Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 20 Agustus 2025

Kisah keislaman Umar bin Khatab

 Kisah keislaman Umar bin Khatab

Sedangkan   Umar  bin Khatab    terkenal   dengan    ketangguhan      sikap  dan   kekerasan     perilaku. Seringkali kaum Muslim mendapat siksaan darinya ketika ia masih menganut jahiliah. Dan salah seorang yang mendapatkan siksaan ciarinya adalah Amir bin Rabi'ah dan isterinya. Amir beserta isterinya    menetapkan     untuk    berhijrah   ke  Habasyah.    

kisah keislaman umar bin khatab


Umar    bin  Khatab    menemuinya       lalu  ia mendapati isteri Amir dan tidak mencmukan suaminya. Umar melihat wanita itu sedang bersiap- siap untuk berhijrah lalu Umar berkata (saat itu sumber rahmat telah memancar pada dirinya): "Apakah engkau akan pergi wahai Ummu Abdillah?" Dengan nada jengkel, wanita itu berkata: "Benar,   demi   Allah   kami   akan   keluar   dan   menuju   tanah   Allah   SWT.   Engkau   telah   menyiksa kami   dan   telah   memaksa   kami   untuk   berhijrah.   Kami   akan   pergi   sehingga   Allah   SWT   akan memberikan         kelapangan       kepada      kami."      Umar      berkata:     "Mudah-mudahan         Allah SWT menemanimu."

Wanita     itu  melihat   tanda-tanda    kelembutan      dan   kesedihan    pada   wajah    Umar.    Dan   ketika suaminya kembali, ia menceritakan kepadanya bahwa ia sangat berharap kepada keislaman Umar. Lalu suaminya menjawab: "Ia tidak mungkin masuk Islam sampai keledai Umar masuk Islam." Ia   mengatkan     demikian     karena   ia  melihat   betapa   bengisnya     dan   kejamnya     Umar.    Namun perasaan lembut wanita   itu lebih kuat daripada pandangan pikiran lelaki   itu dan keputusannya yang terlalu cepat kepada Umar. Belum      lama     mereka     berhijrah    sehingga     Umar     masuk     Islam.    Orang-orang      muhajirin mengeluarkan penutup sumur rahmat dalam dirinya. Dan barangkali Umar merasa kebingungan lalu   ia   menetapkan   untuk   membunuh   Rasul   saw.   Dengan   menghunuskan   pedangnya,   ia   pergi menuju     Rasul    saw.  Kemudian      ia  bertemu    dengan    orang-orang     yang   memergokinya       dalam keadaan   kebingungan,   lalu   mereka   bertanya   kepadanya,   hendak   kemana   ia   akan   pergi?   Umar menjawab:   "Aku   hendak   ke   Muhammad   aku   akan   membunuhnya   sehingga   orang-orang   Arab merasa tenteram." Dengan nada mengejek, seseorang berkata: "Tidakkah engkau memulai dari keluargamu   sebelum   engkau   membunuh   Muhammad."   Dengan   nada   jengkel,   Umar   berkata: "Apa     yang    terjadi  pada   keluargaku?"     Lelaki    itu  menjawab:     "Saudara     perempuanmu       dan suaminya   telah   masuk   Islam,   sedangkan   engkau   tidak   mengetahuinya."   Umar   segera   mencari saudara perempuannya dan suaminya di mana saat itu keduanya sedang membaca Al-Qur'an. Ketika   melihat   Umar,   mereka   menyembunyikan   Al-Qur'an.   Umar   bertanya:   "Sepertinya   aku mendengar       suara   bisikan   dari  luar."   Tetapi   saudara    perempuannya       mengatakan:     "Tidak." Kemudian suaminya ikut campur dan Umar pun tampak marah kepadanya. Wanita itu bangkit untuk    membela     suaminya     lalu  Umar    memukulnya      sehingga    darah   segar   mengucur     darinya. Darah itu justru membangkitkan sumber rahmat dari diri Umar. Akhirnya, Umar mengambil air wudhu   agar   mereka   mengizinkan   untuk   membaca   Al-Qur'an.   Umar   pun   membacanya.   Belum lama Umar membacanya sehingga ia pergi menemui Rasul saw. Tanpa ragu, Umar memilih untuk masuk Islam. Dan pedang yang dibawanya itu menjadi pedang yang   paling   kuat   yang   dengannya   ia   mempertahankan   agama   Muhammad   saw.   Kemudian   ia mengetuk   pintu   untuk   menemui   Rasul   saw   di   mana   saat   itu   beliau   bersama   sahabatnya.   Dari celah-celah     pintu,  sahabat    Nabi   melihat   Umar     bin  Khatab    sedang    menghunuskan       pedang. Kemudian sahabat itu kembali kepada Nabi dengan membawa berita yang sangat mengejutkan ini. Ia menduga bahwa Umar datang dengan maksud jahat.

