📜 Penerjemah Kawi - Kalimat Dasar
Ketik Indo → Keluar Kawi Jawa Kuno. Contoh: aku sudah makan nasi
📜 Penerjemah Kawi - Kalimat Dasar
Ketik Indo → Keluar Kawi Jawa Kuno. Contoh: aku sudah makan nasi
Periode Waktu di luar alam dunia
Periode waktu adalah kurun waktu atau
lingkaran waktu yang digunakan untuk membagi waktu menjadi periode-periode
tertentu. Periode waktu dapat digunakan dalam berbagai bidang, seperti ilmu
pengetahuan, sejarah, dan akuntansi. Yang perlu diingat dalam artikel ini
tulisan ini hanya bersifat penelitian tidak bisa dijadikan fatwa karena
sesungguhnya alam kekekalan atau akhirat tidak bisa kita samakan dengan alam
fana hanya Allah SWT lah yang Maha Mengetahui Untuk kesempurnaan tulisan
ini maka diperlukan diskusi lebih
Surat al-Hajj 47
وَيَسۡتَعۡجِلُوۡنَكَ بِالۡعَذَابِ وَلَنۡ يُّخۡلِفَ اللّٰهُ
وَعۡدَهٗ ؕ وَاِنَّ
يَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّكَ كَاَ لۡفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ٤٧
Dan mereka
meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak
menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti
seribu tahun menurut perhitunganmu.
Surat al-Maarij
ayat 4
تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ
وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ
Para malaikat dan
Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh
ribu tahun.
Surat Yasin ayat 52
قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ
بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَاۜ هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ
الْمُرْسَلُوْنَ
Mereka berkata,
“Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami
(kubur)?” (Lalu, dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang
Maha Pengasih dan benarlah para rasul(-Nya).”
Tadabbur
Tulisan ini
berdasarkan pendapat penulis sendiri bukan dari ijma ulama hanya sekedar buat
masukan atau referensi
Menurut surat al Hajj ayat 47
1 hari diakhirat = 1000 hari di akhirat jika ukuran hidup manusia adalah usia Rasulullah yaitu sekitar 63 tahun berarti hidup kita hanya 1,5 jam yang bisa di ibaratkan ketika kita masa sekolah dulu seperti waktu mengerjakan soal ujian yang bisa kita misalkan jika kita mengerjakan 50 soal 1 soal ini ibarat 1,26 tahun jika usia kita 30 tahun bisa kita artikan sudah 24 soal dalam hidup ini yang sudah kita kerjakan jika kita analisa hidup ini sangat singkat tetapi jika dilewati tetapi jika dilewati dengan sia-sia maka sangat rugi ada baiknya kita mengingat surat al-Ashr
Menurut firman Allah QS. Al-An'am ayat 32, yang menyatakan bahwa kehidupan dunia hanya main-main dan senda gurau, dan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa
Berbeda dengan firman Allah pada QS. Al-Mu'minun ayat 115
yang berbunyi, "Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu
hanya main-main (tanpa ada maksud), kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Bisa kita simpulkan pada Qs Al-An’am
ayat 32 Hikmah ayat tersebut jika kita
merasa lelah dalam menghadapi ujian di dunia maka ingatlah waktu hidup didunia sangatlah sebentar seperti halnya mengerjakan
soal saja sesungguhnya kehidupan akhirat
itu akan lebih kekal maka kejarlah akhirat untuk kehidupan yang lebih kekal
karena ujian itu hanya sebentar saja
Sedang pada QS Al-Mu’minun agar kita
hidup bahagia maka jangan lupa tujuan kita hidup didunia ini menyelesaikan soal
dengan benar yaitu sesuai petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rassul
Pada surat Surat al-Hajj 47 dan al-Maarij ayat 4
Ada perbedaan waktu yaitu 1 hari
disisi Tuhan = 1000 tahun di alam manusia
Sedang tempat atau alam malaikat menghadap Tuhan 1 hari
memiliki kadar 50.000 tahun
Kemungkinan alam
Malaikat berbeda dengan Alam disisi Tuhan
Kadar juga bisa
diartikan takaran atau ukuran bisa saja alam ini berjalan lebih cepat atau
lambat dari alam dunia karena 1 hari itu bernilai 50.000 tahun jika satu hari
