Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 09 Desember 2025

Kisah kesombongan firaun setelah mendapat teguran

 Kisah kesombongan firaun setelah mendapat teguran

Melihat keadaan demikian, mereka pun pergi ke Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya agar menyingkirkan siksaan ini dari mereka dan mereka berjanji untuk melepaskan padanya Bani Israil. Nabi Musa pun lagi-lagi berdoa   kepada   Tuhannya   sehingga   Allah   s.w.t   menyingkirkan   azab   itu   dari mereka. Dan belalang-belalang itu kembali ke tempat asalnya. 

Kisah kesombongan firaun setelah mendapat teguran


Mereka dapat menanami kembali bumi dengan baik. Lalu Nabi Musa meminta kepada mereka untuk melepaskan Bani Israil namun mereka menunda-nundanya sehingga Nabi Musa   mengetahui   bahawa   sebenarnya   mereka   tidak   serius   untuk   memenuhi janji mereka. Kemudian datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain, yaitu dikirim-Nya berbagai macam   hama. Tersebarlah   hama   yang   membawa   penyakit.   Lagi-   lagi mereka datang   kepada   Nabi   Musa   dan   mengulangi   janji   mereka   dan   Nabi   Musa   pun berdoa     kepada    Allah   s.w.t. 

 Kali  ini  mereka    pun   tetap   mengingkari     janji mereka. Lalu datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain dalam bentuk dikirim-Nya katak   di   mana   bumi   dipenuhi   dengan   katak.   Katak   itu   melompat-lompat   ke sana-sini   dan   memenuhi   makanan   orang-   orang   Mesir   serta   berada   di   rumah mereka sehingga mereka sangat terganggu dengan kehadiran katak-katak liar itu. Lagi-lagi mereka menemui Nabi Musa dan kembali mengulangi janji mereka dan    meminta     padanya     agar  ia  berdoa    kepada    Tuhannya     agar   Allah   s.w.t menyingkirkan azab dari mereka. Tetapi mereka pun tetap mengingkari janji mereka. Selanjutnya, Allah s.w.t menurunkan azab yang lain yaitu darah di mana sungai Nil   berubah   menjadi   darah   sehingga   tidak   seorang   pun   dapat   meminumnya. Kita   ketahui   bahawa   mukjizat-mukjizat   pertama   berupa   sesuatu   yang   biasa terjadi   pada   tanaman.   Berkurangnya   air   Nil   atau   bertambahnya   air   tersebut atau serangan belalang atau hama dan katak, semua ini adalah bukan hal baru bagi orang-orang   Mesir.   Yang   baru   adalah kejadian   ini terjadi dengan   sangat tiba-tiba    dan   sangat   mencekam.      Sedangkan     mukjizat    atau   azab   yang   lain adalah azab yang tidak biasa terjadi di daerah Mesir, yaitu azab yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana air sungai Nil berubah menjadi darah. Perubahan   sungai   itu   menjadi   darah   hanya   terjadi   di   kalangan   orang-   orang Mesir sedangkan Musa dan kaumnya dapat meminum airnya seperti biasanya. Namun   ketika   seorang   Mesir   memenuhi   tempat   gelasnya   dengan   air   maka   ia akan    mendapati      bahawa    gelasnya    penuh    dengan    darah.    Melihat   peristiwa tersebut,     orang-orang     Mesir   tergoncang      sebagaimana      istana   Fir'aun   juga tergoncang      melihat   seksa   yang   mengerikan     dan   baru   ini. Lagi-lagi  mereka menuju ke Nabi Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya dan mereka berjanji pada kali ini untuk membebaskan orang-orang Bani Israil. Nabi   Musa   pun   berdoa   kepada   Tuhannya   sehingga   azab   itu   disingkirkan   dari orang-orang      Mesir.  Meski   demikian.     istana  Fir'aun   tidak  mengizinkan     Musa untuk   menemui   kaumnya   dan  pergi   bersama   mereka. 

