KISAH NABI ZULKIFLI A.S
Allah s.w.t memasukkan Zulkifli dalam rahmat-Nya. Allah s.w.t memujinya sebagai hamba yang sabar dan Dia menyebutkannya bersama Ismail dan Idris. Allah s.w.t berfirman:
"Dan
(ingatlah) kisah Ismail,
Idris dan Dzulkifli.
Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah
memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami.
Sesungguhnya mereka termasuk
orang-orang yang saleh." (QS. al-Anbiya': 85-86)
Disebutkan bahwa beliau menanggung kebutuhan kaumnya. Beliau yang mengurusi mereka; beliau menegakkan keadilan di antara mereka. Ketika beliau melakukan tugas itu, beliau mendapat julukan DzulKifli. Banyak dongeng yang dibuat berkenaan dengan cerita beliau.
Al-Qur'an hanya menyebut namanya dan memujinya tanpa menyertakan satu kisah yang lengkap tentangnya, bahkan masa dakwahnya pun tidak diketahui. Kita tidak mengetahui siapa kaum Nabi ini dan bagaimana beliau diutus di tengah-tengah mereka serta bagaimana kaumnya memenuhi panggilan dakwahnya.
Sumber yang lain
Terdapat sejumlah keterangan yang berbeda-beda dalam berbagai literatur Muslim mengenai Zulkifli , baik latar belakang, jati diri, maupun kisahnya. Semuanya tidak berasal dari Al-Qur'an dan hadits, tapi dari tafsiran para ulama dan beberapa sumber lain. Beberapa keterangan tersebut menyebutkan bahwa Zulkifli adalah:
· Bisyr bin Ayyub
· Penerus Ilyasa'
· Yehezkiel
· Siddhartha Gautama
Beberapa pendapat yang disebutkan ini pada dasarnya berdiri sendiri-sendiri dan tidak dapat digabungkan, karena terdapat perbedaan waktu dan tempat.
Putra Ayyub
Sebagian
menyatakan bahwa dia adalah Bisyr atau Basyar, putra Ayyub.[6] Sebagian
pendapat menyebutkan bahwa Ayyub adalah leluhur bangsa Romawi Kuno[7] atau
berdakwah pada bangsa Romawi, sehingga Zulkifli juga kerap dikaitkan dengan Romawi
sebagai penerus tugas dakwah Ayyub
Penerus
Ilyasa'
Pendapat lain
menerangkan bahwa dia adalah orang yang meneruskan tugas Ilyasa' (Elisa) dalam membimbing Bani Israil. Ilyasa' sendiri adalah
keturunan jauh Ya'qub dan hidup pada abad ke-9 SM.
Ibnu Jarir
dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan[9][10] bahwa
setelah Ilyasa' sudah tua, dia mencari orang yang bisa meneruskannya membimbing
masyarakat. Dia kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mencari penerusnya di
antara mereka, dengan syarat bahwa dia bisa selalu puasa di siang hari, ibadah
malam, dan tidak marah. Seorang lelaki yang dianggap hina mengajukan diri,
tetapi Ilyasa' menolak kesanggupan orang tersebut. Kemudian seorang lelaki lain
mengajukan diri dan Ilyasa' menerimanya.
Suatu ketika,
setan menjelma sebagai kakek-kakek renta yang miskin. Dia mendatangi lelaki
penerus Ilyasa' ini pada tengah hari pada jadwal lelaki tersebut tidur siang.
Lelaki ini tidak tidur pada siang ataupun malam hari selain saat tidur siang
tersebut. Setelah dipersilakan masuk, kakek tersebut menceritakan pada lelaki
tersebut kalau dirinya dizalimi oleh kaumnya. Kakek tersebut bercerita sangat
lama sampai sore sehingga laki-laki tersebut tidak bisa tidur siang. Laki-laki
tersebut kemudian meminta kakek itu untuk hadir di majelisnya pada sore hari
untuk memutuskan perkara. Namun setelah sore, kakek itu tidak hadir.
Esok harinya,
laki-laki tersebut memutuskan sengketa di antara kaumnya, tetapi kakek itu
tidak ada juga. Saat lelaki itu hendak tidur siang, barulah kakek itu datang.
