Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Selasa, 30 Desember 2025

Kisah Nabi Zulkifli a.s

 KISAH NABI ZULKIFLI A.S

Allah   s.w.t   memasukkan   Zulkifli   dalam   rahmat-Nya.   Allah   s.w.t   memujinya sebagai hamba yang sabar dan Dia menyebutkannya bersama Ismail dan Idris. Allah s.w.t berfirman:

silsilah nabi zulkifli


"Dan   (ingatlah)   kisah   Ismail,   Idris   dan   Dzulkifli.   Semua   mereka   termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami.     Sesungguhnya  mereka  termasuk      orang-orang      yang   saleh."    (QS. al-Anbiya': 85-86)

Disebutkan   bahwa  beliau  menanggung  kebutuhan      kaumnya.     Beliau    yang mengurusi      mereka;    beliau  menegakkan keadilan di  antara   mereka.    Ketika beliau  melakukan  tugas    itu,  beliau   mendapat  julukan DzulKifli.   Banyak dongeng yang dibuat berkenaan dengan cerita beliau.

Al-Qur'an   hanya   menyebut   namanya   dan   memujinya   tanpa   menyertakan   satu kisah yang lengkap tentangnya, bahkan masa dakwahnya pun tidak diketahui. Kita   tidak   mengetahui   siapa   kaum   Nabi   ini   dan   bagaimana   beliau   diutus   di tengah-tengah   mereka  serta    bagaimana      kaumnya    memenuhi    panggilan dakwahnya.

Sumber yang lain

Terdapat sejumlah keterangan yang berbeda-beda dalam berbagai literatur Muslim mengenai Zulkifli , baik latar belakang, jati diri, maupun kisahnya. Semuanya tidak berasal dari Al-Qur'an dan hadits, tapi dari tafsiran para ulama dan beberapa sumber lain. Beberapa keterangan tersebut menyebutkan bahwa Zulkifli adalah:

  • ·         Bisyr bin Ayyub
  • ·         Penerus Ilyasa'
  • ·         Yehezkiel
  • ·         Siddhartha Gautama

Beberapa pendapat yang disebutkan ini pada dasarnya berdiri sendiri-sendiri dan tidak dapat digabungkan, karena terdapat perbedaan waktu dan tempat.

Putra Ayyub

Sebagian menyatakan bahwa dia adalah Bisyr atau Basyar, putra Ayyub.[6] Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Ayyub adalah leluhur bangsa Romawi Kuno[7] atau berdakwah pada bangsa Romawi, sehingga Zulkifli juga kerap dikaitkan dengan Romawi sebagai penerus tugas dakwah Ayyub

Penerus Ilyasa'

Pendapat lain menerangkan bahwa dia adalah orang yang meneruskan tugas Ilyasa' (Elisa) dalam membimbing Bani Israil. Ilyasa' sendiri adalah keturunan jauh Ya'qub dan hidup pada abad ke-9 SM.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan[9][10] bahwa setelah Ilyasa' sudah tua, dia mencari orang yang bisa meneruskannya membimbing masyarakat. Dia kemudian mengumpulkan orang-orang untuk mencari penerusnya di antara mereka, dengan syarat bahwa dia bisa selalu puasa di siang hari, ibadah malam, dan tidak marah. Seorang lelaki yang dianggap hina mengajukan diri, tetapi Ilyasa' menolak kesanggupan orang tersebut. Kemudian seorang lelaki lain mengajukan diri dan Ilyasa' menerimanya.

Suatu ketika, setan menjelma sebagai kakek-kakek renta yang miskin. Dia mendatangi lelaki penerus Ilyasa' ini pada tengah hari pada jadwal lelaki tersebut tidur siang. Lelaki ini tidak tidur pada siang ataupun malam hari selain saat tidur siang tersebut. Setelah dipersilakan masuk, kakek tersebut menceritakan pada lelaki tersebut kalau dirinya dizalimi oleh kaumnya. Kakek tersebut bercerita sangat lama sampai sore sehingga laki-laki tersebut tidak bisa tidur siang. Laki-laki tersebut kemudian meminta kakek itu untuk hadir di majelisnya pada sore hari untuk memutuskan perkara. Namun setelah sore, kakek itu tidak hadir.

