Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 14 April 2025

hyang nur cahya

 Sumber dari penyusunan kisah ini adalah Serat Paramayoga, yang dipadukan dengan Serat Arjunasasrabahu dan Serat Kandha, dengan sedikit pengembangan.

Hanya sebagai pengetahuan dalam mengkaji tradisi Jawa (Islam kejawen)





Dikutip dari :

:http://albumkisahwayang.blogspot.com/2014/04/sanghyang-nurcahya.html//;

NABI ADAM MENINGGAL DUNIA

Di Negeri Kusniya Malebari, Nabi Adam telah berusia 990 tahun dan kini dalam keadaan sakaratulmaut menjelang wafat. Di sekitarnya telah berkumpul semua anggota keluarga, mulai dari istri, para putra-putri, serta cucu dan cicit. Namun ada seorang yang belum datang, yaitu Sayidina Anwar putra Sayidina Sis. Nabi Adam mengetahui kalau Sayidina Anwar saat ini sedang berkelana di Hutan Ambalah di Tanah Keling, dan berguru kepada Malaikat Ajajil.

Tidak lama kemudian Sayidina Anwar datang dan menyampaikan rasa prihatin atas keadaan sang kakek. Sayidina Sis bertanya apakah benar putranya itu telah berguru kepada Malaikat Ajajil di Hutan Ambalah. Jika memang benar, ia melarang keras Sayidina Anwar berhubungan lagi dengan Malaikat Ajajil karena dulu telah dikeluarkan dari Taman Surga oleh Tuhan Yang Mahakuasa atas kesombongannya yang menolak memberikan penghormatan kepada Nabi Adam.

Sayidina Anwar mengakui dirinya memang telah berkelana sampai ke Hutan Ambalah di Tanah Keling, dan berguru kepada seorang pertapa tua. Pertapa tua itu telah mengajarinya berbagai macam ilmu kesaktian, antara lain kemampuan terbang, menghilang, amblas bumi, menyelam di air, serta berubah wujud. Mengenai Malaikat Ajajil, ia mengaku tidak kenal dan tidak tahu-menahu.

Nabi Adam menjelaskan bahwa pertapa tua itu tidak lain adalah Malaikat Ajajil yang sedang menyamar. Ia berwasiat agar Sayidina Anwar tidak lagi berhubungan dengannya dan supaya kembali ke agama yang benar.

Tidak lama kemudian muncul dua malaikat yang diutus Tuhan untuk datang ke Kusniya Malebari. Mereka adalah Malaikat Izrail yang bertugas menjemput roh Nabi Adam, dan Malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan keputusan Tuhan untuk menunjuk Sayidina Sis, putra keenam, sebagai nabi menggantikan sang ayah, dan mengangkat Sayidina Kayumaras, putra ketiga belas, sebagai raja Kusniya Malebari yang baru, dengan bergelar Sultan Kayumutu.

Demikianlah, Nabi Adam pun meninggal dunia. Para anggota keluarga serentak memanjatkan doa mengantarkan kepergian rohnya.

SAYIDINA ANWAR MENINGGALKAN KUSNIYA MALEBARI

Empat puluh hari setelah meninggalnya Nabi Adam, terjadi percakapan antara dua orang putra Nabi Sis, yaitu Sayidina Anwas dan Sayidina Anwar mengenai rahasia kehidupan. Menurut Sayidina Anwas, agama Nabi Adam adalah agama yang paling benar dan harus diikuti tanpa penolakan. Semua kitab peninggalan sang kakek bisa dijadikan petunjuk untuk menjalani kehidupan yang benar, karena isi kitab tersebut berasal dari apa yang diajarkan Tuhan Yang Mahakuasa kepada Nabi Adam. Maka, mencari agama lain adalah suatu perbuatan sia-sia belaka.

Sayidina Anwar tidak setuju. Menurutnya, ilmu Tuhan itu sangat luas tak terbatas dan tidak bisa ditampung hanya dalam kitab-kitab saja. Untuk mempelajari rahasia kehidupan, maka harus mempelajari pula bagaimana alam bekerja. Alam memiliki hukum sebab-akibat yang berjalan sesuai ketentuan Tuhan. Apalagi melihat Nabi Adam ternyata meninggal dunia dalam usia 990 tahun membuat Sayidina Anwar merasa sangat kecewa. Ia berpendapat, jika memang agama yang diajarkan Nabi Adam itu benar, harusnya dapat menghindarkannya dari kematian seperti kaum malaikat yang hidup abadi.

Sayidina Anwas tidak setuju, karena makhluk bernama manusia dan malaikat jelas berbeda secara penciptaan. Manusia berasal dari saripati tanah dan harus kembali menjadi tanah. Namun Sayidina Anwar tetap bersikeras bahwa manusia bisa mencapai kehidupan abadi seperti malaikat jika mau berusaha. Setelah membulatkan tekad, ia pun memutuskan untuk pergi berkelana lagi demi mendapatkan kehidupan abadi tersebut.

Sayidina Anwas berusaha menghalangi niat adiknya itu. Terpaksa ia menggunakan kekerasan supaya sang adik menghentikan langkah. Kedua bersaudara itu lalu terlibat pertarungan seru. Karena Sayidina Anwar jauh lebih sakti, maka ia pun dapat meloloskan diri.

Sayidina Anwas sangat sedih bercampur malu. Ia bersumpah meskipun ilmu kesaktian adiknya lebih tinggi, namun kelak akan ada keturunannya yang bisa mengalahkan keturunan Sayidina Anwar.

SAYIDINA ANWAR MENDAPATKAN TIRTAMARTA KAMANDANU

Setelah sampai di perbatasan Kusniya Malebari, Sayidina Anwar bertemu Malaikat Ajajil yang memperkenalkan diri sebagai kakeknya dari pihak ibu. Malaikat Ajajil juga menceritakan bahwa dirinya dulu menyamar sebagai pertapa tua yang telah mengajarkan segala macam ilmu kesaktian sewaktu Sayidina Anwar bertapa di Hutan Ambalah di Tanah Keling.

Sayidina Anwar bertanya alasan apa yang membuat Nabi Adam berwasiat agar dirinya tidak lagi berhubungan dengan Malaikat Ajajil. Malaikat Ajajil pun menceritakan latar belakang permasalahan ini. Dulu di Taman Surga, ia adalah pemuka kaum malaikat, bahkan disebut-sebut sebagai makhluk yang paling tekun beribadah kepada Tuhan. Sampai akhirnya Tuhan berkehendak memilih manusia bernama Adam sebagai khalifah di muka bumi. Para malaikat menyampaikan keluhan kepada Tuhan bahwa manusia hanyalah makhluk yang suka berbuat kerusakan. Tuhan lalu mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada Nabi Adam sehingga para malaikat pun mengaku kalah. Maka ketika Tuhan memerintahkan kepada para malaikat untuk menyatakan tunduk dan memberikan penghormatan kepada Nabi Adam, mereka pun serentak mematuhi, kecuali Malaikat Ajajil sang pemuka. Malaikat Ajajil tetap pada pendiriannya, bahwa manusia adalah makhluk yang mudah berubah-ubah hatinya, sehingga tidak layak mendapatkan penghormatan. Karena menolak perintah Tuhan itulah, Malaikat Ajajil pun dikeluarkan dari Taman Surga.

Sayidina Anwar mendengarkan cerita itu dengan seksama, dan merasa pendapat Malaikat Ajajil ada benarnya, namun menentang perintah Tuhan jelas adalah perbuatan yang keliru. Ia tidak mau terlibat dalam permusuhan antara Nabi Adam dan Malaikat Ajajil karena keduanya adalah sama-sama kakek baginya. Ia hanya ingin bisa hidup abadi seperti kaum malaikat. Malaikat Ajajil berjanji akan membimbing cucunya itu dalam mewujudkan cita-citanya. Sayidina Anwar sangat gembira dan bersedia mematuhi segala nasihatnya. Mereka berdua lalu berangkat menuju ke Kutub Utara untuk mencari sumber keabadian tersebut, yang konon akan memancar dari mustika awan mendung di sana.

Malaikat Ajajil dan Sayidina Anwar akirnya sampai di Tanah Lulmat yang terletak di balik Kutub Utara. Di sana Sayidina Anwar kemudian bertapa memohon kemurahan Tuhan. Setelah sekian lama bertapa melawan hawa dingin, datanglah sekumpulan awan mendung yang berasal dari Lautan Rahmat. Dari awan mendung tersebut memancar keluar air keabadian yang disebut Tirtamarta Kamandanu.

Atas nasihat Malaikat Ajajil, Sayidina Anwar segera mandi dan meminum air keabadian tersebut. Setelah itu ia pun berniat menampung air yang masih terus memancar agar kelak bisa diminum anak cucunya. Namun ia tidak tahu bagaimana caranya dan juga tidak memiliki wadah yang tepat. Memahami hal itu, Malaikat Ajajil pun menyerahkan Cupumanik Astagina milik Nabi Adam dan Siti Hawa. Dulu cupumanik tersebut menjadi wadah benih yang mereka keluarkan saat peristiwa lahirnya Nabi Sis. Cupumanik itu kemudian terhempas oleh angin topan dan ditemukan Malaikat Ajajil di dalam lautan.

Sayidina Anwar menerima cupumanik itu. Meskipun ukurannya kecil, namun memiliki daya kesaktian mampu menampung semua air keabadian yang dipancarkan awan mendung tersebut sampai habis. Setelah dirasa cukup, keduanya lalu pergi meninggalkan Tanah Lulmat.

SAYIDINA ANWAR MENDAPATKAN LATA MAHOSADI

Sesampainya di luar Kutub Utara, Malaikat Ajajil pamit pergi meninggalkan Sayidina Anwar yang kemudian melanjutkan perjalanan pulang sendiri. Di tengah jalan, Sayidina Anwar menemukan Pohon Rewan, yaitu sejenis pohon ajaib yang tidak memiliki daun sama sekali, tapi bisa hidup sehat. Suara hatinya berkata bahwa akar pohon gundul tersebut bernama Oyod Mimang, merupakan pusaka yang sangat ampuh.

