Bagaimana ruh anak kecil yang meninggal
Apakah anak kecil yang belum baligh juga ditanya?Ada khilaf ulama dalam masalah ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa anak kecil yang wafat dalam keadaan belum baligh, mereka tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya Al Qadhi Abu Ya'la dan Ibnu Aqil rahimahumallah. Argumen mereka, karena anak kecil itu belum terkena beban syari'at dan diangkat pena catatan amalan dari mereka.
Sehingga mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur.
Namun jumhur ulama berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan
ditanya di alam kubur. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah
kubur. Yang dikecualikan hanya para Nabi
dan para syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa
anak kecil pun akan mengalami
dhaghthah (penghimpitan) di
alam kubur. Pendapat
ini dipilih oleh para murid imam Asy Syafi'i, demikian juga merupakan
pendapat imam Ahmad bin
Hambal, imam Malik
dan diklaim oleh
Abul Hasan Al Asy'ari sebagai madzhab Ahlussunnah. Pertanyaan malaikat kepada orang yang mati
tenggelam dan semisalnya Pada dasarnya,
semua orang yang mati dalam keadaan apapun pasti akan mengalami alam kubur, tanpa
terkecuali. Dan alam kubur itu berbeda dengan alam dunia.
Sehingga tidak ada
bedanya seseorang yang
di alam dunia
ia dikubur mayatnya dengan
baik ataukah hilang
mayatnya, hancur lebur menjadi debu,
tenggelam,dimakan binatang sampai tak
bersisa atau semisalnya. Allah
ta'ala Maha Kuasa menghidupkan mereka semua di alam kubur. Allah ta'ala
berfirman: “Dan ia membuat perumpamaan
bagi Kami; dan dia lupa kepada
kejadiannya. Ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”
Katakanlah: “Ia akan dihidupkan
Rabb yang menciptakannya kali yang pertama.
Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala
makhluk. Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka
tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu. Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Peristiwa pertama yang
dialami setelah kematian
adalah fitnah kubur. Manusia akan diuji di dalam kubur
mereka. Semua manusia yang meninggal, baik
yang dikuburkan di
dalam kubur, ataupun
jasadnya tergeletak di
atas tanah (tidak dikubur),
atau jasadnya dimakan
oleh binatang buas,
atau jasadnya hancur terhempas
angin, semua akan
mengalami ujian di
alam kubur”144. Syaikh Muhammad
Ali Farkus145 hafizhahullah
menjelaskan: “Sudah kita ketahui
bersama bahwa pertanyaan
dua Malaikat kepada
jenazah yang dikubur adalah
setelah ia diletakkan
di dalam kubur.
Sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya, lalu kerabatnya mulai berpulangan, ia mendengar
suara sandal mereka.Kemudian datanglah dua Malaikat, lalu kedua Malaikat itu
menjadikan mayit duduk… Adapun mayat
yang tidak dikuburkan,
semisal dimakan hewan
buas, atau dimakan ikan besar, atau tenggelam, sampai ia menjadi debu.
Atau juga orang yang hancur lebur terkena bom. Mereka ini tidak diragukan lagi
pasti akan ditanya juga
oleh dua Malaikat,
namun tidak diketahui
bagaimana kaifiyah (cara) -nya.
Karena perkara ini
adalah perkara gaib
yang tauqifiy (diketahui dengan dalil), dan tidak boleh meng-qiyas-kan
dunia gaib dengan dunia nyata. Adapun
adzab kubur itu
dirasakan oleh jiwa
dan raganya,
Sumber :
143 QS. Yasin: 78-80 144Syarhu Haditsi
Jibril 'alaihissalam, halaman 37 145 Seorang ulama Ahlussunnah dari Aljazair
146 HR. Bukhari no.1374, Muslim no.7395
oleh 141 Akan disebutkan haditsnya di bab “Penghimpitan di alam kubur”
Diringkas dari Mausu'ah Aqdiyah Durarus Saniyyah, bab “Fitnatul Qabri”,
berdasarkan kesepakatan ulama
ahlus sunnah wal
jama’ah. Jiwanya yang mendapat nikmat
dan adzabnya pada
raganya namun keduanya
saling berhubungan.
Barangsiapa yang mati
dan ia layak
mendapat adzab kubur, maka ia akan mendapatkannya, baik ia
dikubur ataupun tidak (lebih jelasnya lihat kitab Ar Ruh karya Ibnul Qayyim,
hal 81-88)147. 147
PENGHIMPITAN DI
ALAM KUBUR
Ahlussunnah mengimani
bahwa di alam
kubur akan terjadi
peristiwa (penghimpitan).Ini
didasari oleh beberapa hadits yang
shahih. Di antaranya: Hadits dari
Aisyah radhiallahu'anha,bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam
bersabda:"Sesungguhnya di alam kubur akan terjadi penghimpitan.Andaikan
ada orang yang selamat darinya, maka sungguh Sa'ad bin Mu'adz akan selamat
darinya"148. * Hadits dari
Abdullah bin Umar radhiallahu'anhu, bahwa
bahwa Nabi Shallallahu'alaihi
Wasallam bersabda ketika Sa'ad bin Mu'adz radhiallahu'anhu meninggal: "Lelaki ini membuat Arsy berguncang,
dan akan dibukakan baginya pintu- pintu langit, dan ia akan dipersaksikan oleh
70 Malaikat sebagai orang yang baik. Namun ia mengalami penghimpitan di alam
kubur kemudian terlepas
darinya"1.Hadits dari Abu Ayyub Al Anshari radhiallahu'anhu, bahwa
ketika ada seorang
anak kecilyang meninggal
"Andaikan ada orang yang selamat
dari penghimpitan di alam kubur, sungguh
anak ini akan selamat"150. Siapa saja yang mengalami penghimpitan? Ulama sepakat
bahwa orang kafir
dan munafik pasti
akan mengalami penghimpitan. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin'Azib
radhiallahu'anhu bahwa Nabi
Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda
tentang orang kafir dan munafik: "...Kemudian kuburnya pun menghimpitnya
hingga remuk tulang- tulangnya".Kemudian,
jumhur ulama mengatakan
bahwa para Nabi dan
Rasul 'alaihimussalam tidak mengalami
penghimpitan di alam kubur.
As
Suyuthi rahimahullah mengatakan:"Pendapat yang ma'ruf, para Nabi
tidak mengalami penghimpitan". Al Munawi rahimahullah mengatakan: "Saya katakan, pendapat yang
mengecualikan para Nabi dari terkenapenghimpitan adalah pendapat yang kuat.
Adapun mengecualikan para wali, maka ini
pendapat yang tidak tepat. Tidakkah anda lihat bagaimana Sa'ad bin Mu'adz saja yang kedudukannya tinggi tetap
mengalami penghimpitan?!"153.
Adapun orang-orang beriman
selain para Nabi
dan Rasul, maka
ada khilaf yang kuat
di tengah ulama
apakah mereka mengalami
penghimpitan ataukah tidak? Sebagian ulama mengatakan bahwa para auliya'
(orang-orang shalih) tidak mengalami penghimpitan di alam kubur. Namun pendapat
yang kuat (sebagaimana disebutkan
Al Munawi) adalah
bahwa orang-orang beriman selain
para Nabi dan Rasul, mereka semua mengalami penghimpitan tanpa terkecuali.
Sebagaimana zahir dari
hadits Aisyah radhiallahu'anha.