Rasulullah saw bangkit dan memerintahkan para sahabatnya agar membiarkan Umar. Rasulullah saw membukakan pintu Kemudian ia menyambut Umar bin Khatab dan bertanya kepadanya apa yang diinginkannya. Umar menjawab bahwa ia datang untuk mengucapkan dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Orang-orang   Quraisy   mulai   merasa   bahaya   akan   mereka   temui   setelah   keislaman   Umar   dan Hamzah. Para tokoh-tokoh Mekah dan orang-orang yang dihormati telah masuk Islam. Sebelum Umar   masuk   Islam,   kaum   Muslim   bertawaf   di   Ka'bah   secara   rahasia   dan   dengan   malu-malu, namun ketika Umar masuk Islam ia menampakkan keislamannya dan ia menantang orang yang mencegahnya untuk bertawaf, bahkan banyak orang-orang memberikan jalan padanya saat tawaf. Mekah mengetahui bahwa ia menghadapi suatu dakwah yang akan dapat mengubah jazirah Arab.

Read More

Selasa, 19 Agustus 2025

Kisah Hijrah umat Muslim dari mekkah

 Kisah Hijrah Kaum Muslim

Bayang-bayang   azab   dunia   terngiang    di telinganya. Dan ketika ia sampai ke orang   Quraisy, ia mengusulkan agar orang-orang   Quraisy membiarkan        apa  saja   yang   dilakukan     Muhammad.       Gagallah     perundingan     dengan     seorang Muslim   yang   pertama,   yaitu   Rasulullah   saw.   Gagalnya   perundingan   tersebut   sebagai   bentuk pemberitahuan   tentang   kembalinya   tindak   kekerasan   dan   penyiksaan   terhadap   sahabat-sahabat Rasul saw. Kemudian kaum musyrik semakin meningkatkan penindasan terhadap kaum Muslim.

kisah hijrahnya umat muslim dari mekkah

 Rasulullah   saw   sangat   menderita   melihat   hal     yang   dirasakan   para   sahabatnya.   Ketika   kaum Muslim membayar harga yang paling mahal sebagai konsekuensi dari akidah yang mereka anut dan    mereka    dengan    sabar   memikul     penderitaan    di  jalan  Allah   SWT,   maka     Rasulullah    saw mengisyaratkan   mereka   untuk   berhijrah.   Beliau   memberikan   izin   untuk   berhijrah   bagi   orang yang ingin hijrah.

