Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 03 Maret 2026

Kebudayaan ottoman

Kekaisaran Ottoman secara resmi berakhir pada 1 November 1922. Namun, kekaisaran yang pernah berjaya selama 600 tahun itu meninggalkan jejak penting dalam sejarah dunia.



Kekaisaran Ottoman berlangsung selama lebih dari enam abad, dari tahun 1299 hingga 1922. Wilayahnya meliputi tiga benua Eropa, Asia, dan Afrika. Kekaisaran ini memerintah lebih dari 70 etnis yang berbicara lebih dari 12 bahasa yang berbeda. Kekaisaran Ottoman menguasai wilayah yang lebih luas daripada Bizantium, dan untuk jangka waktu yang lebih lama daripada Romawi.

“Namun seolah-olah, sebagai suatu bangsa, Ottoman telah menghilang, warisan mereka diabaikan, bahkan terkadang sengaja diabaikan,” tulis Diane Darke di laman Middle East Eye.

Apa saja warisan penting Kekaisaran Ottoman yang masih bisa dinikmati hingga kini?

Sebuah Kekaisaran “Komunitas”

Sejak awal, Kekaisaran Ottoman menarik beragam kelompok masyarakat dan menawarkan perlindungan kepada mereka. “Filosofi ini sangat berlawanan dengan negara-bangsa saat ini,” tambah Darke.

Bukti pendekatan kosmopolitan dan inklusif mereka terlihat jelas hingga saat ini. Terutama dalam warisan arsitektur pusat kota Ottoman di seluruh bekas kekaisaran mereka. Bursa, ibu kota Kekaisaran Ottoman pertama, diakui oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Mereka mendapat pengakuan itu berkat “proses perencanaan kota yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan “nilai-nilai masyarakat” yang tercermin di dalamnya.

Kota ini menjadi model bagi semua kota Kekaisaran Ottoman di masa depan. Kota-kota di Ottoman dirancang terutama untuk melayani kebutuhan sosial, komersial, keagamaan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat. Semua ditampung dalam kompleks kulliye-nya, di mana Ulu Cami atau Masjid Agung dikelilingi oleh khan dan souk. Ada sekolah, rumah sakit, pemandian umum, air mancur minum, dan dapur umum.

Sesuai namanya, yang berasal dari bahasa Arab kull, yang berarti “semua”, fasilitas ini tersedia untuk semua orang, tanpa diskriminasi.

Sifat egaliter masyarakat Ottoman adalah salah satu faktor kunci dalam kelangsungan Kekaisaran Ottoman. Orang Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup dan bekerja berdampingan. Dan setiap orang dihargai atas keterampilan yang mereka bawa ke komunitas. Pasar Bursa masih ramai hingga saat ini dan tetap menjadi pusat perdagangan kota.

Dalam tatanan dunia Ottoman, pedagang dan perajin terampil sangat dihargai. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas nilai mereka bagi masyarakat dan bagi kas negara melalui pendapatan yang mereka hasilkan.

Pola ini diulangi di ibu kota Ottoman kedua di Edirne, dan kemudian di Konstantinopel. Contohnya, Grand Bazaar masih memiliki lebih dari 4.000 toko yang tersebar di 61 jalan 


Pendekatan berbasis komunitas yang sama tampak dalam sikap Ottoman terhadap pengungsi. Sejak awal hingga akhir, para pengungsi disambut untuk menjadi warga negara Ottoman dan menerima perlindungan Ottoman. Baik Muslim, Kristen, Yahudi, atau minoritas lain yang menderita penganiayaan

Pengungsi diberi uang dan tanah untuk membantu mereka bangkit kembali. Semua itu diberikan sebagai imbalan untuk menjadi warga negara yang membayar pajak, bebas beribadah sesuai pilihan dan menggunakan pengadilannya sendiri.

Keadilan adalah prinsip panduan pemerintah, berdasarkan sistem “Circle of Justice”. Dalam Circle of Justice, sultan, tentara, dan rakyat saling bergantung satu sama lain. Kekaisaran mengakui bahwa kelangsungan hidupnya bergantung pada kemakmuran rakyatnya.

Tarif pajak disesuaikan untuk mencerminkan kemakmuran relatif. Desa-desa kaya di sungai-sungai subur dikenakan tarif yang lebih tinggi daripada desa-desa miskin di dekat gurun dan lahan stepa. Setelah kekeringan, kelaparan, atau perang, pajak dikurangi atau bahkan dihapuskan demi mendorong kebangkitan ekonomi.

