Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 12 Agustus 2025

Kisah Nabi Muhammad SAW beranjak dewasa

 Kisah Nabi Muhammad SAW beranjak dewasa   

Pada tahun ketiga belas dari masa kenabian, ketika semua kabilah sepakat untuk membunuhnya dan mengucurkan darahnya di antara para kabilah dan mereka mengepung rumahnya, maka di saat   situasi   yang   sulit  ini  beliau  menetapkan      untuk   berhijrah.   Tetapi   sebelumnya      beliau mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib, anak pamannya untuk tetap tinggal di rumahnya agar ia dapat   mengembalikan   amanat   yang   dititipkan   oleh   semua   musuhnya   dan   para   sahabatnya.   Ini beliau   maksudkan   agar     Ali   dapat   menyerahkan   amanat   tersebut     di   waktu   pagi   kepada   para pemiliknya.   Anda   dapat   melihat   betapa   para   musuhnya   merasa   aman   terhadap   harta   mereka ketika dijaga oleh Muhammad saw. 

Kisah Nabi Muhammad SAW beranjak dewasa

Hari demi hari berlalu dan tahun demi tahun pun lewat. Sementara itu, kesucian dan kejujuran Muhammad saw semakin meningkat. Dan di tengah lautan keheningan yang mencekam, ketika Muhammad   bin   Abdillah   menyebarkan   layar   perahunya   yang   putih,   maka   ia   harus   menemui hakikat    azali  yang    bertemu    dengan-nya     semua    nabi   dan   rasul.  Muhammad       bin   Abdillah mengetahui bahwa alam yang besar ini mempunyai Tuhan Pengatur dan Pencipta; Tuhan yang Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya. Muhammad   dijauhkan   dari   suasana   kenikmatan   dan   foya-foya   yang   biasa   dilakukan   oleh   para pemuda seusianya. Dan ketika pemuda Mekah berbangga-bangga dengan banyaknya minuman keras   yang mereka minum dan banyaknya bait-bait syair yang mereka katakan tentang wanita, maka Muhammad bin Abdillah telah menemukan jati dirinya di suatu gua yang tenang di gunung yang   besar.   Ia   memilih   untuk   menghabiskan   waktunya   di   dalam   keheningan   gua   tersebut.   Ia merenung   dengan   hatinya   tentang   keadaan   alam;   ia   memikirkan   keagungan   rahasia-rahasianya dan rahmat Penciptanya serta kebesaran-Nya. Pada tahun yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul Mu'minin, isterinya yang pertama, yaitu Khadijah binti Khuwailid yang saat itu berusia empat puluh tahun. Khadijah adalah wanita yang mulia dan mempunyai cukup harta. Ia berdagang dan suaminya telah meninggal. Banyak orang   yang   mendekatinya   dengan   alasan   untuk   mendapatkan   kekayaannya.   Khadijah   mencari seseorang     laki-laki  yang   dapat   membawa       harta  dagangannya      menuju    Syam,    lalu  Khadijah mendengar   berita   yang   cukup   banyak   berkenaan   dengan   kejujuran   dan   amanat   serta   kesucian Muhammad         bin  Abdilah.   Akhirnya,     Khadijah    mengutus    Muhammad        saw   untuk   membawa barang   dagangannya.   Muhammad   saw   pergi   dalam   perjalanannya   yang   kedua   ke   Syam   saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Allah SWT memberkati perjalannya di mana beliau kembali dengan     membawa   keuntungan     yang   berlipat   ganda    yang   diserahkannya      kepada    Khadijah. Muhammad   saw   tidak   peduli dengan   harta   Khadijah   dan   tidak   peduli   kepada   kecantikannya; Muhammad  saw    hanya    memandang kemuliaan      yang   dipegangnya.        