Esok harinya, laki-laki tersebut memutuskan sengketa di antara kaumnya, tetapi kakek itu tidak ada juga. Saat lelaki itu hendak tidur siang, barulah kakek itu datang. Saat ditanya alasannya tidak datang di majelis sebelumnya, kakek itu beralasan bahwa kaumnya menjanjikan akan memberikan hak kakek itu, sehingga dia tidak jadi datang ke majelis, tapi kemudian mereka mengingkarinya lagi. Laki-laki tersebut meminta kakek itu untuk datang lagi saat sore. Kembali lelaki itu tidak bisa tidur siang lantaran percakapannya dengan kakek itu.

Namun saat sore, kakek itu tidak datang lagi. Dikarenakan sangat mengantuk dan ingin istirahat, laki-laki itu kemudian meminta orang-orang untuk tidak membiarkan seorangpun mengganggu waktu istirahatnya. Saat kakek itu kembali, penjaga benar-benar melarang kakek itu untuk bertamu. Kakek yang merupakan jelmaan setan itu kemudian masuk ke dalam rumah melalui sebuah lubang. Lelaki itu kemudian berkata, "Wahai fulan, bukankah aku telah bilang kepadamu, jangan menggangguku ketika aku sedang tidur?" Namun setelah tahu bahwa pintu rumahnya terkunci, barulah tersadar kalau kakek itu adalah jelmaan setan. Dia berusaha membuat lelaki itu marah, tetapi gagal. Lelaki yang diganggu kakek jelmaan setan dalam kisah tersebut diidentifikasikan sebagai Zulkifli .[11] Kisah ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an maupun hadits, tapi merupakan tafsiran sebagian ulama.

Sebagian ulama menceritakan bahwa seorang sahabat NabiAbu Musa Al-Asy'ari, menyatakan bahwa Zulkifli bukanlah seorang nabi, tapi orang saleh yang shalat seratus kali. Zulkifli menjamin untuk menjalankan perintah agama sepeninggal Ilyasa'

Yehezkiel

Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Zulkifli adalah sosok yang sama dengan Yehezkiel, nabi Bani Israil yang hidup pada masa pengasingan bangsa Yahudi ke Babilonia. Dalam literatur Islam, Yehezkiel biasanya disebut dengan ejaan Arabnya, Hazqiyal atau Hizqil.

Yehezkiel diperkirakan hidup dua ratus tahun lebih setelah Ilyasa', lahir dan besar pada masa-masa akhir Kerajaan Yehuda. Pada tahun 597 SM, Yerusalem jatuh ke tangan Kekaisaran Babilonia Baru di bawah kekuasaan Nebukadnezar II. Yehezkiel termasuk mereka yang kemudian ditangkap dan dibawa ke Babilonia. Empat atau lima tahun kemudian,[13] Yehezkiel diangkat sebagai nabi untuk berdakwah pada Bani Israil di pengasingan.[14] Dia meninggal di Babilonia dan dipercaya dimakamkan di tempat yang kemudian disebut Al-Kifl di kawasan Iraq.

Abdullah Yusuf Ali mendukung pendapat kartografer Denmark Karsten Niebuhr yang menyebutkan bahwa Kifli (الكفل) adalah bentuk Arab dari Yehezkiel (Ibraniיְחֶזְקֵאל Yəḥezqē’l),[15][16] sehingga menurut pendapat ini, Zulkifli bukanlah julukan, melainkan nama. Namun terlepas kebenaran pendapat ini, Yehezkiel biasanya juga dipandang sebagai nabi oleh para ulama, seperti Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Kutaibah. Ibnu Katsir dalam karyanya, Qashashul Anbiya', menuliskan mengenai Zulkifli dan Yehezkiel (Hazqiyal) dalam dua bab berbeda.

Siddhattha Gotama

Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa Zulkifli adalah Siddhattha Gotama, tokoh pusat dalam agama Buddha. Perkiraan masa kehidupannya berkisar pada rentang abad ke-6 sampai ke-5 SM. Pendapat ini didasarkan bahwa Kifl dianggap sebagai pelafalan Arab dari Kapil, kependekan dari Kapilavatthu,[17] ibu kota Sakya dan tempat tinggal Siddhattha Gotama sebelum meninggalkan istana

 

Nabi Dzulkifli merupakan putra Nabi Ayyub Alaihissalam. Putra Nabi Ayyub AS mempunyai nama asli Basyar. Basyar atau Nabi Dzulkifli tinggal di negeri Syam dimana sang Raja tidak memiliki keturunan dan sudah tua.