kita berdzikir
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَاللَّهُ أَكْبَرُ 33 kali
Maka di alam tersebut senilai dengan
33 X 50.000tahun yang jika alam tersebut berjalan lebih cepat berarti 1 hari
menurut perhitungan kita senilai dengan 50.000 tahun di alam tersebut
Jadi dalam sehari di perhitungan kita
para malaikat sudah berdzikir sebanyak 33 X 365 X 50.000 bisa saja di alam malaikat
tersebut 1 hari di alam kita = 50.000 tahun di tempat malaikat menghadap Tuhan
Atau bisa saja 50.000 tahun 1 hari di alam
akhirat jadi jika di konversikan
1 tahun Akhirat = 50.000 tahun alam
Malaikat menghadap Tuhan
1000 Dunia = 50.000
Dunia = 50.000 : 1000 = 50
Jadi 1 hari dunia = 50 tahun alam
Malaikat menghadap Tuhan
Kesimpulannya
Ingat tulisan ini
tidak pasti kebenarannya hanya bisa dijadikan referensi karena bersifat
pendapat penulis semata sebagai penambah pengetahuan penulis dan pemahaman maka
alangkah baiknya di perlukan untuk berdiskusi secara khusus atau di gali lebih
dalam
Bani Quraisy adalah salah satu suku bangsa Arab yang berasal dari keturunan Fihr bin Malik. Suku ini merupakan salah satu suku utama di kota Mekkah dan daerah sekitarnya. Nabi Muhammad SAW juga termasuk keturunan Bani Quraisy. Suku Quraisy (bahasa Arab: قريش الأمة) adalah suku bangsa Arab keturunan Ibrahim, yang menetap di kota Mekkah dan daerah sekitarnya.
Salah satu suku di Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS bin Nabi Ibrahim AS adalah suku Quraisy. Bahkan, suku ini dikenal sebagai suku dengan keistimewaannya
Ukasyah bin Mihsan
Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi (bahasa Arab: عكاشة بن محصن الأسدي, juga ditulis dengan Ukasyah,
wafat di Buzakhah, Najd, 12 H (633, usia 45)) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad.[2] Ukkasyah adalah satu sahabat yang khusus didoakan Nabi dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي زُمْرَةٌ هُمْ
سَبْعُونَ أَلْفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمْ إِضَاءَةَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
". وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ الأَسَدِيُّ
يَرْفَعُ نَمِرَةً عَلَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ
يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ " اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ". ثُمَّ
قَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ
يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَقَالَ " سَبَقَكَ عُكَّاشَةُ ".
Aku mendengar Rasululah ﷺ bersabda, “Tujuh puluh
ribu orang dari umatku akan masuk surga (tanpa hisab). Wajah mereka bersinar seperti bulan purnama.” Ukkasyah
bin Mihshan al-Asadi kemudian berdiri, membuka kain penutup kepalanya, dan
berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku di antara
mereka.” Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia di antara mereka!” Kemudian
seorang laki-laki dari kaum
Ansar berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada
Allah agar menjadikanku di antara mereka.” Maka Rasulullah menjawab, “Ukkasyah
sudah mendahuluimu.”
اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰهِ وَالۡفَتۡحُۙ ١
وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَدۡخُلُوۡنَ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا
ۙ ٢
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَاسۡتَغۡفِرۡهُ
ؕ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ٣
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.
Tentang Surah An-Nashr ini, Jabir bin Abdillah dan
Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa setelah surat ini turun, Rasulullah SAW
berkata, “Wahai Jibril. Jiwaku sudah terasa lelah.”
Jibril AS mengatakan, “Akhirat itu lebih baik
bagimu daripada dunia. Dan, pasti Tuhanmu akan memberikan (sesuatu) kepadamu
dan kamu merasa ridha.”
Wahai Sahabat. Nabi seperti apa aku ini bagi kalian?
