Kisah Nabi Musa AS melawan Tukang sihir firaun
Fir'aun meminum
beberapa gelas dari
minuman keras tetapi
rasa marahnya belum hilang juga.
Kemudian ia mengeluarkan perintah untuk
mengumpulkan orang-orang dekatnya dan semua para menteri di istana serta
para pemimpin di Mesir. Fir'aun
mengeluarkan perintahnya kepada
Haman salah satu
ketua para menterinya untuk
mengepalai pertemuan tersebut. Kemudian para pembesar dari
kaum Fir'aun berkumpul.
Fir'aun memasuki ruang
pertemuan dan wajahnya tampak emosi. Jelas sekali Fir'aun tidak mahu
menerima dengan mudah adanya tuhan
lain yang disembah
orang-orang Mesir selain
dirinya. Fir'aun cukup berbahagia
ketika ia menguasai
Mesir dari memerintah
dengan semahunya.
Tiba-tiba, ia dikejutkan
dengan kedatangan Musa
yang ingin menghancurkan apa
saja yang telah
dibangunnya. Musa mengatakan pada dirinya bahawa di sana ada Tuhan
yang Esa yang tiada Tuhan lain selain-Nya di alam semesta. Ini
bererti bahawa Fir'aun
adalah seorang pembohong.

Pemikiran ini
menghantui kepala Fir'aun
sehingga Fir'aun menoleh
kepada ketua para menterinya yaitu
Haman akhirnya pertemuan bersejarah itu diadakan. Tidak ada
seorang pun yang
berani membuka mulutnya. Fir'aun
membuka pertemuan itu dengan
secara tiba-tiba ia
melontarkan pertanyaan kepada Haman: "Apakah aku seseorang
pembohong wahai Haman?" Haman menunduk dan bertanya: "Siapa yang
berani menentang Fir'aun?" Fir'aun berkata dengan marah: "Musa." Bukankah
ia mengatakan bahawa
ada tuhan lain
di langit." Dengan mantap
Haman menjawab: "Sungguh wahai tuanku, Musa berbohong." Fir'aun berkata
dalam keadaan memutar
wajahnya ke arah
yang lain: "Aku mengetahui bahawa ia
berbohong." Kemudian Fir'aun
kembali menoleh ke Haman: "Dan berkatalah
Fir'aun: 'Hai Haman,
buatkanlah bagiku sebuah
bangunan yang tinggi supaya
aku sampai ke
pintu-pintu, (yaitu) pintu-
pintu langit, supaya aku
dapat melihat Tuhan
Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang
pendusta.'" (QS. al-Mu'min: 36-38)
Fir'aun mengeluarkan
perintah untuk membangun suatu bangunan yang kukuh dan tinggi di mana
ketinggiannya mampu mencapai langit. Perintah Fir'aun itu berdasarkan peradaban Mesir
yang lagi maju
di mana mereka
cenderung membangun
bangunan yang spektakuler. Namun Fir'aun lupa
pada aturan-aturan
teknik pembangunan. Meskipun demikian, Haman
bersikap munafik, padahal ia mengetahui kemustahilan membangun sesuatu
bangunan semegah dan setinggi itu. Haman berkata: "Saya ingin melaksanakan
perintah untuk mendirikan bangunan
itu sesegera mungkin,
tetapi wahai tuanku
dan izinkanlah aku untuk
pertama kalinva aku
menentang perintahmu. Sungguh engkau tidak akan mendapati sesuatu
pun di langit. Tidak ada di sana Tuhan selain dirimu." Fir'aun mendengar
penolakan ketua para menterinya itu dengan sangat puas,
seakan-akan ia mendengarkan suatu
hakikat yang ditetapkan. Kemudian dalam perkumpulan yang
terkenal itu, Fir'aun
melontarkan kata-katanya yang bersejarah: "Hai pembesar
kaumku, aku tidak
mengetahui tuhan bagimu
selain aku." (QS. al-Qashash:
38) Semua yang hadir di tempat itu menundukkan kepala tanda setuju.
