KISAH NABI MUSA A.S
Kondisi Mesir sepeninggal Nabi Yusuf A.S
Yakub atau Israil
tinggal di Mesir
sejak ia datang
untuk bertemu dengan anaknya, Yusuf. Ketika beliau wafat
mereka menguburnya di tempat di mana ia dilahirkan di Palestina. Anak-anak
Israil lebih memilih untuk hidup di Mesir di
sisi Yusuf. Keadaan
Mesir, kebaikannya yang
banyak, kelayakan tanahnya, dan keharmonisan iklimnya
merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka untuk tinggal di
dalamnya. Anak-anak Israil
tinggal di Mesir
dalam tempo yang lumayan. Mereka
menikah sehingga jumlah
mereka bertambah banyak.

Berlalulah tahun demi tahun dan kemudian Nabi Yusuf
meninggal. Nabi Yusuf telah
mengubah Islam saat
beliau memegang tampuk
kekuasaan. Nabi Yusuf memperjuangkan Islam
dan setiap nabi
yang diutus oleh
Allah s.w.t pasti memperjuangkan agama
Islam sejak Nabi
Adam as sampai
Nabi Muhammad saw. Pengertian Islam
di sini ialah,
mengesakan Allah s.w.t
dan hanya semata-mata
menyembah-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan berdoa kepada- Nya. Islam
juga bererti menyerahkan niat
dan amal hanya semata-mata kepada Allah s.w.t.
Demikianlah yang kita fahami atau yang kita maksud dari
kata al-Islam, bukan
sistem sosial yang
dibawa oleh Nabi
yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Sistem ini merupakan kepanjangan
dari sistem-sistem sosial yang dibawa para nabi. Jadi, esensi akidah satu dan
tidak berbeza dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw.
Ketika Nabi Yusuf menjadi penguasa di Mesir dan ketua para
menteri agama di Mesir berubah menjadi
agama tauhid atau
Islam. Nabi Yusuf
as menyeru manusia untuk memeluk
Islam saat beliau ada di dalam penjara ketika beliau mengatakan:
"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam
itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (QS.Yusuf: 39)
Dan beliau berdoa pada suatu hari ketika mimpinya terwujud:
"Wafatkanlah
aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku
dengan orang-orang yang soleh. " (QS. Yusuf: 101)
Dan ketika Nabi
Yusuf meninggal, Mesir
mengubah sistem tauhid
ke sistem multi tuhan
untuk kedua kalinya.
Menurut dugaan kuat
bahawa hal
ini terwujud dengan adanya
campur tangan kelompok-kelompok elit yang berkuasa. Kelompok-kelompok elit ini -
ketika di bawah agama tauhid - merekatidak
mendapatkan suatu perlakukan istimewa atau
dibezakan dengan
masyarakat umum, sehingga kerananya mereka mempunyai
kepentingan untuk mengembalikan
sistem penyembahan multi
tuhan. Kemudian masyarakat
mengikuti sistem penyembahan
Fir'aun. Dan akhirnya,
Mesir dipimpin keluarga-keluarga
Fir'aun dan mereka mengklaim bahawa mereka adalah tuhan atau wakil-wakil tuhan
atau orang-orang yang berbicara atas nama tuhan.
Pada dasarnya, masyarakat
Mesir adalah masyarakat
yang beradab. Mereka disibukkan dengan pembangunan peradaban.
Mereka memiliki kecenderungan keagamaan
yang kuat. Dan
barangkali kelompok- kelompok
dari masyarakat Mesir meyakini
bahawa Fir'aun bukan tuhan namun kerana mereka mendapat tantangan keras dari
Fir'aun dan Fir'aun tidak ingin dari kaumnya kecuali agar mereka mentaatinya sehingga mereka
pun terpaksa menyembunyikan keimanan dalam diri mereka.
Jadi, tuhan-tuhan berhala banyak sekali di Mesir.
Hal yang bisa difahami adalah, bahawa Fir'aun menguasai
semua macam tuhan dan ia mengisyaratkan dengannya dan berbicara atas namanya.
Yang demikian ini adalah sangat jelas di Mesir. Ketika terdapat sistem multi
tuhan di Mesir - meskipun masyarakatnya meyakini tuhan utama, yaitu Fir'aun -
kelompok elit yang berkuasa membatasi untuk hanya menyembah Fir'aun dan
melaksanakan perintah-perintahnya
serta membenarkan tindakan
semena-menanya. Kita akan mengetahui
dan kita akan
membuka lembaran-lembaran Nabi
Musa as bagaimana masyarakat
Mesir hidup di zamannya. Majoriti masyarakat saat itu mendapatkan kehinaan yang
luar biasa dan diperlakukan secara lalim. Mereka harus taat
sepenuhnya kepada Fir'aun.
Mereka selalu diancam
oleh algojo-algojo Fir'aun dan para tenteranya.
Allah s.w.t menceritakan Fir'aun
yang hidup di
zaman Nabi Musa
dalam firman-Nya:
"Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu
berseru memanggil kaumnya
(seraya berkata): 'Akulah
Tuhanmu yang paling
tinggi.'" (QS. an-Nazi'at:
23-24)
Manusia saat itu
benar-benar tunduk terhadap
pernyataan orang-orang kafir. Mereka mentaati
- barangkali itu
kerana terpaksa -
perkataan Fir'aun. Mesir kembali menggunakan
sistem multi tuhan setelah
sebelumnya disinari oleh tauhid yang disuarakan oleh Nabi Yusuf.
Sementara itu, anak-anak Yakub atau anak-anak Israil
mereka telah menyimpang dari
tauhid. Mereka mengikuti orang-orang Mesir.
Sedikit sekali dari
keluarga mereka yang
masih mempertahankan agama tauhid secara tersembunyi.
Kisah Kelahiran Nabi Musa A.S
Datanglah suatu masa
atas Bani Israil
di mana mereka
semakin banyak dan semakin menyebar. Mereka
mengerjakan berbagai macam
pekerjaan, dan mereka memenuhi pasar-pasar Mesir.
Berlalulah hari demi
hari. Mesir diperintah oleh
seorang raja yang
bengis di mana
orang-orang Mesir
menyembahnya. Raja yang
jahat ini melihat
Bani Israil semakin
banyak dan semakin berkembang
serta mengambil posisi-posisi penting.
Raja mendengar pembicaraan Bani
Israil tentang berita
yang samar di
mana dalam berita
itu dikatakan bahawa salah
seorang anak Bani
Israil akan menjatuhkan
Fir'aun Mesir dari singgahsananya. Barangkali berita itu berasal dari
suatu mimpi dari mimpi-mimpi hidup atau mimpi nyata yang mengelilingi hati kelompok
minoriti yang tertindas, dan
mungkin itu merupakan
berita gembira yang
tersebut dalam kitab-kitab mereka. Apa pun halnya, berita ini telah
sampai di telinga Fir'aun.
Kemudian
Fir'aun mengeluarkan perintah yang
aneh, yaitu jangan
sampai seorang pun dari
Bani Israil yang
melahirkan anak. Maksud
dari perintah ini adalah, hendaklah setiap anak yang lahir
dari jenis laki-laki dibunuh. Aturan ini mulai diterapkan. Tapi
para pakar ekonomi
berkata kepada Fir'aun: Orang-orang tua
dari Bani Israil
akan mati sesuai
dengan ajal mereka, sedangkan anak-anak kecilnya disembelih maka
ini akan berakhir
pada hancurnya dan binasanya Bani Israil namun Fir'aun akan kehilangan
kekayaan dan aset manusia yang dapat bekerja untuknya atau menjadi
budak-budaknya dan wanita-wanita tidak
dapat lagi dimilikinya. Maka
yang terbaik adalah, hendaklah dilakukan
suatu proses sebagai
berikut: Anak laki-laki
disembelih pada tahun yang
pertama dan hendaklah mereka
dibiarkan pada tahun berikutnya. Fir'aun
sependapat dengan fikiran
ini kerana itu
dianggap lebih menguntungkan
dari sisi ekonomi.
Ibu Musa mengandung Harun pada tahun di mana anak-anak kecil
tidak dibunuh maka ia melahirkannya
secara terang-terangan. Ketika
datang tahun yang ditetapkan di dalamnya bahawa anak-anak
kecil harus dibunuh, ia melahirkan Musa. Saat melahirkan Musa, sang ibu
merasakan ketakutan yang luar biasa. la mencemaskan bahawa jangan-jangan anaknya akan
dibunuh.Maka si ibu
menyusuinya secara sembunyi- sembunyi. Kemudian
datanglah suatu malam yang penuh berkah di mana Allah s.w.t
mewahyukan kepadanya:
"Dam
Kami ilhamkan kepada
ibu Musa: 'Susuilah
dia dan apabila
khuatir terhadapnya maka jatuh kalah ia ke dalam sungai (Nil). Dan
janganlah kamu khuatir dan janganlah
(pula) bersedih hati,
kerana sesungguhnya Kami
akan mengembalikannya
kepadamu, dan menjadikannya (salah
seorang) dari para rasul.'" (QS. al-Qashash: 7)
Mendengar wahyu Allah s.w.t itu dan mendengar panggilan yang
penuh kasih sayang dan suci
ini, ibu Musa
langsung mentaatinya. Ia
diperintahkan untuk membuat peti
kecil bagi Musa. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di peti itu. Kemudian ia
pergi ke tepi sungai Nil dan membuangnya di atas air. Hati sang ibu
adalah hati yang
paling pengasih di
dunia. Hatinya dipenuhi penderitaan saat ia melemparkan
anaknya di sungai Nil, tetapi ia menyedari bahawa Allah s.w.t lebih Pengasih
terhadap Musa dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t lebih mencintainya
dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t adalah Tuhannya dan Tuhan sungai Nil.
Belum lama peti
itu menyentuh sungai
Nil sehingga sang
Pencipta mengeluarkan perintah kepada arus sungai agar menjadi tenang
dan bersikap lembut terhadap bayi yang dibawanya yang pada suatu hari akan
menjadi Nabi.
Sebagaimana Allah s.w.t memerintahkan kepada api agar
menjadi dingin dan membawa
keselamatan bagi Nabi
Ibrahim, begitu juga
Allah s.w.t memerintahkan kepada
sungai Nil agar
membawa Musa dengan
tenang dan penuh kelembutan sehingga
menyerahkannya ke istana
Fir'aun. Air sungai
nil membawa peti yang mulia ini ke istana Fir'aun. Di sana ombak menyerahkannya
kepada tepi pantai kemudian ia mewasiatkan kepada tepi pantai itu. Dan angin
berkata kepada rumput yang tidur di sisi peti: Jangan engkau banyak bergerak
kerana Musa sedang tidur. Rumput itu pun mentaati perintah angin dan Musa tetap
tidur.
Pada hari itu,
matahari menyinari istana
Fir'aun. Isteri Fir'aun
keluar berjalan-jalan di kebun
istana sebagaimana biasanya.
Kita tidak mengetahui apa gerangan
yang menjadikannya berjalan-jalan dan
menempuh jarak yang lebih jauh dari yang biasa di
tempuhnya.
Isteri Fir'aun berbeza
sekali dengan Fir'aun.
Fir'aun adalah seorang
kafir sementara isterinya adalah seorang yang beriman. Fir'aun adalah
seorang yang keras kepala sementara isterinya
adalah seorang yang
penyayang. Fir'aun adalah
seorang penjahat sementara isterinya adalah seorang yang lembut dan penuh
cinta. Di samping itu, isterinya merasakan kesedihan yang dalam kerana ia belum
mampu melahirkan anak.
Ia merindukan untuk
mendapatkan anak. Isteri Fir'aun
berhenti di sisi
kebun kemudian bau
harum yang datang
dari pohon itu menyebarkan perasaan sedih akan rasa kesendirian. Pada
saat yang sama, wanita-wanita yang membantunya sudah memenuhi tempat-tempat airyang
diambil dari sungai. Tiba-tiba mereka mendapati peti di sisi kaki mereka.
Mereka membawa peti itu seperti semula ke isteri Fir'aun. Ia
memerintahkan untuk membukanya lalu
mereka pun membukanya.
Betapa terkejutnya isteri Fir'aun ketika
melihat Musa di
dalamnya. Maka ia
pun merasakan bahawa
ia mencintainya seperti anaknya sendiri. Allah s.w.t menaruh dalam
hatinya rasa cinta kepada Musa sehingga air matanya berlinang.
Kemudian ia membawa
peti mati itu.
Isteri Fir'aun membolak-balikkan Musa sambil menangis. Musa terbangun dan ia
pun menangis. Musa tampak lapar ia membutuhkan
air susu pagi
dan tetap menangis.
Fir'aun duduk di
atas meja makan. Ia
menantikan isterinya namun
yang ditunggu belum
hadir. Fir'aun mulai marah
dan mencarinya. Tiba-tiba ia
dikejutkan dengan kedatangan isterinya dengan membawa Musa.
Isteri Fir'aun tampak sangat menyayanginya. Ia
terus menciuminya dan
air matanya berlinangan. Fir'aun
bertanya, "dari mana datangnya
anak kecil ini?"
Kemudian mereka menceritakan kepadanya bahawa mereka menemukannya di
sebuah peti di tepi sungai. Fir'aun berkata:
"Ini
adalah salah satu
anak Bani Israil.
Sesuai dengan peraturan,
anak-anak yang lahir tahun
ini harus dibunuh." Mendengar
keputusan Fir'aun itu,
isteri Fir'aun berteriak dan ia mendekap Musa lebih keras:
"Dan
berkatalah isteri Fir'aun:
'(Ia) adalah penyejuk
mata hati bagiku
dan bagimu. Janganlah kamu
membunuhnya,
mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia
jadi anak.'" (QS. al- Qashash: 9)
Fir'aun tampak kehairanan
sekali melihat aksi
isterinya yang mendekap
anak kecil yang mereka temukan di tepi sungai. Fir'aun tampak tercengang
kerana isterinya menangis dengan
gembira di mana
Fir'aun tidak pernah
mendapati isterinya
menangis kerana gembira
seperti ini. Fir'aun
mulai mengetahui bahawa
isterinya menyayangi anak ini seperti anaknya sendiri. Fir'aun berkata dalam
dirinya: Barangkali ia ingat bahawa ia tidak mampu melahirkan anak dan menginginkan
anak ini. Akhirnya, Fir'aun sepakat atas apa yang dikatakan oleh isterinya.
Fir'aun memenuhi keinginannya dan menyetujuinya untuk mendidik anak ini di
istananya.
Ketika
mendengar persetujuan Fir'aun,
tampaklah keceriaan yang
luar biasa pada wajah isterinya.
Fir'aun belum pernah menyaksikan keceriaan seperti ini. Fir'aun telah
menghadirkan berbagai macam hadiah kepadanya, juga perhiasan dan budak
tetapi ia belum
pernah tersenyum meskipun sekali.
Fir'aun menyangka
bahawa isterinya tidak
mengerti erti sebuah
senyuman. Dan sekarang, Fir'aun melihat sendiri wajahnya dipenuhi dengan
senyum keceriaan. Sementara itu, Musa
mulai menangis kerana
lapar. Isteri Fir'aun
mengetahui bahawa Musa sedang
lapar. Ia berkata
kepada Fir'aun: "Anakku yang
kecil sedang lapar." Fir'aun
berkata: "Datangkanlah kepadanya
para wanita yang menyusui." Kemudian didatangkanlah
kepadanya seorang wanita yang menyusui dari istana. Wanita itu mencuba untuk
menyusui Musa tetapi apa yang terjadi? Musa
menolaknya. Lalu didatangkan
wanita yang kedua
sampai ketiga dan sampai kesepuluh tetapi Musa tetap
menangis dan tidak ingin menyusu kepada seorang pun di antara mereka. Melihat
kenyataan itu, isteri Fir'aun menangis kerana
tidak tahan melihat
penderitaan anak kecil
itu. Ia tidak
mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Kisah Nabi Musa A.S bertemu ibu kandungya
Bukan hanya isteri Fir'aun satu-satunya yang merasa sedih
dan menangis, ibu Musa adalah wanita
lain yang merasa
sedih dan menangis. Ketika
ia melemparkan Musa ke
sungai Nil, ia
merasa bahawa ia
sedang melemparkan buah hatinya
di sungai. Lalu peti yang dilemparkan itu hilang dibawa oleh air sungai dan
beritanya pun tersembunyi. Dan ketika datang waktu pagi, ibu Musa
merasakan kesedihan yang
selalu menghantuinya. Hampir saja
ia pergi ke istana Fir'aun untuk mendapatkan berita
tentang anaknya kalau bukan kerana Allah s.w.t memberi kedamaian dalam hatinya
sehingga ia menyerahkan urusan
anaknya kepada Allah
s.w.t. Alhasil, ia
berkata kepada saudara
perempuan Musa: "Pergilah dengan
tenang ke istana
Fir'aun dan berusahalah untuk mendapatkan berita tentang Musa dan
hendaklah engkau hati-hati agar jangan sampai mereka
mengetahuimu."
Kemudian saudara perempuan Musa
pergi dengan tenang. Akhirnya, ia
mendengarkan kisah tentang
Musa secara sempurna. Ia
melihat Musa dari
kejauhan dan mendengarkan suara tangisannya. Ia melihat mereka
dalam keadaan kebingungan di mana mereka tidak mengetahui bagaimana menyusuinya. Ia
mendengar bahawa Musa menolak setiap wanita yang mencuba
menyusuinya.
Saudara
perempuan Musa berkata
kepada para pengawal
Fir'aun: "Apakah kalian mahu
aku tunjukkan suatu keluarga yang dapat menyusuinya dan dapat
mengasuhnya." Isteri Fir'aun menjawab:
"Seandainya engkau dapat
membawa kepada kami wanita yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya
nescaya kami akan memberimu hadiah yang besar. Yakni sesuatu yang engkau
inginkan akan kami penuhi." Lalu
saudara perempuan Musa
itu kembali dan menghadirkan ibunya. Si
ibu menyusuinya dan
Musa pun menyusu
dengan tenang. Melihat hal itu, Isteri Fir'aun sangat gembira dan
berkata: "Bawalah dia sehingga masa penyusuannya selesai, lalu
kembalikanlah dia kepada kami dan kami
akan memberimu suatu
balasan yang besar
atas penyusuan dan pendidikan yang engkau berikan."
Demikianlah Allah
s.w.t mengembalikan Musa
kepada ibunya agar
ia merasa gembira dan
hatinya menjadi tenang
dan tidak bersedih
serta agar ia mengetahui bahawa
janji Allah s.w.t
benar dan bahawa
perintah- Nya dan ketentuan-Nya pasti
terlaksana meskipun banyak
rintangan dan tantangan.
Allah s.w.t berfirman:
"Dan
menjadi kosonglah hati
ibu Musa. Sesungguhnya hampir
saja ia menyatakan rahsia
tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia
termasuk orang-orang yang
percaya (kepada janji
Allah). Dan berkatalah ibu
Musa kepada saudara
Musa yang perempuan:
'Ikutilah dia.' Maka kelihatanlah olehnya Musa
dari jauh, sedang
mereka tidak mengetahuinya, dam
Kami cegah Musa
dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mahu
menyusui(nya) sebelum itu;
maka berkatalah saudara Musa: 'Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlu
bait yang akan memeliharanya untukmu dan
mereka dapat berlaku
baik kepadanya?'. Maka Kami
kembalikan Musa kepada
ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan
supaya ia mengetahui bahawa janji Allah itu
adalah benar, tetapi
kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya." (QS.
al-Qashash: 10-13)
Ibu Musa menyempurnakan penyusuan lalu menyerahkannya ke
rumah Fir'aun. Saat itu Musa disenangi dan disukai semua orang.
Allah s.w.t berfirman:
Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang
datang dari- Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku."
(QS.Thaha: 39)
KIsah Masa Kecil Nabi Musa AS
Tiada seorang pun
yang melihat Musa
kecuali ia akan
mencintainya. Musa dididik di
istana terbesar di
bawah bimbingan dan
penjagaan Allah s.w.t. Pendidikan Musa dimulai di rumah
Fir'aun di mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para pengajar. Mesir
saat itu merupakan negara yang besar di dunia dan Fir'aun sebagai raja yang
paling kuat. kerana itu, secara sederhana Fir'aun mampu mengumpulkan para pakar
pendidikan dan para cendekiawan.
Demikianlah
hikmah Allah s.w.t
berkehendak agar Musa
terdidik di bawah pendidikan yang
besar dan ditangani
pakar-pakar pendidikan yang
terlatih. Ironisnya, hal ini terjadi di rumah musuhnya yang pada suatu
hari nanti akan hancur di tangannya, sebagai bentuk pelaksanaan dari perintah
Allah s.w.t.Musa tumbuh di rumah Fir'aun. Beliau mempelajari ilmu hisab,
ilmu bangunan, ilmu kimia, dan bahasa. Beliau tidur di bawah bimbingan
agama. Oleh kerana itu, Musa tidak
mendengar omongan kosong
yang dikatakan oleh
pendidik tentang ketuhanan Fir'aun. Jarang sekali ia mendengar bahawa
Fir'aun adalah tuhan. Beliau pun
menepis pernyataan dan
anggapan ini. Beliau
tinggal bersama Fir'aun di
satu rumah. Beliau
mengetahui lebih daripada
orang lain bahawa Fir'aun hanya
sekadar manusia biasa tetapi ia orang yang lalim. Musa mengetahui bahawa ia
bukanlah anak dari Fir'aun. Beliau adalah salah seorang dari Bani Israil.
Beliau menyaksikan bagaimana pengawal-pengawal Fir'aun dan para pengikutnya menindas
Bani Israil.
Akhirnya, Musa tumbuh
besar dan mencapai kekuatannya.
Kisah Nabi Musa AS membunuh orang Mesir
Ketika para pengawal lalai darinya, Musa memasuki kota. Musa
berjalan- jalan di sekitar kota. Kemudian Musa mendapati seorang lelaki dari
pengikut Fir'aun yang sedang berkelahi dengan seseorang dari Bani Israil. Lalu
seseorang yang lemah dari kedua orang itu meminta tolong kepadanya. Musa pun
turut campur dalam urusan itu.
Musa mendorong dengan
tangannya seorang lelaki
yang berbuat aniaya itu.
Ternyata Musa membunuhnya. Saat
itu Musa memang terkenal sebagai
orang yang kuat
sampai pada batas
di mana dengan
sekali pukul saja untuk melerai musuhnya, ia justru membunuhnya. Tentu
Musa tidak sengaja untuk membunuh orang laki-laki itu.
Tetapi apa yang terjadi? Lelaki itu tersungkur dan
kemudian mati. Musa
berkata kepada dirinya:
Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya
ia adalah musuh yang menyesatkan dan nyata. Kemudian Musa
berdoa kepada Tuhannya dan
berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
telah menganiaya diriku maka
ampunilah aku." Allah s.w.t pun mengampuninya. Dia
Maha Pengampun dan
Maha Penyayang. Allah s.w.t
berfirman: "Dan setelah Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami
berikan kepadanya hikmah kenabian dan
pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang
yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota
(Memphis) ketika penduduknya
sedang lemah, maka
didapatinya di dalam kota
itu dua orang
laki-laki yang berkelahi; yang
seorang dari golongannya (Bani
Israil) dan seorang
lagi dari musuhnya
(kaum Fir'aun). Maka orang
yang dari golongannya meminta pertolongan darinya,
untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan
matilah musuhnya itu. Musa
berkata: 'Ini adalah
perbuatan setan. Sesungguhnya setan itu adalah
musuh yang menyesatkan lagi
nyata (permusuhannya).
Musa berdoa: 'Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku
telah menganiaya diriku sendiri kerana
itu ampunilah aku.'
Maka Allah mengampuninya,
sesungguhnya Dialah Yang
Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. berkata: 'Ya
Tuhanku, demi nikmat
yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali
tiada akan menjadi
penolong bagi orang-orang yang berdosa.'" (QS.
al-Qashash: 14-17)
Kemudian
Nabi Musa menjadi
takut di tengah-tengah kota
dan merasa terancam. Dalam
ayat itu digambarkan bagaimana Nabi
Musa merasakan ketakutan di
mana ia mengkhuatirkan kejahatan
akan datang padanya
pada setiap langkahnya, dan ia begitu sensitif melihat gerak-geri di
sekitarnya. Nabi Musa saat itu menampakkan kegoncangan jiwa yang dahsyat.
Sebenarnya Nabi Musa hanya ingin mempertahankan dirinya saat menolong seseorang
dari Bani Israil.
Ketika itu Nabi
Musa mendorong dengan
tangannya dan bertujuan memisahkan orang Mesir dari orang
Israil tetapi ia justru membunuhnya. Dalam
undang-undang positif dinyatakan
bahawa pembunuhan semacam
ini dianggap sebagai pembunuhan kerana
keteledoran atau kerana
kesalahan bukan kerana faktor kesengajaan sehingga kerananya yang
bersangkutan tidak akan mendapatkan suatu hukuman yang berat. Biasanya orang
yang melakukan pembunuhan
tanpa sengaja akan
mendapatkan keputusan yang meringankannya kerana ia
membunuh tanpa kesengajaan. Tentu
kejadian semacam ini tidak dapat dianggap sebagai pembunuhan dengan
sengaja kerana yang bersangkutan tidak
ingin mencelakakan orang
lain. Nabi Musa
tidak memukul orang itu. Yang ia lakukan hanya mendorongnya. Atau dengan
kata lain, Nabi Musa
hanya sekadar menyingkirkan orang
tersebut. Kita akan mengetahui bahawa Nabi
Musa adalah cermin
lain dari Nabi
Ibrahim. Kedua-duanya dari kalangan
ulul azmi, tetapi
Nabi Ibrahim adalah
cermin kesabaran dan kelembutan sementara Nabi Musa adalah cermin dari
kekuatan dan keperkasaan. Musa
menjadi takut dan
terancam di tengah-tengah kota.
Beliau berjanji
di kemudian hari bahawa
beliau tidak akan
lagi menjadi sahabat
orang- orang yang berbuat
jahat. Beliau tidak
akan lagi terlibat
dalam pertengkaran dan permusuhan antara
sesama penjahat. Di
tengah-tengah
perjalanannya, Musa
dikejutkan ketika melihat
orang yang ditolongnya
kelmarin saat ini
lagi-lagi memanggilnya
dan minta tolong
padanya. Lagi- lagi
orang itu terlibat permusuhan dan pertengkaran dengan
seorang Mesir. Musa mengetahui bahawa orang
Israil ini berbuat
aniaya. Musa mengetahui
bahawa ia termasuk
salah seorang preman di situ. Akhirnya, Musa berteriak di depan wajah
orang Israil itu sambil berkata: "Sungguh ternyata engkau adalah orang
yang jahat.
Musa
mengatakan demikian sambil
mendorong keduanya dan
ia melerai pertengkaran itu. Orang Israil itu
mengira bahawa Musa akan mencelakakannya maka
ia diliputi rasa
takut. Sambil meminta
kasih sayang kepada
Musa, ia berkata: "Wahai
Musa apakah engkau akan membunuhku sebagaimana engkau membunuh orang
yang kemarin. Apakah
engkau ingin menjadi
seorang penguasa di muka
bumi dan tidak
ingin menjadi orang
yang memperbaiki
bumi." Ketika mendengar orang
Israil yang mengatakan demikian, Musa berhenti dan
amarahnya mereda. Musa
mengingat apa yang
dilakukannya kelmarin dan bagaimana ia meminta ampun dan bertaubat serta
berjanji untuk tidak menjadi pembantu orang-orang yang
berbuat jahat. Musa
kemudian kembali dan meminta ampun kepada Tuhannya. Orang Mesir
yang berkelahi dengan
orang Israil itu
mengetahui bahawa Musa
adalah pembunuh orang
Mesir yang mayatnya
mereka temukan kemarin.