Para sahabat menjawab, “Semoga Allah memberikan
balasan kebaikan sebab kenabianmu. Engkau bagi kami bagaikan ayah yang
penyayang, saudara yang bijak dan baik hati. Engkau telah menyampaikan risalah
Allah dan engkau telah mengajak ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan
dengan tutur kata yang santun. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang
lebih besar dari balasan yang diterima oleh nabi lainnya.”
Nabi berkata, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan
demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa
sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu.” Tidak seorang pun
berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapannya itu, dan tidak seorang pun yang
berdiri. Rasulullah mengulangi kata-kata itu untuk ketiga kalinya, “Wahai kaum
Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku
zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu, sebelum
aku dibalas pada hari kiamat nanti.”
Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu
melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek
itu bernama Ukasyah bin Mihshan.
Ukasyah lantas berkata, “Demi ayah dan ibuku. Andai
engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan
maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan
kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan
sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu.
Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku
tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.”
Rasulullah langsung berkata, “Aku berlindung
kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah
engkau ke rumah Fathimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.”
Bilal langsung berangkat menuju rumah Fathimah.
Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris, “Luar biasa. Ini Utusan
Allah meminta dirinya untuk diqisas (dibalas)!” Sampai di rumah Fathimah, Bilal
mengetuk pintu dan berkata, “Wahai Putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang
tergantung itu. Serahkan kepadaku.”
Fathimah bertanya, “Wahai Bilal. Apa yang akan
dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bukan hari ini adalah hari haji, bukan hari
perang.”
Bilal menjawab, “Wahai Fathimah. Kamu pasti tahu
akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia
ini. Dan, beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas (qisas)
kesalahannya.”
Fathimah lantas berkata, “Wahai Bilal. Siapa orang
yang tega menuntut balas (qisas) dari Rasulullah?! Katakanlah kepada Hasan dan
Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti
Rasulullah. Minta orang itu membalas (melakukan qisas) kepada Hasan dan Husein,
dan jangan membalas Rasulullah.”
Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu
kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah.
Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata
kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Balaslah kepada kami berdua. Kami ada di
hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.”
Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar,
“Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat
kalian berdua.”
Ali pun berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah.
Sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega
melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali.
Jangan kau balas Rasulullah.”
Rasulullah berkata, “Wahai Ali. Duduklah. Allah
tahu derajatmu dan niat baikmu.”
Selanjutnya Hasan dan Husein juga berdiri dan
berkata, “Wahai Ukasyah. Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging
Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas
Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Duduklah, buah hatiku. Allah
tidak akan melupakan kemuliaan kalian.”
Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah, “Wahai
Ukasyah. Silakan. Pecutlah aku.”
“Wahai Rasulullah. Ketika engkau memecut perutku,
perutku dalam keadaan terbuka,” kata Ukasyah. Rasulullah SAW langsung
menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka.
Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu.
Mereka menangis menjadi-jadi.
Mereka menegur Ukasyah, “Apakah engkau betul-betul
akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?!..”
Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak
kuasa menahan diri, langsung merangsek tubuh Rasulullah SAW dan menciumi
perutnya. “Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan
kepadamu, wahai Rasulullah,” ujar Ukasyah.
Rasulullah berkata, “Lastas katakanlah, kau ingin
membalas atau memaafkan aku?”
Ukasyah, “Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku
berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari Kiamat.”
Rasulullah berkata, “Siapa yang ingin melihat
temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini.”
Kaum Muslim langsung berdiri mengerubungi Ukasyah
dan menciumi keningnya. Mereka berkata kepada Ukasyah, “Alangkah beruntungnya
kamu. Alangkah beruntungnya kamu. Kamu akan mendapatkan derajat yang sangat
tinggi, berdampingan dengan Rasulullah di surga.“
Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah jatuh sakit
selama delapan belas hari. Tepat pada hari Senin, Rasulullah wafat,
meninggalkan dunia yang fana ini. Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi dan
rasul. Ia dijamin masuk surga, bahkan pasti berada di tempat paling tinggi dan
paling mulia di sisi Allah. Namun, beliau begitu hati-hatinya terhadap manusia.