“Dzulkifli” ada kisah bagaimana keberanian seorang nabi mengambil tanggung jawab besar sebagai pemimpin. Jadi beliau Nabi Dzulkifli yang kala itu masih muda mau mengambil peran tersebut.

Sebutan “Dzul” sebenarnya sudah digunakan ketika waktu itu Nabi Yunus ditelan oleh ikan. Ia dijuluki sebagai “Dzun-Nun” artinya yang bersama (ikan) Nun. Sedangkan untuk “Dzulkifli” yang punya dua kata “Dzul” dan “kifli” berarti “orang dengan ganjaran ganda”.

Berasal dari kata kuno bahasa Arab “Kifli” sendiri diartikan sebagai “ganda”. Karena jiwa kepemimpinan Basyar akhirnya dia mendapat julukan sebagai “Dzulkifli” atau sang pemilik ganjaran ganda. Lantas bagaimana ceritanya beliau Nabi Dzulkifli sampai mendapat gelar tersebut?

Padahal banyak diantara usia yang jauh lebih tua dari Nabi Dzulkifli tidak mau dan tidak berani mengambil keputusan itu. Jangankan mengangkat tangan dan siap bertanggung jawab atas segala keputusan yang dia ambil, kebanyakan mereka berniat saja tidak berani.

Kisah Nabi Dzulkifli : Berani Menjadi Pemimpin,

Awal Mula Kepemimpinan Nabi DzulkifliSuatu hari seorang raja di negeri Syam, tempat dimana Nabi Dzulkifli lahir dan besar, mengumpulkan semua rakyat dengan tujuan mencari dan menemukan seorang penerus kerajaan. Sang raja yang usianya tidak muda lagi perlu mencar pengganti dirinya.

Di hadapan para rakyat ia menyampaikan maksud tersebut secara terbuka. Rakyat mendengarkan dengan seksama bahwa sang raja ingin pensiun karena sudah tua untuk memimpin negeri Syam. Tapi apesnya sang raja tidak memiliki keturunan yang bisa dijadikan pengganti dirinya.

Pidato raja negeri Syam itu merupakan bentuk kegelisahan dirinya selama ini siapa yang akan menggantikan posisi sebagai pemimpin kerajaan. Sebuah peluang menjadi bangsawan dibuka lebar-lebar oleh Raja Syam waktu itu. Sang Raja Syam pun mempersilahkan siapa saja yang mau menggantikan dirinya menjadi raja.

Namun kebanyakan orang yang menghadiri pidato raja tetap saja langsung menunjukkan kesiapan untuk menjadi raja. Kebanyakan rakyat hanya diam seribu bahasa karena tidak mungkin sanggup memegang tanggung jawab sebesar itu yakni memimpin negeri Syam.

 

Sampai saat dimana sang raja mengajukan syarat yang sebenarnya tidak terlalu sulit. Syarat tersebut hanya membutuhkan konsistensi dari kandidat calon raja. Sang raja mengumumkan syarat kandidat calon raja kepada seluruh rakyat.“Siapa di antara kamu sekalian yang sanggup berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam harinya, juga tidak akan marah-marah, kepadanya akan saya serahkan kerajaan ini? Karena saya sudah sangat tua,” ucap sang raja kepada rakyatnya.

Tak selang beberapa lama hanya sepersekian detik saja sang raja mengumumkan syarat itu, ada seorang pemuda berdiri dan mengangkat tangan kanannya. Pemuda yang berdiri itu bernama Basyar, putra Nabi Ayyub. Ia mengatakan kepada raja dengan tegas dan penuh percaya diri, “Hamba Sanggup!”

Namun demikian sang raja tidak lantas mengiyakan kesanggupan Basyar untuk mendapuknya jadi seorang raja di negeri Syam. Bukannya langsung memilih Basyar, sang raja malah mengulang lagi pertanyaan yang sama kepada rakyat. Tentu saja seluruh rakyat tidak merespon pertanyaan itu kecuali Basyar dan ia juga mengulang jawaban yang sama.

