Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Senin, 07 April 2025

Abul Mugits al-Husain bin Mansur al-Hallaj

 Abul Mugits al-Husain bin Mansur al-Hallaj

Nama lengkap Al-Hallaj adalah Abu al-Mughits al-Husain Bin Mansur bin Muhammad al-Baidhawi, tetapi kemudian lebih dikenal sebagai Al-Hallaj. Ia lahir pada tahun 244 H/ 858 M di Thur, salah satu desa sebelah Timur Laut Baidha’ di Persia. Mengenai sebab-sebabnya hukuman masih sekarang menjadi kontroversial. 

Abul Mugits al-Husain bin Mansur al-Hallaj

Kebanyakan orang mengemukakan bahwa sebab-sebab hukumannya dilaksanakan di karenakan ada perbedaan pemahaman dengan ulama fikih yang di lindungi oleh pemerintah. Dia dihukum bunuh dengan terlebih dahulu dicambuk, lalu disalib, kemudian dipotong kedua tangan dan kakinya, dipenggal lehernya, kemudian potongan-potongan tubuh itu dibiarkan beberapa hari, baru kemudian di bakar, serta abunya dihanyutkan di sungai Dajlah. Pada riwayat lain disebutkan bahwa saat digantung ia dipecut 1000 kali tanpa mengeluh, lalu tangan dan kakinya dipotong juga tanpa mengeluh, serta kepalanya dipancung.

Pemikiran Al-Hallaj yang sangat kontroversial yakni Hulul, Nur Muhammad, dan kesamaan semua agama. Hulul artinya Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Ajaran Al-Hallaj yang lain adalah tentang haqiqah Muhammadiyah yakni kejadian alam ini yang berasal dari nur Muhammad, menurut Al-Hallaj, bahwa Nabi Muhammad SAW terjadi dari dua wujud yaitu wujud qadim dan azali serta sebagai manusia (Nabi) Al-Hallaj mengatakan bahwa agama-agama yang ada di dunia ini pada hakikatnya sama saja, maksudnya yang di sembah sama yaitu menuju Tuhan yang Maha Esa. Abul Abbas bin Atha’ Al-Bagdadi, Muhammad bin Khafif Asy Syairazi, Ibrahim bin Muhammad An Nazarbazi, semuanya membenarkannya

 

Al-Hallaj di lahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran tenggara, pada 866M. Berbeda dengan keyakinan umum, ia bukan orang Arab, melainkan keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam.

Ketika al-Hallaj masih kanak-kanak, ayahnya, seorang penggaru kapas (penggaru adalah seorang yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya). Bepergian bolak-balik antara BaidhahWasith, sebuah kota dekat Ahwaz dan Tustar. Dipandang sebagai pusat tekstil pada masa itu, kota-kota ini terletak di tapal batas bagian barat Iran, dekat dengan pusat-pusat penting seperti BagdadBashrah, dan Kufah. Pada masa itu, orang-orang Arab menguasai kawasan ini, dan kepindahan keluarganya berarti mencabut, sampai batas tertentu, akar budaya al-Hallaj.

Menjadi guru

Usai membahas pemikirannya dengan sufi-sufi lain, banyak reaksi baik positif maupun negatif yang diterima oleh Al-Hallaj yang kemudian memberinya keputusan untuk kembali ke Bashrah. Ketika al-Hallaj kembali ke Bashrah, ia memulai mengajar, memberi kuliah, dan menarik sejumlah besar murid. Namun pikiran-pikirannya bertentangan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk, dan ayah mertuanya sama sekali tidak mau mengakuinya. Ia pun kembali ke Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di Tustar ia terus mengajar dan meraih keberhasilan gemilang. Akan tetapi, Amr al-Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama al-Hallaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Hallaj memutuskan untuk menjauhkan diri dan tidak lagi bergaul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia malah terjun dalam kancah hingar-bingar dan hiruk-pikuk duniawi.

