DALIL AL QUR'AN ADANYA ALAM KUBUR
Dalil pertama Allah ta'ala berfirman: “dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Arwah Fir’aun dan pengikutnya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus- menerus hingga datang hari kiamat. Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan api neraka”.
Beliau juga berkata, “Ayat- ayat ini adalah landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya adzab kubur.
Hal ini juga senada dengan penjelasan jumhur ahli tafsir seperti Mujahid , Al Alusi ,Asy Syaukani ,
Al Baidhawi , Muhammad
Amin Asy Syinqithi , Abdurrahman As Sa’di . 2 QS. Al Mu’min: 45-46 3 Tafsir Al Qur’an Azhim (Tafsir Ibnu Katsir),
7/146 4 Lihat An Nukat wal’ Uyun, 4/39,
karya Al Mawardi 5 Ruuhul Ma’ani
(Tafsir Al Alusi), 18/103 6 Fathul
Qadir, 6/328 7 Anwar At Tanziil (Tafsir
Al Baidhawi), 5/130 8 Adhwa’ Al Bayan,
7/82 9 Taisiir Kariim Ar Rahman (Tafsir
As Sa'di), halaman 738
Memang
benar bahwa ada
penafsiran lain terhadap
ayat ini. Qatadah menafsirkan bahwa maksud ayat
(yang artinya) “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan
petang adalah taubiikh atau penghinaan
terhadap Fir’aun dan
pengikutnya dalam keadaan
mereka masih hidup. Penafsiran ini walaupun tidak
menetapkan adanya adzab kubur namun tidak menafikannya. Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menafsirkan
bahwa arwah mereka ada
di sayap burung
hitam yang bertengger
di atas neraka
yang datang di kala
sore dan pagi
hari. Penafsiran Ibnu
Abbas ini pun menetapkan adanya alam kubur. Ahli
tafsir yang terpengaruh permikiran mu’tazilah memang membantah bahwa ayat ini
membicarakan adzab kubur. Semisal Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf11 dan
Fakhruddin Ar Razi dalam Mafatihul Ghaib12, dengan sebatas bantahan
logika semata. Maka,
-insya Allah- penafsiran
yang tepat adalah yang kami
sebutkan di awal karena bersesuaian dengan dalil-dalil dari Al Qur’an
dan hadits serta
pemahaman salafus shalih,
yang akan kami jelaskan nanti. Karena antara dalil itu
saling menafsirkan dan tidak mungkin saling bertentangan.
Dalil ke
dua Allah ta'ala berfirman: “Alangkah dahsyatnya
sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam
tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,
(sambil berkata): “Keluarkanlah
nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan,
karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu
menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya . Al
Imam Al Bukharirahimahullah, dalam Shahih-nya membuat
judul b a b (bab dalil-dalil
tentang adzab kubur)
lalu beliau menyebutkan ayat
di atas. Ini
menunjukkan bahwa Imam
Al Bukhari memahami bahwa ayat
di atas adalah dalil tentang adanya adzab kubur dan alam kubur. Seorang pakar
tafsir di zaman
ini, Syaikh Abdurrahman
As Sa’di -rahimahullah-
menjelaskan, “Ayat ini adalah dalil adanya adzab dan nikmat kubur. Karena
dari konteks kalimat,
adzab yang ditujukan
kepada orang- orang kafir
tersebut dirasakan ketika
sakaratul maut, ketika
dicabut nyawa dan setelahnya”.
Dalil ke
tiga Allah ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu
mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu)
mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup,
tetapi kamu tidak menyadarinya. Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
memaparkan,“Allah ta’ala mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam
barzakh dalam keadaan senantiasa diberi rezeki oleh Allah, sebagaimana dalam
hadits yang terdapat pada Shahih Muslim… (lalu beliau menyebutkan haditsnya)”.Mengenai keadaan para syuhada yang setelah wafat
mendapat kenikmatan di sisi Allah di alam barzakh adalah pendapat jumhur
mufassirin, di antaranya Mujahid,
Qatadah,
AbuJa’far,‘Ikrimah,Jalalain,Al Baghawi,Al Alusi, dll.
Mereka hanya
berbeda pendapat tentang bagaimana
bentuk rezeki atau kesenangan tersebut.
Ayat ini sejalan
dengan ayat lain
dalam surat Ali
Imran, Allah ta'ala berfirman:“Dan jangan sekali-kali kamu
mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka
itu hidup di sisi Tuhannya mendapat
rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah
kepadanya, dan berbahagia terhadap orang
yang masih tinggal di belakang yang belum
menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka
tidak bersedih hati. Mereka berbahagia
dengan nikmat dan karunia dari Allah.
Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman Sebagaimana juga
penjelasan dari Al
Hasan Al Bashri rahimahullah, “Para syuhada
itu hidup di
sisiAllah, mereka dihadapkan
kepada surga sehingga mereka pun
merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Sebagaimana arwah Fir’aun dan kaumnya
yang dihadapkan ke neraka setiap pagi dan sore hari sehingga
mereka merasakan kesengsaraan”. Artinya, para
syuhada merasakan
kebahagiaan dan kesenangan
di alam barzakh sebagaimana Fir’aun merasakan kesengsaraan
juga di alam barzakh. Sehingga jelas bahwa ayat-ayat di atas menunjukkan adanya
adzab kubur dan nikmat kubur.
Dalil ke
empat Allah ta'ala
berfirman:“Dan di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu,
ada orang-orang munafik. Dan di antara
penduduk Madinah (ada juga orang- orang munafik), mereka keterlaluan dalam
kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak
mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian
mereka akan dikembalikan kepada azab
yang besar . Yang dimaksud dengan
“mereka akan Kami siksa dua kali” dalam ayat ini, menurut
Qatadah dan Muhammad bin
Ishaq adalah adzab
kubur dan adzab di akhirat.
Sedangkan menurut Al Hasan Al Bashri, salah satu riwayat dari Qatadah
dan Ibnu Juraij rahimahumullah adalah
adzab ketika masih hidup di dunia dan adzab kubur. Ath
Thabari rahimahullah merajihkan dengan mengatakan: “Dua adzab tersebut
terjadi sebelum mereka diadzab di neraka. Dan pendapat yang kuat, salah satu
dari adzab tersebut adalah adzab kubur”.
Dalil ke
lima Allah ta'ala
berfirman: “Dan andaikan kamu melihat
ketika para malaikat mencabut nyawa orang-
orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka
yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan
tangan kalian sendiri. Dan sesungguhnya
Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya .Syaikh Khalid
Al Mushlih hafizhahullah menjelaskan
ayat ini, beliau mengatakan, “Allah
'azza wa jalla
menyebutkan keadaan mereka
yang mendapatkan adzab ketika dicabut ruh mereka. Kemudian setelah itu
Allah ta'ala berfirman (yang
artinya), “Rasakanlah olehmu
siksa neraka yang membakar”. Setelah itu Allah menyebutkan
tentang adzab yang membakar, yaitu
adzab neraka. Semoga
Allah ta'ala memberikan
keselamatan kepada kita dari
semua itu”29. Syaikh
Muhammad bin Shalih
Al Utsaimin rahimahullah juga
menyebutkan ayat ini
sebagai salah satu
dalil tentang adanya adzab kubur.
Dalil ke
enam Allah ta'ala berfirman: “Sekiranya engkau melihat pada waktu
orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat
memukul dengan tangannya, (sambil
berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan,
karena kamu mengatakan terhadap Allah
(perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu
menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya As Safarini rahimahullah
mengatakan, “Ulama seorang muhaqqiq, Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ar Ruh,
bahwa di antara dalil adanya adzab dan nikmat
kubur dalam Al
Qur'an Al Majid
adalah ayat “Sekiranya
engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan
sakaratul maut... ” (QS. Al An'am: 93).
Konteks ayat ini
secara jelas bicara
tentang kejadian ketika menjelang kematian”. Syaikh Shalih
bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Konteks dari ayat ini,
kejadian tersebut terjadi ketika menjelang kematian. Dalam ayat
ini disebutkan bahwa
Malaikat mengabarkan (dan
Malaikat adalah makhluk yang jujur) bahwa ketika itu si mayit merasakan
adzab yang menghinakan. Jika adzab
yang menghinakan tersebut
terjadi ketika dunia berakhir, maka
tidak tepat perkataan
Malaikat “pada hari
ini kamu akan dibalas”. Sehingga
ini menunjukkan bahwa
yang dimaksud dengan
“adzab yang menghinakan” itu adalah adzab kubur”. Syaikh Muhammad
bin Shalih Al
Utsaimin rahimahullah juga menyebutkan
ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya adzab kubur.