Lalu   bagaimana   sikap Fir'aun      sendiri?    Fir'aun     tetap     menunjukkan        pembangkangnya          dan kesombongannya.   Fir'aun   mengumumkan   di   tengah-tengah   kaumnya   bahawa dia    tuhan.   Bukankah     -  kata   Fir'aun   -  dia  memiliki    kerajaan     Mesir   dan sungai-sungai      ini  mengalir    di  bawah     kekuasaannya?      Fir'aun  memberitahu bahawa Musa adalah tukang sihir yang bohong dan ia hanya seorang fakir yang tidak mampu menggunakan satu kalung emas dan satu gelang emas. Allah s.w.t berfirman: "Dan     sesungguhnya        Kami     telah    mengutus      Musa     dengan      membawa mukjizat-mukjizat        Kami    kepada     Fir'aun   dan   pemuka-pemuka         kaumnya. Maka     Musa   berkata:    'Sesungguhnya       aku   adalah   dari   utusan   Tuhan     seru sekalian   alam.   Maka   tatkala   dia   datang   kepada   mereka   dengan   membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mengetawakannya. Dan tidakkah      Kami    perlihatkan     kepada     mereka      sesuatu    mukjizat     kecuali mukjizat      itu  lebih  besar   dari   mukjizat-mukjizat       sebelumnya.      Dan   Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kejalan yang benar). Dan    mereka     berkata:    'Hai   ahli  sihir  berdoalah     kepada    Tuhanmu      untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya       kami    (jika  doamu     dikabulkan)     benar-benar      akan   menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka tatkala Kami menghilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya). Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: 'Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir     ini  kepunyaanku       dan    (bukankah)     sungai-sungai      ini  mengalir     di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?' Bukankah aku lebih baik dari    orang    yang    hina    ini  dan    yang    hampir     tidak   dapat     dijelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat   datang   bersama-sama   dia   untuk   mengiringkannya.'   Maka   Fir'aun mempengaruhi         kaumnya      dengan    (perkataannya       itu)  lalu  mereka     patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (QS. az-Zukhruf: 46-54) Perhatikanlah      ungkapkan      Al-Quran:    Maka    Fir'aun  mempengaruhi        kaumnya dengan   (perkataannya   itu)   lalu   mereka   patuh   kepadanya.   Fir'aun   memenjara akal   mereka,     membelenggu      kebebasan     mereka,    dan   menutup     masa    depan mereka   yang   cerah.   Fir'aun   menodai   kemanusiaan   mereka   sehingga   mereka mentaatinya. Bukankah ketaatan ini aneh? Namun keanehan ini hilang ketika kita   mengetahui   bahawa   mereka   adalah   orang-   orang   yang   fasik.   Kefasikan menjadikan seseorang tidak peduli dengan masa depannya dan kepentingannya serta urusannya. Pada akhirnya, ia akan mendapati kehancuran. Demikianlah yang terjadi pada kaum Fir'aun. Allah s.w.t berfirman: "Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami   tenggelamkan   mereka   semuanya   (di   laut),   dan   Kami   jadikan   mereka sebagai     pelajaran    dan   contoh    bagi   orang-orang    yang    kemudian."     (QS. az-Zukhruf: 55-56) Tampak      jelas  bahawa    Fir'aun   tidak  beriman     kepada   Musa.    Fir'aun  tidak menghentikan   usaha   untuk   menyeksa   Bani   Israil   dan   ia   tetap   merendahkan kaumnya.   Maka   melihat   kenyataan   yang   demikian,   Musa   dan   Harun   berdoa buruk untuk Fir'aun: "Musa berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan perhiasan dan harta kekayaan dalam   kehidupan   dunia,   ya   Tuhan   kami,   akibatnya   mereka   menyesatkan (manusia)     dari  jalan   Engkau.   Ya   Tuhan   kami,    binasakanlah    harta   benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.'" (QS. Yunus: 88-89) Kemudian datanglah izin kepada Nabi Musa untuk meninggalkan Mesir dengan disertai oleh kaumnya yang mengikutinya. Sikap kaum Nabi Musa sangat aneh. Tidak semua kaumnya beriman kepadanya. Allah s.w.t berfirman: "Maka   tidak   ada   yang   beriman   kepada   Musa,   melainkan   pemuda-   pemuda dari     kaumnya      (Musa)    dalam     keadaan      takut    bahawa      Fir'aun    dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyeksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu sewenang-wenang          di   muka     bumi.    Dan    sesungguhnya       dia   termasuk orang-orang yang melampaui batas." (QS. Yunus: 83) Selesailah    urusan. 