Di antara mereka terdapat
dua orang atau
tiga orang yang
masih memiliki akal
sehat. Ketiga orang itu
mengetahui bahawa sebenarnya Fir'aun
adalah seorang pembohong. Meskipun
demikian, mereka membiarakan
kebohongan itu dan memilih apa yang disetujui oleh Fir'aun.
Tentu persetujuan ini berakibat pada masyarakat Mesir yang harus membayar mahal
hasil dari persetujuan itu. Para tentera Mesir, para pembesar istana, dan para
dukun tunduk kepada kegilaan Fir'aun.
Fir'aun berkata dengan
maksud bertanya kepada
para penasihatnya:
"Apa yang kalian
katakan tentang Musa?"
Haman berkata: "Ia
adalah seorang yang
pembohong." Salah seorang menteri
yang lain berkata:
"Saya kira ia
adalah seorang yang gila." Sementara
itu salah seorang
dukun berkata: "
- Tampaknya ia
khuatir mereka akan mencurigainya jika
ia tidak mengatakan sesuatu
pun kepada mereka - saya kira ia
terkena kegilaan." Fir'aun memutus pembicaraan mereka dengan mengatakan:
"Sungguh kalian menggambarkan Musa
macam-macam, namun kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa sebenarnya
maunya Musa? Apa sebenarnya persekongkolan yang
disembunyikannya."
Para penasihat terdiam kerana
rasa takut dan sebagai bentuk kemunafikan terhadap Fir'aun.
Mereka hanya menunggu
Fir'aun mengucapkan kalimat-kalimat tertentu
lalu mereka menirukannya dengan
mulut-mulut mereka layaknya
burung beo. Setelah keheningan
menyelimuti ruangan itu, Fir'aun berkata: "Aku kira bahawa Musa adalah
salah satu tukang sihir yang hebat. Ia ingin mengeluarkan kalian dari negeri
kalian dengan sihirnya.
Lalu persekongkolan apa
yang kalian siapkan?"
Adalah hal yang maklum di rejim kekuasaan mutlak bahawa perkumpulan yang
dihadiri oleh para pembesar dan para menteri untuk mengeluarkan pendapat
sesama mereka bererti
hanya sekadar untuk
mengulang-ulang dan menerima keputusan mutlak
dari penguasa. Para
penasihat berkata -
setelah Fir'aun memberi mereka
kesempatan untuk mengutarakan pendapat: "Sungguh benar apa yang
dikatakan oleh Fir'aun.
Musa adalah seorang
tukang sihir. Kalau begitu, masalahnya telah
selesai. Kita akan
mengembalikan Musa dan saudaranya, dan
kita akan menyebarkan perintah Fir'aun
di Mesir untuk menghadirkan tukang sihir. Jika para
tukang sihir telah datang dan berdiri di hadapan Musa, maka mereka akan dapat
membuktikan bahawa Musa memang tukang sihir dan mereka akan mampu
mengalahkannya. Dengan cara demikian, kita dapat memperdayanya di hadapan
orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil." Perundingan bersejarah itu
sepakat untuk melaksanakan hal
itu. Sepuluh orang dari
pembantu Fir'aun keluar
dari istana, Fir'aun
dengan menunggangi kenderaan mereka
dan mereka segera
berpencar di seluruh penjuru Mesir.
Kemudian diumumkan pada
hari kedua di
pasar-pasar Mesir bahawa seluruh
jago-jago sihir hendaklah
menuju ke istana
Fir'aun untuk mendengarkan suatu
perintah atau suatu urusan yang penting. Fir'aun memanggil Nabi
Musa dan berusaha
mengancamnya dan menakut- nakutkan tetapi Nabi Musa tampak
tenang. Fir'aun berkata kepada Nabi Musa: "Sesungguhnya engkau seorang
tukang sihir, dan
aku menetapkan untuk menyingkap kedokmu
di hadapan semua
orang.
