Kisah Nabi Muhammad SAW menjadi yatim ketika berada dalam
kandungan
Beliau saw adalah
Muhammad bin Abdillah bin Abdul
Muthalib, anak seorang
wanita Quraisy. Beliau
saw adalah pemimpin
anak-anak Nabi Adam as. Beliau
saw adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta rahmat Allah SWT yang
dihadiahkan kepada umat manusia.

Beliau
saw lahir di
tanah Arab. Ketika
itu malam gelap,
tiba-tiba Abdul Muthalib membayangkan bahwa
matahari telah terbit,
lalu ia bangun
dan ternyata mendapati
dirinya di pertengahan malam,
keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun yang terbentang. Ia menuju pintu
kemah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di
selimuti dengan malam. Ia
kembali menutup pintu
kemah dan tidur.
Belum lama ia
dikuasai oleh rasa kantuk yang amat sangat, sehingga ia
kembali bermimpi untuk kedua kalinya. Segala sesuatunya tampak jela
s kali ini,
Sesungguhnya sesuatu yang
besar memerintahnya untuk
melaksanakan perintah yang sangat
penting, "Galilah zamzam!" Dalam
mimpinya Abdul Muthalib
bertanya: "Apakah itu zamzam?" Kemudian untuk
kedua kalinya perintah
itu mengatakan bahwa
ia diperintahkan untuk menggali
zamzam. Belum lama
Abdul Muthalib melihat
sesuatu yang bersembunyi itu,
sehingga ia berdiri
di tempat tidurnya
dan hatinya berdebar
dengan keras. Abdul Muthalib
bangkit, lalu ia
membuka pintu kemah
kemudian pergi ke
gurun yang luas. Apakah arti
zamzam? Tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan
cahaya yang datang
dari jauh, bahwa pasti zamzam
adalah sebuah sumur, tetapi apa yang
diinginkan oleh suara yang datang
dalam tidur itu
agar ia menggali
sumur, di sana
tidak ada jawaban
selain satu jawaban
dari pertanyaan ini, yaitu
agar orang-orang yang
berhaji dan berkeliling
di sekitar Ka'bah
dapat meminumnya. Tetapi apa nilai dari sumur itu sendiri, bukankah di
sana terdapat banyak sumur yang dapat diminum oleh orang-orang yang berhaji.
Abdul Muthalib duduk
di tengah-tengah pasir gurun
pada pertengahan malam,
ia memikirkan bintang-bintang
sembari merenungkan cerita-cerita kuno yang mengatakan tentang sumur yang
memancar darinya air sebagai akibat dari pukulan kaki Nabi Ismail as, di sana juga ada cerita yang
mengatakan bahwa sumur itu telah binasa sesuai dengan perjalanan zaman.
Matahari terbit di atas gurun
Jazirah Arab, Abdul
Muthalib keluar menemui
orang-orang, dan menceritakan kepada mereka
bahwa ia akan
menggali sebuah sumur
di tempat tertentu,
ia menunjukkan ke tempat
yang di situ
ia diberitahu oleh
suara yang ada
dalam mimpinya. Orang-orang
Quraisy menolaknya, Sesungguhnya tempat yang diisyaratkan oleh Abdul
Muthalib terletak di antara dua berhala
dari berhala-berhala yang
biasa disembah oleh
masyarakat setempat, yaitu
di antara berhala yang bernama
Ashaf dan NAllah. Abdul Muthalib merasa bahwa usahanya sia-sia untuk meyakinkan
kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahwa
Abdul Muthalib tidak
mempunyai sesuatu selain
hanya seorang anak.
Bahwasanya ia tidak memiliki anak-anak
yang dapat menolong
dan memperkuatnya serta
melaksanakan keinginan-
keinginannya.
Pada saat itu
di kawasan negeri
Arab dipenuhi dengan
kabilah-kabilah yang terjalin uatu
ikatan fanatisme atau
kesukuan yang kuat
dan usaha untuk
melindungi keluarga yang sangat
menonjol. Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di
hadapan Ka'bah dan
mengungkapkan suatu nazar
kepada Allah SWT.
Ia berkata: "Jika
aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan mereka menginjak usia dewasa,
sehingga mereka mampu melindungiku
saat aku menggali
sumur Zamzam, maka
aku akan menyembelih
salah seorang dari mereka
di sisi Ka'bah
sebagai bentuk korban." Pintu
langit pun terbuka
untuk doanya. Belum sampai
berlangsung satu tahun, istrinya melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun
ia melahirkan anak
laki-laki sampai pada
tahun yang kesembilan,
sehingga Abdul Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki.
Kemudian berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar.
Abdul Muthalib akhirnya
menjadi seseorang yang
memiliki kemampuan. Kemudian
Abdul Muthalib berusaha melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam mimpinya
itu, yaitu ia bersiap-siap untuk mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk
pelaksanaannya dari nazarnya. Maka
dilakukanlah undian atas
sepuluh anaknya, lalu
keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah.
Ketika nama anak itu keluar dalam undian, maka orang-orang yang ada disekitarnya
berusaha memberontak, mereka
mengatakan bahwa mereka
tidak akan membiarkan Abdullah
disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seseorang yang bersih dikawasan
Arab, ia telah dapat menarik simpati
masyarakat di sekitarnya.
Ia tidak pernah
menyakiti seseorang pun.
