Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 05 Mei 2026

Al-Qur’an risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW dapat pula memberikan syafaat

 Al-Qur’an, risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW dapat pula memberikan syafaat pada hari kiamat karena beberapa keistimewaannya.

          Sebagai umat nabi Muhammad SAW, wajib baginya untuk mencintai dan memuliakan junjungannya Rasulullah Muhammad SAW, mengimani dan berusaha “mencintai” apa yang dibawa Nabi Muhammad SAW (risalah) dan mengikuti Rasulullah SAW dalam semua ucapan dan tindakannya agar kelak di hari akhir nabi Muhammad SAW bersedia mengakui kita sebagai umatnya.

Al-Qur’an risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW dapat pula memberikan syafaat

AL-QUR’AN SEBAGAI KITAB ALLAH YANG TERAKHIR

          Qur’an berarti bacaan berasal dari kata qa-ra-a yang memiliki arti membaca. Al-Qur’an memiliki beberapa nama-nama lain, diantaranya Al-Kitab, Al-Furqan, Az-Zikru, Al-Mau’izhah, Al-Huda dan As-Syifa’.

Keutuhan dan Keaslian Al-Qur’an

          Keutuhan dan keaslian Al-Qur’an terjadi karena adanya jaminan langsung dari Allah SWT dan adanya usaha-usaha yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW oleh para sahabat yang yang dilanjutkan oleh oleh generasi-generasi berikutnya.

          Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Akulah yang menurunkan Az-Zikra (Al-Qur’an) dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr 15: 9). Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

          Rasulullah SAW adalah seorang yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) sehingga beliau berusaha menghafal ayat-ayat Al-Qur’an hingga menguasainya dengan sempurna. Selain itu, nabi Muhammad SAW juga memerintahkan kepada beberapa sahabat untuk menghafal setelah beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan memerintahkan kepada beberapa sahabat tertentu untuk menuliskannya di sarana-sarana yang memungkinkan pada waktu itu. Berpedoman pada hafalan dan tulisan sahabat, pada masa Abu Bakar As-Shiddiq Al-Qur’an dikumpulkan ke dalam satu mushaf oleh Zaid bin Tsabit. Pada masa Utsman bin Affan, pembukuan Al-Qur’an disempurnakan dengan menyusun surat demi surat sesuai dengan ketentuan Rasulullah SAW sehingga dikenal sebuah sistem penulisan bernama Ar-Rasmu Al-Usmani. Pada masa berikutnya, ulama terus berusaha meneyempurnakan penulisan dan pemeliharaan Al-Qur’an ditandai dengan lahirnya beberapa ilmu pengetahuan yaitu ilmu Tajwid (kaidah-kaidah membaca), Nahwu Sharaf (tata bahasa),  ilmu Khath (penulisan), Ulumul Qur’an dan ilmu Tafsir (metodologi pemahaman) untuk mendukung pemeliharaan keutuhan dan keaslian Al-Qur’an.

Read More

Perenungan Nabi Muhammad Saw di gua hira(Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad Saw)

 Perenungan Nabi Muhammad Saw di gua hira(Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad Saw)

Setelah menikah, Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk merenung dan menyendiri serta beribadah. Kemudian kehidupan yang   dijalaninya   justru   meningkatkan   kemuliaannya,   sehingga   keutamaannya tersebar di sana sini. Beliau tidak pernah terlibat dalam pergelutan yang keras untuk   memperebutkan   materi-materi   dunia.   Beliau   selalu   menggunakan   akal sehatnya   daripada   terlibat   dalam   kesesatan   mereka   dan   kegelapan   berhala yang     menyelimuti     banyak     orang   pada    saat   itu. 