Tidak lama lagi
para tukang sihir akan
datang." Nabi Musa
bertanya: "Kapan aku
akan bertemu dengan tukang sihir
itu?" Fir'aun berkata:
"Di sana terdapat
suatu pertemuan atau acara yang sebentar lagi akan dimulai
yang dihadiri oleh banyak orang. Yaitu hari di mana angin bertiup dengan
sepoi-sepoi; hari di mana bumi berhias diri menyambut kedatangan musim
semi. Sungguh itu
suatu pertemuan yang menakjubkan dan
engkau akan dikalahkan. Sekarang
aku beri kesempatan kamu untuk mencabut dakwahmu. Aku
memberikan kesempatan yang terakhir bagimu untuk menyelamatkan kehormatanmu."
Musa berkata dengan
tidak memperhatikan perkataan
Fir'aun yang terakhir: "Kami sepakat atas pertemuan
itu. Kami akan hadir di hari itu di mana manusia akan berkumpul di pagi
hari." Fir'aun bertanya: "Kapan engkau akan datang?" Musa
berkata: "Insya-Allah aku akan hadir di waktu fajar di permulaan
siang."
Allah s.w.t berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah
perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda- tanda kekuasaan Kami
semuanya, maka ia
mendustakan dan enggan
(menerima kebenaran).
Berkata Fir'aun: 'Adakah
kamu datang kepada
kami untuk mengusir kami
dari negeri kami
(ini) dengan sihirmu,
hai Musa! Dan
kami pun pasti akan
mendatangkan (pula) kepadamu
sihir semacam itu,
maka buatlah suatu waktu
untuk pertemuan antara
kami dan kamu,
yang kami tidak akan
menyalahinya dan tidak
(pula) kamu di
suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Berkata
Musa: "Waktu untuk
pertemuan (kami dengan) kamu
itu ialah di
hari raya dan
hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalah
naik.'" (QS. Thaha: 56-59)
Nabi Musa pergi dalam
keadaaan tenang. Kemudian para
utusan tukang sihir datang ke istana Fir'aun. Ketika semua
berkumpul, Fir'aun memerintahkan agar mereka semua menemuinya. Ketika masuk
menemui Fir'aun, para tukang sihir sujud
kepadanya. Fir'aun memerintahkan mereka untuk
berdiri, kemudian Fir'aun mulai
berjalan-jalan di antara mereka sambil mengamati wajah mereka dan pakaian
mereka. Fir'aun tampak terdiam memikirkan sesuatu dan tiba-tiba ia berdiri
dan berkata: "Wahai
para tukang sihir,
kami sekarang menghadapi masalah yang
kecil dan kami
telah memerintahkan agar
kalian dihadirkan untuk
memecahkan masalah itu." Para tukang sihir itu menundukkan kepalanya dan mereka
mendengarkan dengan hikmat.
Fir'aun kembali berkata:
"Salah seorang lelaki datang kepada kami dan ia mengaku utusan
Allah s.w.t; seorang lelaki yang bernama
Musa dan bersama
saudaranya, Harun. Musa
ini adalah tukang sihir yang mahir,
lebih tangkas dan lebih hebat dari Harun. Oleh kerana itu, kalian
harus mengalahkannya dengan
kekalahan yang teruk
sehingga ia tidak mampu lagi
mengangkat kepalanya kerana rasa malu." Para tukang sihir tetap
menundukkan kepalanya dan mereka terdiam. Fir'aun berkata: "Mengapa seseorang di
antara kalian tidak
bertanya kepadaku tentang
sihirnya Musa." Salah
seorang tukang sihir dengan tenang berkata: "Kami menunggu tuan yang
agung menceritakannya kepada kami.
Kami tidak ingin
memutus pembicaraanmu wahai tuan." Dengan nada
marah, Fir'aun berkata:
"Musa melemparkan tongkatnya dan tiba-tiba tongkatnya
itu menjadi ular
yang sangat besar
lalu ia mencabuttangannya dan
tiba-tiba tangannya menjadi putih
yang menakjubkan orang-orang
yang melihatnya." Tampak senyum manis menghiasi wajah- wajah para tukang
sihir dan salah
seorang mereka berkata:
"Hendaklah hati Fir'aun tenang. Ini adalah permainan kuno;
permainan tongkat yang berubah menjadi ular. Sesungguhnya itu hanya sekadar
imaginasi yang menipu orang-orang yang melihatnya, yang seakan-akan ia bergerak
padahal ia tetap di tempatnya." Fir'aun berkata: "Aku tidak ingin
untuk memasuki perdebatan sekitar masalah pembuatan sihir. Yang aku inginkan
agar kalian mengalahkan Musa. Kami telah sepakat untuk
bertemu pada hari
ketika musim semi
akan tiba. Masyarakat Mesir semuanya akan berkumpul.
