Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 03 Maret 2026

Kebudayaan ottoman

Kekaisaran Ottoman secara resmi berakhir pada 1 November 1922. Namun, kekaisaran yang pernah berjaya selama 600 tahun itu meninggalkan jejak penting dalam sejarah dunia.



Kekaisaran Ottoman berlangsung selama lebih dari enam abad, dari tahun 1299 hingga 1922. Wilayahnya meliputi tiga benua Eropa, Asia, dan Afrika. Kekaisaran ini memerintah lebih dari 70 etnis yang berbicara lebih dari 12 bahasa yang berbeda. Kekaisaran Ottoman menguasai wilayah yang lebih luas daripada Bizantium, dan untuk jangka waktu yang lebih lama daripada Romawi.

“Namun seolah-olah, sebagai suatu bangsa, Ottoman telah menghilang, warisan mereka diabaikan, bahkan terkadang sengaja diabaikan,” tulis Diane Darke di laman Middle East Eye.

Apa saja warisan penting Kekaisaran Ottoman yang masih bisa dinikmati hingga kini?

Sebuah Kekaisaran “Komunitas”

Sejak awal, Kekaisaran Ottoman menarik beragam kelompok masyarakat dan menawarkan perlindungan kepada mereka. “Filosofi ini sangat berlawanan dengan negara-bangsa saat ini,” tambah Darke.

Bukti pendekatan kosmopolitan dan inklusif mereka terlihat jelas hingga saat ini. Terutama dalam warisan arsitektur pusat kota Ottoman di seluruh bekas kekaisaran mereka. Bursa, ibu kota Kekaisaran Ottoman pertama, diakui oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Mereka mendapat pengakuan itu berkat “proses perencanaan kota yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan “nilai-nilai masyarakat” yang tercermin di dalamnya.

Kota ini menjadi model bagi semua kota Kekaisaran Ottoman di masa depan. Kota-kota di Ottoman dirancang terutama untuk melayani kebutuhan sosial, komersial, keagamaan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat. Semua ditampung dalam kompleks kulliye-nya, di mana Ulu Cami atau Masjid Agung dikelilingi oleh khan dan souk. Ada sekolah, rumah sakit, pemandian umum, air mancur minum, dan dapur umum.

Sesuai namanya, yang berasal dari bahasa Arab kull, yang berarti “semua”, fasilitas ini tersedia untuk semua orang, tanpa diskriminasi.

Sifat egaliter masyarakat Ottoman adalah salah satu faktor kunci dalam kelangsungan Kekaisaran Ottoman. Orang Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup dan bekerja berdampingan. Dan setiap orang dihargai atas keterampilan yang mereka bawa ke komunitas. Pasar Bursa masih ramai hingga saat ini dan tetap menjadi pusat perdagangan kota.

Dalam tatanan dunia Ottoman, pedagang dan perajin terampil sangat dihargai. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas nilai mereka bagi masyarakat dan bagi kas negara melalui pendapatan yang mereka hasilkan.

Pola ini diulangi di ibu kota Ottoman kedua di Edirne, dan kemudian di Konstantinopel. Contohnya, Grand Bazaar masih memiliki lebih dari 4.000 toko yang tersebar di 61 jalan 


Pendekatan berbasis komunitas yang sama tampak dalam sikap Ottoman terhadap pengungsi. Sejak awal hingga akhir, para pengungsi disambut untuk menjadi warga negara Ottoman dan menerima perlindungan Ottoman. Baik Muslim, Kristen, Yahudi, atau minoritas lain yang menderita penganiayaan

Pengungsi diberi uang dan tanah untuk membantu mereka bangkit kembali. Semua itu diberikan sebagai imbalan untuk menjadi warga negara yang membayar pajak, bebas beribadah sesuai pilihan dan menggunakan pengadilannya sendiri.

Keadilan adalah prinsip panduan pemerintah, berdasarkan sistem “Circle of Justice”. Dalam Circle of Justice, sultan, tentara, dan rakyat saling bergantung satu sama lain. Kekaisaran mengakui bahwa kelangsungan hidupnya bergantung pada kemakmuran rakyatnya.

Tarif pajak disesuaikan untuk mencerminkan kemakmuran relatif. Desa-desa kaya di sungai-sungai subur dikenakan tarif yang lebih tinggi daripada desa-desa miskin di dekat gurun dan lahan stepa. Setelah kekeringan, kelaparan, atau perang, pajak dikurangi atau bahkan dihapuskan demi mendorong kebangkitan ekonomi.

Warisan Budaya

“Pendekatan seperti yang disebutkan belum bertahan atau diteruskan ke abad ke-21,” Darke menambahkan. Tetapi banyak warisan Ottoman lainnya yang masih ada, sering kali dengan cara yang bahkan tidak disadari oleh kebanyakan orang. Masakan Ottoman, misalnya, menjadi dasar dari apa yang sering disebut sebagai diet Mediterania yang sehat. “Dengan nama-nama seperti yoghurt, baklava, dan kebab yang menjadi bukti asal-usul Turki mereka,” ujar Darke.

Di dapur besar Istana Topkapi, 60 juru masak dipekerjakan, direkrut dari seluruh kekaisaran setelah melalui pengujian yang ketat. Resep-resep yang sangat canggih dirahasiakan, tidak pernah ditulis, dan didasarkan pada bahan-bahan segar.

