Dalam tasawuf, nafsu itu bukan cuma hawa nafsu pengen maksiat. Nafsu itu *tingkatan jiwa*.
Qur'an menyebut 3, ulama tasawuf merinci jadi *7 tingkatan* — dari yang paling gelap sampai paling terang.
7 Tingkatan Nafsu:
*1. Nafs al-Ammarah - النفس الأمارة*
Jiwa yang menyuruh berbuat jahat.
> _"Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan"_ (QS. Yusuf:53)
Ini level paling bawah. Ciri: malas ibadah, senang maksiat, iri dengki, dendam. Kalau tidak dilawan, dia yang jadi Tuhanmu.
*2. Nafs al-Lawwamah - النفس اللوامة*
Jiwa yang mencela diri sendiri.
> _"Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri"_ (QS. Al-Qiyamah:2)
Sudah mulai sadar. Habis maksiat nyesel, habis ghibah kepikiran, tapi besok diulangi lagi. Tarik-tarikan antara dosa dan tobat. Kebanyakan kita di sini.
*3. Nafs al-Mulhimah - النفس الملهمة*
Jiwa yang diberi ilham.
Allah sudah mulai bisikkan mana baik dan buruk tanpa diajar orang.
> _"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan"_ (QS. Asy-Syams:8)
Mulai peka, firasat tajam, tapi masih belum stabil. Kadang ikhlas, kadang riya'.
*Inilah batas hijrah. 3 di atas masih di dunia. 4 di bawah ini sudah masuk alam akhirat selagi di dunia.*
*4. Nafs al-Muthmainnah - النفس المطمئنة*
Jiwa yang tenang.
> _"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha"_ (QS. Al-Fajr:27-28)
Ini target pertama para sufi. Ciri: tenang saat dapat nikmat maupun musibah, tidak panik, tidak sombong. Dzikir sudah jadi nafas.
*5. Nafs ar-Radhiyah - النفس الراضية*
Jiwa yang ridha kepada Allah.
Apapun keputusan Allah, dia bilang "ini yang terbaik". Sakit ridha, sehat ridha, miskin ridha, kaya ridha. Tidak komplain ke Allah.
*6. Nafs al-Mardhiyyah - النفس المرضية*
Kebalikannya. Kalau tadi kita yang ridha ke Allah, di level ini *Allah yang ridha kepada kita.*
Sudah tidak ada hijab. Doanya mustajab, ucapannya berkah. Para wali di level ini.
*7. Nafs al-Kamilah - النفس الكاملة*
Jiwa yang sempurna.
Ini hanya milik Nabi Muhammad ﷺ dan sebagian kecil pewarisnya. Sudah tidak ada kepentingan diri sendiri sama sekali. Hidupnya hanya untuk Allah. Inilah yang disebut _Insan Kamil_.
Cara Menaikkannya?
Imam Ghazali bilang rumusnya 3:
- *Takhalli:* kosongkan yang kotor (dari Ammarah) - dengan taubat & puasa
- *Tahalli:* hiasi yang bersih (menuju Muthmainnah) - dengan dzikir & tadabbur
- *Tajalli:* Allah tampakkan cahaya-Nya (Radhiyah ke atas) - ini bukan usaha kita lagi, tapi hadiah dari Allah.
Ilmu dalam tasawuf
Dalam tasawuf, yang teman kamu sebut itu biasanya dibagi 3 jenis ilmu. Biar nggak bingung, ini urutannya:
*1. Ilmu Kasbi*
Ilmu yang dicari pakai usaha. Belajar, baca kitab, ikut kajian, mondok. Contoh: fiqih, nahwu, tafsir. Kamu usaha -> dapat.
*2. Ilmu Wahbi*
Nah ini yang kamu tanya. Wahbi itu dari kata _wahb_ = pemberian / hadiah.
Artinya ilmu yang *diberikan langsung oleh Allah ke hati seorang hamba, tanpa proses belajar biasa.* Bukan dia pinter, tapi Allah yang kasih.
Di Al-Quran disebut:
> "...dan Kami telah ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi : 65) — kisah Nabi Khidir.
Jadi ilmu Wahbi ini bukan hasil hafalan, tapi hasil kebersihan hati. Hadiah karena istiqomah dalam ibadah, zuhud, dan jujur ke Allah.
*3. Ilmu Laduni*
Ini masih saudara dekatnya Wahbi, malah sering dianggap sama. Laduni dari kata _ladun_ = dari sisi Kami. Ilmu yang langsung dari Allah tanpa perantara. Bedanya, Laduni biasanya tingkatannya lebih tinggi dan lebih rahasia lagi. Ilmu Wahbi itu payung besarnya, Laduni salah satu bentuk paling khususnya.
---
Gimana cara dapat Ilmu Wahbi menurut ulama tasawuf?
Bukan dengan minta "ya Allah kasih ilmu wahbi". Tapi syaratnya:
1. *Beresi Ilmu Kasbi dulu:* Syariatnya harus benar dulu. Sholat, fiqih, akidah beres.
2. *Tazkiyatun Nafs (Bersihin hati):* Kurangin maksiat, banyak dzikir, ikhlas.
3. *Takwa:* Sesuai ayat "Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqon (pembeda) kepadamu" (QS. Al-Anfal: 29) dan "Bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu" (QS. Al-Baqarah: 282)
Jadi rumusnya ulama dulu: *Istiqomah dalam syariat melahirkan ilmu hakikat.*
Teman kamu belajar tasawuf di mana di Malang? Biasanya istilah Wahbi, Kasbi, Laduni ini banyak dibahas di kajian Ihya Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali.





