Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 28 Agustus 2026

cerita Ruh orang kafir dan munafik di alam kubur

 cerita Ruh orang kafir dan munafik di alam kubur

Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu   disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutup kepala dari besi panas padanya”. Nama malaikat yang bertanya di alam kubur Nama  dua  malaikat  yang  memberi  pertanyaan  di  alam  kubur  adalah Munkar dan Nakir

cerita Ruh orang kafir dan munafik di alam kubur

Adapun  orang-orang  kafir dan  munafik,  mereka  tidak  bisa  menjawab pertanyaan di alam kubur. Disebutkan dalam lanjutan hadits:“Ruh orang (kafir) yang meninggal akan mendengar hentakan kaki orang-orang yang menguburkannya ketika mereka mulai berpulangan.

Kemudian  setelah itu datanglah dua Malaikat yang garang dan membentaknya. Kedua  malaikat tersebut mendudukan sang mayit dan bertanya: siapa Rabb-mu? Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Kedua Malaikat bertanya: Hah.. hah..aku tidak tahu. Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Kedua Malaikat  bertanya: siapa orang yang diutus untuk kalian? Apakah engkau tidak tahu   namanya? Bukankah dia Muhammad. Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak   tahu. Aku pernah mendengar orang-orang menyebutnya. Maka dikatakan kepadanya: Engkau tidak belajar Al Qur'an, engkau tidak membaca Al Qur'an. Kemudian diserukan dari langit: Engkau telah mendustakan Al Qur'an. Lalu ia pun diperlihatkan bagian dari neraka  Dari Al Barra' bin Azib radhiallahu'anhu, 

Read More

Kamis, 27 Agustus 2026

Script Fortran pergeseran gempa

 

Kalkulator Seismik Statik Ekivalen

Script Pergeseran Gempa berbasis Fortran by Afif

https://taddaburagama.blogspot.com/2026/08/program-lendutanbalok-implicit-none.html

Fortran

 
program GempaStatikEkivalen
    implicit none
 
    ! Deklarasi variabel
    real :: Cs          ! Koefisien respons seismik
    real :: W           ! Berat total struktur (kN)
    real :: V           ! Gaya geser dasar (kN)
    real :: R           ! Faktor modifikasi respons
    real :: Ie          ! Faktor keutamaan gempa
    real :: Sds         ! Akselerasi spektral desain periode pendek
 
    ! Input data struktur
    print *, "=========================================="
    print *, "  PERHITUNGAN GAYA GESER GEMPA (STATIK)   "
    print *, "=========================================="
    
    print *, "Masukkan nilai Sds (g):"
    read *, Sds
    
    print *, "Masukkan Faktor Keutamaan (Ie):"
    read *, Ie
    
    print *, "Masukkan Faktor Modifikasi Respons (R):"
    read *, R
    
    print *, "Masukkan Berat Total Struktur W (kN):"
    read *, W
 
    ! Perhitungan Koefisien Seismik (Cs)
    Cs = (Sds * Ie) / R
 
    ! Perhitungan Gaya Geser Dasar (V)
    V = Cs * W
 
    ! Menampilkan hasil
    print *, "------------------------------------------"
    print '(A, F8.4)', " Koefisien Seismik (Cs) : ", Cs
    print '(A, F10.2, A)', " Gaya Geser Dasar (V)   : ", V, " kN"
    print *, "=========================================="
 
end program GempaStatikEkivalen

 


Read More

5 Golongan yang ada di alam kubur

 5 Golongan yang ada di alam kubur

Para hamba di alam kubur ada lima golongan :

Pertama, para Nabi dan Rasul  'alaihimussalam. Mereka dalam keadaan yang paling baik di alam kubur. Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad pada   Nabi .

Kedua, para syuhada   (orang   yang   wafat   ketika jihad fi  sabilillah). Mereka  mendapat  nikmat  kubur,  selamat  dari  fitnah  kubur  (pertanyaan kubur) dan adzab kubur.

