DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT
Terdapat sebuah
hadits yang menyebutkan
bahwa arwah orang
yang meninggalkan akan mengunjungi rumahnya dan keluarganya di setiap
malam Jum'at.Hadits tersebut dikeluarkan oleh Abul Husain Ali bin Ahmad Al
Hakkari dalam kitab Hadiyyatul Ahya ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim (6)
dengan sanad dan matan sebagai berikut,
Abu Abdirrahman Muhammad bin Al Husain bin Musa As Sulami secara kitabah, ia berkata, Abul Qasim Abdullah bin
Muhammad An Naisaburi menuturkan
kepadaku, dari Ali bin Musa Al Bashri, dari Ibnu Juraij, dari Musa bin Wirdan, dari Abu Hurairah,
ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kirimlah hadiah untuk orang-orang yang meninggal di antara kalian.” Para
sahabat bertanya, “Apa yang kami kirimkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Sedekah dan doa.
”Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda, “Sesungguhnya arwah-arwah kaum
mukminin itu datang setiap hari Jum’at
ke langit dunia, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka
atau di rumah mereka. Lalu setiap mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih, “wahai keluargaku, wahai
anakku, wahai ahli baitku, wahai
kerabatku, kasihilah dengan sesuatu, semoga Allah merahmati kalian.
Ingatlah kami dan janganlah kalian lupa kepada kami. Kasihilah kesendirian kami dan ketidak-mampuan kami untuk melakukan
apa-apa, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Karena sekarang kami tinggal di
alam yang jauh dan mengikat, yang suram
dan lama, dan dalam kelemahan yang sangat lemah, maka kasihilah kami semoga Allah merahmati
kalian. Dan janganlah kalian pelit
dalam memberikan doa, sedekah atau tasbih kepada kami. Semoga Allah mengasihi kami sebelum kalian menjadi
semisal kami. Jangan sampai menyesal
wahai hamba Allah. Dengarlah perkataan kami, jangan lupakan kami. Kalian tahu benar bahwa karunia yang
kalian miliki sekarang dulu ada di
tangan kami. Kami dahulu tidak menginfakkannya dalam ketaatan kepada Allah, kami tidak membelanjakannya
dalam kebenaran. Sehingga semua itu menjadi bencana bagi kami sekarang dan
manfaat harta-harta itu malah
didapatkan oleh orang lain. Sedangkan adzab dan hukumannya ditimpakan atas kami”. Riwayat ini disebutkan
juga dalam I’anatut Thalibin181 karya
Ad- Dimyathi tanpa sanad dengan lafadz sebagai berikut, “Sesungguhnya
arwah-arwah kaum mu’minin itu datang ke langit dunia setiap malam, lalu mereka
berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka. Lalu mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih
sebanyak 1000 kali:‘wahai keluargaku…’, ‘wahai kerabatku…’, ”wahai anakku…’.
‘Wahai orang-orang yang tinggal di
rumah-rumah kami…’, ‘wahai orang-orang yang memakai baju-baju kami…’, ‘wahai
orang-orang yang membagi harta- harta kami…’”.Disebutkan juga dalam Tuhfatul
Habib ‘ala Syarhil Khathib atau dikenal dengan
Hasyiyah Al Bujairimi
‘ala Khathib182 karya
Al Bujairimi tanpa sanad.
Al Bujairimi menyandarkan
riwayat ini kepada
Al Jami’ Al
Kabir namun –wallahu a’lam– tidak kami temukan riwayat tersebut dalam Al
Jami’ Al Kabir karya As Suyuthi. Walhasil, tidak ada sanad lain selain sanad di
atas yang kami temukan.
Dan
dari sini juga
kita ketahui bahwa
hadits ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang
mu’tamad. Jika kita teliti sanad di atas, sangat bermasalah: 181 I'anatut
Thalibin, 2/161 182Hasyiyah Al Bujairimi ‘ala Khathib, 2/301
Masalah 1: Ibnu Juraij (Abdul Malik bin Abdil Aziz Al
Qurasyi) tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan. Ibnu Adi mengatakan: “Jika Ibnu Juraij meriwayatkan dari Musa,
maka haditsnya ini terkadang merupakan tadlis Ibnu Juraij”183. Al Albani ketika menjelaskan maudhu’-nya
hadits: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan sakit, ia mati syahid Beliau
mengatakan:“Al Hasan bin Ziyad Al Lu’lui menyelisihi riwayat ini, ia berkata:
Ibnu Juraij menuturkan kepada kami, dari Musa bin Wirdan dan seterusnya. Al
Hasan menggugurkan Ibrahim bin Muhammad (antara Ibnu Juraij dan Musa bin
Wirdan) dalam sanad ini”184. Maka jelas bahwa
Ibnu Juraij tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan, sehingga ada inqitha‘
dalam riwayat ini.
Masalah 2: Ali bin Musa Al Bashri dan Abul Qasim
Abdullah bin Muhammad An Naisaburi,
keduanya majhul haal. Tidak
ditemukan adanyajarh atau ta’dil tentang mereka.Juga tidak
diketahui bahwa Ali bin Musa Al Bashri adalah di antara yang meriwayatkan hadits
dari Ibnu Juraij.
Pula, tidak diketahui bahwa Muhammad
bin Al Husain
bin Musa Al
Sulmi meriwayatkan dari
Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi.
Masalah 3: Muhammad
bin Al Husain bin
Musa Al Sulmi, seorang
syaikh sufi, ia perawi yang lemah. Adz Dzahabi berkata,
“Beliau seorang Syaikh sufi. Ulama tarikh, biografi dan tafsir di kalangan sufi. Para ulama hadits mengkritisi
riwayatnya, dan ia tidak bisa dijadikan sandaran”. Hadits
ini juga sebagaimana
sudah dijelaskan, tidak
terdapat dalam kitab-kitab hadits
yang mu’tamad (yang menjadi
pegangan) dan dikenal. Seperti kitab-kitab shahih,
kitab-kitab sunan, kitab-kitab musnad, kitab-kitab jami’ , dan
lainnya. Dan ini
merupakan indikator kelemahan
bahkan kepalsuan hadits.
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah ketika menjelaskan kelemahan hadits seputar ziarah
kubur Nabi beliau berkata,
“Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama
hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik
kitab Shahih, tidak juga pemilik
kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti
Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang
menjadi pegangan, seperti Musnad Ahmad
atau semacamnya, tidak juga kitab
Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya.
adits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya
disebut lafadz ziarah kubur Nabi”. Dengan
demikian, kesimpulannya hadits
ini adalah hadits
yang dhaif jiddan (sangat lemah).
Dan tidak boleh
meyakini suatu hal
yang terkait dengan perkara gaib
semisal dengan apa yang ada dalam riwayat ini kecuali dengan dalil yang shahih.
Wallahu ta’ala a’lam.
Sumber :

0 comments:
Posting Komentar