Al-Barâ bin ‘Âzib Radhiyallahu Anhu
Abu Ishâq menceritakan bahwa al-Barâ`
bin ‘Âzib Radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Aku ikut serta berperang
bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam 15 peperangan
Dalam pengakuannya yang lain, “Aku bepergian bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam 18 kali”.
Bantahan Al-Barâ` bin Âzib
Radhiyallahu Anhu Terhadap Orang Yang Mengingkari Siksa Kubur.
Al-Qur`ân telah menyinggung pembahasan
siksa kubur, tidak seperti pandangan sebagian kelompok yang menyimpang. Hal itu
telah dipahami oleh seorang Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu. Beliau
menyatakan siksa kubur disinggung dalam firman Allâh Azza wa Jalla
berikut:
يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي
الْآخِرَةِ
Allâh meneguhkan (iman) orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat [Ibrâhîm/14:27]
Al-Barâ` bin Âzib Radhiyallahu anhu
berkata, “Ayat ini berbicara tentang siksa kubur
Al-Barâ` bin ‘Âzib bin al-Harits Abu
Umârah al-Anshâri Radhiyallahu anhu salah satu Sahabat Nabi yang masuk kategori
shighârus Shahabah. Hal ini dapat diketahui bahwa Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam menolak keikutsertaannya di Perang Badr yang terjadi pada
tahun ke-2 H. Ini sudah cukup menunjukkan masih belia usia beliau, belum
mencapai usia 15 tahun. Tentang itu, Al-Barâ` bin ‘Âzib Radhiyallahu anhu
berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memandangku dan Ibnu
‘Umar belum cukup umur pada Perang Badar. Beliau pun menolak kami. Maka, kami
tidak ikut serta dalam Perang Badar. Waktu itu, aku dan Ibnu ‘Umar sepantaran”.
Secara lengkap, nama tokoh kita
sekarang ialah Al-Barâ` bin ‘Âzib bin al-Harits bin ‘Adi bin Majda’ah bin
Hâritsah bin al-Hârits bin al-Khazraj bin ‘Amr bin Mâlik bin Aus al-Madani
al-Hâritsi al-Ausi. Berkunyah Abu ‘Umârah atau Abu ‘Amr. Ayah beliau
‘Âzib bin al-Hârits termasuk salah satu orang Anshar yang telah memeluk Islam
sejak lama. Dan al-Barâ Radhiyallahu anhu memeluk Islam bersama sang ayah.
Tidak banyak infomarsi tentang ayahnya.
Sedangkan sang ibu bernama Habîbah
binti Abi Habiibah bin al-Hubâb bin Anas bin Zaid dari Bani Mâlik bin
an-Najjâr. Pendapat lain menyatakan bahwa ibunya adalah Ummu Khâlid bin Tsâbit
bin Sinân bin ‘Abîd bin Tsa’labah bin ‘Ubaid bin al-Abjar Khudrah bin ‘Auf bin
al-Hârits bin al-Khazraj. Dengan demikian, ibunya ini masih memiliki hubungan
darah dengan Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu karena merupakan putri dari
paman Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, Sinân bin ‘Abid al-Khudri.





