Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 08 Mei 2026

Jihad dalam islam

 Jihad dalam islam

Dengan      membebaskan        manusia     dari   menyembah        sesama     mereka,     maka kebebasan   yang   hakiki   telah   dimulai.   Rasulullah   saw   memberitahu   bahawa kematian   adalah   perpindahan   dari   satu   rumah   ke   rumah   yang   lain.   Ia   bukan akhiran yang misteri dari kehidupan yang tidak dapat difahami, tetapi ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak akan menyelamatkan dari kematian   itu   sendiri,   dan   cinta   kepada   kehidupan   tidak   akan   memanjangkan ajal. 

Jihad dalam islam


 Pada   setiap   ajal   ada   ketentuannya.   Maka   keberanian   merupakan   unsur dari    unsur-unsur      pembentukan        keperibadian      Islam    dan    bahagian     dari bahagian-bahagian sel yang ada dalam tubuh seorang Muslim. Rasulullah   saw   juga   menyatakan   bahawa   rezeki   di   dunia   sudah   dijamin   dan ditentukan oleh Allah SWT: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah- lah yang memberi rezekinya. " (QS. Hud: 6) Jibril mewahyukan kepada Rasul saw bahawa suatu jiwa tidak akan memenuhi ajalnya sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak ada    alasan   bagi   manusia    untuk    khawatir    terhadap    rasa   lapar   dan   gelisah terhadap   hari   esok.   Semua   ini   terjadi   dalam   ruang   lingkup   mengambil   atau melalui jalan-jalan menuju sebab. Yakni berusaha untuk mencapai rezeki yang merupakan   kewajipan   bagi   orang   Muslim   dan   percaya   terhadap   kedermawan Allah   SWT   yang   juga   merupakan   suatu   kewajipan   bagi   orang   Muslim   untuk mempercayainya. Allah SWT berfirman: "Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. " (QS. adz-Dzariat: 22) Allah SWT telah menjamin rezeki di dunia dan memerintahkan manusia untuk berusaha   mencapai   rezeki   di   akhirat.   Rezeki   di   dunia   adalah   sesuatu   yang sudah   dijamin,   sehingga   manusia   tidak   perlu   melakukan   usaha   yang   terlalu sengit   untuk   mencapainya.   Cukup   baginya   untuk   berusaha   secara   benar   dan seimbang.    

  Sedangkan       berkenaan      dengan      rezeki    akhirat,     Allah    SWTmemerintahkan manusia untuk berusaha mencapainya kerana ia adalah rezeki yang   Allah   SWT   tidak   menjaminnya   kecuali   jika   manusia   berhasil   melampaui dua   jihad:   jihad   yang   besar   dan   jihad   yang   kecil.   Jihad   besar   adalah   jihad melawan   hawa   nafsu   dan   jihad kecil   adalah   jihad   melawan   musuh di   medan perang. Dengan terbebasnya seorang Muslim dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa   takut, maka   Islam   memberi   seorang   Muslim  senjatanya   dan   alat-alatnya dan     ia   memerintahkannya          untuk    mulai     memerangi       kekuatan-kekuatan kelaliman di muka bumi. Allah SWT berfirman tentang umat Islam: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110) Perhatikanlah, bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf nahi mungkar sebelum      keimanan     kepada    Allah   SWT.    Ini  dimaksudkan      agar  akal   manusia tergugah   akan   pentingnya   jihad   di   jalan   Allah   SWT.   Amal   makruf   dan   nahi mungkar       tidak    terwujud     semata-mata       dengan     memegang        tongkat     dan mencambukannya kepada punggung orang-orang Islam yang tidak solat; ia juga tidak  berupa   usaha   untuk  menahan   orang-orang   Muslim  yang   tidak  berpuasa. Masalah itu lebih penting dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang     bersifat    lahiriah,   sedangkan      hal-hal    yang    bersifat   batiniah     tidak diperhatikan. Ayat    tersebut    berarti,    hendaklah     seorang    Muslim    membawa        senjata   dan berdakwah   di   jalan   Allah   SWT   serta   memerangi   orang-orang   lalim   di   muka bumi. Abu Bakar berkata: "Wahai manusia, kalian membaca ayat berikut ini:" "Hai   orang-orang   yang   beriman,   jagalah   dirimu.   Tiadalah   orang   yang   sesat itu    akan    memberi      mudarat      kepadamu       apabila    kamu     telah   mendapat petunjuk," (QS. al-Maidah: 105) Dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang lalim dan mereka tidak menghentikannya, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka semua."