Ia tidak ingin meninggalkan dunia ini, sementara masih ada orang yang “sakit
hati” kepadanya. Beliau minta dibalas (diqisas) agar dirinya tidak dibalas di
akhirat. Fitnah, dusta, caci-maki dan kezaliman lainnya yang disebarkan akan
menjadi tanggung jawab penyebarnya di akhirat nanti. Herannya, para penyebar
fitnah dan para pencaci tenang-tenang saja. Padahal, Nabi begitu gelisah hanya
karena satu kesalahan yang tak disengaja terhadap Sahabat Ukasyah. Fasyhad. Qad
ballaghtul qishah…
NABI MUHAMMAD s.a.w DENGAN PENGEMIS BUTA
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau SAW wafat.
Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha. Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abu Bakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi.
Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawamakanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a. NABI-NABI YANG DIUTUS KEPADA KAUM YASIN Allah SWT berfirman: "Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab: 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata: 'Tuhan kami mengetahui bahawa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami bernasib malang kerana kamu, sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merejam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yangpedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata: 'Kemalangan kamu itu adalah kerana kamu sendiri.
Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. " (QS. Yasin: 13-19) Allah SWT menceritakan kepada kita tentang tiga nabi tanpa menyebut nama-nama mereka. Hanya saja, Al-Qur'an menyebutkan bahawa kaum yang didatangi tiga nabi tersebut mendustakan mereka. Mereka mengingkari bahawa tiga nabi itu sebagai utusan Allah. Ketika para rasul itu menunjukan bukti kebenaran mereka, kaumnya berkata bahawa kedatangan mereka justru membawa kesialan. Mereka mengancam para nabi itu dengan rajam, pembunuhan, dan siksaan yang pedih. Para nabi itu menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat tindakan yang melampui batas. Mereka justru menganiaya diri mereka sendiri. Al-Qur'an al-Karim dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan bagaimana urusan para nabi itu. Yang ditonjolkan oleh Al-Qur'an adalah urusan seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu. Hanya dia satu- satunya yang beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini berhadapan dengan kelompok yang besaryang menentang para nabi. Laki-laki itu datang dari negeri yang jauh. Dan dalam keadaan berlari, ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk menerima kebenaran. Belum lama ia menyatakan keimanannya sehingga kemudian ia dibunuh oleh orang-orang kafir.
Allah SWT berfirman: "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan- utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) ahan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidah (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maha dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.'" (QS. Yasin: 20-25) Konteks Al-Qur'an hanya menyebutkan atau membatasi tentang proses pembunuhan itu. Belum lama orang mukmin itu atau belum sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya sehingga Allah SWT mengeluarkan perintah-Nya dan mengatakan: "Dikatakan (kepadanya): 'Masuklah ke syurga.' Ia berkata: 'Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.'" (QS. Yasin: 26-27) Jadi, Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan nama-nama para nabi itu dan kisah-kisah mereka, tetapi yang ditonjolkan adalah kisah lelaki mukmin di mana dalam konteks ayat tersebut nama laki-laki mukmin pun tidak disebutkan. Tentu penyebutan namanya tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi padanya. Beliau adalah seorang mukmin yang mengikuti para nabi AllahSWT.
Dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam syurga. Tentu proses penyiksaan yang diterimanya dan pembunuhannya bukan membawa suatu nilai yang besar tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahawa ia beriman dan tetap berjuang membela para nabi. Meski-pun ia mendapatkan ancaman pembunuhan, ia tetap menunjukkan keimanannya dan keimanannya tetap membara. "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku."'?
Wafatnya Nabi Muhammad Saw
Beliau mengirim surat ke raja-raja dan para penguasa di mana beliau ingin menunjukkan universalitas ajaran Islam. Nabi saw mengajak Kaisar Romawi untuk mengikuti Islam, lalu beliau mengirim utusan ke Amir Damaskus mengajaknya untuk memeluk Islam, dan beliau mengutus utusan ke Amir Basrah bahagian dari wilayah Romawi dan mengajaknya untuk mengikuti Islam, dan beliau juga mengirim surat ke penguasa Qibti dan mengajaknya untuk masuk Islam, dan beliau juga menulis surat ke Kisra, Raja Persia dan mengajaknya untuk mengikuti Islam.
