Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Minggu, 07 Desember 2025

Kisah Laki-laki Mukmin dari kalangan keluarga firaun

 Kisah Laki-laki Mukmin dari kalangan keluarga firaun

akhirnya ide firaun tersebut digagalkan oleh seorang laki-laki mukmin Ia adalah seorang lelaki dari kalangan pejabat negara yang terpandang. Al-Quran   tidak   menyebutkan   namanya   kerana   namanya   tidak   begitu   penting dan   begitu   juga   ia   tidak   menyebutkan   sifatnya   kerana   sifatnya   tidak   begitu penting.       Al-Quran      hanya      menceritakan        keadaan       lelaki     ini   yang menyembunyikan   keimanannya.  

pria mukmin dari keluarga firaun


Ia   berbicara   di   tengah-tengah   perkumpulan yang     di   situ   disampaikan       ide   untuk     membunuh        Musa.    Kemudian       ia menghentikan        ide  gila  itu  dan   berusaha     meruntuhkan      ide   itu.  Ia  berkata bahawa   Musa   hanya   mengatakan   bahawa   Allah   s.w.t   adalah   Tuhannya,   lalu untuk   mendukung   penyataannya   itu   ia   membekali   dirinya   dengan   bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan bahawa ia benar-benar seorang rasul. Kemudian ada   dua   kemungkinan   dan   tidak   ada   kemungkinan   ketiga:   pertama   bahawa Musa adalah seorang pembohong, kedua ia seorang yang benar. Jika ia seorang pembohong maka kebohongannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri dan ia   tidak   melakukan   sesuatu   yang   kerananya   ia   harus   dibunuh.   Namun   jika   ia benar   lalu   kita   membunuhnya   maka   gerangan   apa   yang   akan   menjamin   kita dari   keselamatan   terhadap   azab   yang   dijanjikannya?   Seorang   mukmin   yang menyembunyikan   keimanannya   itu   berkata   kepada   kaumnya:   "Sesungguhnya hari ini kita berada di tempat-tempat kekuatan sebagaimana yang dialami oleh Qarun   di   mana   ia   memiliki   kekayaan   dan   kekuatan   kemudian   terjadilah   apa yang terjadi padanya. Siapakah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah s.w.t ketika datang? Siapakah yang dapat menolong kita dari seksaan-Nya jika menimpa       kita?   Tindakan     melampaui      batas   kita   dan    usaha    kita  untuk membohongkan kebenaran telah membuat kita rugi." Perkataan lelaki mukmin itu memuaskan para hadirin. Orang lelaki itu adalah seseorang yang tidak begitu menampakkan loyalitinya kepada Fir'aun. Ia bukan dari kalangan pengikut Musa. Tampaknya ia berbicara dengan motivasi untuk mempertahankan   kekuasaan   Fir'aun,   dan   menurutnya   tidak   ada   sesuatu   yang dapat   menjatuhkan   kekuasaan   Fir'aun   seperti   kebohongan   dan   tindakan   yang melampaui batas dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa.