Perenungan Nabi Muhammad Saw di gua hira(Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad Saw)


Kemudian      usianya    kini mendekati empat puluh tahun. Setelah     merasakan     kesunyian     di  tengah-tengah      masyarakat,     beliau   lebih memilih   untuk   menjauh   dari   mereka.   Beliau   mencari-cari   hakikat,   sehingga Allah   SWT   membimbingnya   untuk   menyendiri   di   gua   Hira.   Akhirnya,   beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau berjalan beberapa mil. Kemudian beliau mulai mendaki      dan   mendaki.    Setiap   kali  ia  mendaki     gunung,    maka    tempat    itu semakin   luas.   Udara   tampak   lembut   dan   tersingkaplah hijab,   dan   pandangansemakin terbentang. Kemudian beliau memasuki gua. Keheningan menyelimuti segala   sesuatu,   namun   hati   tetap   sadar   dan   tidak   ada   sesuatu   yang   dapat menghalang-halangi pandangan internal yang dalam. Dalam suasana kesunyian terkadang       lahirlah   pemikiran-pemikiran        yang    cemerlang      yang    kemudian menyebarkan         sayap-sayapnya       dan   membumbung,          pertama-tama       di   atas angkasa gua lalu tersebar menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak ada sesuatu pun yang membatasinya atau mengekang kebebasannya. Kita tidak mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa bulan. Apa   yang   beliau   fikirkan   dan   apa   gerangan   yang   beliau   risaukan?   Mimpi   apa yang   ada   di   benaknya   dan   perasaan-perasaan   apa   yang   lahir   dalam   hatinya? Bagaimana   keadaan   batu-batu   yang   ada   di   sisinya?   Apakah   atom-atom   batu yang     berputar    di   sekelilingnya    menyahuti      tasbihnya     yang   diam,    seperti atom-atom       batu   yang    bersahut-    sahutan    bersama     Daud    saat  ia  membaca kitabnya Zabur. Kami     tidak   mengetahui      secara   pasti   bentuk    kelahiran   yang    terjadi   dalam dirinya.    Yang    kita   ketahui    adalah    bahawa     beliau    tidak   berfikir   tentang kenabian      dan    beliau   tidak   berfikir   untuk    memberikan       petunjuk     kepada manusia; beliau tidak melakukan praktik-praktik sufisme kerana beliau sudah menjadi      seorang   sufi  sebelum     diutus   di  tengah-tengah      manusia.    Kemudian Allah   SWT   memilihnya   sebagai   Nabi   lalu   beliau   meninggalkan   uzlahnya   dan turun ke medan serta membawa senjata. Beliau mempertahankan kebenaran, sehingga   beliau   bertemu   dengan   Tuhannya. 

Read More

Senin, 04 Mei 2026

Kisah pernikahan nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah

Kisah pernikahan nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah

Pada tahun yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul Mu'minin, isterinya yang   pertama,   yaitu   Khadijah   binti   Khuwailid   yang   saat   itu   berusia   empat puluh tahun. Khadijah adalah wanita yang mulia dan mempunyai cukup harta. Ia berdagang dan suaminya telah meninggal. Banyak orang yang mendekatinya dengan alasan untuk mendapatkan kekayaannya. 

Kisah pernikahan nabi Muhammad Saw dan Siti Khadijah

Khadijah mencari seseorang laki-laki yang dapat membawa harta dagangannya menuju Syam, lalu Khadijah mendengar berita yang cukup banyak berkenaan dengan kejujuran dan amanat serta     kesucian    Muhammad        bin   Abdilah.    Akhirnya,     Khadijah     mengutus Muhammad   saw   untuk   membawa   barang   dagangannya.   Muhammad   saw   pergi dalam perjalanannya yang kedua ke Syam saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Allah SWT   memberkati   perjalanannya   di mana   beliau   kembali   dengan membawa        keuntungan      yang    berlipat   ganda    yang    diserahkannya      kepada Khadijah. Muhammad saw tidak peduli dengan harta Khadijah dan tidak peduli kepada     kecantikannya;     Muhammad       saw   hanya   memandang       kemuliaan     yang dipegangnya.        Kemudian      Khadijah     merasakan       getaran     cinta   terhadap Muhammad        saw.   Dan   Akhirnya,   ia  mengutarakan      keinginan    untuk   menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju. Paman   Muhammad saw, Abu   Thalib berdiri dan   menyampaikan   khutbah   pada saat    perayaan    perkawinannya:       Muhammad       saw   tidak   dapat   dibandingkan dengan seorang pun dari kaum Quraisy kerana ia adalah seorang yang mulia, baik dari sisi akal mahupun rohani. Meskipun ia seorang yang fakir namun harta adalah naungan yang akan hilang dan benda yang bersifat sementara.