Warisan Budaya

“Pendekatan seperti yang disebutkan belum bertahan atau diteruskan ke abad ke-21,” Darke menambahkan. Tetapi banyak warisan Ottoman lainnya yang masih ada, sering kali dengan cara yang bahkan tidak disadari oleh kebanyakan orang. Masakan Ottoman, misalnya, menjadi dasar dari apa yang sering disebut sebagai diet Mediterania yang sehat. “Dengan nama-nama seperti yoghurt, baklava, dan kebab yang menjadi bukti asal-usul Turki mereka,” ujar Darke.

Di dapur besar Istana Topkapi, 60 juru masak dipekerjakan, direkrut dari seluruh kekaisaran setelah melalui pengujian yang ketat. Resep-resep yang sangat canggih dirahasiakan, tidak pernah ditulis, dan didasarkan pada bahan-bahan segar.

Kedai kopi dipopulerkan di seluruh Kekaisaran Ottoman. Kopi tiba di ibu kota Ottoman pada tahun 1550-an melalui Suriah dari pelabuhan Moccha di Yaman. Suleiman Agung merupakan pencinta kopi sejati. Ia menetapkan ritual-ritual terkait di bawah “pembuat kopi utama”. Termasuk cangkir keramik khusus yang dibuat dengan sangat indah di tempat pembakaran di Iznik dan Kutahya.

Dari Istanbul, kebiasaan minum kopi menyebar ke seluruh Eropa setelah pengepungan Wina kedua yang gagal. Pengepungn itu menyebabkan tentara Ottoman meninggalkan sejumlah besar persediaan, termasuk sekarung biji kopi.

Tidak seorang pun di pihak Habsburg tahu apa yang harus dilakukan dengan biji kopi tersebut. Kecuali seorang perwira Polandia yang pernah menjadi tahanan Ottoman selama 2 tahun. Ia dianggap sebagai orang yang memberikan cita rasa kopi kepada Wina. Hingga kini kopi tersebut masih disajikan dengan sebutan “wiener art” (“dengan cara Wina”), dengan segelas air. Persis seperti pada zaman Ottoman.

Pada tahun 1700, terdapat sekitar 500 kedai kopi di London, yang dikenal sebagai “universitas penny”. Sebutan itu muncul karena secangkir kopi hanya berharga satu penny dan memberikan akses kepada para pemikir hebat pada masa itu untuk membahas topik-topik penting.

Kopi Turki saat ini diklaim oleh hampir setiap negara Balkan serta provinsi-provinsi Arab. Kopi Turki bereinkarnasi sebagai kopi Arab, Yunani, Bulgaria, Albania, dan sebagainya, dengan ritual keramahan dan persahabatan yang familiar.

Warisan gaya hidup Ottoman lainnya adalah tenda-tenda megah, nenek moyang tenda-tenda modern saat ini. Tenda-tenda itu berasal dari migrasi nomaden selama berabad-abad sebagai ruang multifungsi dengan fleksibilitas tinggi. Beberapa tenda terbaik dilapisi dengan sulaman benang sutra, perak, dan emas dengan kemegahan yang hampir teatrikal. Sulaman menggambarkan panel-panel seperti ubin taman-taman surga yang penuh dengan tulip, simbol Ottoman.

Para penguasa Eropa termasuk raja Prancis Louis XIV adalah penggemar berat tenda Ottoman. Dan tenda “a la Turque” menjadi populer sebagai tempat untuk pesta-pesta besar. Kata Turki “kosk” (dari mana kata kiosk dalam bahasa Inggris berasal), adalah perluasan alami dari budaya tenda. Budaya tenda secara bertahap berkembang menjadi semacam paviliun taman tempat kopi dan minuman lainnya disajikan, seperti rumah kaca modern.

Sofa empuk dengan penyimpanan internal yang hingga kini masih disebut “Ottoman”, adalah barang yang sangat serbaguna. Sofa itu secara tradisional ditumpuk dengan bantal, warisan lain dari kaum nomaden di mana perabotan harus melayani banyak tujuan.

Pakaian juga dirancang untuk kenyamanan dan fleksibilitas. Pakaian wanita khususnya sangat dipengaruhi oleh gaya dan kepraktisan Ottoman. Cucu Ratu Victoria, Alix dari Hesse, permaisuri terakhir Rusia, mengenakan kaftan longgar pada penobatannya pada tahun 1896. Busananya sangat kontras dengan gaun korset para tamu kelas atasnya.

