Malaikat Ruman
Salah satu malaikat yang akan ditemui oleh ahli kubur
pertama kali adalah Malaikat Ruman. Ia sejatinya adalah malaikat yang
diperintahkan Allah ta'ala untuk menyelidiki setiap amal yang dikerjakan ahli
kubur ketika masih hidup di dunia.
ذكر الإمام أبو حامد في كتاب كشف علم
الآخرة: وقد روي عن ابن مسعود رضي الله عنه أنه قال: يا رسول الله ما أول ما يلقى
الميت إذا دخل قبره ؟ قال : يا ابن مسعود ما سألني عنه أحد إلا أنت فأول ما يناديه
ملك اسمه رومان يجوس خلال المقابر ، فيقول: يا عبد الله اكتب عملك فيقول : ليس معي
دولة ولا قرطاس ، فيقول: هيهات كفنك قرطاسك ، ومدادك ريقك ، وقلمك إصبعك ، فيقطع
له قطعة من كفنه ثم يجعل العبد يكتب وإن كان غير كاتب في الدنيا ، فيذكر حينئذ
حسناته وسيئاته كيوم واحد، ثم يطوي الملك القطعة ويعلقها في عنقه ، ثم قال رسول
الله ﷺ:
Imam Abu Hamid menyebutkan di dalam kitab
Kasyful Ulum al Akhirah. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu.
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang pertama kali ditemui
mayat ketika masuk dalam kuburnya?"
Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Ibnu
Mas'ud, tak ada yang bertanya padaku seperti ini satu orang pun kecuali engkau,
maka yang pertama itu ia (mayat) dipanggil oleh malaikat yang bernama Ruman,
yang tugasnya menyelidiki kejelekan penghuni kubur. Maka dia (malaikat Ruman)
akan berkata, 'Wahai hamba Allah, tulislah amal-amalmu.'
kitab At-Tadzkirah karya Imam Qurthubi
Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam r.a.: Abdullah
bin Salam awalnya adalah seorang Sahabat Nabi Muhammad. Nama aslinya adalah
Hushain bin Salam adalah seorang pemimpin agama Yahudi di Madinah. Sebagai
seorang pemimpin agama Yahudi, Ia mengetahui isi kandungan dari Taurat. Oleh
karena itu, Ia mengetahui akan hadirnya nabi terakhir, setelah kedatangan Nabi
Muhammad kemudian ia memeluk agama Islam. Ia juga mengajak kaumnya untuk
mempercayai kerasulan Nabi Muhammad, tetapi kaumnya menolak dan menganggap
Abdullah bin Salam sebagai pembohong, karena memeluk agama Islam
Seorang malaikat masuk
mendatangi mayat di kuburnya sebelum kedatangan Malaikat Munkar dan Nakir,
malaikat itu bernama Ruman, berwajah cerah secerah matahari. Malaikat Ruman
mendatangi mayat dan berkata, “Tulislah semua amalmu yang baik dan yang jelek.”
Mayat berkata pada malaikat, “Dengan apa aku harus menulis? Di mana pena dan
tintaku?”.
Malaikat menjawab, ”Ludahmu itu tintamu dan penamu adalah
jari-jarimu”. Mayat berkata, “Di atas apakah aku harus menulis? Aku tidak ada
kertas”. Malaikat Ruman menyobekkan kain kafan dan memberikannya kepada mayat
lalu berkata, “Ini kertasmu dan tulislah”. Maka menulislah si mayat tersebut
amal kebaikannya di dunia kemudian sampailah pada amal buruknya, maka dia
berhenti enggan menulisnya, malu kepada Malaikat Ruman.
Malaikat ruman berkata padanya, “Hai orang yang berdosa, mengapa
kamu tidak malu kepada Allah yang menciptakanmu, ketika kamu melakukan amal
jelek sewaktu di dunia, dan sekarang kamu malu kepadaku?”. Lalu Malaikat Ruman
mengangkat tiang besar dan memukulkannya kepada si mayat. Mayat berkata, “Aku
akan menulis semua amal baik dan amal burukku dalam lembaran ini”.