Petugas keamanan Mesir
tidak berhasil menyingkap
kasus pembunuhan itu. Akhirnya, rahsia Musa tersingkap lalu
seorang lelaki Mesir yang beriman datang dari
penjuru kota. Ia
membisikkan kepada Musa
bahawa ada suatu
rencana untuk membunuhnya. Ia menasihati Musa agar meninggalkan Mesir
secepatnya. Allah s.w.t berfirman: "kerana itu, jadilah Musa di kota itu
merasa takut menunggu-nunggu dengan khuatir
(akibat perbuatannya), maka
tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kelmarin
berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata
kepadanya:
'Sesungguhnya kamu benar- benar orang
yang sesat yang nyata
(kesesatannya). Maka tat-kala
Musa memegang dengan
keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: 'Hai Musa
apakah kamu bermaksud untuk
membunuhku, sebagaimana kamu
kelmarin telah membunuh seorang manusia?
Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat
sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak
menjadi salah seorang
dari orang-orang yang
mengadakan perdamaian.' Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota
tergesa- gesa seraya berkata: 'Hai
Musa, sesungguhnya pembesar sedang
berunding tentang kamu. Sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang
memberi nasihat kepadamu.'" (QS. al-Qashash: 18-20)
Allah menyembunyikan
kepada kita nama laki-laki yang datang mengingatkan Musa itu.
Tetapi menurut hemat
kami, ia adalah
seorang lelaki Mesir
yang tentu memiliki jabatan
penting. Sesuai dengan ayat tersebut,
ia mengetahui adanya persengkongkolan untuk
menyingkirkan Musa dari
kedudukan yang tinggi. Seandainya ia
orang yang biasa-biasa saja
maka orang itu
tidak mengenalnya.
Orang itu mengetahui bahawa
Musa tidak berhak
untuk mendapatkan
hukum bunuh atas
dosanya. Musa membunuh
karena faktor kesalahan, bukan
kerana faktor kesengajaan. Kesalahan semacam itu menurut undang-undang Mesir
yang dahulu dihukum
dengan penjara.
Lalu, mengapa
timbul keinginan untuk
membunuh Musa? Kalau
kita memperhatikan nasihat orang Mesir itu terhadap Musa maka
kita akan menemukan jawapannya. Yaitu perkataannya: "Para pembesar merencanakan persekongkolan untuk menyingkirkanmu."
Al-Mala' adalah para
penguasa atau para
pembesar yang bertanggungjawab pada keamanan.
Kisah Nabi Musa AS
melarikan diri dari kota Mesir
Mereka
menyiapkan persekongkolan untuk
menyingkirkan Musa. Apa yang dilakukan oleh Musa - kalau memang dianggap
sebagai suatu kesalahan - adalah kejahatan
biasa yang hanya
dituntut dengan hukuman penjara. Lalu
siapakah yang membuat
rencana yang demikian,
dan siapakah yang mendorong untuk
melakukan persekongkolan untuk membunuhnya? Kami kira bahawa
kepala keamanan Mesir
tidak menyukai Musa.
Ia mengetahui bahawa Musa adalah
anggota Bani Israil. Ia mengetahui bahawa sampainya peti di istana
Fir'aun merupakan suatu
rekayasa yang dirancang
oleh musuh- musuhnya yang
menginginkan kedudukannya. Ini bererti kerana keteledorannya dan ketelodaran
anak-anak buahnya.
Berapa kali orang
itu menasihati dan menganjurkan agar
Musa dibunuh tetapi
Fir'aun justru menampik
fikiran itu. Dan ketika datang
saat yang ditentukan untuk membunuh Musa, Fir'aun justru tunduk terhadap
Isterinya yang sangat mencintai Musa. Akhirnya, kesempatan emas ada di
depannya. Para pembantunya mengatakan kepadanya bahawa Musalah yang membunuh
orang Mesir yang mereka temukan jasadnya
kelmarin. Selesailah urusan
ini. Kemudian datanglah
perintah dan kesempatan untuk
membunuh Musa. Orang-orang yang membenci Musa mulai mendapatkan angin kegembiraan
di mana mereka akan melihat Musa terbunuh, tetapi Allah s.w.t mengirim seorang
Mesir yang baik untuk mengingatkan Musa agar berlari dari kejaran orang-orang
yang lalim.
Allah s.w.t berfirman: "Maka keluarlah
Musa dari kota
itu dengan rasa
takut menunggu- nunggu dengan khuatir, dia
berdoa: 'Ya Tuhanku,
selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.'"
(QS. al-Qashash: 21)
Musa meninggalkan kota dan menjadi orang yang terusir. Musa
segera keluar dalam keadaan takut dan sambil waspada Musa selalu berdoa dalam
hatinya: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku
dari orang-orang yang
lalim." Kaum itu memang benar-benar orang-orang yang
lalim.
Mereka ingin
menerapkan hukuman bagi pembunuh
dengan sengaja atas
Musa, padahal Musa
tidak melakukan selain berusaha
memisahkan orang yang
berkelahi tetapi dengan tidak sengaja ia membunuhnya. Musa
segera keluar dari Mesir. Beliau tidak lagi pergi ke
istana Fir'aun dan
tidak mengganti pakaiannya, dan
beliau tidak membawa makanan untuk
perjalanan. Beliau tidak
membawa binatang
tunggangan yang dapat
menghantarkannya. Beliau
tidak pergi bersama
suatu kafilah. Beliau langsung pergi ketika mendapatkan khabar dari
seorang mukmin yang mengingatkannya dari ancaman Fir'aun. Musa melalui jalan
yang tidak lazim dilalui orang biasa. Musa memasuki gurun dan ia menuju ke
suatu tempat yang di situ Allah s.w.t membimbingnya. Ini adalah pertama kalinya
beliau keluar dan mengharungi gurun pasir sendirian. Kemudian sampailah Musa
di suatu tempat
yang bernama Madyan.
Kisah Nabi Musa AS bertemu Puteri Nabi Syuaib AS
Musa istirahat
dan duduk-duduk di
dekat sumur yang
besar di mana
di situ orang-orang mengambil
air untuk memberi
minum kepada binatang-binatang tunggangan mereka
dan binatang-binatang gembalaan mereka.
Musa tidak membawa makanan
selain daun-daun pohon.
Musa minum dari
sumur-sumur yang
ditemukannya di tengah
jalan. Sepanjang perjalanan
Musa merasakan ketakutan;
jangan-jangan Fir'aun mengirim orang untuk menangkapnya. Ketika Musa sampai di
kota Madyan Musa berbaring di sisi pohon dan istirahat. Musa merasa lapar
dan keletihan. Sandal
yang dipakainya tampak
mulai rosak. Beliau tidak
mempunyai wang yang
cukup untuk membeli
sandal baru, dan beliau
juga tidak mempunyai
wang yang cukup
untuk membeli makanan
dan minuman.
Nabi Musa
memperhatikan kumpulan pengembala yang sedang mengambil air untuk
kambing-kambing mereka. Musa ingat bahawa ia sedang lapar dan haus. Ia berkata
dalam dirinya: Aku
tidak dapat memenuhi perutku
dengan air selama aku
tidak memiliki wang
yang cukup untuk
membeli makanan. Musa berjalan menuju
tempat air. Sebelum
sampai, ia mendapati
dua orang perempuan yang
sedang menyendirikan kambing-kambingnya agar
jangan sampai tercampur dengan
kambing orang lain.
Melalui ilham, Musa
merasa bahawa kedua wanita itu membutuhkan pertolongan. Musa lupa
terhadap rasa hausnya, lalu beliau
menuju ke arah
mereka dan bertanya,
apakah ia dapat membantu mereka? Lalu
seorang gadis yang
paling tua berkata:
"Kami menunggu sampai selesainya para gembala itu mengambil air
untuk binatang gembalaan mereka."
Musa bertanya: "Mengapa kalian
tidak mengambil air sekarang?" Gadis
yang paling kecil
berkata: "Kami tidak
mampu untuk
berdesak-desakan dengan kaum
lelaki." Nabi Musa
kehairanan kerana
mengetahui kedua gadis
itu menggembala kambing. Seharusnya yang mengembala kambing
adalah kaum lelaki.
Ini adalah tugas
yang berat dan sangat
melelahkan. Musa bertanya:
"Mengapa kalian menggembala
kambing?" Masih kata gadis
yang paling kecil:
"Orang tua kami
sudah tua di
mana kesehatannya tidak dapat
membantunya untuk keluar
dari rumah
dan menggembala kambing setiap
hari." Musa berkata:
"Kalau begitu, aku
akan membantu kalian untuk mengambil air tersebut." Musa berjalan
menuju tempat air. Musa mengetahui bahawa para penggembala meletakkan di
atas bibir air
suatu batu besar
yang tidak bisa
digerakkan kecuali oleh sepuluh
orang. Musa merangkul
dan mengangkatnya dari
bibir sumur. Otot-otot Musa
tampak menonjol saat
memindahkan batu itu.
Musa adalah seorang lelaki yang kuat. Akhirnya, Musa berhasil
mengambilkan air bagi remaja
puteri itu, dan
kemudian ia mengembalikan batu
itu ke tempatnya. Musa kembali
duduk di bawah
naungan pohon. Saat
itu Musa lupa
untuk minum. Perut Musa menempel
ke punggungnya kerana saking laparnya.
Musa mengingat Allah s.w.t dan memanggil-Nya dalam hatinya:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
sangat memerlukan suatu
kebaikan yang Engkau turunkan
kepadaku." (QS. al-Qashash: 24) "Dan tatkala
ia menghadap ke
jurusan negeri Madyan
ia berdoa (lagi): 'Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku
ke jalan yang benar.' Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia
menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia
menjumpai di belakang orang banyak
itu, dua orang
wanita yang sedang
menambat (ternaknya) Musa berkata: 'Apakah
maksudmu (dengan berbuat
begitu)?' Kedua wanita
itu menjawab: 'Kami tidak
dapat meminumkan (ternak kami),
sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak
kami adalah orang tua
yang telah lanjut
umurnya.' Maka Musa
memberi minum ternak itu
untuk (menolong) keduanya,
kemudian dia kembali
ke tempat yang teduh lalu
berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang
Engkau turunkan kepadaku.'" (QS. al-Qashash: 22-24) Marilah kita
tinggalkan sejenak Nabi
Musa yang sedang
duduk di bawah naungan pohon untuk kemudian kita
melihat apa yang terjadi pada kedua gadis itu.
Kedua gadis itu
kembali ke rumah
ayahnya.
Si ayah bertanya:
"Hari ini kalian kembali
lebih cepat dari
biasanya?" Gadis yang
paling tua berkata: "Sungguh hari
ini kami sangat beruntung. Wahai ayah, kami bertemu dengan seorang lelaki
yang mulia yang
mengambilkan air bagi
haiwan kami sebelum orang-orang lain mengambilnya."
Si ayah berkata: "Alhamdulillah." Gadis yang paling kecil berkata:
"Saya kira wahai ayahku dia datang dari tempat yang jauh dan tampak
ia sedang lapar.
Saya melihat dia
dalam keadaan kecapaian meskipun ia seorang lelaki yang
kuat." Si ayah berkata
kepada anak perempuannya: Pergilah
engkau padanya dan katakan, sesungguhnya ayahku
memanggilmu untuk memberimu upah
atas jasamu mengambilkan air
untukku. Kemudian anak
perempuan itu pergi menemui Musa dalam keadaan hatinya
berdebar-debar. Perempuan itu berdiri di
depan Musa dan
menyampaikan surat dari
ayahnya. Musa bangkit
dari tempat duduknya dan pandangannya tertuju ke bawah. Musa tidak
bermaksud mengambilkan air untuk
mereka dengan tujuan
mengharapkan upah dari mereka.
Beliau membantu
mereka hanya semata-mata
kerana Allah s.w.t. Beliau merasakan
dalam dirinya bahawa
Allah s.w.t-lah yang
mengarahkan beliau untuk membantu mereka. Gadis itu
berjalan di depan
Musa kemudian bertiuplah
angin dan menyentuh pakaiannya sehingga
Musa menundukkan pandangan
matanya kerana merasa malu. Musa
berkata kepadanya: "Saya akan
berjalan di depanmu
dan tunjukkanlah jalan kepadaku." Mereka
pun sampai di
kediaman si ayah. Sebahagian ahli
tafsir mengatakan bahawa
si ayah ini
adalah menjawab: "Saya
lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu diangkat oleh sepuluh
orang lelaki." Si
ayah bertanya lagi:
"Bagaimana engkau
mengetahui bahawa dia seseorang yang jujur." Perempuan itu menjawab:
"Ia menolak untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku
sehingga ia tidak melihatku saat aku berjalan, dan selama perjalanan saat aku
berbincang- bincang padanya, dia selalu menundukkan matanya ke tanah sebagai
rasa malu dan adab yang baik darinya." Kemudian orang tua itu memandangi
Musa dan berkata padanya: "Wahai Musa, aku ingin menikahkanmu dengan salah
satu puteriku.
Dengan syarat,
hendaklah engkau bekerja menggembala kambing bersamaku selama
delapan tahun. Seandainya engkau menyempurnakan sepuluh tahun
maka itu adalah kemurahan darimu. Aku
tidak ingin menyusahkanmu. Sungguh insya-Allah engkau akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang saleh." Musa berkata: "Ini adalah
kesepakatan antar aku
dan engkau dan
Allah s.w.t sebagai
saksi atas kesepakatan kita, baik
aku melaksanakan pekerjaan
selama delapan tahun mahupun sepuluh tahun. Setelah itu,
aku bebas untuk pergi ke mana saja.
" Allah s.w.t berfirman: "Kemudian datanglah kepada
Musa salah seorang
dari kedua wanita
itu berjalan
kemalu-maluan, ia berkata:
'Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar
ia memberi balasan
terhadap (kebaikan) mu
memberi minum (ternak) kami.'
Maka tatkala Musa
mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita
(mengenai dirinya), Syu'aib
berkata: 'Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang
lalim itu.' Salah seorang dari
kedua wanita itu
berkata: 'Wahai bapakku,
ambillah ia sebagai orang
yang bekerja (pada
kita), kerana sesungguhnya orang
yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang
yang kuat lagi dapat dipercayai. Berkatalah dia
(Syu'aib): 'Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan
salah seorang dari kedua anakku ini, atas
dasar bahawa kamu
bekerja denganku delapan
tahun dan jika
kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu,
maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya-Allah akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang
baik.' Dia (Musa)
berkata: 'Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja
dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka
tidak ada tuntutan
tambahan atas diriku
(lagi). Dan Allah adalah saksi
atas apa yang aku ucapkan.'" (QS. al-Qashash: 25-28) Ketika sampai
pada kisah ini,
banyak pena bertebaran
untuk mendapatkanNabi Syu'aib. Beliau memperoleh
usia yang panjang
setelah kematian kaumnya.
Ada juga yang mengatakan bahawa
si ayah adalah putera dari saudara Syu'aib. Ada yang mengatakan bahawa ia
adalah anak dari
pamannya, dan ada
juga yang mengatakan bahawa ia
adalah seorang lelaki
mukmin dari kaumnya.
Yang jelas, ia adalah seorang tua yang soleh. Orang tua itu
menghidangkan kepada Nabi Musa makanan
siang dan bertanya
kepadanya dari mana
ia datang dan kemudian ke mana ia akan pergi.
Musa mengungkapkan ceritanya. Orang
tua itu berkata
kepadanya, jangan khuatir dan
jangan takut. Engkau
akan selamat dari
orang-orang yang lalim. Negeri ini
tidak tunduk pada
Mesir dan mereka
tidak akan sampai
di sini. Mendengar ucapan
itu, Musa menjadi
tenang dan bangkit
untuk pergi. Salah seorang anak perempuan itu berkata
kepada ayahnya dengan berbisik: "Wahai ayahku, berilah
dia upah." Sesungguhnya engkau
akan memberikan upah kepada seorang yang kuat dan jujur.
Si ayah bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau mengetahui dia
seorang lelaki yang
kuat?" Anak perempuannya jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan
yang mencuba menerobos
kesamaran.
Mereka bertanya tentang anak perempuan yang menikahi Musa:
apakah anak perempuan yang paling besar ataukah anak perempuan yang paling
kecil, dan Musa memilih masa bekerja delapan tahun atau sepuluh tahun. Bahkan
mereka menyampaikan berbagai macam
riwayat dan kisah
yang mereka yakini kebenarannya. Kami sendiri meyakini
bahawa Musa menikah dengan salah satu anak perempuan dari orang tua itu tetapi
kita tidak mengetahui siapa dia dan siapa
namanya. Kami meyakini bahawa
beliau menikah dengan
gadis yang memanggilnya untuk
menemui ayahnya. Kemudian gadis
itulah yang menganjurkan
ayahnya agar memberikan upah padanya. Al-Quran al-Karim
melalui konteks ayatnya
menyingkap bentuk kekaguman yang tersembunyi
di balik gadis
itu terhadap Musa.
Barangkali orang tuanya mengetahui bahawa anak perempuannya
menaruh rasa cinta kepada Musa, dan boleh jadi ketika berbicara tentang
pernikahan kepada Musa, ia menyerahkan sepenuhnya kebebasan
Musa untuk memilih.
Mungkin Musa memilih
sendiri gadis mana yang
diminatinya. Tetapi, siapa
gadis yang dipilih
oleh Musa: apakah gadis yang
paling tua atau gadis yang paling kecil? Yang jelas Al-Quran tidak menyebutkan hal
tersebut, meskipun ia
hanya memberikan isyarat kepadanya dalam firman-Nya:
"Kemudian datanglah kepada
Musa salah seorang
dari kedua wanita
itu berjalan kemalu-maluan. " (QS. al-Qashash: 25) Begitu juga Al-Quran
al-Karim tidak menyebutkan waktu yang dihabiskan oleh Musa saat ia bekerja:
apakah sepuluh tahun atau beliau merasa cukup dengan delapan tahun.
Kami sendiri meyakini
sesuai dengan kebiasaan
Musa dan kemurahannya serta
kenabiannya serta kedudukannya sebagai salah satu nabi ulul azmi bahawa beliau
memilih masa yang paling lama, yaitu sepuluh tahun. Pendapat itu juga didukung
oleh hadis Ibnu Abas. Demikianlah Nabi Musa mengabdi kepada orang tua itu
selama sepuluh tahun penuh.
Pekerjaan Nabi Musa terbatas
pada keluar dari
rumah di waktu
pagi untuk menggembala kambing.
Kami kira bahawa
sepuluh tahun masa
yang dihabiskan oleh Nabi
Musa di Madyan
merupakan suatu ketentuan
yang dirancang oleh Allah
s.w.t. Musa berdasarkan agama
Yakub. Kakek beliau adalah Yakub dan Yakub sendiri
adalah cucu dari Ibrahim. Dengan demikian, Musa
adalah cucu dari
Ibrahim dan setiap
nabi yang datang
setelah Ibrahim berasal dari
sulbinya. Maka dari
sini kita memahami
bahawa Musa berada
di atas agama ayah-ayahnya dan datuk- datuknya.
Kisah Nabi Musa AS melihat api di bukit Thuwa
Nabi Musa berdasarkan Islam dan agama tauhid. Nabi Musa
menghabiskan masa sepuluh tahun itu
dalam keadaan jauh
dari kaumnya dan
keluarganya. Masa sepuluh tahun
ini adalah masa
yang paling penting
dalam kehidupannya.
Ia merupakan masa
persiapan yang besar. Pada setiap malam Musa merenungkan bintang-bintang. Musa
mengikuti terbitnya matahari dan tenggelamnya. Pada setiap siang
Musa memikirkan tumbuh-tumbuhan: bagaimana
ia membelah tanah dan mekar. Musa
memperhatikan air: bagaimana ia menghidupkan bumi setelah bumi
itu mati, lalu
bumi itu menjadi
tempat yang indah
dan subur. Musa memperhatikan alam
yang luas dan
ia tampak tercengang
dan kagum dengan ciptaan Allah
s.w.t. Sebenarnya pemikiran-pemikiran dan
perenungan-perenungan tersebut
jauh-jauh hari sudah
tersembunyi di dalam
dirinya dan menetap
di dalam jiwanya. Bukankah
Musa telah terdidik
di istana Fir'aun.
Ini bererti bahawa beliau menjadi seorang Mesir yang
mempunyai wawasan yang luas; orang Mesir yang menunjukkan kekuatan fizikalnya;
orang Mesir dengan segala makanannya dan
minumannya. Jadi, segala
hal yang ada
pada Musa berbau Mesir.
Musa siap-siap untuk menerima wahyu Ilahi dari bentuk yang baru. Yaitu
wahyu Ilahi yang langsung datang
tanpa perantara seorang
malaikat di mana
Allah s.w.t akan berbicara
dengannya tanpa perantara. Oleh kerana itu, sebelum datangnya wahyu itu perlu
adanya persiapan mental dan moral, sedangkan
persiapan fizik telah
selesai dilaluinya di
Mesir. Musa tumbuh di istana
yang paling besar yang dimiliki penguasa di bumi dan di suatu pemerintahan yang
paling kaya di bumi. Musa menjadi seorang pemuda yang kuat di mana hanya
sekadar memisahkan seseorang yang berkelahi, ia justru membunuhnya.
Setelah persiapan
fizik yang sangat
kuat, kini Musa
harus melewati persiapan mental
yang seimbang. Yaitu
persiapan yang dilakukan melalui pengasingan
yang sempurna di
mana beliau hidup
di tengah-tengah gurun dan
tempat penggembalaan yang
beliau belum pernah
menginjakkan kakinya di sana. Beliau hidup di tengah-tengah orang asing
yang belum pernah beliau lihat sebelumnya. Sering kali Musa mendapatkan
kesunyian dan keheningan di balik pengasingan itu. Allah s.w.t mempersiapkan
hal tersebut kepada nabi- Nya agar setelah itu beliau mampu memegang amanat
yang besar dari Allah s.w.t. Datanglah suatu hari atas
Musa. Selesailah masa
yang ditentukan. Kemudian
Musa merasakan kerinduan untuk
kembali ke Mesir.
Dengan berlalunya waktu,
hukuman yang harus dijalaninya
dengan sendirinya gugur.
Musa mengetahui hal
itu, tetapi beliau juga
mengetahui bahawa undang-undang di
Mesir sebenarnya terletak pada kekuatan
penguasa; jika penguasa
berkehendak maka Musa
dapat menerima hukuman dan jika tidak berkehendak maka dia akan
memaafkannya, meskipun yang bersangkutan berhak
mendapatkan hukuman. Alhasil,
Musa menyedari hal itu, Musa tidak sepenuhnya yakin ia akan selamat
ketika beliau menginjakkan kakinya di Mesir seperti keyakinannya bahawa beliau
selamat di tempatnya sekarang. Meskipun
demikian, rasa rindunya
untuk melakukan perjalanan kembali
ke tempatnya mendorong
Musa segera menuju
ke Mesir. Musa tepat mengambil
keputusan. Musa berkata kepada Isterinya: "Besok kita akan memulai
perjalanan ke Mesir." Isterinya berkata dalam dirinya: "Di dalam
perjalanan terdapat seribu macam bahaya
tetapi ketenangan tetap
menghiasai wajah Musa."
Isteri Musa tetap taat
kepada Musa. Nabi
Musa sendiri tidak
mengetahui rahsia tentang keputusannya yang cepat untuk
kembali ke Mesir setelah sepuluh tahun beliau pergi melarikan diri, lalu mengapa
sekarang ia kembali ke sana? Apakah beliau rindu kepada
ibunya dan saudaranya? Apakah
beliau berfikir untuk mengunjungi Isteri Fir'aun yang telah
mendidiknya layaknya ibunya dan sangat mencintainya layaknya ibunya sendiri?
Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terlintas dalam diri Musa saat
beliau berkeinginan untuk kembali ke Mesir.
Hanya saja, yang
kita ketahui bahawa
Nabi Musa terbimbing
dengan ketetapan- ketetapan Ilahi sehingga beliau tidak melangkahkan
kakinya kecuali berdasarkan ketetapan tersebut. Musa keluar
bersama keluarganya dan
melakukan perjalanan. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan
yang tebal, dan kegelapan rnenyelimuti sana-sini. Sementara itu, petir
menyambar sangat keras dan langit menurunkan hujan.
Cuaca tampak tidak bersahabat. Di tengah- tengah
perjalanannya, Musa tersesat. Musa mendapatkan dua potongan batu kemudian
beliau memukulkan kedua-nya dan menggesek-gesekan keduanya
agar mendapatkan api
darinya sehingga beliau dapat berjalan. Tetapi sayang, beliau tidak
mampu melakukan hal itu. Angin yang bertiup kencang memadamkan api kecil itu.
Nabi Musa berdiri dalam keadaaan bingung dan tubuhnya tampak menggigil di
tengah-tengah keluarganya. Kemudian
Nabi Musa mengangkat
kepalanya dan menyaksikan
sesuatu dari jauh. Sesuatu yang beliau saksikan adalah api yang sangat besar
yang menyala-nyala dari
kejauhan. Maka hati
Musa dipenuhi dengan rasa
gembira.
Ia berkata
kepada keluarganya: "Aku
melihat api di sana." Lalu beliau memerintahkan
kepada mereka untuk tinggal di tempatnya sehingga beliau pergi ke api itu.
Barangkali di sana beliau mendapatkan suatu berita atau
akan menemukan seseorang yang
dapat memberinya petunjuk sehingga beliau
tidak tersesat, atau
beliau dapat membawa
sebahagian api yang menyala
sehingga tubuh mereka menjadi hangat. Keluarganya melihat api yang diisyaratkan
oleh Musa tetapi sebenarnya mereka tidak
melihat sesuatu pun.
Mereka tetap mentaatinya dan
duduk sambil menunggu kedatangan Musa.
Musa bergerak menuju
ke tempat api.
Musa segera berjalan untuk menghangatkan tubuhnya, sementara tangan
kanannya memegang tongkatnya dan tubuhnya tampak basah kuyup kerana hujan. Nabi
Musa tetap berjalan
sampai ia mencapai
suatu lembah yang
bernama Thua'. Beliau menyaksikan
sesuatu yang unik di lembah ini. Di lembah itu tidak ada rasa dingin dan tidak
ada angin yang bertiup. Yang ada hanya keheningan. Nabi Musa mendekati api.
Belum lama beliau
mendekatinya sehingga beliau mendengar suara panggilan:
"Maka tatkala dia
tiba di (tempat)
api itu, diserulah
dia: 'bahawa telah diberkati orang-orang
yang berada di
dekat api itu,
dan orang-orang yang berada di
sekitarnya. Dan Maha
Suci Allah, Tuhan
semesta alam." (QS. an-Naml: 8) Tiba-tiba Nabi
Musa berhenti dan
badannya menggigil. Suara
itu tampak terdengar dan
datang dari segala
tempat dan tidak
berasal dari tempat tertentu. Musa
melihat api dan
beliau kembali merasa
menggigil. Beliau mendapati
suatu pohon hijau dari duri dan setiap kali pohon itu terbakar dan berkobar api
darinya maka pohon itu justru semakin hijau. Seharusnya pohon itu berubah
warnanya menjadi hitam saat terbakar, tetapi anehnya api justru
meningkatkan warna hijaunya. Musa
tetap menggigil meskipun beliau merasakan kehangatan dan tampak
mulai berkeringat. Lembah yang di situ Musa berdiri adalah lembah Thua'. Musa
meletakkan kedua tangannya di atas
kedua matanya kerana
saking dahsyatnya cahaya.
