Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 21 September 2026

Sakaratul Maut Bagi orang Kafir

 Allah ta'ala berfirman:  “Dan andaikan kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-  orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan    berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.   

Sakaratul Maut Bagi orang Kafir

Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya  .Syaikh  Khalid  Al  Mushlih hafizhahullah  menjelaskan  ayat  ini,  beliau mengatakan, “Allah  'azza  wa  jalla  menyebutkan  keadaan  mereka  yang mendapatkan adzab ketika dicabut ruh mereka. Kemudian setelah itu Allah ta'ala  berfirman  (yang  artinya),  “Rasakanlah  olehmu  siksa  neraka  yang membakar”. Setelah itu Allah menyebutkan tentang adzab yang membakar, yaitu  adzab  neraka.  Semoga  Allah  ta'ala  memberikan  keselamatan  kepada kita    dari   semua      itu”.    Syaikh      Muhammad  bin    Shalih   Al  Utsaimin rahimahullah  juga  menyebutkan  ayat  ini  sebagai  salah  satu  dalil  tentang adanya adzab kubur.

Allah ta'ala berfirman:  “Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,      (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan   dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan  terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu     menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya  As Safarini rahimahullah mengatakan, “Ulama seorang muhaqqiq, Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ar Ruh, bahwa di antara dalil adanya adzab dan nikmat  kubur  dalam  Al  Qur'an  Al  Majid  adalah  ayat  “Sekiranya  engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut... ”  (QS. Al An'am:  93).  Konteks  ayat  ini  secara  jelas  bicara  tentang kejadian ketika menjelang kematian”.       Syaikh     Shalih     bin   Fauzan   Al Fauzan hafizhahullah   menjelaskan, “Konteks dari ayat ini, kejadian tersebut terjadi ketika menjelang kematian. Dalam  ayat  ini  disebutkan  bahwa  Malaikat  mengabarkan  (dan  Malaikat adalah makhluk yang jujur) bahwa ketika itu si mayit merasakan adzab yang menghinakan.  Jika  adzab  yang  menghinakan  tersebut  terjadi  ketika  dunia berakhir,  maka  tidak  tepat  perkataan  Malaikat  “pada  hari  ini  kamu  akan dibalas”.  Sehingga  ini  menunjukkan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  “adzab yang menghinakan” itu adalah adzab kubur”. Syaikh   Muhammad  bin    Shalih   Al Utsaimin rahimahullah  juga menyebutkan ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya adzab kubur.


Read More

Minggu, 20 September 2026

Tadabbur

 Dalam istilah tasawuf, 5 itu adalah tangga perjalanan hati untuk sampai ke Allah. Urutannya dari luar ke dalam:

 

1. Tadabbur Qur'an — تَدَبُّرُ الْقُرْآنِ

Secara bahasa: memandang akibat / ujung dari sesuatu.

 

Dalam tasawuf artinya: Membaca Qur'an bukan dengan mulut, tapi dengan hati yang mencari pesan Allah untuk dirimu hari ini.

 

Bukan sekedar tafsir. Contoh: baca ayat "Allah adalah Cahaya langit dan bumi" — kamu berhenti lama, kamu tanya: "Mana cahaya itu di hatiku yang masih gelap ini?" Itu tadabbur.

 

> Dalilnya: "Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24)

 

2. Tadabbur Alam — تَدَبُّرُ الْعَالَمِ

Kalau tadabbur Qur'an itu ayat yang tertulis (ayat qauliyah), tadabbur alam itu ayat yang diciptakan (ayat kauniyah).

 

Artinya: Melihat ciptaan untuk melihat Pencipta.

 

Lihat hujan turun, bukan sekedar "hujan", tapi kamu lihat: "Oh begini cara Allah menurunkan rezeki pelan-pelan, begitu juga hidayah turun ke hati yang keras." Lihat gunung, ingat keteguhan Allah.

 

Ini yang disebut Imam Ghazali sebagai ma'rifat melalui af'al Allah.

 

3. Tafakur — تَفَكُّرٌ

Ini mesinnya. Kalau tadabbur itu objeknya, tafakur itu prosesnya.

