Kisah dakwah Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah
Berimanlah sekelompok orang-orang fakir di mana mereka menjadi kelompok sosial yang tertindas dan tersingkirkan di Mekah. Mereka menjadi makanan empuk kelompok-kelompok yang zalim. Islam bukan hanya memberikan solusi ekonomi terhadap tragedi kehidupan atau masyarakat, tetapi Islam memberikan solusi Ilahi terhadap keberadaan manusia secara umum;
Islam meyakini bahawa manusia bukan hanya sekadar perut yang harus dikenyangkan dan naluri seksual yang harus dipuaskan, manusia bukan hanya di lihat dan dinilai dari sisi ini, namun Islam justru meletakkan manusia pada tempatnya yang hakiki, tanpa membesar-besarkan atau mengecilkannya.
Dalam pandangan Islam, manusia terdiri dari bangunan fizik dan rohani, terdiri dari akal dan ambisi dan terdiri dari celupan dari Allah SWT dalam rohnya. Islam tidak mementingkan fizik saja dan meninggalkan rohani, begitu juga sebaliknya. Terkadang fizik boleh jadi mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, tetapi rohani justru mengalami penderitaan yang luar biasa. kerana itu, pemuasan salah satu dimensi dari dimensi manusia tidak akan membawa manusia kepada kesempurnaan atau kebahagiaan.
Maka, Islam datang untuk membawa suatu solusi yang dapat menyelamatkan manusia dari dalam dirinya sendiri dan Islam membebankan tugas ini, yakni tugas perubahan ini kepada Al-Qur'an. Al-Qur'an menjadi cermin dalam kehidupan di mana ayat-ayatnya diturunkan kepada Rasul saw, lalu beliau mengajarkannya kepada kaum Muslim. Kemudian Al-Qur'an berubah menjadi orang-orang yang berjalan di pasar-pasar dan mengancam singgasana kebencian yang menguasai Mekah, sehingga orang-orang musyrik justru meningkatkan usaha pengejekan dan penghinaan terhadap Rasul saw. Oleh kerana itu, beliau semakin sedih lalu Allah SWT menghiburnya. Allah SWT memberitahu beliau bahawa mereka tidak mendustakannya, tetapi mereka justru melalimi diri mereka sendiri. Mereka mulai menentang Nabi dan ayat- ayat Allah SWT, padahal Nabi adalah salah satu dari ayat Allah SWT.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami mengetahui bahawasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), kerana mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang lalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (QS. al- An'am: 33) Kemudian kaum musyrik meningkatkan penindasan kepada Rasul saw dan para pengikutnya. Peperangan dimulai: dari peperangan urat saraf sampai peperangan fizik. Mereka mulai menyeksa para pengikut Rasul saw, bahkan membunuhnya. Pada saat itu, musuh-musuh Islam membayangkan bahawa dengan cara menindas kaum Muslim dan menekan mereka dakwah Islam akan berhenti dan kaum Muslim akan enggan untuk berdakwah. Mereka menganggap bahawa kaum Muslim justru memilih untuk menyelamatkan diri mereka. Namun para tokoh- tokoh Quraisy dan para tokoh-tokoh Mekah dikejutkan ketika melihat penekanan yang mereka lakukan justru semakin membakar semangat kaum Muslim untuk berdakwah. Saat itu kaum Muslim merasa yakin bahawa benih yang telah ditanam Rasulullah saw dalam diri mereka menjadikan mereka tetap bersemangat untuk menyebarkan risalah Allah SWT di muka bumi, yaitu suatu risalah yang mengembalikan bumi menuju kematangan (kesempurnaan) yang telah hilang darinya dan kemanusiaan yang telah disia-siakan serta kehormatan yang telah ditumpahkan dan kebebasan yang telah hilang. Kaum Muslim yakin bahawa mereka bukan hanya membangun suatu negeri yang kecil di Mekah, dan mereka bukan hanya memperbaiki masyarakat yang rosak, yaitu masyarakat jazirah Arab, tetapi mereka mengetahui bahawa mereka akan membangun suatu manusia yang baru.
