Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Sabtu, 25 Juli 2026

Kedudukan Seseorang dalam Kubur

  Kedudukan Seseorang dalam Kubur

Pembicaraan tentang kematian memang bukan merupakan perkara yang menyenangkan, pada umumnya. Bahkan mungkin hampir seluruh manusia ingin memiliki masa hidup yang lama, umur yang panjang untuk bisa berada di dunia ini. Kesenangan hidup di dunia menjadikan kita buta akan kehidupan manusia yang hakiki yaitu kehidupan setelah mati. Kehidupan yang sebenarnya inilah yang menjadikan manusia takut terhadap kematian, seperti contohnya tidak tahu apa yang akan dihadapi setelah mati, mungkin juga menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik atau mungkin juga membayangkan betapa sulit dan pedihnya pengalaman mati dan sesudah mati.

Kedudukan Seseorang dalam Kubur


Ketika manusia telah mati, jasadnya dimasukkan ke dalam sebuah liang yang panjangnya tak lebih dari dua meter, dan lebarnya tak lebih dari satu meter. Liang tersebut disebut liang kubur. Setelah melalui perjalanan waktu yang lama, jasad yang ditanam di liang kubur akan membusuk, hancur lebur, dan berkalang tanah. Setalah masa tiga puluhan tahun, jasad tersebut boleh jadi telah menjadi debu, tanpa ada sepotong tulang dan secuil daging pun.

Maka sepatutnya kita harus menyadari betapa singkatnya kehidupan di dunia ini. Kita harus selalu ingat bahwa semua perbuatan kita akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah swt.

Ketika manusia telah mati, jasadnya dimasukkan ke dalam sebuah liang yang panjangnya tak lebih dari dua meter, dan lebarnya tak lebih dari satu meter. Liang tersebut disebut liang kubur. Setelah melalui perjalanan waktu yang lama, jasad yang ditanam di liang kubur akan membusuk, hancur lebur, dan berkalang tanah. Setalah masa tiga puluhan tahun, jasad tersebut boleh jadi telah menjadi debu, tanpa ada sepotong tulang dan secuil daging pun. Hal ini berlainan dengan keadaan ruh yang telah berpisah dengan jasad tersebut. Ruh akan memasuki sebuah alam kehidupan baru, yang lain dengan kehidupan sebelumnya. Ruh beradadisebuahalamyangtidaktermasukalamdunia,puntidaktermasukalam akhirat.Alambarutersebutdinamakanalam„barzakh‟.Alambarzakhadalah sebuah alam gaib, yang hanya diketahui oleh Allah semata. Manusia sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang itu. Melalui Al-Qur’an dan Hadis-lah diketahui bahwa kehidupan di alam barzakh berlangsung sejak ruh dan jasad pada hari kiamat. Setiap ruh yang sholeh semasa hidupnya di dunia, akan menerima kenikmatan di alam barzakh sampai hari terjadinya kiamat. Demikian pula, setiap ruh yang kufur dan banyak dosa semasa hidup di dunia, akan menerima siksa di alam barzakh sampai hari terjadinya kiamat.[1]

Hal ini sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

حدثنا إسماعيل قال حدثني مالك عن نافع عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن أحدكم إذا مات عرض عليه مقعده بالغداة والعشي إن كان من أهل الجنة فمن أهل الجنة وإن كان من أهل النار فمن أهل النار فيقال هذا مقعدك حتى يبعثك الله يوم القيامة

 

Diriwayatka dari Abdullah bin Umar R.A, bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguuhnya apabila salah seorang di antaa kalian meninggal dunia, maka ditampakan kepadanya tempat duduknya pagi dan sore hari. Apabila ia termasuk penghuni surga, maka ia termasuk penghuni neraka, dan apabila ia termasuk penghuni neraka, maka ia termasuk penghuni neraka. Dikatakan, ‘Ini tempat dudukmu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat.”(H.R. Bukhari)


sumber : Muhib al- Maidi dan Abu FAtih al Adnani, Dari Alam Barzakh Menuju Padang Mahsyar, (Surakarta: Granada Mediatama, 2003), hlm. 47.

