Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 25 September 2026

Nafsu dan ilmu dalam tasawuf

 Dalam tasawuf, nafsu itu bukan cuma hawa nafsu pengen maksiat. Nafsu itu *tingkatan jiwa*. 



Qur'an menyebut 3, ulama tasawuf merinci jadi *7 tingkatan* — dari yang paling gelap sampai paling terang.


7 Tingkatan Nafsu:


*1. Nafs al-Ammarah - النفس الأمارة*

Jiwa yang menyuruh berbuat jahat.

> _"Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan"_ (QS. Yusuf:53)

Ini level paling bawah. Ciri: malas ibadah, senang maksiat, iri dengki, dendam. Kalau tidak dilawan, dia yang jadi Tuhanmu.


*2. Nafs al-Lawwamah - النفس اللوامة*

Jiwa yang mencela diri sendiri.

> _"Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri"_ (QS. Al-Qiyamah:2)

Sudah mulai sadar. Habis maksiat nyesel, habis ghibah kepikiran, tapi besok diulangi lagi. Tarik-tarikan antara dosa dan tobat. Kebanyakan kita di sini.


*3. Nafs al-Mulhimah - النفس الملهمة*

Jiwa yang diberi ilham.

Allah sudah mulai bisikkan mana baik dan buruk tanpa diajar orang.

> _"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan"_ (QS. Asy-Syams:8)

Mulai peka, firasat tajam, tapi masih belum stabil. Kadang ikhlas, kadang riya'.


*Inilah batas hijrah. 3 di atas masih di dunia. 4 di bawah ini sudah masuk alam akhirat selagi di dunia.*


*4. Nafs al-Muthmainnah - النفس المطمئنة*

Jiwa yang tenang.

> _"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha"_ (QS. Al-Fajr:27-28)

Ini target pertama para sufi. Ciri: tenang saat dapat nikmat maupun musibah, tidak panik, tidak sombong. Dzikir sudah jadi nafas.


*5. Nafs ar-Radhiyah - النفس الراضية*

Jiwa yang ridha kepada Allah.

Apapun keputusan Allah, dia bilang "ini yang terbaik". Sakit ridha, sehat ridha, miskin ridha, kaya ridha. Tidak komplain ke Allah.


*6. Nafs al-Mardhiyyah - النفس المرضية*

Kebalikannya. Kalau tadi kita yang ridha ke Allah, di level ini *Allah yang ridha kepada kita.*

Sudah tidak ada hijab. Doanya mustajab, ucapannya berkah. Para wali di level ini.


*7. Nafs al-Kamilah - النفس الكاملة*

Jiwa yang sempurna.

Ini hanya milik Nabi Muhammad ﷺ dan sebagian kecil pewarisnya. Sudah tidak ada kepentingan diri sendiri sama sekali. Hidupnya hanya untuk Allah. Inilah yang disebut _Insan Kamil_.


Cara Menaikkannya?


Imam Ghazali bilang rumusnya 3:

- *Takhalli:* kosongkan yang kotor (dari Ammarah) - dengan taubat & puasa

- *Tahalli:* hiasi yang bersih (menuju Muthmainnah) - dengan dzikir & tadabbur

- *Tajalli:* Allah tampakkan cahaya-Nya (Radhiyah ke atas) - ini bukan usaha kita lagi, tapi hadiah dari Allah.




Ilmu dalam tasawuf

Dalam tasawuf, yang teman kamu sebut itu biasanya dibagi 3 jenis ilmu. Biar nggak bingung, ini urutannya:


*1. Ilmu Kasbi*

Ilmu yang dicari pakai usaha. Belajar, baca kitab, ikut kajian, mondok. Contoh: fiqih, nahwu, tafsir. Kamu usaha -> dapat.


*2. Ilmu Wahbi*

Nah ini yang kamu tanya. Wahbi itu dari kata _wahb_ = pemberian / hadiah.


Artinya ilmu yang *diberikan langsung oleh Allah ke hati seorang hamba, tanpa proses belajar biasa.* Bukan dia pinter, tapi Allah yang kasih.


Di Al-Quran disebut:

> "...dan Kami telah ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi : 65) — kisah Nabi Khidir.


Jadi ilmu Wahbi ini bukan hasil hafalan, tapi hasil kebersihan hati. Hadiah karena istiqomah dalam ibadah, zuhud, dan jujur ke Allah.


*3. Ilmu Laduni*

Ini masih saudara dekatnya Wahbi, malah sering dianggap sama. Laduni dari kata _ladun_ = dari sisi Kami. Ilmu yang langsung dari Allah tanpa perantara. Bedanya, Laduni biasanya tingkatannya lebih tinggi dan lebih rahasia lagi. Ilmu Wahbi itu payung besarnya, Laduni salah satu bentuk paling khususnya.


