APAKAH MAYIT BISA MERASAKAN ORANG YANG BERZIARAH?
Pertanyaan: Apakah mayit
bisa merasakan orang
yang berziarah ke
kuburannya? Lalu apakah wajib
berdiri di depan
kuburan orang tersebut
jika berziarah ataukah cukup
dengan masuk ke
areal pemakaman? Mohon
beri kami penjelasan, semoga
Allah menambah ilmu anda.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
menjawab: Mengenai apakah mayit
bisa merasakan orang
yang berziarah, Allah yang
lebih mengetahui. Memang
sebagian ulama salaf
memiliki pendapat demikian, namun
menurut pengamatan saya
tidak ada dalil
yang tegas menunjukkan hal
tersebut. Namun kita ketahui bersama bahwa ketika ziarah kubur kita dianjurkan
mengucapkan salam: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, (wahai penghuni)
tanah kaum muslimin.Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami
memohon keselamatan bagi diri kami dan juga kalian. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului
kami dan orang-orang yangkelak akan mati”.Amalan ini
semua disyari’atkan. Adapun
mengenai apakah si
mayit merasakan atau tidak itu membutuhkan dalil yang tegas,
Wallahu’alam.
Namun,
baik si mayit
merasakan atau tidak,
itu tidak merugikan
kita. Yang dituntut dari
kita adalah menjalankan
sunnah. Dianjurkan bagi
kita untuk berziarah kubur, mendoakan orang yang telah mati, walaupun
mereka tidak merasakannya. Karena yang kita lakukan itu membuahkan pahala bagi
kita dan bermanfaat bagi si mayit. Doa kita untuk mereka akan bermanfaat bagi
mereka, sedangkan ziarah kubur yang kita lakukan akan bermanfaat bagi kita
sendiri. Karena dalam ziarah kubur ada pahala, dapat mengingatkan kita terhadap
kematian, mengingatkan kita terhadap akhirat, sehingga bermanfaat bagi kita. Si
mayit pun mendapat manfaat dari hal itu, yaitu dengan doa kita, dengan
permohonan ampunan baginya, sehingga ia pun mendapat manfaat. Adapun soal
berdiri di depan kuburan, ini perkaranya luas. Boleh berdiri di depan
kuburan, atau berdiri
di tepi areal
pemakaman lalu mengucapkan salam, itu
pun cukup. Atau
jika ia berada
di satu bagian
dari areal pemakaman, lalu
mengucapkan: “Semoga keselamatan ditetapkan pada kalian, wahai penghuni tanah
kubur dari kalangan kaum muslimin dan
mukminin.
Sesungguhnya kami insya Allah akan
menyusul kalian. Kami memohon keselamatan bagi diri kami dan juga kalian. Semoga Allah merahmati
orang-orang yang telah mendahului kami
dan orang-orang yang kelak akan mati” Ini cukup. Jika ia mendatangi kuburan
ayahnya atau kuburan saudaranya, maka
ini lebih utama
dan lebih sempurna.
Jadi ia mendatangi
kuburan ayahnya, saudaranya atau
kerabatnya lalu mengatakan
“Assalamu’alaikum wahai fulan, semoga Allah merahmati dan melimpahkan
berkah kepadamu, semoga Allah mengampuni
dosamu dan merahmatimu
serta melipat- gandakan pahala
kebaikanmu“, atau semacam itu, maka ini lebih utama dan lebih sempurna
Sumber :
176. 176 Sumber:
http://www.binbaz.org.sa/mat/4821175 HR. Muslim no.249, 974, 975