Sayidina Anwar lalu mengambil Oyod Mimang itu dan menjadikannya sebagai pusaka yang diberi nama Lata Mahosadi. Keampuhan akar pohon ini adalah dapat digunakan untuk menyembuhkan segala macam penyakit, bahkan bisa menghidupkan orang mati.

Akan tetapi, karena menyimpan Lata Mahosadi tanpa persiapan, tiba-tiba pikiran Sayidina Anwar menjadi bingung. Ia tidak tahu ke mana arah jalan pulang menuju Kusniya Malebari. Maka, ia pun berjalan secara serabutan dan akhirnya terlunta-lunta selama ribuan tahun.

SAYIDINA ANWAR BERGURU KEPADA DUA MALAIKAT

Sesampainya di Laut Hitam, Sayidina Anwar menyaksikan pemandangan aneh. Ia melihat dua orang manusia tergantung-gantung di angkasa, di atas laut. Sayidina Anwar bertanya, dan kedua orang itu mengaku bernama Malaikat Harut dan Malaikat Marut.

Kedua malaikat tersebut dulu pernah menyampaikan keluhan kepada Tuhan, bahwa keputusan Tuhan mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi adalah keliru. Banyak sekali keturunan Nabi Adam yang berbuat kerusakan dan menuruti hawa nafsu. Jika yang menjadi khalifah adalah bangsa malaikat, tentu bumi akan lebih makmur.

Kedua malaikat juga berkata, jika mereka memiliki hawa nafsu seperti manusia, pasti mereka tetap bisa mengendalikannya dan tidak mungkin terjerumus ke dalam kejahatan. Tuhan Yang Mahakuasa lalu memberikan ujian dengan cara mengisi mereka berdua dengan hawa nafsu dan menurunkannya ke bumi. Ternyata pada akhirnya mereka gagal juga menjalani ujian tersebut karena terlena oleh pujian sehingga mengajarkan ilmu sihir kepada umat manusia dengan sesuka hati. Kini, Malaikat Harut dan Malaikat Marut harus menjalani hukuman dengan tergantung-gantung di atas Laut Hitam.

Sayidina Anwar sangat tertarik dan ingin menjadi murid mereka. Kedua malaikat lalu mengajarinya berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti ilmu perbintangan, ilmu bumi, ilmu kebijaksanaan, serta ilmu berbicara dengan berbagai jenis makhluk hidup.

Sayidina Anwar sangat bersyukur. Ia merasa tidak perlu lagi kembali ke Negeri Kusniya Malebari karena semua anggota keluarga yang dikenalnya pasti sudah meninggal dunia. Maka, ia lantas menanyakan di mana letak Surga dan Neraka karena ingin melihat bagaimana keadaan di dalam sana. Kedua malaikat berbohong dengan mengatakan bahwa Surga dan Neraka terletak di hulu Sungai Nil.

SAYIDINA ANWAR BERGURU KEPADA SAYIDINA LATA DAN SITI UJWA


Sayidina Anwar yang polos segera mengikuti petunjuk kedua malaikat gurunya. Ia pun mendatangi Sungai Nil dan berjalan menyusuri sungai terpanjang di dunia tersebut. Dalam perjalanannya itu ia bertemu paman dan bibinya yang bernama Sayidina Lata dan Siti Ujwa, putra-putri Nabi Adam dan Siti Hawa nomor lima belas.

Sayidina Anwar sangat terkejut melihat paman dan bibinya itu masih hidup. Ternyata mereka berdua dulu kabur dari Kusniya Malebari karena tidak bersedia dinikahkan dengan saudara yang lain, sebagaimana yang pernah dikeluhkan Sayidina Kabil. Mereka juga tidak mengikuti agama Nabi Adam dan memilih mencari jalan kehidupan sendiri, sehingga akhirnya menemukan cara agar bisa tetap awet muda.

Sayidina Anwar kemudian berguru kepada paman dan bibinya tersebut, dan ia memperoleh ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara melihat masa depan. Setelah dirasa cukup, Sayidina Anwar lalu melanjutkan perjalanan menuju hulu Sungai Nil.

SAYIDINA ANWAR MELIHAT ISI SURGA DAN NERAKA

Sayidina Anwar telah sampai di hulu Sungai Nil yang berupa rawa-rawa sangat luas bernama Rawa Jambirijahiri. Ia sangat kecewa dan merasa telah ditipu oleh Malaikat Harut dan Malaikat Marut karena di tempat itu ternyata sama sekali tidak terdapat Surga dan Neraka. Yang ada di sana hanyalah pemandangan Gunung Kapsi yang berkali-kali menyemburkan api mengerikan.

Sayidina Anwar melihat air yang mengisi rawa-rawa tersebut ternyata bersumber dari mata air di Gunung Kapsi. Maka ia pun melanjutkan perjalanan mendaki gunung tersebut. Di puncak gunung, ia bertemu seorang kakek tua yang mengaku sebagai penguasa Surga dan Neraka.

Kakek tua itu tidak lain adalah Malaikat Ajajil yang sedang menyamar. Ia mengatakan bahwa Sayidina Anwar yang berhati tulus dalam mematuhi petunjuk kedua gurunya, berhak menerima anugerah Tuhan berupa Permata Retnadumilah. Melalui permata tersebut, Sayidina Anwar dapat menyaksikan keindahan Surga dan kengerian Neraka.

Si kakek tua lalu mengajarkan berbagai macam ilmu baru kepada Sayidina Anwar, antara lain ilmu panitisan atau bersatu dengan makhluk lain, ilmu memasuki alam kematian, dan ilmu memutarbalikkan waktu. Setelah selesai, kakek tua itu memerintahkan kepada Sayidina Anwar untuk bertapa ke Pulau Lakdewa yang terletak di Samudera Hindia. Sayidina Anwar pun mohon pamit dan berangkat.

SAYIDINA ANWAR BERTAPA DI PULAU LAKDEWA

Sayidina Anwar telah sampai di Pulau Lakdewa dan bertapa di puncak sebuah gunung. Ia bertapa dengan cara menatap jalannya Matahari. Jika pagi hari wajahnya menghadap ke timur, jika siang hari wajahnya menghadap ke atas, dan jika sore hari wajahnya menghadap ke barat, kemudian jika malam hari ia berendam di air.

Setelah tujuh tahun bertapa seperti itu dengan sabar dan tekun, Sayidina Anwar pun menjadi makhluk halus yang berbadan rohani, tinggal di alam Sunyaruri, yaitu alam para jin. Di alam itu tiada barat, tiada timur, tiada utara, tiada selatan, tiada atas, tiada bawah. Terang tanpa siang, gelap tanpa malam. Ruang dan waktu menjadi satu, sudah musnah semua tiada nama, dan segalanya berada dalam rengkuhan Tuhan Yang Mahakuasa.

Sayidina Anwar kemudian mendapatkan perintah Tuhan untuk segera berkeluarga, karena keturunan Sayidina Anwas saja saat ini sudah mencapai zaman Nabi Musa. Sayidina Anwar patuh dan segera bertapa di dalam gua untuk mendapatkan jodoh yang tepat.

PRABU NURHADI MENCARI MENANTU

Tersebutlah raja jin di Pulau Maladewa bernama Prabu Nurhadi, yang masih keturunan Jan Banujan, leluhur para jin di dunia. Ia memerintah didampingi saudaranya yang bernama Patih Amir. Pada suatu hari, putri tunggal Prabu Nurhadi yang bernama Dewi Nurrini bermimpi didatangi seorang kakek tua yang memberi tahu bahwa jodohnya yang bernama Sayidina Anwar sudah dekat, dan saat ini bertapa di sebuah gua. Kakek tua itu mengabarkan bahwa perkawinan Dewi Nurrini dengan Sayidina Anwar kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Hindustan dan Tanah Jawa.

Dewi Nurrini menceritakan apa yang dialaminya kepada sang ayah. Prabu Nurhadi lalu mengutus Patih Amir untuk pergi menyelidiki laki-laki yang digambarkan sang putri dalam mimpinya itu. Patih Amir pun mohon diri dan berangkat.

Perjalanan Patih Amir akhirnya sampai di Pulau Lakdewa dan ia menemukan seorang laki-laki di dalam gua yang tubuhnya bercahaya tapi tidak menyilaukan, seperti sinar bulan purnama. Setelah berkenalan dan mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayidina Anwar seperti yang ia cari, Patih Amir pun mengajaknya pergi ke Pulau Maladewa untuk bertemu Prabu Nurhadi dan Dewi Nurrini.

SAYIDINA ANWAR MENIKAH DENGAN DEWI NURRINI

Prabu Nurhadi menerima kedatangan Sayidina Anwar dan Patih Amir. Dilihatnya sosok Sayidina Anwar ternyata berwajah tampan dan tubuhnya bercahaya seperti bulan purnama, membuat hatinya sangat berkenan. Dewi Nurrini juga yakin kalau Sayidina Anwar ini sesuai dengan petunjuk yang diberikan si kakek tua dalam mimpi. Maka pernikahan di antara mereka pun dilangsungkan di Pulau Maladewa, dan Sayidina Anwar berganti nama menjadi Sanghyang Nurcahya.

Singkat cerita, Dewi Nurrini telah mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Sanghyang Nurrasa. Prabu Nurhadi merasa sudah tiba saatnya untuk mengundurkan diri dari takhta Kerajaan Maladewa, dan menyerahkannya kepada sang menantu. Maka sejak saat itu, Sanghyang Nurcahya menjadi pemimpin Kerajaan Maladewa, yang namanya kemudian diganti menjadi Kahyangan Pulau Dewa.

Read More

Doa untuk mahabbah

 doa Mahabbah

doa mahabbah


يُّحِبُّوۡنَهُمۡ كَحُبِّ اللّٰهِؕ وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ؕزُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ

Yuhibbunahum kahubillahi wallazina amanuu ashaddu hubbanlillahzuyyina lin-nâsi ḫubbusy-syahawâti minan-nisâ'i wal-banîna wal-qanathîril-muqantharati

"Mereka mencintainya (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah sedang orang-orang yg beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah"(Al-Baqarah 186) Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini wanita-wanita  anak-anak  harta yang banyak yang melimpah ruah (Ali-Imran Ayat 14)


Read More

Kisah Nabi Luth As

 KISAH NABI LUTH A.S

Nabi Luth adalah anak saudara kepada Nabi Ibrahim a.s. iaitu ayahnya yang bernama

Hasan bin Tareh. Nabi Luth diutuskan sebagai rasul kepada satu kaum yang mendiami

sepanjang timur laut (Dari Israel - Yordania), Laut Mati. Ibukota Sodom terletak di Utara

Basin [1], Laut Mati.