Sesudah itu, Malaikat Ruman memerintahkan agar melipatnya,
menandatanginya, dan mengalungkannya di lehernya hingga hari kiamat.
Mengenal Malaikat Ruman
Nama "Ruman" memiliki makna "yang lembut"
atau "yang menyenangkan," menggambarkan sifatnya yang penuh kasih
sayang, kesabaran, dan ramah terhadap manusia yang telah meninggal.Malaikat
Ruman memiliki wajah yang indah dan berseri-seri, serta suara yang merdu dan
menenangkan.
Ketika Ruman mendekati jenazah, ia datang bersama dengan
Malaikat Kiraman Katibin, yang bertugas mencatat semua amal baik dan buruk
manusia selama hidupnya.
Malaikat Ruman memulai dengan meraih tangan kanan jenazah,
memberikan salam, dan memperkenalkan dirinya.Jenazah yang masih memiliki
kesadaran di alam barzakh (alam antara dunia dan akhirat), merasakan kedamaian
dan kehangatan dari sambutan Ruman.
Malaikat Ruman memberikan pujian atas keimanan dan ketakwaan
jenazah kepada Allah, serta membuka buku catatan amal jenazah manusia.
Dengan suara yang jelas dan lantang, Ruman membaca dan
merincikan semua amal baik dan buruk yang telah dilakukan oleh jenazah
sepanjang hidupnya.Malaikat Ruman juga menyebutkan bobot atau nilai dari setiap
amal, serta balasan yang akan diberikan oleh Allah di akhirat.
Jenazah mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa bahagia
ketika amal baiknya diakui dan balasannya yang mulia, serta merasa menyesal dan
sedih ketika amal buruknya diungkapkan.
Ruman kemudian menutup buku catatan dan memberikannya kepada
Kiraman Katibin.
Ia lalu mengenakan kain kafan putih yang bersih dan wangi pada
jenazah. Setelah itu, Ruman mengucapkan salam perpisahan kepada jenazah.Ruman
dan Kiraman Katibin pergi, menunggu Malaikat Munkar dan Nakir yang akan
datang.Jenazah merasakan ketenangan dan keyakinan setelah mendapatkan perawatan
dan bimbingan dari Malaikat Ruman.
Ia merasa siap untuk menghadapi ujian dari Malaikat Munkar dan
Nakir, dengan harapan mendapatkan rahmat dan pertolongan dari Allah.
Hal ini sebagaimana
firman Allah SWT.:
وكل انسان ألزمناه
طائره في عنقه وتخرج له يوم القيامة كتابا يلقاه منشورا (13)
“Dan setiap manusia
telah kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari
kiamat kami keluarakan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka”. (QS. Al-Isra’:
ayat 13)
Setelah itu, Malaikat Munkar dan Nakir masuk menjalankan tugasnya
yaitu menanyai si mayat dengan beberapa pertanyaan.
Ketika orang yang melanggar perintah Allah melihat buku amalnya
di hari kiamat, maka ketika Allah memerintahkan untuk membacanya, ketika sampai
di amal buruknya dia berdiam, Allah SWT. berkata, “Mengapa engakau tidak
membacanya?”. Dia menjawab, “Aku malu kepada Engkau”. Kemudian Allah berkata,
“Mengapa kamu tidak malu kepadaku saat kau mengerjakan keburukan di dunia dan
sekarang kamu malu kepadaku?”. Hamba itu terdiam dan menyesal, tetapi
penyesalannya tidak ada gunanya. Allah SWT. berfirman:
خذوه
فغلوه (30) ثم الجحيم صلوه (31)
“(Allah berfirman), “tangkaplah dia lalu belenggulah
tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang
menyala-nyala”. (QS.Al-Haqqah: ayat 30-31).
kitab daqaiqul akhbar

0 comments:
Posting Komentar