Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 16 September 2026

alam barzah bagian 2

 Bagaimana ruh anak kecil yang meninggal

Apakah anak kecil yang belum baligh juga ditanya?Ada  khilaf  ulama  dalam  masalah  ini.  Sebagian  ulama  berpandangan bahwa  anak  kecil  yang  wafat  dalam  keadaan  belum  baligh,  mereka  tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya Al Qadhi Abu Ya'la dan Ibnu Aqil rahimahumallah.  Argumen  mereka,  karena  anak  kecil  itu  belum  terkena beban  syari'at  dan  diangkat  pena  catatan  amalan  dari  mereka.  

BAGAIMANA ALAM KUBUR ITU BAGIAN 2

Sehingga mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan ditanya di alam kubur. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah kubur.  Yang dikecualikan hanya para Nabi dan para syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa anak kecil pun akan  mengalami dhaghthah  (penghimpitan)  di  alam  kubur.  Pendapat  ini dipilih oleh para murid imam Asy Syafi'i, demikian juga merupakan pendapat imam  Ahmad  bin  Hambal,  imam  Malik  dan  diklaim  oleh  Abul  Hasan  Al Asy'ari sebagai madzhab Ahlussunnah.  Pertanyaan malaikat kepada orang yang mati tenggelam dan semisalnya  Pada dasarnya, semua orang yang mati dalam keadaan apapun pasti akan mengalami alam kubur, tanpa terkecuali. Dan alam kubur itu berbeda dengan alam  dunia.  Sehingga  tidak  ada  bedanya  seseorang  yang  di  alam  dunia  ia dikubur  mayatnya  dengan  baik  ataukah  hilang  mayatnya,  hancur  lebur menjadi   debu,  tenggelam,dimakan   binatang   sampai tak   bersisa   atau semisalnya. Allah ta'ala Maha Kuasa menghidupkan mereka semua di alam kubur. Allah ta'ala berfirman:  “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada      kejadiannya. Ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang  belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan

 Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui  tentang segala makhluk. Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Peristiwa  pertama  yang  dialami  setelah  kematian  adalah  fitnah  kubur. Manusia akan diuji di dalam kubur mereka. Semua manusia yang meninggal, baik  yang  dikuburkan  di  dalam  kubur,  ataupun  jasadnya  tergeletak  di  atas tanah  (tidak  dikubur),  atau  jasadnya  dimakan  oleh  binatang  buas,  atau jasadnya  hancur  terhempas  angin,  semua  akan  mengalami  ujian  di  alam kubur”144.       Syaikh  Muhammad  Ali  Farkus145  hafizhahullah  menjelaskan:  “Sudah kita  ketahui  bersama  bahwa  pertanyaan  dua  Malaikat  kepada  jenazah  yang dikubur  adalah  setelah  ia  diletakkan  di  dalam  kubur.  Sebagaimana  sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:  “Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya, lalu  kerabatnya mulai berpulangan, ia mendengar suara sandal mereka.Kemudian datanglah dua Malaikat, lalu kedua Malaikat itu menjadikan   mayit duduk… Adapun  mayat  yang  tidak  dikuburkan,  semisal  dimakan  hewan  buas, atau dimakan ikan besar, atau tenggelam, sampai ia menjadi debu. Atau juga orang yang hancur lebur terkena bom. Mereka ini tidak diragukan lagi pasti akan  ditanya  juga  oleh  dua  Malaikat,  namun  tidak  diketahui  bagaimana kaifiyah  (cara)  -nya.  Karena  perkara  ini  adalah  perkara  gaib  yang tauqifiy (diketahui dengan dalil), dan tidak boleh meng-qiyas-kan dunia gaib dengan dunia  nyata.  Adapun  adzab  kubur  itu  dirasakan  oleh  jiwa  dan  raganya,

Sumber :

143 QS. Yasin: 78-80 144Syarhu Haditsi Jibril 'alaihissalam, halaman 37 145 Seorang ulama Ahlussunnah dari Aljazair 146 HR. Bukhari no.1374, Muslim no.7395  oleh 141 Akan disebutkan haditsnya di bab “Penghimpitan di alam kubur” Diringkas dari Mausu'ah Aqdiyah Durarus Saniyyah, bab “Fitnatul Qabri”,                          

berdasarkan  kesepakatan  ulama  ahlus  sunnah  wal  jama’ah.  Jiwanya  yang mendapat   nikmat   dan   adzabnya   pada   raganya   namun   keduanya   saling berhubungan.  Barangsiapa  yang  mati  dan  ia  layak  mendapat  adzab  kubur, maka ia akan mendapatkannya, baik ia dikubur ataupun tidak (lebih jelasnya lihat kitab Ar Ruh karya Ibnul Qayyim, hal 81-88)147. 147

PENGHIMPITAN DI ALAM KUBUR     

Ahlussunnah  mengimani  bahwa  di  alam  kubur  akan  terjadi  peristiwa  (penghimpitan).Ini didasari oleh beberapa hadits  yang shahih. Di antaranya: Hadits dari   Aisyah radhiallahu'anha,bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:"Sesungguhnya di alam kubur akan terjadi penghimpitan.Andaikan ada orang yang selamat darinya, maka sungguh Sa'ad bin Mu'adz akan selamat darinya"148. *  Hadits  dari  Abdullah  bin  Umar radhiallahu'anhu,  bahwa  bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda ketika Sa'ad bin Mu'adz radhiallahu'anhu meninggal:    "Lelaki ini membuat Arsy berguncang, dan akan dibukakan baginya pintu- pintu langit, dan ia akan dipersaksikan oleh 70 Malaikat sebagai orang yang baik. Namun ia mengalami penghimpitan di alam kubur kemudian terlepas   darinya"1.Hadits dari Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu'anhu, bahwa ketika  ada  seorang  anak  kecilyang meninggal          

"Andaikan ada orang yang selamat dari penghimpitan di alam kubur,  sungguh anak ini akan selamat"150. Siapa saja yang mengalami penghimpitan?  Ulama sepakat  bahwa  orang  kafir  dan  munafik  pasti  akan  mengalami penghimpitan.        Sebagaimana  dalam hadits dari Al Barra' bin'Azib radhiallahu'anhu bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi  Wasallam bersabda tentang orang kafir dan munafik: "...Kemudian kuburnya pun menghimpitnya hingga remuk tulang- tulangnya".Kemudian,  jumhur  ulama  mengatakan  bahwa  para  Nabi  dan  Rasul 'alaihimussalam  tidak  mengalami  penghimpitan  di  alam kubur.