Kedai kopi dipopulerkan di seluruh Kekaisaran Ottoman. Kopi tiba di ibu kota Ottoman pada tahun 1550-an melalui Suriah dari pelabuhan Moccha di Yaman. Suleiman Agung merupakan pencinta kopi sejati. Ia menetapkan ritual-ritual terkait di bawah “pembuat kopi utama”. Termasuk cangkir keramik khusus yang dibuat dengan sangat indah di tempat pembakaran di Iznik dan Kutahya.

Dari Istanbul, kebiasaan minum kopi menyebar ke seluruh Eropa setelah pengepungan Wina kedua yang gagal. Pengepungn itu menyebabkan tentara Ottoman meninggalkan sejumlah besar persediaan, termasuk sekarung biji kopi.

Tidak seorang pun di pihak Habsburg tahu apa yang harus dilakukan dengan biji kopi tersebut. Kecuali seorang perwira Polandia yang pernah menjadi tahanan Ottoman selama 2 tahun. Ia dianggap sebagai orang yang memberikan cita rasa kopi kepada Wina. Hingga kini kopi tersebut masih disajikan dengan sebutan “wiener art” (“dengan cara Wina”), dengan segelas air. Persis seperti pada zaman Ottoman.

Pada tahun 1700, terdapat sekitar 500 kedai kopi di London, yang dikenal sebagai “universitas penny”. Sebutan itu muncul karena secangkir kopi hanya berharga satu penny dan memberikan akses kepada para pemikir hebat pada masa itu untuk membahas topik-topik penting.

Kopi Turki saat ini diklaim oleh hampir setiap negara Balkan serta provinsi-provinsi Arab. Kopi Turki bereinkarnasi sebagai kopi Arab, Yunani, Bulgaria, Albania, dan sebagainya, dengan ritual keramahan dan persahabatan yang familiar.

Warisan gaya hidup Ottoman lainnya adalah tenda-tenda megah, nenek moyang tenda-tenda modern saat ini. Tenda-tenda itu berasal dari migrasi nomaden selama berabad-abad sebagai ruang multifungsi dengan fleksibilitas tinggi. Beberapa tenda terbaik dilapisi dengan sulaman benang sutra, perak, dan emas dengan kemegahan yang hampir teatrikal. Sulaman menggambarkan panel-panel seperti ubin taman-taman surga yang penuh dengan tulip, simbol Ottoman.

Para penguasa Eropa termasuk raja Prancis Louis XIV adalah penggemar berat tenda Ottoman. Dan tenda “a la Turque” menjadi populer sebagai tempat untuk pesta-pesta besar. Kata Turki “kosk” (dari mana kata kiosk dalam bahasa Inggris berasal), adalah perluasan alami dari budaya tenda. Budaya tenda secara bertahap berkembang menjadi semacam paviliun taman tempat kopi dan minuman lainnya disajikan, seperti rumah kaca modern.

Sofa empuk dengan penyimpanan internal yang hingga kini masih disebut “Ottoman”, adalah barang yang sangat serbaguna. Sofa itu secara tradisional ditumpuk dengan bantal, warisan lain dari kaum nomaden di mana perabotan harus melayani banyak tujuan.

Pakaian juga dirancang untuk kenyamanan dan fleksibilitas. Pakaian wanita khususnya sangat dipengaruhi oleh gaya dan kepraktisan Ottoman. Cucu Ratu Victoria, Alix dari Hesse, permaisuri terakhir Rusia, mengenakan kaftan longgar pada penobatannya pada tahun 1896. Busananya sangat kontras dengan gaun korset para tamu kelas atasnya.

Kaftan kemudian menjadi populer sebagai bagian dari budaya “jalur hippie” tahun 1960-an. Di bawah jubah warna-warni mereka, wanita Turkmenistan mengenakan celana salvar longgar yang sama dengan pria. Mereka pun dapat bertempur bersama mereka di atas kuda, bahkan dengan bayi yang digendong di punggung mereka.

Para feminis awal, setelah pertama kali melihat celana tersebut di wilayah Ottoman, membawanya ke Inggris, dari sana menyebar ke Amerika. Celana tersebut dinamai ulang “bloomers” setelah aktivis hak-hak perempuan Amelia Jenks Bloomer. Maka, asal-usul Ottoman-nya dilupakan.

Handuk yang berasal dari pemandian Turki merupakan kain katun penyerap dengan simpul. Kata Turki untuk handuk adalah havlu yang berarti “dengan simpul”. Handuk kemudian terjangkau secara luas di Barat ketika perusahaan Inggris Christy & Sons, setelah menemukannya di Grand Bazaar Istanbul, mengindustrialisasi produksinya pada tahun 1850-an.

Masakan dan kopi, handuk dan tulip masih ada bersama kita, memperkaya kehidupan kita sehari-hari. Namun semakin sedikit orang yang masih hidup yang dapat mengingat warisan budaya Ottoman yang unik lainnya. Banyak orang tidak mengetahui bagaimana rasanya tinggal di kota-kota multietnis dan multiagama yang menjadi ciri khas kekaisaran. Dari Izmir, Thessaloniki, Yerusalem hingga Damaskus, Aleppo, dan Istanbul itu sendiri.

0 comments:

Posting Komentar