Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 28 September 2026

DALIL IJMA ADANYA ALAM KUBUR

 DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR

Akidah tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur,  adanya  pertanyaan  Malaikat  di  alam  kubur,  adalah akidah yang disepakati oleh para ulama Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah  di  antara mereka.Yang   menyelisihi   mereka adalah ahlul bid'ah  dari kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.

DALIL IJMA ADANYA ALAM  KUBUR


Abdullah bin Abbas radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah berkhutbah: Rasulullah  Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya  Dajjal, mendustakan adanya syafa'at, mendustakan adanya adzab kubur, dan    mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika itu  Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.                              

 ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik berkata: jangan kalian  bermajelis dengan mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang   Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah  kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun  bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya. Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236                           

disempitkan kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling  bersinggungan satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutupkepala dari besi panas padanya”. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau mengatakan:“(Di antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya adzab kubur, dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan didatangi oleh malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah”.Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:                               

   “Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang memiliki  dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka    juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”.  Al Lalika'i rahimahullah membuat judul bab:  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam  bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu  Ja'far Ath Thahawi  rahimahullah  dalam  matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau mengatakan: “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.

Dan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya, agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”. Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan manusia akan  diuji dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.

Para ulama Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”.                                

 Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan bahwasanya  manusia akan diuji di dalam kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya di sana. Allah pun akan mengokohkan    orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang mengingkarinya  kecuali ahlul bid'ah”.  Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan:  

 “Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab kubur”.Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan:    “Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat banyak riwayatnya, dan mencapai  level mutawatir dari segi makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur. Berbeda dengan sebagian ahlul bid'ah”.       Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini bahwa mayit ketika meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di alam kubur). Dan itu akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap ada setelah berpisah dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat atau mendapat adzab. Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya, sehingga ketika itu ruh dan badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya, sebagaimana ditegaskan di dalam as-Sunnah dan  zahir  dari  ayat-ayat  Al  Qur'an,  serta  ijma'  ulama  kaum  Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya.

 Adapun   dalil   dari   as-Sunnah   adalah   sabda   Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan   kepada Allah dari adzab kubur! Adapun   dalil  ijma',   yaitu   para   ulama   sepakat   menganjurkan   untuk membaca doa berikut ini dalam shalat: “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab Jahannam dan dariadzab kubur .Sampai-sampai  orang  awam  yang  bukan  ahlul  ijma'  juga  menyepakati halini. Adapun zahir dari ayat Al Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras  ” (QS.Ghafir: 46)”86.

 

Nukilan-nukilan  di  atas  secara  jelas  menunjukkan  bahwa  para  ulama Ahlussunnah  ijma'  (sepakat)  dalam  mengimani  adanya  alam  kubur,  nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur. Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.

Sumber :

82 Majmu' Al Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83  Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin, seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no. 3558 85  HR. Al Bukhari no.1377, Muslim no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu  Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322 80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau tokoh-tokoh penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan Parsi.

Ali Al Qari lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar di bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H.  81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368 74  Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau wafat pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358 76  Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil Malik bin Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki. Beliau juga ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau adalah salah satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum Muslimin. Beliau wafat pada tahun 449H. 77  Syarhu Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78  Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus. An Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits. Kitab Riyadhus Shalihin, Al Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al Majmu' Syarhul Muhadzab, Al Adzkar , adalah karya-karya beliau yang  berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum Muslimin di seluruh dunia. Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 70 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya  “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni, seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 65  Al Ibanah, halaman 4 66  Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan Ath Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama al-Lalika'i. Seorang ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab Syafi'i. Wafat pada tahun 418H. 67  Syarhu Ushuli Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68  Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.

Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H. 61  Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani, seorang imam besar Ahlussunnah dari Iraq. Tokoh  besar dalam bidang fikih dan hadits. Kepada diri beliaulah madzhab Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah salah satu karya beliau yang fenomenal dan dipelajari kaum Muslimin seluruh dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64  Ali bin Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan kepadanya pemahaman Asy'ariyah. Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman tersebut dan rujuk kepada akidah salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.                                             

0 comments:

Posting Komentar