Beberapa waktu kemudian Cyrus the Great berkonflik dengan Massagetae, sebuah konfederasi nomaden di Asia Tengah. Cyrus pertama kali melamar Ratu Massagetae, Tomyris, tetapi ditolak.
Sebagai tanggapan, Cyrus melancarkan invasi ke wilayah Massagetae dan kedua belah pihak terlibat dalam pertempuran. Rincian pastinya tidak jelas, tetapi tampaknya tentara Persia Akhemeniyah telah dikalahkan dan sang pemimpin dibunuh.
Menurut sebuah cerita, setelah pertempuran, jenazah Cyrus dibawa ke hadapan Tomyris, yang kemudian dipenggal. Dia kemudian mencelupkan kepalanya ke dalam bejana berisi darah. Hal itu merupakan tindakan balas dendam karena Cyrus dikatakan telah menipu dan membunuh putranya.
Setelah Cyrus the Great meninggal, sekitar tahun 530 atau 529 Sebelum Masehi, jenazahnya dikebumikan di ibu kotanya, Pasargadae. Meskipun kota ini kini hancur, makamnya sendiri masih bertahan. Di dalam makam Cyrus the Great dimakamkan di peti mati emas, diletakkan di atas meja dengan penyangga emas.
Makam itu dipenuhi barang-barang mewah lainnya dan dikelilingi taman yang indah. Di atas makam itu tertulis kata-kata: “Wahai manusia, siapa pun kamu dan dari mana pun kamu berasal, karena aku tahu kamu akan datang, akulah Cyrus yang memenangkan Kerajaan Persia. Oleh karena itu, jangan iri padaku karena sebidang tanah yang menutupi tulang-tulangku.”

0 comments:
Posting Komentar