Hampir keseluruhan kaum ini mengamalkan gaya hidup songsang, iaitu melakukan

hubungan kelamin sesama sejenis iaitu lelaki dengan lelaki yakni meninggalkan

perempuan. Perbuatan ini merupakan sesuatu penyelewengan fitrah yang amat buruk. Nabi

Luth telah menyeru mereka untuk menghentikan perbuatan tersebut disamping

menyampaikan seruan-seruan Allah, tetapi mereka mengabaikannya dan malah mereka

mengingkari kenabiannya. Akhirnya, kaum Nabi Luth dimusnahkan dengan bencana yang

sangat mengerikan dan dahsyat. Kejadian ini berlaku pada kira-kira tahun 1800 sebelum

Masihi.

Kisah Nabi Allah Luth a.s. mengikut Islam

Di dalam Kitab Al-quran menceritakan kisah Nabi Luth yang menasihati kepada kaumnya

sepertimana dalam Surah Asy-Syuara;

26:160 "Kaum Luth telah mendustakan para Rasul"

27:161 "Ketika saudara mereka Luth berkata kepada mereka,"Mengapa kamu tidak

bertakwa?"

27:162 "Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,"

27:163 "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepada ku"

27:164 "Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku hanyalah dari

Tuhan seluruh alam"


27:165 "Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki (Homoseks) di antara manusia"

27:166 "dan kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk dijadikan sebaga

isteri kamu? Kamu memang orang-orang yang melampaui batas'

27:167 " Mereka menjawab, " Wahai Luth! Jika engkau tidak berhenti, engkau termasuk

orang-orang yang terusir"

27:168 " Dia (Luth) berkata, " Aku sungguh benci kepada perbuatan mu"

Kaum Luth telah mengancam Nabi Luth dan membencinya kerana mengajak kaumnya

beriman. Ayat seterusnya dalam kitab Al-quran dikisahkan dalam Surah Al-Araf:


“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah ) tatkala dia berkata

kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pern

dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”. Sesungguhnya kamu mendatan

lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu

ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan:

“Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka ada

orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri .” (QS. Al A'raaf, 7: 80-82) !

[sunting] Nabi Luth Diutuskan Oleh Allah Kepada Rakyat Sadom

Masyarakat Sadum adalah masyarakat yang rendah paras moralnya dan rosak akhlak.

Masyarakat Sadum tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang

beradab. Maksiat dan kemungkaran bermaharajalela dalam pergaulan hidup mereka.

Pencurian dan perampasan harta milik merupakan kejadian hari-hari di mana yang kuat

menjadi kuasa sedang yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan

sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka

adalah perbuatan homoseksual {liwat} di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan

wanitanya. Kedua-dua jenis kemungkaran ini begitu bermaharajalela di dalam masyaraka

sehinggakan ia merupakan suatu kebudayaan bagi kaum Sadum.

Seorang pendatang yang masuk ke Sadum tidak akan selamat dari diganggu oleh merek

Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jik

ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan

tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok maka ia

akan menjadi rebutan di antara mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya

dan sebaliknya jika si pendatang itu seorang perempuan muda maka ia menjadi mangsa

bagi pihak wanitanya pula.


Kepada masyarakat yang sudah sedemikian rupa keruntuhan moralnya dan sedemikian

paras penyakit sosialnya diutuslah nabi Luth sebagai pesuruh dan Rasul-Nya untuk

mengangkat mereka dari lembah kenistaan ,kejahilan dan kesesatan serta membawa

mereka alam yang bersih ,bermoral dan berakhlak mulia. Nabi Luth mengajak mereka

beriman dan beribadah kepada Allah meninggalkan kebiasaan mungkar menjauhkan diri

dari perbuatan maksiat dan kejahatan yang diilhamkan oleh iblis dan syaitan. Ia memberi

penerangan kepada mereka bahwa Allah telah mencipta mereka dan alam sekitar mereka

tidak meredhai amal perbuatan mereka yang mendekati sifat dan tabiat kebinatangan dan

tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bahwa Allah akan memberi ganjaran

setimpal dengan amal kebajikan mereka. Yang berbuat baik dan beramal soleh akan

diganjar dengan syurga di akhirat sedang yang melakukan perbuatan mungkar akan di

balaskannya dengan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.


Nabi Luth berseru kepada mereka agar meninggalkan adat kebiasaan iaitu melakukan

perbuatan homoseksual dan lesbian. Luth menyatakan perbuatan itu bertentangan dengan

fitrah dan hati nurani manusia serta menyalahi hikmah yang terkandung didalam penciptaan

manusia menjadi dua jenis iaitu lelaki dan wanita. Juga kepada mereka di beri nasihat dan

diajukan supaya menghormati hak dan milik masing-masing dengan meninggalkan

perbuatan perampasan, perompakan serta pencurian yang selalu mrk lakukan di antara

sesama mereka dan terutama kepada pengunjung yang datang ke Sadum. Diterangkan

bahawa perbuatan-perbuatan itu akan merugikan mereka sendiri, kerana perbuatan itu

akan menimbulkan kekacauan dan ketidak amanan di dalam negeri sehingga

masing-masing dari mereka tidak merasa aman dan tenteram dalam hidupnya.


Demikianlah Nabi Luth, melaksanakan dakwahnya sesuai dengan tugas risalahnya.Ia tidak

henti-henti menggunakan setiap kesempatan dan dalam tiap pertemuan dengan kaumnya

secara berkelompok atau secara berseorangan mengajak agak mereka beriman dan

percaya kepada Allah dan menyembah-Nya. Diajaknya Luth terhadap kaumnya untuk

melakukan amal soleh dan meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar. Akan tetapi

keruntuhan moral dan kerusakan akhlak sudah hidup lama di dalam pergaulan sosial

mereka dan pengaruh hawa nafsu dan penyesatan syaitan sudah begitu kuat menguasai

tindak-tanduk mereka, maka dakwah dan ajakkan Nabi Luth yyang dilaksanakan dengan

kesabaran dan ketekunan tidak mendapat tempat di dalam hati dan fikiran mereka dan

berlalu laksana suasana teriakan di tengah-tengah padang pasir .Telinga-telinga mereka

sudah menjadi pekak bagi ajaran-ajaran Nabi Luth sedang hati dan fikiran mereka sudah

tersumbat rapat dengan ajaran -ajaran syaitan dan iblis.


Akhirnya kaum Luth merasa dan kesal hati mendengar dakwah dan nasihat-nasihat Nabi

Luth yang tidak putus-putus itu dan minta agar ia menghentikan aksi dakwahnya atau

menghadapi pengusir dirinya dari sadum bersama semua keluarganya. dari pihak Nabi Luth

pun sudah tidak ada harapan lagi masyarakat Sadum dapat terangkat dari lembah

kesesatan dan keruntuhan moral mereka dan bahawa meneruskan dakwah kepada mereka

yang sudah buta-tuli hati dan fikiran serta mensia-siakan masa. Ubat satu-satunya, menurut

fikiran Nabi Luth untuk mencegah penyakit akhlak itu yang sudah parah itu menular kepada

tetangga-tetangga dekatnya, ialah dengan membasmikan mereka dari atas bumi sebagai

pembalasan ke atas terhadap kekerasan kepala mereka juga untuk menjadi ibrah dan

pengajaran umat-umat disekelilingnya. beliau memohon kepada Allah agar kepada

kaumnya masyarakat Sadum diberi pengajaran berupa azab di dunia sebelum azab yang

menanti mereka di akhirat kelak.


Tetamu Nabi Ibrahim dan Nabi Luth

Permohonan Nabi Luth dan doanya diperkenankan dan dikabulkan oleh Allah s.w.t.

Dikirimkanlah kepadanya tiga orang malaikat menyamar sebagai manusia biasa. Mereka

adalah malaikat yang bertemu kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita gembira atas

kelahiran Nabi Ishaq, dan memberitahu kepada mrk bahwa dia adalah utusan Allah dengan

tugas menurunkan azab kepada kaum Luth penduduk kota Sadum. Dalam kesempatan

pertemuan mana Nabi Ibrahim telah mohon agar penurunan azab keatas kaum Sadum

ditunda ,kalau-kalau mereka kembali sedar mendebgarkan dan mengikuti ajakan Luth serta

bertaubat dari segala maksiat dan perbuatan mungkar. Juga dalam pertemuan itu Nabi

Ibrahim mohon agar anaksaudaranya, Luth diselamatkan dari azab yang akan diturunkan

keatas kaum Sadum permintaan mana oleh para malaikat itu diterima dan dijamin bahwa

Luth dan keluarganya tidak akan terkena azab.


Para malaikat itu sampai di Sadum dengan menyamar sebagai lelaki muda yang berparas

tampan dan badan yang berotot, tegap dan sasa tubuhnya. Dalam perjalanan mereka

hendak memasuki kota, mereka berselisih dengan seorang gadis yang cantik dan ayu

sedang mengambil dari sebuah perigi. Lelaki muda (malaikat) bertanya kepada si gadis

kalau-kalau mereka diterima ke rumah sebagai tetamu. Si gadis tidak berani memberi

keputusan sebelum ia beruding terlebih dahulu dengan keluarganya. Maka ditngglkanlah

para lelaki muda itu oleh lalu pulang ke rumah cepat-cepat untuk memberitahu ayahnya

(Luth).


Mendengar khabar berita anak perempuannya, Nabi Luth menjadi bingung, jawapan apa

yang harus ia berikan kepada para pendatang yang ingin bertemu ke rumahnya untuk

beberapa waktu, namun menerima tetamu yang berparas tampan dan kacak akan

mengundang risiko gangguan kepadanya dan kepada tetamu dari kaumnya yang

tergila-gila untuk melakukan hubungan seks sejenis dengan anak muda yang mempunyai

tubuh bagus dan paras wajah elok. Sedang kalau hal yang demikian itu terjadi ia sebagai

tuan rumah harus bertanggungjawab terhadap keselamatan tamunya, padahal ia merasa

bahwa ia tidak akan berdaya menghadapi kaumnya yang bengis-bengis dan haus maksiat

itu.


