Masa Awal tersebarnya Islam dan perjuangan Menyebarkan
agama Islam
Pada awal-awal masa
tersebarnya Islam, kaum
Muslim menyadari bahwa
mereka menghadapi peperangan yang
tidak akan berhenti. Selama kehidupan ada, maka pertentangan pun tetap ada.

Oleh karena itu, ketika mereka mendapatkan penganiayaan dan siksaan, maka
keimanan mereka justru semakin meningkat,
dan setiap penganiayaan yang
dilakukan oleh kaum
Quraisy, maka mereka tetap
bertahan untuk mempertahankan kebenaran. Sebagai
contoh, Amar bin
Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah seorang
budak yang menjadi korban dari
sistem ekonomi yang
berlaku saat itu,
yaitu ekonomi yang
berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang
yang beriman tersebut
disiksa di Mekah
di mana ia
tidak memperoleh kebebasannya
yang hakiki kecuali setelah ia memeluk Islam. Mereka mengeluarkannya ke gurun
dan menyiksanya beserta
ibunya. Bahkan siksaan
semakin meningkat atas
ibunya agar ia kembali menjadi
musyrik. Ketika ia
tetap mempertahankan keimanannya dan
dengan tegas menolak ajakan
untuk menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya dengan belati yang ada di
dua tangannya. Ia
pun meninggal. Dan
Islam mengorbankan syahidnya
yang pertama. Wanita mulia itu bernama Sumayah, ibu dari
Amar bin Yasir. Banyak kalangan orang-orang
bodoh mengatakan tentang
persetujuan Islam terhadap
sistem perbudakan, atau Islam
mendiamkan sistem perbudakan.
Mereka lupa bahwa
Islam dibangun berdasarkan suatu
prinsip yang ingin membebaskan perbudakan dengan segala bentuknya; Islam
ingin mengeluarkan manusia
dari kepemilikan sesama
manusia menuju kepemilikan
kepada Allah SWT. Jika Islam tidak turun dengan nas-nas yang terperinci
yang mengharamkan sistem perbudakan, maka
dasar-dasarnya secara umum
dan prinsip-prinsip utamanya
menghentikan—baik dalam
tindakan maupun ucapan—sumber-sumber sistem ini.
Allah SWT sebagai
pemilik syariat mengetahui bahwa
sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara yang akan berubah
dengan perubahan waktu,
dan karena Islam
tidak turun pada
waktu yang terdapat
perbudakan saja, tetapi ia
turun secara umum
dan menyeluruh untuk
setiap zaman, maka
Islam sengaja melewati bentuk-bentuk yang
temporal ini dari
bentuk-bentuk eksploitasi menuju
unsur yang pertama atau
dasar pertama yang
menimbulkan bentuk-bentuk eksploitasi
tersebut, sehingga Islam mengharamkannya. Dengan cara
demikian, Islam mengharamkan sistem
perbudakan secara bertahap, seperti
proses pengharaman khamer.
Jadi, keseriusan Islam
sangat menonjol dalam usaha
menghapus dan mengharamkan perbudakan. Jika dikatakan kepada kita bahwa Islam
membolehkan para tentaranya untuk memperbudak para tawanan perang, maka kita
akan mengatakan bahwa Islam menerapkan sistem ini sebagai bentuk
pembalasan terhadap perlakuan
yang sama di
mana musuh-musuh Islam
menjadikan kaum Muslim sebagai
budak-budak mereka ketika mereka menawannya. Oleh karena itu, secara alami
orang-orang Islam pun menawan mereka sebagai budak-budak. Jika Islam tidak
melakukan yang demikian, maka boleh jadi
Islam akan dimain-mainkan dan ada kesempatan besar bagi orang- orang
musyrik untuk memperdaya Islam. Demikianlah bahwa dakwah Islam mengalami
berbagai macam hambatan dan penindasan.
Dan ketika orang-orang yang tersiksa mengadu kepada
Rasulullah saw atas penindasan yang mereka terima, maka Rasulullah saw
memberitahu mereka dengan pembicaraan yang jelas bahwa para dai di jalan Allah
SWT harus mengorbankan kesenangan mereka, kedamaian mereka, dan darah mereka
sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya dakwah Islam. Kebebasan bukan
diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah
kehidupan menceritakan kepada
kita bahwa ia
dipenuhi dengan gumpalan darah
yang harus dibayar
oleh masyarakat untuk
memerangi musuh-musuhnya dari luar
dan dari dalam.
Jika ini dialami
setiap orang yang
menuntut kebebasan pada
zaman dan tempat tertentu, maka
bagaimana dengan orang-orang yang menuntut kebebasan manusia secara
keseluruhan. Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa dengan mengumumkan dakwahnya,
maka ia pasti akan menerima
pengusiran, penindasan, penjara,
pengepungan dan pembunuhan.