Read More

Senin, 08 Desember 2025

Teguran Allah SWT kepada firaun melalui bencana

 Teguran Allah SWT kepada firaun melalui bencana

Allah s.w.t   menurunkan   tahun-tahun   yang   kering   dan   tandus   kepada   orang-orang Mesir   di   mana   bumi   tampak   kering   kontang   dan   sungai   Nil   pun   mengering hingga    buah-buahan      jarang   sekali  ditemukan    dan   harga   semakin    mencekik leher. 

Teguran Allah SWT kepada firaun melalui bencana


  Akibatnya,   kelaparan   melanda   di   sana-sini.   Dalam   keadaan   demikian, orang-orang   Mesir   menganggap   bahawa   kehidupan   mereka   terancam.   Adalah hal yang maklum bahawa seksa yang seperti ini akan selalu menimpa manusia ketika mereka berpaling dari keimanan dan takwa. Allah s.w.t berfirman: "Jikalau sekitarnya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka      mendustakan       (ayat-ayat    Kami)    itu,  maka     Kami    seksa   mereka disebabkan perbuatannya." (QS. al-A'raf: 96) Hukum      yang   lama   diperlakukan     atas   penduduk     Mesir   kerana   dua   sebab: pertama,   sikap   dingin   mereka   terhadap   pembunuhan   yang   dilakukan   Fir'aun kepada     para   tukang   sihir,  kedua,   sikap  dingin   mereka    terhadap    kelaliman penguasa      mereka.    Aneh    sekali  ketika   kaum    Fir'aun  mengembalikan       masa paceklik     ini  dan   musibah    kelaparan     ini  pada   suatu   sebab    yang   sangat menghairankan.        Mereka    mengatakan      bahawa    apa    yang   menimpa     mereka kerana   kesialan   yang   dibawa   oleh   Musa.   Kelaparan   yang   melanda   mereka, kefakiran, dan kekurangan buah-buahan yang mereka rasakan saat ini adalah disebabkan oleh adanya Musa di tengah-tengah mereka. Kemudian kefakiran mereka semakin meningkat dan mereka semakin menjauh dari     kebenaran.     Mereka      meyakini     bahawa      sihir  Musa     adalah     yang bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa mereka pada musim paceklik ini.   Mereka    mengira    dengan    kebodohan     mereka     bahawa    kekeringan     yang melanda negeri mereka adalah sebagai alat atau kekuatan yang digunakan oleh Musa   untuk   menyihir   mereka.   Namun   perlu   diperhatikan   bahawa   pemikiran demikian     tidak   mewakili    pemikiran    umumnya      masyarakat     saat  itu,  tetapi pemikiran      ini  datang     dan   dihembuskan       oleh   kelompok-kelompok         yang berkuasa.   Akhirnya,   Allah   s.w.t   menurunkan   azab   yang   lebih   keras   kepada mereka. Allah s.w.t berfirman: "Dan   sesungguhnya   Kami   telah   menghukum   (Fir'aun   dan)   kaumnya   dengan (mendatangkan) musim kemarau       yang     panjang      dan     kekurangan buah-buahan,        supaya    mereka     mengambil      pelajaran.    Kemudian      apabila datang   kepada   mereka   kemakmuran,   mereka   berkata:   'Ini   adalah   kerana (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan    itu  kepada    Musa    dan   orang-orang     yang   besertanya.    Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan   neraka   tidak   mengetahuinya.   Mereka   berkata:   'Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu maka, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami     kirimkan    kepada    mereka    taufan,    belalang,   kutu,   katak   dan   darah sebagai   bukti    yang   jelas,   tetapi   mereka   tetap   menyombongkan   diri   dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. al-A'raf: 130-133) Allah   s.w.t   mengirimkan   berbagai   macam   azab   dengan   harapan   agar   mereka kembali     kepada    Allah  s.w.t   dan  melepaskan      Bani  Israil  serta  membiarkan mereka   pergi   bersama   Musa. 

