Nabi Dzulkifli Kesabaran Seorang Pemimpin yang Diuji oleh Kakek Jelmaan iblis
Sepertinya
pepatah yang berbunyi, “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” itu ada benarnya
juga. Nabi Dzulkifli AS yang merupakan keturunan Nabi Ayyub ini mewarisi sikap
ayahnya dalam hal kesabaran. Kita tahu betapa sabarnya Nabi Ayyub AS atas
cobaan hidup berupa sakit kulit bertahun-tahun.
Begitupun
yang dilakukan oleh Nabi Dzulkifli ketika ia menghadapi kakek jelmaan iblis
yang datang ke tempat kerajaan Syam. Ketika itu ada seorang kakek tua yang
miskin mendatangi para penjaga kerajaan Syam pada waktu tengah hari.Walau
kondisi para penjaga kerajaan Syam yang lelah dan sedang beristirahat si kakek
tetap memaksa ingin bertemu sang raja. Padahal waktu itu sang raja sedang lelah
karena di malam harinya beliau beribadah dan siang hari berpuasa menepati janji
terhadap raja sebelumnya, Nabi Ilyasa.
Akhirnya sang
raja Nabi Dzulkifli menemui sang kakek yang mengungkapkan bahwa dirinya telah
diperlakukan tidak adil oleh rakyatnya. Kakek Jadi-jadian itu mengganggu waktu
tidur siang sang raja karena Kakek berbicara panjang lebar tentang masalahnya.
Tidak tanggung-tanggung Kakek Jadi-jadian itu mengobrol dengan Nabi Dzulkifli
hingga sore.Sang raja mengetahui masalah sengketa antar kaumnya, ia mengadakan
majelis untuk memutuskan perkara. Kakek jelmaan iblis itu diminta datang pada
majelis di sore hari. Tapi bukannya menghargai keputusan sang raja, Kakek
Jadi-jadian itu malah tidak hadir di majelis.
Di siang esok
harinya si kakek malah datang menemui sang raja. Sang raja Nabi Dzulkifli heran
kenapa si kakek tidak datang. Si kakek menceritakan kalau pihak yang
bersengketa dengannya sudah berjanji akan memberikan hak kepada si kakek.
Alasan itulah kenapa kakek tidak jadi datang ke majelis.Padahal jika mau
menghargai kakek seharusnya memberi kabar tidak datang karena suatu hal. Namun
karena kakek jelmaan setan memang ingin memancing Nabi Dzulkifli AS agar marah
sehingga sang raja pengganti itu tidak menepati janjinya.
Lebih kentara
lagi ketika si kakek tidak memikirkan kondisi sang raja yang harus tidur, ia
mengobrol lagi sampai sore. Alhasil Nabi Dzulkifli tidak punya kesempatan untuk
tidur siang karena diajak mengobrol oleh si Kakek. Kejadian ini sang raja Nabi
Dzulkifli tidak marah dengan sikap si kakek yang tidak tahu diri.Karena
persengketaan antara kakek dengan kaum negeri Syam belum selesai, sang raja
meminta kakek datang esok sore. Lagi-lagi si kakek tidak menghadiri majelis
entah karena apa. Sang raja dan penjaga yang lainnya tidak tahu kenapa.
Esok harinya
lagi di siang bolong si kakek datang ingin menjumpai lagi sang raja. Sang
penjaga kerajaan melarang siapapun masuk istana sesuai perintah sang raja. Hal
itu disebabkan kondisi sang raja Nabi Dzulkifli kelelahan dan ingin tidur siang
sejenak.Akhirnya si kakek tua gagal masuk ke istana karena dilarang sewaktu
bertemu dengan penjaga kerajaan. Si kakek dihadang para penjaga kerajaan yang
sebelumnya diperintahkan agar tidak membiarkan siapapun masuk ke istana karena
sang raja ingin tidur siang.
Dasar Kakek
itu bukan manusia biasa, ia mampu menembus batas pengamanan para penjaga. Kakek
jelmaan setan itu mencari jalan lain untuk bisa bertemu sang raja dan bertujuan
mengganggu jadwal tidur siang.Melihat pintu rumah sang raja dikunci, akhirnya
kakek merubah diri dan masuk melalui lubang pintu. Sang raja yang bertemu
dengan si kakek berkata, “Wahai fulan, bukankah aku telah bilang kepadamu,
jangan menggangguku ketika aku sedang tidur?”Selang beberapa detik kemudian
sang raja menyadari bahwa kunci rumahnya dikunci tapi kenapa si kakek ini bisa
masuk rumahnya? Baru kali itu sang raja Nabi Dzulkifli menyadari bahwa si Kakek
itu adalah jelmaan iblis.
Usaha setan
agar Nabi Dzulkifli marah pun akhirnya gagal total karena tingkat kesabaran
yang teruji. Nabi Dzulkifli sebagai seorang pengganti yang sudah janji tidak
akan marah, ia sanggup menepati janjinya.
Kisah sang
raja Nabi Dzulkifli diabadikan dalam petikan surat Alqur’an ini. “Dan (ingatlah
kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang
sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka
termasuk orang-orang yang saleh”. (Q.S. Al-Anbiya ayat 85-86).

0 comments:
Posting Komentar