Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Kamis, 08 Januari 2026

kisah Nabi Daud Pertempuran Raja Thalut dan Jalut

 Pertempuran Raja Thalut dan Jalut

Berlalulah tahun-tahun yang cukup panjang dari wafatnya Musa. Setelah Nabi Musa, datanglah para nabi dan mereka telah mati dan anak-anak Israil setelah Musa telah kalah. Kitab suci mereka telah hilang, yaitu Taurat. Ketika Taurat telah   hilang   dari   dada   mereka   maka   ia   pun   tercabut   dari   tangan   mereka. Musuh-musuh   mereka   menguasai   peti   perjanjian   yang   di   dalamnya   terdapat peninggalan keluarga Musa dan Harun. Bani Israil terusir dari keluarga mereka dan   rumah   mereka.   Keadaan   mereka   sungguh   sangat   tragis.  

kisah Nabi Daud  Pertempuran Raja Thalut dan Jalut

Kenabian   telah terputus dari cucu Lawi, dan tidak tersisa dari mereka kecuali seorang wanita yang   hamil   yang   berdoa   kepada   Allah   s.w.t   agar   Dia   memberinya   anak   laki- laki. Lalu ia melahirkan anak laki-laki dan menamainya dengan nama Asymu'il yang dalam bahasa Ibrani bererti Ismail. Yakni Allah s.w.t mendengar doaku.

Ketika     anak   itu   tumbuh     dewasa,     ibunya    itu  mengirimnya ke  masjid dan menyerahkannya kepada lelaki soleh agar belajar kebaikan dan ibadah darinya. Anak   itu   berada   di   sisinya.   Pada   suatu   malam   -   ketika   ia   telah   menginjak dewasa - ia tidur, lalu ia mendengar ada suara yang datang dari sisi masjid. Ia bangun   dalam   keadaan   ketakutan   dan   mengira   bahawa   syeikh   atau   gurunya memanggilnya.        

Ia  segera    menuju     gurunya    dan    bertanya:     "Apakah    engkau memang       memanggilku?"       Guru    itu   tidak   ingin   menakut-nakutinya        maka     ia berkata:   "Ya,   ya."   Anak   itu   pun   tidur   kembali.   Kemudian   suara   itu   lagi-lagi memanggilnya   untuk   kedua   kalinya   dan   ketiga   hingga   ia   bangun   dan   melihat malaikat Jibril memanggilnya: "Tuhanmu telah mengutusmu kepada kaummu." Pada   suatu   hari,   Bani   Israil   menemui   nabi   yang   mulia   ini.   Mereka   bertanya kepadanya:       "Tidakkah     kami    orang-orang      yang    teraniaya?"    Dia   menjawab: "Benar."     Mereka     berkata:    "Tidakkah     kami    orang-orang      yang    terusir?"   Dia menjawab: "Benar." Mereka mengatakan: "Kirimkanlah untuk kami seorang raja yang    dapat    mengumpulkan         kami   di  bawah     satu   bendera     agar   kita   dapat berperang di jalan Allah s.w.t dan agar kita dapat mengembalikan tanah kita dan kemuliaan kita." Nabi mereka berkata kepada mereka dan tentu ia lebih tahu daripada mereka: "Apakah kalian yakin akan menjalankan peperangan jika diwajibkan peperangan atas kalian?"

Mereka      menjawab:       "Mengapa     kami    tidak   berperang      di  jalan   Allah    s.w.t sedangkan kami telah terusir dari negeri kami, dan anak-anak kami pun terusir serta   keadaan   kami   makin   memburuk."   Nabi   mereka   berkata:   "Sesungguhnya Allah    s.w.t   telah   mengutus     Thalut    sebagai    penguasa     bagi   kalian."   Mereka berkata:   "Bagaimana   ia   menjadi   penguasa   atas   kami   sedangkan   kami   lebih berhak mendapatkan kekuasaan itu daripadanya. Lagi pula, ia bukan seorang yang kaya, sedangkan di antara kami ada orang yang lebih kaya daripadanya."

Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t memilihnya atas kalian karena ia   memiliki   keutamaan   dari   sisi   ilmu   dan   fizik.   Dan   Allah   s.w.t   memberikan kekuasaan-Nya   kepada   siapa   pun   yang   Dia   kehendaki."   Mereka   berkata:   "Apa tanda    kekuasaa-Nya?"   Nabi      menjawab:     "Kitab   Taurat   yang   dirampas   musuh kalian akan kembali kepada kalian. Kitab itu akan dibawa oleh para malaikat dan    diserahkan    kepada     kalian.  Ini  adalah    tanda   kekuasaan-Nya."      Mukjizat tersebut benar-benar terjadi di mana pada suatu hari Taurat kembali kepada mereka.