Al-Hallaj meninggalkan jubah sufi selama beberapa tahun, tetapi tetap terus mencari Tuhan. Pada 899M, ia berangkat mengadakan pengembaraan apostolik pertamanya ke batasan timur laut negeri itu, kemudian menuju selatan, dan akhirnya kembali lagi ke Ahwaz pada 902M. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan guru-guru spiritual dari berbagai macam tradisi di antaranya, Zoroastrianisme dan Manicheanisme. Ia juga mengenal dan akrab dengan berbagai terminologi yang mereka gunakan, yang kemudian digunakannya dalam karya-karyanya belakangan. Ketika ia tiba kembali di Tustar, ia mulai lagi mengajar dan memberikan kuliah. Ia berceramah tentang berbagai rahasia alam semesta dan tentang apa yang terbersit dalam hati jamaahnya. Akibatnya ia dijuluki Hallaj al-Asrar (kata Asrar bisa bermakna rahasia atau kalbu. Jadi al-Hallaj adalah sang penggaru segenap rahasia atau Kalbu, karena Hallaj berarti seorang penggaru) ia menarik sejumlah besar pengikut, namun kata-katanya yang tidak lazim didengar itu membuat sejumlah ulama tertentu takut, dan ia pun dituduh sebagai dukun.

Setahun kemudian, ia menunaikan ibadah haji kedua. Kali ini ia menunaikan ibadah haji sebagai seorang guru disertai empat ratus pengikutnya. Sesudah melakukan perjalanan ini, ia memutuskan meninggalkan Tustar untuk selamanya dan bermukim di Baghdad, tempat tinggal sejumlah sufi terkenal, ia bersahabat dengan dua diantaranya mereka, Nuri dan Syibli.

Pada 906M, ia memutuskan untuk mengemban tugas mengislamkan orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berlayar menuju India selatan, pergi keperbatasan utara wilayah Islam, dan kemudian kembali ke Bagdad. Perjalanan ini berlangsung selama enam tahun dan semakin membuatnya terkenal di setiap tempat yang dikunjunginya. Jumlah pengikutnya makin bertambah.

Akulah Kebenaran! dan hari-hari terakhir

Tahun 913M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inilah ia mengucapkan, "Akulah Kebenaran" (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia.

Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: "Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh." Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, "Ampunilah mereka, tetapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka."

Tetapi, kata-kata ini justru mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembannya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.

Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah. Para pemimpin oposisi, yang kebanyakan adalah murid al-Hallaj, memandangnya sebagai Imam Mahdi atau juru selamat. Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial.

Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.

Al-Hallaj dipenjara selama hampir sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Baghdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.

Akhirnya, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.

Karya-karya Al-Hallaj

 

Al-Hallaj banyak meninggalkan karya-karyanya dalam beberapa bidang namun semuanya hilang, yang tinggal hanya kepingan-kepingan posa dan syair yang berserekah, ibn Nadhim sebagai seorang ahli riwatat telah mencatat karya-karya tulis (kitab-kitab), hanya 46 buah yang ditemukan, diantaranya :

Al-Ahruf al-Muhaddatsah wal al-Azaliyah wa al-Asma al-Kulliyah

Kitab Al-Wa al-Tauhid

Kitab Madh al Nabi wa al Hatsal al-A’la

Kitab Al-Abl wa al-Fana

Kitab Al-Ushul wa al-Furu’[11]

kitab Al-Shaihur Fi Naqshid Duhur,

Kita Al-Abad wa Ma’bud,

Kitab Kaifa Kana wa Kaifa Yakun,

Kitab Huwa Huwa,

Kitab Sirru al-Alam wa al-Tauhid,

Kitab Thawasin al-Azal, dan lain-lain.

Kitab-kitab itu hanya tinggal catatan, karena ketika hukuman dilaksanakan, kitab-kitab itu juga ikut di musnahkan, kecuali sebuah yang disimpan pendukungnya, yaitu Ibnu Atha’ dengan judul Thawasin al-Azal. Dari kitab ini dan sumber-sumber muridnya dapat diketahui tentang ajaran-ajaran Al-Hallaj dalam tasawuf.

 

Read More

Ibnu Shayyad yang Dianggap Dajjal

 Ibnu Shayyad yang Dianggap Dajjal 

Abu Sulaiman Al Khaththabi berkata: Sesungguhnya banyak perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan orang banyak tentang permasalahan Ibnu Shayyad (anak si pemburu). Dikarenakan begitu rumitnya permasalahan ini, maka ada yang bertanya, "Bagaimana mungkin kalau Rasulullah bisa berteman dengan orang yang mendakwakan dirinya sebagai nabi,

Ibnu Shayyad yang Dianggap Dajjal


bahkan Rasulullah SAW tinggal bersamanya di Madinah?Serta perlakuan tidak baiknya pada Nabi dan dia juga tahu tentang Ad-Dukhan, dan Nabi SAW juga berkata kepadanya, 'celakalah engkau, wahai Ibnu Shayyad. Sungguh engkau tidak akan bisa melawan takdir Tuhan kepadamu'?"