Beliau juga mengirim utusan ke Amir Bahrain dan mengajaknya untuk mengikuti Islam. Lalu berbagai reaksi disampaikan berkenaan dengan surat-surat Nabi itu. Di antara mereka ada yang berusaha menyampaikan kepada pembawa surat bahawa ia masuk Islam dan mengembalikannya dengan hadiah, dan di antara mereka ada yang merobek-robek surat itu dan di antara mereka ada yang membalas surat itu dengan jawapan yang baik, dan di antara mereka ada yang menerima kebenaran.
Demikianlah hari berlalu dalam pergelutan yang tidak pernah padam, suatu pergelutan yang dipimpin oleh Nabi sehingga beliau menaklukkan Mekah dan menyucikan jazirah Arab. Akhirnya, manusia masuk dalam agama Allah SWT dalam keadaan berbondong-bondong, dan Allah SWT menyempurnakan agama bagi kaum Muslim dan Nabi saw melaksanakan haji wada' (haji yang terakhir) dan turunlah kepada beliau wahyu di Arafah sebagaimana firman-Nya: "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3) Ayat tersebut dibacakan kepada Abu Bakar sehingga ia menangis. Allah SWT merasa bahawa telah tiba waktunya untuk mengakhiri misi Rasul- Nya. Aisyah berkata kepada anak-anak yang berteriak dan bermain-main di luar rumah: "Diamlah kalian kerana Rasulullah saw sedang sakit." Anak- anak itu pun terdiam dan mereka merasakan ketakutan yang luar biasa. Pada hari-hari terakhir, Rasulullah saw tidak lagi bercanda dengan mereka sebagaimana yang biasa beliau lakukan. Mereka memperhatikan bahawa kepucatan yang aneh menyelimuti Nabi saw yang biasanya wajah beliau dipenuhi dengan senyuman hingga wajahnya laksana lempengan emas. Nabi saw yang terakhir masuk dalam rumahnya dan hampir saja beliau tidak kuat menahan langkah kedua kakinya.
Beliau memasuki rumahnya dan bersandar kepada tangan Fadl bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib. Beliau merasakan keletihan dan kesakitan. Kemudian Aisyah menidurkan beliau di atas ranjangnya yang kasar dan Aisyah meletakkantangannya di atas kening beliau. Kepala beliau tampak panas kerana saking hebatnya demam. Aisyah berkata dalam keadaan kedua matanya mengucurkan air mata, "demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah apakah engkau merasakan sakit?" Nabi saw tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu beliau tertidur. Kemudian mengalirlah dalam memori Nabi saw berbagai gambar hidup: Jibril turun kepada beliau dengan membawa wahyu di gua Hira.