Read More

Minggu, 03 Mei 2026

Mitos Gunung Mujur Malang yang Dipercaya Bawa Kemujuran

Ketika mendengar kota Malang, maka pikiran orang akan langsung tertuju pada banyaknya tempat wisata. Salah satu kota yang terletak di Kabupaten Jawa Timur ini dikenal dengan udaranya yang sejuk dan dingin. Ini karena daerahnya banyak terdapat pegunungan dan perbukitan.

Gunung Bromo atau Semeru menjadi dua nama gunung yang terkenal di Kota Malang. Banyak wisatawan yang menghabiskan waktu di sini menikmati pemandangan yang sangat indah. Namun ada satu gunung yang kurang familiar di telinga wisatawan, yaitu Gunung Mujur.


1. Perbukitan yang dapat berikan kemujuran dan celaka

Beberapa orang percaya bahwa dengan datang ke Gunung Mujur ini maka akan mendapatkan kemujuran atau keberuntungan. Baik itu berupa rejeki, jodoh, penglaris dan lainnya, terlebih bila datangnya di hari Jumat Legi. Namun sebaliknya, jika pengunjung yang datang kemari berkata kotor atau bersikap buruk akan mendapatkan celaka. Hal ini juga berlaku bagi pengunjung yang mengeluh saat dalam perjalanan. Mitosnya, jika terlalu banyak mengeluh, maka apa yang dikeluhkan akan menjadi kenyataan.

2. Makam keramat

Saat sampai di Gunung Mujur, maka mata akan dimanjakan dengan pemandangan hutan pinus yang tumbuh dengan sangat lebat. Namun di antara lebatnya pohon pinus tumbuh, terlihat gundukan-gundukan bukit berwarna hijau. Wilayah ini sudah lama dikenal sebagai tempat wisata religi. Ini karena keberadaan sebuah makam yang disakralkan. Untuk mencapai makam ini, pengunjung harus menaiki anak tangga sejauh 100 meter, seperti menaiki sebuah candi. Menurut warga, makam itu adalah makam Setakumintir, seorang patih di kerajaan Blambangana (Banyuwangi). Namun ada juga yang berpendapat bahwa itu adalah makam Ki Ageng Kertojoyo.

3. Candi Telih

Candi Telih yang ada di Gunung Mujur juga menjadi salah satu situs yang keramat. Candi ini dikenal dengan mitos yang membawa nama Ken Arok, sang penguasa kerajaan Singhasari pertama. Konon katanya, candi ini adalah tempat bertemunya Ken Arok dengan Ken Umang, selir raja yang disebut sebagai wanita yang dicintai Ken Arok. Sayangnya, situs bersejarah ini tak terawat.

4. Datang tujuh kali berturut-turut dapat berkah

Masyarakat percaya bahwa datang ke Gunung Mujur sebanyak tujuh kali berturut-turut akan mendapatkan berkah, terlebih bila datangnya di malam Jumat Legi.

5. Jadi rute favorit pecinta olahraga esktrem

Meskipun Gunung Mujur kurang populer, namun gunung ini menjadi lokasi yang cukup populer bagi pecinta downhill maupun motor trail. Ini karena karakter gunung yang didominasi turunan dan minim tanjakan. 

Read More

gunung mujur

Secara administratif, Gunung Mujur terletak di wilayah Desa Donowarih dan Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Lokasinya sekitar 10 km dari Kota Batu. Untuk mencapai lokasinya dibutuhkan perjuangan ekstra keras mengingat medannya yang sulit.

Ada sejumlah cara yang bisa ditempuh buat kamu yang ingin menuju ke Gunung Mujur. Pertama, kamu bisa trekking alias jalan kaki melewati jalan setapak, atau bisa juga menggunakan motor trail, sepeda gunung, atau pun mobil jeep.


INILAH 7 MITOS YANG ADA DI GUNUNG MUJUR KABUPATEN MALANG

1. Keberadaan Makam Keramat

Area Gunung Mujur didominasi oleh hamparan hutan pinus. Di dalam hutan tersebut, salah satu yang menarik perhatian tentu keberadaan makam yang dikeramatkan. Menariknya, area hijau ini sudah dijadikan tempat wisata religi, karena keberadaan makam tersebut. Untuk mencapai lokasi makam, kamu harus rela menaiki anak tangga sejauh 100 meter.

