Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 03 Maret 2026

Kecemerlangan kerajaan majapahit

Melalui perjanjian Turin antara Kaisar Napoleon III dengan Raja Victor Emmanuel II dari Kerajaan Sardinia-Piedmont Savoy pada 1860, Kabupaten Nice yang milik Savoy (Italia-Alpen) telah diambil alih sehingga menjadi milik Perancis. Peristiwa ini dikenal secara negatif sebagai suatu pencaplokan Nice oleh negara Perancis, yang sejatinya merupakan suatu imbalan atas bantuan Prancis terhadap gerakan unifikasi Italia.



Dari kacamata Indonesia hal tersebut adalah hasil diplomasi geopolitik abad-19, bukan merupakan suatu pencaplokan dan bukan merupakan suatu langkah dari hasrat kekuasaan yang rakus (Libido Dominandi).

Dalam horizon mental Prancis abad ke-14 yang dilanda perang 100 tahun melawan Inggris dan wabah pes The Black Death, Majapahit tampak dari kejauhan sebagai kerajaan rempah Timur yang makmur, yang Gemah Ripah Loh jinawi, yang stabil, dengan armada maritim yang sangat kuat, yang merupakan suatu kontras terang terhadap kehidupan bangsa Perancis yang sedang sangat menderita.
Para Ilmuwan dunia menyebutnya sebagai: Gens calamitatibus oppressa (bangsa yang tertindas sebagai akibat bencana). Surya Majapahit dalam imajinasi Eropa kontemporer, dapat menyerupai cahaya peradaban manusia di ufuk Timur.

Gemah ripah loh jinawi bukan sekadar karena keadaan dan sumber daya alam, melainkan hasil langsung dari kuatnya kepemimpinan ganda Maharaja Hayam Wuruk dalam aspek legitimasi kosmis dan harmoni serta Mahapatih Gajah Mada dalam aspek organisasi politik dan ekonomi. Kombinasi keduanya menciptakan Majapahit sebagai negara bangsa yang cemerlang pada abad ke 14 di belahan dunia Timur, yang meliputi Asia Tenggara selama 234 tahun lamanya

Home
Berita
Jabodetabek
Internasional
Hukum
detikX
Kolom
Blak blakan
Pro Kontra
Infografis
Foto
Video
Hoax Or Not
Suara Pembaca
Jateng
Jatim
Jabar
Sulsel
Sumut
Bali
Sumbagsel
Jogja
Kalimantan
Indeks
Melindungi Tuah-Marwah
Bangun Indonesia

detikNews
Kolom
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan
KOLOM
Kecemerlangan Majapahit Pada Masa Kegelapan Eropa
Minggu, 22 Feb 2026 17:06 WIB

AM Hendropriyono
AM Hendropriyono
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Foto: (Taufiq Syarifudin/detikcom)

Jakarta - Melalui perjanjian Turin antara Kaisar Napoleon III dengan Raja Victor Emmanuel II dari Kerajaan Sardinia-Piedmont Savoy pada 1860, Kabupaten Nice yang milik Savoy (Italia-Alpen) telah diambil alih sehingga menjadi milik Perancis. Peristiwa ini dikenal secara negatif sebagai suatu pencaplokan Nice oleh negara Perancis, yang sejatinya merupakan suatu imbalan atas bantuan Prancis terhadap gerakan unifikasi Italia.
Dari kacamata Indonesia hal tersebut adalah hasil diplomasi geopolitik abad-19, bukan merupakan suatu pencaplokan dan bukan merupakan suatu langkah dari hasrat kekuasaan yang rakus (Libido Dominandi).

Dalam horizon mental Prancis abad ke-14 yang dilanda perang 100 tahun melawan Inggris dan wabah pes The Black Death, Majapahit tampak dari kejauhan sebagai kerajaan rempah Timur yang makmur, yang Gemah Ripah Loh jinawi, yang stabil, dengan armada maritim yang sangat kuat, yang merupakan suatu kontras terang terhadap kehidupan bangsa Perancis yang sedang sangat menderita.

