Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 21 Agustus 2026

Ilmu Hadits tentang azab kubur

 Ilmu Hadits tentang azab kubur

Dalil-dalil wajibnya beramal dengan hadits ahad Dalil Al Qur'an Allah Ta’ala berfirman,  “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke     medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara   mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah     kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya       Sisi pendalilan dari ayat ini ada dua: Pertama,   Allah  memerintahkan tha'ifah   untuk   memberi   peringatan kepada kaumnya. Sedangkan secara bahasa:  “Tha'ifah dari sesuatu artinya bagian dari sesuatu, atau berjumlah satu atau   lebih, atau berjumlah di antara 1 sampai 1000, atau paling sedikit satu atau dua”.Ini menunjukkan tegaknya kebenaran walau hanya dari satu orang atau Al Kifayah, halaman 48 106 QS. At Taubah:

Ilmu Hadits tentang azab kubur


Al Qamus Al Muhith dua orang. Dan kebenaran itu wajib diterima oleh kaumnya.      Kedua,   Allah   menyebutkan   manfaat   adanya   beberapa   orang   yang mendalami agama yaitu ‘supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ‘. Andai hujjah tidak bisa diterima dari satu atau sedikit orang, tentu manfaat tersebut tidak tercapai dan konsekuensinya ayat ini tidak benar. Dalil hadits      Hadits-hadits mutawatir         tentang     Rasulullah shallallahu   ‘alaihi   wa sallam  mengutus  utusan,  amil  zakat,  hakim  hanya  satu  orang  saja  kepada sekelompok         orang.     Sebagaimana         diutusnya     Mua’dz      bin    Jabal radhiallahu'anhu:  “Engkau akan mendatangi kaum yang terdiri dari ahli kitab. Ajaklah mereka  untuk bersyahadat ‘Laailaaha Illallah Wa Anna Muhammadan Rasulullah’,   jika mereka mau taat, ajarkanlah mereka untuk shalat lima waktu sehari-semalam….”Imam Asy Syafi’i berkata, “Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah mengutus seseorang utusan kecuali sendirian.

 Ini adalah bukti berita yang dibawa

oleh satu orang utusan tersebut adalah benar, Insya Allah”109.      Dari  Anas  bin  Malik radhiallahu’anhu,   Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,   HR. Muslim no.19 109Ar Risalah, halaman   “Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang        mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan   menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama  kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan        dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka       karena doa mereka meliputi dari belakang mereka      Di  sini  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi  wa  sallam mendoakan imra-an yang menyampaikan hadits.

 Sedangkan imra-an itu artinya satu orang. Dalil ijma'       Ijma para sahabat bahwa khabar ahad itu diterima111. Di antara dalil ijma ini adalah hadits tentang pindahnya kiblat yang hanya dikabarkan oleh satu orang     yang      menyampaikan      kabar   dari    Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalallam. Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, HR. Ibnu Majah no. 2498, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah 111 Lihat Al Kifayah, 43-45; Raudhatun Nazhir  1/268-274; Syarh Kaukab Al Munir, 2/369-375                                

 “Dahulu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam shalat menghadap ke Baitul     Maqdis. Kemudian turun ayat (yang artinya) : 

“Kami melihat wajahmu     (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan  engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah    Masjidilharam        (QS. Al Baqarah: 144). Lalu lewatlah seorang lelaki dari    Bani Salamah, ketika orang-orang sedang shalat dalam posisi rukuk (di masjid). Dan mereka sudah melalui satu raka'at. Orang tersebut pun menyeru:    “Ketahuilah... kiblat telah diubah!”. Seketika itu orang-orang yang shalat                           segera mengubah arah kiblatnya”.     

Andaikan para sahabat tidak menerima khabar ahad, maka mereka tidak akan mengubah arah kiblat karena kabar dari satu orang saja. Hadits ahad adalah hujjah dalam masalah hukum ataupun akidah   Dalil-dalil yang ada di poin b menunjukkan bahwa kebenaran atau hujjah itu diterima dari satu orang tanpa dirinci apakah perkaran aqidah atau bukan, berlaku secara umum dan mutlak. Bahkan hadits Muadz bin Jabal berbicara masalah  aqidah.  Ibnu  ‘Abdil  Barr rahimahullah  berkata,  “Semua  perkara aqidah  mengenai  asma  dan  sifat  Allah  Ta’ala  hanya  diketahui  dari  nash Kitabullah  dan  hadits  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih atau  dari  ijma  ulama.  Sedangkan  yang  berasal  dari  hadits  ahad,  semuanya diterima dan tidak ada perdebatan tentang ini”.       Adapun   membeda-bedakan   penyikapan   hadits  Ahad   dalam   masalah aqidah  dan  masalah  hukum  adalah  keyakinan  baru  dalam  Islam,  yang merupakan  bid’ah.  Pembedaan  seperti  ini  tidak  pernah  dikenal  oleh  salah seorang  sahabat  Nabi,  tidak  juga  oleh  tabi’in,  tabi’ut  tabi’in,  juga  tidak dikenal  oleh  para  Imam.  Pembedaan  seperti  ini  hanya  dikenal  dari  tokoh- tokoh ahlul bid’ah dan yang mengikuti mereka114.       Keyakinan   bahwa   masalah   aqidah   harus   ditetapkan   dengan   hadits mutawatir  itu  sendiri  merupakan  sebuah  aqidah  (keyakinan)  dalam  agama. Kalau   mereka   konsisten,   hendaknya   mereka   mendatangkan   dalil   yang 112 HR. Muslim no.527 113Jaami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih, 2/96 114 Lihat Mukhtashar Shawa’iqil Mursalah, 503  mutawatir tentang adanya aqidah tersebut dalam Islam.