Setelah sudah tiga kali bertanya dan dijawab oleh Basyar, akhirnya sang raja merasa mantap dan yakin bahwa sudah ada yang siap menggantikan posisi dirinya. Basyar akhirnya didapuk menjadi seorang raja di negeri Syam waktu itu.Dari kejadian itulah kemudian Basyar mendapat julukan sebagai “Dzulkifli”. Seorang raja dari kalangan nabi memimpin tanah Syam dengan menegakkan keadilan seadil-adilnya.

Inilah yang dimaksud “Dzulkifli” orang dengan ganjaran ganda. Menjadi seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri saja. Namun menjadi seorang pemimpin bertanggung jawab atas apa dan siapa yang dipimpinnya.

Kesederhanaan Menciptakan Pemimpin Bijaksana

Rumor tentang bagaimana Nabi Dzulkifli menjadi seorang pemimpin yang bijaksana memang bukan kaleng-kaleng. Berangkat dari keluarga sederhana, Nabi Dzulkifli yang telah menjadi raja di negeri Syam tidak kemudian menjadi sombong dan congkak.Nabi Dzulkifli memprioritaskan kepentingan rakyat yang sedang dalam kesusahan. Dalam beberapa waktu kondisi rakyat di negeri Syam telah mencapai kemakmuran dan kesejahteraan yang boleh dibilang sangat mencukupi.

Di zaman sekarang ini susah menemukan seorang pemimpin memikirkan nasib rakyatnya terlebih dahulu dari kepentingan pribadi. Lebih banyak para pemimpin sekarang ini memperkaya diri sehingga yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Namun Nabi Dzulkifli tidak menjadi pemimpin seperti itu.

Sesuai dengan janji Nabi Dzulkifli kepada raja sebelumnya agar berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari dan tidak marah ketika melayani rakyat di negeri Syam. Nabi Dzulkifli menepati janjinya melakukan itu semua ketika ia memimpin sebagai raja di negeri Syam.

Kebijaksanaan beliau adalah salah satu dakwah yang dikedepankan selama ia memimpin. Terbukti ketika suatu waktu kerajaan Syam akan diserang oleh kerajaan luar. Para pemberontak itu ingin menghancurkan dan merebut kejayaan negeri Syam.Otomatis sang raja Nabi Dzulkifli As mengajak seluruh rakyat agar ikut berpartisipasi melawan serangan musuh. Namun tak dinyana rakyat yang telah difikirkan kesejahteraannya itu justru mengajukan syarat kalau sang raja ingin rakyat ikut berperang. Syarat mereka adalah tidak ada korban jiwa dari rakyat ketika melawan kaum pemberontak.

Akhirnya Nabi Dzulkifli sebagai pemimpin berjanji bahwa tidak akan ada korban jiwa yang meninggalkan istri dan anak di rumah. Nabi Dzulkifli berdoa agar Allah SWT selamatkan seluruh rakyat negeri Syam. Pertarungan terhadap pemberontak pun terjadi dan tidak ada korban dari pihak kerajaan Syam.Pada awalnya rakyat enggan berperang karena takut mati. Itulah alasan utama mereka lebih memilih menolak ajakan Nabi Dzulkifli AS ketika akan memerangi kaum pemberontak.

Mengamati kejadian ini sebenarnya nabi Dzulkifli bisa saja memaksa rakyat agar ikut berperang melawan musuh. Terlebih jasa sang Raja dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat sudah terbukti. Namun sang Raja nabi Dzulkifli memilih tidak melakukan hal tersebut bahkan mampu menepati janjinya bahwa tidak ada korban dari peperangan itu.

Nabi Dzulkifli Kesabaran Seorang Pemimpin yang Diuji oleh Kakek Jelmaan iblis

 

Sepertinya pepatah yang berbunyi, “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” itu ada benarnya juga. Nabi Dzulkifli AS yang merupakan keturunan Nabi Ayyub ini mewarisi sikap ayahnya dalam hal kesabaran. Kita tahu betapa sabarnya Nabi Ayyub AS atas cobaan hidup berupa sakit kulit bertahun-tahun.

