Mushola Al-Islah Jl leces no.7 Sonosari Kab.Malang kumpulan doa rezeki,kumpulan doa tasawuf,makrifat,bahasa arab,sejarah kerajaan islam,sejarah kerajaan indonesia,sejarah kebudayaan islam

Sabtu, 13 Juli 2024

asmaul husna Allah اَللّٰهُ

 Allah adalah sebuah kata yang mengandung sifat yang mulia dan agung, Allah adalah nama bagi Zat yang Maha Tinggi dan Maha Pencipta, nama ini menunjukan keesanNya karena nama itu tidak bisa digunakan untuk jenis laki-laki atau perempuan seperti juga tidak dapat di pakai dua atau lebih. Maha suci Allah Tuhan yang ESA, dengan menyebut nama-namaNya hati kita akan menjadi khusu' dan tenang, Allah adalah nama yang tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh-Nya kita tidak akan mendapatkan satupun kecuali oleh-Nya kita tidak akan mendapatkan satupun  dari makhluk-Nya yang bernama Allah, karena Dialah pemilik tunggal nama ini, nama yang menyimpan keagungan  dan kemuliaan.

asmaul husna Allah
Asmaul husna Allah


اَللّٰهُ   

Allah = Tuhan

Artinya :

Lafal ini disebut “Lafal jalalah “ atau Ismudz Dzat yaitu yang memiliki pengertian dari seluruh nam-nama Allah yaitu Tuhan yang wajib kita sembah, yang tak ada lain kecuali Dia. Dialah yang wajib kita puji Dialah yang menciptakan langit dan bumi serta yang ada di dalamnya Dialah yang benar-benar Maha Kuasa di atas segala-galanya

a. Disegani Orang Lain

jika kita ingin menjadi orang yang disegani dan dipatuhi oleh orang lain, jadikanlah asma ini sebagai dzikir dalam kondisi apa saja baik saat berjalan, duduk, tiduran dan sebagainya. insya Allah kita akan menjadi orang yang ditaati dan disegani oleh semua orang, tak seorangpun memandang kita, kecuali ia akan menghormati dan memuliakan kita

b. Terhindar dari cuaca dingin dan panas

jika kita merasa terganggu dengan datangnya musim dingin atau musim panas, sehingga membuat kondisi kesehatan kita bermasalah, saat kita merasa kedinginan atau kepanasan bacalah asma ini dengan hati yang khusuk secara berulang-ulang. insya Allah,cuaca yang tidak bersahabat tersebut tidak akan mempengaruhi kita

C. Segala hajat tercapai

jika kita memiliki suatu hajat dan kita ingin hajat kita cepat terkabul lakukanlah shalat 2 rakaat pada malam hari atau shalat Tahajjud kemudian bacalah asma ini sebanyak 500 kali setiap malam. insya Allah dalam waktu dekat, apa yang kita hajatkan akan segera tercapai Dzikir ini sangat cocok diamalkan,terutama oleh orang yang memiliki nama Abdullah atau Muhammad

( sumber: Syamsul Maarif )

jl leces sonosari kebonagung



Read More

Selasa, 09 Juli 2024

AL-WADUUD

AL-WADUUUD (YANG MAHA MENGASIHI) mengisyaratkan bahwa Allah adalah pemilik tunggal dan kasih sayang yang abadi, Allah mencintai hamba-hambaNya dan senatiasa bersikap lemah lembut kepada mereka yang taat, Allah lah yang telah mengabulkan doa-doa mereka, mendengarkan doa-doa mereka, keluhan-keluhan mereka, juga menunjukan jalan untuk mendekankan diri kepada-Nya Allah lah yang Maha mengetahui segala perbuatan hamba-hambaNya baik yang terlihat maupun yang tersembunyi dan Allah la yang mengampuni perbuatan hambaNya yang melakukan perbuatan tercela 

Allah berfirman  dalam (Qs:Maryam 96)

اِنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجۡعَلُ لَهُمُ الرَّحۡمٰنُ وُدًّا‏ ٩٦

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).

Allah juga berfirman dalam (QS: Al-Buruuj 14-16)

وَهُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُۙ‏ ١٤

Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih,

ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِيۡدُ ۙ‏ ١٥

Yang memiliki Arasy, lagi Mahamulia,

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيۡدُ ؕ‏ ١٦

Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.

Kasih sayang adalah inti terendah dari sebuah cinta Allah adalah kekasih para hamba-Nya karena Allah telah menciptakan mereka dan membekali rezeki. Allah jugalah yang selalu berbuat baik kepada hamba-hamban-Nya meskipun diantara mereka ada yang berbuat kejelekan, Semua itu karena Allah Maha Pengampun dan Maha Luas kasih sayang-Nya

khasiat asmaul husna Ya Waduud


jangan sekali-kali menggunakan amalan-amalan ini untuk kemaksiatan atau merugikan orang lain, hendaklah semata-mata demi kebaikan

   Dan penting sekali, sebelum mengamalkan apa saja yang  tercantum dalam artikel ini hendaklah membaca “Surat Al-Fatihah” dihadiahkan kepada

  •       Nabi Muhammad SAW
  •       Para Sahabat Beliau
  •        Waliyullah Syceh Abdul Qadir Al Jailani
  •       Dan di khususkan kepada Asyech Ahmad Ad Dairabiy

Juga untuk mengamalkan  Asmaa Ya Waduud , hendaklah terlebih dahulu membaca kalimat  di bawah ini

لَااِلٰهَ اِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلملْكُ وَلَهُ اْحمْدُ بِيَدِ هِ اْلخَيْرُ وَهُوَعَلٰا كُلّ شَئٍ قَدِيْرٌ. لَااِلٰهَ اِلَّاهُوَ لَهُ اْلاَسْمَاءُ اْلحُسْنَى

“LAA ILAAHA ILLALAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKALAHU MULKU WA LAHULHAMDU BI YADIHIL KHAIR, WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIIR LAA ILAAHA ILLAA HUWA LAHUL ASMAAUL HUSNAA”

“Tidak ada Tuhan melainkan Allah Maha Esa Dia tidak ada sama sekali sekutu bagiNya, bagiNya seluruh kerajaan dan bagiNya segala puji di tangan Nya segala kebaikan dan Dia terhadap sesuatu sangart berkuasa. Tidak ada Tuhan 

melainkan Dia, bagiNya pula nama-nama yang baik”



 اَلْوَدُوْدُ

 Al Waduud = Yang Maha Mengasihi

Artinya 

Dialah Dzat yang amat mencintai para wali-waliNya yaitu orang-orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya

 

Khasiatnya 

-Jika anda sebagai seorang pedagang makanan membuka warung makan atau restoran di mana anda bermaksud agar warung makan anda mendapat perhatian para langganan dan menarik para pembeli maka mohonlah kepada Allah dengan membaca “Yaa Waduudu” sebanyak 1000 kali sebelum makanan itu dihidangkan kepada para pembeli atau pelanggan dan sebelum membuka restoran atau warung makan anda insya Allah akan berhasil

