Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Tampilkan postingan dengan label Gambaran nikmat dan azab kubur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gambaran nikmat dan azab kubur. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2026

Gambaran nikmat dan azab kubur

 Gambaran nikmat dan azab kubur

Azab Kubur

Alam  kubur  adalah  awal  kehidupan  hakiki  dari  seorang  manusia.  Dari Utsman  bin  Affan radhiallahu’anhu, bahwa  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,

Gambaran nikmat dan azab kubur


 “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat “

Mempelajari  apa-apa  yang  terjadi  di  alam  kubur  banyak  memberikan faedah. Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu  akan  berusaha  sebisa  mungkin  selama  ia  masih  hidup  agar  menjadi orang   yang   layak   mendapatkan   nikmat   kubur   kelak.   Seseorang   yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan berusaha sebisa mungkin agar ia terhindar darinya kelak.Nikmat dan adzab kubur adalah perkara gaib yang tidak terindera oleh manusia. Manusia yang  merasakannya  pun  tentu  tidak  dapat  mengabarkan kepada  yang  masih  hidup  akan  kebenarannya.  Maka  satu-satunya  sumber HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat  Rabbaniyyah, 4/192   

keyakinan kita akan adanya adzab dan nikmat kubur adalah dalil al-Qur’an dan  as-Sunnah.  Dan  banyak  sekali  dalil  dari  Qur’an  dan  As  Sunnah  serta ijma’  para  ulama  yang  menetapkan  adanya  alam  kubur.  Namun  sebagian orang  dari  kalangan  ahlul  bid’ah  mengingkarinya  karena  penyimpangan mereka dalam memahami dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, dalam buku yang ringkas ini akan kami paparkan dalil- dalil al-Qur'an, as-Sunnah, serta ijma' para ulama yang menetapkan adanya alam  kubur,  adzab  kubur  dan  nikmat  kubur.  Serta  pembahasan  mengenai beberapa  syubhat  dari  orang-orang  yang  mengingkarinya  disertai  dengan bantahannya

Surat Al-Mu’minun ayat 45-46

فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُوا۟ ۖ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرْعَوْنَ سُوٓءُ ٱلْعَذَابِٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدْخِلُوٓا۟ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ ٱلْعَذَابِ

“dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras  “

Al   hafidz   Ibnu   Katsir rahimahullah  menjelaskan  ayat  ini,  “Arwah Fir’aun dan pengikutnya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus- menerus hingga datang hari kiamat. Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan api neraka”. Beliau juga berkata, “Ayat- ayat ini adalah landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya adzab kubur” . Hal ini juga senada dengan penjelasan jumhur ahli tafsir seperti Mujahid  , Al Alusi ,  Asy  Syaukani ,  Al  Baidhawi ,  Muhammad  Amin  Asy  Syinqithi , Abdurrahman As Sa’di.

2   QS. Al Mu’min: 45-46

3   Tafsir Al Qur’an Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), 7/146

4   Lihat An Nukat wal’ Uyun, 4/39, karya Al Mawardi

5   Ruuhul Ma’ani (Tafsir Al Alusi), 18/103

6   Fathul Qadir, 6/328

7   Anwar At Tanziil (Tafsir Al Baidhawi), 5/130

8   Adhwa’ Al Bayan, 7/82

9   Taisiir Kariim Ar Rahman (Tafsir As Sa'di), halaman 738

Memang  benar  bahwa  ada  penafsiran  lain  terhadap  ayat  ini.  Qatadah menafsirkan  bahwa   maksud  ayat (yang artinya)  “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang  adalah taubiikh atau penghinaan terhadap  Fir’aun  dan  pengikutnyadalam  keadaan  mereka  masih  hidup. Penafsiran ini walaupun tidak menetapkan adanya adzab kubur namun tidak menafikannya.  Ibnu   Abbas radhiallahu’anhu   menafsirkan   bahwa   arwah mereka  ada  di  sayap  burung  hitam  yang  bertengger  di  atas  neraka  yang datang   di   kala   sore   dan   pagi  hari. Penafsiran   Ibnu   Abbas   ini   pun menetapkan adanya alam kubur.

   Ahli tafsir yang terpengaruh permikiran mu’tazilah memang membantah bahwa ayat ini membicarakan adzab kubur. Semisal Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf dan Fakhruddin Ar Razi dalam Mafatihul Ghaib, dengan sebatas  bantahan  logika  semata.  Maka,  -insya  Allah-  penafsiran  yang  tepat adalah yang kami sebutkan di awal karena bersesuaian dengan dalil-dalil dari

Al  Qur’an  dan  hadits  serta  pemahaman  salafus  shalih,  yang  akan  kami jelaskan nanti. Karena antara dalil itu saling menafsirkan dan tidak mungkin saling bertentangan.   