Beliau telah melewati waktu yang diberkati selama dua puluh tiga tahun, yang sekarang tampak seperti mimpi. Bahkan empat puluh tahun yang mendahuluinya tampak seperti gambar yang hanya dilukis sesaat. Segala sesuatu menjadi mudah bagi Allah SWT dan Rasulullah saw telah berhasil melalui berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran, bahkan beliau tidak pernah mengeluh sekali pun. Beliau mengajarkan akidah kepada para pengikutnya dengan penuh kemantapan. Akhirnya, Islam menjadi mulia dan benderanya semakin berkibar. Kemudian beliau bangun kerana melihat tangisan yang tersembunyi dari Aisyah. Beliau membuka kedua matanya dan melihat wajah Aisyah sambil beliau sendiri berusaha melawan rasa pusing, demam, dan sakit yang dirasakannya. Beliau kembali tersenyum untuk menenangkan Aisyah dan beliau kembali memejamkan matanya dan tidak sedarkan diri. Apa gerangan yang menyebabkan Aisyah menangis? Tidakkah Allah SWT memahkotai jihad Nabi saw yang berat dengan penaklukan Mekah dan penyucian Baitul Haram? Berbagai gambar hidup dan aktual melayang-layang dalam memori Nabi saw. Beliau mengingat bagaimana tindakan orang Quraisy ketika membantalkan perjanjian Hudaibiyah dan mereka memerangi Khaza'ah yang saat itu bersekutu dengan kaum Muslim dan akhirnya mereka membunuh semua sekutu kaum Muslim di Baitul Haram. Kemudian beliau berjalan bersama pasukan yang berjumlah sepuluh ribu di mana semua pasukan telah siap, dan tentera Muslim turun dari gunung Mekah laksana air bah yang tidak berhenti sedikit pun. Telah lewatlah masa para pembawa tombak, panah, dan pedang; telah lewatlah masa di mana Rasulullah saw memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Di tengah-tengah pasukan besar tersebut yang berhasil menaklukkan Mekah, Nabi saw menunggangi untanya dan beliau menundukkan kepalanya dengan penuh rendah diri di hadapan Allah SWT sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh punggung unta yang dinaiki. Pintu Mekah terbuka untuk pasukan ini. Para pemimpin Mekah dan pengikut-pengikut mereka menyerahkan diri. Kalimat Allah SWT semakin meninggi di dalamnya.
Nabi saw memasuki BaitulHaram lalu beliau berkeliling di sekitar Ka'bah. Beliau menghancurkan berbagai patung yang berbaris di sekitarnya, lalu beliau memukulnya dengan kapaknya. Kemudian patung-patung itu berjatuhan dan hancur. Setelah beliau membersihkan masjid dari berbagai patung dan mengembalikannya sebagaimana yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai rumah tauhid yang mutlak, beliau menoleh kepada orang Quraisy dan memaafkan mereka dan mengajak mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT. Kemudian tibalah waktu solat, lalu Bilal naik di atas punggung Ka'bah dan mengumandangkan Azan. Penduduk Mekah mendengarkan panggilan baru ini di mana gemanya berputar-putar di antara gunung: "Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahawa Muhammad utusan Allah. Marilah melaksanakan solat. Marilah menuju keberuntungan. Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah." Akhirnya, rumah itu dikembalikan kehormatannya dan kemuliaannya. Kemudian lagi-lagi arus berbagai gambar terlintas dalam memorinya: itulah peperangan Hunain dengan kekalahannya, kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah Nabi saw yang memberikan ganimah terhadap orang- orang yang bergabung dengan Islam hanya dua hari dari penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ganimah Hunaian kepada kaum Anshar yang telah memberikan segalanya untuk Islam. Salah seorang di antara mereka berkata: "Demi Allah, Rasulullah saw telah menemui kaumnya." Sa'ad bin 'Ubadah berjalan ke arah Rasulullah saw dan memberitahunya bahawa kaum Anshar sedang marah. Rasul saw bertanya: "Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes saat engkau membagikan ganimah ini pada kaummu dan pada seluruh orang Arab namun mereka tidak mendapatkan apa-apa." Rasulullah saw bertanya kepada Sa'ad bin Ubadah: "Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai Sa'ad?" Sa'ad berkata: "Aku tidak lain kecuali seseorang dari kaumku." Rasulullah saw berkata: "Kumpulkanlah kepadaku kaummu untuk masalah yang penting ini dan jika kalian telah berkumpul, maka beritahulah aku." Sa'ad mengumpulkan seluruh kaum Anshar lalu ia memberitahu Rasul saw bahawa ia telah mengumpulkan mereka.