Allah   s.w.t   mengirim   taufan   kepada   mereka. Setelah masa paceklik, datanglah tahun yang penuh dengan air sehingga bumi pun    tenggelam     dengan    air  sehingga   mereka    tidak  dapat    bercucuk    tanam. Setelah     mereka     diseksa    dengan    sedikitnya air  maka     kali  ini  mereka mendapatkan limpahan air yang luar biasa. Mereka segera datang kepada Nabi Musa sambil berkata: "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata:     'Hai  Musa,    mohonkanlah      untuk    kami   kepada     Tuhanmu     dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu       dan   akan    kami   biarkan    Bani   Israil  pergi   bersamamu.'"      (QS. al-A'raf: 134) Kemudian Nabi Musa berdoa kepada Tuhannya sehingga azab disingkirkan dari mereka.   Air   yang   memancar   dengan   dahsyat   itu   berhenti   dan   bumi   kembali mengambil air yang cukup sehingga layak untuk dibuat bercucuk tanam. Nabi Musa     meminta     kepada     mereka    untuk    mewujudkan       janji  mereka,     yaitu melepaskan   tawanan   Bani Israil.   Tapi   mereka   tidak   memenuhinya. Kemudian datanglah   tanda   kebesaran   yang   lain   yaitu   dalam   bentuk   turunnya   belalang. Allah    s.w.t   mengirim    sekawanan      belalang   yang    memenuhi      tanaman     dan buah-buahan.   Ketika   belalang-   belalang   itu   terbang   maka   tanaman-tanaman mereka   dan   buah-buahan   mereka   tersembunyi   dari   pandangan   kerana   saking banyaknya belalang- belalang itu. Belalang itu memakan makanan orang-orang Mesir.

Read More

Minggu, 07 Desember 2025

Kisah Laki-laki Mukmin dari kalangan keluarga firaun

 Kisah Laki-laki Mukmin dari kalangan keluarga firaun

akhirnya ide firaun tersebut digagalkan oleh seorang laki-laki mukmin Ia adalah seorang lelaki dari kalangan pejabat negara yang terpandang. Al-Quran   tidak   menyebutkan   namanya   kerana   namanya   tidak   begitu   penting dan   begitu   juga   ia   tidak   menyebutkan   sifatnya   kerana   sifatnya   tidak   begitu penting.       Al-Quran      hanya      menceritakan        keadaan       lelaki     ini   yang menyembunyikan   keimanannya.  