As  Suyuthi rahimahullah mengatakan:"Pendapat yang ma'ruf, para Nabi tidak mengalami penghimpitan". Al Munawi rahimahullah mengatakan:  "Saya katakan, pendapat yang mengecualikan para Nabi dari terkenapenghimpitan adalah pendapat yang kuat. Adapun mengecualikan para wali,  maka ini pendapat yang tidak tepat. Tidakkah anda lihat bagaimana Sa'ad bin  Mu'adz saja yang kedudukannya tinggi tetap mengalami penghimpitan?!"153.      Adapun  orang-orang  beriman  selain  para  Nabi  dan  Rasul,  maka  ada khilaf  yang  kuat  di  tengah  ulama  apakah  mereka  mengalami  penghimpitan ataukah tidak? Sebagian ulama mengatakan bahwa para auliya' (orang-orang shalih) tidak mengalami penghimpitan di alam kubur. Namun pendapat yang kuat   (sebagaimana   disebutkan   Al   Munawi)   adalah   bahwa   orang-orang beriman selain para Nabi dan Rasul, mereka semua mengalami penghimpitan tanpa  terkecuali.  Sebagaimana  zahir  dari  hadits  Aisyah radhiallahu'anha. Oleh  karena  itu,  Ibnu  Abi  Mulaikah rahimahullah,  seorang  tabi'in,  beliau berkata:  "Tidak ada yang selamat dari penghimpitan, bahkan Sa'ad bin Mu'adz saja  tidak selamat. Padahal satu sapu tangan beliau itu lebih baik daripada dunia  dan seisinya!"154. Bahkan  anak  kecil  yang  belum  terkena  beban  syariat  saja  terkena penghimpitan sebagaimana dalam hadits Abu Ayyub radhiallahu'anhu.  Bagaimana bentuk penghimpitan yang dialami orang-orang beriman?      Walaupun orang-orang beriman mengalami penghimpitan di alam kubur, namun   bentuknya   berbeda   dengan   yang   dialami   orang-orang   kafir   dan munafik. Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini:      Pertama:   penghimpitan   yang   mereka   rasakan   adalah   penghimpitan maknawi,  yang  berupa  rasa  takut  dan  gelisah.  Bukan  penghimpitan  kubur secara hakiki. Abu Bakar At Taimi rahimahullah mengatakan:                                        

"Para ulama mengatakan: bentuk penghimpitan di alam kubur itu pada  asalnya karena bumi bagaikan ibu bagi manusia. Di sana mereka diciptakan,kemudian tiba-tiba ia tidak lagi berada di bumi untuk waktu yang lama.Ketika anak-anak bumi ini dikembalikan kepadanya, maka ia merasakan kesempitan sebagaimana sempitnya seorang ibu yang kehilangan anaknya". Kedua: penghimpitan yang mereka rasakan adalah penghimpitan hakiki, namun hanya sebentar. Al Munawi rahimahullah mengatakan:     "Seorang mukmin yang sempurna imannya, akan mengalami penghimpitan,  kemudian dengan cepat segera dilepaskan. Sedangkan seorang mukmin yang    ahli maksiat akan diperlama penghimpitannya. Sedangkan penghimpitan         orang kafir akan selamanya dihimpit atau hampir selamanya"156. Kapan terjadi penghimpitan di dalam kubur?      Penghimpitan di alam kubur terjadi sebelum pertanyaan dua malaikat."Penghimpitan di alam kubur terjadi sebelum pertanyaan dua Malaikat". Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan: "Hadits-hadits shahih menunjukkan bahwa seseorang ketika ia berhasil  menjawab pertanyaan dua malaikat di dalam kubur dengan benar, maka akan    dilapangkan kuburnya. Jika hadits tentang penghimpitan itu shahih, maka     maknanya, pertama kali ia masuk ke dalam kubur, ia akan dihimpit oleh kubur, kemudian akan dilapangkan (setelah menjawab pertanyaan)"159.  Wallahu a'lam. Semoga Allah ta'ala memberikan kita al qauluts tsabit di kehidupan dunia dan di alam kubur dan melindungi kita dari adzab kubur

Sumber :

160.  157Fatawa Ar Ramli, 6/33 158Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 159Liqa Babil Maftuh, 17/36 160 Diringkas dari penjelasan Syaikh Abdullah bin Abduh Nu'man Al Awadhi dan Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhahumallah. 

153Faidhul Qadir, 5/313 154 Diriwayatkan dalam kitab Az Zuhd karya Hannad bin as-Sarri (1/125).  150 HR. Ath Thabarani dalam Mu'jam Al Kabir (4/121), dishahihkan Al Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah     no. 2164 151 HR. Abu Daud no. 4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud 152Syarhus Shudur bi Syarhi Haalil Mauta wal Qubur, karya As Suyuthi, halaman. 114  : 148 HR. Ahmad (6/55), dishahihkan Al Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.1695 149 HR. An Nasa'i no.2055, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa'i    Ar Ramli rahimahullah mengatakan: 155 Tafsir Ibnu Rajab, 2/373 156Faidhul Qadir, 2/168


BENTUK-BENTUK NIKMAT KUBUR     

Telah  dijelaskan  bahwa  para  Nabi,  para  syuhada  dan  kaum  Mukminin akan mendapatkan nikmat di alam kubur sesuai dengan iman dan amal shalih mereka. Mengenai apa saja dan bagaimana nikmat mereka dapatkan di alam kubur ini adalah perkara gaib yang seseorang tidak boleh berbicara kecuali berlandaskan pada dalil Al Qur'an dan As Sunnah yang shahih.  Berikut  ini  beberapa  bentuk  nikmat  kubur  yang  disebutkan  dalam  Al Qur'an dan hadits-hadits yang shahih:.

1.Diberi tempat tidur yang berasal dari surga . 

2.Diberi pakaian yang berasal dari surga

3.Dibukakan pintu surga ketika di alam kubur, sehingga bisa merasakan keindahan, wangi serta sejuknya surga

4.Diluaskan kuburnya

5.Berbahagia dengan kabar gembira yang disampaikan kepadanya oleh Malaikat

6.Ditemani oleh amal shalihnya yang berupa sosok yang bagus, wangi dan menyejukkan hati

Enam hal tersebut  berdasarkan haditsdari Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu  yang  panjang.Bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:     “Kami keluar bersama Nabi shallallahu'alaihi wasallam untuk mengiringi jenazah seorang lelaki Anshar. Kami pun sampai di pemakaman. Ketika jenazah telah dikuburkan, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam duduk dan kami pun duduk di sekitar beliau. Kami diam seolah-olah di kepala kami ada burung-burung. Tangan beliau membawa dahan yang beliau pukulkan ke       tanah. Beliau menengadahkan kepalanya sambil berkata: "Mintalah   perlindungan kepada Allah dari adzab kubur (beliau mengucapkannya dua atau tiga kali)”."Beliau lalu bersabda: Seorang hamba mukmin ketika berpisah dari dunia dan menghadapi akhirat, malaikat turun dari langit untuk menemuinya  dengan wajah putih seperti matahari. Mereka membawa sebuah kain kafan dari surga dan minyak wangi dari surga. Kemudian malaikat tersebut duduk  di sisinya dan mereka memenuhi pandangan si hamba. Kemudian malaikat  maut 'alaihissalam pun datang dan duduk di sisi kepalanya sambil mengatakan: "Wahai jiwa yang tenang, sambutlah olehmu ampunan Allah     dan keridhaan-Nya”. Nabi melanjutkan: lantas ruh dari mayit tersebut keluar sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut kendi hingga sang malaikat selesai mencabutnya dari badannya. Ketika sang malaikat  mencabut ruh, ia tidak melepaskan sedikit pun ruh tersebut dari tangannya    walau sekejap mata pun, hingga ia selesai mencabutnya. Kemudian ruh  dimasukkan ke dalam kain kafan dan minyak wangi tersebut. Maka si mayit  meninggal dunia dengan aroma minyak wangi yang paling harum yang ada   di muka bumi”. “Nabi melanjutkan: malaikat tersebut pun membawa naik ruh itu ke langit.Dan tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat lain kecuali mereka   bertanya-tanya: "Ruh siapa yang wangi ini?”. Para malaikat menjawab:  "Ini adalah ruh si Fulan bin Fulan, mereka sebut dengan nama terbaik yang  digunakan oleh orang-orang untuk menyebutnya ketika di dunia. Begitulah      terus hingga mereka sampai ke penghujung langit dunia dan mereka   meminta untuk dibukakan, dan seketika itu pun dibukakan. Para malaikat      terus menyebarkan kabar tentang si ruh tadi kepada penghuni langit  berikutnya hingga sampai ke langit ke tujuh. Kemudian Allah 'azza wa jalla memerintahkan: "Tulislah catatan hamba-Ku ini di 'iliyyin dan     kembalikanlah ia ke bumi. Di sanalah Aku menciptakan mereka dan ke  sanalah Aku mengembalikan mereka, serta di sana jugalah Aku akan        membangkitkan mereka sekali lagi”. Kata Nabi: ruh tersebut pun     dikembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan  mendudukkannya dan bertanya: “Siapa Rabb-mu?”. Ia menjawab, “Rabb-ku adalah Allah”. Mereka bertanya lagi: "Apa agamamu?". Ia menjawab,   “agamaku Islam". Keduanya bertanya lagi, "Bagaimana tentang seorangelaki yang diutus kepada kamu?”. Si mayit menjawab, "Dia adalah  Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam”. Keduanya bertanya, "Darimana kamu tahu?” Ia menjawab, "Aku membaca Kitabullah (Al Qur'an) kemudian aku mengimaninya dan membenarkannya “Seketika itu terdengar seruan dari langit, "HambaKu berkata jujur!  Hamparkanlah tempat tidur dari surga baginya dan berilah ia pakaian dari   surga, dan bukakanlah pintu surgbaginya!”.