Kaftan kemudian menjadi populer sebagai bagian dari budaya “jalur hippie” tahun 1960-an. Di bawah jubah warna-warni mereka, wanita Turkmenistan mengenakan celana salvar longgar yang sama dengan pria. Mereka pun dapat bertempur bersama mereka di atas kuda, bahkan dengan bayi yang digendong di punggung mereka.

Para feminis awal, setelah pertama kali melihat celana tersebut di wilayah Ottoman, membawanya ke Inggris, dari sana menyebar ke Amerika. Celana tersebut dinamai ulang “bloomers” setelah aktivis hak-hak perempuan Amelia Jenks Bloomer. Maka, asal-usul Ottoman-nya dilupakan.

Handuk yang berasal dari pemandian Turki merupakan kain katun penyerap dengan simpul. Kata Turki untuk handuk adalah havlu yang berarti “dengan simpul”. Handuk kemudian terjangkau secara luas di Barat ketika perusahaan Inggris Christy & Sons, setelah menemukannya di Grand Bazaar Istanbul, mengindustrialisasi produksinya pada tahun 1850-an.

Masakan dan kopi, handuk dan tulip masih ada bersama kita, memperkaya kehidupan kita sehari-hari. Namun semakin sedikit orang yang masih hidup yang dapat mengingat warisan budaya Ottoman yang unik lainnya. Banyak orang tidak mengetahui bagaimana rasanya tinggal di kota-kota multietnis dan multiagama yang menjadi ciri khas kekaisaran. Dari Izmir, Thessaloniki, Yerusalem hingga Damaskus, Aleppo, dan Istanbul itu sendiri.

Read More

Kisah Nabi Yunus AS didalam perut ikan nun

 Kisah Nabi Yunus AS didalam perut ikan nun

Nabi Yunus berdiri di samping perahu dan melihat lautan yang dipenuhi dengan ombak   yang   mengerikan.   Dunia   saat   itu   gelap   dan   di   sana   tidak   ada   cahaya bulan.    Bintang-bintang      bersembunyi      di  balik   kegelapan.     Warna    air  tampak gelap dan hawa dingin menembus tulang. Alhasil, air menutupi segala sesuatu. Kemudian        nahkoda      perahu     berteriak:     "Lompatlah      wahai     musafir    yang misterius."     Tiupan    angin   semakin     kencang.     Nabi   Yunus    berusaha     menjaga keseimbangannya, 

ikan yang menelan nabi yunus


dan   beliau   menampakkan   keberaniannya   saat   ingin   terjun ke   lautan.   Nabi   Yunus   pun   terjun   dan   berada   di   permukaan   lautan   laksana sampang   yang   mengambang.   Ikan   paus   berada   di   depannya.  

Ikan   itu   mulai tersenyum      kerana    Allah   s.w.t   telah   mengirim     padanya     makanan     malam. Kemudian ikan itu menangkap Nabi Yunus di tengah-tengah ombak. Kemudian ikan itu kembali ke dasar lautan. Ikan itu kembali dalam keadaaan puas setelah memenuhi perutnya.

Nabi Yunus sangat terkejut ketika mendapati dirinya dalam perut ikan. Ikan itu membawanya ke dasar lautan dan lautan membawanya ke kegelapan malam. Tiga kegelapan: kegelapan di dalam perut ikan, kegelapan di dasar lautan, dan kegelapan   malam.   Nabi   Yunus   merasakan   bahawa   dirinya   telah   mati.   Beliau mencoba menggerakan panca inderanya dan anggota tubuhnya masih bergerak. Kalau begitu, beliau masih hidup. Beliau terpenjara dalam tiga kegelapan.

