Kisah Nabi Yunus AS selamat dari perut ikan nun
Allah s.w.t berfirman:
"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke
kapal yang penuh
muatan, kemudian ia
ikut berundi lalu
dia termasuk orang-orang yang
kalah dalam undian.
Maka ia ditelan
oleh ikan besar dalam
keadaan tercela. Maka
kalau sekiranya ia
tidak termasuk orang-orang yang
banyak mengingat Allah, nescaya ia akan tetap tinggal di perut ikan
itu sampai hari
berbangkit. Kemudian Kami
lemparkan dia ke daerah
yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.
Dan kami tumbuhkan untuk dia
sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus orang atau
lebih. Lalu mereka
beriman, kerana itu
Kami anugerahkan kenikmatan hidup
kepada mereka hingga
waktu yang tertentu." (QS. ash-Shaffat: 139-148)
"Dan
(ingatlah kisah) Dzunnun
(Yunus), ketika ia
pergi dalam keadaan marah, lalu mereka menyangka bahawa
Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka
ia menyeru dalam
keadaan yang sangat
gelap: 'bahawa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim.' Maka Kami
telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari
kedukaan. Dan demikianlah Kami
selamatkan orang-orang yang
beriman." (QS. al-Anbiya': 87-88)
Kita sekarang ingin membahas masalah yang menurut ulama disebut sebagai dosa Nabi Yunus. Apakah Nabi Yunus melakukan suatu dosa dalam pengertian yang hakiki, dan apakah para nabi memang berdosa? Jawabannya adalah: Para nabi adalah orang-orang yang maksum tetapi kemaksuman ini tidak bererti bahawa mereka tidak melakukan sesuatu yang menurut Allah s.w.t itu pantas mendapatkan celaan (hukuman).
Jadi masalahnya agak relatif. Menurut orang-orang yang dekat dengan Allah s.w.t: Kebaikkan orang-orang yang baik dianggap keburukaan bagi al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah s.w.t). Ini memang benar. Sekarang, marilah kita amati kasus Nabi Yunus. Beliau meninggalkan desanya yang banyak dipenuhi oleh orang-orang vang menentang. Seandainya ini dilakukan oleh orang biasa atau oleh orang yang saleh selain Nabi Yunus maka hal itu merupakan suatu kebaikan dan kerananya ia diberi pahala. Sebab, ia berusaha menyelamatkan agamanya dari kaum yang durhaka. Tetapi Nabi Yunus adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah s.w.t kepada mereka. Seharusnya ia menyampaikan dakwah di jalan Allah s.w.t dan ia tidak peduli dengan hasil dakwahnya. Tugas beliau hanya sekadar menyampaikan agama. Keluarnya beliau dari desa itu - dalam kacamata para nabi - adalah hal yang mengharuskan datangnya pelajaran dari Allah s.w.t dan hukuman- Nya padanya.
Allah s.w.t memberikan suatu pelajaran kepada Yunus dalam hal dakwah di jalan-Nya. Allah s.w.t mengutusnya hanya untuk berdakwah. Inilah batasan dakwahnya dan beliau tidak perlu peduli dengan kaumnya yang tidak mengikutinya dan kerana itu beliau tidak harus menjadi sedih dan marah. Nabi Luth tetap tinggal di kaumnya meskipun selama bertahun- tahun berdakwah beliau tidak mendapati seorang pun beriman. Meskipun demikan, Nabi Luth tidak meninggalkan mereka. Ia tidak lari dari keluarganya dan dari desanya. Beliau tetap berdakwah di jalan Allah s.w.t sehingga datang perintah Allah s.w.t melalui para malaikat-Nya yang mengizinkan beliau untuk pergi. Saat itulah beliau pergi. Seandainya beliau pergi sebelumnya nescaya beliau akan mendapatkan siksaan seperti yang diterima oleh Nabi Yunus. Jadi, Nabi Yunus keluar tanpa izin. Lalu perhatikan apa yang terjadi pada kaumnya. Mereka
telah beriman setelah keluamya Nabi Yunus. Allah s.w.t berfirman:
"Dan mengapa tidak ada penduduk suatu kota yang
beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala
mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami
hilangkan dari mereka
azab yang menghinakan
dalamkehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu
yang tertentu." (QS. Yunus: 98)

0 comments:
Posting Komentar