Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 07 Oktober 2026

KUMPULAN HADITS TENTANG PERTANYAAN DI ALAM KUBUR

 PERTANYAAN DI ALAM KUBUR      

Dari penjelasan   PADA ARTIKEL SEBELUMNYA   dapat   dipahami   bahwa   semua   orang   akan mengalami fitnah (ujian) kubur, kecuali para Nabi dan syuhada. Fitnah kubur adalah  pertanyaan  yang  ditanyakan  dua  Malaikat  di  alam  kubur.Barang siapa  yang  bisa  menjawabnya  maka  ia  selamat. 

PERTANYAAN DI ALAM KUBUR


Namun  yang  tidak  bisa menjawabnya ia akan binasa. Dalam hadits riwayat Abu Daud yang panjang disebutkan mengenai pertanyaan  dua   Malaikat di alam kubur dan konsekuensinya setelah melewati pertanyaan tersebut bagi orang mukmin dan orang yang kafir. Hadits-hadits tentang pertanyaan di alam kubur      Dari   Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Ruh orang (mukmin) yang meninggal akan mendengar hentakan kaki orang-   orang yang menguburkannya ketika mereka mulai berpulangan. Kemudian Fitnah kubur bukanlah siksa kubur sebagaimana sangkaan sebagian orang. Fitnah kubur berbeda dengan adzab kubur.

  setelah itu datanglah dua Malaikat yang garang dan membentaknya. Kedua  malaikat tersebut mendudukan sang mayit dan bertanya: siapa Rabb-mu? Ia menjawab: Rabb-ku adalah Allah. Kedua Malaikat bertanya: apa agamamu?  Ia menjawab: Agamaku Islam. Kedua Malaikat bertanya: siapa orang yang   diutus untuk kalian? Ia menjawab: ia adalah Rasulullah Shallallahu'alaihi  Wasallam. Kedua Malaikat bertanya: Kemudian apa ilmumu? Ia menjawab:   aku membaca Al Qur'an, aku beriman kepadanya, dan membenarkannya. Maka seorang akan ditanya siapa Rabb-nya, apa agamanya dan siapa     Nabinya? Dan itu adalah ujian terakhir yang diujikan kepada seorang Mukmin.

 Adapun  orang-orang  kafir  dan  munafik,  mereka  tidak  bisa  menjawab pertanyaan di alam kubur. Disebutkan dalam lanjutan hadits:    “Ruh orang (kafir) yang meninggal akan mendengar hentakan kaki orang-   orang yang menguburkannya ketika mereka mulai berpulangan. Kemudian  setelah itu datanglah dua Malaikat yang garang dan membentaknya. Kedua  malaikat tersebut mendudukan sang mayit dan bertanya: siapa Rabb-mu? Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Kedua Malaikat bertanya: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Kedua Malaikat  bertanya: siapa orang yang diutus untuk kalian? Apakah engkau tidak tahu   namanya? Bukankah dia Muhammad.

 Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak   tahu. Aku pernah mendengar orang-orang menyebutnya. Maka dikatakan kepadanya: Engkau tidak belajar Al Qur'an, engkau tidak membaca Al Qur'an. Kemudian diserukan dari langit: Engkau telah mendustakan Al Qur'an. Lalu ia pun diperlihatkan bagian dari neraka . Dari Al Barra' bin Azib radhiallahu'anhu,  Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda mengenai pertanyaan di alam kubur:“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian     didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan    rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah  Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27).Juga terdapat riwayat  yang mauquf  dari Abdullah  bin  Mas'ud radhiallahu'anhu, bahwa beliau berkata:“Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian.

Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup     atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan   Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah  pakaian dari surga yang akan dipakainya.    

Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu  disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya,  yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan   dipakaikan penutup kepala dari besi panas padanya”. Nama malaikat yang bertanya di alam kubur Nama  dua  malaikat  yang  memberi  pertanyaan  di  alam  kubur  adalah Munkar dan Nakir. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar .  “Ketika salah seorang dari kalian dikuburkan, maka akan datang kepadanya  dua Malaikat yang hitam dan bermata biru. Yang satu bernama Munkar dan      yang lainnya bernama Nakir. Keduanya bertanya: “Apa pendapatmu   mengenai lelaki ini (yaitu Rasulullah)?”. Si mayit menjawab sebagaimana yang pernah dikatakan dahulu (ketika hidup): “Dia adalah hamba Allah dan  Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain  Allah dan Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam adalah hamba Allah dan Rasul-Nya”. Keduanya berkata: “Kami sudah mengetahui bahwa kamu akan  mengucapkan demikian.... Hakekat fitnah kubur dan cara agar bisa menjawabnya Hadits-hadits diatas menunjukkan dengan tegas tentang adanya pertanyaan dari dua malaikat di alam kubur.

Dan bahwa pertanyaan di alam kubur terdiri dari tiga pertanyaan:    

1. Siapa Rabb-mu?   

2. Siapa Nabimu?     3. Apa agamamu?

Imam Abu Ja'far Ath Thahawi rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan: “(Kami mengimani) adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam    kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”.

Dan pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dihafal jawabannya dan tidak bisa dicurangi. Yang mampu menjawabnya adalah orang yang benar imannya dan  akidahnya  terhadap  Allah  dan  Rasul-Nya.