Dalil ke tujuh Allah ta'ala berfirman: “(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan terlimpah kepada engkau), masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan Ath Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Maksudnya, para Malaikat mencabut ruh mereka orang-orang yang bertakwa sambil mengatakan: “Salamun 'alaikum! Masuklah ke surga”. Sebagai kabar gembira dari Allah yang disampaikan oleh para Malaikat”. Mengenai al busyra atau kabar gembira di saat kematian ini, akan dijelaskan lebih detail di bab “Al busyra menjelang kematian” di buku ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Di antara akidah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah menetapkan adanya nikmat kubur. Dalilnya firman Allah ta'ala ... (beliau menyebutkan ayat di atas). Mereka diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan baik, maksudnya baik akidah mereka, dan baik pula amalan mereka. Maka para Malaikat pun berkata menjelang kematian si hamba tersebut, “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan!”. Ini dikatakan oleh para Malaikat di hari ketika si hamba wafat”. Jika ada yang bertanya, “Andai kejadian ini terjadi di alam kubur, mengapa dikatakan “masuklah ke dalam surga... ? Bukankah hal ini menunjukkan kejadian tersebut terjadi di akhirat?”. Jawabannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Ath Thabari, rahimahullah bahwa perkataan “masuklah ke dalam surga.. itu adalah kabar gembira dari para Malaikat. Sehingga tidak bertentangan dengan keterangan bahwa perkataan tersebut disampaikan di alam kubur. Demikian juga Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Dikatakan demikian karena terdapat dalam sebuah hadits yang shahih: “Ia akan diluaskan kuburnya, dan akan dibukakan baginya pintu surga.
Sehingga ia mendapatkan harum dan nikmatnya surga yang menyejukkan matanya. S e m o g a k i t a t e r m a s u k o r a n g y a n g mendapatkannya. Dan dalam firman Allah ta'ala (yang artinya) “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan”, huruf ba' di sini adalah ba'sababiyah”. Sehingga dalam ayat ini para Malaikat seolah ingin mengatakan: “kamu akan masuk surga karena telah melakukan sebab-sebab yang membuat seseorang masuk surga”. Bukan berarti si hamba masuk surga ketika itu.
Dalil ke delapan Allah ta'ala berfirman:
“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka tidak
mendapat penolong selainAllah”. Syaikh Shalih
bin Fauzan Al
Fauzan menjelaskan tentang
ayat ini: “Fir'aun mendapatkan
hukuman, yaitu Allah tenggelamkan ia dan kaumnya di laut.
Kemudian setelah itu,
Allah masukkan mereka
ke dalam neraka. Sebagaimana firman
Allah ... (beliau
membawakan ayat di
atas). Maka, hukuman berupa
neraka ini terjadi di alam barzakh. Sebagaimana Allah ta'ala berfirman (yang
artinya) : “Neraka
ditunjukkan kepada mereka
pagi dan sore hari (QS. Ghafir: 46). Ini terjadi di alam
barzakh, sebelum hari akhirat. Neraka ditunjukkan kepada mereka di pagi dan
sore hari sampai hari Kiamat. Ini adalah dalil tentang adanya adzab kubur. Wal
'iyyadzubillah”. Dan masih banyak lagi
dalil dari Al Qur’an Al Karim yang menetapkan adzab kubur sekiranya kita mau
merujuk pada penjelasan para ulama.
Sumber
:
38 HR. Abu
Daud no.4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud. 39
Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 440 40 QS. Nuh: 25 41 Syarhu
Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51 35 QS. An Nahl: 32 36 Tafsir Ath Thabari, 7/580
37 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 439 31 QS. Al An'am: 93 32
Lawaihul Anwar As Saniyyah wa Lawaqihul Afkar As Saniyyah, 2/157 33 Al Irsyad
ila Shahihil I'tiqad, hal. 275 34 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah (hal. 437)
dan juga Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah (hal. 443) 28 QS. Al Anfal: 50 – 51 29 Syarhu Lum'atil
I'tiqad, 12/12 30 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah, hal. 437
24 QS. At
Taubah: 101 25 Tafsir At Thabari no.17130, Tafsir Al Qur'anil Azhim (7/273) 26
Tafsir At Thabari no.17131, 17132, 17133 27 Tafsir Ath Thabari, 14/445
18 Lihat Tafsir Ath Thabari, 3/214 19 Tafsir Jalalain, halaman 160. Disebut sebagai
Jalalain (dua Jalal), karena kitab tafsir ini ditulis oleh Jalaluddin Al Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli
rahimahumallah. 20 Ma’alim At Tanzil,
halaman 168 21 Ruuhul Ma’ani, 2/64
22 QS. Ali Imran: 169 - 171 23 Dinukil dari Ma’alim At Tanzil, halaman
168
13 QS. Al
An’am: 93 14 Taisiir Kariim Ar Rahman, halaman 264 15 QS. Al Baqarah: 154 16
Alam barzakh artinya alam kubur. Al barzakh secara bahasa artinya sesuatu yang
ada di antara dua hal (Lisaanul 'Arab).
Alam kubur disebut sebagai alam barzakh karena ia ada di antara alam
dunia dan alam akhirat. 17 Tafsir Al Qur’an Azhim, 1/446 Lihat An Nukat
Wal’Uyun, 4/39 11 Al Kasyaf, 6/118 12 Mafatihul Ghaib, 13/342

0 comments:
Posting Komentar