Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 03 Maret 2026

Sejarah kekaisaran ottoman

 Di bawah Sultan Bayezid, “Sang Petir”, Kekaisaran Ottoman meraih serangkaian kemenangan militer yang menakjubkan di Balkan dan Asia Barat. Namun, ambisi Bayezid menempatkannya di jalur penakluk Turki-Mongol, Timur, yang menangkap Sultan dalam pertempuran.



Dikenal sebagai Masa Interregnum, ini memulai perang saudara selama satu dekade. Akibat perang saudara tersebut, Kekaisaran Ottoman kehilangan wilayah yang hampir menghancurkan kekaisaran itu sepenuhnya.

Bagaimana kisahnya?

Ottoman: Dari Klan Nomaden Menjadi Kekaisaran

Ottoman lebih sering dikenang sebagai dinasti kekaisaran yang perkasa. Namun mereka berasal dari awal yang sederhana. Pendiri kekaisaran, Osman I, adalah putra Ertughrul, seorang kepala suku nomaden atau pejuang suku. Osman adalah salah satu dari banyak kepala suku Turkik yang berlomba untuk menguasai Anatolia—Turki modern—setelah runtuhnya kekuasaan Seljuk.

“Putra Osman, Orhan, memperluas kerajaan kecil itu dengan menaklukkan kota-kota Bizantium dan bahkan menikahi Putri Bizantium, Theodora,” tulis Hilal Nur Kuyruk di laman The Collector. Pernikahan ini memperkuat aliansinya dengan penguasa Bizantium, John VI Cantacuzenus.

Orhan memerintah selama sekitar 40 tahun dan membangun lembaga-lembaga menetap yang penting. Seperti masjid, karavanserai (penginapan di tepi jalur perdagangan), dan perguruan tinggi teologi (madrasah).

Setelah kematian Orhan, putranya Murat I menjadi penguasa dan menyebut dirinya sebagai sultan. Momen ini menandai pergeseran menuju bentuk pemerintahan yang lebih sesuai dengan masyarakat Islam yang menetap, daripada masyarakat Turkik nomaden.

Murat ingin memperluas kekuasaan Ottoman di seluruh Anatolia dan Balkan. Ia menaklukkan Adrianople (Edirne), menjadikannya ibu kota Ottoman yang baru.

Selanjutnya, Murat beralih ke Balkan. Ia merebut tanah di Bulgaria dan menerapkan kebijakan devshirme yang terkenal kejam. Kebijakannya itu menyebabkan anak laki-laki Kristen di Balkan diambil sebagai wajib militer dan dibesarkan di istana Kekaisaran Ottoman. Banyak dari anak laki-laki ini menjadi janissari, korps tempur elite sultan yang berperan penting dalam keberhasilan militer Ottoman.

Akhir Murat datang pada tahun 1389 ketika ia dibunuh selama Pertempuran Kosovo.

Ambisi Bayezid

Bayezid I, putra Murat, memimpin sayap kiri tentara ketika ayahnya terbunuh. Bayezid segera mencekik saudara laki-lakinya dan saingannya Yakub Çelebi. Hal ini dilakukan agar tidak ada yang menantang kekuasaannya. Bayezid dijuluki “petir,” sebuah julukan yang merujuk pada kecepatan dan kekuatan yang digunakannya untuk menaklukkan wilayah.

Namun, sifat ambisius Bayezid akan membuatnya bermasalah dengan kerajaan-kerajaan Turki lainnya yang memerintah Anatolia. Perbatasan kekaisaran perlahan-lahan meluas ke perbatasan kerajaan-kerajaan lain seperti Aydinid. Sesuai dengan reputasinya, ia dengan cepat mencaplok wilayah-wilayah negara-negara tersebut dengan dukungan para pengikut Kristennya.

Ia percaya bahwa para prajurit Turki di bawah komandonya mungkin enggan untuk melawan sesama orang Turki. Karena itu, Bayezid mulai mengabaikan para ghazi, para prajurit yang dulunya merupakan seluruh angkatan bersenjata. Para pejuang Turki ini semakin terasingkan oleh Bayezid, yang kebijakan-kebijakannya tidak lagi mereka setujui.

Namun, Bayezid masih memiliki pengikut Serbia dan Bizantium, serta pasukan Janissari, untuk diperangi jika para ghazi menolak. Ia terus maju dan mencaplok kerajaan Germiyan, Teke, dan Hamid.

Ia juga merebut kota-kota bersejarah penting seperti Konya, ibu kota lama Seljuk. Namun, serangan Bayezid yang tak henti-hentinya terhadap emirat-emirat Muslim ini berakhir dengan keterlibatan Timur, penakluk Turki-Mongol.