Sebagaimana  firman  Allah ta'ala: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit .  Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan  merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”. Maka  cara  agar  kita  dapat  menjawab  pertanyaan  di  alam  kubur  adalah dengan  mengokohkan  akidah  kita,  dengan  mempelajari  dan  mengamalkan ilmu-ilmu   akidah  dan   tauhid,   terutama   ilmu   yang   membahas   tentang mengenal  Allah ta'ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya,hak-hak-Nya,juga ilmu tentang mengenal Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, namanya, nasabnya, perjalanan  hidupnya,  hak-haknya,sunnah-sunnahnya,dan  juga ilmu tentang agama Islam secara umum. Dan inilah landasan-landasan utama dalam agama Islam. Oleh  karena itu  Syaikh  Muhammad  bin  Abdil  Wahhab rahimahullah, beliau membuat kitab Al Ushul Ats Tsalatsah yang berisi tentang penjelasan ringkas   tentang   mengenal   Allah,   mengenal   Islam   dan   mengenal   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam.

Adapun orang kafir, orang munafik dan orang yang ada keraguan dalam imannya,  mereka  tidak  bisa  menjawab  pertanyaan  di  alam  kubur  dengan benar. Mereka akan mengatakan,  “hah.. hah.. saya tidak tahu. Dahulu ketika di  dunia  saya  mendengar  orang-orang  mengucapkan  sesuatu,  maka  saya ikuti saja.Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Renungkanlah ucapan ““hah.. hah.. saya tidak tahu” ini! Ini menunjukkan bahwa  ia  seakan-akan  teringat  sesuatu  dan  berusaha  mengingatnya,  namun tidak  bisa.  Ketika  seseorang  teringat  sesuatu  dan  tidak  bisa  menghadirkan ingatan  itu,  ia  akan  merasakan  kegalauan  yang  amat  sangat,  dibandingkan jika ia tidak tahu sama sekali“.

Sumber :

136 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 137 QS. Ibrahim: 27 138 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul     Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H

131 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud 132 HR. Bukhari no.1369, Muslim no.7398

134 HR. At Tirmidzi no. 1071, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam as Silsilah al Ahadits ash Shahihah no. 1391 135 Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.     Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip      akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H.

130 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud

Read More

Selasa, 06 Oktober 2026

BEBERAPA AKIDAH AHLUSSUNNAH TERKAIT ALAM KUBUR KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR

 BEBERAPA AKIDAH AHLUSSUNNAH TERKAIT  ALAM KUBUR KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR    

Para hamba di alam kubur ada lima golongan :    

Pertama, para Nabi dan Rasul  'alaihimussalam. Mereka dalam keadaan yang paling baik di alam kubur. Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:     “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad padaNabi.  

BEBERAPA AKIDAH AHLUSSUNNAH TERKAIT  ALAM KUBUR KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR

   

Kedua, para syuhada   (orang   yang   wafat   ketika   jihad fi  sabilillah). Mereka  mendapat  nikmat  kubur,  selamat  dari  fitnah  kubur  (pertanyaan kubur) dan adzab kubur. Ada sahabat yang bertanya:  “Wahai Rasulullah, apakah benar bahwa setiap Mukmin mengalami ujian di dalam kubur mereka kecuali para syuhada? Nabi Shallallahu'alaihi   Wasallam bersabda: 'Cukuplah sabetan pedang di kepala mereka menjadi ujian bagi mereka'.      

Ketiga,  orang-orang  mendapat  nikmat  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur.  Mereka  mendapat  berbagai  kenikmatan  surga:  ditemani  oleh  amalan shalih,  diluaskan  kuburnya,  diperlihatkan  surga  kepada  mereka.  Mereka berbahagia   sampai-sampai   mereka   ingin   Kiamat   disegerakan   agar  bisa berjumpa dengan keluarganya. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu: “... ketika mereka (penghuni kubur) diperlihatkan isi dari surga, mereka  mengatakan: Ya Rabb kami, percepatlah datangnya kiamat sehingga kamibisa berkumpul kembali dengan keluarga kami dan harta kami

Keempat,  orang-orang  mendapat  siksa  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur, namun tidak selamanya. Mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa namun masih memiliki iman dalam hati mereka. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata:    “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian    pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua  orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda,‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar(menurut mereka berdua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkan bekas kencingnya,dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba).     

Kelima,  orang-orang  mendapat  siksa  kubur  terus-menerus  hingga  hari kiamat,  merekalah  orang-orang  kafir  dan  orang-orang  munafik.  Mereka disiksa  dengan  siksaan  yang  mengerikan  dan  terus-menerus  hingga  hari kiamat. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu:“... dijadikan baginya sesosok yang buta dan bisu. Di tangannya ia  memegang alat pemukul dari besi yang jika digunakan untuk memukul gunung maka gunung tersebut akan menjadi debu. Maka alat tadi digunakan   untuk memukul sang mayit dengan pukulan yang keras, ketika dipukulkan   terdengar suaranyajeritannya antara timur dan barat kecuali oleh jin dan manusia lalu ia pun menjadi debu. Kemudian setelah itu dikembalikan lagi ruh tersebut seperti bentuknya semula.