Warga sekitar meyakini bahwa makam tersebut adalah makam Setakumintir, seorang patih Kerajaan Blambangan (di Banyuwangi). Namun, tak ada cerita yang bisa menjelaskan bagaimana bisa seorang patih kerajaan di timur Pulau Jawa itu bisa dimakamkan di Malang.

Sebagian warga lainnya juga memiliki keyakinan bahwa makam tersebut adalah makam Ki Ageng Kertojoyo. Entah mana yang benar, apakah keduanya adalah satu orang atau orang yang berbeda.


2. Berkah Kemujuran

Ada pula mitos yang menyebutkan para pengunjung wisata Gunung Mujur bakal diberikan keberkahan. Seperti namanya, gunung ini diyakini bisa membawa kemujuran bagi siapa pun yang berkunjung.

Penduduk sekitar mengatakan demikian. Nasib mereka yang pulang dari sini akan berubah menjadi lebih baik, termasuk mereka yang menginginkan jodoh, rezeki penglarisan, atau yang lainnya.


3. Berkah Malam Jumat Legi

Ada hari khusus yang dipercaya masyarakat sekitar Gunung Mujur yang akan membawa kemujuran, yakni malam Jumat Legi. Meski banyak orang beranggapan semua hari baik, malam Jumat Legi diyakini sebagai hari terbaik di antara hari-hari lainnya. Malam Jumat Legi juga disakralkan.

Menurut warga sekitar, orang-orang yang ingin ‘ngalap barokah’ atau mencari berkah kemujuran yang lebih, bisa datang ke Gunung Mujur pada malam Jumat Legi.

4. Datang 7 Kali Berturut-turut

Datang ke Gunung Mujur pada malam Jumat Legi sekali saja ternyata belum cukup. Jika ingin berkah kemujuran yang lebih dan lebih lagi, maka datanglah tujuh kali berturut-turut ke gunung ini tiap malam Jumat Legi.

Mereka yang melakukannya bisa dibilang sangat memiliki niat untuk mencari keberkahan. Terlebih perjalanan menuju ke tempat ini tidaklah mudah. Karenanya, perjuangan tersebut diyakini bisa berbuah manis, kemujuran yang didamba.

5. Hukuman Bagi yang Berkata Kotor

Jangan sampai berkata kotor di Gunung Mujur. Sebab, aka nada konsekuensi berupa hukuman tak terduga bagi mereka yang melanggar pantangan tersebut. Mitos yang berkembang, mereka yang berkata kotor harus siap celaka.

Semua perbuatan pasti ada balasannya. Niat baik akan dibalas dengan kebaikan, begitu pula dengan perbuatan tak terpuji, pasti juga aka nada balasannya. Terlebih Gunung Mujur merupakan tempat yang dianggap suci dan sacral. Maka, sebaiknya menjaga perkataan dan sikap.

6. Jangan Banyak Mengeluh

Selain dilarang berbicara kotor, di Gunung Mujur kamu juga tak boleh banyak mengeluh sepanjang perjalanan menuju ke sana. Maka, bagi kamu yang sering mengeluh saat melakoni perjalanan wisata, sebaiknya tidak datang ke sini. Sebab, mitosnya apa yang kita keluhkan bisa benar-benar terjadi.

Misalnya, kamu mengeluh takut ada hewan buas di sana. Maka yang terjadi, bisa saja kawanan hewan buas datang menghampiri perjalanan kamu. Kalau masih belum percaya, silakan dibuktikan sendiri.

Memang, sebaiknya kita jangan terus berpikiran negatif tentang apa yang belum terjadi. Silakan berpikiran positif agar membawa sugesti positif dan kebaikan pula bagi diri sendiri.

7. Tempat Bertemunya Ken Arok dan Ken Umang

Gunung Mujur juga dipercaya sebagai tempat bertemunya Ken Arok dengan Ken Umang. Tempat itu ditandai dengan keberadaan sebuah candi kecil bernama Candi Telih, yang keberadaannya tak banyak orang tahu.

