Al-Qur’an, risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW dapat pula memberikan syafaat pada hari kiamat karena beberapa keistimewaannya.
Sebagai umat nabi Muhammad SAW, wajib baginya untuk mencintai dan memuliakan junjungannya Rasulullah Muhammad SAW, mengimani dan berusaha “mencintai” apa yang dibawa Nabi Muhammad SAW (risalah) dan mengikuti Rasulullah SAW dalam semua ucapan dan tindakannya agar kelak di hari akhir nabi Muhammad SAW bersedia mengakui kita sebagai umatnya.
AL-QUR’AN SEBAGAI KITAB ALLAH YANG TERAKHIR
Qur’an berarti bacaan berasal
dari kata qa-ra-a yang memiliki arti membaca.
Al-Qur’an memiliki beberapa nama-nama lain, diantaranya Al-Kitab, Al-Furqan, Az-Zikru, Al-Mau’izhah, Al-Huda dan As-Syifa’.
Keutuhan dan Keaslian Al-Qur’an
Keutuhan dan keaslian
Al-Qur’an terjadi karena adanya jaminan langsung dari Allah SWT dan adanya
usaha-usaha yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW oleh para sahabat yang
yang dilanjutkan oleh oleh generasi-generasi berikutnya.
Allah berfirman yang
artinya: “Sesungguhnya Akulah yang
menurunkan Az-Zikra (Al-Qur’an) dan sesungguhnya kami benar-benar
memeliharanya.” (QS. Al-Hijr 15: 9). Ayat ini
memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.
Rasulullah SAW adalah
seorang yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) sehingga beliau berusaha
menghafal ayat-ayat Al-Qur’an hingga menguasainya dengan sempurna. Selain itu,
nabi Muhammad SAW juga memerintahkan kepada beberapa sahabat untuk menghafal
setelah beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan memerintahkan kepada beberapa
sahabat tertentu untuk menuliskannya di sarana-sarana yang memungkinkan pada
waktu itu. Berpedoman pada hafalan dan tulisan sahabat, pada masa Abu Bakar
As-Shiddiq Al-Qur’an dikumpulkan ke dalam satu mushaf oleh Zaid bin Tsabit. Pada masa Utsman bin Affan, pembukuan
Al-Qur’an disempurnakan dengan menyusun surat demi surat sesuai dengan
ketentuan Rasulullah SAW sehingga dikenal sebuah sistem penulisan bernama Ar-Rasmu Al-Usmani. Pada masa
berikutnya, ulama terus berusaha meneyempurnakan penulisan dan pemeliharaan
Al-Qur’an ditandai dengan lahirnya beberapa ilmu pengetahuan yaitu ilmu Tajwid
(kaidah-kaidah membaca), Nahwu Sharaf (tata bahasa), ilmu Khath (penulisan), Ulumul Qur’an dan ilmu
Tafsir (metodologi pemahaman) untuk mendukung pemeliharaan keutuhan dan
keaslian Al-Qur’an.