-Jika anda seorang ahli qasidah menginginkan agar dapat memberikan daya tarik kepada pendengar maka bacalah “Yaa Waduudu” sebanyak 1000 kali setiap malam insya Allah berkat pertolonganNya menjadi banyaklah penggemar anda dan anda menjadi tenar


سُبْحَانَ مَنْ لَهُ اْلاَ سْمَآ ءُاْلحُسْنٰى وَالصِفَا تُ اْلعُلْيَا سُبْحَا نَهُ وَتَعَالٰى عَمَّا يَقُوْلُ الظَّا لِمُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْرًا

“SUBHAANA MAN LAHUL ASMAAUL HUSNAA WASHIFAATUL ‘ULYAA SUBHAAANAHU WA TA’ ALA’AMMAA YAQUULUDLDLAALIMUUNA ‘ULUWWAN KABIIRAA”

“Maha Suci Tuhan Yang bagiNya Mempunyai Nama-nama Yang Bagus, dan Sifat-sifat yang Luhur Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang orang-orang dlalim mengatakan dengan Ketinggian yang setinggi-tinggiNya”

   Sesudah membaca kalimat seperti diatas, lalu kita berdo’a kepada Allah akan segala yang kita hajatkan dengan penuh pengharapan, tawakkal dan tawadlu’ insya Allah Tuhan akan mengabulkan permintaan kita.


Download Asmaul Husna Yaa Waduud

Yaa Waduud

jl leces sonosari


Read More

Jumat, 05 Juli 2024

Doa awal tahun dan akhir tahun dan amalan bulan Muharram

 Doa awal tahun dan akhir tahun hijriah dan amalan bulan Muharram

Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai bulan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”. Sebenarnya kejadian hijrah Rasulullah tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Shafar dan sampai di Yastrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul awal. Adapun pemahaman bulan Muharram sebagai bulan Hijrah Nabi, karena bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam kalender Qamariyah yang oleh Umar bin Khattab, yang ketika itu beliau sebagai khalifah kedua sesudah Abu Bakar, dijadikan titik awal mula kalender bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijriah.

Tahun baru hijriyah diperingati dengan maksud agar umat Islam mampu mengambil i’tibar (pelajaran) dari peristiwa tersebut, baik i’tibar secara tekstual maupun secara kontekstual (maknawi). Secara tekstual, peristiwa sejarah hijrah mengandung makna bahwa umat Islam bisa melakukan perjalanan fisik dari satu daerah ke daerah lain. Hijrah fisik menjadi pilihan manakala di tempat lama umat Islam kesulitan mengembangkan inovasi, kreasi dan membangun peradabannya.

doa awal tahun dan akhir tahun amalan bulan muharram

Memang kita bisa merasakan bedanya peristiwa penyambutan tahun baru Masehi dan tahun baru Islam (Hijriah). Tahun baru Islam disambut biasa-biasa saja, jauh dari suasana meriah, tidak seperti tahun baru Masehi yang disambut meriah termasuk oleh masyarakat muslim sendiri. Sebagai titik awal perkembangan Islam, seharusnya umat Islam menyambut tahun baru Islam ini dengan semarak, penuh kesadaran sambil introspeksi, merenungkan apa yang telah dilakukan dalam kurun waktu setahun yang telah berlalu.

doa akhir tahun
Doa akhir tahun

Artinya: Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. (Ya Allah) Apa yang aku lakukan di tahun kemarin yang Engkau tidak ridhoi, yang aku telah lupa sedangkan Engkau tidak pernah lupa, yang Engkau bersifat lembut kepadaku meskipun Engkau mampu untuk menghukumku, Engkau mengajakku untuk bertaubat setelah kekurang-ajaranku kepada-Mu, (Ya Allah) Aku memohon ampun kepada-Mu atasnya dan Ampunilah aku. (Ya Allah) Apa yang aku lakukan yang Engkau ridhoi, yang Engkau janjikan bagiku pahala atasnya serta pengampunan, Terimalah itu dariku. Janganlah Engkau memutus pengharapanku dari-Mu. Wahai Yang Mahamulia, Wahai Yang Maha pengasih di antara pengasih. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.

Doa Awal Tahun

doa awal tahun

Artinya: Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pennyayang. Segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Ya Allah) semoga engkau limpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad sengan shalawat yang memenuhi khizanah Allah dengan cahaya. Dan yang menjadi jalan keluar, kebahagiaan dan kesenangan bagi kami dan orang yang beriman. Limpahkan pula kepada kelurga serta sahabatnya serta keselamatan dengan keselamatan yang banyak. (Ya Allah) Engkau yang Maha Abadi, Kekal dan Maha Awal. Di atas anugrah-Mu yang agung serta kedermawan-Mu yang mulia yang menjadi sandaran. Ini adalah tahun yang baru tengah datang. Aku memohon kepada-Mu di dalamnya dari setan dan para pembantunya. Aku juga memohon pertolongan untuk menghadapi nafsu yang selalu memerintahkan keburukan. Aku memohon agar disibukan dengan apa yang dapat mendekatkan diriku kepada-Mu. Wahai Pemilik Pengagungan dan Penghormatan. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

Amalan Hari Tasua dan Asyura

A.  Puasa Tasua merupakan puasa sunnah yang bisa dikerjakan pada tanggal 9 Muharram . Ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasua:

1. Untuk menyambung puasa hari Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja.

2. Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.

3. Untuk membedakan dengan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.

niat puasa tasua

"Nawaitu sauma tasu'a sunnatal lillahita’ala"

Saya niat puasa hari tasua, sunnah karena Allah ta’ala.

      B.Sedangkan Puasa Asyura ditunaikan pada tanggal 10 Muharram. Puasa Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa. Tiga di antara keutamaan Puasa Asyura adalah sebagai berikut.

1. Puasa Asyura (juga puasa Tasua) merupakan puasa yang dikerjakan di bulan Muharram. Puasa di bulan Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.

2. Puasa Asyura merupakan puasa yang istimewa bagi Rasulullah dan sangat diutamakan beliau. Ibnu Abbas menerangkan, tidak ada puasa sunnah yang lebih diutamakan Rasulullah melebihi Puasa Asyura.

3. Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.

Dalam mazhab Syafi’i, lafal niat Puasa Asyura sebagai berikut:

niat puasa asyura

Nawaitu shouma fii yaumi aasyuuroo’ sunnatan lillaahi ta’aalaa

saya niat puasa sunnah asyura sunnah karena Allah Ta’ala.

