Dunia
Tidak seindah yang kita rasakan
Segala
upaya dan daya dikerahkan oleh banyak orang untuk menggapai kenikmatan dunia.
Dimata mereka seakan kenikmatan dunia adalah segalanya. Mereka berpikir, tanpa
kenikmatan dunia tidak mungkin mereka meraih kebahagiaan hakiki.
Sebuah
perasangka yang keliru. Dunia telah menipu mereka. Mereka tidak mengerti
tentang hakikat kehidupan dunia ini.
Agar kita
tidak ikut tertipu dengan hakikat kehidupan dunia, marilah kita memperhatikan
beberapa permisalan berikut yang menggambarkan kehidupan dunia.
1. Allâh
Azza wa Jalla memberitahukan bahwa dunia ini senda gurau dan permainan,
kemudian setelah itu Allâh Azza wa Jalla dan menjelaskan perbedaan kehidupan dunia
dengan kehidupan akhirat.
Allâh
Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا
هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ
لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan
kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri
akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.
[Al-‘Ankabût/29: 64]
Kehidupan
akhirat adalah kehidupan yang hakiki, kehidupan yang sebenarnya, yaitu
kehidupan yang terus menerus, tetap, dan kekal.
2. Kehidupan
dunia ini dinamakan dunia karena rendah dan hina, karena dunya artinya paling
rendah atau hina. Kehidupan dunia yaitu sesuatu yang sedikit dan kecil,
kehidupan yang penuh dengan syahwat dan fitnah. Akhir dari dunia adalah
kefanaan dan kemusnahan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
فَمَا
مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Padahal
kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat
hanyalah sedikit. [At-Taubah/9:38]
Dalam
hadits, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan
bahwa dunia ini seperti setetes air yang melekat di jari, sedangkan akhirat
merupakan samudera yang sangat luas. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
وَاللهِ
، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ
هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِـعُ
Demi
Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari
kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadits ini yaitu)Yahya
memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang
dibawa jarinya itu?[1]
3.
Dunia ini dilaknat oleh Allâh Azza wa Jalla . Artinya, apa saja yang melalaikan manusia dari
ibadah kepada Allâh maka dia terlaknat. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia
berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِـيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا
وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُـتَـعَلِّـمٌ
Ketahuilah,
sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali
dzikir kepada Allâh dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, atau orang yang
mempelajari ilmu.
4.
Dunia ini lebih jelek daripada bangkai anak kambing yang cacat. Diriwayatkan dari Jabir
Radhiyallahu anhu :
أَنَّ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلًا
مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ. فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ
فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: ))أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا
لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ (( فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ
بِهِ؟ قال:(( أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ )) قَالُوْا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا
كَانَ عَيْبًا فِيْهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: (( فَوَاللهِ
لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ )).
Sesungguhnya
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak
orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan
melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil
memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa
diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang
berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat
dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau
jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak
kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil,
apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللهِ
لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Demi
Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing
ini bagi kalian.[3]
5.
Dunia tidak berharga meskipun hanya seberat sayap nyamuk. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
لَوْ
كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا
مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Baca
Juga Mengkhawatirkan Gugurnya Pahala Amalan
Seandainya
dunia di sisi Allâh sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum
sedikit pun darinya kepada orang kafir[4]
6.
Dunia diumpamakan seperti makanan yang dikonsumsi oleh manusia, kemudian setelah itu menjadi
kotoran. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
مَطْعَمَ ابْنِ آدَمَ جُعِلَ مَثَلًا لِلدُّنْيَا وَإِنْ قَزَّحَهُ وَمَلَّحَهُ فَانْظُرُوْا
إِلَى مَا يَصِيْرُ
Sesungguhnya
makanan anak Adam (makanan yang dimakannya) dijadikan perumpamaan terhadap
dunia. Walaupun ia sudah memberinya bumbu dan garam, lihatlah menjadi apa makanan
tersebut akhirnya.
7.
Seorang Muslim tidak boleh tertipu dengan nikmat-nikmat dan kesenangan, fasilitas, kekayaan, dan apa
yang diberikan oleh Allâh kepada orang-orang kafir yang berbentuk kenikmatan
dunia yang ada pada mereka.
