TANDA-TANDA SU’UL KHATIMAH
Ada
beberapa sebab Suul Khatimah yang wajib diketahui oleh setiap mukmin sehingga
dapat berhati-hati darinya. Yang paling dominan adalah sibuk dengan urusan
dunia, selain itu tidak istiqamah, lemah iman, rusaknya akidah, dan terus
menerus dalam kemaksiatan. Karena orang yang bergelimang dalam maksiat dan
umurnya panjang dalam kejahiliyahan, maka hatinya akan akrab dengan maksiat.
Segala aktivitas yang dilakukan dan disukai oleh seseorang di masa hidupnya,
akan hadir dalam ingatannya di saat datangnya ajal. Jika yang lebih disukainya
adalah perkara ketaatan, maka ketika datangnya kematian ia akan ingat ketaatan,
sebaliknya, jika ia lebih condong pada kemaksiatan, maka itulah yang akan lebih
banyak muncul ketika datangnya kematian.
Hati
merasa takut untuk berpisah dengan apa yang disukainya dan apa yang sudah
menjadi kebiasaannya, terlebih lagi di saat genting dan terjadinya musibah.
Apabila hati telah yakin akan berpisah dengan apa yang disukainya tadi, maka ia
akan teringat dengannya ketika hidupnya akan berlalu. Berkata Ibnul Qayyim:
“Oleh karena itu – wallahu a’lam – sering kali orang yang akan meninggal
mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya
keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main
catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian
yang lain mendendangkan syair sampai ia meninggal, karena dahulunya ia adalah
penyanyi.
Ada
seseorang yang mengabarkan kepadaku bahwa salah satu kerabatnya adalah seorang
pedagang kain, di saat ajal datang mengatakan: “Kain ini bagus, sesuai untukmu,
barang ini murah, menyamai ini dan itu”, sampai ia meninggal dunia.
Mujahid
berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan akan
diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu mereka
yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir.
Ada orang
yang hobi main catur, ketika sakaratul maut, dikatakan padanya: “Ucapkanlah Laa
ilaaha illallah, maka ia mengatakan: “Rajamu”, kemudian ia meninggal. Ia
mengucapkan kalimat yang biasa ia katakan ketika bermain (catur) semasa
hidupnya, sehingga ia mengganti kalimat tauhid dengan (Rajamu). Keadaannya
tidak berbeda dengan orang yang biasa duduk dengan pecandu minuman keras,
ketika ajal datang, dan ada orang yang mentalqinnya untuk mengucap syahadat,
tetapi ia malah mengatakan: “Minum dan berilah aku minum), lalu iapun
meninggal. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Adziim.
Demikianlah
keadaan orang yang bertambah umurnya, tetapi dalam waktu yang sama bertambah
keburukannya. Sehingga dalam umurnya yang dewasa keburukannya lebih banyak
dibanding ketika masa kecilnya. Orang semacam ini biasanya sulit untuk
bertaubat, dan tidak mendapat taufiq untuk beramal sholeh yang bisa menghapus
apa yang telah ia lakukan dahulu. Dikhawatirkan ia akan mengalami su’ul
khatimah sebagaimana yang terjadi pada banyak orang, yang meninggal dengan
membawa kotoran. Mereka belum bersuci darinya sebelum meninggalkan dunia. Ini
adalah tipu daya setan pada manusia di saat datangnya ajal, saat setan
memerangi seorang hamba pada kali terakhirnya.
Dari
Sa’id bin Musayyab dari ayahnya berkata : Ketika Abu Thalib mendekati ajalnya,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya, sementara di dekat Abu
Thalib ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah,
maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai pamanku,
ucapkanlah Laa ilaaha illallah, satu kalimat yang akan aku jadikan saksi di
hadapan Allah“. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: “Wahai Abu
Thalib, apakah engkau berpaling dari ajaran Abdul Muthalib? Rasulullah tiada
henti-hentinya menasehati pamannya, begitupula Abu Jahal dan Abdullah bin Abi
Umayyah berkata seperti tadi, sampai pada akhirnya Abu Thalib mengucapkan bahwa
ia mengikuti ajaran Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha
illallah.