ADVERTISEMENT

Para Ilmuwan dunia menyebutnya sebagai: Gens calamitatibus oppressa (bangsa yang tertindas sebagai akibat bencana). Surya Majapahit dalam imajinasi Eropa kontemporer, dapat menyerupai cahaya peradaban manusia di ufuk Timur.

Gemah ripah loh jinawi bukan sekadar karena keadaan dan sumber daya alam, melainkan hasil langsung dari kuatnya kepemimpinan ganda Maharaja Hayam Wuruk dalam aspek legitimasi kosmis dan harmoni serta Mahapatih Gajah Mada dalam aspek organisasi politik dan ekonomi. Kombinasi keduanya menciptakan Majapahit sebagai negara bangsa yang cemerlang pada abad ke 14 di belahan dunia Timur, yang meliputi Asia Tenggara selama 234 tahun lamanya.

ADVERTISEMENT


Ads end in 01:11



Selama dua setengah abad lebih sebelum benua Amerika diketemukan oleh Christopher Columbus, Majapahit telah berhasil dengan gemilang membangun Asia Tenggara sebagai suatu integritas mandala. Sementara itu Perancis secara geopolitik sedang sibuk membela diri dari nafsu dominasi Inggris.

Jikalau dahulu Inggris menang, maka Prancis sekarang mungkin sudah lenyap sebagai suatu bangsa dalam sejarah dunia. Setengah (50%) dari bangsa Perancis sudah pernah lenyap di masa The Black Death (1347-1352) sehingga beberapa kota hilang ( 60%), desa-desa kosong ditinggalkan penghuninya, ladang terbengkalai, ekonomi lumpuh total, banyak terdapat kuburan massal dan wibawa gereja hancur lebur.

Rakyat yang tak kunjung terobati mendapatkan bukti, bahwa doa juga ternyata tidak berhasil menghentikan wabah dan para imam yang diyakini oleh masyarakat ternyata ikut mati. Tuhan kemudian dirasakan semakin jauh dari benak orang Perancis. Banyak kronikus yang mencatat, bahwa Laity (orang awam) berhenti berharap pada Klerus (Pemuka Agama), sehingga Perancis mengalami krisis religius yang membuat hancur leburnya kewibawaan agama.

Walaupun runtuhnya kewibawaan Gereja saat Black Death (Maut Hitam) bukan awal langsung mencuatnya paham ateisme di Prancis, tetapi merupakan krisis kepercayaan religius institusional pertama di sana yang cukup fenomenal. Krisis tersebut merupakan awal dari suatu proses panjang yang akhirnya, melalui masa Renaisans, Reformasi dan Pencerahan, telah melahirkan sekularisme dan berkembangnya ateisme modern di kalangan masyarakat Prancis.

Kota Kabupaten Nice terletak berdekatan dengan Monaco yang jaraknya hanya 20 km ke arah timur, sehingga banyak warga Nice beraktivitas harian di kerajaan kecil yang merdeka dan tempat kaum jetset dunia berkumpul. Monaco tidak pernah menyatakan "merdeka" seperti negara-negara koloni lain di dunia.

Statusnya terbentuk secara bertahap mulai tahun 1297 didirikan oleh Dinasti Grimaldi yang merebut benteng Monaco, sehingga pada tahun 1419 Monaco menjadi kepemilikan sah keluarga Grimaldi. Pada tahun 1641 dalam Perjanjian Péronne, Monaco lepas dari pengaruh Spanyol tetapi masuk sebagai protektorat Prancis.