    Kemudian      Khadijah merasakan getaran cinta terhadap Muhammad saw. Dan Akhirnya, ia mengutarakan keinginan untuk menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju. Paman   Muhammad   saw,   Abu   Thalib   berdiri   dan   menyampaikan   khotbah   pada   saat   perayaan perkawinannya:       Muhammad       saw    tidak  dapat   dibandingkan     dengan    seorang   pun   dari  kaum Quraisy karena ia   adalah   seorang   yang mulia, baik dari sisi   akal maupun ruhani. Meskipun ia seorang   yang   fakir   namun   harta   adalah   naungan   yang   akan   hilang   dan   benda   yang   bersifat sementara. Setelah menikah, Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk merenung dan menyendiri serta beribadah. Kemudian kehidupan   yang dijalaninya justru meningkatkan kemuliaannya, sehingga keutamaannya tersebar di sana sini. Beliau tidak pernah terlibat   dalam   pergulatan   yang   keras   untuk   memperebutkan   materi-materi   dunia.   Beliau   selalu menggunakan   akal   sehatnya   daripada   terlibat   dalam   kesesatan   mereka   dan   kegelapan   berhala yang menyelimuti banyak orang pada saat itu. Kemudian usianya kini mendekati empat puluh tahun. Setelah merasakan kesunyian di tengah-tengah masyarakat, beliau lebih memilih untuk menjauh dari    mereka.    Beliau    mencari-cari    hakikat,    sehingga    Allah   SWT      membimbingnya        untuk menyendiri di gua Hira. Akhirnya, beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau berjalan beberapa mil. Kemudian beliau mulai mendaki dan mendaki. Setiap kali ia mendaki gunung, maka tempat itu semakin luas. Udara tampak lembut dan tersingkaplah hijab, dan pandangan semakin terbentang. Kemudian   beliau   memasuki   gua.   Keheningan   menyelimuti   segala   sesuatu,   namun   hati   tetap sadar   dan   tidak   ada   sesuatu   yang   dapat   menghalang-halangi   pandangan   internal   yang   dalam. Dalam      suasana    kesunyian     terkadang    lahirlah   pemikiran-pemikiran       yang    cemerlang     yang kemudian   menyebarkan   sayap-sayapnya   dan   membumbung,   pertama-tama   di   atas   angkasa   gua lalu tersebar menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak ada sesuatu pun yang membatasinya atau mengekang kebebasannya. Kita tidak mengetahui pikiran-pikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa bulan. Apa yang beliau pikirkan dan apa gerangan   yang   beliau   risaukan?   Mimpi   apa   yang   ada   di   benaknya   dan   perasaan-perasaan   apa yang lahir dalam hatinya? Bagaimana keadaan batu-batu yang ada di sisinya? Apakah atom-atom batu   yang   berputar   di   sekelilingnya   menyahuti   tasbihnya   yang   diam,   seperti atom-atom   batu yang bersahut-sahutan bersama Daud saat ia membaca kitabnya Zabur.

Read More

Senin, 11 Agustus 2025

Kisah Nabi Muhammad dan pendeta Buhaira

 Kisah Nabi Muhammad dan pendeta Buhaira  

 Pada     saat  perjalanan    menuju     ke  Syam terjadi suatu peristiwa terhadap anak   kecil   itu. Kemungkinan besar   itu  justru  menambah  kebingungannya.Seorang pendeta yang   bernama Buhaira   berdiri   di   jendela   rumah   yang   menjadi  tempat   peribadatannya   di   Suria.          Tiba-tiba   ia memperhatikan   suatu   awan   putih—tidak   seperti   biasanya—yang   menghiasai   langit   yang   biru. Saat    itu   udara   sangat    terang,   sehingga     munculnya       awan    tersebut    sangat   mengherankan.

Kisah Nabi Muhammad dan pendeta Buhaira

 Kemudian pandangan Buhaira yang tertuju ke langit, kini tertuju ke bumi di mana ia mendapati awan itu menyerupai burung yang putih yang menaungi kafilah kecil yang menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahwa awan tersebut mengikuti kafilah. Jantung   Buhaira   berdebar   dengan   keras   karena   ia   mengetahui   melalui   buku-buku   peninggalan kaum Masehi yang otentik bahwa seorang nabi akan muncul ke dunia setelah Isa. Sifat dan kabar nabi tersebut diceritakan dalam buku-buku kuno. Buhaira segera meninggalkan tempatnya, lalu ia   segera   memerintahkan untuk    menyiapkan      makanan      yang   besar.   Kemudian      ia  mengutus seseorang untuk menemui kafilah tersebut dan mengundang mereka untuk jamuan makan.