Saat ditanya alasannya tidak datang di majelis sebelumnya, kakek itu beralasan
bahwa kaumnya menjanjikan akan memberikan hak kakek itu, sehingga dia tidak
jadi datang ke majelis, tapi kemudian mereka mengingkarinya lagi. Laki-laki
tersebut meminta kakek itu untuk datang lagi saat sore. Kembali lelaki itu
tidak bisa tidur siang lantaran percakapannya dengan kakek itu.
Namun saat
sore, kakek itu tidak datang lagi. Dikarenakan sangat mengantuk dan ingin
istirahat, laki-laki itu kemudian meminta orang-orang untuk tidak membiarkan
seorangpun mengganggu waktu istirahatnya. Saat kakek itu kembali, penjaga
benar-benar melarang kakek itu untuk bertamu. Kakek yang merupakan jelmaan
setan itu kemudian masuk ke dalam rumah melalui sebuah lubang. Lelaki itu
kemudian berkata, "Wahai fulan, bukankah aku telah bilang kepadamu, jangan
menggangguku ketika aku sedang tidur?" Namun setelah tahu bahwa pintu
rumahnya terkunci, barulah tersadar kalau kakek itu adalah jelmaan setan. Dia
berusaha membuat lelaki itu marah, tetapi gagal. Lelaki yang diganggu kakek
jelmaan setan dalam kisah tersebut diidentifikasikan sebagai Zulkifli .[11] Kisah
ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an maupun hadits, tapi merupakan tafsiran
sebagian ulama.
Sebagian
ulama menceritakan bahwa seorang sahabat Nabi, Abu Musa
Al-Asy'ari, menyatakan bahwa Zulkifli bukanlah seorang nabi, tapi
orang saleh yang shalat seratus kali. Zulkifli menjamin untuk menjalankan
perintah agama sepeninggal Ilyasa'
Yehezkiel
Sebagian
pendapat menyebutkan bahwa Zulkifli adalah sosok yang sama dengan Yehezkiel, nabi Bani Israil yang hidup pada masa pengasingan bangsa Yahudi ke
Babilonia. Dalam literatur Islam, Yehezkiel biasanya disebut dengan
ejaan Arabnya, Hazqiyal atau Hizqil.
Yehezkiel
diperkirakan hidup dua ratus tahun lebih setelah Ilyasa', lahir dan besar pada
masa-masa akhir Kerajaan Yehuda. Pada
tahun 597 SM, Yerusalem jatuh ke tangan Kekaisaran Babilonia Baru di
bawah kekuasaan Nebukadnezar II. Yehezkiel
termasuk mereka yang kemudian ditangkap dan dibawa ke Babilonia. Empat atau
lima tahun kemudian,[13] Yehezkiel diangkat sebagai nabi untuk
berdakwah pada Bani Israil di pengasingan.[14] Dia meninggal di Babilonia dan dipercaya
dimakamkan di tempat yang kemudian disebut Al-Kifl di kawasan Iraq.
Abdullah Yusuf Ali mendukung pendapat kartografer Denmark Karsten Niebuhr yang menyebutkan
bahwa Kifli (الكفل) adalah bentuk Arab dari Yehezkiel (Ibrani: יְחֶזְקֵאל Yəḥezqē’l),[15][16] sehingga menurut pendapat ini, Zulkifli bukanlah
julukan, melainkan nama. Namun terlepas kebenaran pendapat ini, Yehezkiel
biasanya juga dipandang sebagai nabi oleh para ulama, seperti Ath-Thabari, Ibnu
Katsir, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Kutaibah. Ibnu Katsir dalam karyanya, Qashashul Anbiya', menuliskan mengenai Zulkifli dan Yehezkiel
(Hazqiyal) dalam dua bab berbeda.
Siddhattha Gotama
Ada juga
pendapat yang menyebutkan bahwa Zulkifli adalah Siddhattha Gotama, tokoh pusat dalam agama Buddha. Perkiraan masa kehidupannya berkisar pada
rentang abad ke-6 sampai ke-5 SM. Pendapat ini didasarkan bahwa Kifl dianggap
sebagai pelafalan Arab dari Kapil, kependekan dari Kapilavatthu,[17] ibu kota Sakya dan tempat tinggal Siddhattha Gotama sebelum
meninggalkan istana

0 comments:
Posting Komentar