---


Gimana cara dapat Ilmu Wahbi menurut ulama tasawuf?


Bukan dengan minta "ya Allah kasih ilmu wahbi". Tapi syaratnya:


1.  *Beresi Ilmu Kasbi dulu:* Syariatnya harus benar dulu. Sholat, fiqih, akidah beres.

2.  *Tazkiyatun Nafs (Bersihin hati):* Kurangin maksiat, banyak dzikir, ikhlas.

3.  *Takwa:* Sesuai ayat "Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqon (pembeda) kepadamu" (QS. Al-Anfal: 29) dan "Bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu" (QS. Al-Baqarah: 282)


Jadi rumusnya ulama dulu: *Istiqomah dalam syariat melahirkan ilmu hakikat.*


Teman kamu belajar tasawuf di mana di Malang? Biasanya istilah Wahbi, Kasbi, Laduni ini banyak dibahas di kajian Ihya Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali.

Read More

Hadits Doa meminta perlindungan azab kubur

Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu'anhu,  bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan    berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur  yang aku dengar”. 

Doa meminta perlindungan azab kubur

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan:“Setelah itu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berbalik menghadap kami, dan bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab neraka! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada  Allah dari adzab neraka.

Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.

 Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada   Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. 

Nabi bersabda:   mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal   D a l a m   k i t a b Silsilah   Ahadits Shahihah,  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa syawahid, yaitu dari jalan Zaid bin Tsabit dan dari jalan Jabir bin Abdillah.


Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’. 

Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i radhiallahu'anhu, ia mengatakan: Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah shalat jenazah, dan aku   menghafalkan doa yang beliau ucapkan, yaitu: Ya Allah, berilah ampunan  baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah  kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan  air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau   bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang  lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya  semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam  surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka  Dan  sebenarnya  masih  banyak  lagi  dalil  dari  hadits-hadits  yang  shahih mengenai adzab kubur.            

Read More

Kamis, 24 September 2026

ORANG YAHUDI MENDENGARKAN TENTANG AZAB KUBUR

 Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:“Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang  kepadaku. Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak mempercayainya. Kemudian mereka berdua keluar.

ORANG YAHUDI MENDENGARKAN TENTANG AZAB KUBUR

 Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku.Maka aku pun menceritakan  apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu  bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesai shalat”.Hadits  ini  menunjukkan  dengan  tegas  tentang  adanya  adzab  kubur  dan alam  kubur.  Diperkuat  lagi  dengan  pemahaman  Aisyah radhiallahu'anha yang   menyampaikan  hadits ini,  menunjukkan bahwa Aisyah radhiallahu'anha juga meyakini adanya adzab kubur dan alam kubur
Read More

Rabu, 23 September 2026

DALIL HADITS ADANYA ALAM KUBUR

DALIL AS SUNNAH ADANYA ALAM  KUBUR

Dalil pertama  Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu'anhu,  bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur  yang aku dengar”. 

DALIL HADITS  ADANYA ALAM  KUBUR

Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan:“Setelah itu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berbalik menghadap  kami, dan bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab neraka! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab neraka. Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab kubur. Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada   Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Nabi bersabda:   mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal  Dalam   k i t a b Silsilah   Ahadits Shahihah,  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa syawahid, yaitu dari jalan Zaid bin Tsabit dan dari jalan Jabir bin Abdillah.Setelah itu, beliau memberikan penjelasan penting. Beliau berkata: “Dari beberapa  hadits  di  atas  terdapat  banyak  faedah,  yang  paling  penting  di antaranya:  

Pertama, menetapkan adanya adzab kubur, dan hadits-hadits tentang hal i n i mutawatir.  Maka  tidak  ada  lagi  kerancuan  bila  ada  yang  mengklaim bahwa hadits-hadits tentang hal ini adalah hadits Ahad. 