Kemudian Dimulailah gelombang hijrah. Itu terjadi pada lima tahun dari turunnya wahyu setelah dua tahun diumumkannya dakwah. Maka berhijrahlah ke Habasyah enam belas orang Muslim. Mereka   keluar   secara   rahasia   dan   mereka   menuju   ke   laut.   Mereka   berlayar   meskipun   orang- orang yang tinggal di gurun sebenarnya tidak ingin berlayar karena mereka takut dari laut dan mereka   yakin   bahwa  manusia   yang   berlayar   di   laut   akan   menjadi   ulat   di   atas   kayu-kayu   yang berenang. Selanjutnya, gelombang hijrah yang kedua pun dimulai. Kali ini diikuti oleh delapan puluh tiga orang laki-laki dan sembilan belas perempuan. Kemudian orang-orang Quraisy berusaha untuk mengirim      beberapa     orang    dan   tetap  berusaha     menyiksa     dan   menyakiti     orang-orang     yang berhijrah.     Mereka      mengutus       ke    Najasyi,    Raja     Habasyah,      orang-orang       yang    dapat mempengaruhinya          untuk    menentang      orang-orang     yang    berhijrah.   Mereka     menuduh      kaum Muslim meninggalkan agama nenek moyang mereka di Mekah dan mereka juga tidak menganut agama Najasyi, yaitu agama Kristen. Kemudian orang-orang Quraisy tidak lupa mengirim hadiah kepada Najasyi sebagai bentuk suapan kepadanya. Tampaknya Najasyi seorang yang berakal lalu ia mengutus seseorang kepada kaum muhajirin dan bertanya kepada mereka tentang agama baru yang mereka anut. Kemudian kaum muhajirin menceritakan kepadanya tentang Islam. Najasyi bertanya tentang Isa lalu mereka menjawab: "Ia adalah hamba Allah SWT dan rasul-Nya dan   ruh-Nya   serta   kalimat-Nya   yang   diletakkan   kepada   Maryam,   wanita   yang   perawan   yang suci."   Kemudian   Najasyi   mengambil   satu   kayu   kecil   dari   bumi   dan   mengatakan:   "Penjelasan tentang Isa yang kalian katakan tidak lebih dari kayu kecil ini. Pergilah kalian dan kalian akan aman." Najasyi mengembalikan hadiah kaum Quraisy dan mengatakan: "Allah tidak mengambil suap dariku sehingga aku tidak mungkin mengambilnya dari kalian." Demikianlah kaum muhajirin tinggal di negeri yang damai, yaitu Habasyah negeri yang dipimpin oleh    seorang    laki-laki  yang    diberi  kematangan       berpikir   di  mana    ia  cenderung     mengimani karakter   al-Masih   sebagai   seorang   manusia.   Dan   salah   satu   keajaiban   kekuasaan   Ilahi   adalah bahwa masyarakat Islam yang berhijrah tersebut tidak mengalami kelemahan dalam akidahnya, namun mereka justru merasakan kekuatan. Allah   SWT   memperkuat   dakwah   Islam   dengan   masuknya   dua   lelaki   besar   dalam   Islam,   yaitu Hamzah,   paman   Nabi   dan   Umar   bin   Khatab.   Kedua   orang   itu   mempunyai   kepribadian   yang tangguh   di   Mekah   di   mana   masing-masing   dari   mereka   terkenal   di   tengah-tengah   kaumnya. Allah   SWT   berkehendak   untuk   memberi   Islam   dua   orang   lelaki   yang   tangguh   di   Mekah   dan Allah SWT telah meletakkan rahmat   yang terpancar dalam hati mereka. Hamzah masuk Islam karena   dorongan   emosi,   fanatisme,   dan   rahmat   terhadaporang-orang   yang   tidak   memberikan pembelaan kepada Muhammad saw. Salah    seorang   perempuan      berkata   kepada    Hamzah:     "Seandainya     engkau    melihat    apa  yang diperoleh   oleh   anak   dari saudaramu,   Muhammad   dari   Abil   Hakam   bin   Hisyam   (Abu   Jahal). Sungguh Abu Jahal telah mencelanya dan menyakitinya, sedangkan Muhammad hanya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa.

" Mendengar pengaduan itu, darah mendidih berkobar dalam urat- urat   Hamzah.      Dengan     kemarahan      yang   sangat,   Hamzah      mencari-cari     Abu    Jahal lalu   ia melihatnya sedang duduk-duduk di tengah-tengah kaumnya. Hamzah mengangkat tangannya lalu memukulkannya         ke  kepala   Abu    Jahal   sambil    berteriak:   "Apakah     engkau    akan   mengejek Muhammad, padahal aku berada di atas agamanya." Demikianlah       permulaan     keislaman    Hamzah.     Hamzah      adalah   seorang    yang   mulia    di  mana perasaannya   berkobar   ketika   ia   melihat   anak   saudaranya   disiksa   dan   dianiaya   dan   dia   tidak mendapati   seorang    pun   yang   membelanya.   

