Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Rabu, 06 Agustus 2025

Doa supaya diberi kelancaran dalam bekerja

Doa Supaya Lancar dalam Bekerja

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْغَنِيُّ اَلشَّكُوْرُ المُغْنِيُّ اَلرَّازَقُ اَلْفَتَّاحُ اَلْكَافِيُّ.....اَلْحَاسِبُ اَلوَكِيْلُ المُعْطِى المُغِيْث

Bismillahirahmanirahim Al-ghaniyyu Asy-Syakuru Al-Mughniyyu  Ar-Razaqqu Al-Fattahu Al-Kafi (Sebut urusan dalam pekerjaan)Al-Hasibu Al-Wakilu Al-Mu’thi Al-Mughitsu

Doa tersebut dibaca setelah shalat ashar atau maghrib 3 atau 7X

 Doa Supaya Dicintai Orang

وَعَطَّفْ قُلُوْبَ الْعَالَمِيْنَ بِاَسْرِهِمْ#عَلَيْهَا وَأَلْبِسْنِى قَبُوْلًا بِسَلْمَهَتْ

Wa’aththif qulubal ‘Alamina bi asrihim # ‘alaiha wa’’albisti qabulam bisalmahat

Lafad(syair) diatas dibaca setiap hari (malam hari) sebanyak 6X insya Allah anda akan mempunyai keluhuran dan dicintai banyak orang dan juga mempunyai kewibawaan

 

Doa Supaya Diberi Petunjuk Tentang Suatu Hal Yang Kita Ingin Ketahui

بِيَا هٍ وَيَايُوْهٍ نَمُوْهٍ أَصَالِيًا #نَجَا عَالِيًا يَسَّرْ أُمُورِى بِصَلْصَلَتْ

Biyahin wayahin namuhin ashaliyan # Naja’ aliyan yasir umuriy bishalsalat

Lafad diatas dibaca sesering mungkin terutama ketika kita hendak bekerja atau ketika kita bekerja


Doa supaya diberi kelancaran dalam bekerja



Bacaan Doa supaya diberi kelancaran dalam bekerja


Doa Supaya Lancar dalam Bekerja


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْغَنِيُّ اَلشَّكُوْرُ المُغْنِيُّ اَلرَّازَقُ  اَلْفَتَّاحُ اَلْكَافِيُّ.....اَلْحَاسِبُ اَلوَكِيْلُ المُعْطِى المُغِيْث


Bismillahirahmanirahim Al-ghaniyyu Asy-Syakuru Al-Mughniyyu Ar-Razaqqu Al-Fattahu Al-Kafi (Sebut urusan dalam pekerjaan)Al-Hasibu Al-Wakilu Al-Mu’thi Al-Mughitsu
Doa tersebut dibaca setelah shalat ashar atau maghrib 3 atau 7X

Doa Supaya Dicintai Orang


وَعَطَّفْ قُلُوْبَ الْعَالَمِيْنَ بِاَسْرِهِمْ#عَلَيْهَا وَأَلْبِسْنِى قَبُوْلًا بِسَلْمَهَتْ

Wa’aththif qulubal ‘Alamina bi asrihim # ‘alaiha wa’’albisti qabulam bisalmahat
Lafad(syair) diatas dibaca setiap hari (malam hari) sebanyak 6X insya Allah anda akan mempunyai keluhuran dan dicintai banyak orang dan juga mempunyai kewibawaan

Doa Supaya Diberi Petunjuk Tentang Suatu Hal Yang Kita Ingin Ketahui


بِيَا هٍ وَيَايُوْهٍ نَمُوْهٍ أَصَالِيًا #نَجَا عَالِيًا يَسَّرْ أُمُورِى بِصَلْصَلَتْ

 Biyahin wayahin namuhin ashaliyan # Naja’ aliyan yasir umuriy bishalsalat

Lafad diatas dibaca sesering mungkin terutama ketika kita hendak bekerja atau ketika kita bekerja
Read More