Kedua,  pun  andaikata  memang  benar  hadits-haditsnya  adalah  hadits Ahad,  tetap  wajib  mengimaninya  karena  Al  Qur’an  telah  menunjukkan kebenarannya. (Kemudian Syaikh Al Albani membawakan surat Ghafir ayat 45-46). Ketiga, pun andaikata memang benar bahwa permasalahan adzab kubur tidak ada dalam Al Qur’an, maka hadits-hadits shahih yang ada sudah cukup untuk  menetapkan  akidah  tentang  adzab  kubur  ini.  Klaim  bahwa  perkara aqidah  tidak  bisa  ditetapkan  dengan  hadits Ahad  yang  shahih  adalah  klaim yang  batil  yang  diselipkan  ke  dalam  ajaran  Islam.  Tidak  ada  imam  yang mengatakan  pendapat  demikian,  tidak  tidak  katakan  oleh  imam  madzhab yang  empat  atau  semisal  mereka.  Pendapat  ini  hanya  dikemukakan  oleh ulama ahli kalam yang sama sekali tidak didasari oleh dalil”.  Beliau  juga  mengatakan,  “Adanya  pertanyaan  dua  Malaikat  di  alam kubur adalah benar adanya. Wajib untuk mengimaninya. Hadits tentang hal ini pun mutawatir”.

Dalil ke dua Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:“Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang  kepadaku. Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak   mempercayainya. Kemudian mereka berdua keluar. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku. Maka aku pun menceritakan  apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu  bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan    semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku   pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesai shalat”.Hadits  ini  menunjukkan  dengan  tegas  tentang  adanya  adzab  kubur  dan alam  kubur.  Diperkuat  lagi  dengan  pemahaman  Aisyah radhiallahu'anha yang   menyampaikan  hadits ini,  menunjukkan bahwa Aisyah radhiallahu'anha juga meyakini adanya adzab kubur dan alam kubur.                              

Dalil ke tiga  Dari Al Barra' bin Azib radhiallahu'anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian  didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman  dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: )”.  Ini adalah dalil Al Qur’an sekaligus As Sunnah. Karena merupakan bukti bahwa surat Ibrahim ayat 27 berbicara tentang adzab kubur dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menafsirkan demikian.

Dalil ke empat  Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian    pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda,   ‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut mereka bedua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkankan   bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)”.

Dalil ke lima Dari Utsman bin Affan radhiallahu’anhu, ia berkata:  “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alam  kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam    kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat”. Utsman radhiallahu’anhu berkata, “Aku tidak     pernah memandang sesuatu yang lebih mengerikan dari kuburan.

Dalil ke enam Dari Umar bin Khathab radhiallahu'anhu,  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya   menangisinya". Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya  melakukan niyahah terhadapnya".

Dalil ke tujuh Dari Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu'anhu, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam keluar rumah tatkala matahari telah tenggelam. Beliau mendengar suara-suara, lalu bersabda:  “Orang-orang Yahudi sedang diadzab di kuburan mereka  ”.

Dalil ke delapan  Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu'anhu, ia berkata:“Suatu hari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pergi ke kebun kurma milik Bani Najjar. Beliau mendengar suara-suara dari orang-orang Bani Najjar yang telah meninggal di zaman Jahiliyah. Mereka sedang diadzab di dalam  kuburnya. Kemudian beliau pun keluar dalam keadaan ketakutan dan  memerintahkan para sahabatnya untuk berlindung dari adzab kubur”.

Dalil ke sembilan Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’.                               

Dalil ke sepuluh  Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i radhiallahu'anhu, ia mengatakan:“Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah shalat jenazah, dan aku   menghafalkan doa yang beliau ucapkan, yaitu: Ya Allah, berilah ampunan  baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah  kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan  air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau   bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang  lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya  semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam  surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka  Dan  sebenarnya  masih  banyak  lagi  dalil  dari  hadits-hadits  yang  shahih mengenai adzab kubur. Karena para ulama mengatakan hadits-hadits tentang adzab   dan   nikmat   kubur   itu   mencapai   level mutawatir karena   sangat banyaknya. Yang sebagian hadits-hadits tersebut akan kami sebutkan dalam bab  “Beberapa Keyakinan Ahlussunnah Terkait Alam Kubur       

 

Sumber :                .

58 HR. Muslim no. 963 42 HR. Muslim no.7393, Ahmad no.12026 56  HR. Ahmad no.14152. Syu'aib Al Arnauth dalam takhrij-nya mengatakan: “Sanad hadits ini shahih sesuai syarat      Muslim”. Demikian juga yang dikatakan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (no. 3954). 57  HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589 53 HR. Bukhari no. 1304, Muslim no. 929 54 HR. Bukhari no. 1292, Muslim no. 927 55 HR. Al Bukhari no. 1375, Muslim no. 2869 51 HR. Bukhari no.6055, Muslim no.703 48 idem 49 HR. Bukhari no.600543 HR. Muslim no. 2867, dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu'anhu 44 Lihat kitab

Silsilah Ahadits Shahihah penjelasan hadits nomor 158-159 45 HR. Muslim no. 2867, 7392 46 HR. Ahmad no. 14185, Al Albani berkata: “Shahih muttashil (bersambung) sesuai persyaratan Imam Muslim”. 47 As-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 1/244 52 HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat     Rabbaniyyah, 4/192 50 HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398                                                        
Read More