5 Golongan yang ada di alam kubur


Ada sahabat yang bertanya:   “Wahai Rasulullah, apakah benar bahwa setiap Mukmin mengalami ujian di dalam kubur mereka kecuali para syuhada? Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: 'Cukuplah sabetan pedang di kepala mereka menjadi ujian bagi mereka' 

Ketiga,  orang-orang  mendapat nikmat  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur.  Mereka  mendapat  berbagai  kenikmatan  surga: ditemani  oleh  amalan shalih,  diluaskan  kuburnya,  diperlihatkan  surga  kepada  mereka.  Mereka berbahagia   sampai-sampai   mereka   ingin   Kiamat   disegerakan   agar   bisa berjumpa dengan keluarganya. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu: “... ketika mereka (penghuni kubur) diperlihatkan isi dari surga, mereka   mengatakan: Ya Rabb kami, percepatlah datangnya kiamat sehingga kami bisa berkumpul kembali dengan keluarga kami dan harta kami 

Keempat,  orang-orang  mendapat  siksa  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur, namun tidak selamanya.

 Mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa namun masih memiliki iman dalam hati mereka. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata:“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian  

Kelima, golongan orang-orang kafir

Read More

Rabu, 26 Agustus 2026

Golongan yang terhindar dan golongan yang mendapat fitnah kubur

 Golongan yang terhindar dan golongan yang mendapat fitnah kubur                                               

BEBERAPA AKIDAH AHLUSSUNNAH TERKAIT ALAM KUBUR KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR Para hamba di alam kubur ada lima golongan : Pertama, para Nabi dan Rasul  'alaihimussalam. Mereka dalam keadaan yang paling baik di alam kubur. Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad pada    Nabi . Kedua, para syuhada   (orang   yang   wafat   ketika jihad fi  sabilillah). Mereka  mendapat  nikmat  kubur,  selamat  dari  fitnah  kubur  (pertanyaan kubur) dan adzab kubur.

Golongan yang terhindar dan golongan yang mendapat fitnah kubur


Ada sahabat yang bertanya:   “Wahai Rasulullah, apakah benar bahwa setiap Mukmin mengalami ujian di dalam kubur mereka kecuali para syuhada? Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: 'Cukuplah sabetan pedang di kepala mereka menjadi ujian bagi mereka'  Ketiga,  orang-orang  mendapat nikmat  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur.  Mereka  mendapat  berbagai  kenikmatan  surga:ditemani  oleh  amalan shalih,  diluaskan  kuburnya,  diperlihatkan  surga  kepada  mereka.  Mereka berbahagia   sampai-sampai   mereka   ingin   Kiamat   disegerakan   agar   bisa berjumpa dengan keluarganya. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu: “... ketika mereka (penghuni kubur) diperlihatkan isi dari surga, mereka   mengatakan: Ya Rabb kami, percepatlah datangnya kiamat sehingga kami bisa berkumpul kembali dengan keluarga kami dan harta kami  Keempat,  orang-orang  mendapat  siksa  kubur  setelah  melalui  fitnah kubur, namun tidak selamanya.

 Mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa-dosa namun masih memiliki iman dalam hati mereka. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata:“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian    pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya.

Beliau bersabda,

‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut mereka berdua)’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkan bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba). Kelima,  orang-orang  mendapat  siksa  kubur  terus-menerus  hingga  hari kiamat,  merekalah  orang-orang  kafir  dan  orang-orang  munafik.  Mereka disiksa  dengan  siksaan  yang  mengerikan  dan  terus-menerus  hingga  hari kiamat. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu: “... dijadikan baginya sesosok yang buta dan bisu. Di tangannya ia memegang alat pemukul dari besi yang jika digunakan untuk memukul gunung maka gunung tersebut akan menjadi debu. Maka alat tadi digunakan   untuk memukul sang mayit dengan pukulan yang keras, ketika dipukulkan   terdengar suaranya jeritannya antara timur dan barat kecuali oleh jin dan   manusia lalu ia pun menjadi debu. Kemudian setelah itu dikembalikan lagi ruh tersebut seperti bentuknya semula.