Bagaimana Kondisi ketika sakaratul maut

Surat Al-An’am Ayat 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

10  Lihat An Nukat Wal’Uyun, 4/39

11 Al Kasyaf, 6/118

12 Mafatihul Ghaib, 13/342

Al  Imam  Al  Bukhari rahimahullah,  dalam Shahih-nya  membuat  judul  (bab  dalil-dalil  tentang  adzab  kubur)  lalu  beliau menyebutkan   ayat   di   atas.   Ini   menunjukkan   bahwa   Imam  Al   Bukhari memahami bahwa ayat di atas adalah dalil tentang adanya adzab kubur dan alam kubur.

Seorang   pakar   tafsir   di   zaman   ini,   Syaikh  Abdurrahman  As   Sa’di -rahimahullah- menjelaskan, “Ayat ini adalah dalil adanya adzab dan nikmat kubur.  Karena  dari  konteks  kalimat,  adzab  yang  ditujukan  kepada  orang- orang  kafir  tersebut  dirasakan  ketika  sakaratul  maut,  ketika  dicabut  nyawa dansetelahnya”

Nikmat Kubur

Ruh para Syuhada

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah memaparkan,“Allah ta’ala mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam barzakh16 dalam keadaan senantiasa diberi rezeki oleh Allah,

Surat al-Baqarah 154

وَلَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ يُّقۡتَلُ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ اَمۡوَاتٌؕ بَلۡ اَحۡيَآءٌ وَّلٰـكِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ‏ ١٥٤

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya"

sebagaimana dalam hadits yang terdapat pada Shahih Muslim… (lalu beliau menyebutkan haditsnya)”  Mengenai        keadaan para syuhada yang setelah wafat mendapat kenikmatan di sisi Allah di alam barzakh adalah pendapat jumhur mufassirin, di   antaranya   Mujahid, Qatadah,  Abu Ja’far, ‘Ikrimah, Jalalain, Al Baghawi, Al Alusi, dll.Mereka hanya berbeda       pendapat tentang bagaimana bentuk rezeki atau kesenangan tersebut.  

Sumber  :

 16 Alam barzakh artinya alam kubur. Al barzakh secara bahasa artinya sesuatu yang ada di antara dua hal (Lisaanul 'Arab).  Alam kubur disebut sebagai alam barzakh karena ia ada di antara alam dunia dan alam akhirat.

17 Tafsir Al Qur’an Azhim, 1/446

 18 Taisiir Kariim Ar Rahman, halaman 264

Ayat  ini  sejalan  dengan  ayat  lain  dalam  surat  Ali  Imran,  Allah  ta'ala berfirman:

Surat al-Imran 169-171

وَلَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِيۡنَ قُتِلُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ اَمۡوَاتًا ​ؕ بَلۡ اَحۡيَآءٌ عِنۡدَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُوۡنَۙ‏ ١٦٩

فَرِحِيۡنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖۙ وَيَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِيۡنَ لَمۡ يَلۡحَقُوۡا بِهِمۡ مِّنۡ خَلۡفِهِمۡۙ اَ لَّا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُوۡنَۘ‏  ١٧٠

۞ يَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِنِعۡمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضۡلٍۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيۡعُ اَجۡرَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ ۚ‏ ١٧١

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati;

sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat  rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya,  dan berbahagia terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum  menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak    bersedih hati. Mereka berbahagia dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”    

Sebagaimana  juga  penjelasan  dari  Al  Hasan  Al  Bashri rahimahullah, “Para  syuhada  itu  hidup  di  sisi  Allah,  mereka  dihadapkan  kepada  surga sehingga mereka pun merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Sebagaimana arwah Fir’aun dan kaumnya yang dihadapkan ke neraka setiap pagi dan sore hari  sehingga  mereka  merasakan  kesengsaraan”23.  Artinya,  para  syuhada 18  Lihat Tafsir Ath Thabari, 3/214 19  Tafsir Jalalain, halaman 160. Disebut sebagai Jalalain (dua Jalal), karena kitab tafsir ini ditulis oleh Jalaluddin Al      Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli rahimahumallah. 20  Ma’alim At Tanzil, halaman 168 21  Ruuhul Ma’ani, 2/64 22  QS. Ali Imran: 169 - 171 23  Dinukil dari Ma’alim At Tanzil, halaman 168

merasakan   kebahagiaan   dan   kesenangan   di   alam barzakh   sebagaimana Fir’aun merasakan kesengsaraan juga di alam barzakh. Sehingga jelas bahwa ayat-ayat di atas menunjukkan adanya adzab kubur dan nikmat kubur
Read More