Selasa, 22 September 2026

sakaratul maut bagi orang beriman

 Allah ta'ala berfirman:  “(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan  baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan terlimpah kepada engkau), masuklah ke   dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan  Ath Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Maksudnya, para  Malaikat  mencabut  ruh  mereka  orang-orang  yang  bertakwa  sambil mengatakan:   “Salamun   'alaikum!   Masuklah   ke   surga”.  

sakaratul maut bagi orang beriman

Sebagai   kabar gembira  dari  Allah  yang  disampaikan  oleh  para  Malaikat”.  Mengenai al busyra atau kabar gembira di saat kematian ini, akan dijelaskan lebih detail di bab “Al busyra menjelang kematian” di buku ini. Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Di  antara  akidah  Ahlussunnah  wal  Jama'ah  adalah  menetapkan  adanya nikmat  kubur.  Dalilnya  firman Allah ta'ala  ...  (beliau  menyebutkan  ayat  di atas). Mereka diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan baik, maksudnya baik akidah mereka, dan baik pula amalan mereka. Maka para Malaikat pun berkata  menjelang  kematian  si  hamba  tersebut,  “masuklah  ke  dalam  surga karena apa yang telah kamu kerjakan!”. Ini dikatakan oleh para Malaikat di hari ketika si hamba wafat”.       Jika  ada  yang  bertanya,  “Andai  kejadian  ini  terjadi  di  alam  kubur, mengapa       dikatakan  “masuklah   ke   dalam   surga...  ?   Bukankah   hal   ini menunjukkan kejadian tersebut terjadi di akhirat?”. Jawabannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Ath Thabari, rahimahullah bahwa perkataan  “masuklah ke  dalam  surga.. itu  adalah  kabar  gembira  dari  para  Malaikat.  Sehingga tidak bertentangan dengan keterangan bahwa perkataan tersebut disampaikan di alam kubur.

Demikian juga Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah                                 menjelaskan: “Dikatakan demikian karena terdapat dalam sebuah hadits yang shahih: “Ia  akan  diluaskan  kuburnya,  dan  akan  dibukakan  baginya  pintu surga.   Sehingga   ia   mendapatkan   harum   dan   nikmatnya   surga   yang menyejukkan    matanya.  S e m o g a  k i t a t e r m a s u k  o r a n g   y a n g mendapatkannya. Dan dalam firman Allah ta'ala (yang artinya) “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan”, huruf ba' di sini adalah ba'sababiyah”.   Sehingga   dalam   ayat   ini   para   Malaikat   seolah   ingin mengatakan: “kamu akan masuk surga karena telah melakukan sebab-sebab yang membuat seseorang masuk surga”. Bukan berarti si hamba masuk surga ketika itu. 
Read More

Senin, 21 September 2026

Sakaratul Maut Bagi orang Kafir

 Allah ta'ala berfirman:  “Dan andaikan kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-  orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan    berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.   

Sakaratul Maut Bagi orang Kafir

Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya  .Syaikh  Khalid  Al  Mushlih hafizhahullah  menjelaskan  ayat  ini,  beliau mengatakan, “Allah  'azza  wa  jalla  menyebutkan  keadaan  mereka  yang mendapatkan adzab ketika dicabut ruh mereka. Kemudian setelah itu Allah ta'ala  berfirman  (yang  artinya),  “Rasakanlah  olehmu  siksa  neraka  yang membakar”. Setelah itu Allah menyebutkan tentang adzab yang membakar, yaitu  adzab  neraka.  Semoga  Allah  ta'ala  memberikan  keselamatan  kepada kita    dari   semua      itu”.    Syaikh      Muhammad  bin    Shalih   Al  Utsaimin rahimahullah  juga  menyebutkan  ayat  ini  sebagai  salah  satu  dalil  tentang adanya adzab kubur.