Sumber:

HR. Bukhari no.6055, Muslim no.703 128 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud   HR. An Nasa-i no. 2052, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i 126 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Sunan Abu Daud Diringkas dari Al Hayah Al Barzakhiyyah, karya Syaikh Abdurrahman As Suhaim rahimahullah 124 HR. Al Hakim 5/776, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami' no. 2212                               

Read More

Selasa, 25 Agustus 2026

pengertian suluk

Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat). Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk Mengenal Diri, Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

definisi suluk


Seorang salik adalah seseorang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan sufisme Islam untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya, yang disebut juga dengan jalan suluk. Dengan kata lain, seorang salik adalah seorang penempuh jalan suluk.Untuk menjadi seorang salik, seorang muslim selama seumur hidupnya harus menjalani disiplin dalan melaksanakan syariat lahiriah sekaligus juga disiplin dalam menjalani syariat batiniah agama Islam. Seseorang tidak disebut sebagai seorang salik jika hanya menjalani salah satu disiplin tersebut.Seorang salik juga disebut sebagai seorang murid ketika ia menjalani disiplin spiritual tersebut di bawah bimbingan guru sufi tertentu, atau dalam tarekat tertentu.

Suluk adalah kegiatan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Suluk juga dapat diartikan sebagai jalan sunyi untuk menyucikan jiwa. Dalam konteks agama Islam, suluk merupakan ajaran dari aliran tasawuf Tarekat Naqsyabandiyah. Suluk juga merupakan disiplin seumur hidup untuk melaksanakan aturan-aturan agama Islam. 

Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl ayat 69. 

Tujuan suluk Membersihkan jiwa dari keburukan atau dosa, Mengisi jiwa dengan kebaikan, Memperbaiki akhlak, Mensucikan amal, Menjernihkan pengetahuan. 

Amalan dalam suluk Puasa wajib dan sunnah, Shalat wajib dan sunnah, Latihan berdzikir, Berdoa, Bertawajjuh. 

Orang yang menempuh sulukOrang yang menempuh jalan suluk disebut Salik. Suluk dan Salik biasanya berhubungan dengan tasawuf, tarekat, dan sufisme. 

Suluk juga dapat merujuk pada lagu vokal yang dilantunkan oleh dalang dalam pertunjukan wayang. 


Salik Dan Suluk

Salik adalah orang yang menjalani latihan kerohanian secara bersuluk. Suluk pula adalah sistem latihan kerohanian yang digunakan bagi tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan. Semasa bersuluk seseorang itu mengasingkan diri daripada orang ramai. Bila dia tidak ada bersama orang ramai, maka mereka terselamat daripada gangguan yang mungkin datang daripadanya dan juga dia terselamat daripada gangguan yang mungkin datang daripada mereka. Pengasingan tersebut boleh menyelamatkan ahli suluk itu daripada anasir yang boleh merosakkannya melalui ego dan nafsunya. Dalam pengasingan itu juga dia melatihkan diri bagi memperolehi perkembangan kerohanian. Dia melatihkan diri agar terpisah daripada sifat-sifat yang tercela dan digantikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Semasa bersuluk itu amal ibadat seperti bersembahyang, berpuasa, berzikir dan lain-lain dilakukan dengan banyaknya. Dorongan hawa nafsu dikurangkan dengan cara menyedikitkan makanan, tidur dan berkata-kata. Bila kurang berkata-kata hati menjadi tidak lalai dalam mengingati Tuhan.


Orang yang mahu memasuki suluk mestilah mempunyai azam yang kuat. Perkara-perkara yang sering menghalang seseorang daripada memasuki suluk adalah dunia, makhluk, syaitan dan hawa nafsu. Kebanyakan manusia tidak sanggup memisahkan diri buat seketika dengan dunia dan makhluk. Tipu daya syaitan dan kesenangan hawa nafsu berada dengan makhluk. Oleh sebab itu agak sukar bagi kebanyakan orang memisahkan dirinya daripada orang ramai. Jika dia berjaya melepaskan halangan tersebut dia mungkin berhadapan dengan halangan lain semasa bersuluk. Halangan semasa bersuluk adalah tuntutan mencari rezeki, kebimbangan tidak akan menemui apa yang dicari, kemungkinan ditimpa penyakit dan juga masalah keluarga yang berbagai-bagai. Seseorang salik perlu memperkuatkan sifat sabar dan bertawakal jika dia mahu jika dia mahu melepasi rintangan yang menghalangnya meneruskan amalan suluk. Dia juga perlu mengawasi perkara-perkara yang boleh merosakkan pencapaian rohaninya. Perkara-perkara tersebut adalah sifat-sifat takabur, ujub, riak dan samaah. Suasana hati yang ingin diperolehi melalui bersuluk adalah: “Ilahi! Engkau jua maksud dan tujuanku dan keredaan Engkau yang aku cari”.