 Nabi melanjutkan: “Hamba itu pun dapat mencium harum dan wangi surga, dan kuburannya diperluas    sejauh mata memandang. Lantas ia pun didatangi oleh sesosok laki-laki berwajah tampan, pakaiannya indah, dan wanginya harum. Malaikat   berkata kepada ruh tersebut, "Bergembiralah dengan kabar gembira yang    telah dijanjikan kepadamu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu. Si mayit    bertanya (kepada sosok laki-laki tadi), “Siapa engkau? Wajahmu adalah  wajah yang mendatangkan kebaikan!”. Si laki-laki tampan menjawab, “Aku      adalah amalan shalihmu”. Kemudian ruh tadi pun berkata, "Ya Rabb,  segerakanlah hari Kiamat, sehingga aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku”.Diterangi kuburnya.Tidur seperti malam pengantin  Dua hal ini  berdasarkan hadits  dari  Abu  Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:        

 “Ketika salah seorang dari kalian dikuburkan, maka akan datang kepadanya  dua Malaikat yang hitam dan bermata biru. Yang satu bernama Munkar dan yang lainnya bernama Nakir. Keduanya bertanya: “Apa pendapatmu   mengenai lelaki ini (yaitu Rasulullah)?”. Si mayit menjawab sebagaimana yang pernah dikatakan dahulu (ketika hidup): “Dia adalah hamba Allah dan  Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam adalah hamba Allah dan Rasul-Nya”. Keduanya berkata: “Kami sudah mengetahui bahwa kamu akan    mengucapkan demikian”. Kemudian kuburnya dilapangkan seluas tujuh puluh hasta dikali tujuh puluh hasta. Lalu diterangi kuburnya, dan dikatakan  kepadanya: “Tidurlah!”. Namun si mayit berkata: “Biarkanlah aku kembali   kepada keluargaku untuk mengabarkan kepada mereka”. Kedua Malaikat   berkata: ”Tidurlah seperti tidur di malam pengantin, yang seseorang tidak     dibangunkan kecuali oleh orang yang paling dia cintai”. Hingga Allah     membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut. Adapun mayit orang       munafik akan menjawab pertanyaan dengan berkata: “Aku pernah       mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku sekedar ikut    mengatakannya. Aku tidak tahu”. Kedua Malaikat berkata: “Kami sudah     tahu mengatakan demikian”. Lalu dikatakan kepada bumi: “Himpitlah    dia!”. Lantas bumi pun menghimpitnya hingga tulang-tulangnya hancur. Dan dia terus diadzab di dalamnya hingga Allah membangkitkan dari tempat tidurnya Al Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan:  “Keadaannya diserupakan seperti tidur di malam pengantin karena ia berada dalam kehidupan yang baik (di alam kubur)”163. 9. Dalam keadaan bergembira dan diberi rezeki oleh Allah Allah ta'ala berfirman:

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat  rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya,  dan berbahagia terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum  menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak    bersedih hati. Mereka berbahagia dengan nikmat dan karunia dari Allah.Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman .Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Para syuhada itu hidup di sisi Allah,  mereka  dihadapkan  kepada  surga  sehingga mereka  pun  merasakan kesenangan dan kebahagiaan”

Sumber :

165. 163 Tuhfatul Ahwazi, 5/134 164 QS. Ali Imran: 169 - 171 165 Dinukil dari Ma’alim At Tanzil, halaman 168 162. 162 HR. At Tirmidzi no. 1071, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam as Silsilah al Ahadits ash Shahihah no. 1391 73 161 HR. Abu Daud no.4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud.

BENTUK-BENTUK ADZAB KUBUR

Telah  dijelaskan  juga  bahwa  orang-orang  kuffar,  orang-orang  munafik dan sebagian kaum Mukminin akan mendapatkan adzab di alam kubur karena kekufuran atau maksiat yang mereka lakukan. Perkara adzab di alam kubur juga  termasuk  perkara  gaib  yang  seseorang  tidak  boleh  berbicara  kecuali berlandaskan pada dalil Al Qur'an dan As Sunnah yang shahih. Berikut ini  beberapa  bentuk  adzab  kubur  yang  disebutkan  dalam  Al Qur'an dan hadits-hadits yang shahih:

1.  Dibukakan   pintu   neraka   ketika   di   alam   kubur,   sehingga   bisa merasakan panas dan gejolaknya api neraka

2.  Disempitkan kuburnya

3.  Tersiksa dengan kabar buruk yang disampaikan Malaikat kepadanya .

4.Ditemani oleh amal buruknya yang berupa sosok yang menyeramkan, berpakaian lusuh dan berbau busuk Empat hal tersebut berdasarkan hadits dari Al Barra' bin'Azib radhiallahu'anhu  yang  panjang.

