Kisah Mukjizat Nabi Musa AS
Musa mengetahui bahawa telah tiba waktunya untuk menunjukkan mukjizat yang dibawanya. Setelah diancam akan dimasukan ke dalam penjara, ia berkata kepada Fir'aun: "Musa berkata: 'Dan apakah (kamu akan melakukan ini) kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?'" (QS. asy- Syu'ara': 30) Musa menantang kepada Fir'aun dan Fir'aun menerima tantangannya. Fir'aun ingin tahu sejauh mana kebenaran Musa. "Fir'aun berkata: 'Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar.'" (QS. asy- Syu'ara': 30-31)
Musa melemparkan tongkatnya di ruangan yang besar itu. Mula-mula Fir'aun menganggap bahawa tongkat yang dibawanya jatuh kerana Musa gementar menghadapinya. Setelah Fir'aun meminta padanya bukti atas kebenaran dakwahnya, tiba-tiba tongkat yang menyentuh tanah itu berubah menjadi ular yang besar yang bergerak dengan cepat dan gesit. Ular itu menuju ke arah Fir'aun. Fir'aun tampak pucat kerana takut. Ia tampak gementar di kerusinya kemudian ia berteriak agar mereka menjauhkan ular itu darinya. Nabi Musa menghulurkan tangannya ke ular itu lalu ular itu kembali menjadi tongkat yang ada di tangannya sebagaimana semula. Setelah peristiwa itu, keheningan menyeliputi istana Fir'aun. Nabi Musa kembali menunjukkan kepada orang-orang yang berdiri di sekitarnya, mukjizatnya yang kedua. Musa memasukkan tangannya di sakunya lalu mengeluarkannya. Tiba-tiba tangan itu menjadi putih seperti bulan; tangan itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang memenuhi penjuru istana. Akhirnya, semua orang yang hadir di situ merasakan kekaguman yang luar biasa sedangkan Fir'aun wajahnya tampak menghijau kerana saking takutnya.
Allah s.w.t berfirman: "Maka Musa melemparkan tongkatnya,
yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular
yang nyata. Dan
ia menarik tangannya
(dari dalam bajunya),
maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang- orang yang
melihatnya." (QS. asy-Syu'ara': 32-33)
Keheningan semakin menyelimuti istana Fir'aun. Pengaruh dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa tertanam pada jiwa orang-orang yang hadir di situ. Pertama-tama mereka merasakan ketakutan dalam diri mereka kemudian Nabi Musa mengembalikan tangannya ke sakunya lalu tangannya kembali seperti semula. Fir'aun berkata: "Sekarang, pergilah kalian berdua. Nanti kita akan lanjutkan perbincangan kita." Musa memalingkan wajahnya dan keluar dari istana. Fir'aun tampak terpukul atas peristiwa itu. Fikirannya mulai berputar-putar. Ia membayangkan apa yang terjadi di istananya dan di wilayah kekuasaannya seandainya berita tentang dua mukjizat itu tersebar di tengah-tengah manusia, lalu manusia mulai membicarakan tentang Musa dan Harun.
Fir'aun mengeluarkan perintahnya agar orang- orang yang melihat peristiwa itu tidak membuka hal itu kepada masyarakat umum, tetapi para pembantu istana dan sebahagian dari Bani Israil menyaksikan dua peristiwa itu. Akhirnya, mulailah terjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat ramai tentang dua mukjizat itu. Fir'aun benar-benar terdiam ketika menghadapi dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa. Ketika Musa keluar dari istana Fir'aun yang sebelumnya merasa takut dan gementar, kini menjadi marah. Ia meluapkan kemarahan itu kepada menterinya dan para pembantunya. Tiba-tiba ia bersikap kasar kepada mereka tanpa sebab yang diketahui. Fir'aun memerintahkan mereka untuk keluar dari ruangannya dan meningggalkan dirinya sendirian. Fir'aun berusaha untuk menghadapi masalah itu dengan lebih tenang.