Sumber :

127 HR. Bukhari no.6055, Muslim no.703 128 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud 125 HR. An Nasa-i no. 2052, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i 126 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Sunan Abu Daud

123 Diringkas dari Al Hayah Al Barzakhiyyah, karya Syaikh Abdurrahman As Suhaim rahimahullah 124 HR. Al Hakim 5/776, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami' no. 2212              

Read More

Senin, 05 Oktober 2026

DALALAH AYAT YANG DIANGGAP MENAFIKAN ADZAB KUBUR ADALAH QATH’I,

 DALALAH AYAT YANG DIANGGAP  MENAFIKAN ADZAB KUBUR ADALAH QATH’I, 

SYUBHAT 4 ADANYA ALAM  KUBUR

SEDANGKAN DALALAH AYAT DAN HADITS  YANG MENETAPKAN ADZAB KUBUR ADALAH  ZHANNI      Dari surat Yasin ayat 52, mereka memahami bahwa jika orang yang mati dikatakan ‘tidur’ setelah ia mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada   adzab   kubur   atau   nikmat   kubur.   Lalu   mereka   mengatakan   bahwa pendalilan  ayat  ini  adalah  pendalilan  yang qath’i  (tegas  dan  jelas),  atau dalalah  qath’iyyah117.  Sedangkan  surat  Ghafir  (Al  Mu’min)  ayat  45-46 tentang  Fir’aun  dan  kaumnya  setelah  matinya  mereka  dinampakkan  neraka setiap   pagi   dan   sore,  

DALALAH AYAT YANG DIANGGAP  MENAFIKAN ADZAB KUBUR ADALAH QATH’I,

jika   ayat   ini  digunakan    sebagai    dalil  untuk membenarkan  adanya  adzab  kubur  maka  pendalilannya  tidak qath’i,  tidak tegas, belum jelas maksudnya atau dalalah zhanniyyah. Terlebih lagi terdapat perselisihan di antara para ulama apakah yang dimaksud surat Ghafir ayat 45- 46 atau semisalnya itu dirasakan oleh ruh dan jasad atau keduanya sekaligus. Perselisihan    ini  menambah   ketidak-tegasan     pendalilan    ayat   tersebut. Sehingga  akhirnya  mereka,  dengan  modal  akal  mereka,  mengambil  ayat dengan dalalah qath’iyyah menurut logika mereka, lalu menutup mata (baca: membuang) terhadap    dalil  yang    menurut     mereka     memiliki dalalah zhanniyyah. Subhanallah! Orang yang berpenyakit hati gemar mempermainkan dalil! Dari  syubhat  yang  ke  4  ini  akan  terlihat  sekali  bagaimana  mereka mendewakan  akal  dalam  memahami  dalil-dalil  syariat. 

Dengan  akal  pula mereka  mementahkan  dalil  lain  yang  tidak  bersesuaian  dengan  hawa  nafsu mereka.  Padahal  dalil  syar’i  tidak  ada  yang  bertentangan  dan  semua  dalil wajib  kita  imani  dan  amalkan.  Orang-orang  yang  dipuji Allah  dengan  ilmu berkata: Dalalah artinya makna yang ditunjukkan oleh teks dalil.“Kami mengimani semua yang diwahyukan oleh Rabb kami”.       Mengambil  dalil  yang  sesuai  dengan  seleranya,  lalu  membuang  dalil yang tidak sesuai dengan seleranya adalah sikap orang-orang yang terdapat penyakit di dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:    “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara   (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an  dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam   hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-   ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari   takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.  Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada  ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak    dapat mengambil pelajaran (daripadanya)melainkan orang-orang yang berakal. Zhanni dan Qath’i itu nisbi Penilaian qath’i atau zhanni terhadap  sesuatu  itu nisbi atau relatif. Bagi sebagian  orang  sesuatu  itu qath’i,  namun  bagi  yang  lain zhanni. Dalam hal menilai  sebuah  dalil  itu qath'i atau zhanni,  relativitas  di  sini  bergantung kepada:                               

? Kedalaman penelaahan dalil-dalil syar’i    

? Penguasaan kaidah-kaidah dalam berdalil    

? Perbedaan tingkat kecerdasan    

? Kecepatan memahami sesuatu masalah

Oleh  karena  itu,  kita  dapati  para  ulama  terkadang berbeda  pendapat dalam menyatakan suatu dalil sebagai dalil yang qathi' atau dalil yang zhanni. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Telah jelas bahwa para ulama mujtahid itu berbicara dengan ilmu. Mereka mengikuti dalil. Dan ilmu fiqih itu adalah ilmu yang agung. Para ulama bukanlah termasuk orang- orang yang mengikuti prasangka semata. Namun, di antara mereka terkadang ada   yang   mengetahui   suatu   ilmu   yang belum diketahui  ulama  lain. Dikarenakan  ulama  yang  lain  belum  pernah  mendengarnya  atau  terkadang karena ulama lain belum memahaminya”. Maka, apa yang mereka (ahlul bid’ah) klaim zhanni, ternyata bagi para ulama adalah perkara yang qath’i.