Bahwa  Nabi Shallallahu'alaihi  Wasallam bersabda: “Ruh hamba yang kafir ketika berpisah dari dunia (meninggal) dan  menghadapi akhirat, akan turun kepadanya malaikat langit yang wajahnya garang. Malaikat tersebut membawa kafan yang berwarna hitam. Kemudian malaikat tersebut duduk di sisinya dan mereka memenuhi pandangan si    hamba. Lantas malaikat maut duduk di sisi kepalanya sambil membentak "Wahai ruh yang busuk, keluarlah menuju murka Allah dan kemarahan-   Nya!”. Nabi melanjutkan: lalu jasadnya tercabik-cabik (ketika proses ruh dikeluarkan), dan malaikat tersebut mencabut ruhnya seperti garpu tanah banyak yang mencabik-cabik kain wol basah. Ketika sang malaikat  mencabut ruh, ia tidak melepaskan sedikit pun ruh tersebut dari tangannya  walau sekejap mata pun, hingga ia selesai mencabutnya. Lalu ruhnya dimasukkan ke dalam kain hitam kelam tersebut dan pergi dengan bau busuk yang paling menyengat di muka bumi “Malaikat tersebut pun membawa naik ruh itu ke langit. Dan tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat lain kecuali mereka bertanya-tanya:  "Siapa ruh yang busuk ini?”. Para malaikat yang membawanya menjawab:  "Ini adalah ruh si Fulan bin Fulan, mereka sebut dengan nama terbaik yang  digunakan oleh orang-orang untuk menyebutnya ketika di dunia. Begitulah terus hingga mereka sampai ke penghujung langit dunia dan mereka   meminta untuk dibukakan. Namun tidak dibukakan. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam membaca ayat (yang artinya)  "Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu langit, dan tidaklah mereka masuk surga  hingga unta masuk lubang jarum" (QS. Al-A'raf: 40). Lantas Allah 'azza wa  jalla lalu berfirman “Catatlah catatannya dalam sijjin di bumi yang paling rendah!”. Seketika itu ruhnya dilempar sejauh-jauhnya ke bawah. Kemudian  Nabi membaca ayat (yang artinya), "Siapa yang menyekutukan Allah, maka   seolah-olah dia jatuh dari atas langit lantas burung menyambarnya atau sebagaimana diterbangkan angin di tempat jauh (QS. Al Hajj: 31). Hingga ruhnya kembali ke dalam jasadnya “Kedua malaikat lalu mendatanginya dan mendudukkannya. Mereka berdua bertanya: "Siapa Rabb-mu?”. Si mayit menjawab, "Hah.. hah.. saya tidak tahu!”. Kedua malaikat bertanya lagi, "Apa agamamu?”. Si mayit   menjawab, "Hah.. hah.. saya tidak tahu!!”. Kedua malaikat bertanya lagi,    "Bagaimana tentang mengenai laki-laki ini yang diutus untuk kalian?”. Si  mayit menjawab: "Hah.. hah.. saya tidak tahu!”. Lalu terdengar seruan dari langit yang berkata: "Ia telah dusta! Perlihatkan neraka kepadanya!”. Maka  malaikat pun membuka pintu neraka untuknya, dan ia merasakan pun panas  dan gejolaknya api neraka. Kemudian kuburnya pun menghimpitnya hingga remuk tulang-tulangnya. Ia pun didatangi oleh laki-laki yang wajahnya   garang, pakaiannya lusuh, baunya busuk. Lelaki ini berkata: "Rasakanlah semua yang menyusahkanmu ini. Inilah perkara yang telah dijanjikan kepadamu!”. Lalu si mayit bertanya, "Siapa engkau? Wajahmu sangat   menyeramkan dan membawa keburukan”. Sosok laki-laki tadi menjawab: "Aku adalah amalanmu yang buruk!”. Lalu si mayit berkata "Ya Rabb,   jangan tegakkan hari Kiamat! Adanya  adzab  kubur  berupa  api  yang  panas  yang  berasal  dari  neraka juga berdasarkan firman Allah ta'ala:  “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu  dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain  Allah . Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan tentang ayat  ini:  “Fir'aun  mendapatkan  hukuman,  yaitu Allah  tenggelamkan  ia  dan kaumnya di laut. Kemudian  setelah  itu, Allah  masukkan  mereka  ke  dalam neraka.  Sebagaimana  firman  Allah  ...  (beliau  membawakan  ayat  di  atas). Maka, hukuman berupa neraka ini terjadi di alam barzakh”

5. Disiksa dengan palu dari besi yang bisa menghancurkan gunung  Sebagaimana  dalam  riwayat  dari  Jarir  bin  Abdillah radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “... dijadikan baginya sesosok yang buta dan bisu. Di tangannya ia     memegang alat pemukul dari besi yang jika digunakan untuk memukul gunung maka gunung tersebut akan menjadi debu. Maka alat tadi pun    digunakan untuk memukul sang mayit dengan pukulan yang keras, ketika  dipukulkan terdengar suara jeritannya dari timur hingga barat, kecuali oleh  jin dan manusia. Lalu ia pun menjadi debu. Kemudian setelah itu           dikembalikan lagi ruh tersebut seperti bentuknya semula.

6. Dipukul wajah dan punggungnya oleh para Malaikat Sebagaimana dalam firman Allah ta'ala:“Dan andaikan kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (danberkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya  .Ayat ini bicara tentang adzab kubur.   Syaikh   Khalid   Al   Mushlih hafizhahullah menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan, “Allah  'azza wa jalla menyebutkan  keadaan  mereka  yang  mendapatkan  adzab  ketika  dicabut  ruh mereka. Kemudian setelah itu   Allah ta'ala   berfirman   (yang   artinya), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”.

Setelah   itu  Allah menyebutkan  tentang  adzab  yang  membakar,  yaitu  adzab  neraka.  Semoga Allah ta'ala memberikan keselamatan kepada kita dari semua itu”

171. 170 QS. Al Anfal: 50 – 51 171Syarhu Lum'atil I'tiqad, 12/12 

APAKAH NIKMAT DAN AZAB KUBUR DIRASAKAN OLEH JASAD ATAU RUH?

Para  ulama  berselisih  pendapat mengenai apakah nikmat dan adzab kubur dirasakan manusia oleh ruhnya atau jasadnya,  ataukah  keduanya sekaligus?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan:“Adzab dan nikmat kubur bisa terjadi pada ruh dan badan sekaligus. Ini   adalah kesepakatan ulama Ahlussunnah wal Jama'ah. Terkadang ruh diberi   nikmat dan diadzab dalam keadaan terpisah dari badan. Namun terkadang   dalam keadaan tersambung dengan badannya, sehingga nikmat dan adzab dirasakan keduanya. Dalam keadaan ini ruh dan badan merasakan yang sama seperti dirasakan ruh ketika bersendirian dari badan. Lalu apakah mungkin adzab dan nikmat kubur terjadi pada badan saja tanpa dirasakan ruh? Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur dari para ulama   hadits dan sunnah. Dan ada juga pendapat-pendapat yang syadz (nyeleneh)  yang tidak dikatakan oleh para ulama Ahlussunnah dan ulama hadits.Pendapat yang mengatakan bahwa hanya ruh saja yang merasakan nikmat   dan adzab sedangkan badan tidak akan merasakannya, ini adalah perkataan orang-orang falasifah (ahli filsafat) yang mereka mengingkari adanya  ma'adul abdan (dipulihkannya kondisi jasad manusia setelah mati). Mereka  adalah orang-orang yang kufur berdasarkan kesepakatan ulama kaum  Muslimin”172.  Syaikh  Muhammad  bin  Shalih Al  Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Asalnya  yang  merasakan  adalah  ruh.  Karena  hukum-hukum  yang  terjadi setelah kematian itu untuk ruh. Sedangkan jasad ketika itu sudah mati. Maka kita ketahui jasad mayat tidak memerlukan life support setelah ia meninggal, ia  tidak  perlu  makan  dan  tidak  perlu  minum.  Bahkan  jasad  tersebut  akan dimakan belatung. Sehingga asalnya yang merasakan ini adalah ruh. Namun Syaikhul   Islam   Ibnu   Taimiyah   mengatakan   bahwa  terkadang ruh itu tersambungkan   dengan   badannya.   Sehingga   adzab   dan   nikmat   kubur dirasakan oleh keduanya ... Dengan demikian para ulama mengatakan bahwa terkadang   ruh   tersambungkan   dengan   jasadnya.   Sehingga   adzab   kubur dirasakan  oleh  ruh  dan  badannya  juga.  Dan  nampaknya  ini  juga  dikuatkan oleh hadits yang Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda di dalamnya: “Sesungguhnya kuburan bagi orang kafir akan disempitkan sehingga  meremukkan tulang-tulangnya . Ini  menunjukkan  bahwa  terkadang  adzab  itu  terjadi  pada  jasad  karena tulang-tulang itu ada pada jasad”

Sumber :

174. 172Majmu' Al Fatawa, 4/282 173 HR. Abu Daud no.4753, An Nasa'i no.2001, Ibnu Majah no.1549. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud . 174Majmu' Al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 1/25  168. 166 HR. Abu Daud no. 4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud. 167 QS. Nuh: 25 168Syarhu Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51 

APAKAH MAYIT BISA MERASAKAN ORANG  YANG BERZIARAH?