Nabi Luth memutuskan untuk menerima lelaki-lelaki muda itu sebagai tetamu di rumahnya.

Luth hanya pasrah kepada Allah dan berlindung sekiranya terdapat segala rintangan yang

akan datang. Lalu pergilah ia sendiri menjemput tetamu yang sedang menanti di pinggir

kota dan diajaklah mereka bersama-sama ke rumah. Ketika itu, kota Sadum sudah diliputi

kegelapan dan manusia sudah nyenyak tidur di rumah masing-masing.


Nabi Luth telah pun berpesan kepada isteri dan kedua puterinya agar merahsiakan

kedatangan anak-anak lelaki muda itu. Jangan sampai terdengar dan diketahui oleh

kaumnya. Namun, kedegilan isteri Nabi Luth, yang juga sehaluan dan sependirian dengan

penduduk Sadum, telah membocorkan berita kedatangan tetamu Luth kepada mereka.

Berita kedatangan tetamu Luth tersebar kerana isteri Nabi Luth. Datanglah beramai-ramai

lelak-lelaki Sodom, yang buta seks ini, ke rumah Nabi Luth, berhajat untuk memuaskan

nafsu seksual mereka, setelah lama tidak mendapat anak muda. Berteriaklah mereka

memanggil Luth untuk lepas anak-anak muda itu, agar diberi kepada mereka untuk

memuaskan nafsu.


Dengar teriakan mereka, Nabi Luth tidak membuka pintu bagi mereka dan berseru agar

mereka kembali ke rumah masing-masing dan jangan menggunggu tetamau yang

datangnya dari jauh yang sepatutnya dihormati dan dimuliakan .Mereka diberi nasihat

agar meninggalkan perbuatan kebiasaan mereka yang keji itu. Perbuatan mereka yang

bertentangan dengan fitrah manusia dan kudrat alam di mana Allah telah menciptakan

manusia berpasangan antara lelaki dengan perempuan untuk menjaga kelangsungan

perkembangan umat manusia sebagai makhluk yang termulia di atas bumi. Nabi Luth

berseru agar mereka kembali kepada isteri-isteri mereka dan meninggalkan perbuatan

maksiat dan mungkar yang tidak senonoh, sebelum mereka dilanda azab dan seksaan

Allah.


Seruan dan nasihat-nasihat Nabi Luth tidak dihiraukan dan dipedulikan ,mereka bahkan

mendesak akan menolak pintu rumahnya dengan paksa dan kekerasan jika pintu tidak

di buka dengan sukarela. Merasa dirinya sudah tidak berdaya untuk menahan arus

orang-orang lelaki kaumnya itu yang akan memaksakan kehendaknya dengan

kekerasan berkatalah Nabi Luth secara terus terang kepada para tamunya:"

Sesungguhnya aku tidak berdaya lagi menahan orang-orang itu menyerbu ke dalam

.Aku tidak memiliki senjata dan kekuatan fizikal yang dapat menolak kekerasan mereka

, tidak pula mempunyai keluarga atau sanak saudara yang disegani mereka yang dapat

aku mintai pertolongannya, maka aku merasa sangat kecewa, bahwa sebagai tuan

rumah aku tidak dapat menghalaukan gangguan terhadap tetamu dirumahku

sendiri.Mendengar keluh-resah Nabi Luth, lantas anak-anak muda itu memberitahu hal

yang sebenar, mereka adalah malaikat-malaikat yang menyamar sebagai manusia

yang diutus oleh Allah untuk menurunkan azab dan seksa atas rakyatnya kerana

segala kemungkaran dan kemaksiat yang keji dan kotor.


Malaikat-malaikat itu menyuruh Nabi Luth membuka pintu rumahnya seluas mungkin

agar dapat memberi kesempatan bagi orang -orang yang hauskan seks dengan lelaki

itu masuk. Namun malangnya apabila pintu dibuka dan para penyerbu memijakkan ka

untuk masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka dan tidak dapat melihat sesuatu.

Malaikat-malaikat tadi telah membutakan mata mereka. Lalu, diusap-usap dan

digosok-gosok mata mereka, ternyata mereka sudah menjadi buta.


Sementara para penyerbu rumah Nabi Luth berada dalam keadaan kacau bilau

berbentur antara satu dengan lain berteriak-teriak menanya-nanya gerangan apa yang

menjadikan mereka buta dengan mendadak para berseru kepada Nabi Luth agar

meninggalkan segera perkampungan itu bersama keluarganya, kerana masanya telah

tiba bagi azab Allah yang akan ditimpakan. Para malaikat berpesan kepada Nabi Luth

dan keluarganya agar perjalanan ke luar kota jangan seorang pun dari mereka menoleh

ke belakang.


Nabi Luth keluar dari rumahnya sehabis tengah malam, bersama keluarganya terdiri

dari seorang isteri dan dua puterinya berjalan cepat menuju keluar kota, tidak menoleh

ke kanan mahupun kekiri sesuai dengan petunjuk para malaikat yang menjadi

tamunya.Akan tetapi si isteri yang menjadi musuh dalam selimut bagi Nabi Luth tidak

tergamak meninggalkan kaumnya. Ia berada dibelakang rombongan Nabi Luth berjalan

perlahan-lahan tidak secepat langkah suaminya dan tidak henti-henti menoleh ke

belakang karena ingin mengetahui apa yang akan menimpa atas kaumnya,


seakan-akan meragukan kebenaran ancaman para malaikat yang telah didengarnya

sendiri. Dan begitu langkah Nabi Luth berserta kedua puterinya melewati batas kota

Sadum, sewaktu fajar menyingsing, bergetarlah bumi dengan dahsyatnya di bawah

kaki rakyat Sadum, tidak terkecuali isteri Nabi Luth yang munafiq itu. Getaran itu

mendahului suatu gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan

hujan batu sijjil yang menghancurkan dengan serta-merta kota Sadum berserta semua

pemghuninya . Bertebaran mayat-mayat yang dilaknat oleh Allah S.W.T di kota Sodom,

dan hancurlah kota tersebut yang berada di laluan manusia yang lalu-lalang. Namun,

masih ditinggalkan kesan-kesan kehancuran kota tersebut oleh Allah S.W.T, sebagai

peringatan kaum yang kemudian yang melalui di jalan tersebut. Demikianlah kebesaran

dan ayat Allah yang diturunkan untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi

hamba-hamba-Nya yang mendatang.


Kisah Nabi Luth Di Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Luth dalam Al-Quran terdapat pada 85 ayat dalam 12 surah diantaranya

Surah Al-Anbiyaa ayat 74 dan 75 , Surah Asy-Syu'ara ayat 160 sehingga ayat 175 ,

Surah Hud ayat 77 sehingga ayat 83 , Surah Al-Qamar ayat 33 sehingga 39 dan surah

At-Tahrim ayat 10 yang mengisahkan isteri Nabi Luth yang mengkhianati suaminya


Read More

Minggu, 13 April 2025

Kisah nabi Ibrahim as

 KISAH NABI IBRAHIM A.S

Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin

Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.Ia dilahirkan di sebuah tempat

bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pd waktu itu diperintah oleh

seorang raja bernama "Namrud bin Kan'aan."


Kerajaan Babylon pd masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang,

sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang mahupun pandangan serta

saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mrk.Akan tetapi

tingkatan hidup rohani mrk masih berada di tingkat jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuha

Pencipta mrk yang telah mengurniakan mrk dengan segala kenikmatan dan

kebahagiaan duniawi. Persembahan mrk adalah patung-patung yang mrk pahat sendi

dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan

besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala

perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar.

Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang

berlebuh-lebihanyang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan

kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya

sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung

yang terbina dari batu yang tidal dpt memberi manfaat dan mendtgkan kebahagiaan

bagi mrk, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.Dia yang dpt berbicara

dapat mendengar, dpt berfikir, dpt memimpin mrk, membawa kemakmuran bagi mrk

dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dpt mengubah orang

miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia. di

samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar

dan luas.


Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi

Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia

sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada

kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa

apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yan

sesat yang menandakan ke****an dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan

kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras

dan diperangi agar mrk kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan

kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.

Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan

patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh

Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan brg-brg itu bahkan secara

mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan

kata-kata:" Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "

Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah


Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah

Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan

persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu

mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan

hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu

fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana

Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada

Allah: " Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan

makhluk-makhluk yang sudah mati."Allah menjawab seruannya dengan

berfirman:Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi

Ibrahim menjawab:" Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu

dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku

sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin

menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."

Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap

empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh

burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian

tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas

puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.

Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi

Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah

jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.


Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar

hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi

upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah

lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar

dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil

bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada

tuhan-tuhan persembahan mrk yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.


Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai

sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mrk. Di antara terdapat para wanita yang hamil

dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan

memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka

atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin.

Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran

dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk

menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan

terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan

terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian

dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang

tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan

firman Allah:" Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."


Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang

menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman

dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi

makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang

demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia

merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai

yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang

terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana


merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi

Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada

hamba-hamba Allah yang tersesat itu.


Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim

keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh

dengan pakaiannya yang tetap berda seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api

sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan hairan seraya

bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu

berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai

tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian drp mrk yang dalam hati

kecilnya mulai meragui kebenaran agama mrk namun tidak berani melahirkan rasa

ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk merasa

kecewa dan malu, karena hukuman yang mrk jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan

kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir

dengan kegagalan, sehingga mrk merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.


Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan

kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian

penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak

drp mrk untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak

kurang drp mrk yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan

mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para

pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan

bahwa pengaruhnya telah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.

Read More

Sabtu, 12 April 2025

kisah Nabi saleh As

 KISAH NABI SALEH A.S.

Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan

bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam

bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama " Alhijir " terletak

antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang

telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah sebagai pembalasan

atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi

Hud A.S.

kisah nabi saleh


Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan

dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.Tanah-tanah yang subur

yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang

berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang

didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.Semuanya itu

menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala

gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan

anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan Mereka adalah berhala-berhala yang

mereka sembah dan puja, kepadanya mrk berqurban, tempat mrk minta perlindungan

dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.Mrk

tidak dpt melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dpt mrk jangkau dengan

pancaindera.


Nabi Saleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud


Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan

hamba-hamba_Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi

pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mrk keluar dari jalan

yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan

seksaan kepada suatu umat sebelum mrk diperingatkan dan diberi petunjukkan

oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya.

Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mrk telah diutuskan

Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mrk sendiri, dari keluarga yang

terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati

dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Dikenalkan mrk oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mrk sembah, Tuhan Allah

Yang Maha Esa, yang telah mencipta mrk, menciptakan alam sekitar mrk, menciptakan

tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bhn-bhn keperluan hidup mrk, mencipta

binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mrk dan dengan demikian

memberi kepada mrk kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan

batin.Tuhan Yang Esa itulah yang harus mrk sembah dan bukan patung-patung yang

mrk pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mrk atau melindungi mrk dari ketakutan dan bahaya


Nabi Saleh memperingatkan mrk bahwa ia adlah seorang drp mrk, terjalin antara

dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mrk adalah kaumnya dan sanak

keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mrk.Ia mengharapkan

kebaikan dan kebajikan bagi mrk dan sesekali tidak akan menjerumuskan mrk ke

dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mrk

Ia menerangkan kepada mrk bahwa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah, dan apa

yang diajarkan dan didakwahkan kepada mrk adalah amanat Allah yang harus dia

sampaikan kepada mrk untuk kebaikan mrk semasa hidup mrk dan sesudah mrk mati

di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan

sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mrk segera

meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada

Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan

perbuatan syirik yang selama ini telah mrk lakukan.Allah maha dekat kepada mrk

mendengarkan doa mrk dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.


Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mrk

merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mrk

sendiri.Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka

kepadanya:"Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan

cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat.

Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami

mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpinkami menyelesaikan hal-hal

yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami

dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan

kesusahan.Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami

kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang

menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada

kami? Enkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek

moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami

menjadi sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan

untuk selama-lamanya.Kami sesekali tidak akan meninggalkannya karena seruanmu

dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap

kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek

moyang kami dengan meninggalkan persembahan mrk dan mengikuti jejakmu."


Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti

ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengurniai mrk rezeki yang luas dan

penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mrk kisah kaum-kaum yang

mendapat seksa dan azab dari Allah karena menentang rasul-Nya dan mendustakan

risalah-Nya. Hal yang serupa itu dpt terjadi di atas mrk jika mrk tidak mahu menerima

dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur

sebagai seorang anggota dari keluarga besar mrk dan yang tidak mengharapkan atau

menuntut upah drp mrk atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah yang

ditugaskan kepadanya dan Allahlah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mrk.


Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkannya terdiri dari orang-orang

yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya

sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya mrk yang tergolong orang-orang

kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak

ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya:" Wahai

Saleh! Kami kira bahwa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir.Engkau telah

menjadi sinting dan menderita sakit gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah

kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang

tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku

bahwa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah

kelebihanmu drp kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada

orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi nabi atau

rasul drp engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu hanyalah untuk

mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi

kaummu.Jika engkau merasa bahwa engkau sihat badan dan sihat fikiran dan

mengaku bahwa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam

dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan

mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri.Kami tidak akan mengikut

jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih

dahulu.


Nabi Saleh menjawab: " Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahwa aku

tidak mengharapkan sesuatu apapun drpmu sebagai imbalan atas usahaku memberi

tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau

mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan

semata-mata atas perintah Allah dan drp-Nya kelak aku harapkan balasan dan

ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas

dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata

atas kebenaran dakwahku.Jgnlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan

melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya

semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu.

Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat

demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku

dengan seruanmu itu."


Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia

bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para

pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya

yang makin lama makin mendpt perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah

dalam masyarakat. Mrk menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran

kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa

yang berada di luar kekuasaan manusia.


Allah Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh A.S.

Nabi Saleh sedar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti drpnya berupa

mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis

kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi

tentangan dan tuntutan mrk. Nabi Saleh membalas tentangan mrk dengan menuntut

janji dengan mrk bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mrk minta bahwa mrk

akan meninggalkan agama dan persembahan mrk dan akan mengikuti Nabi Saleh dan

beriman kepadanya.


Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah

Nabi Saleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk

membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan

tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah dengan

kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu

karang besar yang terdpt di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk.Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta

terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah

Nabi Saleh kepada mrk:" Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia

mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah ia mempunyai giliran untuk mendptkan air

minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendptkan minum bagimu dan bagi ternakanmu

juga dan ketahuilah bahwa Allah akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai

mengganggu binatang ini."

Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa

mendpt gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi

yyang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta

Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana

menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin

merasakan bahwa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan

gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.


Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendtgkan mukjizat yang mrk tuntut gagallah para pemuka

kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan

pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para

pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mrk

pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi

Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mrk serta ditakuti oleh binatang-binatang

peliharaannya.


Unta Nabi Saleh Dibunuh

Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan

pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab

yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan

keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mrk, muncullah

tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya

kepada siapa yang dpt membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita

lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan

salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.


Dua macam hadiah yyang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para

pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda' bin Muharrij dan

Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang

dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku

Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh.

Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di

mana biasanya di lalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan

begitu unta-unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda' yang

disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.


Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota

menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendpt sambutan sorak-sorai dan

teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mrk kembali dari medan perang dengan

membawa kemenangan yang gilang gemilang.

Berkata mrk kepada Nabi Saleh:" Wahai Saleh! Untamu telah amti dibunuh, cubalah

datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu,

jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."


Nabi Saleh menjawab:" Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan

azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu

maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah talah janjikan dan telah aku

sampaikan kepada kamu.Kamu telah menentang Allah dan terimalah kelak akibat

tentanganmu kepada-Nya.Janji Allah tidak akan meleset .Kamu boleh bersuka ria dan

bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada

hari keempat. Demikianlah kehendak Allah dan taqdir-Nya yang tidak dpt ditunda atau

dihalang."


Ada kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui rasul-Nya Nabi Saleh

memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mrk sedar akan

dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya.

Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada

Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah

ditangguhkan tiga hari lagi.


Turunnya Azab Allah Yang Dijanjikan

Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa di atas mrk akan

didahului dengan tanda-tanda, iaitu pada hari pertama bila mrk terbangun dari tidurnya

akan menemui wajah mrk menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan

hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah yang pedih.

Mendebgar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok

sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabu

Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu.Mrk mengadakan pertemuan rahsia

dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam,


di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga

Nabi Saleh, jika diketahui identiti mrk sebagai pembunuhnya. Rancangan mrk ini

dirahsiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang

itu sendiri.


Ketika mrk datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam

yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar

yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mrk di atas

tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah telah melindingi rasul-Nya dari

perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir.

Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah

berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah

tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa,

ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.


Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf,

ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah " Al-Qamar " ayat 23

sehingga ayat 32.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh A.S.


Pengajaran yang menonjol yang dpt dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahwa dosa dan

perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dpt berakibat

negatif yang membinasakan masyarakat itu seluruhnya.

Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas

bumi karena dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa gelintir

orang pembunuh unta Nabi Saleh A.S.

Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar.

Karena dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah

itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam

masyarakat dan lindungan kita ,kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau

merestui perbuatan mungkar itu Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan

mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar

itu.


Read More

Jumat, 11 April 2025

Kisah nabi Hud As

 KISAH NABI HUD A.S

“Aad” adl nama bapa suatu suku yg hidup di jazirah Arab di suatu tempat bernama

“Al-Ahqaf” terletak di utara Hadramaut atr Yaman dan Umman dan termasuk suku yg tertua

sesudak kaum Nabi Nuh serta terkenal dgn kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yg

besar dan sasa. Mereka dikurniai oleh Allah tanah yg subur dgn sumber-sumber airnya yg

mengalir dari segala penjuru sehinggakan memudahkan mereka bercucuk tanam utk bhn

makanan mrk. dan memperindah tempat tinggal mereka dgn kebun-kebun bunga yg

indah-indah. Berkat kurnia Tuhan itu mereka hidup menjadi makmur sejahtera dan bahagia

serta dalam waktu yg singkat mereka berkembang biak dan menjadi suku yg terbesar

diantara suku-suku yg hidup di sekelilingnya.

Sebagaimana dgn kaum Nabi Nuh kaum Hud ialah suku Aad ini adl penghidupan rohaninya

tidak mengenal Allah Yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta. Mereka membuat

patung-patung yg diberi nama ” Shamud” dan ” Alhattar” dan itu yg disembah sebagai tuhan

mereka yg menurut kepercayaan mereka dpt memberi kebahagiaan kebaikan dan

keuntungan serta dapat menolak kejahatan kerugian dan segala musibah. Ajaran dan

agama Nabi Idris dan Nabi Nuh sudah tidak berbekas dalam hati jiwa serta cara hidup

mereka sehari-hari. Keni’matan hidup yg mereka sedang tenggelam di dalamnya berkat

tanah yg subur dan menghasilkan yg melimpah ruah menurut anggapan mereka adl

kurniaan dan pemberian kedua berhala mereka yg mereka sembah. Karenanya mereka

tidak putus-putus sujud kepada kedua berhala itu mensyukurinya sambil memohon

perlindungannya dari segala bahaya dan mushibah berupa penyakit atau kekeringan.