Doa Pada Malam Asyura’

amalan hari asyura

Membaca doa di bawah ini sebanyak tiga kali :

memelihara pengamalnya dalam setahun tersebut dari hal-hal yang ia benci.

doa hari asyura

Do’a Panjang umur

doa panjang umur

Ya Allah kami memohon kepadamu umur yang panjang yang selalu digunakan untuk taat kepadamu dan akhirilah umur kami dengan perbuatan yang baik

Doa Hari Asyura (10 Muharram)

doa hari asyura
doa hari asyura

Allaaamumma yaa mufarrija kulli karbin, wa yaa mukhrija zhi-nuuni yauma 'asyuuraa', wa yaa jaami'a syamsil Ya'quuba yauma 'asyuuraa', wa yaa gafiira zhambi Daawuuda yauma 'asyuuraa', wa yaa kaasyifa dzhurri Ayyuuba yauma 'asyuuraa', wa yaa saami'a da'wati Muusaa wa Haaruuna yauma 'asyuuraa', wa yaa khaaliqa ruuhi Muhammadin shallallaahu 'alaihi wa sallama yauma 'asyuuraa'. Yaa rahmaanad -dun-yaa wal-aakhirah, wa atil 'umrii fii taa'atika wa mahabbatika wa ridhaka ya arhamar-raahimiin, wa ahyinii hayaatan tayyibataw wa tawaffanii ‘alal-islaami wal-iimaani yaa arhamar-raahimiin. Wa sallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadiw wa 'alaa aalihii wa sahbihii wa sallam, wal-hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin.

Artinya: "Ya Allah, wahai Yang memberikan jalan keluar dari segala kesusahan, wahai Yang mengeluarkan  Zun Nun pada hari Asyura, wahai Yang menghimpun semua keturunan Ya’qub pada hari Asyura, wahai Yang mengampuni dosa Daud pada hari Asyura, wahai Yang melengkapkan penyakit Ayyub pada hari Asyura, wahai Yang mendengar seruan Musa dan Harun pada hari Asyura, wahai Yang menciptakan ruh Muhammad saw pada hari Asyura. Wahai Yang Maha Pemurah di dunia dan di akhirat, panjangkanlah usiaku dalam taat kepada-Mu, mencintai-Mu dan mendapat ridha-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Hidupkanlah pula aku dalam kehidupan yang baik dan wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan iman. Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Dan semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam kepada

junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

1.Memberi Nafkah Yang Lebih Istimewa

Salah satu tradisi yang dilakukan oleh ulama salaf pada hari asyura’ yaitu memberi nafkah yang lebih kepada orang yang wajib diberi nafkah. Maksudnya bagi kepala keluarga alangkah baiknnya pada hari asyura’ ini, memberi rejeki yang lebih banyak kepada keluarganya

2. Bersedekah

Sebenarnya untuk tradisi bersedekah ini tidak harus pada hari asyura’. Karena sedekah bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Semakin banyak bersedekah semakin banyak pula kebaikan yang akan kita terima. Sedekah juga diyakini bisa menolak dari bahaya (bala’) yang menimpa diri orang yang mengamalkanya. Pada hari asyura’ ini ada keistimewaan dan kelebihan bagi orang yang mau bersedekah. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Madiny dari Ibnu Umar berkata:

bulan muharram

“Barang siapa berpuasa pada hari asyura’ seakan akan seperti puasa satu tahun. Dan barangsiapa bershodaqoh pada hari asyura’ maka seperti shodaqoh satu tahun”. 

Tambahan (Ilmu Tassawuf)

Disebutkan dalam satu riwayat bahwa Imam Ghazali menceritakan : saya berada di Makkah pada awal hari tahun baru Hijriyah, saya melakukan thawaf Baitil Haram. Kemudian tergores dalam hati saya supaya bisa melihat Nabi Khidir as pada hari tersebut, kemudian Allah mengilhami saya untuk berdoa, maka saya berdoa supaya Allah menghimpunkan saya dengan Nabi Khidir pada hari tersebut. Belum selesai saya berdoa tampaklah bagiku Nabi Khidir di tempat Thawaf, sayapun berthawaf bersama beliau dan mengerjakan apa yang beliau kerjakan, dan mengikuti bacaannya sehingga selesai thawaf, kemudian saya duduk sambil melihat rumah yang mulia (ka`bah) kemudian beliau berpaling kepada saya dan berkata “hai Muhammad, apa yang membuatmu meminta kepada Allah untuk menghimpunkan saya dengan dirimu pada hari ini di tanah haram yang mulia ini”? Saya menjawab “Ya Sayyidi, hari ini adalah tahun baru, saya mencintai mengikuti engkau dalam menghadapi tahun baru dengan ibadat dan tadharu’mu”. Nabi Khidir menjawab “ya”. Kemudian beliau berkata “rukuklah dengan rukuk yang sempurna”. Maka saya segera berdiri dan shalat sebagaiman beliau perintahkan, ketika selesai dari shalat beliau berkata “berdoalah dengan doa ma’tsur ini yang menghimpunkan bagi kebaikan dan barakah”. Doa tersebut adalah :

doa agar bisa bertemu nabi khidir

doa bertemu nabi khidir

Salah satu doa yang berfaedah memelihara diri dari syaithan dalam setahun adalah doa bawah ini, dibaca setiap hari dari hari pertama Muharram hingga sepuluh Muharram sebanyak tiga kali

Doa Panjang Umur Sehat Selalu dan Murah Rejeki

doa murah rezeki dan sehat selalu
doa panjang umur sehat selalu dan murah rezeki

Allaahumma thowwil umuurona, wa shohhih ajsaadana, wa nawwir quluubana, wa sabbit iimaananaa wa ahsin a'maalanaa, wa wassi' arzaqonaa, wa ilal khoiri qorribnaa wa 'anisy-syarri ab'idnaa, waqdhikhawaa-ijana fiddiini waddunyaa wal aakhirati innaka 'alaa kulli syai-in qodiir.

Artinya :"Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Shalat Taubat

Jika bisa dilakukan sesering mungkin di bulan muharram

dzikir shalat taubat
dzikir shalat taubat



raja isthghfar



Sayyidul istighfar


"Allahumma anta rabbi laa ilaaha illa Anta Khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mashtatha’tu. Auddzuubika min syarri ma shona’tu. Abuu-u laka bini’matika alayya wa abuu-u bi dzanbi. Faghfirliiy fa innahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta.Astaghfirulloohal ‘azhiim, (100 kali)

Artinya: Ya Allah, Engkaulah Tuhan Kami, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau telah menciptakan aku, aku adalah hamba-Mu.  Aku memegang janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada dalam ciptaan-Mu. Aku mengakui atas nikmat-Mu yang dianugerahkan kepadaku. Dan aku mengakui dosaku. Maka  dosa selain Engkau.” Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.

dzikir shalat taubat

Alloohumma maghfirotuka ausa’u mindzunuubii wa rohmatuka arjaa ‘indii min ‘amalii.

Ya Allah, ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosaku, dan rahmat-Mu lebih berharga daripada amal-amalku.

لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Laa ilaaha illalloohu wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. (10 kali)

Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan pujian, Yang Maha Menghidupkan dan Yang Maha Mematikan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.(10 kali)

لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Laa ilaaha illallooh (100 kali)

Tidak ada Tuhan kecuali Allah


لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَلِمَةُ حَقٍّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَبِهَا نُبْعَثُ إِنْ شَآءَ اللهُ تَعَلٰى بِرَحْمَتِهِ وَكَرَمِهِ مِنَ اْلآمِنِيْنَ

Laa ilaaha illalloohu Muhammadur rosuululloohi shollalloohu ‘alaihi wasallam, kalimatu haqqin ‘alaihaa nahyaa wa’alaihaa namuutu wabihaa nub’atsu insyaa Alloohu ta’aalaa birohmatihii wakaromihii minal aaminiin.