Oleh karena itu,
Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, seorang
tabi'in, beliau berkata: "Tidak ada yang selamat dari
penghimpitan, bahkan Sa'ad bin Mu'adz saja
tidak selamat. Padahal satu sapu tangan beliau itu lebih baik daripada
dunia dan seisinya!"154.
Bahkan anak kecil
yang belum terkena
beban syariat saja
terkena penghimpitan sebagaimana dalam hadits Abu Ayyub
radhiallahu'anhu. Bagaimana bentuk
penghimpitan yang dialami orang-orang beriman? Walaupun orang-orang beriman mengalami
penghimpitan di alam kubur, namun
bentuknya berbeda dengan
yang dialami orang-orang
kafir dan munafik. Ada dua
pendapat ulama dalam masalah ini:
Pertama: penghimpitan yang
mereka rasakan adalah
penghimpitan maknawi, yang berupa
rasa takut dan
gelisah. Bukan penghimpitan
kubur secara hakiki. Abu Bakar At Taimi rahimahullah mengatakan:
"Para ulama mengatakan: bentuk
penghimpitan di alam kubur itu pada
asalnya karena bumi bagaikan ibu bagi manusia. Di sana mereka
diciptakan,kemudian tiba-tiba ia tidak lagi berada di bumi untuk waktu yang
lama.Ketika anak-anak bumi ini dikembalikan kepadanya, maka ia merasakan
kesempitan sebagaimana sempitnya seorang ibu yang kehilangan anaknya".
Kedua: penghimpitan yang mereka rasakan adalah penghimpitan hakiki, namun hanya
sebentar. Al Munawi rahimahullah mengatakan:
"Seorang mukmin yang sempurna imannya, akan mengalami penghimpitan, kemudian dengan cepat segera dilepaskan.
Sedangkan seorang mukmin yang ahli
maksiat akan diperlama penghimpitannya. Sedangkan penghimpitan orang kafir akan selamanya dihimpit
atau hampir selamanya"156. Kapan terjadi penghimpitan di dalam kubur? Penghimpitan di alam kubur terjadi
sebelum pertanyaan dua malaikat."Penghimpitan di alam kubur terjadi
sebelum pertanyaan dua Malaikat". Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus
Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka
akan ditanya(oleh malaikat)”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
rahimahullah juga menjelaskan: "Hadits-hadits shahih menunjukkan bahwa
seseorang ketika ia berhasil menjawab
pertanyaan dua malaikat di dalam kubur dengan benar, maka akan dilapangkan kuburnya. Jika hadits tentang
penghimpitan itu shahih, maka
maknanya, pertama kali ia masuk ke dalam kubur, ia akan dihimpit oleh
kubur, kemudian akan dilapangkan (setelah menjawab pertanyaan)"159. Wallahu a'lam. Semoga Allah ta'ala memberikan
kita al qauluts tsabit di kehidupan dunia dan di alam kubur dan melindungi kita
dari adzab kubur
Sumber :
160.
157Fatawa Ar Ramli, 6/33 158Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10
159Liqa Babil Maftuh, 17/36 160 Diringkas dari penjelasan Syaikh Abdullah bin
Abduh Nu'man Al Awadhi dan Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid
hafizhahumallah.
153Faidhul Qadir, 5/313 154
Diriwayatkan dalam kitab Az Zuhd karya Hannad bin as-Sarri (1/125). 150 HR. Ath Thabarani dalam Mu'jam Al Kabir
(4/121), dishahihkan Al Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2164 151 HR. Abu Daud no. 4753, Ahmad
no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud 152Syarhus Shudur bi
Syarhi Haalil Mauta wal Qubur, karya As Suyuthi, halaman. 114 : 148 HR. Ahmad (6/55), dishahihkan Al Albani
dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.1695 149 HR. An Nasa'i no.2055,
dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa'i
Ar Ramli rahimahullah mengatakan: 155 Tafsir Ibnu Rajab, 2/373
156Faidhul Qadir, 2/168
BENTUK-BENTUK
NIKMAT KUBUR
Telah
dijelaskan bahwa para
Nabi, para syuhada
dan kaum Mukminin akan mendapatkan nikmat di alam
kubur sesuai dengan iman dan amal shalih mereka. Mengenai apa saja dan
bagaimana nikmat mereka dapatkan di alam kubur ini adalah perkara gaib yang
seseorang tidak boleh berbicara kecuali berlandaskan pada dalil Al Qur'an dan
As Sunnah yang shahih. Berikut ini
beberapa bentuk nikmat
kubur yang disebutkan
dalam Al Qur'an dan hadits-hadits
yang shahih:.
1.Diberi tempat tidur yang berasal
dari surga .
2.Diberi pakaian yang berasal dari
surga
3.Dibukakan pintu surga ketika di alam
kubur, sehingga bisa merasakan keindahan, wangi serta sejuknya surga
4.Diluaskan kuburnya
5.Berbahagia dengan kabar gembira yang
disampaikan kepadanya oleh Malaikat
6.Ditemani oleh amal shalihnya yang
berupa sosok yang bagus, wangi dan menyejukkan hati
Enam hal tersebut berdasarkan haditsdari Al Barra' bin 'Azib
radhiallahu'anhu yang panjang.Bahwa Nabi Shallallahu'alaihi
Wasallam bersabda: “Kami keluar
bersama Nabi shallallahu'alaihi wasallam untuk mengiringi jenazah seorang
lelaki Anshar. Kami pun sampai di pemakaman. Ketika jenazah telah dikuburkan,
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam duduk dan kami pun duduk di sekitar
beliau. Kami diam seolah-olah di kepala kami ada burung-burung. Tangan beliau
membawa dahan yang beliau pukulkan ke
tanah. Beliau menengadahkan kepalanya sambil berkata:
"Mintalah perlindungan kepada
Allah dari adzab kubur (beliau mengucapkannya dua atau tiga kali)”."Beliau
lalu bersabda: Seorang hamba mukmin ketika berpisah dari dunia dan menghadapi
akhirat, malaikat turun dari langit untuk menemuinya dengan wajah putih seperti matahari. Mereka
membawa sebuah kain kafan dari surga dan minyak wangi dari surga. Kemudian
malaikat tersebut duduk di sisinya dan
mereka memenuhi pandangan si hamba. Kemudian malaikat maut 'alaihissalam pun datang dan duduk di
sisi kepalanya sambil mengatakan: "Wahai jiwa yang tenang, sambutlah
olehmu ampunan Allah dan keridhaan-Nya”.
Nabi melanjutkan: lantas ruh dari mayit tersebut keluar sebagaimana tetesan air
mengalir dari mulut kendi hingga sang malaikat selesai mencabutnya dari
badannya. Ketika sang malaikat mencabut
ruh, ia tidak melepaskan sedikit pun ruh tersebut dari tangannya walau sekejap mata pun, hingga ia selesai
mencabutnya. Kemudian ruh dimasukkan ke
dalam kain kafan dan minyak wangi tersebut. Maka si mayit meninggal dunia dengan aroma minyak wangi
yang paling harum yang ada di muka
bumi”. “Nabi melanjutkan: malaikat tersebut pun membawa naik ruh itu ke
langit.Dan tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat lain kecuali mereka bertanya-tanya: "Ruh siapa yang wangi
ini?”. Para malaikat menjawab: "Ini
adalah ruh si Fulan bin Fulan, mereka sebut dengan nama terbaik yang digunakan oleh orang-orang untuk menyebutnya
ketika di dunia. Begitulah terus
hingga mereka sampai ke penghujung langit dunia dan mereka meminta untuk dibukakan, dan seketika itu
pun dibukakan. Para malaikat terus
menyebarkan kabar tentang si ruh tadi kepada penghuni langit berikutnya hingga sampai ke langit ke tujuh.