Beginilah    sebab-sebab     pertama    dari  keislaman Hamzah,   namun   sebab   yang   paling   dalam   dan   yang   paling   menentukan   adalah   rahmat   Allah SWT      yang   telah   dianugerahkan     kepadanya,     meskipun     Hamzah      tidak  mengetahuinya,      yaitu rahmat     yang   mendorongnya       untuk   tidak   membiarkan      seseorang    pun   menyakiti    lelaki  yang berdakwah   di   jalan   Allah   SWT   hanya   karena   ia   seorang   yang   lemah   dan   tidak   mempunyai penolong. Jadi, Hamzah adalah penolongnya.

 

Read More

Senin, 18 Agustus 2025

Masa Awal tersebarnya Islam dan perjuangan Menyebarkan agama Islam

 Masa Awal tersebarnya Islam dan perjuangan Menyebarkan agama Islam

Pada   awal-awal   masa  tersebarnya   Islam,   kaum   Muslim   menyadari   bahwa  mereka   menghadapi peperangan yang tidak akan berhenti. Selama kehidupan ada, maka pertentangan pun tetap ada.

masa awal dakwah nabi muhammad

 Oleh karena itu, ketika mereka mendapatkan penganiayaan dan siksaan, maka keimanan mereka justru   semakin   meningkat,   dan   setiap   penganiayaan   yang   dilakukan   oleh   kaum   Quraisy,   maka mereka     tetap   bertahan   untuk   mempertahankan        kebenaran.    Sebagai    contoh,   Amar    bin   Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah seorang budak yang menjadi korban dari   sistem   ekonomi     yang   berlaku   saat   itu,  yaitu   ekonomi  yang   berdasarkan   kepada   sistem perbudakan.   Seorang   yang   beriman   tersebut   disiksa   di   Mekah   di   mana   ia   tidak   memperoleh kebebasannya yang hakiki kecuali setelah ia memeluk Islam. Mereka mengeluarkannya ke gurun dan    menyiksanya      beserta   ibunya.   Bahkan     siksaan   semakin    meningkat     atas   ibunya   agar   ia kembali     menjadi    musyrik.    Ketika   ia  tetap  mempertahankan       keimanannya      dan   dengan    tegas menolak ajakan untuk menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya dengan belati yang ada di dua   tangannya.   Ia   pun   meninggal.   Dan   Islam   mengorbankan   syahidnya   yang   pertama.   Wanita mulia itu bernama Sumayah, ibu dari Amar bin Yasir. Banyak   kalangan   orang-orang   bodoh   mengatakan   tentang   persetujuan   Islam   terhadap   sistem perbudakan,   atau   Islam   mendiamkan   sistem   perbudakan.   Mereka   lupa   bahwa   Islam   dibangun berdasarkan suatu prinsip yang ingin membebaskan perbudakan dengan segala bentuknya; Islam ingin   mengeluarkan   manusia   dari   kepemilikan   sesama   manusia   menuju   kepemilikan   kepada Allah SWT. Jika Islam tidak turun dengan nas-nas yang terperinci yang mengharamkan sistem perbudakan, maka   dasar-dasarnya   secara   umum   dan   prinsip-prinsip   utamanya   menghentikan—baik   dalam tindakan     maupun     ucapan—sumber-sumber           sistem    ini.  Allah  SWT     sebagai    pemilik   syariat mengetahui bahwa sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara yang akan berubah dengan   perubahan   waktu,   dan   karena   Islam   tidak   turun   pada   waktu   yang   terdapat   perbudakan saja,   tetapi   ia   turun   secara   umum   dan   menyeluruh   untuk   setiap   zaman,   maka   Islam   sengaja melewati   bentuk-bentuk   yang   temporal   ini   dari   bentuk-bentuk   eksploitasi   menuju   unsur   yang pertama   atau   dasar   pertama   yang   menimbulkan   bentuk-bentuk   eksploitasi   tersebut,   sehingga Islam    mengharamkannya.         Dengan     cara  demikian,     Islam   mengharamkan       sistem   perbudakan secara   bertahap,   seperti   proses   pengharaman   khamer.   Jadi,   keseriusan   Islam   sangat   menonjol dalam usaha menghapus dan mengharamkan perbudakan. Jika dikatakan kepada kita bahwa Islam membolehkan para tentaranya untuk memperbudak para tawanan perang, maka kita akan mengatakan bahwa Islam menerapkan sistem ini sebagai bentuk pembalasan      terhadap    perlakuan    yang   sama    di  mana    musuh-musuh       Islam   menjadikan     kaum Muslim sebagai budak-budak mereka ketika mereka menawannya. Oleh karena itu, secara alami orang-orang Islam pun menawan mereka sebagai budak-budak. Jika Islam tidak melakukan yang demikian, maka boleh jadi   Islam akan dimain-mainkan dan ada kesempatan besar bagi orang- orang musyrik untuk memperdaya Islam. Demikianlah bahwa dakwah Islam mengalami berbagai macam hambatan dan penindasan.