Artinya: Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Muhammad SAW adalah utusan Allah, yang dengan kalimat itu kami berpegang teguh dalam hidup, dan ketika kami mati. Dengan kalimat itu kami dihidupkan kembali, insya Allah dengan curahan rahmat dan kemuliaan-Nya, kami mendapat keamanan.

doa penutup


Alloohumma innii astaghfiruka min kulli dzambin tubtu ilaika minhu tsumma ‘udtu fiih, wa astaghfiruka minkulli maa wa’adtuka bihii minnafsii tsumma lam uufi laka bih, wa astaghfiruka minkulli ‘amalin arodtu bihii wajhakal kariimi fakhoolathohuu ghoiruk, wa astaghfiruka min kulli ni’matin an’amta bihaa ‘alayya fasta’antu bihaa ‘alaa ma’shiyatik, wa astaghfiruka yaa ‘aalimal ghoibi wasysyahaadati minkulli dzambin ataituhuu fii dhiyaain nahaari wasawaadillaili fii mala-in wakhola-in wasirrin wa’alaa niyatin yaa haliim.

Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu dari semua dosa yang telah aku pintakan tobatnya kepada-Mu tapi aku mengulangi kembali melakukannya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari semua janji yang telah kuikrarkan kepada-Mu tetapi tidak kutepati; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari semua amal yang semula kuperuntukkan bagi-Mu Yang Mulia tetapi lalu dicampuri oleh selain-Mu; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari semua nikmat yang telah Engkau curahkan kepadaku lalu aku pergunakan untuk berdurhaka kepada-Mu; dan aku memohon ampun kepada-Mu ya Allah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata dari semua dosa yang telah kuperbuat disiang hari ataupun di kegelapan malam, ditempat ramai atau di tempat sunyi, secara tersembunyi atau terang-terangan, wahai Dzat Yang Maha Penyantun.

وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Washallallahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihii wasallim, wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

Setelah selesai membaca doa di atas, kita disunnahkan membaca doa sesuai hajat masing-masing


Download Amalan bulan Muharram

Amalan bulan Muharram






Read More

Selasa, 02 Juli 2024

Pengantar Tassawuf 1 (Uzlah)

 

Uzlah

Uzlah adalah tradisi suci para nabi dan orang-orang shaleh. Uzlah adalah aktifitas untuk menyingkir, bergeser, meninggalkan, menghindar, menyendiri atau menjauhkan dari keramaian (noise). Disebut juga suluk atau khalwat. Aktifitas ini tercatat jelas. Baik dalam Quran maupun dalam narasi sejarah.

bukti transaksi pring petuk

Semua Nabi dan Orang Suci Ber-‘Uzlah

Semua nabi melakukan uzlah. Terkadang diceritakan dengan bahasa yang terang (muhkamat). Seperti pada kasus 40 hari pertapaan Musa di gunung Sinai (QS. Al-Araf: 142-143). Ataupun dengan kalimat-kalimat “simbolik” (mutasyabihat). Seperti pada kasus Ibrahim as yang “menjauhkan diri” dari masyarakat, atas segala fenomena kemusyrikan mereka (QS. Maryam: 48). Atau kisah Yunus as yang masuk ke “perut ikan” (QS. Yunus 139-148). Ataupun cerita Yusuf as yang dibuang ke “sumur” (QS. Yusuf: 7-10). Ataupun kisah tujuh Ashabul Kahfi yang mengisolasi diri dalam gua (QS. Al-Kahfi: 9-26). Begitu juga dengan riwayat Maryam yang menyepi jauh dari keluarganya dan tertutup tirai (QS. Maryam: 16-25).

Semua kisah ini membawa sejumlah pesan. Apakah tentang tata cara taubat, tafakur, tazakkur, perlindungan, pengasingan diri sekaligus kebangkitan. Muhammad SAW misalnya, dikisahkan, begitu galau dengan kondisi jahiliah masyarakatnya. Lalu ia pergi mengisolasi diri. Dari sana, ia mendapat petunjuk Tuhan tentang cara memimpin transformasi. Turun dari sana, ia membawa Kalimah “Iqrak” (QS. Al-‘Alaq: 1-5). Sebuah spirit untuk membawa bangsanya ke alam yang penuh pengetahuan (makrifah).

Ibrahim as menolak menyembah, apa yang disembah masyarakatnya. Ia “menjauhkan diri” dari mereka (QS. Maryam: 48). Dalam proses perjalanan jiwa, ia berhasil menjangkau wajah Allah. Menjadi makhluk yang hanif. Inni wajjahtu wajhiya lil-ladzi fatarassamawati wal-ardh hanifan.. (QS. Al-An’am: 79). Mujahadah spiritual ini telah mengangkat derajatnya menjadi “bapak monoteis”. Demikian juga dengan anak-anaknya, seperti Ishaq dan Yakub (QS. Maryam: 49). Ibrahim as bahkan diperintahkan Tuhan untuk pergi dan mengasingkan diri dari keluarga, justru saat anaknya (Ismail as) masih sangat kecil. Berbagai ujian ini juga membuat ia diangkat Allah untuk menjadi “imam” bagi sekalian manusia (QS. Al-Baqarah: 124).

Musa as, juga begitu. Banyak sekali masalah yang ia hadapi bersama pengikutnya. Lalu ia pergi beruzlah ke Sinai. Disana ia diangkat Tuhan sebagai sosok “terpilih”. “Wahai Musa, aku memilih engkau melebihi manusia lain untuk membawa risalah dan berbicara secara langsung dengan ku..” (QS. Al-Araf: 144). Disana ia mendapat pencerahan dan pulang dengan membawa Lauh yang berisi petunjuk Tuhan untuk mengatur segala hal (QS. Al-Araf: 145).

Yunus as juga sama. Secara simbolik dikisahkan bagaimana gelombang kekacauan menimpa masyarakatnya (QS. Yunus: 98). Kapal kehidupan oleng, terhempas badai. Harus ada yang diqurbankan. Hanya ia yang diterima Tuhan, untuk menyelamatkan mereka semua. Berhari-hari ia beristighfar, memohon ampun kepada Tuhan dalam pengasingan di “perut ikan”. La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadh-dhalimin. “Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim” (QS Al-Anbiya’: 87). Setelah itu, dakwahnya berlanjut lagi. Kali ini, lebih dari seratus ribu orang menjadi pengikutnya (As-Shaffat: 147).