Disebabkan kedangkalan akal mereka dan hawa nafsu yang terlanjur membutakan akal mereka. Merujuk kepada ahli ilmu dalam memahami dalil Dalam  kasus  di  atas,  ahlul  bid’ah  mempertentangkan  dalil-dalil  karena dalam  memahami  dalil  mereka  hanya  mengandalkan  logika  semata,  sama sekali  enggan  merujuk  kepada  penjelasan  ulama.  Padahal  dalam  surat  Al Imran  ayat  7  di  atas, Allah  telah  mengisyaratkan  bahwa  untuk  memahami dalil   secara    sempurna       tanpa    menolak sebagian dalil adalah dengan mengembalikannya kepada ahli ilmu yang raasikh (mendalam  ilmunya).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,“Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan itu tidak saling mendustakan, bahkan saling membenarkan satu sama lain. Ayat-ayat yang kalian pahami,amalkanlah. Ayat-ayat yang kalian tidak pahami, kembalikanlah kepada orang alim yang memahaminya”. Karena  para  ulama  memahami  dalil  dengan  dalil,  menafsirkan  dalil dengan atsar sahabat Nabi, tabi’in serta orang yang mengikuti mereka, yang merupakan generasi terbaik dan paling paham terhadap Qur’an dan Sunnah.

Dan   faktanya,ketika   kita   mengembalikannya   kepada   ulama,   tidak ditemukan adanya pertentangan di antara dalil-dalil di atas. Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Surat Ghafir (Al Mu’min) ayat 45-46 menetapkan adanya adzab  kubur  berdasarkan  tafsir  dari  Mujahid rahimahullah,  seorang  tabi’in yang   dijuluki imamul   mufassir, juga  riwayat  dari  ulama mufassir (pakar tafsir) yang lain. Juga karena bersesuaian dengan hadits-hadits shahih yang mencapai derajat mutawatir. Pendalilan yang berdasarkan hadits shahih serta atsar  salaf  ini  tentu  lebih  utama  dan  lebih  agung  dibanding  pendalilan berdasarkan ra’yu   (logika).  

Dan   pendalilan   yang   demikian ini adalah pendalilan yang qath’i.       Sedangkan surat Yasin ayat 52, berdasarkan riwayat dari seorang sahabat Nabi,   Ubay   bin   Ka’ab radhiallahu’anhu  ,  juga  dari  para  tabi’in  yaitu Khaitsamah, Mujahid dan Qatadah radhiallahu’anhum tafsiran ‘tidur‘ dalam ayat ini adalah: “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Sehingga ayat ini tidak menafikan adanya adzab kubur. Sekali lagi, pendalilan dengan atsar  salaf  ini  tentu  merupakan  pendalilan  yang qath’i.  Walhasil,  tidak  ada pertentangan di  antara    ayat dengan   ayat, atau  ayat dengan hadits, walillahilhamdu.

Sumber :

122 HR. Ahmad 2/161, dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu'anhu. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Syarhu Al     Aqidah At Thahawiyah, hal. 585 120Ma’alim Ushulil Fiqhi 'inda Ahlissunnah wal Jama'ah, halaman 80-81, karya Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani 121Majmu’ Fatawa, 13/124-125118 QS. Ali Imran: 7 119 QS. Ali Imran: 7                                                      

Read More

Minggu, 04 Oktober 2026

BEBERAPA ULAMA MENILAI HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB KUBUR

 BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR

SYUBHAT 3 ADANYA ALAM  KUBUR

 Syubhat  ini  adalah  turunan  dari  syubhat  kedua.  Dalam  tulisan-tulisan mereka  yang  menolak  adanya  adzab  kubur,  mereka  mengutip  beberapa pernyataan sebagian ulama ahlussunnah yang menganggap hadits ahad hanya bernilai zhan dan tidak bernilai ilmu.

BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR


Sehingga mengesankan bahwa sebagian ulama tersebut juga tidak mengimani adanya adzab kubur. Inilah kecurangan mereka dalam berargumentasi. Memang benar terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang apakah hadits Ahad    bernilai zhan,  ataukah  bernilai  ilmu,  ataukah  bernilai  ilmu  namun dengan   syarat.   Namun   mereka   sepakat   beramal   dengan   hadits   Ahad, sebagaimana telah kami sampaikan pernyataan ijma dalam hal ini.

Memang juga   sebagian   ulama,   mengatakan   bahwa   terhadap   hadits  Ahad,   wajib beramal  dengannya  namun  tidak  diyakini.  Namun  hal  ini  pada  hakekatnya hanyalah ikhtilaf lafzhi, karena setiap dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang shahih  adalah  hujjah  yang  wajib  diyakini  kebenarannya  dan  diamalkan.