 Salah seorang mereka berkata dengan nada bercanda kepada Buhaira: "Demi Lata dan 'Uzza, engkau hari   ini   tampak   lain   wahai   Buhaira.Engkau   tidak   pernah melakukan   demikian   kepada   kami, padahal   kami   telah   melewati   dan   singgah   di   tempat   ini   lebih   dari   sekali.   Ada   peristiwa   apa gerangan wahai Buhaira?" Buhaira     menjawab:     "Hari   ini  kalian   adalah   tamu-tamuku."           Pertanyaan     orang   tersebut   tidak dijawab   dengan   terang-terangan.   Ia   sengaja   menghindarinya   dan   tidak   menyingkapkan   rahasia kemuliaan       yang    datangnya     tiba-tiba   ini.   Buhaira    memberi      makan     mereka     dan    mulai memperhatikan di antara mereka adanya seseorang yang memiliki tanda-tanda  yang dibacanya dalam     kitab-kitabnya     yang    kuno    tentang    seorang    rasul  yang    ditunggu.    Namun      ia  tidak menemukannya,         hingga    ia  bertanya    kepada     mereka:    "Wahai     kaum    Quraisy,    apakah     ada seseorang   yang tidak hadir bersama jamuanku ini?" Mereka menjawab:   "Benar, ada seseorang yang tidak ikut bersama kami. Kami meninggalkannya karena ia masih kecil." Buhaira berkata: "Sungguh   aku   telah   mengundang   kamu   semua.   Panggilah   ia   supaya   hadir   bersama   kami   dan memakan makanan ini." Salah seorang lelaki dari kaum Quraisy berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sungguh   tercela   bagi   kami   untuk   meninggalkan   Muhammad   bin   Abdillah   bin   Abdul   Muthalib dari jamuan yang kami diundang di dalamnya. Pamannya meminta maaf karena Muhammad masih kecil, kemudian sebagian mereka berdiri dan menghadirkannya. Belum lama Buhaira memandangi kejernihan dua mata Muhammad, sehingga ia   mengetahui     bahwa     ia  telah  mendekati     tujuannya.    Buhairah    terpaku    ketika   memandangi Muhammad bin Abdillah sehingga kaum selesai makan dan mereka berpisah. Muhammad bin Abdillah duduk sendirian. Buhaira menghampirinya dan berkata: "Wahai anak kecil, demi kedudukan Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap apa yang    aku   tanyakan    kepadamu?"      Buhaira    ingin   mengetahui     sikap   anak   ini  terhadap   berhala kaumnya. Anak kecil itu menjawab: "Jangan engkau bertanya kepadaku tentang Lata dan 'Uzza. Demi     Allah,   tidak  ada   sesuatu   yang   lebih   aku  benci   daripada    keduanya."     Buhaira   berkata: "Dengan izin Allah aku ingin bertanya kepadamu." Anak kecil itu menjawab: "Tanyalah apa saja yang terlintas di benakmu." Buhaira   bertanya   kepada   anak   kecil   itu   tentang   keluarganya,   kedudukannya   di   tengah-tengah kaumnya, mimpinya dan pendapat-pendapatnya. Dialog tersebut terjadi jauh dari pantauan kaum karena mereka tidak akan diam ketika mendengar bahwa Muhammad membenci berhala-berhala mereka.