Yusuf as, dimasukkan ke “dasar sumur” oleh saudara-saudaranya (QS. Yusuf: 10 & 15). Disana ia memasrahkan diri kepada Allah. Tapi, dari kedalaman pengasingan itulah ia bangkit, diselamatkan dan diangkat Tuhan menjadi orang besar di kerajaan Mesir. Dari berbagai proses itu ia memperoleh ilmu dan hikmah. Menjadi ahli takwil dan sebagainya. Bahkan ia menjadi penyelamat semua orang yang pernah membencinya (QS. Yusuf: 19-22).

Para “Penghuni Gua” (Ashhabul Kahfi) juga begitu. Mereka mengisolasi diri ke keheningan gua. Itu dilakukan untuk mencari rahmat, petunjuk dan keselamatan dari mara bahaya dan kekacauan dunia (QS. Al-Kahfi: 10). Di sana, telinga mereka “ditutup” (QS. Al-Kahfi: 11), sehingga tidak punya kemampuan untuk memperoleh informasi luar. Mereka “tertidur” dalam zikir. Tertidur, tapi masih bergerak kekiri dan kanan, seperti terjaga (QS. Al-Kahfi: 18). Spiritualitas mereka benar-benar fana. Terputus kontak sama sekali dengan dunia. Bahkan sampai tidak tau sudah berapa lama mereka disana. Ketika keluar, kondisi sudah membaik. Tuhanlah yang bekerja untuk memperbaiki keadaan, selama mereka dalam pengasingan.

Tidak hanya kaum laki-laki saja yang melakoni ritus spiritual retreat ini. Perempuan juga. Bahkan Maryam menjadi simbol utama feminisme terkait “kelahiran” Ruh Suci. Ia melakukan pengasingan diri dari keluarganya (QS. Maryam: 16). Disana, ia menutup diri dengan hijab, tirai, kelambu ataupun tabir (QS. Maryam: 17). Dari hasil pengasingan ini, ia kemudian “hamil” dan semakin jauh mengasingkan diri (QS. Maryam: 22). Sampai kemudian melahirkan sosok “Ruhullah”. Mujahadah untuk melahirkan spirit yang suci memang “sakit” sekali (QS. Maryam: 23). Kisah ini punya pesan simbolik. Bahwa hanya melalui khalwat, tanpa sentuhan biologis, seseorang bisa melahirkan wujud Ruh Suci. Inti khalwat adalah penyucian diri. Usaha untuk melahirkan kembali “Hakikat Diri”, Qaulal Haq atau Logos Ilahi (QS. Maryam: 34).

Karena itulah lebaran setelah ramadhan disebut “idul fitri”. Seseorang akan “suci” (terlahir kembali dalam wujud fitrah). Itu hanya terjadi jika bulan puasa dijadikan sebagai media khalwat. Makanya, Nabi SAW jarang terlihat di masjid saat Ramadhan. Bahkan diriwayatkan, Beliau sampai tidak bersedia melanjutkan tarawih secara berjamaah. Selama bulan suci, Beliau lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersuluk di kamarnya. Suluk adalah ibadah “privacy”. Dilakukan sendiri-sendiri. Ataupun berdua-dua (QS. Saba: 46). Makna berdua, bisa berjamaah. Tapi interaksinya sangat terbatas. Berdua itupun, biasanya hanya ada hubungan si salik dengan Allah (ataupun Mursyid).

Katakanlah, "Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras." Katakanlah (Muhammad), "Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu.Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

Jadi, semua nabi menjalani sayr wa suluk. Karena itu, tidak heran jika Nabi Muhammad SAW melakoni tradisi spiritual serupa. Bahkan sejak muda, ia rutin berkhalwat di Gua Hirak. Sampai kemudian menerima wahyu untuk memimpin pergerakan sosial dan politik masyarakatnya. Nabi juga menyebutkan keutamaan mereka yang “mengasingkan diri”. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri:

Seorang laki-laki datang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seorang mukmin yang berada (‘uzlah) di salah satu lembah pegunungan, dia bertakwa kepada Allah dan meninggalkan manusia (agar selamat) dari keburukan dirinya” (HR. An-Nasa’i).

Al-Fathir

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Alquran) dan melak­sana­kan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,

agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri

dalam shalat dalam membaca Al-Qur’an dan berinfaq usahakan sesering mungkin memohon ampun dan bersyukur kepada Allah

uzlah adalah


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

Niat dan Metode yang Benar

Karena itu, mustahil bisa beragama secara sempurna, tanpa mengikuti langkah-langkah metodologis tentang uzlah yang telah berulang-ulang dicontohkan para nabi dan shalihin. Uzlah adalah sunnah, jalan, metode atau tariqah untuk menyempurnakan kecerdasan spiritual kita. Untuk dekat dengan Allah, untuk bisa mendengar apa maunya Allah, seseorang mesti melakukan spiritual incubation.

Semua itu ada metodologinya. Ada teknik untuk mengasah alam ruhani, sehingga proses “wisata spiritual” mencapai hasil maksimal. Ada jibril, khizir atau guru spiritual yang diutus Tuhan pada setiap masa untuk membimbing praktik-praktik riyadhah untuk bisa sampai ke ‘Arasy Ilahi (QS. At-Taubah: 127-128). Praktik-praktik khas ini bisa membuat seseorang terkoneksi dengan Allah. Bisa membuat jiwanya tenang. Bisa memperoleh “ilmu kehadiran”.

Dan apabila diturunkan suatu surah, satu sama lain di antara mereka saling berpandangan (sambil berkata), "Adakah seseorang (dari kaum muslimin) yang melihat kamu?" Setelah itu mereka pun pergi. Allah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami.Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Praktik ini, jika dilakukan dengan bimbingan dan niat yang benar, bisa mengakumulasi energi spiritual. Sehingga bisa menyelamatkan diri, menaikkan derajat, serta membawa syafaat bagi keluarga dan masyarakat. Seringkali praktik “rahbaniyah” (kerahiban/ketaqwaan) ini diselewengkan. Tidak dipelihara dan dijalankan sebagaimana mestinya. Kalau dalam tradisi Nasrani, ada yang sampai tidak mau kawin lagi. Gara-gara ingin menyendiri dan melayani Tuhan. Padahal, proses sexual intercourse hanya dilarang saat bersuluk saja. Suluk secara harfiah berarti menempuh. Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan untuk menuju Allah.

Dalam Islam juga begitu. Uzlah terkadang dipahami untuk tujuan mencari keramat dan macam-macam. Mengarah ke perdukunan. Menurut Quran, ini sudah “mengada-ngada” (berlebihan). Motivasi seperti ini harus diluruskan. Inti dari praktik-praktik spiritualitas dalam Islam adalah “Ilahi Anta maqshudi, wa ridhaka mathlubi, wa ‘athini mahabbatak”. Tujuannya hanya untuk mencari “ridha Allah”:

Kemudian, Kami meneruskan jejak mereka dengan (mengutus) rasul-rasul Kami dan Kami meneruskan (pula dengan mengutus) Isa putra Maryam serta Kami memberikan Injil kepadanya. Kami menjadikan kesantunan dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan rahbaniah (berlebih-lebihan dalam aktifitas kerahiban/pengasingan diri). Padahal, Kami tidak mewajibkannya kepada mereka. Akan tetapi, (yang kami wajibkan hanyalah untuk tujuan) mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Maka, kepada orang-orang yang beriman di antara mereka Kami berikan pahalanya dan di antara mereka banyak yang fasik (QS. Al-Hadid: 27).