Dan ketika orang-orang yang tersiksa mengadu kepada Rasulullah saw atas penindasan yang mereka terima, maka Rasulullah saw memberitahu mereka dengan pembicaraan yang jelas bahwa para dai di jalan Allah SWT harus mengorbankan kesenangan mereka, kedamaian mereka, dan darah mereka sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya dakwah Islam. Kebebasan bukan diperoleh dengan   cuma-cuma.   Sejarah   kehidupan   menceritakan   kepada   kita   bahwa   ia   dipenuhi   dengan gumpalan   darah   yang   harus   dibayar   oleh   masyarakat   untuk   memerangi   musuh-musuhnya   dari luar   dan   dari   dalam.   Jika   ini   dialami   setiap   orang   yang   menuntut   kebebasan   pada   zaman   dan tempat tertentu, maka bagaimana dengan orang-orang yang menuntut kebebasan manusia secara keseluruhan. Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa dengan mengumumkan dakwahnya, maka ia pasti akan menerima   pengusiran,   penindasan,   penjara,   pengepungan   dan   pembunuhan.   Ini   adalah   harga yang pantas yang harus dibayar ketika berdakwah di jalan Allah SWT; inilah harga kebebasan. Bahkan   terkadang   kaum   yang   batil   pun   membayamya   dengan   senang   hati,   maka   bagaimana mungkin orang-orang yang bersama kebenaran ragu untuk melakukannya. Pada hakikatnya, manusia cinta kepada keabadian. Secara naluri manusia merasa takut pada azab dan kematian.   Dan barangkali   yang membedakan orang-orang   Islam   yang hakiki dengan   yang lainnya adalah bahwa mereka terbebas dari rasa ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah tolok ukur   yang   pasti   untuk   membedakan   antara   seorang   Muslim   yang   hakiki   dan   seorang   Muslim yang hanya namanya atau Muslim warisan atau hanya klaim semata. Seorang   Muslim   yang   hakiki   menyadari   bahwa   ajal   di   tangan   Allah   SWT,   rezeki   adajuga   di tangan-Nya, begitu juga keamanan semua ada di tangan-Nya. Dengan keimanan seperti ini, ia memulai   pergulatannya   untuk   menyebarkan   dakwah.   Ia   siap   untuk   menerima   penyiksaan   dan penderitaan   di   jalan   Allah   SWT;   ia   pun   siap   meneteskan   darahnya   sebagai   harga   yang   pantas yang diberikannya dalam rangka memperoleh kebebasan. Ini semua dilakukanya dengan begitu sederhana dan tidak ada rasa takut karena Islam membebaskannya dari rasa ketakutan. Dahulu para    pembangkang        menggergaji     orang-orang      yang   menyeru      di  jalan  Allah    SWT     dengan menggergaji saat mereka dalam keadaan hidup-hidup.

