Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 29 Desember 2025

Riwayat Nabi Zulkifli

 KISAH NABI ZULKIFLI A.S

Allah   s.w.t   memasukkan   Zulkifli   dalam   rahmat-Nya.   Allah   s.w.t   memujinya sebagai hamba yang sabar dan Dia menyebutkannya bersama Ismail dan Idris. Allah s.w.t berfirman:

"Dan   (ingatlah)   kisah   Ismail,   Idris   dan   Dzulkifli.   Semua   mereka   termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami.     Sesungguhnya  mereka  termasuk      orang-orang      yang   saleh."    (QS. al-Anbiya': 85-86)

siapakah nabi zulkifli

Disebutkan   bahwa  beliau  menanggung  kebutuhan      kaumnya.     Beliau    yang mengurusi      mereka;    beliau  menegakkan keadilan di  antara   mereka.    Ketika beliau  melakukan  tugas    itu,  beliau   mendapat  julukan DzulKifli.   Banyak dongeng yang dibuat berkenaan dengan cerita beliau.

Al-Qur'an   hanya   menyebut   namanya   dan   memujinya   tanpa   menyertakan   satu kisah yang lengkap tentangnya, bahkan masa dakwahnya pun tidak diketahui. Kita   tidak   mengetahui   siapa   kaum   Nabi   ini   dan   bagaimana   beliau   diutus   di tengah-tengah   mereka  serta    bagaimana      kaumnya    memenuhi    panggilan dakwahnya.

Sumber yang lain

Terdapat sejumlah keterangan yang berbeda-beda dalam berbagai literatur Muslim mengenai Zulkifli , baik latar belakang, jati diri, maupun kisahnya. Semuanya tidak berasal dari Al-Qur'an dan hadits, tapi dari tafsiran para ulama dan beberapa sumber lain. Beberapa keterangan tersebut menyebutkan bahwa Zulkifli adalah:

·         Bisyr bin Ayyub

·         Penerus Ilyasa'

·         Yehezkiel

·         Siddhartha Gautama

Beberapa pendapat yang disebutkan ini pada dasarnya berdiri sendiri-sendiri dan tidak dapat digabungkan, karena terdapat perbedaan waktu dan tempat.

Putra Ayyub

Sebagian menyatakan bahwa dia adalah Bisyr atau Basyar, putra Ayyub.[6] Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Ayyub adalah leluhur bangsa Romawi Kuno[7] atau berdakwah pada bangsa Romawi, sehingga Zulkifli juga kerap dikaitkan dengan Romawi sebagai penerus tugas dakwah Ayyub

Penerus Ilyasa'

Pendapat lain menerangkan bahwa dia adalah orang yang meneruskan tugas Ilyasa' (Elisa) dalam membimbing Bani Israil. Ilyasa' sendiri adalah keturunan jauh Ya'qub dan hidup pada abad ke-9 SM.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan[9][10] bahwa setelah Ilyasa' sudah tua, dia mencari orang yang bisa meneruskannya membimbing masyarakat. Dia kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mencari penerusnya di antara mereka, dengan syarat bahwa dia bisa selalu puasa di siang hari, ibadah malam, dan tidak marah. Seorang lelaki yang dianggap hina mengajukan diri, tetapi Ilyasa' menolak kesanggupan orang tersebut. Kemudian seorang lelaki lain mengajukan diri dan Ilyasa' menerimanya.

Suatu ketika, setan menjelma sebagai kakek-kakek renta yang miskin. Dia mendatangi lelaki penerus Ilyasa' ini pada tengah hari pada jadwal lelaki tersebut tidur siang. Lelaki ini tidak tidur pada siang ataupun malam hari selain saat tidur siang tersebut. Setelah dipersilakan masuk, kakek tersebut menceritakan pada lelaki tersebut kalau dirinya dizalimi oleh kaumnya. Kakek tersebut bercerita sangat lama sampai sore sehingga laki-laki tersebut tidak bisa tidur siang. Laki-laki tersebut kemudian meminta kakek itu untuk hadir di majelisnya pada sore hari untuk memutuskan perkara. Namun setelah sore, kakek itu tidak hadir.