 Kisah Pasukan Abrahahh menyerang kota Mekkah

Abrahahh   adalah   seorang   penguasa   Yaman,   yaitu   pada   saat   Yaman   tunduk   kepada   Habasyah setelah    penguasa    Persia   diusir.  Di   Yaman     ia  membangun       suatu   gereja   yang   menunjukkan bangunan   yang   menakjubkan. 

pasukan gajah

  Abrahahh   membangunnya   dengan   niat   agar   orang-orang   Arab berpaling   dari   Baitul   Haram   di   Mekah.   Ia   melihat   betapa   orang-orang   Yaman   tertarik   dengan rumah tersebut. Dan ketika ia tidak melihat gereja yang dibangunnya memiliki daya tarik seperti itu   dan   tidak   mampu     menarik     hati  orang-orang     Arab,    maka    ia  berkeinginan     kuat   untuk menghancurkan         Ka'bah,   sehingga    orang-orang     tidak   menuju     ke  Ka'bah    lagi  melainkan     ke gerejanya.   Demikianlah   akhirnya   ia   menyiapkan   pasukan           yang   besar   yang   dipenuhi   dengan berbagai senjata, kemudian pasukan itu menuju Ka'bah. Pasukan      Abrahahh      terdiri  dari   kelompok      gajah    yang    besar   yang    digunakannya       untuk menghancurkan Ka'bah. Gajah-gajah itu bagaikan tank-tank yang kita gunakan saat ini. Orang- orang    Arab    pun   mendengar      rencana   tersebut.   Memang      orang-orang     Arab    saat  itu  terkenal sebagai   penyembah   berhala,   meskipun   demikian   mereka   sangat   memberikan   penghargaan   dan penghormatan terhadap Ka'bah, karena mereka meyakini bahwa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara Ka'bah. Perjalanan   pasukan   tiba-tiba   dihadang   oleh   seorang   lelaki   yang   mulia   dari   penduduk   Yaman yang    bernama     Dunaher.    Ia  mengajak     kaumnya      dan  dari   kalangan    orang-orang     Arab   untuk memerangi Abrahahh, sehingga ada beberapa orang yang mengikutinya. Abrahahh berhadapan