Bagaimana mungkin seseorang diperintah untuk beramal tanpa meyakini apa yang dia amalkan? Semisal  hadits  tentang  meminta  perlindungan  dari  adzab  kubur  setiap selesai shalat:      “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’”.  Bagaimana  mungkin   dengan dasar hadits ini,  dikatakan      bahwa disunnahkan  membaca  doa  tersebut  setiap  sebelum  salam  ketika  shalat namun   tidak   boleh   meyakini   isinya??   Dari   sini   terlihat   jelas   bahwa memisahkan  permasalahan  hukum  dan  aqidah  dalam  pembahasan  hadits Ahad adalah perkara yang aneh.  Di   antara    nama      ulama     yang    sering     di-’catut’    untuk     melariskan pemahaman  mereka  adalah  Al  Imam  Al  Bukhari.  Pasalnya,  dalam  kitab Shahih Bukhari beliau menulis judul bab:   “Bab dalil-dalil tentang bolehnya menggunakan khabar ahad yang shahih               dalam masalah adzan, shalat, puasa, waris dan ahkam” Padahal  Al   Bukhari   tidak   menyebutkan i’tiqad atau ‘aqaa-id  dalam kalimat  tersebut,  sehingga  diklaim  bahwa  beliau  tidak  berhujjah  dengan hadits  ahad  dalam  masalah  aqidah.  Padahal  faktanya,  Al  Bukhari  banyak meriwayatkan hadits-hadits Ahad dalam masalah aqidah di Shahih Bukhari. Adapun judul bab yang beliau buat demikian, justru untuk membantah orang- orang yang menolak kehujjahan hadits ahad secara umum. Dan yang paling penting  dan  perlu  digaris-bawahi  adalah, Imam  Al  Bukhari  mengimani  dari Aisyah radhiallahu'anha                           

adanya adzab kubur dan alam kubur. Sebagaimana telah kami singgung pada bagian dalil-dalil Al Qur’an tentang adanya alam kubur.   Selain beliau, Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani pun seringkali di-’catut’ dengan cara demikian. Padahal beliau dalam kitab Fathul Baari, menyetujui aqidah  Imam  Al  Bukhari  dalam  mengimani  adzab  kubur  dan  menyelisihi orang-orang yang menafikannya. Ketika beliau mengomentari kalimat:   Ibnu    Hajar rahimahullah  berkata:  “Seolah-olah,  maksud  Al  Bukhari mendahulukan  penyebutan  ayat-ayat  ini  karena  ingin  menjelaskan  bahwa pembahasan adzab kubur ada dalam Al Qur’an, menyelisihi sebagian orang yang  mengklaim  bahwa  pembahasan  adzab  kubur  hanya  ada  dalam  hadits ahad”116.      Selebihnya, nama-nama ulama yang mereka sebutkan untuk melariskan pemahaman menyimpang mereka, biasanya berasal dari kalangan ulama yang terpengaruh ilmu kalam atau pemikiran mu’tazilah. 116Fathul Baari, 4/443 115 HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589, 
Read More

Sabtu, 03 Oktober 2026

HADITS-HADITS TENTANG ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH

 HADITS-HADITS TENTANG  ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD  BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH 

 SYUBHAT 2 ADANYA ALAM  KUBUR   

Penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin  Al  Albani rahimahullah yang sudah kami kutip sebelumnya sudah mewakili dalam menjawab syubhat ini.  Ringkasnya,  hadits-hadits tentang adanya adzab kubur itu mutawatir bukan hadits ahad.Sampai-sampai  Ibnu Qutaibah  rahimahullah mengatakan:                                    

 

HADITS-HADITS TENTANG  ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD  BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH

  “Banyak sekali hadits tentang Munkar dan Nakir serta tentang adzab kubur.    Juga banyak hadits tentang doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati, aku   berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari   dari fitnah al masih ad dajjal”. Hadits-hadits ini semua shahih, yang tidak  mungkin para perawinya bersepakat untuk berdusta. Andaikan hadits-hadits   seperti ini tidak dikatakan shahih, maka tidak ada hadits yang shahih sama  sekali dalam agama kita. Dan andaikan hadits-hadits seperti ini tidak    dikatakan shahih, maka tidak ada lagi model hadits yang derajatnya lebih shahih lagi”.      

Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyah rahimahullah juga berkata,  “Mutawatir terbagi menjadi ‘aam dan khas. Bagi para ulama yang paham hadits dan fiqih ada hadits-hadits mutawatir bagi mereka yang tidak dianggap mutawatir oleh orang   awam.   Semisal   hadits   tentang   sujud   sahwi,   kewajiban   syuf’ah, kewajiban  membayar  diyat  bagi  yang  berakal,  kewajiban  merajam  pezina yang muhshan, hadits-hadits ru’yah, adzab kubur, ….. ”. Namun  perlu  digaris-bawahi  pula,  andaikan  hadits-hadits  tentang  alam kubur  atau  tentang  masalah  lain  adalah  hadits  Ahad  pun  tetap  merupakan hujjah.  Penjelasan  rinci  mengenai  hal  ini  akan  mencakup  banyak  bab  dari ilmu  ushul  fiqh  yang  tidak  mungkin  kami  paparkan  pada  kesempatan  ini.