 Kemudian Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat   Buhaira   mantap   bahwa   ia   sekarang   duduk   bersama   seorang   Nabi   yang   kabar   berita gembiranya disampaikan oleh Nabi Isa sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi dari kaum Israil dari kaum Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu di sisinya. Abu Thalib menjawab: "Ia adalah anakku." Buhaira berkata: "Tidak mungkin ayahnya masih hidup." Abu Thalib berkata: "Benar. Ia   anak   saudaraku.   Ayahnya   dan   ibunya   telah   meninggal."   Buhaira   berkata:   "Engakau   benar, kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari kaum Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang rahasia dari apa yang dikatakan oleh pendeta itu. Pendeta itu mulai mengetahui bahwa ia telah berbicara  lebih   dari   yang   semestinya.   Lalu   ia   berkata:   "Ia   akan   memiliki   kedudukan   tertentu." Buhaira tidak menjelaskan lebih dari itu dan ia tidak menentukan kedudukan yang dimaksud. Lalu   berlalulah   peristiwa   tersebut   tanpa   terlintas   dari   benak   seseorang   atau   tanpa   menggugah kesadaran di   antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa pengaruh berarti bagi kafilah atau kepada Nabi sendiri. Kafilah menganggap bahwa penghormatan pendeta kepada Muhammad bin Abdillah   dan   memberitahunya   akan   kedudukan   yang   akan   disandangnya   adalah   semata-mata basa-basi   yang   biasa   diucapkan   di   atas   meja   makan   ketika   para   tamu   memuji   kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya, orang yang mengundang akan memuji akhlak para pemuda mereka.   Alhasil,   peristiwa   tersebut   tidak   membawa   pengaruh   apa   pun,   baik   bagi   Muhammad maupun bagi sahabat-sahabat yang ikut dalam kafilah, sehingga mereka tidak mengetahui rahasia perkataan   pendeta   dan   mereka   tidak   menyebarkan   pembicaraan   yang   mereka   dengar   darinya. Peristiwa itu tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad. Apa     gerangan    yang   terjadi   antara  dirinya   dan   orang-orang      Yahudi,    sehingga    pendeta    perlu mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan diembannya seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan semua ini dengan kesedihan-kesedihannya yang dalam serta kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit berputar di   benaknya.     Kemudian      seperti   biasanya    kafilah   tersebut    kembali    ke   Mekah.    Muhammad kembali   menuju   keterasingannya.   Ia   memperhatikan   keadaan   alam   di   sekitarnya.   Kemudian   ia melihat   kembali   penderitaannya;   ia   berusaha   untuk   mendapatkan   kehidupannya;   ia   mengabdi kepada manusia dan mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka. Hari   demi   hari   berlalu.Muhammad   saw   tampil   dengan   pakaian   ketulusan   kasih sayang,   dan amanah serat cinta, sebagaimana pelita dipenuhi oleh cahaya, sehingga kejujurannya terkenal di tengah-tengah  

kaumnya.Bahkan kejujuran dan amanatnya tidak bakal diragukan oleh seseorang pun   dari   penduduk   Mekah.   Dan   ketika   beliau   datang   dengan   membawa   risalahnya   dan   beliau itentang     mayoritas     masyarakatnya,      namun     tak   seorang     pun    yang    berani   meragukan kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahwa ia terkena sihir atau kesadarannya telah hilang.

Read More

Minggu, 10 Agustus 2025

Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

 Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

 Diriwayatkan       bahwa     beliau    pernah     mengingat     masa    kecilnya     di  Bani    Sa'ad   dan    beliau membanggakannya.   Beliau   menyebutkan   pengorbanan   mereka   dan   sikap   mereka  yang   baik. Beliau berkata:   "Aku   termasuk   dari   Bani   Sa'ad,   tanpa   bermaksud   menyombongkan   diri.   Jika mereka berhadapan atau menyaksikan salah seorang mereka lapar, maka mereka akan membagi makanan di antara mereka." Kemudian   Muhammad   bin   Abdillah   kembali   ke   Mekah   saat   usianya   lima   tahun.   Beliau   hidup beberapa hari bersama ibunya di mana si ibu merasakan kesedihan   yang dalam atas kepergian ayahnya.

Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

   Sesuai   janji   untuk   mengingat   ayahnya   yang   telah   pergi,   Aminah   menetapkan   untuk mengunjungi kuburannya di Yatsrib. Jarak antara Mekah dan Yatsrib lebih dari lima ratus kilo meter     di  gurun    yang   kering    yang   jauh   dari   tanda-tanda    kehidupan.     Anak     itu  menempuh peijalanan   yang   berat.   Setelah   perjalanan   yang   berat   ini,   Muhammad   bin   Abdillah   tinggal   di tempat   paman-paman   dari   ibunya   di   Madinah   selama   satu   bulan.    