Mereka akan menyaksikan kalian saat kalian mengalahkannya. Oleh kerana itu,
kalian harus dapat mengalahkannya." Selesailah perkataan Fir'aun. Ia
menunggu para tukang sihir meninggalkannya tapi mereka masih berdiri. Salah
seorang mereka bertanya: "Mengapa tuan kita Fir'aun tidak
berbicara kepada kita
tentang urusan yang
lebih penting seandainya kita
dapat mengalahkan Musa?" Dengan
kehairanan Fir'aun
bertanya: "Apa sesuatu
yang lebih penting
itu?" Salah seorang
tukang sihir berkata:
"Tentu kami minta upah jika kami menang." Dengan tertawa, Fir'aun
berkata: "Jangan khuatir,
aku akan memuaskan
kalian. Kalian akan
menjadi orang-orang yang dekat. Kami akan mengadakan pekerjaan-pekerjaan
baru di istana bagi para tukang sihir. Kalian jangan khuatir. Tenanglah kerana
kalian akan menerima upah yang layak." Fir'aun tertawa
melihat kepercayaan para tukang
sihir kepada diri
mereka, kemudian ia memerintahkan agar
mereka meninggalkan tempatnya.
Lalu ia sendiri menuju ke meja
makan siang.
Fir'aun duduk sambil makan. Ia berkata sambil menyantap
paha kambing yang
besar: "Semenjak Musa
datang selera makanku terganggu.
Namun sekarang, kehancuran Musa sudah dekat." Allah s.w.t berfirman:
"Dan Musa berkata: 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang
utusan dari Tuhan
alam semesta, wajib
atasku tidak mengatakannya sesuatu terhadap Allah,
kecuali yang hak.
Sesungguhnya aku datang
kepadamu dengan membawa bukti
yang nyata dari
Tuhanmu, maka lepaskanlah
Bani Israil (pergi) bersama aku.' Fir'aun menjawab: 'Jika benar kamu
membawa sesuatu bukti, maka
datangkanlah bukti itu
jika (betul) kamu
termasuk orang-orang yang benar.' Dan dia mengeluarkan tangannya, maka
ketika itujuga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang
yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Musa ini
adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu
dari negerimu.' (Fir'aun
berkata): 'Maka
apakah yang kamu
anjurkan?' Pemuka-pemuka
itu menjawab: 'Beritahulah ia
dan saudara-saudaranya
serta kirimlah ke
kota-kota beberapa orang
yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya
mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.' Dan
beberapa ahli sihir
telah datang kepada
Fir'aun mengatakan: '(Apakah) sesungguhnya kami
akan mendapat upah,
jika kamilah yang menang Fir'aun
menjawab: 'Ya dan
sesungguhnya kamu benar-benar
akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).'" (QS. al-A'raf:
104-114) Kemudian datanglah hari
yang dijanjikan. Orang-orang
berbondong- bondong keluar dari
rumah.
Mereka membicarakan tentang pertemuan antar Nabi Musa
dan Fir'aun. Mereka
menuju ke tempat
perayaan sejak pagi
hari. Tidak ada seorang pun di Mesir yang tidak
mengetahui tentang peristiwa itu. Orang-orang begitu gembira ketika para tukang
sihir itu datang sebagaimana mereka juga gembira ketika melihat Fir'aun datang,
namun keheningan menyelimuti tempat itu ketika Nabi Musa dan Nabi Harun datang.
Tempat perayaan itu diadakan di tempat
terbuka yang hanya
ditutupi oleh payung
Fir'aun yang melindungi kepalanya dari terik matahari.
Fir'aun berdiri di tengah-tengah tenteranya. Ia memakai emas
dan permata. Sementara itu,
Nabi Musa berdiri
dengan menundukkan kepalanya dalam keadaan mengingat Allah s.w.t. Keadaan saat
itu benar-benar hening.
