Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 26 Oktober 2026

Siksa Kubur Akibat dari Air Kencing dan Menfitnah

 Siksa Kubur Akibat dari Air Kencing dan Menfitnah

Mendapatkan siksa di alam kubur merupakan gambaran dari jeleknya amal atau perbuatan seseorang ketika masih hidup di Dunia. Penyebab dari siksa tersebut diantaranya seperti yang ada pada hadis dibawah.

Siksa Kubur Akibat dari Air Kencing dan Menfitnah



Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. beliau berkata:

Pada suatu hari ketika Rasulullah SAW tengah berjalan melintasi hiythan (pekuburan) di Madinah atau Makkah, beliau mendengar suara kesakitan dua orang yang sedang mengalami siksa kubur. Nabi Muhammad Saw. Bersabda,”dua orang ini disiksa karena melakukan dosa besar”. Nabi Muhammad Saw Menambahkan, ”benar ! (mereka disiksa karena satu dosa besar). Yang seorang tidak membersihkan dirinya dari kotoran air kencing, sementara yang lainnya karena suka memfitnah”. Nabi Muhammad Saw. Kemudian meminta sebatang ranting hijau (dari sebuah pohon kurma), mematahkannya (menjadi dua bagian) dan menyimpannya masing-masing satu patahan di atas kedua kuburan itu. Ketika sahabat-sahabatnya bertanya kenapa Nabi Muhammad Saw. Melakukan hal itu, Nabi Muhammad Saw. Menjawab, “aku berharap barangkali dapat mengurangi siksaan mereka hingga dua batang ranting itu kering”.

Dari hadis diatas dapat kita simpulkan sebagai berikut:

Pertama, bahwa tidak adanya membersihkan diri dari kotoran air kencing dapat menyebabkan disiksa di alam kubur. Perlu diketahui, bahwa baik buruknya keadaan di akherat nanti tergantung pula pada baik atau buruknya keadaan ketika di alam kubur.

Kedua, menfitnah juga merupakan salah satu daripada dosa besar, dan dapat menyebabkan seseorang (si pemitnah) disiksa di alam kubur
Read More

Minggu, 25 Oktober 2026

Siksa Kubur: Anak Durhaka kepada Orang Tua

 Siksa Kubur: Anak Durhaka kepada Orang Tua

Berita Islam - Suatu hari Rasulullah Saw bersama dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Imam Hasan dan Imam Husain pergi melewati kuburan Baqi’. Tiba-tiba Rasulullah dan keluarganya mendengar teriakan dan meminta pertolongan dari salah satu kuburan di sana.



Rasulullah Saw kemudian mendekati kuburan tersebut sambil berkata: “Wahai hamba Allah, dengan idzin Allah, keluarkan kepalamu!”.

Tiba-tiba, kuburan tersebut terbelah dan keluarlah mayat seorang pemuda dengan muka yang sangat hitam dan seluruh tubuhnya diikat dengan tali-tali dan rantai besi.

Rasulullah Saw kemudian bersabda: “Celaka kamu, apa yang telah kamu perbuat di dunia dahulu?”.

Pemuda itu menjawab: “Wahai Rasulullah, ibu saya tidak meridhai saya”.

Rasulullah Saw bertanya kembali: “Memangnya apa yang telah kamu perbuat kepadanya?”.

Pemuda itu menjawab: “Suatu hari ketika masuk ke rumah, isteri saya mengadu bahwa ibu saya telah memperlakukannya kurang baik. Saat itu ibu saya sedang duduk di depan tungku sedang memasak roti. Tanpa berpikir panjang, tiba-tiba saya berpihak kepada isteri saya dan akhirnya saya pegang tubuh ibu lalu saya lemparkan ke dalam tungku. Mendengar kegaduhan di dalam rumah, para tetangga akhirnya datang dan mencoba mengeluarkan ibu saya yang sudah berada di dalam tungku. Akan tetapi meski tetangga dapat mengeluarkannya, namun salah satu tangan dan buah dada ibu saya telah terbakar. Ibu saya kemudian mengangkat buah dadanya yang sudah terbakar itu ke atas langit sambil berdoa: “Ya Allah, Engkau adalah wakilku. Balaslah apa yang telah diperbuatnya kepadaku”. Wahai Rasulullah, setelah ibu saya berdoa tadi, umur saya tidak lebih dari tiga hari dan kini saya disiksa di dalam kubur. Saya selalu menunggu kedatanganmu agar Anda mendoakan dan memohonkan ampun atas dosa saya tadi”.

Rasulullah Saw kemudian bersabda kepada para sahabatnya: “Hadirkan ibu pemuda ini karena doa itu tidak akan dikabulkan tanpa ada keridhaan dari ibunya”.

Para sahabat pun kemudian menghadirkan ibu pemuda tadi.

Setelah berada di hadapan, Rasulullah Saw kemudian bersabda: “Ibu, maafkanlah dosa anakmu itu karena kini ia sedang disiksa di dalam kubur”.

Ibunya berkata: “Tidak, saya tidak akan memaafkannya”.

Rasulullah Saw kemudian bersabda kembali: “Kalau demikian, anak ibu akan terus-terusan disiksa di dalam kuburnya. Apakah ibu tidak merasa kasihan kepadanya?”.

Setelah berpikir panjang, akhirnya sang ibu tadi memaafkan dosa anaknya itu.

Rasulullah Saw kemudian bersabda kembali: “Mengapa tadi ibu tidak memaafkannya dan kini memaafkannya?”.

Ibu itu menjawab: “Tadinya saya tidak mau memaafkannya hanya saja saya melihat pintu-pintu langit terbuka, kemudian saya melihat para malaikat sedang menyeret dan mencambuk putra saya dengan pecut-pecut dan rantai yang dipenuhi dengan api. Saya tidak tega melihat itu, dan akhirnya saya memaafkannya”.

Setelah ibunya memaafkan, kuburan pemuda itu akhirnya menjadi sepi dan tidak terdengar teriakan lagi.

Note: Hormatilah ibumu dan sayangilah seperti sayang dan kasihnya yang telah di berikan sewaktu dirimu masih balita, dan janganlah sekali-kali dirimu durhaka kepadanya. Sesungguhnya ridha Allah tergantung ridha ibumu juga.

Kisah ini diambil dari Miftahul Janah, Qishash Haulal Umm



Read More