Pertempuran Pelusium pada 525 Sebelum Masehi menjadi saksi strategi perang yang tak biasa. Saat itu, Kekaisaran Persia di bawah Cambyses II berhadapan dengan Mesir yang dipimpin Firaun Psamtik III.
Namun, yang membuat perang ini begitu terkenal bukan sekadar karena dampak politiknya, melainkan taktik unik Persia. Di mana, mereka memanfaatkan kucing, hewan suci bagi bangsa Mesir, sebagai senjata psikologis di medan tempur.
Kekaisaran Persia, atau Akhemeniyah, merupakan salah satu kekaisaran terkuat dan terluas di dunia kuno. Didirikan oleh Cyrus Agung pada abad ke-6 Sebelum Masehi, wilayahnya membentang dari Lembah Indus hingga perbatasan Yunani.Setelah Cyrus wafat, Cambyses II naik takhta pada 530 Sebelum Masehi dan melanjutkan ambisi ayahnya. Target berikutnya ialah Mesir, kekuatan besar di bawah Dinasti ke-26.
Mesir saat itu dikenal sebagai peradaban maju dalam arsitektur, matematika, dan seni. Namun hubungan kedua bangsa kian tegang. Di satu sisi, Firaun Psamtik III waspada terhadap ekspansi Persia.Di sisi lain, Persia melihat penaklukan Mesir sebagai langkah strategis untuk memperluas kekuasaan dan prestise.
Di Mesir kuno, kucing memegang posisi yang unik dan dihormati. Penghormatan yang mendalam terhadap kucing ini terjalin erat dengan kepercayaan agama dan praktik budaya orang Mesir, yang menjadikan mereka lebih dari sekadar hewan di mata masyarakat.
Kucing, atau "Mau" sebagaimana dikenal di Mesir kuno, dikaitkan dengan dewi Bastet, yang juga dikenal sebagai Bast.Bastet, sering digambarkan sebagai singa betina dalam representasi awalnya dan kemudian sebagai kucing domestik, adalah dewi rumah, kesuburan, dan persalinan.
Ia juga merupakan pelindung firaun dan dewa matahari Ra. Hubungan ini memberi kucing aura suci, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan dan budaya di Mesir kuno.Orang Mesir percaya bahwa kucing dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Mereka dipelihara di rumah sebagai jimat pelindung, dan gambarnya digunakan dalam seni dan perhiasan.Membunuh kucing, bahkan secara tidak sengaja, dianggap dosa besar dan dapat dihukum mati.
Penghormatan ini meluas hingga pada titik di mana, saat terjadi kebakaran, orang Mesir akan fokus menyelamatkan kucing sebelum mencoba memadamkan api. Kucing juga dimumikan dan dikubur bersama pemiliknya, dan kuburan kucing yang luas telah ditemukan oleh para arkeolog. Hal ini semakin membuktikan status sakral mereka.