Allah ta'ala berfirman:  “Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,      (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan   dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan  terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu     menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya  As Safarini rahimahullah mengatakan, “Ulama seorang muhaqqiq, Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ar Ruh, bahwa di antara dalil adanya adzab dan nikmat  kubur  dalam  Al  Qur'an  Al  Majid  adalah  ayat  “Sekiranya  engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut... ”  (QS. Al An'am:  93).  Konteks  ayat  ini  secara  jelas  bicara  tentang kejadian ketika menjelang kematian”.       Syaikh     Shalih     bin   Fauzan   Al Fauzan hafizhahullah   menjelaskan, “Konteks dari ayat ini, kejadian tersebut terjadi ketika menjelang kematian. Dalam  ayat  ini  disebutkan  bahwa  Malaikat  mengabarkan  (dan  Malaikat adalah makhluk yang jujur) bahwa ketika itu si mayit merasakan adzab yang menghinakan.  Jika  adzab  yang  menghinakan  tersebut  terjadi  ketika  dunia berakhir,  maka  tidak  tepat  perkataan  Malaikat  “pada  hari  ini  kamu  akan dibalas”.  Sehingga  ini  menunjukkan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  “adzab yang menghinakan” itu adalah adzab kubur”. Syaikh   Muhammad  bin    Shalih   Al Utsaimin rahimahullah  juga menyebutkan ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya adzab kubur.


Read More

Minggu, 20 September 2026

Tadabbur

 Dalam istilah tasawuf, 5 itu adalah tangga perjalanan hati untuk sampai ke Allah. Urutannya dari luar ke dalam:

 

1. Tadabbur Qur'an — تَدَبُّرُ الْقُرْآنِ

Secara bahasa: memandang akibat / ujung dari sesuatu.

 

Dalam tasawuf artinya: Membaca Qur'an bukan dengan mulut, tapi dengan hati yang mencari pesan Allah untuk dirimu hari ini.

 

Bukan sekedar tafsir. Contoh: baca ayat "Allah adalah Cahaya langit dan bumi" — kamu berhenti lama, kamu tanya: "Mana cahaya itu di hatiku yang masih gelap ini?" Itu tadabbur.

 

> Dalilnya: "Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24)

 

2. Tadabbur Alam — تَدَبُّرُ الْعَالَمِ

Kalau tadabbur Qur'an itu ayat yang tertulis (ayat qauliyah), tadabbur alam itu ayat yang diciptakan (ayat kauniyah).

 

Artinya: Melihat ciptaan untuk melihat Pencipta.

 

Lihat hujan turun, bukan sekedar "hujan", tapi kamu lihat: "Oh begini cara Allah menurunkan rezeki pelan-pelan, begitu juga hidayah turun ke hati yang keras." Lihat gunung, ingat keteguhan Allah.

 

Ini yang disebut Imam Ghazali sebagai ma'rifat melalui af'al Allah.

 

3. Tafakur — تَفَكُّرٌ

Ini mesinnya. Kalau tadabbur itu objeknya, tafakur itu prosesnya.

 

Artinya: Diamnya lisan, hidupnya akal dan hati untuk mengurai makna.

 

Rasulullah bersabda: "Tafakur sesaat lebih baik dari ibadah setahun" (Hadits dhaif tapi maknanya diamalkan sufi).

 

Tafakur ada 4 level dalam tasawuf:

- Tafakur tentang dosa -> melahirkan taubat

- Tafakur tentang nikmat -> melahirkan syukur

- Tafakur tentang akhirat -> melahirkan zuhud

- Tafakur tentang Dzat Allah -> ini dilarang, yang ditafakuri sifat-Nya saja.

 

4. Syahdah / Musyahadah — مُشَاهَدَةٌ

Ini buahnya.

 

Kalau tadabbur dan tafakur masih pakai akal, syahdah itu sudah melihat dengan mata hati (ainul basirah).

 

Artinya: Kamu tidak lagi sekedar yakin Allah itu ada, tapi seakan-akan kamu menyaksikan Allah hadir di setiap kejadian.

 

Bukan melihat Dzat Allah (itu mustahil di dunia), tapi melihat perbuatan dan sifat Allah begitu jelas sampai seperti menyaksikan langsung. Hati sudah tidak lalai.

 

Ulama bilang: Tafakur adalah perjalanan, Syahdah adalah tujuan.

 

5. Hujjah — حُجَّةٌ

Ini pijakan / bekal biar tidak halu.

 

Dalam tasawuf, hujjah artinya: Dalil yang kokoh dari Qur'an, Sunnah, dan perkataan ulama yang jadi sandaran pengalaman spiritualmu.

 

Kenapa penting? Karena banyak orang merasa sudah "musyahadah" padahal cuma halusinasi. Sufi yang benar harus punya hujjah. Setiap rasa di hati harus bisa ditimbang dengan Qur'an dan Sunnah. Kalau tidak ada hujjahnya, itu bukan syahdah, tapi waham (khayalan syaitan).

 

Urutan sederhananya:

 

Alam & Qur'an (yang dibaca) -> Tafakur (yang dipikirkan) -> Syahdah (yang disaksikan hati) -> Hujjah (yang menguatkan agar tidak sesat)

Read More