Kemudian Allah 'azza wa jalla memerintahkan: "Tulislah catatan hamba-Ku
ini di 'iliyyin dan kembalikanlah ia
ke bumi. Di sanalah Aku menciptakan mereka dan ke sanalah Aku mengembalikan mereka, serta di sana
jugalah Aku akan membangkitkan
mereka sekali lagi”. Kata Nabi: ruh tersebut pun dikembalikan ke jasadnya, kemudian dua
malaikat mendatanginya dan
mendudukkannya dan bertanya: “Siapa Rabb-mu?”. Ia menjawab, “Rabb-ku
adalah Allah”. Mereka bertanya lagi: "Apa agamamu?". Ia
menjawab, “agamaku Islam".
Keduanya bertanya lagi, "Bagaimana tentang seorangelaki yang diutus kepada
kamu?”. Si mayit menjawab, "Dia adalah
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam”. Keduanya bertanya,
"Darimana kamu tahu?” Ia menjawab, "Aku membaca Kitabullah (Al
Qur'an) kemudian aku mengimaninya dan membenarkannya “Seketika itu terdengar
seruan dari langit, "HambaKu berkata jujur! Hamparkanlah tempat tidur dari surga baginya
dan berilah ia pakaian dari surga, dan
bukakanlah pintu surgbaginya!”.
Nabi melanjutkan: “Hamba itu pun dapat mencium
harum dan wangi surga, dan kuburannya diperluas sejauh mata memandang. Lantas ia pun
didatangi oleh sesosok laki-laki berwajah tampan, pakaiannya indah, dan
wanginya harum. Malaikat berkata kepada
ruh tersebut, "Bergembiralah dengan kabar gembira yang telah dijanjikan kepadamu. Inilah hari yang
dijanjikan untukmu. Si mayit bertanya
(kepada sosok laki-laki tadi), “Siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan!”. Si
laki-laki tampan menjawab, “Aku
adalah amalan shalihmu”. Kemudian ruh tadi pun berkata, "Ya
Rabb, segerakanlah hari Kiamat, sehingga
aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku”.Diterangi kuburnya.Tidur
seperti malam pengantin Dua hal ini berdasarkan hadits dari
Abu Hurairah radhiallahu'anhu,
bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
“Ketika salah seorang dari kalian dikuburkan,
maka akan datang kepadanya dua Malaikat
yang hitam dan bermata biru. Yang satu bernama Munkar dan yang lainnya bernama
Nakir. Keduanya bertanya: “Apa pendapatmu
mengenai lelaki ini (yaitu Rasulullah)?”. Si mayit menjawab sebagaimana
yang pernah dikatakan dahulu (ketika hidup): “Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah
yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam
adalah hamba Allah dan Rasul-Nya”. Keduanya berkata: “Kami sudah mengetahui
bahwa kamu akan mengucapkan demikian”.
Kemudian kuburnya dilapangkan seluas tujuh puluh hasta dikali tujuh puluh
hasta. Lalu diterangi kuburnya, dan dikatakan
kepadanya: “Tidurlah!”. Namun si mayit berkata: “Biarkanlah aku
kembali kepada keluargaku untuk mengabarkan
kepada mereka”. Kedua Malaikat berkata:
”Tidurlah seperti tidur di malam pengantin, yang seseorang tidak dibangunkan kecuali oleh orang yang paling
dia cintai”. Hingga Allah
membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut. Adapun mayit orang munafik akan menjawab pertanyaan dengan
berkata: “Aku pernah mendengar
orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku sekedar ikut mengatakannya. Aku tidak tahu”. Kedua
Malaikat berkata: “Kami sudah tahu
mengatakan demikian”. Lalu dikatakan kepada bumi: “Himpitlah dia!”. Lantas bumi pun menghimpitnya hingga
tulang-tulangnya hancur. Dan dia terus diadzab di dalamnya hingga Allah
membangkitkan dari tempat tidurnya Al Mubarakfuri rahimahullah
menjelaskan: “Keadaannya diserupakan
seperti tidur di malam pengantin karena ia berada dalam kehidupan yang baik (di
alam kubur)”163. 9. Dalam keadaan bergembira dan diberi rezeki oleh Allah Allah
ta'ala berfirman:
“Dan jangan sekali-kali kamu mengira
bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu
hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki.
Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan berbahagia terhadap orang yang masih
tinggal di belakang yang belum menyusul
mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka berbahagia dengan
nikmat dan karunia dari Allah.Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang beriman .Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Para
syuhada itu hidup di sisi Allah,
mereka dihadapkan kepada
surga sehingga mereka pun
merasakan kesenangan dan kebahagiaan”
Sumber :
165. 163 Tuhfatul Ahwazi, 5/134 164
QS. Ali Imran: 169 - 171 165 Dinukil dari Ma’alim At Tanzil, halaman 168 162.
162 HR. At Tirmidzi no. 1071, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam as Silsilah al
Ahadits ash Shahihah no. 1391 73 161 HR. Abu Daud no.4753, Ahmad no.17803,
dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud.
BENTUK-BENTUK
ADZAB KUBUR
Telah
dijelaskan juga bahwa
orang-orang kuffar, orang-orang
munafik dan sebagian kaum Mukminin akan mendapatkan adzab di alam kubur
karena kekufuran atau maksiat yang mereka lakukan. Perkara adzab di alam kubur
juga termasuk perkara
gaib yang seseorang
tidak boleh berbicara
kecuali berlandaskan pada dalil Al Qur'an dan As Sunnah yang shahih.
Berikut ini beberapa bentuk
adzab kubur yang
disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits-hadits yang shahih:
1. Dibukakan
pintu neraka ketika di
alam kubur, sehingga
bisa merasakan panas dan gejolaknya api neraka
2. Disempitkan kuburnya
3. Tersiksa dengan kabar buruk yang disampaikan
Malaikat kepadanya .
4.Ditemani oleh
amal buruknya yang berupa sosok yang menyeramkan, berpakaian lusuh dan berbau
busuk Empat hal tersebut berdasarkan hadits
dari Al Barra' bin'Azib radhiallahu'anhu
yang panjang.
Bahwa
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam
bersabda: “Ruh hamba yang kafir ketika berpisah dari dunia (meninggal) dan menghadapi akhirat, akan turun kepadanya
malaikat langit yang wajahnya garang. Malaikat tersebut membawa kafan yang
berwarna hitam. Kemudian malaikat tersebut duduk di sisinya dan mereka memenuhi
pandangan si hamba. Lantas malaikat
maut duduk di sisi kepalanya sambil membentak "Wahai ruh yang busuk,
keluarlah menuju murka Allah dan kemarahan-
Nya!”. Nabi melanjutkan: lalu jasadnya tercabik-cabik (ketika proses ruh
dikeluarkan), dan malaikat tersebut mencabut ruhnya seperti garpu tanah banyak
yang mencabik-cabik kain wol basah. Ketika sang malaikat mencabut ruh, ia tidak melepaskan sedikit pun
ruh tersebut dari tangannya walau
sekejap mata pun, hingga ia selesai mencabutnya. Lalu ruhnya dimasukkan ke
dalam kain hitam kelam tersebut dan pergi dengan bau busuk yang paling menyengat
di muka bumi “Malaikat tersebut pun membawa naik ruh itu ke langit. Dan
tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat lain kecuali mereka
bertanya-tanya: "Siapa ruh yang
busuk ini?”. Para malaikat yang membawanya menjawab: "Ini adalah ruh si Fulan bin Fulan,
mereka sebut dengan nama terbaik yang
digunakan oleh orang-orang untuk menyebutnya ketika di dunia. Begitulah
terus hingga mereka sampai ke penghujung langit dunia dan mereka meminta untuk dibukakan. Namun tidak
dibukakan. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam membaca ayat (yang
artinya) "Tidak akan dibukakan bagi
mereka pintu langit, dan tidaklah mereka masuk surga hingga unta masuk lubang jarum" (QS.
