Pada masa itu catatan yang ditulis di buku nasab tentang
keturan Ahmad bin isa adalah
dalam kitab itu ia menyebutkan, bahwa di antara keturunan
Ahmad bin Isa ada di Bagdad, yaitu dari Al-Hasan Abu Muhammad al-Dallal
Aladdauri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Isa. Sama seperti
Al-Ubaidili, Al-Umari hanya menyebutkan satu anak saja dari Ahmad bin Isa.
Dan Ahmad Abul Qasim al-Abah yang dikenal dengan ‚al-Naffat‛
karena ia berdagang minyak nafat (sejenis minyak tanah), ia mempunyai keturunan
di bagdad dari al-Hasan Abu Muhammad ad-Dalal Aladdauri di Bagdad, aku
melihatnya wafat diakhir umurnya di Bagdad, ia anak dari Muhammad bin Ali bin
Muhammad bin Ahmad bin Isa bin Muhammad (an-Naqib) bin (Ali) al-Uraidi.‛
Dari 3 generasi
hingga cucu masih belum ditemukannya nama Ubaidillah
Kitab yang ketiga adalah Al-Syajarah
al-Mubarakah karya Imam Al-Fakhrurazi (w.606 H.),
kitab itu selesai ditulis pada tahun 597 Hijriah, dalam kitab
itu Imam Al- Fakhrurazi menyatakan dengan tegas bahwa Ahmad bin Isa tidak
mempunyai anak bernama Ubaidillah. Kutipan dari kitab itu sebagai berikut:
Adapun Ahmad al-Abh, maka anaknya yang berketurunan ada tiga:
Muhammad Abu ja’far yang berada di kota Roy, Ali yang berada di Ramallah, dan
Husain yang keturunanya ada di Naisaburi.‛
pada masa Imam al Faqih Muqaddam pun nama Ubaidullah ini belum dikenalDalam
kitab tersebut ada penegasan jumlah anak
Dari kutipan di atas, Imam Al-Fakhrurazi tegas menyebutkan
bahwa Ahmad al-Abh bin Isa keturunannya hanya dari tiga anak, yaitu:
Muhammad, Ali dan Husain. Tidak ada anak bernama Ubaidilah atau Abdullah, baik
yang berketurunan, maupun tidak.. Ia menyebutkan jumlah anak Ahmad bin Isa
dengan menggunakan ‚jumlah ismiyah‛ (proposisi dalam Bahasa Arab yang disusun
menggunakan kalimat isim atau kata benda) yang menunjukan ‚hasr‛ (terbatas
hanya pada yang disebutkan). Para ahli nasab mempunyai kaidah-kaidah khusus
dalam ilmu nasab, diantaranya, jika menulis dengan ‚jumlah fi’liyah‛ (proposisi
Bahasa Arab yang disusun dengan menggunakan
kalimat fi’il atau kata kerja) misalnya dengan
lafadz ثٚثة من
َب ْعَق أَ
(ia berketurunan dari tiga anak), maka maksudnya jumlah anak yang
dipunyai tidak terbatas kepada bilangan yag disebutkan, masih ada anak yang
tidak disebutkan karena suatu hal. Tetapi jika menggunakan ‚jumlah ismiyah‛
seperti kalimat kitab Al-Syajarah al-Mubarakah itu, maka maksudnya adalah
jumlah anak yang berketurunan hanya terbatas kepada bilangan yang disebutkan.
Dan kitab kitab rujukan yang lain seperti kitab Al-Syajarah
al-Mubarakah menggunakan redaksi ‚jumlah ismiyah‛ : ‚fa ‘aqibuhu min salasati
banin‛ (maka keturunan Ahmad Al-Abh itu dari tiga anak) Artinya, Imam
Al-Fakhrurazi telah yakin seyakin-yakinnya, berdasar pengetahuannya dari
sejumlah saksi, bahwa jumlah anak yang berketurunan dari Ahmad hanya terbatas
kepada tiga anak: Muhammad, ‘Ali dan Husain. Ahmad al-Abh tidak mempunyai anak
bernama Ubaidillah
pengarang kitab ini wafat tahun 606 Hijriah, sudah 261 tahun
dihitung mulai dari wafatnya Ahmad bin Isa
Kitab
Al-Fakhri fi Ansabitalibin karya Azizuddin Abu Tolib Ismail bin Husain
al-Marwazi (w.614 H.) menyebutkan yang sama seperti kitab-kitab abad kelima,
yaitu hanya menyebutkan satu jalur keturunan Ahmad bin Isa yaitu dari jalur
Muhammad bin Ahmad bin Isa.
