BEBERAPA
AYAT QUR’AN MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA
ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
SYUBHAT 1
ADANYA ALAM KUBUR
Sebelumnya,
dalam membahas syubhat ini kita perlu meyakini bahwa Al Qur’an dan hadits itu
adalah kebenaran, dan tidak ada kebenaran yang saling bertentangan. Allah
Ta’ala berfirman: “Apakah engkau tidak men-tadabburi Al Qur’an? Andaikan Al
Qur’an itu bukan dari sisi Allah tentu
akan banyak pertentangan di dalamnya”. Begitu
juga, wajib meyakini
bahwa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah wahyu. Sebagaimana firman Allah ta'ala: “Apa yang diucapkan olehnya (Muhammad) itu
bukanlah dari hawa nafsu, melainkan wahyu”. Maka, Al Qur’an tidak akan
bertentangan dengan Al Qur’an, Al Qur’an pun
tidak akan bertentangan
dengan hadits dan hadits tidak akan
bertentangan dengan hadits.
Dengan kata lain,ayat Al Qur’an saling menafsirkan, demikian
juga ayat Al Qur’an
dan hadits saling
menafsirkan. Oleh karena itulah
kita hendaknya merujuk
kepada para ulama,
karena merekalah yang mampu mendudukkan ayat dengan ayat, hadits dengan
hadits serta ayat dengan
hadits sesuai tempatnya
sehingga jelas bahwa
tidak ada pertentangan.
Ayat
pertama Allah ta'ala berfirman: “Mereka
berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah
yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha
Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya) .Jika
orang yang mati
dikatakan ‘tidur’ setelah ia
mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada adzab kubur atau
nikmat kubur. Demikian logika ahlul bid’ah yang menolak adanya adzab kubur,
dan memang demikianlah mereka
memahami ayat-ayat Allah dengan logika tanpa merujuk kepada ahlinya.
Jawaban: Kalau kita merujuk para ahli
tafsir dari kalangan sahabat sampai ulama mu’ashiriin,Ubay bin
Ka’ab radhiallahu’anhu,
Khaitsamah, Mujahid dan Qatadah
menafsirkan maksud dari
‘tidur’ dalam ayat
ini adalah: “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari
kubur”. Qatadah juga menambahkan: “Itu terjadi di
antara dua tiupan sangkakala”.Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah juga
menjelaskan: “Ayat ini
tidak menafikan adanya
adzab kubur, karena jika
dibandingkan dengan apa
yang terjadi setelahnya,
yang terjadi di alam kubur seperti tidur”.
Ayat ke
dua Allah ta'ala berfirman:“Dan
janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang
lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada
waktu itu mata (mereka) terbelalak.Dalam
ayat ini dikatakan Allah memberi tangguh, artinya tidak mengadzab mereka,
sampai hari ketika
mata manusia terbelalak,
yaitu hari kiamat. Demikian
logika mereka.Padahal jika kita
menilik penjelasan para
ulama tafsir, Al Hafidz
Ibnu Katsir rahimahullah
menjelaskan makna“Allah memberi
tangguh kepada mereka: “dikatakan
demikian karena begitu ‘ngerinya’ keadaan mereka di hari kiamat”. Al Baghawi
rahimahullah menafsirkan: “Tidak akan menimpa mereka kengerian
semisal yang akan
mereka dapatkan di
hari kiamat”.
Sebagaimana
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil
di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak
berhasil,maka setelahnya lebih berat
jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya perbandingan antara siksa kubur
dengan siksa mereka kelak di hari kiamat, hingga ketika
mereka masih disiksa di alam
kubur dianggap masih dalam masa penangguhan. Sebagian ulama
memang menafsirkan secara
mutlak bahwa maknanya adalah “mereka tidak akan mendapat
adzab hingga hari kiamat”, namun yang dimaksud adalah sebagaimana yang diungkapkan Ibnu
Katsir dan Al Baghawi di atas.
Karena faktanya, sebagian
orang kafir bahkan
diadzab ketika mereka masih hidup. Dan perlu dicatat,
para ahli tafsir
yang menafsirkan secara mutlak demikian tidak ada yang memahami bahwa
ayat ini menafikan adzab kubur. Jadi memahami ayat ini dengan pemahaman para
penolak adanya adzab kubur, adalah pemahaman
baru yang tidak
ada pendahulunya, serta bertentangan dengan ratusan dalil.
Ayat ke tiga Allah ta'ala berfirman:“Dan pada hari
terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur)
melainkan sesaat (saja)”Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari
kebenaran)”. Menurut logika para penolak adanya adzab kubur, berdasarkan ayat
ini, antara matinya seorang
manusia dengan hari
kebangkitan itu hanya
terasa sesaat saja, hingga seorang manusia merasakan seolah setelah mati
tiba-tiba sudah dibangkitkan.
Maka tidak
ada alam kubur yang dia merasakan adzab atau nikmat.Para ahli
tafsir menjelaskan mengenai
makna ‘sesaat’,Al Baidhawi rahimahullah berkata,
“Maksudnya adalah masa di
alam kubur dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan
dengan lamanya siksaan mereka di akhirat kelak. Atau penafsiran yang lain,
mereka lupa akan lamanya berada di alam kubur”.
Sebagian ahli tafsir
memaknai bahwa maksudnya
adalah masa ketika hidup
di dunia, Al Baghawi rahimahullah mengatakan,
“Maksudnya adalah masa di dunia dianggap terlalu
sebentar dibandingkan dengan
akhirat”. Seluruh tafsiran di atas tidak ada yang bertentangan dengan dalil-
dalil adanya adzab kubur.
Dan sekali
lagi perlu di
catat, tidak ada
ahli tafsir yang
memahami bahwa ayat ini menafikan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa
ayat ini dengan dalil-dalil shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah
bertentangan.Demikianlah beberapa ayat
yang menjadi ‘syubhat’
karena dipahami secara salah
oleh para pengikut
hawa nafsu.Tidak menutup
kemungkinan adanya ayat lain
yang mereka gunakan
untuk melariskan pemahaman
menyimpang mereka, namun
cukuplah kita meyakini
bahwa di antara
dalil tidak ada yang saling bertentangan.
Sumber
:
97 Anwar At
Tanziil, 4/488 98 Ma’alim At Tanzil, 6/278 96 QS. Ar Rum: 55
92 QS.
Ibrahim: 42 93 Tafsir Al Qur’an Al
Azhim, 4/515 94 Ma’alim At Tanzil, 4/359 95 Telah berlalu takhrij hadits ini
89 QS.
Yaasin: 52 90 Lihat Tafsir Ath Thabari, 20/532 91 Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 6/581
87 QS. An
Nisa: 82 88 QS. An Najm: 3-4






