bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS.
al-Baqarah: 24) Rasulullah saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan
manusia, penciptaan kehidupan dan kematian ketika beliau menyampaikan firman
Allah SWT dalam surah al-Mulk: "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. " (QS.
al-Mulk: 2) Dunia adalah rumah pergelutan. Dan Allah SWT telah menciptakan
kehidupan dan kematian agar
manusia menyedari siapa
di antara mereka
yang terbaik amalnya. Tentu
pengetahuan ini tidak akan menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan itu
justru dibutuhkan oleh
manusia.