Timur the Lame: Cambuk Tuhan

Timur, yang sering disebut Tamerlane di Barat, lahir di Uzbekistan modern, sebagai putra seorang bangsawan. Ia berasal dari suku Barlas, sebuah kelompok Mongol yang telah mengalami Turkifikasi. Timur mengalami peningkatan kekuasaan yang eksponensial. Dari seorang perampok nomaden, ia menjadi pemimpin militer, dan akhirnya menjadi penakluk dan emir (penguasa).

Reputasi penakluk mendahuluinya. Kisah-kisah tentang kekejaman dan kebiadabannya menyebar ke seluruh Eropa dan Asia. Seperti bangsa Mongol di bawah Genghis Khan berabad-abad sebelumnya, Timur tidak kenal ampun terhadap komunitas yang menentang kekuasaannya.

Serangan militernya di Iran mengungkapkan sejauh mana Timur siap menghukum mereka yang tidak tunduk kepadanya. Saat itu, penduduk Isfahan memberontak terhadap pajaknya yang berat. “Timur dilaporkan telah membunuh lebih dari 100.000 orang dan membangun menara dari tengkorak mereka,” ungkap Kuyruk

Namun, reputasi menakutkan itu adalah taktik menakut-nakuti yang efektif yang mempermudah penaklukan Timur. Faktanya, mereka yang tunduk, seperti penduduk Tabriz (Iran), dibiarkan dalam keadaan relatif damai. Timur terlibat dalam pertempuran di sekitar Asia Tengah dan anak benua India.

Ia meninggalkan Anatolia untuk mengurus dirinya sendiri. Namun, penaklukan kerajaan-kerajaan Turki oleh Bayezid—beberapa di antaranya membayar upeti kepada Timur—tidak dapat diterima di mata Timur.

Sepanjang tahun 1390-an, Timur dan Bayezid bertukar beberapa surat untuk menyelesaikan situasi ini. Surat-surat tersebut berisi banyak ungkapan penghinaan. Termasuk Bayezid yang disebut “semut” oleh Timur, dan Timur yang disebut “anjing tua” oleh Bayezid. Pada awal abad ke-15, kedua penguasa mulai melakukan persiapan strategis untuk perang.

Akibat Pertempuran Ankara

Dengan dalih mengembalikan kerajaan-kerajaan Turki kepada pemiliknya yang sah, Timur berangkat ke Anatolia pada tahun 1400. Dengan pasukan sebanyak 140.000 tentara, ia menghadapi Bayezid di medan perang pada tahun 1402.

Pasukan Bayezid mulai hancur ketika suku-suku Turki membelot, memilih untuk berperang demi Timur. Pasukan tersebut merasa memiliki ikatan kekerabatan sebagai mantan pengembara stepa dengan Timur. Para pengikut Bayezid di Balkan juga mundur sebelum waktunya, semakin melemahkan kekuatan militernya. Puncaknya adalah ketika Bayezid ditangkap oleh pasukan Timur.

Bayezid dan keluarganya, termasuk istrinya Despina dan putranya Mustafa, ditawan oleh Timur hingga kematian Bayezid yang mencurigakan pada 1403. Putra-putra Bayezid bertindak karena aturan suksesi Turki yang memungkinkan setiap anggota keluarga kerajaan laki-laki untuk menjadi sultan. Namun, Timur mengakui Mehmet sebagai pewaris ayahnya dan menempatkannya di tahta Kekaisaran Ottoman.

Namun, putra-putra Bayezid lainnya menolak keputusan Timur. Mereka menolak untuk mengakui otoritas Mehmet. Semuanya mengeklaim bahwa mereka berhak memerintah kerajaan kecil itu. Tampaknya perang saudara tak terhindarkan.

Perang Saudara yang Hampir Menghancurkan Kekaisaran Ottoman

Kakak laki-laki Mehmet, Isa, memantapkan dirinya sebagai penguasa di Bursa. Dengan dorongan dari para penasihatnya, Mehmet meninggalkan provinsi Amasya. Ia melancarkan perang terhadap kakak laki-lakinya.

Setelah kalah dalam pertempuran kecil, Isa meminta bantuan Bizantium dan saudaranya Suleiman. Pada tahun 1406, saat sedang mandi di hamam (pemandian Turki), pasukan Mehmet menyergap Isa dan mencekiknya hingga tewas.

Dari keempat saudara yang masih hidup, Mehmet memiliki dukungan terkuat. Setelah kematian wazir agungnya, Çandarli Ali Pasa, kedudukan Suleiman di antara banyak penduduk perbatasan dan suku-suku Turki mulai melemah.