Candi ini yang terletak di sebuah ladang milik warga itu merupakan peninggalan Kerajaan Singosari. Konon, di sanalah Ken Arok dan Ken Umang pertama kali bertemu. Ken Umang merupakan istri pertama Ken Arok yang menjadi selirnya di Kerajaan Singosari setelah menikahi Ken Dedes.

gunung mujur

Read More

Petunjuk pendeta buhaira kepada Abu Thalib

 Kisah Pendeta Buhaira

Sifat dan khabar nabi tersebut diceritakan dalam buku-buku       kuno.   Buhaira    segera    meninggalkan      tempatnya,      lalu  ia  segera memerintahkan untuk menyiapkan makanan yang besar. Kemudian ia mengutus seseorang   untuk   menemui   kafilah   tersebut   dan   mengundang   mereka   untuk jamuan makan. 

Petunjuk pendeta buhaira


Salah seorang mereka berkata dengan nada bercanda kepada Buhaira:   "Demi   Lata   dan   'Uzza,   engkau   hari   ini   tampak   lain   wahai   Buhaira. Engkau   tidak   pernah   melakukan   demikian   kepada   kami,   padahal   kami   telah melewati      dan   singgah    di  tempat    ini  lebih   dari  sekali.   Ada   peristiwa    apa gerangan wahai Buhaira?" Buhaira   menjawab:   "Hari   ini   kalian   adalah   tamu-tamuku."   Pertanyaan   orang tersebut   tidak   dijawab   dengan   terang-terangan.   Ia   sengaja   menghindarinya dan    tidak   menyingkapkan        rahsia   kemuliaan     yang   datangnya     tiba-tiba    ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai memperhatikan di antara mereka adanya      seseorang     yang    memiliki     tanda-     tanda    yang    dibacanya      dalam kitab-kitabnya yang kuno tentang seorang rasul yang ditunggu. Namun ia tidak menemukannya,   hingga   ia   bertanya   kepada   mereka:   "Wahai   kaum   Quraisy, apakah      ada   seseorang     yang   tidak   hadir   bersama      jamuanku     ini?"  Mereka menjawab:        "Benar,   ada    seseorang     yang   tidak   ikut   bersama     kami.    Kami meninggalkannya kerana ia masih kecil." Buhaira berkata: "Sungguh aku telah mengundang        kamu    semua.     Panggillah    ia  supaya    hadir   bersama     kami    dan memakan makanan ini." Salah seorang lelaki dari kaum Quraisy berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sungguh tercela bagi kami untuk meninggalkan Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib dari jamuan yang kami diundang di dalamnya. Pamannya meminta maaf kerana Muhammad masih kecil, kemudian sebahagian mereka      berdiri   dan    menghadirkannya.        Belum     lama   Buhaira     memandangi kejernihan   dua   mata   Muhammad,   sehingga   ia   mengetahui   bahawa   ia   telah mendekati   tujuannya.   Buhairah   terpaku   ketika   memandangi   Muhammad   bin Abdillah sehingga kaum selesai makan dan mereka berpisah. Muhammad         bin   Abdillah    duduk     sendirian.

 Buhaira    menghampirinya        dan berkata: "Wahai anak kecil, demi kedudukan Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap apa yang aku tanyakan kepadamu?" Buhaira ingin   mengetahui   sikap   anak   ini   terhadap   berhala   kaumnya.   Anak   kecil   itu menjawab: "Jangan engkau bertanya kepadaku tentang Lata dan 'Uzza. Demi Allah,   tidak   ada   sesuatu   yang   lebih   aku   benci   daripada   keduanya."   Buhaira berkata:     "Dengan    izin  Allah   aku   ingin  bertanya    kepadamu."   Anak      kecil   itu menjawab: "Tanyalah apa saja yang terlintas di benakmu."

Buhaira bertanya kepada anak kecil itu tentang keluarganya, kedudukannya di tengah-tengah        kaumnya,      mimpinya      dan   pendapat-      pendapatnya.       Dialog tersebut   terjadi   jauh   dari   pantauan   kaum   kerana   mereka   tidak   akan   diam ketika    mendengar      bahawa     Muhammad       membenci      berhala-berhala      mereka. Kemudian Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat Buhaira mantap bahawa ia sekarang duduk bersama seorang Nabi   yang   khabar   berita   gembiranya   disampaikan   oleh   Nabi   Isa   sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi dari kaum Israil dari kaum Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu di sisinya. Abu Thalib menjawab: "Ia adalah anakku."   Buhaira   berkata:   "Tidak   mungkin   ayahnya   masih   hidup."   Abu   Thalib berkata:   "Benar.   Ia   anak   saudaraku.   Ayahnya   dan   ibunya   telah   meninggal." Buhaira berkata: "Engkau benar, kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari kaum Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang rahsia dari apa yang dikatakan oleh   pendeta   itu.   Pendeta   itu   mulai   mengetahui   bahawa   ia   telah   berbicara lebih    dari  yang   semestinya.     Lalu  ia  berkata:    "Ia  akan  memiliki    kedudukan tertentu."  Buhaira   tidak   menjelaskan   lebih dari itu   dan   ia   tidak   menentukan kedudukan yang dimaksud.