Beliau melakukan yang demikian itu sebagai usaha untuk melindungi kedua
matanya. Kemudian Musa bertanya dalam dirinya: Ini cahaya atau api? Tiba-tiba
beliau tersungkur ke tanah sebagai wujud rasa takut,
lalu Allah s.w.t
memanggil: "Wahai Musa." (QS. Thaha: 11) Musa mengangkat kepalanya
dan berkata: "Ya." Allah berkata: "Sesungguhnya Aku adalah
Tuhanmu." (QS. Thaha: 12) Musa semakin menggigil dan berkata: "Benar
wahai Tuhanku." Allah s.w.t berkata: "Maka lepaskanlah kedua sandalmu
sesungguhnya engkau berada di lembah yang
suci yang bernama Thua'."
Musa tertunduk dan
rukuk sementara tubuhnya tampak
gementar dan beliau
mulai melepas sandalnya Allah s.w.t berkata: Maka tinggalkanlah kedua
terompahmu;
sesungguhnya kamu berada
di lembah yang suci, Thuwa'. " (QS. Thaha: 12) Musa rukuk
dan melepas kedua
sandalnya.
Kewahyuan Nabi Musa AS
Kemudian
Allah s.w.t kembali berkata: "Dan Aku
telah memilih kamu,
maka dengarkanlah apa
yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku
ini adalah Allah,
tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku,
maka sembahlah Aku
dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.
Sesungguhnya hari kiamat
itu akan datang.
Aku merahsiakan (waktunya) agar
supaya tiap-tiap diri
itu dibalas dengan
apa yang diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya
oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa
nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa." (QS. Thaha: 13-16) Musa semakin
gementar saat beliau menerima wahyu Ilahi dan saat berdialog dengan Allah
s.w.t. Allah s.w.t
yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang berkata: "Apakah itu yang
ada di tangan kananmu, hai Musa?" (QS. Thaha: 17) Bertambahlah kehairanan
Nabi Musa. Allah s.w.t adalah Zat yang mengajaknya berbicara dan
tentu Dia lebih
mengetahui daripada Musa
tentang apa yang dipegangnya, lalu mengapa Allah s.w.t
bertanya kepadanya jika memang Dia lebih
mengetahui darinya. Tak
ragu lagi bahawa
di sana ada
hikmah yang tinggi.
Musa menjawab pertanyaan itu dengan suaranya yang tampak
mengigil: "Ini adalah tongkatku, aku
bertelekan padanya, dan
aku pukul (daun) dengannya untuk
kambingku, dan bagiku
ada lagi keperluan
yang lain padanya." (QS.
Thaha: 18) Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" (QS. Thaha:
19) Musa melemparkan tongkatnya
dari tangannya dan
rasa hairannya semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba
Musa dikejutkan ketika
melihat tongkat itu
menjadi ular yang besar.
Ular itu bergerak
dengan cepat. Musa
tidak mampu lagi menahan rasa
takutnya. Musa merasa
tubuhnya bergetar kerana
rasa takut. Musa membalikkan
tubuhnya kerana takut dan ia mulai lari. Belum lama ia lari, belum sampai dua
langkah, Allah s.w.t memanggilnya: "Hai
Musa, janganlah kamu
takut, sesungguhnya orang
yang menjadikan rasul, tidak
takut di hadapanku. " (QS. an-Naml: 10) "Hai Musa
datanglah kepada-Ku dan
janganlah kamu takut.
Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. " (QS. al-
Qashash: 31)
Musa kembali memutar
badannya dan berdiri.
Tongkat itu tampak
bergerak dan ular itu pun tetap bergerak. Allah s.w.t berkata kepada
Musa: "Peganglah ia dan
janganlah takut, Kami
akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. " (QS. Thaha:
21) Musa menghulurkan tangannya ke
ular itu dalam
keadaan menggigil. Musa belum sempat menyentuhnya sehingga ular
itu menjadi tongkat. Demikianlah perintah
Allah s.w.t terjadi
dengan cepat. Kemudian Allah
s.w.t memerintahkan kepadanya: "Masukanlah tanganmu ke leher
bajumu, nescaya ia keluar putih tidak bercacat bukan kerana
penyakit, dan dekapkanlah
kedua tanganmu (ke
dada)mu bila ketakutan. "
(QS. al-Qashash: 32) Musa
meletakkan tangannya di
kantongnya lalu ia
mengeluarkannya dan
tiba-tiba tangan itu
bersinar bagaikan bulan.
Kembali rasa kagum
Musa bertambah. Lalu ia meletakkan tangannya di
dadanya sebagaimana
diperintahkan Allah s.w.t padanya sehingga rasa takutnya benar-benar hilang.
Musa merasa tenang
dan terdiam. Kemudian
Allah s.w.t memerintahkan kepadanya - setelah beliau melihat
kedua mukjizat ini, yaitu mukjizat tangan dan mukjizat tongkat - untuk pergi
menemui Fir'aun dan berdakwah kepadanya dengan
penuh kelembutan dan
kasih sayang dan
Allah s.w.t memerintahkan kepadanya untuk mengeluarkan
Bani Israil dari Mesir. Musa menampakkan rasa takutnya kepada Fir'aun.
Musa berkata bahawa ia telah membunuh seseorang di antara
mereka dan beliau
khuatir mereka akan
membunuhnya dan membalasnya. Musa
meminta kepada Allah
s.w.t dan memohon
kepada-Nya agar mengirim saudaranya Harun bersamanya. Allah s.w.t
menenangkan Musa dengan mengatakan bahawa
Dia akan selalu
bersama mereka berdua.
Dia mendengar dan menyaksikan gerak-geri dan
perbuatan mereka. Meskipun Fir'aun terkenal dengan
kejahatannya dan kekuatannya, namun kali ini Fir'aun tidak akan
mampu mengganggu atau
menyakiti mereka. Allah
s.w.t memberitahu Musa bahawa
Dia-lah yang akan
menang. Musa berdoa
dan memohon kepada Allah
s.w.t agar melapangkan hatinya
dan memudahkan urusannya serta
memberinya kekuatan dalam berdakwah di jalan-Nya. Allah s.w.t berfirman:
"Apakah telah sampai
kepadamu kisah Musa
? Ketika ia
melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya:
'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku
melihat api, mudah-mudahan aku
dapat membawa sedikit
darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. Maka
ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: Hai Musa, sesungguhnya Aku
adalah Tuhanmu. Maka tinggalkanlah kedua
terompahmu;
sesungguhnya kamu berada di
lembah yang suci,
Thuwa'. Dan Aku
telah memilih kamu,
maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku
ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku
dan dirikanlah salat
untuk mengingat Aku.
Sesungguhnya hari kiamat
itu akan datang. Aku
merahsiakan (waktunya) agar
supaya tiap-tiap diri
itu dibalas dengan apa yang diusahakan.
Maka sekali-kali janganlah kamu kamu dipalingkan darinya
oleh orang yang
tidak beriman kepadanya
dan oleh orang yang
mengikuti hawa nafsunya,
yang menyebabkan kamu
binasa. Apakah itu yang
ada di tangan
kananmu, hai Musa,
'Ini adalah tongkatku, aku bertelehan padanya, dan
aku pukul (daun)
dengannya untuk
kambingmu, dan bagiku
ada lagi keperluan
yang lain padanya.'
Allah berfirman:
Lemparkanlah ia, hai
Musa!' Lalu dilemparkanlah tongkat
itu, maka tiba-tiba ia
menjadi seekor
ular yang merayap
dengan cepat. Peganglah ia
dan janganlah takut,
Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah
tanganmu ke ketiakmu, nescaya ia ke luar
menjadi putih cemerlang tanpa
cacat, sebagai mukjizat
yang lain (pula), untuk
Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari
tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar. Pergilah kepada Fir'aun;
sesungguhnya ia telah melampaui
batas. Berkata Musa:
'Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan
mudahkanlah untukku urusanku,
dan lepaskanlah kekakuan dari lidah,
supaya mereka mengerti
perkataanku, dan jadikanlah
untukku seorang pembantu dari
keluargaku, (yaitu) Harun
saudaraku, teguhkanlah
dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya
kami banyak bertasbih
kepada Engkau, dan
banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah
Maha Melihat
(keadaan) kami.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah
diperkenankan permintaanmu, hai
Musa.' Dan sesungguhnya Kami
telah memberi nikmat
kepadamu pada kali
yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang
diilhamkan, yaitu: Letakkanlah ia
(Musa) di dalam
peti, kemudian lemparkanlah ia
ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya
diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya.' Dan Aku telah melimpahkan
kepadamu kasih sayang yang
datang dari-Ku; dan
supaya kamu diasuh
di bawah pengawasan-Ku. (Yaitu)
ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga
Fir'aun): 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang
akan memeliharanya?' Maka
Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar
senang hatinya dan
tidak berduka cita.
Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami
selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami
telah mencubamu dengan beberapa cubaan;
maka kamu tinggal beberapa tahun
di antara penduduk Madyan, kemudian kamu
datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu
untuk diri-Ku. " (QS. Thaha: 9-41) Kita tidak mengetahui apa yang kita
akan katakan dan apa yang kita komentar berkaitan dengan
firman Allah s.w.t
kepada salah seorang
hamba-Nya: "Dan Aku telah
memilihmu untuk diri-Ku." Allah s.w.t telah memilih Musa. Itu adalah salah
satu puncak kemuliaaan di mana tidak ada seseorang pun di zaman itu yang mampu
mencapainya selain Musa.
Kisah Nabi Musa AS kembali ke tanah mesir
Nabi Musa kembali
untuk menemui keluarganya setelah
Allah s.w.t memilihnya
sebagai Rasul atau
utusan untuk berdakwah ke
Fir'aun. Akhirnya, Nabi
Musa beserta keluarganya berjalan menuju ke Mesir. Hanya Allah
s.w.t yang mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas di
dalam diri Musa
saat beliau mengayunkan
langkahnya menuju ke Mesir. Selesailah masa-masa perenungan dan
dimulailah hari-hari kedamaian dan kebahagiaan, dan
akhirnya datanglah hari-hari
yang sulit. Demikianlah
Nabi Musa memikul
amanat kebenaran dan
pergi untuk menyampaikannya kepada salah satu penguasa yang paling
bengis dan paling kejam dan paling jahat di zamannya. Nabi
Musa mengetahui bahawa
Fir'aun adalah orang
yang jahat. Fir'aun akan
berusaha memberhentikan langkah
dakwahnya dan Fir'aun
akan menentangnya tetapi Allah s.w.t memerintahkannya untuk pergi ke
Fir'aun dan berdakwah
kepadanya dengan kelembutan dan
kasih sayang. Allah
s.w.t mewahyukan kepada Musa bahawa Fir'aun tidak akan beriman tetapi
Nabi Musa tidak peduli dengan hal itu. Beliau diperintahkan untuk melepaskan
Bani Israil yang sedang diseksa oleh Fir'aun. Allah s.w.t berkata kepada Musa
dan Harun: "Maka datanglah kamu
berdua kepadanya (Fir'aun) dan
katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka
lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka."
(QS. Thaha: 47) Inilah tugas yang ditentukan, yaitu tugas yang akan berbenturan
dengan ribuan tantangan. Fir'aun menyeksa Bani Israil dan menjadikan mereka
budak-budak dan memaksa mereka untuk bekerja di luar kemampuan mereka. Fir'aun
juga menodai kehormatan wanita-wanita mereka
dan menyembelih anak laki-laki mereka.
Kisah dakwah Nabi Musa AS di tanah mesir
Nabi Musa mengetahui bahawa rejim
Mesir berusaha untuk memperbudak Bani
Israil dan mengeksploitasi mereka
di luar kemampuan mereka demi kepentingan penguasa.
Tetapi Nabi Musa tetap memperlakukan dan
menghadapi Fir'aun dengan
penuh kelembutan dan
kasih sayang sebagaimana yang
diperintahkan oleh Allah s.w.t padanya: "Pergilah kamu
berdua kepada Fir'aun,
sesungguhnya dia telah melampaui
batas; maka berbicaralah kamu
berdua kepadanya dengan
kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 43-44) Musa bercerita
kepada Fir'aun tentang
siapa sebenarnya Allah s.w.t,
rahmat-Nya, tentang syurganya, dan tentang kewajipan
mengesakan-Nya dan menyembah-Nya.
Beliau berusaha mem-bangkitkan aspek-aspek
kemanusiaan Fir'aun
melalui pembicaraan tersebut. Fir'aun
mendengarkan apa yang dikatakan oleh Musa dengan penuh
kebosanan. Fir'aun membayangkan bahawa seseorang yang di hadapannya adalah
orang gila yang nekad untuk menentang dan menggoyang kedudukannya. Kemudian
Fir'aun mengangkat tangannya dan berbicara: "Apa yang engkau inginkan, hai
Musa?" Musa menjawab: "Aku ingin agar engkau membebaskan Bani
Israil." Fir'aun bertanya: "Mengapa aku harus membebaskan mereka
bersamamu sementara mereka adalah budak- budakku?" Musa menjawab:
"Mereka adalah hamba-hamba
Allah s.w.t, Tuhan
Pengatur alam
semesta." Dengan nada
mengejek Fir'aun bertanya:
"Bukankah engkau mengatakan
bahawa namamu Musa?" Musa menjawab: "Benar." Fir'aun berkata:
"Bukankah engkau yang
kami temukan di
sungai Nil saat
engkau masih kecil yang
tidak mempunyai daya
dan kekuatan? Bukankah
engkau Musa yang
aku didik di istana
ini, lalu engkau
memakan makanan kami
dan meminum air kami, dan engkau menikmati kebaikan-
kebaikan dari kami? Bukankah engkau yang membunuh seseorang lalu setelah itu
engkau lari? Tidakkah engkau ingat semua
itu? Bukankah mereka
mengatakan bahawa pembunuhan
merupakan suatu kekufuran? Kalau
begitu, engkau seorang
kafir dan engkau
seorang pembunuh. Jadi engkau adalah Musa yang lari dari hukum Mesir.
Engkau adalah seseorang yang lari
dan menghindari keadilan.
Lalu sekarang engkau
datang kepadaku dan berusaha berbicara denganku. Engkau berbicara
tentang apa hai Musa. Sungguh aku telah lupa." Musa mengerti
bahawa Fir'aun mengingatkan padanya
tentang masa lalunya dan
Fir'aun berusaha menunjukkan
kepadanya bahawa ia
telah mendidiknya dan berlaku baik
padanya. Musa juga
memahami bahawa Fir'aun mengancamnya dengan
pembunuhan. Musa memberitahu
Fir'aun, bahawa ia bukan
seorang kafir ketika
membunuh seorang Mesir
tetapi saat itu
beliau melakukannya dengan tidak sengaja. Musa memberitahu Fir'aun
bahawa ia lari dari Mesir kerana
khuatir akan pembalasan mereka. Pembunuhan yang dilakukan olehnya
bersifat tidak sengaja.
Musa tidak bermaksud untuk membunuh seseorang.
Musa telah memberitahu
Fir'aun bahawa Allah
s.w.t telah memberinya hikmah dan menjadikannya salah seorang Rasul.
Allah s.w.t menceritakan sebahagian dialog antara Musa dan Fir'aun dalam surah
as-Syuara' sebagaimana firman-Nya: "Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu
menyeru Musa (dengan
firman-Nya): 'Datangilah kaum yang lalim itu, (yaitu) kaum Fir'aun.
Mengapa mereka tidak bertakwa?
Berkata Musa: 'Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku
takut bahawa mereka akan
mendustakan aku.
Dan (kerananya) sempitlah dadaku tidak lancar lidahku maka
utuslah (Jibril) kepada Harun.
Dan aku berdosa terhadap mereka, maka
aku takut mereka
akan membunuhku.' Allah berfirman: 'Janganlah takut
(mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami
bersamamu mendengarkan
(apa-apa yang mereka
katakan). Maka datanglah kamu
berdua kepada Fir'aun dan
katakanlah: 'Sesungguhnya kami
adalah Rasul Tuhan
semesta alam, lepaskanlah Bani
Israil (pergi) beserta
kami.' Fir'aun menjawab: 'Bukankah kami telah mengasuhmu di
antara (keluarga) kami, waktu kamu masih
kanak-kanak dan kamu
tinggal bersama kami
beberapa tahun dari umurmu, dan kamu telah berbuat suatu
perbuatan yang telah kamu lakukan itu
dan kamu termasuk
golongan orang-orang yang
tidak membalas guna.' Berkata Musa: 'Aku telah
melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu
aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku
ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara
rasul-rasul. " (QS. as-Syu'ara: 10-21) Kemudian bangkitlah emosi Nabi Musa
ketika Fir'aun mengingatkan bahawa ia telah berbuat baik kepada Musa. Musa
bangkit dan berbicara kepadanya: "Budi
yang kamu limpahkan
kepadaku itu adalah
(disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil." (QS.
asy-Syu'ara: 22) Musa ingin berkata
kepadanya, apakah engkau
mengira bahawa nikmat
yang engkau berikan kepadaku
lalu engkau merasa
telah berbuat baik
padaku, di mana aku adalah salah
seorang lelaki dari kalangan Bani Israil? Apakah nikmat ini sebanding
dengan cara-caramu memperlakukan bangsa
yang besar ini
di mana engkau memperbudak mereka; engkau memperkerjakan mereka dengan
cara yang semena-mena. Jika
ini memang demikian
maka logik mengatakan bahawa kita seimbang: tiada yang
berhutang dan tiada yang meminjam. Jika tidak demikian maka siapa yang
memberikan bahagian yang lebih besar? Alhasil masalahnya adalah dakwah di jalan
Allah s.w.t, yaitu satu urusan yang aku
tidak membawa kepadamu dari
diriku sendiri. Aku
bukan utusan dari bangsa Bani Israil. Aku bukan juga
utusan dari diriku sendiri tetapi aku adalah seorang utusan
dari Allah s.w.t.
Aku adalah utusan
Tuhan Pengatur alam semesta.
Sampai pada tahap
ini Fir'aun mulai
memasuki pembicaraan lebih serius: Fir'aun bertanya:
"Siapakah Tuhan semesta alam itu?" (QS. asy-Syu'ara': 23) Musa
Menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antaranya
keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang)
mempercayai-Nya." (QS. asy-Syu'ara': 24) Berkata Fir'aun
kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu
tidak mendengarkan?" (QS. asy-Syu'ara': 25) Musa berkata dan tidak
mempedulikan ejekan Fir'aun itu: "Tuhan
kamu dan Tuhan
nenek-nenek moyang kamu
yang dahulu. "
(QS. asy-Syu'ara': 26) Fir'aun
berkata kepada mereka
yang datang bersama
Musa dari Bani
Israil: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian
benar- benar orang gila."
Musa kembali berkata
dan tidak memperhatikan tuduhan
Fir'aun dan ejekannya:
"Tuhan yang
menguasai timur dan
barat dan apa
yang ada di
antara keduanya:
(Itulah Tuhanmu) jika
kamu mempergunakan akal.
" (QS. asy-Syu'ara': 28)
Allah s.w.t menceritakan sebahagian
dialog yang terjadi
antara Fir'aun dan Musa dalam surah as-Syu'ara':
"Fir'aun bertanya: 'Siapakah Tuhan semesta alam itu?' Musa Menjawab:
'Tuhan Pencipta langit dan
bumi dan apa-apa
yang di antara
keduanya (itulah Tuhanmu),
jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.' Berkata Fir'aun kepada orang-orang
sekelilingnya: 'Apakah kamu
tidak mendengarkan?' Musa berkata: "Tuhan
kamu dan Tuhan
nenek-nenek moyang kamu
yang dahulu.' Fir'aun berkata:
'Sesungguhnya Rasulmu yang
diutus kepada kamu
sekalian benar-benar orang gila.'
Musa berkata: 'Tuhan
yang menguasai timur
dan barat dan apa
yang ada di
antara keduanya: (Itulah
Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.'" (QS.
asy-Syu'ara': 23-28)
Allah s.w.t mengingatkan dalam
surah Thaha sebahagian dari
peristiwa pertemuan antara Fir'aun dan Nabi Musa. Allah s.w.t berfirman:
"Maka datanglah kamu
kedua kepadanya (Fir'aun) dan
katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka
lepaskanlah Bani Israil bersama kami
dan janganlah kamu
menyeksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu
dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan
keselamatan itu dilimpahkan kepada
orang yang mengikuti petunjuk.
Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahawa seksa itu (ditimpakan) atas orang-orang
yang mendustakan dan
berpaling.' Berkata Fir'aun: 'Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa.'
Musa berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap
sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.' Berkata
Fir'aun: 'Maka
bagaimanakah keadaan-keadaan umat-umat yang
dahulu? Musa menjawab:
'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami
tidak akan salah dan tidak akan salah (pula) lupa.'" (QS. Thaha: 47-52)
Kita perhatikan bahawa
Fir'aun tidak bertanya
kepada Nabi Musa
tentang Tuhan Pengatur alam
atau Tuhan Musa
dan Harun dengan
maksud bertanya
sesungguhnya atau pertanyaan
yang bermaksud untuk
mengetahui kebenaran tetapi perkataan yang
dilontarkan Fir'aun semata-
mata hanya untuk mengejek. Nabi
Musa as menjawabnya
dengan jawapan yang
sempurna dan mengena. Nabi
Musa berkata: "Sesungguhnya Tuhan
kami adalah Dia
yang memberi sesuatu ciptaannya
kemudian Dia membimbing
ciptaannya. Dialah sang Pencipta.
Dia menciptakan berbagi
macam makhluk dan
Dia juga yang membimbingnya sesuai dengan
kebutuhannya sehingga makhluk-makhluk tersebut dapat
menjalani kehidupan dengan
baik. Allah s.w.t-lah
yang mengarahkan segala sesuatu;
Allah s.w.t-lah yang
menguasai segala sesuatu; Allah s.w.t-lah
yang mengetahui segala
sesuatu; Allah s.w.t-lah
yang menyaksikan segala sesuatu." Al-Quran
al-Karim mengungkapkan semua
itu dalam ungkapan yang sederhana namun padat ertinya, yaitu dalam
firman-Nya: "Musa berkata: "Tuhan
kami ialah (Tuhan)
yang telah memberikan
kepada tiap-tiap sesuatu bentuk
kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (QS. Thaha: 50)
Kemudian Fir'aun bertanya,
"lalu bagaimana keadaan
manusia-manusia yang hidup di
abad-abad pertama di mana mereka tidak menyembah Tuhanmu ini?" Fir'aun
masih ingkar dan mengejek dakwah Nabi Musa.
Nabi Musa menjawab: "bahawa masa-masa yang dahulu di
mana mereka tidak menyembah Allah s.w.t adalah masalah yang semua itu berada di
sisi Allah s.w.t. Atau dalam kata lain, semua itu
diketahui oleh Allah
s.w.t. Keadaan di
masa-masa yang dahulu tercatat dalam
kitab Allah s.w.t.
Allah s.w.t menghitung
apa yang mereka kerjakan di
dalam kitab. Allah
s.w.t tidak pernah
lupa." Jawapan Nabi
Musa tersebut berusaha menenangkan
Fir'aun tentang orang-orang
yang hidup di masa-masa pertama. Jadi Allah s.w.t
mengetahui segala sesuatu dan mencatat apa saja yang dilakukan manusia dan
Allah s.w.t tidak menyia-nyiakan pahala mereka. Kemudian
Nabi Musa kembali
menyempurnakan dan menyelesaikan pembicaraannya tentang sifat
Tuhannya: "Yang telah menjadikan bagimu
bumi sebagai hamparan
dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu
jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka
Kami tumbuhkan dengan
air hujan itu
berjenis-jenis dari
tumbuh-tumbuhan. Makanlah dan
gembalakanlah
binatang-binatangmu. Sesungguhnya
pada yang demikian
itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
orang-orang yang berakal.
Dari bumi (tanah)
itulah Kami menjadikan kamu dan
darinya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu
pada kali yang lain. " (QS. Thaha: 53-55) Nabi Musa
menarik perhatian Fir'aun
tentang tanda-tanda kebesaran Allah s.w.t di alam semesta. Nabi Musa
menunjukkan kepadanya bagaimana gerakan angin, hujan, dan tumbuh-tumbuhan.
Kemudian Nabi Musa juga menunjukkan bagaimana pengaruh semua itu pada bumi.
Musa memberitahu kepada Fir'aun bahawa Allah s.w.t menciptakan manusia dari
tanah dan setelah itu Dia akan mengembalikan padanya dengan kematian lalu
mengeluarkan manusia darinya di
hari kebangkitan. Jadi,
di sana terjadi
hari kebangkitan dan
pada hari kiamat manusia akan
menghadap kepada Allah s.w.t. Tidak ada seseorang pun yang dikecualikan dari
hal itu. Semua
hamba Allah s.w.t
akan berdiri dihadapan-Nya pada
hari kiamat, termasuk Fir'aun. Musa
datang kepada Fir'aun
sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan,
tetapi peringatan dari
Musa ini tidak
membikin Fir'aun merenung dan
mendapatkan pelajaran namun justru dialog antara dirinya dan Musa semakin
menajam. Bisa dikatakan
bahawa dialog di
antara mereka menjadi pertentangan. Ketajaman dialog
mulai menghangat. Kemudian berubahlah bahasa dialog itu. Musa
berusaha menyampaikan argumentasi yang sangat
kuat kepada Fir'aun.
Musa berusaha membawa
argumentasi rasional tetapi
Fir'aun berusaha keluar dari ruang lingkup dialog yang berdasarkan logik
yang sehat.
Fir'aun
berusaha menggunakan dialog
dalam bentuk yang
baru, yaitu suatu cara yang Musa tidak mampu lagi melawannya. Ia mulai
menyerang Musa dan mengancamnya. Fir'aun
menunjukkan
penentangannya kepada kebenaran yang
dibawa oleh Musa. Fir'aun
acuh tak acuh
terhadap dakwah Nabi
Musa. Fir'aun mulai menyerang peribadi Musa.
Ia mulai mempersoalkan pakaian Musa
dan kedudukan sosialnya bahkan
ia pun menyerang
cara Musa berbicara.
Setelah menghina Musa sedemikian
rupa, Fir'aun sengaja
memakai metode kekuatan mutlak. Fir'aun
bertanya kepada Musa,
bagaimana ia berani
menentang penyembahan
terhadap dirinya; bagaimana
Musa menyembah selain
dirinya; tidakkah Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah tuhan? Bagaimana
Musa tidak mengetahui hakikat ini
padahal ia terdidik
di istana Fir'aun
dan sangat mengenal lingkungan
di sekitar Fir'aun? Setelah Fir'aun menyampaikan tentang ketuhanan-nya secara
mendasar, ia bertanya
kepada Musa, bagaimana
Musa berani menyembah tuhan
selain dirinya. Ini
bererti bahawa Musa
ingin dimasukan ke dalam
penjara. Tiada ketentuan
di sisi kami
bagi orang yang menyembah selain Fir'aun kecuali
penjara adalah tempatnya: "Fir'aun
berkata: 'Sungguh jika
kamu menyembah Tuhan selain
aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang
dipenjarakan.'" (QS. asy-Syu'ara': 29) Musa mengetahui bahawa argumentasi-argumentasi rasional tidak
lagi bermanfaat. Dialog yang tenang dan sehat berubah menjadi ejekan dan
hinaan serta pada akhirnya
menjadi ancaman hukuman
penjara.