dengan   tentara   tersebut   tetapi   pasukan   yang   sedikit   itu   dapat   dengan   mudah   dipatahkan   oleh pasukan   kafir   yang   besar   itu.   Kemudian   Dunaher   pun   kalah   dan   menjadi   tawanan   Abrahahh. Pasukan   Abrahahh   tersebut   juga   sempat   ditentang   oleh   Nufail   bin   Hubaid   al-Aslami,   namun Abrahahh pun dapat mengalahkan mereka dan berhasil menawan Nufail. Kemudian ketika Abrahahh melewati kota Taif, menghadaplah kepadanya beberapa orang tokoh setempat,   dan   mereka   tampak   gemetar   ketakutan   dan   berkata   kepadanya   bahwa  sesungguhnya 'rumah' yang ditujunya tidak berada di tempat mereka, tetapi berada di Mekah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud untuk memalingkannya dari rumah berhala mereka, di mana mereka membangun   di   dalamnya   berhala   yang   bernama   Latha   kemudian   mereka   mengutus   seseorang yang akan menunjukkan kepada Abrahahh letak Ka'bah. Ketika Abrahahh berada di antara Taif dan Mekah, ia mengutus seorang pemimpin pasukannya sehingga ia melihat keadaan Mekah. Di sana   ia   merampas   banyak   harta   dari   kaum     Quraisy   dan   selain   mereka,   dan   di   antara  yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu Abdul Muthalib adalah salah seorang pembesar Quraisy dan pemimpin mereka, serta pengawas sumur Zamzam. Kedatangan       utusan   Abrahahh      di  Mekah     telah  menimbulkan       gejolak    pada   kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum Khananah. Kemudian mereka mengetahui bahwa      mereka     tidak   memiliki    kemampuan        untuk    melawan     Abrahahh,      sehingga    mereka membiarkannya,   lalu   tersebarlah   di   Jazirah   Arab   berita   tentang   datangnya   pasukan   yang   kuat yang     sulit  untuk    ditandingi.    Dalam     surat   yang    dibawa     oleh   utusannya     itu,  Abrahahh menyampaikan bahwa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk menghancurkan         Ka'bah.   Jika   mereka    tidak   menentangnya,      maka    darah   mereka     tidak  akan ditumpahkan.   Lalu   utusan   itu   menemui   Abdul   Muthalib,   ia   menceritakan   tentang   keinginan Abrahahh.      Abdul    Muthalib     berkata:   "Kami     tidak   ingin  memeranginya        karena   kami    tidak memiliki kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah kekasih- Nya   Ibrahim.   Jika   Ia   mencegahnya,   maka   itu   adalah   rumah-Nya   dan   tempat   suci-Nya,   namun jika    Ia    membiarkannya,        maka      demi    Allah     kami     tidak    memiliki     kekuatan      untuk mempertahankannya." Kemudianutusan itu pergi bersama Abdul Mutihalib menuju Abrahahh. Abdul     Muthalib     adalah   seseorang     yang   sangat   terpandang     dan   sangat   mulia.   Ia  memiliki kewibawaan        dan  kehormatan      yang   mengagumkan.        Ketika    Abrahahh     melihatnya,    Abrahahh menampakkan         penghormatan      kepadanya.     Abrahahh     memuliakannya        dan   mendudukannya        di bawahnya,   ia   tidak   suka   bahwa   ia   duduk   bersamanya   di   kursi   kekuasaannya.   Lalu   Abrahahh turun dari kursinya dan duduk di atas sebuah permadani dan mendudukkan Abdul Muthalib di sisinya.   Kemudian   ia   berkata   kepada   penerjemahnya:   "Katakan   padanya   apa   kebutuhannya?" Abdul   Muthalib   berkata:   "Kebutuhanku   adalah   agar   Abrahahh   mengembalikan   dua   ratus   ekor unta   yang   diambilnya   dariku"   Ketika   Abdul   Muthalib   mengatakan   demikian,   wajah   Abrahahh berubah, lalu ia berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika   melihatnya,   kemudian   aku   merasakan   kehati-hatian   saat   berbicara   dengannya,   apakah engkau   berbicara   denganku   tentang   dua   ratus      ekor   unta   yang   telah   aku   ambil,   lalu   engkau membiarkan   rumah   yang   merupakan   simbol   agamanya   dan   kakek-kakeknya,   yang   aku   datang untuk     menghancurkannya         dan   dia   tidak   menyinggungnya        sama    sekali"    Abdul    Muthalib menjawab:       "Aku    adalah   pemilik    unta,   sedangkan     pemilik    rumah    itu  adalah    Tuhan    yang melindunginya."       Abrahahh     berkata:   "Dia   tidak   akan   mampu     melindunginya      dariku."   Abdul Muthalib menjawab: "Lihat saja nanti!" Selesailah   dialog   antara   Abdul   Muthalib   dan   Abrahahh.   Abrahahh   pun   mengembalikan   unta yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui orang-orang Quraisy dan menceritakan apa yang dialaminya, dan ia memerintahkan mereka untuk meninggalkan Mekah dan berlindung dibalik gua-gua di gunung. Akhirnya kota Mekah dikosongkan oleh   pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke gunung-gunung di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah Arab. Abdul Muthalib berdiri dan memegangi pintu Ka'bah dan berdiri bersama dengan sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta perlindungan-Nya, agar para malaikat memerintahkan gajah-gajah tidak melangkahkan kakinya sehingga gajah itu pun tetap   di   tempatnya   dan   menaati   perintah   para   malaikat,   kemudian   gajah-gajah   itu   menerima pukulan yang dahsyat namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya, gajah-gajah itu tampak gemetar dan berteriak tetapi lagi-lagi gajah-gajah itu menolak untuk bergerak dan tidak bergerak selangkah   pun.   Abrahahh   bertanya:   "Mengapa   pasukan   tidak   bergerak?"   Kemudian   dikatakan kepadanya       bahwa    gajah-gajah     menolak     untuk    bergerak.    Abrahah     mengangkat      cemetinya. Dengan muka emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya. Matahari saat itu bersinar dan ia duduk di kemahnya. Ketika ia keluar, matahari bersembunyi di balik   segerombolan   burung.   Abrahah   mengangkat   pandangannya   ke   arah   langit.   Mula-mula   ia membayangkan   bahwa   ia   melihat   sekawanan   awan   yang   hitam.   Kemudian   ia   mengamat-amati awan   itu.   Dan   ternyata   ia   bukan   awan   biasa.   Itu   adalah   sekelompok   burung   yang   menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak. Gajah-gajah   semakin   berteriak   dengan   kencang   dan   tampak   ketakutan.   Dan   rasa   takut   itu   kini menghinggapi       seluruh    pasukan.    Abrahah    berteriak   di  tengah-tengah     pasukannya   agar  gajah diusahakan   untuk   maju   secara   paksa.