Pada 1861 dalam perjanjian Franco-Monégasque, Prancis dengan serta merta mengakui kedaulatan Monaco. Inilah tanggal yang biasanya dianggap sebagai "kemerdekaan de facto" Monaco dan Prancis berfungsi melindungi Monaco di bidang militer dan diplomasi. Monaco dinilai sebagai negara yang sangat kecil, yang tidak mungkin berdiri sendiri tanpa proteksi dari negara yang kuat.

Bendera Kerajaan Monaco adalah merah-putih, yang berasal dari warna keluarga Grimaldi (abad pertengahan). Warna heraldik mereka adalah merah (gules) dan putih/perak (argent) digunakan sejak tahun 1881.

Dengan Monaco sudah diakui sah secara hukum internasional (1861) maka penduduk Monaco merasa sudah merdeka, namun dengan demikian Prancis akhirnya diuntungkan dalam aspek sosial-ekonomi, pajak dan juga prestige. Dalam hukum internasional, kedaulatan suatu mikro-negara tetap syah jika diakui dan keadaannya stabil.

Warna bendera negara Monaco persis sama dengan bendera Indonesia dan mereka telah menggunakannya sebelum negara bangsa Indonesia lahir. Namun jika ditinjau dari aspek sejarah, Majapahit di Indonesia telah lebih dahulu menggunakan warna merah-putih dalam 9 (sembilan) garis horizontal merah dan putih.

Bendera demikian juga sampai sekarang dipakai dalam panji-panji Kraton Majapahit Jakarta dan sebagai jack dari TNI AL Indonesia. Makna merah-putih Majapahit dalam kosmologi Nusantara-Austronesia: merah = darah / keberanian / bumi / raga dan putih = tulang / kesucian / langit / jiwa.

Dengan demikian mempunyai makna filosofis sebagai kesatuan raga-jiwa, keberanian yang suci, kehidupan manusia yang utuh. Dalam filsafat Jawa kuno: merah = ibu (rahim) dan putih = ayah (benih), merupakan simbol kelahiran dan kehidupan bangsa Indonesia dan Nusantara.

Secara simbolik dalam tradisi Jawa-Indonesia-Nusantara: awal = putih (asal roh) dan akhir = merah (kembali ke bumi). Panji Majapahit merah di awal dan merah di akhir.

Maknanya adalah kekuasaan duniawi (cakravartin), yaitu berdaulat di bumi Nusantara, suatu kerajaan maritim (darah-tanah) dan dominasi raga atas asketisme. Realitas budaya dan ekonomi serta keindahan arsitektur fisik istana dan Kerajaan Majapahit pernah menimbulkan kekaguman dari seorang Barat bernama Odoric Pordenone (1286-1331).

Ia adalah seorang biarawan Fransiskan asal Italia yang terkenal sebagai penjelajah Eropa, berawal ke Asia Timur dan Asia Tenggara pada awal abad ke-14 - jauh sebelum era penjelajah kolonial Vasco da Gama. Dalam laporan perjalanannya (Itinerarium) awal abad-14 ia menggambarkan bagaimana seorang Eropa melihat Nusantara saat Majapahit berada di bawah Rajanya yang kedua yaitu Raja Jayanegara.

Odoric tiba di dunia yang ia anggap sebagai kerajaan yang "ajaib dan kaya raya" dan terasa baginya seperti dunia yang lebih maju daripada Eropa. Dalam kisahnya Odoric menulis tentang tanah Majapahit yang sangat subur, buah-buahan melimpah, hasil bumi yang kaya, rakyatnya yang hidup sejahtera dan ia gambarkan wilayah itu sebagai hampir "sorga dunia".

Bagi bangsa Eropa abad-14 yang sering kelaparan, suasana tersebut sangat menakjubkan. Terutama pada perdagangan maritim yang berjaringan luas, karena dilihatnya kapal-kapal Majapahit yang besar- besar datang dan pergi saling bertransaksi dengan para pedagang India, Cina, Arab dan bangsa-bangsa Asia Tenggara. Ia menyadari bahwa kawasan ini bagian sistem perdagangan besar, bukan pinggiran.

