Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Kamis, 12 Maret 2026

Puncak Gunung Katu Sang Menara Rajasa Batara Amarwabhumi

Gunung katu adalah suatu bukit / gunug yang berada kaki Gunung Kawi, tepatnya di kaki timur rabut (bukit suci) Katu pada lembah Kali Dem (sungai) – dan anak sungai (suci) Metro (toponimi ‘metro’ berasal dari ‘a-mreta’ artinya: air atau tirtha kehidupan/keabadian).

Oleh karena, topografi tanahnya membukit (geneng) dan diapit oleh dua kali kecil di sisi utara (lalu bekok ke selatan) serta kali kecil lain di sisi selatan. Keduanya bertemu, kemudian memasok air ke kali yang lebih besar bernama “Kali Dem”. Aliran Kali Dem bermuara di Sungai Metro pada Dusun Darungan, yakni salah Satu dusun di Desa Mendalan Wangi. Baik di India maupun daerah-daerah lain di Jawa, Sumatra dan Bali, pada masa Hindu-Buddha areal apitan dua sungai/kali dikonsepsikan sebagai area suci, sehingga cocok untuk mendirikan bangunan suci semisal candi.

Puncak Gunung Katu Sang Menara Rajasa Batara Amarwabhumi
Jalan menuju Puncak Katu

Dalam sejarah Singhasari dan Majapahit, raja yang mangkat biasanya didarmakan dalam bentuk arca dewa. Mereka akan terus dikenang dengan dibuatkan sebuah candi pemujaan. Berdasarkan Nagarakretagama, jumlah candi yang difungsikan sebagai pendharmaan arwah raja mencapai 27 pada tahun 1365. Dari jumlah itu tidak semua masih berdiri utuh. Di antaranya candi di Kagenengan yang disebut sebagai pendarmaan Rangga Rajasa, gelar Ken Arok.

Pada pupuh 40 naskah Nagarakretagama tertulis, seorang pendeta Budha di Bureng diminta berkisah oleh penulis naskah. Sang penulis, Mpu Prapanca, ketika itu bersama rombongan Hayam Wuruk hanya singgah dalam perjalanan menuju Singhasari. Pendeta Budha itu menceritakan bahwa pada tahun 1104 saka terdapat seorang raja Perwira Yuda Putera Girinata. Dia lahir tanpa ibu dan dihormati seluruh orang. Raja itu bernama Rangga Rajasa. Bagian itu juga menceritakan bagaimana Rangga Rajasa akhirnya mengalahkan Raja Kediri, Kertajaya. Dia diakui sebagai cikal bakal para raja agung yang akan memerintah Jawa.


Adapun naskah pupuh yang menjelaskan perjalanan hayam wuruk ke candi kagenengan :

Pupuh 36


1. Pada subakala, Baginda berangkat ke selatan menuju Kagênêngan. Akan berbakti kepada makam Bhatara bersama segala pengiringnya. Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan. Didahului kibaran bendera, disambut sorak sorai dari penonton.

2. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat. Pendeta Siwa‐Budha dan para bangsawan berderet-deret di sisi beliau. Tidak diceritakan betapa lahap Baginda bersantap sampai puas. Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Letak asli dharma Kagênêngan belum diketahui dengan pasti, tetapi kiranya lokasinya dahulu tidak jauh di sebelah selatan Kota Malang sekarang. Salah satu nama tempat yang menarik perhatian adalah Desa Genengan di Kecamatan Pakisaji, 8 km dari pusat kota di jalan raya menuju Kepanjen. Di desa tersebut pernah ditemukan peninggalan purbakala berupa lingga dari batu andesit. Ada juga sebuah dusun bernama Kagenengan di Desa Parangargo, termasuk Kecamatan Wagir. Di bagian selatan dusun tersebut tampak sebidang tanah tinggi yang diapiti dua sungai disebut Sokan oleh penduduk setempat. Di situ ditemukan pecahan batu bata berukuran besar atau pun fragmen batu termasuk sebuah lingga kecil. Tak jauh dari situ terdapat Gunung Katu yang banyak ditemukan benda arkeologis juga.


Pupuh 37


1. Tersebutlah keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara. Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar di dalam, terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya. Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.

2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah‐tengah, terlalu indah. Seperti Gunung Meru, dengan arca Bhatara Siwa di dalamnya. Karena Girinata putera disembah bagai Dewa Bhatara. Datu leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.

3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai. Tembok serta pintunya masih berdiri, berciri kasogatan. Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tinggal yang timur. Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.

4. Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata. Terpancar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman. Di luar gapura pabaktan luhur, tapi longsor tanahnya. Halaman luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.

5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu pucat. Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung. Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu. Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.

6. Sedih mata memandang, tak berdaya untuk menyembuhkannya. Kecuali menanti Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk. Beliau masyhur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagat. Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan Bhatara.

7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke Kidhal. Sesudah menyembah Bhatara, larut hari berangkat ke Jajaghu. Habis menyembah arca Jina, beliau berangkat ke penginapan. Paginya menuju Singhasāri, belum lelah telah sampai Burêng.


Ditambahkannya menurut dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono , pada masa lalu, Bukit Katu juga termasuk wilayah Kagenengan. Pada masa selanjutnya, wilayah Kagenengan 'menciut'. Artinya, hanya menunjuk pada wilayah Dusun Kagenengan Desa Parangargo, seperti yang ada saat ini. "Dulunya, yang disebut Kagenengan itu mencakup daerah-daerah yang ada di sekitar Bukit Katu, jadi luas, tidak seperti sekarang yang hanya 'menjadi' nama dusun," jelasnya.

Jika teori tentang Bukit Katu sebagai tempat pendharmaan Ken Angrok benar, maka akan tergambar bahwa Gunung/Bukit Katu juga dikonsepsikan sebagai gunung suci.

Namun menurut para sesepuh di daerah kec. Wagir dan para ahli spiritual bahwa di puncak Gunung Katu merupakan letak dari Candi Kagenengan yang konon merupakan candi yang sangat indah, megah dan terbesar di deretan candi-candi kerajaan Singhasari dan Majapahit serta dikabarkan sebagai pendharmaan dari sang Rajasa Ken Arok. Candi Kagenengan dapat di gambarkan candi yang bertema atau berarsitektur dewa siwa, jadi di dalam candi ada patung kerbau/sapi yang menghiasi candi tersebut dll.

,Watu Dakon di Gunung Katu (dan situs serupa) umumnya bermakna sebagai sarana pemujaan arwah leluhur atau altar sesajian pada zaman prasejarah. Lubang-lubang pada batu besar ini diyakini digunakan untuk menempatkan sesaji seperti kembang-kembangan atau biji-bijian sebagai bentuk penghormatan atau ritual khusus.

Puncak Gunung Katu

0 comments:

Posting Komentar