Kemudian para tukang
sihir maju menemui Musa.
Mereka berkata kepada
Musa: "Apakah engkau
yang pertama kali melempar atau
kami yang pertama
kali melempar." Musa
berkata: "Kalianlah
yang pertama kali
melempar." Para tukang
sihir berkata: "Demi kemuliaan Fir'aun,
sesungguhnya kami akan
menang." Musa berkata:
"Celaka kalian, janganlah kalian membuat dusta kepada Allah s.w.t
nescaya Dia akan mendatangkan seksa bagi kalian." Sebahagian ahli hakikat
berkata: "Nabi Musa menoleh
dan kemudian ia
melihat Jibril di
sebelah kanannya." Jibril
berkata kepadanya:
"Wahai Musa, hendaklah
kamu bersikap sopan
kepada wali-wali Allah
s.w.t." Musa berkata dalam dirinva: "Mereka para tukang sihir itu
datang dengan maksud menyimpangkan agama Fir'aun." Jibril
kembali berkata:
"Bersikap lembutlah terhadap
wali-wali Allah s.w.t.
Mereka saat ini
sampai salat Ashar berada
di sisimu dan
setelah salat Ashar
mereka akan berada
di syurga."
Para tukang sihir itu mulai melemparkan tongkat-tongkat
mereka dan tali-tali mereka.
Tiba-tiba arena itu
dipenuhi dengan ular-ular.
Mereka menipu dan menyihir pandangan orang-orang yang
melihatnya. Orang- orang yang melihat sihir
itu merasa takut
kerana mereka mendatangkan sihir
yang besar. Orang-orang merasa
gembira dan Fir'aun
pun menampakkan senyumnya.
Ia berkata dalam dirinya:
Sungguh hari ini
adalah hari pembalasan
atas Musa. Mukjizatnya berupa
tongkat yang ada
di tangannya yang
dapat berubah menjadi ular,
sekarang Fir'aun menghadirkan kepadanya seluruh tukang sihir di mana tongkat-tongkat dan
tali-tali yang ada
di tangan mereka
pun berubah menjadi ular.
Senyuman Fir'aun pun semakin melebar. Nabi Musa memperhatikan tali-tali tukang
sihir dan tongkat-tongkat mereka. Ia merasa
takut. Nabi Musa
ingat apa yang
dikatakan oleh Jibril
dan ia mulai merasakan ketakutan.
Bagaimana mungkin para
tukang sihir itu
akan masuk syurga dan mereka
akan menjadi wali-wali Allah s.w.t? Nabi Musa merasakan semua itu, namun tiada
seorang pun yang mengetahui hakikat pemikiran yang terlintas dalam
benak Nabi Musa
saat ia berdiri
dengan bajunya yang sederhana bersama saudaranya di hadapan
kumpulan manusia yang banyak dari para pengawal dan tentera Fir'aun. Ketika
Musa merasakan ketakutan tersebut, maka
cahaya yang terang
menembus dalam dirinya
dan Allah s.w.t
berkata kepadanya: "Kami
berkata: 'Janganlah kamu
takut, sesungguhnya kamulah
yang paling unggul (menang). Dan
lemparkanlah apa yang
ada di tangan
kananmu, nescaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya
apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak
akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (QS.Thaha: 68-69)
Musa merasa senang ketika mendengar Allah s.w.t menenangkannya. Nabi Musa
dapat mengendalikan dirinya,
kemudian beliau mengangkat
tongkatnya dan melemparkannya.
Sebelum tongkat itu menyentuh tanah, tiba-tiba terjadilah suatu mukjizat. Orang-orang dan
para tukang sihir
Fir'aun bahkan Fir'aun sendiri menyaksikan
sesuatu yang belum
pernah mereka saksikan
di dunia. Biasanya seorang tukang
sihir dapat menipu
pandangan manusia dan memperdaya mereka
seolah-olah ada ular yang
bergerak padahal ia
tetap di tempatnya. Tetapi apa
yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeda.
