DALIL TENTANG ALAM KUBUR
DALIL AL
QUR'AN ADANYA ALAM KUBUR
Dalil pertama Allah ta'ala berfirman: “dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Arwah Fir’aun dan pengikutnya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus- menerus hingga datang hari kiamat. Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan api neraka”.
Beliau juga berkata,
“Ayat-ayat ini adalah landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya adzab
kubur. Hal ini juga senada dengan penjelasan jumhur ahli tafsir seperti
Mujahid , Al Alusi ,Asy Syaukani ,
Al Baidhawi , Muhammad
Amin Asy Syinqithi , Abdurrahman As Sa’di . 2 QS. Al Mu’min: 45-46 3 Tafsir Al Qur’an Azhim (Tafsir Ibnu Katsir),
7/146 4 Lihat An Nukat wal’ Uyun, 4/39,
karya Al Mawardi 5 Ruuhul Ma’ani
(Tafsir Al Alusi), 18/103 6 Fathul
Qadir, 6/328 7 Anwar At Tanziil (Tafsir
Al Baidhawi), 5/130 8 Adhwa’ Al Bayan,
7/82 9 Taisiir Kariim Ar Rahman (Tafsir
As Sa'di), halaman 738
Memang
benar bahwa ada
penafsiran lain terhadap
ayat ini. Qatadah menafsirkan bahwa maksud ayat
(yang artinya) “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan
petang adalah taubiikh atau penghinaan
terhadap Fir’aun dan
pengikutnya dalam keadaan
mereka masih hidup. Penafsiran ini walaupun tidak
menetapkan adanya adzab kubur namun tidak menafikannya. Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menafsirkan
bahwa arwah mereka ada
di sayap burung
hitam yang bertengger
di atas neraka
yang datang di kala
sore dan pagi
hari. Penafsiran Ibnu
Abbas ini pun menetapkan adanya alam kubur. Ahli
tafsir yang terpengaruh permikiran mu’tazilah memang membantah bahwa ayat ini
membicarakan adzab kubur. Semisal Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf dan
Fakhruddin Ar Razi dalam Mafatihul Ghaib, dengan sebatas bantahan
logika semata. Maka,
-insya Allah- penafsiran
yang tepat adalah yang kami
sebutkan di awal karena bersesuaian dengan dalil-dalil dari Al Qur’an
dan hadits serta
pemahaman salafus shalih,
yang akan kami jelaskan nanti. Karena antara dalil itu
saling menafsirkan dan tidak mungkin saling bertentangan.
Dalil ke
dua Allah ta'ala berfirman: “Alangkah dahsyatnya
sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam
tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,
(sambil berkata): “Keluarkanlah
nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat
menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu
menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya . Al
Imam Al Bukharirahimahullah, dalam Shahih-nya membuat
judul b a b (bab dalil-dalil
tentang adzab kubur)
lalu beliau menyebutkan ayat
di atas. Ini
menunjukkan bahwa Imam
Al Bukhari memahami bahwa ayat
di atas adalah dalil tentang adanya adzab kubur dan alam kubur. Seorang pakar
tafsir di zaman
ini, Syaikh Abdurrahman
As Sa’di -rahimahullah-
menjelaskan, “Ayat ini adalah dalil adanya adzab dan nikmat kubur. Karena
dari konteks kalimat,
adzab yang ditujukan
kepada orang- orang kafir
tersebut dirasakan ketika
sakaratul maut, ketika
dicabut nyawa dan setelahnya”.
Dalil ke
tiga Allah ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu
mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu)
mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup,
tetapi kamu tidak menyadarinya. Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
memaparkan,“Allah ta’ala mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam
barzakh dalam keadaan senantiasa diberi rezeki oleh Allah, sebagaimana dalam
hadits yang terdapat pada Shahih Muslim… (lalu beliau menyebutkan
haditsnya)”.Mengenai keadaan para
syuhada yang setelah wafat mendapat kenikmatan di sisi Allah di alam barzakh
adalah pendapat jumhur mufassirin, di
antaranya Mujahid, Qatadah,
AbuJa’far,‘Ikrimah,Jalalain,Al Baghawi,Al Alusi, dll.
Mereka hanya
berbeda pendapat tentang bagaimana
bentuk rezeki atau kesenangan tersebut.
Ayat ini sejalan
dengan ayat lain
dalam surat Ali
Imran, Allah ta'ala berfirman:“Dan jangan sekali-kali kamu
mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka
itu hidup di sisi Tuhannya mendapat
rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah
kepadanya, dan berbahagia terhadap orang
yang masih tinggal di belakang yang belum
menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka
tidak bersedih hati. Mereka berbahagia
dengan nikmat dan karunia dari Allah.
Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
beriman Sebagaimana juga
penjelasan dari Al
Hasan Al Bashri rahimahullah, “Para syuhada
itu hidup di
sisiAllah, mereka dihadapkan
kepada surga sehingga mereka pun
merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Sebagaimana arwah Fir’aun dan kaumnya
yang dihadapkan ke neraka setiap pagi dan sore hari sehingga
mereka merasakan kesengsaraan”. Artinya, para
syuhada merasakan
kebahagiaan dan kesenangan
di alam barzakh sebagaimana Fir’aun merasakan kesengsaraan
juga di alam barzakh. Sehingga jelas bahwa ayat-ayat di atas menunjukkan adanya
adzab kubur dan nikmat kubur.
Dalil ke
empat Allah ta'ala
berfirman:“Dan di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu,
ada orang-orang munafik. Dan di antara
penduduk Madinah (ada juga orang- orang munafik), mereka keterlaluan dalam
kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak
mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian
mereka akan dikembalikan kepada azab
yang besar . Yang dimaksud dengan
“mereka akan Kami siksa dua kali” dalam ayat ini, menurut
Qatadah dan Muhammad
bin Ishaq adalah
adzab kubur dan adzab di akhirat. Sedangkan menurut Al
Hasan Al Bashri, salah satu riwayat dari
Qatadah dan Ibnu
Juraij rahimahumullah adalah adzab
ketika masih hidup di dunia dan
adzab kubur. Ath Thabari rahimahullah merajihkan dengan
mengatakan: “Dua adzab tersebut terjadi sebelum mereka diadzab di neraka. Dan
pendapat yang kuat, salah satu dari adzab tersebut adalah adzab kubur”.
Dalil ke
lima Allah ta'ala
berfirman: “Dan andaikan kamu melihat
ketika para malaikat mencabut nyawa orang-
orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka
yang membakar. Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan
tangan kalian sendiri. Dan sesungguhnya
Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya .Syaikh
Khalid Al Mushlih hafizhahullah menjelaskan
ayat ini, beliau mengatakan, “Allah 'azza
wa jalla menyebutkan
keadaan mereka yang mendapatkan adzab ketika dicabut ruh
mereka. Kemudian setelah itu Allah ta'ala
berfirman (yang artinya),
“Rasakanlah olehmu siksa
neraka yang membakar”. Setelah
itu Allah menyebutkan tentang adzab yang membakar, yaitu adzab
neraka. Semoga Allah
ta'ala memberikan keselamatan
kepada kita dari semua
itu”29. Syaikh Muhammad
bin Shalih Al
Utsaimin rahimahullah juga menyebutkan
ayat ini sebagai
salah satu dalil
tentang adanya adzab kubur.
Dalil ke
enam Allah ta'ala berfirman: “Sekiranya engkau melihat pada waktu
orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat
memukul dengan tangannya, (sambil
berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan,
karena kamu mengatakan terhadap Allah
(perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya As Safarini rahimahullah
mengatakan, “Ulama seorang muhaqqiq, Ibnul Qayyim, dalam kitab beliau Ar Ruh,
bahwa di antara dalil adanya adzab dan nikmat
kubur dalam Al
Qur'an Al Majid
adalah ayat “Sekiranya
engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan
sakaratul maut... ” (QS. Al An'am: 93).
Konteks ayat ini
secara jelas bicara
tentang kejadian ketika menjelang kematian”. Syaikh Shalih
bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Konteks dari ayat ini,
kejadian tersebut terjadi ketika menjelang kematian. Dalam ayat
ini disebutkan bahwa
Malaikat mengabarkan (dan
Malaikat adalah makhluk yang jujur) bahwa ketika itu si mayit merasakan
adzab yang menghinakan. Jika adzab
yang menghinakan tersebut
terjadi ketika dunia berakhir, maka
tidak tepat perkataan
Malaikat “pada hari
ini kamu akan dibalas”. Sehingga
ini menunjukkan bahwa
yang dimaksud dengan
“adzab yang menghinakan” itu adalah adzab kubur”. Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah juga menyebutkan ayat ini sebagai salah satu
dalil tentang adanya adzab kubur.
Dalil ke
tujuh Allah ta'ala berfirman: “(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh
para malaikat dalam keadaan baik,
mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum (semoga keselamatan terlimpah
kepada engkau), masuklah ke dalam surga
karena apa yang telah kamu kerjakan
Ath Thabari rahimahullah dalam
Tafsir-nya menjelaskan: “Maksudnya, para
Malaikat mencabut ruh
mereka orang-orang yang
bertakwa sambil mengatakan: “Salamun
'alaikum! Masuklah ke
surga”. Sebagai kabar gembira dari
Allah yang disampaikan
oleh para Malaikat”.
Mengenai al busyra atau kabar gembira di saat kematian ini, akan
dijelaskan lebih detail di bab “Al busyra menjelang kematian” di buku ini.
Syaikh Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin rahimahullah
menjelaskan: “Di antara akidah
Ahlussunnah wal Jama'ah
adalah menetapkan adanya nikmat
kubur. Dalilnya firman Allah ta'ala ...
(beliau menyebutkan ayat
di atas). Mereka diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan baik,
maksudnya baik akidah mereka, dan baik pula amalan mereka. Maka para Malaikat
pun berkata menjelang kematian
si hamba tersebut,
“masuklah ke dalam
surga karena apa yang telah kamu kerjakan!”. Ini dikatakan oleh para
Malaikat di hari ketika si hamba wafat”.
Jika ada yang
bertanya, “Andai kejadian
ini terjadi di
alam kubur, mengapa dikatakan “masuklah
ke dalam surga...
? Bukankah hal
ini menunjukkan kejadian tersebut terjadi di akhirat?”. Jawabannya
sebagaimana telah dijelaskan oleh Ath Thabari, rahimahullah bahwa
perkataan “masuklah ke dalam
surga.. itu adalah kabar
gembira dari para
Malaikat. Sehingga tidak
bertentangan dengan keterangan bahwa perkataan tersebut disampaikan di alam
kubur.