Pertanyaan: Apakah  mayit  bisa  merasakan  orang  yang  berziarah  ke  kuburannya? Lalu  apakah  wajib  berdiri  di  depan  kuburan  orang  tersebut  jika  berziarah ataukah  cukup  dengan  masuk  ke  areal  pemakaman?  Mohon  beri  kami penjelasan, semoga Allah menambah ilmu anda.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab: Mengenai  apakah  mayit  bisa  merasakan  orang  yang  berziarah,  Allah yang  lebih  mengetahui.  Memang  sebagian  ulama  salaf  memiliki  pendapat demikian,  namun  menurut  pengamatan  saya  tidak  ada  dalil  yang  tegas menunjukkan hal tersebut. Namun kita ketahui bersama bahwa ketika ziarah kubur kita dianjurkan mengucapkan salam: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, (wahai penghuni) tanah kaum muslimin.Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi diri kami dan juga kalian. Semoga Allah   merahmati orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yangkelak akan mati”.Amalan  ini  semua  disyari’atkan.  Adapun  mengenai  apakah  si  mayit merasakan atau tidak itu membutuhkan dalil yang tegas, Wallahu’alam.

Namun,  baik  si  mayit  merasakan  atau  tidak,  itu  tidak  merugikan  kita. Yang  dituntut  dari  kita  adalah  menjalankan  sunnah.  Dianjurkan  bagi  kita untuk berziarah kubur, mendoakan orang yang telah mati, walaupun mereka tidak merasakannya. Karena yang kita lakukan itu membuahkan pahala bagi kita dan bermanfaat bagi si mayit. Doa kita untuk mereka akan bermanfaat bagi mereka, sedangkan ziarah kubur yang kita lakukan akan bermanfaat bagi kita sendiri. Karena dalam ziarah kubur ada pahala, dapat mengingatkan kita terhadap kematian, mengingatkan kita terhadap akhirat, sehingga bermanfaat bagi kita. Si mayit pun mendapat manfaat dari hal itu, yaitu dengan doa kita, dengan permohonan ampunan baginya, sehingga ia pun mendapat manfaat. Adapun soal berdiri di depan kuburan, ini perkaranya luas. Boleh berdiri di  depan  kuburan,  atau  berdiri  di  tepi  areal  pemakaman  lalu  mengucapkan salam,   itu   pun   cukup.  Atau   jika   ia   berada   di   satu   bagian   dari   areal pemakaman, lalu mengucapkan: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, wahai penghuni tanah kubur  dari kalangan kaum muslimin dan mukminin.

Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi diri kami dan   juga kalian. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului  kami dan orang-orang yang kelak akan mati” Ini cukup. Jika ia mendatangi kuburan ayahnya atau kuburan saudaranya, maka  ini  lebih  utama  dan  lebih  sempurna.  Jadi  ia  mendatangi  kuburan ayahnya,  saudaranya  atau  kerabatnya  lalu  mengatakan  “Assalamu’alaikum wahai fulan, semoga Allah merahmati dan melimpahkan berkah kepadamu, semoga   Allah   mengampuni   dosamu   dan   merahmatimu   serta   melipat- gandakan pahala kebaikanmu“, atau semacam itu, maka ini lebih utama dan lebih sempurna

Sumber :

176. 176 Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4821175 HR. Muslim no.249, 974, 975                

 

 

 

 

MENJELANG KEMATIAN   

  Ahlussunnah  meyakini  adanya al  busyra  (kabar  gembira)  bagi  orang- orang  beriman  ketika  nyawa  mereka  dicabut.  Al  busyra  atau  al  bisyarah adalah kabar gembira yang disampaikan Malaikat kepada ruh orang beriman ketika ia dicabut nyawanya. Allah ta’ala berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”  kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun   kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah  merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam  kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu  inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Al  busyra juga  disampaikan  kepada  orangkafir.  Namun  berupa  kabar tentang hukuman Allah yang akan dia dapatkan. Sebagaimana dalam hadits dari  Ummul  Mu’minin,  Aisyah radhiallahu’anha,   Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:   “Barangsiapa yang senang berjumpa dengan Allah, Allah pun senang   berjumpa dengannya. Barangsiapa yang tidak suka bertemu dengan Allah,   maka Allah pun tidak suka bertemu dengannya”. Aisyah bertanya: “wahai  Rasulullah, tentang orang yang tidak suka bertemu dengan Allah artinya dia   tidak suka kematian? bukankah semua kita tidak suka kematian?”.  Rasulullah menjawab: “Yang aku maksud adalah keadaan seseorang ketika  ia sakaratul maut. Karena ketika itu, seorang Mukmin diberi kabar gembira   tentang rahmat Allah dan ampunan Allah untuknya, sehingga ia pasti suka   untuk segera bertemu Allah, dan Allah pun ingin bertemu dengannya. Dan   seorang kafir diberi kabar tentang azab Allah, sehingga ia pasti tidak suka untuk segera bertemu Allah, dan Allah pun tidak suka bertemu  dengannya .Al Barbahari rahimahullah mengatakan:  “Ketahuilah bahwa bisyarah (kabar gembira) ketika orang meninggal itu ada   tiga:

[1] Akan dikatakan kepadanya: bergembiralah dengan ridha Allah dan surga-Nya, wahai kekasih Allah

[2] Akan dikatakan kepadanya: Bergembiralah dengan surga Allah kelak, setelah keburukanmu dibalas,wahai hamba Allah

[3] Akan dikatakan kepadanya: Bergembiralah terhadap  hukuman Allah dan neraka-Nya, wahai musuh Allah!”. Ini adalah perkataanIbnu Abbas”.

Ada  khilaf  ulama,tentang  kapanpenyampaian al  busyra oleh Malaikat menjadi 3 pendapat:? Itu terjadi ketika sakaratul maut? Itu terjadi di alam kubur? Itu terjadi ketika hari kebangkitan dari kubur Namun yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,  al busyra terjadi  ketika  sakaratul  maut  sebagai  zahir  hadits Aisyah. Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Para ulama mengatakan, turunnya Malaikat ini (untuk memberikan al busyra) terjadi ketika sakaratul maut”. Sungguh beruntung orang-orang beriman, ketika sakaratul maut ia sudah mendapat  kabar  dari  Malaikat,  bahwa  kelak  ia  akan  masuk ke  surga Allah ta’ala.Semoga kita termasuk golongan mereka yang mendapat kabar gembira. Amiin ya mujiibas saa’iliin.

179Syarhus Sunnah, matan ke 59 180Majmu’ Al Fatawa, 4/268 QS. Fushilat: 30-32 178 HR. An Nasa’i no. 1837, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i. Ashl hadits ini terdapat dalam Shahihain.

DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI  KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT    

Terdapat  sebuah  hadits  yang  menyebutkan  bahwa  arwah  orang  yang meninggalkan akan mengunjungi rumahnya dan keluarganya di setiap malam Jum'at.Hadits tersebut dikeluarkan oleh Abul Husain Ali bin Ahmad Al Hakkari dalam kitab Hadiyyatul Ahya ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim (6) dengan sanad dan matan sebagai berikut,  Abu Abdirrahman Muhammad bin Al Husain bin Musa As Sulami secara   kitabah, ia berkata, Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi    menuturkan kepadaku, dari Ali bin Musa Al Bashri, dari Ibnu Juraij, dari           Musa bin Wirdan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,  “Kirimlah hadiah untuk orang-orang  yang meninggal di antara kalian.” Para sahabat bertanya, “Apa yang kami   kirimkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sedekah dan  doa.

”Kemudian  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,  “Sesungguhnya arwah-arwah kaum mukminin itu datang setiap hari Jum’at    ke langit dunia, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka atau di rumah mereka. Lalu setiap mereka memanggil-manggil dengan suara    yang sedih, “wahai keluargaku, wahai anakku, wahai ahli baitku, wahai     kerabatku, kasihilah dengan sesuatu, semoga Allah merahmati kalian. Ingatlah kami dan janganlah kalian lupa kepada kami. Kasihilah kesendirian  kami dan ketidak-mampuan kami untuk melakukan apa-apa, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Karena sekarang kami tinggal di alam yang jauh dan  mengikat, yang suram dan lama, dan dalam kelemahan yang sangat lemah,  maka kasihilah kami semoga Allah merahmati kalian. Dan janganlah kalian    pelit dalam memberikan doa, sedekah atau tasbih kepada kami. Semoga  Allah mengasihi kami sebelum kalian menjadi semisal kami. Jangan sampai   menyesal wahai hamba Allah. Dengarlah perkataan kami, jangan lupakan   kami. Kalian tahu benar bahwa karunia yang kalian miliki sekarang dulu   ada di tangan kami. Kami dahulu tidak menginfakkannya dalam ketaatan   kepada Allah, kami tidak membelanjakannya dalam kebenaran. Sehingga semua itu menjadi bencana bagi kami sekarang dan manfaat harta-harta itu     malah didapatkan oleh orang lain. Sedangkan adzab dan hukumannya  ditimpakan atas kami”. Riwayat ini disebutkan juga dalam I’anatut   Thalibin181   karya  Ad- Dimyathi tanpa sanad dengan lafadz sebagai berikut, “Sesungguhnya arwah-arwah kaum mu’minin itu datang ke langit dunia setiap malam, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka. Lalu   mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih sebanyak 1000 kali:‘wahai keluargaku…’, ‘wahai kerabatku…’, ”wahai anakku…’. ‘Wahai    orang-orang yang tinggal di rumah-rumah kami…’, ‘wahai orang-orang yang memakai baju-baju kami…’, ‘wahai orang-orang yang membagi harta- harta kami…’”.Disebutkan juga dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib atau dikenal dengan  Hasyiyah  Al  Bujairimi  ‘ala  Khathib182  karya  Al  Bujairimi  tanpa sanad.  Al  Bujairimi  menyandarkan  riwayat  ini  kepada  Al  Jami’  Al  Kabir namun –wallahu a’lam– tidak kami temukan riwayat tersebut dalam Al Jami’ Al Kabir karya As Suyuthi. Walhasil, tidak ada sanad lain selain sanad di atas yang  kami  temukan. 

Dan  dari  sini  juga  kita  ketahui  bahwa  hadits  ini  tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. Jika kita teliti sanad di atas, sangat bermasalah: 181 I'anatut Thalibin, 2/161 182Hasyiyah Al Bujairimi ‘ala Khathib, 2/301                               

Masalah 1: Ibnu Juraij (Abdul Malik bin Abdil Aziz Al Qurasyi) tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan. Ibnu Adi mengatakan:  “Jika Ibnu Juraij meriwayatkan dari Musa, maka haditsnya ini terkadang merupakan tadlis Ibnu Juraij”183.      Al Albani ketika menjelaskan maudhu’-nya hadits: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan sakit, ia mati syahid Beliau mengatakan:“Al Hasan bin Ziyad Al Lu’lui menyelisihi riwayat ini, ia berkata: Ibnu Juraij menuturkan kepada kami, dari Musa bin Wirdan dan seterusnya. Al Hasan menggugurkan Ibrahim bin Muhammad (antara Ibnu Juraij dan Musa bin Wirdan) dalam sanad ini”184.  Maka jelas bahwa Ibnu Juraij tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan, sehingga ada inqitha‘ dalam riwayat ini.  

Masalah 2: Ali bin Musa Al Bashri dan Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi,  keduanya majhul  haal.  Tidak  ditemukan  adanyajarh  atau ta’dil tentang mereka.Juga tidak diketahui bahwa Ali bin Musa Al Bashri adalah di antara yang meriwayatkan       hadits    dari  Ibnu    Juraij.   Pula, tidak diketahui bahwa Muhammad  bin  Al  Husain  bin  Musa  Al  Sulmi  meriwayatkan  dari  Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi.

Masalah 3: Muhammad  bin Al  Husain  bin  Musa Al  Sulmi,  seorang  syaikh  sufi,  ia perawi yang lemah. Adz Dzahabi berkata, “Beliau seorang Syaikh sufi. Ulama tarikh, biografi dan tafsir di kalangan    sufi. Para ulama hadits mengkritisi riwayatnya, dan ia tidak bisa dijadikan                sandaran”.  Hadits  ini  juga  sebagaimana  sudah  dijelaskan,  tidak  terdapat  dalam kitab-kitab  hadits   yang mu’tamad  (yang  menjadi  pegangan)  dan  dikenal. Seperti kitab-kitab shahih, kitab-kitab sunan, kitab-kitab musnad, kitab-kitab jami’ ,   dan   lainnya.   Dan   ini   merupakan   indikator   kelemahan   bahkan kepalsuan  hadits. Syaikhul     Islam   Ibnu   Taimiyah      ketika   menjelaskan kelemahan hadits seputar ziarah kubur Nabi beliau berkata,  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik kitab     Shahih, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti   Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang menjadi  pegangan, seperti Musnad Ahmad atau semacamnya, tidak juga kitab    Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya. adits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam  berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya disebut lafadz ziarah kubur Nabi”. Dengan  demikian,  kesimpulannya  hadits  ini  adalah  hadits  yang dhaif jiddan  (sangat  lemah).  Dan  tidak  boleh  meyakini  suatu  hal  yang  terkait dengan perkara gaib semisal dengan apa yang ada dalam riwayat ini kecuali dengan dalil yang shahih. Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber :

186Majmu’ Al Fatawa, 216/27   83Al Ilal Al Waridah fil Ahadits An Nabawiyyah, 8/318 184Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah, 10/191   

 

APAKAH RUH DI DALAM KUBUR BISA SALING  MENGUNJUNGI?