Kisah Mukjizat Nabi Musa AS
Musa mengetahui
bahawa telah tiba
waktunya untuk menunjukkan
mukjizat yang dibawanya. Setelah diancam akan dimasukan ke
dalam penjara, ia berkata kepada Fir'aun: "Musa berkata:
'Dan apakah (kamu
akan melakukan ini)
kendatipun aku tunjukkan
kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?'" (QS. asy- Syu'ara': 30)
Musa menantang kepada
Fir'aun dan Fir'aun
menerima tantangannya. Fir'aun ingin tahu sejauh mana kebenaran
Musa. "Fir'aun berkata: 'Datangkanlah sesuatu
(keterangan) yang nyata
itu, jika kamu adalah termasuk
orang-orang yang benar.'" (QS. asy- Syu'ara': 30-31)
Musa
melemparkan tongkatnya di
ruangan yang besar
itu. Mula-mula Fir'aun menganggap bahawa
tongkat yang dibawanya
jatuh kerana Musa
gementar menghadapinya.
Setelah Fir'aun meminta
padanya bukti atas
kebenaran dakwahnya, tiba-tiba tongkat yang menyentuh tanah itu berubah
menjadi ular yang besar yang
bergerak dengan cepat
dan gesit. Ular
itu menuju ke
arah Fir'aun. Fir'aun tampak pucat kerana takut. Ia tampak gementar di
kerusinya kemudian ia berteriak
agar mereka menjauhkan
ular itu darinya.
Nabi Musa menghulurkan tangannya
ke ular itu lalu ular itu kembali menjadi tongkat yang ada di
tangannya sebagaimana semula.
Setelah peristiwa itu,
keheningan menyeliputi
istana Fir'aun. Nabi
Musa kembali menunjukkan kepada orang-orang yang
berdiri di sekitarnya, mukjizatnya yang
kedua. Musa memasukkan
tangannya di sakunya lalu mengeluarkannya. Tiba-tiba tangan itu menjadi putih
seperti bulan; tangan
itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya
yang memenuhi penjuru istana. Akhirnya, semua orang yang hadir di situ
merasakan kekaguman yang luar
biasa sedangkan Fir'aun
wajahnya tampak menghijau kerana saking takutnya.
Allah s.w.t berfirman: "Maka Musa melemparkan tongkatnya,
yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular
yang nyata. Dan
ia menarik tangannya
(dari dalam bajunya),
maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang- orang yang
melihatnya." (QS. asy-Syu'ara': 32-33)
Keheningan semakin menyelimuti istana Fir'aun. Pengaruh dua
mukjizat yang dibawa oleh Nabi
Musa tertanam pada
jiwa orang-orang yang
hadir di situ. Pertama-tama mereka merasakan
ketakutan dalam diri mereka kemudian Nabi Musa
mengembalikan tangannya ke
sakunya lalu tangannya
kembali seperti semula. Fir'aun
berkata: "Sekarang, pergilah kalian berdua. Nanti kita akan lanjutkan
perbincangan kita." Musa memalingkan wajahnya dan keluar dari istana.
Fir'aun tampak terpukul atas
peristiwa itu. Fikirannya
mulai berputar-putar. Ia membayangkan apa
yang terjadi di
istananya dan di
wilayah kekuasaannya seandainya
berita tentang dua mukjizat itu tersebar di tengah-tengah manusia, lalu manusia
mulai membicarakan tentang Musa
dan Harun.
Fir'aun mengeluarkan
perintahnya agar orang- orang yang melihat peristiwa itu tidak membuka hal itu
kepada masyarakat umum, tetapi para pembantu istana dan sebahagian dari Bani
Israil menyaksikan dua peristiwa itu. Akhirnya, mulailah terjadi perbincangan di
tengah-tengah masyarakat ramai tentang dua mukjizat itu. Fir'aun benar-benar
terdiam ketika menghadapi dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa. Ketika Musa
keluar dari istana Fir'aun yang sebelumnya merasa takut dan gementar, kini
menjadi marah. Ia meluapkan kemarahan itu kepada menterinya dan para
pembantunya. Tiba-tiba ia bersikap kasar kepada mereka tanpa sebab yang
diketahui. Fir'aun memerintahkan mereka untuk keluar dari ruangannya dan
meningggalkan dirinya sendirian. Fir'aun
berusaha untuk menghadapi masalah itu
dengan lebih tenang.
Kisah Nabi Musa AS melawan Tukang sihir firaun
Fir'aun meminum
beberapa gelas dari
minuman keras tetapi
rasa marahnya belum hilang juga.
Kemudian ia mengeluarkan perintah untuk
mengumpulkan orang-orang dekatnya dan semua para menteri di istana serta
para pemimpin di Mesir. Fir'aun
mengeluarkan perintahnya kepada
Haman salah satu
ketua para menterinya untuk
mengepalai pertemuan tersebut. Kemudian para pembesar dari
kaum Fir'aun berkumpul.
Fir'aun memasuki ruang
pertemuan dan wajahnya tampak emosi. Jelas sekali Fir'aun tidak mahu
menerima dengan mudah adanya tuhan
lain yang disembah
orang-orang Mesir selain
dirinya. Fir'aun cukup berbahagia
ketika ia menguasai
Mesir dari memerintah
dengan semahunya.
Tiba-tiba, ia dikejutkan
dengan kedatangan Musa
yang ingin menghancurkan apa
saja yang telah
dibangunnya. Musa mengatakan pada dirinya bahawa di sana ada Tuhan
yang Esa yang tiada Tuhan lain selain-Nya di alam semesta. Ini
bererti bahawa Fir'aun
adalah seorang pembohong.
Pemikiran ini
menghantui kepala Fir'aun
sehingga Fir'aun menoleh
kepada ketua para menterinya yaitu
Haman akhirnya pertemuan bersejarah itu diadakan. Tidak ada
seorang pun yang
berani membuka mulutnya. Fir'aun
membuka pertemuan itu dengan
secara tiba-tiba ia
melontarkan pertanyaan kepada Haman: "Apakah aku seseorang
pembohong wahai Haman?" Haman menunduk dan bertanya: "Siapa yang
berani menentang Fir'aun?" Fir'aun berkata dengan marah: "Musa." Bukankah
ia mengatakan bahawa
ada tuhan lain
di langit." Dengan mantap
Haman menjawab: "Sungguh wahai tuanku, Musa berbohong." Fir'aun berkata
dalam keadaan memutar
wajahnya ke arah
yang lain: "Aku mengetahui bahawa ia
berbohong." Kemudian Fir'aun
kembali menoleh ke Haman: "Dan berkatalah
Fir'aun: 'Hai Haman,
buatkanlah bagiku sebuah
bangunan yang tinggi supaya
aku sampai ke
pintu-pintu, (yaitu) pintu-
pintu langit, supaya aku
dapat melihat Tuhan
Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang
pendusta.'" (QS. al-Mu'min: 36-38)
Fir'aun mengeluarkan
perintah untuk membangun suatu bangunan yang kukuh dan tinggi di mana
ketinggiannya mampu mencapai langit. Perintah Fir'aun itu berdasarkan peradaban Mesir
yang lagi maju
di mana mereka
cenderung membangun
bangunan yang spektakuler. Namun Fir'aun lupa
pada aturan-aturan
teknik pembangunan. Meskipun demikian, Haman
bersikap munafik, padahal ia mengetahui kemustahilan membangun sesuatu
bangunan semegah dan setinggi itu. Haman berkata: "Saya ingin melaksanakan
perintah untuk mendirikan bangunan
itu sesegera mungkin,
tetapi wahai tuanku
dan izinkanlah aku untuk
pertama kalinva aku
menentang perintahmu. Sungguh engkau tidak akan mendapati sesuatu
pun di langit. Tidak ada di sana Tuhan selain dirimu." Fir'aun mendengar
penolakan ketua para menterinya itu dengan sangat puas,
seakan-akan ia mendengarkan suatu
hakikat yang ditetapkan. Kemudian dalam perkumpulan yang
terkenal itu, Fir'aun
melontarkan kata-katanya yang bersejarah: "Hai pembesar
kaumku, aku tidak
mengetahui tuhan bagimu
selain aku." (QS. al-Qashash:
38) Semua yang hadir di tempat itu menundukkan kepala tanda setuju.
Di antara mereka terdapat
dua orang atau
tiga orang yang
masih memiliki akal
sehat. Ketiga orang itu
mengetahui bahawa sebenarnya Fir'aun
adalah seorang pembohong. Meskipun
demikian, mereka membiarakan
kebohongan itu dan memilih apa yang disetujui oleh Fir'aun.
Tentu persetujuan ini berakibat pada masyarakat Mesir yang harus membayar mahal
hasil dari persetujuan itu. Para tentera Mesir, para pembesar istana, dan para
dukun tunduk kepada kegilaan Fir'aun.
Fir'aun berkata dengan
maksud bertanya kepada
para penasihatnya:
"Apa yang kalian
katakan tentang Musa?"
Haman berkata: "Ia
adalah seorang yang
pembohong." Salah seorang menteri
yang lain berkata:
"Saya kira ia
adalah seorang yang gila." Sementara
itu salah seorang
dukun berkata: "
- Tampaknya ia
khuatir mereka akan mencurigainya jika
ia tidak mengatakan sesuatu
pun kepada mereka - saya kira ia
terkena kegilaan." Fir'aun memutus pembicaraan mereka dengan mengatakan:
"Sungguh kalian menggambarkan Musa
macam-macam, namun kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa sebenarnya
maunya Musa? Apa sebenarnya persekongkolan yang
disembunyikannya."
Para penasihat terdiam kerana
rasa takut dan sebagai bentuk kemunafikan terhadap Fir'aun.
Mereka hanya menunggu
Fir'aun mengucapkan kalimat-kalimat tertentu
lalu mereka menirukannya dengan
mulut-mulut mereka layaknya
burung beo. Setelah keheningan
menyelimuti ruangan itu, Fir'aun berkata: "Aku kira bahawa Musa adalah
salah satu tukang sihir yang hebat. Ia ingin mengeluarkan kalian dari negeri
kalian dengan sihirnya.
Lalu persekongkolan apa
yang kalian siapkan?"
Adalah hal yang maklum di rejim kekuasaan mutlak bahawa perkumpulan yang
dihadiri oleh para pembesar dan para menteri untuk mengeluarkan pendapat
sesama mereka bererti
hanya sekadar untuk
mengulang-ulang dan menerima keputusan mutlak
dari penguasa. Para
penasihat berkata -
setelah Fir'aun memberi mereka
kesempatan untuk mengutarakan pendapat: "Sungguh benar apa yang
dikatakan oleh Fir'aun.
Musa adalah seorang
tukang sihir. Kalau begitu, masalahnya telah
selesai. Kita akan
mengembalikan Musa dan saudaranya, dan
kita akan menyebarkan perintah Fir'aun
di Mesir untuk menghadirkan tukang sihir. Jika para
tukang sihir telah datang dan berdiri di hadapan Musa, maka mereka akan dapat
membuktikan bahawa Musa memang tukang sihir dan mereka akan mampu
mengalahkannya. Dengan cara demikian, kita dapat memperdayanya di hadapan
orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil." Perundingan bersejarah itu
sepakat untuk melaksanakan hal
itu. Sepuluh orang dari
pembantu Fir'aun keluar
dari istana, Fir'aun
dengan menunggangi kenderaan mereka
dan mereka segera
berpencar di seluruh penjuru Mesir.
Kemudian diumumkan pada
hari kedua di
pasar-pasar Mesir bahawa seluruh
jago-jago sihir hendaklah
menuju ke istana
Fir'aun untuk mendengarkan suatu
perintah atau suatu urusan yang penting. Fir'aun memanggil Nabi
Musa dan berusaha
mengancamnya dan menakut- nakutkan tetapi Nabi Musa tampak
tenang. Fir'aun berkata kepada Nabi Musa: "Sesungguhnya engkau seorang
tukang sihir, dan
aku menetapkan untuk menyingkap kedokmu
di hadapan semua
orang.
Tidak lama lagi
para tukang sihir akan
datang." Nabi Musa
bertanya: "Kapan aku
akan bertemu dengan tukang sihir
itu?" Fir'aun berkata:
"Di sana terdapat
suatu pertemuan atau acara yang sebentar lagi akan dimulai
yang dihadiri oleh banyak orang. Yaitu hari di mana angin bertiup dengan
sepoi-sepoi; hari di mana bumi berhias diri menyambut kedatangan musim
semi. Sungguh itu
suatu pertemuan yang menakjubkan dan
engkau akan dikalahkan. Sekarang
aku beri kesempatan kamu untuk mencabut dakwahmu. Aku
memberikan kesempatan yang terakhir bagimu untuk menyelamatkan kehormatanmu."
Musa berkata dengan
tidak memperhatikan perkataan
Fir'aun yang terakhir: "Kami sepakat atas pertemuan
itu. Kami akan hadir di hari itu di mana manusia akan berkumpul di pagi
hari." Fir'aun bertanya: "Kapan engkau akan datang?" Musa
berkata: "Insya-Allah aku akan hadir di waktu fajar di permulaan
siang."
Allah s.w.t berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah
perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda- tanda kekuasaan Kami
semuanya, maka ia
mendustakan dan enggan
(menerima kebenaran).
Berkata Fir'aun: 'Adakah
kamu datang kepada
kami untuk mengusir kami
dari negeri kami
(ini) dengan sihirmu,
hai Musa! Dan
kami pun pasti akan
mendatangkan (pula) kepadamu
sihir semacam itu,
maka buatlah suatu waktu
untuk pertemuan antara
kami dan kamu,
yang kami tidak akan
menyalahinya dan tidak
(pula) kamu di
suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Berkata
Musa: "Waktu untuk
pertemuan (kami dengan) kamu
itu ialah di
hari raya dan
hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalah
naik.'" (QS. Thaha: 56-59)
Nabi Musa pergi dalam
keadaaan tenang. Kemudian para
utusan tukang sihir datang ke istana Fir'aun. Ketika semua
berkumpul, Fir'aun memerintahkan agar mereka semua menemuinya. Ketika masuk
menemui Fir'aun, para tukang sihir sujud
kepadanya. Fir'aun memerintahkan mereka untuk
berdiri, kemudian Fir'aun mulai
berjalan-jalan di antara mereka sambil mengamati wajah mereka dan pakaian
mereka. Fir'aun tampak terdiam memikirkan sesuatu dan tiba-tiba ia berdiri
dan berkata: "Wahai
para tukang sihir,
kami sekarang menghadapi masalah yang
kecil dan kami
telah memerintahkan agar
kalian dihadirkan untuk
memecahkan masalah itu." Para tukang sihir itu menundukkan kepalanya dan mereka
mendengarkan dengan hikmat.
Fir'aun kembali berkata:
"Salah seorang lelaki datang kepada kami dan ia mengaku utusan
Allah s.w.t; seorang lelaki yang bernama
Musa dan bersama
saudaranya, Harun. Musa
ini adalah tukang sihir yang mahir,
lebih tangkas dan lebih hebat dari Harun. Oleh kerana itu, kalian
harus mengalahkannya dengan
kekalahan yang teruk
sehingga ia tidak mampu lagi
mengangkat kepalanya kerana rasa malu." Para tukang sihir tetap
menundukkan kepalanya dan mereka terdiam. Fir'aun berkata: "Mengapa seseorang di
antara kalian tidak
bertanya kepadaku tentang
sihirnya Musa." Salah
seorang tukang sihir dengan tenang berkata: "Kami menunggu tuan yang
agung menceritakannya kepada kami.
Kami tidak ingin
memutus pembicaraanmu wahai tuan." Dengan nada
marah, Fir'aun berkata:
"Musa melemparkan tongkatnya dan tiba-tiba tongkatnya
itu menjadi ular
yang sangat besar
lalu ia mencabuttangannya dan
tiba-tiba tangannya menjadi putih
yang menakjubkan orang-orang
yang melihatnya." Tampak senyum manis menghiasi wajah- wajah para tukang
sihir dan salah
seorang mereka berkata:
"Hendaklah hati Fir'aun tenang. Ini adalah permainan kuno;
permainan tongkat yang berubah menjadi ular. Sesungguhnya itu hanya sekadar
imaginasi yang menipu orang-orang yang melihatnya, yang seakan-akan ia bergerak
padahal ia tetap di tempatnya." Fir'aun berkata: "Aku tidak ingin
untuk memasuki perdebatan sekitar masalah pembuatan sihir. Yang aku inginkan
agar kalian mengalahkan Musa. Kami telah sepakat untuk
bertemu pada hari
ketika musim semi
akan tiba. Masyarakat Mesir semuanya akan berkumpul.
Mereka akan menyaksikan kalian saat kalian mengalahkannya. Oleh kerana itu,
kalian harus dapat mengalahkannya." Selesailah perkataan Fir'aun. Ia
menunggu para tukang sihir meninggalkannya tapi mereka masih berdiri. Salah
seorang mereka bertanya: "Mengapa tuan kita Fir'aun tidak
berbicara kepada kita
tentang urusan yang
lebih penting seandainya kita
dapat mengalahkan Musa?" Dengan
kehairanan Fir'aun
bertanya: "Apa sesuatu
yang lebih penting
itu?" Salah seorang
tukang sihir berkata:
"Tentu kami minta upah jika kami menang." Dengan tertawa, Fir'aun
berkata: "Jangan khuatir,
aku akan memuaskan
kalian. Kalian akan
menjadi orang-orang yang dekat. Kami akan mengadakan pekerjaan-pekerjaan
baru di istana bagi para tukang sihir. Kalian jangan khuatir. Tenanglah kerana
kalian akan menerima upah yang layak." Fir'aun tertawa
melihat kepercayaan para tukang
sihir kepada diri
mereka, kemudian ia memerintahkan agar
mereka meninggalkan tempatnya.
Lalu ia sendiri menuju ke meja
makan siang.
Fir'aun duduk sambil makan. Ia berkata sambil menyantap
paha kambing yang
besar: "Semenjak Musa
datang selera makanku terganggu.
Namun sekarang, kehancuran Musa sudah dekat." Allah s.w.t berfirman:
"Dan Musa berkata: 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang
utusan dari Tuhan
alam semesta, wajib
atasku tidak mengatakannya sesuatu terhadap Allah,
kecuali yang hak.
Sesungguhnya aku datang
kepadamu dengan membawa bukti
yang nyata dari
Tuhanmu, maka lepaskanlah
Bani Israil (pergi) bersama aku.' Fir'aun menjawab: 'Jika benar kamu
membawa sesuatu bukti, maka
datangkanlah bukti itu
jika (betul) kamu
termasuk orang-orang yang benar.' Dan dia mengeluarkan tangannya, maka
ketika itujuga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang
yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Musa ini
adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu
dari negerimu.' (Fir'aun
berkata): 'Maka
apakah yang kamu
anjurkan?' Pemuka-pemuka
itu menjawab: 'Beritahulah ia
dan saudara-saudaranya
serta kirimlah ke
kota-kota beberapa orang
yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya
mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.' Dan
beberapa ahli sihir
telah datang kepada
Fir'aun mengatakan: '(Apakah) sesungguhnya kami
akan mendapat upah,
jika kamilah yang menang Fir'aun
menjawab: 'Ya dan
sesungguhnya kamu benar-benar
akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).'" (QS. al-A'raf:
104-114) Kemudian datanglah hari
yang dijanjikan. Orang-orang
berbondong- bondong keluar dari
rumah.
Mereka membicarakan tentang pertemuan antar Nabi Musa
dan Fir'aun. Mereka
menuju ke tempat
perayaan sejak pagi
hari. Tidak ada seorang pun di Mesir yang tidak
mengetahui tentang peristiwa itu. Orang-orang begitu gembira ketika para tukang
sihir itu datang sebagaimana mereka juga gembira ketika melihat Fir'aun datang,
namun keheningan menyelimuti tempat itu ketika Nabi Musa dan Nabi Harun datang.
Tempat perayaan itu diadakan di tempat
terbuka yang hanya
ditutupi oleh payung
Fir'aun yang melindungi kepalanya dari terik matahari.
Fir'aun berdiri di tengah-tengah tenteranya. Ia memakai emas
dan permata. Sementara itu,
Nabi Musa berdiri
dengan menundukkan kepalanya dalam keadaan mengingat Allah s.w.t. Keadaan saat
itu benar-benar hening.
Kemudian para tukang
sihir maju menemui Musa.
Mereka berkata kepada
Musa: "Apakah engkau
yang pertama kali melempar atau
kami yang pertama
kali melempar." Musa
berkata: "Kalianlah
yang pertama kali
melempar." Para tukang
sihir berkata: "Demi kemuliaan Fir'aun,
sesungguhnya kami akan
menang." Musa berkata:
"Celaka kalian, janganlah kalian membuat dusta kepada Allah s.w.t
nescaya Dia akan mendatangkan seksa bagi kalian." Sebahagian ahli hakikat
berkata: "Nabi Musa menoleh
dan kemudian ia
melihat Jibril di
sebelah kanannya." Jibril
berkata kepadanya:
"Wahai Musa, hendaklah
kamu bersikap sopan
kepada wali-wali Allah
s.w.t." Musa berkata dalam dirinva: "Mereka para tukang sihir itu
datang dengan maksud menyimpangkan agama Fir'aun." Jibril
kembali berkata:
"Bersikap lembutlah terhadap
wali-wali Allah s.w.t.
Mereka saat ini
sampai salat Ashar berada
di sisimu dan
setelah salat Ashar
mereka akan berada
di syurga."
Para tukang sihir itu mulai melemparkan tongkat-tongkat
mereka dan tali-tali mereka.
Tiba-tiba arena itu
dipenuhi dengan ular-ular.
Mereka menipu dan menyihir pandangan orang-orang yang
melihatnya. Orang- orang yang melihat sihir
itu merasa takut
kerana mereka mendatangkan sihir
yang besar. Orang-orang merasa
gembira dan Fir'aun
pun menampakkan senyumnya.
Ia berkata dalam dirinya:
Sungguh hari ini
adalah hari pembalasan
atas Musa. Mukjizatnya berupa
tongkat yang ada
di tangannya yang
dapat berubah menjadi ular,
sekarang Fir'aun menghadirkan kepadanya seluruh tukang sihir di mana tongkat-tongkat dan
tali-tali yang ada
di tangan mereka
pun berubah menjadi ular.
Senyuman Fir'aun pun semakin melebar. Nabi Musa memperhatikan tali-tali tukang
sihir dan tongkat-tongkat mereka. Ia merasa
takut. Nabi Musa
ingat apa yang
dikatakan oleh Jibril
dan ia mulai merasakan ketakutan.
Bagaimana mungkin para
tukang sihir itu
akan masuk syurga dan mereka
akan menjadi wali-wali Allah s.w.t? Nabi Musa merasakan semua itu, namun tiada
seorang pun yang mengetahui hakikat pemikiran yang terlintas dalam
benak Nabi Musa
saat ia berdiri
dengan bajunya yang sederhana bersama saudaranya di hadapan
kumpulan manusia yang banyak dari para pengawal dan tentera Fir'aun. Ketika
Musa merasakan ketakutan tersebut, maka
cahaya yang terang
menembus dalam dirinya
dan Allah s.w.t
berkata kepadanya: "Kami
berkata: 'Janganlah kamu
takut, sesungguhnya kamulah
yang paling unggul (menang). Dan
lemparkanlah apa yang
ada di tangan
kananmu, nescaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya
apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak
akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (QS.Thaha: 68-69)
Musa merasa senang ketika mendengar Allah s.w.t menenangkannya. Nabi Musa
dapat mengendalikan dirinya,
kemudian beliau mengangkat
tongkatnya dan melemparkannya.
Sebelum tongkat itu menyentuh tanah, tiba-tiba terjadilah suatu mukjizat. Orang-orang dan
para tukang sihir
Fir'aun bahkan Fir'aun sendiri menyaksikan
sesuatu yang belum
pernah mereka saksikan
di dunia. Biasanya seorang tukang
sihir dapat menipu
pandangan manusia dan memperdaya mereka
seolah-olah ada ular yang
bergerak padahal ia
tetap di tempatnya. Tetapi apa
yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeda.
Belum sampai tongkat
Nabi Musa menyentuh tanah
sehingga ia berubah menjadi
ular yang besar dan sangat gesit. Tiba-tiba ular ini menuju ke tali-tali tukang
sihir dan tongkat-tongkat mereka yang
bergerak dan
ia mulai memakannya
satu persatu. Tongkat
Nabi Musa memakan tali-tali tukang
sihir dan tongkat-tongkat mereka
dengan cepat. Belum berselang
beberapa minit sehingga arena itu kosong dari tali-tali tukang sihir dan
tongkat-tongkat mereka. Tongkat-tongkat dan
tali-tali tukang sihir tersembunyi dalam perut tongkat Nabi
Musa. Dan bergeraklah ular yang besar menuju Nabi Musa lalu beliau menghulurkan
tangannya dan tiba-tiba ular itu berubah menjadi tongkat. Para tukang sihir
mengetahui bahawa mereka bukan di hadapan seorang penyihir. Mereka sebenamya
adalah tokoh-tokoh sihir dan para pakar dalam hal itu di zaman mereka, tetapi
apa yang mereka saksikan saat ini bukan termasuk sihir. Itu adalah mukjizat
dari Allah s.w.t. Akhirnya, para tukang
sihir itu sujud
di atas tanah.
Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan Pengatur
alam semesta. Tuhan yang diyakini oleh Musa dan Harun." Orang-orang Mesir
dan anak-anak Bani Israil menyaksikan mukjizat yang mengagumkan
ini. Mereka melihat
bagaimana tukang sihir-tukang sihir Fir'aun sujud kepada Musa dan Harun.
Fir'aun menyaksikan bahawa bola itu kini berada di tangan Musa dan Harun. Lalu
ia bangkit dari duduknya dan berteriak di
depan tukang sihir:
"Bagaimana kalian beriman
kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian." Para
tukang sihir berkata: "Untuk beriman tidak perlu izin." Fir'aun
berkata: "Kalau begitu ini adalah persekongkolan yang jelas. Sesungguhnya Musa
adalah guru kalian
yang mengajari kalian
sihir. Sungguh tangan-tangan
kalian dan kaki-kaki kalian akan diputus dan kalian akan disalib di pohon
kurma. Sungguh ini adalah persekongkolan yang jelas." Para tukang sihir
berkata: "Lakukan apa saja yang engkau inginkan, hai Fir'aun. Kami tidak
memilihmu dan kami
tidak mengutamakanmu atas
mukjizat Ilahi ini. Sesungguhnya kami
beriman kepada Tuhan
kami agar Dia
mengampuni kami dan menghapus kesalahan-kesalahan kami.
