Kisah Nabi Dzulkifli : Berani Menjadi Pemimpin,
Awal Mula
Kepemimpinan Nabi DzulkifliSuatu hari seorang raja di negeri Syam, tempat
dimana Nabi Dzulkifli lahir dan besar, mengumpulkan semua rakyat dengan tujuan
mencari dan menemukan seorang penerus kerajaan. Sang raja yang usianya tidak
muda lagi perlu mencar pengganti dirinya.
Di hadapan
para rakyat ia menyampaikan maksud tersebut secara terbuka. Rakyat mendengarkan
dengan seksama bahwa sang raja ingin pensiun karena sudah tua untuk memimpin
negeri Syam. Tapi apesnya sang raja tidak memiliki keturunan yang bisa
dijadikan pengganti dirinya.
Pidato raja
negeri Syam itu merupakan bentuk kegelisahan dirinya selama ini siapa yang akan
menggantikan posisi sebagai pemimpin kerajaan. Sebuah peluang menjadi bangsawan
dibuka lebar-lebar oleh Raja Syam waktu itu. Sang Raja Syam pun mempersilahkan
siapa saja yang mau menggantikan dirinya menjadi raja.
Namun
kebanyakan orang yang menghadiri pidato raja tetap saja langsung menunjukkan
kesiapan untuk menjadi raja. Kebanyakan rakyat hanya diam seribu bahasa karena
tidak mungkin sanggup memegang tanggung jawab sebesar itu yakni memimpin negeri
Syam.
Sampai saat
dimana sang raja mengajukan syarat yang sebenarnya tidak terlalu sulit. Syarat
tersebut hanya membutuhkan konsistensi dari kandidat calon raja. Sang raja
mengumumkan syarat kandidat calon raja kepada seluruh rakyat.“Siapa di antara
kamu sekalian yang sanggup berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam
harinya, juga tidak akan marah-marah, kepadanya akan saya serahkan kerajaan
ini? Karena saya sudah sangat tua,” ucap sang raja kepada rakyatnya.
Tak selang
beberapa lama hanya sepersekian detik saja sang raja mengumumkan syarat itu,
ada seorang pemuda berdiri dan mengangkat tangan kanannya. Pemuda yang berdiri
itu bernama Basyar, putra Nabi Ayyub. Ia mengatakan kepada raja dengan tegas
dan penuh percaya diri, “Hamba Sanggup!”
Namun
demikian sang raja tidak lantas mengiyakan kesanggupan Basyar untuk mendapuknya
jadi seorang raja di negeri Syam. Bukannya langsung memilih Basyar, sang raja
malah mengulang lagi pertanyaan yang sama kepada rakyat. Tentu saja seluruh
rakyat tidak merespon pertanyaan itu kecuali Basyar dan ia juga mengulang
jawaban yang sama.
Setelah sudah
tiga kali bertanya dan dijawab oleh Basyar, akhirnya sang raja merasa mantap
dan yakin bahwa sudah ada yang siap menggantikan posisi dirinya. Basyar
akhirnya didapuk menjadi seorang raja di negeri Syam waktu itu.Dari kejadian
itulah kemudian Basyar mendapat julukan sebagai “Dzulkifli”. Seorang raja dari
kalangan nabi memimpin tanah Syam dengan menegakkan keadilan seadil-adilnya.
Inilah yang
dimaksud “Dzulkifli” orang dengan ganjaran ganda. Menjadi seorang pemimpin
tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri saja. Namun menjadi seorang
pemimpin bertanggung jawab atas apa dan siapa yang dipimpinnya.

0 comments:
Posting Komentar