 Khabab      bin   Irit  pergi  menemui      Rasulullah     saw   dan   meminta     tolong    kepada    beliau   dari penyiksaan      orang-orang     Quraisy,    sambil   berkata:   "Tidakkah     engkau    menolong     kami,    wahai Rasulullah? Tidakkah engkau berdoa kepada kami, ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab: "Sungguh sebelum kalian terdapat orang-orang yang berdakwah di jalan Allah SWT lalu mereka dimasukkan   dalam   suatu   galian   tanah   lalu   mereka   digergaji       di  mana   tubuh    mereka   dipisah menjadi dua, namun mereka tetap mempertahankan agamanya. Demi Allah, sungguh Allah SWT akan menolong masalah ini tetapi kalian terlalu tergesa-gesa." Dengan      kalimat-kalimat      yang   penuh    kesabaran     dan   keberanian     ini,  Rasulullah    saw    ingin memahamkan kepada orang tersebut bahwa termasuk dari kesempurnaan iman adalah membayar harga    kebebasan.     Jelas  sekali  bahwa     Islam   tidak  memberikan       keuntungan     bagi   orang   yang memeluknya. Orang-orang Islam yang pertama tidak bertanya dan mengatakan: "Apa yang kita peroleh   dari   agama   ini?"   Sebaliknya,   mereka   bertanya:   "Apa   yang   kita   bayar   untuk   Islam?" Jawabannya       adalah:    "Segala    sesuatu   dimulai    dari   suapan-suapan      roti  sampai     darah   yang tertumpah."      Jadi,  kaum    Muslim     yang   pertama    telah   membayar      ongkos    kebebasan.     Mereka merasakan      kedamaian      yang   luar  biasa   untuk    mempertahankan        agama    Allah   SWT;     mereka mendapatkan       kepercayaan      yang   tinggi   tentang   kemenangan       kebenaran    yang    datang   kepada mereka;      mereka     justru   memberitahu        orang-orang      musyrik     bahwa     mereka     akan    dapat mengalahkan   raja-raja   Kisra   dan   Kaisar.   Dengan   dakwah   yang   mereka   lakukan,   mereka   akan menjadi pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum musyrik justru memanfaatkan kepercayaan ini untuk mengejek mereka dan menertawakan mereka. Ketika   Aswad   Ibnu   Matlab   dan   orang-orang   yang   bersamanya   melihat   sahabat-sahabat   Nabi, maka   mereka   mengejek   dan   mengatakan:   "Telah           datang   kepada   kalian   pemimpin-pemimpin bumi   yang   esok   akan   mengalahkan   raja-raja   Kisra   dan   Kaisar,   kemudian   mereka   bersiul   dan bertepuk     tangan."   Namun      kaum    mukmin     tidak  peduli   dengan    ejekan    tersebut.  Demikianlah bahwa   ejekan   demi   ejekan   terus   menyertai   dakwah   kaum   Muslim.   Kemudian   kaum   Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah untuk menyatukan pandangan dalam rangka menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik menuduhnya bahwa beliau adalah seorang ahli sihir, dan pada kali   yang   lain   mereka   menuduhnya   bahwa   beliau   adalah   dukun,   dan   pada   kali   yang   lain   lagi mereka      menuduhnya       bahwa     beliau   adalah    penyair,   bahkan     pada   kali   yang    lain  mereka menuduhnya   bahwa   beliau   adalah   seorang   yang   gila.   Kemudian   mereka   semua   sepakat   untuk menuduh bahwa beliau adalah seorang penyihir.

 