Kemudian   terbukalah   salah   satu   jendela   dari   jendela   al- Jahim, dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Sijil, yaitu batu yang sama yang   pernah   dihujankan   kepada   kaum   Nabi   Luth.   Batu   itu   menyerupai   bom-bom   atom   yang digunakan saat ini. Jika Anda membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa  yang menimpa   pasukan   Abrahah.   Anda   akan   membayangkan   bahwa   Anda   berada   di   hadapan   suatu kekuatan yang menghancurkan yang tidak diketahui asal muasalnya. Dunia mengenali sebagian darinya   setelah   empat   belas   abad   dari   peristiwa   tersebut.   Buku-buku   itu   mengatakan   bahwa pasukan itu dihancurkan dengan penghancuran yang dahsyat. Para tentara Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging-daging dari tubuh mereka berceceran   di   jalan.   Abrahah   pun   mendapatkan   luka   dan   mereka   keluar   dari   tempat   itu   dalam keadaan   dagingnya   terpisah   satu   persatu.   Abrahah   pun   terbelah   dadanya   dan   mati.   Kemudian jasad   para   pasukannya   tersebar   dan   berceceran   di   bumi,   seperti   tanaman   yang   dimakan   oleh binatang. Setelah mendekati setengah abad, turunlah suatu surah di Mekah   yang menceritakan tentang peristiwa itu: "Apakah kamu tidak memperhatikan bagimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka 'bah) itu sia-sia? Dan     Dia   mengirimkan      kepada    mereka     burung    yang   berbondong-bondong,         yang   melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadihan mereka seperti daun yang dimakan (ulat)." (QS. al-Fil: 1-5) Pasukan      gajah    yang    ingin   memporak-porandakan          Mekah      dikalahkan.     Kemudian      mereka dihancurkan       dan  Tuhan     pemilik   Ka'bah    berhasil   melindungi     rumah    suci-Nya.    Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan bagi orang yang tinggal di rumah itu dan bukan sebagai bentuk pengkabulan doa kaum yang menyembah berhala yang memenuhi tempat itu. Allah SWT sebagai     Pelindung     Ka'bah    memeliharanya      karena    adanya    hikmah     yang   tinggi;  Allah    SWT menginginkan sesuatu bagi rumah itu; Allah SWT ingin melindunginya agar tempat itu menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat dari akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman, yang tidak dikuasai oleh seseorang pun dari luar dan juga tidak didominasi oleh pemerintahan asing yang akan membatasi dakwah.