Sebagai akibat dan buah dari aqidah yg sesat itu pergaulan hidup mereka menjadi dikuasai

oleh tuntutan dan pimpinan Iblis di mana nilai-nilai moral dan akhlak tidak menjadi dasar

penimbangan atau kelakuan dan tindak-tanduk seseorang tetapi kebendaan dan kekuatan

lahiriahlah yg menonjol sehingga timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di

dalam masyarakat di mana yg kuat menindas yg lemah yg besar memperkosa yg kecil dan

yg berkuasa memeras yg di bawahnya. Sifat-sifat sombong congkak iri-hati dengki hasut

dan benci-membenci yg didorong oleh hawa nafsu merajalela dan menguasai penghidupan

mereka sehingga tidak memberi tempat kepada sifat-sifat belas kasihan sayang

menyayang jujur amanat dan rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku Aad

tatkala Allah mengutuskan Nabi Hud sebagai nabi dan rasul kepada mereka. Nabi Hud

Berdakwah Di Tengah-tengah Sukunya Sudah menjadi sunnah Allah sejak diturunkannya Adam Ke bumi bahawa dari masa ke

semasa jika hamba-hamba-Nya sudah berada dalam kehidupan yg sesat sudah jauh

menyimpang dari ajaran-ajaran agama yg dibawa oleh Nabi-nabi-Nya diutuslah seorang

Nabi atau Rasul yg bertugas utk menyegarkan kembali ajaran-ajaran nabi-nabi yg

sebelumnya mengembalikan masyarakat yg sudah tersesat ke jalanlurus dan benar dan

mencuci bersih jiwa manusiadari segala tahayul dan syirik menggantinya dan mengisinya

dgn iman tauhid dan aqidah yg sesuia dgn fitrah.


Demikianlah maka kepada suku Aad yg telah dimabukkan oleh kesejahteraan hidup dan

keni’matan duniawi sehingga tidak mengenalkan Tuhannya yg mengurniakan itu semua. Di

utuskan kepada mereka Nabi Hud seorang drp suku mereka sendiri dari keluarga yg

terpandang dan berpengaruh terkenal sejak kecilnya dgn kelakuan yg baik budi pekerti yg luhur dan sgt bijaksana dalam pergaulan dgn kawan-kawannya.


Nabi Hud memulai dakwahnya dgn menarik perhatian kaumnya suku Aad kepada

tanda-tanda wujudnya Allah yg berupa alam sekeliling mereka dan bahawa Allahlah yg

mencipta mereka semua dan mengurniakan mereka dgn segala keni’matan hidup yg

berupa tanah yg subur air yg mengalir serta tubuh-tubuhan yg tegak dan kuat. Dialah yg

seharusnya mereka sembah dan bukan patung-patung yg mereka perbuat sendiri. Merek

sebagai manusia adl makhluk Tuhan paling mulia yg tidak sepatutnya merendahkan diri

sujud menyembah batu-batu yg sewaktunya dpt mereka hancurkan sendiri dan

memusnahkannya dari pandangan.


Di terangkan oleh Nabi Hud bahaw adia adl pesuruh Allah yg diberi tugas utk membawa

mereka ke jalan yg benar beriman kepada Allah yg menciptakan mereka menghidup dan

mematikan mereka memberi rezeki atau mencabutnya drp mereka. Ia tidak mengharapkan

upah dan menuntut balas jasa atas usahanya memimpin dan menuntut mereka ke jalan yg

benar. Ia hanya menjalankan perintah Allah dan memperingatkan mereka bahawa jika mereka

tetap menutup telinga dan mata mrk menghadapi ajakan dan dakwahnya mereka akan

ditimpa azab dan dibinasakan oleh Allah sebagaimana terjadinya atas kaum Nuh yg mati

binasa tenggelam dalam air bah akibat kecongkakan dan kesombongan mereka menolak

ajaran dan dakwah Nabi Nuh seraya bertahan pada pendirian dan kepercayaan mereka

kepada berhala dan patung-patung yg mereka sembah dan puja itu.


Bagi kaum Aad seruan dan dakwah Nabi Hud itu merupakan barang yg tidak pernah mrk

dengar ataupun menduga. Mereka melihat bahawa ajaran yg dibawa oleh Nabi Hud itu

akan mengubah sama sekali cara hidup mereka dan membongkar peraturan dan adat

istiadat yg telah mereka kenal dan warisi dari nenek moyang mereka. Mereka tercengang

dan merasa hairan bahawa seorang dari suku mereka sendiri telah berani berusaha

merombak tatacara hidup mereka dan menggantikan agama dan kepercayaan mereka dgn

sesuatu yg baru yg mereka tidak kenal dan tidak dpt dimengertikan dan diterima oleh akal

fikiran mereka. Dengan serta-merta ditolaklah oleh mereka dakwah Nabi Hud itu dgn

berbagai alasan dan tuduhan kosong terhadap diri beliau serta ejekan-ejekan dan hinaan yg

diterimanya dgn kepala dingin dan penuh kesabaran.


Berkatalah kaum Aad kepada Nabi Hud:”Wahai Hud! Ajaran dan agama apakah yg engkau

hendak anjurkan kepada kami? Engkau ingin agar kami meninggalkan persembahan kami

kepada tuhan-tuhan kami yg berkuasa ini dan menyembah tuhan mu yg tidak dpt kami

jangkau dgn pancaindera kami dan tuhan yg menurut kata kamu tidak bersekutu. Cara

persembahan yg kami lakukan ini ialah yg telah kami warisi dari nenek moyang kami dan

tidak sesekali kami tidak akan meninggalkannya bahkan sebaliknya engkaulah yg

seharusnya kembali kepada aturan nenek moyangmu dan jgn mencederai kepercayaan

dan agama mereka dgn memebawa suatu agama baru yg tidak kenal oleh mereka dan

tentu tidak akan direstuinya.”


Wahai kaumku! jawab Nabi HudSesungguhnya Tuhan yg aku serukan ini kepada kamu utk

menyembah-Nya walaupun kamu tidak dpt menjangkau-Nya dgn pancainderamu namun

kamu dpt melihat dam merasakan wujudnya dalam diri kamu sendiri sebagai ciptaannya

dan dalam alam semesta yg mengelilingimu beberapa langit dgn matahari bulan dan

bintang-bintangnya bumi dgn gunung-ganangnya sungai tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yg kesemuanya dpt bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Dan

menjadi kamu dpt meni’mati kehidupan yg sejahtera dan bahagia. Tuhan itulah yg harus

kamu sembah dan menundukkan kepala kamu kepada-Nya.Tuhan Yang Maha Esa tiada

bersekutu tidak beranak dan diperanakan yg walaupun kamu tidak dpt menjangkau-Nya

dgn pancainderamu Dia dekat drp kamu mengetahui segala gerak-geri dan tingkah lakumu

mengetahui isi hati mu denyut jantungmu dan jalan fikiranmu. Tuhan itulah yg harus

disembah oleh manusia dgn kepercayaan penuh kepada Keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya

dan bukan patung-patung yg kamu perbuat pahat dan ukir dgn tangan kamu sendiri

kemudian kamu sembah sebagai tuhan padahal ia suatu barang yg pasif tidak dapat

berbuat sesuatu yg menguntungkan atau merugikan kamu. Alangkah ****nya dan

dangkalnya fikiranmu jika kamu tetap mempertahankan agamamu yg sesat itu dan menolak

ajaran dan agama yg telah diwahyukan kepadaku oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa itu.”


Wahai Hud! jawab kaumnya”Gerangan apakah yg menjadikan engkau berpandangan dan

berfikiran lain drp yg sudah menjadi pegangan hidup kami sejak dahulu kala dan

menjadikan engkau meninggalkan agama nenek moyangmu sendiri bahkan sehingga

engkau menghina dan merendahkan martabat tuhan-tuhan kami dan memper****kan kami

dan menganggap kami berakal sempit dan berfikiran dangkal? Engkau mengaku bahwa

engkau terpilih menjadi rasul pesuruh oleh Tuhanmu utk membawa agama dan

kepercayaan baru kepada kami dan mengajak kami keluar dari jalan yg sesat menurut

pengakuanmu ke jalan yg benar dan lurus. Kami merasa hairan dan tidak dpt menerima

oleh akal kami sendiri bahwa engkau telah dipilih menjadi pesuruh Tuhan. Apakah

kelebihan kamu di atas seseorang drp kami engkau tidak lbh tidak kurang adl seorang

manusia biasa seperti kami hidup makan minum dan tidur tiada bedanya dgn kami

mengapa engkau yg dipilih oleh Tuhanmu? Sungguh engkau menurut anggapan kami

seorang pendusta besar atau mungkin engkau berfikiran tidak sihat terkena kutukan

tuhan-tuhan kami yg selalu engkau eje hina dan cemuhkan.”


Wahai kaumku! jawab Nabi Hud “aku bukanlah seorang pendusta dan fikiran ku tetap

waras dan sihat tidak krg sesuatu pun dan ketahuilah bahwa patung-patungmu yg kamu

pertuhankan itu tidak dpt mendatangkan sesuatu gangguan atau penyakit bagi bandaku

atau fikiranku. Kamu kenal aku sejak lama aku hidup di tengah-tengah kamu bahawa aku

tidak pernah berdusta dan bercakap bohong dan sepanjang pergaulanku dgn kamu tidak

pernah terlihat pd diriku tanda-tanda ketidak wajaran perlakuanku atau tanda-tanda yg

meragukan kewarasan fikiranku dan kesempurnaan akalku. Aku adl benar pesuruh Allah yg

diberi amanat utk menyampaikan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yg sudah tersesat

kemasukan pengaruh ajaran Iblis dan sudah jauh menyimpang dari jalan yg benar yg diajar

oleh nabi-nabi yg terdahulu krn Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terlalu

lama terlantar dalam kesesatan dan hidup dalam kegelapan tanpa diutuskan seorang rasul

yg menuntun mereka ke jalan yg benar dan penghidupan yg diredhai-Nya. Maka percayalah

kamu kepada ku gunakanlah akal fikiran kamu berimanlah dan bersujudlah kepada Allah

Tuhan seru sekalian alam Tuhan yg menciptakan kamu menciptakan langit dan bumi

menurunkan hujan bagi menyuburkan tanah ladangmu menumbuhkan tumbuh tumbuhan

bagi meneruskan hidupmu. Bersembahlah kepada-Nya dan mohonlah ampun atas segala

perbuatan salah dan tindakan sesatmu agar Dia menambah rezekimu dan kemakmuran

hidupmu dan terhindarlah kamu dari azab dunia sebagaimana yg telah dialami oleh kaum

Nuh dan kelak azab di akhirat. Ketahiulah bahawa kamu akan dibangkitkan kembali kelak

dari kubur kamu dan dimintai bertanggungjawab atas segala perbuatan kamu di dunia ini


dan diberi ganjaran sesuai dgn amalanmu yg baik dan soleh mendpt ganjaran baik dan yg

hina dan buruk akan diganjarkan dgn api neraka. Aku hanya menyampaikannya risalah

Allah kepada kamu dan dgn ini telah memperingati kamu akan akibat yg akan menimpa

kepada dirimu jika kamu tetap mengingkari kebenaran dakwahku.”