Odoric Pordenone mencatat kerajaan Majapahit seperti di beberapa kerajaan Asia lain memiliki Raja yang kuat, istana yang megah, tata kota yang baik dengan arsitektur yang memukau serta kegiatan ritual istana yang sangat berbeda dengan Eropa. Ia terkesan bahwa Majapahit masyarakatnya ramah-tamah dan sopan santun, penuh disiplin dan makmur tanpa aturan agama (Kristen) yang kaku seperti halnya di Eropa.

Masyarakat menganut agama Hindu dan Budha yang hidup berdampingan dengan penuh toleransi, sehingga memperkuat kohesi sosial. Tulisannya tersebut sangat penting karena telah mengguncang pandangan Eropa saat itu, bahwa hanya dunia agama (Kristen) saja yang dapat maju. Nada tulisannya bernuansa rasa kagum yang bukan merendahkan, yang merupakan khas tulisan para misionaris Fransiskan yang observatif, bukan nada kolonial.

Dalam imajinasi Eropa kemudian, bahwa Dunia Timur adalah dunia kemakmuran, sedangkan Eropa adalah dunia Barat yang serba kekurangan. Makna historisnya pada kisah biarawan Odoric Pordenone menunjukkan suatu fakta penting, yaitu bahwa rakyat Majapahit lebih makmur daripada bangsa Eropa. Jaringan dagang global di belahan dunia Timur menunjukkan, bahwa Nusantara bukan merupakan periferi melainkan pusat keunggulan yang serta merta membalik narasi kolonial Barat.


Read More

Sejarah kekaisaran ottoman

 Di bawah Sultan Bayezid, “Sang Petir”, Kekaisaran Ottoman meraih serangkaian kemenangan militer yang menakjubkan di Balkan dan Asia Barat. Namun, ambisi Bayezid menempatkannya di jalur penakluk Turki-Mongol, Timur, yang menangkap Sultan dalam pertempuran.



Dikenal sebagai Masa Interregnum, ini memulai perang saudara selama satu dekade. Akibat perang saudara tersebut, Kekaisaran Ottoman kehilangan wilayah yang hampir menghancurkan kekaisaran itu sepenuhnya.

Bagaimana kisahnya?

Ottoman: Dari Klan Nomaden Menjadi Kekaisaran

Ottoman lebih sering dikenang sebagai dinasti kekaisaran yang perkasa. Namun mereka berasal dari awal yang sederhana. Pendiri kekaisaran, Osman I, adalah putra Ertughrul, seorang kepala suku nomaden atau pejuang suku. Osman adalah salah satu dari banyak kepala suku Turkik yang berlomba untuk menguasai Anatolia—Turki modern—setelah runtuhnya kekuasaan Seljuk.

“Putra Osman, Orhan, memperluas kerajaan kecil itu dengan menaklukkan kota-kota Bizantium dan bahkan menikahi Putri Bizantium, Theodora,” tulis Hilal Nur Kuyruk di laman The Collector. Pernikahan ini memperkuat aliansinya dengan penguasa Bizantium, John VI Cantacuzenus.

Orhan memerintah selama sekitar 40 tahun dan membangun lembaga-lembaga menetap yang penting. Seperti masjid, karavanserai (penginapan di tepi jalur perdagangan), dan perguruan tinggi teologi (madrasah).

Setelah kematian Orhan, putranya Murat I menjadi penguasa dan menyebut dirinya sebagai sultan. Momen ini menandai pergeseran menuju bentuk pemerintahan yang lebih sesuai dengan masyarakat Islam yang menetap, daripada masyarakat Turkik nomaden.

Murat ingin memperluas kekuasaan Ottoman di seluruh Anatolia dan Balkan. Ia menaklukkan Adrianople (Edirne), menjadikannya ibu kota Ottoman yang baru.