Yunus mulai menangis dan bertasbih kepada Allah. Beliau mulai melakukan perjalanan   menuju   Allah   saat   beliau   terpenjara   di   dalam   tiga   kegelapan. Hatinya   mulai   bergerak   untuk   bertasbih   kepada   Allah,   dan   lisannya   pun mulai    mengikutinya.      Beliau    mengatakan:      "Tiada   Tuhan    selain   Engkau    ya Allah.    Wahai    Yang    Maha    Suci.  Sesungguhnya       aku   termasuk      orang   yang menganiaya diri sendiri." (QS. Hud: 87)

Ketika   terpenjara   di   perut   ikan,   beliau   tetap   bertasbih   kepada   Allah   s.w.t. Ikan itu sendiri tampak kelelahan saat harus berenang cukup jauh. Kemudian ikan itu tertidur di dasar lautan. Sementara itu, Nabi Yunus masih bertasbih kepada      Allah    s.w.t.   Beliau    tidak    henti-hentinya      bertasbih    dan    tidak henti-hentinya       menangis.     Beliau   tidak   makan,     tidak   minum,      dan   tidak bergerak. Beliau berpuasa dan berbuka dengan tasbih. Ikan- ikan yang lain dan tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk yang hidup di dasar lautan mendengar tasbih Nabi Yunus. Tasbih itu berasal dari perut ikan paus ini. Kemudian semua makhluk-makhluk itu berkumpul di sekitar ikan paus itu dan mereka pun ikut bertasbih kepada Allah s.w.t. Setiap dari mereka bertasbih dengan caranya dan bahasanya sendiri.

Ikan paus yang memakan Nabi Yunus itu terbangun dan mendengar suara- suara tasbih begitu riuh dan gemuruh. Ia menyaksikan di dasar lautan terjadi suatu perayaan besar yang dihadiri oleh ikan-ikan dan hewan- hewan lainya, bahkan batu-batuan dan pasir semuanya bertasbih kepada Allah s.w.t dan ia pun tidak ketinggalan   ikut   serta   bersama   mereka   bertasbih   kepada   Allah   s.w.t.   Dan   ia mulai    menyadari     bahawa     ia  sedang    menelan    seorang    Nabi.   Ikan   paus   itu merasakan      ketakutan     tetapi  ia   berkata   dalam   dirinya   mengapa   aku     takut? Bukankah Allah s.w.t yang memerintahkan aku untuk memakannya. Nabi Yunustetap tinggal di perut ikan selama beberapa waktu yang kita tidak mengetahui batasannya. Selama itu juga beliau selalu memenuhi hatinya dengan bertasbih kepada Allah s.w.t dan selalu menampakkan penyesalan dan menangis: "Tiada Tuhan   selain   Engkau   ya   Allah   Yang   Maha   Suci.   Sesungguhnya   aku   termasuk orang yang menganiaya diri sendiri." Allah s.w.t melihat ketulusan taubat Nabi Yunus. Allah s.w.t mendengar tasbihnya di dalam perut ikan. Kemudian Allah s.w.t    menurunkan     perintah    kepada    ikan  itu  agar   mengeluarkan      Yunus   ke permukaan laut dan membuangnya di suatu pulau yang ditentukan oleh Allah s.w.t.

Ikan itu pun menaati perintah Ilahi. Tubuh Nabi Yunus merasakan kepanasan di perut    ikan.   Beliau   tampak    sakit,  lalu   matahari    bersinar   dan   menyentuh badannya yang kepanasan itu. Beliau berteriak kerana tidak kuatnya menahan rasa sakit namun beliau mampu menahan diri dan kembali bertasbih. Kemudian Allah   s.w.t   menumbuhkan       pohon    Yaqthin,   yaitu  pohon    yang   daun-daunnya lebar     yang    dapat    melindungi     dari    sinar   matahari.     Dan    Allah   s.w.t menyembuhkannya dan mengampuninya. Allah s.w.t memberitahunya bahawa kalau bukan kerana tasbih yang diucapkannya nescaya ia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari kiamat.

Read More

Senin, 02 Maret 2026

Kisah Nabi Yunus AS dan ikan nun

 Kisah Nabi Yunus AS dan ikan nun

Demikianlah, terjadi suatu pergulatan penderitaan yang hebat dalam diri Nabi Yunus   saat   ia   terbaring   di   atas   ranjangnya.   Penderitaan   yang   keras   cukup memberatkannya   sehingga   beliau   pun   bangkit   kembali   dari   tempat   tidurnya tanpa     sebab     yang    dapat    dipahami.     Dan    tibalah    waktu     pasang.    

Kisah Nabi Yunus AS dan ikan nun

Perahu melemparkan tali-talinya. Kemudian perahu itu berjalan sepanjang siang dan ia   memecah   airnya   dengan   tenang,   dan   angin   pun   bertiup   padanya   dengan sangat lembut dan baik. Lalu kegelapan menyelimuti perahu itu dan tiba-tiba lautan     pun    berubah.     Bertiuplah     angin   yang    cukup    kencang     yang    sangat mengerikan   yang   nyaris   menghancurkan   perahu   dan   bergolaklah   ombak   yang cukup   dahsyat   laksana   orang   yang   kehilangan   akalnya.   Ombak   itu   meninggi bagaikan gunung dan menurun bagaikan lembah.