Mereka akan menciptakan manusia seutuhnya; mereka akan menghadirkan dunia dalam bentuk yang baru dan dalam gambar yang baru yang merupakan cermin dari gambar kebesaran sang Pencipta. Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab tidak dikenal. Dibandingkan dengan peradaban yang dahulu dan moden, orang-orang Arab tidak memiliki apa-apa. Mereka tidak memberikan kontribusi kepada dunia dalam bentuk ilmu, seni, atau peninggalan apa pun yang dapat dijadikan sebagai kebanggaan. Namun ketika Islam turun kepada mereka, mereka menjadi cermin kejayaan manusia di mana mereka dapat memberikan sumbangan nyata pada umat manusia. Bahkan orang-orang Barat banyak berhutang kepada mereka dalam kemajuan yang mereka capai saat ini. Sebaliknya, ketikamereka berpaling dari Islam di mana Islam hanya menjadi lembaran cerita-cerita dan kertas-kertas yang tidak berguna, maka saat itulah orang-orang Barat dapat menguasai kaum Muslim kerana mereka justru mendapatkan ilmu dari Kaum Muslim itu sendiri. Mereka justru mencapai kemajuan ketika kaum Muslim meninggalkan agama mereka. Jadi, ketika kaum Muslim memahami Islam secara benar dan berusaha untuk menghidupkan ajaran-ajarannya nescaya mereka akan mencapai puncak keilmuan. Pada awal-awal masa tersebarnya Islam, kaum Muslim menyedari bahawa mereka menghadapi peperangan yang tidak akan berhenti. Selama kehidupan ada, maka pertentangan pun tetap ada. Oleh kerana itu, ketika mereka mendapatkan penganiayaan dan seksaan, maka keimanan mereka justru semakin meningkat, dan setiap penganiayaan yang dilakukan oleh kaum Quraisy, maka mereka tetap bertahan untuk mempertahankan kebenaran.
Sebagai contoh, Amar bin Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah seorang budak yang menjadi korban dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu, yaitu ekonomi yang berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang yang beriman tersebut diseksa di Mekah di mana ia tidak memperoleh kebebasannya yang hakiki kecuali setelah ia memeluk Islam. Mereka mengeluarkannya ke gurun dan menyeksanya berserta ibunya. Bahkan seksaan semakin meningkat atas ibunya agar ia kembali menjadi musyrik. Ketika ia tetap mempertahankan keimanannya dan dengan tegas menolak ajakan untuk menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya dengan belati yang ada di dua tangannya. Ia pun meninggal.
Dan Islam mengorbankan syahidnya yang pertama. Wanita mulia itu bernama Sumayah, ibu dari Amar bin Yasir. Banyak kalangan orang-orang bodoh mengatakan tentang persetujuan Islam terhadap sistem perbudakan, atau Islam mendiamkan sistem perbudakan. Mereka lupa bahawa Islam dibangun berdasarkan suatu prinsip yang ingin membebaskan perbudakan dengan segala bentuknya; Islam ingin mengeluarkan manusia dari kepemilikan sesama manusia menuju kepemilikan kepada Allah SWT. Jika Islam tidak turun dengan nas-nas yang terperinci yang mengharamkan sistem perbudakan, maka dasar-dasarnya secara umum dan prinsip-prinsip utamanya menghentikan - baik dalam tindakan mahupun ucapan - sumber-sumber sistem ini. Allah SWT sebagai pemilik syariat mengetahui bahawa sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara yang akan berubah dengan perubahan waktu, dan kerana Islam tidak turun pada waktu yang terdapat perbudakan saja, tetapi ia turun secara umum dan menyeluruhuntuk setiap zaman, maka Islam sengaja melewati bentuk-bentuk yang sementara ini dari bentuk-bentuk eksploitasi menuju unsur yang pertama atau dasar pertama yang menimbulkan bentuk-bentuk eksploitasi tersebut, sehingga Islam mengharamkannya. Dengan cara demikian, Islam mengharamkan sistem perbudakan secara bertahap, seperti proses pengharaman khamer. Jadi, keseriusan Islam sangat menonjol dalam usaha menghapus dan mengharamkan perbudakan. Jika dikatakan kepada kita bahawa Islam membolehkan para tenteranya untuk memperbudak para tawanan perang, maka kita akan mengatakan bahawa Islam menerapkan sistem ini sebagai bentuk pembalasan terhadap perlakuan yang sama di mana musuh-musuh Islam menjadikan kaum Muslim sebagai budak-budak mereka ketika mereka menawannya. Oleh kerana itu, secara alami orang-orang Islam pun menawan mereka sebagai budak-budak. Jika Islam tidak melakukan yang demikian, maka boleh jadi Islam akan dimain-mainkan dan ada kesempatan besar bagi orang-orang musyrik untuk memperdaya Islam. Demikianlah bahawa dakwah Islam mengalami berbagai macam hambatan dan penindasan. Dan ketika orang-orang yang terseksa mengadu kepada Rasulullah saw atas penindasan yang mereka terima, maka Rasulullah saw memberitahu mereka dengan pembicaraan yang jelas bahawa para dai di jalan Allah SWT harus mengorbankan kesenangan mereka, kedamaian mereka, dan darah mereka sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya dakwah Islam.
