Studi adanya azab atau nikmat alam kubur
Qur’an tidak akan bertentangan dengan Al Qur’an, Al Qur’an pun tidak akan bertentangan dengan hadits dan hadits tidak akan bertentangan dengan hadits. Dengan kata lain, ayat Al Qur’an saling menafsirkan, demikian juga ayat Al Qur’an dan hadits saling menafsirkan. Oleh karena itulah kita hendaknya merujuk kepada para ulama, karena merekalah yang mampu mendudukkan ayat dengan ayat, hadits dengan hadits serta ayat dengan hadits sesuai tempatnya sehingga jelas bahwa tidak ada pertentangan. Ayat pertama
Allah ta'ala berfirman:
“Mereka berkata: “Aduh celakalah kami!
Siapakah yang membangkitkan kami dari
tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya)
Jika orang yang
mati dikatakan ‘tidur’
setelah ia mati
sampai hari kebangkitan, maka
tentu tidak ada adzab kubur atau nikmat kubur. Demikian logika ahlul
bid’ah yang menolak
adanya adzab kubur,
dan memang demikianlah mereka
memahami ayat-ayat Allah dengan logika tanpa merujuk kepada ahlinya.
Jawaban: Kalau kita merujuk para
ahli tafsir dari kalangan sahabat sampai ulama mu’ashiriin, Ubay
bin Ka’ab radhiallahu’anhu, Khaitsamah,
Mujahid dan Qatadah menafsirkan
maksud dari ‘tidur’
dalam ayat ini
adalah: “Tidur sejenak sebelum
dibangkitkan dari kubur”. Qatadah juga menambahkan: “Itu terjadi di
antara dua tiupan
sangkakala”90. Al hafidz
Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan: “Ayat
ini tidak menafikan
adanya adzab kubur, karena
jika dibandingkan dengan
apa yang terjadi
setelahnya, yang terjadi di alam
kubur seperti tidur”91. 89 QS. Yaasin: 52 90 Lihat Tafsir Ath Thabari, 20/532
91 Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 6/581
Ayat ke dua Allah ta'ala berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad)
mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang
diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari
yang pada waktu itu mata(mereka) terbelalak
Dalam ayat ini
dikatakan Allah memberi
tangguh, artinya tidak
mengadzab mereka, sampai
hari ketika mata
manusia terbelalak, yaitu hari kiamat. Demikian logika mereka. Padahal
jika kita menilik
penjelasan para ulama
tafsir, Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan
makna “Allah memberi
tangguh kepada mereka : “dikatakan demikian karena begitu
‘ngerinya’ keadaan mereka di hari kiamat”93. Al Baghawi rahimahullah
menafsirkan: “Tidak akan menimpa mereka kengerian semisal
yang akan mereka
dapatkan di hari
kiamat”94. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Alam kubur adalah awal perjalanan
akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah.
Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya
lebih berat QS. Ibrahim: 42 93 Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 4/515 94 Ma’alim
At Tanzil, 4/359 95 Telah berlalu takhrij hadits ini Jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya
perbandingan antara siksa kubur dengan
siksa mereka kelak
di hari kiamat,
hingga ketika mereka
masih disiksa di alam kubur dianggap masih dalam masa penangguhan. Sebagian
ulama memang menafsirkan
secara mutlak bahwa
maknanya adalah “mereka tidak akan mendapat adzab hingga hari kiamat”,
namun yang dimaksud adalah sebagaimana
yang diungkapkan Ibnu
Katsir dan Al Baghawi
di atas.
Karena
faktanya, sebagian orang
kafir bahkan diadzab ketika mereka
masih hidup. Dan
perlu dicatat, para
ahli tafsir yang menafsirkan secara mutlak demikian
tidak ada yang memahami bahwa ayat ini menafikan adzab kubur. Jadi memahami
ayat ini dengan pemahaman para penolak
adanya adzab kubur,
adalah pemahaman baru
yang tidak ada pendahulunya, serta bertentangan dengan
ratusan dalil. Ayat ke tiga Allah
ta'ala “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur)
melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan
(dari kebenaran)”. Menurut logika para
penolak adanya adzab kubur, berdasarkan ayat ini, antara matinya
seorang manusia dengan
hari kebangkitan itu hanya
terasa sesaat saja, hingga seorang manusia merasakan seolah setelah mati
tiba-tiba sudah dibangkitkan. Maka tidak ada alam kubur yang dia merasakan adzab
atau nikmat.
Para
ahli tafsir menjelaskan
mengenai makna ‘sesaat’,
Al Baidhawi rahimahullah berkata,
“Maksudnya adalah masa
di alam kubur
dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan dengan lamanya siksaan
mereka di akhirat kelak. QS. Ar Rum: 55
Atau penafsiran yang lain, mereka lupa
akan lamanya berada di alam kubur”97.
Sebagian ahli tafsir
memaknai bahwa maksudnya
adalah masa ketika hidup
di dunia, Al Baghawi rahimahullah mengatakan,
“Maksudnya adalah masa di dunia dianggap
terlalu sebentar dibandingkan dengan akhirat”98. Seluruh tafsiran di atas
tidak ada yang bertentangan dengan dalil- dalil adanya adzab kubur. Dan
sekali lagi perlu
di catat, tidak
ada ahli tafsir
yang memahami bahwa ayat ini
menafikan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa ayat ini dengan dalil-dalil
shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah bertentangan.
Demikianlah beberapa
ayat yang menjadi
‘syubhat’ karena dipahami secara salah
oleh para pengikut
hawa nafsu. Tidak
menutup kemungkinan adanya ayat
lain yang mereka
gunakan untuk melariskan pemahaman menyimpang mereka,
namun cukuplah kita
meyakini bahwa di
antara dalil tidak ada yang
saling bertentangan. 97 Anwar At Tanziil, 4/488 98 Ma’alim At Tanzil, 6/278

0 comments:
Posting Komentar