Ini adalah harga yang pantas yang harus dibayar ketika
berdakwah di jalan Allah SWT; inilah harga kebebasan. Bahkan terkadang
kaum yang batil
pun membayamya dengan
senang hati, maka
bagaimana mungkin orang-orang yang bersama kebenaran ragu untuk
melakukannya. Pada hakikatnya, manusia cinta kepada keabadian. Secara naluri
manusia merasa takut pada azab dan kematian.
Dan barangkali yang membedakan
orang-orang Islam yang hakiki dengan yang lainnya adalah bahwa mereka terbebas
dari rasa ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah tolok ukur yang
pasti untuk membedakan
antara seorang Muslim
yang hakiki dan
seorang Muslim yang hanya
namanya atau Muslim warisan atau hanya klaim semata. Seorang Muslim
yang hakiki menyadari
bahwa ajal di
tangan Allah SWT,
rezeki adajuga di tangan-Nya, begitu juga keamanan semua
ada di tangan-Nya. Dengan keimanan seperti ini, ia memulai pergulatannya untuk
menyebarkan dakwah. Ia
siap untuk menerima
penyiksaan dan penderitaan di
jalan Allah SWT;
ia pun siap
meneteskan darahnya sebagai
harga yang pantas yang diberikannya dalam rangka
memperoleh kebebasan. Ini semua dilakukanya dengan begitu sederhana dan tidak
ada rasa takut karena Islam membebaskannya dari rasa ketakutan. Dahulu
para pembangkang menggergaji orang-orang yang
menyeru di jalan
Allah SWT dengan menggergaji saat mereka dalam
keadaan hidup-hidup.
Khabab bin
Irit pergi menemui
Rasulullah saw dan
meminta tolong kepada
beliau dari penyiksaan orang-orang Quraisy,
sambil berkata: "Tidakkah engkau
menolong kami, wahai Rasulullah? Tidakkah engkau berdoa
kepada kami, ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab: "Sungguh
sebelum kalian terdapat orang-orang yang berdakwah di jalan Allah SWT lalu
mereka dimasukkan dalam suatu
galian tanah lalu
mereka digergaji di
mana tubuh mereka
dipisah menjadi dua, namun mereka tetap mempertahankan agamanya. Demi
Allah, sungguh Allah SWT akan menolong masalah ini tetapi kalian terlalu
tergesa-gesa." Dengan
kalimat-kalimat yang penuh
kesabaran dan keberanian ini,
Rasulullah saw ingin memahamkan kepada orang tersebut
bahwa termasuk dari kesempurnaan iman adalah membayar harga kebebasan. Jelas
sekali bahwa Islam
tidak memberikan keuntungan bagi
orang yang memeluknya.
Orang-orang Islam yang pertama tidak bertanya dan mengatakan: "Apa yang
kita peroleh dari agama
ini?" Sebaliknya, mereka
bertanya: "Apa yang
kita bayar untuk
Islam?" Jawabannya
adalah: "Segala sesuatu
dimulai dari suapan-suapan roti
sampai darah yang tertumpah." Jadi,
kaum Muslim yang
pertama telah membayar
ongkos kebebasan. Mereka merasakan kedamaian yang
luar biasa untuk
mempertahankan agama Allah
SWT; mereka mendapatkan kepercayaan yang
tinggi tentang kemenangan kebenaran yang
datang kepada mereka; mereka
justru memberitahu orang-orang musyrik bahwa
mereka akan dapat mengalahkan raja-raja
Kisra dan Kaisar.
Dengan dakwah yang
mereka lakukan, mereka
akan menjadi pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum musyrik justru
memanfaatkan kepercayaan ini untuk mengejek mereka dan menertawakan mereka.
Ketika Aswad Ibnu
Matlab dan orang-orang
yang bersamanya melihat
sahabat-sahabat Nabi, maka mereka
mengejek dan mengatakan:
"Telah datang kepada
kalian pemimpin-pemimpin
bumi yang esok
akan mengalahkan raja-raja
Kisra dan Kaisar,
kemudian mereka bersiul
dan bertepuk
tangan." Namun kaum
mukmin tidak peduli
dengan ejekan tersebut.
Demikianlah bahwa ejekan demi
ejekan terus menyertai
dakwah kaum Muslim.
Kemudian kaum Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah
untuk menyatukan pandangan dalam rangka menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik
menuduhnya bahwa beliau adalah seorang ahli sihir, dan pada kali yang
lain mereka menuduhnya
bahwa beliau adalah
dukun, dan pada
kali yang lain
lagi mereka menuduhnya bahwa
beliau adalah penyair,
bahkan pada kali
yang lain mereka menuduhnya bahwa
beliau adalah seorang
yang gila. Kemudian
mereka semua sepakat
untuk menuduh bahwa beliau adalah seorang penyihir.