Semoga  beberapa  poin  di  bawah  ini  cukup  memberikan  pencerahan  bahwa hadits Ahad adalah hujjah, baik dalam masalah aqidah atau bukan: a. Wajib beramal dengan hadits ahad adalah ijma para ulama-ulama   Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku tidak mengetahui adanya fuqaha  kaum  muslimin  yang  berselisih  pendapat  dalam  menetapkan  khabar ahad, sebagaimana yang baru saja saya jelaskan bahwa hadits-hadits ahad ada pada mereka semua”.  Al  Khatib  Al  Baghdadi rahimahullah berkata:  “Beramal  dengan  hadits Ahad  adalah  pendapat  semua  ulama  tabi’in  dan  setelah  mereka,  yaitu  para ulama-ulama di semua zaman sampai zaman kita ini (zamannya Al Khatib, -pent).  Dan  saya  tidak  mengetahui  adanya  seorang  di  antara  mereka  yang mengingkarinya atau menolaknya”105. b. Dalil-dalil wajibnya beramal dengan hadits ahad Dalil Al Qur'an Allah Ta’ala berfirman,  “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke  medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara   mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya  Sisi pendalilan dari ayat ini ada dua: 

Pertama,   Allah  memerintahkan tha'ifah   untuk   memberi   peringatan kepada kaumnya. Sedangkan secara bahasa:     “Tha'ifah dari sesuatu artinya bagian dari sesuatu, atau berjumlah satu atau   lebih, atau berjumlah di antara 1 sampai 1000, atau paling sedikit satu atau  dua”. Ini menunjukkan tegaknya kebenaran walau hanya dari satu orang atau dua orang. Dan kebenaran itu wajib diterima oleh kaumnya.     

Kedua,   Allah   menyebutkan   manfaat   adanya   beberapa   orang   yang mendalami agama yaitu ‘supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ‘. Andai hujjah tidak bisa diterima dari satu atau sedikit orang, tentu manfaat tersebut tidak tercapai dan konsekuensinya ayat ini tidak benar. Dalil hadits      Hadits-hadits mutawatir tentang  Rasulullah shallallahu   ‘alaihi   wa sallam  mengutus  utusan,  amil  zakat,  hakim  hanya  satu  orang  saja  kepada sekelompok  orang. Sebagaimana diutusnya Mua’dz bin Jabal radhiallahu'anhu:   “Engkau akan mendatangi kaum yang terdiri dari ahli kitab. Ajaklah mereka  untuk bersyahadat ‘Laailaaha Illallah Wa Anna Muhammadan Rasulullah’,   jika mereka mau taat, ajarkanlah mereka untuk shalat lima waktu sehari- semalam….”.    

 Imam Asy Syafi’i berkata, “Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah mengutus seseorang utusan kecuali sendirian. Ini adalah bukti berita yang dibawa oleh satu orang utusan tersebut adalah benar, Insya Allah”.Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu’anhu,   Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan  menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka  karena doa mereka meliputi dari belakang mereka Di  sini  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi  wa  sallam mendoakan imra-an yang menyampaikan hadits. Sedangkan imra-an itu artinya satu orang. Dalil ijma' Ijma para sahabat bahwa khabar ahad itu diterima. Di antara dalil ijma ini adalah hadits tentang pindahnya kiblat yang hanya dikabarkan oleh satu orang yang menyampaikan kabar dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalallam. Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu,                                  

“Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian turun ayat (yang artinya) :  “Kami melihat wajahmu(Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan  engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah    Masjidilharam  (QS. Al Baqarah: 144). Lalu lewatlah seorang lelaki dari     Bani Salamah, ketika orang-orang sedang shalat dalam posisi rukuk (di masjid). Dan mereka sudah melalui satu raka'at.

Orang tersebut pun menyeru:    “Ketahuilah... kiblat telah diubah!”. Seketika itu orang-orang yang shalat segera mengubah arah kiblatnya”112. Andaikan para sahabat tidak menerima khabar ahad, maka mereka tidak akan mengubah arah kiblat karena kabar dari satu orang saja.  Hadits ahad adalah hujjah dalam masalah hukum ataupun akidah Dalil-dalil yang ada di

poin b menunjukkan bahwa kebenaran atau hujjah itu diterima dari satu orang tanpa dirinci apakah perkaran aqidah atau bukan, berlaku secara umum dan mutlak. Bahkan hadits Muadz bin Jabal berbicara masalah  aqidah.  Ibnu  ‘Abdil  Barr rahimahullah  berkata,  “Semua  perkara aqidah  mengenai  asma  dan  sifat  Allah  Ta’ala  hanya  diketahui  dari  nash Kitabullah  dan  hadits  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih atau  dari ijma  ulama.  Sedangkan  yang  berasal  dari  hadits  ahad,  semuanya diterima dan tidak ada perdebatan tentang ini”.Adapun   membeda-bedakan   penyikapan   hadits  Ahad   dalam   masalah aqidah  dan  masalah  hukum  adalah  keyakinan  baru  dalam  Islam,  yang merupakan  bid’ah.  Pembedaan  seperti  ini  tidak  pernah  dikenal  oleh  salah seorang  sahabat  Nabi,  tidak  juga  oleh  tabi’in,  tabi’ut  tabi’in,  juga  tidak dikenal  oleh  para  Imam.  Pembedaan  seperti  ini  hanya  dikenal  dari  tokoh- tokoh ahlul bid’ah dan yang mengikuti mereka.

