Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Kamis, 10 September 2026

DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT

 DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI  KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT    

Terdapat  sebuah  hadits  yang  menyebutkan  bahwa  arwah  orang  yang meninggalkan akan mengunjungi rumahnya dan keluarganya di setiap malam Jum'at.Hadits tersebut dikeluarkan oleh Abul Husain Ali bin Ahmad Al Hakkari dalam kitab Hadiyyatul Ahya ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim (6) dengan sanad dan matan sebagai berikut,  Abu Abdirrahman Muhammad bin Al Husain bin Musa As Sulami secara   kitabah, ia berkata, Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi    menuturkan kepadaku, dari Ali bin Musa Al Bashri, dari Ibnu Juraij, dari  Musa bin Wirdan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,  “Kirimlah hadiah untuk orang-orang  yang meninggal di antara kalian.” Para sahabat bertanya, “Apa yang kami   kirimkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sedekah dan  doa.

DERAJAT HADITS ARWAH MENGUNJUNGI  KELUARGANYA DI MALAM JUM'AT


”Kemudian  Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,  “Sesungguhnya arwah-arwah kaum mukminin itu datang setiap hari Jum’at    ke langit dunia, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka atau di rumah mereka. Lalu setiap mereka memanggil-manggil dengan suara    yang sedih, “wahai keluargaku, wahai anakku, wahai ahli baitku, wahai     kerabatku, kasihilah dengan sesuatu, semoga Allah merahmati kalian. Ingatlah kami dan janganlah kalian lupa kepada kami. Kasihilah kesendirian  kami dan ketidak-mampuan kami untuk melakukan apa-apa, tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. Karena sekarang kami tinggal di alam yang jauh dan  mengikat, yang suram dan lama, dan dalam kelemahan yang sangat lemah,  maka kasihilah kami semoga Allah merahmati kalian. Dan janganlah kalian    pelit dalam memberikan doa, sedekah atau tasbih kepada kami. Semoga  Allah mengasihi kami sebelum kalian menjadi semisal kami. Jangan sampai   menyesal wahai hamba Allah. Dengarlah perkataan kami, jangan lupakan   kami. Kalian tahu benar bahwa karunia yang kalian miliki sekarang dulu   ada di tangan kami. Kami dahulu tidak menginfakkannya dalam ketaatan   kepada Allah, kami tidak membelanjakannya dalam kebenaran. Sehingga semua itu menjadi bencana bagi kami sekarang dan manfaat harta-harta itu     malah didapatkan oleh orang lain. Sedangkan adzab dan hukumannya  ditimpakan atas kami”. Riwayat ini disebutkan juga dalam I’anatut   Thalibin181   karya  Ad- Dimyathi tanpa sanad dengan lafadz sebagai berikut, “Sesungguhnya arwah-arwah kaum mu’minin itu datang ke langit dunia setiap malam, lalu mereka berdiri di atas sandal-sandal rumah mereka. Lalu   mereka memanggil-manggil dengan suara yang sedih sebanyak 1000 kali:‘wahai keluargaku…’, ‘wahai kerabatku…’, ”wahai anakku…’. ‘Wahai    orang-orang yang tinggal di rumah-rumah kami…’, ‘wahai orang-orang yang memakai baju-baju kami…’, ‘wahai orang-orang yang membagi harta- harta kami…’”.Disebutkan juga dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib atau dikenal dengan  Hasyiyah  Al  Bujairimi  ‘ala  Khathib182  karya  Al  Bujairimi  tanpa sanad.  Al  Bujairimi  menyandarkan  riwayat  ini  kepada  Al  Jami’  Al  Kabir namun –wallahu a’lam– tidak kami temukan riwayat tersebut dalam Al Jami’ Al Kabir karya As Suyuthi. Walhasil, tidak ada sanad lain selain sanad di atas yang  kami  temukan. 

Dan  dari  sini  juga  kita  ketahui  bahwa  hadits  ini  tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu’tamad. Jika kita teliti sanad di atas, sangat bermasalah: 181 I'anatut Thalibin, 2/161 182Hasyiyah Al Bujairimi ‘ala Khathib, 2/301                               

Masalah 1: Ibnu Juraij (Abdul Malik bin Abdil Aziz Al Qurasyi) tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan. Ibnu Adi mengatakan:  “Jika Ibnu Juraij meriwayatkan dari Musa, maka haditsnya ini terkadang merupakan tadlis Ibnu Juraij”183.      Al Albani ketika menjelaskan maudhu’-nya hadits: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan sakit, ia mati syahid Beliau mengatakan:“Al Hasan bin Ziyad Al Lu’lui menyelisihi riwayat ini, ia berkata: Ibnu Juraij menuturkan kepada kami, dari Musa bin Wirdan dan seterusnya. Al Hasan menggugurkan Ibrahim bin Muhammad (antara Ibnu Juraij dan Musa bin Wirdan) dalam sanad ini”184.  Maka jelas bahwa Ibnu Juraij tidak meriwayatkan dari Musa bin Wirdan, sehingga ada inqitha‘ dalam riwayat ini.  

Masalah 2: Ali bin Musa Al Bashri dan Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi,  keduanya majhul  haal.  Tidak  ditemukan  adanyajarh  atau ta’dil tentang mereka.Juga tidak diketahui bahwa Ali bin Musa Al Bashri adalah di antara yang meriwayatkan       hadits    dari  Ibnu    Juraij.   Pula, tidak diketahui bahwa Muhammad  bin  Al  Husain  bin  Musa  Al  Sulmi  meriwayatkan  dari  Abul Qasim Abdullah bin Muhammad An Naisaburi.

Masalah 3: Muhammad  bin Al  Husain  bin  Musa Al  Sulmi,  seorang  syaikh  sufi,  ia perawi yang lemah. Adz Dzahabi berkata, “Beliau seorang Syaikh sufi. Ulama tarikh, biografi dan tafsir di kalangan    sufi. Para ulama hadits mengkritisi riwayatnya, dan ia tidak bisa dijadikan                sandaran”.  Hadits  ini  juga  sebagaimana  sudah  dijelaskan,  tidak  terdapat  dalam kitab-kitab  hadits   yang mu’tamad  (yang  menjadi  pegangan)  dan  dikenal. Seperti kitab-kitab shahih, kitab-kitab sunan, kitab-kitab musnad, kitab-kitab jami’ ,   dan   lainnya.   Dan   ini   merupakan   indikator   kelemahan   bahkan kepalsuan  hadits. Syaikhul     Islam   Ibnu   Taimiyah      ketika   menjelaskan kelemahan hadits seputar ziarah kubur Nabi beliau berkata,  “Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik kitab     Shahih, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti   Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang menjadi  pegangan, seperti Musnad Ahmad atau semacamnya, tidak juga kitab    Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya. adits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam  berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya disebut lafadz ziarah kubur Nabi”. Dengan  demikian,  kesimpulannya  hadits  ini  adalah  hadits  yang dhaif jiddan  (sangat  lemah).  Dan  tidak  boleh  meyakini  suatu  hal  yang  terkait dengan perkara gaib semisal dengan apa yang ada dalam riwayat ini kecuali dengan dalil yang shahih. Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber :

186Majmu’ Al Fatawa, 216/27   83Al Ilal Al Waridah fil Ahadits An Nabawiyyah, 8/318 184Silsilah Ahadits Adh Dha’ifah, 10/191   

0 comments:

Posting Komentar