Demikian
juga Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“Dikatakan demikian karena terdapat dalam sebuah hadits yang shahih: “Ia akan
diluaskan kuburnya, dan
akan dibukakan baginya
pintu surga. Sehingga ia mendapatkan harum
dan nikmatnya surga
yang menyejukkan matanya. S e m o g a
k i t a t e r m a s u k o r a n
g y a n g mendapatkannya. Dan dalam
firman Allah ta'ala (yang artinya) “masuklah ke dalam surga karena apa yang
telah kamu kerjakan”, huruf ba' di sini adalah ba'sababiyah”. Sehingga
dalam ayat ini
para Malaikat seolah
ingin mengatakan: “kamu akan masuk surga karena telah melakukan sebab-sebab
yang membuat seseorang masuk surga”. Bukan berarti si hamba masuk surga ketika
itu.
Dalil ke
delapan Allah ta'ala
berfirman: “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan
lalu dimasukkan ke dalam neraka, maka
mereka tidak mendapat penolong selain Allah”.
Syaikh Shalih bin
Fauzan Al Fauzan
menjelaskan tentang ayat
ini: “Fir'aun mendapatkan hukuman, yaitu Allah tenggelamkan ia dan
kaumnya di laut. Kemudian
setelah itu, Allah
masukkan mereka ke
dalam neraka. Sebagaimana firman
Allah ... (beliau membawakan ayat
di atas). Maka, hukuman berupa neraka ini terjadi di
alam barzakh. Sebagaimana Allah ta'ala berfirman (yang
artinya) : “Neraka
ditunjukkan kepada mereka
pagi dan sore hari (QS. Ghafir: 46). Ini terjadi di alam
barzakh, sebelum hari akhirat. Neraka ditunjukkan kepada mereka di pagi dan
sore hari sampai hari Kiamat. Ini adalah dalil tentang adanya adzab kubur. Wal
'iyyadzubillah”. Dan masih banyak lagi
dalil dari Al Qur’an Al Karim yang menetapkan adzab kubur sekiranya kita mau
merujuk pada penjelasan para ulama.
Sumber
:
38 HR. Abu
Daud no.4753, Ahmad no.17803, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud. 39
Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 440 40 QS. Nuh: 25 41 Syarhu
Tsalatsatil Ushul, hal. 50 - 51 35 QS. An Nahl: 32 36 Tafsir Ath Thabari, 7/580
37 Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, hal. 439 31 QS. Al An'am: 93 32
Lawaihul Anwar As Saniyyah wa Lawaqihul Afkar As Saniyyah, 2/157 33 Al Irsyad
ila Shahihil I'tiqad, hal. 275 34 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah (hal. 437)
dan juga Syarhu Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah (hal. 443) 28 QS. Al Anfal: 50 – 51 29 Syarhu Lum'atil
I'tiqad, 12/12 30 Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyyah, hal. 437
24 QS. At
Taubah: 101 25 Tafsir At Thabari no.17130, Tafsir Al Qur'anil Azhim (7/273) 26
Tafsir At Thabari no.17131, 17132, 17133 27 Tafsir Ath Thabari, 14/445
18 Lihat Tafsir Ath Thabari, 3/214 19 Tafsir Jalalain, halaman 160. Disebut sebagai
Jalalain (dua Jalal), karena kitab tafsir ini ditulis oleh Jalaluddin Al Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli
rahimahumallah. 20 Ma’alim At Tanzil,
halaman 168 21 Ruuhul Ma’ani, 2/64
22 QS. Ali Imran: 169 - 171 23 Dinukil dari Ma’alim At Tanzil, halaman 168
13 QS. Al
An’am: 93 14 Taisiir Kariim Ar Rahman, halaman 264 15 QS. Al Baqarah: 154 16
Alam barzakh artinya alam kubur. Al barzakh secara bahasa artinya sesuatu yang
ada di antara dua hal (Lisaanul 'Arab).
Alam kubur disebut sebagai alam barzakh karena ia ada di antara alam
dunia dan alam akhirat. 17 Tafsir Al Qur’an Azhim, 1/446 Lihat An Nukat Wal’Uyun,
4/39 11 Al Kasyaf, 6/118 12 Mafatihul Ghaib, 13/342
DALIL AS
SUNNAH ADANYA ALAM KUBUR
Dalil
pertama Dari
Anas bin Malik radhiallahu'anhu, bahwa
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak akan
saling menguburkan, tentulah aku akan
berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar”. Dalam riwayat yang lain
terdapat tambahan:“Setelah itu Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berbalik
menghadap kami, dan bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab
neraka! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab neraka. Nabi bersabda:
mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Para sahabat pun berkata:
kami meminta perlindungan kepada Allah dari adzab kubur. Nabi bersabda:
mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang
tersembunyi! Para sahabat pun berkata: kami meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang
tersembunyi. Nabi bersabda: mintalah perlindungan kepada Allah dari fitnah
dajjal! Para sahabat pun berkata:
kami meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal D a l a m k i t a b Silsilah Ahadits Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa syawahid, yaitu
dari jalan Zaid bin Tsabit dan dari jalan Jabir bin Abdillah. Setelah itu,
beliau memberikan penjelasan penting. Beliau berkata: “Dari beberapa hadits
di atas terdapat
banyak faedah, yang
paling penting di antaranya:
Pertama, menetapkan adanya adzab kubur, dan hadits-hadits tentang
hal i n i mutawatir. Maka tidak
ada lagi kerancuan
bila ada yang
mengklaim bahwa hadits-hadits tentang hal ini adalah hadits Ahad.
Kedua,
pun andaikata memang
benar hadits-haditsnya adalah
hadits Ahad, tetap wajib
mengimaninya karena Al
Qur’an telah menunjukkan kebenarannya. (Kemudian Syaikh Al
Albani membawakan surat Ghafir ayat 45-46). Ketiga, pun andaikata memang benar
bahwa permasalahan adzab kubur tidak ada dalam Al Qur’an, maka hadits-hadits
shahih yang ada sudah cukup untuk
menetapkan akidah tentang
adzab kubur ini.
Klaim bahwa perkara aqidah tidak
bisa ditetapkan dengan
hadits Ahad yang shahih
adalah klaim yang batil
yang diselipkan ke
dalam ajaran Islam.
Tidak ada imam
yang mengatakan pendapat demikian,
tidak tidak katakan
oleh imam madzhab yang
empat atau semisal
mereka. Pendapat ini
hanya dikemukakan oleh ulama ahli kalam yang sama sekali tidak
didasari oleh dalil”. Beliau juga
mengatakan, “Adanya pertanyaan
dua Malaikat di
alam kubur adalah benar adanya. Wajib untuk mengimaninya. Hadits tentang
hal ini pun mutawatir”.
Dalil ke
dua Dari Aisyah
radhiallahu ‘anha, ia berkata:“Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan
Yahudi di Madinah datang kepadaku.
Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam
kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak mempercayainya. Kemudian mereka
berdua keluar. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam datang menemuiku.
Maka aku pun
menceritakan apa yang dikatakan dua
orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu
bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan
semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku pun
melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap
selesaishalat”.Hadits ini menunjukkan
dengan tegas tentang
adanya adzab kubur
dan alam kubur. Diperkuat lagi
dengan pemahaman Aisyah radhiallahu'anha yang menyampaikan
hadits ini, menunjukkan bahwa
Aisyah radhiallahu'anha juga meyakini adanya adzab kubur dan alam kubur.
Dalil ke
tiga Dari Al Barra' bin Azib radhiallahu'anhu,
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Jika seorang mukmin telah
didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian
didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan
menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan
rasuulullah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala
(yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: )”. Ini adalah dalil Al Qur’an sekaligus As
Sunnah. Karena merupakan bukti bahwa surat Ibrahim ayat 27 berbicara tentang
adzab kubur dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang
menafsirkan demikian.
Dalil ke
empat Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu'anhu, ia
berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu
beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya.
Beliau bersabda, ‘Keduanya sedang diadzab.
Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut mereka bedua)’, lalu Nabi
bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya di adzab
karena tidak membersihkankan bekas
kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)”.
Dalil ke
lima Dari Utsman bin
Affan radhiallahu’anhu, ia berkata: “Aku
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang
siapa yang berhasil di alam kubur,
maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya
lebih berat”. Utsman radhiallahu’anhu berkata, “Aku tidak pernah memandang sesuatu yang lebih
mengerikan dari kuburan.
Dalil ke
enam Dari Umar bin
Khathab radhiallahu'anhu, Nabi
Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit itu diadzab (di
dalam kuburnya) ketika keluarganya
menangisinya". Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya mayit itu
diadzab (di dalam kuburnya) ketika keluarganya
melakukan niyahah terhadapnya".
Dalil ke
tujuh Dari Abu Ayyub
Al Anshari radhiallahu'anhu, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam keluar rumah tatkala matahari telah tenggelam.
Beliau mendengar suara-suara, lalu bersabda:
“Orang-orang Yahudi sedang diadzab di kuburan mereka ”.
Dalil ke
delapan Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu'anhu, ia
berkata:“Suatu hari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pergi ke kebun kurma milik
Bani Najjar. Beliau mendengar suara-suara dari orang-orang Bani Najjar yang
telah meninggal di zaman Jahiliyah. Mereka sedang diadzab di dalam kuburnya. Kemudian beliau pun keluar dalam
keadaan ketakutan dan memerintahkan para
sahabatnya untuk berlindung dari adzab kubur”.
Dalil ke
sembilan Dari Ummul
Mukminin Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa
sallam berdoa ketika sedang shalat
dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari
adzab kubur, dari fitnah al masih ad
dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah
aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan
dosa dan hutang’.
Dalil ke
sepuluh Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i
radhiallahu'anhu, ia mengatakan:“Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah shalat
jenazah, dan aku menghafalkan doa yang
beliau ucapkan, yaitu: Ya Allah, berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan
maafkanlah ia. Berilah kehormatan
untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari
kesalahannya sebagaimana Engkau
bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih
baik dari keluarganya semula, istri yang
lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan
adzab neraka Dan sebenarnya
masih banyak lagi
dalil dari hadits-hadits
yang shahih mengenai adzab kubur.
Karena para ulama mengatakan hadits-hadits tentang adzab dan
nikmat kubur itu
mencapai level mutawatir
karena sangat banyaknya. Yang sebagian
hadits-hadits tersebut akan kami sebutkan dalam bab “Beberapa Keyakinan Ahlussunnah Terkait Alam
Kubur
Sumber
: .
58 HR.
Muslim no. 963 42 HR. Muslim no.7393, Ahmad no.12026 56 HR. Ahmad no.14152. Syu'aib Al Arnauth dalam
takhrij-nya mengatakan: “Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim”. Demikian juga yang dikatakan Al
Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (no. 3954). 57 HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589 53
HR. Bukhari no. 1304, Muslim no. 929 54 HR. Bukhari no. 1292, Muslim no. 927 55
HR. Al Bukhari no. 1375, Muslim no. 2869 51 HR. Bukhari no.6055, Muslim no.703
48 idem 49 HR. Bukhari no.600543 HR. Muslim no. 2867, dari sahabat Zaid bin
Tsabit radhiallahu'anhu 44 Lihat kitab Silsilah Ahadits Shahihah penjelasan
hadits nomor 158-159 45 HR. Muslim no. 2867, 7392 46 HR. Ahmad no. 14185, Al
Albani berkata: “Shahih muttashil (bersambung) sesuai persyaratan Imam Muslim”.