Walid bin Mughirah yang terkenal sebagai orang yang terpandang di kalangan mereka menuduh Rasulullah   saw   sebagai   penyihir     yang   dapat   memisahkan   antara   sesama   saudara   dan   antara seseorang      dengan      isterinya.   Kemudian       mereka      membikin      kelompok-kelompok          yang mengingatkan para pendatang di Mekah bahwa Muhammad adalah seorang penyihir. Meskipun demikian,   dakwah   Islam   tetap   berlangsung.   Ia   tetap   tersebar   dengan   pelan   namun   pasti   dan kalimat-kalimat   yang   diutarakan   Nabi   justru   mengingatkan   perjanjian   yang   pernah   dilakukan oleh   manusia,   yaitu   perjanjian   saat   Allah   SWT   menyaksikannya   ketika   mereka   masih   di   alam atom di punggung Adam: "Bukankah aku Tuhan kalian? Mereka menjawab: 'Benar.'" (QS. al- A'raf:   172)   Bertambahlah   jumlah   kaum   Muslim   hingga   kaum   Quraisy   merasakan   ketakutan. Mereka mulai melihat bahwa penggunaan cara-cara kekerasan tidak selalu berhasil. Kemudian mereka      memilih     untuk    menggunakan        cara   baru,   yaitu   bagaimana      seandainya     mereka menggunakan perdamaian dan perundingan. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang lelaki yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding. 'Utbah   berkata   kepada   Rasul   saw:   "Wahai   anak   saudaraku,   kami   mengetahui   kedudukanmu   di sisi kami dari sisi nasab. Engkau datang kepada kaummu dengan suatu hal yang besar di mana engkau   memisahkan   kelompok-kelompok   mereka.   Maka   dengarkanlah   aku   karena   aku   ingin berbicara   tentang   beberapa   hal.   Barangkali   engkau   akan   menerima   sebagiannya."   Rasul   saw berkata:   "Silakan   berbicara   wahai   'Utbah."   'Utbah   berkata:   "Jika   engkau   menginginkan   harta niscaya   kami   akan   mengumpulkan   harta   bagimu,   sehingga   engkau   akan   menjadi   orang   yang paling    kaya   di  antara  kami,   dan   jika  engkau    menginginkan      kehormatan,     maka    kami   akan memberi   kehormatan   itu   bagimu   dan   jika   engkau   menginginkan   kekuasaan,   maka   kami   akan menyerahkan   kekuasaan   padamu   dan   jika   engkau   terkena   penyakit   yang   engkau   tidak   mampu menolaknya       dari   dirimu,    maka    kami    akan    mencarikan      tabib   bagimu     dan   kami    akan mengeluarkan harta kami sehingga engkau sembuh." Demikianlah       'Utbah   mengakhiri    pembicarannya.      Kemudian      ia  menunggu     reaksi   Nabi.   Lalu Rasulullah saw berkata: "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa miim.     Diturunkan     dari  Tuhan    Yang    Maha     Pemurah     lagi  Maha    Penyanyang.      Kitab   yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan   yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya);, maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: 'Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan   antara   kami   dan   kamu   ada   dinding,   maka   bekerjalah   kamu;   Sesungguhnya   kami   bekerja (pula).'   Katakanlah:   'Bahwasannya   aku   hanyalah   seorang   manusia   seperti   kamu,   diwahyukan kepadaku   bahwasannya   Tuhan   kamu   adalah   Tuhan   Yang   Maha  Esa,   maka   tetaplah   pada   jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang      yang   mempersekutukan-(Nya),   (yaitu)   orang-orangyang   tidak   menunaikan   zakat dan mereka kafir akan adanya (hehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.' Katakanlah: 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.

 

 Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung   yang  kokoh di atasnya.   Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa.(Penjelasan itu sebagai   jawaban)   bagi   orang-orang   yang   bertanya.   Kemudian   dia   menuju   kepada   penciptaan langit   dan   langit   itu   masih   merupakan   asap,   lalu   Dia   berkata   kepadanya   dan   kepada   bumi: 'Datanglah  kamu   keduanya   menurut   perintah-Ku   dengan   suka   hati   atau   terpaksa.'   Keduanya menjawab:   'Kami   datang  dengan   suka   hati.'   Maha   Dia   menjadikannya   tujuh   langit   dalam   dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.  Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan     bintang-bintang      yang   cemerlang     dan   Kami    memeliharanya       dengan    sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perhasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, maka katakanlah:   'Aku   telah   memperingatkan   kamu   dengan   petir,   seperti   petir   yang   menimpa   kaum 'Ad dan kaum Tsamud." (QS. Fushilat: 1-13) Rasulullah   saw   telah   menjawab   tawaran        'Utbah   di   mana   beliau   memilih   untuk   menghadapi tawaran     dan    iming-iming      tersebut   dengan     membaca      sebagian    dari   surah   Fhusilat    yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari tempatnya ketika Rasulullah saw sampai pada firman-Nya: "Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir   yang   menimpa   kaum   "Ad   dan   kaum   Tsamud.   "   (QS.   Fushilat:   13)   'Utbah   berdiri   dalam keadaan     takut   dan   segera   menuju    kaum     Quraisy. 

Read More