Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Jumat, 26 Juni 2026

Kitab Qothr al-Ghoits

 

Kitab Qothr al-Ghoits

berisi tentang : Dari Imannya Anak Kecil, Orang yang Sakaratul Maut, hingga Ahli Makrifat

Karya :  Imam Abu Laits

ada enam rukun iman yang terkait dengan hakikat iman. Keenam rukun itu ialah beriman pada Allah Swt., malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasal-Nya, hari kiamat, dan percaya bahwa baik-buruknya takdir merupakan kehendak dari-Nya.

Kitab Qothr al-Ghoits


Rukun iman ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Sayidina Umar a.s. atau hadis riwayat Imam Bukhori dari Abu Hurairah ra. Hadis tersebut berisi tentang kedatangan Jibril a.s. yang menyamar jadi manusia dan menanyai Nabi Muhammad Saw. mengenai hakikat Islam, iman, dan ihsan. Hadis ini termaktub dalam kitab Arbain an-Nawawiyah yang biasa dikaji dan dihafalkan di pesantren.

Syekh Nawawi menjelaskan, beriman pada Allah Swt. ialah membenarkan adanya Allah Swt. dengan sifat-sifat wajib yang melekat pada-Nya dan percaya bahwa mukmin bisa melihat-Nya di hari kiamat kelak. Beriman pada malaikat-Nya berarti percaya akan wujud mereka dan percaya bahwa mereka merupakan hamba-hamba Allah Swt. yang dimuliakan.

Sedangkan beriman pada rasul-rasul-Nya, berarti percaya ke-ber-ada-an mereka di masa lalu dan merupakan sosok-sosok jujur dalam menyampaikan wahyu Allah Swt. Beriman juga berarti percaya akan adanya kebangkitan dari kubur kelak.

Imannya Anak Kecil dan Orang yang Sakaratul Maut

Bagaimana dengan imannya anak kecil atau anak yang belum baligh? Jamak diketahui, anak-anak yang belajar agama biasanya sudah diajarkan dan disuruh untuk menghafal rukun-rukun iman. Tapi, biasanya hal itu hanya sebatas hafalan belaka.

Namanya anak kecil, mereka belum bisa memahami secara utuh apa yang dimaksud dengan rukun-rukun iman yang dihafalkan. Apakah keimanan mereka saat belum benar-benar bisa memahami itu sudah dianggap sah?

Syekh Nawawi menjelaskan, konsekuensi dari iman adalah mengerti penjelasan-penjelasan turunan dari rukun iman dan membenarkannya. Jadi, iman yang hanya berdasarkan hafalan sebenarnya belum bisa dihukumi iman yang sesungguhnya. Anak-anak kecil itu nantinya ketika baligh, mesti memahami dan merenungi sendiri rukun-rukun iman yang sudah dihafalnya, dan harus sampai pada kesimpulan untuk benar-benar mengimaninya.

Tentu, tidak ada salahnya mengajari anak-anak mengenai rukun iman. Apa yang dilakukan oleh kiai-kiai langgar atau ustazah-ustazah di TPA sebagaimana umumnya sudah benar. Sejak dini, anak-anak kecil mesti dikenalkan pada rukun iman. Namun yang menjadi PR bersama adalah mengawal anak-anak itu untuk sampai pada keyakinan yang sebenarnya dalam memercayai rukun-rukun iman ketika dewasa.

Selain imannya anak kecil, Syekh Nawawi juga menyinggung mengenai imannya orang dalam keadaan sakaratul maut atau beliau menyebutnya “imannya seseorang yang dalam keadaan putus asa”. Sakaratul maut, kata beliau, memungkin seseorang untuk melihat tempatnya kelak: apakah di surga atau neraka.

Iman dalam keadaan seperti ini, yakni saat sudah tahu tempatnya di surga atau neraka kelak, tidak bisa diterima. Hal ini karena tidak adanya usaha untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah Swt

Keterangan bahwa seseorang akan melihat tempatnya di surga atau neraka saat sakaratul maut, bersumber dari hadis Nabi saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya hamba tidak akan mati, sampai ia melihat tempatnya di surga atau neraka.”

Adapun orang yang baru iman di masa-masa akhir hidupnya, selagi nyawanya masih ada, iman dan taubatnya bisa diterima. Hal ini juga berdasar hadis Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda, “Taubat diterima bagi hamba mukmin selagi nyawanya belum keluar darinya.”

Jenis-Jenis Iman

Iman menurut Syekh Nawawi dibagi menjadi tiga bagian: iman taqlidy, iman tahqiqy, dan iman istidlaly. Iman taqlidy ialah meyakini keesaan Allah Swt. berdasarkan ucapan ulama tanpa adanya argumentasi jelas. Iman yang seperti ini rawan dihinggapi keguncangan dan keragu-raguan. Iman jenis ini biasanya dimiliki oleh orang awam. Namun, iman taqlidy tetap sah sejauh seseorang tergolong mampu untuk mencari dalil sendiri. Dan, jika tidak mau melakukan pencarian dalil, maka ia terbilang bermaksiat.

Iman tahqiqy adalah melipat atau melenturkan hati atas keesaan Allah Swt. Contoh dari iman jenis ini adalah ketika ada ahlul ilmi yang berbeda pendapat dengan apa yang diyakini hatinya, tidak ada kegamangan dalam dirinya. Iman tahqiqy biasanya dimiliki oleh para ahli makrifat dan hakikat. Mereka beriman berdasar pembuktian melalui bashirah atau mata hatinya, maka mustahil mereka terperosok dalam kesalahan.

Sedangkan iman istidlaly adalah mencari dalil atau bukti dari makhluk, mengenai wujudnya Khalik, dan dari jejak-jejak yang diperlihatkan-Nya. Mustahil (muhal) segala ciptaan dalam alam raya ini terwujud begitu saja tanpa ada Dzat yang menciptakan, yaitu Allah Swt. Iman jenis ini biasanya dimiliki oleh orang-orang ahli kalam.

 

 

 

0 comments:

Posting Komentar