47 As-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, 1/244 52 HR. At Tirmidzi no.2308, ia
berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam
Futuhat Rabbaniyyah, 4/192 50 HR.
Bukhari no.1369, Muslim no.7398
DALIL IJMA ADANYA ALAM KUBUR
Akidah
tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur, adanya
pertanyaan Malaikat di
alam kubur, adalah akidah yang disepakati oleh para ulama
Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah
di antara mereka.Yang menyelisihi
mereka adalah ahlul bid'ah dari
kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.Abdullah bin Abbas
radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah
berkhutbah: Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun
menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang
setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya Dajjal, mendustakan adanya syafa'at,
mendustakan adanya adzab kubur, dan
mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah
mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia
mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika
itu Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam
Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij
Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.
ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu
Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik
berkata: jangan kalian bermajelis dengan
mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya
kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan
bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba
Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
berhak disembah kecuali Allah, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu
diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari
dalam kuburnya. Lalu turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya.
Adapun jika yang ditanya adalah orang kafir,
ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak tahu, saya tidak
tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Itsbatu
'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236disempitkan kuburnya sampai copot semua
persendiannya dan saling bersinggungan
satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan
memakannya. Jika ia teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutup kepala dari
besi panas padanya”.
Imam Ahmad
bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau mengatakan:“(Di
antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya adzab kubur,
dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta ditanya tentang
iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan didatangi oleh
malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah”.Imam
Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:
“Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan
qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
terhadap orang-orang yang memiliki dosa.
Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka juga menolak kebenaran akan adanya adzab
kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat
dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”. Al Lalika'i rahimahullah membuat judul
bab: “Hadits-hadits yang diriwayatkan
dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam
bahwa kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka
ia akan ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya,
dan mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu Ja'far Ath Thahawi rahimahullah
dalam matan Al Aqidah Ath
Thahawiyah beliau mengatakan: “(Kami mengimani) adanya adzab kubur bagi orang
yang memang berhak mendapatkannya.
Dan adanya
pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya,
agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”.
Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu
benar adanya, dan manusia akan diuji
dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya.
Allah pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab
pertanyaan itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan
pedihnya kematian lagi setelah itu.
Para ulama
Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar
adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam
kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian
mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh
malaikat)”.
Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah
berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan
bahwasanya manusia akan diuji di dalam
kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya
di sana. Allah pun akan mengokohkan
orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu
Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah
bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang
mengingkarinya kecuali ahlul
bid'ah”. Imam An Nawawi rahimahullah
mengatakan:
“Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab
kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas
Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab
kubur”.Al Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan: “Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat
banyak riwayatnya, dan mencapai level
mutawatir dari segi makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur.
Berbeda dengan sebagian ahlul bid'ah”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah,
madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini bahwa mayit ketika
meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di alam kubur). Dan itu
akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap ada setelah berpisah
dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat atau mendapat adzab.
Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya, sehingga ketika itu ruh dan
badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”. Syaikh Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya, sebagaimana
ditegaskan di dalam as-Sunnah dan
zahir dari ayat-ayat
Al Qur'an, serta
ijma' ulama kaum
Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya.
Adapun
dalil dari as-Sunnah
adalah sabda Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam: “Mintalah
perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah
dari adzab kubur! Mintalah perlindungan
kepada Allah dari adzab kubur! Adapun
dalil ijma', yaitu
para ulama sepakat
menganjurkan untuk membaca doa
berikut ini dalam shalat: “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab
Jahannam dan dariadzab kubur .Sampai-sampai
orang awam yang
bukan ahlul ijma'
juga menyepakati halini. Adapun
zahir dari ayat Al Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada
mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya
Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam
azab yang sangat keras ” (QS.Ghafir:
46)”86.
Nukilan-nukilan di
atas secara jelas
menunjukkan bahwa para
ulama Ahlussunnah ijma' (sepakat)
dalam mengimani adanya
alam kubur, nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur.
Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.
Sumber
:
82 Majmu' Al
Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83
Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin,
seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota
Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama
di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no.
3558 85 HR. Al Bukhari no.1377, Muslim
no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322
80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al
Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau
tokoh-tokoh penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan
Parsi.
Ali Al Qari
lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar di
bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H. 81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368 74 Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin
Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau wafat
pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358 76 Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil Malik bin
Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki. Beliau juga
ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau adalah salah
satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum Muslimin. Beliau
wafat pada tahun 449H. 77 Syarhu Shahih
Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78
Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, seorang ulama besar
dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus. An
Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits. Kitab Riyadhus Shalihin, Al
Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al Majmu' Syarhul Muhadzab, Al
Adzkar , adalah karya-karya beliau yang
berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum Muslimin di seluruh dunia.
Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 70
Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania).
Dikenal dengan kitabnya “Bayanul Wahmi
wal Iham” yang dipuji oleh para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al
Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50 72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni,
seorang ahli fikih dari mazhab Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari
Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil
Muzanni, poin ke 10 65 Al Ibanah,
halaman 4 66 Abul Qasim Hibatullah bin
al-Hasan Ath Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama
al-Lalika'i. Seorang ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab
Syafi'i. Wafat pada tahun 418H. 67
Syarhu Ushuli Aqidati Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68 Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah
ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir.
Seorang ahli
fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang
menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun 321H.
61 Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam
Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani,
seorang imam besar Ahlussunnah dari Iraq. Tokoh
besar dalam bidang fikih dan hadits. Kepada diri beliaulah madzhab
Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah salah satu karya beliau yang fenomenal
dan dipelajari kaum Muslimin seluruh dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada
tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64 Ali bin Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya
adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan kepadanya pemahaman Asy'ariyah.
Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman tersebut dan rujuk kepada akidah
salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Abu Musa Al Asy'ari
radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.
DALIL
IJMA ADANYA ALAM KUBUR
Akidah
tentang adanya alam kubur, adanya adzab kubur, adanya nikmat kubur, adanya
pertanyaan Malaikat di
alam kubur, adalah akidah yang disepakati oleh para ulama
Ahlussunnah, tidak ada khilafiyah di antara mereka.
Yang menyelisihi
mereka adalah ahlul bid'ah dari
kalangan Qadariyah, Mu'tazilah dan Khawarij.Abdullah bin Abbas
radhiallahu'anhu, beliau mengatakan: “Umar bin Khathab radhiallahu'anhu pernah
berkhutbah: Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam dahulu menerapkan rajam, maka kami pun
menerapkan rajam sepeninggal beliau. Ketahuilah, akan ada sekelompok orang
setelah kalian yang mendustakan hukuman rajam, mendustakan adanya Dajjal, mendustakan adanya syafa'at,
mendustakan adanya adzab kubur, dan
mendustakan adanya manusia yang akan dikeluarkan dari neraka setelah
mereka hangus terbakar di neraka”. Dari Abdullah bin ad-Danaaj rahimahullah, ia
mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan Anas bin Malik radhiallahu'anhu. Ketika
itu Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam
Musnad Ahmad (no. 156), didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth dalam Takhrij
Musnad Ahmad. Beliau mengatakan: “sanadnya lemah”.
ada seorang lelaki yang berkata: wahai Abu
Hamzah, ada sekelompok orang yang mendustakan adzab kubur! Anas bin Malik
berkata: jangan kalian bermajelis dengan
mereka!”.Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata: “Sesungguhnya
kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur kalian. Lalu malaikat akan
bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba
Allah dalam keadaan hidup atau mati, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
berhak disembah kecuali Allah, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan
kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia pun
bisa melihat tempat tinggalnya di surga dari dalam kuburnya. Lalu
turunlah pakaian dari surga yang akan dipakainya. Adapun jika yang ditanya
adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu menjawab: saya tidak
tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu Diriwayatkan oleh Al Baihaqi
dalam Itsbatu 'Adzabil Qabri karya Al Baihaqi, 1/236
disempitkan
kuburnya sampai copot semua persendiannya dan saling bersinggungan satu sama lain. Lalu
didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia
teriak kesakitan, maka akan dipakaikan penutupkepala dari besi panas padanya”.
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam matan Ushulus Sunnah beliau
mengatakan:“(Di antara prinsip akidah yang kami yakini adalah) mengimani adanya
adzab kubur, dan bahwasanya umat ini akan diuji di dalam kuburnya, serta
ditanya tentang iman, Islam, siapa Rabb-nya, dan siapa Nabinya. Dan ia akan
didatangi oleh malaikat Munkar dan Nakir, dengan cara yang sesuai dengan kehendak
Allah”.Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari rahimahullah berkata:
“Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan
qadariyah), mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
terhadap orang-orang yang memiliki dosa.
Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf terdahulu. Mereka juga menolak kebenaran akan adanya adzab
kubur dan bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat
dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal ini”. Al Lalika'i rahimahullah membuat judul
bab: “Hadits-hadits yang diriwayatkan
dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bahwa
kaum Muslimin ketika sudah berada di dalam lubang kuburnya, maka ia akan
ditanya oleh Munkar dan Nakir. Dan bahwa adzab kubur itu benar adanya, dan
mengimaninya adalah suatu kewajiban”. Imam Abu
Ja'far Ath Thahawi
rahimahullah dalam matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau
mengatakan: “(Kami mengimani) adanya
adzab kubur bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.
Dan adanya
pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya,
agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”.
Ibnu Qathan rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu
benar adanya, dan manusia akan diuji
dengan pertanyaan di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah
pun akan mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan
itu). Dan para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan merasakan pedihnya
kematian lagi setelah itu.
Para ulama
Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar
adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam
kubur”.Al Muzanni rahimahullah dalam Syarhus Sunnah beliau berkata: “Kemudian
mereka setelah mengalami penghimpitan, mereka akan ditanya(oleh malaikat)”.