Muhammad   melihat   rumah yang di situ ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan. Ia berziarah bersama ibunya ke kuburan

yang   sederhana   yang   ayahnya   dikuburkan   di   dalamnya.   Mula-mula   pikirannya   terfokus   pada keadaan yatim sambil ia mulai memperhatikan linangan air mata ibunya yang diam. Selesailah     masa     satu  bulan    keberadaannya       di   sisi  paman-pamannya.         Kemudian      ibunya menemaninya untuk kembali ke Mekah. Kedua anak manusia itu sampai di pertengahan jalan. Muhammad   bin   Abdillah   tidak   mengetahui   rahasia   kepucatan   wajah   ibunya.   Lalu   malaikatul maut   turun   di   suatu   tempat   yang   yang   bernama   Abwa.   Di   situlah   Aminah   binti   Wahab   telah bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT. Sang ibu meninggal dan meninggalkan anak satu-satunya bersama seorang pembantu. Pembantu itu menampakkan rasa kasihnya terhadap anak kecil yang kehilangan ayahnya saat masih janin dan kehilangan ibunya saat berusia enam tahun. Muhammad bin Abdillah kini menjadi sendiri dan    ia  dalam    keadaan    menangis.     Ia  mencapai     kematangan      setelah   ia  melewati    kesedihan kehidupan dan kerasnya kehidupan sebagai anak yatim. Rasulullah   saw   pernah      ditanya   setelah  masa   diutusnya:     "Bagaimana   pandanganmu?"   Beliau menjawab: "Pengetahuan adalah modalku. Akal adalah dasar agamaku. Cinta adalah pondasiku. Zikrullah adalah kesenanganku. Dan kesedihan adalah temanku." Allah    SWT     telah   menyiramkan      kepadanya      sungai-sungai     kesedihan    sehingga     beliau  dapat memberikan kepada manusia buah dari kegembiraan dan ketulusan. Anak   kecil   itu   kembali   ke   Mekah   dalam   keadaan   sedih   dan   ia   tampak   terpaku.   Lalu   Abdul Muthalib, kakeknya menampakkan cinta yang luar biasa dan penghormatan padanya. Setelah dua tahun   ketika   Muhammad   bin   Abdillah   berusia   delapan   tahun,   maka   meninggallah   salah   satu benteng yang terbaik yang menjaganya, yaitu kakeknya Abdul Muthalib. Kemudian anak kecil itu   kini   merenungi   kakeknya   laksana   orang   dewasa.   Ia   tampak   tegar   seperti   layaknya   orang dewasa. Kita tidak mengetahui mengapa terjadi demikian. Mengapa hikmah Allah SWT mencegah Nabi yang   terakhir   untuk   mendapatkan   kasih   sayang   seorang   ayah,   kasih   sayang   seorang   ibu,   dan bimbingan   seorang   kakek?   Apakah   Allah   SWT   ingin   memberi   Nabi   yang   terakhir   suatu   kasih sayang     dan   cinta   yang   semata-mata      bersumber     dari   sisi-Nya?    Apakah     Allah   SWT     ingin mendidiknya       dengan    kesedihan    dan   memberinya      perasaan-perasaan      yang   penuh    dengan penderitaan?     Apakah    Allah   SWT    ingin  membuat     hati  Rasul-Nya    hanya   tertuju  kepadanya? Dahulu   Allah   SWT   berkata   kepada   Musa:   "Dan   Aku   telah   memilihmu   untuk   diri-Ku."   (QS. Thaha:     41)  Dahulu    Allah   SWT memberi kabar   gembira   kepada    Musa    di  dalam    Taurat sebagaimana      Isa  memberi     kabar  gembira    di  dalam Injil  dengan   kedatangan    seorang    Nabi setelahnya yang bernama Ahmad.       Dan Nabi Musa meminta kepada Tuhannya agar memberinya dan    memberi     umatnya    puncak    keutamaan,     lalu  Allah   SWT    menjawab      bahwa    Dia  telah menetapkan keutamaan ini kepada Nabi yang terakhir Ahmad dan umatnya. Allah SWT telah memilih Musa untuk diri-Nya.Meskipun Demikian,   Dia tidak mencegahnya untuk   mendapatkan   kasih   sayang   seorang   ibu   dan   mendidiknya   di   tengah-tengah   keluarganya. Namun Dia berkehendak untuk menjadikan Nabi yang terakhir tercegah dari mendapatkan kasih sayang seorang manusia dan cinta seorang manusia, sehingga Nabi tersebut hanya mendapatkan kasih sayang Ilahi dan cinta Ilahi. Allah     SWT     berfirman    menceritakan      tentang   keadaan     Rasul   terakhir:   "Bukankah      Dia mendapatimu   sebagai   seorang   yatim,   lalu   Dia   melindungimu.   Dan   Dia   mendapatimu   sebagai seorang   yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang    kekurangan,     lalu  Dia   memberikan     kecukupan.     Adapun     terhadap   anak   yatim,   maka janganlah   kamu   berlaku   sewenang-wenang.   Dan   terhadap   orang        yang   meminta-minta,   maka janganlah     kamu    menghardiknya.      Dan   terhadap    nikmat    Tuhanmu     maha    hendaklah    kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). " (QS. ad-Dhuha: 6-11) Makna ayat tersebut secara harfiah adalah bahwa beliau dalam keadaan yatim lalu Allah  SWT melindunginya;   beliau   dalam   keadaan   tersesat   lalu   Allah   SWT   memberinya   petunjuk;   beliau dalam   keadaan   fakir   lalu   Allah   SWT   memampukannya.   Allah   SWT   melindunginya   dengan mengasuhnya,   membimbingnya,   dan   mencukupinya.   Itu   adalah   derajat   keutamaan   yang   tidak pernah dicapai oleh seseorang pun di dunia. Setelah    kematian    kakeknya,    maka   pamannya      Abu   Thalib   mengasuhnya.     Allah   SWT     telah meletakkan kecintaan pada hati pamannya, sehingga pamannya mengutamakan Muhammad saw daripada     anak-anaknya      dan   memuliakannya       serta  menghormatinya,       bahkan    Abu    Thalib mendudukkannya di ranjangnya   yang biasa dibentangkannya di hadapan Ka'bah di mana tidak ada seorang pun yang duduk selainnya.