Bahkan ia tidak pernah meninggikan suaranya lebih dari
orang lain. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut
di kawasan Jazirah Arab. Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang
mulia menyerupai sebuah kebun di tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh
karena itu semua
manusia datang kepadanya
dan menentang usaha
penyembelihannya. Para
pembesar Quraisy berkata,
"Lebih baik kami
menyembelih anak-anak kami
daripada ia harus disembelih, dan
menjadikan anak-anak kami
sebagai tebusan baginya.
Kami tidak akan menemukan seseorang pun
yang lebih baik
dari dia seandainya kami
menyembelihnya, pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan biarkan kami
bertanya kepada dukun." Abdul
Muthalib tampak tidak
mampu menghadapi tekanan
ini, lalu ia
mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka
mendatangi seorang dukun. Si dukun berkata:
"Berapakah taruhan yang
kalian miliki?" Mereka
menjawab: "Sepuluh ekor
unta." Dukun itu berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu
lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika
undian datang padanya,
maka tambahlah sepuluh
ekor unta lagi,
lalu ulangilah terus undian tersebut, demikian hingga tidak keluar lagi
nama Abdullah."
Kemudian
dilakukanlah undian atas
nama Abdullah dan
atas sepuluh ekor
unta yang besar. Undian itu pun mengeluarkan terus
nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, kemudian
lagi-lagi yang keluar nama Abdullah sehingga mereka pun menambah sepuluh ekor
unta lagi sampai
jumlah unta itu
telah mencapai seratus
ekor unta. Setelah
itu, datanglah nama unta
tersebut. Maka saat
itu, masyarakat demikian gembiranya sehingga berlinangan air mata, kegembiraan
dari mereka karena melihat Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus
ekor unta di
sisi Ka'bah, dan
mereka membiarkannya di
situ sehingga korban itu tidak disentuh oleh seseorang pun dan juga
disentuh oleh binatang-binatang buas. Abdul Muthalib sangat gembira atas
keselamatan anaknya, Abdullah. Lalu ia menetapkan untuk menikahkannya dengan
gadis terbaik di Jazirah Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu
hari dari Ka'bah
ke rumah Wahab,
dan di
sana ia meminang
untuknya Aminah binti
Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul
Muthalib, seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang
Quraisy. Dinyalakanlah api-api di gunung-gunung Mekah, agar para musafir dan
para tamu mengetahui tempat
diadakannya acara tersebut,
yaitu acara pernikahan
antara Abdullah dan
Aminah. Lalu disembelihlah hewan-hewan korban, dan
manusia dari kalangan
orang-orang fakir bahkan binatang-binatang buas dan burung
makan darinya. Abdullah tinggal bersama istrinya dua bulan di rumah pernikahan,
hingga suatu hari ada kabar bahwa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun
mengikuti kafilah tersebut dan melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan
Quraisy menuju Syam, itu adalah kesempatan terakhir yang diperoleh Aminah binti
Wahab bersamanya. Wajah Abdullah yang mulai tampak berseri-seri mengucapkan
selamat tinggal kepada Aminah, lalu setelah itu bayang-bayang wajahnya
tersembunyi bersama kafilah dan rnereka pun hilang. Aminah tidak
mengetahui bahwa itu
adalah kesempatan terakhirnya setelah
dua bulan dari perkawinannya. Abdullah
mengunjungi paman-pamannya dari
kabilah bani Najar
di Madinah, dan di sana ia
meletakkan jasadnya di muka bumi, ia meninggal dunia. Abdullah bin
Abdul Muthalib kini
telah meninggal. Saat
itu ia berusia
dua puluh lima
tahun. Kabar kematiannya tiba-tiba tersebar
dan sangat memilukan hati
orang-orang yang
mendengarnya, sehingga kabar
itu sampai ke
istrinya. Aminah tampak
menangis tersedu-sedu dan ia
tampak menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada
dirinya dan tidak
mengetahui jawabannya, mengapa Allah
SWT menebusnya dengan
seratus unta jika
kemudian Dia menetapkan
kematian baginya. Tidak lama kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin dengan
gerakan yang sedikit,
ia tampak mulai
mengetahui bahwa ia
sedang hamil. Aminah
menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali
ini ia menangis untuk anak yang
ditinggal mati ayahnya
sebelum ia sempat
dilahirkan.
Aminah tidak pernah
mengetahui sebelumnya bahwa janin yang dikandungnya akan menjadi anak
yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan. Anak yatim ini harus menanggung
beban anak-anak yatim dan orang-orang fakir serta orang-orang yang sedih di
muka bumi. Ia akan menjadi Nabi yang terakhir dan rasul-Nya kepada manusia.
Ia akan menjadi
rahmat yang dihadiahkan
kepada manusia dan
tidak akan mengetahui makna
rahmat kecuali orang yang merasakan penderitaan dan kepahitan. Inilah anak
kecil yang sebelum
dilahirkan telah menelan
kesedihan. Dan berlalulah
hari demi hari,
lalu hilanglah tangisan penderitaan
dan mata Aminah
pun telah mengering,
namun kesedihannya tampak menyerupai
sebuah pohon yang turnbuh bersama kehausan.
Kemudian kesedihannya hari demi hari semakin ia rasakan
tetapi kesedihannya itu mulai tidak tampak ketika ia mendapatkan bahwa janin
yang dikandungnya tidaklah
memberatkannya, sebaliknya ia
merasakan betapa ringannya janin
yang dikandungnya bagaikan
merpati yang berkeliling
di seputar Ka'bah,
dan seandainya kesedihannya yang
selalu mengitarinya, maka tidak ada wanita
yang lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu
adalah manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian semakin
dekatlah hari kelahirannya. Sementara
itu, pasukan Abrahahh
mendekati Mekah.