Al-A'raf: 40). Lantas Allah 'azza wa
jalla lalu berfirman “Catatlah catatannya dalam sijjin di bumi yang
paling rendah!”. Seketika itu ruhnya dilempar sejauh-jauhnya ke bawah.
Kemudian Nabi membaca ayat (yang
artinya), "Siapa yang menyekutukan Allah, maka seolah-olah dia jatuh dari atas langit
lantas burung menyambarnya atau sebagaimana diterbangkan angin di tempat jauh
(QS. Al Hajj: 31). Hingga ruhnya kembali ke dalam jasadnya “Kedua malaikat lalu
mendatanginya dan mendudukkannya. Mereka berdua bertanya: "Siapa
Rabb-mu?”. Si mayit menjawab, "Hah.. hah.. saya tidak tahu!”. Kedua malaikat
bertanya lagi, "Apa agamamu?”. Si mayit
menjawab, "Hah.. hah.. saya tidak tahu!!”. Kedua malaikat bertanya
lagi, "Bagaimana tentang mengenai
laki-laki ini yang diutus untuk kalian?”. Si
mayit menjawab: "Hah.. hah.. saya tidak tahu!”. Lalu terdengar
seruan dari langit yang berkata: "Ia telah dusta! Perlihatkan neraka
kepadanya!”. Maka malaikat pun membuka
pintu neraka untuknya, dan ia merasakan pun panas dan gejolaknya api neraka. Kemudian kuburnya
pun menghimpitnya hingga remuk tulang-tulangnya. Ia pun didatangi oleh
laki-laki yang wajahnya garang,
pakaiannya lusuh, baunya busuk. Lelaki ini berkata: "Rasakanlah semua yang
menyusahkanmu ini. Inilah perkara yang telah dijanjikan kepadamu!”. Lalu si mayit
bertanya, "Siapa engkau? Wajahmu sangat menyeramkan dan membawa keburukan”. Sosok
laki-laki tadi menjawab: "Aku adalah amalanmu yang buruk!”. Lalu si mayit
berkata "Ya Rabb, jangan tegakkan
hari Kiamat! Adanya adzab kubur
berupa api yang
panas yang berasal
dari neraka juga berdasarkan
firman Allah ta'ala: “Disebabkan
kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka tidak
mendapat penolong selain Allah . Syaikh
Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan tentang ayat ini: “Fir'aun mendapatkan
hukuman, yaitu Allah tenggelamkan
ia dan kaumnya di laut.
Kemudian setelah itu, Allah
masukkan mereka ke
dalam neraka. Sebagaimana firman
Allah ... (beliau
membawakan ayat di
atas). Maka, hukuman berupa neraka ini terjadi di alam barzakh”
5. Disiksa dengan
palu dari besi yang bisa menghancurkan gunung Sebagaimana
dalam riwayat dari
Jarir bin Abdillah radhiallahu'anhu, Nabi
Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “... dijadikan baginya sesosok yang buta
dan bisu. Di tangannya ia memegang
alat pemukul dari besi yang jika digunakan untuk memukul gunung maka gunung
tersebut akan menjadi debu. Maka alat tadi pun digunakan untuk memukul sang mayit dengan
pukulan yang keras, ketika dipukulkan
terdengar suara jeritannya dari timur hingga barat, kecuali oleh jin dan manusia. Lalu ia pun menjadi debu.
Kemudian setelah itu
dikembalikan lagi ruh tersebut seperti bentuknya semula.
6. Dipukul wajah
dan punggungnya oleh para Malaikat
Sebagaimana dalam firman Allah ta'ala:“Dan andaikan kamu melihat ketika para
malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan
punggung mereka (danberkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.
Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian
sendiri.Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari
hamba-hamba-Nya .Ayat ini bicara tentang
adzab kubur. Syaikh Khalid
Al Mushlih hafizhahullah
menjelaskan ayat ini, beliau mengatakan, “Allah
'azza wa jalla menyebutkan
keadaan mereka yang
mendapatkan adzab ketika
dicabut ruh mereka. Kemudian
setelah itu Allah ta'ala berfirman
(yang artinya), “Rasakanlah
olehmu siksa neraka yang membakar”.
Setelah itu
Allah menyebutkan tentang adzab
yang membakar, yaitu
adzab neraka. Semoga Allah ta'ala memberikan keselamatan
kepada kita dari semua itu”
171. 170 QS. Al Anfal: 50 – 51
171Syarhu Lum'atil I'tiqad, 12/12
APAKAH NIKMAT DAN
AZAB KUBUR DIRASAKAN OLEH JASAD ATAU RUH?
Para
ulama berselisih pendapat mengenai apakah nikmat dan adzab
kubur dirasakan manusia oleh ruhnya atau jasadnya, ataukah
keduanya sekaligus?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
menjelaskan:“Adzab dan nikmat kubur bisa terjadi pada ruh dan badan sekaligus.
Ini adalah kesepakatan ulama
Ahlussunnah wal Jama'ah. Terkadang ruh diberi
nikmat dan diadzab dalam keadaan terpisah dari badan. Namun
terkadang dalam keadaan tersambung
dengan badannya, sehingga nikmat dan adzab dirasakan keduanya. Dalam keadaan
ini ruh dan badan merasakan yang sama seperti dirasakan ruh ketika bersendirian
dari badan. Lalu apakah mungkin adzab dan nikmat kubur terjadi pada badan saja
tanpa dirasakan ruh? Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur dari para
ulama hadits dan sunnah. Dan ada juga
pendapat-pendapat yang syadz (nyeleneh)
yang tidak dikatakan oleh para ulama Ahlussunnah dan ulama
hadits.Pendapat yang mengatakan bahwa hanya ruh saja yang merasakan nikmat dan adzab sedangkan badan tidak akan
merasakannya, ini adalah perkataan orang-orang falasifah (ahli filsafat) yang
mereka mengingkari adanya ma'adul abdan
(dipulihkannya kondisi jasad manusia setelah mati). Mereka adalah orang-orang yang kufur berdasarkan
kesepakatan ulama kaum
Muslimin”172. Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Asalnya yang merasakan
adalah ruh. Karena
hukum-hukum yang terjadi setelah kematian itu untuk ruh.
Sedangkan jasad ketika itu sudah mati. Maka kita ketahui jasad mayat tidak memerlukan
life support setelah ia meninggal, ia
tidak perlu makan
dan tidak perlu
minum. Bahkan jasad
tersebut akan dimakan belatung.
Sehingga asalnya yang merasakan ini adalah ruh. Namun Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah mengatakan
bahwa terkadang ruh itu
tersambungkan dengan badannya. Sehingga
adzab dan nikmat
kubur dirasakan oleh keduanya ... Dengan demikian para ulama mengatakan
bahwa terkadang ruh tersambungkan dengan
jasadnya. Sehingga adzab
kubur dirasakan oleh ruh
dan badannya juga.