Belum sampai tongkat
Nabi Musa menyentuh tanah
sehingga ia berubah menjadi
ular yang besar dan sangat gesit. Tiba-tiba ular ini menuju ke tali-tali tukang
sihir dan tongkat-tongkat mereka yang
bergerak dan
ia mulai memakannya
satu persatu. Tongkat
Nabi Musa memakan tali-tali tukang
sihir dan tongkat-tongkat mereka
dengan cepat. Belum berselang
beberapa minit sehingga arena itu kosong dari tali-tali tukang sihir dan
tongkat-tongkat mereka. Tongkat-tongkat dan
tali-tali tukang sihir tersembunyi dalam perut tongkat Nabi
Musa. Dan bergeraklah ular yang besar menuju Nabi Musa lalu beliau menghulurkan
tangannya dan tiba-tiba ular itu berubah menjadi tongkat. Para tukang sihir
mengetahui bahawa mereka bukan di hadapan seorang penyihir. Mereka sebenamya
adalah tokoh-tokoh sihir dan para pakar dalam hal itu di zaman mereka, tetapi
apa yang mereka saksikan saat ini bukan termasuk sihir. Itu adalah mukjizat
dari Allah s.w.t. Akhirnya, para tukang
sihir itu sujud
di atas tanah.
Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan Pengatur
alam semesta. Tuhan yang diyakini oleh Musa dan Harun." Orang-orang Mesir
dan anak-anak Bani Israil menyaksikan mukjizat yang mengagumkan
ini. Mereka melihat
bagaimana tukang sihir-tukang sihir Fir'aun sujud kepada Musa dan Harun.
Fir'aun menyaksikan bahawa bola itu kini berada di tangan Musa dan Harun. Lalu
ia bangkit dari duduknya dan berteriak di
depan tukang sihir:
"Bagaimana kalian beriman
kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian." Para
tukang sihir berkata: "Untuk beriman tidak perlu izin." Fir'aun
berkata: "Kalau begitu ini adalah persekongkolan yang jelas. Sesungguhnya Musa
adalah guru kalian
yang mengajari kalian
sihir. Sungguh tangan-tangan
kalian dan kaki-kaki kalian akan diputus dan kalian akan disalib di pohon
kurma. Sungguh ini adalah persekongkolan yang jelas." Para tukang sihir
berkata: "Lakukan apa saja yang engkau inginkan, hai Fir'aun. Kami tidak
memilihmu dan kami
tidak mengutamakanmu atas
mukjizat Ilahi ini. Sesungguhnya kami
beriman kepada Tuhan
kami agar Dia
mengampuni kami dan menghapus kesalahan-kesalahan kami.
Apa yang engkau
berikan terhadap kami adalah sesuatu yang sedikit, dan apa yang ada di
sisi Allah s.w.t lebih baik dan lebih abadi. Seandainya engkau menyeksa kami
dan membunuh kami dan menyalib
kami, maka engkau
hanya dapat menyeksa kami
di kehidupan dunia ini. Tentu kehidupan dunia tidak dapat dibandingkan
dengan kehidupan akhirat. Kami
hanya ingin mendapatkan
pengampunan dari Allah s.w.t dan
memasuki syurga." Kemudian Fir'aun
mengeluarkan perintahnya
untuk menyalib semua
tukang sihir. Ketika
menyaksikan peristiwa tersebut, orang-orang menjadi ketakutan. Kemudian Nabi
Musa dan Nabi
Harun meninggalkan
tempat itu dan
Fir'aun kembali ke
istananya. "Ahli-ahli
sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami
yang akan melemparkan?' Musa
menjawab: 'Lemparkanlah (lebih dahulu)! Maka tatkala mereka melemparkan,
mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka
mendatangkan sihir yang
besar (menakjubkan). Dan
Kami mewahyukan kepada Musa:
'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong tongkat itu menelan apa
yang mereka sulapkan.
kerana itu nyatalah
yang benar dan gagallah yang selalu mereka kerjakan.
Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah
mereka orang-orang yang
hina. Dan ahli-ahli
sihir itu serta
merta meniarapkan diri dengan bersujud.