Esok harinya, laki-laki tersebut memutuskan sengketa di antara kaumnya, tetapi kakek itu tidak ada juga. Saat lelaki itu hendak tidur siang, barulah kakek itu datang. Saat ditanya alasannya tidak datang di majelis sebelumnya, kakek itu beralasan bahwa kaumnya menjanjikan akan memberikan hak kakek itu, sehingga dia tidak jadi datang ke majelis, tapi kemudian mereka mengingkarinya lagi. Laki-laki tersebut meminta kakek itu untuk datang lagi saat sore. Kembali lelaki itu tidak bisa tidur siang lantaran percakapannya dengan kakek itu.

Namun saat sore, kakek itu tidak datang lagi. Dikarenakan sangat mengantuk dan ingin istirahat, laki-laki itu kemudian meminta orang-orang untuk tidak membiarkan seorangpun mengganggu waktu istirahatnya. Saat kakek itu kembali, penjaga benar-benar melarang kakek itu untuk bertamu. Kakek yang merupakan jelmaan setan itu kemudian masuk ke dalam rumah melalui sebuah lubang. Lelaki itu kemudian berkata, "Wahai fulan, bukankah aku telah bilang kepadamu, jangan menggangguku ketika aku sedang tidur?" Namun setelah tahu bahwa pintu rumahnya terkunci, barulah tersadar kalau kakek itu adalah jelmaan setan. Dia berusaha membuat lelaki itu marah, tetapi gagal. Lelaki yang diganggu kakek jelmaan setan dalam kisah tersebut diidentifikasikan sebagai Zulkifli .[11] Kisah ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an maupun hadits, tapi merupakan tafsiran sebagian ulama.

Sebagian ulama menceritakan bahwa seorang sahabat NabiAbu Musa Al-Asy'ari, menyatakan bahwa Zulkifli bukanlah seorang nabi, tapi orang saleh yang shalat seratus kali. Zulkifli menjamin untuk menjalankan perintah agama sepeninggal Ilyasa'

Yehezkiel

Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Zulkifli adalah sosok yang sama dengan Yehezkiel, nabi Bani Israil yang hidup pada masa pengasingan bangsa Yahudi ke Babilonia. Dalam literatur Islam, Yehezkiel biasanya disebut dengan ejaan Arabnya, Hazqiyal atau Hizqil.

Yehezkiel diperkirakan hidup dua ratus tahun lebih setelah Ilyasa', lahir dan besar pada masa-masa akhir Kerajaan Yehuda. Pada tahun 597 SM, Yerusalem jatuh ke tangan Kekaisaran Babilonia Baru di bawah kekuasaan Nebukadnezar II. Yehezkiel termasuk mereka yang kemudian ditangkap dan dibawa ke Babilonia. Empat atau lima tahun kemudian,[13] Yehezkiel diangkat sebagai nabi untuk berdakwah pada Bani Israil di pengasingan.[14] Dia meninggal di Babilonia dan dipercaya dimakamkan di tempat yang kemudian disebut Al-Kifl di kawasan Iraq.

Abdullah Yusuf Ali mendukung pendapat kartografer Denmark Karsten Niebuhr yang menyebutkan bahwa Kifli (الكفل) adalah bentuk Arab dari Yehezkiel (Ibraniיְחֶזְקֵאל Yəḥezqē’l),[15][16] sehingga menurut pendapat ini, Zulkifli bukanlah julukan, melainkan nama. Namun terlepas kebenaran pendapat ini, Yehezkiel biasanya juga dipandang sebagai nabi oleh para ulama, seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Kutaibah. Ibnu Katsir dalam karyanya, Qashashul Anbiya', menuliskan mengenai Zulkifli dan Yehezkiel (Hazqiyal) dalam dua bab berbeda.

Siddhattha Gotama

Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa Zulkifli adalah Siddhattha Gotama, tokoh pusat dalam agama Buddha. Perkiraan masa kehidupannya berkisar pada rentang abad ke-6 sampai ke-5 SM. Pendapat ini didasarkan bahwa Kifl dianggap sebagai pelafalan Arab dari Kapil, kependekan dari Kapilavatthu,[17] ibu kota Sakya dan tempat tinggal Siddhattha Gotama sebelum meninggalkan istana

0 comments:

Posting Komentar