Allâh
Azza wa Jalla berfirman:
فَلَا
تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ
بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
Maka
janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allâh
dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelakakan
mati dalam keadaan kafir.” [At-Taubah/9:55]
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَلَا
تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Dan
janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami
berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia,
agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Rabbmu lebih baik dan
lebih kekal.” [Thâhâ/20:131]
Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Umar Radhiyallahu anhu :
أَمَا
تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟
Tidakkah
engkau ridha untuk mereka (orang-orang kafir) dunia sementara bagi kita
akhirat?[6]
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada Umar Radhiyallahu anhu :
أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟
أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
Apakah
engkau ragu wahai Ibnul Khatthab? Mereka adalah kaum yang disegerakan
kebaikan-kebaikan untuk mereka di kehidupan dunia ini[7]
Oleh
karena itu, jika engkau melihat Allâh Azza wa Jalla memberi kepada seorang
hamba kenikmatan dunia, padahal dia terus menerus berbuat maksiat, maka
ketauhilah bahwa itu adalah istidraj.
Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ
الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلَا
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ
فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا
أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Jika
engkau melihat Allâh memberi kepada seorang hamba apa yang disukainya di dunia
padahal dia berbuat maksiat, maka itu adalah istidrâj. Kemudian Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat (yang artinya-red): “Maka ketika
mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun
membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka
bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka
secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”[8]
Kalau
dunia dan seisinya tidak ada harganya meskipun seberat sehelai sayap
nyamuk, lalu mengapa manusia berlomba-lomba mengejarnya? Bahkan mereka
korbankan agamanya demi mencari dunia?! Padahal dunia dilaknat oleh Allâh Azza
wa Jalla ; Dunia ini lebih hina, lebih jelek daripada bangkai kambing yang
cacat. Mengapa banyak manusia tertipu dengan dunia padahal Allâh sudah ingatkan
agar manusia tidak tertipu dengan dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ
حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ
بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Wahai
manusia! Sungguh, janji Allâh itu benar, maka janganlah kehidupan dunia
memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu
tentang Allâh. [Fâthir/35:5]
8.
Manusia sangat berambisi mengejar dunia, bahkan mereka lebih rakus, lebih tamak, lebih
serakah, lebih jahat dan zhalim dalam merusak kehormatan dirinya dan agamanya
disbanding dua ekor serigala yang dilepas di kerumunan kambing.
Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَاذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ
بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
Duaserigala
yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak
dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang
sangat merusak agamanya.[9]
Ingatlah
wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin! Kesenangan dunia, keindahannya,
kenikmatannya, dan kelezatannya hanyalah sesaat, pasti hilang, pasti hancur,
dan semua manusia pasti akan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena
itu, wahai kaum Muslimin! Bertaubatlah kepada Allâh sebelum kematian dating!
Bertaubatlah kepada Allâh sebelum semua dihisab pada hari Kiamat! Gunakan waktu
sepenuhnya untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla
Allâh
Azza wa Jalla berfirman,
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan
bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
[Ali ‘Imrân/3:133]
Ayat-ayat
dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang hinanya dunia, bukan berarti dengan
itu kita meninggalkan bagian kita di dunia ini. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَابْتَغِ
فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan
carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allâh
kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allâh telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allâh tidak menyukai
orang yang berbuat kerusakan.” [Al-Qashash/28:77]
Ambillah
yang kita butuhkan di dunia ini dan carilah nafkah! Allâh Azza wa Jalla
menjadikan dunia ini sebagai kehidupan. Kita membutuhkan makan, minum, tempat
tinggal, dan pakaian. Kita harus mengambil sebab-sebab yang dapat mengangkat
perkara agama ini, walaupun kita menjauhkan diri-diri kita dari hal-hal yang
membinasakan di dunia.
Begitu
juga dunia ini merupakan kesempatan untuk beramal. Bukan berarti kita hanya
duduk saja, tidak beribadah dan menunggu ajal. Tetapi dunia adalah kesempatan
untuk beramal dan beribadah untuk bekal menuju akhirat. Dunia ini hanya
sekejap, jadikanlah ia untuk ketaatan. Siang dan malam terus berputar, maka
teruslah kita menuntut ilmu syar`i, melakukan amal- amal sholeh dengan ikhlas
dan ittiba dan terus berdzikir mengingat Allâh Azza wa Jalla . Kita harus
berlomba-lomba melaksanakan ketaatan kepada Allâh dan berbuat kebaikan
sebanyak-banyaknya yang sesuai dengan sunnah.
Allâh
Azza wa Jalla berfirman dalam menyifati para Nabi عليهم الصلاة والسلام,
إِنَّهُمْ
كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا
لَنَا خَاشِعِينَ
Sungguh,
mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada
Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada
Kami.” [Al-Anbiyâ`/21:90]

0 comments:
Posting Komentar