Begitupun yang dilakukan oleh Nabi Dzulkifli ketika ia menghadapi kakek jelmaan iblis yang datang ke tempat kerajaan Syam. Ketika itu ada seorang kakek tua yang miskin mendatangi para penjaga kerajaan Syam pada waktu tengah hari.Walau kondisi para penjaga kerajaan Syam yang lelah dan sedang beristirahat si kakek tetap memaksa ingin bertemu sang raja. Padahal waktu itu sang raja sedang lelah karena di malam harinya beliau beribadah dan siang hari berpuasa menepati janji terhadap raja sebelumnya, Nabi Ilyasa.

Akhirnya sang raja Nabi Dzulkifli menemui sang kakek yang mengungkapkan bahwa dirinya telah diperlakukan tidak adil oleh rakyatnya. Kakek Jadi-jadian itu mengganggu waktu tidur siang sang raja karena Kakek berbicara panjang lebar tentang masalahnya. Tidak tanggung-tanggung Kakek Jadi-jadian itu mengobrol dengan Nabi Dzulkifli hingga sore.Sang raja mengetahui masalah sengketa antar kaumnya, ia mengadakan majelis untuk memutuskan perkara. Kakek jelmaan iblis itu diminta datang pada majelis di sore hari. Tapi bukannya menghargai keputusan sang raja, Kakek Jadi-jadian itu malah tidak hadir di majelis.

Di siang esok harinya si kakek malah datang menemui sang raja. Sang raja Nabi Dzulkifli heran kenapa si kakek tidak datang. Si kakek menceritakan kalau pihak yang bersengketa dengannya sudah berjanji akan memberikan hak kepada si kakek. Alasan itulah kenapa kakek tidak jadi datang ke majelis.Padahal jika mau menghargai kakek seharusnya memberi kabar tidak datang karena suatu hal. Namun karena kakek jelmaan setan memang ingin memancing Nabi Dzulkifli AS agar marah sehingga sang raja pengganti itu tidak menepati janjinya.

Lebih kentara lagi ketika si kakek tidak memikirkan kondisi sang raja yang harus tidur, ia mengobrol lagi sampai sore. Alhasil Nabi Dzulkifli tidak punya kesempatan untuk tidur siang karena diajak mengobrol oleh si Kakek. Kejadian ini sang raja Nabi Dzulkifli tidak marah dengan sikap si kakek yang tidak tahu diri.Karena persengketaan antara kakek dengan kaum negeri Syam belum selesai, sang raja meminta kakek datang esok sore. Lagi-lagi si kakek tidak menghadiri majelis entah karena apa. Sang raja dan penjaga yang lainnya tidak tahu kenapa.

Esok harinya lagi di siang bolong si kakek datang ingin menjumpai lagi sang raja. Sang penjaga kerajaan melarang siapapun masuk istana sesuai perintah sang raja. Hal itu disebabkan kondisi sang raja Nabi Dzulkifli kelelahan dan ingin tidur siang sejenak.Akhirnya si kakek tua gagal masuk ke istana karena dilarang sewaktu bertemu dengan penjaga kerajaan. Si kakek dihadang para penjaga kerajaan yang sebelumnya diperintahkan agar tidak membiarkan siapapun masuk ke istana karena sang raja ingin tidur siang.

Dasar Kakek itu bukan manusia biasa, ia mampu menembus batas pengamanan para penjaga. Kakek jelmaan setan itu mencari jalan lain untuk bisa bertemu sang raja dan bertujuan mengganggu jadwal tidur siang.Melihat pintu rumah sang raja dikunci, akhirnya kakek merubah diri dan masuk melalui lubang pintu. Sang raja yang bertemu dengan si kakek berkata, “Wahai fulan, bukankah aku telah bilang kepadamu, jangan menggangguku ketika aku sedang tidur?”Selang beberapa detik kemudian sang raja menyadari bahwa kunci rumahnya dikunci tapi kenapa si kakek ini bisa masuk rumahnya? Baru kali itu sang raja Nabi Dzulkifli menyadari bahwa si Kakek itu adalah jelmaan iblis.

