Kisah Tsabit Al-Banani Bertemu Pemuda yang Sudah Meninggal
Ash-Shaltu ibn Dinar
meriwayatkan dari Al-Hasan, dari Jabir bin Abdullah, yang menuturkan bahwa
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى
عَشَائِرِكُمْ وَأَقْرِبَائِكُمْ فِي قُبُورِهِمْ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا
اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا: اللَّهُمَّ أَلْهِمْهُمْ
أَنْ يَعْمَلُوا بِطَاعَتِكَ
Artinya, “Sungguh, amal-amal kalian
ditunjukkan kepada keluarga dan kerabat kalian di dalam alam kubur mereka. Jika
amal kalian baik, mereka gembira. Namun, jika amal kalian tidak baik, mereka
berdoa, ‘Ya Allah, berilah mereka ilham untuk berbuat ketaatan kepada-Mu,’”
(HR. Abu Dawud ath-Thayalisi).
Sejalan dengan hadits di
atas, ada sebuah kisah yang disebutkan oleh Syekh Muhammad ibn Abu Bakar dalam
Kitab Al-Mawa‘izh Al-‘Ushfuriyyah.
Dikisahkan ada seorang
yang bernama Tsabit Al-Banani yang memiliki suatu kebiasaan baik, yakni
berziarah kubur setiap malam Jumat dan berdoa di sana sampai waktu subuh
menjelang.
Suatu ketika, di tengah
munajatnya, ia dilanda rasa kantuk yang luar biasa hingga akhirnya tertidur.
Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat ahli kubur keluar dari kubur mereka dengan
pakaian yang sangat bagus dan wajah putih berseri-seri. Tak lama berselang,
datanglah hidangan yang berisi rupa-rupa makanan untuk masing-masing mereka.
Namun, tampak di antara mereka ada seorang anak muda yang berwajah pucat pasi,
berambut kusut, berhati sedih, dan berpakaian lusuh. Kepala menunduk
sambil berlinang air mata. Rupanya tidak ada hidangan apa pun baginya. Saat
ahli kubur yang lain pulang membawa kegembiraan, ia justru pulang membawa
kesedihan.
Saat ditanya keadaannya oleh Tsabit, “Wahai
anak muda, siapakah kamu sesungguhnya? Saat orang-orang mendapat makanan, lalu
pulang membawa kebahagiaan, kamu tak mendapat hidangan apa-apa dan malah tampak
diliputi kesedihan.” Dengan raut kebingungan, si pemuda menjawab, “Wahai
pemimpin Muslimin, aku ini terasing di tengah mereka. Aku tak memiliki seorang
pun yang mengingatku dengan kebaikan dan doa.
Sementara mereka memiliki sanak keluarga dan
kerabat, yang semuanya mengingat mereka dengan doa, kebaikan, dan sedekah.
Saban malam Jumat, mereka dikirimi rupa-rupa kebaikan dan pahala sedekah. Saat
di dunia, aku dan ibuku akan menunaikan ibadah haji karena kami berniat menjalankannya.
Ketika memasuki wilayah Mesir, Allah berkehendak lain. Dia memanggilku dan aku
dikubur oleh ibuku di kuburan ini. Sejak menikah lagi, ibuku menjadi lupa
kepadaku. Tidak pernah ingat kepadaku dengan doa atau sedekah. Itulah sebabnya
aku menjadi putus asa dan sedih setiap saat.” Tsabit lantas bertanya, “Wahai
anak muda, coba ceritakan di mana ibumu sekarang? Aku akan mengabarinya tentang
kamu dan keadaanmu.” “Hai pemimpin Muslimin, ibuku di kampung ini, di negeri
ini.
Silakan kabarkan saja. Jika ia tidak percaya
kepada Tuan, sampaikan saja padanya, ‘Di kantongmu ada 100 mitsqal perak
warisan dari sang ayah dan itu adalah hak anaknya yang harus disedekahkan,”
kata si pemuda. Setelah Tsabit berusaha mencari, akhirnya ibu si pemuda ditemukan.
Ia menyampaikan kepadanya tentang kabar putranya, sekaligus menyampaikan
perihal 100 mitsqal perak yang disebutkan tadi. Mendengar kabar demikian,
si wanita langsung tak sadarkan diri. Setelah beberapa lama, ia kembali sadar
dan langsung menyerahkan 100 mitsqal perak tadi kepada Tsabit, seraya berpesan,
“Aku mewakilkan saja kepadamu untuk menyedekahkan perak ini demi anakku yang
terasing.” Tsabit lantas menerima perak itu dan menyedekahkannya untuk anak
muda tadi.
Saat bertemu lagi malam Jumat, Tsabit kembali
berangkat menziarahi saudara-saudaranya. Ia bermimpi lagi seperti sebelumnya.
Dalam mimpi, ia berjumpa kembali dengan si pemuda, namun sekarang ia tampak
gembira, mengenakan pakaian bagus, dan berwajah putih. Saat itu, si pemuda
berkata, “Wahai pemimpin Muslimin, Allah telah merahmatimu, sebagaimana engkau
telah menyayangiku.” Dari di kisah di atas, dapat dipetik beberapa pelajaran
sebagai berikut: Orang yang meninggal atau ahli kubur masih dapat
memperoleh manfaat dari kebaikan keluarga dan kerabatnya.
Tak hanya memperoleh
manfaat, ahli kubur juga merasa gembira atau sedih karena amalah keluarganya.
Memang benar, ahli kubur sudah terputus amalnya, tapi masih diberi
kesempatan untuk mendoakan keluarganya. Cukup masyhur pendapat ulama
yang menyebutkan bahwa setiap malam Jumat, ahli kubur diberi tahu siapa saja
orang-orang yang mendoakan atau menziarahi kuburnya. Bentuk kebaikan
orang yang masih hidup kepada orang tua yang telah tiada atau siapa saja yang
sudah meninggal adalah menziarahi kuburnya, mendoakan, berinfak atas namanya,
bersedekah untuknya, dan melanjutkan kebaikan-kebaikannya. Dari penggalan
kisah di atas, jelaslah bahwa kedua orang tua atau para ahli kubur akan sedih
dengan keburukan keluarganya dan akan gembira dengan kebaikan mereka. (Lihat:
al-Mawa‘izh al-‘Ushfuriyyah, hal. 18-19).