Abu Bakar bin Mujahid rahimahullah
berkata:“Ahlussunnah bersepakat mengimani adanya adzab kubur. Dan
bahwasanya manusia akan diuji di dalam
kubur setelah ruh mereka dikembalikan kepada jasadnya. Dan mereka akan ditanya
di sana. Allah pun akan mengokohkan
orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Ibnu
Batha rahimahullah mengatakan:“Adzab kubur itu benar adanya. Ahlussunnah
bersepakat untuk mengimaninya dan membenarkannya. Tidak ada yang
mengingkarinya kecuali ahlul
bid'ah”. Imam An Nawawi rahimahullah
mengatakan:
“Madzhab Ahlussunnah menetapkan adanya adzab
kubur, sebagaimana telah kami sebutkan. Berbeda dengan Khawarij dan mayoritas
Mu'tazilah serta sebagian Murji'ah, yang mereka menafikan adanya adzab kubur”.Al
Mulla Ali Al Qari rahimahullah mengatakan:
“Hadits-hadits tentang adzab kubur sangat banyak riwayatnya, dan
mencapai level mutawatir dari segi
makna. Ahlussunnah sepakat tentang adanya adzab kubur. Berbeda dengan sebagian
ahlul bid'ah”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
mengatakan: “Ketahuilah, madzhab salaful ummah dan para imamnya adalah meyakini
bahwa mayit ketika meninggal ia akan mendapatkan nikmat atau diberi adzab (di
alam kubur). Dan itu akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Dan ruh akan tetap
ada setelah berpisah dengan badan, dalam keadaan ruh tersebut mendapat nikmat
atau mendapat adzab. Dan terkadang ruh itu bersambungan dengan badannya,
sehingga ketika itu ruh dan badan keduanya merasakan nikmat atau adzab”.
Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Adzab kubur itu benar adanya,
sebagaimana ditegaskan di dalam as-Sunnah dan
zahir dari ayat-ayat
Al Qur'an, serta
ijma' ulama kaum
Muslimin. Sehingga ada tiga jenis dalil yang mendasarinya. Adapun dalil
dari as-Sunnah adalah
sabda Nabi Shallallahu'alaihi
Wasallam: “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah
perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! Adapun dalil
ijma', yaitu para
ulama sepakat menganjurkan untuk membaca doa berikut ini dalam shalat:
“Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab Jahannam dan dariadzab kubur
.Sampai-sampai orang awam
yang bukan ahlul
ijma' juga menyepakati halini. Adapun zahir dari ayat Al
Qur'an, semisal firman Allah ta'ala (yang artinya) : “Kepada mereka dinampakkan
neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada
malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras ” (QS.Ghafir: 46)”86.
Nukilan-nukilan di
atas secara jelas
menunjukkan bahwa para
ulama Ahlussunnah ijma' (sepakat)
dalam mengimani adanya
alam kubur, nikmat kubur, adzab kubur dan fitnah kubur.
Tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.
Sumber
:
82 Majmu' Al
Fatawa Syaikhil Ibni Taimiyah, 4/284 83
Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Utsaimin,
seorang pakar fikih dan ulama besar Ahlussunnah di abad . Dilahirkan di kota
Unaizah Saudi Arabia. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Hai'ah Kibarul Ulama
di zamannya. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib, hadits no.
3558 85 HR. Al Bukhari no.1377, Muslim
no.588, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu'anhu Majmu' Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin, 17/433-434 79 Syarhu Shahih Muslim karya An Nawawi, 17/322
80 Abul Hasan Ali bin Sulthan Muhammad Al Qari, seorang ulama Hanafiyah. “Al
Mulla” adalah julukan penghormatan yang biasanya diberikan kepada ulama atau tokoh-tokoh
penting, yang biasa digunakan oleh orang Afghanistan, Bukhari dan Parsi. Ali Al
Qari lahir di Harrah (Afghanistan) namun tinggal di kota Makkah. Beliau pakar
di bidangfikih, hadits, ushul fikih dan tafsir. Wafat pada tahun 1014H. 81 Syarhu Musnadi Abi Hanifah, halaman 368
74 Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas
bin Mujahid al-Baghdadi, seorang ulama besar ahli qira'at di zamannya.Beliau
wafat pada tahun 324H. Syarah Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/358
76 Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdil
Malik bin Bathal Al Bakri, salah seorang ulama besar dalam madzhab Maliki.
Beliau juga ulama besar dalam ilmu hadits. Syarah Shahih Bukhari karya beliau
adalah salah satu kitab yang masyhurdan tinggi kedudukannya di tengah kaum
Muslimin. Beliau wafat pada tahun 449H. 77
Syarhu Shahih Al Bukhari karya Ibnu Bathal, 3/38 78 Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi
ad-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam madzhab Syafi'i. Beliau lahir di desa
Nawa, dekat kota Damaskus. An Nawawi dikenal sebagai pakai fikih dan hadits.
Kitab Riyadhus Shalihin, Al Arba'in, Al Minhaj (Syarah Shahih Muslim), Al
Majmu' Syarhul Muhadzab, Al Adzkar , adalah karya-karya beliau yang berjasa dalam menyebarkan ilmu di tengah kaum
Muslimin di seluruh dunia. Beliau wafat pada tahun 676H. 69 Matan Al Aqidah Ath
Thahawiyah, poin ke-80 70 Abul Hasan Ali bin Al Qathan Al Fasi. Ulama hadits
dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan kitabnya “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh
para ulama. Beliau wafat pada tahun 628H. 71 Al Iqna' fi Masail al Ijma', 1/50
72 Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Muzanni, seorang ahli fikih dari mazhab
Syafi'i. Beliau salah satu murid langsung dari Imam Asy Syafi'i rahimahullah.
Wafat pada tahun 264H. 73 Syarhus Sunnah lil Muzanni, poin ke 10 65 Al Ibanah, halaman 4 66 Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan Ath
Thabari. Ulama dari Baghdad yang lebih dikenal dengan nama al-Lalika'i. Seorang
ulama hadits, mufti, dan imam Ahlussunnah dari mazhab Syafi'i. Wafat pada tahun
418H. 67 Syarhu Ushuli Aqidati
Ahlissunnah wal Jama'ah, 6/1199 68 Abu
Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi
dari desa Thaha di Mesir.Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal dengan
kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah.
Beliau wafat pada tahun 321H. 61
Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar (184). Abu Abdillah
Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibani, seorang imam besar Ahlussunnah dari
Iraq. Tokoh besar dalam bidang fikih dan
hadits. Kepada diri beliaulah madzhab Hambali dinisbatkan. Musnad Ahmad adalah
salah satu karya beliau yang fenomenal dan dipelajari kaum Muslimin seluruh
dunia hingga sekarang. Beliau wafat pada tahun 241H. 63 Matan Ushulus Sunnah
Imam Ahmad, poin 8 dan 9 64 Ali bin
Ismail bin Abi Basyar, kuniyah-nya adalah Abul Hasan. Ulama yang dinisbatkan
kepadanya pemahaman Asy'ariyah. Walaupun beliau tidak meninggalkan pemahaman
tersebut dan rujuk kepada akidah salaf. Beliau memiliki nasab yang sampai
kepada Abu Musa Al Asy'ari radhiallahu'anhu. Beliau wafat pada tahun 260H.
BEBERAPA
AYAT QUR’AN MENUNJUKKAN TIDAK ADANYA
ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
SYUBHAT 1
ADANYA ALAM KUBUR
Sebelumnya,
dalam membahas syubhat ini kita perlu meyakini bahwa Al Qur’an dan hadits itu adalah
kebenaran, dan tidak ada kebenaran yang saling bertentangan. Allah Ta’ala
berfirman: “Apakah engkau tidak men-tadabburi Al Qur’an? Andaikan Al Qur’an
itu bukan dari sisi Allah tentu akan
banyak pertentangan di dalamnya”. Begitu
juga, wajib meyakini
bahwa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah wahyu. Sebagaimana firman Allah ta'ala: “Apa yang diucapkan olehnya (Muhammad) itu
bukanlah dari hawa nafsu, melainkan wahyu”. Maka, Al Qur’an tidak akan
bertentangan dengan Al Qur’an, Al Qur’an pun
tidak akan bertentangan
dengan hadits dan hadits tidak akan
bertentangan dengan hadits.
Dengan kata lain,ayat Al Qur’an saling menafsirkan, demikian
juga ayat Al Qur’an
dan hadits saling
menafsirkan. Oleh karena itulah
kita hendaknya merujuk
kepada para ulama,
karena merekalah yang mampu mendudukkan ayat dengan ayat, hadits dengan
hadits serta ayat dengan
hadits sesuai tempatnya
sehingga jelas bahwa
tidak ada pertentangan.
Ayat
pertama Allah ta'ala berfirman: “Mereka
berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah
yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha
Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya) .Jika
orang yang mati
dikatakan ‘tidur’ setelah ia
mati sampai hari kebangkitan, maka tentu tidak ada adzab kubur atau
nikmat kubur. Demikian logika ahlul bid’ah yang menolak adanya adzab kubur,
dan memang demikianlah mereka
memahami ayat-ayat Allah dengan logika tanpa merujuk kepada ahlinya.
Jawaban: Kalau kita merujuk para ahli
tafsir dari kalangan sahabat sampai ulama mu’ashiriin,Ubay bin
Ka’ab radhiallahu’anhu,
Khaitsamah, Mujahid dan Qatadah
menafsirkan maksud dari
‘tidur’ dalam ayat
ini adalah: “Tidur sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”.
Qatadah juga menambahkan: “Itu terjadi
di antara dua tiupan
sangkakala”.Al hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
juga menjelaskan: “Ayat
ini tidak menafikan
adanya adzab kubur, karena
jika dibandingkan dengan
apa yang terjadi
setelahnya, yang terjadi di alam
kubur seperti tidur”.
Ayat ke
dua Allah ta'ala berfirman:“Dan
janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang
lalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada
waktu itu mata (mereka) terbelalak.Dalam
ayat ini dikatakan Allah memberi tangguh, artinya tidak mengadzab mereka,
sampai hari ketika
mata manusia terbelalak,
yaitu hari kiamat. Demikian
logika mereka.Padahal jika kita menilik penjelasan
para ulama tafsir, Al
Hafidz Ibnu Katsir
rahimahullah menjelaskan makna“Allah
memberi tangguh kepada mereka: “dikatakan demikian karena
begitu ‘ngerinya’ keadaan mereka di hari kiamat”. Al Baghawi rahimahullah
menafsirkan: “Tidak akan menimpa mereka
kengerian semisal yang
akan mereka dapatkan
di hari kiamat”.
Sebagaimana
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil
di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak
berhasil,maka setelahnya lebih berat
jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya perbandingan antara siksa kubur
dengan siksa mereka kelak di hari kiamat, hingga ketika
mereka masih disiksa di alam
kubur dianggap masih dalam masa penangguhan. Sebagian ulama
memang menafsirkan secara
mutlak bahwa maknanya adalah “mereka tidak akan mendapat
adzab hingga hari kiamat”, namun yang dimaksud adalah sebagaimana yang diungkapkan Ibnu
Katsir dan Al Baghawi di atas.