Salik yang berhasrat memperolehi hasil yang baik perlu menjaga sopan santun semasa bersuluk. Perlu yang perlu dijaga adalah:

a) mengikhlaskan kasih kepada Allah s.w.t dan melakukan ibadat semata-mata kerana Allah s.w.t bukan kerana mahukan kasyaf dan keramat.

b) Amal ibadat yang dilakukan hendaklah sesuai dengan peraturan yang ditentukan oleh syariat, tidak boleh mengubahnya sehingga bercanggah dengan syariat.

c) Salik perlu melepaskan ilmu-ilmu yang boleh melalaikannya dan boleh menarik cita-citanya kepada yang selain Allah s.w.t. Ilmu-ilmu seperti ilmu kebal, ilmu pengasih, ilmu menarik harta dari bumi, ilmu yang berkait dengan khadam dan yang seumpamanya hendaklah dilepaskan kerana ilmu yang demikian menutup mata hati.

d) Ketika menjalani amalan suluk fikiran hendaklah dibebaskan daripada memikirkan dan mengangankan sesuatu yang di dalam dunia.

e) Hati hendaklah dipisahkan daripada sifat-sifat yang keji, seperti sifat haiwan, syaitan dan dorongan hawa nafsu.

f) Memenuhkan masa bersuluk dengan kegiatan yang mengingatkan hati kepada Allah s.w.t.


Sebahagian manusia lebih dituntut bergiat dalam kehidupan harian daripada mengasingkan diri. Pertama adalah orang alim yang ilmunya diperlukan bagi menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh orang ramai. Termasuk di dalam ilmu yang diperlukan oleh orang ramai adalah pengajarannya, fatwanya dan karangannya. Orang yang seperti ini penyebaran ilmu merupakan ibadat khusus bagi mereka selepas ibadat fardu. Selepas urusan sembahyang lima waktu, lebih afdal baginya menyebarkan ilmu dan membasmikan kejahilan dalam masyarakat daripada mengasingkan diri dan membenamkan diri ke dalam perkara yang sunat. Golongan kedua adalah pengusaha yang mempunyai kepakaran yang diperlukan oleh orang ramai, seperti doktor, pembuat roti, tukang kayu dan sebagainya. Mereka perlu berkhidmat kepada orang ramai dan memakmurkan bumi ini. Masa lapang mereka perlu diisi dengan ibadat dan membaca al-Quran. Golongan ke tiga adalah pemerintah yang bertugas membawa kebajikan kepada orang ramai. Mereka lebih dituntut menegakkan keadilan di dalam masyarakat dan menyebarkan kesejahteraan hidup daripada mengasingkan diri. Masa lapang mereka perlu diisi dengan ibadat dan pada malamnya diperbanyakkan wirid.


Ada dua jenis manusia, secara sifat semulajadi mereka, sangat cenderung memasuki jalan suluk. Jenis pertama adalah orang yang cenderung untuk menjadi abid atau ahli ibadat. abid tidak mempunyai sebarang pekerjaan kecuali beribadat kepada Allah s.w.t. Golongan ini seolah-olah tidak ada kemahiran untuk melakukan sesuatu yang lain daripada beribadat. Mereka hanya memperolehi manfaat dengan menggunakan masa untuk beribadat. Golongan ini dikuasai oleh suasana hati yang sangat takut meninggalkan ibadat untuk melakukan sesuatu pekerjaan, kerana dia takut tidak akan dapat menyempurnakan kebaktiannya kepada Allah s.w.t. Mereka sangat takutkan dunia kerana mereka melihat kekacauan di dalam dunia menjadi fitnah yang merosakkan hubungan mereka dengan Tuhan. Meninggalkan ibadat membuat mereka merasakan berjauhan dengan Tuhan. Rasa berjauhan dengan Tuhan menjadikan mereka tidak bermaya dan tidak berupaya berbuat apa-apa. Hanya ibadat boleh memberi kekuatan kepada mereka. Mereka seolah-olah tidak ada pilihan kecuali hidup beribadat dalam pengasingan. Jenis kedua dinamakan muwahhid iaitu orang yang terikat sepenuhnya dengan Allah s.w.t. Kecintaan mereka kepada Allah s.w.t sangat kuat menyebabkan hati mereka ‘pecah’ dan tidak berupaya lagi mengasihi sesuatu yang selain Allah s.w.t. Kebahagiaan mereka hanyalah bersama-sama Allah s.w.t, tidak ada tempat lagi untuk makhluk. Hati mereka tidak melihat kepada makhluk, oleh itu kehadiran makhluk tidak diperlukan. Orang yang ditakdirkan menjadi salah satu daripada dua golongan tersebut sangat cenderung memasuki jalan suluk sebagai persediaan untuk mereka mencapai kesempurnaan pada jalan abid atau muwahhid.