Para  ulama  berbeda  pendapat  apakah  ruh  orang-orang  Mukmin  dapat saling   mengunjungi satu sama lain   di   alam   kubur?   Sebagian   ulama mengatakan bahwa ruh orang Mukmin bisa mengunjungi ruh orang Mukmin yang lain. Di antara yang berpendapat demikian adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah. Mereka berdalil dengan   hadits   dari  Abu   Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketika seorang Mukmin mendekati ajalnya, para malaikat rahmat datang   menemuinya dengan membawa kain sutra berwarna putih. Mereka berkata:    “Keluarlah engkau sebagai ruh yang diridhai dan menuju kepada rahmat Allah, dengan bau yang harum dan tidak dimurkai oleh Allah!”. Lalu ruh    orang tersebut pun keluar dengan bau misik yang paling harum. Sampai-sampai para malaikat berebut satu sama lain untuk mendapatkannya.     Kemudian mereka membawanya sampai ke pintu langit. Lalu penduduk langit pun berkata: “Betapa harumnya ruh yang kalian bahwa ini dari bumi!”.  Lalu para malaikat pun mendatangi ruh-ruh kaum mukminin yang lain. Ruh-ruh kaum Mukminin bergembira dengan kedatangan ruh tersebut, dengan kegembiraan yang melebihi kegembiraan ketika bertemu orang yang lama tidak bertemu”  “Lalu mereka bertanya kepada ruh yang baru datang: “Apa yang telah  dilakukan oleh si Fulan? Apa yang telah dilakukan si Fulan?”. Sebagian ruh      tersebut berkata: “Biarkanlah ia, karena ia baru terlepas dari kelelahan    dunia”. Maka ruh yang baru datang tadi berkata: “Tidakkah si Fulan yang      (kalian tanyakan) sudah bertemu dengan kalian?”. Sebagian yang lain    menjawab: “Berarti ia telah dibawa ke tempat kembalinya yaitu neraka  Hawiyah”. Adapun seorang kafir jika telah mendekati ajalnya, para malaikat  adzab datang membawa kain kafan yang kasar. Malaikat berkata: “Keluarlah  engkau dengan kemurkaan Allah dan dalam keadaan dimurkai Allah, menuju  kepada siksa Allah 'azza wa jalla. Lalu ia keluar dalam keadaan bau bangkai yang paling busuk.

Kemudian mereka membawanya hingga pintu bumi. Lalu    para penduduk langit berkata: “Betapa busuknya bau ruh ini!”. Lalu para malaikat membawanya menemui ruh orang-orang kafir lainnya”. Hadits ini menunjukkan adanya  pertemuan antara    ruh-ruh  kaum Mukminin satu dengan lainnya. Bahkan mereka berbincang-bincang tentang keadaan orang-orang yang masih hidup.                   

radhiallahu'anhu yang lain.  Dari  Abu  Hassan Al A'raj rahimahullah, ia berkata: “Aku berkata kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu: dua anakku baru meninggal. Dapatkah anda sampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam yang dapat menghibur hati kami ketika kehilangan keluarga kami? Abu Hurairah menjawab: Baiklah, beliau      Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:  “Anak-anak kecil kaum  Mukminin yang wafat mereka akan menjadi anak-anak kecil di surga.

Salah seorang dari mereka akan bertemu dengan ayahnya atau dengan keduaorang tuanya, kemudian ia memegang baju atau tangan orang tuanya  sebagaimana aku (Rasulullah) memegang pinggiran bajumu ini (wahai Abu  Hurairah). Tidak akan terlepas hingga Allah memasukkannya beserta orang  tuanya ke dalam surga.Hadits ini menunjukkan bahwa ruh anak-anak kecil dari kaum Mukminin akan bertemu dengan ruh orang tuanya sebelum mereka masuk ke surga.  Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyah rahimahullah  mengatakan:  “Mengenai pertanyaan “apakah ruh seorang Mukmin akan bertemu dengan ruh-ruh dari kelurganya dan kerabatnya?”. Jawabannya, dalam hadits dari Abu Ayyub Al Anshari dan selainnya dari para salaf, juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu  Hatim  dalam Ash  Shahih,  dari  Nabi Shallallahu'alaihi  Wasallam beliau bersabda:

  “Seorang mayit ketika ruhnya dibawa ke atas, ia akan bertemu dengan ruh-ruh yang lain. Ruh-ruh tersebut pun bertanya tentang keadaan orang-orang yang masih hidup. Sebagian ruh tadi berkata: “biarkan dia istirahat terlebih  dahulu!”. Yang lain lalu bertanya lagi: “apa yang dilakukan si Fulan”. Ruh  yang baru datang menjawab: “Oh, si Fulan mengamalkan amalan shalih”.  Yang lain lalu bertanya lagi: “apa yang dilakukan si Fulan”. Ruh yang baru  datang menjawab: “Bukankah si Fulan telah datang kepada kalian?”. Para   ruh menjawab: “Tidak pernah”. Yang lain lagi berkata: “Berarti ia telah   dibawa ke neraka Hawiyah.Demikian juga, Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menjelaskan hal yang  senada. 

Beliau  mengatakan:  “Arwah  itu  ada  dua  macam:  pertama, arwah yang diadzab, kedua, arwah yang mendapatkan nikmat. Adapun arwah yang  diadzab  maka  adzab  yang  mereka  dapatkan  membuat  mereka  tidak mungkin untuk saling mengunjungi dan saling bertemu. Adapun arwah yang mendapatkan  nikmat,  mereka  dibebaskan  dan  tidak  dikekang  sama  sekali. Sehingga mereka saling dapat bertemu dan berkunjung satu sama lain. Dan mereka saling bertukar cerita tentang apa yang mereka dapati di dunia dan tentang keadaan orang-orang di dunia. Sehingga  setiap  ruh  ketika  itu  akan  bersama  dengan  para rafiq-nya (temannya)  yang  dahulu  mereka  mengamalkan  amalan  yang  sama. Adapun ruh Nabi kita Shallallahu'alaihi Wasallam ada di ar-Rafiqul A'la. Allah ta'ala berfirman:  “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu  akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan  orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. 

Kebersamaan orang-orang serupa amalannya ini terjadi di dunia, di alam barzakh dan di akhirat. Seseorang akan bersama yang ia cintai di tiga alam ini. ... dan Allah ta'ala juga berfirman: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,      dan masuklah ke dalam surga-Ku.Maksudnya,  masuklah  ke  dalam  golonganmereka  (orang-orang  yang diridhai) dan jadilah bersama mereka. Dan ini dikatakan kepada ruh ketika ia mati.  Dan  Allah Subhanahu  wa  Ta'ala telah  mengabarkan  tentang  keadaan para syuhada,“Mereka hidup di sisi Rabb mereka, dan mereka diberi rezeki (olehAllah). Allah ta'ala juga berfirman tentang mereka:      

“Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan   bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum    menyusul mereka. Allah ta'ala juga berfirman tentang mereka: “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah.    

Ayat-ayat ini adalah dalil bahwa mereka saling bertemu satu sama lain, dari tiga sisi pandang: Pertama, mereka berada di sisi Rabb mereka, dalam keadaan diberi rezeki. Jika  mereka  dalam  keadaan  demikian  dan  hidup,  artinya  mereka  saling bertemu satu sama lain.