Muhammad         bin  Abdillah    hidup   di  jantung    gurun   Mekah     sebagai   seorang    yang   memiliki kesadaran   yang   tinggi   di   antara   kaum   yang   sedang   lalai   dan   kaum   yang   mabuk-mabukan   dan para   penyembah   berhala   serta   para   pedagang   minuman   keras   dan   para   syair   dan   orang-orang yang berperang dan tokoh-tokoh kabilah. Muhammad bin Abdillah seorang yang banyak diam dan ketika usianya semakin dewasa, maka ia bertambah banyak diam. Beliau tidak berbicara kecuali jika diajak seseorang berbicara; beliau tidak   terlibat   dalam   permainan   hura-hura   anak-anak   muda;   beliau   merasakan   kesedihan   yang dalam;    beliau   sering   menyendiri   dan   membuka       matanya   di  hamparan     pasir-pasir.   Mulutnya terdiam     dan  akalnya    berpikir.  Beliau    merenungkan      di  masa    kecilnya   bagaimana     kaumnya bersujud     terhadap    berhala   dan   terpukau    dengannya;     bagaimana     orang-orang      berakal   mau bersujud   kepada   batu-batu   yang   tidak   memberikan   mudharat   dan   manfaat   dan   tidak   berbicara serta   tidak   dapat   melakukan   apa-apa.   Beliau   mewarisi   dari   kekeknya   Ibrahim   kebencian   yang fitri terhadap dunia berhala dan patung. Di   dalam   dirinya   terdapat   penghinaan   yang   besar   terhadap   sembahan-sembahan   dari   batu   ini, suatu   penghinaan   yang   menjadikannya   tidak   mau   mendekat   selama-lamanya   terhadap   patung tersebut. Namun hatinya yang besar dipenuhi dengan kesedihan yang lebih hebat dari kesedihan kakeknya Ibrahim. Beliau sedih karena akal manusia menyembah batu dan emas, kesombongan serta kekuasaan penguasa; beliau mendengar apa yang dikatakan manusia dan mengamat-amati urusan kehidupan dan keadaan masyarakat; beliau juga menyaksikan betapa banyak pertentangan dan   perkelahian   di   antara   manusia   yang   justru   disebabkan   oleh   masalah-masalah   yang   sepele, sehingga     keheranan     beliau   semakin    bertambah     dan   sudah   barang    tentu  kesedihannya      pun semakin dalam. Tidakkah manusia mengetahui bahwa mereka akan mati seperti ayahnya, ibunya, dan   kakeknya?   Mengapa   mereka   menimbulkan   pertentangan   ini,   hingga   mereka   mendapatkan lebih banyak kejahatan? Ketika usianya semakin bertambah, maka bertambahlah kezuhudannya dalam hidup, dan sepak terjangnya   terus   bersinar   memenuhi   penjuru   Mekah.   Beliau   tidak   sama   dengan   seseorang   pun dari kalangan pemuda saat itu. Meskipun kami kira bahwa kesedihannya disebabkan oleh hal-hal yang umum, tetapi beliau tidak mengungkapkan kegelisahan hatinya pada seseorang pun. Beliau belum   bertujuan   untuk   memperbaiki   masyarakat   atau   kemanusiaan.   Benar   bahwa   pertanyaan- pertanyaan kritis timbul dalam benaknya dan ingin segera menemukan jawaban, tetapi akalnya sendiri tidak dapat menemukan jawaban atau jalan keluar. Inilah yang dimaksud dengan makna ayat:

"Dan   Dia   mendapatimu   sebagai   seorang   yang   bingung,   lalu   Dia   memberikan   petunjuk."   (QS. adh-Dhuha:       7)   Yang   dimaksud   ad-Dhalal   (kesesatan)   di       sini  ialah   kebingungan   akal     dalam menafsirkan kejahatan dan usaha melawannya karena ketiadaan senjata dan kecilnya usia.

 Semua itu   justru  menambah       sikap   diam    anak   kecil   itu  dan  menjauhkannya        dari  dunia    yang   akan mencemari       akal,   sehingga    akalnya    selamat    dari   segala   noda   dan   tetap   di  bawah     naungan kejernihannya.   Anak   kecil   itu   tetap   jauh   dari   dosa-dosa   yang   dilakukan   oleh   kaumnya   yang berupa kecenderungan untuk menyembah berhala dan cinta kekuasaan dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih mendekat kepada hakikatnya yang suci; ia mampu mempengaruhi orang lain dengan     jiwanya     yang   bersih   dan   rahmatnya     atau   kasih   sayangnya     tertuju   kepada    manusia, bahkan   kepada   binatang   dan   burung.   Ketika   ia   duduk   akan   makan   lalu   ada   burung   merpati berkeliling di seputar makanannya rnaka ia meninggalkan makanannya untuk burung itu. Pada saat   orang-orang      memukul      anjing   yang   mendekat     kepada     makanan     mereka,    maka    ia  justru mencabut   suapan   yang   ada   di   mulutnya   dan   memberikannya   pada   anjing,   kucing,   anak-anak kecil,   dan   orang-orang   fakir.   Bahkan   seringkali   di   waktu   malam   ia   tidur   dalam   keadaan   lapar karena ia memberikan makanannya ke orang lain. Muhammad saw adalah seorang fakir yang harus bekerja agar dapat makan, maka beliau bekerja sebagai   pengembala   kambing,   seperti   Nabi   Daud,   Nabi   Musa,   dan   nabi-nabi   yang   lain   yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian beliau melakukan perjalanan bersama kafilah pamannya Abu Thalib   menuju   Syam   saat   beliau   berusia   tiga   belas   tahun.   Beliau   menyaksikan   keadaan   umat- umat   yang   lain,   maka   keheranannya   semakin   bertambah   terhadap   masa   jahiliyah   ini. Ketika beliau   menyaksikan   orang-orang   tersesat,   maka   kesedihannya   semakin bertambah   dan   hatinya semakin tersentuh dan pikirannya semakin dalam.

Read More