pria mukmin dari keluarga firaun


Ia   berbicara   di   tengah-tengah   perkumpulan yang     di   situ   disampaikan       ide   untuk     membunuh        Musa.    Kemudian       ia menghentikan        ide  gila  itu  dan   berusaha     meruntuhkan      ide   itu.  Ia  berkata bahawa   Musa   hanya   mengatakan   bahawa   Allah   s.w.t   adalah   Tuhannya,   lalu untuk   mendukung   penyataannya   itu   ia   membekali   dirinya   dengan   bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan bahawa ia benar-benar seorang rasul. Kemudian ada   dua   kemungkinan   dan   tidak   ada   kemungkinan   ketiga:   pertama   bahawa Musa adalah seorang pembohong, kedua ia seorang yang benar. Jika ia seorang pembohong maka kebohongannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri dan ia   tidak   melakukan   sesuatu   yang   kerananya   ia   harus   dibunuh.   Namun   jika   ia benar   lalu   kita   membunuhnya   maka   gerangan   apa   yang   akan   menjamin   kita dari   keselamatan   terhadap   azab   yang   dijanjikannya?   Seorang   mukmin   yang menyembunyikan   keimanannya   itu   berkata   kepada   kaumnya:   "Sesungguhnya hari ini kita berada di tempat-tempat kekuatan sebagaimana yang dialami oleh Qarun   di   mana   ia   memiliki   kekayaan   dan   kekuatan   kemudian   terjadilah   apa yang terjadi padanya. Siapakah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah s.w.t ketika datang? Siapakah yang dapat menolong kita dari seksaan-Nya jika menimpa       kita?   Tindakan     melampaui      batas   kita   dan    usaha    kita  untuk membohongkan kebenaran telah membuat kita rugi." Perkataan lelaki mukmin itu memuaskan para hadirin. Orang lelaki itu adalah seseorang yang tidak begitu menampakkan loyalitinya kepada Fir'aun. Ia bukan dari kalangan pengikut Musa. Tampaknya ia berbicara dengan motivasi untuk mempertahankan   kekuasaan   Fir'aun,   dan   menurutnya   tidak   ada   sesuatu   yang dapat   menjatuhkan   kekuasaan   Fir'aun   seperti   kebohongan   dan   tindakan   yang melampaui batas dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa.