Dan nampaknya ini
juga dikuatkan oleh hadits yang
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda di dalamnya: “Sesungguhnya kuburan
bagi orang kafir akan disempitkan sehingga
meremukkan tulang-tulangnya . Ini
menunjukkan bahwa terkadang
adzab itu terjadi
pada jasad karena tulang-tulang itu ada pada jasad”
Sumber :
174. 172Majmu' Al Fatawa, 4/282 173
HR. Abu Daud no.4753, An Nasa'i no.2001, Ibnu Majah no.1549. Dishahihkan Al
Albani dalam Shahih Abu Daud . 174Majmu' Al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin, 1/25 168. 166
HR. Abu Daud no. 4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu
Daud. 167 QS. Nuh: 25 168Syarhu Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51
APAKAH MAYIT BISA
MERASAKAN ORANG YANG BERZIARAH?
Pertanyaan: Apakah mayit
bisa merasakan orang
yang berziarah ke
kuburannya? Lalu apakah wajib
berdiri di depan
kuburan orang tersebut
jika berziarah ataukah cukup
dengan masuk ke
areal pemakaman? Mohon
beri kami penjelasan, semoga
Allah menambah ilmu anda.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
menjawab: Mengenai apakah mayit
bisa merasakan orang
yang berziarah, Allah yang
lebih mengetahui. Memang
sebagian ulama salaf
memiliki pendapat demikian, namun
menurut pengamatan saya
tidak ada dalil
yang tegas menunjukkan hal
tersebut. Namun kita ketahui bersama bahwa ketika ziarah kubur kita dianjurkan
mengucapkan salam: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, (wahai penghuni)
tanah kaum muslimin.Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami
memohon keselamatan bagi diri kami dan juga kalian. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului
kami dan orang-orang yangkelak akan mati”.Amalan ini
semua disyari’atkan. Adapun
mengenai apakah si
mayit merasakan atau tidak itu membutuhkan dalil yang tegas,
Wallahu’alam.
Namun,
baik si mayit
merasakan atau tidak,
itu tidak merugikan
kita. Yang dituntut dari
kita adalah menjalankan
sunnah. Dianjurkan bagi
kita untuk berziarah kubur, mendoakan orang yang telah mati, walaupun
mereka tidak merasakannya. Karena yang kita lakukan itu membuahkan pahala bagi
kita dan bermanfaat bagi si mayit. Doa kita untuk mereka akan bermanfaat bagi
mereka, sedangkan ziarah kubur yang kita lakukan akan bermanfaat bagi kita
sendiri. Karena dalam ziarah kubur ada pahala, dapat mengingatkan kita terhadap
kematian, mengingatkan kita terhadap akhirat, sehingga bermanfaat bagi kita. Si
mayit pun mendapat manfaat dari hal itu, yaitu dengan doa kita, dengan
permohonan ampunan baginya, sehingga ia pun mendapat manfaat. Adapun soal
berdiri di depan kuburan, ini perkaranya luas. Boleh berdiri di depan
kuburan, atau berdiri
di tepi areal
pemakaman lalu mengucapkan salam, itu
pun cukup. Atau
jika ia berada
di satu bagian
dari areal pemakaman, lalu
mengucapkan: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, wahai penghuni tanah
kubur dari kalangan kaum muslimin dan
mukminin.
Sesungguhnya kami insya Allah akan
menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi diri kami dan juga kalian. Semoga Allah merahmati
orang-orang yang telah mendahului kami
dan orang-orang yang kelak akan mati” Ini cukup. Jika ia mendatangi kuburan
ayahnya atau kuburan saudaranya, maka
ini lebih utama
dan lebih sempurna.
Jadi ia mendatangi
kuburan ayahnya, saudaranya atau
kerabatnya lalu mengatakan
“Assalamu’alaikum wahai fulan, semoga Allah merahmati dan melimpahkan
berkah kepadamu, semoga Allah mengampuni
dosamu dan merahmatimu
serta melipat- gandakan pahala
kebaikanmu“, atau semacam itu, maka ini lebih utama dan lebih sempurna
Sumber :
176. 176 Sumber:
http://www.binbaz.org.sa/mat/4821175 HR. Muslim no.249, 974, 975
MENJELANG
KEMATIAN
Ahlussunnah meyakini adanya al
busyra (kabar gembira)
bagi orang- orang beriman
ketika nyawa mereka
dicabut. Al busyra
atau al bisyarah adalah kabar gembira yang
disampaikan Malaikat kepada ruh orang beriman ketika ia dicabut nyawanya. Allah
ta’ala berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah
Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan
jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu
dalam kehidupan dunia dan akhirat; di
dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu
inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai
hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Al
busyra juga disampaikan kepada
orangkafir. Namun berupa
kabar tentang hukuman Allah yang akan dia dapatkan. Sebagaimana dalam
hadits dari Ummul Mu’minin,
Aisyah radhiallahu’anha, Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa
yang senang berjumpa dengan Allah, Allah pun senang berjumpa dengannya. Barangsiapa yang tidak
suka bertemu dengan Allah, maka Allah
pun tidak suka bertemu dengannya”. Aisyah bertanya: “wahai Rasulullah, tentang orang yang tidak suka bertemu
dengan Allah artinya dia tidak suka
kematian? bukankah semua kita tidak suka kematian?”. Rasulullah menjawab: “Yang aku maksud adalah
keadaan seseorang ketika ia sakaratul
maut. Karena ketika itu, seorang Mukmin diberi kabar gembira tentang rahmat Allah dan ampunan Allah
untuknya, sehingga ia pasti suka untuk
segera bertemu Allah, dan Allah pun ingin bertemu dengannya. Dan seorang kafir diberi kabar tentang azab
Allah, sehingga ia pasti tidak suka untuk segera bertemu Allah, dan Allah pun
tidak suka bertemu dengannya .Al
Barbahari rahimahullah mengatakan:
“Ketahuilah bahwa bisyarah (kabar gembira) ketika orang meninggal itu
ada tiga:
[1] Akan
dikatakan kepadanya: bergembiralah dengan ridha Allah dan surga-Nya, wahai
kekasih Allah
[2] Akan
dikatakan kepadanya: Bergembiralah dengan surga Allah kelak, setelah keburukanmu
dibalas,wahai hamba Allah
[3] Akan
dikatakan kepadanya: Bergembiralah terhadap
hukuman Allah dan neraka-Nya, wahai musuh Allah!”. Ini adalah
perkataanIbnu Abbas”.
Ada
khilaf ulama,tentang kapanpenyampaian al busyra oleh Malaikat menjadi 3 pendapat:? Itu
terjadi ketika sakaratul maut? Itu terjadi di alam kubur? Itu terjadi ketika
hari kebangkitan dari kubur Namun yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah, al busyra terjadi ketika
sakaratul maut sebagai
zahir hadits Aisyah. Syaikhul
Islam rahimahullah berkata: “Para ulama mengatakan, turunnya Malaikat ini
(untuk memberikan al busyra) terjadi ketika sakaratul maut”. Sungguh beruntung
orang-orang beriman, ketika sakaratul maut ia sudah mendapat kabar
dari Malaikat, bahwa
kelak ia akan
masuk ke surga Allah
ta’ala.Semoga kita termasuk golongan mereka yang mendapat kabar gembira. Amiin
ya mujiibas saa’iliin.
179Syarhus Sunnah, matan ke 59
180Majmu’ Al Fatawa, 4/268 QS. Fushilat: 30-32 178 HR. An Nasa’i no. 1837, dishahihkan
Al Albani dalam Shahih An Nasa’i. Ashl hadits ini terdapat dalam Shahihain.