Selain golongan yang menuju kepada suasana abid dan muwahhid, orang yang cenderung memasuki jalan suluk adalah muta’allim, iaitu orang yang belajar semata-mata kerana Allah s.w.t. Mereka merupakan golongan yang mencari kebenaran. Mereka tidak merasa puas dengan apa yang ditemui pada jalan pembelajaran biasa. Mereka memasuki suluk dengan harapan akan menemui apa yang tidak mereka temui sebelum bersuluk. Mereka percaya kebenaran yang sejati hanya boleh ditemui oleh hati yang suci murni dan cara yang paling baik menyucikan hati adalah dengan bersuluk. Golongan ini memerlukan bimbingan guru tarekat yang arif. Guru hendaklah tahu kedudukan murid dan tahu kadar ilmu yang boleh dibukakan kepada murid berkenaan. Bagi muta’allim (orang yang belajar) yang tidak memasuki jalan suluk, haruslah memberi tumpuan kepada mempelajari ilmu. Menghadiri majlis ilmu lebih utama daripada ibadat sunat dan berzikir yang boleh dilakukan pada masa lapangnya.


Muta’allim yang memasuki suluk lebih terdorong untuk mengalami suasana kerohanian yang diistilahkan sebagai muttakhaliq, iaitu orang yang mengalami perubahan sifat. Ada dua jenis muttakhaliq. Jenis pertama mengalami suasana mereka menjadi alat dan Allah s.w.t Pengguna alat. Mereka melihat perbuatan dan kelakuan mereka berlaku tanpa mereka rancang dan mereka tidak berdaya menahannya. Mereka melihat apa yang terjadi pada mereka terjadi tanpa kehendak mereka sendiri, tanpa usaha, tanpa tadbir dan tanpa ikhtiar memilih. Muttakhaliq jenis kedua pula adalah orang yang melihat Allah s.w.t meletakkan sifat dan bakat pada diri mereka dan mereka menjadi pelaku kepada sifat dan bakat tersebut. Jenis pertama melakukan sesuatu dalam suasana ‘dengan kehendak Allah s.w.t’ dan jenis kedua dalam suasana ‘dengan izin Allah s.w.t.’


Ahli suluk, sesudah melalui berbagai-bagai pengalaman kerohanian, kembali semula kepada kesedaran biasa dinamakan mutahaqqiq. Golongan ini kembali kepada jalan kenabian, memegang tugas sebagai khalifah Allah s.w.t yang meneruskan perjuangan Nabi-nabi. Golongan ini kembali kepada kesedaran kemanusiaan bagi membolehkan mereka menguruskan hal-ehwal manusia.