Rasulullah saw keluar menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka sambil memuji Allah SWT dan kemudian berkata: "Wahai orang-orang Anshar, tidakkah aku datang kepada kalian saat kalian dalam keadaan sesat lalu Allah SWT memberikan petunjuk kepada kalian, dan kalian menjadi orang-orang yang fakir lalu Allah SWT memampukan kalian, dan kalian dalam keadaan bermusuhan lalu Allah SWT menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab: "Benar." Rasulullah saw berkata: "Mengapa kaliantidak menjawab wahai kaum Anshar?" Mereka berkata: "Apa yang kita akan katakan wahai Rasulullah dan dengan apa kita akan menjawabnya. Sungguh segala kurnia hanya milik Allah SWT dan Rasul-Nya." Rasulullah saw berkata: "Demi Allah, seandainya kalian mahu nescaya kalian akan mengatakan dan benar apa yang kalian katakan: Engkau datang kepada kami sebagai seorang yang terusir, maka kami melingdungimu dan engkau datang dalam keadaan miskin lalu kami menghiburmu dan engkau datang dalam keadaan ketakutan lalu kami mengamankanmu dan engkau datang dalam keadaan teraniaya lalu kami menolongmu." Mereka berkata: "Segala puji dan kurnia bagi Allah SWT dan Rasul-Nya." Rasulullah saw berkata: "Wahai kaum Anshar, apakah kalian akan marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada suatu kaum dengan harapan agar keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian justru melupakan kurnia yang telah Allah SWT berikan kepada kalian dalam bentuk nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum Anshar merasa puas ketika manusia pergi untuk melakukan perjalanan di musim dingin sedangkan kalian pergi dengan Rasulullah saw. Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya manusia melalui suatu jalan dan kaum Anshar melalui jalan yang lain nescaya aku akan melalui jalan kaum Anshar.
Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak kaum Anshar dan cucu kaum Anshar." Mendengar doa itu, kaum tersebut menangis sehingga janggut mereka terbasahi dengan air mata dan mereka berkata: "Kami rela dengan Allah SWT sebagai Tuhan dan sangat puas dengan pembahagian Rasulullah saw." Kemudian Nabi saw pun meninggalkan mereka dan mereka pergi dalam keadaan puas. Orang-orang Anshar memahami bahawa Muslim yang hakiki di dunia adalah seorang yang datang di dunia untuk memberi, bukan untuk mengambil. Nabi saw terbangun dan beliau mendapati dirinya sendirian di kamar. Suhu tubuh beliau meningkat kerana demam, lalu beliau memanggil Aisyah dan meminta kepadanya untuk membawa air yang dapat digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air kepada Rasulullah saw sampai demam beliau beransur- ansur sedikit menurun. Tampak bahawa waktu berlalu cukup lambat dan berat. Sakit Rasulullah saw semakin meningkat. Beliau mulai merasa bahawa tidak mampu lagi untuk solat bersama para sahabat, lalu beliau memerintahkan Abu Bakar untuk solat bersama mereka. Pada saat Nabi mengalami antara keadaan terjaga dan tidur, beliau selalu berfikir apa gerangan yang belum disampaikannya kepada manusia. Beliautelah menyampaikan segala sesuatu dan telah mengajari mereka segala sesuatu serta telah meninggalkan sebuah Kitab yang siapa pun berpegangan dengannya ia tidak akan sesat. Rasul saw mulai mengantuk dan berbagai nostalgia terlintas di kepalanya. Beliau melihat dirinya di haji Wada'. Selesailah perjanjian yang diberikan kepada kaum musyrik dan mereka telah dilarang untuk memasuki Masjidil Haram dan sekarang Nabi saw keluar sebagai pemimpin haji dan mengajari kaum Muslim cara manasiknya. Rasulullah saw memperhatikan ribuan orang-orang yang bertauhid saat mereka menuju Baitul Haram dalam keadaan memenuhi panggilan Tuhan dan tunduk kepadanya. Mereka menghidupkan memori datuk mereka, Ibrahim Khalilullah. Nabi saw berdiri dan berpidato di tengah-tengah keramaian itu. Nabi saw mulai merasakan bahawa kehidupannya di dunia sebentar lagi akan berakhir.