Mulailah   gelombang   ombak   menyapu   permukaan   perahu   sehingga   para   awak perahu   itu   pun   mulai   terkena   air.   Dan   di   belakang   perahu   itu   terdapat   ikan paus    yang    besar   yang    mulai   mengintai.     Ia  membuka       mulutnya.     Kemudian terdapat   perintah   kepada   ikan   paus   itu   untuk   bergerak   menuju   permukaan laut.   Ikan   paus   itu   menaati   perintah   dari   Allah   s.w.t   dan   ia   segera   menuju permukaan   laut.   Ia   mulai   mengikuti   perahu   itu   sebagaimana   perintah   yang diterimanya.       Angin    yang    keras    tetap    bertiup    kemudian      kepala    perahu mengisyaratkan   dengan   tangannya   agar   beban   perahu   dikurangi.   Dan   angin semakin   bertiup   kencang.   Sementara   itu,   Nabi   Yunus   merasakan   ketakutan. Dalam tidurnya beliau melihat segala sesuatu berguncang di kamarnya. Beliau berusaha      berdiri    tegak,    tetapi   tidak    mampu.      Kemudian      kepala    perahu berteriak dan berkata: "Sungguh angin kencang bertiup tidak seperti biasanya. Bersama kita seseorang lelaki yang salah sehingga kerananya angin ini bertiup dengan kencang. Kita akan melakukan undian pada semua awak. Barangsiapa yang namanya keluar kami akan membuangnya ke lautan."

Nabi Yunus mengetahui bahawa ini adalah tradisi dari tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh awak perahu jika mereka menghadapi angin yang keras. Tetapi saat itu beliau terpaksa harus meng-ikutinya. Episode penderitaan Nabi Yunus akan dimulai. Beliau adalah seorang Nabi yang mulia tetapi harus tunduk pada hukum ala berhala yang menganggap bahawa lautan mempunyai tuhan. Dengan kepercayaan       itu,   mereka   meyakini     bahawa   bertiupnya   angin       yang   kencang akibat     murka    dari   tuhan.    Oleh   kerana    itu,   harus   diadakan     upaya    untuk menenangkan dan memuaskan tuhan-tuhan yang mereka yakini itu. Nabi Yunus pun terpaksa mengikuti undian itu. Nama beliau dimasukkan bersama dengan nama    penumpang  lainya,    dan    dilakukanlah     undian.     Yang    keluar    justru namanya. Lalu diadakan undian yang kedua, dan kali ini pun yang keluar nama Nabi Yunus. Akhirnya, diadakan undian yang ketiga. Lagi-lagi yang keluar nama Nabi Yunus. Kemudian ditetapkan bahawa Nabi Yunus harus dibuang ke lautan. Saat    itu   para   awak    penumpang  memperhatikan  Nabi   Yunus.    Nabi Yunus mengetahui   bahawa   beliau   berbuat   kesalahan   ketika   meninggalkan   kaumnya dalam   keadaan   marah.   Nabi   Yunus   mengira   bahawa   Allah   s.w.t   tidak   akan menurunkan hukuman padanya. Namun ia dianggap salah kerana meninggalkan kaumnya tanpa izin-Nya. Allah s.w.t memberikan pelajaran kepadanya.

Read More

Minggu, 01 Maret 2026

Kisah Nabi Yunus AS meninggalkan kaumnya

 Kisah Nabi Yunus AS meninggalkan kaumnya

Tidak   ada   seorang   pun   yang   mengetahui   gejolak   perasaan   dalam   diri   Nabi Yunus     selain  Allah   s.w.t.  Nabi   Yunus    tampak    terpukul    dan   marah    pada kaumnya.   Dalam    keadaan    demikian,    beliau   meninggalkan     kaumnya.     