Read More

Selasa, 05 Agustus 2025

Kisah Nabi Muhammad SAW menjadi yatim ketika berada dalam kandungan

 Kisah Nabi Muhammad SAW menjadi yatim ketika berada dalam kandungan

 Beliau saw adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul   Muthalib,   anak   seorang   wanita   Quraisy.   Beliau   saw   adalah   pemimpin   anak-anak   Nabi Adam as. Beliau saw adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta rahmat Allah SWT yang dihadiahkan kepada umat manusia.

 Beliau      saw    lahir   di   tanah    Arab.    Ketika     itu   malam      gelap,    tiba-tiba   Abdul      Muthalib membayangkan   bahwa   matahari   telah   terbit,   lalu   ia   bangun   dan   ternyata   mendapati   dirinya   di pertengahan malam, keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun yang terbentang. Ia menuju pintu kemah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di selimuti dengan   malam.   Ia   kembali   menutup   pintu   kemah   dan   tidur.   Belum   lama   ia   dikuasai   oleh   rasa kantuk yang amat sangat, sehingga ia kembali bermimpi untuk kedua kalinya. Segala sesuatunya tampak   jela   s   kali   ini,   Sesungguhnya   sesuatu   yang   besar   memerintahnya   untuk   melaksanakan perintah   yang   sangat   penting,   "Galilah   zamzam!"   Dalam   mimpinya   Abdul   Muthalib   bertanya: "Apakah       itu  zamzam?"      Kemudian       untuk    kedua    kalinya    perintah   itu  mengatakan       bahwa     ia diperintahkan       untuk   menggali      zamzam.     Belum     lama    Abdul    Muthalib     melihat    sesuatu    yang bersembunyi   itu,   sehingga   ia   berdiri   di   tempat   tidurnya   dan   hatinya   berdebar   dengan   keras. Abdul   Muthalib   bangkit,   lalu   ia   membuka   pintu   kemah   kemudian   pergi   ke   gurun   yang   luas. Apakah      arti   zamzam?     Tiba-tiba   pikirannya      dipenuhi    dengan     cahaya    yang   datang    dari   jauh, bahwa pasti zamzam adalah sebuah sumur, tetapi apa   yang diinginkan oleh suara   yang datang dalam   tidur   itu   agar   ia   menggali   sumur,   di   sana   tidak   ada   jawaban   selain   satu   jawaban   dari pertanyaan   ini,   yaitu   agar   orang-orang   yang   berhaji   dan   berkeliling   di   sekitar   Ka'bah   dapat meminumnya. Tetapi apa nilai dari sumur itu sendiri, bukankah di sana terdapat banyak sumur yang dapat diminum oleh orang-orang yang berhaji. Abdul   Muthalib   duduk   di   tengah-tengah   pasir   gurun   pada   pertengahan   malam,   ia   memikirkan bintang-bintang sembari merenungkan cerita-cerita kuno yang mengatakan tentang sumur yang memancar darinya air sebagai akibat dari pukulan kaki Nabi   Ismail as, di sana juga ada cerita yang mengatakan bahwa sumur itu telah binasa sesuai dengan perjalanan zaman. Matahari terbit di   atas   gurun   Jazirah   Arab,   Abdul   Muthalib   keluar   menemui   orang-orang,   dan   menceritakan kepada   mereka   bahwa   ia   akan   menggali   sebuah   sumur   di   tempat   tertentu,   ia   menunjukkan   ke tempat   yang   di   situ   ia   diberitahu   oleh   suara   yang   ada   dalam   mimpinya.   Orang-orang   Quraisy menolaknya, Sesungguhnya tempat yang diisyaratkan oleh Abdul Muthalib terletak di antara dua berhala   dari   berhala-berhala   yang   biasa   disembah   oleh   masyarakat   setempat,   yaitu   di   antara berhala yang bernama Ashaf dan NAllah. Abdul Muthalib merasa bahwa usahanya sia-sia untuk meyakinkan kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahwa Abdul   Muthalib   tidak   mempunyai   sesuatu   selain   hanya   seorang   anak.   Bahwasanya   ia   tidak memiliki   anak-anak   yang   dapat   menolong   dan   memperkuatnya   serta   melaksanakan   keinginan- keinginannya. 