Sebagai seorang pejuang sejati, Suleiman menghabiskan beberapa tahun berikutnya berkeliling kekaisaran. Suleiman mengampanyekan dukungan untuk Bizantium, kekuatan bawahan seperti Bulgaria, dan suku-suku Turkmen di Balkan.

Setelah mendengar kedatangan saudaranya, Musa, di Edirne pada musim dingin tahun 1411, Suleiman berusaha melarikan diri. Namun, ia dibunuh oleh penduduk desa yang percaya bahwa mereka akan menerima hadiah dari saingannya. Yang mengejutkan mereka, Musa sangat marah karena darah bangsawan telah ditumpahkan oleh rakyat jelata dan memerintahkan penghancuran seluruh desa mereka.

Kemenangan Mehmet

Karena Pangeran Mustafa masih ditawan di istana Timurid, hanya ada dua kandidat untuk takhta. Mereka adalah Pangeran Mehmet dan Musa. Kedua bersaudara itu sepakat untuk membagi wilayah Kekaisaran Ottoman yang tersisa menjadi dua. Mehmet memerintah sebagai Sultan di Anatolia dan Musa, yang juga seorang sultan, memerintah wilayah Eropa.

Namun, ini bukanlah yang sebenarnya diinginkan Musa. Pada Februari 1411, Musa menyatakan kemerdekaannya dengan mencetak koin atas namanya sendiri. Ia juga mengepung Konstantinopel, seperti yang dilakukan ayahnya, Bayezid.

Kaisar Bizantium Manuel II Palaeologus yang sedang kesulitan memohon perlindungan kepada Mehmet untuk melawan serangan saudaranya. Mehmet membawa pasukannya ke Konstantinopel, di mana mereka menyerang—meskipun tidak berhasil—pasukan Musa.

Mehmet membutuhkan bantuan lebih lanjut. Ia meminta bantuan Stefan Lazarević, penguasa Serbia dan saudara laki-laki Despina Hatun, istri Bayezid I. Pada tanggal 5 Juli 1413, di Samokov, Bulgaria modern, pasukan Mehmet dan Musa bertemu. Meskipun awalnya berhasil, pasukan Musa kehilangan pijakan ketika para bangsawan membelot ke pihak Mehmet.

Pertempuran Çamurlu berakhir dengan kemenangan pasukan Mehmet dan kematian Musa. Mehmet kini menjadi sultan di Kekaisaran Ottoman yang tak tertandingi. Pemerintahannya berlangsung hingga kakak laki-lakinya, Mustafa, dibebaskan dari penawanan oleh putra Timur, Shahrukh. Dari tahun 1415-1416, masa interregnum sempat dimulai kembali. Untungnya bagi Mehmet, Kaisar Bizantium setuju untuk tetap menahan Mustafa di pulau Lesbos selama sisa masa pemerintahan Mehmet.

Masa Pemerintahan dan Perjuangan Mehmet

Masa pemerintahan Mehmet berperan penting dalam menghidupkan kembali Kekaisaran Ottoman. Dipuji sebagai “pendiri kedua” Kekaisaran Ottoman, Mehmet mendirikan ibu kotanya di Edirne, sebuah kota terkemuka di dekat Konstantinopel. Ia juga meraih banyak wilayah kekuasaan di Balkan dan Anatolia Timur.

Meskipun demikian, pemerintahannya tidak tanpa masalah. Mustafa, kakak laki-lakinya, sempat mengeklaim kekuasaan. Di Rumelia—provinsi-provinsi Eropa kekaisaran—muncul gerakan keagamaan populer yang dipimpin oleh mistikus Sufi dan revolusioner Sheikh Bedreddin. Pada tahun 1416, gerakan ini berubah menjadi pemberontakan besar-besaran terhadap pemerintahan Mehmet.

Mehmet berusaha memulihkan wilayah-wilayah kekaisaran sebelumnya, para wazirnya menangani pemberontakan yang diilhami oleh syekh mistikus ini. Pada tahun 1420, Bedreddin, bersama ribuan pengikutnya, dibantai, mengakhiri tantangan terhadap otoritas Mehmet.

Mehmet meninggal setahun kemudian, meninggalkan takhta kepada putranya yang berusia 16 tahun, Murat. Masa interregnum secara resmi berakhir ketika sultan muda itu mewarisi kekaisaran yang relatif bersatu seluas 870.000 kilometer persegi. Murat akan segera menghadapi masalah sosial dan politiknya sendiri. Meski demikian, Murat berutang budi atas kemajuan intelektual dan artistik pada zamannya kepada upaya ayahnya untuk perdamaian.

0 comments:

Posting Komentar