Kisah Nabi Yunus AS meninggalkan kaumnya


Beliau pergi ke tepi laut dan menaiki perahu yang dapat memindahkannya ke tempat yang lain. Allah s.w.t belum mengeluarkan keputusan-Nya untuk meninggalkan kaumnya atau bersikap putus asa dari kaumnya. Yunus mengira bahawa Allah s.w.t tidak mungkin menurunkan hukuman kepadanya kerana ia meninggalkan kaumnya.      Saat   itu   Nabi   Yunus    seakan-akan     lupa   bahawa     seorang    nabi diperintah   hanya   untuk   berdakwah   di   jalan   Allah   s.w.t.   Namun   keberhasilan atau    tidak   keberhasilan  dakwah  tidak   menjadi  tanggungjawabnya.  Jadi, tugasnya hanya berdakwah di jalan Allah s.w.t dan menyerahkan sepenuhnyamasalah keberhasilan atau ketidakberhasilannya terhadap Allah s.w.t semata.

Terdapat perahu yang berlabuh di pelabuhan kecil. Saat itu matahari tampak akan tenggelam. Ombak memukul tepi pantai dan memecahkan batu-batuan. Nabi Yunus melihat ikan kecil sedang berusaha untuk melawan ombak namun ia tidak mengetahui apa yang dilakukan. Tiba- tiba datanglah ombak besar yang memukul ikan itu dan menyebabkan ikan itu berbenturan dengan batu. Melihat kejadian     ini,  Nabi  Yunus   merasakan      kesedihan.    Nabi   Yunus   berkata    dalam dirinya:    "Seandainya    ikan   itu  bersama    ikan   yang   besar   barangkali    ia  akan selamat.     Kemudian      Nabi   Yunus    mengingat-ingat      kembali    keadaannya      dan bagaimana beliau meninggalkan kaumnya. Akhirnya, kemarahan dan kesedihan beliau bertambah.

Nabi Yunus pun menaiki perahu dalam keadaan guncang jiwanya. Beliau tidak mengetahui bahawa   beliau   lari   dari   ketentuan   Allah   s.w.t   menuju  ketentuan Allah s.w.t yang lain; beliau tidak membawa makanan dan juga kantong yang berisi     bawaan      atau    perbekalan,      dan    tidak    ada    seorang     pun    dari teman-temannya         yang   menemaninya;       beliau   benar-benar     sendirian;    beliau melangkahkan kakinya di atas permukaan perahu.

Si    nahkoda     perahu    bertanya     kepadanya:      "Apa    yang    engkau    inginkan?" Mendengar       pertanyaan     itu,   Nabi   Yunus    pun   bangkit:    "Saya   ingin   untuk bepergian   dengan   perahu-perahu   kalian.   Apakah   kita   berlayar   dalam   waktu yang    lama?"   Nabi   Yunus   menampakkan        suara   yang   penuh   kemarahan,      rasa takut,   dan   kegelisahan.   Nahkoda   itu   berkata   sambil   mengangkat   kepalanya:

"Kita akan berlayar meskipun air tampak sedang pasang." Nabi Yunus berkata dengan      mencoba      sabar   dan    menyembunyikan        kegelisahannya:      "Tidakkah engkau   mendahului   agar   jangan   sampai   pasang   itu   terjadi   wahai   tuanku?"   Si nahkoda   berkata:   "Laut   kita   biasanya   terkena   pasang,   maka   ia   akan   segera mereda ketika melihat seorang musafir yang mulia." Yunus bertanya: "Aku akan pergi   bersama   kalian   dan   berapa   ongkos   perjalanan?"   Si   nahkoda   menjawab: "Kami     tidak   menerima      ongkos   selain   emas."    Yunus    berkata:    "Tidak   jadi masalah."

Nahkoda       itu    memperhatikan        Nabi     Yunus.    Ia    adalah    seorang      yang berpengalaman        di  mana    ia  sering   mondar-mandir      dari   satu  pelabuhan     ke pelabuhan yang lain. Seringnya ia mengunjungi suatu tempat ke tempat yang lain menjadikannya seorang lelaki yang mampu menangkap perasaan manusia. Nahkoda itu merasakan dan mengetahui bahawa Nabi Yunus lari dari sesuatu. Nahkoda   itu   membayangkan   bahawa   Nabi   Yunus   melakukan   suatu   kesalahan

tetapi    ia  tidak   berani    untuk    mengungkapkan        kesalahan     kepada     pelakunya kecuali jika pelakunya seorang yang bangkrut. Ia meminta kepada Nabi Yunus untuk     membayar       ongkos    sebanyak     tiga  kali  lipat   dari  vang    biasa   dibayar musafir. Nabi Yunus saat itu merasakan kesempitan dalam dadanya dan diliputi dengan      kemarahan       yang    keras    dan   keinginan     kuat    untuk    meninggalkan negerinya sehingga ia pun memberikan apa yang diminta oleh si nahkoda.