Pembentukan   pasukan   Thalut   dimulai.   Thalut   telah   menyiapkan   tenteranya untuk   memerangi   Jalut.   Jalut   adalah   seseorang   yang   perkasa   dan   penantang yang hebat di mana tak seorang pun mampu mengalahkannya. Pasukan Thalut telah siap. Pasukan berjalan dalam waktu yang lama di tengah-tengah gurun dan gunung sehingga mereka merasakan kehausan. Raja Thalut berkata kepada tenteranya:      "Kita   akan    menemui       sungai    di  jalan.    Barang    siapa    yang meminumnya   maka   hendaklah   ia   akan   keluar   dari   pasukan   dan   barang   siapa yang tidak mengicipinya dan hanya sekadar membasahi kerongkongannya maka ia akan dapat bersamaku dalam pasukan."

Akhirnya,   mereka   mendapati   sungai   dan   sebahagian   tentera   minum   darinya dan   kemudian   mereka   keluar   dari   barisan   tentera.   Thalut   telah   menyiapkan ujian ini untuk mengetahui siapa di antara mereka yang mentaatinya dan siapa yang membangkangnya; siapa di antara mereka yang memiliki tekad yang kuat dan mampu menahan rasa haus dan siapa yang memiliki keinginan yang lemah dan mudah menyerah.

Thalut    berkata    kepada    dirinya   sendiri:  "Sekarang    kami    mengetahui     orang- orang yang pengecut sehingga tidak ada yang bersamaku kecuali orang- orang yang berani." Jumlah pasukan memang berpengaruh tetapi yang paling penting dalam pasukan adalah, sifat keberanian dan iman, bukan semata-mata jumlah dan senjata. Lalu datanglah saat-saat yang menentukan bagi pasukan Thalut. Mereka   berdiri   di   depan   pasukan   musuhnya,   Jalut.   Jumlah   pasukan   Thalut sedikit sekali tetapi pasukan Musuh sangat banyak dan kuat.

Sebahagian orang-orang yang lemah dari pasukan Thalut berkata: "Bagaimana mungkin      kita   dapat    mengalahkan      pasukan     yang   perkasa    itu?"  Kemudian orang-orang      mukmin     dari  pasukan    Thalut   menjawab:      "Yang   penting    dalam pasukan     adalah    keimanan     dan   keberanian.     Berapa    banyak    kelompok     yangsedikit   mampu   mengalahkan   kelompok   yang   banyak   dengan   izin   Allah   s.w.t."

Allah s.w.t berfirman:

"Apakah   kamu   tidak   memperhatikan   pemuka-pemuka   Bani   Israil   sesudah nabi    Musa,    yaitu  ketika   mereka     berkata    kepada    seorang    nabi   mereka: 'Angkatlah      untuk    kami   seorang     raja   agar   kami    berperang     (di  bawah pimpinannya)   dijalan   Allah.   Nabi   mereka   menjawab:   'Mungkin   sekali   jika kamu      diwajibkan      berperang,      kamu     tidak    akan    berperang.'     Mereka menjawab: 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami sesungguhnya telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.'    Maka    tatkala    perang    itu  diwajibkan     atas   mereka,     mereka    pun berpaling,   kecuali   beberapa   orang   yang   saja   di   antara   mereka.  

Dan   Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka:      'Sesungguhnya     Allah   telah   mengangkat     Thalut    menjadi    rajamu.' Mereka menjawab: 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak     mengendalikan       pemerintahan      daripadanya,     sedang    dia  pun   tidak diberi kekayaan yang banyak?' (Nabi mereka) berkata: 'Sesungguhnya Allah telah   memilihnya   menjadi   rajamu   dan   menganugerahi   ilmu   yang   luas   dan tubuh   yang   perkasa.'   Allah   memberikan   pemerintahan   kepada   siapa   yang dikehendaki-Nya.   Dan    Allah    Maha     Luas     Pemberian-Nya        lagi   Maha Mengetahui.   Dan   Nabi   mereka   mengatakan   kepada mereka:   'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan   keluarga   Harun;   tabut   itu   dibawa   oleh   malaikat.   Sesungguhnya   pada yang demikian   itu   terdapat   tanda   bagimu, jika kamu   orang   yang   beriman.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tenteranya, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum        airnya,    bukanlah      ia  pengikutku.      Dan    barang    siapa    tiada meminumnya,          kecuali    mencedok       secedok      tangan,    maka     ia   adalah pengikutku.      Kemudian      mereka    meminumnya        kecuali   beberapa     orang    di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata:

'Tak    ada   kesanggupan       kami   pada    hari   ini  untuk    melawan     Jalut   dan tenteranya' Orang-orang yang meyakini bahawa mereka akan menemui Allah berkata:      'Berapa    banyak     yang    terjadi    golongan     yang    sedikit   dapat mengalahkan   golongan   yang   banyak   dengan   izin   Allah.   Dan   Allah   berserta orang-orang yang sabar.'" (QS. al-Baqarah: 246-249)

Jalut    tampak    membawa      baju   besinya   bersama     pedangnya.     Tampaknya      ia menantang       seseorang    untuk    berlawan    dengannya.     Semua     tentera   Thalut merasa   takut   untuk   menghadapinya.   Di   saat-saat   tegang   ini,   muncullah   dari pasukan   Thalut   seorang   penggembala   kambing   yang   kecil,   yaitu   Daud.

0 comments:

Posting Komentar