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita harus paham; bahwa khalwat, uzlah, atau suluk bukan hal asing dalam Islam. praktik umum dalam tradisi esoteris kenabian. Semua nabi mempraktikkannya. Justru aneh jika agama seperti Islam meninggalkan praktik-praktik “meditasi” yang sangat penting ini. Semua agama samawi mewarisi tradisi serupa. Karena itu, suluk merupakan kewajiban bagi siapapun yang ingin mencapai maqam kedewasaan spiritual. Uzlah merupakan metode paling efektif untuk meningkatkan kecerdasan spiritual (SQ). Apalagi jika mendapat bimbingan langsung dari seorang supervisor ahli, waliyammursyida (QS. Al-Kahfi: 17)


Uzlah

Uzlah adalah tradisi suci para nabi dan orang-orang shaleh. Uzlah adalah aktifitas untuk menyingkir, bergeser, meninggalkan, menghindar, menyendiri atau menjauhkan dari keramaian (noise). Disebut juga suluk atau khalwat. Aktifitas ini tercatat jelas. Baik dalam Quran maupun dalam narasi sejarah.

Semua Nabi dan Orang Suci Ber-‘Uzlah

Semua nabi melakukan uzlah. Terkadang diceritakan dengan bahasa yang terang (muhkamat). Seperti pada kasus 40 hari pertapaan Musa di gunung Sinai (QS. Al-Araf: 142-143). Ataupun dengan kalimat-kalimat “simbolik” (mutasyabihat). Seperti pada kasus Ibrahim as yang “menjauhkan diri” dari masyarakat, atas segala fenomena kemusyrikan mereka (QS. Maryam: 48). Atau kisah Yunus as yang masuk ke “perut ikan” (QS. Yunus 139-148). Ataupun cerita Yusuf as yang dibuang ke “sumur” (QS. Yusuf: 7-10). Ataupun kisah tujuh Ashabul Kahfi yang mengisolasi diri dalam gua (QS. Al-Kahfi: 9-26). Begitu juga dengan riwayat Maryam yang menyepi jauh dari keluarganya dan tertutup tirai (QS. Maryam: 16-25).

Semua kisah ini membawa sejumlah pesan. Apakah tentang tata cara taubat, tafakur, tazakkur, perlindungan, pengasingan diri sekaligus kebangkitan. Muhammad SAW misalnya, dikisahkan, begitu galau dengan kondisi jahiliah masyarakatnya. Lalu ia pergi mengisolasi diri. Dari sana, ia mendapat petunjuk Tuhan tentang cara memimpin transformasi. Turun dari sana, ia membawa Kalimah “Iqrak” (QS. Al-‘Alaq: 1-5). Sebuah spirit untuk membawa bangsanya ke alam yang penuh pengetahuan (makrifah).

Ibrahim as menolak menyembah, apa yang disembah masyarakatnya. Ia “menjauhkan diri” dari mereka (QS. Maryam: 48). Dalam proses perjalanan jiwa, ia berhasil menjangkau wajah Allah. Menjadi makhluk yang hanif. Inni wajjahtu wajhiya lil-ladzi fatarassamawati wal-ardh hanifan.. (QS. Al-An’am: 79). Mujahadah spiritual ini telah mengangkat derajatnya menjadi “bapak monoteis”. Demikian juga dengan anak-anaknya, seperti Ishaq dan Yakub (QS. Maryam: 49). Ibrahim as bahkan diperintahkan Tuhan untuk pergi dan mengasingkan diri dari keluarga, justru saat anaknya (Ismail as) masih sangat kecil. Berbagai ujian ini juga membuat ia diangkat Allah untuk menjadi “imam” bagi sekalian manusia (QS. Al-Baqarah: 124).

Musa as, juga begitu. Banyak sekali masalah yang ia hadapi bersama pengikutnya. Lalu ia pergi beruzlah ke Sinai. Disana ia diangkat Tuhan sebagai sosok “terpilih”. “Wahai Musa, aku memilih engkau melebihi manusia lain untuk membawa risalah dan berbicara secara langsung dengan ku..” (QS. Al-Araf: 144). Disana ia mendapat pencerahan dan pulang dengan membawa Lauh yang berisi petunjuk Tuhan untuk mengatur segala hal (QS. Al-Araf: 145).

Yunus as juga sama. Secara simbolik dikisahkan bagaimana gelombang kekacauan menimpa masyarakatnya (QS. Yunus: 98). Kapal kehidupan oleng, terhempas badai. Harus ada yang diqurbankan. Hanya ia yang diterima Tuhan, untuk menyelamatkan mereka semua. Berhari-hari ia beristighfar, memohon ampun kepada Tuhan dalam pengasingan di “perut ikan”. La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadh-dhalimin. “Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim” (QS Al-Anbiya’: 87). Setelah itu, dakwahnya berlanjut lagi. Kali ini, lebih dari seratus ribu orang menjadi pengikutnya (As-Shaffat: 147).

Yusuf as, dimasukkan ke “dasar sumur” oleh saudara-saudaranya (QS. Yusuf: 10 & 15). Disana ia memasrahkan diri kepada Allah. Tapi, dari kedalaman pengasingan itulah ia bangkit, diselamatkan dan diangkat Tuhan menjadi orang besar di kerajaan Mesir. Dari berbagai proses itu ia memperoleh ilmu dan hikmah. Menjadi ahli takwil dan sebagainya. Bahkan ia menjadi penyelamat semua orang yang pernah membencinya (QS. Yusuf: 19-22).

Para “Penghuni Gua” (Ashhabul Kahfi) juga begitu. Mereka mengisolasi diri ke keheningan gua. Itu dilakukan untuk mencari rahmat, petunjuk dan keselamatan dari mara bahaya dan kekacauan dunia (QS. Al-Kahfi: 10). Di sana, telinga mereka “ditutup” (QS. Al-Kahfi: 11), sehingga tidak punya kemampuan untuk memperoleh informasi luar. Mereka “tertidur” dalam zikir. Tertidur, tapi masih bergerak kekiri dan kanan, seperti terjaga (QS. Al-Kahfi: 18). Spiritualitas mereka benar-benar fana. Terputus kontak sama sekali dengan dunia. Bahkan sampai tidak tau sudah berapa lama mereka disana. Ketika keluar, kondisi sudah membaik. Tuhanlah yang bekerja untuk memperbaiki keadaan, selama mereka dalam pengasingan.