Keyakinan   bahwa   masalah   aqidah   harus   ditetapkan   dengan   hadits mutawatir  itu  sendiri  merupakan  sebuah  aqidah  (keyakinan)  dalam  agama. Kalau   mereka   konsisten, hendaknya mereka   mendatangkan   dalil  

Hadits mutawatir adalah hadits shahih yang diriwayatkan dari banyak jalan sehingga tidak ada kemungkinan semua perawinya bersepakat untuk berdusta.

Syarat suatu hadits dikatakan sebagai hadits mutawatir ada 4:     

1. Diriwayatkan dari banyak jalan. Walaupun ulama khilaf tentang batasan “banyak” dalam kriteria ini. Sebagian ulama  mengatakan 10 jalan, sebagian yang lain mengatakan 20 jalan, 30 jalan, 100 jalan, 200 jalan atau 300 jalan.   

2. Banyaknya jalan tersebut terjadi di setiap thabaqah-nya    

3. Mustahil terjadinya tawathu' 'ala kadzib (perawi bersepakat untuk berdusta dalam periwayatannya)    

4. Sandaran penerimaan khabar adalah secara hissi (secara inderawi)

 

(lihat  Taisir Musthalah Hadits, Syaikh MahmudAth Thahhan, halaman 19 – 20).

Hadits ahad adalah hadits yang tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai hadits mutawatir. Dengan kata lain, hadits  yang tidak mutawatir, maka ia hadits ahad. Menilik pada definisi hadits mutawatir, misalnya jika hadits mutawatir adalah yang diriwayatkan dari 10 jalan, maka hadits yang diriwayatkan dari 9 jalan tergolong dalam hadits ahad.Dan perlu diketahui bahwa hadits ahad berbeda dengan hadits gharib. Hadits gharib adalah hadits yang diriwayatkan dari satu jalan saja. Walaupun memang, hadits gharib termasuk dalam kategori hadits ahad juga. 101 Abu Muhammad Abdullah bin Abdil Majid bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuri. Ia adalah seorang ahli lughah (bahasa Arab) yang terkenal. Beliau belajar hadits dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Ishaq Ibrahim Az Ziyadi, Abu Hatim As Sijistany. Ia banyak mengarang kitab yang bermanfaat diantaranya adalah kitab Gharibul Quran, Gharibul Hadits, Uyunul Akhbar, Musykilul Quran, Musykilul Hadits, Kitab I’rabil Qur'anal Ma’arif dan Adabul Katab. Diantara murid-muridnya adalah anaknya, Ja’far Ahmad al Faqih dan Ibnu Dusturaih Al Farisy. Wafat pada tahun 236H.    Sumber :112 HR. Muslim no.527 113Jaami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih, 2/96 114 Lihat Mukhtashar Shawa’iqil Mursalah, 503 110 HR. Ibnu Majah no. 2498, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah 111 Lihat Al Kifayah, 43-45; Raudhatun Nazhir  1/268-274; Syarh Kaukab Al Munir, 2/369-375

108 HR. Muslim no.19 109Ar Risalah, halaman 415

105Al Kifayah, halaman 48 106 QS. At Taubah: 122 107 Lihat Al Qamus Al Muhith

102 Ta'wil Mukhtalafil Hadits, 1/152 103Majmu’ Al Fatawa, 18/69 104Ar Risalah, halaman 457-458

99                                                             

Read More

Jumat, 02 Oktober 2026

BEBERAPA AYAT QUR’AN MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR

 

BEBERAPA AYAT QUR’AN  MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA ADZAB DAN  NIKMAT KUBUR 

SYUBHAT 1 ADANYA ALAM  KUBUR     

Sebelumnya, dalam membahas syubhat ini kita perlu meyakini bahwa Al Qur’an dan hadits itu adalah kebenaran, dan tidak ada kebenaran yang saling bertentangan. Allah Ta’ala berfirman: “Apakah engkau tidak men-tadabburi Al Qur’an? Andaikan Al Qur’an itu  bukan dari sisi Allah tentu akan banyak pertentangan di dalamnya”. Begitu  juga,  wajib  meyakini  bahwa  hadits  Nabi shallallahu  ‘alaihi  wa sallam adalah wahyu. Sebagaimana firman Allah ta'ala:   “Apa yang diucapkan olehnya (Muhammad) itu bukanlah dari hawa nafsu, melainkan wahyu”. Maka, Al Qur’an tidak akan bertentangan dengan Al Qur’an, Al Qur’an pun   tidak   akan bertentangan dengan  hadits dan hadits tidak akan bertentangan dengan hadits.  

BEBERAPA AYAT QUR’AN  MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA ADZAB DAN  NIKMAT KUBUR


Dengan  kata lain,ayat  Al Qur’an saling menafsirkan,  demikian  juga  ayat Al  Qur’an  dan  hadits  saling  menafsirkan. Oleh  karena  itulah  kita  hendaknya  merujuk  kepada  para  ulama,  karena merekalah yang mampu mendudukkan ayat dengan ayat, hadits dengan hadits serta  ayat  dengan  hadits  sesuai  tempatnya  sehingga  jelas  bahwa  tidak  ada pertentangan.