Penafsiran     Abu   Bakar    terhadap    ayat   tersebut   sangat   jelas   ertinya.   Yakni bahawa pelaksanaan ayat tersebut dapat diwujudkan dengan adanya jihad di jalan     Allah    SWT    dengan      mengangkat       senjata    sebagai     usaha    untuk menghentikan       orang-orang     yang   lalim.   Setelah   itu,  seorang    Muslim   dapat mengatakan:       "Aku   telah  melaksanakan      tugasku    dan  tidak   akan   berdampak kepadaku orang yang sesat setelah aku memberikan petunjuk." Demikianlah pemahaman orang-orang Islam yang pertama. Maka bandingkanlah pemahaman   tersebut   dengan   pemahaman   kita            saat   ini  di   mana  kita   telah kehilangan keberanian, dan rasa takut telah menghinggapi tubuh orang-orang Islam.   Kaum   Muslim   lebih   mengutamakan   keselamatan   diri   mereka   daripada memerangi orang- orang yang lalim. Muhammad        bin   Abdillah   datang    dengan    membawa       risalah  Islam   yang   di dalamnya terdapat perintah Ilahi untuk memerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan kehormatan orang-orang yang tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman: "kerana itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan   Allah,   lalu   gugur   atau   memperoleh   kemenangan,   maka   kelak   akan Kami     berikan    kepadanya     pahala    yang   besar.    Mengapa     kamu    tidak   mau berperang       dijalan   Allah   dan   (membela)      orang-orang      yang   lemah     baik laki-laki,   wanita-wanita   mahupun   anak-   anak   yang   semuanya   berdoa:   'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu. " (QS. an-Nisa': 74-75) Muhammad        bin  Abdillah   membacakan       kepada    kaumnya     tentang    penafsiran Allah SWT berkenaan dengan makna kejayaan yang besar: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka   dengan   memberikan   syurga   untuk   mereka.   Mereka   berperang   di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang   benar   dari   Allah   di   dalam   Taurat,   Injil,   dan   Al-Quran.   Dan   siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. at- Taubah: 111)

Bacalah   ayat   tersebut   dua   kali   dan   renungkanlah   tentang   kedermawan   Allah SWT. Betapa tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan harta mereka, padahal   jiwa   tersebut   dan   harta   tersebut   pada   hakikatnya   adalah   milik-Nya sendiri. Lihatlah bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia membeli harta milik-Nya yang khusus dengan syurga dan bagaimana Allah SWT menganjurkan orang-orang      Islam   untuk   berperang,     dan   Dia  memberitahu   mereka         bahawa urusan memerangi orang-orang lalim dan orang-orang yang tersesat bukanlah hal   yang   baru   atas   orang-   orang   Islam.   Allah   SWT   telah   memerintahkan   hal tersebut dalam Injil dan Taurat. Sebagaimana Nabi    Isa  diutus   dengan    pedang,     seperti   yang   disebutkan     dalam    lembaran- lembaran   atau   buku-buku   orang-orang   Nasrani,   maka   Nabi   Musa   pun   diutus dengan   membawa   pedang.   Dan   ketika   Bani   Israil   berkata   kepada   Nabi   Musa, "pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami hanya di sini duduk-duduk         saja,",   maka      kehendak      Ilahi   menetapkan        agar    mereka mendapatkan         kesesatan    selama     empat     puluh   tahun    sebagai     akibat   dari perbuatan   mereka   itu,   agar   generasi   yang   lemah   dan   hina   itu   hancur   yang mereka justru tidak memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka membiarkan Nabi Musa bersama Tuhannya berperang, padahal peperangan itu merupakan tanggung jawab mereka dan tugas mereka yang harus mereka emban sebagai pengikut Nabi Musa. Demikianlah       esensi    dari    ajaran    Islam    sebagaimana       yang    dibawa     oleh Muhammad bin Abdillah. Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu serta mendapatkan         kebebasan      dan    yang     terpenting     adalah     usaha    melawan kekuatan-kekuatan lalim. Suatu ajakan yang universal yang tidak dikhususkan untuk   kalangan   tertentu   atau   untuk   warna   kulit   tertentu   atau   untuk   kaum tertentu      atau   untuk    tempat     tertentu;     suatu   ajakan     kemanusiaan      yang komprehensif yang universal yang ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad dengan tujuan yang lebih tinggi, yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya         serta  keimanan      terhadap    hari   kemudian     dan   kebangkitan manusia semuanya di hadapan Allah SWT.

Adalah      salah   jika   ada    orang     yang    menganggap       bahawa      Islam    hanya memperhatikan   aspek   akhirat   dan   melupakan   aspek   duniawi.   Menurut   Islam dunia   adalah   lembar-lembar   jawapan   yang   akan   di   koreksi   di   hari   akhir.   Ia adalah   ujian   dan   tempat   percubaan   bagi   manusia   agar   manusia   mengetahui apakah   ia   layak   untuk   mendapatkan        kemuliaan     dari  Allah   SWT   yang   telah diberikan kepada Adam. Atau apakah ia justru layak untuk jadi bahagian dari tanah neraka Jahim dan batunya, sebagaimana firman Allah SWT:

"Yang bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS. al-Baqarah: 24) Rasulullah saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan manusia, penciptaan kehidupan dan kematian ketika beliau menyampaikan firman Allah SWT dalam surah al-Mulk: "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. " (QS. al-Mulk: 2) Dunia adalah rumah pergelutan. Dan Allah SWT telah menciptakan kehidupan dan   kematian   agar   manusia   menyedari   siapa   di   antara   mereka   yang   terbaik amalnya. Tentu pengetahuan ini tidak akan menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan       itu  justru  dibutuhkan     oleh  manusia. 

0 comments:

Posting Komentar