SYUBHAT 3: BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR      Syubhat  ini  adalah  turunan  dari  syubhat  kedua.  Dalam  tulisan-tulisan mereka  yang  menolak  adanya  adzab  kubur,  mereka  mengutip  beberapa pernyataan sebagian ulama ahlussunnah yang menganggap hadits ahad hanya bernilai zhan dan tidak bernilai ilmu. Sehingga mengesankan bahwa sebagian ulama tersebut juga tidak mengimani adanya adzab kubur. Inilah kecurangan mereka dalam berargumentasi.   Memang benar terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang apakah hadits Ahad    bernilai zhan,  ataukah  bernilai  ilmu,  ataukah  bernilai  ilmu  namun dengan   syarat.   Namun   mereka   sepakat   beramal   dengan   hadits   Ahad, sebagaimana telah kami sampaikan pernyataan ijma dalam hal ini. Memang juga   sebagian   ulama,   mengatakan   bahwa   terhadap   hadits  Ahad,   wajib beramal  dengannya  namun  tidak  diyakini.  Namun  hal  ini  pada  hakekatnya hanyalah ikhtilaf lafzhi, karena setiap dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang shahih  adalah  hujjah  yang  wajib  diyakini  kebenarannya  dan  diamalkan. Bagaimana mungkin seseorang diperintah untuk beramal tanpa meyakini apa yang dia amalkan?      Semisal  hadits  tentang  meminta  perlindungan  dari  adzab  kubur  setiap selesai shalat:

 “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’”115.       Bagaimana    mungkin       dengan     dasar     hadits    ini,  dikatakan      bahwa disunnahkan  membaca  doa  tersebut  setiap  sebelum  salam  ketika  shalat namun   tidak   boleh   meyakini   isinya??   Dari   sini   terlihat   jelas   bahwa memisahkan  permasalahan  hukum  dan  aqidah  dalam  pembahasan  hadits Ahad adalah perkara yang aneh.   Di   antara    nama      ulama     yang    sering     di-’catut’    untuk     melariskan pemahaman  mereka  adalah  Al  Imam  Al  Bukhari. 

Pasalnya,  dalam  kitab Shahih Bukhari beliau menulis “Bab dalil-dalil tentang bolehnya menggunakan khabar ahad yang shahih   dalam masalah adzan, shalat, puasa, waris dan ahkam”       Padahal  Al   Bukhari   tidak   menyebutkan i’tiqad atau ‘aqaa-id  dalam kalimat  tersebut,  sehingga  diklaim  bahwa  beliau  tidak  berhujjah  dengan hadits  ahad  dalam  masalah  aqidah.  Padahal  faktanya,  Al  Bukhari  banyak meriwayatkan hadits-hadits Ahad dalam masalah aqidah di Shahih Bukhari. Adapun judul bab yang beliau buat demikian, justru untuk membantah orang- orang yang menolak kehujjahan hadits ahad secara umum. Dan yang paling penting  dan  perlu  digaris-bawahi  adalah, Imam  Al  Bukhari  mengimani 115 HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589, dari Aisyah radhiallahu'anha adanya adzab kubur dan alam kubur. Sebagaimana telah kami singgung pada bagian dalil-dalil Al Qur’an tentang adanya alam kubur.  Selain beliau, Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani pun seringkali di-’catut’ dengan cara demikian.

Padahal beliau dalam kitab Fathul Baari, menyetujui aqidah  Imam  Al  Bukhari  dalam  mengimani  adzab  kubur  dan  menyelisihi orang-orang yang menafikannya. Ketika beliau mengomentari kalimat:   Ibnu    Hajar rahimahullah  berkata:  “Seolah-olah,  maksud  Al  Bukhari mendahulukan  penyebutan  ayat-ayat  ini  karena  ingin  menjelaskan  bahwa pembahasan adzab kubur ada dalam Al Qur’an, menyelisihi sebagian orang yang  mengklaim  bahwa  pembahasan  adzab  kubur  hanya  ada  dalam  hadits ahad”116.      Selebihnya, nama-nama ulama yang mereka sebutkan untuk melariskan pemahaman menyimpang mereka, biasanya berasal dari kalangan ulama yang terpengaruh ilmu kalam atau pemikiran mu’tazilah. 116Fathul Baari, 4/443                              

0 comments:

Posting Komentar