Nahkoda   itu   memperhatikan   kepingan-kepingan   emas   yang   ada   di   tangannya dan ia menggigit sebagaiannya dengan giginya. Barangkali ia akan menemukan potongan emas yang palsu namun ia tidak menemukannya. Nabi Yunus hanya berdiri menyaksikan semua itu sementara dadanya tampak terombang-ambing:

terkadang      naik   dan   terkadang     turun   laksana    ayunan.    Nabi    Yunus    berkata:

"Tuanku      tentukan     bagiku    kamarku.     Aku    tampak     letih  dan    ingin   istirahat sebentar."   Si   nahkoda   berkata:       "Memang   itu   tampak   di   raut   wajahmu.       Itu kamarmu,"       sambil    ia  menunjuk      dengan     tangannya.     Kemudian      Nabi    Yunus membaringkan         diri  di  atas   kasur   dan    beliau   berusaha     untuk    tidur   tetapi usahanya itu sia-sia. Adalah gambar ikan kecil yang hancur berbenturan dengan batu     menyebabkan        beliau   tidak   dapat    tidur   dengan     tenang.    Nabi    Yunus merasakan   bahawa   atap   kamar   akan   jatuh   menimpa   dirinya.   Akhirnya,   Nabi Yunus   tidur   di   atas   kasurnya   di   mana   kedua   bola   matanya   berputar-putar   di atas    atap    kamar     tetapi   pandangan-pandangannya            yang    gelisah   itu   tidak menemukan tempat perlindungan. Tempat tinggalnya di kamar itu dan atapnya dan sisi-sisinya tampak semuanya akan runtuh. Nabi Yunus pun mulai mengeluh dan berkata: "Demikian juga hatiku yang tergantung dalam jiwaku."

Read More

Sabtu, 28 Februari 2026

doa jawa penarik rezeki

doa jawa penarik rejeki

kegunaan mantera penarik kelimpahan dan kesuksesan atau penyempurnaan diri dapat mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti:

-Meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri.
-Mencapai tujuan pribadi atau profesional.
-Mengatasi ketakutan dan keraguan.
-Mempromosikan kesehatan fisik dan mental.
-Menarik kelimpahan dan kesuksesan.

doa jawa penarik rejeki



꧋ꦏꦼꦒꦸꦤꦄꦤ꧀ꦩꦤ꧀ꦠꦺꦫꦥꦼꦤꦫꦶꦏ꧀ꦏꦼꦭꦶꦩ꧀ꦥꦲꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦏꦼꦱꦸꦏ꧀ꦱꦺꦱꦤ꧀ꦄꦠꦻꦴꦥꦼꦚꦼꦩ꧀ꦥꦸꦂꦤꦄꦤ꧀ꦝꦶꦫꦶꦣꦥꦠ꧀ꦩꦼꦚ꧀ꦕꦏꦸꦥ꧀ꦧꦼꦂꦧꦒꦻꦄꦱ꧀ꦥꦺꦏ꧀ꦏꦼꦲꦶꦣꦸꦥꦤ꧀‌ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶ꧇

꧋ꦩꦼꦤꦶꦁꦏꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦫꦱꦥꦼꦂꦕꦪꦣꦶꦫꦶꦣꦤ꧀ꦲꦂꦒꦣꦶꦫꦶ꧉
꧋ꦩꦼꦚ꧀ꦕꦥꦻꦠꦸꦗꦸꦮꦤ꧀ꦥꦿꦶꦧꦣꦶꦄꦠꦻꦴꦥꦿꦺꦴꦥ꦳ꦺꦱꦶꦪꦺꦴꦤꦭ꧀꧈
ꦩꦼꦔꦠꦱꦶꦏꦼꦠꦏꦸꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦏꦼꦫꦒꦸꦮꦤ꧀꧈
꧋ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦿꦺꦴꦩꦺꦴꦱꦶꦏꦤ꧀ꦏꦼꦱꦺꦲꦠꦤ꧀ꦥ꦳ꦶꦱꦶꦏ꧀ꦝꦤ꧀ꦩꦺꦤ꧀ꦠꦭ꧀꧈
꧋ꦩꦼꦤꦫꦶꦏ꧀ꦏꦼꦭꦶꦩ꧀ꦥꦲꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦏꦼꦱꦸꦏ꧀ꦱꦺꦱꦤ꧀꧈