Latihan kerohanian yang dilakukan semasa bersuluk berkemungkinan membawa salik memperolehi kasyaf, iaitu terbuka perkara ghaib kepada pandangan mata hatinya. Kasyaf ada dua jenis, iaitu kasyaf kecil dan kasyaf besar. Kasyaf kecil termasuklah terbukanya pandangan untuk melihat kepada Alam Barzakh, melihat roh orang yang sudah meninggal dunia, melihat syurga dan neraka, melihat makhluk halus dan lain-lain. Kasyaf besar pula adalah terbukanya pandangan hati kepada hakikat sesuatu dan membuka ingatan dan penghayatan kepada Allah s.w.t. Dalam perjalanan kerohanian, kasyaf kecil tidak penting bahkan kasyaf kecil sering menjadi benteng yang menghalang salik meneruskan perjalanannya. Keasyikan menyaksikan perkara ghaib membuat salik berhenti dan menyangkakan dia sudah sampai kepada Yang Haq, sedangkan perjalanannya masih jauh lagi. Apa yang penting adalah kasyaf besar atau terbukanya hakikat sesuatu. Pembukaan tentang hakikat boleh menyelamatkan salik daripada tipu daya syaitan yang bersembunyi di sebalik berbagai-bagai rupa, bentuk dan keadaan. Salik yang dikurniakan kasyaf besar tidak tertipu dengan syaitan walaupun syaitan datang dalam rupa guru yang alim dan warak. Salik juga boleh mengenali malaikat sekalipun malaikat datang tanpa berupa. Rasulullah s.a.w melihat rupa malaikat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli hanya dua kali sahaja, tetapi setiap kali Jibrail a.s datang Rasulullah s.a.w mengenalinya, sekalipun Jibrail a.s memakai rupa manusia atau tidak berupa. Kasyaf yang mengenali hakikat inilah sangat penting bagi salik yang berjalan kepada Tuhan. Kasyaf seperti ini diperolehi apabila rohani kembali kepada kesuciannya yang asal. Rohani yang demikian mengenali syaitan walaupun syaitan mengenderai manusia atau suasana dan rohani itu juga mengenali malaikat walaupun malaikat tidak menjelma di hadapannya. Contoh kasyaf besar adalah, apabila seorang salih didatangi oleh seseorang yang menyuruhnya berbuat kejahatan, maka dengan segera orang salih itu berkata: “Pergi kamu syaitan!” Orang salih itu menyedari atau melihat dengan kasyafnya yang orang yang mendatanginya itu sedang digunakan oleh syaitan untuk mengenakan tipu dayanya. Kasyaf yang demikian, walaupun tidak memperlihatkan rupa syaitan yang sebenarnya, tetapi syaitan itu tidak dapat bersembunyi.


Kasyaf membawa salik kepada zauk iaitu mengalami suasana yang berhubung dengan Tuhan. Zauk membawa salik mengalami suasana Hadrat Tuhan. Suasana Hadrat Tuhan yang menguasai salik itu membentuk keperibadiannya.


Read More

Senin, 24 Agustus 2026

Aff Corp Building Material Store

Kalkulator RAB Lengkap - Bahan Bangunan

🏗️ RAB Bahan Bangunan Lengkap AFF corp

🧱 RAB Tembok Bata

📊 Hasil Perhitungan

Luas Tembok:

Bata Merah: buah

Semen: sak

Pasir:

💰 Total: Rp

🛒 Beli Bahan di Toko

* Harga & kebutuhan bahan adalah estimasi standar, sesuaikan dengan harga daerah masing-masing.

🟦 RAB Lantai Keramik

📊 Hasil Perhitungan

Luas Lantai:

Keramik: lembar (+5% cadangan)

Pasir:

Semen: sak

💰 Total: Rp

🛒 Beli Bahan di Toko

* Termasuk estimasi pasir & semen pemasangan + 5% cadangan keramik.

🔩 RAB Rangka & Penutup Atap

📊 Hasil Perhitungan

Luas Atap:

Genteng: buah

Kayu / Kanal C: ± batang

Baut & Sekrup: ± set

💰 Estimasi Bahan: Rp

🛒 Beli Bahan di Toko

* Rangka atap sangat bergantung pada desain & bentangan — konsultasikan dengan tukang untuk hasil akurat.

🎨 RAB Pengecatan Dinding

📊 Hasil Perhitungan

Luas Dinding Dicat:

Cat Dasar / Alkis: kaleng

Cat Finishing: kaleng

💰 Estimasi Cat: Rp

🛒 Beli Cat di Toko

* 1 kaleng cat ±5kg untuk ±40 m² per lapis. Cat dasar biasanya 1 lapis saja.

Read More

Jadzab

 Tulisan jadzab dalam bahasa Arab adalah "الجذبة". Jadzab adalah kondisi ketika seseorang tiba-tiba ditarik oleh Allah SWT sehingga hijabnya (batas kesadaran) terbuka.