Dari sinilah kata-kata lelaki mukmin itu memancarkan kekuatannya yang cukup mempengaruhi        Fir'aun,  para   menterinya,     dan   anak   buahnya.    Meskipun    ide Fir'aun    untuk   membunuh      Musa    digagalkan    oleh  lelaki   mukmin    itu, namun Fir'aun   mengatakan   kata-kata   bersejarahnya   yang   kemudian   menjadi   contoh dari sikap orang-orang yang lalim: "Fir'aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min: 29) Demikianlah pernyataan para penguasa yang lalim ketika mereka menghadapi masyarakat mereka. Aku tidak melihat pendapatku kecuali sesuai dengan apa yang aku pertimbangkan. Ini adalah pendapat kami yang khusus. Ia merupakan pendapat      yang    membimbing       kalian    menuju     jalan   petunjuk,     sedangkan pendapat   lainnya   salah.   Oleh   kerana   itu,   kita   harus   tetap   melawannya   dan membinasakannya.   Allah   s.w.t   menceritakan   sikap   demikian   ini   dalam   surah Ghafir: "Dan   seorang     laki-laki   yang  beriman   di   antara   pengikut-pengikut       Fir'aun yang   menyembunyikan   imannya   berkata:   'Apakah   kamu   akan   membunuh seorang laki-laki kerana dia menyatakan: 'Tuhanku ialah Allah,' padahal dia telah    datang    kepadamu       dengan     membawa       keterangan-keterangan         dari Tuhanmu.       Dan   jika  ia  seorang    pendusta     maka    dialah   yang   menanggung (dosa)   dustanya   itu;   dan   jika   ia   seorang   yang   benar   nescaya   sebahagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah   tidak   menunjuki   orang-orang   yang   melampaui   batas   lagi   pendusta. (Musa   berkata):   'Hai   kaumku,   untukmu   lah   kerajaan   pada   hari   ini   dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika   azab   itu   menimpa   kita!'   Fir'aun   berkata:   'Aku   tidak   mengemukakan kepadamu,       melainkan     apa   saja   yang   aku   pandang     baik;   dan   aku   tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min 28-29) Perdebatan      tersebut    tidak  berhenti    pada   batas   ini.  Fir'aun  mengutarakan kata-katanya tetapi seorang mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin itu kembali berbicara: "Dan    orang    yang   beriman     itu  berkata:    'Hai  kaumku,     sesungguhnya       aku khuatir   kamu   akan   ditimpa   (bencana)   seperti   kehancuran   golongan   yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan orang-orang yang   datang   sesudah   mereka.   Dan   Allah   tidak   akan   menghendaki   berbuat kelaliman      terhadap     hamba-hamba-Nya.         Hai   kaumku,     sesungguhnya       aku khuatir     terhadapmu      akan    seksaan    hari   panggil-memanggil,       (yaitu)   hari (ketika)   kamu   (lari)   berpaling   ke   belakang,   tidak   ada   bagimu   seorang   pun yang   menyelamatkan   dirimu   dari   (azab)   Allah,   dan   siapa   yang   disesatkan Allah, nescaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan     sesungguhnya       telah    datang     Yusuf    kepadamu       dengan     membawa keterangan-   keterangan,   tetapi   kamu   senantiasa   dalam   keraguan   tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: 'Allah tidak akan mengirimkan seorang (rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang       yang   memperdebatkan          ayat-ayat    Allah   tanpa    alasan   yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (QS. al-Mu'min: 30-35) Kita    perhatikan    dalam    pembicaraan      tersebut    terdapat    perbezaan     dengan pembicaraan       sebelumnya.     Lelaki   mukmin     itu  berusaha     menguraikan     pada pembicaraan   akhirnya   tentang   bukti-bukti   sejarah.   Ia   menyampaikan   kepada Firaun dan kaumnya argumentasi-argumentasi yang cukup untuk menunjukkan kebenaran Musa. Ia memperingatkan mereka agar jangan sampai mengganggu Musa. Sebelum masa mereka, terdapat umat-umat yang menentang rasul-rasul yang dikirim oleh Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t menghancurkan mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, dan kaum Tsamud. Zaman mereka tidak terlalu jauh dengan zaman sekarang. Sejarah   Mesir   menunjukkan   bukti   kebenaran   ucapannya   di   mana   Nabi   Yusuf datang dengan membawa bukti yang jelas kemudian terdapat orang-orang yang merugikan      dakwahnya      lalu  mereka    beriman     padanya    setelah   keselamatan hampir saja tercabut dari mereka. Lalu apa keanehan di balik pengutusan para rasul    dari  Allah   s.w.t?   Sejarah   masa    lalu  harus   menjadi     bahan    renungan. Bukankah   kelompok   minoriti   orang-   orang   mukmin   memperoleh   kemenangan ketika     mereka     benar-benar     beriman     atas   kelompok      majoriti    yang   kafir? Bukankah   Allah   s.w.t   telah   menghancurkan   orang-          orang   kafir?  Allah   s.w.t menenggelamkan          mereka     dengan     taufan   dan    Allah   s.w.t   menghancurkan mereka   dengan   kilat   atau   Allah   s.w.t   menenggelamkan   mereka   dalam   bumi.