[1]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, (Kairo: Darul Hadis, 2008), Kitab Janaiz, Bab: الميت يعرض عليه مقعده بالغداة والعشي, hal. 583.

disebutkan hadits Ibnu Umar, “Sesungguhnya apabila salah seorang di anatara kalian meninggal, maka ditampakkan kepadanya tempat duduknya pagi dan sore hari”. Ibnu At-Tin berkata, “Kemungkinan ditampakkannya tempat duduk itu terjadi pada suatu pagi dan sore hari. Sedangkan makna ‘hingga Allah membangkitkanmu’, yakin engkau tidak akan sampai kepadanya hingga dating hari kebangkitan. Tapi ada pula kemungkinan bahwa hal ini terjadi pada setiap pagi dan sore hari, dan ini mesti dipahami bahwa sebagian mayit tersebut dihidukan sehingga dapat diajak berbicara serta ditampakkan sesuatu kepadanya.

            Imam Al-Qurthubi berkata, “Ada kemungkinan hal itu ditampakkan kepada ruh saja, dan bisa juga ditampakkan kepadanya bersama sebagain badan”. Dia juga berkata, “Maksud pagi dan sore hari’ adalah waktu bagi keduanya, sebab bagi orang-orang yang telah meninggal dunia tidak ada lagi bagi mereka pagi dan sore hari”. Beliau melanjutkan, “Kaitan perkara ini dengan orang-orang muslim dan orang-orang kafir cukup jelas. Adapun orang mukmin yang ikhlas, tidak tertutup kemungkinan hal ini berlaku baginya, karena ia masuk surga secara garis besarnya. Kemudian dikecualikan darinya para syuhada, karena ruh-ruh mereka tetap hidu beterbangan di surga. Tapi ada pula kemungkinan untuk dikatakan, sesungguhnya manfaat ditampakkannya tempat duduk di surga kepada para syuhada adalah untuk memberi kabar gembira kepada tuh-tuh mereka bawa ruh-ruh tersebut akan menetap si surga bersama jasad-jasadnya, karena yang demikian memiliki nilai tambah atas keadaan mereka saat ini.”

            (apabila ia penghuni surge, maka termasuk penghuni surga). Terjadi kesamaan antara kalimat syarat dan kalimat pelengkap, oleh sebab itu perlu kalimat sisian untuk menyempurnkan maknanya. At-Turabisyiti berkata, “Kalimat seharusnya adalah; ‘Apabila ia termasuk penghuni surge, maka tempat duduknya termasuk tempat-tempat duduk para penghuni surga dan ditampakkan kepadanya’.” Sementara At-Thahabi berkata, “Apbila kalimat syarat dan kalimat pelengkap mengalami kesamaan dari segi lafazh maka hal itu menunjukan besarnya persoalan, dan yang dimaksud disini ada seseorang akan melihat karena kemuliaan Allah SWT setelah kebangkitan yang membuatnya melupakan tempat duduk ini.”

            Kemudian pada hadist di bab ini terdapat keterangan adanya adzab kubur, dan sesungguhnya ruh tidak mengalami kefanaan di saat jasad mengalami kefanaan, karena proses penampakan itu tidak berlangsung kecuali terhadap sesuatu yang hidup. Ibnu Abdul Barr berkata, “Hadits ini dijadikan dalil bahwa ruh-ruh berada di tepu-tepi kuburan”. Kemudia beliau berkata, “Adapun maknanya menurut pendapatku bahwa ruh-ruh berada di tepi-tepi kuburan, bukan berarti mereka tidak pernah meninggalkan tempat tersebut. Bahkan keadaan ruh-ruh itu seperti yang dikatakan oleh Imam Malik, yaitu terbang kemana ia sukai.”

sumber : Ibnu Hajar Al-Asqalani,Fathul Bari, Terjemahan Amiruddin, (Jakarta: Pustaka Azzam,2008), Vol.7, hal. 419

0 comments:

Posting Komentar