Selanjutnya, Murat beralih ke Balkan. Ia merebut tanah di Bulgaria dan menerapkan kebijakan devshirme yang terkenal kejam. Kebijakannya itu menyebabkan anak laki-laki Kristen di Balkan diambil sebagai wajib militer dan dibesarkan di istana Kekaisaran Ottoman. Banyak dari anak laki-laki ini menjadi janissari, korps tempur elite sultan yang berperan penting dalam keberhasilan militer Ottoman.

Akhir Murat datang pada tahun 1389 ketika ia dibunuh selama Pertempuran Kosovo.

Ambisi Bayezid

Bayezid I, putra Murat, memimpin sayap kiri tentara ketika ayahnya terbunuh. Bayezid segera mencekik saudara laki-lakinya dan saingannya Yakub Çelebi. Hal ini dilakukan agar tidak ada yang menantang kekuasaannya. Bayezid dijuluki “petir,” sebuah julukan yang merujuk pada kecepatan dan kekuatan yang digunakannya untuk menaklukkan wilayah.

Namun, sifat ambisius Bayezid akan membuatnya bermasalah dengan kerajaan-kerajaan Turki lainnya yang memerintah Anatolia. Perbatasan kekaisaran perlahan-lahan meluas ke perbatasan kerajaan-kerajaan lain seperti Aydinid. Sesuai dengan reputasinya, ia dengan cepat mencaplok wilayah-wilayah negara-negara tersebut dengan dukungan para pengikut Kristennya.

Ia percaya bahwa para prajurit Turki di bawah komandonya mungkin enggan untuk melawan sesama orang Turki. Karena itu, Bayezid mulai mengabaikan para ghazi, para prajurit yang dulunya merupakan seluruh angkatan bersenjata. Para pejuang Turki ini semakin terasingkan oleh Bayezid, yang kebijakan-kebijakannya tidak lagi mereka setujui.

Namun, Bayezid masih memiliki pengikut Serbia dan Bizantium, serta pasukan Janissari, untuk diperangi jika para ghazi menolak. Ia terus maju dan mencaplok kerajaan Germiyan, Teke, dan Hamid.

Ia juga merebut kota-kota bersejarah penting seperti Konya, ibu kota lama Seljuk. Namun, serangan Bayezid yang tak henti-hentinya terhadap emirat-emirat Muslim ini berakhir dengan keterlibatan Timur, penakluk Turki-Mongol.


Timur the Lame: Cambuk Tuhan

Timur, yang sering disebut Tamerlane di Barat, lahir di Uzbekistan modern, sebagai putra seorang bangsawan. Ia berasal dari suku Barlas, sebuah kelompok Mongol yang telah mengalami Turkifikasi. Timur mengalami peningkatan kekuasaan yang eksponensial. Dari seorang perampok nomaden, ia menjadi pemimpin militer, dan akhirnya menjadi penakluk dan emir (penguasa).

Reputasi penakluk mendahuluinya. Kisah-kisah tentang kekejaman dan kebiadabannya menyebar ke seluruh Eropa dan Asia. Seperti bangsa Mongol di bawah Genghis Khan berabad-abad sebelumnya, Timur tidak kenal ampun terhadap komunitas yang menentang kekuasaannya.

Serangan militernya di Iran mengungkapkan sejauh mana Timur siap menghukum mereka yang tidak tunduk kepadanya. Saat itu, penduduk Isfahan memberontak terhadap pajaknya yang berat. “Timur dilaporkan telah membunuh lebih dari 100.000 orang dan membangun menara dari tengkorak mereka,” ungkap Kuyruk

Namun, reputasi menakutkan itu adalah taktik menakut-nakuti yang efektif yang mempermudah penaklukan Timur. Faktanya, mereka yang tunduk, seperti penduduk Tabriz (Iran), dibiarkan dalam keadaan relatif damai. Timur terlibat dalam pertempuran di sekitar Asia Tengah dan anak benua India.