Tidak hanya kaum laki-laki saja yang melakoni ritus spiritual retreat ini. Perempuan juga. Bahkan Maryam menjadi simbol utama feminisme terkait “kelahiran” Ruh Suci. Ia melakukan pengasingan diri dari keluarganya (QS. Maryam: 16). Disana, ia menutup diri dengan hijab, tirai, kelambu ataupun tabir (QS. Maryam: 17). Dari hasil pengasingan ini, ia kemudian “hamil” dan semakin jauh mengasingkan diri (QS. Maryam: 22). Sampai kemudian melahirkan sosok “Ruhullah”. Mujahadah untuk melahirkan spirit yang suci memang “sakit” sekali (QS. Maryam: 23). Kisah ini punya pesan simbolik. Bahwa hanya melalui khalwat, tanpa sentuhan biologis, seseorang bisa melahirkan wujud Ruh Suci. Inti khalwat adalah penyucian diri. Usaha untuk melahirkan kembali “Hakikat Diri”, Qaulal Haq atau Logos Ilahi (QS. Maryam: 34).

Karena itulah lebaran setelah ramadhan disebut “idul fitri”. Seseorang akan “suci” (terlahir kembali dalam wujud fitrah). Itu hanya terjadi jika bulan puasa dijadikan sebagai media khalwat. Makanya, Nabi SAW jarang terlihat di masjid saat Ramadhan. Bahkan diriwayatkan, Beliau sampai tidak bersedia melanjutkan tarawih secara berjamaah. Selama bulan suci, Beliau lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersuluk di kamarnya. Suluk adalah ibadah “privacy”. Dilakukan sendiri-sendiri. Ataupun berdua-dua (QS. Saba: 46). Makna berdua, bisa berjamaah. Tapi interaksinya sangat terbatas. Berdua itupun, biasanya hanya ada hubungan si salik dengan Allah (ataupun Mursyid).

Katakanlah, "Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras." Katakanlah (Muhammad), "Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu.Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

Jadi, semua nabi menjalani sayr wa suluk. Karena itu, tidak heran jika Nabi Muhammad SAW melakoni tradisi spiritual serupa. Bahkan sejak muda, ia rutin berkhalwat di Gua Hirak. Sampai kemudian menerima wahyu untuk memimpin pergerakan sosial dan politik masyarakatnya. Nabi juga menyebutkan keutamaan mereka yang “mengasingkan diri”. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri:

Seorang laki-laki datang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.” Dia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seorang mukmin yang berada (‘uzlah) di salah satu lembah pegunungan, dia bertakwa kepada Allah dan meninggalkan manusia (agar selamat) dari keburukan dirinya” (HR. An-Nasa’i).

 

Dalil-Dalil Yang Menganjurkan Uzlah Demi Menjauhi Fitnah

Banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk uzlah (mengasingkan diri) demi menyelamatkan diri dari fitnah atau diri menghindari masyarakat yang banyak terjadi maksiat, kebid’ahan dan pelanggaran agama. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

خَيْرُ الناسِ في الفِتَنِ رجلٌ آخِذٌ بِعِنانِ فَرَسِه أوْ قال بِرَسَنِ فَرَسِه خلفَ أَعْدَاءِ اللهِ يُخِيفُهُمْ و يُخِيفُونَهُ ، أوْ رجلٌ مُعْتَزِلٌ في بادِيَتِه ، يُؤَدِّي حقَّ اللهِ تَعالَى الذي عليهِ

Sebaik-baik manusia ketika berhadapan dengan fitnah adalah orang yang memegang tali kekang kudanya menghadapi musuh-musuh Allah. Ia menakuti-nakuti mereka, dan merekapun menakut-nakutinya. Atau seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah” (HR. Al Hakim 4/446, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/311).

Sebagaimana juga dalam hadits,

قال رجلٌ : أيُّ الناسِ أفضلُ ؟ يا رسولَ اللهِ ! قال ( مؤمنٌ يجاهد بنفسِه ومالِه في سبيلِ اللهِ ) قال : ثم من ؟ قال ( ثم رجلٌ مُعتزلٌ في شِعبٍ من الشِّعابِ . يعبد ربَّه ويدَعُ الناسَ من شرِّه

“Seseorang bertanya kepada Nabi: ‘siapakan manusia yang paling utama wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab: ‘Orang yang berjihad dengan jiwanya dan hartanya di jalan Allah’. Lelaki tadi bertanya lagi: ‘lalu siapa?’. Nabi menjawab: ‘Lalu orang yang mengasingkan diri di lembah-lembah demi untuk menyembah Rabb-nya dan menjauhkan diri dari kebobrokan masyarakat'” (HR. Al Bukhari 7087, Muslim 143).

Bahkan andai satu-satu jalan supaya selamat dari fitnah adalah dengan mengasingkan diri ke lembah-lembah dan puncak-puncak gunung, maka itu lebih baik daripada agama kita terancam hancur. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يُوشِكَ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الرَّجُلِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di puncak gunung dan lembah, karena ia lari mengasingkan diri demi menyelamatkan agamanya dari fitnah” (HR. Al Bukhari 3300).

Tidak baik juga jika kita terlalu lama untuk pergi Uzlah karena bergaul ditengah masyarakat sangat dianjurkan dalam Agama Islam hanya saja kita harus menggunakan akal kita untuk melihat kondisi tersebut

Tidak baik juga jika kita terlalu lama untuk pergi Uzlah karena bergaul ditengah masyarakat sangat dianjurkan dalam Agama Islam hanya saja kita harus menggunakan akal kita untuk melihat kondisi tersebut

Dalil-Dalil Yang Menganjurkan Untuk Bergaul Di Tengah Masyarakat 

Sebagian dalil yang lain menganjurkan kita untuk bergaul di tengah masyarakat walaupun bobrok keadaannya, dalam rangka berdakwah dan amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya. Diantaranya firman Allah Ta’ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah: 2).

juga firman Allah Ta’ala:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3)

Diantaranya juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ

Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).

Juga sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:

فواللهِ لَأن يُهدى بك رجلٌ واحدٌ خيرٌ لك من حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh engkau menjadi sebab hidayah bagi satu orang saja, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Al Bukhari 2942)ز

Juga sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:

اتَّقِ اللهَ حيثُما كنتَ ، وأَتبِعِ السَّيِّئَةَ الحسنةَ تمحُها ، و خالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسنٍ

bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun berada, dan perbuatan buruk itu hendaknya diikuti dengan perbuatan baik yang bisa menghapus dosanya, dan pergaulilah orang-orang dengan akhlaq yang baik” (HR. At Tirmidzi 1906, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami, 97).

dan masih banyak lagi dalil-dalil yang lain.

Memahami dan Menggabungkan Dalil-Dalil

Jika kita melihat penjelasan para ulama, ternyata dalil-dalil di atas tidaklah saling bertabrakan. Juga dengan memahami pernyataan para ulama, kita bisa mengamalkan dan menggabungkan dalil-dalil yang ada dalam masalah ini. Sehingga kita pun bisa bersikap dengan benar dan proporsional, tidak mutlak memutuskan untuk mengasingkan diri dan juga tidak mutlak memutuskan untuk bergaul di masyarakat yang buruk keadaannya.