Pada   saat      itu   di  kawasan   negeri   Arab   dipenuhi   dengan     kabilah-kabilah     yang terjalin   uatu   ikatan   fanatisme   atau   kesukuan   yang   kuat   dan   usaha   untuk   melindungi   keluarga yang sangat menonjol. Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan   Ka'bah   dan   mengungkapkan   suatu   nazar   kepada   Allah   SWT.   Ia   berkata:   "Jika   aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan mereka menginjak usia dewasa, sehingga mereka mampu melindungiku   saat   aku   menggali   sumur   Zamzam,   maka   aku   akan   menyembelih   salah   seorang dari   mereka   di   sisi   Ka'bah   sebagai   bentuk   korban."   Pintu   langit   pun   terbuka   untuk   doanya. Belum sampai berlangsung satu tahun, istrinya melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia   melahirkan   anak   laki-laki   sampai   pada   tahun   yang   kesembilan,   sehingga   Abdul   Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi      besar.  Abdul     Muthalib     akhirnya    menjadi     seseorang    yang    memiliki     kemampuan. Kemudian Abdul Muthalib berusaha melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam mimpinya itu, yaitu ia bersiap-siap untuk mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaannya dari   nazarnya.   Maka   dilakukanlah   undian   atas   sepuluh   anaknya,   lalu   keluarlah   nama   anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu keluar dalam undian, maka orang-orang yang   ada   disekitarnya   berusaha   memberontak,   mereka   mengatakan   bahwa   mereka   tidak   akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seseorang yang bersih dikawasan Arab, ia telah dapat menarik simpati   masyarakat   di   sekitarnya.   Ia   tidak   pernah   menyakiti   seseorang   pun.   Bahkan   ia   tidak pernah meninggikan suaranya lebih dari orang lain. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan Jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai sebuah kebun di tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh karena   itu   semua   manusia   datang   kepadanya   dan   menentang   usaha   penyembelihannya.   Para pembesar   Quraisy   berkata,   "Lebih   baik   kami   menyembelih   anak-anak   kami   daripada   ia   harus disembelih,      dan   menjadikan      anak-anak     kami    sebagai    tebusan    baginya.    Kami    tidak   akan menemukan         seseorang    pun    yang   lebih   baik   dari   dia   seandainya     kami    menyembelihnya, pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan biarkan kami bertanya kepada dukun." Abdul     Muthalib     tampak    tidak  mampu      menghadapi      tekanan    ini,  lalu  ia  mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang dukun. Si dukun berkata:    "Berapakah      taruhan   yang   kalian   miliki?"   Mereka     menjawab:     "Sepuluh     ekor   unta." Dukun itu berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama     Abdullah,    jika  undian    datang   padanya,     maka    tambahlah    sepuluh    ekor   unta   lagi,  lalu ulangilah terus undian tersebut, demikian hingga tidak keluar lagi nama Abdullah."