Dari sinilah kata-kata lelaki mukmin itu memancarkan kekuatannya yang cukup mempengaruhi        Fir'aun,  para   menterinya,     dan   anak   buahnya.    Meskipun    ide Fir'aun    untuk   membunuh      Musa    digagalkan    oleh  lelaki   mukmin    itu, namun Fir'aun   mengatakan   kata-kata   bersejarahnya   yang   kemudian   menjadi   contoh dari sikap orang-orang yang lalim: "Fir'aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min: 29) Demikianlah pernyataan para penguasa yang lalim ketika mereka menghadapi masyarakat mereka. Aku tidak melihat pendapatku kecuali sesuai dengan apa yang aku pertimbangkan. Ini adalah pendapat kami yang khusus. Ia merupakan pendapat      yang    membimbing       kalian    menuju     jalan   petunjuk,     sedangkan pendapat   lainnya   salah.   Oleh   kerana   itu,   kita   harus   tetap   melawannya   dan membinasakannya.   Allah   s.w.t   menceritakan   sikap   demikian   ini   dalam   surah Ghafir: "Dan   seorang     laki-laki   yang  beriman   di   antara   pengikut-pengikut       Fir'aun yang   menyembunyikan   imannya   berkata:   'Apakah   kamu   akan   membunuh seorang laki-laki kerana dia menyatakan: 'Tuhanku ialah Allah,' padahal dia telah    datang    kepadamu       dengan     membawa       keterangan-keterangan         dari Tuhanmu.       Dan   jika  ia  seorang    pendusta     maka    dialah   yang   menanggung (dosa)   dustanya   itu;   dan   jika   ia   seorang   yang   benar   nescaya   sebahagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah   tidak   menunjuki   orang-orang   yang   melampaui   batas   lagi   pendusta. (Musa   berkata):   'Hai   kaumku,   untukmu   lah   kerajaan   pada   hari   ini   dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika   azab   itu   menimpa   kita!'   Fir'aun   berkata:   'Aku   tidak   mengemukakan kepadamu,       melainkan     apa   saja   yang   aku   pandang     baik;   dan   aku   tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min 28-29) Perdebatan      tersebut    tidak  berhenti    pada   batas   ini.  Fir'aun  mengutarakan kata-katanya tetapi seorang mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin itu kembali berbicara: "Dan    orang    yang   beriman     itu  berkata:    'Hai  kaumku,     sesungguhnya       aku khuatir   kamu   akan   ditimpa   (bencana)   seperti   kehancuran   golongan   yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan orang-orang yang   datang   sesudah   mereka.   Dan   Allah   tidak   akan   menghendaki   berbuat kelaliman      terhadap     hamba-hamba-Nya.         Hai   kaumku,     sesungguhnya       aku khuatir     terhadapmu      akan    seksaan    hari   panggil-memanggil,       (yaitu)   hari (ketika)   kamu   (lari)   berpaling   ke   belakang,   tidak   ada   bagimu   seorang   pun yang   menyelamatkan   dirimu   dari   (azab)   Allah,   dan   siapa   yang   disesatkan Allah, nescaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan     sesungguhnya       telah    datang     Yusuf    kepadamu       dengan     membawa keterangan-   keterangan,   tetapi   kamu   senantiasa   dalam   keraguan   tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: 'Allah tidak akan mengirimkan seorang (rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang       yang   memperdebatkan          ayat-ayat    Allah   tanpa    alasan   yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (QS. al-Mu'min: 30-35) Kita    perhatikan    dalam    pembicaraan      tersebut    terdapat    perbezaan     dengan pembicaraan       sebelumnya.     Lelaki   mukmin     itu  berusaha     menguraikan     pada pembicaraan   akhirnya   tentang   bukti-bukti   sejarah.   Ia   menyampaikan   kepada Firaun dan kaumnya argumentasi-argumentasi yang cukup untuk menunjukkan kebenaran Musa. Ia memperingatkan mereka agar jangan sampai mengganggu Musa. Sebelum masa mereka, terdapat umat-umat yang menentang rasul-rasul yang dikirim oleh Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t menghancurkan mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, dan kaum Tsamud. Zaman mereka tidak terlalu jauh dengan zaman sekarang. Sejarah   Mesir   menunjukkan   bukti   kebenaran   ucapannya   di   mana   Nabi   Yusuf datang dengan membawa bukti yang jelas kemudian terdapat orang-orang yang merugikan      dakwahnya      lalu  mereka    beriman     padanya    setelah   keselamatan hampir saja tercabut dari mereka. Lalu apa keanehan di balik pengutusan para rasul    dari  Allah   s.w.t?   Sejarah   masa    lalu  harus   menjadi     bahan    renungan. Bukankah   kelompok   minoriti   orang-   orang   mukmin   memperoleh   kemenangan ketika     mereka     benar-benar     beriman     atas   kelompok      majoriti    yang   kafir? Bukankah   Allah   s.w.t   telah   menghancurkan   orang-          orang   kafir?  Allah   s.w.t menenggelamkan          mereka     dengan     taufan   dan    Allah   s.w.t   menghancurkan mereka   dengan   kilat   atau   Allah   s.w.t   menenggelamkan   mereka   dalam   bumi.

Apa   yang   kita   tunggu   sekarang   dan   dari   mana   kita   tahu   bahawa   usaha   kita membela Fir'aun mati-matian akan membawa keuntungan bagi kita semua? Pembicaraan        lelaki   mukmin      yang   intelektual     itu  mengandung        beberapa peringatan yang mengerikan. Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin bahawa   ide   membunuh   Musa   adalah   ide   yang   tidak   aman.   Atau   dengan   kata lain, itu adalah ide yang tidak menjamin keselamatan mereka. Oleh kerana itu, ide tersebut hendaklah ditinggalkan. Setelah itu, lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran yang dibawa oleh Musa. Ia yang semula menggunakan bahasa isyarat, kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Ia telah berani menampakkan kebenaran: "Orang     yang    beriman    itu   berkata:    'Hai  kaumku,      ikutilah   aku,   aku   akan menunjukkan         kepadamu       jalan   yang    benar.    Hai   kaumku,      sesungguhnya kehidupan   dunia   ini   hanyalah   kesenangan   (sementara)   dan   sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang      siapa    mengerjakan        amal    yang    saleh    baik    laki-laki   mahupun perempuan   sedang   ia   dalam   keadaan   beriman,   maka   mereka   akan   masuk syurga,   mereka   diberi   rezeki   di   dalamnya   tanpa   hisab.'"   (QS.   al-Mu'min: 38-40) Akhirnya,   keimanan   lelaki   mukmin   itu   pun   tersingkap.   Ia   diketahui   sebagai seorang   mukmin   yang   tidak   lagi   menyembunyikan   keimanannya.   Pada   akhir pembicaraannya, ia menegaskan: "Hai   kaumku,   bagaimanakah   kamu,   aku   menyeru   kamu   kepada   keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku kafir kepada Allah dan   mempersekutukan-Nya   dengan   apa   yang   tidak  aku   ketahui padahal aku     menyeru      kamu     (beriman)     kepada     Yang    Maha     Perkasa     lagi   Maha Pengampun?   Sudah   pasti   bahawa   apa   yang   kamu   seru   supaya   aku   (beriman) kepadanya       tidak   dapat    memperkenankan         seruan    apa    pun   baik   di  dunia mahupun       di   akhirat.   Dan    sesungguhnya      kita   kembali     kepada    Allah    dan sesungguhnya       orang-orang     yang   melampaui      batas,   mereka    itulah   penghuni neraka. Kelak kamu akan mengingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan     aku   menyerahkan       urusanku    kepada    Allah. Sesungguhnya Allah   Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. al-Mu'min: 41-44)