Usaha setan agar Nabi Dzulkifli marah pun akhirnya gagal total karena tingkat kesabaran yang teruji. Nabi Dzulkifli sebagai seorang pengganti yang sudah janji tidak akan marah, ia sanggup menepati janjinya.

Kisah sang raja Nabi Dzulkifli diabadikan dalam petikan surat Alqur’an ini. “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh”. (Q.S. Al-Anbiya ayat 85-86).

Mukjizat Nabi Zulkifli

Mukjizat-mukjizat yang telah dilakukannya pun semakin meningkatkan kepercayaan umat Islam terhadapnya. Walaupun nama Nabi Zulkifli hingga saat ini masih belum begitu dikenal oleh umat Islam modern, ia tetap berkontribusi besar dalam mempromosikan ajaran Islam.

Ajaran-ajaran yang telah dipopulerkannya seperti kesederhanaan, kesederhanaan, kasih sayang, kerohanian, dan juga keadilan sosial sangat berarti bagi umat Islam. Pendidikan yang diberikannya dalam bidang teologi pun menginspirasi banyak orang untuk memperdalam ilmu mereka tentang agama.

1. Memiliki sifat sabar yang tiada tara

Nabi Zulkifli dikenal sebagai salah satu nabi yang memiliki kesabaran luar biasa. Kesabarannya ini juga ditulis dalam Surat Al-Anbiya ayat 85-86 yang memiliki arti:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S An-Nabiya 85-86)

Suatu hari, iblis mencoba untuk menguji kesabaran Nabi Zulkifli dengan mulanya menyamar menjadi seorang kakek tua yang renta. Iblis pun datang ke rumah Nabi Zulkifli pada siang hari. Padahal, siang hari adalah waktu di mana Nabi Zulkifli beristirahat karena malamnya ia tidak bisa istirahat melainkan melakukan ibadah kepada Allah SWT.

 

Mengetahui kedatangan kakek tua itu, Nabi Zulkifli terbangun dari tidurnya dan menanyakan maksud kedatangan si kakek. Iblis yang menyamar menjadi kakek tua tersebut mengaku bahwa ia merupakan orang yang teraniaya. Iblis mengarang cerita bagaimana ia merupakan korban penganiayaan sampai waktu istirahat Nabi Zulkifli habis dan harus kembali bekerja.

Nabi Zulkifli pun meminta si kakek untuk kembali lagi pada waktu sore. Namun, si kakek tidak muncul dan baru kembali mendatanginya keesokan harinya pada waktu siang dan mengambil waktu istirahat Nabi Zulkifli lagi. Setelah melakukannya berulang kali, iblis pun mengakui siapa dirinya yang sebenarnya dan tujuannya yang ingin menggoda kesabaran Nabi Zulkifli namun gagal karena Nabi Zulkifli tak pernah sekalipun marah kepada si kakek meskipun telah mengganggu waktu istirahatnya.

2. Mukjizat Nabi Zulkifli: Doanya selalu dikabulkan oleh Allah

Selain dikenal sebagai sosok yang sabar, Zulkifli AS juga memiliki mukjizat berupa doa yang mustajab. Hal itu terjadi berkat kesabaran, kejujuran, dan sikapnya yang selalu menepati janji.

Karena kesabaran, kejujuran, dan sikapnya yang selalu menetapi janji, maka Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Zulkifli berupa setiap doanya yang selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Kesabaran Nabi Zulkifli ini juga disebut dalam firman Allah SWT. Surat Sad Ayat 48 yang memiliki arti “Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.“

Salah satu doa Nabi Zulkifli yang terkabul ialah pada saat melakukan perang bersama para pengikutnya. Pada saat itu, jumlah pasukan Nabi Zulkifli bisa terbilang sedikit dibandingkan dengan jumlah pemberontak yang sangat banyak. Namun, atas izin Allah SWT. Nabi Zulkifli dan para pengikutnya memenangkan perang tersebut tanpa ada satu orang pun yang tewas.

3. Diangkat menjadi raja

Mukjizat lain yang dimiliki oleh Nabi Zulkifli semasa hidupnya ialah ketika diangkat menjadi raja. Kisah ini diawali saat Nabi Zulkifli menyanggupi persyaratan menjadi raja selanjutnya setelah Nabi Ilyasa yang pada saat itu telah memasuki usia tua.