DERAJAT HADITS
ARWAH MENGUNJUNGI KELUARGANYA DI MALAM
JUM'AT
Terdapat sebuah
hadits yang menyebutkan
bahwa arwah orang
yang meninggalkan akan mengunjungi rumahnya dan keluarganya di setiap
malam Jum'at.Hadits tersebut dikeluarkan oleh Abul Husain Ali bin Ahmad Al
Hakkari dalam kitab Hadiyyatul Ahya ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim (6)
dengan sanad dan matan sebagai berikut,
Abu Abdirrahman Muhammad bin Al Husain bin Musa As Sulami secara kitabah, ia berkata, Abul Qasim Abdullah bin
Muhammad An Naisaburi menuturkan
kepadaku, dari Ali bin Musa Al Bashri, dari Ibnu Juraij, dari Musa bin Wirdan, dari Abu Hurairah,
ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kirimlah hadiah untuk orang-orang yang meninggal di antara kalian.” Para
sahabat bertanya, “Apa yang kami kirimkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Sedekah dan doa.
”Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda, “Sesungguhnya arwah-arwah kaum
mukminin itu datang setiap hari Jum’at
ke langit dunia, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka
atau di rumah mereka. Lalu setiap mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih, “wahai keluargaku, wahai
anakku, wahai ahli baitku, wahai
kerabatku, kasihilah dengan sesuatu, semoga Allah merahmati kalian.
Ingatlah kami dan janganlah kalian lupa kepada kami. Kasihilah kesendirian kami dan ketidak-mampuan kami untuk melakukan
apa-apa, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Karena sekarang kami tinggal di
alam yang jauh dan mengikat, yang suram
dan lama, dan dalam kelemahan yang sangat lemah, maka kasihilah kami semoga Allah merahmati
kalian. Dan janganlah kalian pelit
dalam memberikan doa, sedekah atau tasbih kepada kami. Semoga Allah mengasihi kami sebelum kalian menjadi
semisal kami. Jangan sampai menyesal
wahai hamba Allah. Dengarlah perkataan kami, jangan lupakan kami. Kalian tahu benar bahwa karunia yang
kalian miliki sekarang dulu ada di
tangan kami. Kami dahulu tidak menginfakkannya dalam ketaatan kepada Allah, kami tidak membelanjakannya
dalam kebenaran. Sehingga semua itu menjadi bencana bagi kami sekarang dan
manfaat harta-harta itu malah
didapatkan oleh orang lain. Sedangkan adzab dan hukumannya ditimpakan atas kami”. Riwayat ini disebutkan
juga dalam I’anatut Thalibin181 karya
Ad- Dimyathi tanpa sanad dengan lafadz sebagai berikut, “Sesungguhnya
arwah-arwah kaum mu’minin itu datang ke langit dunia setiap malam, lalu mereka
berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka. Lalu mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih
sebanyak 1000 kali:‘wahai keluargaku…’, ‘wahai kerabatku…’, ”wahai anakku…’.
‘Wahai orang-orang yang tinggal di
rumah-rumah kami…’, ‘wahai orang-orang yang memakai baju-baju kami…’, ‘wahai
orang-orang yang membagi harta- harta kami…’”.Disebutkan juga dalam Tuhfatul
Habib ‘ala Syarhil Khathib atau dikenal dengan
Hasyiyah Al Bujairimi
‘ala Khathib182 karya
Al Bujairimi tanpa sanad.
Al Bujairimi menyandarkan
riwayat ini kepada
Al Jami’ Al
Kabir namun –wallahu a’lam– tidak kami temukan riwayat tersebut dalam Al
Jami’ Al Kabir karya As Suyuthi. Walhasil, tidak ada sanad lain selain sanad di
atas yang kami temukan.
Dan
dari sini juga
kita ketahui bahwa
hadits ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang
mu’tamad. Jika kita teliti sanad di atas, sangat bermasalah: 181 I'anatut
Thalibin, 2/161 182Hasyiyah Al Bujairimi ‘ala Khathib, 2/301
Masalah 1: Ibnu Juraij (Abdul Malik bin Abdil Aziz Al
Qurasyi) tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan. Ibnu Adi mengatakan: “Jika Ibnu Juraij meriwayatkan dari Musa,
maka haditsnya ini terkadang merupakan tadlis Ibnu Juraij”183. Al Albani ketika menjelaskan maudhu’-nya
hadits: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan sakit, ia mati syahid Beliau
mengatakan:“Al Hasan bin Ziyad Al Lu’lui menyelisihi riwayat ini, ia berkata:
Ibnu Juraij menuturkan kepada kami, dari Musa bin Wirdan dan seterusnya. Al
Hasan menggugurkan Ibrahim bin Muhammad (antara Ibnu Juraij dan Musa bin
Wirdan) dalam sanad ini”184. Maka jelas bahwa
Ibnu Juraij tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan, sehingga ada inqitha‘
dalam riwayat ini.
Masalah 2: Ali bin Musa Al Bashri dan Abul Qasim
Abdullah bin Muhammad An Naisaburi,
keduanya majhul haal. Tidak
ditemukan adanyajarh atau ta’dil tentang mereka.Juga tidak
diketahui bahwa Ali bin Musa Al Bashri adalah di antara yang meriwayatkan hadits
dari Ibnu Juraij.
Pula, tidak diketahui bahwa Muhammad
bin Al Husain
bin Musa Al
Sulmi meriwayatkan dari
Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi.
Masalah 3: Muhammad
bin Al Husain bin
Musa Al Sulmi, seorang
syaikh sufi, ia perawi yang lemah. Adz Dzahabi berkata,
“Beliau seorang Syaikh sufi. Ulama tarikh, biografi dan tafsir di kalangan sufi. Para ulama hadits mengkritisi
riwayatnya, dan ia tidak bisa dijadikan sandaran”. Hadits
ini juga sebagaimana
sudah dijelaskan, tidak
terdapat dalam kitab-kitab hadits
yang mu’tamad (yang menjadi
pegangan) dan dikenal. Seperti kitab-kitab shahih,
kitab-kitab sunan, kitab-kitab musnad, kitab-kitab jami’ , dan
lainnya. Dan ini
merupakan indikator kelemahan
bahkan kepalsuan hadits.
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah ketika menjelaskan kelemahan hadits seputar ziarah
kubur Nabi beliau berkata,
“Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama
hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik
kitab Shahih, tidak juga pemilik
kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti
Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang
menjadi pegangan, seperti Musnad Ahmad
atau semacamnya, tidak juga kitab
Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya.
adits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya
disebut lafadz ziarah kubur Nabi”. Dengan
demikian, kesimpulannya hadits
ini adalah hadits
yang dhaif jiddan (sangat lemah).
Dan tidak boleh
meyakini suatu hal
yang terkait dengan perkara gaib
semisal dengan apa yang ada dalam riwayat ini kecuali dengan dalil yang shahih.
Wallahu ta’ala a’lam.
Sumber :
186Majmu’ Al Fatawa, 216/27 83Al Ilal Al Waridah fil Ahadits An
Nabawiyyah, 8/318 184Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah, 10/191
APAKAH RUH DI
DALAM KUBUR BISA SALING MENGUNJUNGI?