Ia meninggalkan Anatolia untuk mengurus dirinya sendiri. Namun, penaklukan kerajaan-kerajaan Turki oleh Bayezid—beberapa di antaranya membayar upeti kepada Timur—tidak dapat diterima di mata Timur.

Sepanjang tahun 1390-an, Timur dan Bayezid bertukar beberapa surat untuk menyelesaikan situasi ini. Surat-surat tersebut berisi banyak ungkapan penghinaan. Termasuk Bayezid yang disebut “semut” oleh Timur, dan Timur yang disebut “anjing tua” oleh Bayezid. Pada awal abad ke-15, kedua penguasa mulai melakukan persiapan strategis untuk perang.

Akibat Pertempuran Ankara

Dengan dalih mengembalikan kerajaan-kerajaan Turki kepada pemiliknya yang sah, Timur berangkat ke Anatolia pada tahun 1400. Dengan pasukan sebanyak 140.000 tentara, ia menghadapi Bayezid di medan perang pada tahun 1402.

Pasukan Bayezid mulai hancur ketika suku-suku Turki membelot, memilih untuk berperang demi Timur. Pasukan tersebut merasa memiliki ikatan kekerabatan sebagai mantan pengembara stepa dengan Timur. Para pengikut Bayezid di Balkan juga mundur sebelum waktunya, semakin melemahkan kekuatan militernya. Puncaknya adalah ketika Bayezid ditangkap oleh pasukan Timur.

Bayezid dan keluarganya, termasuk istrinya Despina dan putranya Mustafa, ditawan oleh Timur hingga kematian Bayezid yang mencurigakan pada 1403. Putra-putra Bayezid bertindak karena aturan suksesi Turki yang memungkinkan setiap anggota keluarga kerajaan laki-laki untuk menjadi sultan. Namun, Timur mengakui Mehmet sebagai pewaris ayahnya dan menempatkannya di tahta Kekaisaran Ottoman.

Namun, putra-putra Bayezid lainnya menolak keputusan Timur. Mereka menolak untuk mengakui otoritas Mehmet. Semuanya mengeklaim bahwa mereka berhak memerintah kerajaan kecil itu. Tampaknya perang saudara tak terhindarkan.

Perang Saudara yang Hampir Menghancurkan Kekaisaran Ottoman

Kakak laki-laki Mehmet, Isa, memantapkan dirinya sebagai penguasa di Bursa. Dengan dorongan dari para penasihatnya, Mehmet meninggalkan provinsi Amasya. Ia melancarkan perang terhadap kakak laki-lakinya.

Setelah kalah dalam pertempuran kecil, Isa meminta bantuan Bizantium dan saudaranya Suleiman. Pada tahun 1406, saat sedang mandi di hamam (pemandian Turki), pasukan Mehmet menyergap Isa dan mencekiknya hingga tewas.

Dari keempat saudara yang masih hidup, Mehmet memiliki dukungan terkuat. Setelah kematian wazir agungnya, Çandarli Ali Pasa, kedudukan Suleiman di antara banyak penduduk perbatasan dan suku-suku Turki mulai melemah.

Sebagai seorang pejuang sejati, Suleiman menghabiskan beberapa tahun berikutnya berkeliling kekaisaran. Suleiman mengampanyekan dukungan untuk Bizantium, kekuatan bawahan seperti Bulgaria, dan suku-suku Turkmen di Balkan.

Setelah mendengar kedatangan saudaranya, Musa, di Edirne pada musim dingin tahun 1411, Suleiman berusaha melarikan diri. Namun, ia dibunuh oleh penduduk desa yang percaya bahwa mereka akan menerima hadiah dari saingannya. Yang mengejutkan mereka, Musa sangat marah karena darah bangsawan telah ditumpahkan oleh rakyat jelata dan memerintahkan penghancuran seluruh desa mereka.