Diriwayatkan
bahwa setan hadir di saat anak Adam sedang mengalami sakaratul maut dan ruhnya
keluar, kemudian ia menawarkan padanya semua agama selain Islam. (Ia datang)
dengan rupa orang yang memberi nasehat dan terpercaya seperti seorang ayah,
ibu, saudara, atau teman setia, lalu berkata: “Matilah dalam keadaan Yahudi,
karena ia adalah agama yang diterima di sisi Allah”. Atau ia berkata: “Matilah
dalam keadaan nasrani yang merupakan agama Al-Masih dan diterima di sisi Allah
Ta’ala. Setan tidak henti-hentinya menyebutkan keyakinan agama yang lain dengan
harapan orang tadi meninggal dengan memeluk selain Islam. Inilah tujuannya,
semoga Allah melaknatnya.
Berkata
Abdullah bin Ahmad bin Hambal, “Aku menghadiri saat wafatnya ayahku, Ahmad dan
tanganku memegang secercah kain untuk memegang janggutnya. Beliau tidak sadar
kemudian terbangun dan mengatakan dengan isyarat tangannya: “Tidak, masih
belum”. Beliau melakukannya berkali-kali. Maka aku katakan padanya: “Wahai
ayahku, apa yang nampak olehmu ? Ayah menjawab, “Setan berdiri sambil menggigit
terompahku dan mengatakan, “Wahai Ahmad, engkau telah selamat dariku”, maka aku
mengatakan, “Tidak, masih belum sampai aku meninggal dunia”.
Al-Qurtubi
berkata: “Aku mendengar guru kami Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin Umar Al-Qurtubi
berkata : Aku menyaksikan saat menjelang wafatnya saudara guru kami Abu Ja’far
Ahmad bin Muhammad Al-Qurtubi di Qurtubah. Dikatakan kepadanya Laa ilaaha
illallah, tetapi ia mengucapkan: Tidak, tidak. Setelah ia sadar, kami
mengingatkan hal tersebut padanya, maka ia menceritakan bahwa ada dua setan
yang ada di sebelah kanan dan kirinya mengatakan salah satu dari keduanya
membisiki : Matilah dalam keadaan yahudi, karena ia adalah sebaik-baik agama.
Dan setan yang satunya berkata : Matilah dalam keadaan Nasrani, karena ia
adalah sebaik-baik agama. Maka aku mengatakan pada keduanya : tidak, tidak,
apakah kepadaku kalian menawarkan hal ini?”
Berkata
Ibnul Jauzi, “Aku melihat sebagian orang yang beribadah dalam masa tertentu
lalu berhenti, maka ada yang menyampaikan padaku bahwa orang tersebut berkata,
“Aku telah beribadah pada Allah dengan ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh
siapapun juga.
Ibnu
Katsir berkata, “Maksudnya…..bahwa dosa, maksiat dan syahwat menghinakan
pelakunya di saat kematian di tambah pelecehan setan padanya, sehingga
berkumpul padanya kehinaan dan lemahnya keimanan, sehingga ia mengalami su’ul
khatimah. Allah berfirman:
وَكَانَ
الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا
“Dan
adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia” [Al-Furqaan/25: 29].
Tidak ada
yang ingin mengalami su’ul khatimah semoga Allah melindungi kita darinya. Pada
orang yang suci lahir dan batinnya pada Allah dan juga benar dalam segala
ucapan dan perbuatannya maka belum pernah terjadi hal yang demikian itu pada
mereka. Su’ul khatimah hanya akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan
batinnya, rusak amalannya, yang berani melakukan dosa besar dan kejahatan, sehingga
bisa jadi hal itu semua akan lebih dominan padanya sampai ajal menjemputnya
sebelum ia sempat bertaubat.

0 comments:
Posting Komentar