Walid bin Mughirah yang terkenal sebagai orang yang
terpandang di kalangan mereka menuduh Rasulullah saw
sebagai penyihir yang
dapat memisahkan antara
sesama saudara dan
antara seseorang dengan isterinya. Kemudian mereka membikin kelompok-kelompok yang mengingatkan para pendatang di
Mekah bahwa Muhammad adalah seorang penyihir. Meskipun demikian, dakwah
Islam tetap berlangsung. Ia
tetap tersebar dengan
pelan namun pasti
dan kalimat-kalimat yang diutarakan
Nabi justru mengingatkan perjanjian
yang pernah dilakukan oleh manusia,
yaitu perjanjian saat
Allah SWT menyaksikannya ketika
mereka masih di
alam atom di punggung Adam: "Bukankah aku Tuhan kalian? Mereka
menjawab: 'Benar.'" (QS. al- A'raf:
172) Bertambahlah jumlah
kaum Muslim hingga
kaum Quraisy merasakan
ketakutan. Mereka mulai melihat bahwa penggunaan cara-cara kekerasan
tidak selalu berhasil. Kemudian mereka
memilih untuk menggunakan cara
baru, yaitu bagaimana seandainya mereka menggunakan perdamaian dan
perundingan. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang lelaki
yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding.
'Utbah berkata kepada
Rasul saw: "Wahai
anak saudaraku, kami
mengetahui kedudukanmu di sisi kami dari sisi nasab. Engkau datang
kepada kaummu dengan suatu hal yang besar di mana engkau memisahkan
kelompok-kelompok mereka. Maka
dengarkanlah aku karena
aku ingin berbicara tentang
beberapa hal. Barangkali
engkau akan menerima
sebagiannya." Rasul saw berkata: "Silakan berbicara
wahai 'Utbah." 'Utbah
berkata: "Jika engkau
menginginkan harta niscaya kami
akan mengumpulkan harta
bagimu, sehingga engkau
akan menjadi orang
yang paling kaya di
antara kami, dan
jika engkau menginginkan kehormatan, maka
kami akan memberi kehormatan
itu bagimu dan
jika engkau menginginkan kekuasaan,
maka kami akan menyerahkan kekuasaan
padamu dan jika
engkau terkena penyakit
yang engkau tidak
mampu menolaknya dari dirimu,
maka kami akan
mencarikan tabib bagimu
dan kami akan mengeluarkan harta kami sehingga
engkau sembuh." Demikianlah
'Utbah mengakhiri pembicarannya. Kemudian ia
menunggu reaksi Nabi.
Lalu Rasulullah saw berkata: "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Haa miim.
Diturunkan dari Tuhan
Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyanyang. Kitab
yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum
yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan
mereka berpaling (darinya);, maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka
berkata: 'Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru
kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara
kami dan kamu
ada dinding, maka
bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami
bekerja (pula).'
Katakanlah: 'Bahwasannya aku
hanyalah seorang manusia
seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya
Tuhan kamu adalah
Tuhan Yang Maha
Esa, maka tetaplah
pada jalan yang lurus menuju
kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi
orang-orang yang mempersekutukan-(Nya), (yaitu)
orang-orangyang tidak menunaikan
zakat dan mereka kafir akan adanya (hehidupan) akhirat. Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala
yang tiada putus-putusnya.' Katakanlah: 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir
kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu
bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.
Dan dia menciptakan
di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya
kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa.(Penjelasan itu
sebagai jawaban) bagi
orang-orang yang bertanya.
Kemudian dia menuju
kepada penciptaan langit dan
langit itu masih
merupakan asap, lalu
Dia berkata kepadanya
dan kepada bumi: 'Datanglah kamu
keduanya menurut perintah-Ku
dengan suka hati
atau terpaksa.' Keduanya menjawab: 'Kami
datang dengan suka
hati.' Maha Dia
menjadikannya tujuh langit
dalam dua masa dan Dia
mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.
Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang
cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang
Maha Perhasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku
telah memperingatkan kamu
dengan petir, seperti
petir yang menimpa
kaum 'Ad dan kaum Tsamud." (QS. Fushilat: 1-13) Rasulullah saw
telah menjawab tawaran 'Utbah
di mana
beliau memilih untuk
menghadapi tawaran dan iming-iming tersebut
dengan membaca sebagian dari
surah Fhusilat yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an
yang diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari
tempatnya ketika Rasulullah saw sampai pada firman-Nya: "Jika mereka
berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir,
seperti petir yang menimpa
kaum "Ad dan
kaum Tsamud. "
(QS. Fushilat: 13) 'Utbah
berdiri dalam keadaan takut
dan segera menuju
kaum Quraisy.