Dalam Al-Quran, Allah SWT menggambarkan sakaratul maut sebagai kondisi yang sangat berat, bahkan bagi orang yang paling taat sekalipun. Sebagaimana disebutkan dalam surat Qaf ayat 19: "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu berusaha menghindarinya." (QS. Qaf: 19)
Kematian
akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali
dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai
sakaratul maut.
Ibnu Abi
Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata:
اَلْمَوْتُ
أَفْظعُ هَوْلٍ فِي الدُنيَا والآخِرَةِ عَلَى الْمُؤمِنِ ، وَهُوَ أَشَدُّ مِن نَشْرِ
المَنَاشِيرِ وَقَرضٍ بِالمَقَارِيضِ وَغَليٍ فِي القُدُورِ ، وَلَو أَنَّ المَيِّتَ
نُشِرَ فَأَخبَرَ أَهلَ الدُّنيَا بِالمَوتِ مَا انتَفَعُوا بِعَيشٍ وَلَا لَذُّوا
بِنَومٍ
“Kematian
adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang
beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting,
panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan
menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni
dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya“[
كَلآ
إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ {26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ
{28} وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ {29} إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ
“Sekali-kali
jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan
dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa
sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan).
Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau“. [Al Qiyamah/75: 26-30]
Dari Anas
Radhiyallahu anhu, berkata:
عَنْ
أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ
فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي
ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ
“Tatkala
kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu
ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…”
Dalam
riwayat Tirmidzi dengan, ‘Aisyah menceritakan:
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ
شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخرجه الترمذي ك
الجنائز باب ما جاء في التشديد عند الموت وصححه الألباني
“Aku tidak
iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan
kematian pada Rasulullah“.
Dan
penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk.
Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: ” كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ
= Setiap jiwa akan merasakan mati“. (Ali ‘Imran/3: 185). Dan sabda Nabi: ” إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
= Sesungguhnya kematian ada kepedihannya“. Namun tingkat kepedihan setiap orang
berbeda-beda.
Kabar
Gembira Untuk Orang-Orang yang Beriman.
Orang yang
beriman, ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat yang mendatangi
orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik lagi
menggembirakan. Dalilnya, hadits Al Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang proses kematian
seorang mukmin:
إِنَّ
الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ
الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ
وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ
الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ
عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ
الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ
تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا
لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي
ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ
مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ
“Seorang
hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka
malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka
mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari syurga, serta hanuth
(wewangian) dari syurga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang.
Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata:
“Wahai jiwa yang baik –dalam riwayat- jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan
Allah dan keridhaannya”. Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut
kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya.
Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya
(malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan
hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi.
Malaikat
memberi kabar gembira kepada insan mukmin dengan ampunan dengan ridla Allah
untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat
menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan
sedih serta membawa berita gembira tentang syurga. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا
بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا
مَاتَدَّعُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah,
maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu
bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat
di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di
dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang“. [Fushshilat/41: 30]
Ibnu Katsir
mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah
semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para
malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan
berkata “Janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk
akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan,
baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam
perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya
kejelekan dan turunnya kebaikan“.
Kemudian
Ibnu Katsir menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada
saat kematian, di alam kubur, dan pada hari Kebangkitan”. Dan mengomentarinya
dengan: “Tafsiran ini menghimpun seluruh tafsiran, sebuah tafsiran yang bagus
sekali dan memang demikian kenyataannya”.
Firman-Nya:
“Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat maksudnya para malaikat
berkata kepada orang-orang beriman ketika akan tercabut nyawanya, kami adalah
kawan-kawan kalian di dunia, dengan meluruskan, memberi kemudahan dan menjaga
kalian atas perintah Allah, demikian juga kami bersama kalian di akhirat,
dengan menenangkan keterasinganmu di alam kubur, di tiupan sangkakala dan kami
akan mengamankan kalian pada hari Kebangkitan, Penghimpunan, kami akan
membalasi kalian dengan shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju
kenikmatan syurga”[9].
Dalam ayat
lain, Allah mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan
firman-Nya:
الَّذِينَ
تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا
الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“(Yaitu)
orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan
mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”,
masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan“.
[An-Nahl/16: 32]
Syaikh Asy
Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang
bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan
diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan
thayyibin (baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran
yang paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi
mereka mereka dengan salam
Mengapa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menderita Saat Sakaratul Maut?