Sampai
abad ketujuh ini tidak ada nama anak Ahmad yang bernama Ubaidillah dan pula
tidak ada disebutkan bahwa Ahmad bin Isa Hijrah ke Hadramaut dan mempunyai
keturunan di sana.
Kitab Al-Asili fi Ansabittholibiyin karya
Shofiyuddin Muhammad ibnu al- Toqtoqi al-Hasani (w.709 H.) menyebutkan satu
sampel jalur keturunan Ahmad bin Isa yaitu melalui anaknya yang bernama
Muhammad bin Ahmad bin Isa. Kutipan lengkapnya seperti
berikut ini
Nama Ubaidillah baru ditemukan pada masa
Ali bin Abu bakar Asy Syakran

Rentang
waktu sekitar 550 tahun nama ubaidillah
baru dicatat oleh habib Ali bin Abu Bakar asy Syakran jika di misalkan dimana
artikel ini dibuat tahun 2024 nama Ubaidillah
ini hidup pada tahun 1474 pada masa Walisanga era sebelum Voc
Logika :
Jika
masa sekarang ada yang mengaku keturunan Walisanga atau petinggi Voc bisakah
orang menemukan kebenarannya?Tentu saja jawabannya sangat sulit
Dalam masyarakat jawa Keturunan di beri nama
masing-masing sesuai silsilahnya Urutannya
Trah moyang ke-1 disebut dengan
nama bapak/ simbok.
Trah moyang ke-2 disebut dengan
nama simbah atau eyang. Untuk perempuan akan disebut dengan simbah puteri atau
eyang puteri, sementara untuk laki-laki akan disebut dengan simbah kakung atau
eyang kakung.
Trah moyang ke-3 disebut mbah
buyut
Trah moyang ke-4 disebut mbah
canggah
Trah moyang ke-5 disebut mbah
wareng
Trah moyang ke-6 disebut mbah
udheg-udheg
Trah moyang ke-7 disebut mbah
gantung siwur
Trah moyang ke-8 disebut mbah
gropak senthe
Trah moyang ke-9 disebut mbah
debok bosok
Trah moyang ke-10 disebut mbah
galih asem
Trah moyang ke-11 disebut mbah
gropak waton
Trah moyang ke-12 disebut mbah
cendheng
Trah moyang ke-13 disebut mbah
giyeng
Trah moyang ke-14 disebut mbah
cumpleng
Trah moyang ke-15 disebut mbah
ampleng
Trah moyang ke-16 disebut mbah
menyaman
Trah moyang ke-17 disebut mbah
menya-menya
Trah moyang ke-18 disebut mbah
trah tumerah
1.Keturunan ke-1 Anak
2.Keturunan ke-2 Putu
3.Keturunan ke-3 Buyut
4.Keturunan ke-4 Canggah
5.Keturunan ke-5 Wareng
6.Keturunan ke-6 Udhek-Udhek
7.Keturunan ke-7 Gantung Siwur
8.Keturunan ke-8 Gropak Senthe
9.Keturunan ke-9 Debog Bosok
10.Keturunan ke-10 Galih Asem
11.Keturunan ke-11 Gropak Waton
12.Keturunan ke-12 Cendheng
13.Keturunan ke-13 Giyeng
14.Keturunan ke-14 Cumpleng
15.Keturunan ke-15 Ampleng
16.Keturunan ke-16 Menyaman
17.Keturunan ke-17 Menyo-Menyo
18.Keturunan ke-18 Tumerah
Jika
kita Analisa melalui Tulisan habib Ali bin Abu Bakar Asy-Syakran