Apa yang engkau
berikan terhadap kami adalah sesuatu yang sedikit, dan apa yang ada di
sisi Allah s.w.t lebih baik dan lebih abadi. Seandainya engkau menyeksa kami
dan membunuh kami dan menyalib
kami, maka engkau
hanya dapat menyeksa kami
di kehidupan dunia ini. Tentu kehidupan dunia tidak dapat dibandingkan
dengan kehidupan akhirat. Kami
hanya ingin mendapatkan
pengampunan dari Allah s.w.t dan
memasuki syurga." Kemudian Fir'aun
mengeluarkan perintahnya
untuk menyalib semua
tukang sihir. Ketika
menyaksikan peristiwa tersebut, orang-orang menjadi ketakutan. Kemudian Nabi
Musa dan Nabi
Harun meninggalkan
tempat itu dan
Fir'aun kembali ke
istananya. "Ahli-ahli
sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami
yang akan melemparkan?' Musa
menjawab: 'Lemparkanlah (lebih dahulu)! Maka tatkala mereka melemparkan,
mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka
mendatangkan sihir yang
besar (menakjubkan). Dan
Kami mewahyukan kepada Musa:
'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong tongkat itu menelan apa
yang mereka sulapkan.
kerana itu nyatalah
yang benar dan gagallah yang selalu mereka kerjakan.
Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah
mereka orang-orang yang
hina. Dan ahli-ahli
sihir itu serta
merta meniarapkan diri dengan bersujud.
Kisah Tukang sihir setelah menjad muslim
Allah s.w.t
menceritakan dalam surah
al-A'raf apa yang
dialami tukang sihir
dan Musa dalam firman-Nya:
"Ahli-ahli sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan
melemparkan lebih dahulu,
ataukah kami yang
akan melemparkan?' Musa
menjawab: 'Lemparkanlah
(lebih dahulu)! Maka tatkala
mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu
takut, serta mereka mendatangkan
sihir yang besar
(menakjubkan). Dan Kami
mewahyukan kepada Musa: 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong
tongkat itu menelan apa yang
mereka sulapkan. kerana
itu nyatalah yang
benar dan gagallah yang selalu
mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka
orang-orang yang hina.
Dan ahli-ahli sihir
itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.
Mereka berkata: 'Kami beriman kepada Tuhan
semesta alam, (Yaitu)
Tuhan Musa dan
Harun. Fir'aun berkata: 'Apakah kamu
beriman kepadanya sebelum
aku memberi izin
kepadamu?' Sesungguhnya
(perbuatan) ini adalah
suatu muslihat yang
telah kamu rencanakan di
dalam kota ini,
untuk mengeluarkan penduduknya
darinya; maka kelah kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini);
sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara
bertimbal balik, kemudian sungguh-
sungguh aku akan
menyalib kamu semuanya. Ahli-ahli sihir itu menjawab:
'Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu
tidak membalas dendam
dengan menyeksa kami,
melainkan kerana kami telah
beriman kepada ayat-ayat
Tuhan kami ketika
ayat-ayat itu datang kepada
kami.' (Mereka berdoa):
'Ya Tuhan kami,
limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan
berserah diri (kepada-Mu).'" (QS. al-A"raf: 115-126)
Para tukang sihir Mesir berubah menjadi Muslim dan
mempercayai ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Mereka beriman kepada Allah
s.w.t. Akhirnya, mereka dinaikkan
di batang-batang pohon
kurma untuk disalib
dan dipotong tangan-tangan mereka
dan kaki-kaki mereka.
Mereka meminta kepada
Allah s.w.t agar mereka dimatikan sebagai orang-orang Muslim.
Kemudian Musa memahami
apa yang diucapkan
oleh Jibril as:
Mereka sejak saat ini sampai
salat Ashar di sisimu dan setelahnya mereka berada di syurga. Ketika memasuki
waktu Ashar tubuh para tukang sihir itu berlumuran darah. Mereka disalib
oleh para tentera
Fir'aun.
Keluhan bani israil kepada Nabi Musa AS dan tipu daya
firaun
Fir'aun menghadapi
masalah baru. Fir'aun mengadakan
serangkaian pertemuan- pertemuan penting di istananya. Fir'aun memanggil penanggung jawab
tentera dan pasukan.
Fir'aun juga memanggil apa
saat ini dinamakan
dengan kepala intelejen.
Bahkan Fir'aun juga memanggil
para menteri dan
para penjabat serta
tukang-tukang dukun. Jadi, Fir'aun
memanggil semua yang mempunyai
kekuatan untuk mengubah jarum sejarah.
Fir'aun
bertanya kepada kepala
intelejennya: "Apa yang
dikatakan orang- orang?"
Ia berkata: "Anak buahku telah kusebar di antara khalayak dan mereka
mendapat informasi bahawa Musa dapat memenangkan perlumbaan itu kerana ia berhasil
membikin suatu konspirasi bersama
para tukang sihir." Kemudian Fir'aun bertanya kepada salah
seorang ketua keamanan: "Apa yang terjadi pada jasad-jasad tukang
sihir?" Ia berkata: "Anak buahku menggantunginya di tempat umum dan
di pasar-pasar untuk
menakuti manusia dan kami sebarkan berita bahawa Fir'aun akan membunuh setiap
orang yang memiliki persekongkolan." Lalu
Fir'aun bertanya kepada
komandan pasukan: "Apa
yang dikatakan oleh pasukan?" Ia
menjawab: "Mereka menginginkan agar
mendapatkan perintah
untuk bergerak di
tempat mana pun
yang ditentukan oleh
Fir'aun." Fir'aun berkata:
"Belum datang giliran pasukan maka akan datang gilirannya." Fir'aun kemudian
terdiam. Lalu Haman
salah seorang ketua
para menteri bergerak dan
mengangkat tangannya dan
ia mulai meminta
untuk berbicara, dan Fir'aun
mengizinkan kepadanya. Haman
berkata: "Apakah kita
akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerosakan di muka bumi
dan mereka mengalihkan ibadah
kepada selainmu?" Fir'aun
berkata: "Sungguh
engkau dapat membaca fikiranku wahai
Haman. Kita akan
membunuh anak-anak mereka dan akan mempermalukan perempuan-perempuan
mereka. Aku memiliki kekuasaan di atas mereka." Pasukan Fir'aun
pergi untuk membunuh
anak-anak laki dari
Bani Israil dan menodai
kehormatan wanita-wanita mereka,
serta memenjarakan siapa
pun yang menentang.
Musa berdiri
menyaksikan apa yang
terjadi tanpa mampu turut
campur dan tanpa
mampu mencegahnya. Yang
beliau lakukan hanya memerintahkan kaumnya untuk bersabar.
Beliau memerintahkan mereka untuk meminta pertolongan kepada Allah s.w.t dan
bersabar atas segala ujian. Beliau menjadikan para tukang sihir sebagai teladan
bagi mereka di mana tukang sihir Mesir
itu mampu menahan
derita di jalan
Allah s.w.t tanpa
berkeluh kesah. Nabi Musa
memberitahu mereka bahawa
tentera-tentera Fir'aun berbuat aniaya di
muka bumi yang
seakan-akan bumi adalah
milik khusus mereka. Sebenarnya Allah
s.w.t akan mewariskan bumi
kepada orang-orang yang bertakwa. Kemudian intimidasi
yang dilakukan Fir'aun
sangat mempengaruhi jiwa
Bani Israil sehingga mereka
merasakan kekalahan dan
pesimis.
Mereka berkata
kepada Musa: "Wahai Musa kami sangat menderita sebelum kedatanganmu dan
sesudah kedatanganmu, anak-anak dibunuh
sebelum kedatanganmu sesudah
kedatanganmu."
Seakan-akan mereka berkata
kepada Musa bahawa keberadaanmu tidak memberikan manfaat
sedikit pun. Kami tetap merasakan kesendirian.
Musa menolak kebodohan
mereka ini. Ia
memberitahu mereka bahawa Allah
s.w.t akan menghancurkan musuh-musuh mereka, kemudian Allah s.w.t
akan menjadikan bumi
dikuasai oleh mereka.
Tetapi lagi-lagi mereka tetap
mengadu kepada Musa
dan tampak bahawa
mereka tidak kuat lagi menahan penderitaan yang mereka
alami. Musa menghadapi keadaan
yang sulit. Beliau
berusaha melawan kemarahan Fir'aun dan konspirasinya. Pada
saat yang sama, Nabi Musa mendengar keluhan kaumnya.
Kisah Kesombongan Qarun
Di
tengah-tengah keadaan bani israil menceritakan keluhannya, Qarun
bergerak. Qarun adalah seorang
putera Bani Israil. Ia berasal dari kaum Musa tetapi ia justru menentang Musa.
Kekayaannya dan status sosialnya menjadikannya lebih dekat kepada rejim
Fir'aun. Allah s.w.t menceritakan kepada kita tentang kekayaan Qarun.
Allah s.w.t berkata
kepada kita bahwa
kunci-kunci kamar yang menyimpan kekayaannya
sangat sulit dipikul
oleh sekelompok laki-laki
yang kuat sekalipun. Seandainya
kita ingin mengetahui
kunci-kunci kekayaan ini yang sedemikian rupa, maka kita dapat
membayangkan kekayaan itu sendiri. Qarun
memiliki berbagai macam
kekayaan dan dalam
jumlah yang banyak. Bahkan saking
kayanya, pelana kudanya
terbuat dari kulit
yang dihiasi oleh perak dan emas. Jika Qarun
keluar dengan membawa pesona dunia
yang diikuti oleh rombongannya dan
disinari oleh matahari,
maka emas-emas
yang dibawanya tampak menyala di
bawah sengatan matahari. Pemandangan demikian sangat mengagumkan bagi
orang-orang yang mencintai dunia. Kekayaan yang dimiliki Qarun membuatnya bersikap angkuh
sehingga tidak mudah
baginya untuk menerima nasihat. Tampak
bahawa kekayaannya dan
kesombongannya membuatnya merasa bergembira, sehingga tertawanya Qarun
menjadi tertawa yang paling terkenal
di kalangan Bani
Israil, dan kebenarannya menyaingi kebenaran Fir'aun dan Haman.
Kedua orang itu (Fir'aun dan Haman) menguasai Mesir secara
keseluruhan, sedangkan Qarun
hanya mengusai sebahagian
dari Mesir. Orang-orang yang berakal dari kaumnya menasihatinya agar ia
berfikir sejenak tentang akhiratnya, dan barangkali mereka berkata kepadanya:
"Sesungguhnya tak seorang pun menasihatimu untuk meninggalkan dunia secara
keseluruhan dan menempuh jalan
orang-orang yang zuhud
tetapi mereka menasihatimu agar engkau
tidak melupakan bahagianmu
dari dunia. Sebagaimana
mereka menasihatimu
agar jangan sampai
engkau melupakan bahagianmu
dari akhirat.
" Qarun
hanya merasa puas
dengan bahagiannya dari
dunia. Imaginasi akalnya mengatakan bahawa kekayaan ini
datang kerana usaha kerasnya sebagaimana ia menduga kekayaannya adalah tanda
bahawa Allah mencintainya. Bahkan ia mengira
bahawa ia lebih
utama dan lebih
mulia dari Musa.
Musa adalah seorang yang
fakir sedangkan
Qarun adalah seorang
yang kaya, maka bagaimana seorang yang fakir yang
tidak memakai satu pun gelang dari emas dapat
memperoleh kedudukan yang
mulia di sisi
Allah dibandingkan dengan seorang yang
kaya yang mampu
membuat pelana kudanya
dari emas. Demikianlah pandangan
Qarun dan Fir'aun terhadap Musa. Allah s.w.t berfirman: "Bukankah aku
lebih baik daripada
orang yang hina
ini dan yang
hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?" (QS. az-Zukhruf:
52) Demikianlah pernyataan Fir'aun
kepada Musa. Terdapat
kesesuaian antara pendapat Fir'aun
dan Qarun terhadap
Musa. Sesuai dengan
kedudukan sosial dan kekayaannya, Qarun
menjadi sahabat Fir'aun
dan mendukung rejim kekuasaannya. Bukan hanya Qarun,
Fir'aun dan Haman yang menjadi tawanan khayalan ini,
bahkan kaum Fir'aun
pun memiliki pendapat yang
sama. Yakni, bagi orang-orang Mesir,
Musa hanya sekadar
seorang tukang sihir
yang mengalahkan
jaguh-jaguh sihir lainnya.
Namun ini tidak
bererti bahawa masyarakat Mesir
tidak memiliki keutamaan
sedikit pun. Di
tengah-tengah masyarakat Mesir masih terdapat orang yang beriman kepada
Nabi Musa namun ia menyembunyikan keimanannya kerana khuatir terhadap kejahatan
Fir'aun. Di sana juga
ada orang yang
bertanya-tanya dengan kebodohan:
Jika Allah s.w.t memang
mencintai Musa lalu mengapa ia dijadikan seorang yang fakir. Qarun menjadi
fitnah atau cubaan
di tengah-tengah kaumnya
dan juga bagi orang-orang Mesir.
Ketika Qarun keluar
dengan membawa pesona
dunianya maka orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata:
"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah
orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga- moga kiranya kita
mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar
mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. al-Qashash: 79)
Sedangkan orang-orang yang berakal sehat - biarpun jumlah
mereka sedikit - mereka
memandang bahawa kekayaan
Qarun yang begitu
luar biasa tidak bererti sedikit pun di sisi Allah
s.w.t. Allah s.w.t tidak memandang kekayaan yang banyak
jika jiwa manusia
menjadi gelap kerananya.
Di tengah-tengah keadaan yang
demikian sulit, Nabi
Musa menghadapi Qarun
yang menentangnya. Musa sebagai seorang Nabi mesti menunjukkan sikap
yang baik dan kesucian yang
agung. Tampaknya Qarun
sepakat dengan Fir'aun
untuk berusaha
menjatuhkan Musa di
depan pengikutnya dengan
tuduhan yang berlawanan dengan
kesuciannya. Akhirnya, pada suatu hari Nabi Musa dikejutkan dengan suatu
tuduhan di mana ada seorang wanita
yang menuduhnya berbuat
tidak senonoh kepadanya dan mengatakan bahawa Musa pernah tidur
bersamanya kelmarin. Kami kira Nabi Musa sangat kaget dengan tuduhan ini dan
beliau tidak mengetahui apa yang dikatakannya
atau bagaimana beliau
membela dirinya menghadapi
tuduhan seperti itu. Kemungkinan besar
beliau salat dan
menghadap Allah s.w.t. Kemudian beliau menemui wanita itu dan
bertanya, mengapa ia menuduhkan padanya sesuatu yang tidak benar. Tiba-tiba
wanita itu menangis dan meminta ampun
kepada Musa. Ia
memberitahu Musa bahawa
Qarun memberinya wang sebagai imbalan atas fitnah yang
ditebarkannya terhadap Musa. Mendengar itu, Musa mendoakan buruk buat Qarun.
Kemudian Allah s.w.t berkehendak untuk mendatangkan mukjizat di saat yang tepat
yang menjelaskan kepada manusia bahawa
Dia Maha kuasa,
Maha kuat, dan
Maha Perkasa, dan
bahawa harta hanya sebahagian ujian
dan fitnah, bukan
sebagai suatu keutamaan
yang dengannya manusia dapat dinilai. Mukjizat yang
Allah s.w.t turunkan
adalah membinasakan Qarun
dan menenggelamkan rumahnya dan
hartanya. Qarun keluar
untuk menemui kaumnya dengan
menampakkan pesona dunianya. Lalu bumi terbelah di bawah kakinya dan Qarun pun
tersungkur di bumi. Kami tidak mengetahui apakah itu gempa yang
pertama kali terjadi
atau itu adalah
gempa yang Allah
s.w.t perintahkan kepada bumi untuk terjadi. Yang kita ketahui adalah
bahawa bumi terbelah dan ia
menelan Qarun. Bumi
menenggelamkan
istana-istana Qarun,
hewan-hewan ternaknya, emasnya,
peraknya dan semua
kekayaannya serta orang
dekatnya. Sebahagian dongeng mengatakan
bahawa itu terjadi
di Fuyum, dan
danau Qarun adalah yang
dikenal orang-orang Mesir
dengan nama ini.
Ia adalah tempat yang
dihuni oleh Qarun
dan menjadi tempat
istananya dan tempat menyimpan hartanya.
Alhasil,
Al-Quran al-Karim tidak
menentukan tempat datangnya
azab ini dan tidak juga menyebut kapan itu terjadi. Al-Quran hanya
menceritakan apa yang
terjadi. Tentu penentuan
tempat dan waktu
bukan sesuatu yang penting tetapi yang penting adalah pelajaran yang
terjadi itu. Allah s.w.t berfirman dalam surah al-Qhashash: "Sesungguhnya
Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan
Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta
yang kunci-kuncinya sungguh
berat dipikul oleh sejumlah orang
yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika
kaumnya berkata
kepadanya: 'Janganlah kamu
terlalu bangga; sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang
terlalu membanggakan diri.'
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah
(kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat
kerosakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang
berbuat kerosakan. Qarun
berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, kerana ilmu yang ada
padaku.' Dan apakah ia tidak mengetahui, bahawasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat
sebelumnya yang lebih
kuat daripadanya, dan lebih banyak
mengumpulkan harta? Dan tidakkah perlu ditanya kepada orang-orang yang
berdosa itu, tentang
dosa-dosa mereka. Maka
keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang
yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti
apa yang telah
diberikan kepada Qarun;
sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang
besar. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:
'Kecelakaan yang besarlah
bagimu, pahala Allah
adalah lebih baik bagi
orang-orang yang beriman
dan beramal saleh,
dan tidak diperoleh pahala
itu, kecuali orang-
orang yang sabar.'
Maka Kami benamkanlah Qarun
beserta rumahnya ke
dalam bumi. Maka
tidak ada baginya suatu
golongan pun yang
menolongnya terhadap azab
Allah, dan tiadalah ia
termasuk orang- orang
(yang dapat) membela
(dirinya). Dan jadilah orang-orang
yang kelmarin mencita-citakan kedudukan
Qarun itu, berkata: "Aduhai benarlah
Allah melapangkan rezeki
bagi siapa yang
Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah
tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita
(pula). Aduhai benarlah,
tidak beruntung orang-
orang yang mengingkari (nikmat Allah).'
Negeri akhirat itu.
Kami jadikan untuk
orang-orang yang tidak ingin
menyombongkan diri dan berbuat kerosakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang
baik) itu adalah
bagi orang-orang yang
bertakwa. "(al-Qashash:
76-83)
Orang-orang
dahulu banyak membicarakan ilmu
ini yang Qarun
mengklaim bahawa ia diberi ilmu itu. Sebahagian mereka mengatakan bahawa
itu adalah ilmu kimia yang dengannya Qarun mampu mengubah tembaga menjadi emas.
Sebahagian lagi mereka
mengatakan bahawa Qarun
mengetahui ismullah al-A'zham (nama
Allah yang agung) lalu
ia menggunakannya untuk
mengubah bahan-bahan itu menjadi emas. Tetapi orang-orang yang berakal
dari kalangan orang-orang dahulu membantah hal
itu. Menurut mereka,
Qarun tidak mengetahui ismullah
al-A'zham. Qarun adalah
seorang munafik. Mereka
juga tidak percaya bahawa Qarun dapat membuat racikan kimia. Kami kira,
ini semua adalah
dongengan semata yang
tidak layak untuk menjelaskan sebab-sebab
kekayaannya. Menurut hemat
kami, Qarun
adalah seorang yang lalim
di mana ia
melakukan pekerjaan yang
tidak sehat. Dan boleh jadi ia memanfaatkan persahabatan
dengan Fir'aun untuk mendapatkan fasiliti-fasiliti dari Fir'aun. Dan kerana persahabatan
itu, ia berani menentang Musa. Qarun melakukan kejahatan di sana-sini dan
kerananya ia mengatakan bahawa harta yang diperolehnya adalah hasil dari kerja
kerasnya dan ilmunya.Qarun telah membuat
kebohongan dan kelaliman
dan ia mendapatkan kekayaan dengan cara-cara yang
tidak sehat.
Kisah rencana Firaun
membunuh Nabi Musa AS
Penyimpangan
dari keimanan kepada
Allah s.w.t meskipun
sehujung rambut pada akhirnya
menyeret manusia kepada sikap kesombongan. Manusia itu akan menentang kebenaran
dan ia tidak mampu lagi mengikuti kebenaran sehingga pada gilirannya sesuatu
yang bohong pun akan menjadi laksana sesuatu yang realistik dan
tidak perlu lagi
dipersoalkan. Belum lama
Qarun mendapatkan seksa sehingga
orang- orang mukmin
yang mengikuti Nabi
Musa merasakan kelapangan yang
sebelumnya mereka merasa tertindas. Orang-orang Mesir dan anak-anak Israil
menyaksikan mukjizat ini.
Akhirnya,
pertentangan antara Fir'aun
dan Nabi Musa
mencapai puncaknya. Fir'aun meyakini
bahawa Musa sangat
mengancam kekuasaannya. Musa
- sebagaimana nabi-nabi yang
lain - membawa
ajarannya dengan penuh kelembutan tetapi
ketika ia berhadapan dengan
puncak kejahatan dan sumber-sumber yang lalim
maka ia tidak
segan- segan untuk menghancurkannya. Nabi
Musa menantang sumber
kejahatan di zamannya, yaitu Fira'un. Kemudian Fir'aun
melontarkan ide untuk membunuh Musa.
Fir'aun mengira
bahawa membunuh Musa
adalah cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalahnya:
"Dan berkata Fir'aun
(kepada
pembesar-pembesarnya):
'Biarkanlah aku membunuh Musa
dan hendaklah ia
memohon kepada Tuhannya, kerana sesungguhnya aku
khuatir dia akan
menukar agamamu atau
menimbulkan kerosakan di muka bumi.'" (QS. al-Mu'min: 26) Kita perhatikan
bahawa Fir'aun berusaha untuk
mencegah orang-orang yang menuju kebenaran; Fir'aun
berusaha memberhentikan tugas
para nabi; ia berusaha menyesatkan manusia dengan
mengatakan bahawa justru Musa yang ingin menyesatkan mereka; ia mengusulkan
kepada para menterinya dan para pembesarnya untuk membiarkannya membunuh Musa.
Tentu ia tidak membunuh Musa dengan
tangannya sendiri tetapi
ia hanya sekadar melontarkan fikiran
untuk membunuhnya di
depan mereka dan
yang melaksanakan hal tersebut
adalah para pejabat
istana. Kami kira
Haman sangat berperan dalam pelaksanaan ide ini. Kemudian terbentuklah
kelompok orang-orang munafik yang mendukung ide Fir'aun ini. Ide tersebut
hampir segera dibenarkan kalau tidak ada seorang dari keluarga Fir'aun.
Kisah Laki-laki Mukmin dari kalangan keluarga firaun
akhirnya ide firaun tersebut digagalkan oleh seorang
laki-laki mukmin Ia adalah seorang lelaki dari kalangan pejabat negara yang
terpandang. Al-Quran tidak menyebutkan
namanya kerana namanya
tidak begitu penting dan
begitu juga ia
tidak menyebutkan sifatnya
kerana sifatnya tidak
begitu penting. Al-Quran hanya
menceritakan keadaan lelaki ini
yang menyembunyikan
keimanannya. Ia berbicara
di tengah-tengah perkumpulan yang di
situ disampaikan ide
untuk membunuh Musa.
Kemudian ia
menghentikan ide gila
itu dan berusaha
meruntuhkan ide itu.
Ia berkata bahawa Musa
hanya mengatakan bahawa
Allah s.w.t adalah
Tuhannya, lalu untuk mendukung
penyataannya itu ia
membekali dirinya dengan
bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan bahawa ia benar-benar seorang
rasul. Kemudian ada dua kemungkinan
dan tidak ada
kemungkinan ketiga: pertama
bahawa Musa adalah seorang pembohong, kedua ia seorang yang benar. Jika
ia seorang pembohong maka kebohongannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri
dan ia tidak melakukan
sesuatu yang kerananya
ia harus dibunuh.
Namun jika ia benar
lalu kita membunuhnya
maka gerangan apa
yang akan menjamin
kita dari keselamatan terhadap
azab yang dijanjikannya? Seorang
mukmin yang menyembunyikan keimanannya
itu berkata kepada
kaumnya: "Sesungguhnya hari
ini kita berada di tempat-tempat kekuatan sebagaimana yang dialami oleh
Qarun di mana
ia memiliki kekayaan
dan kekuatan kemudian
terjadilah apa yang terjadi
padanya. Siapakah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah s.w.t ketika
datang? Siapakah yang dapat menolong kita dari seksaan-Nya jika menimpa kita? Tindakan
melampaui batas kita
dan usaha kita
untuk membohongkan kebenaran telah membuat kita rugi." Perkataan
lelaki mukmin itu memuaskan para hadirin. Orang lelaki itu adalah seseorang
yang tidak begitu menampakkan loyalitinya kepada Fir'aun. Ia bukan dari
kalangan pengikut Musa. Tampaknya ia berbicara dengan motivasi untuk
mempertahankan kekuasaan Fir'aun,
dan menurutnya tidak
ada sesuatu yang dapat
menjatuhkan kekuasaan Fir'aun
seperti kebohongan dan
tindakan yang melampaui batas
dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa.
Dari sinilah kata-kata lelaki mukmin itu memancarkan
kekuatannya yang cukup mempengaruhi
Fir'aun, para menterinya, dan
anak buahnya. Meskipun
ide Fir'aun untuk membunuh
Musa digagalkan oleh
lelaki mukmin itu, namun Fir'aun mengatakan
kata-kata bersejarahnya yang
kemudian menjadi contoh dari sikap orang-orang yang lalim:
"Fir'aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku
pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang
benar.'" (QS. al-Mu'min: 29) Demikianlah pernyataan para penguasa yang
lalim ketika mereka menghadapi masyarakat mereka. Aku tidak melihat pendapatku
kecuali sesuai dengan apa yang aku pertimbangkan. Ini adalah pendapat kami yang
khusus. Ia merupakan pendapat
yang membimbing kalian
menuju jalan petunjuk,
sedangkan pendapat lainnya salah.
Oleh kerana itu,
kita harus tetap
melawannya dan
membinasakannya. Allah s.w.t
menceritakan sikap demikian
ini dalam surah Ghafir: "Dan seorang
laki-laki yang beriman
di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya
berkata: 'Apakah kamu
akan membunuh seorang laki-laki
kerana dia menyatakan: 'Tuhanku ialah Allah,' padahal dia telah datang
kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan
jika ia seorang
pendusta maka dialah
yang menanggung (dosa) dustanya
itu; dan jika
ia seorang yang
benar nescaya sebahagian (bencana) yang diancamkannya
kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah
tidak menunjuki orang-orang
yang melampaui batas
lagi pendusta. (Musa berkata):
'Hai kaumku, untukmu
lah kerajaan pada
hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang
akan menolong kita dari azab Allah jika
azab itu menimpa
kita!' Fir'aun berkata:
'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa
saja yang aku
pandang baik; dan
aku tiada menunjukkan kepadamu
selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min 28-29) Perdebatan tersebut tidak
berhenti pada batas
ini. Fir'aun mengutarakan kata-katanya tetapi seorang
mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin itu kembali
berbicara: "Dan orang yang
beriman itu berkata:
'Hai kaumku, sesungguhnya aku khuatir kamu
akan ditimpa (bencana)
seperti kehancuran golongan
yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan orang-orang
yang datang sesudah
mereka. Dan Allah
tidak akan menghendaki
berbuat kelaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai
kaumku, sesungguhnya aku khuatir terhadapmu akan
seksaan hari panggil-memanggil, (yaitu)
hari (ketika) kamu (lari)
berpaling ke belakang,
tidak ada bagimu
seorang pun yang menyelamatkan dirimu
dari (azab)
Allah, dan siapa
yang disesatkan Allah, nescaya
tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguhnya telah
datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan- keterangan,
tetapi kamu senantiasa
dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga
ketika dia meninggal, kamu berkata: 'Allah tidak akan mengirimkan seorang
(rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang
melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang
memperdebatkan
ayat-ayat Allah tanpa
alasan yang sampai kepada
mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi
orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang
sombong dan sewenang-wenang." (QS. al-Mu'min: 30-35) Kita perhatikan dalam
pembicaraan tersebut terdapat
perbezaan dengan
pembicaraan sebelumnya. Lelaki
mukmin itu berusaha
menguraikan pada pembicaraan akhirnya
tentang bukti-bukti sejarah.