Abu Sulaiman berkata: Menurutku, persoalan ini muncul pada hari rekonsiliasi antara Nabi dengan orang-orang Yahudi dan para sekutunya. Itu terjadi setelah kedatangan Nabi di Madinah. Dalam surat perjanjian dituliskan bahwa antara Nabi dan orang-orang Yahudi harus bekerja sama dan tidak boleh saling memutuskan hubungan. Pada saat perjanjian itu, Ibnu Shayyad berada dalam hitungan kaum Yahudi.Dia juga mempraktekkan ilmu perdukunan dan nujum.

(Tentang Ad-Dukhan) yang disampaikan Ibnu Shayyad itu berasal dari syetan dan bukan berasal dari wahyu, karena dia tidak akan mempunyai kemampuan seperti nabi. Selanjutnya Nabi SAW menjawab ucapan tersebut, "Celakalah engkau, sungguh engkau tidak akan bisa melawan takdir Tuhan kepadamu?" Sedangkan apa yang diucapkan oleh syetan sebagiannya kadang-kadang benar dan sebagian lagi kadang-kadang salah.

Anak tersebut adalah putera seorang pemburu Yahudi yang tinggal di Madinah pada zaman Rasulullah SAW.Anak tersebut mempunyai sifat-sifat Al Masih Ad-Dajjal.Dia seorang peramal (dukun) dan salah satu dari dajjal yang ada.Keberadaannya membuat ragu para sahabat, bahkan bagi Rasulullah sendiri. Akan tetapi, wahyu dari Allah SWT yang menerangkan tentang anak tersebut tidak pernah turun kepada beliau SAW. Kisah anak seorang pemburu itu adalah suatu hal yang mustahil dan mencurigakan.Akan tetapi, yang jelas dia adalah salah satu dari dajjal yang ada.Wahyu juga tidak pernah turun kepada Nabi SAW (yang menerangkan tentang anak tersebut.) Bahkan beliau SAW berkata kepada Umar bin Al Khaththab ketika dia hendak membunuhnya, "Tidak ada baiknya bagi engkau untuk membunuhnya." (HR. Al Bukhari)

Dikatakan bahwa Nabi berkata kepada Umar, "Jika dia Dajjal maka engkau tidak akan berkuasa terhadapnya, dan jika dia bukan Dajjal maka tidak ada baiknya bagi engkau untuk membunuhnya." Hal itu disebabkan yang akan membunuhnya adalah Isa bin Maryam. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, kita tidak akan memperpanjang masalah ini, akan tetapi hanya menyerahkannya kepada Allah SWT.

Adapun hikmah dari permasalahan ini adalah bahwa Allah memberikan ujian kepada orang mukmin agar mereka memerangi siapa saja yang ingin menghilangkan tanda-tanda kebesaran Allah.Sesungguhnya Allah telah memberikan ujian kepada kaum Musa berupa seekor patung anak lembu.Sebagian mereka ada yang selamat dari ujian tersebut (mereka inilah orang-orang yang mendapat petunjuk) dan sebagian lainnya tidak sanggup menghadapi ujian itu.

Riwayat yang menceritakan tentang Ibnu Shayyad sangat banyak dan beraneka ragam, diantaranya menceritakan bahwa Ibnu Shayyad telah bertobat dan dia meninggal di Madinah.Sebelum dia dishalatkan, orang-orang menyingkapkan wajahnya sehingga semua orang yang ada pada saat itu dapat melihatnya.

Seseorang yang sudah tua mengatakan bahwa Jabir dan Umar telah bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan ini merupakan pendapat yang shahih, yang berbeda dengan pendapat tersebut.

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, berdasarkan pendapat Abu Dzar.

Ibnu Umar dan Ibnu Jabir mengatakan bahwa mereka kehilangan dia pada hari yang sangat panas.Hal ini berbeda dengan riwayat yang menyebutkan bahwa dia meninggal di Madinah.

Keterangan tambahan mengenai Dajjal yang menurut pendapat kami adalah Ibnu Shayyad, akan dijelaskan dalam pembahasan tentang al jassasah dalam bab berikutnya.