Ayat pertama   Allah ta'ala berfirman: “Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan  kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang  Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya) .Jika  orang  yang  mati  dikatakan  ‘tidur’  setelah ia  mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada adzab kubur atau nikmat kubur. Demikian logika ahlul bid’ah yang menolak   adanya adzab   kubur,   dan   memang demikianlah mereka memahami ayat-ayat Allah dengan logika tanpa merujuk kepada ahlinya. Jawaban:  Kalau kita merujuk para ahli tafsir dari kalangan sahabat sampai ulama mu’ashiriin,Ubay  bin  Ka’ab radhiallahu’anhu,  Khaitsamah,  Mujahid  dan Qatadah  menafsirkan  maksud  dari  ‘tidur’  dalam  ayat  ini  adalah:  “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Qatadah juga menambahkan: “Itu terjadi    di   antara dua tiupan sangkakala”.Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah  juga  menjelaskan:  “Ayat  ini  tidak  menafikan  adanya  adzab kubur,  karena  jika  dibandingkan  dengan  apa  yang  terjadi  setelahnya,  yang terjadi di alam kubur seperti tidur”.

Ayat ke dua  Allah ta'ala berfirman:“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai  dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata  (mereka) terbelalak.Dalam ayat ini dikatakan Allah memberi tangguh, artinya   tidak mengadzab  mereka,  sampai  hari  ketika  mata  manusia  terbelalak,  yaitu  hari kiamat. Demikian logika mereka.Padahal  jika  kita  menilik  penjelasan  para  ulama  tafsir, Al  Hafidz  Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan  makna“Allah  memberi  tangguh  kepada mereka: “dikatakan demikian karena begitu ‘ngerinya’ keadaan mereka di hari kiamat”. Al Baghawi rahimahullah menafsirkan: “Tidak akan menimpa mereka  kengerian  semisal  yang  akan  mereka  dapatkan  di  hari  kiamat”.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil,maka setelahnya lebih berat  jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya perbandingan antara siksa kubur dengan  siksa  mereka kelak di hari kiamat,  hingga ketika  mereka  masih disiksa di alam kubur dianggap masih dalam masa penangguhan. Sebagian  ulama  memang  menafsirkan  secara  mutlak  bahwa  maknanya adalah “mereka tidak akan mendapat adzab hingga hari kiamat”, namun yang dimaksud adalah sebagaimana   yang diungkapkan   Ibnu   Katsir dan Al Baghawi  di  atas.  Karena  faktanya,  sebagian  orang  kafir  bahkan  diadzab ketika mereka masih hidup. Dan perlu   dicatat,   para   ahli   tafsir   yang menafsirkan secara mutlak demikian tidak ada yang memahami bahwa ayat ini menafikan adzab kubur. Jadi memahami ayat ini dengan pemahaman para penolak adanya adzab   kubur, adalah   pemahaman   baru   yang   tidak   ada pendahulunya, serta bertentangan dengan ratusan dalil.

Ayat ke tiga  Allah ta'ala berfirman:“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang   berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran)”. Menurut logika para penolak adanya adzab kubur, berdasarkan ayat ini, antara  matinya  seorang  manusia  dengan  hari  kebangkitan  itu  hanya  terasa sesaat saja, hingga seorang manusia merasakan seolah setelah mati tiba-tiba sudah dibangkitkan.

Maka tidak ada alam kubur yang dia merasakan adzab atau nikmat.Para  ahli  tafsir  menjelaskan  mengenai  makna  ‘sesaat’,Al  Baidhawi rahimahullah  berkata,  “Maksudnya  adalah masa  di  alam  kubur  dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan dengan lamanya siksaan mereka di akhirat kelak. Atau penafsiran yang lain, mereka lupa akan lamanya berada di alam kubur”.  Sebagian  ahli  tafsir  memaknai  bahwa  maksudnya  adalah  masa ketika  hidup  di  dunia, Al  Baghawi rahimahullah  mengatakan,  “Maksudnya adalah masa di dunia dianggap   terlalu   sebentar dibandingkan   dengan akhirat”. Seluruh tafsiran di atas tidak ada yang bertentangan dengan dalil- dalil adanya adzab kubur.

Dan  sekali  lagi  perlu  di  catat,  tidak  ada  ahli  tafsir  yang  memahami bahwa ayat ini menafikan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa ayat ini dengan dalil-dalil shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah bertentangan.Demikianlah  beberapa  ayat  yang  menjadi  ‘syubhat’  karena  dipahami secara  salah  oleh  para  pengikut  hawa  nafsu.Tidak  menutup  kemungkinan adanya   ayat   lain   yang   mereka   gunakan   untuk   melariskan pemahaman menyimpang  mereka,  namun  cukuplah  kita  meyakini  bahwa  di  antara  dalil tidak ada yang saling bertentangan.

Sumber :

97 Anwar At Tanziil, 4/488 98 Ma’alim At Tanzil, 6/278 96 QS. Ar Rum: 55

92 QS. Ibrahim: 42 93  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 4/515 94 Ma’alim At Tanzil, 4/359 95 Telah berlalu takhrij hadits ini

89 QS. Yaasin: 52 90 Lihat Tafsir Ath Thabari, 20/532 91  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 6/581

87 QS. An Nisa: 82 88 QS. An Najm: 3-4                                         

Read More