 

Artinya: Diamnya lisan, hidupnya akal dan hati untuk mengurai makna.

 

Rasulullah bersabda: "Tafakur sesaat lebih baik dari ibadah setahun" (Hadits dhaif tapi maknanya diamalkan sufi).

 

Tafakur ada 4 level dalam tasawuf:

- Tafakur tentang dosa -> melahirkan taubat

- Tafakur tentang nikmat -> melahirkan syukur

- Tafakur tentang akhirat -> melahirkan zuhud

- Tafakur tentang Dzat Allah -> ini dilarang, yang ditafakuri sifat-Nya saja.

 

4. Syahdah / Musyahadah — مُشَاهَدَةٌ

Ini buahnya.

 

Kalau tadabbur dan tafakur masih pakai akal, syahdah itu sudah melihat dengan mata hati (ainul basirah).

 

Artinya: Kamu tidak lagi sekedar yakin Allah itu ada, tapi seakan-akan kamu menyaksikan Allah hadir di setiap kejadian.

 

Bukan melihat Dzat Allah (itu mustahil di dunia), tapi melihat perbuatan dan sifat Allah begitu jelas sampai seperti menyaksikan langsung. Hati sudah tidak lalai.

 

Ulama bilang: Tafakur adalah perjalanan, Syahdah adalah tujuan.

 

5. Hujjah — حُجَّةٌ

Ini pijakan / bekal biar tidak halu.

 

Dalam tasawuf, hujjah artinya: Dalil yang kokoh dari Qur'an, Sunnah, dan perkataan ulama yang jadi sandaran pengalaman spiritualmu.

 

Kenapa penting? Karena banyak orang merasa sudah "musyahadah" padahal cuma halusinasi. Sufi yang benar harus punya hujjah. Setiap rasa di hati harus bisa ditimbang dengan Qur'an dan Sunnah. Kalau tidak ada hujjahnya, itu bukan syahdah, tapi waham (khayalan syaitan).

 

Urutan sederhananya:

 

Alam & Qur'an (yang dibaca) -> Tafakur (yang dipikirkan) -> Syahdah (yang disaksikan hati) -> Hujjah (yang menguatkan agar tidak sesat)

Read More

RUH PARA SYUHADA

 Allah ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup,  tetapi kamu tidak menyadarinya. Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah memaparkan,“Allah ta’ala mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam barzakh dalam keadaan senantiasa diberi rezeki oleh Allah, sebagaimana dalam hadits yang terdapat pada Shahih Muslim… (lalu beliau menyebutkan haditsnya)”.Mengenai   keadaan para syuhada yang setelah wafat mendapat kenikmatan di sisi Allah di alam barzakh adalah pendapat jumhur mufassirin, di   antaranya   Mujahid,   Qatadah,   AbuJa’far,‘Ikrimah,Jalalain,Al Baghawi,Al Alusi, dll.

RUH PARA SYUHADA


Mereka hanya berbeda pendapat  tentang bagaimana bentuk rezeki atau kesenangan tersebut.  Ayat  ini  sejalan  dengan  ayat  lain  dalam  surat  Ali  Imran,  Allah  ta'ala berfirman:“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat  rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya,  dan berbahagia terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum  menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak    bersedih hati. Mereka berbahagia dengan nikmat dan karunia dari Allah.       Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman       Sebagaimana  juga  penjelasan  dari  Al  Hasan  Al  Bashri rahimahullah, “Para  syuhada  itu  hidup  di  sisiAllah,  mereka  dihadapkan  kepada  surga sehingga mereka pun merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Sebagaimana arwah Fir’aun dan kaumnya yang dihadapkan ke neraka setiap pagi dan sore hari  sehingga  mereka  merasakan  kesengsaraan”. Artinya,  para  syuhada merasakan   kebahagiaan   dan   kesenangan   di   alam barzakh   sebagaimana Fir’aun merasakan kesengsaraan juga di alam barzakh. Sehingga jelas bahwa ayat-ayat di atas menunjukkan adanya adzab kubur dan nikmat kubur.

Read More