Kondisi umum
proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang
derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk
menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami
Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya
sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits ‘Aisyah di atas.
Ibnu Hajar
mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan
petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman
bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya”[11]
Menurut Al
Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka
mengandung manfaat :
Supaya
orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak
kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak
ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia
berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang
terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang
dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan
kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan
kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan
kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.
Mungkin akan
terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para
nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal
Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling
berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka
dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits
ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk
melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan
sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup
hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi
(kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan
memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah
mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang
bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk
kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”
Orang yang
meninggal dalam Khusnul khatimah akan dicabut nyawanya oleh malaikat dengan
lemah lembut. Seperti disebutkan dalam Al-Qur'an surat An- Naziat ayat
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu
melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut,
sedangkan para malaikat memukuli dengan tangannya (sambil berkata),
“Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat
menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang
tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya,”(QS Al-An‘am: 93)"
Sakaratul
Maut bagi ahli maksiat
Sebaliknya, pendosa
atau kafir akan mendapat kunjungan dari sesuatu yang menunjukkan tempat
untuknya yang buruk.
مسند أحمد ١١٦٠٥: حَدَّثَنَا ابْنُ
أَبِي عَدِيٍّ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ
لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قُلْنَا يَا
رَسُولَ اللَّهِ كُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ كَرَاهِيَةَ
الْمَوْتِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ الْبَشِيرُ مِنْ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ
أَنْ يَكُونَ قَدْ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ
وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَوْ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ بِمَا هُوَ صَائِرٌ
إِلَيْهِ مِنْ الشَّرِّ أَوْ مَا يَلْقَاهُ مِنْ الشَّرِّ فَكَرِهَ لِقَاءَ
اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
Anas bin Malik bin An
Nadlir bin Dlamdlom bin Zaid bin Haram berkata bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, "Siapa pun senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang
bertemu dengannya. Siapa pun tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah
tidak senang bertemu dengannya."
Para sahabat bertanya,
"Wahai Rasulullah, kami semua tidak menyukai kematian?" Rasulullah
SAW bersabda, "Bukan itu yang aku maksud, tetapi seorang yang beriman
apabila menghadapi sakaratul maut, maka seorang pemberi kabar gembira utusan
Allah datang menghampirinya seraya menunjukkan tempat kembalinya, hingga tidak
ada sesuatu yang lebih dia sukai kecuali bertemu dengan Allah. Lalu Allah pun
suka bertemu dengannya."
"Adapun orang yang
banyak berbuat dosa atau orang kafir, apabila telah menghadapi sakaratul maut,
datang seseorang dengan menunjukkan tempat kembalinya yang buruk atau apa yang
akan dijumpainya berupa keburukan. Maka itu membuatnya tidak suka bertemu
Allah, hingga Allah pun tidak suka bertemu dengannya." (Musnad Ahmad).
"Alangkah dahsyatnya
sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam tekanan
sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukuli dengan tangannya (sambil
berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang
sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan)
yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya,”(QS Al-An‘am: 93)"
Sedangkan pada ayat 93 Surat al-An'am, Ibnu Katsir mengatakan bahwa
firman Allah: "Dan jika kamu melihat tatkala orang-orang zalim itu berada
dalam kedahsyatan maut, yakni tengah sakratul-maut" dan bencananya, sedang
para malaikat membentangkan tangan-tangannya, keluarkanlah nyawa-nyawa kalian,
yakni, para malaikat memukul mereka hingga nyawa mereka keluar dari jasadnya.
Hal itu karena apabila orang kafir sekarat, maka
para malaikat menyambutnya dengan azab, bencana, belenggu, neraka jahim, air
yang bergolak, dan kemurkaan yang dahsyat serta hebat, lalu nyawa si kafir itu
membandel, berpindah-pindah dalam tubuh si kafir dan menolak untuk keluar. Lalu
para malaikat pun memukul mereka hingga nyawa kaum kafir keluar dari tubuhnya.
Orang mati syahid
orang
yang mati syahid tidak merasakan sakitnya sakaratul maut. Sakaratul maut bagi
para syuhada terasa ringan, seperti digigit semut atau dicubit. Sakaratul maut
terasa ringan bagi orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid diberikan
empat keistimewaan, yakni tidak merasakan sakitnya sakaratul maut, tidak
merasakan azab kubur, tidak merasakan hisab, dan langsung masuk surga.

0 comments:
Posting Komentar