 Lalu   berlalulah   peristiwa   tersebut   tanpa   terlintas   dari   benak   seseorang   atau tanpa menggugah kesedaran di antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa pengaruh   berarti   bagi   kafilah   atau   kepada   Nabi   sendiri.   Kafilah   menganggap bahawa       penghormatan        pendeta     kepada      Muhammad        bin   Abdillah     dan memberitahunya akan kedudukan yang akan disandangnya adalah semata-mata basa-basi yang biasa diucapkan di atas meja makan ketika para tamu memuji kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya, orang yang mengundang akan   memuji   akhlak   para   pemuda   mereka.   Alhasil,   peristiwa   tersebut   tidak membawa         pengaruh      apa    pun,    baik    bagi    Muhammad        mahupun       bagi sahabat-sahabat   yang   ikut   dalam   kafilah,   sehingga   mereka   tidak   mengetahui rahsia   perkataan   pendeta   dan   mereka   tidak   menyebarkan   pembicaraan   yang mereka dengar darinya. Peristiwa itu tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad. Apa   gerangan   yang   terjadi   antara   dirinya   dan   orang-orang   Yahudi,   sehingga pendeta perlu mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan dikembangnya seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan       semua    ini  dengan     kesedihan-     kesedihannya      yang    dalam    serta kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit berputar di   benaknya.   Kemudian   seperti   biasanya   kafilah   tersebut   kembali   ke   Mekah. Muhammad kembali menuju keterasingannya. Ia memperhatikan keadaan alam di sekitarnya. Kemudian ia melihat kembali penderitaannya; ia berusaha untukmendapatkan kehidupannya; ia mengabdi kepada manusia dan mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka. Hari demi hari berlalu. Muhammad saw tampil dengan pakaian ketulusan kasih sayang,   dan   amanah   serat   cinta,   sebagaimana   pelita   dipenuhi   oleh   cahaya, sehingga kejujurannya terkenal di tengah-tengah kaumnya. Bahkan kejujuran dan    amanatnya      tidak   bakal   diragukan     oleh   seseorang    pun    dari  penduduk Mekah.     Dan   ketika   beliau    datang   dengan     membawa       risalahnya   dan   beliau ditentang      majoriti    masyarakatnya,       namun     tak   seorang    pun    yang   berani meragukan kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahawa ia terkena sihir atau kesedarannya telah hilang. Pada   tahun   ketiga   belas   dari   masa   kenabian,   ketika   semua   kabilah   sepakat untuk   membunuhnya   dan   mengucurkan   darahnya   di   antara   para   kabilah   dan mereka      mengepung      rumahnya,      maka    di  saat   situasi  yang    sulit  ini  beliau menetapkan   untuk   berhijrah. 