Kedua: mereka bergembira dengan saudara-saudara mereka yang menyusul mereka dan bertemu dengan mereka. Ketiga: lafadz “yastabsyirun ” secara bahasa Arab memberikan makna bahwa mereka  saling  memberi  kabar  gembira  satu  sama  lain.  Maknanya  sama dengan fi'il “yatabasyarun

Sumber

”195. 193 QS. Ali Imran: 170 194 QS. Ali Imran: 171 195Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, halaman 17 - 18 Para ulama juga berdalil  dengan  hadits  dari Abu  Hurairah 187 HR. An Nasa'i no.1832, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa'i. 188 HR. Muslim no.2635 189Majmu Al Fatawa,190 QS. An Nisa: 69 191 QS. Al Fajr: 27 - 30 192 QS. Ali Imran: 16924/368 

                              

ARWAH GENTAYANGAN      

Orang yang sudah wafat, mereka berada di alam kubur dalam keadaan mendapatkan nikmat ataumendapatkan adzab. Mereka tidak   bisa memberikan  manfaat  atau  bahaya  terhadap  orang  yang  masih  hidup. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikanorang-orang yang mati mendengar. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:   “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur  dapat mendengar. Bahkan  orang-orang  kafir  merasakan  penyesalan  dan  berharap  bisa kembali hidup di dunia. Allah ta'ala berfirman:   "Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata),  “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah   kami ke dunia.

Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin".  Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang sudah mati maka ia tidak dapat  hidup  kembali  di  alam  dunia.  Tidak  dapat  lagi  beramal,  baik  amal kebaikan  maupun  amal  keburukan. Dari  Abu  Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa NabiShallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Ketika seorang insan mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat,dan anak shalih yang mendoakannya" . Dan  alam  kubur  adalah  awal  perjalanan  akhirat.

 Sehingga  orang  yang sudah mati, ia sudah ada di alam akhirat, tidak lagi hidup di alamdunia. Dari Utsman  bin  Affan radhiallahu’anhu, bahwa  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat.Maka dalam akidah Islam, tidak ada yang namanya arwah gentayangan, arwah penasaran, mayat hidup, zombi atau semisalnya yang tercakup dalam keyakinan bahwa orang yang sudah mati bisa hidup kembali di alam dunia.Ruh  orang  yang  sudah  mati,  mereka  di  alam  barzakh  dalam  keadaan menikmati        nikmat kubur  atau diadzab  di dalam kubur, tidak ada kemungkinan  ketiga.

Ibnu  Qayyim Al  Jauziyah rahimahullah  menjelaskan: “Arwah  itu  ada  dua  macam:

pertama,  arwah  yang  diadzab, 

kedua,  arwah yang mendapatkan nikmat”.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Di antara  akidah  Ahlussunnah  wal  Jamah'ah  adalah  mengimani  adanya  adzab kubur  dan  nikmat  kubur.  Keadaan  mayit  di  alam  kubur,  bisa  jadi  ia  diberi nikmat, atau diberi adzab.

Ahlussunnah wal Jama'ah mengimani hal ini. Dan Nabi  Shallallahu'alaihi Wasallam  telah  mengabarkan  bahwa  alam  kubur  itu bisa  jadi  akan  menjadi  taman  surga,  atau  bisa  jadi  akan  menjadi  halaman neraka. Wajib bagi seorang Mukmin untuk mengimani hal ini”.Dan  telah  kita  sampaikan  kelemahan  hadits  yang  menyatakan  bahwa arwah orang yang meninggal dapat mengunjungi rumahnya dan keluarganya. Hadits tersebut tidak bisa menjadi hujjah. Selain itu, keyakinan adanya arwah gentayangan atau arwah penasaran, ini bertentangan dengan akal sehat. Andaikan ruh orang yang sudah mati bisa bergentayangan  dan  bisa  penasaran,  kemudian  bisa  bebas  berjalan  kesana- kemari, membantu keluarganya, atau mengganggu orang-orang yang hidup, dan semisalnya, tentu tidak ada orang yang takut mati. Karena setelah mati pun masih bisa beramal, baik amalan shalih maupun amalan buruk. Bahkan semua  orang  mungkin  ini  mati  saja  karena  digambarkan  kehidupan  setelah mati itu begitu santainya, bisa bergentayangan dan jalan-jalan kesana-kemari.

Maka kemana perginya akal sehat?! Adapun  penampakan-penampakan  yang  dilihat  oleh  sebagian  orang, yang  disangka sebagai arwah gentayangan,mereka adalah setan dari kalangan jin.Sebagian jin   terkadang   menampakkan   diri   dalam   bentuk manusia203  yang  sudah  meninggal  sehingga  disangka  sebagai  arwah  yang hidup kembali. Tujuan akhirnya agar manusia terjerumus ke dalam berbagai bentuk kebid'ahan dan kesyirikan. Allahul musta'an .

Dalam hadits riwayat Al Bukhari (2311), disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiallahu'anhu bertemu dengan jin yang menampakkan dirinya sebagai seorang remaja yang ingin mencuri harta zakat. 

 Sumber :

201 Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, halaman 17. 202 Majmu' al Fatawa wal Maqalat Syaikh Ibnu Baz, 28/66 203 196 QS. An Naml: 80 197 QS. Fathir: 198 QS. As-Sajdah: 12 199 HR. Muslim no.1631 200 HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat     Rabbaniyyah, 4/192

 

BUAH MENGIMANI ADANYA ALAM KUBUR      

Mempelajari  apa-apa  yang  terjadi  di  alam  kubur  banyak memberikan faedah. Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu  akan  berusaha  sebisa  mungkin  selama  ia  masih  hidup  agar  menjadi orang   yang   layak   mendapatkan   nikmat   kubur   kelak.   Seseorang   yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan berusaha sebisa mungkin agar ia terhindar darinya kelak.     

 Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menyebutkan tiga  manfaat  yang  didapatkan  dari  mengimani  adanya  alam  akhirat  yang termasuk di dalamnya juga mengimani alam kubur:

Pertama: memotivasi seseorang untuk melakukan ketaatan dan bersemangat dalam melakukannya, karena berharap akan mendapatkan akibat yang baik di alam akhirat (dan juga di alam kubur).

Kedua: membuat takut untuk   melakukan   maksiat  atau ridha terhadap maksiat, karena khawatir akan mendapatkan hukuman di alam akhirat (dan juga di alam kubur).

Ketiga: menjadi hiburan bagi hati seorang Mukmin ketika ada perkara dunia yang terluput darinya, karena ia lebih mengharapkan ganjaran dan pahala di akhirat. Mempelajari dan mengimani adanya adzab serta nikmat kubur juga akan membuat   kita   senantiasa ingat  akan kematian. Dari Abu  Hurairah radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:  "Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu maut"

Sumber :

205. 204 Majmu' al-Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, 5/131 205 HR. At Tirmidzi no. 2307, An Nasa'i no. 1823, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 3333  

 

WASIAT NABI TENTANG ALAM KUBUR

kami  mengajak  diri  kami  dan  pembaca  sekalian untuk melaksanakan wasiat Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam:“Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!  Hendaknya  kita  banyak-banyak  berdoa  meminta  perlindungan  kepada Allah dari adzab kubur agar Allah ta'ala   memasukkan   kita   ke   dalam golongan  orang-orang  yang  diberi  nikmat  di  alam  kubur. 

Semoga  Allah ta'ala memberikan kita taufik dan hidayah untuk istiqamah di atas jalan-Nya, sehingga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan qauluts tsabit di alam kubur. Demikian  sedikit  yang  bisa  kami  paparkan  mengenai  alam  kubur  dan hal-hal yang terkait dengannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi pemberat timbangan amalan kebaikan di yaumul mizan kelak. 

Sumber

206 HR. Muslim no. 2867, dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu'anhu  

 

Read More