 

Read More

Jarak periode zaman 25 rasul di dalam AlQur’an

 Jarak periode zaman 25 rasul di dalam AlQur’an

jarak periode nabi


1.Adam

5872 - 4942 SM

2.Idris

4533 - 4188 SM

Jarak Nabi Adam dan Idris

4942-4533 = 409 tahun

2.Idris

4533 - 4188 SM

3.Nuh

3993 - 3043 SM

Jarak Nabi Idris ke Nabi Nuh

4188-3993 = 195 tahun

3.Nuh

3993 - 3043 SM

4. Hud (Huud)

2450 - 2320 SM

Jarak Nabi Nuh ke Nabi Idris

3043-2450 = 593 tahun

4. Hud (Huud)

2450 - 2320 SM

5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh)

2150 - 2080 SM

Jarak Nabi Hud ke Nabi Saleh

2320-2450 = 170 tahun

5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh)

2150 - 2080 SM

6. Ibrahim

1997 - 1822

Jarak Nabi Saleh ke Nabi Ibrahim

2080-1997 = 83 tahun

6. Ibrahim

1997 - 1822

7. Luth

1950 - 1870 SM

Nabi Ibrahim dan Nabi luth periode sejaman

7. Luth

1950 - 1870 SM

8. Ismail

1911 - 1774 SM

Nabi Luth dan Nabi Ismail periode sejaman

8. Ismail

1911 - 1774 SM

9. Ishaq (Ishak)

1897 - 1717 SM

Nabi Ismail dan Nabi Ishaq periode sejaman

9. Ishaq (Ishak)

1897 - 1717 SM

10. Ya'qub (Yakub/Israel/Israil)

1837 - 1690 SM

Nabi Ishaq dan Nabi Yaqub periode sejaman

10. Ya'qub (Yakub/Israel/Israil)

1837 - 1690 SM

11. Yusuf

1745 - 1635 SM

Nabi Yaqub dan Yusuf periode sejaman

11. Yusuf

1745 - 1635 SM

12. Syu'aib (Syuaib)

1600 - 1490 SM

Nabi Yusuf dan Nabi Syuaib

1635 SM-1600 =35 tahun

12. Syu'aib (Syuaib)

1600 - 1490 SM

13. Ayub (Ayyub)

1540 - 1420 SM

Nabi Syuaib dan Nabi Ayub periode sejaman

 

13. Ayub (Ayyub)

1540 - 1420 SM

14. Harun

1531 - 1408 SM

Nabi Ayub dan Nabi Harun periode sejaman

14. Harun

1531 - 1408 SM

15. Musa

1527 - 1407 SM

Nabi Harun dan Nabi Musa periode sejaman

15. Musa

1527 - 1407 SM

16. Dzulkifli (Zulkifli)

1500 - 1425 SM

Nabi Musa dan Nabi Dzulkifli periode sejaman

16. Dzulkifli (Zulkifli)

1500 - 1425 SM

17.Nabi Daud

1063 - 963 SM

Jarak Nabi Dzulkifli dan Nabi Daud

1425-1063 = 362 tahun

17.Nabi Daud

1063 - 963 SM

18. Sulaiman (Sulaeman)

989 - 923 SM

Jarak Nabi Daud dan Nabi Sulaiman periode sejaman

18. Sulaiman (Sulaeman)

989 - 923 SM

19. Ilyas

910 - 850 SM

Jarak Nabi Sulaiman dan nabi ilyas periode sejaman

19. Ilyas

910 - 850 SM

20. Ilyasa'

885 - 795 SM

Jarak Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa’periode sejaman

20. Ilyasa'

885 - 795 SM

21. Yunus (Yunan)

820 - 750 SM

Jarak Nabi Ilyasa’ dan nabi Yunus periode sejaman

21. Yunus (Yunan)

820 - 750 SM

22. Zakaria (Zakariya)

91 SM - 31 M

Jarak Nabi Yunus dan Nabi Zakaria

750 SM-91 SM=659 tahun

22. Zakaria (Zakariya)

91 SM - 31 M

23. Yahya

1 SM - 31 M

Nabi Zakariya dan Nabi Yahya periode sejaman

23. Yahya

1 SM - 31 M

24. Isa

1 SM - 32 M

Nabi Zakaria dan Nabi Isa periode sejaman

24. Isa

1 SM - 32 M

25. Muhammad

570 - 632 M

Jarak Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw

570-32 =538

Jarak terpanjang periode kenabian terdapat pada Nabi Yunus dan Nabi Zakaria yaitu 659 tahun sedang umat nabi yang paling panjang adalah umat Nabi Muhammad Saw ketika tulisan ini dibuat periode nabi Muhammad Saw telah memasuki 1400 tahun lebih