Para
ulama berbeda pendapat
apakah ruh orang-orang
Mukmin dapat saling mengunjungi satu sama lain di
alam kubur? Sebagian
ulama mengatakan bahwa ruh orang Mukmin bisa mengunjungi ruh orang
Mukmin yang lain. Di antara yang berpendapat demikian adalah Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah. Mereka berdalil dengan hadits
dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketika seorang Mukmin mendekati ajalnya,
para malaikat rahmat datang menemuinya
dengan membawa kain sutra berwarna putih. Mereka berkata: “Keluarlah engkau sebagai ruh yang diridhai
dan menuju kepada rahmat Allah, dengan bau yang harum dan tidak dimurkai oleh
Allah!”. Lalu ruh orang tersebut pun
keluar dengan bau misik yang paling harum. Sampai-sampai para malaikat berebut
satu sama lain untuk mendapatkannya.
Kemudian mereka membawanya sampai ke pintu langit. Lalu penduduk langit
pun berkata: “Betapa harumnya ruh yang kalian bahwa ini dari bumi!”. Lalu para malaikat pun mendatangi ruh-ruh
kaum mukminin yang lain. Ruh-ruh kaum Mukminin bergembira dengan kedatangan ruh
tersebut, dengan kegembiraan yang melebihi kegembiraan ketika bertemu orang
yang lama tidak bertemu” “Lalu mereka
bertanya kepada ruh yang baru datang: “Apa yang telah dilakukan oleh si Fulan? Apa yang telah
dilakukan si Fulan?”. Sebagian ruh
tersebut berkata: “Biarkanlah ia, karena ia baru terlepas dari
kelelahan dunia”. Maka ruh yang baru datang tadi
berkata: “Tidakkah si Fulan yang
(kalian tanyakan) sudah bertemu dengan kalian?”. Sebagian yang lain menjawab: “Berarti ia telah dibawa ke
tempat kembalinya yaitu neraka Hawiyah”.
Adapun seorang kafir jika telah mendekati ajalnya, para malaikat adzab datang membawa kain kafan yang kasar.
Malaikat berkata: “Keluarlah engkau
dengan kemurkaan Allah dan dalam keadaan dimurkai Allah, menuju kepada siksa Allah 'azza wa jalla. Lalu ia
keluar dalam keadaan bau bangkai yang paling busuk.
Kemudian mereka membawanya hingga
pintu bumi. Lalu para penduduk langit
berkata: “Betapa busuknya bau ruh ini!”. Lalu para malaikat membawanya menemui
ruh orang-orang kafir lainnya”. Hadits ini menunjukkan adanya pertemuan antara ruh-ruh
kaum Mukminin satu dengan lainnya. Bahkan mereka berbincang-bincang
tentang keadaan orang-orang yang masih hidup.
radhiallahu'anhu yang lain. Dari
Abu Hassan Al A'raj rahimahullah,
ia berkata: “Aku berkata kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu: dua anakku baru
meninggal. Dapatkah anda sampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu'alaihi
Wasallam yang dapat menghibur hati kami ketika kehilangan keluarga kami? Abu
Hurairah menjawab: Baiklah, beliau
Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda: “Anak-anak kecil kaum Mukminin yang wafat mereka akan menjadi
anak-anak kecil di surga.
Salah seorang dari mereka akan bertemu
dengan ayahnya atau dengan keduaorang tuanya, kemudian ia memegang baju atau
tangan orang tuanya sebagaimana aku
(Rasulullah) memegang pinggiran bajumu ini (wahai Abu Hurairah). Tidak akan terlepas hingga Allah
memasukkannya beserta orang tuanya ke
dalam surga.Hadits ini menunjukkan bahwa ruh anak-anak kecil dari kaum Mukminin
akan bertemu dengan ruh orang tuanya sebelum mereka masuk ke surga. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
“Mengenai pertanyaan “apakah ruh seorang Mukmin akan bertemu dengan
ruh-ruh dari kelurganya dan kerabatnya?”. Jawabannya, dalam hadits dari Abu
Ayyub Al Anshari dan selainnya dari para salaf, juga dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Ash
Shahih, dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam beliau bersabda:
“Seorang mayit ketika ruhnya dibawa ke atas, ia akan bertemu dengan
ruh-ruh yang lain. Ruh-ruh tersebut pun bertanya tentang keadaan orang-orang
yang masih hidup. Sebagian ruh tadi berkata: “biarkan dia istirahat
terlebih dahulu!”. Yang lain lalu
bertanya lagi: “apa yang dilakukan si Fulan”. Ruh yang baru datang menjawab: “Oh, si Fulan
mengamalkan amalan shalih”. Yang lain
lalu bertanya lagi: “apa yang dilakukan si Fulan”. Ruh yang baru datang menjawab: “Bukankah si Fulan telah
datang kepada kalian?”. Para ruh
menjawab: “Tidak pernah”. Yang lain lagi berkata: “Berarti ia telah dibawa ke neraka Hawiyah.Demikian juga, Ibnu
Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menjelaskan hal yang senada.
Beliau
mengatakan: “Arwah itu
ada dua macam:
pertama, arwah yang diadzab, kedua, arwah yang mendapatkan nikmat.
Adapun arwah yang diadzab maka
adzab yang mereka
dapatkan membuat mereka
tidak mungkin untuk saling mengunjungi dan saling bertemu. Adapun arwah
yang mendapatkan nikmat, mereka
dibebaskan dan tidak
dikekang sama sekali. Sehingga mereka saling dapat bertemu
dan berkunjung satu sama lain. Dan mereka saling bertukar cerita tentang apa
yang mereka dapati di dunia dan tentang keadaan orang-orang di dunia.
Sehingga setiap ruh
ketika itu akan
bersama dengan para rafiq-nya (temannya) yang
dahulu mereka mengamalkan
amalan yang sama. Adapun ruh Nabi kita Shallallahu'alaihi
Wasallam ada di ar-Rafiqul A'la. Allah ta'ala berfirman: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul
(Muhammad), maka mereka itu akan
bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi,
para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang
sebaik-baiknya.
Kebersamaan orang-orang serupa
amalannya ini terjadi di dunia, di alam barzakh dan di akhirat. Seseorang akan
bersama yang ia cintai di tiga alam ini. ... dan Allah ta'ala juga berfirman:
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan
diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan
masuklah ke dalam surga-Ku.Maksudnya,
masuklah ke dalam
golonganmereka (orang-orang yang diridhai) dan jadilah bersama mereka.
Dan ini dikatakan kepada ruh ketika ia mati.
Dan Allah Subhanahu wa
Ta'ala telah mengabarkan tentang
keadaan para syuhada,“Mereka hidup di sisi Rabb mereka, dan mereka
diberi rezeki (olehAllah). Allah ta'ala juga berfirman tentang mereka:
“Mereka bergembira dengan karunia yang
diberikan Allah kepadanya, dan
bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang
belum menyusul mereka. Allah ta'ala juga berfirman
tentang mereka: “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari
Allah.
Ayat-ayat ini adalah dalil bahwa
mereka saling bertemu satu sama lain, dari tiga sisi pandang: Pertama, mereka
berada di sisi Rabb mereka, dalam keadaan diberi rezeki. Jika mereka
dalam keadaan demikian
dan hidup, artinya
mereka saling bertemu satu sama
lain.
Kedua: mereka bergembira dengan
saudara-saudara mereka yang menyusul mereka dan bertemu dengan mereka. Ketiga:
lafadz “yastabsyirun ” secara bahasa Arab memberikan makna bahwa mereka saling
memberi kabar gembira
satu sama lain.
Maknanya sama dengan fi'il
“yatabasyarun
Sumber
”195. 193 QS. Ali Imran: 170 194 QS.
Ali Imran: 171 195Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, halaman 17 - 18 Para
ulama juga berdalil dengan hadits
dari Abu Hurairah 187 HR. An
Nasa'i no.1832, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa'i. 188 HR.