 Tetapi   sebelumnya   beliau   mewasiatkan   kepada Ali   bin   Abi   Thalib,   anak   pamannya   untuk   tetap   tinggal   di   rumahnya   agar   ia dapat mengembalikan amanat yang dititipkan oleh semua musuhnya dan para sahabatnya. Ini beliau maksudkan agar Ali dapat menyerahkan amanat tersebut di   waktu    pagi   kepada    para   pemiliknya.     Anda    dapat   melihat    betapa     para musuhnya merasa aman terhadap harta mereka ketika dijaga oleh Muhammad saw. Hari    demi   hari   berlalu   dan   tahun    demi   tahun    pun   lewat.   Sementara      itu, kesucian   dan   kejujuran   Muhammad   saw   semakin   meningkat.   Dan   di   tengah lautan      keheningan      yang     mencekam,        ketika    Muhammad         bin   Abdillah menyebarkan   layar   perahunya   yang   putih,   maka   ia   harus   menemui   hakikat azali yang bertemu dengan-nya semua nabi dan rasul. Muhammad bin Abdillah mengetahui       bahawa     alam   yang    besar   ini  mempunyai      Tuhan    Pengatur     dan Pencipta; Tuhan yang Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya. Muhammad        dijauhkan     dari   suasana    kenikmatan      dan   foya-foya    yang    biasa dilakukan      oleh    para     pemuda      seusianya.     Dan     ketika    pemuda      Mekah berbangga-bangga dengan banyaknya minuman keras yang mereka minum dan banyaknya       bait-bait    syair   yang    mereka     katakan     tentang    wanita,     maka Muhammad bin Abdillah telah menemukan jati dirinya di suatu gua yang tenang di   gunung   yang   besar.   Ia   memilih   untuk   menghabiskan   waktunya   di   dalam keheningan gua tersebut. Ia merenung dengan hatinya tentang keadaan alam; ia   memikirkan      keagungan      rahsia-rahsianya     dan    rahmat    Penciptanya      serta kebesaran-Nya.

Read More

Sabtu, 02 Mei 2026

Nabi Muhammad di usia muda

 Nabi Muhammad di usia muda                                                                                                

Muhammad   bin   Abdillah   hidup   di   jantung   gurun   Mekah   sebagai   seorang   yang memiliki   kesedaran   yang   tinggi   di   antara   kaum   yang   sedang   lalai   dan   kaum yang    mabuk-mabukan        dan    para   penyembah      berhala    serta  para    pedagang minuman       keras    dan    para   syair   dan    orang-orang     yang    berperang      dan tokoh-tokoh kabilah. Muhammad bin Abdillah seorang yang banyak diam dan ketika usianya semakin dewasa, maka ia bertambah banyak diam. Beliau tidak berbicara kecuali jikadiajak   seseorang   berbicara;   beliau   tidak   terlibat   dalam   permainan   hura-hura anak-anak      muda;    

nabi muhammad ketika masih muda


beliau   merasakan     kesedihan    yang   dalam;    beliau   sering menyendiri dan membuka matanya di hamparan pasir-pasir. Mulutnya terdiam dan    akalnya    berfikir.   Beliau   merenungkan       di  masa    kecilnya    bagaimana kaumnya      bersujud    terhadap    berhala    dan  terpukau     dengannya;     bagaimana orang-orang   berakal   mau   bersujud   kepada   batu-batu   yang   tidak   memberikan mudarat      dan   manfaat    dan   tidak   berbicara    serta  tidak   dapat    melakukan apa-apa. Beliau mewarisi dari datuknya Ibrahim kebencian yang fitri terhadap dunia berhala dan patung. Di    dalam    dirinya   terdapat    penghinaan     yang    besar   terhadap     sembahan- sembahan      dari  batu   ini,  suatu  penghinaan     yang   menjadikannya      tidak  mau mendekat      selama-lamanya      terhadap    patung    tersebut.

  Namun     hatinya   yang besar   dipenuhi   dengan   kesedihan   yang   lebih   hebat   dari   kesedihan   datuknya Ibrahim.     Beliau   sedih   kerana   akal   manusia    menyembah       batu   dan   emas, kesombongan serta kekuasaan penguasa; beliau mendengar apa yang dikatakan manusia     dan   mengamat-amati       urusan   kehidupan     dan   keadaan    masyarakat; beliau    juga   menyaksikan     betapa    banyak   pertentangan      dan   perkelahian    di antara   manusia   yang   justru   disebabkan   oleh   masalah-masalah   yang   sepele, sehingga     kehairanan     beliau   semakin    bertambah     dan   sudah    barang    tentu kesedihannya      pun    semakin    dalam.   Tidakkah     manusia    mengetahui     bahawa mereka   akan   mati   seperti   ayahnya,   ibunya,   dan   datuknya?   Mengapa   mereka menimbulkan       pertentangan     ini,  hingga   mereka    mendapatkan       lebih  banyak kejahatan? Ketika usianya semakin bertambah, maka bertambahlah kezuhudannya dalam hidup, dan sepak terjangnya terus bersinar memenuhi penjuru Mekah. Beliau tidak   sama   dengan   seseorang   pun   dari   kalangan   pemuda   saat   itu.   Meskipun kami   kira   bahawa   kesedihannya   disebabkan   oleh   hal-   hal   yang   umum, tetapi beliau   tidak   mengungkapkan   kegelisahan   hatinya   pada   seseorang   pun.   Beliau belum     bertujuan    untuk   memperbaiki      masyarakat    atau   kemanusiaan.     Benar bahawa pertanyaan-pertanyaan kritis timbul dalam benaknya dan ingin segera menemukan jawapan, tetapi akalnya sendiri tidak dapat menemukan jawapan atau jalan keluar. Inilah yang dimaksud dengan makna ayat: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. adh-Dhuha: 7) Yang   dimaksud   ad-Dhalal   (kesesatan)      di   sini  ialah   kebingungan   akal   dalam menafsirkan   kejahatan   dan   usaha   melawannya   kerana   ketiadaan   senjata   dankecilnya     usia.   Semua    itu  justru   menambah        sikap   diam   anak    kecil   itu  dan menjauhkannya          dari   dunia   yang    akan    mencemari       akal,   sehingga    akalnya selamat dari segala noda dan tetap di bawah naungan kejernihannya.