Ia menyampaikan kepada Firaun dan kaumnya
argumentasi-argumentasi yang cukup untuk menunjukkan kebenaran Musa. Ia
memperingatkan mereka agar jangan sampai mengganggu Musa. Sebelum masa mereka,
terdapat umat-umat yang menentang rasul-rasul yang dikirim oleh Allah s.w.t,
lalu Allah s.w.t menghancurkan mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, dan
kaum Tsamud. Zaman mereka tidak terlalu jauh dengan zaman sekarang.
Sejarah Mesir menunjukkan
bukti kebenaran ucapannya
di mana Nabi
Yusuf datang dengan membawa bukti yang jelas kemudian terdapat
orang-orang yang merugikan
dakwahnya lalu mereka
beriman padanya setelah
keselamatan hampir saja tercabut dari mereka. Lalu apa keanehan di balik
pengutusan para rasul dari Allah
s.w.t? Sejarah masa
lalu harus menjadi
bahan renungan. Bukankah kelompok
minoriti orang- orang
mukmin memperoleh kemenangan ketika mereka
benar-benar beriman atas
kelompok majoriti yang
kafir? Bukankah Allah s.w.t
telah menghancurkan orang- orang kafir?
Allah s.w.t menenggelamkan mereka dengan
taufan dan Allah
s.w.t menghancurkan mereka dengan kilat
atau Allah s.w.t
menenggelamkan mereka dalam
bumi.
Apa yang kita
tunggu sekarang dan
dari mana kita
tahu bahawa usaha
kita membela Fir'aun mati-matian akan membawa keuntungan bagi kita
semua? Pembicaraan lelaki
mukmin yang intelektual itu
mengandung beberapa
peringatan yang mengerikan. Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin
bahawa ide membunuh
Musa adalah ide
yang tidak aman.
Atau dengan kata lain, itu adalah ide yang tidak
menjamin keselamatan mereka. Oleh kerana itu, ide tersebut hendaklah
ditinggalkan. Setelah itu, lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada
mereka kebenaran yang dibawa oleh Musa. Ia yang semula menggunakan bahasa
isyarat, kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Ia
telah berani menampakkan kebenaran: "Orang yang
beriman itu berkata:
'Hai kaumku, ikutilah
aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan
yang benar. Hai
kaumku, sesungguhnya
kehidupan dunia ini
hanyalah kesenangan (sementara)
dan sesungguhnya akhirat itulah
negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak
akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa
mengerjakan amal yang
saleh baik laki-laki
mahupun perempuan sedang ia
dalam keadaan beriman,
maka mereka akan
masuk syurga, mereka diberi
rezeki di dalamnya
tanpa hisab.'" (QS.
al-Mu'min: 38-40) Akhirnya,
keimanan lelaki mukmin
itu pun tersingkap.
Ia diketahui sebagai seorang mukmin
yang tidak lagi
menyembunyikan keimanannya. Pada
akhir pembicaraannya, ia menegaskan: "Hai kaumku,
bagaimanakah kamu, aku
menyeru kamu kepada
keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku
kafir kepada Allah dan
mempersekutukan-Nya dengan apa
yang tidak aku
ketahui padahal aku
menyeru kamu (beriman) kepada
Yang Maha Perkasa
lagi Maha Pengampun? Sudah
pasti bahawa apa
yang kamu seru
supaya aku (beriman) kepadanya tidak
dapat memperkenankan seruan apa
pun baik di
dunia mahupun di
akhirat. Dan sesungguhnya kita
kembali kepada Allah
dan sesungguhnya orang-orang yang
melampaui batas, mereka
itulah penghuni neraka. Kelak
kamu akan mengingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku
menyerahkan urusanku kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. al-Mu'min: 41-44)
Lelaki mukmin itu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata
yang berani ini. Kami kira, Allah s.w.t telah mengirim lelaki mukmin ini dari
kalangan Fir'aun agar Fir'aun melupakan Musa. Konteks Al-Quran menyingkap
bahawa lelaki ini merupakan
salah seorang intelektual Mesir
yang mengetahui sejarah
dan mampu menganalisis serta
memiliki kemampuan untuk
menghubungkan satu peristiwa
dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan akhir dari
suatu peristiwa. Orang yang beriman
itu mampu menggiring
akal mereka menuju
kebenaran. Fir'aun tersibukkan dengan
lelaki mukmin ini
hingga beberapa saat
ia lupa untuk memikirkan
Musa. Lelaki mukmin
itu berasal dari
keluarga Fir'aun. Ia adalah kerabat dekatnya dan salah seorang
pejabat negaranya. Keimanannya terhadap kebenaran menjadikan istana Fir'aun
terbagi menjadi dua kubu: kubu pro Musa dan kubu anti Musa. Ini bererti
kemenangan yang besar bagi Musa. kerana
itu, membunuh lelaki
mukmin itu akan
mengganggu atau
menggoyangkan keberadaan cendekiawan Mesir
di mana ia
adalah salah seorang dari
mereka. Demikianlah, Fir'aun menghadapi masalah yang rasa-rasanya sulit atau
mustahil untuk terpecahkan. Membunuh lelaki
mukmin itu tidak
akan memberikan dampak yang
baik, begitu juga membiarkannya hidup juga tidak memberikan dampak yang
baik. Akhirnya, mereka
membikin suatu konspirasi
untuk menyingkirkannya. Kemudian di sinilah bimbingan Allah s.w.t
diturunkan: "Maka Allah memeliharanya dari
kejahatan tipu daya
mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab
yang amat buruk." (QS. al-Mu'min: 45) Untuk beberapa saat,
Fir'aun disibukkan dengan
masalah baru ini,
tetapi Fir'aun adalah Fir'aun.
Ia tetap memakai
busana kesombongannya; ia
tetap menyeksa Bani Israil,
menghina mereka dan
menodai kehormatan wanita-wanita serta
membunuh anak-anak. Akhirnya,
tibalah waktunya bagi Allah
s.w.t untuk bersikap
keras kepada keluarga
Fir'aun. Allah s.w.t menurunkan bencana kepada mereka dan
menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka mengurungkan niat untuk
menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin
itu, dan sebagai
pembuktian atas kebenaran
kenabian Musa.
Teguran Allah SWT kepada firaun melalui bencana
Allah s.w.t
menurunkan tahun-tahun yang
kering dan tandus
kepada orang-orang Mesir di
mana bumi tampak
kering kontang dan
sungai Nil pun
mengering hingga
buah-buahan jarang sekali
ditemukan dan harga
semakin mencekik leher. Akibatnya,
kelaparan melanda di
sana-sini. Dalam keadaan
demikian, orang-orang Mesir menganggap
bahawa kehidupan
mereka terancam. Adalah hal yang maklum bahawa seksa yang
seperti ini akan selalu menimpa manusia ketika mereka berpaling dari keimanan
dan takwa. Allah s.w.t berfirman: "Jikalau sekitarnya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami
seksa mereka disebabkan
perbuatannya." (QS. al-A'raf: 96) Hukum yang
lama diperlakukan atas
penduduk Mesir kerana
dua sebab: pertama, sikap
dingin mereka terhadap
pembunuhan yang dilakukan
Fir'aun kepada para tukang
sihir, kedua, sikap
dingin mereka terhadap
kelaliman penguasa mereka. Aneh
sekali ketika kaum
Fir'aun mengembalikan masa paceklik ini
dan musibah kelaparan ini
pada suatu sebab
yang sangat menghairankan. Mereka mengatakan bahawa
apa yang menimpa
mereka kerana kesialan yang
dibawa oleh Musa.
Kelaparan yang melanda
mereka, kefakiran, dan kekurangan buah-buahan yang mereka rasakan saat
ini adalah disebabkan oleh adanya Musa di tengah-tengah mereka. Kemudian
kefakiran mereka semakin meningkat dan mereka semakin menjauh dari kebenaran. Mereka
meyakini bahawa sihir
Musa adalah yang bertanggungjawab terhadap apa yang
menimpa mereka pada musim paceklik ini.
Mereka mengira dengan
kebodohan mereka bahawa
kekeringan yang melanda negeri
mereka adalah sebagai alat atau kekuatan yang digunakan oleh Musa untuk
menyihir mereka. Namun
perlu diperhatikan bahawa
pemikiran demikian tidak mewakili
pemikiran umumnya masyarakat saat
itu, tetapi pemikiran ini
datang dan dihembuskan oleh
kelompok-kelompok yang
berkuasa. Akhirnya, Allah
s.w.t menurunkan azab
yang lebih keras
kepada mereka. Allah s.w.t berfirman: "Dan sesungguhnya Kami
telah menghukum (Fir'aun
dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang
panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka
mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka
kemakmuran, mereka berkata:
'Ini adalah kerana (usaha) kami.' Dan jika mereka
ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu
kepada Musa dan
orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka
itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan neraka
tidak mengetahuinya. Mereka
berkata: 'Bagaimanapun kamu
mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu
maka, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan
kepada mereka taufan,
belalang, kutu, katak
dan darah sebagai bukti
yang jelas, tetapi
mereka tetap menyombongkan diri
dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. al-A'raf: 130-133) Allah s.w.t
mengirimkan berbagai macam
azab dengan harapan
agar mereka kembali kepada
Allah s.w.t dan
melepaskan Bani Israil
serta membiarkan mereka pergi
bersama Musa.
Allah s.w.t mengirim
taufan kepada mereka. Setelah masa paceklik, datanglah
tahun yang penuh dengan air sehingga bumi pun
tenggelam dengan air
sehingga mereka tidak
dapat bercucuk tanam. Setelah mereka
diseksa dengan sedikitnya air maka
kali ini mereka mendapatkan limpahan air yang luar
biasa. Mereka segera datang kepada Nabi Musa sambil berkata: "Dan ketika
mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata: 'Hai
Musa, mohonkanlah untuk
kami kepada Tuhanmu
dengan (perantaraan) kenabian
yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat
menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan
akan kami biarkan
Bani Israil pergi
bersamamu.'" (QS. al-A'raf:
134) Kemudian Nabi Musa berdoa kepada Tuhannya sehingga azab disingkirkan dari
mereka. Air yang
memancar dengan dahsyat
itu berhenti dan
bumi kembali mengambil air yang
cukup sehingga layak untuk dibuat bercucuk tanam. Nabi Musa meminta
kepada mereka untuk
mewujudkan janji mereka,
yaitu melepaskan tawanan Bani Israil. Tapi
mereka tidak memenuhinya. Kemudian datanglah tanda
kebesaran yang lain
yaitu dalam bentuk
turunnya belalang. Allah s.w.t
mengirim sekawanan belalang
yang memenuhi tanaman dan buah-buahan. Ketika
belalang- belalang itu
terbang maka tanaman-tanaman mereka dan
buah-buahan mereka tersembunyi
dari pandangan kerana
saking banyaknya belalang- belalang itu. Belalang itu memakan makanan
orang-orang Mesir.
Kisah kesombongan firaun setelah mendapat teguran
Melihat keadaan demikian, mereka pun pergi ke Musa dan
meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya agar menyingkirkan siksaan ini
dari mereka dan mereka berjanji untuk melepaskan padanya Bani Israil. Nabi Musa
pun lagi-lagi berdoa kepada Tuhannya
sehingga Allah s.w.t
menyingkirkan azab itu
dari mereka. Dan belalang-belalang itu kembali ke tempat asalnya. Mereka
dapat menanami kembali bumi dengan baik. Lalu Nabi Musa meminta kepada mereka
untuk melepaskan Bani Israil namun mereka menunda-nundanya sehingga Nabi
Musa mengetahui bahawa
sebenarnya mereka tidak
serius untuk memenuhi janji mereka. Kemudian datanglah
seksaan Allah s.w.t yang lain, yaitu dikirim-Nya berbagai macam hama. Tersebarlah hama
yang membawa penyakit.
Lagi- lagi mereka datang kepada
Nabi Musa dan
mengulangi janji mereka
dan Nabi Musa
pun berdoa kepada Allah
s.w.t.
Kali ini
mereka pun tetap
mengingkari janji mereka. Lalu
datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain dalam bentuk dikirim-Nya katak di
mana bumi dipenuhi
dengan katak. Katak
itu melompat-lompat ke sana-sini dan
memenuhi makanan orang-
orang Mesir serta
berada di rumah mereka sehingga mereka sangat
terganggu dengan kehadiran katak-katak liar itu. Lagi-lagi mereka menemui Nabi
Musa dan kembali mengulangi janji mereka dan
meminta padanya agar
ia berdoa kepada
Tuhannya agar Allah
s.w.t menyingkirkan azab dari mereka. Tetapi mereka pun tetap
mengingkari janji mereka. Selanjutnya, Allah s.w.t menurunkan azab yang lain
yaitu darah di mana sungai Nil
berubah menjadi darah
sehingga tidak seorang
pun dapat meminumnya. Kita ketahui
bahawa mukjizat-mukjizat pertama
berupa sesuatu yang
biasa terjadi pada tanaman.
Berkurangnya air Nil
atau bertambahnya air
tersebut atau serangan belalang atau hama dan katak, semua ini adalah
bukan hal baru bagi orang-orang Mesir. Yang
baru adalah kejadian ini terjadi dengan sangat tiba-tiba dan
sangat mencekam. Sedangkan mukjizat
atau azab
yang lain adalah azab yang tidak
biasa terjadi di daerah Mesir, yaitu azab yang belum pernah terjadi sebelumnya
di mana air sungai Nil berubah menjadi darah. Perubahan sungai
itu menjadi darah
hanya terjadi di
kalangan orang- orang Mesir sedangkan Musa dan kaumnya dapat
meminum airnya seperti biasanya. Namun
ketika seorang Mesir
memenuhi tempat gelasnya
dengan air maka
ia akan mendapati bahawa
gelasnya penuh dengan
darah. Melihat peristiwa tersebut, orang-orang Mesir
tergoncang sebagaimana istana
Fir'aun juga tergoncang melihat
seksa yang mengerikan dan
baru ini. Lagi-lagi mereka menuju ke Nabi Musa dan meminta
kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya dan mereka berjanji pada kali ini untuk
membebaskan orang-orang Bani Israil. Nabi
Musa pun berdoa
kepada Tuhannya sehingga
azab itu disingkirkan dari orang-orang Mesir.
Meski demikian. istana
Fir'aun tidak mengizinkan Musa untuk menemui
kaumnya dan pergi
bersama mereka.
Lalu bagaimana sikap Fir'aun sendiri? Fir'aun
tetap menunjukkan pembangkangnya dan kesombongannya. Fir'aun
mengumumkan di tengah-tengah kaumnya
bahawa dia tuhan. Bukankah
- kata Fir'aun
- dia memiliki
kerajaan Mesir dan sungai-sungai ini
mengalir di bawah
kekuasaannya? Fir'aun memberitahu bahawa Musa adalah tukang sihir
yang bohong dan ia hanya seorang fakir yang tidak mampu menggunakan satu kalung
emas dan satu gelang emas. Allah s.w.t berfirman: "Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus Musa
dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami
kepada Fir'aun dan
pemuka-pemuka kaumnya.
Maka Musa berkata:
'Sesungguhnya aku adalah
dari utusan Tuhan
seru sekalian alam. Maka
tatkala dia datang
kepada mereka dengan
membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka
mengetawakannya. Dan tidakkah
Kami perlihatkan kepada
mereka sesuatu mukjizat
kecuali mukjizat itu lebih
besar dari mukjizat-mukjizat sebelumnya. Dan
Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kejalan yang
benar). Dan mereka berkata:
'Hai ahli sihir
berdoalah kepada Tuhanmu
untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya
kepadamu; sesungguhnya kami (jika
doamu dikabulkan) benar-benar akan
menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka tatkala Kami menghilangkan
azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya). Dan
Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: 'Hai kaumku, bukankah kerajaan
Mesir ini
kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini
mengalir di bawahku; maka
apakah kamu tidak melihat(nya)?' Bukankah aku lebih baik dari orang
yang hina ini
dan yang hampir
tidak dapat dijelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak
dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang
bersama-sama dia untuk
mengiringkannya.' Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya dengan
(perkataannya itu) lalu
mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya
mereka adalah kaum yang fasik." (QS. az-Zukhruf: 46-54) Perhatikanlah ungkapkan Al-Quran: Maka
Fir'aun mempengaruhi kaumnya dengan (perkataannya itu)
lalu mereka patuh
kepadanya. Fir'aun memenjara akal mereka,
membelenggu kebebasan mereka,
dan menutup masa
depan mereka yang cerah.
Fir'aun menodai kemanusiaan
mereka sehingga mereka mentaatinya. Bukankah ketaatan ini
aneh? Namun keanehan ini hilang ketika kita
mengetahui bahawa mereka
adalah orang- orang
yang fasik. Kefasikan menjadikan seseorang tidak peduli
dengan masa depannya dan kepentingannya serta urusannya. Pada akhirnya, ia akan
mendapati kehancuran. Demikianlah yang terjadi pada kaum Fir'aun. Allah s.w.t
berfirman: "Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka
lalu Kami tenggelamkan mereka
semuanya (di laut),
dan Kami jadikan
mereka sebagai pelajaran dan
contoh bagi orang-orang yang
kemudian." (QS.
az-Zukhruf: 55-56) Tampak jelas bahawa
Fir'aun tidak beriman
kepada Musa. Fir'aun
tidak menghentikan usaha untuk
menyeksa Bani Israil
dan ia tetap
merendahkan kaumnya. Maka melihat
kenyataan yang
demikian, Musa dan
Harun berdoa buruk untuk
Fir'aun: "Musa berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi
kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan perhiasan dan harta kekayaan
dalam kehidupan dunia,
ya Tuhan kami,
akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari
jalan Engkau. Ya
Tuhan kami, binasakanlah harta
benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman
hingga mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah
diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan
yang lurus dan janganlah sekali-kali mengikuti jalan orang-orang yang tidak
mengetahui.'" (QS. Yunus: 88-89) Kemudian datanglah izin kepada Nabi Musa
untuk meninggalkan Mesir dengan disertai oleh kaumnya yang mengikutinya. Sikap
kaum Nabi Musa sangat aneh. Tidak semua kaumnya beriman kepadanya. Allah s.w.t
berfirman: "Maka tidak ada
yang beriman kepada
Musa, melainkan pemuda-
pemuda dari kaumnya (Musa)
dalam keadaan takut
bahawa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyeksa
mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu sewenang-wenang di
muka bumi. Dan
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui
batas." (QS. Yunus: 83) Selesailah
urusan.
Kisah Azab kepada firaun dan bala tentaranya
Allah s.w.t telah
menetapkan untuk membuat
suatu keputusan hukum terhadap
Fir'aun. Allah s.w.t
memerintahkan kepada Musa untuk keluar dan mengizinkan Bani
Israil untuk pergi. Mereka bersiap-bersiap untuk keluar dan pergi bersama Musa.
Mereka membawa perhiasan-perhiasan mereka
lalu datanglah malam
kepada mereka. Nabi
Musa berjalan bersama mereka dan menyeberangi Laut Merah
dan menuju ke negeri Syam. Sementara itu, utusan Fir'aun dan intelejennya
bergerak. Sampailah berita kepada Fir'aun bahawa Musa telah pergi beserta
kaumnya. Fir'aun mengeluarkan perintahnya di
segenap penjuru kota
agar pasukan yang
besar berkumpul.
Fir'aun
menyampaikan alasan yang
aneh di balik
pengumpulan tentera itu sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran:
"Dan sesungguhnya mereka
membuat hal-hal yang
menimbulkan amarah kita.
" (QS. asy-Syu'ara': 55) Fir'aun telah naik pitam melihat aksi Musa.
"Secara peribadi aku telah marah padanya. Jumlah
mereka sedikit namun
kemarahan kita terhadap
mereka sungguh banyak. Kalau demikian, ini adalah peperangan." Fir'aun
benar-benar seorang penjahat kelas kakap. Ia tidak berusaha menyembunyikan
niatnya di balik kata-kata besarnya.
Misalnya, secara diplomasi
ia dapat mengatakan bahawa keamanan
kerajaan terancam atau
sistem ekonomi akan
hancur jika para pekerja ini
yang digaji dengan sangat murah ini akan keluar. Fir'aun tidak mengatakan semua
itu tetapi ia hanya menyatakan bahawa ia sedang emosi. Nabi Musa membuatnya
naik pitam dan
ini sudah cukup
untuk mengeluarkan perintah agar
para tentera dikumpulkan. Manusia
membenarkan tindakan
Fir'aun untuk seribu
kalinya setelah membohongkannya.
Tiada seorang pun yang
menentangnya dan tidak
ada seorang pun
yang mempersoalkan sebab kenapa di balik pengumpulan tentera
itu. Akhirnya, bergeraklah tentera
Fir'aun dengan membawa
persenjataan yang lengkap
dan mereka berusaha
mengejar Nabi Musa.
Fir'aun duduk di
atas kenderaan perangnya dan mengawasi tentera di sekitamya sambil
tersenyum. Barangkali ia membayangkan, jika
sejak semula ia
melakukan itu maka gerak-geri Musa
akan dapat dipatahkannya dan
ia dapat membunuhnya. Alhasil, ia sekarang berada di
jalan untuk menangkap Musa dan membunuhnya dan menyelesaikan masalah
seluruhnya. Nabi Musa berdiri di depan Laut Merah. Tampak dari kejauhan bahawa
debu yang ditebarkan oleh tentera Fir'aun mulai mendekat.
Lalu setelah itu tampak panji-panji tentera.
Melihat hal itu,
kaum Nabi Musa
merasakan ketakutan. Mereka
menghadapi situasi sangat sulit dan berbahaya: di depan mereka ada laut sementara di
belakang mereka ada
musuh. Mereka tidak
memiliki kesempatan
sedikit pun untuk
berperang dengan pasukan
Fir'aun kerana mereka hanya
terdiri dari wanita-wanita, anak-anak
kecil, dan orang-orang lelaki yang tidak bersenjata.
Fir'aun akan menyembelih mereka semuanya. Tiba-tiba terdengarlah teriakan dari
kaum Nabi Musa: "Fir'aun akan menyusul kita dan
menangkap kita." Nabi
Musa berusaha menenangkan
mereka sambil berkata: "Tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku dan
Dia pun akan membimbingiku." Kita
tidak mengetahui bagaimana
perasaan Nabi Musa
saat itu atau apa
yang difikirkannya. Yang
jelas, ia tidak
mendapat kepercayaan
seperti ini kecuali
setelah Allah s.w.t
mewahyukan kepadanya agar
ia memukulkan tongkatnya ke lautan itu. Kemudian Nabi Musa pun
memukulkan tongkat yang dibawanya kepada lautan itu. Demikianlah bahawa
kehendak Allah s.w.t
pasti terlaksana meskipun
harus bertentangan dengan logik manusia. Allah s.w.t ingin menunjukkan
mukjizat, kemudian Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa untuk memukulkan
tongkatnya kepada lautan.
Pemukulan tongkat terhadap lautan hanya sekadar sebab yang
kemudian diikuti dengan
terbelahnya lautan. Belum
sampai Nabi Musa
mengangkat tongkatnya sehingga malaikat Jibril turun ke bumi lalu Nabi Musa
memukulkan tongkatnya ke
lautan. Tiba-tiba laut
itu terbelah menjadi
dua bahagian: satu bahagian menjadi kering kontang di mana di sebelah
kanannya terdapat ombak dan
di sebelah kirinya
juga terdapat ombak.
Nabi Musa bersama kaumnya berjalan
sehingga mereka dapat melewati lautan. Ini adalah mukjizat yang
sangat besar. Ombak
bergelombang: meninggi dan
menurun sehingga tampak ada
tangan tersembunyi yang
mencegahnya agar jangan sampai menenggelamkan Nabi Musa atau
bahkan membasahinya sekalipun. Demikianlah Nabi Musa dan kaumnya berhasil
melewati lautan. Sementara itu, Fir'aun
sampai ke lautan.
Ia menyaksikan mukjizat ini.
Ia melihat lautan terdapat jalan kering yang terbelah
menjadi dua. Fir'aun saat itu merasakan ketakutan tetapi
lagi-lagi keras kepalanya dan
pembangkangnya tetap
menyalakan api peperangan
sehingga ia menyuruh
pasukannya untuk maju. Ketika Musa
selesai menyeberangi lautan,
ia menoleh ke
lautan dan ia
ingin memukulkan dengan tongkatnya sehingga kembali
sebagaimana mestinya, tetapi Allah s.w.t mewahyukan
kepadanya agar ia membiarkan lautan seperti semula.
Seandainya ia memukulkan
tongkatnya kepada lautan
dan laut itu kembali seperti semula nescaya Nabi Musa
akan selamat dan Fir'aun pun akan selamat,
sedangkan Allah s.w.t
telah berkehendak untuk
menenggelamkan Fir'aun. Oleh kerana itu, Musa diperintahkan untuk
membiarkan lautan seperti semula. Allah s.w.t mewahyukan kepadanya: "Dan biarlah
laut itu tetap
terbelah. Sesungguhnya mereka
adalah tentera yang akan
ditenggelamkan." (QS. ad-Dukhan: 24)
Fir'aun
bersama tenteranya sampai
di tengah lautan.
Ia sudah melewati separuhnya dan
ia akan sampai
ke tepi yang
lain. Kemudian Allah
s.w.t memerintahkan kepada Jibril. Lalu Jibril menggerakkan ombak
sehingga ombak itu menerpa Fir'aun dan menenggelamkannya beserta tenteranya.
Fir'aun dan tenteranya
tenggelam. Pembangkang telah
tenggelam sedangkan keimanan kepada Allah s.w.t telah selamat.
Ketika tenggelam, Fir'aun melihat tempatnya di neraka. Kini. ia sedar dan tabir
telah terkuak di depannya. Fir'aun telah menjemput sakaratul maut.
Ia telah
menyedari bahawa Musa
adalah seorang yang
benar dan
ia telah menyia-nyiakan dirinya
dengan menentangnya dan
berusaha memeranginya. Fir'aun
berusaha menunjukkan keimanannya. "Hingga
bila Fir'aun itu
hampir tenggelam berkatalah
dia: 'Saya percaya bahawa tidak ada Tuhan melainkan
Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan
saya termasuk orang-orang
yang berserah diri
(kepada Allah).'" (QS. Yunus: 90) Taubat Fir'aun
tidak berguna dan
tidak diterima; taubat
yang justru disampaikan ketika
ia menyaksikan azab dan akan memasuki pintu kematian. Jibril berkata kepadanya:
"Apakah sekarang (baru
kamu percaya), padahal
sesungguhnya kamu telah derhaka sejak
dahulu, dan kamu
termasuk orang-orang yang
berbuat kerosakan." (QS. Yunus: 91) Yakni, tidak
ada taubat bagimu.
