Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Minggu, 04 Oktober 2026

BEBERAPA ULAMA MENILAI HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB KUBUR

 BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR

SYUBHAT 3 ADANYA ALAM  KUBUR

 Syubhat  ini  adalah  turunan  dari  syubhat  kedua.  Dalam  tulisan-tulisan mereka  yang  menolak  adanya  adzab  kubur,  mereka  mengutip  beberapa pernyataan sebagian ulama ahlussunnah yang menganggap hadits ahad hanya bernilai zhan dan tidak bernilai ilmu.

BEBERAPA ULAMA MENILAI  HADITS AHAD BERNILAI ZHAN, SEHINGGA  MEREKA PUN TIDAK MENGIMANI ADZAB  KUBUR


Sehingga mengesankan bahwa sebagian ulama tersebut juga tidak mengimani adanya adzab kubur. Inilah kecurangan mereka dalam berargumentasi. Memang benar terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang apakah hadits Ahad    bernilai zhan,  ataukah  bernilai  ilmu,  ataukah  bernilai  ilmu  namun dengan   syarat.   Namun   mereka   sepakat   beramal   dengan   hadits   Ahad, sebagaimana telah kami sampaikan pernyataan ijma dalam hal ini.

Memang juga   sebagian   ulama,   mengatakan   bahwa   terhadap   hadits  Ahad,   wajib beramal  dengannya  namun  tidak  diyakini.  Namun  hal  ini  pada  hakekatnya hanyalah ikhtilaf lafzhi, karena setiap dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang shahih  adalah  hujjah  yang  wajib  diyakini  kebenarannya  dan  diamalkan.

Bagaimana mungkin seseorang diperintah untuk beramal tanpa meyakini apa yang dia amalkan? Semisal  hadits  tentang  meminta  perlindungan  dari  adzab  kubur  setiap selesai shalat:      “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa ketika sedang shalat  dengan doa (yang artinya): ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab  kubur, dari fitnah al masih ad dajjal, dari fitnahnya orang yang masih hidup atau yang telah mati. Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dari perbuatan  dosa dan hutang’”.  Bagaimana  mungkin   dengan dasar hadits ini,  dikatakan      bahwa disunnahkan  membaca  doa  tersebut  setiap  sebelum  salam  ketika  shalat namun   tidak   boleh   meyakini   isinya??   Dari   sini   terlihat   jelas   bahwa memisahkan  permasalahan  hukum  dan  aqidah  dalam  pembahasan  hadits Ahad adalah perkara yang aneh.  Di   antara    nama      ulama     yang    sering     di-’catut’    untuk     melariskan pemahaman  mereka  adalah  Al  Imam  Al  Bukhari.  Pasalnya,  dalam  kitab Shahih Bukhari beliau menulis judul bab:   “Bab dalil-dalil tentang bolehnya menggunakan khabar ahad yang shahih               dalam masalah adzan, shalat, puasa, waris dan ahkam” Padahal  Al   Bukhari   tidak   menyebutkan i’tiqad atau ‘aqaa-id  dalam kalimat  tersebut,  sehingga  diklaim  bahwa  beliau  tidak  berhujjah  dengan hadits  ahad  dalam  masalah  aqidah.  Padahal  faktanya,  Al  Bukhari  banyak meriwayatkan hadits-hadits Ahad dalam masalah aqidah di Shahih Bukhari. Adapun judul bab yang beliau buat demikian, justru untuk membantah orang- orang yang menolak kehujjahan hadits ahad secara umum. Dan yang paling penting  dan  perlu  digaris-bawahi  adalah, Imam  Al  Bukhari  mengimani  dari Aisyah radhiallahu'anha                           

adanya adzab kubur dan alam kubur. Sebagaimana telah kami singgung pada bagian dalil-dalil Al Qur’an tentang adanya alam kubur.   Selain beliau, Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani pun seringkali di-’catut’ dengan cara demikian. Padahal beliau dalam kitab Fathul Baari, menyetujui aqidah  Imam  Al  Bukhari  dalam  mengimani  adzab  kubur  dan  menyelisihi orang-orang yang menafikannya. Ketika beliau mengomentari kalimat:   Ibnu    Hajar rahimahullah  berkata:  “Seolah-olah,  maksud  Al  Bukhari mendahulukan  penyebutan  ayat-ayat  ini  karena  ingin  menjelaskan  bahwa pembahasan adzab kubur ada dalam Al Qur’an, menyelisihi sebagian orang yang  mengklaim  bahwa  pembahasan  adzab  kubur  hanya  ada  dalam  hadits ahad”116.      Selebihnya, nama-nama ulama yang mereka sebutkan untuk melariskan pemahaman menyimpang mereka, biasanya berasal dari kalangan ulama yang terpengaruh ilmu kalam atau pemikiran mu’tazilah. 116Fathul Baari, 4/443 115 HR. Bukhari no. 832, 6376, Muslim no. 589, 

0 comments:

Posting Komentar