꧋ꦕꦫꦩꦼꦔꦩꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦩꦤ꧀ꦠꦺꦫꦥꦼꦤꦫꦶꦏ꧀ꦏꦼꦭꦶꦩ꧀ꦥꦲꦤ꧀ꦉꦗ꦳ꦼꦏꦶꦄꦠꦻꦴꦥꦼꦚꦼꦩ꧀ꦥꦸꦂꦤꦄꦤ꧀ꦝꦶꦫꦶꦥꦿꦶꦧꦣꦶ꧇
꧋ꦣꦶꦱꦼꦂꦠꦻꦣꦼꦔꦤ꧀ꦥꦸꦮꦱꦩꦸꦠꦶꦃ꧇꧓꧇ꦲꦫꦶ꧇꧓꧇ꦩꦭꦩ꧀‌ꦣꦶꦩꦸꦭꦻꦥꦣꦲꦫꦶꦏꦩꦶꦱ꧀ꦥꦲꦶꦁ꧉ꦩꦤ꧀ꦠꦺꦫꦆꦤꦶ
꧋ꦣꦶꦧꦕꦱꦼꦠꦶꦪꦥ꧀ꦗꦩ꧀꧇꧑꧒꧇ꦠꦼꦔꦃꦩꦭꦩ꧀ꦱꦼꦧꦚꦏ꧀꧇꧕꧐꧐꧇ꦏꦭꦶꦩꦼꦁꦲꦣꦥ꧀ꦏꦼꦠꦶꦩꦸꦂꦣꦶꦭꦸꦮꦂꦫꦸꦩꦃ꧇
꧋"ꦱꦁꦆꦩ꧀ꦧꦂꦥꦪꦸꦔꦤꦆꦁꦱꦸꦤ꧀‌ꦠꦼꦒꦸꦃꦆꦁꦏꦂꦱꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀
cara mengamalkan Mantera penarik kelimpahan rezeki atau Penyempurnaan Diri Pribadi :
Disertai dengan puasa mutih 3 hari 3 malam, dimulai pada hari Kamis Pahing. Mantera ini
dibaca setiap jam 12 tengah malam sebanyak 500 kali menghadap ke timur di luar rumah :
"Sang imbar payungana ingsun, teguh ing karsaningsun

bacaan doa jawa penarik rejeki

Read More

Penentangan kaum nabi Yunus As terhadap dakwahnya

 KISAH NABI YUNUS A.S

Penentangan kaum nabi Yunus As terhadap dakwahnya

Beliau adalah Nabi yang mulia yang bemama Yunus bin Mata. Nabi Muhammad saw   berkata:   "Janganlah   kalian   membanding-bandingkan   aku   atas   Yunus   bin Mata."

kenapa kaum nabi yunus menentang dakwahnya


Mereka   menamakannya   Yunus,   Dzun   Nun,   dan   Yunan.   Beliau   adalah   seorang Nabi    yang    mulia   yang   diutus   oleh   Allah   s.w.t   kepada    kaumnya.     Beliau menasihati mereka dan membimbing mereka ke jalan kebenaran dan kebaikan; beliau      mengingatkan       mereka      akan     kedahsyatan       hari   kiamat      dan menakut-nakuti mereka dengan neraka dan mengiming-imingi mereka dengan syurga; beliau memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mengajak mereka hanya menyembah kepada Allah s.w.t.

Nabi Yunus senantiasa menasihati kaumnya namun tidak ada seorang pun yang beriman di antara mereka. Datanglah suatu hari kepada Nabi Yunus di mana beliau    merasakan      keputusasaan     dari   kaumnya. Hatinya    dipenuhi    dengan perasaan marah pada mereka namun mereka tidak beriman. Kemudian beliau keluar   dalam   keadaan   marah   dan   menetapkan   untuk   meninggalkan   mereka.

Allah s.w.t menceritakan hal itu dalam firman- Nya:

"Dan   (ingatlah   kisah)    Dzun   Nun   (Yunus),    ketika   ia   pergi   dalam  keadaan marah,     lalu   ia  menyangka      bahawa     Kami   tidak   akan    mempersempitnya (menyulitkannya)        maka    ia  menyeru     dalam    keadaan     yang   sangat    gelap: 'bahawa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau,      sesungguhnya       aku    termasuk     orang-orang      yang    zalim.'"   (QS. al-Anbiya': 87)

Read More