Sungguh telah selesai
waktu taubat bagimu dan engkau telah
binasa.
Selesailah
urusan ini dan
tiadalah keselamatan bagimu. Yang
selamat hanyalah tubuhmu
dan engkau akan
dilemparkan oleh ombak ke
tepi sehingga tubuhmu
sebagai bukti kebesaran
Allah s.w.t bagi orang-orang yang hidup sesudahmu:
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi
peringatan bagi orang-orang yang
datang sesudahmu dan
sesungguhnya kebanyakan
dari manusia lengah
dari tanda-tanda kekuasaan
Kami." (QS. Yunus: 92)
Apa yang terjadi pada Fir'aun
merupakan sunatullah yang
abadi yang terjadi sebagai pelajaran bagi hamba-hamba
Allah s.w.t. Allah s.w.t berfirman: "Maka
tatkala mereka melihat
azab Kami, mereka
berkata: 'Kami beriman hepada Allah
saja dan kami
kafir kepada sembahan-
sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.'"
(QS. al- Mu'min: 84) Allah s.w.t menceritakan sikap Fir'aun bersama Musa dalam
firman-Nya: "Dan Kami wahyukan
(perintahkan) kepada Musa:
'Pergilah di malam
hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), kerana sesungguhnya
kamu sekalian akan disusuli. Kemudian Fir'aun
mengirimkan orang yang mengumpulkan (tenteranya) ke
kota-kota. (Fir'aun berkata): 'Sesungguhnya mereka (Bani
Israil) benar-benar golongan
kecil-kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang
menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita
benar-benar golongan yang
selalu berjaga-jaga.' Maka
Kami keluarkan Fir'aun dari
kaumnya dari taman-taman dan
mata air, dan
(dari) perbendaharaan dan kedudukan
yang mulia, demikianlah halnya
dan Kami anugerahkan semuanya (itu)
kepada Bani Israil.
Maka Fir'aun dan
bala tenteranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka
setelah kedua golongan itu
saling melihat, berkatalah pengikut- pengikut
Musa: 'Sesungguhnya kita benar-benar akan disusul.' Musa menjawab:
'Sekali-kali kita tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak
Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang
lain. Dan Kami
selamatkan Musa dan
orang-orang yang besertanya semuanya. Dan
Kami tenggelamkan golongan
yang lain itu.
Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar merupakan
suatu tanda yang
besar (mukji-zat) dan tetapi
adalah kebanyakan mereka
tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu
benar-benar Dialah Yang
Maha Perkasa lagi
Maha Penyayang." (QS. asy-Syu'ara': 52-68) Tersingkaplah kejahatan dan
kelaliman Fir'aun.
Ombak lautan menggiring tubuhnya ke
tepi. Kami tidak
mengetahui tepi mana
yang dimaksud, yang menggiring tubuh
seseorang yang mengaku
dirinya sebagai tuhan;
seseorang yang tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Diduga
kuat bahawa ombak menggiring jasadnya
ke tepi barat
lalu orang-orang Mesir
melihatnya dan mengetahui bahawa
tuhan mereka yang
mereka sembah, yang
mereka taati adalah sekadar seseorang yang tidak mampu menjauhkan
kematian dari lehernya. Setelah itu, orang-orang Mesir
mengetahui kebenaran secara
sempurna. Al-Quran al-Karim tidak
menceritakan kepada kita
apa yang mereka
perbuat setelah jatuhnya rejim
Fir'aun dan setelah
tenteranya tenggelam; Al-Quran tidak menceritakan kepada kita
bagaimana reaksi mereka setelah Allah s.w.t menghancurkan apa yang
diperbuat oleh Fir'aun
dan kaumnya dan
apa yang mereka bangun;
Al-Quran tidak menyinggung semua
itu; Al-Quran justru memfokuskan keadaan Musa dan Harun
dan bagaimana peristiwa yang dialami Bani Israil bersama kedua nabi itu.
Fir'aun Mesir telah mati. Ia tenggelam di hadapan mata orang-orang Mesir dan
Bani Israil. Meskipun ia telah mati, tetapi pengaruhnya tetap membekas pada
jiwa orang-orang Mesir
dan Bani Israil.
Sungguh sangat sulit untuk menghilangkan pengaruh kehinaan
yang sekian lama
atau sekian tahun tertanam dalam
jiwa dan kemudian
jiwa itu menjadi
mulia.
Fir'aun telah
menanamkan pada jiwa
Bani Israil sesuatu
yang akan kita
ketahui dari ayat-ayat Al-Quran.
Fir'aun telah membiasakan
mereka untuk mendapatkan kehinaan. Fir'aun telah
menghancurkan jiwa mereka dari dalam. Fir'aun telah merosak suasana
rohani mereka yang
bersih. Fir'aun telah
merosak fitrah mereka sehingga
mereka menyeksa Musa
dan menyakiti Musa
dengan sikap penentangan dan
kebodohan. Mukjizat pembelahan lautan
masih segar di
fikiran mereka. Pasir-pasir
laut yang basah masih
membekas dan masih
terdapat dalam sandal- sandal Bani Israil
ketika mereka lewat
di depan kaum
yang menyembah berhala.
Kisah kemungkaran bani israil setelah melihat mukjizat
nabi Musa AS
Pasir-pasir laut yang
basah masih membekas
dan masih terdapat
dalam sandal- sandal
Bani Israil ketika mereka
lewat di depan
kaum yang menyembah berhala. Seharusnya mereka menampakkan
kemarahan mereka atas kelaliman terhadap akal,
dan mereka memuji
kepada Allah s.w.t
kerana mereka mendapatkan petunjuk pada jalan keimanan dan
kebenaran.
Tetapi mereka justru menoleh kepada Musa dan meminta
kepadanya agar menjadikan tuhan lain bagi mereka yang dapat mereka sembah
seperti orang-orang itu. Mereka merasa cemburu ketika melihat
orang-orang yang menyembah berhala itu
dan mereka pun menginginkan hal
yang sama. Mereka
merasakan kerinduan kepada
hari-hari syirik yang lalu
yang mereka dapati
di bawah naungan
Fir'aun. Nabi Musa mengetahui betapa bodohnya mereka.
Allah s.w.t berfirman: "Dan
Kami seberangkan Bani
Israil ke seberang
lautan itu, maka
setelah mereka sampai pada
suatu kaum yang
tetap menyembah berhala
mereka, Bani Israil berkata:
'Hai Musa, buatlah untuk
kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan
(berhala).'
Musa menjawab: 'Sesungguhnya kamu
ini adalah kaum
yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).' Sesungguhnya mereka itu
akan dihancurkan
kepercayaan yang dianutnya
dan akan batal
apa yang selalu
mereka kerjakan. Musa menjawab: 'Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu
yang selain daripada Allah,
padahal Dialah yang
telah melebihkan kamu
atas segala umat. Dan
(ingatlah hai Bani
Israil), ketika Kami
menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan
azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan
hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cubaan yang besar dari
Tuhanmu. " (QS. al-A'raf: 138-141) Musa berjalan bersama kaumnya di
Saina', yaitu suatu gurun yang di dalamnya terdapat pohon yang dapat melindungi
dari sengatan matahari dan di dalamnya terdapat makanan dan air. Kemudian
rahmat Allah s.w.t turun kepada mereka di mana mereka mendapatkan al-Manna dan
Salwa dan mereka dinaungi oleh awan.
Al-Manna adalah makanan
yang rasanya mendekati manis
dan ia dihasilkan oleh sebahagian pohon-pohon yang
berbuah di Bani
Israil terbagi menjadi
dua belas cucu maka
Allah s.w.t mengirim
air tersebut kepada
setiap kelompok. Meskipun mereka
mendapatkan kemuliaan dan
kehormatan yang sedemikian rupa, tetapi lagi-lagi jiwa
mereka yang sakit tidak dapat menyedarkan mereka untuk mensyukuri nikmat-nikmat
ini. Mereka justru mendebat Nabi Musa dan mengatakan bahawa
mereka bosan dengan
makanan ini dan
mereka ingin memiliki bawang
merah dan bawang
putih serta kacang-kacangan.
Semua makanan
ini adalah makanan
tradisional Mesir. Bani
Israil meminta kepada Nabi
mereka untuk berdoa
kepada Allah s.w.t
dan mengeluarkan dari
bumi makanan- makanan ini.
Nabi Musa melihat
bahwa mereka menganiaya diri mereka sendiri, dan Nabi Musa menyedari
betapa mereka merindukan kehinaan mereka
saat mereka bersama
Fir'aun. Mereka berani
menolak makanan- makanan yang
baik dan makanan-makanan yang mulia, dan sebagai gantinya, mereka malah
menginginkan
makanan-makanan yang rendah
mutunya. Allah s.w.t berfirman:
"Dan ingatlah ketika kamu berkata: 'Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan)
dengan satu macam
makanan saja.
Sebab itu,
mohon-kanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar
Dia mengeluarkan bagi
kami dari apa
yang ditumbuhkan bumi, yaitu:
'Sayur-sayuran, ketimunnya, bawang
putihnya, kacang adasnya, dan
bawang merahnya.' Musa
berkata: 'Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai
pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu
ke suatu kota,
pasti kamu memperoleh
apa yang kamu
minta.' Lalu ditimpakanlah
kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari
Allah. Hal itu
(terjadi) kerana mereka
selalu mengingkari
ayat-ayat Allah dan
membunuh para nabi
yang memang tidak
dibenarkan. Demikianlah
itu (terjadi) kerana
mereka selalu berbuat
derhaka dan melampaui batas.
" (QS. al-Baqarah: 61) Nabi Musa berjalan
bersama kaumnya menuju
Baitul Maqdis. Nabi
Musa memerintahkan kaumnya untuk
memasukinya dan memerangi siapa pun
yang ada di dalamnya
serta berusaha menguasai
tempat itu. Demikianlah
telah datang ujian terakhir
kepada mereka setelah
mereka menyaksikan mukjizat dan ayat-ayat Allah s.w.t serta
hal-hal yang luar biasa. Telah datang saat ujian kepada mereka untuk berperang
- kerana mereka sebagai orang-orang mukmin - melawan kaum penyembah berhala.
Namun kaum Nabi Musa menolak untuk memasuki
tanah suci. Nabi
Musa berusaha menyedarkan mereka
dengan menceritakan
bagaimana nikmat Allah
s.w.t yang turun
kepada mereka; bagaimana Allah
s.w.t menjadikan di
tengah-tengah mereka para
nabi dan menjadikan mereka
raja-raja yang mewarisi kerajaan Fir'aun; dan bagaimana mereka diberi suatu
kekayaan dan anugerah yang tidak dapat didapatkan oleh seseorang pun di dalam
dunia.mana angin membawa kepada
mereka rasa demikian ini dari daun-daun pohon. Allah s.w.t juga mengirim kepada
mereka as-Salwa, yaitu salah satu burung yang bernama as-Saman. Ketika mereka
merasakan kehausan yang sangat saat di Saina' tidak ada setitis air pun maka
Nabi Musa memukulkan dengan tongkatnya kepada batu sehingga batu itu
memancarkan dua belas
mata air.
Kaum Nabi Musa takut kepada peperangan dan beralasan bahawa
di dalamnya terdapat kaum yang
perkasa dan mereka
tidak akan masuk
ke tanah suci sehingga orang-orang yang
kuat itu keluar
darinya. Kitab-kitab kuno mengatakan bahawa mereka keluar dalam
jumlah enam ratus ribu. Nabi Musa tidak dapat mendapatkan seseorang pun di
antara mereka yang siap melakukan peperangan kecuali dua orang. Kedua orang ini
berusaha untuk menyedarkan kaum
agar mereka memasuki
tanah suci itu
dan berperang. Mereka
berdua berkata: "Sungguh hanya sekadar kalian memasuki pintu
darinya maka kalian akan
mendapatkan kemenangan." Tetapi
Bani Israil menampakkan
ketakutan dan tubuh mereka tampak gementar. Pada kali
yang lain -
sesuai dengan tabiat
mereka - mereka
merindukan menyembah berhala
ketika melihat ada
kaum yang menyembah berhala. Mereka telah
rosak dan mereka
telah kalah dari
dalam diri mereka;
mereka telah biasa mendapatkan kehinaan sehingga mereka tidak mampu
berperang. Yang tersisa hanyalah, mereka mampu untuk bersikap tidak sopan pada
Nabi Musa as dan
kepada Tuhannya.
Kaum Nabi Musa
berkata kepadanya dalam kalimat yang terkenal:
"Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan
berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk
menanti di sini saja." (QS. al-Maidah: 24) Mereka mengucapkan kata-kata
tersebut dengan lantang dan jelas serta tanpa rasa malu. Nabi Musa mengetahui
bahawa kaumnya sangat jauh dari kebaikan. Fir'aun telah
mati tetapi pengaruhnya
tetap tertanam dalam
jiwa mereka di mana untuk mengubatinya memerlukan waktu
yang lama. Nabi Musa kembali kepada Tuhannya dan memberitahu-Nya bahawa ia
tidak memiliki sesuatu pun kecuali dirinya dan saudaranya. Nabi Musa berdoa
buruk kepada kaumnya agar Allah
s.w.t memisahkan antara
dirinya dan mereka.
Allah s.w.t menurunkan keputusan-Nya kepada generasi ini
yang telah rosak fitrahnya. Yaitu keputusan yang berupa: mereka disesatkan
selama empat puluh tahun sehingga generasi ini
mati atau mereka mencapai
usia senja dan
kemudian akan lahir
generasi yang baru; generasi
yang belum rosak
jiwanya dan mereka
akan dapat berperang dan memperoleh
kemenangan. Allah s.w.t berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata
kepada kaumnya: 'Hai kaumku, ingatlah nikmat
Allah atasmu ketika
Dia mengangkat nabi-nabi
di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka,
dan diberikannya kepadamu apa yang
belum pernah diberikan-Nya kepada
Kisah bani israil di tanah palestina
seseorang pun
di antara umat-umat yang lain.'
Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah
bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (kerana takut kepada
musuh) maka kamu
menjadi orang-orang yang
rugi. Mereka berkata: 'Hai Musa,
sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa,
sesungguhnya kami sekali-kali tidak
akan memasukinya sebelum mereka
keluar darinya. Jika
mereka keluar darinya,
pasti kami akan memasukinya.'
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah)
yang Allah telah
memberi nikmat atas
keduanya: 'Serbulah mereka dengan melalui
pintu gerbang (kota)
itu, maka bila
kamu memasukinya
nescaya kamu akan
menang. Dan hanya
kepada Allah hendaklah kamu
bertawakal, jika kamu
benar-benar orang yang
beriman.' Mereka
berkata: 'Hai Musa,
kami sekali-kali tidak
memasukinya selama-lamanya
selagi mereka ada
di dalamnya, kerana
itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan
berperanglah kamu berdua,
sesungguhnya kami hanya duduk
menanti di sini
saja.' Berkata Musa:
'Ya Tuhanku, aku
tidak menguasai kecuali diriku
sendiri dan saudaraku. Sebab
itu pisahkanlah antara kami
dengan orang-orang yang
fasik itu. 'Allah
berfirman: '(Jika
demikian), maha sesungguhnya negeri itu diharamkan
atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka
akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu
bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS.
al-Maidah: 20-26) Dimulailah
hari-hari kesesatan.
Mereka
melewati tempat yang
tertutup. Mereka memulai dari
tempat yang mereka
akhiri dan sebaliknya. Alhasil, mereka berjalan
tanpa tujuan sepanjang
siang-malam, pagi-sore. Mereka memasuki daratan di daerah Saina'.
Nabi Musa kembali ke tempat yang beliau bertemu di
dalamnya untuk pertama
kalinya dengan kalimat-
kalimat Allah s.w.t. Bani Israil
turun dari at-Thur, dan Nabi Musa mendaki gunung sendirian. Di sana diturunkan
Taurat dan Tuhannya berdialog dengannya. Sebelum Nabi Musa naik untuk
bertemu dengan Tuhannya, ia menjadikan saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya
untuk kaumnya. Harun diangkatnya sebagai wakilnya yang
bertanggungjawab untuk
mengurus kaumnya.
Kisah Munajat Nabi Musa AS
Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia
menjadikan saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun
diangkatnya sebagai wakilnya yang bertanggungjawab untuk
mengurus kaumnya. Dan
Musa pun pergi
menuju Tuhannya. Allah s.w.t berfirman: "Dan telah Kami jadikan
kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan
Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam
lagi), maka sempurnakanlah waktu
yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan
berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun:
'Gantikanlah aku dalam
(memimpin) kaumku, dan
perbaikilah, dan janganlah kamu
mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerosakan'" (QS. al-A'raf: 142)
Orang-orang dahulu mengatakan bahawa Nabi Musa berpuasa selama tiga puluh
hari sepanjang malam
dan siang tanpa
mencecah makanan sedikit
pun kemudian Nabi Musa tidak ingin untuk berdialog kepada Tuhannya
sementara mulutnya dalam keadaan
seperti mulut orang
yang berpuasa. Lalu
beliau memakan sedikit dari
tanaman bumi dan
beliau mengunyahnya.
Tuhannya berkata kepadanya: "Mengapa engkau
berbuka?" Musa menjawab: "Ya Tuhanku, aku tidak
ingin berbicara denganmu
kecuali mulutku dalam
keadaan baik baunya." Allah
s.w.t menjawab: "Tidakkah engkau
mengetahui wahai Musa
bahawa mulut orang
yang berpuasa di
sisi-Ku lebih baik
daripada bau misik. Kembalilah engkau
berpuasa selama sepuluh
hari kemudian datanglah kepada-Ku." Nabi Musa as
pun melaksanakan perintah-Nya. Kami
tidak mengetahui secara
pasti, mengapa Nabi
Musa berpuasa selama empat puluh
malam, bukan tiga
puluh hari. Yang
kita ketahui bahawa
Allah s.w.t menambah sepuluh hari yang lain. Setelah itu,
turunlah Taurat; turunlah kepadanya sepuluh wasiat:
1.Perintah
untuk hanya menyembah kepada Allah
s.w.t dan tidak menyekutukan-Nya.
2. Larangan untuk
bersumpah bohong atas nama Allah s.w.t
3. Menjaga kehormatan
pada hari Sabtu. Dengan pengertian, memfokuskan hari Sabtu sebagai hari ibadah.
4. Perintah untuk menghormati ayah dan ibu.
5.menyedari bahawa
Allah s.w.t yang dapat memberi dan membagi.
6. Janganlah engkau membunuh.
7. Janganlah engkau
berzina.
8. Janganlah engkau mencuri.
9. Janganlah memberikan kesaksian yang palsu.
10. Jangan engkau
merasa tertipu atau
terpikat kepada rumah
temanmu atau Isterinya atau budaknya atau sapinya atau keledainya.
Para ulama salaf
mengatakan bahawa kandungan sepuluh
wasiat ini telah terdapat dalam dua ayat dalam Al-Quran,
yaitu dalam firman-Nya:
"Katakanlah:
'Marilah kubacakan apa
yang diharamkan atas
kamu oleh Tuhanmu, yaitu:
Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu
dengan Dia, berbuat baiklah
terhadap kedua ibu
dan bapakmu, dan
janganlah kamu membunuh
anak-anak kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan
kepada mereka; dan
janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang
keji, baik yang
tampak di antaranya
mahupun yang tersembunyi, dan
janganlah kamu membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan
sesuatu (sebab) yang
benar.' Demikian itu yang
diperintahkan oleh Tuhanmu
kepadamu supaya kamu memahaminya. Dan janganlah
kamu mendekati harta
anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
bermanfaat, hingga sampai
ia dewasa. Dan sempurnakan takaran
dan timbangan dengan
adil. Kami tidak
memikulkan beban kepada seseorang
melainkan dengan kesanggupannya. Dan
apabila kamu berkata, maka
hendaklah kamu berlaku
adil kendatipun dia
adalah kerabat(mu), dan penuhilah
janji Allah. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu
ingat. " (QS. al-An'am: 151- 152)
Allah s.w.t menceritakan kepada kita bagaimana keadaan Musa
ketika ia pergi untuk menemui janji
dengan Tuhannya.
Musa ketika berpuasa
selama empat puluh malam
bermaksud untuk lebih mendekat kepada Tuhannya. Ketika Allah s.w.t berdialog
dengannya, maka Musa
merasakan cinta yang
semakin bergelora kepada Tuhannya. Kami tidak mengetahui perasaan apa
yang ada di hati Musa ketika
ia meminta kepada
Tuhannya agar dapat
melihatnya. Seringkali cinta yang ada di dalam manusia mendorong dirinya
untuk meminta sesuatu yang mustahil.
Lalu bagaimana bayangan
Anda terhadap cinta
yang berhubungan dengan cinta
kepada Allah s.w.t.
Ia adalah hakikat
cinta. Kedalaman perasaan Nabi
Musa kepada Tuhannya
dan kecintaannya kepada sang
Pencipta, semua ini
mendorongnya untuk meminta
kepada Allah s.w.t agar dapat melihatnya. Allah s.w.t
berfirman: "Dan tatkala Musa
datang untuk (munajat
dengan Kami) pada
waktu yang telah Kami
tentukan dan Tuhan
telah berfirman (langsung)
kepadanya, berkatalah Musa: 'Ya
Tuhanku, tampakkanlah (diri
Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.'"
(QS. al- A'raf: 143) Demikianlah
dorongan cinta dari
para pencinta sejati.
Ketidak sanggupan Nabi Musa AS melihat Dzat Yang Maha
Agung
dan Tuhan telah
berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa:
'Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri
Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.'"
(QS. al- A'raf: 143) Demikianlah
dorongan cinta dari
para pencinta sejati.
Musa bertanya dan meminta kepada
Tuhannya sesuatu yang
menakjubkan tetapi Allah
s.w.t menjawabnya: "Tuhan berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak
sanggup melihat-Ku." (QS. al-A'raf: 143) Seandainya Allah
s.w.t hanya mengatakan demikian maka
ini pun sebagai bentuk keadilan
dari-Nya, tetapi keadaan
di sini adalah
keadaan cinta Ilahi dari
Musa. Dorongan cinta
yang dibalas dengan
dorongan cinta.
Demikianlah Nabi Musa
mendapatkan rahmat dari
Tuhannya. Allah s.w.t
memberitahunya bahawa ia tidak
akan mampu melihat-Nya
kerana tak satu
pun dari makhluk yang tidak
dapat "menangkap cahaya" dari
Allah s.w.t. Allah
s.w.t memerintahkannya agar melihat gunung, dan jika gunung itu masih
menetap di tempatnya maka ia akan dapat melihat Tuhannya. Allah s.w.t
berfirman: "Tetapi lihatlah ke
bukit itu, maka
jika ia tetap
di tempatnya (sebagai sediakala) nescaya kamu dapat
melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. (QS. al-A'raf: 143)
Tiada seorang pun
yang dapat "menangkap" cahaya
Allah s.w.t. Nabi
Musa mengetahui hakikat ini
dan menyaksikan sendiri.
Ash'aq adalah al-Maut (kematian) atau
al-Ighma' (keadaan tidak
sedarkan diri atau
pengsan).
Kami tidak mengetahui bagaimana keadaan yang
dialami Nabi Musa
ketika ia kehilangan
kehidupannya atau kesedarannya. "Maka
setelah Musa sedar
kembali, dia berkata:
'Maha Suci Engkau,
aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama
beriman.'" (QS. al-A'raf: 143) Para
mufasir klasik cukup
serius meneliti dan
memperbincangkan ayat- ayat ini. Misalnya, mereka bertanya-tanya:
bagaimana Nabi Musa meminta kepada Allah
s.w.t agar dapat
melihat-Nya, padahal ia
tahu bahawa itu
adalah hal yang tidak mungkin
atau mustahil. Mereka berselisih pendapat dalam hal itu dan saling
adu argumentasi.
Mu'tazilah memiliki
pendapat yang lain
dan Ahlusunah pun memiliki pendapat yang lain lagi. Pokok pembicaraan
semuanya berkisar pada: bagaimana seorang nabi tidak mengetahui - padahal ia
adalah makhluk Allah s.w.t
yang paling dekat
dengan-Nya -
bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang sangat mustahil?
Kami kira bahawa sikap Nabi Musa tersebut menggambarkan puncak cinta dan
kedalaman dari hatinya, yang ini merupakan gambaran yang tinggi dari sejarah
yang dilalui oleh
Nabi Musa. Kita
sekarang berada di
hadapan puncak cinta kepada Allah
s.w.t. Dan seorang
pencinta tidak menginginkan selain
melihat "wajah" kekasihnya.
Menurut logik akal bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal
yang mustahil, tetapi kapan cinta pernah peduli dengan logik itu. Nabi Musa
terdorong untuk mendapatkan pengalaman baru yaitu suatu pengalaman yang
kayaknya ia sengaja
melakukannya untuk mewakili
kita semua. Nabi
Musa nekad dan mendorong kita untuk meminta. Ia lebih dahulu merasakan
keadaan tidak sedarkan diri
dan ia telah
membuktikan kepada kita
dengan tubuhnya yang mulia dan
rohnya yang suci bahawa tak seorang pun dapat "menangkap" cahaya Allah
s.w.t. Nabi Musa
dalam keadaan tak
sedarkan diri lalu
ketika bangun ia memuja-muja Allah
s.w.t dan bertaubat
serta meminta ampun kepadaNya: "Dia berkata:
'Maha Suci Engkau,
aku bertaubat kepada
Engkau.'" (QS. al-A'raf:
143)
Mengapa Nabi Musa
bertaubat? Orang-orang sufi
berkata: Ia bertaubat
dari dorongan cinta yang besar di mana ia meminta sesuatu yang mustahil,
padahal ia menyedari itu
adalah mustahil. Ini
adalah tafsiran yang
memuaskan yang didukung oleh
konteks ayat-ayat tersebut.
Perhatikanlah
ayat-ayat (tanda-kebesaran) Allah s.w.t dan bagaimana Dia mengingatkan
Musa terhadap apa-apa yang diterimanya
dari berbagai macam
nikmat. Allah s.w.t
berkata kepada Musa: "Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih
(melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku
dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.
Sebab itu, berpegang
teguhlah kepada apa
yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk
orang-orang yang bersyukur. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh
(Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran
dan penjelasan bagi
segala sesuatu; maka
(Kami berfirman):
'Berpeganglah kepadanya dengan
teguh dan suruhlah
kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya.'" (QS.
al-A'raf: 144-145)
Ahli tafsir memperhatikan firman Allah s.w.t kepada Musa:
"Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu
dari manusia yang
lain (di masamu)
untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku."
