Dalam istilah tasawuf, 5 itu adalah tangga perjalanan hati untuk sampai ke Allah. Urutannya dari luar ke dalam:
1. Tadabbur Qur'an — تَدَبُّرُ الْقُرْآنِ
Secara bahasa: memandang akibat / ujung dari sesuatu.
Dalam tasawuf artinya: Membaca Qur'an bukan dengan mulut, tapi
dengan hati yang mencari pesan Allah untuk dirimu hari ini.
Bukan sekedar tafsir. Contoh: baca ayat "Allah adalah
Cahaya langit dan bumi" — kamu berhenti lama, kamu tanya: "Mana
cahaya itu di hatiku yang masih gelap ini?" Itu tadabbur.
> Dalilnya: "Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an,
ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24)
2. Tadabbur Alam — تَدَبُّرُ الْعَالَمِ
Kalau tadabbur Qur'an itu ayat yang tertulis (ayat qauliyah),
tadabbur alam itu ayat yang diciptakan (ayat kauniyah).
Artinya: Melihat ciptaan untuk melihat Pencipta.
Lihat hujan turun, bukan sekedar "hujan", tapi
kamu lihat: "Oh begini cara Allah menurunkan rezeki pelan-pelan, begitu
juga hidayah turun ke hati yang keras." Lihat gunung, ingat keteguhan
Allah.
Ini yang disebut Imam Ghazali sebagai ma'rifat melalui af'al
Allah.
3. Tafakur — تَفَكُّرٌ
Ini mesinnya. Kalau tadabbur itu objeknya, tafakur itu
prosesnya.
Artinya: Diamnya lisan, hidupnya akal dan hati untuk
mengurai makna.
Rasulullah bersabda: "Tafakur sesaat lebih baik dari
ibadah setahun" (Hadits dhaif tapi maknanya diamalkan sufi).
Tafakur ada 4 level dalam tasawuf:
- Tafakur tentang dosa -> melahirkan taubat
- Tafakur tentang nikmat -> melahirkan syukur
- Tafakur tentang akhirat -> melahirkan zuhud
- Tafakur tentang Dzat Allah -> ini dilarang, yang
ditafakuri sifat-Nya saja.
4. Syahdah / Musyahadah — مُشَاهَدَةٌ
Ini buahnya.
Kalau tadabbur dan tafakur masih pakai akal, syahdah itu
sudah melihat dengan mata hati (ainul basirah).
Artinya: Kamu tidak lagi sekedar yakin Allah itu ada, tapi
seakan-akan kamu menyaksikan Allah hadir di setiap kejadian.
Bukan melihat Dzat Allah (itu mustahil di dunia), tapi
melihat perbuatan dan sifat Allah begitu jelas sampai seperti menyaksikan
langsung. Hati sudah tidak lalai.
Ulama bilang: Tafakur adalah perjalanan, Syahdah adalah
tujuan.
5. Hujjah — حُجَّةٌ
Ini pijakan / bekal biar tidak halu.
Dalam tasawuf, hujjah artinya: Dalil yang kokoh dari Qur'an,
Sunnah, dan perkataan ulama yang jadi sandaran pengalaman spiritualmu.
Kenapa penting? Karena banyak orang merasa sudah "musyahadah"
padahal cuma halusinasi. Sufi yang benar harus punya hujjah. Setiap rasa di
hati harus bisa ditimbang dengan Qur'an dan Sunnah. Kalau tidak ada hujjahnya, itu
bukan syahdah, tapi waham (khayalan syaitan).
Urutan sederhananya:
Alam & Qur'an (yang dibaca) -> Tafakur (yang dipikirkan) -> Syahdah (yang disaksikan hati) -> Hujjah (yang menguatkan agar tidak sesat)
0 comments:
Posting Komentar