Apa   yang   kita   tunggu   sekarang   dan   dari   mana   kita   tahu   bahawa   usaha   kita membela Fir'aun mati-matian akan membawa keuntungan bagi kita semua? Pembicaraan        lelaki   mukmin      yang   intelektual     itu  mengandung        beberapa peringatan yang mengerikan. Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin bahawa   ide   membunuh   Musa   adalah   ide   yang   tidak   aman.   Atau   dengan   kata lain, itu adalah ide yang tidak menjamin keselamatan mereka. Oleh kerana itu, ide tersebut hendaklah ditinggalkan. Setelah itu, lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran yang dibawa oleh Musa. Ia yang semula menggunakan bahasa isyarat, kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Ia telah berani menampakkan kebenaran: "Orang     yang    beriman    itu   berkata:    'Hai  kaumku,      ikutilah   aku,   aku   akan menunjukkan         kepadamu       jalan   yang    benar.    Hai   kaumku,      sesungguhnya kehidupan   dunia   ini   hanyalah   kesenangan   (sementara)   dan   sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang      siapa    mengerjakan        amal    yang    saleh    baik    laki-laki   mahupun perempuan   sedang   ia   dalam   keadaan   beriman,   maka   mereka   akan   masuk syurga,   mereka   diberi   rezeki   di   dalamnya   tanpa   hisab.'"   (QS.   al-Mu'min: 38-40) Akhirnya,   keimanan   lelaki   mukmin   itu   pun   tersingkap.   Ia   diketahui   sebagai seorang   mukmin   yang   tidak   lagi   menyembunyikan   keimanannya.   Pada   akhir pembicaraannya, ia menegaskan: "Hai   kaumku,   bagaimanakah   kamu,   aku   menyeru   kamu   kepada   keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku kafir kepada Allah dan   mempersekutukan-Nya   dengan   apa   yang   tidak  aku   ketahui padahal aku     menyeru      kamu     (beriman)     kepada     Yang    Maha     Perkasa     lagi   Maha Pengampun?   Sudah   pasti   bahawa   apa   yang   kamu   seru   supaya   aku   (beriman) kepadanya       tidak   dapat    memperkenankan         seruan    apa    pun   baik   di  dunia mahupun       di   akhirat.   Dan    sesungguhnya      kita   kembali     kepada    Allah    dan sesungguhnya       orang-orang     yang   melampaui      batas,   mereka    itulah   penghuni neraka. Kelak kamu akan mengingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan     aku   menyerahkan       urusanku    kepada    Allah. Sesungguhnya Allah   Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. al-Mu'min: 41-44)

Lelaki mukmin itu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang berani ini. Kami kira, Allah s.w.t telah mengirim lelaki mukmin ini dari kalangan Fir'aun agar Fir'aun melupakan Musa. Konteks Al-Quran menyingkap bahawa lelaki ini merupakan       salah   seorang    intelektual    Mesir   yang   mengetahui      sejarah    dan mampu   menganalisis   serta   memiliki   kemampuan   untuk   menghubungkan   satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan akhir dari suatu peristiwa. Orang   yang   beriman   itu   mampu   menggiring   akal   mereka   menuju   kebenaran. Fir'aun   tersibukkan   dengan   lelaki   mukmin   ini   hingga   beberapa   saat   ia   lupa untuk   memikirkan   Musa.   Lelaki   mukmin   itu   berasal   dari   keluarga   Fir'aun.   Ia adalah kerabat dekatnya dan salah seorang pejabat negaranya. Keimanannya terhadap kebenaran menjadikan istana Fir'aun terbagi menjadi dua kubu: kubu pro Musa dan kubu anti Musa. Ini bererti kemenangan yang besar bagi Musa. kerana      itu,    membunuh        lelaki   mukmin       itu   akan     mengganggu        atau menggoyangkan         keberadaan      cendekiawan      Mesir   di  mana     ia  adalah    salah seorang dari mereka. Demikianlah, Fir'aun menghadapi masalah yang rasa-rasanya sulit atau mustahil untuk     terpecahkan.     Membunuh       lelaki  mukmin     itu  tidak   akan   memberikan dampak yang baik, begitu juga membiarkannya hidup juga tidak memberikan dampak       yang   baik.   Akhirnya,     mereka     membikin      suatu   konspirasi    untuk menyingkirkannya. Kemudian di sinilah bimbingan Allah s.w.t diturunkan: "Maka   Allah   memeliharanya   dari   kejahatan   tipu   daya   mereka,   dan   Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." (QS. al-Mu'min: 45) Untuk     beberapa     saat,  Fir'aun   disibukkan    dengan     masalah    baru   ini,  tetapi Fir'aun   adalah   Fir'aun.   Ia   tetap   memakai   busana   kesombongannya;   ia   tetap menyeksa        Bani    Israil,   menghina       mereka      dan    menodai       kehormatan wanita-wanita   serta   membunuh   anak-anak.   Akhirnya,   tibalah   waktunya   bagi Allah    s.w.t    untuk    bersikap    keras   kepada     keluarga    Fir'aun.    Allah   s.w.t menurunkan bencana kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka mengurungkan niat untuk menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin   itu,   dan   sebagai   pembuktian   atas   kebenaran   kenabian   Musa. 

0 comments:

Posting Komentar