Karena faktanya, sebagian
orang kafir bahkan
diadzab ketika mereka masih hidup. Dan perlu dicatat,
para ahli tafsir
yang menafsirkan secara mutlak demikian tidak ada yang memahami bahwa
ayat ini menafikan adzab kubur. Jadi memahami ayat ini dengan pemahaman para
penolak adanya adzab kubur, adalah pemahaman
baru yang tidak
ada pendahulunya, serta bertentangan dengan ratusan dalil.
Ayat ke
tiga Allah ta'ala berfirman:“Dan pada
hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur)
melainkan sesaat (saja)”Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari
kebenaran)”. Menurut logika para penolak adanya adzab kubur, berdasarkan ayat
ini, antara matinya seorang
manusia dengan hari
kebangkitan itu hanya
terasa sesaat saja, hingga seorang manusia merasakan seolah setelah mati
tiba-tiba sudah dibangkitkan.
Maka tidak
ada alam kubur yang dia merasakan adzab atau nikmat.Para ahli
tafsir menjelaskan mengenai
makna ‘sesaat’,Al Baidhawi rahimahullah berkata,
“Maksudnya adalah masa di
alam kubur dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan
dengan lamanya siksaan mereka di akhirat kelak. Atau penafsiran yang lain,
mereka lupa akan lamanya berada di alam kubur”.
Sebagian ahli tafsir
memaknai bahwa maksudnya
adalah masa ketika hidup
di dunia, Al Baghawi rahimahullah mengatakan,
“Maksudnya adalah masa di dunia dianggap terlalu
sebentar dibandingkan dengan
akhirat”. Seluruh tafsiran di atas tidak ada yang bertentangan dengan dalil-
dalil adanya adzab kubur.
Dan sekali
lagi perlu di
catat, tidak ada
ahli tafsir yang
memahami bahwa ayat ini menafikan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa
ayat ini dengan dalil-dalil shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah
bertentangan.Demikianlah beberapa ayat yang menjadi
‘syubhat’ karena dipahami secara salah
oleh para pengikut
hawa nafsu.Tidak menutup
kemungkinan adanya ayat lain
yang mereka gunakan
untuk melariskan pemahaman
menyimpang mereka, namun
cukuplah kita meyakini
bahwa di antara
dalil tidak ada yang saling bertentangan.
Sumber
:
97 Anwar At
Tanziil, 4/488 98 Ma’alim At Tanzil, 6/278 96 QS. Ar Rum: 55
92 QS.
Ibrahim: 42 93 Tafsir Al Qur’an Al
Azhim, 4/515 94 Ma’alim At Tanzil, 4/359 95 Telah berlalu takhrij hadits ini
89 QS.
Yaasin: 52 90 Lihat Tafsir Ath Thabari, 20/532 91 Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 6/581
87 QS. An
Nisa: 82 88 QS. An Najm: 3-4
HADITS-HADITS
TENTANG ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
ADALAH HADITS AHAD SEDANGKAN HADITS AHAD
BUKAN HUJJAH DALAM MASALAH AQIDAH
SYUBHAT 2 ADANYA ALAM KUBUR
Penjelasan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah yang sudah kami kutip
sebelumnya sudah mewakili dalam menjawab syubhat ini. Ringkasnya,
hadits-hadits tentang adanya adzab kubur itu mutawatir bukan hadits
ahad.Sampai-sampai Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan:
“Banyak sekali hadits tentang Munkar dan
Nakir serta tentang adzab kubur. Juga
banyak hadits tentang doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu
dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, aku
berlindung kepada-Mu dari dari fitnah
al masih ad dajjal”. Hadits-hadits ini semua shahih, yang tidak mungkin para perawinya bersepakat untuk
berdusta. Andaikan hadits-hadits
seperti ini tidak dikatakan shahih, maka tidak ada hadits yang shahih
sama sekali dalam agama kita. Dan
andaikan hadits-hadits seperti ini tidak
dikatakan shahih, maka tidak ada lagi model hadits yang derajatnya lebih
shahih lagi”.
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullah juga
berkata, “Mutawatir terbagi menjadi ‘aam
dan khas. Bagi para ulama yang paham hadits dan fiqih ada hadits-hadits
mutawatir bagi mereka yang tidak dianggap mutawatir oleh orang awam.
Semisal hadits tentang
sujud sahwi, kewajiban
syuf’ah, kewajiban membayar diyat
bagi yang berakal,
kewajiban merajam pezina yang muhshan, hadits-hadits ru’yah,
adzab kubur, ….. ”. Namun perlu digaris-bawahi pula,
andaikan hadits-hadits tentang
alam kubur atau tentang
masalah lain adalah
hadits Ahad pun
tetap merupakan hujjah. Penjelasan rinci
mengenai hal ini
akan mencakup banyak
bab dari ilmu ushul
fiqh yang tidak
mungkin kami paparkan
pada kesempatan ini.
Semoga beberapa
poin di bawah
ini cukup memberikan
pencerahan bahwa hadits Ahad
adalah hujjah, baik dalam masalah aqidah atau bukan: a. Wajib beramal dengan
hadits ahad adalah ijma para ulama-ulama
Imam Asy Syafi’i rahimahullah
berkata: “Aku tidak mengetahui adanya fuqaha
kaum muslimin yang
berselisih pendapat dalam
menetapkan khabar ahad, sebagaimana
yang baru saja saya jelaskan bahwa hadits-hadits ahad ada pada mereka semua”. Al
Khatib Al Baghdadi rahimahullah berkata: “Beramal
dengan hadits Ahad adalah
pendapat semua ulama
tabi’in dan setelah
mereka, yaitu para ulama-ulama di semua zaman sampai zaman
kita ini (zamannya Al Khatib, -pent).
Dan saya tidak
mengetahui adanya seorang
di antara mereka
yang mengingkarinya atau menolaknya”105. b. Dalil-dalil wajibnya beramal
dengan hadits ahad Dalil Al Qur'an Allah Ta’ala berfirman, “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin
itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya Sisi pendalilan dari ayat ini
ada dua:
Pertama,
Allah memerintahkan tha'ifah untuk
memberi peringatan kepada
kaumnya. Sedangkan secara bahasa:
“Tha'ifah dari sesuatu artinya bagian dari sesuatu, atau berjumlah satu
atau lebih, atau berjumlah di antara 1
sampai 1000, atau paling sedikit satu atau
dua”. Ini menunjukkan tegaknya kebenaran walau hanya dari satu orang
atau dua orang. Dan kebenaran itu wajib diterima oleh kaumnya.
Kedua,
Allah menyebutkan manfaat
adanya beberapa orang
yang mendalami agama yaitu ‘supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ‘.
Andai hujjah tidak bisa diterima dari satu atau sedikit orang, tentu manfaat
tersebut tidak tercapai dan konsekuensinya ayat ini tidak benar. Dalil
hadits Hadits-hadits mutawatir
tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengutus utusan,
amil zakat, hakim
hanya satu orang
saja kepada sekelompok orang. Sebagaimana diutusnya Mua’dz bin Jabal
radhiallahu'anhu: “Engkau akan
mendatangi kaum yang terdiri dari ahli kitab. Ajaklah mereka untuk bersyahadat ‘Laailaaha Illallah Wa Anna
Muhammadan Rasulullah’, jika mereka mau
taat, ajarkanlah mereka untuk shalat lima waktu sehari- semalam….”.
Imam Asy Syafi’i berkata, “Rasulullah
shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah mengutus seseorang utusan kecuali
sendirian. Ini adalah bukti berita yang dibawa oleh satu orang utusan tersebut
adalah benar, Insya Allah”.Dari Anas bin
Malik radhiallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada
orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya. Berapa banyak orang yang
membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang
tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah,
menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka karena doa mereka meliputi dari belakang
mereka Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam mendoakan imra-an yang
menyampaikan hadits. Sedangkan imra-an itu artinya satu orang. Dalil ijma' Ijma
para sahabat bahwa khabar ahad itu diterima. Di antara dalil ijma ini adalah hadits
tentang pindahnya kiblat yang hanya dikabarkan oleh satu orang yang
menyampaikan kabar dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasalallam. Dari Anas bin
Malik radhiallahu'anhu,
“Dahulu
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam shalat menghadap ke Baitul Maqdis.
Kemudian turun ayat (yang artinya) :
“Kami melihat wajahmu(Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan
Kami palingkan engkau ke kiblat yang
engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam (QS. Al Baqarah: 144). Lalu lewatlah seorang
lelaki dari Bani Salamah, ketika
orang-orang sedang shalat dalam posisi rukuk (di masjid). Dan mereka sudah
melalui satu raka'at.
Orang
tersebut pun menyeru: “Ketahuilah...
kiblat telah diubah!”. Seketika itu orang-orang yang shalat segera mengubah
arah kiblatnya”112. Andaikan para sahabat tidak menerima khabar ahad, maka
mereka tidak akan mengubah arah kiblat karena kabar dari satu orang saja. Hadits ahad adalah hujjah dalam masalah hukum
ataupun akidah Dalil-dalil yang ada di
poin b
menunjukkan bahwa kebenaran atau hujjah itu diterima dari satu orang tanpa
dirinci apakah perkaran aqidah atau bukan, berlaku secara umum dan mutlak.
Bahkan hadits Muadz bin Jabal berbicara masalah
aqidah. Ibnu ‘Abdil
Barr rahimahullah berkata, “Semua
perkara aqidah mengenai asma
dan sifat Allah
Ta’ala hanya diketahui
dari nash Kitabullah dan
hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang shahih atau dari
ijma ulama. Sedangkan
yang berasal dari
hadits ahad, semuanya diterima dan tidak ada perdebatan
tentang ini”.Adapun
membeda-bedakan penyikapan hadits
Ahad dalam masalah aqidah dan
masalah hukum adalah
keyakinan baru dalam
Islam, yang merupakan bid’ah.
Pembedaan seperti ini
tidak pernah dikenal
oleh salah seorang sahabat
Nabi, tidak juga
oleh tabi’in, tabi’ut
tabi’in, juga tidak dikenal
oleh para Imam.
Pembedaan seperti ini
hanya dikenal dari
tokoh- tokoh ahlul bid’ah dan yang mengikuti mereka.
Keyakinan bahwa
masalah aqidah harus
ditetapkan dengan hadits mutawatir itu
sendiri merupakan sebuah
aqidah (keyakinan) dalam
agama. Kalau mereka konsisten, hendaknya mereka mendatangkan dalil
Hadits
mutawatir adalah hadits shahih yang diriwayatkan dari banyak jalan sehingga
tidak ada kemungkinan semua perawinya bersepakat untuk berdusta.
Syarat
suatu hadits dikatakan sebagai hadits mutawatir ada 4:
1.
Diriwayatkan dari banyak jalan. Walaupun ulama khilaf tentang batasan “banyak”
dalam kriteria ini. Sebagian ulama mengatakan
10 jalan, sebagian yang lain mengatakan 20 jalan, 30 jalan, 100 jalan, 200
jalan atau 300 jalan.