Kemudian   dilakukanlah   undian   atas   nama   Abdullah   dan   atas   sepuluh   ekor   unta   yang   besar. Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, kemudian lagi-lagi yang keluar nama Abdullah sehingga mereka pun menambah sepuluh   ekor   unta   lagi   sampai   jumlah   unta   itu   telah   mencapai   seratus   ekor   unta.   Setelah   itu, datanglah      nama    unta   tersebut.   Maka     saat  itu,  masyarakat     demikian     gembiranya      sehingga berlinangan air mata, kegembiraan dari mereka karena melihat Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian   disembelihlah   seratus   ekor   unta   di   sisi   Ka'bah,   dan   mereka   membiarkannya   di   situ sehingga korban itu tidak disentuh oleh seseorang pun dan juga disentuh oleh binatang-binatang buas. Abdul Muthalib sangat gembira atas keselamatan anaknya, Abdullah. Lalu ia menetapkan untuk menikahkannya dengan gadis terbaik di Jazirah Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu hari   dari   Ka'bah   ke   rumah   Wahab,   dan   di   sana   ia   meminang   untuknya   Aminah   binti   Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy. Dinyalakanlah api-api di gunung-gunung Mekah, agar para musafir dan para tamu mengetahui tempat   diadakannya   acara   tersebut,   yaitu   acara   pernikahan   antara   Abdullah   dan   Aminah.   Lalu disembelihlah       hewan-hewan       korban,    dan   manusia     dari  kalangan     orang-orang     fakir  bahkan binatang-binatang buas dan burung makan darinya. Abdullah tinggal bersama istrinya dua bulan di rumah pernikahan, hingga suatu hari ada kabar bahwa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti kafilah tersebut dan melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan Quraisy menuju Syam, itu adalah kesempatan terakhir yang diperoleh Aminah binti Wahab bersamanya. Wajah Abdullah yang mulai tampak berseri-seri mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah, lalu setelah itu bayang-bayang wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan rnereka pun hilang. Aminah      tidak   mengetahui     bahwa     itu  adalah   kesempatan     terakhirnya    setelah   dua   bulan   dari perkawinannya.   Abdullah   mengunjungi   paman-pamannya   dari   kabilah   bani   Najar   di   Madinah, dan di sana ia meletakkan jasadnya di muka bumi, ia meninggal dunia. Abdullah   bin   Abdul   Muthalib   kini   telah   meninggal.   Saat   itu   ia   berusia   dua   puluh   lima   tahun. Kabar      kematiannya       tiba-tiba    tersebar    dan    sangat    memilukan        hati   orang-orang      yang mendengarnya,   sehingga   kabar   itu   sampai   ke   istrinya.   Aminah   tampak   menangis   tersedu-sedu dan     ia  tampak    menyampaikan         pertanyaan-pertanyaan        pada   dirinya    dan   tidak   mengetahui jawabannya,       mengapa      Allah    SWT     menebusnya       dengan    seratus    unta   jika  kemudian      Dia menetapkan kematian baginya. Tidak lama kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin dengan gerakan   yang   sedikit,   ia   tampak   mulai   mengetahui   bahwa   ia   sedang   hamil.   Aminah   menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali ini ia menangis untuk anak   yang ditinggal    mati    ayahnya    sebelum     ia  sempat    dilahirkan.   

Aminah     tidak   pernah    mengetahui sebelumnya bahwa janin yang dikandungnya akan menjadi anak yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan. Anak yatim ini harus menanggung beban anak-anak yatim dan orang-orang fakir serta orang-orang yang sedih di muka bumi. Ia akan menjadi Nabi yang terakhir dan rasul-Nya kepada   manusia.   Ia   akan   menjadi   rahmat   yang   dihadiahkan   kepada   manusia   dan   tidak   akan mengetahui makna rahmat kecuali orang yang merasakan penderitaan dan kepahitan. Inilah anak kecil   yang   sebelum   dilahirkan   telah   menelan   kesedihan.   Dan   berlalulah   hari   demi   hari,   lalu hilanglah   tangisan   penderitaan   dan   mata   Aminah   pun   telah   mengering,   namun   kesedihannya tampak menyerupai sebuah pohon yang turnbuh bersama kehausan.

Kemudian kesedihannya hari demi hari semakin ia rasakan tetapi kesedihannya itu mulai tidak tampak ketika ia mendapatkan bahwa   janin     yang   dikandungnya      tidaklah   memberatkannya,   sebaliknya        ia   merasakan   betapa ringannya   janin   yang   dikandungnya   bagaikan   merpati   yang   berkeliling   di   seputar   Ka'bah,   dan seandainya kesedihannya   yang selalu mengitarinya, maka tidak ada wanita   yang lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu adalah manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian   semakin   dekatlah   hari   kelahirannya.   Sementara   itu,   pasukan   Abrahahh   mendekati Mekah.

Read More