Beliau mengetahui bahawa kafilah ini akan pergi sendirian dalam menjalani kehidupan. Beliau kembali menanamkan nilai- nilai Islam dan wasiat dakwah di jalan Allah SWT. Setelah berjuang selama dua puluh tiga tahun menegakkan agama Allah SWT, beliau bertanya kepada mereka: "Apakah aku telah menyampaikan amanat Tuhan?" Lalu manusia yang hadir saat itu menyatakan bahawa beliau benar-benar telah menyampaikan dakwah. Beliau memanggil Mu'ad bin Jabal dan mengajarinya bagaimana berdakwah kepada manusia di jalan Allah SWT dan bagaimana mengenalkan agama kepada mereka. Kemudian beliau berwasiat kepada Mu'ad saat ia menunggangi kenderaannya sedangkan Rasulullah saw berjalan di sebelah untanya: "Sesungguhnya orang yang paling utama di sisiku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa pun mereka dan di mana pun mereka." Nabi saw adalah rahmat bagi semua manusia dan sebagai cermin yang tertinggi dari cermin persaudaraan dan kepatuhan. Beliau menegakkan Al-Qur'an di tengah-tengah umat Islam namun beliau menolak segala bentuk penampilan yang biasa melekat pada seorang penguasa atau raja atau pemimpin apa pun. Beliau berkata kepada para sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah SWT dan Rasul-Nya." Beliau keluar menemui sekelompok sahabatnya lalu sebagai bentuk penghormatan kepada beliau mereka berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka agar tidak berdiri. Ketika beliau keluar untuk menemui sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya, maka beliau duduk bersama mereka di tempat terakhir yang ditemukannya.
Beliau sangat bersahabat dan ramah dengan para sahabatnya, bahkan beliau bercanda dengan anak-anak mereka dan mendudukkan mereka di ruangannya. Beliau memenuhi panggilan orangdewasa mahupun anak- anak. Beliau membesuk orang-orang yang sakit meskipun berada di tempat yang jauh. Beliau menerima alasan orang yang mempunyai uzur. Beliau mendahului orang yang ditemuinya dengan salam bahkan beliau mendahului berjabat tangan dengan para sahabatnya. Ketika seseorang datang untuk menemuinya saat beliau solat, maka beliau mempersingkat solatnya dan menanyakan keperluan orang itu. Setelah menyelesaikan keperluan manusia, beliau kembali menyelesaikan solatnya. Beliau selalu menebar senyum kepada kawan dan lawan dan memiliki keperibadian yang paling baik. Ketika beliau berada di rumahnya, beliau melayani keluarganya. Beliau mencuci bajunya. Beliau memperbaiki sandalnya dan memberi minum unta. Beliau makan bersama pembantu. Beliau memenuhi kebutuhan orang yang lemah, orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan kebaikan beliau dan kasih sayangnya sampai pada tingkat di mana beliau membiarkan cucunya menaiki punggungnya saat beliau sedang solat. Kasih sayang beliau tidak hanya terbatas kepada manusia bahkan juga tertuju pada binatang dan pohon. Beliau memberi makan binatang dengan tangannya sendiri bahkan beliau pernah merawat anjing yang sakit. Beliau memerintahkan pasukan Islam saat berperang demi menegakkan keadilan Islam agar mereka tidak membunuh anak kecil, orang tua, kaum wanita dan hendaklah mereka tidak mencabut pohon dan tidak pula merobohkan rumah.
Apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya suatu undang-undang yang mengatur hubungan antara manusia dan manusia yang lain, dan apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya berisi suatu sistem untuk meningkatkan kualiti kehidupan dan kemajuannya, ini semua adalah hal relatif namun beliau datang dengan membawa peradaban yang abadi yang mengatur hubungan antara manusia dan alam, dan mengembalikan keserasian di alam wujud sehingga semua berjalan secara seimbang dan mencapai kesempurnaan menuju Allah SWT. Meskipun pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau masih sibuk mengurus masa depan dakwah dan beliau sangat cemas terhadap masa depan agama dan sangat peduli dengan masalah kaum Muslim. Beliau khawatir suatu saat Islam hanya tinggal namanya namun hakikatnya telah lenyap. Namun sebelum beliau meninggal, Allah SWT telah memperlihatkan kepada beliau sesuatu yang membuat hati beliau menjadi tenang. Dan di hari Senin dari bulan Rabiul Awal yang mulia, beliau kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai. Salam kepadamu ya Rasulullah dan kepada keluarga serta sahabat yang setia bersamamu.