2. Banyaknya
jalan tersebut terjadi di setiap thabaqah-nya
3. Mustahil
terjadinya tawathu' 'ala kadzib (perawi bersepakat untuk berdusta dalam
periwayatannya)
4. Sandaran
penerimaan khabar adalah secara hissi (secara inderawi)
(lihat Taisir Musthalah Hadits, Syaikh MahmudAth
Thahhan, halaman 19 – 20).
Hadits ahad
adalah hadits yang tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai hadits
mutawatir. Dengan kata lain, hadits yang
tidak mutawatir, maka ia hadits ahad. Menilik pada definisi hadits mutawatir,
misalnya jika hadits mutawatir adalah yang diriwayatkan dari 10 jalan, maka
hadits yang diriwayatkan dari 9 jalan tergolong dalam hadits ahad.Dan perlu
diketahui bahwa hadits ahad berbeda dengan hadits gharib. Hadits gharib adalah
hadits yang diriwayatkan dari satu jalan saja. Walaupun memang, hadits gharib
termasuk dalam kategori hadits ahad juga. 101 Abu Muhammad Abdullah bin Abdil
Majid bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuri. Ia adalah seorang ahli lughah (bahasa
Arab) yang terkenal. Beliau belajar hadits dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Ishaq
Ibrahim Az Ziyadi, Abu Hatim As Sijistany. Ia banyak mengarang kitab yang
bermanfaat diantaranya adalah kitab Gharibul Quran, Gharibul Hadits, Uyunul
Akhbar, Musykilul Quran, Musykilul Hadits, Kitab I’rabil Qur'anal Ma’arif dan
Adabul Katab. Diantara murid-muridnya adalah anaknya, Ja’far Ahmad al Faqih dan
Ibnu Dusturaih Al Farisy. Wafat pada tahun 236H. Sumber :112 HR. Muslim no.527 113Jaami’
Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih, 2/96 114 Lihat Mukhtashar Shawa’iqil Mursalah, 503
110 HR. Ibnu Majah no. 2498, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah 111
Lihat Al Kifayah, 43-45; Raudhatun Nazhir
1/268-274; Syarh Kaukab Al Munir, 2/369-375
108 HR.
Muslim no.19 109Ar Risalah, halaman 415
105Al
Kifayah, halaman 48 106 QS. At Taubah: 122 107 Lihat Al Qamus Al Muhith
102 Ta'wil
Mukhtalafil Hadits, 1/152 103Majmu’ Al Fatawa, 18/69 104Ar Risalah, halaman
457-458
99
BEBERAPA
ULAMA MENILAI HADITS AHAD BERNILAI ZHAN,
SEHINGGA MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI
ADZAB KUBUR
SYUBHAT 3
ADANYA ALAM KUBUR
Syubhat
ini adalah turunan
dari syubhat kedua.
Dalam tulisan-tulisan mereka yang
menolak adanya adzab
kubur, mereka mengutip
beberapa pernyataan sebagian ulama ahlussunnah yang menganggap hadits
ahad hanya bernilai zhan dan tidak bernilai ilmu.
Sehingga
mengesankan bahwa sebagian ulama tersebut juga tidak mengimani adanya adzab
kubur. Inilah kecurangan mereka dalam berargumentasi. Memang benar terjadi
ikhtilaf di antara para ulama tentang apakah hadits Ahad bernilai zhan, ataukah
bernilai ilmu, ataukah
bernilai ilmu namun dengan
syarat. Namun mereka
sepakat beramal dengan
hadits Ahad, sebagaimana telah
kami sampaikan pernyataan ijma dalam hal ini.
Memang
juga sebagian ulama,
mengatakan bahwa terhadap
hadits Ahad, wajib beramal dengannya
namun tidak diyakini.
Namun hal ini
pada hakekatnya hanyalah ikhtilaf
lafzhi, karena setiap dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang shahih adalah
hujjah yang wajib
diyakini kebenarannya dan
diamalkan.
Bagaimana
mungkin seseorang diperintah untuk beramal tanpa meyakini apa yang dia amalkan?
Semisal hadits tentang
meminta perlindungan dari
adzab kubur setiap selesai shalat: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam
berdoa ketika sedang shalat dengan doa
(yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari
fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung
kepadamu dari dari perbuatan dosa dan
hutang’”. Bagaimana mungkin
dengan dasar hadits ini,
dikatakan bahwa disunnahkan membaca
doa tersebut setiap
sebelum salam ketika
shalat namun tidak boleh
meyakini isinya?? Dari
sini terlihat jelas
bahwa memisahkan
permasalahan hukum dan
aqidah dalam pembahasan
hadits Ahad adalah perkara yang aneh. Di
antara nama ulama
yang sering di-’catut’ untuk
melariskan pemahaman mereka adalah
Al Imam Al
Bukhari. Pasalnya, dalam
kitab Shahih Bukhari beliau menulis judul bab: “Bab dalil-dalil tentang bolehnya
menggunakan khabar ahad yang shahih dalam masalah adzan, shalat,
puasa, waris dan ahkam” Padahal Al Bukhari
tidak menyebutkan i’tiqad atau
‘aqaa-id dalam kalimat tersebut,
sehingga diklaim bahwa
beliau tidak berhujjah
dengan hadits ahad dalam
masalah aqidah. Padahal
faktanya, Al Bukhari
banyak meriwayatkan hadits-hadits Ahad dalam masalah aqidah di Shahih
Bukhari. Adapun judul bab yang beliau buat demikian, justru untuk membantah
orang- orang yang menolak kehujjahan hadits ahad secara umum. Dan yang paling
penting dan perlu
digaris-bawahi adalah, Imam Al
Bukhari mengimani dari Aisyah radhiallahu'anha
adanya adzab
kubur dan alam kubur. Sebagaimana telah kami singgung pada bagian dalil-dalil
Al Qur’an tentang adanya alam kubur. Selain beliau, Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani
pun seringkali di-’catut’ dengan cara demikian. Padahal beliau dalam kitab
Fathul Baari, menyetujui aqidah Imam Al
Bukhari dalam mengimani
adzab kubur dan
menyelisihi orang-orang yang menafikannya. Ketika beliau mengomentari
kalimat: Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Seolah-olah, maksud Al
Bukhari mendahulukan
penyebutan ayat-ayat ini
karena ingin menjelaskan
bahwa pembahasan adzab kubur ada dalam Al Qur’an, menyelisihi sebagian
orang yang mengklaim bahwa
pembahasan adzab kubur
hanya ada dalam
hadits ahad”116. Selebihnya,
nama-nama ulama yang mereka sebutkan untuk melariskan pemahaman menyimpang
mereka, biasanya berasal dari kalangan ulama yang terpengaruh ilmu kalam atau
pemikiran mu’tazilah. 116Fathul Baari, 4/443 115 HR. Bukhari no. 832, 6376,
Muslim no. 589,
DALALAH
AYAT YANG DIANGGAP MENAFIKAN ADZAB KUBUR
ADALAH QATH’I,
SYUBHAT 4
ADANYA ALAM KUBUR
SEDANGKAN
DALALAH AYAT DAN HADITS YANG MENETAPKAN
ADZAB KUBUR ADALAH ZHANNI Dari surat Yasin ayat 52, mereka memahami
bahwa jika orang yang mati dikatakan ‘tidur’ setelah ia mati sampai hari
kebangkitan, maka tentu tidak ada
adzab kubur atau
nikmat kubur. Lalu
mereka mengatakan bahwa pendalilan ayat
ini adalah pendalilan
yang qath’i (tegas dan
jelas), atau dalalah qath’iyyah117. Sedangkan
surat Ghafir (Al
Mu’min) ayat 45-46 tentang
Fir’aun dan kaumnya
setelah matinya mereka
dinampakkan neraka setiap pagi
dan sore, jika
ayat ini digunakan
sebagai dalil untuk membenarkan adanya
adzab kubur maka
pendalilannya tidak qath’i, tidak tegas, belum jelas maksudnya atau
dalalah zhanniyyah. Terlebih lagi terdapat perselisihan di antara para ulama
apakah yang dimaksud surat Ghafir ayat 45- 46 atau semisalnya itu dirasakan
oleh ruh dan jasad atau keduanya sekaligus. Perselisihan ini
menambah ketidak-tegasan pendalilan ayat
tersebut. Sehingga akhirnya mereka,
dengan modal akal
mereka, mengambil ayat dengan dalalah qath’iyyah menurut logika
mereka, lalu menutup mata (baca: membuang) terhadap dalil
yang menurut mereka
memiliki dalalah zhanniyyah. Subhanallah! Orang yang berpenyakit hati gemar
mempermainkan dalil! Dari syubhat yang
ke 4 ini
akan terlihat sekali
bagaimana mereka mendewakan akal
dalam memahami dalil-dalil
syariat.
Dengan akal
pula mereka mementahkan dalil
lain yang tidak
bersesuaian dengan hawa
nafsu mereka. Padahal dalil
syar’i tidak ada
yang bertentangan dan
semua dalil wajib kita
imani dan amalkan.
Orang-orang yang dipuji Allah
dengan ilmu berkata: Dalalah
artinya makna yang ditunjukkan oleh teks dalil.“Kami mengimani semua yang
diwahyukan oleh Rabb kami”.
Mengambil dalil yang
sesuai dengan seleranya,
lalu membuang dalil yang tidak sesuai dengan seleranya
adalah sikap orang-orang yang terdapat penyakit di dalam hatinya. Allah Ta’ala
berfirman: “Dia-lah yang menurunkan Al
Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara
(isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al
Qur’an dan yang lain (ayat-ayat)
mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam
hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian
ayat- ayat yang mutasyabihat untuk
menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari
takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya
berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat
yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran
(daripadanya)melainkan orang-orang yang berakal. Zhanni dan Qath’i itu nisbi
Penilaian qath’i atau zhanni terhadap
sesuatu itu nisbi atau relatif.
Bagi sebagian orang sesuatu
itu qath’i, namun bagi
yang lain zhanni. Dalam hal
menilai sebuah dalil
itu qath'i atau zhanni,
relativitas di sini
bergantung kepada:
?
Kedalaman penelaahan dalil-dalil syar’i
?
Penguasaan kaidah-kaidah dalam berdalil
?
Perbedaan tingkat kecerdasan
?
Kecepatan memahami sesuatu masalah
Oleh karena
itu, kita dapati
para ulama terkadang berbeda pendapat dalam menyatakan suatu dalil sebagai
dalil yang qathi' atau dalil yang zhanni. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan, “Telah jelas bahwa para ulama mujtahid itu berbicara
dengan ilmu. Mereka mengikuti dalil. Dan ilmu fiqih itu adalah ilmu yang agung.