Kebebasan bukan diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah kehidupan menceritakan kepada kita bahawa ia dipenuhi dengan gumpalan darah yang harus dibayar oleh masyarakat untuk memerangi musuh-musuhnya dari luar dan dari dalam. Jika ini dialami setiap orang yang menuntut kebebasan pada zaman dan tempat tertentu, maka bagaimana dengan orang-orang yang menuntut kebebasan manusia secara keseluruhan. Seorang Muslim hendaklah sadar bahawa dengan mengumumkan dakwahnya, maka ia pasti akan menerima pengusiran, penindasan, penjara, pengepungan dan pembunuhan. Ini adalah harga yang pantas yang harus dibayar ketika berdakwah di jalan Allah SWT; inilah harga kebebasan. Bahkan terkadang kaum yang batil pun membayamya dengan senang hati, maka bagaimana mungkin orang-orang yang bersama kebenaran ragu untuk melakukannya. Pada hakikatnya, manusia cinta kepada keabadian. Secara naluri manusia merasa takut pada azab dan kematian. Dan barangkali yang membezakanorang-orang Islam yang hakiki dengan yang lainnya adalah bahawa mereka terbebas dari rasa ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah tolok ukur yang pasti untuk membezakan antara seorang Muslim yang hakiki dan seorang Muslim yang hanya namanya atau Muslim warisan atau hanya klaim semata. Seorang Muslim yang hakiki menyedari bahawa ajal di tangan Allah SWT, rezeki ada juga di tangan-Nya, begitu juga keamanan semua ada di tangan-Nya. Dengan keimanan seperti ini, ia memulai pergelutannya untuk menyebarkan dakwah. Ia siap untuk menerima penyeksaan dan penderitaan di jalan Allah SWT; ia pun siap menitiskan darahnya sebagai harga yang pantas yang diserukannya dalam rangka memperoleh kebebasan. Ini semua dilakukannya dengan begitu sederhana dan tidak ada rasa takut kerana Islam membebaskannya dari rasa ketakutan.
Dahulu para pembangkang menggergaji orang-orang yang menyeru di jalan Allah SWT dengan menggergaji saat mereka dalam keadaan hidup- hidup. Khabab bin Irit pergi menemui Rasulullah saw dan meminta tolong kepada beliau dari penyeksaan orang-orang Quraisy, sambil berkata: "Tidakkah engkau menolong kami, wahai Rasulullah? Tidakkah engkau berdoa kepada kami, ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab: "Sungguh sebelum kalian terdapat orang-orang yang berdakwah di jalan Allah SWT lalu mereka dimasukkan dalam suatu galian tanah lalu mereka digergaji di mana tubuh mereka di pisah menjadi dua, namun mereka tetap mempertahankan agamanya. Demi Allah, sungguh Allah SWT akan menolong masalah ini tetapi kalian terlalu tergesa-gesa." Dengan kalimat-kalimat yang penuh kesabaran dan keberanian ini, Rasulullah saw ingin memahamkan kepada orang tersebut bahawa termasuk dari kesempurnaan iman adalah membayar harga kebebasan. Jelas sekali bahawa Islam tidak memberikan keuntungan bagi orang yang memeluknya. Orang-orang Islam yang pertama tidak bertanya dan mengatakan: "Apa yang kita peroleh dari agama ini?" Sebaliknya, mereka bertanya: "Apa yang kita bayar untuk Islam?" Jawapannya adalah: "Segala sesuatu dimulai dari suapan-suapan roti sampai darah yang tertumpah."
Jadi, kaum Muslim yang pertama telah membayar ongkos kebebasan. Mereka merasakan kedamaian yang luar biasa untuk mempertahankan agama Allah SWT; mereka mendapatkan kepercayaan yang tinggi tentang kemenangan kebenaran yang datang kepada mereka; mereka justru memberitahu orang-orang musyrik bahawa mereka akan dapat mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar.