Nabi Ilyasa pun membuat pengumuman dan mengumpulkan para pengikutnya. Dalam pengumuman tersebut, Nabi Ilyasa berkata barang siapa yang sanggup memenuhi ketiga syarat darinya, maka akan diangkat menjadi raja selanjutnya untuk menggantikannya. Ketiga syarat tersebut meliputi berpuasa pada siang hari, bangun pada malam hari, dan tidak mudah marah.

Mendengar hal tersebut, Nabi Zulkifli berdiri dan mengatakan bahwa ia sanggup. Namun, Nabi Ilyasa belum langsung mengambil keputusan. Keesokannya, Nabi Ilyasa melakukan pengumuman yang sama dan Nabi Zulkifli kembali berdiri dan menyatakan kesanggupan atas syarat-syarat tersebut.

Pada akhirnya, Nabi Ilyasa pun mengangkat Nabi Zulkifli sebagai raja selanjutnya. Hal ini merupakan salah satu mukjizat Nabi Zulkifli dari Allah SWT.

Peninggalan Nabi Dzulkifli

Nabi Dzulkifli wafat pada usia 75 tahun. Meski begitu ada yang berpendapat bahwa Nabi Dzulkifli wafat pada usia 95 tahun. Selama Nabi Dzulkifli hidup ia telah menjaga dirinya untuk selalu menepati janjinya termasuk ketika menjadi seorang pemimpin pengganti Raja Ilyasa.Ada beberapa hal yang ditinggalkan oleh Nabi Dzulkifli kepada rakyatnya. Pertama, kesederhanaan harus menjadi gaya hidup seorang pemimpin. Kedua, keadilan seluruh rakyat harus dijunjung tinggi. Ketiga, tetap bersabar atas segala hal yang terjadi.

Selama Nabi Dzulkifli menjabat sebagai raja di negeri Syam menggantikan Nabi Ilyas’ AS, ia berperilaku secara sederhana. Kesederhanaan Nabi Dzulkifli diabadikan ketika ia harus menemui seorang kakek tua yang belakangan diketahui ternyata adalah sesosok iblis yang ingin menjerumuskan ke lembah dosa. Nabi Dzulkifli tidak akan menerima pertemuan dengan si kakek tua kalau dia tidak memiliki sikap kesederhanaan.

Dalam hal memimpin di negeri Syam, ia telah mengantarkan rakyat pada tingkat kesejahteraan yang tinggi. Seperti itulah seharusnya pemimpin menegakkan keadilan di negeri yang dipimpinnya. Ia tidak egois dengan memperkaya diri sendiri dan golongan saja tapi semua rakyat.Ternyata itulah tujuannya Nabi Ilyasa AS memberi syarat salah satunya pengganti beliau harus puasa di siang harinya. Tujuannya agar selalu memikirkan kondisi rakyatnya dan menjadi pemimpin yang adil. Hal yang sekarang ini sangat sukar ditemukan tipe pemimpin macam itu.

Karena puasa secara tidak langsung melatih kesabaran seseorang karena menahan diri untuk tidak makan dan minum untuk jangka waktu berjam-jam. Kebiasaan inilah yang akhirnya tingkat kesabaran sang Nabi pemimpin negeri Syam itu bisa menjaga emosinya.Kesabaran Nabi Dzulkifli benar-benar diuji ketika iblis menjelma sebagai kakek tua renta. Jika saja Nabi Dzulkifli tidak menepati janjinya untuk berpuasa di siang hari, beribadah setiap hari dan tidak marah mungkin ia akan gagal karena diprovokasi oleh iblis agar marah.

Itulah peninggalan secara psikis dari seorang nabiyullah Dzulkifli bin Ayyub alaihissalam. Peninggalan sejarah yang berupa benda hanya ditemukan sebuah segel yang usianya 2700 tahun. Di segel yang terbuat dari tanah liat yang mengeras itu terdapat nama Nabi Dzulkifli. Penemuan itu diduga peninggalan Raja Nabi Dzulkifli AS yang dipublikasikan oleh Biblical Archaeology.

 

 

 

 

 

0 comments:

Posting Komentar