Para ulama bukanlah termasuk orang- orang yang mengikuti prasangka semata. Namun,
di antara mereka terkadang ada
yang mengetahui suatu
ilmu yang belum diketahui ulama
lain. Dikarenakan ulama yang
lain belum pernah
mendengarnya atau terkadang karena ulama lain belum
memahaminya”. Maka, apa yang mereka (ahlul bid’ah) klaim zhanni, ternyata bagi
para ulama adalah perkara yang qath’i.
Disebabkan
kedangkalan akal mereka dan hawa nafsu yang terlanjur membutakan akal mereka.
Merujuk kepada ahli ilmu dalam memahami dalil Dalam kasus
di atas, ahlul
bid’ah mempertentangkan dalil-dalil
karena dalam memahami dalil
mereka hanya mengandalkan
logika semata, sama sekali
enggan merujuk kepada
penjelasan ulama. Padahal
dalam surat Al Imran
ayat 7 di
atas, Allah telah mengisyaratkan bahwa
untuk memahami dalil secara
sempurna tanpa menolak sebagian dalil adalah dengan
mengembalikannya kepada ahli ilmu yang raasikh (mendalam ilmunya).
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,“Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan itu tidak
saling mendustakan, bahkan saling membenarkan satu sama lain. Ayat-ayat yang
kalian pahami,amalkanlah. Ayat-ayat yang kalian tidak pahami, kembalikanlah
kepada orang alim yang memahaminya”. Karena
para ulama memahami
dalil dengan dalil,
menafsirkan dalil dengan atsar
sahabat Nabi, tabi’in serta orang yang mengikuti mereka, yang merupakan
generasi terbaik dan paling paham terhadap Qur’an dan Sunnah.
Dan faktanya,ketika kita
mengembalikannya kepada ulama,
tidak ditemukan adanya pertentangan di antara dalil-dalil di atas. Ulama
ahli tafsir mengatakan bahwa Surat Ghafir (Al Mu’min) ayat 45-46 menetapkan
adanya adzab kubur berdasarkan
tafsir dari Mujahid rahimahullah, seorang
tabi’in yang dijuluki
imamul mufassir, juga riwayat
dari ulama mufassir (pakar
tafsir) yang lain. Juga karena bersesuaian dengan hadits-hadits shahih yang
mencapai derajat mutawatir. Pendalilan yang berdasarkan hadits shahih serta
atsar salaf ini
tentu lebih utama
dan lebih agung
dibanding pendalilan berdasarkan
ra’yu (logika).
Dan pendalilan
yang demikian ini adalah
pendalilan yang qath’i. Sedangkan
surat Yasin ayat 52, berdasarkan riwayat dari seorang sahabat Nabi, Ubay
bin Ka’ab radhiallahu’anhu ,
juga dari para
tabi’in yaitu Khaitsamah, Mujahid
dan Qatadah radhiallahu’anhum tafsiran ‘tidur‘ dalam ayat ini adalah: “Tidur
sejenak sebelum dibangkitkan dari kubur”. Sehingga ayat ini tidak menafikan
adanya adzab kubur. Sekali lagi, pendalilan dengan atsar salaf
ini tentu merupakan
pendalilan yang qath’i. Walhasil,
tidak ada pertentangan di antara
ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, walillahilhamdu.
Sumber
:
122 HR.
Ahmad 2/161, dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu'anhu. Dishahihkan
oleh Al Albani dalam Syarhu Al Aqidah
At Thahawiyah, hal. 585 120Ma’alim Ushulil Fiqhi 'inda Ahlissunnah wal Jama'ah,
halaman 80-81, karya Syaikh Muhammad bin Husain Al Jizani 121Majmu’ Fatawa,
13/124-125118 QS. Ali Imran: 7 119 QS. Ali Imran: 7
BEBERAPA
AKIDAH AHLUSSUNNAH TERKAIT ALAM KUBUR
KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR
Para
hamba di alam kubur ada lima golongan :
Pertama,
para Nabi dan Rasul 'alaihimussalam.
Mereka dalam keadaan yang paling baik di alam kubur. Dari Aus bin Abi Aus
radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi
untuk memakan jasad padaNabi.
Kedua,
ara syuhada (orang yang
wafat ketika jihad fi
sabilillah). Mereka mendapat nikmat
kubur, selamat dari
fitnah kubur (pertanyaan kubur) dan adzab kubur. Ada
sahabat yang bertanya: “Wahai
Rasulullah, apakah benar bahwa setiap Mukmin mengalami ujian di dalam kubur
mereka kecuali para syuhada? Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: 'Cukuplah sabetan pedang
di kepala mereka menjadi ujian bagi mereka'.
Ketiga,
orang-orang mendapat nikmat
kubur setelah melalui
fitnah kubur. Mereka mendapat
berbagai kenikmatan surga:
ditemani oleh amalan shalih, diluaskan
kuburnya, diperlihatkan surga
kepada mereka. Mereka berbahagia sampai-sampai mereka
ingin Kiamat disegerakan
agar bisa berjumpa dengan
keluarganya. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib
radhiallahu'anhu: “... ketika mereka (penghuni kubur) diperlihatkan isi dari
surga, mereka mengatakan: Ya Rabb kami,
percepatlah datangnya kiamat sehingga kamibisa berkumpul kembali dengan
keluarga kami dan harta kami
Keempat,
orang-orang mendapat siksa
kubur setelah melalui
fitnah kubur, namun tidak selamanya. Mereka adalah orang-orang yang
melakukan dosa-dosa namun masih memiliki iman dalam hati mereka. Dari Ibnu
‘Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata:
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu
beliau mendengar suara dua orang manusia
yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda,‘Keduanya sedang diadzab.
Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar(menurut mereka berdua)’, lalu Nabi
bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya
diadzab karena tidak membersihkan bekas kencingnya,dan yang lain karena selalu
melakukan namiimah (adu domba).
Kelima,
orang-orang mendapat siksa
kubur terus-menerus hingga
hari kiamat, merekalah orang-orang
kafir dan orang-orang
munafik. Mereka disiksa dengan
siksaan yang mengerikan
dan terus-menerus hingga
hari kiamat. Sebagaimana dalam hadits dari Al Barra' bin 'Azib
radhiallahu'anhu:“... dijadikan baginya sesosok yang buta dan bisu. Di
tangannya ia memegang alat pemukul dari
besi yang jika digunakan untuk memukul gunung maka gunung tersebut akan menjadi
debu. Maka alat tadi digunakan untuk
memukul sang mayit dengan pukulan yang keras, ketika dipukulkan terdengar suaranyajeritannya antara timur
dan barat kecuali oleh jin dan manusia lalu ia pun menjadi debu. Kemudian
setelah itu dikembalikan lagi ruh tersebut seperti bentuknya semula.
Sumber
:
127 HR.
Bukhari no.6055, Muslim no.703 128 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani
dalam Shahih Abu Daud 125 HR. An Nasa-i no. 2052, dishahihkan Al Albani dalam
Shahih An Nasa-i 126 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Sunan
Abu Daud
123
Diringkas dari Al Hayah Al Barzakhiyyah, karya Syaikh Abdurrahman As Suhaim
rahimahullah 124 HR. Al Hakim 5/776, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al
Jami' no. 2212
PERTANYAAN
DI ALAM KUBUR
Dari
penjelasan di atas
dapat dipahami bahwa
semua orang akan mengalami fitnah (ujian) kubur, kecuali
para Nabi dan syuhada. Fitnah kubur adalah
pertanyaan yang ditanyakan
dua Malaikat di
alam kubur.Barang siapa yang
bisa menjawabnya maka
ia selamat.
Namun yang
tidak bisa menjawabnya ia akan
binasa. Dalam hadits riwayat Abu Daud yang panjang disebutkan mengenai
pertanyaan dua Malaikat di alam kubur dan konsekuensinya
setelah melewati pertanyaan tersebut bagi orang mukmin dan orang yang kafir.
Hadits-hadits tentang pertanyaan di alam kubur Dari
Al Barra' bin 'Azib radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam
bersabda: “Ruh orang (mukmin) yang meninggal akan mendengar hentakan kaki
orang- orang yang menguburkannya ketika
mereka mulai berpulangan. Kemudian Fitnah kubur bukanlah siksa kubur
sebagaimana sangkaan sebagian orang. Fitnah kubur berbeda dengan adzab kubur.
setelah itu datanglah dua Malaikat yang
garang dan membentaknya. Kedua malaikat
tersebut mendudukan sang mayit dan bertanya: siapa Rabb-mu? Ia menjawab:
Rabb-ku adalah Allah. Kedua Malaikat bertanya: apa agamamu? Ia menjawab: Agamaku Islam. Kedua Malaikat
bertanya: siapa orang yang diutus untuk
kalian? Ia menjawab: ia adalah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. Kedua Malaikat bertanya: Kemudian
apa ilmumu? Ia menjawab: aku membaca Al
Qur'an, aku beriman kepadanya, dan membenarkannya. Maka seorang akan ditanya
siapa Rabb-nya, apa agamanya dan siapa
Nabinya? Dan itu adalah ujian terakhir yang diujikan kepada seorang
Mukmin.
Adapun
orang-orang kafir dan
munafik, mereka tidak
bisa menjawab pertanyaan di alam
kubur. Disebutkan dalam lanjutan hadits:
“Ruh orang (kafir) yang meninggal akan mendengar hentakan kaki
orang- orang yang menguburkannya ketika
mereka mulai berpulangan. Kemudian
setelah itu datanglah dua Malaikat yang garang dan membentaknya.
Kedua malaikat tersebut mendudukan sang
mayit dan bertanya: siapa Rabb-mu? Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu.
Kedua Malaikat bertanya: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Ia menjawab: Hah.. hah..
aku tidak tahu. Kedua Malaikat bertanya:
siapa orang yang diutus untuk kalian? Apakah engkau tidak tahu namanya? Bukankah dia Muhammad.
Ia menjawab: Hah.. hah.. aku tidak tahu. Aku pernah mendengar orang-orang menyebutnya.
Maka dikatakan kepadanya: Engkau tidak belajar Al Qur'an, engkau tidak membaca
Al Qur'an. Kemudian diserukan dari langit: Engkau telah mendustakan Al Qur'an.
Lalu ia pun diperlihatkan bagian dari neraka . Dari Al Barra' bin Azib
radhiallahu'anhu, Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda mengenai pertanyaan di alam
kubur:“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya
kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa
anna muhammadan rasuulullah’. Itulah
yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan
orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27).Juga
terdapat riwayat yang mauquf dari Abdullah
bin Mas'ud radhiallahu'anhu,
bahwa beliau berkata:“Sesungguhnya kalian kelak akan didudukkan di dalam kubur
kalian.
