Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 19 Agustus 2026

Studi adanya azab atau nikmat alam kubur

 Studi adanya azab atau nikmat alam kubur

Qur’an tidak akan bertentangan dengan Al Qur’an, Al Qur’an pun   tidak   akan    bertentangan    dengan     hadits   dan   hadits   tidak   akan bertentangan dengan   hadits.   Dengan   kata   lain,   ayat  Al   Qur’an   saling menafsirkan,  demikian  juga  ayat Al  Qur’an  dan  hadits  saling  menafsirkan. Oleh  karena  itulah  kita  hendaknya  merujuk  kepada  para  ulama,  karena merekalah yang mampu mendudukkan ayat dengan ayat, hadits dengan hadits serta  ayat  dengan  hadits  sesuai  tempatnya  sehingga  jelas  bahwa  tidak  ada pertentangan. Ayat pertama   

Studi adanya azab atau nikmat alam kubur

   

Allah ta'ala berfirman:   

“Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan  kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang  Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya) Jika  orang  yang  mati  dikatakan  ‘tidur’  setelah  ia  mati  sampai  hari kebangkitan, maka tentu tidak ada adzab kubur atau nikmat kubur. Demikian logika   ahlul   bid’ah   yang   menolak   adanya   adzab   kubur,   dan   memang demikianlah mereka memahami ayat-ayat Allah dengan logika tanpa merujuk kepada ahlinya. Jawaban:       Kalau kita merujuk para ahli tafsir dari kalangan sahabat sampai ulama mu’ashiriin,  Ubay  bin  Ka’ab radhiallahu’anhu,  Khaitsamah,  Mujahid  dan Qatadah  menafsirkan  maksud  dari  ‘tidur’  dalam  ayat  ini  adalah:  “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Qatadah juga menambahkan: “Itu terjadi    di   antara    dua     tiupan    sangkakala”90.   Al        hafidz     Ibnu     Katsir rahimahullah  juga  menjelaskan:  “Ayat  ini  tidak  menafikan  adanya  adzab kubur,  karena  jika  dibandingkan  dengan  apa  yang  terjadi  setelahnya,  yang terjadi di alam kubur seperti tidur”91. 89 QS. Yaasin: 52 90 Lihat Tafsir Ath Thabari, 20/532 91  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 6/581                             

Ayat ke dua       Allah ta'ala berfirman:  “Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai  dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang lalim. Sesungguhnya Allah    memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata(mereka) terbelalak  Dalam   ayat   ini   dikatakan   Allah   memberi   tangguh,   artinya   tidak mengadzab  mereka,  sampai  hari  ketika  mata  manusia terbelalak,  yaitu  hari kiamat. Demikian logika mereka.       Padahal  jika  kita  menilik  penjelasan  para  ulama  tafsir, Al  Hafidz  Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan  makna  “Allah  memberi  tangguh  kepada mereka      : “dikatakan demikian karena begitu ‘ngerinya’ keadaan mereka di hari kiamat”93. Al Baghawi rahimahullah menafsirkan: “Tidak akan menimpa mereka  kengerian  semisal  yang  akan  mereka  dapatkan  di  hari  kiamat”94. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil,                               maka setelahnya lebih berat     QS. Ibrahim: 42 93  Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 4/515 94 Ma’alim At Tanzil, 4/359 95 Telah berlalu takhrij hadits ini  Jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya perbandingan antara siksa kubur dengan  siksa  mereka  kelak  di  hari  kiamat,  hingga  ketika  mereka  masih disiksa di alam kubur dianggap masih dalam masa penangguhan.       Sebagian  ulama  memang  menafsirkan  secara  mutlak  bahwa  maknanya adalah “mereka tidak akan mendapat adzab hingga hari kiamat”, namun yang dimaksud   adalah   sebagaimana   yang   diungkapkan   Ibnu   Katsir   dan   Al Baghawi  di  atas. 

Karena  faktanya,  sebagian  orang  kafir  bahkan  diadzab ketika   mereka   masih   hidup.   Dan   perlu   dicatat,   para   ahli   tafsir   yang menafsirkan secara mutlak demikian tidak ada yang memahami bahwa ayat ini menafikan adzab kubur. Jadi memahami ayat ini dengan pemahaman para penolak   adanya   adzab   kubur,   adalah   pemahaman   baru   yang   tidak   ada pendahulunya, serta bertentangan dengan ratusan dalil. Ayat ke tiga      Allah ta'ala “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang   berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”.     Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran)”.  Menurut logika para penolak adanya adzab kubur, berdasarkan ayat ini, antara  matinya  seorang  manusia  dengan  hari kebangkitan  itu  hanya  terasa sesaat saja, hingga seorang manusia merasakan seolah setelah mati tiba-tiba sudah dibangkitkan. Maka tidak ada alam kubur yang dia merasakan adzab atau nikmat.     

Para  ahli  tafsir  menjelaskan  mengenai  makna  ‘sesaat’,  Al  Baidhawi rahimahullah  berkata,  “Maksudnya  adalah  masa  di  alam  kubur  dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan dengan lamanya siksaan mereka di akhirat kelak. QS. Ar Rum: 55  

Atau penafsiran yang lain, mereka lupa akan lamanya berada di alam kubur”97.  Sebagian  ahli  tafsir  memaknai  bahwa  maksudnya  adalah  masa ketika  hidup  di  dunia, Al  Baghawi rahimahullah  mengatakan,  “Maksudnya adalah   masa   di   dunia   dianggap   terlalu   sebentar   dibandingkan   dengan akhirat”98. Seluruh tafsiran di atas tidak ada yang bertentangan dengan dalil- dalil adanya adzab kubur.       Dan  sekali  lagi  perlu  di  catat,  tidak  ada  ahli  tafsir  yang  memahami bahwa ayat ini menafikan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa ayat ini dengan dalil-dalil shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah bertentangan.     

Demikianlah  beberapa  ayat  yang  menjadi  ‘syubhat’  karena  dipahami secara  salah  oleh  para  pengikut  hawa  nafsu.  Tidak  menutup  kemungkinan adanya   ayat   lain   yang   mereka   gunakan untuk   melariskan   pemahaman menyimpang  mereka,  namun  cukuplah  kita  meyakini  bahwa  di  antara  dalil tidak ada yang saling bertentangan. 97 Anwar At Tanziil, 4/488 98 Ma’alim At Tanzil, 6/278

0 comments:

Posting Komentar