Allah ta’ala memberikan pemberitaan umum kepada seluruh makhluk, bahwa
setiap jiwa akan merasakan kematian. Hanya Allah ta’ala saja Yang Maha Hidup,
tidak akan mati. Adapun jin, manusia, malaikat, semua akan mati.
Kematian merupakan hakekat yang menakutkan. Dia akan mendatangi seluruh
orang yang hidup dan tidak ada yang kuasa menolak maupun menahannya. Maut
merupakan ketetapan Allah ta’ala. Ini adalah hakekat yang sudah diketahui. Maka
sudah sepantasnya kita bersiap diri menghadapinya dengan iman dan amal shalih.
setelah kematian datang kepada kita maka kita akan menempuh fase Alam
Kubur. Seperti apa kondisi alam kubur yang akan kita tempuh nanti
Alam kubur itu menakutkan
Hani radhiyallahu ‘anhu , bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan
radhiyallahu ‘anhu , berkata :
“Kebiasaan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu jika berhenti di
sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau
radhiyallahu ‘anhu ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau
tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini melihat kuburan, mengapa
demikian?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ،
فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ
فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
“Sesungguhnya kubur itu adalah
persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan akhirat. Bila seseorang
selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang
tidak selamat dari keburukannya, maka yang setelahnya lebih berat darinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
مَا رَأَيْتُ
مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ
“Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih
menakutkan daripada kubur.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah; dihasankan oleh syaikh Al-Albani)
Perbedaan
suasana di alam kubur antara orang mukmin dan kafir
kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang
disiapkan Allah ta’ala dalam kuburnya, seorang Mu’min mengatakan :
رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى
أَهْلِي، وَمَالِي
“Ya Rabb, segerakanlah kiamat agar aku kembali kepada
keluarga dan hartaku.”
orang-orang kafir ketika melihat adzab pedih yang disiapkan
Allah ta’ala baginya, ia
mengatakan :
رَبّ لاَ تُقِمِ السّاعَةُ
“Ya Rabb, jangan Engkau datangkan kiamat.”
Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya
dan lebih menakutkan
Alam Kubur yang Gelap
Hal
ini ditunjukkan oleh hadits shahih :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ
أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ – أَوْ شَابًّا – فَفَقَدَهَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا – أَوْ عَنْهُ
– فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى ». قَالَ
فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا – أَوْ أَمْرَهُ – فَقَالَ « دُلُّونِى عَلَى
قَبْرِهِ ». فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ
مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا
لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang
wanita hitam -atau seorang pemuda – biasa menyapu masjid Nabawi pada masa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak mendapatinya sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal dunia’. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan
kepadaku?’ Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’.
Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu
bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para
penghuninya, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menyinarinya bagi
mereka dengan shalatku terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Kegelapan di alam kubur menggambarkan kondisi
gelap yang dialami manusia setelah meninggal dunia. Kegelapan ini dapat
diterangi dengan amalan-amalan baik, seperti shalat, sedekah, dan zikir
Ketika menafsirkan QS. Al-Hadid ayat 12 dan
13, Imam Ibnu Katsir mengutip riwayat dari Ibnu Abi Hatim tentang nasihat yang
pernah disampaikan oleh sahabat Abu Umamah al-Bahili ra. sebagai berikut:
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ
قَدْ أَصْبَحْتُمْ وَأَمْسَيْتُمْ فِي مَنْزِلٍ تَقْتَسِمُونَ فِيهِ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ،
وَتُوشِكُونَ أَنْ تَظْعَنُوا مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ، وَهُوَ هَذَا-يُشِيرُ إِلَى
الْقَبْرِ-بَيْتُ الْوَحْدَةِ، وَبَيْتُ الظُّلْمَةِ، وَبَيْتُ الدُّودِ، وَبَيْتُ
الضِّيقِ، إِلَّا مَا وَسَّعَ اللَّهُ، تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مُوَاطِنِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، … ثُمَّ تَنْتَقِلُونَ مِنْهُ إِلَى مَنْزِلٍ آخَرَ فَتَغْشَى النَّاسَ
ظُلْمَةٌ شَدِيدَةٌ، ثُمَّ يُقَسَّمُ النُّورُ فَيُعْطَى الْمُؤْمِنُ نُورًا وَيُتْرَكُ
الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَلَا يُعْطَيَانِ شَيْئًا
“Hai manusia, sesungguhnya kamu di pagi hari
dan petang hari berada di suatu tempat yang di dalamnya kamu berbagi amal
kebaikan dan keburukan. Dan sudah dekat masanya bagi kalian akan pergi meninggalkannya
menuju ke suatu tempat lain, yaitu alam kubur ini —seraya berisyarat ke arah
kubur—yaitu rumah kesendirian, rumah kegelapan, dan rumah ulat serta rumah
kesempitan terkecuali apa yang diluaskan oleh Allah. Kemudian kamu akan
berpindah lagi darinya menuju ke tempat-tempat hari kiamat. … Kemudian kamu
berpindah lagi darinya menuju ke tempat lain, dan semua manusia diselimuti oleh
kegelapan yang sangat pekat; kemudian cahaya dibagikan. Maka orang mukmin
mendapat cahayanya, sedangkan orang kafir dan orang munafik tidak diberi sama
sekali dari cahaya itu.” (Ibnu Katsir, 8/16)
Sahabat Abu Umamah al-Bahili menjelaskan
bahwa akan ada dua tempat yang sangat gelap yang akan kita lalui, *pertama* :
alam kubur dan *kedua* : suatu tempat yang akan dilewati sebelum _shirat_
(jembatan yang dipasang diatas neraka)).