Lalu
malaikat akan bertanya: siapa anda. Jika yang ditanya adalah seorang Mukmin, ia akan menjawab: aku adalah hamba
Allah dalam keadaan hidup atau mati,
aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba Allah dan
Rasul-Nya. Seketika itu diluaskan kuburnya sesuai kehendak Allah. Ia
pun bisa melihat tempat tinggalnya di
surga dari dalam kuburnya. Lalu turunlah
pakaian dari surga yang akan dipakainya.
Adapun jika
yang ditanya adalah orang kafir, ketika ditanya: siapa anda? Orang itu
menjawab: saya tidak tahu, saya tidak tahu, sampai 3x. Seketika itu disempitkan kuburnya sampai copot semua
persendiannya dan saling bersinggungan
satu sama lain. Lalu didatangkan ular-ular dari sisi kuburnya, yang mematuk dan memakannya. Jika ia teriak
kesakitan, maka akan dipakaikan penutup
kepala dari besi panas padanya”. Nama malaikat yang bertanya di alam kubur
Nama dua
malaikat yang memberi
pertanyaan di alam
kubur adalah Munkar dan Nakir.
Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar . “Ketika salah seorang dari kalian dikuburkan,
maka akan datang kepadanya dua Malaikat
yang hitam dan bermata biru. Yang satu bernama Munkar dan yang lainnya bernama Nakir. Keduanya
bertanya: “Apa pendapatmu mengenai
lelaki ini (yaitu Rasulullah)?”. Si mayit menjawab sebagaimana yang pernah
dikatakan dahulu (ketika hidup): “Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah
yang berhak disembah selain Allah dan
Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam adalah hamba Allah dan Rasul-Nya”.
Keduanya berkata: “Kami sudah mengetahui bahwa kamu akan mengucapkan demikian.... Hakekat fitnah kubur
dan cara agar bisa menjawabnya Hadits-hadits diatas menunjukkan dengan tegas
tentang adanya pertanyaan dari dua malaikat di alam kubur.
Dan bahwa
pertanyaan di alam kubur terdiri dari tiga pertanyaan:
1. Siapa
Rabb-mu?
2. Siapa
Nabimu? 3. Apa agamamu?
Imam Abu
Ja'far Ath Thahawi rahimahullah dalam matan Al Aqidah Ath Thahawiyah beliau
mengatakan: “(Kami mengimani) adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di
alam kubur, bertanya tentang Rabb-nya,
agamanya dan Nabinya. Sebagaimana khabar yang datang dari Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam dan dari para sahabatnya ridhwanullah 'alaihim”.
Dan
pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dihafal jawabannya dan tidak bisa
dicurangi. Yang mampu menjawabnya adalah orang yang benar imannya dan akidahnya
terhadap Allah dan
Rasul-Nya.
Sebagaimana firman
Allah ta'ala: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al
qauluts tsabit . Ibnu Qathan
rahimahullah berkata:“Para ulama sepakat bahwa adzab kubur itu benar adanya,
dan manusia akan diuji dengan pertanyaan
di alam kubur, setelah ruh mereka dikembalikan ke jasadnya. Allah pun akan
mengokohkan orang-orang yang Allah cintai (untuk menjawab pertanyaan itu). Dan
para ulama sepakat bahwa mereka tidak akan
merasakan pedihnya kematian lagi setelah itu.
Para ulama
Islam dari kalangan Ahlussunnah juga sepakat bahwa adzab kubur itu benar
adanya, dan mereka sepakat tentang adanya malaikat Munkar dan Nakir di alam
kubur”. Maka cara agar kita dapat
menjawab pertanyaan di
alam kubur adalah dengan
mengokohkan akidah kita,
dengan mempelajari dan
mengamalkan ilmu-ilmu
akidah dan tauhid,
terutama ilmu yang
membahas tentang mengenal Allah ta'ala, nama-nama-Nya,
sifat-sifat-Nya,hak-hak-Nya,juga ilmu tentang mengenal Nabi Shallallahu'alaihi
Wasallam, namanya, nasabnya, perjalanan hidupnya, hak-haknya,sunnah-sunnahnya,dan juga ilmu tentang agama Islam secara umum.
Dan inilah landasan-landasan utama dalam agama Islam. Oleh karena itu
Syaikh Muhammad bin
Abdil Wahhab rahimahullah, beliau
membuat kitab Al Ushul Ats Tsalatsah yang berisi tentang penjelasan
ringkas tentang mengenal
Allah, mengenal Islam
dan mengenal Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam.
Adapun orang
kafir, orang munafik dan orang yang ada keraguan dalam imannya, mereka
tidak bisa menjawab
pertanyaan di alam
kubur dengan benar. Mereka akan
mengatakan, “hah.. hah.. saya tidak
tahu. Dahulu ketika di dunia saya
mendengar orang-orang mengucapkan
sesuatu, maka saya ikuti saja.Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
“Renungkanlah ucapan ““hah.. hah.. saya tidak tahu” ini! Ini menunjukkan
bahwa ia
seakan-akan teringat sesuatu
dan berusaha mengingatnya,
namun tidak bisa. Ketika
seseorang teringat sesuatu
dan tidak bisa
menghadirkan ingatan itu, ia akan
merasakan kegalauan yang
amat sangat, dibandingkan jika ia tidak tahu sama sekali“.
Sumber
:
136 Matan Al
Aqidah Ath Thahawiyah, poin ke-80 137 QS. Ibrahim: 27 138 Abul Hasan Ali bin Al
Qathan Al Fasi. Ulama hadits dari Maghrib (Mauritania). Dikenal dengan
kitabnya “Bayanul Wahmi wal Iham” yang dipuji oleh para
ulama. Beliau wafat pada tahun 628H
131 HR. Abu
Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud 132 HR. Bukhari
no.1369, Muslim no.7398
134 HR. At
Tirmidzi no. 1071, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam as Silsilah al Ahadits
ash Shahihah no. 1391 135 Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah
ath-Thahawi, seorang ulama madzhab Hanafi dari desa Thaha di Mesir. Seorang ahli fikih dan ahli hadits. Dikenal
dengan kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah. Beliau wafat pada tahun
321H. 130 HR. Abu Daud no. 4753, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud
Apakah
anak kecil yang belum baligh juga ditanya?
Ada
khilaf ulama dalam
masalah ini. Sebagian ulama berpandangan bahwa anak
kecil yang wafat
dalam keadaan belum
baligh, mereka tidak mengalami fitnah kubur. Ini pendapatnya
Al Qadhi Abu Ya'la dan Ibnu Aqil rahimahumallah. Argumen
mereka, karena anak
kecil itu belum
terkena beban syari'at dan
diangkat pena catatan
amalan dari mereka.
Sehingga
mereka pun tidak dibebani dengan pertanyaan di alam kubur. Namun jumhur ulama
berpendapat bahwa anak kecil yang belum baligh pun akan ditanya di alam kubur.
Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada tentang fitnah kubur. Yang dikecualikan hanya para Nabi dan para
syuhada. Juga sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, bahwa anak kecil
pun akan mengalami dhaghthah (penghimpitan) di
alam kubur. Pendapat
ini dipilih oleh para murid imam Asy Syafi'i, demikian juga merupakan
pendapat imam Ahmad bin
Hambal, imam Malik
dan diklaim oleh
Abul Hasan Al Asy'ari sebagai madzhab
Ahlussunnah142. 139Al Iqna' fi Masail al
Ijma', 1/50 140Syarhu Haditsi Jibril 'alaihissalam, halaman 38
Pertanyaan
malaikat kepada orang yang mati tenggelam dan semisalnya
Pada
dasarnya, semua orang yang mati dalam keadaan apapun pasti akan mengalami alam
kubur, tanpa terkecuali. Dan alam kubur itu berbeda dengan alam dunia.
Sehingga tidak ada
bedanya seseorang yang
di alam dunia
ia dikubur mayatnya dengan
baik ataukah hilang
mayatnya, hancur lebur menjadi debu,
tenggelam, dimakan binatang sampai tak
bersisa atau semisalnya. Allah
ta'ala Maha Kuasa menghidupkan mereka semua di alam kubur. Allah ta'ala
berfirman: “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia berkata: “Siapakah yang
dapat menghidupkan tulang belulang, yang
telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang
menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Yaitu Rabb yang
menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api)
dari kayu itu.
Syaikh Muhammad
bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Peristiwa pertama
yang dialami setelah
kematian adalah fitnah
kubur. Manusia akan diuji di dalam kubur mereka. Semua manusia yang
meninggal, baik yang dikuburkan
di dalam kubur,
ataupun jasadnya tergeletak
di atas tanah (tidak
dikubur), atau jasadnya
dimakan oleh binatang
buas, atau jasadnya hancur
terhempas angin, semua
akan mengalami ujian
di alam kubur”.
Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah menjelaskan:
“Sudah kita ketahui bersama
bahwa pertanyaan dua
Malaikat kepada jenazah
yang dikubur adalah setelah
ia diletakkan di
dalam kubur. Sebagaimana
sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
“Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan
di kuburnya, lalu kerabatnya mulai berpulangan, ia mendengar suara sandal
mereka. Kemudian datanglah dua Malaikat, lalu kedua Malaikat itu menjadikan
mayit duduk….Adapun mayat yang
tidak dikuburkan, semisal
dimakan hewan buas, atau dimakan ikan besar, atau
tenggelam, sampai ia menjadi debu. Atau juga orang yang hancur lebur terkena
bom. Mereka ini tidak diragukan lagi pasti akan
ditanya juga oleh
dua Malaikat, namun
tidak diketahui bagaimana kaifiyah(cara)-nya. Karena
perkara ini adalah
perkara gaib yang tauqifiy (diketahui dengan dalil), dan
tidak boleh meng-qiyas-kan dunia gaib dengan dunia nyata.Adapun
adzab kubur itu
dirasakan oleh jiwa
dan raganya,berdasarkan kesepakatan
ulama ahlus sunnahwaljama’ah.Jiwanya yang mendapat nikmat
dan adzabnya pada
raganya namun keduanya
saling berhubungan. Barangsiapa yang
mati dan ia
layak mendapat adzab
kubur, maka ia akan mendapatkannya, baik ia dikubur ataupun tidak (lebih
jelasnya lihat kitab Ar Ruh karya Ibnul Qayyim, hal 81-88)147.
Sumber
:
147 Sumber:
http://www.ferkous.com/site/rep/Ba18.php https://dorar.net/aqadia/2152
143 QS.
Yasin: 78-80 144Syarhu Haditsi Jibril 'alaihissalam, halaman 37 145 Seorang
ulama Ahlussunnah dari Aljazair 146 HR. Bukhari no.1374, Muslim no.7395
141 Akan
disebutkan haditsnya di bab “Penghimpitan di alam kubur” 142 Diringkas dari
Mausu'ah Aqdiyah Durarus Saniyyah, bab “Fitnatul Qabri”,

0 comments:
Posting Komentar