Lelaki mukmin itu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang berani ini. Kami kira, Allah s.w.t telah mengirim lelaki mukmin ini dari kalangan Fir'aun agar Fir'aun melupakan Musa. Konteks Al-Quran menyingkap bahawa lelaki ini merupakan       salah   seorang    intelektual    Mesir   yang   mengetahui      sejarah    dan mampu   menganalisis   serta   memiliki   kemampuan   untuk   menghubungkan   satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan akhir dari suatu peristiwa. Orang   yang   beriman   itu   mampu   menggiring   akal   mereka   menuju   kebenaran. Fir'aun   tersibukkan   dengan   lelaki   mukmin   ini   hingga   beberapa   saat   ia   lupa untuk   memikirkan   Musa.   Lelaki   mukmin   itu   berasal   dari   keluarga   Fir'aun.   Ia adalah kerabat dekatnya dan salah seorang pejabat negaranya. Keimanannya terhadap kebenaran menjadikan istana Fir'aun terbagi menjadi dua kubu: kubu pro Musa dan kubu anti Musa. Ini bererti kemenangan yang besar bagi Musa. kerana      itu,    membunuh        lelaki   mukmin       itu   akan     mengganggu        atau menggoyangkan         keberadaan      cendekiawan      Mesir   di  mana     ia  adalah    salah seorang dari mereka. Demikianlah, Fir'aun menghadapi masalah yang rasa-rasanya sulit atau mustahil untuk     terpecahkan.     Membunuh       lelaki  mukmin     itu  tidak   akan   memberikan dampak yang baik, begitu juga membiarkannya hidup juga tidak memberikan dampak       yang   baik.   Akhirnya,     mereka     membikin      suatu   konspirasi    untuk menyingkirkannya. Kemudian di sinilah bimbingan Allah s.w.t diturunkan: "Maka   Allah   memeliharanya   dari   kejahatan   tipu   daya   mereka,   dan   Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." (QS. al-Mu'min: 45) Untuk     beberapa     saat,  Fir'aun   disibukkan    dengan     masalah    baru   ini,  tetapi Fir'aun   adalah   Fir'aun.   Ia   tetap   memakai   busana   kesombongannya;   ia   tetap menyeksa        Bani    Israil,   menghina       mereka      dan    menodai       kehormatan wanita-wanita   serta   membunuh   anak-anak.   Akhirnya,   tibalah   waktunya   bagi Allah    s.w.t    untuk    bersikap    keras   kepada     keluarga    Fir'aun.    Allah   s.w.t menurunkan bencana kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka mengurungkan niat untuk menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin   itu,   dan   sebagai   pembuktian   atas   kebenaran   kenabian   Musa. 

Read More