 Anak   kecil   itu   tetap   jauh   dari   dosa-dosa   yang   dilakukan   oleh   kaumnya   yang berupa   kecenderungan   untuk   menyembah   berhala   dan   cinta   kekuasaan   dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih mendekat kepada hakikatnya yang suci;   ia   mampu   mempengaruhi   orang   lain   dengan   jiwanya   yang   bersih   dan rahmatnya       atau    kasih   sayangnya     tertuju    kepada    manusia,     bahkan     kepada binatang   dan   burung.   Ketika   ia   duduk   akan   makan   lalu   ada   burung   merpati berkeliling   di   seputar   makanannya   maka   ia   meninggalkan   makanannya   untuk burung   itu.   Pada   saat   orang-orang   memukul   anjing   yang   mendekat   kepada makanan mereka, maka ia justru mencabut suapan yang ada di mulutnya dan memberikannya   pada   anjing,   kucing, anak-anak  kecil, dan   orang-orang   fakir. Bahkan   seringkali   di   waktu   malam   ia   tidur   dalam   keadaan   lapar   kerana   ia memberikan makanannya ke orang lain. Muhammad   saw   adalah   seorang   fakir   yang   harus   bekerja   agar   dapat   makan, maka   beliau   bekerja   sebagai penggembala   kambing, seperti   Nabi   Daud,   Nabi Musa,   dan   nabi-nabi   yang   lain   yang   diutus   oleh   Allah   SWT.   Kemudian   beliau melakukan perjalanan bersama kafilah pamannya Abu Thalib menuju Syam saat beliau berusia tiga belas tahun. Beliau menyaksikan keadaan umat-umat yang lain,   maka   kehairanannya   semakin   bertambah   terhadap   masa   Jahilliyah   ini. Ketika beliau menyaksikan orang-orang tersesat, maka kesedihannya semakin bertambah dan hatinya semakin tersentuh dan fikirannya semakin dalam. Pada   saat   perjalanan   menuju   ke   Syam   ini   terjadi   suatu   peristiwa   terhadap anak     kecil  itu.   Kemungkinan       besar   itu   justru   menambah       kebingungannya. Seorang pendeta yang bernama Buhaira berdiri di jendela rumah yang menjadi tempat peribadatannya di Suria. Tiba-tiba ia memperhatikan suatu awan putih -   tidak   seperti   biasanya   -   yang   menghiasi   langit   yang   biru.   Saat   itu   udara sangat     terang,    sehingga    munculnya       awan    tersebut    sangat    menghairankan. Kemudian   pandangan   Buhaira   yang   tertuju   ke   langit,   kini tertuju   ke   bumi di mana   ia   mendapati   awan   itu   menyerupai   burung   yang   putih   yang   menaungi kafilah kecil yang menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahawa awan tersebut mengikuti kafilah. Jantung      Buhaira     berdebar     dengan      keras   kerana     ia   mengetahui       melalui buku-buku   peninggalan   kaum   Masehi   yang   otentik   bahawa   seorang   nabi   akanmuncul ke dunia setelah Isa.

Read More