*Untuk yang pertama, yaitu kegelapan di alam
kubur* . Di alam kubur semua manusia akan diselimuti oleh kegelapan, sehigga
sangat dibutuhkan cahaya. Dan tidak ada cahaya di alam kubur kecuali cahaya
dari Allah swt. oleh karena itu Rasulullah saw mengajarkan kepada kita sebuah
do`a memohon kepada Allah supaya diberi cahaya di alam kubur :
اجْعَلْ لِي نُورًا فِي قَبْرِي..
Jadikanlah cahaya di kuburku,.. (Musnad
Al-Bazzar, 5234)
وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
Berilah cahaya di dalamnya (HR. Muslim: 920, Dari Ummu
Salamah ra.
Ketika seseorang diberi cahaya di alam
kuburnya, maka dia berada dalam ni`mat kubur dan keselamatan dari azab kubur.
Sebaliknya, ketika dia tidak diberi cahaya, itulah diantara bentuk siksaan,
yaitu kegelapan dan kesempitan di alam kubur. Na`uudzu billah
Maka ikutilah cahaya Allah (Al-Qur`an dan
As-Sunnah) di dunia, pasti cahaya itu akan diberikan di akhirat. Siapa yang
tidak mengikuti cahaya Allah (al-Qur`an dan As-Sunnah) dalam kehidupan dunia
ini, maka dia tidak akan mendapat cahaya di akhirat kelak.
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ
لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia
Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya
itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang
yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar
dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa
yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An`am: 122)
Alam kubur juga merupakan _baitul wahdah_ (rumah
kesendirian), tidak ada yang sudi menemani kita dialam kubur padahal kita
sangat membutuhkan teman. anak, istri, saudara, teman dan semua orang yang
pernah membersamai kita di dunia tidak akan menemani kita di alam kubur. Hanya
ada satu teman yang rela dan sudi menemani kita di alam kubur, yaitu amal
shaleh kita sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
قَالَ: ” وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ،
حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، … فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ،
…Beliau saw bersabda: Kemudian setelah itu dia akan
didatangi oleh seorang laki laki yang bagus wajahnya, indah pakaiannya dan
harum baunya…kemudian dia berkata : aku adalah amal shalehmu. (HR. Ahmad:
18534)
Sumber : https://hibar.pgrikabupatenbandung.id/dua-kegelapan/
kubur itu hanya bisa terang dengan amalan shalih.”
Himpitan Alam Kubur
Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan
menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari
himpitannya. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin
Mu’adz radhiyallahu ‘anhu , padahal kematiannya membuat ‘arsy berguncang,
pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu
menyaksikannya.
Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibn ‘Umar radhiyallahu
‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ
أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ
ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ
“Inilah yang membuat ‘arsy berguncang, pintu-pintu langit
dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan
dijepit (oleh kubur), kemudian dibebaskan.” (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani
rahimahullah ; Lihat kitab Misykatul Mashabih 1/49; Silsilah Ash-Shahihah, no.
1695)
Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ لِلْقَبْرِ
ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
“Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan yang bila
seseorang bisa selamat darinya, maka (tentu) Sa’ad bin Muadz telah selamat.”)
(HR. Ahmad, no. 25015; 25400; Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam
Shahihul Jami’ 2/236)
Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak
kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ
مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا الصَّبِيُّ
“Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur,
maka anak kecil ini pasti selamat.” (Mu’jam Ath-Thabrani dari Abu Ayyub
radhiyallahu ‘anhu dengan sanad shahih dan riwayat ini dinilai shahih oleh
Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami, 5/56)
Himpitan kubur adalah
pelukan yang diberikan kubur kepada mayat, yang bisa berupa kasih sayang atau
amarah Himpitan kasih sayang kubur membuat mayat aman di dalam kubur hingga
hari kiamat. Himpitan amarah kubur
membuat mayat tersiksa di dalam kubur hingga hari kiamat.
Amalan penyelamat dari siksa
kubur
Membaca surat Al Mulk setiap
malam menjelang tidur.
Memohon perlindungan kepada
Allah dari segala fitnah dan azab kubur.
Melakukan amalan-amalan baik
Fitnah (Ujiang Kubur)
Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua
malaikat akan mendatanginya dan memberikan beberapa pertanyaan. Inilah yang
dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad
rahimahullah dari sahabat Al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ
فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ
فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ
لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ
؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي
مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ
(وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ ,
قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ
بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ
الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ
تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ
بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ
السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي
“Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya,
lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku
adalah Allah”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?” Dia menjawab:
“Agamaku adalah al-Islam”. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki
yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau adalah utusan Allah”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab
Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah berkata benar, berilah
dia hamparan dari surga, dan berilah dia pakaian dari surga, bukakanlah sebuah
pintu untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan
diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah
seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi,
lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu
yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mu’min itu bertanya
kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia
menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku,
tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada keluarga dan
hartaku”.
Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam
:
وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ
فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا
أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي
فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ
هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا
لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ
حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ
أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ
الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ
تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ
فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
“Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua
malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah
Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aduh aku tidak tahu. Kedua malaikat itu
bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah,aduh aku tidak tahu”.Kedua
malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”
Dia menjawab: “Hah, hah, aduh aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia
hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka
panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan,
sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk,
beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu! Inilah
harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu
bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?”
Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku,
janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”. (Lihat Shahihul Jami’ no: 1672)