Dengan dakwah yang mereka lakukan, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum musyrik justrumemanfaatkan kepercayaan ini untuk mengejek mereka dan mentertawakan mereka. Ketika Aswad Ibnu Matlab dan orang-orang yang bersamanya melihat sahabat-sahabat Nabi, maka mereka mengejek dan mengatakan: "Telah datang kepada kalian pemimpin-pemimpin bumi yang esok akan mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar, kemudian mereka bersiul dan bertepuk tangan." Namun kaum mukmin tidak peduli dengan ejekan tersebut. Demikianlah bahawa ejekan demi ejekan terus menyertai dakwah kaum Muslim. Kemudian kaum Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah untuk menyatukan pandangan dalam rangka menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik menuduhnya bahawa beliau adalah seorang ahli sihir, dan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahawa beliau adalah dukun, dan pada kali yang lain lagi mereka menuduhnya bahawa beliau adalah penyair, bahkan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahawa beliau adalah seorang yang gila. Kemudian mereka semua sepakat untuk menuduh bahawa beliau adalah seorang penyihir.
Walid bin Mughirah yang terkenal sebagai orang yang terpandang di kalangan mereka menuduh Rasulullah saw sebagai penyihir yang dapat memisahkan antara sesama saudara dan antara seseorang dengan isterinya. Kemudian mereka membikin kelompok-kelompok yang mengingatkan para pendatang di Mekah bahawa Muhammad adalah seorang penyihir. Meskipun demikian, dakwah Islam tetap berlangsung. Ia tetap tersebar dengan pelan namun pasti dan kalimat-kalimat yang diutarakan Nabi justru mengingatkan perjanjian yang pernah dilakukan oleh manusia, yaitu perjanjian saat Allah SWT menyaksikannya ketika mereka masih di alam atom di punggung Adam: "Bukankah aku Tuhan kalian? Mereka menjawab: 'Benar.'" (QS. al- A'raf: 172) Bertambahlah jumlah kaum Muslim hingga kaum Quraisy merasakan ketakutan. Mereka mulai melihat bahawa penggunaan cara-cara kekerasan tidak selalu berhasil. Kemudian mereka memilih untuk menggunakan cara baru, yaitu bagaimana seandainya mereka menggunakan perdamaian dan perundingan. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang lelaki yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding. 'Utbah berkata kepada Rasul saw: "Wahai anak saudaraku, kami mengetahuikedudukanmu di sisi kami dari sisi nasab. Engkau datang kepada kaummu dengan suatu hal yang besar di mana engkau memisahkan kelompok-kelompok mereka. Maka dengarkanlah aku kerana aku ingin berbicara tentang beberapa hal. Barangkali engkau akan menerima sebahagiannya." Rasul saw berkata: "Silakan berbicara wahai 'Utbah." 'Utbah berkata: "Jika engkau menginginkan harta nescaya kami akan mengumpulkan harta bagimu, sehingga engkau akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami, dan jika engkau menginginkan kehormatan, maka kami akan memberi kehormatan itu bagimu dan jika engkau menginginkan kekuasaan, maka kami akan menyerahkan kekuasaan padamu dan jika engkau terkena penyakit yang engkau tidak mampu menolaknya dari dirimu, maka kami akan mencarikan tabib bagimu dan kami akan mengeluarkan harta kami sehingga engkau sembuh." Demikianlah 'Utbah mengakhiri pembicarannya. Kemudian ia menunggu reaksi Nabi. Lalu Rasulullah saw berkata: "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Haa miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya);, maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: 'Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami bekerja (pula).' Katakanlah: 'bahawasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya) (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.' Katakanlah:' Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kukuh di atasnya.
Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan- makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawapan) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masihmerupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab: 'Kami datang dengan suka hati.' Maha Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang- bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik- baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud." (QS. Fushilat: 1-13) Rasulullah saw telah menjawab tawaran 'Utbah di mana beliau memilih untuk menghadapi tawaran dan iming-iming tersebut dengan membaca sebahagian dari surah Fhusilat yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari tempatnya ketika Rasulullah saw sampai pada firman-Nya: "Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum "Ad dan kaum Tsamud. " (QS. Fushilat: 13) 'Utbah berdiri dalam keadaan takut dan segera menuju kaum Quraisy.

0 comments:
Posting Komentar