Ciri-ciri orang yang sedang dalam kondisi jadzab adalah:

  • Sering melakukan perbuatan di luar nalar manusia biasa
  • Jiwanya menjadi terguncang
  • Bisa saja mengeluarkan kata syathah atau perbuatan yang dinilai ganjil oleh orang awam

 

jadzab

Orang yang dalam kondisi jadzab disebut sebagai wali majdzub. Wali majdzub adalah seorang hamba yang telah tenggelam dalam rasa rindu dan cinta penuh kepada Allah SWT

Meyakini adanya manusia pilihan yang menjadi kekasih Allah adalah salah satu ajaran dalam agama Islam. Kekasih Allah atau yang biasa dikenal dengan waliyullah adalah orang-orang terpilih yang memiliki kedekatan secara khusus dengan Allah subhanahu wata’ala. Mengenai waliyullah ini, Al-Qur’an menjelaskan:

أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ   “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Yunus: 62).   Waliyullah secara umum terdiri dari berbagai macam kategori. Mulai dari wali abdal, wali autad, wali nuqaba’, wali nujaba’, sampai wali qutb al-aqthab. Para waliyullah ini mengemban berbagai macam tugas masing-masing serta diberi keistimewaan oleh Allah dengan memiliki karamah yang berbeda-beda (Syekh Dliya’uddin Ahmad bin Mushthafa, Jami’ al-Ushul fi al-Auliya, hal. 168).   Jalan yang ditempuh mereka tak lain adalah menggapai ma‘rifatullah. Dalam ilmu tasawwuf, terdapat dua jalan untuk menggapai makrifat ini. Pertama, suluk. Jalan ini adalah pilihan jalan yang ditempuh secara normal. Seseorang yang mengamalkan laku tasawuf secara tidak langsung juga disebut sebagai salik. Kedua, jadzab. Jalan ini adalah jalan khusus yang tidak sembarang orang bisa mengamalkan, hanya orang-orang khusus yang memang terpilih yang dapat menempuh jalan ini.   Dua jalan menuju ma‘rifatullah di atas, secara sederhana diilustrasikan dalam kitab Nasihah al-Murid fi Thariq ahli as-Suluk wa at-Tajrid berikut:  

اعلم أن الجذب والسلوك مثلهما كالأشجار، شجرة الجذب لها عروق وفروع، وكذلك شجرة السلوك لها عروق وفروع وكلّ عرق وفرع منهما له أثمار. عروق الجذب هي العلوم اللدنية الغيبية، وأثمار فروع الجذب هي أن يكون صاحبها بأمر الله تعالى يقول للشيء كن فيكون والكلّ مواهب وكذلك عروق شجر السلوك تثمر بالعلم الظاهر، وفروعه تثمر بالعمل الظاهري، وإن تفاوت أهل السلوك مع أهل الجذب إلّا أنَّ أهل السلوك عبادتهم من وراء حجاب، وأهل الجذب ما بينهم وبين الله حجاب منه إليهم، ومنهم إليه  

“Ketahuilah bahwa jadzab dan suluk itu seperti pepohonan. Pohon jadzab memiliki akar dan tangkai, begitu pula pohon suluk juga memiliki akar dan tangkai. Setiap akar dan tangkai dari kedua pohon tersebut memiliki buah. Akar dari pohon jadzab adalah ilmu laduni yang bersifat ghaib, dan buah dari tangkai pohon jadzab adalah saat orang yang jadzab mendapat perintah Allah agar mengatakan pada sesuatu kun fa yakun, segalanya murni pemberian dari Allah. Sedangkan akar dari pohon suluk dapat membuat pohon berbuah dengan Ilmu yang dzahir (tampak) dan tangkainya berbuah dengan amal yang bersifat dzahir, meski orang yang mengamalkan laku suluk dan orang jadzab berbeda, orang yang mengamalkan laku suluk beribadah di belakang tirai penghalang dari Allah, sedangkan orang jadzab tidak ada di antara mereka dan Allah penghalang apa pun. (Pesan) dari Allah langsung pada mereka, dan (ibadah) dari mereka langsung tertuju pada Allah” (Syekh ‘Ali bin Abdurrahman bin Muhammad al-Imrani, Nasihah al-Murid fi Thariq ahli as-Suluk wa at-Tajrid, Hal. 17)
Read More