Muslim no.2635 189Majmu Al Fatawa,190 QS. An Nisa: 69 191 QS. Al Fajr: 27 - 30
192 QS. Ali Imran: 16924/368
ARWAH
GENTAYANGAN
Orang yang sudah wafat, mereka berada
di alam kubur dalam keadaan mendapatkan nikmat ataumendapatkan adzab. Mereka tidak bisa memberikan manfaat
atau bahaya terhadap
orang yang masih
hidup. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak dapat
menjadikanorang-orang yang mati mendengar. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
berfirman: “Dan kamu sekali-kali tiada
sanggup menjadikan orang yang didalam kubur
dapat mendengar. Bahkan
orang-orang kafir merasakan
penyesalan dan berharap
bisa kembali hidup di dunia. Allah ta'ala berfirman: "Dan (alangkah ngerinya), jika
sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di
hadapan Rabbnya, (mereka berkata),
“Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka
kembalikanlah kami ke dunia.
Kami akan mengerjakan amal shaleh.
Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin". Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang
sudah mati maka ia tidak dapat
hidup kembali di
alam dunia. Tidak
dapat lagi beramal,
baik amal kebaikan maupun
amal keburukan. Dari Abu
Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa NabiShallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
"Ketika seorang insan mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat,dan anak shalih yang mendoakannya" .
Dan alam
kubur adalah awal
perjalanan akhirat.
Sehingga
orang yang sudah mati, ia sudah
ada di alam akhirat, tidak lagi hidup di alamdunia. Dari Utsman bin
Affan radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat,
barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang
siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat.Maka dalam akidah Islam,
tidak ada yang namanya arwah gentayangan, arwah penasaran, mayat hidup, zombi
atau semisalnya yang tercakup dalam keyakinan bahwa orang yang sudah mati bisa
hidup kembali di alam dunia.Ruh
orang yang sudah
mati, mereka di
alam barzakh dalam
keadaan menikmati nikmat
kubur atau diadzab di dalam kubur, tidak ada kemungkinan ketiga.
Ibnu
Qayyim Al Jauziyah
rahimahullah menjelaskan: “Arwah itu
ada dua macam:
pertama, arwah
yang diadzab,
kedua, arwah yang mendapatkan nikmat”.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:
“Di antara akidah Ahlussunnah
wal Jamah'ah adalah
mengimani adanya adzab kubur
dan nikmat kubur.
Keadaan mayit di
alam kubur, bisa
jadi ia diberi nikmat, atau diberi adzab.
Ahlussunnah wal Jama'ah mengimani hal
ini. Dan Nabi Shallallahu'alaihi
Wasallam telah mengabarkan
bahwa alam kubur
itu bisa jadi akan
menjadi taman surga,
atau bisa jadi
akan menjadi halaman neraka. Wajib bagi seorang Mukmin
untuk mengimani hal ini”.Dan telah kita
sampaikan kelemahan hadits
yang menyatakan bahwa arwah orang yang meninggal dapat
mengunjungi rumahnya dan keluarganya. Hadits tersebut tidak bisa menjadi
hujjah. Selain itu, keyakinan adanya arwah gentayangan atau arwah penasaran,
ini bertentangan dengan akal sehat. Andaikan ruh orang yang sudah mati bisa
bergentayangan dan bisa penasaran, kemudian
bisa bebas berjalan
kesana- kemari, membantu keluarganya, atau mengganggu orang-orang yang
hidup, dan semisalnya, tentu tidak ada orang yang takut mati. Karena setelah
mati pun masih bisa beramal, baik amalan shalih maupun amalan buruk. Bahkan semua orang
mungkin ini mati
saja karena digambarkan
kehidupan setelah mati itu begitu
santainya, bisa bergentayangan dan jalan-jalan kesana-kemari.
Maka kemana perginya akal sehat?!
Adapun penampakan-penampakan yang
dilihat oleh sebagian
orang, yang disangka sebagai
arwah gentayangan,mereka adalah setan dari kalangan jin.Sebagian jin terkadang
menampakkan diri dalam
bentuk manusia203 yang sudah
meninggal sehingga disangka
sebagai arwah yang hidup kembali. Tujuan akhirnya agar
manusia terjerumus ke dalam berbagai bentuk kebid'ahan dan kesyirikan. Allahul
musta'an .
Dalam hadits riwayat Al Bukhari
(2311), disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiallahu'anhu bertemu dengan jin yang
menampakkan dirinya sebagai seorang remaja yang ingin mencuri harta zakat.
Sumber :
201 Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al
Jauziyah, halaman 17. 202 Majmu' al Fatawa wal Maqalat Syaikh Ibnu Baz, 28/66
203 196 QS. An Naml: 80 197 QS. Fathir: 198 QS. As-Sajdah: 12 199 HR. Muslim
no.1631 200 HR. At Tirmidzi no.2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan
oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Futuhat
Rabbaniyyah, 4/192
BUAH MENGIMANI
ADANYA ALAM KUBUR
Mempelajari apa-apa
yang terjadi di
alam kubur banyak memberikan faedah. Seseorang yang
mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu akan
berusaha sebisa mungkin
selama ia masih
hidup agar menjadi orang yang
layak mendapatkan nikmat
kubur kelak. Seseorang
yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan berusaha sebisa
mungkin agar ia terhindar darinya kelak.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
rahimahullah menyebutkan tiga manfaat yang
didapatkan dari mengimani
adanya alam akhirat
yang termasuk di dalamnya juga mengimani alam kubur:
Pertama: memotivasi seseorang untuk melakukan ketaatan
dan bersemangat dalam melakukannya, karena berharap akan mendapatkan akibat
yang baik di alam akhirat (dan juga di alam kubur).
Kedua: membuat takut untuk melakukan
maksiat atau ridha terhadap
maksiat, karena khawatir akan mendapatkan hukuman di alam akhirat (dan juga di
alam kubur).
Ketiga: menjadi hiburan bagi hati seorang Mukmin ketika
ada perkara dunia yang terluput darinya, karena ia lebih mengharapkan ganjaran
dan pahala di akhirat. Mempelajari dan mengimani adanya adzab serta nikmat
kubur juga akan membuat kita senantiasa ingat akan kematian. Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, Nabi
Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu maut"
Sumber :
205. 204 Majmu' al-Fatawa war Rasail
Syaikh Ibnu Al Utsaimin, 5/131 205 HR. At Tirmidzi no. 2307, An Nasa'i no.
1823, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 3333
WASIAT NABI
TENTANG ALAM KUBUR
kami
mengajak diri kami
dan pembaca sekalian untuk melaksanakan wasiat Nabi
Shallallahu'alaihi Wasallam:“Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab
kubur! Hendaknya kita
banyak-banyak berdoa meminta
perlindungan kepada Allah dari adzab
kubur agar Allah ta'ala memasukkan kita
ke dalam golongan orang-orang
yang diberi nikmat
di alam kubur.
Semoga
Allah ta'ala memberikan kita taufik dan hidayah untuk istiqamah di atas
jalan-Nya, sehingga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan qauluts tsabit
di alam kubur. Demikian sedikit yang
bisa kami paparkan
mengenai alam kubur
dan hal-hal yang terkait dengannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat
dan menjadi pemberat timbangan amalan kebaikan di yaumul mizan kelak.
Sumber
206 HR. Muslim no. 2867, dari sahabat
Zaid bin Tsabit radhiallahu'anhu

0 comments:
Posting Komentar