Jika kita katakan saat ini kita sudah memasuki akhir zaman hal itu sangat wajar karena kita adalah umat nabi yang terakhir dan masa itu telah menjadi yang terpanjang

Read More

Minggu, 06 April 2025

analisa usia rasul di jaman tertentu

1.Adam

930 tahun

5872 - 4942 SM

2.Idris

345 tahun

4533 - 4188 SM

3.Nuh

950 tahun

3993 - 3043 SM

analisa usia rasul di jaman tertentu


Usia rasul pada era di atas 200 tahun

1.Adam

930 tahun

5872 - 4942 SM

2.Idris

345 tahun

4533 - 4188 SM

3.Nuh

950 tahun

3993 - 3043 SM

 Usia rasul pada era di atas 100 tahun

 

4. Hud (Huud)

130 tahun

2450 - 2320 SM

5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh)

70 tahun

2150 - 2080 SM

6. Ibrahim

175 tahun

1997 - 1822 SM

7. Luth

80 tahun

1950 - 1870 SM

8. Ismail

137 tahun

1911 - 1774 SM

9. Ishaq (Ishak)

180 tahun

1897 - 1717 SM

10. Ya'qub (Yakub/Israel/Israil)

147 tahun

1837 - 1690 SM

11. Yusuf

110 tahun

1745 - 1635 SM

12. Syu'aib (Syuaib)

110 tahun

1600 - 1490 SM

13. Ayub (Ayyub)

120 tahun

1540 - 1420 SM

14. Harun

123 tahun

1531 - 1408 SM

15. Musa

120 tahun

1527 - 1407 SM

16. Dzulkifli (Zulkifli)

75 tahun

1500 - 1425 SM

 

4. Hud (Huud)

130 tahun

2450 - 2320 SM

5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh)

70 tahun

2150 - 2080 SM

6. Ibrahim

175 tahun

1997 - 1822 SM

7. Luth

80 tahun

1950 - 1870 SM

8. Ismail

137 tahun

1911 - 1774 SM

9. Ishaq (Ishak)

180 tahun

1897 - 1717 SM

10. Ya'qub (Yakub/Israel/Israil)

147 tahun

1837 - 1690 SM

11. Yusuf

110 tahun

1745 - 1635 SM

12. Syu'aib (Syuaib)

110 tahun

1600 - 1490 SM

13. Ayub (Ayyub)

120 tahun

1540 - 1420 SM

14. Harun

123 tahun

1531 - 1408 SM

15. Musa

120 tahun

1527 - 1407 SM

16. Dzulkifli (Zulkifli)

75 tahun

1500 - 1425 SM

 Usia rasul pada era di bawah 100 tahun

 

17. Daud (Dawud)

100 tahun

1063 - 963 SM

18. Sulaiman (Sulaeman)

66 tahun

989 - 923 SM

19. Ilyas

60 tahun

910 - 850 SM

20. Ilyasa'

90 tahun

885 - 795 SM

21. Yunus (Yunan)

70 tahun

820 - 750 SM

22. Zakaria (Zakariya)

122 tahun

91 SM - 31 M

23. Yahya

32 tahun

1 SM - 31 M

24. Isa

33 tahun

1 SM - 32 M

25. Muhammad

62 tahun

570 - 632 M


17. Daud (Dawud)

100 tahun

1063 - 963 SM

18. Sulaiman (Sulaeman)

66 tahun

989 - 923 SM

19. Ilyas

60 tahun

910 - 850 SM

20. Ilyasa'

90 tahun

885 - 795 SM

21. Yunus (Yunan)

70 tahun

820 - 750 SM

22. Zakaria (Zakariya)

122 tahun

91 SM - 31 M

23. Yahya

32 tahun

1 SM - 31 M

24. Isa

33 tahun

1 SM - 32 M

25. Muhammad

62 tahun

570 - 632 M

Catatan : Tulisan ini hanya sebagai analisa dan patokan kita sebagai umat nabi ajal dan kematian tetap berada pada kuasa Allah Swt


Read More