Kaum Aad menjawab: ” Kami bertambah yakin dan tidak ragu lagi bahawa engkau telah

mendpt kutukan tuhan-tuhan kami sehingga menyebabkan fikiran kamu kacau dan akalmu

berubah menjadi sinting. Engkau telah mengucapkan kata-kata yg tidak masuk akal bahwa

jika kami mengikuti agamamu akan bertambah rezeki dan kemakmuran hidup kami dan

bahawa kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami dan menerima segala ganjaran

atas segala amalan kami.Adakah mungkin kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami

setelah kami mati dan menjadi tulang-belulang. Dan apakah azab dan seksaan yg engkau

selalu menakut-nakuti kami dan mengancamkannya kepada kami? Semua ini kami anggap

kosong dan ancaman kosong belaka. Ketahuilah bahwa kami tidak akan menyerah

kepadamu dan mengikuti ajaranmu krn bayangan azab dan seksa yg engkau

bayang-bayangkannya kepada kami bahkan kami menentang kepadamu datangkanlah apa

yg engkau janjikan dan ancamkan itu jika engkau betul-betul benar dalam kata-katamu dan

bukan seorang pendusta.”


Baiklah! jawab Nabi Hud” Jika kamu meragukan kebenaran kata-kataku dan tetap berkeras

kepala tidak menghiraukan dakwahku dan meninggalkan persembahanmu kepada

berhala-berhala itu maka tunggulah saat tibanya pembalasan Tuhan di mana kamu tidak

akan dpt melepaskan diri dari bencananya. Allah menjadi saksiku bahwa aku telah

menyampaikan risalah-Nya dgn sepenuh tenagaku kepada mu dan akan tetap berusaha

sepanjang hayat kandung bandaku memberi penerangan dan tuntunan kepada jalan yg

baik yg telah digariskan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya.” Pembalasan Allah Atas Kaum

Aad


Pembalasan Tuhan terhadap kaum Aad yg kafir dan tetap membangkang itu diturunkan

dalam dua perinkat.Tahap pertama berupa kekeringan yg melanda ladang-ladang dan

kebun-kebun mrk sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan kalau-kalau mereka

tidak memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya.Dalam

keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahawa kekeringan itu

adl suatu permulaan seksaan dari Allah yg dijanjikan dan bahwa Allah masih lagi memberi

kesempatan kepada mereka utk sedar akan kesesatan dan kekafiran mrk dan kembali

beriman kepada Allah dgn meninggalkan persembahan mrk yg bathil kemudian bertaubat

dan memohon ampun kepada Allah agar segera hujan turun kembali dgn lebatnya dan

terhindar mrk dari bahaya kelaparan yg mengancam. Akan tetapi mereka tetap belum mahu

percaya dan menganggap janji Nabi Hud itu adl janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi

menghadap berhala-berhala mereka memohon perlindungan ari musibah yg mereka

hadapi.


Tentangan mrk terhadap janji Allah yg diwahyukan kepada Nabi Hud segera mendapat

jawapan dgn dtgnya pembalasan tahap kedua yg dimulai dgn terlihatnya gumpalan awan

dan mega hitam yg tebal di atas mereka yg disambutnya dgn sorak-sorai gembira krn

dikiranya bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami

kebun-kebun mereka yg sedang mengalami kekeringan.Melihat sikap kaum Aad yg sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud dgn nada

mengejek: “Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega

yg akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yg telah ku janjikan dan

kamu ternanti-nanti utk membuktikan kebenaran kata-kataku yg selalu kamu sangkal dan

kamu dusta.


Sejurus kemudian menjadi kenyataanlah apa yg diramalkan oleh Nabi Hud itu bahawa

bukan hujan yg turun dari awan yg tebal itu tetapi angin taufan yg dahsyat dan kencang

disertai bunyi gemuruh yg mencemaskan yg telah merusakkan bangunan-bangunan rumah

dari dasarnya membawa berterbangan semua perabot-perabot dan milik harta benda dan

melempar jauh binatang-binatang ternak. Keadaan kaum Aad menjadi panik mereka berlari

kesana sini hilir mudik mencari perlindungan .Suami tidak tahu di mana isterinya berada

dan ibu juga kehilangan anaknya sedang rumah-rumah menjadi sama rata dgn tanah.

Bencana angin taufan itu berlangsung selama lapan hari tujuh malam sehingga sempat

menyampuh bersih kaum Aad yg congkak itu dan menamatkan riwayatnya dalam keadaan

yg menyedihkan itu utk menjadi pengajaran dan ibrah bagi umat-umat yg akan datang.

Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yg beriman telah mendapat perlindungan Allah dar

bencana yg menimpa kaumnya yg kacau bilau dan tenang seraya melihat keadaan

kaumnya yg kacau bilau mendengar gemuruhnya angin dan bunyi pohon-pohon dan

bangunan-bangunan yg berjatuhan serta teriakan dan tangisan orang yg meminta tolong

dan mohon perlindungan.


Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah ” Al-Ahqaf ” sudah menjadi sunyi senyap

dari kaum Aad pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut di

mana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana

dimana hingga sekarang makamnya yg terletak di atas sebuah bukit di suatu tempat lbh

kurang 50 km dari kota Siwun dikunjungi para penziarah yg datang beramai-ramai dari

sekitar daerah itu terutamanya dan bulan Syaaban pada tiap tahun. Kisah Nabi Hud Dalam

Al-Quran 

Kisah Nabi Hud diceritakan oleh 68 ayat dalam 10 surah di antaranya surah Hud ayat 50

hingga 60 surah ” Al-Mukminun ” ayat 31 sehingga ayat 41 surah ” Al-Ahqaaf ” ayat 21

sehingga ayat 26 dan surah ” Al-Haaqqah ” ayat 6 7 dan 8. Pengajaran Dari Kisah Nabi Hud

A.S.

Nabi Hud telah memberi contoh dan sistem yg baik yg patut ditiru dan diikuti oleh juru

dakwah dan ahli penerangan agama.Beliau menghadapi kaumnya yg sombong dan keras

kepala itu dgn penuh kesabaran ketabahan dan kelapangan dada. Ia tidak sesekali

membalas ejekan dan kata-kata kasar mereka dgn serupa tetapi menolaknya dgn kata-kata

yg halus yg menunjukkan bahawa beliau dapat menguasai emosinya dan tidak sampai

kehilangan akal atau kesabaran.

Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar ketika kaumnya mengejek dgn menuduhnya telah

menjadi gila dan sinting. Ia dgn lemah lembut menolak tuduhan dan ejekan itu dgn hanya

mengata:”Aku tidak gila dan bahawa tuhan-tuhanmu yg kamu sembah tidak dapat

menggangguku atau mengganggu fikiranku sedikit pun tetapi aku ini adl rasul pesuruh Allah


kepadamu dan betul-betul aku adl seorang penasihat yg jujur bagimu menghendaki

kebaikanmu dan kesejahteraan hidupmu dan agar kamu terhindar dan selamat dari azab

dan seksaan Allah di dunia mahupun di akhirat.”

Dalam berdialog dgn kaumnya.Nabi Hud selalu berusaha mengetok hati nurani mereka dan

mengajak mereka berfikir secara rasional menggunakan akal dan fikiran yg sihat dgn

memberikan bukti-bukti yg dapat diterima oleh akal mereka tentang kebenaran dakwahnya

dan kesesatan jalan mereka namun hidayah iu adl dari Allah Dia akan memberinya kepada

siapa yg Dia kehendakinya.

Read More

Kamis, 10 April 2025

KIsah Nabi Nuh As

 KISAH NABI NUH A.S

Nabi Nuh adalah nabi keempat sesudah Adam, Syith dan Idris dan keturunan kesembilan

dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin Idris.

Dakwah Nabi Nuh Kepada Kaumnya

Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa "fatrah" masa kekosongan di

antara dua rasul di mana biasanya manusia secara beransur-ansur melupakan ajaran

agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan kembali bersyirik

meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan di bawah

pimpinan Iblis.

Demikianlah maka kaum Nabi Nuh tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi

Nuh datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala ialah

patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri disembahnya sebagai

tuhan-tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala

kesengsaraan dan kemalangan.berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut

kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu

diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera ke****an

mereka.Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka " Wadd " dan " Suwa "

kadangkala " Yaguts " dan bila sudah bosan digantinya dengan nama " Yatuq " dan " Nasr"


Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh iblis itu, mengajak

mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid

menyembah Allah Tuhan sekalian alam melakukan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan

kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan

dan Iblis.

Nabi Nuh menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh

Allah berupa langit dengan matahari, bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya, bumi

dengan kekayaan yang ada di atas dan di bawahnya, berupa tumbuh-tumbuhan dan air


yang mengalir yang memberi kenikmatan hidup kepada manusia, pengantian malam

menjadi siang dan sebaliknya yang kesemua itu menjadi bukti dan tanda nyata akan

adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka

buat dengan tangan mereka sendiri.Di samping itu Nabi Nuh juga memberitakan kepada

mereka bahwa akan ada gajaran yang akan diterima oleh manusia atas segala amalannya

di dunia iaitu syurga bagi amalan kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadap

perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.

Nabi Nuh yang dikurniakan Allah dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi,

fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya

melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan

kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut mengetuk hati nurani mereka dan kadang

kala dengan kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi

pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujjah dan

dalil-dalil yang dikemukakan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau

mematahkannya.

Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tanaganya berdakwah kepda

kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dan dalam setiap

kesempatan, siang mahupun malam dengan cara berbisik-bisik atau cara terang dan

terbuka terbyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dpt menerima dakwahnya dan

mengikuti ajakannya, yang menurut sementara riwayat tidak melebihi bilangan seratus

orang Mereka pun terdiri dari orang-orang yang miskin berkedudukan sosial lemah.

Sedangkan orang yang kaya-raya, berkedudukan tingi dan terpandang dalam masyarakat,

yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak

mempercayai Nabi Nuh mengingkari dakwahnya dan sesekali tidak merelakan melepas

agamanya dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, bahkan mereka

berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan mengagalkan

usaha dakwah Nabi nuh.


Berkata mereka kepada Nabi Nuh:"Bukankah engkau hanya seorang daripada kami dan

tidak berbeda drp kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah akan mengutuskan

seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Ia akan mengutuskan seorang

malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan

manusia biasa seperti engkau hanya dpt diikuti orang-orang rendah kedudukan sosialnya

seperti para buruh petani orang-orang yang tidak berpenghasilan yang bagi kami mereka

seperti sampah masyarakat.Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak

mempunyai daya fikiran dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta tuli tanpa

memikirkan dan menimbangkan masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu

itu. Cuba agama yang engkau bawa dan ajaran -ajaran yang engkau sadurkan kepada kami

itu betul-betul benar, nescaya kamilah dulu mengikutimu dan bukannya orang-orang yang

mengemis pengikut-pengikutmu itu. kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang

pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang

masyarakat sebagai pemimpin-pemimpinnya, tidaklah mudak kami menerima ajakanmu

dan dakwahmu.Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang soaL-soal

kemasyarakatan dan pergaulan hidup.kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui drpmu

tentang hal itu semua.nya.Anggapan kami terhadapmu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa

engkau adalh pendusta belaka."


Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya:"Adakah engkau mengira bahwa

aku dpt memaksa kamu mengikuti ajaranku atau mengira bahwa aku mempunyai

kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman jika kamu tetap menolak

ajakan ku dan tetap membuta-tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap

mempertahakan pendirianmu yang tersesat yang diilhamkan oleh kesombongan dan

kecongkakan karena kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki.Aku hanya seorang

manusia yang mendpt amanat dan diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya

kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang

benar dan menerima agama Allah yang diutuskan-Nya kepada ku maka terserahlah kepada

Allah untuk menentukan hukuman-Nya dan gajaran-Nya keatas diri kamu. Aku hanya

pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan untuk menyampaikan amanat-Nya kepada

hamba-hamba-Nya. Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni

dosamu atau menurunkan azab dan seksaan-Nya di atas kamu sekalian jika Ia

kehendaki.Dialah pula yang berkuasa menurunkan seksa danazab-nya di dunia atau

menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha

Kuasa ,Maha Mengetahui, maha pengasih dan Maha Penyayang.".

Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata:"Wahai Nuh! Jika engkau menghendaki

kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepada kamu dan kepada agama

yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani,

buruh dan hamaba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pengaulanmu karena kami tidak

dpt bergaul dengan mereka duduk berdampingan dengan mereka mengikut cara hidup

mereka dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama dan kepercayaan. Dan

bagaimana kami dpt menerima satu agama yang menyamaratakan para bangsawan

dengan orang awam, penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan orang kaya

yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan papa."


Nabi Nuh menolak pensyaratan kaumnya dan berkata:"Risalah dan agama yang aku bawa

adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai mahupun yang ****, yang kaya

mahupun miskin, majikan ataupun buruh ,diantara peguasa dan rakyat biasa semuanya

mempunyai kedudukan dan tempat yang sama trehadap agama dan hukum Allah. Andai

kata aku memenuhi pensyaratan kamu dan meluluskan keinginanmu menyingkirkan para

pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dpt ku harapkan akan meneruskan

dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan drpku

orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan

keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah

membantuku dalam tugasku di kala kamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku.

Dan bagaimanakah aku dpt mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada

mereka terhadap Allah bila mereka mengadu bahawa aku telah membalas kesetiaan dan

ketaatan mereka dengan sebaliknya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan

tunduk kepada pensyaratanmu yang tidak wajar dan tidak dpt diterima oleh akal dan fikiran

yang sihat. Sesungguhnay kamu adalah orang-orang yang **** dan tidak berfikiran sihat.


Pada akhirnya, karena merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kata Nabi

Nuh dan merasa kehabisan alasan dan hujjah untuk melanjutkan dialog dengan beliau,

maka berkatalah mereka:"Wahai Nabi Nuh! Kita telah banyak bermujadalah dan berdebat

dan cukup berdialog serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan itu. Kami tetap

tidak akan mengikutimu dan tidak akan sesekali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat

kami sehingga tidak ada gunanya lagi engkau mengulang-ulangi dakwah dan ajakanmu dan

bertegang lidah dengan kami. datangkanlah apa yang engkau benar-benar orang yang

menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan

ancamanmu dalam kenyataan. Karena kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap

meragukan dakwahmu."


Nabi Nuh Berputus Asa Dari Kaumnya

Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun

berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninmggalkan

penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha

Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan

terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah

kepadanya, mangangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingak yang sesuai

dengan fitrah dan qudratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan bongkak

yang melekat pd para pembesar kaumnya dan medidik agar mereka berkasih sayang,

tolong-menolong diantara sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu,

Nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan an menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima

dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah kecuali sekelompok kecil

kaumnya yang tidak mencapai seramai seratus orang, walaupun ia telah melakukan

tugasnya dengan segala daya-usahanya dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran

dan kesulitan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia

mengharapkan akan dtg masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan dtg mengakui

kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh akan kesedaran kaumnya

ternyata makin hari makin berkurangan dan bahawa sinar iman dan takwa tidak akan

menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Hal

mana Nabi Nuh berupa berfirman Allah yang bermaksud:


"Sesungguhnya tidak akan seorang drp kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka

yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka jgnlah engkau bersedih hati

karena apa yang mereka perbuatkan."

Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan

habislah kesabarannya. Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas

kaumnya yang berkepala batu seraya berseru:"Ya Allah! Jgnlah Engkau biarkan seorang

pun drp orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha

menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak

akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak

yang kafir spt.mereka."

Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi

menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman

Allah dengan mati tenggelam.

Nabi Nuh Membuat Kapal

Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh

mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bhn yang diperlukan

untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari

kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam

menyelesaikan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.

Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dpt bekerja dengan

tenang tanpa gangguan bagi menyelesaikan pembinaan kapalnya namun ia tidak luput dar

ejekan dan cemuhan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membina

kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olk dengan mengatakan:"Wahai Nuh! Sejak bila

engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal?Bukankah engkau seorang nabi da

rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembua

kapal.Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah maksudmu

untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang ankan menarik kapalmu ke

laut?"Dan lain-lain kata ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh dengan sikap dingin dan

tersenyum seraya menjawab:"Baiklah tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekrg mengeje

dan mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bg kami untuk mengejek kamu

dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini.Tunggulah saatnya

azab dan hukuman Allah menimpa atas diri kamu."


Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut

pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah:"Siap-siaplah engkau dengan

kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda drp-Ku maka segeralah angkut

bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis

makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izin-Ku."

Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang

dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa

menggenangi daratan yang rendah mahupun yang tinggi sampai mencapai puncak

bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal

Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang

diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.


Dengan iringan"Bismillah majraha wa mursaha"belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya

menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala

ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan

gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang

sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.

Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat

orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba

terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul tenggelam

dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang

sedang menerima hukuman Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan

kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan

cemas menghadapi maut ditelan gelombang.


Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat

suaranya memanggil puteranya:Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu

bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau

selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah." Kan'aan,

putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan

kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan

ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang:"Biarkanlah aku dan

pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat

menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau

oleh air bah ini."


Nuh menjawab:"Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan

engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat

melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang

memperolehi rahmat dan keampunan-Nya."

Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang

yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan

air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.


Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak

beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah:"Ya

Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari

keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalha janji benar dan Engkaulah Maha Hakim

yang Maha Berkuasa."Kepadanya Allah berfirman:"Wahai Nuh! Sesungguhnya dia

puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu,

melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir drp

kaummu.Coretlah namanya dari daftar keluargamu.Hanya mereka yang telah menerima

dakwahmu mengikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku dpt engkau masukkan dan

golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya

danterjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu,

mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah

mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada

dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang

engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam

golongan orang-orang yang ****."


Nabi Nuh sedar segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya

kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap

orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sedar bahawa ia tersesat pd saat ia

memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh

perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya

cinta dan taat kepada Allah harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia

sangat sesalkan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon

ampun dan maghfirahnya dengan berseru:"Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari

godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku

menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak

memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi

orang yang rugi."Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang

kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi

kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah

kepada Nabi Nuh:"Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi

umat yang menyertaimu."


Kisah Nabi Nuh Dalam Al-Quran

Al-Quran menceritakan kisah Nabi Nuh dalam 43 ayat dari 28 surah di antaranya surah Nuh

dari ayat 1 sehinga 28, juga dalam surah "Hud" ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan

dialog Nabi Nuh dengan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang

menimpa di atas mereka.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Nuh A.S.

Bahawasanya hubungan antara manusia yang terjalin karena ikatan persamaan

kepercayaan atau penamaan aqidah dan pendirian adalah lebih erat dan lebih berkesan drp

hubungan yang terjalin karena ikatan darah atau kelahiran. Kan'aan yang walaupun ia

adalah anak kandung Nabi Nuh, oleh Allah s.w.t. dikeluarkan dari bilangan keluarga

ayahnya karena ia menganut kepercayaan dan agama berlainan dengan apa yang dianut

dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri, bahkan ia berada di pihak yang memusuhi dan

menentangnya.

Maka dalam pengertian inilah dapat difahami firman Allah dalam Al-Quran yang

bermaksud:"Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara." Demikian pula hadis

Rasulullah s.a.w.yang bermaksud:"Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika ia

menyintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri."Juga

peribahasa yang berbunyi:"Adakalanya engkau memperolehi seorang saudara yang tidak

dilahirkan oleh ibumu."

Read More