Kemenangan Mehmet

Karena Pangeran Mustafa masih ditawan di istana Timurid, hanya ada dua kandidat untuk takhta. Mereka adalah Pangeran Mehmet dan Musa. Kedua bersaudara itu sepakat untuk membagi wilayah Kekaisaran Ottoman yang tersisa menjadi dua. Mehmet memerintah sebagai Sultan di Anatolia dan Musa, yang juga seorang sultan, memerintah wilayah Eropa.

Namun, ini bukanlah yang sebenarnya diinginkan Musa. Pada Februari 1411, Musa menyatakan kemerdekaannya dengan mencetak koin atas namanya sendiri. Ia juga mengepung Konstantinopel, seperti yang dilakukan ayahnya, Bayezid.

Kaisar Bizantium Manuel II Palaeologus yang sedang kesulitan memohon perlindungan kepada Mehmet untuk melawan serangan saudaranya. Mehmet membawa pasukannya ke Konstantinopel, di mana mereka menyerang—meskipun tidak berhasil—pasukan Musa.

Mehmet membutuhkan bantuan lebih lanjut. Ia meminta bantuan Stefan Lazarević, penguasa Serbia dan saudara laki-laki Despina Hatun, istri Bayezid I. Pada tanggal 5 Juli 1413, di Samokov, Bulgaria modern, pasukan Mehmet dan Musa bertemu. Meskipun awalnya berhasil, pasukan Musa kehilangan pijakan ketika para bangsawan membelot ke pihak Mehmet.

Pertempuran Çamurlu berakhir dengan kemenangan pasukan Mehmet dan kematian Musa. Mehmet kini menjadi sultan di Kekaisaran Ottoman yang tak tertandingi. Pemerintahannya berlangsung hingga kakak laki-lakinya, Mustafa, dibebaskan dari penawanan oleh putra Timur, Shahrukh. Dari tahun 1415-1416, masa interregnum sempat dimulai kembali. Untungnya bagi Mehmet, Kaisar Bizantium setuju untuk tetap menahan Mustafa di pulau Lesbos selama sisa masa pemerintahan Mehmet.

Masa Pemerintahan dan Perjuangan Mehmet

Masa pemerintahan Mehmet berperan penting dalam menghidupkan kembali Kekaisaran Ottoman. Dipuji sebagai “pendiri kedua” Kekaisaran Ottoman, Mehmet mendirikan ibu kotanya di Edirne, sebuah kota terkemuka di dekat Konstantinopel. Ia juga meraih banyak wilayah kekuasaan di Balkan dan Anatolia Timur.

Meskipun demikian, pemerintahannya tidak tanpa masalah. Mustafa, kakak laki-lakinya, sempat mengeklaim kekuasaan. Di Rumelia—provinsi-provinsi Eropa kekaisaran—muncul gerakan keagamaan populer yang dipimpin oleh mistikus Sufi dan revolusioner Sheikh Bedreddin. Pada tahun 1416, gerakan ini berubah menjadi pemberontakan besar-besaran terhadap pemerintahan Mehmet.

Mehmet berusaha memulihkan wilayah-wilayah kekaisaran sebelumnya, para wazirnya menangani pemberontakan yang diilhami oleh syekh mistikus ini. Pada tahun 1420, Bedreddin, bersama ribuan pengikutnya, dibantai, mengakhiri tantangan terhadap otoritas Mehmet.

Mehmet meninggal setahun kemudian, meninggalkan takhta kepada putranya yang berusia 16 tahun, Murat. Masa interregnum secara resmi berakhir ketika sultan muda itu mewarisi kekaisaran yang relatif bersatu seluas 870.000 kilometer persegi. Murat akan segera menghadapi masalah sosial dan politiknya sendiri. Meski demikian, Murat berutang budi atas kemajuan intelektual dan artistik pada zamannya kepada upaya ayahnya untuk perdamaian.

Read More