Kemudian dilakukanlah perbandingan antara
Nabi Musa dan
nabi-nabi yang lain. Dikatakan
bahawa pemilihan ini
dikhususkan hanya kepadanya
dan di zamannya saja,
dan tidak berlaku
di zaman sebelumnya kerana
ada Nabi Ibrahim di zaman itu,
sedangkan Nabi Ibrahim lebih baik dari Nabi Musa. Begitu juga pemilihan ini
tidak berlaku pada
zaman setelahnya kerana
ada Nabi Muhammad bin Abdullah
saw dan ia lebih baik dari mereka berdua. Kami
ingin menghindari perdebatan
ini, bukan kerana
kami percaya bahawa semua nabi
sama. Memang
Allah s.w.t memberitahu kita
bahawa Dia mengutamakan sebahagian
nabi atau sebahagian
yang lain dan mengangkat darjat sebahagian mereka atau
sebahagian yang lain, tetapi pengutamaan ini adalah hal
yang tidak boleh
kita sentuh.
Hendaklah
kita beriman kepada seluruh nabi
dan kita harus
menunjukkan penghormatan kita
kepada mereka semua. Adalah bukan hal
yang sopan jika
kita mencuba membanding-bandingkan di
antara para nabi. Yang
utama adalah, hendaklah kita
meyakini dan mengimani mereka semua. Akhirnya, selesailah perjumpaan Musa
dengan Tuhannya. Kemudian Nabi Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah
dan jengkel. Di
alam wujud tidak
ada seorang manusia
yang memiliki kelembutan dan kerelaan hati yang begitu besar seperti
Nabi Musa, tetapi ia diberitahu
oleh Tuhannya bahawa
kaumnya telah menyimpang
dari jalannya. Oleh kerana
itu, ia kembali
dalam keadaan marah
dan jengkel kepada mereka. Allah
s.w.t berfirman: "Mengapa
kamu datang lebih
cepat daripada kaummu,
hai Musa? Berkata Musa: 'Itulah mereka sedang
menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha
(kepadaku). Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya, Kami telah menguji kaummu
sesudah kamu tinggalkan, dan mereka
telah disesatkan oleh
Samiri. Kemudian Musa
kembali kepada kaumnya dengan
marah dan bersedih hati. " (QS. Thaha: 83-86) Musa turun
dari gunung dan
membawa papan Taurat.
Kisah fitnah Musa samiri
Rasa-rasanya hatinya
mendidih dan jengkel.
Kita dapat membayangkan bagaimana
emosi yang membakar Nabi
Musa saat ia
mengayunkan langkahnya menuju
kaumnya. Betapa tidak, belum
lama Nabi Musa
meninggalkan kaumnya dan
menemui Tuhannya, mereka mendapatkan
fitnah melalui Samiri.
Fitnah ini adalah, bahawa Bani
Israil - ketika
keluar dari Mesir
- membawa banyak
dari harta perhiasan orang-orang
Mesir dan emas-emas
mereka. Mereka mengambilnya untuk mereka memanfaatkan dalam
pesta perayaan mereka. Kemudian mereka selamat kerana mukjizat pembelahan
lautan di mana lautan menenggelamkan Fir'aun dan tenteranya sehingga harta
mereka yang berupa emas dimiliki oleh Bani Israil. Harun mengetahui
bahawa emas tersebut
bukan milik mereka
lalu Harun memintanya dari
mereka dan menimbunnya di
tanah. Bani Israil
tidak memerlukannya kerana saat
ini mereka sedang
tersesat. Mereka berjalan
di tengah-tengah gurun sehingga tidak bermanfaat bagi mereka emas- emas
itu. Harun, saudara kandung Musa, menggali tanah dan meletakkan emas-emas itu
lalu menimbunkan di
atasnya tanah. Samiri
melihat apa yang
dilakukan oleh Harun.
Setelah itu,
dia mengeluarkannya dan
membuat sebuah patung
sapi yang menyerupai sapi
Ibis sesembahan orang-orang Mesir.
Samiri adalah seorang pemahat
yang mahir. Dia mampu membuat anak sapi yang menarik di mana ketika dia
meletakkannya di arah angin maka akan masuk darinya udara dari celah bahagian
belakangnya lalu keluar dari hidungnya. Samiri membuat suara yang menyerupai
suara sapi yang sebenamya. Konon,
rahsia kehebatan sapi
ini adalah kerana
Samiri telah mengambil segenggam tanah
yang dilalui Jibril
ketika ia
turun ke bumi
dalam peristiwa mukjizat
pembelahan laut. Yakni Samiri melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kaum Nabi
Musa. Kemudian dia mengambil segenggam tanah dari bekas yang dilalui seorang
utusan (Jibril) dan
meletakkannya bersama emas.
Samiri membuat darinya anak
sapi.
Jibril as
tidak berjalan di
atas sesuatu kecuali sesuatu itu menjadi hidup. Ketika
Samiri menambahkan tanah itu ke emas lalu membuat darinya
anak sapi maka
anak sapi itu
dapat bersuara seperti
anak sapi yang sebenarnya.
Demikianlah kisah Samiri.
Kita mengetahui sekarang bahawa jika
tanah ditambahkan ke
emas dan melebur
maka tanah itu
akan terpisah dari emas dan
akan meninggalkan bekas
(lubang) di tempat terpisahnya itu.
Diduga kuat bahawa
Samiri menggunakan tanah
itu seperti tanah yang
lain dalam usaha
untuk mengeringkan bahagian
dalam dari anak sapi di mana patung itu berubah menjadi
patung yang mempunyai suara. Setelah
itu, Samiri keluar
menemui Bani Israil
dengan membawa apa
yang dibuatnya. Mereka bertanya kepadanya: "Apa ini, hai
Samiri?" Ia menjawab: "Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa."
Mereka berkata: "Bukankah Musa sedang menemui Tuhannya?" Samiri
menjawab: "Musa telah
lupa ia pergi
untuk menemui tuhannya di
sana, padahal sebenarnya tuhannya ada
di sini. Lembu itu bukan tuhan
kalian dan bukan juga tuhan Musa:" Akhirnya, Bani Israil menyembah anak
sapi ini. Barangkali pembaca akan merasa heran terhadap fitnah ini. Bagaimana
akal kaum itu dapat
tunduk sampai pada
keadaan seperti ini?
Bukankah mereka telah menyaksikan
mukjizat yang besar?
Bagaimana mereka dengan
mudah menyembah berhala?
Kebingungan tersebut segera
hilang ketika kita
lihat keadaan kejiwaan kaum yang menyembah anak sapi itu. Mereka telah
terdidik di Mesir pada saat mereka menyembah berhala dan sangat mengkultuskan
anak sapi Ibis. Mereka
terdidik di bawah
kehinaan dan perbudakan
sehingga jiwa mereka menjadi ternoda
dan fitrah mereka
menjadi tercemar.
Mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat dari
Allah s.w.t tetapi
mukjizat itu berbenturan dengan
jiwa-jiwa yang putus
asa. Mukjizat ini
tidak mampu memuaskan mereka
untuk mempercayai kebenaran. Mereka
masih saja dihinggapi keinginan untuk
menyembah berhala. Mereka
adalah para penyembah berhala
seperti tokoh-tokoh Mesir
yang dahulu. Oleh
kerana itu, mereka menyembah
anak sapi. Sikap
mereka ini
tidak terlalu mengagetkan kita. Sebab, setelah mereka
menyaksikan mukjizat pembelahan lautan, mereka melihat suatu kaum yang
menyembah berhala, lalu mereka minta kepada Nabi Musa agar
menjadikan tuhan bagi
mereka seperti kaum yang
menyembah berhala itu. Jadi,
masalahnya adalah masalah
klasik. Pada hakikatnya, hasrat
untuk menyembah
berhala bererti menyembah berhala itu
sendiri. Apa yang dilakukan Samiri adalah, ia memanfaatkan
kerinduan kaum untuk menyembah berhala.
Kemudian Samiri memilih
agar anak sapi
yang diciptakannya
berbentuk emas kerana
ia mengetahui bahawa
umumnya Bani Israil
lemah (mudah terpedaya) pada emas.
Akhirnya, fitnah yang ditimbulkan oleh Samiri tersebar di
sana sini. Harun
sangat terpukul ketika
mengetahui Bani Israil menyembah anak
sapi dari emas.
Mereka terbagi menjadi
dua kelompok: minoriti dari
mereka beriman dan mengetahui bahawa ini adalah tipu daya dan kebohongan
semata, sedangkan majoriti mereka mengingkari Harun dan tetap melampiaskan
kerinduan mereka untuk menyembah berhala. Harun berdiri di tengah- tengah
kaumnya dan mulai
menasihati mereka. Ia
berkata kepada mereka:
"Sesungguhnya kalian tertipu dengannya. Ini adalah fitnah (godaan). Samiri telah
memanfaatkan kebodohan kalian
dengan menciptakan anak
sapi itu.
"Sesungguhnya Tuhanmu
ialah (Tuhan) Yang Maha
Pemurah, maka ikutilah ahu dan taatilah perintahku." (QS. Thaha:
90) Para penyembah anak
sapi menolak nasihat
Harun. Kelompok orang-
orang yang bodoh itu
tidak mahu lagi
menerima nasihat. Harun
kembali memperingatkan mereka dan menceritakan kembali kepada mereka
bagaimana mukjizat-mukjizat Allah s.w.t
dapat menyelamatkan mereka,
dan bagaimana Allah s.w.t
memuliakan dan menjaga mereka. Tetapi mereka menutup telinga dan menolak
segala nasihatnya. Mereka justru
melemahkan posisi Harun dan nyaris
saja membunuhnya. Adalah
jelas bahawa Harun
lebih lemah daripada Musa, sehingga para kaum tidak
takut lagi. Harun khuatir jika ia menggunakan kekuatan dan
menghancurkan berhala-berhala yang
mereka sembah, maka akan terjadi fitnah di tengah-tengah
kaum dan akan tercipta perang saudara. Akhirnya, Harun
memilih untuk menunda
hal itu sampai
kedatangan Musa. Harun mengetahui
bahawa Musa seorang yang
kuat yang mampu
mengatasi fitnah ini tanpa
harus menumpahkan darah.
Sementara itu, Bani
Israil terus menari di sekitar
anak sapi.
Samiri - mudah-mudahan Allah s.w.t melaknatnya - adalah penyebab fitnah
ini, dan ia
menari-nari serta berputar-putar di sekeliling berhala. Al-Qurthubi dalam
tafsirnya pada juz
kesebelas menyebutkan fitnah
yang timbulkan oleh Samiri.
Qurthubi berkata: "Imam Abu
Bakar at-Thurthusi ditanya: "Apa
yang dikatakan oleh
pemimpin kita al-Faqih
tentang kelompok lelaki yang
memperbanyak
zikrullah dan menyebut Muhammad saw. Sebahagian mereka menari-nari sehingga
pengsan. Mereka menghadirkan sesuatu dan
memakannya. Apakah hadir
bersama mereka boleh
atau tidak? Berilah kami
fatwa, mudah-mudahan engkau diberi
pahala." Qurthubi
menjawab pertanyaan ini
dengan menukil penjelasan
gurunya: "Mazhab sufi (yang beliau
maksudkan adalah orang-orang yang
menari-nari yang
dipraktikkan oleh sebahagian aliran
sufi untuk mengekspresikan zikir) berdasarkan kebodohan dan
kesesatan serta sesuatu yang sia-sia.
Islam hanya berdasarkan Kitab Allah s.w.t dan sunah
Rasul-Nya. Praktik tari-tarian seperti itu adalah sesuatu yang pertama kali
diciptakan oleh pengikut-pengikut Samiri ketika mereka
menjadikan anak sapi
sebagai tuhan mereka.
Mereka menari-nari di sekitarnya dan berkumpul di situ. Itu
adalah agama kekufuran dan penyembahan terhadap anak sapi." Nabi saw duduk
bersama sahabatnya dan seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung,
kerana saking hormatnya mereka terhadap beliau. Hendaklah penguasa dan
wakilnya mencegah orang-orang
itu untuk hadir
di masjid selainnya. Dan
tidak diperkenankan bagi
seorang pun yang
beriman kepada Allah s.w.t
dan hari kemudian untuk
hadir bersama orang-orang itu
atau membantu kebatilan mereka. Ini adalah pendapat mazhab Malik, Abu
Hanifah, Syafi'i, Ahmad bin Hambal, dan lain-lain dari para imam kaum Muslim.
Demikianlah pernyataan al-Qurthubi berkaitan dengan masalah tersebut. Anda
dapat membayangkan sejauh mana kecemerlangan fikirannya dan sejauh mana
ketakwaannya. Selanjutnya, kita kembali kepada kisah Nabi Musa. Nabi Musa turun
dari gunung untuk kembali menemui kaumnya. Kemudian ia mendengar teriakan kaum
saat mereka menari-nari di sekitar anak sapi. Kaum itu berhenti ketika melihat
Nabi Musa muncul di depan mereka. Dan tiba-tiba keheningan menyelimuti mereka.
Nabi Musa berteriak dan berkata: "Dan tatkala Musa telah kembali kepada
kaumnya dengan marah dan sedih hati,
berkatalah dia: 'Alangkah
buruknya perbuatan yang
kamu kerjakan sesudah
kepergianku!'" (QS. al-A'raf: 150)
Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS
Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia
menjadikan saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun
diangkatnya sebagai wakilnya yang bertanggungjawab untuk
mengurus kaumnya. Musa
berjalan menuju ke
Harun, lalu ia
meletakkan papan Taurat
dengan tangannya di atas tanah. Tampaknya api kemarahan telah
membakamya. Musa memegang Harun dari
rambut kepalanya sampai
rambut janggutnya sambil berkata: "Hai Harun, apa yang
menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu
tidak mengikuti aku?
Maka apakah kamu
telah (sengaja) menderhakai perintahku?" (QS. Thaha: 92-93)
Musa bertanya, "Apakah Harun
tidak mentaati perintahnya, bagaimana ia mendiamkan fitnah
ini; bagaimana ia
tetap bersama mereka
dan tidak meninggalkan mereka
serta berlepas diri dari perbuatan mereka; bagaimana ia tetap diam dan
tidak berusaha melawan
mereka, bukankah orang yang
diam atau membiarkan suatu
kesalahan itu bertanda
bahawa ia merestuinya
atau bahagian dari kesalahan itu?" Keheningan semakin meningkat
ketika gelora api kemarahan
Musa semakin membara. Harun
berbicara kepada Musa
dan meminta kepadanya untuk
melepaskan kepalanya dan
janggutnya kerana mereka berdua
berasal dari ibu
yang satu. Harun
mengingatkan Musa akan kedekatan hubungannya
melalui ibu, bukan
melalui ayah agar
hal itu
lebih dapat membuat Musa merasa kasihan kepadanya:
"Harun menjawab: 'Hai putera ibuku, janganlah kamu
pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.'" (QS. Thaha: 94)
Harun memberi
pengertian kepada Musa
bahawa ia sama
sekali tidak bermaksud menentang perintahnya, dan
ia pun tidak
menunjukkan sikap
merestui penyembahan anak
sapi, tetapi ia
khuatir jika ia
meninggalkan mereka dan pergi
lalu Musa bertanya
kepadanya, mengapa ia
tidak tetap tinggal bersama
mereka? Mengapa seorang yang
bertanggungjawab kepada
mereka justru meninggalkan mereka?
Di samping itu,
ia juga khuatir
jika ia memerangi mereka dengan kekerasan maka
terjadi peperangan di
antara mereka. Lalu Musa
akan bertanya kepadanya, mengapa ia
membikin perpecahan di antara
mereka dan mengapa
ia tidak menunggu
kembalinya Musa
NABI MUSA a.s. DENGAN 'AUJ BIN UNUQ
'Auj bin Unuq
adalah manusia yang
berumur sehingga 4,500
tahun. Tinggi tubuh badannya di
waktu berdiri adalah
seperti ketinggian air
yang dapat menenggelamkan negeri pada zaman Nabi Nuh
a.s. Ketinggian air tersebut tidak dapat melebihi lututnya. Ada yang mengatakan
bahawa dia tinggal di gunung. Apabila dia merasa lapar, dia akan menghulurkan
tangannya ke dasar laut untuk menangkap ikan kemudian memanggangnya dengan panas
matahari. Apabila dia
marah atas sesebuah
negeri, maka dia
akan mengencingi negeri tersebut
hinggalah penduduk negeri
itu tenggelam di
dalam air kencingnya. Apabila
Nabi Musa bersama kaumnya tersesat di kebun teh, maka 'Auj bermaksud untuk
membinasakan Nabi Musa bersama kaumnya
itu.
Kemudian
'Auj datang untuk memeriksa tempat kediaman askar Nabi
Musa a.s., maka dia mendapati beberapa tempat kediaman askar
Nabi Musa itu
tidak jauh dari
tempatnya. Kemudian dia
mencabut gunung-gunung yang ada di sekitarnya dan diletakkan di atas
kepalanya supaya mudah untuk dicampakkan kepada askar-askar Nabi Musa a.s.
Sebelum sempat 'Auj mencampakkan gunung-gunung yang dijunjung di atas kepalanya
kepada askar-askar Nabi
Musa a.s, Allah
telah mengutuskan burung
hud-hud dengan membawa batu
berlian dan meletakkannya di
atas gunung yang
dijunjung oleh 'Auj. Dengan kekuasaan Allah, berlian
tersebut menembusi gunung yang dijunjung oleh 'Auj sehinggalah sampai
ke tengkuknya. 'Auj
tidak sanggup menghilangkan berlian
itu, akhirnya 'Auj binasa disebabkan batu berlian itu.
Dikatakan bahawa ketinggian
Nabi Musa a.s
adalah empat puluh
hasta dan panjang tongkatnya juga
empat puluh hasta
dan memukulkan tongkatnya kepada
'Auj tepat mengenai mata dan
kakinya. Ketika itu jatuhlah 'Auj dengan kehendak Allah S.W.T dan akhirnya tidak
dapat lari daripada
kematian sekalipun badannya
tinggi serta memiliki kekuatan yang hebat.
NABI MUSA a.s. BERMUNAJAT DENGAN ALLAH
Menurut riwayat sementara
ahli tafsir, bahawasanya
tatkala Nabi Musa
berada di Mesir, ia telah
berjanji kepada kaumnya akan memberi mereka sebuah kitab suci yang dapat
digunakan sebagai pedoman hidup yang akan memberi bimbingan dan sebagai tuntunan
bagaimana cara mereka bergaul dan bermuamalah dengan sesama manusia dan bagaimana
mereka harus melakukan
persembahan dan ibadah
mereka kepada Allah. Di dalam
kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan haram,
perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah di samping perbuatan-perbuatan
yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan.
Maka setelah perjuangan
menghadapi Fir'aun dan
kaumnya yang telah
tenggelam binasa di laut, selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah agar
diberinya sebuah kitab suci untuk menjadi
pedoman dakwah dan
risalahnya kepada kaumnya.
Lalu Allah memerintahkan
kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaitu semasa
bulan Zulkaedah. Kemudian
pergi ke Bukit
Thur Sina di mana ia
akan diberi kesempatan bermunajat
dengan Tuhan serta
menerima kitab penuntun
yang diminta. Setelah
berpuasa selama tiga
puluh hari penuh
dan tiba saat
ia harus menghadap kepada Allah di atas bukit Thur Sina
Nabi Musa merasa segan akan bermunajat dengan Tuhannya dalam
keadaan mulutnya berbau
kurang sedap akibat
puasanya. Maka ia menggosokkan giginya
dan mengunyah daun-daunan dalam
usahanya menghilangkan bau
mulutnya.
Ia ditegur oleh
malaikat yang datang kepadanya atas perintah Allah. Berkatalah malaikat itu
kepadanya: "Hai Musa,
mengapakah engkau harus menggosokkan gigimu untuk
menghilangkan bau mulutmu yang
menurut anggapanmu kurang sedap,
padahal bau mulutmu
dan mulut orang-orang
yang berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya
kasturi. Maka akibat tindakanmu itu,
Allah memerintahkan kepadamu berpuasa lagi
selama sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masa puasamu sepanjang
empat puluh hari." Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih
di antara pengikutnya untuk menyertainya
ke bukit Thur
Sina dan mengangkat Nabi
Harun sebagai wakilnya mengurus serta
memimpin kaum yang
ditinggalkan selama kepergiannya ke
tempat bermunajat itu. Pada saat
yang telah ditentukan
tibalah Nabi Musa
seorang diri di
bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orang yang
diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah: "Mengapa engkau
datang seorang diri
mendahului kaummu, hai
Musa?" Ia menjawab: "Mereka sedang
menyusul di belakangku, wahai
Tuhanku.
Aku cepat-cepat datang lebih dahulu untuk mencapai
redha-Mu." Berkatalah Musa dalam
munajatnya dengan Allah: "Wahai Tuhanku,
nampakkanlah zat-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu" Allah
berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cubalah lihat
bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala,
maka nescaya engkau akan dapat
melihat-Ku." Lalu menolehlah Nabi
Musa mengarahkan
pandangannya kejurusan bukit
yang dimaksudkan itu
yang seketika itu
juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa
menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh
tubuhnya dan jatuh pengsan. Setelah
ia sedar kembali
dari pengsannya, bertasbih
dan bertahmidlah ia
seraya memohon ampun kepada
Allah atas kelancangannya itu
dan berkata: "Maha Besarlah Engkau wahai Tuhanku,
ampunilah aku dan terimalah taubatku dan aku akan menjadi orang yang pertama
beriman kepada-Mu." Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan
kepada Nabi Musa kitab suci "Taurat" berupa kepingan-kepingan
batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara ahli tafsir
yang di dalamnya
tertulis segala sesuatu
secara terperinci dan
jelas mengenai pedoman hidup dan penuntun kepada jalan yang diredhai
oleh Allah. Allah mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan
firman-Nya: "Wahai Musa, sesungguhnya
Aku telah memilih engkau lebih dari manusia-manusia yang lain di masamu, untuk
membawa risalah-Ku dan menyampaikan kepada hamba-hamba-Ku.
Aku telah memberikan kepadamu keistimewaan dengan
dapat bercakap-cakap
langsung dengan Aku,
maka bersyukurlah atas segala
kurnia-Ku kepadamu dan berpegang teguhlah pada apa yang Aku
tuturkan kepadamu. Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu terhimpun tuntunan dan
pengajaran yang akan membawa Bani Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang
akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat
bagi mereka. Anjurkanlah kaummu
Bani Isra'il agar
mematuhi perintah-perintah Ku
jika mereka tidak
ingin Aku tempatkan mereka di tempat-tempat orang- orang yang
fasiq."
Bacalah tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah
"Thaha" ayat 83 dan 84 dan surah "Al-a'raaf" ayat 142
sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~ "83~ Mengapa kamu datang lebih
cepat daripada kaummu, hai Musa?" 84~ Berkata Musa: "Itulah mereka
sedang menyusuli aku
dan aku bersegera
kepadamu ya Tuhanku, agar
supaya Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~ 84 } "142~ Dan Kami
telah janjikan kepada Musa {memberikan Taurat} sesudah berlalu waktu tiga puluh
malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh {malam lagi},
maka sempurnalah waktu
yang telah ditentukan
Tuhannya empat puluh malam.
Dan berkata Musa
kepada saudaranya, iaitu
Harun: "Gantilah aku dalam
{memimpin} kaumku dan
perbaikilah dan janganlah
kamu mengikuti jalan orang-orang yang
membuat kerosakan". 143~
Dan tatkala Musa
datang untuk {munajat} dengan
{Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman {langsung}
kepadanya, berkatalah Musa:
"Ya Tuhanku nampakkanlah {Zat Engkau} kepadaku agar aku
dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sesekali tidak
sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di
tempatnya {sebagai sediakala} nescaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala
Tuhannya nampak bagi
gunung itu, kejadian
itu menjadikan gunung
itu hancur luluh dan Musa pun
jatuh pengsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: "Maha Suci
Engkau, aku bertaubat
kepada-Mu dan
aku orang yang
pertama beriman." 144~ Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya
Aku memilih kamu lebih dari
manusia yang lain
{di masamu} untuk
membawa risalah-Ku dan
untuk berbicara langsung dengan-Ku sebab itu berpegang teguhlah kepada
apa yang Aku berikan kepadamu dan
hendaklah kamu termasuk
orang-orang yang bersyukur." 145~ Dan
Kami telah tuliskan
untuk Musa luluh
{Taurat} segala sesuatu
sebagai pengajaran bagi sesuatu. Maka Kami berfirman:
"Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan
suruhlah kaummu berpegang kepada
{perintah-perintahnya} yang
sebaik-baiknya, nanti Aku
akan memperlihatkan kepadamu
negeri orang- orang yang fasiq." { Al-A'raaf: 142 ~
145 } JANGGUT NABI HARUN a.s. BERWARNA DUA Nabi Musa
Alaihisalam telah diperintahkan oleh
Allah Subhanahu Wataala
supaya pergi ke
bukit Sina untuk
menerima wahyu. Semasa
pemergian Nabi Musa, segala
urusan telah diserahkan
kepada saudaranya Nabi
Harun a.s. Pemergian Nabi Musa
mengambil masa selama 40 hari dan 40 malam. Ketiadaan Nabi Musa a.s telah
mengembirakan seorang musuh dalam selimut bernama Samiri.
Dia telah memanfaatkan
masa ini untuk menyesatkan kaum Nabi Musa yang selama ini telah bersusah payah
membentuk dan memberi keimanan kepada mereka. Sewaktu Nabi Musa menyeberangi
Laut Merah setelah pulang dari Mesir, kaki kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa
telah tenggelam dalam pasir di tengah
lautan yang kering itu.
Dengan segala
usaha yang dilakukan oleh Nabi
Musa, kuda yang
ditungganginya tetap tidak
mahu meneruskan perjalanan
untuk menyeberangi Laut Merah. Kerana itu Allah telah mengutuskan malaikat
Jibril dengan menunggang kuda betina. Melihat lawan sejenisnya kuda yang
ditunggangi oleh Nabi Musa telah mengejar kuda yang ditunggangi oleh Malaikat
Jibrail. Samiri yang ikut serta dalam rombongan tersebut telah mengambil
segenggam pasir bekas tapak kaki kuda yang ditunggangi oleh Jibrail dan
disimpannya untuk dijadikan azimat. Apabila tiba masa yang sesuai iaitu semasa
Nabi Musa bersunyi di Bukit Sina, Samiri
membuat patung seekor
lembu daripada emas
murni.
Setelah siap,
patung itu diisinya
dengan pasir yang
di ambil dari
bekas tapak kaki
kuda Jibril. Dalam waktu
yang singkat sahaja
patung lembu tersebut
dapat mengeluarkan suara. Melihat
keadaan tersebut, umat
Nabi Musa datang berduyun-duyun kepada Samiri. Samiri
memimpin mereka menyembah patung lembu yang menakjubkan itu. Nabi Harun sangat
marah setelah melihat umatnya menyembah berhala, lalu berusaha mencegah umatnya
daripada terus syirik
kepada Allah bahkan umatnya mengancam
Nabi Harun untuk
membunuhnya jika Nabi
Harun terus melarang mereka
menyembah patung lembu tersebut. Nabi Harun tidak dapat berbuat apa-apa
untuk melarang mereka
daripada terus menyembah
patung tersebut. Setelah kembali daripada Bukit Sina, Nabi Musa sangat
marah kerana melihat umatnya telah murtad. Nabi Harun
telah di persalahkan
dalam hal ini.
Dalam keadaan marah
yang tidak dapat dikawal Nabi Musa telah menarik janggut Nabi Harun
menyebabkan janggut yang dipegang oleh Nabi Musa telah bertukar menjadi putih
manakala janggut yang tidak terkena tangan Nabi Musa kekal berwarna hitam.
Sejak itu janggut Nabi Harun mempunyai dua warna iaitu putih dan hitam.