Al Khathabi dalam kitab Al ‘Uzlah menyatakan bahwa dalil-dalil yang menganjurkan untuk berkumpul di dalam masyarakat di bawa ke makna bahwa hal itu dalam hal-hal yang berkaitan dengan ketaatan terhadap ulil amri dan ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Dan sebaliknya, jika berkaitan dengan adanya pengingkaran terhadap ulil amri dan pengingkaran terhadap perintah-perintah agama maka uzlah. Adapun mengenai memutuskan untuk ijtima’ (berkumpul) atau iftiraq (memisahkan diri) secara lahiriah, maka orang yang merasa dapat menjaga kecukupan penghidupannya dan menjaga agamannya, maka lebih utama baginya untuk tetap bergaul di tengah masyarakat. Dengan syarat, ia harus tetap dapat menjaga shalat jama’ah, senantiasa menebarkan salam, menjawab salam, memenuhi hak-hak sesama muslim seperti menjenguk orang yang sakit, melayat orang yang meninggal, dan lainnya (walaupun tinggal di masyarakat yang bobrok, pent). Dan yang dituntut dalam keadaannya ini adalah meninggalkan fudhulus shahbah (terlalu berlebihan dalam bergaul atau bermasyarakat). Karena hal itu dapat menyibukkan diri, membuang banyak waktu, sehingga lalai dari hal-hal yang lebih penting. Hal itu juga dapat menjadikan kegiatan kumpul-kumpul dimasyarakat sebagai kegaitan yang sampai taraf kebutuhan baginya untuk dilakukan pagi dan malam. Yang benar hendaknya seseorang itu mencukupkan diri bergaul di masyarkat (yang buruk) sebatas yang dibutuhkan saja, yaitu yang memberikan kelonggaran badan dan hati. Wallahu’alam. (lihat Fathul Baari, 11/333, dinukil dari Mafatihul Fiqh, 45).

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani menyatakan: “para salaf berbeda pendapat mengenai hukum asal uzlah. Jumhur ulama berpendapat bahwa bergaul di tengah masyarakat (yang bobrok) itu lebih utama karena dengan hal itu didapatkan banyak keuntungan diniyyah, semisal tersebarnya syiar-syiar Islam, memperkokoh kekuatan kaum Muslimin, tercapainya banyak kebaikan-kebaikan seperti saling menolong, saling membantu, saling mengunjungi, dan lainnya. Dan sebagian ulama berpendapat, uzlah itu lebih utama karena lebih terjamin keselamatan dari keburukan, namun dengan syarat ia memahami benar keadaan yang sedang terjadi” (Fathul Baari, 13/42, dinukil dari Mafatihul Fiqh, 46).

An Nawawi menjelaskan: “yang lebih rajih adalah merinci masalah bergaul di masyarakat yang buruk, bagi orang yang menyangka dengan kuat bahwa ia tidak akan ikut terjerumus dalam maksiat. Bagi orang yang ragu ia akan ikut bermaksiat atau tidak, maka yang lebih utama baginya adalah uzlah. Sebagian ulama mengatakan, keputusannya tergantung keadaan. Jika keadaannya saling bertentangan juga, keputusannya juga masih perlu melihat waktu. Bagi orang yang memang diwajibkan baginya untuk bergaul di masyarakat karena ia sangat mampu mengingkari kemungkaran, maka hukumnya wajib ‘ain atau wajib kifayah baginya. Tergantu keadaan dan kemungkinan yang ada. Adapun orang yang menyangka dengan kuat bahwa ia masih bisa selamat di masyarakat tersebut dengan tetap melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, atau orang yang merasa dirinya masih aman namun ia merasa tidak bisa menjadi orang yang shalih, (maka boleh tetap bergaul di masyarakat). Ini selama tidak ada fitnah yang tersebar luas. Adapun jika ada fitnah maka lebih dianjurkan untuk uzlah. Karena di dalam masyarakat tersebut terjadi pelanggaran syariat yang meluas (dilakukan mayoritas orang). Dan dalam keadaan ini terkadang hukuman dari Allah diturunkan bagi ashabul fitan (pelaku keburukan dimasyarakat) namun hukuman tersebar hingga orang yang tidak termasuk ashabul fitan pun terkena. sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfal: 25) (dinukil dari Mafatihul Fiqh, 46).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya: “apakah bagi orang yang berusaha menjalani agama dengan benar itu lebih baik uzlah atau bergaul di tengah masyarakat?”. Beliau menjawab: “masalah ini walaupun para ulama khilaf, baik khilaf kulliy maupun khilaf haliy, namun yang benar adalah bergaul di tengah masyarakat terkadang wajib dan terkadang mustahab (dianjurkan). Dan seseorang terkadang diperintahkan untuk tetap bergaul di tengah masyarakat dan terkadang diperintahkan untuk menyendiri. Mengkompromikannya yaitu dengan melihat apakah dengan bergaul itu dapat terwujud saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, jika demikian maka diperintahkan untuk bergaul. Namun jika dalam bergaul di tengah masyarakat terdapat unsur saling tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, maka ketika itu terlarang. Dan berkumpul bersama orang-orang dalam berbagai jenis ibadah seperti shalat 5 waktu, shalat jum’at, shalat Id, shalat Kusuf, shalat istisqa, dan yang lainnya adalah perkara yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Demikian juga berkumpul bersama masyarakat dalam ibadah haji, dalam memerangi orang kafir, dalam memerangi kaum khawarij, (adalah hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya). Walau penguasa ketika itu fajir. Walaupun diantara masyarakat itu ada banyak orang fajir. Demikian juga (diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya) berkumpul bersama orang-orang dalam hal-hal yang dapat menambah keimanan, karena ia mendapat manfaat dari kumpulan itu maupun ia yang memberi manfaat, atau semisal itu.

Dan semestinya seseorang memiliki waktu menyendiri, yang ia gunakan untuk berdoa, berdzikir, shalat, ber-tafakkurmuhasabah, memperbaiki hatinya, dan hal-hal lain yang khusus untuknya tanpa ada orang lain. Ini semua butuh bersendirian. Baik di rumahnya, – sebagaimana kata Thawus: ‘sebaik-baik tempat bagi seseorang untuk menyimpan dirinya adalah rumahnya, ia dapat menahan pandangannya dan lisannya disana’ – , maupun di luar rumah.

Maka memutuskan untuk bergaul di tengah masyarakat secara mutlak, ini adalah kesalahan. Dan memutuskan untuk menyendiri secara mutlak, ini juga kesalahan. Namun untuk menakar kadar mana yang lebih utama bagi seseorang apakah yang ini ataukah yang itu, dan mana yang lebih baik baginya dalam setiap keadaan, ini sangat membutuhkan penelaahan keadaan masing-masing sebagaimana telah kami jelaskan” (Majmu’ Al Fatawa, 10/425, dinukil dari Mafatihul Fiqh 47 – 48).

Referensi utama: Mafatihul Fiqhi Fid Diin, Syaikh Musthafa Al ‘Adawi, hal. 43-48, cetakan Maktabah Al Makkah

Download materi Uzlah

Uzlah



Read More